Penataan Ruang dengan Pendekatan BCCT
pada Pendidikan Anak Usia Dini
Nurul Novitasari STAI Al Hikmah Tuban [email protected]
Abstract
This article discusses the arrangement of early childhood education institutions using the center and circle based approach or the Beyond Center and Circle Time (BCCT) approach. This approach focuses on children who in the learning process are centered in playing centers and when children are in a circle by using 4 types of scaf olding to support children's development: (1) playing environment footing; (2) footing before playing; (3) footing during playing; and (4) footing after playing. This approach is stimulated by children to actively engage in playing while learning in learning centers. Classrooms can be modified into small classes, called rooms or centers. Each center consists of one area of development. There are centers of worship, centers of natural materials, centers of main / art centers and centers of the role of micro, beam centers, preparation centers, centers of arts and creativity, centers of music and sports, and cooking centers. The teacher responsibles for 7-12 students only with moving classes every day from one center to another. To create a good classroom there are several factors that need to be considered: 1) room direction, 2) room size, 3) floor, 4) roof or ceiling, 5) wall management, 6) room color selection, 7) Attraction, 8) seating arrangement, 9) lighting, and 10) acoustic arrangement. This paper shows that there are many aspects that must be considered by managers of institutions that use the BCCT approach in arranging rooms so that they are comfortable and friendly and support
teaching and learning activities for early childhood.
PENDAHULUAN
Masa usia dini merupakan masa unik dalam kehidupan anak, karena merupakan masa pertumbuhan yang paling peka sekaligus paling sibuk. Pentingnya pendidikan anak usia dini menuntut pendekatan yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang memusatkan perhatian pada anak. Sebab anak merupakan dambaan bagi setiap orang tua dan generasi penerus bangsa. Pendidikan anak usia dini dilakukan mulai sejak lahir sampai dengan umur 6 tahun. Kita ketahui, masa kanak-kanak merupakan masa yang paling tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan baik kemampuan fisik, Bahasa, sosial-emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-nilai agama. Dengan demikian orang tua wajib mengarahkan anaknya kepada sesuatu hal yang lebih baik sehingga fitrahnya sebagai anak melalui proses bimbingan dan latihan dapat diperoleh dengan baik dan berkembang sesuai dengan perkembangannya (Saifullah dan Maulana, 2005: 5). Pendidikan anak usia dini (Early Children Education Program) merupakan salah satu langkah tepat untuk pengembangan potensi anak-anak agar dapat menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab, mandiri, dan kreatif di masa depannya. Menurut Dariyo (2005: 168) kegiatan pendidikan anak usia dini dapat dilaksanakan secara nonformal (keluarga, tempat ibadah). Salah satu pendidikan anak usia dini yang mengembangkan perkembangan anak yang melatih perkembangan sosial dan kognitifnya yakni dengan menggunakan pendekatan BCCT (Beyond Centre and Circle Time).
Pendekatan BCCT (Beyond Centre and Circle Time) atau yang biasa disebut dengan seling (pendekatan sentra dan lingkaran) adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak, yaitu (1) pijakan lingkungan main; (2) pijakan sebelum main; (3) pijakan selama main; dan (4) pijakan setelah main. Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main, yaitu: (1) main sensorimotor atau fungsional; (2) main peran; dan (3) main pembangunan. Saat lingkaran adalah saat di mana pendidik (guru/kader/pamong) duduk bersama anak dengan
posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main (Depdiknas, 2006: 3). BCCT merupakan sebuah pendekatan yang dikembangkan berdasarkan hasil kajian teoritik dan pengalaman empirik oleh
Creative Center for Childhood Research and Training (CCCRT) di Florida USA, dan dilaksanakan di Creative Pre School
Florida, USA selama lebih dari 25 tahun, baik untuk anak normal maupun anak dengan berkebutuhan khusus. Dalam pendekatan ini anak dirangsang untuk secara aktif melakukan kegiatan bermain sambal belajar di sentra-sentra pembelajaran. Ada 7 sentra dalam pendekatan ini, yakni: sentra Imtaq (Iman dan Taqwa), Sentra Balok, Sentra Bermain Peran, Sentra Seni dan Kreativitas, Sentra Musik dan Olah Tubuh, Sentra Bahan Alam dan Sentra Cair dan Bahan Alam. Dalam pembelajaran anak usia dini membutuhkan penataan lingkungan fisik baik di dalam atau di luar ruangan. Penataan lingkungan termasuk seluruh asesoris yang digunakan di dalam maupun di luar ruangan, seperti: bentuk, warna dan hiasan dinding, bentuk, warna, ukuran, jumlah, dan bahan berbagai alat main yang digunakan sesuai dengan perencanaan. Penataan lingkungan yang menarik dan didesain sesuai perencanaan akan membuat anak merasa aman, nyaman dan dapat mendorong anak untuk dapat bereksplorasi.
PEMBAHASAN
BCCT (Beyond Centre And Circle Time)
Pendekatan BCCT (Beyond Centre and Circle Time) atau yang biasa disebut dengan seling (pendekatan sentra dan lingkaran) adalah pendekatan penyelenggaraan PAUD yang berfokus pada anak yang dalam proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan 4 jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak, yaitu (1) pijakan lingkungan main; (2) pijakan sebelum main; (3) pijakan selama main; dan (4) pijakan setelah main. Sentra main adalah zona atau area main anak yang dilengkapi dengan seperangkat alat main yang berfungsi sebagai pijakan lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak dalam 3 jenis main, yaitu: (1) main sensorimotor atau fungsional; (2) main peran; dan (3) main pembangunan. Saat lingkaran adalah saat di mana
pendidik (guru/kader/pamong) duduk bersama anak dengan posisi melingkar untuk memberikan pijakan kepada anak yang dilakukan sebelum dan sesudah main (Depdiknas, 2006: 3). Pendekatan BCCT (Beyond Centre and Circle Time) memerlukan pendekatan yang tepat agar dapat mengoptimalkan seluruh potensi perkembangan anak terutama “melejitkan” potensi kecerdasan anak. Kurikulum yang digunakan dalam pendekatan ini mendasarkan pada asumsi bahwa anak belajar melalui bermain dengan benda-benda dan orang-orang di sekitarnya (lingkungan) (Depdiknas, 2006: i). Metode ini ditujukan untuk merangsang seluruh aspek kecerdasan anak, agar kecerdasannya dapat berkembang secara optimal, maka otak anak perlu dirangsang untuk terus berpikir secara aktif dengan menggali pengalamannya sendiri (bukan sekedar mencontoh atau menghafal). Metode ini memandang bermain sebagai wahana yang paling tepat dan satu-satunya wahana pembelajaran anak, karena di samping menyenangkan, bermain dalam
setting pendidikan dapat menjadi wahana berpikir aktif dan kreatif (Suryana, 2016: 272).
Bahan dan Metode
Dalam rangka mengembangkan potensi kecerdasan anak, khususnya anak-anak usia dini, menurut Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (2006: 4-5), prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan anak usia dini antara lain adalah:
1. Berorientasi pada kebutuhan anak (intelektual, bahasa, motorik, dan sosioemosional)
2. Belajar sambil bermain
3. Merangsang munculnya kreativitas dan inovasi
4. Menyediakan lingkungan belajar yang mendukung proses belajar
5. Mengembangkan kecakapan anak agar mereka mampu menolong diri sendiri, mandiri, bersosialisasi, dan bertanggungjawab serta disiplin.
6. Menggunakan berbagai sumber dan media belajar yang ada di lingkungan sekitarnya
7. Pembelajaran dilakukan secara berulang-ulang, mulai dari yang sederhana
Menurut Satyawadaningtyas (2009) konsentrasi belajar pada saat proses pembelajaran dapat ditingkatkan apabila:
1. Terdapat jarak tertentu antara zona aktif dan zona tenang. 2. Terdapat pembatas vertikal yang mencegah tembusnya
pandangan dan gerakan ke luar ruang kelas.
3. Penataan perabot memungkinkan terbentuknya fokus orientasi ke arah yang dikehendaki. Penataan ini dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan.
4. Penataan dan desain perabot diatur sedemikian sehingga dapat menghalangi gerakan dan pandangan anak-anak ke tempat-tempat atau area-area yang tidak dikehendaki Sesuai dengan konsep dan metode pembelajaran anak-anak, maka idealnya, ruang kelas ditata menurut jenis-jenis kegiatan yang dilakukan. Menurut Olds (2001; dan 2006), zona-zona yang terdapat dalam ruang kelas anak-anak usia playgroup dan taman kanak-kanak antara lain:
1. Zona penerima (entry zone): tempat anak-anak diantar dan dijemput, dan tempat melepas dan menyimpan jaket dan alas kaki.
2. Zona messy: digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan air, cat, tanah liat, memasak dan menata makanan, dan sebagainya.
3. Zona tenang: tempat melakukan kegiatan yang memerlukan konsentrasi tinggi.
4. Zona aktif: tempat bermain aktif
5. Zona dramatik: area untuk bermain rumah-rumahan, bermain boneka, ’berdandan’, bermain miniatur, bermain sandiwara, dan sebagainya
6. Zona lain-lain: untuk aktifitas bermain komputer, menonton TV/VCD, dan sebagainya
Penataan ruang dengan sistem zonasi, harus disesuaikan dengan sifat masing-masing zona. Menurut De Chiara dan Olds (dalam Triandriani, dkk., 2014: 1693-3702), penempatan zona-zona tersebut adalah sebagai berikut:
1. Zona entry ditempatkan di dekat pintu masuk
2. Zona messy ditempatkan di dekat akses keluar ruangan atau di dekat zona entry. Pada zona ini sebaiknya terdapat
bak cuci tangan dan meja/alas untuk permainan yang menggunakan air, pasir, dan tanah liat
3. Zona aktif diletakkan di dekat jalur sirkulasi uama ruangan. 4. Zona tenang diletakkan di area yang terlindung, cukup
terang, dan jauh dari zona entry. Penataan ruang dengan pendekatan sentra
Model ini menggunakan tiga jenis main, yaitu main sensori motorik, anak main dengan benda untuk membangun persepsi, main peran, anak bermain dengan benda untuk menghadirkan konsep yang sudah dimilikinya, main pembangunan, anak bermain dengan benda untuk mewujudkan ide/gagasan yang dibangun dalam pikirannya menjadi sesuatu bentuk nyata.
Menurut Suryana (2016: 275) pendekatan sentra juga memerlukan persiapan peralatan dan kelengkapan yang dapat mendukung pembelajaran yang berlangsung. Penataan perlu dilakukan sebelum pembelajaran dilaksanakan penataan lingkungan bermain di antaranya:
1. Penempatan alat bermain yang tepat memungkinkan anak untuk mandiri, disiplin, bertanggung jawab, memulai, dan mengakhiri main, klasifikasi.
2. Penataan alat dan bahan selama main seharusnya mendukung anak untuk membuat keputusan sendiri mengembangkan ide, menuangkan ide menjadi karya nyata, mengembangkan kemampuan sosial.
3. Penataan alat dan bahan main memungkinkan anak main sendiri, main berdampingan, main bersama dan main bekerja sama.
Penataan ruangan memperhatikan kebebasan anak bergerak, dengan memperhatikan:
1. Kelompok usia anak (bayi, batita, atau prasekolah) 2. Jumlah anak yang akan dilayani, kebutuhan gerak setiap
anak 3 m2 di luar yang terpakai loker, dan furnitur lainnya. 3. Lamanya anak dilayani di lembaga PAUD
4. Dapat digunakan oleh berbagai kegiatan.
5. Antar ruang kegiatan dibatasi oleh loker setinggi anak saat berdiri agar dapat diobservasi oleh guru secara menyeluruh.
6. Penataan ruangan memfasilitasi anak bermain sendiri, kelompok kecil, dan kelompok besar aman, bersih, nyaman, dan mudah diakses oleh anak yang berkebutuhan khusus
7. Mudah untuk dikontrol (dapat dipantau secara keseluruhan)
8. Sentra balok dan sentra main peran saling berdekatan 9. Sentra senu dengan sentra main bahan alam berdekatan 10. Buku ditempatkan di setiap sentra atau di tempat tertentu
yang mudah dijangkau semua anak.
11. Sentra music dan gerak lagu di tempat pijakan sebelum main di mana semua anak berkumpul.
12. Sentra disusun lebih fleksibel agar dapat dirubah sesuai dengan kebutuhan
13. Cahaya, sirkulasi udara, sanitari, lantai/karpet bebas dari kutu, jamur, dan debu.
14. Penggunaan cat tembok dan kayu tidak mudah luntur saat dipegang anak.
15. Lantai tidak berbahan licin dan harusnya mudah dibersihkan
16. Stop kontak tidak mudah dijangkau anak
17. Pegangan pintu setinggi jangkauan anak, kecuali pintu pagar setinggi jangkauan orang dewasa
18. Dinding sebaiknya tidak dilukis permanen. Warna perabot dan dinding menggunakan warna natural
19. Bebas dari asap rokok, bahan pestisida, dan toxin (bersifat racun)
Pemilihan furniture Untuk Anak PAUD:
1. Meja dan kursi untuk anak disesuaikan dengan ukuran anak baik berat maupun ukurannya. Penyesuaian ukuran dengan kemampuan anak, dimaksudkan agar anak nyaman menggunakannya, menghindari kecelakaan karena kesulitan anak menggunakannya. Di samping itu anak dapat dilibatkan untuk turut membereskan meja– kursi apabila ruangan akan digunakan kegiatan lain yang tidak membutuhkan pemakaian meja dan kursi.
2. Ujung meja dan kursi anak berbentuk tumpul (tidak runcing).
3. Loker tempat menyimpan alat main anak dan buku-buku bacaan anak setinggi jangkauan anak, digunakan sebagai pemisah sentra bermain.
4. Bila kursi plastik yang dipilih, pastikan cukup kokoh dan tidak licin bila ditempatkan di atas lantai.
5. Bila alat furniture yang dipilih berbahan kayu, pastikan cat yang digunakan aman bagi anak, tidak berbau, tidak mengandung toxid.
6. Perhatikan permukaan furniture kayu. Permukaan kayu yang kasar dapat melukai anak.
Berdasarkan buku Pedoman Pembelajaran di Taman Kanak-kanak yang dikeluarkan oleh Depdiknas (2005: 13-14), dalam penataan ruang kelas terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Susunan meja-kursi anak bersifat fleksibel dan dapat berubah-ubah.
2. Saat mengikuti kegiatan, anak tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat juga duduk di tikar atau karpet.
3. Penyediaan alat bermain atau sumber belajar harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan. 4. Pengelompokkan meja disesuaikan dengan kebutuhan
sehingga cukup ruang gerak bagi anak didik.
Dinding dapat digunakan untuk menempel hasil pekerjaan anak. Penempelan pekerjaan anak dilakukan secara bergantian sehingga tidak membosankan dan tidak mengganggu perhatian anak.
Peletakkan dan penyimpanan alat bermain atau sumber belajar diatur sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya, sehingga memudahkan anak dalam menggunakan dan mengembalikan pada tempatnya setelah selesai digunakan.
Penyusunan ruang kelas harus didasarkan pada prinsip penyusunan ruang kelas. Menurut Evertson, Emmer dan Worsham (dalam Santrock, 2007: 259) bahwa terdapat empat prinsip penyusunan ruang kelas yaitu:
1. Mengurangi hambatan di area macet seperti area belajar kelompok, meja siswa, meja guru, rak buku dan ruang penyimpanan
2. Guru dengan mudah melihat seluruh siswa, hal ini lebih pada manajemen kelas
3. Membuat materi pengajaran yang sering digunakan dan persediaan sehingga mudah untuk diakses, hal ini untuk mengefektifkan waktu penggunaan
4. Memastikan bahwa seluruh sudut kelas mampu diakses oleh siswa.
Penyusunan ruang kelas yang berdasarkan pada prinsip dan pedoman penyusunan kelas akan memudahkan siswa dan memberikan kenyamanan dalam belajar di kelas. Selain prinsip-prinsip tersebut untuk mewujudkan ruang kelas yang baik menurut Mariyana (2010: 44-47) terdapat beberapa faktor yang perlu untuk diperhatikan antara lain yaitu:
1. Arah ruangan, arah ruangan akan mempengaruhi tampilan dari ruangan itu sendiri. Ruangan yang tampil menghadap ke arah datangnya cahaya dan udara tentu akan terlihat lebih nyaman dan terasa terang.
2. Ukuran ruangan, pada umumnya ukuran yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan prasekolah ialah 105 per anak. Sedangkan seharusnya pada anak usia 4-6 tahun ukuran yang dianjurkan ialah 120-180 per anak. Namun adan juga ahli yang menyatakan bahwa ukuran 105 per anak merupakan ukuran yang cukup selama ruang untuk belajar anak terpisah dari bak cuci tangan, loker dan lemari kabinet.
3. Lantai, bahan lantai yang digunakan dalam ruang kelas hendaknya bukan dari bahan yang licin karena anak-anak sering menumpahkan cairan atau minuman ke atas lantai sehingga dapat menyebabkan kemungkinan kecelakaan di dalam ruangan. Untuk mensiasati bahan lantai yang licin digunakan bahan pelapis lantai berupa karpet. Sehingga selain mengatasi lantai yang licin kapet juga berfungsi sebagai peredam suara.
4. Atap atau langit-langit. Menurut Mariyana, struktur atap ruang kelas yang ideal ialah atap yang memiliki ketinggian berbeda. Hal ini dimaksudkan untuk mengakomodasi peralatan dan media pembelajaran yang memiliki ketinggian beragam. Selain itu variasi ketinggian atap juga dapat membatu mengontrol bunyi di dalam kelas.
5. Pengolahan dinding. Fungsi dinding dalam ruang kelas TK selain sebagai batas pemisah ruang juga sebagai saran tempat memajang hasil karya anak sehingga dinding harus ditata berbagai variasi agar dapat memberikan kesan estetis dan menyenangkan bagi yang melihatnya. 6. Pemilihan warna ruangan, Warna pada bangunan sekolah
khususnya taman kanak-kanak di mana anak seumuran itu bersifat ekstrovert, dinamis dan mengundang hubungan ke luar kelas, serta bebas selain itu juga haruslah menyenangkan yang belajar dan yang mengajar. Warna yang disarankan untuk sekolah ialah warna yang hangat dan cerah, seperti wara kuning lembut (K. 9/4), warna koral (M. 8/4), warna buah persik (J. 8/4). Penggunaan warna yang disarankan itu karena warna tersebut mampu menciptakan perhatian baik visual maupun emosional bersifat ekstrovert (Sulasmi, 1989: 157).
7. Daya tarik, lingkungan yang memiliki daya tarik ialah lingkungan yang menarik di mana lingkungan yang menarik berarti lingkungan yang dapat menarik perasaan
dan pikiran anak serta memacu rasa ingin tahu anak. Daya tarik terhadap lingkungan dibentuk berdasarkan dari bentuk, warna, pola, tekstur, rancangan, aroma, dan suara.
8. Pengaturan tempat duduk, Siswa yang dengan pengaturan tempat duduk berbentuk lingkaran menampakkan kegiatan belajar yang aktif, menunjukkan perhatian dan partisipasi yang tinggi jika dibandingkan dengan kegiatan belajar siswa yang tempat duduknya diatur dengan cara berderet ke belakang atau kelompok. 9. Pencahayaan (lighting), Pencahayaan dalam ruang kelas
anak tidak perlu terang karena akan membuat area kegiatan lainnya menjadi redup dan tidak menarik. Dinding harus cukup terang dan mampu memantulkan 50% cahaya dan langit-langit hendaknya cukup terang dan dapat memantulkan 70% cahaya. Sedangkan meja dan kursi harus memantulkan 35-50% cahaya.
Proses pembelajaran sentra
Ruang kelas dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan atau sentra-sentra. Tiap sentra terdiri dari satu bidang pengembangan. Ada sentra ibadah, sentra bahan alam, sentra main/sentra seni dan sentra main peran mikro, sentra balok, sentra persiapan, sentra seni dan kreativitas, sentra music dan olah tubuh, sentra memasak. Seorang guru bertanggung jawab pada 7-12 siswa saja dengan moving class (kelas berpindah-pindah) setiap hari dari satu sentra ke sentra lain. Proses pembelajaran yang harus dilaksanakan sebagai alur pembelajaran agar setiap pembelajaran yang dilakukan dapat terarah dan mencapai indikator yang diterapkan dalam setiap satuan kegiatan hariannya. Proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan sentra menurut Depdiknas (2006: 7-20) adalah sebagai berikut:
Persiapan
1. Penyiapan pendidik (guru/kader/pamong) dan pengelola melalui pelatihan dan pemagangan. Pelatihan dapat memberikan pembekalan konsep sedangkan magang memberikan pengalaman praktik.
2. Penyiapan tempat dan alat permainan edukatif (APE) sesuai dengan jenis sentra yang akan dibuka dan tingkatan usia anak.
3. Penyiapan administrasi kelompok dan pencatatan perkembangan anak.
4. Pengenalan metode pembelajaran kepada para orang tua. Kegiatan ini penting agar orang tua mengenal metode ini sehingga tidak protes ketika kegiatan anaknya hanya bermain. Mintalah orang tua untuk mencoba bermain di setiap sentra main yang disiapkan untuk anak agar merasakan sendiri nuansanya. Kegiatan ini hendaknya dilakukan setiap awal tahun ajaran baru sebelum anak mulai belajar.
Pelaksanaan
1. Bukalah sentra secara bertahap, sesuai dengan kesiapan pendidik (guru/kader/pamong) dan sarana pendukung lainnya.
2. Gilirlah setiap kelompok anak untuk bermain di sentra sesuai dengan jadwal. Setiap kelompok dalam satu hari hanya bermain di satu sentra saja.
3. Berikan variasi dan kesempatan main yang cukup kepada setiap anak agar tidak bosan dan tidak berebut.
4. Seiring dengan kesiapan pendidik (guru/kader/pamong) dan sarana pendukung, tambahlah sentra baru apabila belum lengkap.
5. Lengkapilah setiap sentra dengan berbagai jenis APE baik yang buatan pabrik maupun yang dikembangkan sendiri dengan memanfaatkan bahan limbah dan lingkungan alam sekitar.
Penataan Lingkungan Main
1. Sebelum anak datang, pendidik (guru/kader/pamong) menyiapkan bahan dan alat main yang akan digunakan sesuai rencana dan jadwal kegiatan yang telah disusun untuk kelompok anak yang dibinanya.
2. Pendidik (guru/kader/pamong) menata alat dan bahan main yang akan digunakan sesuai dengan kelompok usia yang dibimbingnya.
3. Penataan alat main harus mencerminkan rencana pembelajaran yang sudah dibuat. Artinya tujuan yang ingin dicapai anak selama bermain dengan alat main tersebut.
Gambar Penataan lingkungan disiapkan sebelum anak datang
Penyambutan Anak
Sambil menyiapkan tempat dan alat main, agar ada seorang pendidik (guru/kader/pamong) yang bertugas menyambut kedatangan anak. Anak- anak langsung diarahkan untuk bermain bebas dulu dengan teman-teman lainnya sambil menunggu kegiatan dimulai. Sebaiknya para orang tua/ pengasuh sudah tidak bergabung dengan anak.
Main Pembukaan (Pengalaman Gerakan Kasar)
Pendidik (guru/kader/pamong) menyiapkan seluruh anak dalam lingkaran, lalu menyebutkan kegiatan pembuka yang akan dilakukan. Kegiatan pembuka bisa berupa permainan tradisional, gerak dan musik, atau sebagainya. Satu kader yang memimpin, kader lainnya jadi peserta bersama anak (mencontohkan). Kegiatan main pembukaan berlangsung sekitar 15 menit.
Gambar Kegiatan main pembuka di luar dapat memperkuat kemampuan motorik dan sosial anak
Transisi 10 Menit
Setelah selesai main pembukaan, anak-anak diberi waktu untuk pendinginan dengan cara bernyanyi dalam lingkaran, atau membuat permainan tebak-tebakan. Tujuannya agar anak kembali tenang. Setelah anak tenang, anak secara bergiliran dipersilakan untuk minum atau ke kamar kecil. Gunakan kesempatan ini untuk mendidik (pembiasaan) kebersihan diri anak. Kegiatannya bisa berupa cuci tangan, cuci muka, cuci kaki maupun pipis di kamar kecil.
Sambil menunggu anak minum atau ke kamar kecil, masing-masing Pendidik (guru/kader/pamong) siap di tempat bermain yang sudah disiapkan untuk kelompoknya masing-masing.
Kegiatan Inti di Masing-Masing Kelompok
1. Pijakan Pengalaman Sebelum Main: (15 menit)
a. Pendidik (guru/kader/pamong) dan anak duduk melingkar. Pendidik (guru/kader/pamong) memberi salam pada anak, menanyakan kabar anak-anak.
b. Pendidik (guru/kader/pamong) meminta anak-anak untuk memperhatikan siapa saja yang tidak hadir hari ini (mengabsen).
c. Berdoa bersama, mintalah anak secara bergilir siapa yang akan memimpin doa hari ini.
d. Pendidik (guru/kader/pamong) menyampaikan tema hari ini dan dikaitkan dengan kehidupan anak. e. Pendidik (guru/kader/pamong) membacakan buku
yang terkait dengan tema. Setelah membaca selesai, kader menanyakan kembali isi cerita.
f. Pendidik (guru/kader/pamong) mengaitkan isi cerita dengan kegiatan main yang akan dilakukan anak.
g. Pendidik (guru/kader/pamong) mengenalkan semua tempat dan alat main yang sudah disiapkan.
h. Dalam memberi pijakan, pendidik (guru/kader/pamong) harus mengaitkan kemampuan apa yang diharapkan muncul pada anak, sesuai dengan rencana belajar yang sudah disusun.
i. Pendidik (guru/kader/pamong) menyampaikan bagaimana aturan main (digali dari anak), memilih teman main, memilih mainan, cara menggunakan alat-alat, kapan memulai dan mengakhiri main, serta merapikan kembali alat yang sudah dimainkan. j. Pendidik (guru/kader/pamong) mengatur teman main
dengan memberi kesempatan kepada anak untuk memilih teman mainnya. Apabila ada anak yang hanya memilih anak tertentu sebagai teman mainnya, maka guru/kader/ pamong agar menawarkan untuk menukar teman mainnya.
2. Setelah anak siap untuk main, pendidik /guru/kader /pamong) mempersilakan anak untuk mulai bermain. Agar tidak berebut serta lebih tertib, pendidik (guru/kader/pamong) dapat menggilir kesempatan setiap anak untuk mulai bermain, misalnya berdasarkan warna baju, usia anak, huruf depan nama anak, atau cara lainnya agar lebih teratur.
Pijakan sebelum main menghantarkan anak untuk bermain sesuai dengan harapan pendidik (guru/kader/pamong)
3. Pijakan Pengalaman Selama Anak Main: (60 menit) a. Pendidik (guru/kader/pamong) berkeliling di antara
b. Memberi contoh cara main pada anak yang belum bisa menggunakan bahan/alat.
c. Memberi dukungan berupa pernyataan positif tentang pekerjaan yang dilakukan anak.
d. Memancing dengan pertanyaan terbuka untuk memperluas cara main anak. Pertanyaan terbuka artinya pertanyaan yang tidak cukup dengan dijawab ya atau tidak saja, tetapi banyak kemungkinan jawaban yang dapat diberikan anak.
e. Memberikan bantuan pada anak yang membutuhkan. f. Mendorong anak untuk mencoba dengan cara lain,
sehingga anak memiliki pengalaman main yang kaya. g. Mencatat yang dilakukan anak (jenis main, tahap
perkembangan, tahap sosial).
h. Mengumpulkan hasil kerja anak. Jangan lupa mencatat nama dan tanggal di lembar kerja anak. i. Bila waktu tinggal 5 menit, kader memberitahukan
pada anak-anak untuk bersiap-siap menyelesaikan kegiatan mainnya.
Pijakan pada saat anak bermain memperkuat dan memperluas gagasan main anak
4. Pijakan Pengalaman Setelah Main: (30 menit)
a. Bila waktu main habis, Pendidik (guru/kader/pamong) memberi tahukan saatnya membereskan. Membereskan alat dan bahan yang sudah digunakan dengan melibatkan anak-anak.
b. Bila anak belum terbiasa untuk membereskan, pendidik (guru/kader/pamong) bisa membuat permainan yang menarik agar anak ikut membereskan.
c. Saat membereskan, pendidik (guru/kader/pamong) menyiapkan tempat yang berbeda untuk setiap jenis alat, sehingga anak dapat mengelompokkan alat main sesuai dengan tempatnya.
d. Bila bahan main sudah dirapikan kembali, satu orang pendidik (guru/kader/pamong) membantu anak membereskan baju anak (menggantinya bila basah), sedangkan kader lainnya dibantu orang tua membereskan semua mainan hingga semuanya rapi di tempatnya.
e. Anak-anak terlibat saat beres-beres dan membersihkan kembali alat main
f. Bila anak sudah rapi, mereka diminta duduk melingkar bersama pendidik (guru/kader/pamong).
g. Setelah semua anak duduk dalam lingkaran, pendidik (guru/kader/pamong) menanyakan pada setiap anak kegiatan main yang tadi dilakukannya. Kegiatan menanyakan kembali (recalling) melatih daya ingat anak dan melatih anak mengemukakan gagasan dan pengalaman mainnya (memperluas perbendaharaan kata anak).
5. Makan Bekal Bersama (15 Menit) Usahakan setiap pertemuan ada kegiatan makan bersama. Jenis makanan berupa kue atau makanan lainnya yang dibawa oleh masing-masing anak. Sekali dalam satu bulan diupayakan ada makanan yang disediakan untuk perbaikan gizi. a. Sebelum makan bersama, pendidik (guru/kader/
pamong) mengecek apakah ada anak yang tidak membawa makanan. Jika ada tanyakan siapa yang mau memberi makan pada temannya (konsep berbagi).
b. Mendidik (guru/kader/pamong) memberitahukan jenis makanan yang baik dan kurang baik.
c. Jadikan waktu makan bekal bersama sebagai pembiasaan tata cara makan yang baik (adab makan).
d. Libatkan anak untuk membereskan bekas makanan dan membuang bungkus makanan ke tempat sampah.
6. Kegiatan Penutup (15 Menit)
a. Setelah semua anak berkumpul membentuk lingkaran, pendidik (guru/kader/pamong) dapat mengajak anak menyanyi atau membaca puisi. Pendidik (guru/kader/pamong) menyampaikan rencana kegiatan minggu depan, dan menganjurkan anak untuk bermain yang sama di rumah masing-masing. b. Pendidik (guru/kader/pamong) meminta anak yang
sudah besar secara bergiliran untuk memimpin doa penutup.
c. Untuk menghindari berebut saat pulang, digunakan urutan berdasarkan warna baju, usia, atau cara lain untuk keluar dan bersalaman lebih dahulu.
Terlihat anak-anak angkat tangan untuk ditunjuk pulang lebih dulu
7. Evaluasi pembelajaran
Evaluasi pembelajaran dalam BCCT terdapat dua jenis, yaitu Evaluasi Program dan Evaluasi Kemajuan Perkembangan Anak. Evaluasi program bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan program saat sentra. Evaluasi program dapat dilakukan setidaknya setiap akhir tahun kegiatan belajar anak. Sedangkan evaluasi kemajuan perkembangan anak berupa pencatatan perkembangan kemampuan anak dalam hal motorik kasar, motorik halus, berbahasa, sosial, dan aspek-aspek lainnya.
SIMPULAN
Pendekatan BCCT menekankan tujuan agar melalui penataan lingkungan belajar, seorang anak dirangsang untuk secara aktif melakukan kegiatan bermain sambal belajar di sentra-sentra pembelajaran. Ruang kelas dapat dimodifikasi menjadi kelas-kelas kecil, yang disebut ruangan atau sentra-sentra. Tiap sentra terdiri dari satu bidang pengembangan. Ada sentra ibadah, sentra bahan alam, sentra main/sentra seni dan sentra main peran mikro, sentra balok, sentra persiapan, sentra seni dan kreativitas, sentra music dan olah tubuh, sentra memasak. Seorang guru bertanggung jawab pada 7-12 siswa saja dengan moving class (kelas berpindah-pindah) setiap hari dari satu sentra ke sentra lain. Untuk mewujudkan ruang kelas yang baik terdapat beberapa faktor yang perlu untuk diperhatikan antara lain yaitu, 1) arah ruangan, 2) ukuran ruangan, 3) lantai, 4) atap atau langit-langit, 5) pengelolaan dinding, 6) pemilihan warna ruangan, 7) daya Tarik, 8) pengaturan tempat duduk, 9) pencahayaan, dan 10) tata akustik.
Kajian dalam tulisan ini menunjukkan bahwa terdapat banyak aspek yang harus diperhatikan oleh pengelola lembaga yang menggunakan pendekatan BCCT dalam menata ruangan sehingga nyaman dan ramah serta mendukung kegiatan belajar mengajar anak usia dini. Secara umum penataan tersebut meliputi 1) Penempatan alat bermain yang tepat memungkinkan anak untuk mandiri, disiplin, bertanggung jawab, memulai, dan mengakhiri main, klasifikasi. 2) Penataan alat dan bahan selama main seharusnya mendukung anak untuk membuat keputusan sendiri mengembangkan ide, menuangkan ide menjadi karya nyata, mengembangkan kemampuan sosial. 3) Penataan alat dan bahan main memungkinkan anak main sendiri, main berdampingan, main bersama dan main bekerja sama.
DAFTAR PUSTAKA
Agoes, D. 2005. Psikologi Perkembangan Anak 3 Tahun Pertama. Bandung; PT. Refika Aditama.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Pedoman Penerapan Pendekatan Beyond Centers and Circle Time (BCCT). (Pendekatan Sentra dan Lingkaran) dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Depdiknas.
... 2005. Pedoman Pembelajaran di Taman Kanak-Kanak. Jakarta: Departemen Pendidikan.
Helmawati. 2018. Mengenal dan Memahami PAUD. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mariyana, Rita. 2010. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Nasional. Santrock, John. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga.
Saifullah, Ach. dan Nine Adien Maulana. 2005. Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak. Yogyakarta: Katahari. Suryana, Dadan. 2016. Pendidikan Anak Usia Dini: Stimulasi
& Aspek Perkembangan Anak. Jakarta: Kencana. Triandriani M, dkk. Penataan ruang kelas yang sesuai dengan
aktifitas belajar (kasus PAUD Kuncup Matahari dan PG/RA Mutiara Bhima Sakti Sidoarjo). Vol. 12 (1), 2014.
www.google.co.id/amp/s/www.paud.id/2005/11/penataan-ruang-belajar-anak-usia-dini.html/am. Akses 30 Nov 2018 jam 23.35 WIB