• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gerakan Menerangi Indonesia...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gerakan Menerangi Indonesia..."

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

1

Gerakan Menerangi Indonesia...

(Optimasi program 35000 MW) Oleh Ratih Hidayati1

Pendahuluan

Presiden Jokowi menegaskan bahwa tujuan utama dari proyek 35000 MW adalah untuk menyediakan pasokan listrik bagi rakyat Indonesia yang sampai saat ini belum juga mendapatkan akses listrik dari Pemerintah. Tujuan yang sangat mulia dari Presiden ke-7 Republik Indonesia tersebut, patut diacungi jempol. Kapan lagi ada penegasan komitmen semacam ini dari pemimpin kita. Tapi selanjutnya beliau menjanjikan proyek yang dimulai pada tahun 2015 ini akan selesai pada tahun 2019, tahun terakhir masa pemerintahannya. Ups, dalam jangka waktu 5 tahun, apakah memungkinkan? akan kita coba runut satu persatu faktor-faktor pendukung dan yang menjadi kendala pada program ini.

Mengapa 35.000 MW?

Perlu diketahui juga program 35.000 MW ini merupakan salah satu Kebijakan Energi Indonesia terkini disamping Kebijakan Energi Nasional (KEN), Diversifikasi Energi, Konservasi Energi, Subsidi Energi, Feed-in Tariff dan Persentase Minimal Penjualan Batubara Domestik. Sedangkan angka 35000 MW tidak muncul tiba-tiba, “ujug-ujug” kata orang Jawa. Ada tiga parameter terkait penetapan angka 35000 MW, yaitu pertama, asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen sampai 7 persen per tahun, kedua, kenaikan konsumsi listrik dari 800 kilowatt jam per kapita menjadi 1200 kilowatt jam per kapita, serta kenaikan rasio elektrifikasi dari 80% menjadi 96% pada 2019. Sehingga setiap tahunnya Indonesia memerlukan penambahan kapasitas listrik sekitar 6500 MW hingga 7000 MW atau 35000 MW dalam kurun waktu lima tahun sampai 2019.

(2)

2 Upaya percepatan program 35000 MW. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012

Program ini didukung dengan diberlakukan dan diterbitkannya beberapa regulasi terupdate untuk percepatan. Berikut akan kita bahas dulu tujuan masing-masing mengapa regulasi tersebut diberlakukan. Pertama Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum, diperkuat Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2015 tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraaan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, seperti yang dikatakan Menteri ESDM, Sudirman Said bahwa pembebasan lahan untuk lokasi pembangkit listrik masih menjadi kendala dalam proyek 35000 MW. Sebagai contoh data april 2015, dari total 364 lahan yang diproyeksikan menjadi lokasi pembangkit dalam program pembangkit listrik 35000 MW, baru 155 lahan yang dinyatakan siap (sekitar 57,4%), menyisakan 209 lahan yang belum dibebaskan. Jumlah ini sama dengan perkembangan Maret 2015.

Pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 pasal 38 ayat (1), disebutkan jika tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian, pihak yang berhak dapat mengajukan keberatan kepada pengadilan negeri setempat dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari setelah musyawarah penetapan ganti kerugian; Pasal 38 ayat (2), Pengadilan negeri memutus bentuk dan/atau besarnya ganti kerugian dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterimanya pengajuan keberatan; Pasal 38 ayat (3), Jika ada pihak yang keberatan dengan putusan pengadilan negeri, maka pihak yang keberatan tersebut, dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja, dapat mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung Republik Indonesia; selanjutnya pada Pasal 38 ayat (4), Mahkamah Agung wajib memberikan putusan dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan kasasi diterima. Melihat pasal tersebut menjadi kekuatan hukum bagi pengadilan negeri untuk mengeksekusi apabila tidak terjadi kesepakatan ganti rugi dalam waktu yang ditentukan. Sehingga bisa mempercepat proses pembebasan lahan.

(3)

3

Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2015

Dalam Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2015, Pasal 123 B menyatakan proses pengadaan tanah yang belum selesai berdasarkan Pasal 123 dan Pasal 123 A tetapi telah mendapat Penetapan Lokasi Pembangunan atau Surat Persetujuan Penetapan Lokasi Pembangunan (SP2LP) atau nama lain yang dimaksudkan sebagai penetapan lokasi pembangunan, proses pengadaan tanah dapat diselesaikan berdasarkan tahapan sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden ini.

Dalam Perpres disebutkan, pendanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dapat bersumber terlebih dahulu dari dana Badan Usaha selaku instansi yang memerlukan tanah yang mendapat kuasa berdasarkan perjanjian, yang bertindak atas nama lembaga negara, kementerian, lembaga pemerintah non kementerian, pemerintah provinsi, dan/atau pemerintah kabupaten/kota. Dengan kata lain, proses pembebasan lahan untuk fasilitas umum bisa dibiayai swasta. Sebelumnya, proses ini hanya bisa dilakukan melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dibawah Sub Direktorat Pembebasan Lahan.

Nantinya, pendanaan pengadaan tanah oleh Badan Usaha akan dibayar kembali oleh lembaga negara, kementerian, lembaga pemerintah non kementerian, pemerintah propinsi, dan/atau pemerintah kabupaten/kota melalui APBN dan/atau APBD. Proses pembayarannya sendiri dilakukan setelah pengadaan tanah selesai.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2015

Regulasi selanjutnya yang diharapkan menjadi percepatan program 35000 MW adalah Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2015 tentang Prosedur Pembelian Tenaga Listrik dan Harga Patokan Pembelian Tenaga Listrik dari PLTU Mulut Tambang, PLTU Batu Bara, PLTG/PLTMG, PLTA oleh PT. PLN (Persero) Melalui Pemilihan Langsung dan Penunjukan Langsung, dimana pokok-pokok yang diatur dalam peraturan tersebut, antara lain:

1. Prosedur pembelian tenaga listrik, melalui pemilihan langsung dilaksanakan maksimal dalam 45 hari dan untuk penunjukan langsung dilaksanakan maksimal 30 hari;

(4)

4

2. Untuk mempercepat proses pembelian, PLN wajib menyusun standar dokumen Pengadaan dan standar PPA (Power Purchase Agreement, adalah perjanjian jual beli tenaga listrik antara pemisahan produsen listrik swasta (IPP = Independent Power Producer) dan PLN) untuk masing-masing jenis pembangkit serta PLN dapat menunjuk Procurement Agent (dapat berupa badan usaha terbentuk badan hukum nasional atau internasional, lembaga pemerintah dan non pemerintah, atau lembaga pendidikan yang mempunyai keahlian dalam bidang Procurement (pembelian)) untuk membantu melakukan uji tuntas terhadap penawaran calon pengembang;

3. Harga patokan tertinggi yang diatur per jenis pembangkit dan per kapasitas pembangkit, dengan menggunakkan asumsi-asumsi: Availability Factor (Faktor Ketersediaan), masa kontrak, Heat Rate (tingkat panas), Calorific Value (nilai kalori) dan harga bahan bakar;

4. Harga patokan tersebut berdasarkan harga levellized base dan merupakan harga pada saat pembangkit dinyatakan COD (Commercial Operation Date), harga dimana pembangkit dinyatakan beroperasi komersial;

5. Pembelian yang dilaksanakan berdasarkan harga patokan tertinggi tidak diperlukan persetujuan harga jual dari Menteri ESDM.

Permen ini dimaksudkan untuk mempercepat dan mempermudah waktu negosiasi antara PLN dengan perusahaan listrik swasta (IPP) dan mengatur mengenai harga patokan tertinggi, serta memberikan kepastian bagi PLN dalam pelaksanaan pembelian tenaga listrik. Tidak perlu mendapat persetujuan harga dari Menteri ESDM, asalkan harga dibawah harga patokan tertinggi.

Harga patokan tertinggi sendiri diatur dengan mempertimbangkan jenis dan kapasitas pembangkit, dengan menggunakkan 5 asumsi-asumsi diatas. Misal untuk PLTU Mulut Tambang dengan kapasitas 100 MW adalah US $ 8,21 sen per kWh (kilo Watt hour) dengan asumsi availability factor (AF) 80 persen, masa kontrak 30 tahun, heat rate di 3.200 Kkal per kWh, calorific value 3.000 Kkal per kg dan harga batubara US $ 30 per ton. Sehingga harga patokan tertinggi bisa berubah kalau asumsi berubah. Jadi harga patokan tertinggi bukanlah harga mati.

(5)

5

Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016

Pasal 3 ayat (1), Pemerintah Pusat menugaskan PLN untuk menyelenggarakan PIK, kependekan dari Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan. Merupakan kegiatan perencanaan, pengadaan dan pelaksanaan dalam rangka penyediaan infrastruktur ketenagalistrikan, yang meliputi segala hal yang berkaitan dengan pembangkitan tenaga listrik, transmisi tenaga listrik, distribusi tenaga listrik, gardu induk dan sarana pendukung lainnya.

Dalam rangka pelaksanaan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan sebagaimana dimaksud, Pemerintah Pusat memberikan dukungan berupa penjaminan, percepatan perizinan dan non perizinan, penyediaan energi primer, tata ruang, penyediaan tanah dan penyelesaian hambatan dan permasalahan yang dihadapi. Yang bertujuan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga listrik sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kelemahan masing-masing regulasi percepatan program 35000 MW

Ternyata masing-masing regulasi tersebut memiliki kelemahan yang juga menjadi kendala percepatan. Kita coba telaah satu persatu beberapa kelemahannya.

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012

Dalam undang-undang ini, tidak ada penjelasan tegas tentang pengertian kepentingan umum. Berdasarkan ketentuan pasal 1 ayat (6), “Kepentingan umum adalah kepentingan bangsa, negara dan masyarakat yang harus diwujudkan oleh Pemerintah dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Dari pengertian tersebut, tidak dijelaskan kepentingan bangsa, negara yang bagaimana...atau kepentingan masyarakat yang mana...terkesan buram dan tidak ada batasan. Apakah ada keterlibatan pihak swasta atau tidak. Karena dengan adanya pihak swasta artinya ada investasi, yang bertujuan mendapatkan keuntungan. Sehingga bisa berpotensi memicu terjadinya perampasan tanah dengan skala besar oleh kepentingan swasta.

Seharusnya pengertian kepentingan umum hendaknya dibatasi untuk kepentingan pembangunan yang tidak bertujuan komersial. Karena apabila

(6)

6

pengertian kepentingan umum yang abstrak bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda dalam masyarakat. Misalnya kegiatan pembangunan untuk fasilitas kepentingan umum, seperti pelabuhan, bandar udara, telekomunikasi, rumah sakit umum yang sekarang sudah berubah menjadi pembangunan fasilitas umum yang bersifat komersial (yang dahulunya milik pemerintah sekarang telah diswastanisasikan), tidak dapat dilakukan dengan cara pencabutan, atau pembebasan dengan ganti rugi, tetapi harus ditegaskan bahwa pengadaan tanahnya harus dilakukan dengan cara peralihan hak dengan jual beli2.

Mengenai Ganti Kerugian yang disebutkan pada Pasal 27 ayat (4), ”Beralihnya hak sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilakukan dengan memberikan Ganti Kerugian yang nilainya ditetapkan saat nilai pengumuman penetapan lokasi”. Dengan penjelasan sebagai berikut, setelah penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan umum diumumkan oleh pemerintah kepada masyarakat, Pihak yang berhak hanya dapat mengalihkan hak atas tanahnya kepada Instansi yang memerlukan tanah melalui Lembaga Pertanahan. Besarnya ganti rugi terhadap lokasi pembangunan untuk kepentingan umum, nilainya berdasarkan Nilai Objek Pengadaan Tanah (NJOP) pada tanggal pengumuman penetapan lokasi.

Hal inilah yang menimbulkan ketidakadilan bagi pemilik/pemegang hak atas tanah apabila tenggang waktu pengumuman penetapan lokasi dengan pembayaran ganti rugi kepada pemilik/pemegang hak dalam tenggang waktu yang lama, harga ganti rugi tidak sesuai lagi dan jumlahnya dibawah harga pasar.

Timbulnya beragam kasus konflik dan/atau sengketa pertanahan dan sumber daya alam, menunjukkan masalah pertanahan mempunyai tingkat urgensitas yang sangat tinggi dalam pelaksanaan kegiatan pembangunan. Perlu diketahui juga, Maria S.W. Sumardjono (2008) membagi kasus-kasus pertanahan kedalam 5 kelompok, yaitu:

1. Kasus yang berkenaan dengan penggarapan rakyat atas tanah-tanah perkebunan, kehutanan dsb;

2Op.cit Adrian Sutedi Halaman: 399 dalam “Penawaran Pembayaran Tunai dan Konsignasi di Pengadilan...” oleh

(7)

7

2. Kasus yang berkenaan dengan pelanggaran peraturan landreform;

3. Kasus yang berkenaan dengan ekses-ekses penyediaan tanah untuk pembangunan;

4. Sengketa perdata berkenaan dengan masalah tanah; dan 5. Sengketa berkenaan dengan tanah ulayat.

Dari kasus pertanahan tersebut, terdapat masalah pokok pertanahan yang menjadi tantangan dinamika pembangunan (ekonomi) Indonesia, yang jika tidak diselesaikan dengan baik dan komprehensif, maka dapat menjadi hambatan dalam pencapaian visi, misi dan sasaran pembangunan Indonesia.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 3 Tahun 2015

Yang diatur dalam Permen tersebut diatas adalah mekanisme pembelian tenaga listrik melalui penunjukan langsung dan penetapan harga patokan oleh PT. PLN (Persero) tetapi tidak cukup menarik untuk mendorong investasi swasta. Karena dari patokan harga yang ditentukan oleh PLN, investor hanya mendapat 12% IRR (Internal Rate of Return = indikator tingkat efisiensi dari suatu investasi atau laju pengembalian minimum dari suatu investasi yang ditanam oleh investor). Sedangkan umumnya modal investor berasal dari bank komersial yang menetapkan bunga sebesar 10% dari nilai pinjaman, sehingga investor hanya mendapat margin 2%. Terkait dengan pendanaan, permen ESDM ini memungkinkan pendanaan dari bank-bank asing yang menjadi modal investor asing dengan bunga hanya sekitar 5-7% jika memang bank tersebut berminat menanamkan investasi di Indonesia. Sehingga membuka peluang pihak asing/investor asing menguasai sektor kelistrikan di tanah air.

Permen ESDM Nomor 3 Tahun 2015 ini bertentangan dengan Peraturan Presiden Nomor 4 Tahun 2016. Dalam permen ESDM tersebut, PLN mempunyai hak untuk menunjuk langsung pihak swasta dalam membantu pembangunan pembangkit listrik. PLN bebas memilih perusahaan mana saja yang mau menggarap proyek listrik tersebut. Permasalahannya adalah ketika pihak swasta berprinsip bahwa bisnis adalah untuk mencapai keuntungan yang sebanyak-banyaknya padahal sektor listrik bukanlah sektor untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Sektor listrik adalah tentang bagaimana menyediakan

(8)

8

pasokan listrik sebaik-baiknya sebagai public utility. Sesuai dengan Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, menjelaskan bahwa “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara”. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak ini salah satunya adalah energi listrik.

Sedangkan pada Perpres Nomor 4 Tahun 2016, Pemerintah Pusat menugaskan PT. PLN (Persero) untuk menyelenggarakan Pembangunan Infrastruktur Ketenagalistrikan, pelaksanaannya dilakukan melalui swakelola dan kerjasama penyediaan tenaga listrik yang dilakukan dengan badan usaha penyedia tenaga listrik yaitu anak perusahaan PT. PLN (Persero) atau PPL (Pengembang Pembangkit Listrik) berupa BUMN, BUMD, koperasi dan swasta yang bekerja sama dengan PT. PLN (Persero) melalui penandatanganan perjanjian jual beli/sewa jaringan tenaga listrik.

35000 MW, Target atau Kebutuhan?...

Seperti yang disampaikan Menteri ESDM, Sudirman Said dalam acara Economic Challanges, Metro TV, Selasa (10/02/2015) kemaren, bahwa kebutuhan listrik 35000 MW itu bukan merupakan target tapi merupakan suatu keharusan dan itu bukan suatu pilihan tapi sesuatu yang harus dikerjakan. Selanjutnya kita pahami dulu pengertian target dan kebutuhan sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Target adalah sasaran (batas ketentuan dan sebagainya) yang telah ditetapkan untuk dicapai. Sedangkan kebutuhan adalah sangat perlu menggunakan, memerlukan, sesuatu yang perlu dipenuhi.

Sehingga ketika berbicara program 35000 MW sebagai target dalam 5 tahun merupakan sasaran akhir yang telah ditetapkan dan harus dipenuhi, tanpa melihat proses. Misal salah satunya keadaan keuangan PLN yang telah bertumpuk hutang yang bisa berujung PLN merugi, karena akan ada kelebihan tenaga listrik lebih dari 21000 MW yang harus dibayarkan PLN, meskipun kelebihan itu tidak terserap oleh konsumen PLN. Sedangkan ketika memandang program 35000 MW sebagai kebutuhan, seperti terpenuhinya rasio elektrifikasi dapat mencapai 97% pada tahun 2019 disesuaikan dengan prosentase pertambahan penduduk dan pemerataan pasokan listrik ke Indonesia Timur.

(9)

9

Pertimbangan terhadap pembangunan 35000 MW3 a. PLN menjadi rugi dan menambah utang negara;

- PLN masih memiliki kewajiban (hutang) kepada lender asing yang belum selesai, dan membutuhkan lebih dari 1500 trilliun untuk membangun pembangkit dan transmisi serta penyaluran yang telah diamanatkan;

- Didalam laporan RUPTL PLN 2015-2024, PLN menetapkan beberapa langkah perbaikan agar permasalahan tersebut dapat diatasi, yakni:

i. peningkatan pendapatan internal PLN melalui kenaikan tariff dan atau subsidi untuk meningkatkan investasi;

ii. mengharapkan dukungan pemerintah dalam penyediaan dana investasi berupa Penanaman Modal Nasional untuk mengurangi beban pinjaman; iii. restrukturisasi pinjaman PLN;

iv. pengembangan model bisnis kerjasama PLN dengan pihak ketiga non IPP.

Artinya jika melihat kemampuan PLN tersebut, PLN belum mampu untuk melakukan investasi baru apalagi melaksanakan amanat UU, PP, Perpres dan Permen tersebut selain melibatkan pihak ketiga;

- Jika proyek 35000 MW tetap dibangun, total pembangkit listrik pada 2019 mencapai 95.586 MW. Sementara itu, kebutuhan listrik pada 2019 saat beban puncak hanya 74.525 MW. Akibatnya, akan ada ekses kapasitas pembangkit yang tidak digunakan sebesar 21.331 MW pada 2019. Padahal, berdasarkan ketentuan yang ada, PLN diwajibkan membeli 72% listrik dari perusahaan listrik swasta (IPP). Ketentuan ini tetap berlaku kendati pembangkit listrik IPP tidak digunakkan. Akhirnya PLN berpotensi menderita kerugian hingga US$ 10.763 per tahun. Apabila benar terjadi PLN akan mengalami kesulitan lumayan dan akan munculnya ancaman PLN akan membutuhkan suntikan dana yang berakibat pada penjualan saham yang berujung pada penjualan aset penting negara.

(10)

10

b. Ancaman privatisasi ketenagalistrikan

- Privatisasi sektor kelistrikan dengan pecahan (unbundling) baik secara vertikal maupun horizontal PT. PLN akan mengakibatkan beban listrik yang harus dibayar oleh masyarakat semakin besar, selain itu membuka peluang pihak asing untuk menguasai sektor kelistrikan di tanah air. Kebijakan pemerintah yang memisah-misahkan usaha kelistrikan menjadi berbeda antara pembangkit, transmisi, distribusi dan ritel dari PLN, maka akan mengakibatkan jaringan listrik tidak bisa dikendalikan sehingga tarif listrik negara akan meningkat hingga empat kali lipat dari tarif listrik saat ini.

- Rencana privatisasi PLN yang nantinya akan tergantung pada mekanisme pasar ini, selalu mengukur kekuatan dari segi materi, hal itu hanya akan menguntungkan kelompok kapitalis, dan terus menyengsarakan rakyat. Kebijakan ekonomi pemerintah terhadap sektor kelistrikan ini, kalau dibiarkan akan bertentangan dengan prinsip keadilan, sebab Sumber Daya Alam (SDA) maupun Sumber Daya Energi ini merupakan milik rakyat.

- Dikhawatirkan jika PLN yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan diserahkan kepada pihak swasta, maka artinya PLN akan bubar.

c. Tidak menjamin pemerataan listrik nasional

- Pembangunan masih terfokus kepada wilayah bagian Indonesia tengah dan timur (Jawa-Bali), dimana seharusnya pembangunan ini dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk mengaliri listrik diseluruh wilayah Indonesia yang masih belum dijangkau aliran listrik, dari sabang hingga merauke. Pembangunan diwilayah Indonesia timur perlu juga diperhatikan supaya roda perekonomian Indonesia bagian barat dapat meningkat karena akan menarik para investor untuk berinvestasi di wilayah timur khusunya papua. Namun, kenyataannya bagian terbesar atau sekitar 60 persen dari pembangkit listrik tersebut akan dibangun di sistem Jawa-Bali. PLN berencana membangun pembangkit di sistem Jawa-Bali sebesar 20.921 MW dalam lima tahun mendatang yang dibangun PLN 7.379 MW (35 persen) dan IPP 13.542 (65 persen).

d. Pembangkit akan didominasi penggunaan batu bara, yang beresiko dapat membuat tingkat impor semakin membengkak

(11)

11

- Untuk lima tahun ke depan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik diperkirakan sudah mencapai 280 juta ton. Angka itu, belum termasuk untuk konsumsi megaproyek 35.000 MW yang sedang dibangun pemerintah. Dimana pemakaian batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dalam proyek 35.000 MW akan mencapai 25.000 MW. Penggunaan batu bara yang cukup besar dapat menghabiskan cadangan batu bara nasional sehingga batu bara akan diimpor untuk mencukupi kebutuhan operasi mesin pembangkit.

e. Persiapan belum matang

- Pemerintah dalam membuat program tidak dengan perhitungan yang matang. Untuk membangun itu jelas butuh berbagai syarat. Selain perijinan dan lahan, syarat-syarat itu adalah resources, pendanaan dan supporting infrastruktur lain seperti jaringan listrik. Kesemuanya itu (capital industri kelistrikan) dapat dinyatakan dengan parameter kecepatan pengadaan listrik tahunan atau 5 tahunan. Jika program 10000 MW tidak berhasil dalam kurun waktu 5 tahun alias 2000 MW per tahun masih susah payah, apalagi 7000 MW (35000 MW dalam 5 tahun)?

- Jika kita anggap tingkat keberhasilan program 10000 MW hanya 75% atau terealisasi baik hanya 7500 MW dalam 5 tahun, maka kecepatan pengadaan listrik rata2 hanya 1500 MW per tahun. Maka itu berarti kecepatan pengadaan listrik akan naik sebesar hampir 4x lipat atau 400%. Kita ketahui bahwa parameter kecepatan pengadaan listrik itu dipengaruhi oleh banyak faktor yang dapat dikatakan capital kelistrikal kita disamping faktor-faktor lainnya seperti kondisi sosial masyarakat dan birokrasi. Capital meliputi segala resources yang tersedia seperti :

i. Jumlah supplier peralatan pembangkit;

ii. Jumlah pegawai / orang yang memiliki kemampuan yang diperlukan dalam mengerjakan mega proyek dan termasuk operator yang kompeten; iii. Jumlah kontraktor yang mampu secara teknis;

iv. Pendanaan proyek;

v. Ketersediaan bahan bakar;

vi. Material dan peralatan utama proyek;

(12)

12

- Menaikkan kapasitas menjadi 4x jelas bukan perkara gampang apalagi belum ada bukti. Tapi yang jelas adalah, mencetak SDM berkualitas yang kompeten itu butuh waktu yang tidak sedikit dan bukan dalam hitungan bulan. Menjadikan kontraktor memiliki pengalaman memadai secara teknis juga butuh waktu panjang setidaknya 3-5 tahun paling cepat. Begitu juga untuk membangun industri peralatan terkait pembangkit yang butuh penguasaan teknologi dan juga SDM yang jelas bukan hitungan bulan. Lalu menyediakan dana sebesar 800-1000 triliun untuk mega proyek ini harus melalui kajian yang mendalam terkait kemampuan lembaga keuangan atau perbankan kita. Hal ini mengingat angka yang sangat besar.

f. Resiko terjadinya Inflasi

- Pemerintah juga (mestinya) berhitung matang akan risiko-risiko suatu mega proyek. Seperti nilai import mesin pembangkit yang mungkin akan mempengaruhi nilai defisit transaksi berjalan yang akhirnya akan mempengaruhi nilai kurs. Lalu dampak inflasi akibat pergeseran supply – demand atas naiknya kecepatan pengadaan listrik yang signifikan, risiko keterlambatan pelaksanaan akibat masih kurang baiknya infrastruktur di Indonesia dalam mensupport kelancaran pengiriman material dan alat ke lokasi proyek dan risiko yang harus ditanggung pemerintah akibat kegagalan proyek jika risiko-risiko tidak mampu diatasi serta risiko-risiko lainnya.

Jadi mega proyek 35000 MW yang dicanangkan pada pembangunan 2015-2019 merupakan target atau kebutuhan?????

Kesimpulan

Berdasarkan penjabaran diatas mengenai program mega proyek 35000 MW dalam masa 5 tahun mendatang, dapat disimpulkan:

1. Merupakan mimpi yang semakin sulit diraih, melihat kondisi keuangan PT. PLN dan perbankan nasional yang dibutuhkan untuk membiayai target mega proyek ini. Sedangkan investasi dalam dan luar negeri yang masuk ke sektor kelistrikan tidak sebesar target/investasi yang diharapkan karena tidak cukup hanya mengandalkan APBN;

2. Penghapusan subsidi pemerintah harus dilakukan bertahap untuk mewujudkan pengelolaan kelistrikan yang mandiri dan berdikari;

(13)

13

3. PLN belum mampu untuk melaksanakan amanat undang-undang dan perangkat kebijakan turunan yang telah diuraikan diatas (terkait pelaksanaan percepatan proyek pembangkit dan transmisi ini);

4. Meminimalisir pembangkit dengan menggunakkan batubara. Karena pembakaran batubara menghasilkan emisi yang mempengaruhi lingkungan dan kesehatan manusia. Sehingga tidak perlu mengimpor batubara untuk bahan bakar pembangkit. Saatnya bersih dan terbarukan!!!!!!

Referensi

Dokumen terkait

Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2015 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi

Beberapa ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara

Peraturan Presiden Nomor 148 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Tahun 2015 Nomor 366)

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor

(1) Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, perlu menetapkan Peraturan Menteri

Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan

Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum merupakan Undang-Undang yang ditunggu tunggu,

Peraturan Presiden Republik Indonesia No.30 Tahun 2015 Tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan