BAB I PENDAHULUAN. sosial. Salah satu cara untuk berinteraksi sosial adalah dengan berkomunikasi.

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak akan bisa lepas dari interaksi sosial. Salah satu cara untuk berinteraksi sosial adalah dengan berkomunikasi. Dengan begitu, manusia membutuhkan sebuah bahasa untuk berkomunikasi agar maksud, ide, dan gagasan yang ada dalam dirinya bisa disampaikan kepada orang lain, sehingga orang lain bisa memahami maksud, ide, dan gagasannya. Menurut Chaer (2010: 14) dalam kajian linguistik umum, bahasa didefinisikan sebuah sistem lambang bunyi yang bersifat arbiter, yang digunakan manusia sebagai alat komunikasi atau alat interaksi dalam suatu tuturan.

Untuk berinteraksi sosial dengan berkomunikasi, manusia membutuhkan sebuah tuturan. Tuturan sangat penting untuk berinteraksi sosial, karena tuturan menghubungkan penutur dan mitra tutur agar maksud dan tujuan antara keduanya bisa tersampaikan. Oleh karena itu, dalam mengutarakan sebuah tuturan dibutuhkan kesopanan untuk menjaga agar hubungan antara penutur dengan mitra tutur bisa berjalan dengan baik. Kesopanan pada umumnya berkaitan dengan hubungan antara dua peserta tutur, yaitu diri sendiri dan orang lain, diri sendiri adalah penutur dan orang lain adalah mitra tutur (Wijana, 1996: 55). Untuk berkomunikasi dengan sopan, tuturan seseorang harus memenuhi kaidah atau yang selanjutnya disebut dengan maksim-maksim sopan santun. Maksim-maksim sopan santun tersebut menganjurkan agar sebuah kalimat diungkapkan dengan

(2)

sopan, dengan kata lain apabila sebuah kalimat melanggar maksim tersebut, maka kalimat tersebut dikatakan tidak sopan (Leech, 1993: 207)

Tidak hanya tuturan lisan, tuturan dalam sebuah karya sastra pun juga mengandung prinsip kesopanan. Misalnya dalam sebuah karya sastra naskah drama, di dalamnya terdapat tuturan-tuturan antar tokoh yang mengandung prinsip kesopanan. Hal tersebut dikarenakan sebuah karya sastra merupakan tiruan terhadap kenyataan hidupan, dapat pula imajinasi murni pengarang terhadap kenyataan kehidupan (Winarni, 2014: 2). Sastra dalam bahasa Arab disebut adab yang juga bisa diartikan etika atau sopan santun. Artinya, adab mencakup seluruh aspek ilmu tata cara kita bersopan santun, dangan begitu sastra merupakan ilmu yang sangat luas (Kamil, 2009: 3). Begitu juga dengan naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr yang di dalamnya terdapat tuturan yang mengandung prinsip kesopanan.

Naskah drama tersebut bercerita tentang seorang petani yang pandai berbicara bernama Khanūm. Di awal cerita, Khanūm difitnah oleh Ranzā yang merupakan seorang menteri di sebuah kerajaan. Ketika disidang oleh raja dari kerajaan tersebut, Khanūm bisa menjawab dan membela diri dengan bahasa yang bagus dan puitis. Raja yang mengagumi sebuah seni, akhirnya meminta Khanūm untuk tinggal di kerajaan tersebut. Singkat cerita, Khanūm berperan penting dalam mengungkap rencana jahat Ranzā bersama istrinya yang bernama Ilma untuk menguasai kerajaan. Dia bekerjasama dengan Ratu mengungkap dan membuat Raja percaya tentang pemberontakan tersebut. Di akhir cerita, Khanūm mampu mengatasi masa pemberontak yang berdemo di depan kerajaan.

(3)

Jika sebuah prinsip kesopanan dilanggar, maka akan menimbulkan konflik. Berikut ini merupakan contoh tuturan yang melanggar prinsip kesopanan yang terdapat dalam naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr.

كللما

( :

لجسملل

)

نّود

.

نّود

.

مونخ

( :

هدلقي

)

نّود

.

نّود

.

ىزنر

:

حقولا حلافلا اهيأ

.

؟ كللما انلاوم فى اذه لوقت نأ ؤرتج فيك

(Bākaṡīr: 1966: 18)

/Al-Maliku : (Lilmusajjili) Dawwin. Dawwin./ /Khanūm : (Yuqalliduhu) Dawwin. Dawwin./

/Ranzā : Ayyuhā al-fallaḥu al-waqiḥu. Kaifa tajra‘u an taqūla hāżā fī maulāna al-maliku?/

Al-Maliku : (Kepada pencatat) “Catat. Catat.” Khanūm : (Menirukannya) “Catat. Catat.”

Ranzā : “Wahai petani yang tidak sopan. Bagaimana engkau berani mengatakannya kepada Yang Mulia Raja?”

Kutipan percakapan tersebut terjadi ketika raja menyuruh pencatat untuk mencatat perkataan Khanūm dalam peristiwa perdebatan antara Khanūm dengan Ranzā. Dalam percakapan tersebut Khanūm telah berlaku tidak sopan, ketika dia tampak mengejek raja dengan menirukan perkataan raja. Khanūm telah melanggar maksim pujian yang memiliki prinsip meminimalkan kecaman terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian terhadap orang lain (Leech, 1993: 207). Perlakuan tidak sopan Khanūm mendapat tanggapan dari Ranzā, yang mengatakan bahwa Khanūm adalah petani yang tidak sopan, karena berani mengatakan hal tersebut

(4)

kepada raja. Untuk menghindari konflik tersebut, seharusnya Khanūm tidak melanggar maksim pujian.

Sekarang masih belum banyak penelitian mengenai kesopanan bahasa, apalagi kesopanan tuturan dalam Bahasa Arab. Untuk itu perlu dibahas tentang bentuk-bentuk kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr.

1.1Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr.

1.2Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dikemukakan oleh penulis adalah untuk mengidentifikasi dan membahas bentuk-bentuk kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr.

1.3Tinjauan Pustaka

Salam (2007) meneliti kesantunan kalimat perintah bahasa Arab dalam skripsinya yang berjudul “Kesantunan Kalimat Perintah (Imperatif) dalam Novel “An-Nidā’u Al-Khālidu” karya Najīb al-Kailānī (Analisis Sosiolinguistik)”. Skripsi tersebut membahas tentang kesantunan kalimat perintah dengan analisis sosiolinguistik. Hal-hal yang dibahas dalam skripsi tersebut adalah bentuk kesantunan, tingkat kesantunan, serta fungsi kesantunan kalimat perintah dalam Novel “An-Nidā’u Al-Khālidu” karya Najīb al-Kailānī.

(5)

Alfitra (2012) meneliti prinsip kesopanan dalam skripsinya yang berjudul “Prinsip Kesopanan pada Cerita Pendek “Al-Garīb” dan “Al-Jabābirah” dalam Antologi Al-Kābūs karya Najib Al-Kailāni: Analisis Pragmatik”. Di dalam skripsi ini, dibahas tentang jenis-jenis prinsip kesopanan serta jenis-jenis pelanggaran prinsip kesopanan pada tuturan-tuturan dalam cerita pendek “Al-Garīb” dan “ Al-Jabābirah” dalam antologi Al-Kābūs karya Najib Al-Kailāni. Hasil yang didapat dari penelitian tersebut adalah di dalam cerita pendek tersebut banyak ditemukan tuturan yang sesuai dengan prinsip kesopanan.

Ramadhani (2013) meneliti prinsip kesopanan dalam naskah drama karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr dalam skripsinya yang berjudul “Prinsip Kesopanan dalam Naskah Drama Imbirāṭūriyyatun Fi Al-Mazād Karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr: Tinjauan Pragmatik”. Dalam skripsi tersebut diteliti prinsip-prinsip kesopanan yang ada di dalam naskah drama. Hasil yang didapat dalam penelitian tersebut adalah terdapat enam macam maksim kesopanan.

Rianto (2016) meneliti prinsip kesopanan dalam naskah drama karya Nawāl As-Sa‘dāwī dalam skripsinya yang berjudul “Prinsip Kesopanan dalam Naskah Drama Al-Hākim Bi `Amri Allāh Karya Nawāl As-Sa‘dāwī: Analisis Pragmatik”. Dalam skripsi tersebut diteliti prinsip-prinsip kesopanan yang ada di dalam naskah drama. Hasil yang didapat dalam penelitian tersebut adalah terdapat enam macam maksim kesopanan.

Sementara itu penelitian mengenai kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr dengan menggunakan analisis

(6)

pragmatik belum pernah dilakukan sebelumnya. Oleh karena itulah, peneliti akan melakukan penelitian tersebut.

1.4Landasan Teori A. Pragmatik

Semantik dan pragmatik adalah cabang-cabang ilmu bahasa yang menelaah makna-makna satuan lingual, hanya saja semantik mempelajari makna secara internal, sedangkan pragmatik mempelajari makna secara eksternal. Makna yang ditelaah oleh semantik adalah makna bebas konteks, sedangkan makna yang dikaji oleh pragmatik adalah makna yang terikat konteks (Wijana, 1996 : 2).

Leech (1993) mengatakan bahwa secara praktis, pragmatik dapat didefinisikan sebagai study mengenai makna ujaran dalam situasi-situasi tertentu. Pragmatik bersifat komplementer, yang berarti studi tentang penggunaan bahasa dilakukan baik sebagai bagian terpisah dari sistem formal bahasa maupun sebagai bagian yang melengkapinya. Tata bahasa (dalam arti seluas-luasnya) harus dipisahkan dari bidang pragmatik.

Yule (1996:4) mengatakan bahwa pragmatik memiliki beberapa topik pembahasan, yaitu: teori tindak tutur, prinsip kerjasama, implikatur percakapan, teori relevansi, dan prinsip kesopanan. Di dalam penelitian ini akan dibahas mengenai prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan merupakan bagian dari tindak tutur. Untuk itu, dalam penelitian ini akan sedikit dibahas tentang tindak tutur.

(7)

B. Tindak Tutur

Tindak tutur adalah suatu kegiatan di mana para peserta (penutur dan lawan tutur) berinteraksi dengan bahasa dalam cara-cara konvensional untuk mencapai suatu hasil (Yule, 1996:99).

Wijana (1996, 17) menyebutkan bahwa menurut Searle secara pragmatis, ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yakni tindak lokusi (locutinary act), tindak ilokusi (ilocutionary act), dan tindak perlokusi (perlocutionary act).

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tindak tutur ini disebut sebagai The Act of Saying Something. Kalimat atau tuturan dalam hal ini dipandang sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari satu satuan yang terdiri dari subyek dan predikat. Tindak tutur ini adalah tindak tutur yang paling mudah untuk diidentifikasikan karena pengidentifikasiannya dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur (Wijana, 1996: 17-18).

Untuk lebih jelasnya, Wijana memberikan contoh berikut: (1) Ikan paus adalah binatang menyusui.

(2) Jari tangan jumlahnya lima.

Dari kedua contoh di atas dapat dilihat penutur mengutarakan tuturannya semata-mata hanya untuk memberikan informasi kepada mitra tuturnya. Tuturan tersebut diutarakan tanpa tendensi untuk melakukan sesuatu, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya.

(8)

Tindak ilokusi merupakan tindak tutur untuk melakukan sesuatu. Tindak tutur ini disebut juga The Act of Doing Something (Wijana, 1996:18).

Untuk lebih jelasnya, Wijana memberikan contoh berikut: (3) Ujian sudah dekat

(4) Rambutmu sudah panjang

Kalimat (3) bila diutarakan oleh seorang guru kepada muridnya, berfungsi untuk memberikan peringatan kepada lawan tuturnya (murid) untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi ujian. Kalimat (4) bila diutarakan oleh seorang ibu kepada anaknya, berfungsi untuk menyuruh / memerintah lawan tuturnya (anaknya) untuk segera memotong rambutnya. Dari kedua contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa tindak lokusi sangat sukar diidentifikasi karena terlebih dahulu harus mempertimbangkan siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya. Dengan demikian, tindak ilokusi merupakan bagian terpenting untuk memahami tindak tutur (Wijana, 1996: 19)

Tindak Perlokusi merupakan tindak tutur untuk mempengaruhi lawan tutur. Tindak Tutur ini disebut juga sebagai The Act of Affecting Someone. Tindak tutur ini mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) bagi lawan tutur (pendengarnya). Pengaruh tersebut dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya (Wijana, 1996:19).

Untuk lebih jelasnya, Wijana memberikan contoh berikut: (5) Rumahnya jauh.

(9)

(6) Kemarin saya sangat sibuk

Kalimat (5) bila diutarakan oleh seseorang kepada ketua perkumpulan, perlokusi yang diharapkan adalah lawan tuturnya (ketua perkumpulan) tidak memberikan tugas yang terlalu banyak karena rumahnya yang jauh. Kalimat (6) bila diutarakan oleh seseorang yang tidak dapat menghadiri undangan kepada orang yang sudah mengundangnya, perlokusi yang diharapkan adalah lawan tuturnya (orang yang mengundang) bisa memaklumi ketidakhadirannya.

C. Prinsip Kesopanan

Di dalam pragmatik, ujaran-ujaran prinsip kesopanan diekspresikan dengan tindak ilokusi yang memiliki beberapa bentuk ujaran, yaitu: ujaran impositif, komisif, ekspresif, dan asertif (Wijana, 1996:55; Nadar, 2009:30) (a) Impositif adalah tindak tutur yang berfungsi untuk menimbulkan efek

melalui tindakan penyimak. Contohnya: memesan, memerintahkan, memohon, meminta, menyarankan, menyuruh, menganjurkan, dan menasehatkan.

(b) Komisif adalah tindak tutur yang melibatkan pembicara pada beberapa tindakan yang akan datang, misalnya menjanjikan, bersumpah, menawarkan dan memanjatkan doa.

(c) Ekspresif adalah tindak tutur yang berfungsi untuk mengekspresikan, mengungkapkan, atau memberitahukan sikap psikologis sang pembicara. Contohnya: mengucapkan selamat, mengucapkan terima kasih, memuji, mengungkapkan bela sungkawa, dan lain sebagainya.

(10)

(d) Asertif adalah tindak tutur yang berfungi untuk menyatakan kebenaran proposisi yang diungkapkan. Contohnya: menyatakan, mengeluh, menyarankan, melaporkan, dan lain sebagainya.

Di dalam bukunya yang berjudul “Prinsip-Prinsip Pragmatik”, (Leech, 1993: 206) menjelaskan prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan memiliki 6 maksim, yaitu:

a. Maksim Kearifan (Tact Maxim)

Gagasan dasar maksim kearifan dalam prinsip kesantunan adalah penutur harus meminimalkan kerugian dan memaksimalkan keuntungan mitra tutur. Orang bertutur yang berpegang dan melaksanakan maksim kebijaksanaan akan dapat dikatakan sebagai orang santun. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan impositif atau tuturan komisif. Leech (1993: 209) mencontohkan tuturan (1) dan (2) berikut memiliki tingkat kesopanan yang bebeda.

(1) Kamu harus datang dan makan malam di rumah kami. (2) Kami harus datang dan makan malam di tempatmu.

Tuturan (2) tersebut tidak sopan karena penutur tampak berusaha memaksimalkan kerugian mitra tutur dan meminimalkan keuntungan mitra tuturnya. Sementara tuturan (1) lebih sopan karena dalam tuturan tersebut penutur berusaha untuk memaksimalkan keuntungan mitra tutur dan meminimalkan kerugian mitra tutur.

(11)

b. Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)

Gagasan dasar maksim kedermawanan dalam prinsip kesantunan adalah penutur harus meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan impositif dan tuturan komisif. Wijana (1996: 57) mencontohkan tuturan (3) dan (4) berikut memiliki tingkat kesopanan yang berbeda.

(3) Saya akan datang ke rumahmu untuk makan siang.

(4) Saya akan mengundangmu ke rumah untuk makan malam.

Dalam contoh di atas, bisa dilihat bahwa tuturan (3) tidak sopan karena penutur berusaha memaksimalkan keuntungan diri sendiri dan meminimalkan kerugian diri sendiri, sementara tuturan (4) lebih sopan karena penutur berusaha meminimalkan keuntungan diri sendiri dan memaksimalkan kerugian diri sendiri. c. Maksim Pujian (Approbation Maxim)

Gagasan dasar maksim pujian dalam prinsip kesantunan adalah penutur harus meminimalkan kecaman dan memaksimalkan pujian terhadap mitra tutur. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan ekspresif atau tuturan asertif. Wijana (1996: 58) mencontohkan tuturan (5) dan (6) berikut memiliki tingkat kesopanan yang bebeda.

(5) Masakanmu sungguh enak. (6) Masakanmu tidak enak.

(12)

Dari contoh di atas, bisa dilihat bahwa tuturan (5) sopan karena penutur berusaha memaksimalkan pujian terhadap mitra tutur, sementara tuturan (6) tidak sopan karena penutur memaksimalkan kecaman terhadap mitra tuturnya.

Dengan maksim ini, diharapkan agar peserta tutur bisa saling memuji satu dengan yang lainnya. Bukan saling mengecam satu dengan yang lainnya.

d. Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)

Gagasan dasar maksim kerendahan hati dalam prinsip kesantunan adalah penutur harus meminimalkan pujian dan memaksimalkan kecaman terhadap diri sendiri. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan ekspresif atau tuturan asertif. Wijana (1996: 59) mencontohkan tuturan (7) dan (8) berikut memiliki tingkat kesopanan yang bebeda.

(7) a. Kau sangat pandai. b. Ya, saya memang pandai (8) a. Kau sangat pandai

b. Ah tidak, biasa-biasa saja. Itu hanya kebetulan.

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa tuturan (7) b. tidak sopan karena dalam menanggapi pujian dalam tuturan (7) a. penutur tampak memaksimalkan pujian terhadap dirinya sendiri dan meminimalkan kecaman terhadap dirinya sendiri. Sementara tuturan (8) b. Lebih sopan karena dalam menanggapi pujian dalam tuturan (8) a. penutur tampak meminimalkan pujian terhadap dirinya sendiri.

(13)

e. Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)

Gagasan dasar maksim kesepakatan dalam prinsip kesantunan adalah para peserta tutur harus meminimalkan ketidaksepakatan dan memaksimalkan kesepakatan di antara para peserta tutur. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan asertif. Wijana (1996: 60) mencontohkan tuturan (9) dan (10) berikut memiliki tingkat kesopanan yang bebeda.

(9) a. Bahasa Inggris sukar, ya? b. Ya

(10) a. Bahasa Inggris sukar, ya? b. (Siapa bilang), mudah (sekali).

Tuturan (9) b. dikatakan sopan karena tampak memaksimalkan kesepakatannya dengan tuturan (9) a. Sementara tuturan (10) b. dikatakan tidak sopan karena tampak memaksimalkan ketidaksepakatannya dengan tuturan (10)a. f. Maksim Simpati (Sympathy Maxim)

Gagasan dasar maksim simpati dalam prinsip kesantunan adalah penutur harus meminimalkan rasa dan memaksimalkan rasa simpati antara diri sendiri dengan mitra tutur. Maksim ini diungkapkan dengan tuturan asertif. Wijana (1996: 61) mencontohkan tuturan (11) dan (12) berikut memiliki tingkat kesopanan yang bebeda.

(11) a. Bibi baru-baru ini sudah tidak ada. b. Oh, aku turut berduka cita.

(14)

(12) a. Aku gagal di UMPTN.

b. Wah, pintar kamu. Selamat, ya!

Tuturan (11) b. dikatakan sopan karena tampak memaksimalkan rasa simpati dalam menanggapi tuturan (11) a. Sementara tuturan (12) b. dikatakan tidak sopan karena tampak memaksimalkan rasa antipati dalam menanggapi tuturan (12) a.

1.5Metode Penelitian

Menurut Mahsun (2012: 223), untuk pelaksanaan kajian bahasa yang berhubungan dengan masalah pemakaian bahasa tahapan yang dilalui sama dengan tahapan yang dilalui dalam kajian bahasa secara sinkronis dan diakronis, yaitu melalui tahapan penyediaan data, analisis data, sampai pada tahapan penyajian hasil analisis data.

a. Penyediaan Data

Untuk menyediakan data dalam penelitian ini, digunakan teknik catat. Mahsun (2012) mengatakan apabila peneliti berhadapan dengan penggunaan bahasa secara tertulis, peneliti hanya dapat menggunakan teknik catat untuk menyediakan data, yaitu mencatat beberapa bentuk yang relevan bagi penelitiannya dari penggunaan bahasa secara tertulis tersebut. Di dalam penelitian ini, dilakukan dengan cara membaca naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr secara berulang-ulang kemudian mencatat data tuturan naskah drama yang memenuhi kaidah kesopanan.

(15)

b. Analisis Data

Dalam analisis ini, peneliti menggunakan metode padan ekstralingual, di mana metode ini digunakan untuk menganalisis unsur yang bersifat ekstralingual, seperti menghubungkan masalah bahasa dengan hal yang berada di luar bahasa (Mahsun, 2012:120). Hal-hal yang berada di luar bahasa tersebut adalah penutur dan mitra tutur, konteks sebuah tuturan, tujuan sebuah tuturan, tindak ujar, tuturan, serta waktu dan tempat ketika tuturan tersebut dihasilkan (Leech, 2011: 21)

Analisis data dengan menggunakan metode padan ekstralingual ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr. Yaitu dengan cara menghubungkan tuturan dengan kaidah kesopanan dan hal-hal yang berada di luar bahasa yang mempengaruhi tuturan tersebut (Mahsun, 2010: 120).

c. Penyajian Data

Hasil analisis data penelitian kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr ini disajikan secara informal. Yaitu merumuskan hasil temuan penelitian yang berupa wujud kesopanan dengan kata-kata biasa (Mahsun, 2012: 123).

1.6Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam penelitian ini terdiri dari tiga bab. Bab I terdiri dari pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, tinjauan pustaka, landasan teori, metode penelitian, sistematika

(16)

penulisan, dan pedoman transliterasi Arab-Latin. Bab II berisi analisis pragmatik jenis-jenis kesopanan tuturan pada naskah drama Al-Fallāḥu Al-Faṣīḥu karya ‘Ali Aḥmad Bākaṡīr dan bab III berisi kesimpulan.

1.7Pedoman Transliterasi

Penulisan transliterasi Arab-Latin yang digunakan dalam penelitian ini adalah pedoman transliterasi yang berdasarkan atas keputusan bersama Menteri Agama RI dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI no. 158 tahun 1987 dan no. 0543 b/u/1987.

a. Konsonan

Fonem konsonan bahasa Arab yang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, dalam transliterasi ini sebagian dilambangkan dengan huruf dan sebagian dilambangkan dengan tanda, dan sebagian yang lain dengan huruf dan tanda sekaligus.

Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan

ا

Alīf tidak dilambangkan tidak dilambangkan

ب

B Be

ت

T Te

ث

Śā S| es (dengan titik di atas)

ج

Jīm J Je

ح

H{ ha (dengan titik di

bawah)

خ

Khā Kh ka dan ha

د

Dāl D De

(17)

ر

R Er

ز

Zai Z Zet

س

Sīn S Es

ش

Syīn Sy es dan ye

ص

Sād S{ es (dengan titik di bawah)

ض

Dād D{ de (dengan titik di bawah)

ط

T{ te (dengan titik di bawah)

ظ

Z{ zet (dengan titik di

bawah)

‘ain _ koma terbalik (di atas)

Gain G Ge

ف

F Ef

ق

Qāf Q Ki

ك

Kāf K Ka

ل

Lām L El

م

Mīm M Em

ن

Nūn N En

و

Wāwu W We

ه

H Ha

ء

Hamzah `_ Apostrof

ي

Y Ye

(18)

b. Vokal

Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.

I. Vokal tunggal

Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harakat, transliterasinya sebagai berikut.

Tanda Nama Huruf Latin Nama

َ

Fathah A A

َ

Kasrah I I

َ

Dammah U U Contoh:

ب ت ك

kataba

ر ك ذ

zukira

II. Vokal rangkap

Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan harakat dan huruf, transliterasinya berupa gabungan huruf, yaitu:

Tanda dan huruf Nama Gabungan

huruf Keterangan

ي…

َ

fathah dan ya’ Ai a dan i

و…

َ

fathah dan wāwu Au a dan u

Contoh:

تْي ب

baitun

نْو ل

launun

(19)

III. Vokal panjang

Vokal panjang yang lambangnya berupa harakat dan huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:

Harakat dan Huruf Nama Huruf dan

Tanda Keterangan

ى… َ

ا… َ

fathah dan alīf Ā a dan garis di

atas

ْي…

َ

Kasrah h dan yā’ Ī i dan garis di

atas

ْو…

َ

dammah dan wāwu Ū u dan garis di

atas Contoh:

لا ق

qāla

لْو ق ي

yaqūlu

رْ ي ب ك

kabīrun c. Ta’ marbūtah

Transliterasi untuk ta’ marbūtah ada dua, yaitu:

a. Transliterasi ta’ marbūtah hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah, transliterasinya adalah /t/.

b. Kalau pada kata yang terakhir dengan ta’ marbūtah diikuti oleh kata yang menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah, maka ta’ marbūtah itu ditransliterasikan dengan /h/.

Contoh:

لا فط لأا ة ضْو ر

raudah al-atfāl / raudatul-atfāl

ة رَّو ن لما ة نْ ي د لما

al-Madīnah al-Munawwarah

(20)

d. Syaddah (tasydīd)

Syaddah atau tasydid dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda, tanda syaddah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah tersebut.

Contoh:

ا نَّ ب ر

rabbana

لَّز ن

nazzala e. Kata sandang

Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf, yaitu "

لا

" . Akan tetapi, dalam transliterasi ini kata sandang dibedakan atas kata sandang

yang diikuti oleh huruf syamsiyyah dan kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyyah.

a. Kata sandang diikuti oleh huruf syamsiyyah

Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsyiyyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang tersebut.

Contoh:

ل جَّرلا

ar-rajulu

ءا مَّسلا

as-samā’u

b. Kata sandang diikuti huruf qamariyyah

Kata sandang yang diikuti huruf qamariyyah ditransliterasikan sesuai dengan huruf aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Baik diikuti huruf syamsiyyah maupun huruf qamariyah, kata

(21)

sandang ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanda sempang.

Contoh:

م ل قلا

al-qalamu

ب تا كلا

al-katibu

f. Hamzah

Hamzah ditransliterasikan dengan apostrof jika terletak di tengah atau di akhir kata. Apabila terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berupa alif.

Contoh:

ذ خ اي

ya’khuzu

أ ر ق

qara’a g. Penulisan kata

Pada dasarnya setiap kata, baik fi’l, ism, maupun harf, ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya.

Contoh:

ْي ق زاَّرلا رْ ي خ و لَ للها َّن إ و

Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīna h. Huruf kapital

Meskipun dalam tulisan Arab tidak dikenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasinya huruf kapital digunakan dengan ketentuan Ejaan Yang

(22)

Disempurnakan (EYD). Di antaranya adalah huruf kapital digunakan untuk menuliskan huruf awal, nama diri, dan permulaan kalimat. Bila nama diri itu didahului oleh kata sandang, maka yang dituliskan dengan huruf kapital tetap huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.

Contoh:

لْو س ر َّلا إ دَّم مُ ا م و

Wamā Muhammadun illā rasūl

Penggunaan huruf awal kapital untuk Allah hanya berlaku bila dalam tulisan Arabnya memang lengkap demikian dan kalau penulisan itu disatukan dengan kata lain sehingga ada huruf atau harakat yang dihilangkan, huruf kapital tidak dipergunakan.

Contoh:

ف و للها ن م رْص ن

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :