• Tidak ada hasil yang ditemukan

30 Desember 5 Januari Siap Siagalah dalam Hal Berdoa HALAMAN 3 NYANYIAN: 67, 81

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "30 Desember 5 Januari Siap Siagalah dalam Hal Berdoa HALAMAN 3 NYANYIAN: 67, 81"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

30 Desember–5 Januari

Siap Siagalah

dalam Hal B erdoa

HALAMAN 3 NYANYIAN: 67, 81

6-12 Januari

Caranya Terus Memiliki

”Sikap Menanti”

HALAMAN 18 NYANYIAN: 119, 32

(2)

Publikasi ini tidak diperjualbelikan, dan disediakan sebagai bagian dari pekerjaan pendidikan Alkitab sedu-nia yang ditunjang oleh sumbangan sukarela. Kecuali

The Watchtower (ISSN 0043-1087) is published

semi-monthly by Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.; L. Weaver, Jr., President; G. F. Simonis,

Periodicals Postage Paid at Brooklyn, NY, and at addi-tional mailing offices.POSTMASTER: Send address changes to Watchtower, 1000 Red Mills Road,Wallkill,

34567

NOVEMBER 15, 2013

Vol. 134, No. 22 Semimonthly INDONESIAN

ARTIKEL PELAJARAN

˝ Siap Siagalah dalam Hal Berdoa

Akhir dunia Setan yang fasik kian dekat, maka jangan sampai kita tertidur secara rohani. Artikel ini membahas bahwa kita bisa tetap bangun jika kita siap siaga dalam hal berdoa.

˝ Caranya Terus Memiliki ”Sikap Menanti”

Di artikel ini, perhatikan pelajaran yang bisa kita petik dari kesabaran nabi Mikha. Kita menunggu Yehuwa mengakhiri dunia fasik ini. Pelajarilah peristiwa apa saja yang akan menandai akhir penantian kita. Perhatikan juga caranya menunjukkan penghargaan atas kesabaran Allah.

(3)

”WAKTU yang paling sulit untuk tetap terjaga adalah menjelang subuh,” kata seorang mantan pekerja-malam. Orang-orang yang harus tetap ter-jaga sepanjang malam tentu setuju dengan pernya-taan itu. Orang Kristen dewasa ini menghadapi tantangan serupa karena mereka hidup menjelang

1, 2. (a) Mengapa sangat penting untuk ”siap siaga sehubung-an dengsehubung-an doa”? (b) Pertsehubung-anyasehubung-an apa saja tentsehubung-ang doa ysehubung-ang hen-daknya kita renungkan?

Siap Siagalah

dalam Hal B erdoa

”Hendaklah kamu berpikiran sehat, dan siap siaga

sehubungan dengan doa.”—1 PTR. 4:7.

APA JAWABAN SAUDARA?

B entuk doa apa saja yang perlu lebih sering S audara panjatkan?

Mengapa orang Kristen sejati harus senantiasa berdoa? Siapa yang mendapat manfaat jika S audara mendoakan orang lain?

(4)

akhir dunia Setan, yang bagaikan saat paling ge-lap di waktu malam. (Rm. 13:12) Sungguh berba-haya jika kita tertidur secara rohani pada saat yang kritis ini! Kita harus ”berpikiran sehat” dan mengindahkan desakan Alkitab untuk ”siap siaga sehubungan dengan doa”.—1 Ptr. 4:7.

2 Mengingat hal di atas, kita sebaiknya

mere-nung, ’Seberapa siagakah saya dalam hal berdoa? Apakah saya memanjatkan setiap bentuk doa, dan apakah saya berdoa senantiasa? Apakah saya suka mendoakan orang lain, atau hanya kebutuhan dan keinginan sendiri? Dan, mengapa doa sangat pen-ting untuk keselamatan saya?’

PANJATKAN ”SETIAP BENTUK D OA”

3 Dalam suratnya kepada orang Efesus, rasul

Paulus menyebutkan ”setiap bentuk doa”. (Ef. 6:18) Sewaktu berdoa, kita sering minta bantuan

(5)

Yehuwa untuk memenuhi kebutuhan dan meng-atasi masalah. Karena mengasihi kita, Sang ”Pen-dengar doa” tentu men”Pen-dengarkan permintaan kita. (Mz. 65:2) Namun, kita hendaknya juga ber-upaya memanjatkan bentuk-bentuk doa yang lain, seperti pujian, ucapan syukur, dan permohonan.

4 Ada banyak alasan mengapa doa kita

hen-daknya berisi pujian bagi Yehuwa. Misalnya, kita

tergerak untuk memuji Dia jika kita merenung-kan perbuatan-Nya yang luar biasa dan

”kebesar-annya yang limpah”. (Baca Mazmur 150:1-6.)

Ya, dalam keenam ayat di Mazmur ke-150 itu, 13 kali kita didesak untuk memuji Yehuwa! De-ngan rasa hormat yang dalam, penggubah maz-mur lain bernyanyi, ”Tujuh kali sehari aku memu-jimu oleh karena keputusan-keputusan hukummu yang adil-benar.” (Mz. 119:164) Yehuwa memang

4. Mengapa kita seharusnya sering memuji Yehuwa dalam doa-doa kita?

(6)

layak dipuji. Karena itu, tidakkah kita seharusnya memuji Dia dalam doa ”tujuh kali sehari”, atau sering?

5 Bentuk doa yang lain adalah ucapan syukur.

Paulus mendesak orang Kristen di kota Filipi, ”Ja-ngan khawatir akan apa pun, tetapi dalam se-gala sesuatu nyatakanlah permintaanmu kepada Allah melalui doa dan permohonan yang diser-tai ucapan syukur.” (Flp. 4:6) Sangatlah penting bagi kita untuk menyatakan syukur kepada Yehu-wa dengan segenap hati karena di hari-hari ter-akhir ini, orang-orang ”tidak tahu berterima

ka-sih”. (2 Tim. 3:1, 2, Terjemahan Baru) Sikap ini

sangat umum di dunia, dan kalau tidak hati-hati, kita bisa tertular. Dengan bersyukur kepada Allah dalam doa, kita akan merasa bahagia dan tidak ’suka menggerutu, mengeluh tentang keadaan kita

5. Mengapa bersyukur kepada Allah dalam doa merupakan per-lindungan?

(7)

dalam kehidupan’. (Yud. 16) Selain itu, jika kepa-la keluarga mengucapkan syukur dakepa-lam doa ber-sama keluarganya, istri dan anak-anaknya akan mengembangkan sikap suka berterima kasih.

6 Bentuk lain lagi adalah permohonan. Kata

bahasa Yunani yang diterjemahkan ”permohon-an” berarti doa yang khusyuk dan penuh perasa-an. Apa saja yang bisa kita mohonkan? Kita tentu bisa memohon bantuan Yehuwa sewaktu dianiaya atau menderita penyakit yang membahayakan ke-hidupan. Pada saat-saat seperti itu, doa kita pas-tilah lebih sungguh-sungguh. Tapi, apakah kita memohon kepada Yehuwa hanya pada saat-saat seperti itu?

7 Mari kita lihat contoh doa Yesus, dan

perha-tikan apa yang ia katakan tentang nama Allah,

Kerajaan-Nya, dan kehendak-Nya. (Baca Matius

6, 7. Apa artinya permohonan? Apa saja yang bisa kita mohon-kan kepada Yehuwa?

(8)

6:9, 10.) Sekarang ini, kefasikan begitu

meraja-lela, dan pemerintah manusia tidak bisa meme-nuhi bahkan kebutuhan dasar rakyatnya. Karena itu, kita tentunya harus memohon dengan sangat agar nama Bapak surgawi kita disucikan dan agar Kerajaan-Nya menyingkirkan pemerintahan Setan dari bumi. Kinilah juga waktunya untuk memo-hon agar kehendak Yehuwa terjadi di bumi seperti di surga. Mari kita tetap siaga dan memanfaatkan setiap bentuk doa.

”BERD OALAH SENANTIASA”

8 Rasul Petrus menasihati orang Kristen agar

”siap siaga sehubungan dengan doa”, tapi se-kali peristiwa ia sendiri pernah lalai. Sewaktu Yesus berdoa di Taman Getsemani, Petrus dan murid-murid lainnya tertidur. Sekalipun Yesus su-dah menyuruh mereka ’tetap berjaga-jaga dan

8, 9. Mengapa kita hendaknya tidak mencela Petrus dan rasul-rasul lain yang tertidur di Taman Getsemani?

(9)

berdoa senantiasa”, mereka tetap tidak bisa

mena-han kantuk.—Baca Matius 26:40-45.

9 Namun, ketimbang mencela Petrus dan

rasul-rasul lain karena tertidur, kita hendaknya ingat bahwa malam itu mereka sudah sangat lelah. Hari itu, mereka mempersiapkan Paskah lalu meraya-kannya pada petang hari. Kemudian, Yesus mem-perkenalkan Perjamuan Malam Tuan sebagai pola Peringatan kematiannya di masa depan. (1 Kor. 11:23-25) ”Setelah menyanyikan puji-pujian, me-reka pergi ke Gunung Zaitun,” dengan berja-lan kaki melalui jaberja-lan-jaberja-lan sempit di Yerusalem. (Mat. 26:30, 36) Setibanya di sana, hari sudah jauh lewat tengah malam. Seandainya kita ada di Taman Getsemani malam itu, kita mungkin juga akan tertidur. Yesus tidak memarahi para ra-sul yang kelelahan itu, tapi dengan pengasih me-ngatakan, ”Roh memang bergairah, tetapi daging lemah.”

(10)

10 Melalui pengalaman buruknya di Taman Getsemani, Petrus belajar pentingnya tetap sia-ga. Sebelumnya, Yesus mengatakan, ”Kamu se-mua akan tersandung sehubungan dengan aku pada malam ini.” Tapi, Petrus menjawab, ”Meski-pun semua orang lain tersandung sehubungan de-ngan engkau, aku tidak akan pernah tersandung!” Lalu, Yesus mengatakan bahwa Petrus akan me-nyangkalnya tiga kali. Petrus berkukuh, ”Bahkan jika aku harus mati bersamamu, aku tidak akan menyangkal engkau.” (Mat. 26:31-35) Nyatanya, Petrus memang menyangkal Yesus, seperti yang dinubuatkan. Sewaktu Petrus menyadari perbuat-annya, hancurlah hatinya dan ia ”menangis de-ngan getir”.—Luk. 22:60-62.

11 Dari pengalaman ini, Petrus belajar untuk

ti-dak terlalu percaya diri. Doa rupanya telah

mem-10, 11. (a) Pelajaran apa yang Petrus peroleh dari pengalam-annya di Taman Getsemani? (b) Bagaimana kita bisa belajar dari pengalaman Petrus?

(11)

bantu Petrus. Itu sebabnya ia bisa memberikan na-sihat untuk ”siap siaga sehubungan dengan doa”. Apakah kita mengindahkan nasihat terilham itu? Dan, apakah kita ’senantiasa berdoa’ sehingga menunjukkan bahwa kita mengandalkan Yehu-wa? (Mz. 85:8) Mari kita selalu ingat nasihat ra-sul Paulus, ”Biarlah ia yang berpikir bahwa ia sedang berdiri, berhati-hati agar ia tidak jatuh.” —1 Kor. 10:12.

D OA NEHEMIA DIJAWAB

12 Perhatikan Nehemia, yang melayani sebagai

juru minuman Raja Artahsasta dari Persia pada abad kelima SM. Nehemia memberikan teladan untuk berdoa dengan sepenuh hati. Setelah men-dengar berita tentang penderitaan orang Yahudi di Yerusalem, ia ”terus berpuasa dan berdoa di hadapan Allah” selama berhari-hari. (Neh. 1:4) Maka, sewaktu ditanya oleh Artahsasta mengapa

(12)

wajahnya muram, ”seketika itu juga [Nehemia] berdoa kepada Allah yang berkuasa atas surga”. (Neh. 2:2-4) Apa hasilnya? Yehuwa menjawab doanya dan bertindak demi kepentingan umat-Nya. (Neh. 2:5, 6) Hal itu pasti sangat menguat-kan iman Nehemia!

13 Seperti Nehemia, kita bisa menjaga iman

kita tetap kuat dengan senantiasa berdoa. Setan ti-dak kenal belas kasihan dan sering menyerang saat kita lemah. Misalnya, jika kita sedang sakit atau depresi, kita mungkin mulai merasa bahwa Allah kurang menghargai dinas kita setiap bulan. Atau, di antara kita ada yang merasa susah hati, bisa jadi karena teringat akan pengalaman di masa lalu. Setan ingin kita menganggap diri tidak ber-harga. Ia menyerang dengan memanfaatkan pera-saan negatif ini untuk melemahkan iman kita. Tapi kalau kita ”siap siaga sehubungan dengan

13, 14. Apa yang harus kita lakukan agar tetap beriman dan bisa melawan upaya S etan untuk mengecilkan hati kita?

(13)

doa”, iman kita bisa tetap kuat. Ya, ’dengan peri-sai besar iman, kita akan sanggup memadamkan semua senjata berapi dari si fasik’.—Ef. 6:16.

14 Jika kita ”siap siaga sehubungan dengan

doa”, kita tidak akan lengah sewaktu tiba-tiba menghadapi ujian iman dan cobaan. Agar tidak berkompromi, mari kita ingat teladan Nehemia dan langsung berdoa kepada Allah. Hanya dengan bantuan Yehuwa kita dapat berhasil menolak go-daan dan bertekun dalam ujian iman.

D OAKAN ORANG LAIN

15 Yesus dengan khusyuk mendoakan Petrus

agar iman sang rasul tidak gugur. (Luk. 22:32) Epafras, seorang Kristen yang setia pada abad pertama, meniru Yesus. Ia ’mengerahkan diri da-lam doa-doanya demi kepentingan saudara-sauda-ranya di Kolose’. Tentang Epafras, Paulus menu-lis kepada mereka, ”Ia . . . selalu berdoa dengan

15. Pertanyaan apa saja yang hendaknya kita ajukan tentang mendoakan orang lain?

(14)

tekun untuk kalian. Ia minta dengan sangat ke-pada Allah supaya keyakinanmu menjadi kuat dan kalian betul-betul dewasa, agar kalian dengan sempurna taat kepada kemauan Allah.” (Kol. 4: 12, Bahasa Indonesia Masa Kini) Kita bisa

ber-tanya, ’Apakah saya dengan khusyuk mendoa-kan saudara-saudari saya di seluruh dunia? Se-berapa seringkah saya mendoakan rekan seiman yang menderita karena bencana alam? Kapan ter-akhir kalinya saya dengan sungguh-sungguh men-doakan orang-orang yang mengemban tanggung jawab besar dalam organisasi Yehuwa? Apakah baru-baru ini saya mendoakan seseorang di sidang yang mengalami kesulitan?’

16 Doa kita untuk orang lain bisa

benar-be-nar membantu mereka. (Baca 2 Korintus 1:11.)

Allah Yehuwa memang tidak wajib bertindak ha-nya karena baha-nyak penyembah-Nya mendoakan

(15)

sesuatu berkali-kali. Tapi, Ia senang dengan per-hatian mereka yang tulus kepada satu sama lain dan Ia mempertimbangkannya sewaktu menjawab doa mereka. Maka, kita hendaknya menganggap serius hak istimewa dan tanggung jawab kita un-tuk mendoakan orang lain. Seperti Epafras, kita hendaknya memperlihatkan kasih dan kepedulian yang tulus kepada saudara-saudari kita dengan ’mengerahkan diri demi kepentingan mereka da-lam doa-doa kita’. Dengan melakukan hal itu, kita akan lebih bahagia, karena ”lebih bahagia mem-beri daripada menerima”.—Kis. 20:35.

’KESELAMATAN KITA SUDAH DEKAT’

17 Sebelum menyatakan bahwa ”malam sudah

larut; hari itu sudah dekat”, Paulus menulis, ”Kamu sekalian mengetahui masanya, bahwa su-dah tiba jamnya bagi kamu untuk bangun dari

17, 18. Apa manfaatnya jika kita ”siap siaga sehubungan de-ngan doa”?

(16)

tidur, sebab sekarang keselamatan kita lebih dekat daripada sewaktu kita menjadi orang yang perca-ya.” (Rm. 13:11, 12) Dunia baru Allah sudah de-kat, dan keselamatan kita sudah lebih dekat dari-pada yang kita duga. Kita tidak boleh tertidur secara rohani, dan jangan sekali-kali kita mem-biarkan dunia ini mengalihkan perhatian kita se-hingga kita tidak punya waktu khusus untuk doa pribadi. Sebaliknya, mari kita ”siap siaga sehu-bungan dengan doa” agar kita bisa ”bertingkah laku kudus dan melakukan hal-hal yang berkait-an dengberkait-an pengabdiberkait-an yberkait-ang saleh” sambil menberkait-an- menan-tikan hari Yehuwa. (2 Ptr. 3:11, 12) Jalan hi-dup kita akan menunjukkan apakah kita tetap bangun secara rohani dan benar-benar percaya bahwa akhir dunia fasik ini sudah dekat. Karena itu, ”berdoalah dengan tiada henti”. (1 Tes. 5:17) Mari kita tiru Yesus dengan berupaya mencari tempat sepi di mana kita bisa berdoa sendirian.

(17)

Jika kita berdoa lebih lama, hubungan kita dengan Yehuwa akan semakin dekat. (Yak. 4:7, 8) Dan, ini merupakan berkat yang sangat besar!

18 Alkitab mengatakan, ”Selama dalam daging,

Kristus mempersembahkan permohonan dan juga permintaan yang sungguh-sungguh kepada Priba-di yang dapat menyelamatkan Priba-dia dari kematian, dengan jeritan yang kuat dan air mata, dan ia di-dengar karena rasa takutnya yang saleh.” (Ibr. 5:7) Yesus memanjatkan permohonan serta per-mintaan dan tetap setia kepada Allah hingga akhir hidupnya di bumi. Karena itu, Yehuwa membang-kitkan Putra-Nya dan mengaruniakan kehidupan yang tak berkematian di surga. Kita juga bisa se-tia kepada Bapak surgawi kita tidak soal godaan dan ujian yang mungkin mengadang kita di masa depan. Ya, kita bisa memperoleh hadiah kehidup-an abadi, asalkkehidup-an kita tetap ”siap siaga sehubung-an dengsehubung-an doa”.

(18)

SEWAKTU Kristus menjadi Raja pada tahun 1914, hari-hari terakhir bagi dunia Setan dimulai. Dalam perang di surga, Yesus mengalahkan Si Iblis beserta hantu-hantunya dan mencampakkan

mereka ke sekitar bumi. (Baca Penyingkapan 12:

7-9.) Setan tahu bahwa ”waktunya tinggal

sedi-kit”. (Pny. 12:12) Tapi, ’waktu yang sedikit’ itu su-dah berlangsung puluhan tahun. Dan bagi bebera-pa orang, hari-hari terakhir terasa sangat lama.

1. Mengapa kita mungkin mulai tidak sabar?

Caranya Terus Memiliki

”Sikap Menanti”

”Aku akan memperlihatkan sikap menanti.”—MI. 7:7.

APA JAWABAN SAUDARA?

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari teladan Mikha? Peristiwa apa saja yang kita nantikan?

Bagaimana kita bisa menunjukkan penghargaan atas kesabaran Yehuwa?

(19)

Apakah kita juga mulai tidak sabar menunggu Ye-huwa bertindak?

2 Ketidaksabaran bisa berbahaya, karena kita

mungkin akan bertindak gegabah. Bagaimana kita bisa terus memiliki sikap menanti? Artikel ini memberi tahu kita caranya dengan membahas tiga pertanyaan berikut. (1) Apa yang bisa kita pel-ajari tentang kesabaran dari teladan nabi Mikha? (2) Peristiwa apa saja yang akan menandai akhir penantian kita? (3) Bagaimana kita bisa menun-jukkan penghargaan atas kesabaran Yehuwa?

PELAJARAN DARI TELADAN MIKHA

3 Baca Mikha 7:2-6. Nabi Mikha menyaksikan

kondisi rohani bangsa Israel merosot hingga ta-raf mengerikan di bawah pemerintahan Raja Ahaz yang jahat. Mikha menyamakan orang Israel yang tidak setia dengan ”onak” dan ”pagar tanaman berduri”. Orang yang terkena onak atau tanaman

2. Apa yang akan dibahas dalam artikel ini?

(20)

berduri akan terluka; demikian pula orang Israel yang jahat mencelakakan sesamanya. Begitu pa-rahnya kefasikan mereka sehingga di antara ang-gota keluarga pun tidak ada lagi kasih. Karena tahu bahwa ia tidak sanggup memperbaiki situasi-nya, Mikha mencurahkan perasaannya kepada Ye-huwa. Kemudian, ia dengan sabar menanti Yehu-wa bertindak. Mikha yakin bahYehu-wa YehuYehu-wa akan turun tangan pada waktu yang Ia tetapkan.

4 Seperti Mikha, kita hidup dalam masyarakat

yang mementingkan diri. Banyak orang ”tidak ber-terima kasih, tidak loyal, tidak memiliki kasih sa-yang alami”. (2 Tim. 3:2, 3) Kita merasa stres jika teman kerja, teman sekolah, dan tetangga kita se-lalu mau menang sendiri. Beberapa hamba Allah bahkan menghadapi problem yang lebih besar. Me-nurut Yesus, para pengikutnya akan ditentang oleh keluarga mereka. Untuk menggambarkan

(21)

ruh dari berita yang ia sampaikan, Yesus menggu-nakan kata-kata yang mirip dengan yang dicatat di Mikha 7:6. Ia mengatakan, ”Aku datang untuk menyebabkan perpecahan, seorang pria melawan bapaknya, dan anak perempuan melawan ibunya, dan seorang istri yang masih muda melawan ibu mertuanya. Sesungguhnya, musuh orang adalah orang-orang dari rumah tangganya sendiri.” (Mat. 10:35, 36) Menghadapi ejekan dan tentangan ang-gota keluarga yang tidak seiman memang sangat sulit, tapi jangan menyerah! Mari kita tetap loyal dan sabar menanti Yehuwa membereskan masalah-nya. Jika kita terus memohon bantuan-Nya, Ia akan memberi kita kekuatan dan hikmat untuk da-pat bertahan.

5 Kesabaran Mikha diberkati oleh Yehuwa.

Mi-kha menyaksikan berakhirnya pemerintahan Raja Ahaz yang jahat. Ia melihat putra Ahaz, yaitu Raja

5, 6. B erkat apa yang Mikha peroleh, tapi apa yang tidak ia sak-sikan?

(22)

Hizkia yang baik, naik takhta dan memulihkan ibadat yang murni. Dan, Mikha juga melihat ter-genapnya nubuat yang ia tulis tentang penghukum-an Samaria saat orpenghukum-ang Asiria menyerbu kerajapenghukum-an Israel di utara.—Mi. 1:6.

6 Tapi, Mikha tidak menyaksikan penggenapan

semua nubuat yang Yehuwa sampaikan kepadanya. Sebagai contoh, Mikha bernubuat, ”Pada akhir masa itu . . . gunung rumah Yehuwa akan ber-diri teguh mengatasi puncak gunung-gunung, dan akan ditinggikan mengatasi bukit-bukit; dan ke sana suku-suku bangsa akan berduyun-duyun. Ba-nyak bangsa pasti akan pergi dan mengatakan, ’Marilah, kamu sekalian, mari kita naik ke gunung Yehuwa.’ ” (Mi. 4:1, 2) Mikha meninggal lama se-belum nubuat itu tergenap. Namun semasa hidup-nya, ia bertekad untuk tetap loyal kepada Yehuwa sampai mati, tidak soal apa yang orang lain laku-kan. Mengenai hal ini, Mikha menulis, ”Semua

(23)

suku bangsa, masing-masing akan berjalan dengan nama allahnya; tetapi kami, kami akan berjalan dengan nama Yehuwa, Allah kami, sampai wak-tu yang tidak tertenwak-tu, ya, selama-lamanya.” (Mi. 4:5) Mikha bisa sabar menanti selama masa-masa sulit karena ia yakin sepenuhnya bahwa Yehuwa

akan menggenapi semua janji-Nya. Nabi yang

se-tia itu percaya kepada Yehuwa.

7 Apakah kita juga memercayai Yehuwa, seperti

Mikha? Kita punya alasan yang kuat untuk per-caya. Kita sudah menyaksikan sendiri penggenap-an nubuat Mikha. Selama ”akhir masa itu”, juta-an orjuta-ang dari segala bjuta-angsa djuta-an suku djuta-an bahasa telah berduyun-duyun pergi ke ”gunung rumah Yehuwa”. Meskipun berasal dari bangsa-bangsa yang saling bertikai, para penyembah Yehuwa ini telah ”menempa pedang-pedang mereka menjadi

7, 8. (a) Mengapa kita dapat memercayai Yehuwa? (b) Apa yang akan membuat waktu terasa lebih cepat berlalu?

(24)

mata bajak” dan tidak mau ”belajar perang lagi”. (Mi. 4:3) Sungguh besar hak istimewa kita bisa berada di antara umat Yehuwa yang suka damai!

8 Wajarlah jika kita ingin agar Yehuwa

sege-ra mengakhiri dunia yang fasik ini. Tapi, untuk bisa sabar menanti, kita perlu memandang situasi-nya dari sudut pandang Yehuwa. Ia telah menetap-kan suatu hari untuk menghakimi manusia mela-lui Yesus Kristus, ”pria yang telah ia tetapkan”. (Kis. 17:31) Tapi sebelum itu terjadi, Allah mem-berikan kesempatan kepada segala macam orang untuk ”memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran”, menerapkannya, dan disela-matkan. Ini menyangkut hidup dan mati

orang-orang. (Baca 1 Timotius 2:3, 4.) Dengan sibuk

membantu orang lain mengenal Yehuwa, waktu yang tersisa hingga datangnya penghukuman Allah akan terasa lebih cepat berlalu. Tidak lama lagi, bahkan secara tiba-tiba, akhir itu akan datang.

(25)

Saat itu terjadi, alangkah senangnya kita bahwa se-lama ini kita sibuk memberitakan Kerajaan!

PERISTIWA YANG MENANDAI AKHIR PENANTIAN KITA

9 Baca 1 Tesalonika 5:1-3. Tidak lama lagi,

bangsa-bangsa akan mengatakan ”Perdamaian dan keamanan!” Agar tidak tertipu oleh pernyataan ini, kita perlu ”tetap bangun dan tetap sadar” secara rohani. (1 Tes. 5:6) Maka, mari kita bahas bebe-rapa peristiwa yang mengarah kepada pernyataan yang penting ini.

10 Setiap kali perang dunia berakhir,

bangsa-bangsa sangat mendambakan perdamaian. Sete-lah perang dunia pertama, Liga Bangsa-Bangsa didirikan untuk mewujudkan perdamaian. Ke-mudian, setelah perang dunia kedua, Perserikat-an BPerserikat-angsa-BPerserikat-angsa menjadi harapPerserikat-an bPerserikat-anyak orPerserikat-ang untuk mendatangkan perdamaian di bumi. Para

(26)

pemimpin politik dan agama juga mengandalkan lembaga-lembaga itu. Sebagai contoh, pada tahun 1986, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan ta-hun tersebut sebagai Tata-hun Perdamaian Interna-sional. Pada tahun itu juga, pemimpin agama dan politik dari banyak bangsa bergabung dengan ke-pala Gereja Katolik untuk memanjatkan doa per-damaian di Assisi, Italia.

11 Tetapi, pernyataan tentang perdamaian dan

keamanan tersebut atau yang serupa dengan itu bukanlah penggenapan nubuat di 1 Tesalonika 5:3. Mengapa? Karena ’kebinasaan tiba-tiba’ yang di-nubuatkan di ayat itu belum terjadi.

12 Siapa yang akan mengumandangkan

pernya-taan penting ”Perdamaian dan keamanan”? Apa peranan para pemimpin agama dan politik? Alki-tab tidak memberi tahu kita. Yang kita tahu, tidak

12. Apa yang kita ketahui tentang pernyataan ”Perdamaian dan keamanan”?

(27)

soal bagaimana atau seberapa meyakinkan pernya-taan itu diumumkan, apa yang dinyatakan itu bu-kanlah ”perdamaian dan keamanan” yang sejati. Dunia tua ini tetap dikendalikan oleh Setan, sudah busuk sampai ke akar-akarnya, dan tidak akan ber-ubah. Sungguh menyedihkan jika ada di antara kita yang termakan propaganda Setan dan tidak menjaga kenetralan!

13 Baca Penyingkapan 7:1-4. Sementara kita

menunggu penggenapan 1 Tesalonika 5:3, malai-kat-malaikat yang kuat menahan angin kesengsara-an besar. Apa ykesengsara-ang mereka tunggu? Salah satunya disebutkan oleh rasul Yohanes, yaitu pemeteraian

akhir ”budak-budak Allah” yang terurap.1 Begitu

pemeteraian akhir ini selesai, para malaikat akan melepaskan angin kebinasaan itu. Lalu, apa yang akan terjadi?

1 Untuk pembahasan tentang perbedaan antara pemeteraian awal

dan pemeteraian akhir kaum terurap, lihat Menara Pengawal 1

Ja-nuari 2007, halaman 30-31.

(28)

14 Babilon Besar, imperium agama palsu

sedu-nia, akan dihancurkan sebagai hukuman yang la-yak ia terima. ”Berbagai umat dan kumpulan orang dan bangsa-bangsa dan bahasa-bahasa” ti-dak akan bisa menolongnya. Sekarang pun kita bisa melihat ajalnya sudah dekat. (Pny. 16:12; 17: 15-18; 18:7, 8, 21) Bukti berkurangnya dukungan terlihat di media berita yang melaporkan semakin gencarnya protes terhadap agama dan para pemim-pinnya. Sekalipun demikian, para pemimpin Babi-lon Besar tidak merasa berada dalam bahaya. Me-reka salah besar! Setelah pernyataan ”Perdamaian dan keamanan!”, unsur-unsur politik dunia Setan akan tiba-tiba berbalik melawan agama palsu dan memusnahkannya. Babilon Besar akan hilang un-tuk selamanya! Peristiwa sebesar itu tentu layak

kita nantikan dengan sabar.—Pny. 18:8, 10.

14. Apa yang menunjukkan bahwa Babilon B esar akan segera menemui ajalnya?

(29)

CARA MENUNJUKKAN PENGHARGAAN ATAS KESABARAN ALLAH

15 Meski orang-orang mencela nama-Nya,

Yehu-wa sabar menunggu saat yang tepat untuk bertin-dak. Yehuwa tidak ingin ada orang berhati jujur yang dibinasakan. (2 Ptr. 3:9, 10) Itukah juga ke-inginan kita? Sebelum hari Yehuwa tiba, kita bisa menunjukkan penghargaan atas kesabaran-Nya de-ngan cara-cara berikut.

16 Bantulah orang-orang yang tidak aktif.

Yesus mengatakan bahwa surga akan bersuka-cita jika satu domba yang hilang ditemukan. (Mat. 18:14; Luk. 15:3-7) Jelaslah, Yehuwa sangat memerhatikan semua orang yang pernah menga-sihi Dia, sekalipun mereka sekarang sudah tidak aktif melayani Dia. Kalau kita membantu mereka

15. Mengapa Yehuwa tidak cepat-cepat bertindak?

16, 17. (a) Mengapa kita seharusnya ingin membantu orang yang tidak aktif? (b) Mengapa orang yang tidak aktif harus se-gera kembali kepada Yehuwa?

(30)

kembali kepada Yehuwa, kita ikut membuat Dia dan para malaikat bersukacita.

17 Apakah Saudara sekarang tidak aktif

mela-yani Allah? Mungkin Saudara tidak lagi berga-bung dengan organisasi Yehuwa karena seseorang di sidang pernah menyakiti hati Saudara. Hal itu bisa jadi sudah lama berlalu. Maka renungkan-lah, ’Apakah hidup saya sekarang lebih memuas-kan, dan apakah saya lebih bahagia? Apakah Yehu-wa yang menyakiti hati saya, atau manusia yang tidak sempurna? Apakah Allah Yehuwa pernah merugikan saya?’ Ia selalu berbuat baik kepada kita. Sekalipun kita tidak memenuhi pembakti-an kita kepada-Nya, kita masih boleh menikmati hal-hal baik yang Ia sediakan. (Yak. 1:16, 17) Hari Yehuwa akan segera tiba. Sekaranglah waktu-nya untuk kembali ke pelukan Bapak surgawi kita yang pengasih dan ke sidang, satu-satunya tempat yang aman pada hari-hari terakhir ini.—Ul. 33:27; Ibr. 10:24, 25.

(31)

18 Dukunglah para pengemban tanggung

ja-wab. Sebagai Gembala yang pengasih,

Yehu-wa membimbing dan melindungi kita. Ia melan-tik Putra-Nya sebagai Gembala Utama kawanan. (1 Ptr. 5:4) Para penatua di lebih dari 100.000 si-dang menggembalakan domba-domba Allah satu per satu. (Kis. 20:28) Jika kita dengan loyal men-dukung hamba-hamba yang terlantik itu, kita me-nunjukkan penghargaan kepada Yehuwa dan Yesus atas semua yang telah Mereka lakukan untuk kita.

19 Pererat hubungan dengan satu sama lain.

Apa artinya? Jika suatu pasukan yang andal dirang musuh, mereka akan merapatkan barisan, se-tiap prajurit akan saling mendekat. Dengan begitu mereka membentuk pertahanan yang sulit ditem-bus. Sekarang ini, Setan sedang mempergencar se-rangannya terhadap umat Allah. Kini bukan wak-tunya untuk saling menyerang rekan-rekan kita.

18. Mengapa kita perlu mendukung para pengemban tanggung jawab?

(32)

Inilah waktunya untuk lebih akrab dengan satu sama lain, mengabaikan kelemahan masing-ma-sing, dan mengandalkan Yehuwa.

20 Semoga kita semua tetap siaga secara rohani

dan memperlihatkan sikap menanti. Mari kita de-ngan sabar menunggu pernyataan ”Perdamaian dan keamanan!” dan pemeteraian akhir kaum ter-urap. Setelah itu, keempat malaikat akan melepas-kan angin kebinasaan, dan Babilon Besar dihan-curkan. Sementara menantikan peristiwa-peristiwa besar itu, mari kita terus taati arahan dari hamba-hamba terlantik dalam organisasi Yehuwa. Rapat-kan barisan menghadapi Iblis dan hantu-hantu! Sekaranglah waktunya untuk mengindahkan de-sakan sang pemazmur, ”Tabahlah, dan semoga ha-timu kuat, kamu semua yang menantikan Yehu-wa.”—Mz. 31:24.

20. Apa yang harus kita lakukan sekarang?

Kunjungiwww.jw.org/id atau pindai kode

5

Referensi

Dokumen terkait

Agus Syihabudin Publikasi Sinta 2, Jurnal Internasional Q1, Prosiding, HKI, Diusulkan kembali 2022 dengan perbaikan kelengkapan administrasi sesuai aturan. Ristek/BRIN

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pendugaan (estimation) dan peramalan (forecasting) berdasarkan data runtun waktu hasil pengamatan dari tahun 1985 sampai 2004 terhadap

Amonia dapat dikombinasikan dengan asam organik alfa-keto membentuk asam amino baru yang dapat dipakai untuk mensintesis protein mikrobia dan amonia dapat diabsorbsi melalui

Tantangan yang dihadapi dalam penelitian ini adalah tidak menggunakan masker saat ada orang yang datang di rumah, menggunakan masker scuba, mengikuti pertemuan dengan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas dan efisiensi adsorpsi terbesar dihasilkan oleh adsorben H yang terbuat dari ampas tebu dengan aktivasi asam (ATA).. Pada nisbah

96 KOPERASI BEKAS PELAJAR SEKOLAH MENENGAH KEBANGSAAN SELANGOR SRI AMPANG KUALA LUMPUR SELANGOR

Rapat dalam membahas perencanaan pendidikan kewirausahaan ini tidak hanya dilakukan di awal tahun ajaran baru saja, ada rapat mingguan dan bulanan membahas