• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. semakin memprihatinkan. Keprihatinan itu terjadi bukan karena tanpa alasan,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. semakin memprihatinkan. Keprihatinan itu terjadi bukan karena tanpa alasan,"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Aborsi merupakan suatu peristiwa sosial yang dimana dari hari ke hari semakin memprihatinkan. Keprihatinan itu terjadi bukan karena tanpa alasan, hal ini terjadi karena adanya perbuatan manusia yang menggugurkan kandungannya, akibat dari perilaku tersebut menimbulkan efek negatif baik untuk diri pelaku maupun pada masyarakat luas. Hal ini disebabkan karena tindakan aborsi menyangkut norma sosial, moral, dan hukum.1 Berkaitan dengan kehidupan manusia aborsi memiliki kaitan yang sangat erat antara wanita dengan janin yang berada di dalam kandungan wanita.2 Aborsi dalam hukum digolongkan dengan Abortus Provocatus. Abortus Provocatus

merupakan suatu peristiwa pengguguran kandungan yang dilakukan dengan sengaja, hal ini terjadi karena adanya perbuatan manusia yang berusaha untuk menggugurkan janin yang berada di dalam kandungan yang tidak diinginkannya.3 Sedangkan secara terminologi aborsi merupakan suatu

1 Abdul Djamil, Psikolog dalam Hukum, Jakarta, Armico, 1984, hal 118.

2 Charisdiono.M, Achadiat, Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran, Buku Kedokteran, Jakarta, 2007,

hal. 12.

3 Suryono Ekotama dkk, Abortus Provocatus bagi Korban Perkosaan, Andi Offset, Yogyakarta, 2001,

(2)

peristiwa mengeluarkan janin atau bayi secara paksa yang masih berada di dalam kandungan sebelum waktunya untuk lahir.4

Pada hari Selasa tanggal 22 Mei 2018 sekira pukul 15.00 WIB tepatnya RT 04 Dusun Ilir Desa Pulau Kec. Muara Tembesi Kab Batanghari telah terjadi tindakan aborsi yang dilakukan oleh seorang gadis dibawah umur yang berusia 15 tahun yang berinisial Anak. Kejadian tersebut berawal ketika Anak disetubuhi oleh kakak kandungnya sendiri yang berinisial Anak Saksi, Anak Saksi melakukan persetubuhan kepada adiknya ini karena terlalu sering menonton video porno dan pada saat itu keadaan rumah dalam keadaan kosong yang memudahkan Anak Saksi untuk menyetubuhi Anak. Persetubuhan itu terjadi tidak hanya satu hingga dua kali saja, tetapi sudah terjadi sebanyak 9 kali, bahkan setiap akan melakukan tindakan tersebut Anak Saksi selalu mengancam Anak akan dipukul jika tidak mau melayaninya. Tindakan Anak Saksi tersebut mengakibatkan Anak menjadi hamil. Anak yang merasa takut diusir dari rumah apabila Asmara Dewi (Ibu) mengetahui Anak hamil diluar nikah, menyebabkan Anak melakukan tindakan aborsi tanpa sepengetahuan keluarganya. Anak meminum sari pati kunyit yang diberi oleh Asmara Dewi dan beberapa saat setelah meminum sari pati kunyit tersebut Anak merasakan sakit perut yang hebat dan janin yang berada didalam kandungannya keluar. Janin yang telah keluar dari perut tersebut oleh

4 Adami Chazawi, Kejahatan Terhadap Tubuh dan Nyawa, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2004, hal.

(3)

Anak dibungkus kain dan dibuang ke kebun yang berada di dekat rumahnya. Beberapa hari setelah kejadian tersebut Anak ditangkap kepolisian dan di dalam persidangan Anak terbukti secara sah dan bersalah sehingga Anak dijatuhi hukuman pidana penjara enam (6) bulan dan pelatihan kerja selama tiga (3) bulan oleh hakim. Terkait dengan tindak pidana perkosaan yang dilakukan oleh kakak kandungnya telah diputus dengan pidana penjara dua tahun dengan Putusan Perkara Nomor 4/Pid.Sus.Anak.2018/PN Mbn.5

Berdasarkan Konvensi Internasional, kekerasaan terhadap perempuan merupakan,

“Suatu tindakan yang berdasar pada perbedaan jenis kelamin yang dapat mengakibatkan kesengsaraan atau penderitaan terhadap perempuan secara fisik, psikologis, dan seksual termasuk dengan ancaman tertentu, pemaksaan, perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi didepan umum maupun di dalam kehidupan pribadi”.6

Selain itu dengan adanya kekerasan terhadap perempuan dapat menghalangi atau meniadakan kesempatan perempuan untuk bisa menikmati hak asasi dan hak kebebasan lainnya.7 Banyak dari mereka yang seringkali tidak berani untuk melaporkan tindakan kekerasan yang dilakukan padanya

5 http://sipp.pn-muarabulian.go.id/index.php/detil_perkara

6 Deklarasi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (Diadopsi oleh Majelis Umum

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 Desember 1993, GA Res 48/104, Pasal 1

7 Saparinah Sadli, Beberapa Catatan Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Di Indonesia, PPS-UI,

(4)

karena adanya ikatan keluarga, nilai-nilai sosial tertentu, nama baik, dan dampak yang akan terjadi kepadanya jika ia melaporkannya.8

Sehingga sebagian besar perempuan yang menjadi korban kehamilan akibat tindak perkosaan memilih untuk melakukan aborsi. Para perempuan korban perkosaan mempunyai alasan mengapa melakukan tindakan aborsi, karena melahirkan anak dari hasil perkosaan hanya akan menambah derita batinnya, selain itu kelahiran anak tersebut akan selalu mengingatkan kembali peristiwa perkosaan yang pernah dialaminya.9

Di satu sisi, nampaknya tidak adil apabila wanita yang menjadi korban perkosaan meneruskan kehamilannya sampai tiba waktunya untuk melahirkan dan anak yang dilahirkan menjadi cemohan masyarakat yang dapat mengakibatkan ibunya menjadi trauma karena adanya cemohan tersebut. Sehingga dengan memaksanya untuk meneruskan kehamilannya dapat menimbulkan trauma dan cemohan bagi wanita itu sendiri dan keluarganya seumur hidupnya.10

Bagi kalangan yang setuju dengan dapat dilakukannya aborsi terhadap korban perkosaan, kehamilan itu timbul bukan atas kemauan korban jadi dapat mengurangi penderitaan korban baik secara psikis maupun sosial, maka diberi hak bagi korban perkosaan untuk dapat melakukan aborsi. Tetapi bagi

8 Arif Gosita, Victimisasi Kriminal Kekerasan, Akademika Presindo edisi II, Jakarta, 1985, hal. 45. 9 Febry Sasmita, Kajian Terhadap Tindakan Aborsi Berdasarkan Kehamilan Akibat Perkosaan, Jurnal

Ilmu Hukum, 2016, hal. 4-5.

10 Saifullah, Aborsi dan Pertimbangan hukum terhadap kasus perkosaan, Jurnal Mimbar Hukum,

(5)

kalangan yang tidak setuju dilakukannya aborsi bagi korban perkosaan setiap orang mempunyai hak untuk hidup, janin yang berada dalam kandungan perempuan akibat perkosaan itu merupakan ciptaan Tuhan yang mempunyai hak untuk menikmati kehidupan.11

Menurut kelompok Pro Life tindakan aborsi tidak dapat dibenarkan karena mereka menganggap tindakan tersebut sama dengan melakukan pembunuhan, tidak mempedulikan berapa lama usia kandungan dan bagaimana kondisi janin ketika digugurkan. Sedangkan kelompok Pro Choice

mendukung Hak Aborsi dengan alasan tubuh adalah otoritas perempuan dan janin adalah bagian dari tubuh mereka, sehingga perempuan memiliki hak pribadi terhadap tubuh mereka sendiri.

Melakukan tindakan aborsi memang tidak diizinkan, tetapi terdapat pengecualian berdasarkan pada Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (yang selanjutnya disingkat dengan UU Kesehatan) berbunyi:

a. Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan.

b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.

11 Wiwik afifah, Perlindungan Hukum Bagi Perempuan Korban Perkosaan Yang Melakukan Aborsi,

(6)

Sesuai dengan bunyi Pasal 76 huruf a UU Kesehatan, aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:

a. Sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis.

Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi pada Pasal 31 ayat (1) dan (2) berisi rumusan:

1) Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan: a. Indikasi kedaruratan medis; atau

b. Kehamilan akibat perkosaan.

2) Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Dalam hal ini penulis tidak setuju dengan Putusan Pengadilan Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018 PN Mbn, yang memberikan hukuman pidana penjara 6 (enam) bulan kepada Anak, dikarenakan Anak merupakan korban perkosaan. Anak tidak melanggar Pasal 77 ayat (1) jo Pasal 45A Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perlindungan Anak yang berbunyi “Setiap orang dilarang melakukan aborsi terhadap anak yang masih dalam kandungan, kecuali dengan alasan dan tata cara yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Alasan untuk melakukan aborsi dibenarkan dalam Pasal 75 ayat (2) huruf b UU Kesehatan. Bahwasanya kehamilan akibat perkosaan yang

(7)

dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan merupakan pengecualian dari larangan tindakan aborsi. Kaitannya dengan hal tersebut, apabila wanita yang menjadi korban perkosaan menggugurkan kandungannya, secara hukum positif akan mendapatkan hukuman. Berarti hal ini menimbulkan persoalan bagi wanita yang hamil karena tindakan perkosaan dapat mengakibatkan permasalahan sosial, kejiwaan yang dapat mengakibatkan korban bunuh diri.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor

5/Pid.Sus.Anak/2018/PN Mbn dikaitkan dengan pasal 75 ayat (2) Undang-Undang Kesehatan dan HAM Perempuan?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat diketahui tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam Putusan Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018 PN Mbn apakah bertentangan dengan norma hukum yang ada pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan aborsi dapat dilakukan oleh korban perkosaan dengan menggunakan norma pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

(8)

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Hasil pemikiran ini dapat berguna sebagai bahan pemikiran selanjutnya dan untuk perkembangan Hukum Pidana khususnya di bidang

Hukum Pidana yang berkaitan dengan Putusan Nomor

5/Pid.Sus.Anak/2018 PN Mbn bertentangan dengan norma hukum yang ada pada UU Kesehatan dan aborsi dapat dilakukan oleh korban perkosaan dengan menggunakan norma pada UU Kesehatan.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai tindakan aborsi seperti apa yang dapat dilakukan sesuai dengan Pasal 75 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

E. Keaslian Penelitian

Penelitian mengenai permasalahan Aborsi pernah ditulis dan diteliti oleh Iqbal Yuman Saputra, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana pada tahun 2018 dengan berjudul “Aborsi Indikasi Kedaruratan Medis dan Korban Perkosaan dalam Perspektif Keadilan Bermartabat”. Penelitian yang dilakukan oleh Iqbal tersebut membahas mengenai Pasal 346 KUHP yang menyatakan tindakan aborsi dapat dipidana, tetapi dalam lex specialis pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

(9)

tentang Kesehatan bahwa tindakan aborsi dilarang, tetapi terdapat pengecualian berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan korban perkosaan. Didalam penelitiannya Iqbal juga menggunakan Teori Keadilan Bermartabat yang memiliki pandangan bahwa jika ingin mencari kebenaran hukumnya maka lihat pada peraturan perundangan yang terkait dan putusan pengadilan. Pada penelitiannya, Iqbal menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual, sedangkan jenis penelitiannya menggunakan legal research.

Penelitian yang sedang diteliti oleh penulis dengan judul “Aborsi Bagi ANAK Korban Perkosaan dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Berdasar Urgensi Perlindungan Perempuan”. Penelitian yang dilakukan oleh penulis membahas mengenai apakah aborsi dapat dilakukan bagi anak dibawah umur yang hamil akibat perkosaan. Dalam penelitiannya penulis menggunakan Pendekatan Perundang-undangan dan Pendekatan Kasus, sedangkan jenis penelitian yang digunakan penelitian normatif karena yang dilakukan dengan menelaah aturan-aturan yang yang dikaitkan dengan perundang-undangan yang berkaitan dengan masalah hukum yang sedang penulis amati.

(10)

F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan penulis dalam hal ini adalah penelitian normatif karena dilakukan dengan menelaah aturan-aturan yang dikaitkan dengan perundang-undangan, doktrin-doktrin, prinsip-prinsip hukum.12 Penelitian hukum normatif dimulai dari peristiwa hukum kemudian dicari acuan pada peraturan perundangan, asas-asas hukum, doktrin hukum dan pendapat ahli untuk mencari kontruksi hukum dan hubungan hukum.13

2. Pendekatan

Pendekatan yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah pendekatan undang-undang-undang dan pendekatan kasus. Pendekatan undang-undang karena akan meneliti berbagai aturan hukum yang menjadi fokus sekaligus tema sentral suatu penelitian.14 Dalam penelitian ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi.

12 Peter Mahmud M, Penelitian Hukum, Kencana, 2011, Jakarta, hal 35

13 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif & Empiris, Pustaka

Pelajar, 2015, hal. 36-37.

14 Johnny Ibrahim, Teori & Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Banyumedia Publishing, 2012,

(11)

Pendekatan kasus (case approach) karena melakukan telaah terhadap kasus-kasus yang berkaitan dengan isu hukum yang dihadapi yang telah menjadi putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.15

3. Bahan Hukum

a. Bahan Hukum Primer

Bahan hukum primer merupakan suatu bahan hukum yang memiliki sifat autoritatif, yang berarti otoritas. Bahan-bahan hukum primer terdiri dari berbagai peraturan perundang-undangan, catatan-catatan resmi dan putusan pengadilan.16 Dalam penelitian ini penulis menggunakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 tentang Kesehatan Reproduksi, Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, Konvensi Internasional, serta Putusan Pengadilan Nomor 5/Pid.Sus.Anak/2018 PN Mbn.

b. Bahan Hukum Sekunder

Dalam hal ini penulis menggunakan literatur mengenai Buku-buku dan tulisan-tulisan ilmiah hukum yang terkait dengan objek penulisan

15Ibid, hal. 134. 16Ibid, hal. 181.

(12)

ini.17 Jurnal, skripsi, tesis, serta sumber lain yang berhubungan dengan Aborsi bagi anak korban perkosaan dalam Undang-Undang Kesehatan dikaitkan dengan hak perempuan.

http://sipp.pn-muarabulian.go.id/index.php/detil_perkara

Referensi

Dokumen terkait

Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a bersama V Alat/Bahan/Sumber Belajar:.. A Kerja logam,

Covey dalam Suryana (2000:35), bahwa kemandirian merupakan paradigma sosial dengan tiga karakteristik yaitu mandiri secara fisik (dapat bekerja sendiri dengan baik), mandiri

(kN) Horizontal (kN) Momen V (kN m) Momen H (kN m) Beban Mati Abutment Berat Tanah Beban Hidup Gaya Kejut Gaya Tek.. Perhitungan

Namun yang membedakan bahwa penelitian yang telah dilakukan oleh Diding lebih terfokus pada pengaruh pembiayaan terhadap produktivitas sedangkan penelitian yang dilakukan

Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan model accelerated learning melalui concept mapping dan mind mapping , kreativitas, kemampuan verbal, dan interaksinya

Y dan perbedaan antara generasi X dan Y ketika melakukan kegiatan bepergian, namun pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa generasi X dan Y memiliki perbedaan yang

Proses pengadaan dan pemilihan Bibit rumput laut menurut Sugiarto dkk., (1978), dapat dilakukan dengan cara: 1) bibit yang memiliki angka pertumbuhan harian baik,

Cara untuk meningkatkan kualitas auditor adalah Meningkatkan pendidikan profesionalnya, Dalam melaksanakan pekerjaan audit, menggunakan kemahiran profesionalnya dengan