• Tidak ada hasil yang ditemukan

INTERPRETASI HASIL LABORATORIUM DISTEMPER ANJING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INTERPRETASI HASIL LABORATORIUM DISTEMPER ANJING"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

1 PATOLOGI KLINIK VETERINER

INTERPRETASI HASIL LABORATORIUM

DISTEMPER ANJING

OLEH:

Drh. Anak Agung Sagung Kendran, M.Kes.

LABORATORIUM PATOLOGI KLINIK VETERINER FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN

UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR

(2)

2 KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini yang berjudul Interpretasi Laboratorium Distemper Anjing. Tulisan ini dibuat untuk membantu mahasiswa untuk memperdalam bagaimana cara menginterpretasi hasil pemeriksaan laboratorium untuk membantu mendiagnosa penyakit dan menentukan pengobatan atau penanganan hewan sakit.

Dalam pengerjaan dan pembuatan paper ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan , dan untuk itu segala saran dank ritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan demi penulisan yang baik di masa mendatang. Sebagai akhir kata, semoga paper ini bermanfaat bagi kita semua.

Denpasar, 7 Oktober 2017 Hormat kami,

(3)

3 DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang ...1

1.2 RumusanMasalah ...2

1.3 Tujuan ...2

1.4 ManfaatPenulisan ...3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1DefinisiHematologiVeteriner ...4 2.2 PerhitunganHargaIndeksEritrosit ...5 2.3 HasilPemeriksaan ...5 BAB 3 PEMBAHASAN 3.1 HasilPemeriksaan ...7 3.2 InterpretasiHasilPemeriksaan ...8 BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan ...12 4.2 Saran ...12 DAFTAR PUSTAKA

(4)

4 BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Patologi klinik veteriner telah berkembang dengan pesat sejalan dengan bertembah dalamnya pandangan mengenai patofisiologi dan meningkatnya jumlah serta ketepatan prosedur pemeriksaan laboratorium. Oleh karena itu diagnostik dan pengobatan terus-menerus berkembang. Suatu cabang ilmu yang menggunakan hasil pemeriksaan laboratorium untuk menerangkan masalah klinik yang berkaitan dengan pasien dikenal dengan patologi klinik. Dengan demikian, patologi klinik veteriner adalah cabang ilmu kedokteran hewan yang mempelajari hasil pemeriksaan laboratorium dan kemudian menginterprstasikan hasil tersebut untuk kepentingan klinik veteriner.

Patologi klinik berperan penting dalam pengobatan pasien. Pengetahuan ini tidak hanya bermanfaat dalam menegakkan diagnosis, melainkan juga dalam mengontrol pengobatan dan perkembangan penyakit. Untuk dapat mengetahui suatu penyakit dapat dilakukan dengan pemeriksaan laboratorium. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang dapat kita lakukan adalah pemeriksaan hematologi. Hematologi veteriner adalah disiplin ilmu kedokteran hewan yang mempelajari komponen sel darah hewan serta kelainan fungsional dari sel tersebut

Penyakit distemper adalah salah satu penyakit menular pada anjing yang telah lama dikenal dan masih banyak ditemukan di dunia (Rikula, 2008). Penyakit distemper sering menjadi kekhawatiran pemilik anjing, walaupun telah divaksinasi sesuai yang diprogramkan.

Penyakit distemper pada anjing merupakan penyakit viral yang bersifat multisistemik diantaranya sistem pernafasan, pencernaan, urinaria, saraf pusat, dan sistem lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh Virus Canine Distemper (VCD) family virus morbiliviridae. Penyakit distemper memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi terutama pada populasi anjing yang tidak divaksinasi (Apple dan Gillespie, 1972; Fenner et al., 1993). Anjing yang terserang penyakit distemper biasanya yang berumur muda, terutama anak anjing yang tidak divaksin secara lengkap. Anjing yang diserang umumnya berumur kurang dari satu tahun (Krakowka dan Koestner, 1976). Hal ini terjadi karena pada umur ini terjadi penurunan antibodi

(5)

5 maternal, tingkat stres yang tinggi pada masa pertumbuhan, dan serangan penyakit lain yang menurunkan kondisi tubuh (Suartha et al., 2008). Tetapi belum ada laporan adanya perbedaan lesi histopatologi antara anjing muda dengan yang dewasa.

Penyakit distemper menyerang semua ras anjing, kecuali jenis anjing pomeranian dilaporkan merupakan jenis yang paling lemah daya tahan tubuhnya terhadap virus distemper (Cahyono, 2009). Tidak ada perbedaan kepekaan antara jenis kelamin jantan dan betina pada anjing terserang penyakit distemper (Suartha et al., 2008).

Infeksi virus distemper pada anjing dapat mengakibatkan berbagai perubahan patologis pada organ dan jaringan. Perubahan secara makroskopis pada organ paru-paru berupa adanya perubahan warna dan ukuran walaupun secara konsistensi masih relatif normal, sedangkan secara histopatologi organ ini banyak diinfiltrasi sel-sel radang, terutama di daerah interstitial paru-paru (Kardena et al., 2011).

Penyakit distemper pada anjing di Indonesia belum banyak diteliti terutama secara patologi yang dikaitkan dengan faktor umur. Penelitian tentang penyakit distemper pada anjing sangat penting, karena kejadian penyakit selalu ada walaupun program vaksinasi telah dilakukan. Faktor kegagalan vaksinasi mungkin akibat vaksin yang digunakan umumnya adalah vaksin impor. Selain itu banyak pemilik anjing tidak mengikuti program vaksinasi secara lengkap diantaranya beranggapan cukup apabila anjingnya telah divaksin satu kali saja. Oleh sebab itu, kasus distemper selalu berlanjut hingga kini, tanpa bisa diberantas (Sudarisman, 2006). Oleh karena itu penelitian tentang penyakit distemper anjing dari berbagai aspek sangat penting diteruskan.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana menginterpretasikan data hasil pemeriksaan laboratorium Patologi Klinik yang dilakukan dalam kasus penyakit distemper pada anjing

1.3 Tujuan

Untuk mengetahui dan memperkuat diagnosa dan untuk mengambil tindakan pengobatan dan penanganan kasus distemper.

(6)

6 1.4 Manfaat

Penulisan paper mengharapakan agar pembaca terutama mahasiswa yang mengambil mata kuliah Patologi Klinik dapat mengetahui dan lebih memahami cara menginterpretasikan hasil laboratorium dari suatu penyakit dalam sebuah kasus. Serta diharapkan dapat menambah informasi dan pengetahuan bagi pembaca.

(7)

7 BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hematologi Veteriner

Hematologi veteriner adalah disiplin ilmu kedokteran hewan yang mempelajari komponen sel darah hewan serta kelainan fungsional dari sel tersebut. Sebagai seorang yang menekuni bidang hematologi, selain mempelajari komponen sel darah, ia juga harus mengetahui volume darah setiap hewan, sifat aliran darah, serta hubungan fisik antara sel-sel darah dan plasma.

Sebagai yang diketahui, darah dianggap sebagai jaringan khusus yang menjalani sirkulasi, terdiri dari berbagai macam sel yang terendam dalam cairan yang disebut plasma. Agak berbeda dengan jaringan lain, sel darah tidak menempati ruang tetap satu dengan yang lain. Aliran darah dalam saluran tubuh menjamin lingkungan yang tetap agar semua sel serta jaringan mampu melaksanakan fungsinya. Dengan kata lain, fungsi darah dalam sirkulasi adalah sebagai transportasi, pengatur suhu, dan pemelihara keseimbangan cairan, asam dan basa.

Secara rinci, Frandson (1986) dalam bukunya Anatomy and physiology of farm animals menyebutkan bahwa fungsi darah adalah sebagai berikut :

 Membawa zat makanan yang telah disiapkan oleh saluran pencernaan menuju ke jaringan tubuh.

 Membawa oksigen (O2) dari paru-paru ke jaringan.

 Membawa karbondioksida (CO2) dari jaringan ke paru-paru.

 Membawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ke ginjal untuk di ekskresikan.

 Membawa hormon dari kelenjar endokrin ke organ lain dalam tubuh.  Dll.

Secara umum volume total darah mamalia berkisar antara 7-8% dari berat badan. Bahan antar sel atau plasma darah berkisar antara 45-65% dari seluruh isi darah, sedangkan sisanya 35-55% disusun oleh sel darah atau benda darah. Sel darah dalam garis besarnya dibagi menjadi : 1) sel darah merah atau eritrosit. 2) sel darah putih atau trombosit. 3) trombosit atau keping-keping darah. Sementara itu, leukosit secara garis besar digolongkan sebagai berikut : a)granulosit yang terdiri dari neutrofil, eosinofil, basofil, dan b) agranulosit yang terdiri dari monosit, dan limfosit.

(8)

8 2.2 Perhitungan Harga Indeks Eritrosit

MCV, MCH dan MCHC dapat dihitung dari harga Hb, PCV dan jumlah eritrosit yang dihitung dengan menggunakan rumus tertentu.

MCV (Mean Corpustural Volume) adalah volume rata-rata dari masing-masing eritrosit. Cara memperoleh nilai tersebut adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

MCV = (PCV x 10) / eritrosit

Misalnya : PCV = 43%, eritosit = 6,5 juta Maka MCV = (43 x 10) / 6,5 = 66,2

MCH (Mean Corpuscular Haemoglobine)adalah banyaknya hemoglobin pada rata-rata eritrosit. Untuk memperoleh nilai tersebut digunakan rumus sebagai berikut : MCH = (Hb x 10 ) / eritrosit

Misalnya = Hb = 13,5 gr/100 ml, eritrosit = 6,3 juta Maka MCH = (13,5 x 10) / 6,3 = 20,8

MCHC (Mean Corpuscular Haemoglobine Concentration) adalah konsentrasi rata-rata hemoglonin dalam eritrosit, atau perbandingan berat hemoglobin dengan volume eritrosit. Untuk memperoleh nilai tersebut, digunakan rumus sebagai berikut : MCHC = (Hb x 100) / PCV

Misalnya : Hb = 14 gr/100ml, PCV = 45% Maka MCHC = (14 x 100) / 45 = 31 2.3 Hasil Pemeriksaan

Hasilpemeriksaan eritrosit biasanya dihubungkan dengan keadaan anemia dan polisitemia. Untuk melakukan interpretasi hasil pemeriksaan eritrosit sebelumnya harus diketahui apa arti nilai/data yang diperoleh. Misalnya bila ditemukan nilai MCV normal, itu berarti bentuk eritrosit yang diperiksa adalah normal. Kondisi seperti ini disebut normositik. Gambaran normositik umumnya ditemukan pada anemia akibat perdarahan (hemorhagi) akut, hemolisi dan kurangnya pembentukan darah. MCV naik atau nilainya diatas normal disebut makrositik, yaitu bentuk eritrosit yang lebih besar dari normalnya. Makrositik ditemukan pada keadaan peningkatan aktivitas sumsum tulang sebagai kelanjutan perdaraan, hemolisis dan juga akibat defisiensi faktor

(9)

9 hemopoietik, seperti kekurangan vitamin B12, dan asam folat. MCV menurun atau nilai dibawah normal disebut mikrositik, yaitu bentuk eritrosit lebih kecil dari normalnya. Mikrositik ditemukan pada keadaan anemia akibat defisiensi Fe pada penyakit cacing kronis atau akibat terganggunya penyerapan Fe dan defisiensi Cu.

Sementara itu, bila MCHC normal, keadaan ini disebut dengan normositik. Pada beberapa tipe anemia,terjadi kenaikan atau penurunan besar rata-rata eritrosit, disertai dengan kenaikan atau penurunan rata-rata hemoglobin. Namun, MCHC nya masih dalam batas-batas normal. Bila MCHC turun disebut hipokromik. Pada anemia hipokromik sejati, terjadi penurunan kadar hemoglobin yang relatif lebih besar daripada penurunan rata-rata volume eritrosit. Pada anemia hiperkromik, terjadi kenaikan hemoglobin pada rata-rata eritrosit tetapi kandungan hemoglobin per unit volume tidak mengalami kenaikan. MCHC untuk hewan normal berkisar antara 30-35%. Harga MCHC lebih dari 35% adalah jarang karena kadar maksimum hemoglobin dalam sel adalah sebanyak 35%. Pada anemia hipokromik, harga MCHC bisa lebih kecil dari 30%.

(10)

10 BAB 3

PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pemeriksaan

a. Signalment :

 Hari/ Tanggal : Senin/ 28 Desember 2015

 Jenis Hewan : Anjing Betina

 Nama Hewan : Dole

 Breed : Lokal

 Umur Anjing : 1,5

 Berat Badan : 15 kg

 Nama Pemilik : Jik De

 Alamat : Desa Bolangan, Tabanan

b. Anamnesa

Anjing jalan merunduk, sering bergerak tidak teratur, sudah berlangsung selama setahun. Anjing pernah muntah, diare, dan kejang-kejang pada usia 5 bulan, namun pemilik hanya memberi pengobatan tradisional dengan pemberian air kelapa dan susu. Anjing dipelihara dengan dilepas bebas dilingkungan rumah pemilik. Pernah divaksin rabies dan belum pernah diberi obat cacing.

c. Pemeriksaan Klinis

Suhu, Denyut jantung, pulsus dan respirasi berturut-turut diperoleh hasil sebagai berikut : 38,6 oC ; 96 kali/menit ; 96 kali/menit ; dan 37 kali/menit. CRT (capilary refill time) kurang dari 2 detik. Sistema syaraf ada kelainan, anjing terlihat mengalami inkoordinasi gerak. Kepala dan badan terus bergerak/berkedut tidak teratur, saat berjalan maupun diam. Pada saat berjalan posisi kepala selalu merunduk ke bawah.

(11)

11 d. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan hematologi rutin :

No. Pemeriksaan Hasil Rujukan Satuan Keterangan

1. Hematokrit 40 37-55 % -

2. Hemoglobin 11 12-18 g/dl Rendah

3. Eritrosit 4,7 5,5-8,6 x 106/ul Rendah

4. MCV 80 60-77 Fl Tinggi 5. MCH 17 19,5-24,5 Pg Rendah 6. MCHC 30 32-36 % Rendah 7. Leukosit 15 5-17 x 103/ul - 8. Neutrofil 60 60-70 % - 9. Eosinofil 5 2-10 % - 10. Basofil - Jarang % - 11. Monosit 7 3-10 % - 12. Limfosit 28 12-30 % -

3.2 Interpretasi Hasil Pemeriksaan

Dari pemeriksaan yang dilakukan kita dapat menganalisis penyakit apa yang di derita oleh pasien sehingga dapat di tangani dengan tepat. Signalment (identitas dari hewan) sering kali diabaikan ketika melakukan pemeriksaan. Hal ini dapat mengganggu atau memberikan hambatan dalam melakukan pemeriksaan selanjutnya. Dari signalment kita dapat mengetahui ras,umur,sex yang berpengaruh dalam timbulnya suatu penyakit.

Melihat dari anamnesa dan pemeriksaan klinis terlihat anjing berjalan merunduk, tetapi tidak selalu ketika anjing berjalan merunduk sedang mengalami gangguan respirasi. Kemungkinan tindakan ini sebagai usaha untuk menambah aliran darah keotak, karena tidak terdapat keterangan batuk, sesak nafas ataupun leleran pada hidung, hal ini di dukung dengan pemeriksaan klinis yaitu kepala berkedut-kedut. Adapun bergerak tidak teratur sesua idengan pemeriksaan klinis yaitu adanya gangguan saraf dan mengalami inkordinasi dan berlangsung selama setahun yang berarti kronis.

(12)

12 Pasien pernah muntah, diare, dan kejang.Hal ini bisasaja disebabkan oleh virus, bakteri, dan parasit mengingat pasien hanya di berivaksin rabies sajadanbelumpernah di beriobatcacingsertapemeliharaandengan di lepasbebaskan.Pernahdilakukan pemberian air kelapadansusunamun itu hanya sebagaielektrolitsaja.

Dari hasil di atasdapatkitadugabahwagejalabisasajaterjadikarenainfeksi virus, bakteri, danparasitserta non infeksiussepertikurangnyaasupangiziataukeracunan. 1. Virus

Pasienhanya pernah diberikan vaksin rabies sajamakakemungkinan virus yang memilikigejalaklinissepertidiaredanmuntah yang akanmenginfeksiadalahParpovirus, distemper, hepatitis.

a) Parpovirus (negatif)

karenamemilikigejalakhasyaitudiareberdarahdanbersifatakut. Hal initidakadapadagejalapasien.

b) Hepatitis (negatif) karenapadapasientidakadaikhterus.

c) Distemper (memungkinkan) karena distemper memilikigejalamuntah, diaredankejangsepertipadapasien. 2. Parasit Dari keterangandiataskemungkinanpasienjugaterinfeksiparasitkarenabelumpernah di beriobatcacing.Infeksiolehcacinghampirsemuatidakmenyebabkangangguanpadasaraf,a rtinyainfeksiolehcacinginibisamenjadidiagnosasekunderatauadanyainfeksiganda,dany ang memungkinkansesuaidengangejala di atasadalahancilostomadantoxocara canine.

a) Ancilostoma (negatif) karenatidakterdapatgejaladiareberdarah.

b) Toxocara (memungkinkan) karenadapatmenyebabkanmuntahsebabberpredileksipada duodenum danmenyebabkankonvulasijikaberlangsung lama. Jikamuntahdengancacingmakasudahterdapatcacingdewasapadasaluranpencer naandanpastiituadalahtoxocariosis,tapijikamuntahtanpaadacacingmakacacing dalamsaluranpencernaanbelummenjadicacingdewasa. Gejalalainnyajugaterdapatgangguanpadasaluranpernapasankarenadaripatogen esanyadapatmenembusususdanmenujukeparu-paruatausaluranpernapasan. Pasientidakmuntahdengan di sertaicacingnamungejalalainnyamendukung. 3. Bakteri

(13)

13 Bakteri yang umum yang dapatmenyebabkandiare, muntahadalahE.

Colli.Jikasudah sepsis

makabisamenyebabkangangguanpernapasandanjikasudahsampaipada EHEC

(Enterohemorrhagic Escherichia coli)

dapatmenggangguotakkarenatoksiknyabisasampaikeotakdanmengakibatkankejang yang ringan. Denganpemberianantibiotikbisasembuh.

4. Keracunan

Keracunanbisasajaterjadikarenaanjing di lepasbelasan di sekitarrumahsehinggakemungkinanakanmemakanmakanan yang sembarangan.

Gejalanyajugabisamuntahataudiaredankejang-kejang.Namunkeracunanharusditindaksecaracepatdansegera.Sedangkangejala yang timbulpadapasiensudahberlangsungselamasetahunjadikeracunantidakmemungkinkan. 5. Non infeksiusdan trauma

Gejala yang

samajugabisadisebabkanolehkekuranganmakanandaripemiliksehinggaanjingnyakekur angannutrisiatau trauma akibatbenturanataupukulan. Namunpadaketerangan yang di perolehtidakterdapathal yang demikian.Sehingga non infeksiusdan trauma tidakmemungkinkan.

Hasil Pemeriksaanlaboratoriumyang di dapatkan :

1. Hemoglobin daneritrositmengalamipenurunanmakapasienmengalami anemia. 2.MCV meningkatberarti anemia yang dialami pasien adalahmakrositik.

3. MCHdanMCHCmenurunberarti pasien juga mengalami anemiahipokromik.

Jadianemia yang dideritapasienadalah anemia makrositikhipokromik.Anemia sepertiinisangatjarangterjadi.Anemia

bukansuatupenyakittetapigejaladarisuatukelainan.

Dalamhalini di tekananpadagangguansaraf, makaE. Collibisa di hapusdarisalahsatudiagnosa

banding.Toxocariosisbisamenjadiinfeksisekunderdanharus di lakukanpemeriksaanlanjutansepertipemeriksaanfeses.Dan yang paling mengarahdarigejala di atasadalah distemper.Namun jika pasien menderita distemper

(14)

14 maka seharusnya pasien mengalami leukopenia atau penurunan jumlah leukosit. Sedangkan pada hasil pemeriksaan laboratorium memiliki hasil normal, hal ini bisa saja terjadi karena sudah kronis.

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari kasus diatas kami dapat menyimpulkan bahwa anjing tersebut mengalami anemia yang di alami dimana anemia tersebut adalah anemia makrositik hipokromik. Anemia seperti ini sangat jarang terjadi. Anemia bukan suatu penyakit tetapi gejala dari suatu kelainan.

Dalam hal ini di tekanan pada gangguan saraf, maka E. Colli bisa di hapus dari salah satu diagnosa banding. Toxocariosis bisa menjadi infeksi sekunder dan harus di lakukan pemeriksaan lanjutan seperti pemeriksaan feses. Dan yang paling mengarah dari gejala di atas adalah distemper.

4.2 Saran

Sebaiknya anamnesis dilakukan lebih detail lagi sehingga waktu dan kejadiannya dapat kita ketahui dengan tepat. Selain itu juga seharusnya pada anjing umur muda sudah dilakukan vaksin lengkap agar system imun anjing terhadap suatu penyakit sudah terbentuk dan dapat mencegah penyakit diawal.

(15)

15 DAFTAR PUSTAKA

Dharmawan Sadra. 2002. Pengantar Patologi Klinik Veteriner Hematologi Klinik. Universitas Udayana.

Dharmawan, N.S., I.B.K. Ardana, I M. Damriyasa, dan AA.S.Kendran. 2000. Teknik-TeknikPemeriksaanHematologiVeteriner.

FakultasKedokteranHewanUniversitasUdayana. Denpasar.

Frandson, R.D. 1986. Anatomy and Physiology of Farm Animals.4th ed. Lea and Febiger. Philadelphia.

Kardena Made et al. 2011. Gambaran Patologi Paru-Paru Pada Anjing Lokal Bali Yang Terinfeksi Penyakit Distemper(Pathological Changes On Balinese Local Dog’s Lung Infectedwith Canine Distemper Disease).Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.

Veronica Yesi et al. 2013.Gambaran Histopatologi Penyakit Distemper pada Anjing Umur 2 sampai 12 Bulan. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Denpasar.

Referensi

Dokumen terkait

Temuan penelitian ini yaitu pemilihan kepala daerah baik di tingkat Kabupaten maupun di Provinsi di Lampung dikondisikan oleh lingkungan politik yaitu tingkat (a) kompetisi yang

Berbagai upaya yang dapat ditempuh untuk menumbuhkembangkan kewirausahaan di kalangan mahasiswa adalah: (1) dicantumkan mata kuliah kewirausahaan dalam kurikulum

Hal ini dibutuhkan mahasiswa selaku individu yang berada pada masa dewasa awal yang memiliki keinginan untuk mendapatkan apa yang diinginkan setelah lulus sarjana agar

Salah satu rendahnya prestasi belajar Matematika dalam kemampuan mengalikan bilangan cacah yaitu penyampaian pelajaran Matematika hanya menggunakan metode ceramah

Ketika ada masalah, saya enggan membicarakannya langsung dengan orang yang memiliki masalah

koefisien variabel independen, secara simultan, tidak signifikan berpengaruh terhadap variabel dependen. Penelitian ini menggunakan SPSS untuk menguji keberartian regresi.

Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah regresi linier berganda yaitu untuk menguji dan menganalisis, baik secara parsial maupun simultan

oleh penelitian Rahayu (2010: 64), ia menemukan bahwa modus transfer pricing dilakukan dengan cara merekayasa pembebanan harga transaksi antar perusahaan yang