ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN ELEKTRONIK 2355-3545
DINAMIKA KETERSEDIAAN BERAS :
SEBUAH STUDI KASUS DI KALIMANTAN SELATAN
(The Dynamics of Rice Availability: A Case Study in Kalimantan Selatan)
Alan Dwi Wibowo
Jurusan Teknologi Industri Pertanian Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat Kampus Faperta Unlam, Jl. A. Yani Km 36, Banjarbaru 70714 Kalimantan Selatan
Telp/Fax +62 511 4772254 E-mail: [email protected]
ABSTRACT
The availability of rice have an impact on the stability of the economic, social, and security of a region, further rice as a staple food has a strategic position. Therefore, it needs to be managed properly to ensure their availability in order to maintain the regional stability. This paper aims to investigate the leverage point in rice production model, where the leverage point will serve as the basis for the availability of rice policies model development which will support food security protocols. System dynamics approach is used in this study, while Kalimantan Selatan is selected as case study. As the result, productivity and land management became a major leverage point in order to escalate rice production in Kalimantan Selatan.
Keywords: rice, system dynamics, food security
PENDAHULUAN
Beras saat ini menduduki posisi sebagai bahan pangan pokok utama bagi masyarakat Indonesia. Berdasarkan peraturan yang berlaku, pemerintah berkewajiban untuk menjamin ketersediaan bahan pangan pokok bagi masyarakat, utamanya adalah beras. Isu ketersediaan beras ini menguat karena berkaitan dengan protokol ketahanan pangan
yang juga menjadi populer karena
bersinggungan langsung dengan kebutuhan dasar kehidupan masyarakat. Kegagalan pemerintah dalam mengelola ketersedian beras dapat memberikan dampak berupa konflik sosial, untuk itu beras memiliki peran yang strategis (Irawan, 2005; Suryani, 2013). Kemampuan menjaga ketersediaan beras secara tidak langsung dapat menjaga stabilitas keamanan, sosial, dan ekonomi. Untuk itu pemerintah harus memberikan perhatian yang cukup dalam pengelolaan ketersediaan beras (Somantri dan Thahir, 2007).
Produksi beras dalam negeri belum
mencukupi kebutuhan nasional. Upaya
pemenuhan target kebutuhan beras pun dilakukan oleh pemerintah. Untuk mengatasi ketersediaan beras ini, Indonesia menetapkan banyak kebijakan diantaranya kebijakan
peningkatan produktivitas, pencanangan
program swasembada beras, penetapan harga pembelian pemerintah, dan strategi impor beras.
Penelitian yang berkaitan dengan ketersediaan pasokan pangan telah banyak dilakukan dalam beberapa tahun terakhir (Kumar dan Nigmatullin, 2011; Ahumada dan Villalobos, 2008; Giogiadis, et al., 2004). Kumar dan Nigmatullin (2011) menyatakan bahwa ketersediaan bahan pangan meliputi kualitas pangan, integritas entitas, kemanan dan kesehatan, produksi yang keberlanjutan, diversifikasi produk, dan layanan informasi terkait bahan pangan tersebut. Ketersediaan pangan berupa produk segar pun banyak dibahas (Ahumada dan Villalobos, 2008). Kajian ini akan terus berkembang seiring kebutuhan pangan yang terus meningkat setiap tahunnya. Untuk itu diperlukan kajian yang
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN CETAK 1412-1468
komprehensif terkait penjaminan ketersediaan bahan pangan pokok di Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan variabel penting yang berperan sebagai variable daya ungkit yang dapat
digunakan sebagai variabel dasar
pengembangan model kebijakan ketersediaan beras berkelanjutan dalam kerangka menjamin ketersediaan beras di suatu daerah.
Kalimantan Selatan dipilih sebagai studi kasus penelitian ini. Kalimantan Selatan sebagai daerah yang memiliki lahan basah memiliki tingkat kerawanan pangan relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain yang memiliki lahan kering. Hal ini disebabkan karena tidak semua lahan dapat ditanami padi. Disamping itu, ketersediaan air untuk kebutuhan irigasi pun sulit untuk disediakan, terlebih lagi tanah berjenis gambut yang memiliki tingkat keasaman lebih tinggi
dibutuhkan perlakukan khusus dalam
pengelolaannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Somantri dan Thahir (2007) Kalimantan Selatan mengalami surplus beras, dengan ini Kalimantan Selatan berpotensi untuk berperan sebagai pemasok beras di daerah lain. Secara geografis, Kalimantan Selatan memiliki lokasi wilayah yang strategis sebagai daerah pemasok beras karena berada pada sentral kepulauan Indonesia. Hal tersebut terkendala pada Kalimantan Selatan belum mampu mencapai swasembada beras yang
berkelanjutan, walau dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Indonesia hingga tahun 2025 Kalimantan Selatan termasuk daerah yang akan dijadikan sebagai pemasok beras nasional.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan simulasi berbasis model sistem dinamis. Tahapan
kajian yang dilakukan menggunakan
pendekatan metode analisis model kebijakan yang dikembangkan oleh Walker (2000). Analisis model kebijakan akan menjelaskan secara detail konstruksi model berhasil
dikembangkan untuk produksi beras.
Pendekatan ini telah banyak dilakukan untuk menggambarkan sistem produksi beras, diantaranya dilakukan oleh Somantri dan Thahir (2007) dalam melakukan proyeksi ketersediaan beras di Merauke, Kumar dan Nigmatullin (2011) mempelajari perilaku dan hubungan dalam struktur rantai pasok bahan pangan yang mudah rusak (perishable), Suriani et al. (2013) mempelajari ketersediaan beras dalam perspektif pra-panen dengan pendekatan simulasi berbasis jenis lahan kering.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 5 tahap. Tahap pertama adalah membangun model konseptual yang akan disajikan dalam
bentuk causal loop diagram (CLD).
Dilanjutkan pada tahap kedua yaitu
mengembangkan sistem diagram. Diagram ini akan memperjelas objek, subjek, dan alternatif perangkat kebijakan yang dapat digunakan. Tahap ketiga adalah pengembangan model dinamis yang akan diintegrasikan dengan analisis statistik guna mempelajari hubungan antar variable yang saling terkait. Hasil tahap tiga akan disajikan dalam bentuk stock and
flow diagram (SFD). Tahap keempat adalah
verifikasi dan validasi model. Tahapan ini diperlukan guna memastikan bahwa model
yang telah berhasil dibangun dapat
merepresentasikan kondisi aktual. Tahap terakhir yang dilakukan dalam penelitian ini adalah simulasi. Hasil akhir dari penelitian ini adalah mendapatkan beberapa variabel sensitif yang mampu memberikan dampak besar terhadap sistem persediaan beras. Variabel dengan tingkat sensitivitas tinggi itulah yang kemudian akan dijadikan basis pengembangan model kebijakan penyediaan beras yang berkelanjutan.
Validasi model yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan (3) tiga
pendekatan yaitu, uji kesesuaian historis
(historical fit), uji kondisi ekstrim, dan analisis
sensitivitas. Validasi model dengan
menggunkan metode uji kesesuaian historis dilakukan dengan membandingkan kondisi aktual dan hasil simulasi berbasis model yang telah dikembangkan. Model dinyatakan valid
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN CETAK 1412-1468
saat deviasi berada kurang dari 10%,
disamping itu validasi model juga
menggunakan pendekatan perhitungan mean
absolute percentage error (MAPE), yang
secara matematis dituliskan dalam rumus:
𝑀𝐴𝑃𝐸 = (100 𝑛 ) ∑ |𝐷𝑡− 𝐹𝑡| 𝐷𝑡 𝑛 𝑡=1
Dimana Dt adalah data pada periode t dan Ft adalah peramalan pada periode t. Selanjutnya, uji kondisi ekstrim dilakukan untuk memastikan bahwa model yang dikembangkan tidak memberikan perilaku yang irasional. Uji ini dilakukan dengan memberikan nilai ekstrim tertinggi dan terendah pada driver variabel yang kemudian dilihat dampaknya apakah rasional atau
irasional. Selanjutnya adalah analisis
sensitivitas. Analsis ini digunakan untuk
mengetahui variabel apa saja yang
memberikan nilai sensitif pada model secara keseluruhan. Dengan diketahuinya variabel
yang sensitif maka melalui variabel
tersebutlah kemudian dapat dilakukan
pendekatan penyusunan kebijakan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan, model konseptual penyediaan beras
di Kalimantan Selatan telah berhasil
dikembangkan yang disajikan pada Gambar 1. Dalam model konseptual tersebut terdaat dua
loop utama, yaitu loop reinforcing dalam
produksi beras dan loop balancing dalam aktivitas bisnis pengiriman beras ke dalam dan ke luar daerah Kalimantan Selatan.
Ketersediaan beras dipengaruhi secara positif oleh produksi beras dan tingkat
konsumsi beras, serta secara negatif
dipengaruhi oleh perdagangan beras ke luar daerah Kalimantan Selatan. Produksi beras secara umum dipengaruhi secara positif oleh
luas sawah dan produktivitas lahan.
Ketersediaan lahan pun ternyata sangat terbatas, hal ini diperkeruh dengan tingginya tingkat konversi lahan baik menjadi lahan non pertanian maupun lahan sub pertanian non-padi. Peningkatan populasi yang terus terjadi setiap tahunnya mengakibatkan meningkatnya permintaan beras, namun pertumbuhan ini dapat diupayakan dikendalikan menggunakan
pendekatan program dan kampanye
divesifikasi pangan. Secara aktual pendekatan diversifikasi pangan ini belum memberikan hasil yang signifikan dalam mengendalikan konsumsi beras per kapita.
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN ELEKTRONIK 2355-3545
Causal loop diagram tersebut dikembangkan menjadi model berbasis sistem dinamis yang lebih kompleks dalam bentuk stock and flow
diagram (SFD). Hasil dari pengembangan
model produksi beras di Kalimantan Selatan disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Stock and Flow Diagram produksi beras Kalimantan Selatan
Sub-Sistem Lahan Padi
Sub-Sistem Populasi Sub-Sistem Konsumsi Beras Kalsel Sub-sistem Move-nas Sub-Sistem Pestisida/ Hama Sub-sistem produksi GKG/beras
Sub-sistem pupuk
lahan gagal panen
Luas Lahan Padi Tanam_Sawah
laju cetak sawah laju konversi lahan laju lahan puso
RATE_CETAK SAWAH RATE KONVERSI INITIAL LUAS SAWAH RATE PUSO Populasi laju penduduk INITIAL POPULASI RATE_LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK produksi GKG bruto produksi GKG netto Luas Lahan Padi
Tanam_Sawah produksi beras bruto_ketersediaan beras KONVERSI GKG_BERAS luas panen
luas tidak panen
laju lahan puso
produktivitas lahan padi suplai benih persediaan benih kebutuhan benih BENIH PER HA
RATE BENIH SUPLAI
RATE SUPLAI PAKAN TERNAK_GKG
RATE SUSUT_GKG RATE BAHAN BAKU
INDUSTRI_GKG
produksi beras netto_untuk
pangan RATE_PAKAN
TERNAK_BERAS RATE_INDUSTRINON PANGAN_BERAS
RATE_SUSUT TERCECER
Populasi
konsumsi beras per kapita_diversifikasi
pangan
konsumsi beras untuk pangan
konsumsi beras non pangan RATE KONSUMSI BERAS NON PANGAN
konsumsi beras agregat-permintaan beras kalsel_permintaan beras stok beras kalimantan selatan cadangan beras kalsel pemerintah RATE CADANGAN BERAS konsumsi beras agregat-permintaan beras kalsel_permintaan beras neraca beras_surplus defisit kalsel cadangan beras daerah agregat move-nas_in neraca beras_surplus defisit kalsel cadangan beras
kalsel pemerintahagregat-permintaankonsumsi beras beras kalsel_permintaan beras stok beras kalimantan selatan move-nas_in cadangan beras masyarakat move-nas_out permintaan eksternal neraca beras_surplus defisit kalsel cadangan beras masyarakat naraca move in-out
Luas Lahan Padi
Tanam_Sawah kebutuhan pestisida ideal RATE PENGGUNAAN PESTISIDA dampak penggunaan biopestisida INISIASI PROGRAM SRI luas inisiasi biopestisida_SRI
Luas Lahan Padi Tanam_Sawah suplai pestisida bersubsidi persentase penggunaan pestisida waktu dampak hama_graph
lahan rusak karena hama Luas Lahan Padi
Tanam_Sawah analisis dampak pestisida_hama
dampak hama_real Luas Lahan Padi
Tanam_Sawah kebutuhan pupuk ideal RATE PENGGUNAAN PUPUK pupuk yang digunakan pengaruh teknologi pupuk organik_SRI RATE LAHAN MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK penggunaan pupuk organik RATE PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK pupuk subsidi terdisitribusi waktu Gap Pupuk persentase penggunaan pupuk penggunaan benih
subsidi sertifikasi serapan kreditpetani waktu
potensi gagal panen pupuk berdampak
pupuk berdampak
benih_dampak kredit_dampak pupuk_dampak hama_dampak dampak hama_real potensi gagal panen waktu potensi permintaan lahan sawah_neraca neraca beras_surplus defisit kalsel KONVERSI KEBUTUHAN LAHAN potensi permintaan lahan sawah_cadangan cadangan beras masyarakat aktivasi_potensi permintaan lahan sawah_cadangan aktivasi_potensi permintaan lahan sawah_neraca delay time konversi sub-pertanianpertanian konversi non-pertanian RATE_LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK konversi_exist
konsumsi beras per kapita_diversifikasi pangan Populasi konsumsi beras stlh_diversifikasi konsumsi non diversifikasi_as usual konsumsi perkapita_as usual potensi konversi ke sub pertanian KONVERSI KEBUTUHAN LAHAN
potensi luas lahan konv_sub pertanian rate konv_sub
pertanian Luas Lahan Padi
Tanam_Sawah
Ketersediaan Lahan untuk Sawah di Kalsel
651.447,80 ton 4.753.011,81 people
0,14 ton/people
530.823,02 ha
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN ELEKTRONIK 2355-3545
Validasi dan Verifikasi Model
Verifikasi model dilakukan pada kode pemrograman yang ada pada model dan konsistensi dimensi dari setiap persamaan dan
parameter.Hasil verifikasi menunjukkan tidak
adanya inkonsistensi dimensi satuan dalam persamaan yang dikembangkan dalam setiap variabel yang terdapat dalam model produksi beras di Kalimantan Selatan. Selanjutnya validasi model dilakukan dengan pendekatan uji kesesuaian historis, uji kondisi ekstrim, dan analisis sensitivitas.
Uji Kesesuaian Historis
Uji validasi menggunakan
pendekatan uji kesesuaian historis pada dua variabel penting dalam evaluasi model (produksi GKG dan populasi) menunjukkan
bahwa deviasi dari hasil simulasi
dibandingkan dengan kondisi aktual tidak lebih dari 10%, untuk itu berdasarkan hasil yang diperoleh dapat dinyatakan bahwa model yang dikembangkan adalah valid. Hasil simulasi disajikan pada Tabel 1 dan secara grafis disajikan pada Gambar 3.
Tabel 1. Deviasi Model Persediaan Beras Kalimantan Selatan
Produksi GKG 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Data Aktual 1.410.141 1.519.431 1.598.835 1.636.840 1.953.868 1.954.284 1.956.993 1.842.089 2.038.309 Data Simulasi 1.547.798 1.653.454 1.678.115 1.711.543 1.807.875 1.967.569 1.894.290 1.885.838 1.987.990 2,00% 9,76% 8,82% 4,96% 4,56% -7,47% 0,68% -3,20% 2,37% -2,47% Populasi 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Data Aktual 3.201.962 3.219.398 3.250.100 3.345.784 3.396.680 3.446.631 3.496.125 3.636.616 3.695.124 Data Simulasi 3.141.498 3.201.186 3.262.009 3.323.987 3.387.143 3.451.499 3.517.499 3.583.902 3.651.996 -0,54% -1,89% -0,57% 0,37% -0,65% -0,28% 0,14% 0,61% -1,45% -1,17%
Sumber: Pengolahan data primer, 2014
(a) Historical Fit Variabel Produksi GKG (b) Historical Fit Variabel Populasi Gambar 3. Uji kesesuaian historis
Uji Kondisi Ekstrim
Uji kondisi ekstrim dilakukan pada kondisi ekstrim bawah dan ekstrim atas. Untuk validasi model ini dilakukan pada variabel
cetak sawah yang diujikan pada variabel luas sawah dan produksi GKG. Berdasarkan hasil uji yang dilakukan tidak menunjukkan perilaku yang irasional, oleh karena itu 500,000 1,000,000 1,500,000 2,000,000 2,500,000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 P ro d u k s i G K G ( T o n ) Tahun
Data Aktual Data Simulasi
2,800,000 2,900,000 3,000,000 3,100,000 3,200,000 3,300,000 3,400,000 3,500,000 3,600,000 3,700,000 3,800,000 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 P o p u la s i (O ra n g )
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN CETAK 1412-1468
berdasarkan uji ekstrim ini model dapat dinyatakan valid. Perilaku yang terjadi pada kondisi ekstrim bawah disajikan pada Gambar
4 dan perilaku pada kondisi ekstrim atas disajikan pada Gambar 5.
(a). Perilaku luas sawah pada cetak sawah = 0 ha (b) Perilaku Produksi pada cetak sawah=0 ha
Gambar 4. Perilaku Tes Kondisi Ekstrim Bawah
(a). Perilaku luas sawah pada ekstrim atas cetak sawah (b) Perilaku produksi pada ekstrim atas cetak sawah Gambar 5. Perilaku Uji Kondisi Ekstrim Atas
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas dilakukan untuk mengetahui tingkat sensitivitas suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Pada validasi ini variabel yang diuji adalah variabel eksogen, yaitu untuk diuji apakah variabel eksogen tersebut memberikan respon yang sama pada kondisi aktual. Dalam hal ini variabel yang akan diuji tingkat sensitivitasnya adalah variabel konsumsi beras perkapita dan
produktivitas yang dinilai memberikan
dampak terhadap neraca surplus defisit beras di Kalimantan Selatan. Dengan perubahan konsumsi bertambah 10% memberikan deviasi
sebesar 17% sedangkan pengurangan
konsumsi per kapita sebesar 10% memberikan deviasi sebesar 21,40%. Dengan perubahan
yang relatif kecil dapat memberikan
perubahan yang cukup siginifikan. Perilaku uji sensitivitas ini disajikan pada Gambar 6.
0 5 10 15 20 25 250.000 300.000 350.000 400.000 450.000 ha Lu as L ah an P ad i T an am _S aw ah
For evaluation purpos es only!
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 900.000 1.000.000 1.100.000 1.200.000 1.300.000 1.400.000 1.500.000 ton p ro d u k s i G KG b ru to
For evaluation purposes only!
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 10.000.000 20.000.000 30.000.000 40.000.000 ton p ro d u k s i G KG b ru to
For evaluation purposes only!
0 5 10 15 20 25 2.000.000 4.000.000 6.000.000 8.000.000 ha Lu as L ah an P ad i T an am _S aw ah
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN ELEKTRONIK 2355-3545
Gambar 6. Uji Sensitivitas Konsumsi Beras Terhadap Neraca Beras Berdasarkan uji yang telah dilakukan
dapat dinyatakan bahwa model yang
dikembangkan adalah valid dan dapat merepresentasikan kondisi nyata untuk model ketersediaan beras di Kalimantan Selatan. Selanjutnya simulasi dilakukan sampai pada tahun 2025 disesuaikan dengan Rencana Kerja Jangka Panjang Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil dari simulasi yang telah dilakukan memberikan hasil bahwa pada tahun 2025
populasi Kalimantan Selatan mencapai
4.753.012 orang dengan pertumbuhan
penduduk sebesar 1,9%. Produktivitas padi sampai tahun 2025 adalah 4,21 ton / ha. Untuk lahan gagal panen diprediksi masih cukup luas yaitu mencapai 27.000 ha. Produksi GKG masih berada pada kisaran 2 juta ton, namun tidak terjadi peningkatan yang signifikan. Neraca beras menunjukkan penurunan yang cukup signifikan pada akhir tahun 2025. Untuk itu perlu dilakukan pendekatan evaluasi kebijakan dan penyusunan alternatif kebijakan guna menghindari penurunan neraca beras dan defisit beras di Kalimantan Selatan.
KESIMPULAN
Pengembangan model penyediaan
beras diperlukan sebagai salah satu alat pendukung pengambil keputusan dalam mengembangkan kebijakan untuk menjamin ketersediaan beras di Kalimantan Selatan.
Berdasarkan uji dan analisis yang telah dilakukan bahwa variabel produktivitas dan ketersediaan lahan sawah menjadi dua variabel penting yang dapat memberikan dampak secara signifikan terhadap sistem produksi beras secara keseluruhan. Kedua variabel ini dapat menjadi acuan sebagai dasar kajian pengembangan model kebijakan dalam kerangka menjamin ketersediaan beras di Kalimantan Selatan.
DAFTAR PUSTAKA
Ahumada, O. dan Villalobos, J. R. 2009. Application of Planning Models in Agri-Food Supply Chain : A Review. European Journal of Operational Research 195. 1-20.
Georgiadis, P. dan Vlachos, D. dan Iakovou,
E. 2004. A System Dynamics
Modeling Framework for the Strategic Supply Chain Management of Food Chains. Journal of Food Engineering 70. 351-364.
Irawan. 2005. Analisis Ketersediaan Beras Nasional: Suatu Kajian Simulasi Pendekatan Sistem Dinamis. Prosiding Multifungsi Pertanian.
Kumar, S dan Nigmatullin, A. 2011. A system dynamics analysis of food supply chain 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000 year 2003 year 2004 year 2005 year 2006 year 2007 year 2008 year 2009 year 2010 year 2011 year 2012 year 2013 year 2014 year 2015 year 2016 year 2017 year 2018 year 2019 year 2020 year 2021 year 2022 year 2023 year 2024 year 2025 Normal -10% +10%
ZIRAA’AH, Volume 41 Nomor 2, Juni 2016 Halaman 242-249 ISSN CETAK 1412-1468
– Case study with non-perishable
product. Simulation Modelling
Practice and Theory 19. 2151-2168. Suryani, E., Permata, D.I.J., Hendrawan, R.A.,
dan Dewi, L.P. 2013. Analyzing Rice Demand and Supply Behavior for Food Availability: a System Dynamics Model. Case Study : Sub-Regional
Surabaya, Gresik, and Sidoarjo.
Information Systems International
Conference (ISICO). 403-408.
Somantri, A. S. Dan Thahir, R. 2007. Analisis Sistem Dinamik Ketersediaan Beras di Merauke dalam Rangka Menuju Lumbung Padi Bagi Kawasan Timur
Indonesia. Buletin Teknologi
Pascapanen Pertanian Vol 3. 28-36. Walker, W.E. 2000. Policy Analysis: A
Systematic Approach to Supporting Policy Making in Public Sector. John Wiley and Sons, Ltd. Journal of Multicriteria Decission Analysis 9. 11-27.