BENTUK-BENTUK IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KATO NAN AMPEK
DALAM PASUKUAN CANIAGO DI JORONG TANGKIT NAGARI
AMPANG KURANJI KABUPATEN DHARMASRAYA
ARTIKEL
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
(Strata 1)
AWENGKI
NPM: 12070094
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
BENTUK-BENTUK IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KATO NAN AMPEK
DALAM PASUKUAN CANIAGO DI JORONG TANGKIT NAGARI AMPANG
KURANJI KABUPATEN DHARMASRAYA
Nama
: Awengki
NPM
: 12070094
Program Studi
: Pendidikan Sosiologi
Jurusan
: PIPS
Institusi
: Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
PGRI Sumatera Barat
Jurnal ini telah disetujui oleh dosen pembimbing skripsi, untuk diserahkan
ke Program Studi Pendidikan Sosiologi.
Padang, Maret 2017
Disetujui Oleh:
Pembimbing I
Pembimbing II
BENTUK-BENTUK IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KATO NAN AMPEK
DALAM PASUKUAN CANIAGO DI JORONG TANGKIT NAGARI AMPANG
KURANJI KABUPATEN DHARMASRAYA
Awengki
1Adiyalmon, S.Ag, M.Pd
2Salman Asshary, M.Ag
3 Pogram Studi Pendidikan SosiologiSTKIP PGRI Sumatra Barat ABSTRAK
Awengki, (12070094). Bentuk-Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Kato Nan Ampek Dalam Pasukuan Caniago Di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, Skripsi. Program Studi Pendidikan Sosiologi, Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Sumatera Barat. Padang 2017.
Adat Minangkabau merupakan falsafah kehidupan atau pedoman hidup bagi orang Minangkabau dalam menjalani kehidupan sehari-hari, di Nagari Ampang Kuranji adat Minangkabau masih berjalan semana mestinya secara turun-temurun sehingga terciptanya kesejahteraan dalam kehiduan masyarakat. penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk implementasi nilai-nilai Kato Nan Ampek dalam pasukuan Caniago di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya.
Teori yang digunakan adalah teori Tindakan Sosial menurut Max Weber. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif untuk menggambarkan masalah yang diteliti. Pengambilan informan digunakan dengan cara purposive sampling, dengan jumlah informan sebanyak 12 orang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu: berupa data primer dan data sekunder. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumen, serta dengan menggunakan alat berupa pedoman wawancara, buku, pena, dan kamera. Setelah data diperoleh dianalisis dengan cara mengumpulkan data, reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Lokasi penelitian ini dilakukan di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji. Kegiatan penelitian ini peneliti lakukan selama satu bulan di lapangan.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: 1) Bentuk-bentuk Implementasi nilai-nilai Kato Nan Ampek dalam Pasukuan Caniago di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya, yaitu: a) mendidik dan membimbing anak kemanakan didalam keluarga tentang nilai Kato Nan Ampek, b) membelajarkan para remaja tentang nilai-nilai Kato Nan Ampek disurau kaum Caniago oleh para Penghulu, c) mengadakan kegiatan manjalang Penghulu didalam pasukuan Caniago sekaligus mengajarkan anak kemanakan tentang nilai-nilai Kato Nan Ampek cara berperilaku, sopan santun kepada ninik mamak dalam kaum Caniago 2) Penerapan nilai-nilai Kato Nan Ampek dalam kehidupan bermasyarakat sampai pada saat sekarang ini masyarakat masih sopan santun dalam berperilaku, bertindak dan berpanggilan kepada yang lebih tua serta anak remaja bisa membedakan cara berperilaku yang baik kepada orang yang lebih besar, sama besar dan sama yang kecil baik didalam keluarga maupun dikehidupan sehari-hari.
Kata Kunci : Nilai-Nilai Kato Nan Ampek, Remaja, Orang Tua, penghulu
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatra Barat 2012
2Pembimbing I Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
BENTUK-BENTUK IMPLEMENTASI NILAI-NILAI KATO NAN AMPEK
DALAM PASUKUAN CANIAGO DI JORONG TANGKIT NAGARI AMPANG
KURANJI KABUPATEN DHARMASRAYA
Awengki
1Adiyalmon, S.Ag, M.Pd
2Salman Asshary, M.Ag
3 Pogram Studi Pendidikan SosiologiSTKIP PGRI Sumatra Barat
ABSTRACT
Awengki, (12070094). Forms Implementation Values Kato Nan Ampek In Pasukuan Caniago In Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Koto Baru District Dharmasraya Regency, Thesis. Sociology Education Studies Program, College of Teacher Training and Education (STKIP) PGRI West Sumatra. Padang 2017.
Minangkabau adat is the philosophy of life or life guidance for Minangkabau people in
daily life, in Nagari Ampang Kuranji Minangkabau adat is still running semana should be hereditary so that the creation of prosperity in the life of society. This study aims to describe the implementation forms of Kato Nan Ampek values in Pasukuan Caniago in Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Koto Baru District Dharmasraya Regency.
The theory used is the theory of Social Action by Max Weber. The research method used in this research is qualitative approach with descriptive type to describe the problem under study. Informant retrieval was used by purposive sampling, with the number of informants as many as 12 people. Types of data used in this study there are two namely: in the form of primary data and secondary data. The data of this study were collected by using interview, observation, and document study techniques, and by using tools in the form of interview guides, books, pens, and cameras. After the data obtained is analyzed by collecting data, data reduction, data presentation, and drawing conclusion. The location of this research was conducted in Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji. This research activity researchers do for one month in the field.
The results of this study reveal that: 1) The forms of Implementation of Kato Nan Ampek values in Pasukuan Caniago in Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Koto Baru District Dharmasraya Regency, namely: a) educate and guide children in the family kemanakan values Kato Nan Ampek, b) membelajarkan teenagers about the values of Kato Nan Ampek diperurau the Caniago by the Penghulu, c) held activities in the past Caniago Pengikuters in the pasukuan Caniago as well as teach children kemanakan values Kato Nan Ampek way of behaving, courtesy to ninik mamak in The Caniago 2) The application of Kato Nan Ampek's values in social life to the present day society is still polite in behaving, acting and calling to the elderly as well as teenagers can distinguish the way of behaving well to the greater, equally large And the same small both in the family and in everyday life.
Keywords: Kato Nan Ampek Values, Teenagers
1Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sosiologi STKIP PGRI Sumatra Barat 2012
2Pembimbing I Dosen STKIP PGRI Sumatera Barat
PENDAHULUAN
Kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang
dihasilkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat, yang dijadikan miliknya
dengan belajar (Koentjaraningrat,
2009:144). Edwar B. Taylor mengunakan
kata kebudayaan untuk menunjuk”
keseluruhan kompleks dari ide dan segala sesuatu yang dihasilkan manusia dalam pengalaman historinya. Setiap daerah
mempunyai kebudayaan masing-masing
yang menjadi acuan atau pedoman hidup
bagi masyarakatnya dalam menjalani
kehidupan sehari-hari. Seperti Indonesia mempunyai beragam macam kebudayaan
salah satunya Sumatera Barat yang
mempunyai budaya Minangkabau yang menjadi acuan atau pedoman hidup bagi orang Minangkabau.
Sumatera Barat memiliki 7 Kota dan 19 Kabupaten dan 648 Nagari, yang mempunyai adat yaitu: Adat Minangkabau, yang terkenal dengan pepatah” Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” yang menjadi acuan atau pedoman hidup bagi masyarakat Minangkabau yang tinggal di Sumatera Barat. Dari 648 Nagari yang ada di Sumatra Barat kenagarian Ampang Kuranji merupakan salah satu Nagari yang menganut budaya Minangkabau.
Adat Minangkabau merupakan
falsafah kehidupan yang menjadi budaya atau kebudayaan Minangkabau. Menurut Prof Dr. Kuntjaraningrat ada 7 unsur kebudayaan yaitu : sistem religi, sitem
kemasyarakatan, sistem pengetahuan,
bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian, dan sistem teknologi. Ketujuh unsur
kebudayaan ini mencangkup seluruh
kebudayaan manusia dimanapun, serta ketujuh unsur tersebut yang menentukan
nilai-nilai kehidupan dalam suatu
masyarakat. Dari ketujuh unsur kebudayaan
tersebut bahasa merupakan unsur
kebudayaan yang digunakan untuk
berinteraksi. Masyarakat Minangkabau
mempuyai bahasa sendiri yang menjadi alat komunikasi yang sangat efektif di antara nagari-nagari di Minangkabau.
Bahasa Minangkabau merupakan bahasa persatuan antara suatu nagari dengan nagari lainnya, dalam adat Minangkabau Kato Nan Ampek merupakan tutur bahasa yang di turunkan secara turun-temurun
secara alamiah, Kato Nan Ampek merupakan tutur bahasa sopan santun yang mengatur masyarakat Minangkabau dalam bergaul baik dalam suatu nagari maupun dengan nagari yang lainnya. Kato nan Ampek” yang dimaksud disini adalah suatu sikap dan kebudayaan Minang yang juga merupakan norma penting dalam kehidupan masyarakat,
menjelaskan tentang tatanan berbicara
masyarakat Minang yang dianjurkan dalam adat Minangkabau. Menurut Buya Mas’oed Abidin seorang ulama dan tokoh adat Sumatera Barat menyatakan bahwa Tau jo Nan Ampek artinya tau dengan filsafah Minang tentang budaya lokal yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan menurut M. Nasroen adat Minangkabau merupakan suatu sistem pandangan hidup yang kekal serta aktual (Soekanto, 2010:70)
Dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau ada aturan-aturan yang
mempelajari tentang tata cara bergaul, dan bertindak. Aturan tersebut di kenal juga dengan istilah ”Kato Nan Ampek” yaitu: (1) Kato Mandaki maksudnya adalah dari bawah ka ateh, merupakan tutur kata yang digunakan kepada orang yang lebih besar
dari orang pertama yang berbicara,
maksudnya cara seseorang bersikap dan bertindak yang sesuai dengan adat sopan santun dengan orang yang statusnya lebih tua (dituakan) menurut umur atau statusnya baik dalam ikatan formal maupun non formal. (2) Kato Malereang maksudnya adalah nan pueh baisi kieh jo banding baisi petunjuak jo pangaja biasonyo dipakai arif bijaksono, adolo tampek malatakkannyo. Artinya, kato malereang adalah kata kiasan yang digunakan oleh seorang yang lebih arif bijaksana kepada orang lain. (3) Kato Mandata maksudnya adalah sikap seseorang yang sama besar, baik dari segi umur
maupun berdasarkan status yang
dimilikinya. Harus ada saling harga
menghargai, dipakaikan kata merendah, dijauhi kata yang kasar. Muluik manih kucindan murah, budi baiak baso katuju, lamak bak santan jo tangguli, pandai bagaua samo gadang, ingek rundiang kok mancucuak, jago sandiang kok malukoi (mulut manis kecindan murah, budi baik basa ketuju, enak seperti santan dengan tangguli, pandai bergaul sama besar, ingat rundingan yang akan mencucuk, jaga
sanding jika melukai). Maksudnya berkata manis, sopan dan selalu mempertimbangkan setiap perbuatan dan pembicaraan hendaklah dipikirkan agar jangan menyinggung orang lain. (4) Kato Manurun maksudnya adalah dikiaskan bagaimana sikap sopan santun dari yang tua atau dituakan baik dalam status ataupun tingkatan umur, interaksi ini seperti ibu bapak kepada anaknya, kakak kepada adik, mamak kepada kemenakan, atasan kepada bawahan, guru kepada murid dan
lain-lain (Attubani, 2012: 71-76). Jorong Tangkit merupakan salah
satu Jorong di Nagari Ampang Kuranji yang masih menjunjung tinggi adat Minangkabau yang menjadi pedoman atau acuan bagi masyarakat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Karena masyarakat di Jorong Tangkit masih memegang teguh adat Minangkabau, terutama remaja dahulunya di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji masih mempunyai rasa saling menghargai, sopan santun, ramah tamah, saling tolong menolong dan lain-lain. Melihat fenomena yang terjadi pada saat sekarang ini sebagai akibat dari perkembangan IPTEK yang
dapat menghilangkan nilai-nilai adat
Minangkabau terutama bagi kalangan
remaja.
Berdasarkan hasil observasi yang penulis lakukan (06-02-2016) di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji ditemukan beberapa permasalahan tentang perubahan perilaku dikalangan remaja antara lain: (1) Kurangnya adab sopan santun dalam
berbicara dengan orang lain, (2)
Berkurangnya rasa saling menghargai dan menghormati (3) Bekurangnya rasa malu dengan orang lain, (4) Kurangnya kontribusi dari remaja untuk berkumpul dalam surau persukuan. Padahal sebagai remaja perilaku yang demikian tidak mencerminkan sebagai seorang pelajar. Bagaimana pun nilai-nilai sosial merupakan pedoman dalam bergaul dan berperilaku, serta ada yang harus dipatuhi oleh semua anggota masyarakat.
Hal ini seharusnya menjadi
perhatian bagi masyarakat Ampang Kuranji baik bagi orang tua, ninik mamak dan alim ulama untuk menasehati dan mengajarkan remaja sekarang agar lebih memahami “Kato Nan Ampek” yang ada dalam adat Minangkabau agar terjadinya ketentraman dalam kehidupan bermasyarakat.
Berdasarkan uraian di atas menarik
untuk diteliti tentang ”Bentuk-Bentuk
Implementasi Nilai-Nilai Kato Nan Ampek Dalam Pasukuan Caniago Di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji, Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya’’
Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk: Mendeskripsikan Bentuk-Bentuk
Implementasi Nilai-Nilai Kato Nan Ampek Dalam Pasukuan Caniago Di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya.
Teori yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teori Tindakan Sosial. Teori Tindakan Sosial merupakan bagian dari paradigma fakta sosial, yang meneliti fakta sosial yang terlihat maupun yang tidak terlihat dan teori yang digunakan adalah teori Tindakan Sosial yang dikemukakan oleh Max Weber.
METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, dengan tipe deskriptif. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu pengambilan informan berdasarkan
kriteria-kriteria tertentu. Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data
primer dan data sekunder. Metode
pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi non-partisipan, wawancara mendalam dan studi dokumen. Unit analisis dalam penelitian ini adalah kelompok.
Analisis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analisis data menurut Milles dan Huberman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Tentang Pelaksanaan Kato Nan Ampek Di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya
Nagari merupakan suatu unit
pemungkiman yang diakui oleh adat, daerah Minangkabau merupakan daerah yang kental akan adat dan kebudayaaan kedua hal tersebut berdasarkan pada agama yang dianut oleh masyarakat yang umumnya beragama Islam dan sekaligus dijadikan
sebagai landasan dalam berbuat dan
bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat di Jorong Tangkit nagari Ampang Kuranji pada saat sekarang masih sopan santun dalam bertindak, berperilaku dan berbicara kepada orang sama besar,
lebih besar dan kepada yang lebih kecil, di Jorong Tangkit nagari Ampang Kuranji ninik mamak dan orang tua saat ini masih mengajarkan anak kemanakan tentang Kato Nan Ampek baik disurau maupun di rumah, terutama bagi remaja didalam Jorong Tangkit nagari Ampang Kuranji yang masih mempunyai etika sopan santun dalam bersikap, berperilaku maupun berbicara yang sesuai dengan tempatnya baik didalam keluarga kepada orang tua, kakak, adik, mamak maupun kepada orang lain. Karena masyarakat di Jorong Tangkit masih tau jo nan ampek, raso jo pareso dan malu jo sopan, dalam bersikap, sopan santun, bertindak, dan mempunyai etika berbicara
dalam menjalani kehidupan sehingga
terciptanya ketentraman dalam kehidupan
bermasyarakat. Adapun bentuk-bentuk
Implementasi Nilai-Nilai Kato Nan Ampek dalam Pasukuan Caniago Jorong Tangkit nagari Ampang Kuranji sebagai berikut
1. Kato Mandaki dari bawah ka ateh, yaitu tata cara
berbicara seseorang
kepada orang yang lebih
tua seperti berbicara
kepada bapak, ibu, kakak, dan kepada semua orang yang lebih tua baik dalam
segi umur maupun
statusnya, remaja Jorong Tangkit nagari Ampang Kuranji masih mempunyai etika yang baik dan sopan dalam berbicara kepada orang yang lebih tua, serta menegur dengan sopan bila bertemu dengan mamak, atau yang lebih
tua dan selalu
memperhatikan kata-kata yang digunakan apabila
berbicara dengan yang
lebih tua atau lebih besar baik kepada orang tua, kakak, mamak dan orang lain.
2. Kato Malereang adalah ungkapan sikap dan cara berbicara dengan orang yang disegani, dihormati,
ugkapan ini ditujukan
dalam pergaulan
sehari-hari untuk memaki,
menasehati, dan untuk
melarang minsalnya
dalam hubungan
kekeluargaan
dipergunakan seperti
hubungan kakak dengan adik, ipar dengan bisan, dan ibu bapak dengan
menantu, di Jorong
Tangkit nagari Ampang Kuranji pada saat ini anak
remaja masih bisa
membedakan bagaimanan
cara berperilaku sopan
santun dalam bergaul
dengan orang yang segani
seperti kepada ninik
mamak, orang tua atau yang sama besar dan orang
lain dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Kato Mandata adalah bagaimana sikap sopan
santun seseorang yang
sama besar baik dari segi umur maupun berdasarkan status yang dimilikinya, didalam Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji anak remaja sekarang ini masih beperilaku sopan santun, dalam berbicara
kepada teman sebaya,
bercanda gurau saling
menghargai dan
menghormati dalam
bergaul, berperilaku sopan
santun dan tidak
menyinggung perasaan
orang lain baik disekolah maupun dalam pergaulan sehari-hari.
4. Kato Manurun adalah bagaimana sikap sopan santun dari yang tua atau
dituakan kepada yang
lebih kecil, diartikan juga
dengan tindakan
mengayomi menyanyagi
seperti ibu bapak kepada anaknya, kakak kepada adiknya mamak kepada kemanakan, atasan kepada
bawahan, guru kepada
sebagainya, didalam
Jorong Tangkit nagari
Ampang Kuranji sekarang ini anak remaja masih berperilaku sopan santun, berbicara dan bergaul baik yang sama besar, lebih besar atau kepada yang
lebih kecil didalam
pelaksanaan Kato
Manurun remaja sekarang
bisa menempatkan
bagaimana cara
berperilaku kepada yang lebih kecil dari dirinya
baik didalam keluarga
maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Bentuk-Bentuk Implementasi Nilai-Nilai Kato Nan Ampek dikalangan Remaja di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji Kecamatan Koto Baru Kabupaten Dharmasraya
1. Mendidik dan Membimbing Anak Kemanakan Didalam Keluarga
Mendidik dan membimbing anak kemanakan didalam keluarga maksudnya orang tua mempuyai kewajiban untuk mengarahkan dan mendidik anak kemanakan serta mengajarkan anak mengenai adat Minangkabau terutama tentang Kato Nan Ampek. Sebagai orang tua tidak bisa terlepas dari tanggung jawabnya dalam mendidik dan membimbing anak didalam keluarga dan mengajarkan tata krama, sopan santun, cara bersikap dan berperilaku didalam keluarga maupun didalam kaumnya. Mendidik dan membimbing anak kemanakan didalam keluarga sebagai orang tua berkewajiban dalam mendidik dan membimbing anak baik dalam bidang adat, bidang agama, dan bidang perilaku sehari-hari.
Berdasarkan hasil wawancara peneliti temukan dilapangan dapat diketahui, bahwa didalam keluarga orang tua lah yang mempuyai kewajiban, tanggung jawab yang
sangat besar dalam mendidik dan
membimbing anggota keluarga, memberikan
pengetahuan kepada anggota keluarga
mengenai yang baik dan buruk serta
mengajarkan anak mengenai adab
berperilaku, sopan santun, berbicara, bergaul
baik kepada kakak, adik, dan mamak didalam keluarga sesuai dengan adat Kato Nan Ampek yang harus dipahami oleh anak
kemanakan serta diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari.
Dalam keluarga orang tua tidak bisa terlepas dari tanggung jawabnya dalam mendidik dan membimbing anak kemanakan dalam membentuk budi pekerti, berakhlak mulia dengan mengajarkan anak kemanakan dalam keluarga mengenai Kato Nan Ampek. Kato Nan Ampek merupakan aturan atau norma yang tidak tertulis yang mengatur
bagaimana cara bersikap, bertindak,
berbicara dan bergaul masyarakat
Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai orang tua didalam keluarga sudah menjadi kewajiban dalam mendidik dan
membimbing serta mengajarkan anak
kemanakan mengenai cara berperilaku, mempuyai etika yang baik, ramah dalam bertindak dan sopan santun dalam berbicara kepada orang lain baik didalam keluarga maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan adab Kato Nan Ampek yang harus diajarkan oleh orang tua didalam keluarga kepada anak kemanakan agar seorang anak bisa menegetahui bagaimana cara bersikap atau berperilaku dalam menjalini kehidupan
sehari-hari. Karena adat Minangkabau
diturunkan secara turun-temurun, secara
alamiah, permasalahan diatas peneliti
analisis menggunakan teori Tindakan Sosial
menurut Max Weber yakni tindakan
Tradisional disini dapat terlihat bagaimana tindakan remaja dalam berperilaku, sopan santun kepada orang yang lebih besar, sama besar atu kepada yang lebih kecil dalam kehidupan sehari-hari
2. Membelajarkan Para Remaja Tentang Nilai-Nilai Kato Nan Ampek disurau Kaum Caniago
Hasil obsrvasi dan wawancara yang peneliti lakukan dilapangan terlihat bagaimana seorang Penghulu mempuyai kewajiban dan tanggung jawab dalam
mendidik dan membimbing anak
kemanakan didalam kaumnya, seorang Penghulu tidak bisa terlepas dari tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin dalam kaumnya, seorang Penghulu dipilih secera bersama oleh
kaumnya sendiri untuk menjadi
seorang Penghulu karena seorang Penghulu dipilih oleh kaumnya tidak secara sembarangan. Jabatan seorang Penghulu di peroleh seseorang karena diangkat oleh anggota kaumnya karena seseorang mempunyai jabatan atau pengaruh yang besar dalam kaumnya serta berjiwa besar, berpandang luas dan bertanggung jawab terhadapa kaumnya, serta dapat menyelesaikan persoalan di dalam kaumya secara bijaksana.
Seorang Penghulu selain
membimbing anak kemanakan didalam
kaumnya juga harus memberikan
pengetahuan kepada anggota kaumnya mengenai adat Minangkabau, terutama
kepada anak kemanakan sebagai
seorang Penghulu atau ninik mamak dalam kaum Caniago harus memberi pengetahuan kepada anak kemanakan tentang apa yang boleh dilakukan, baik dan buruk atau yang menjadi patangan
dalam adat Minangkabau serta
mengajarkan anak kemanakan
bagaimana cara bersuku, berperilaku, sopan santun, tata krama yang sesuai dengan nilai-nilai Kato Nan Ampek yang ada dalam adat Minangkabau didalam surau kaum caniago.
Permasalahan diatas peneliti
analisis menggunakan teori Tindakan Sosial
menurut Max Weber yaitu tindakan
tradisional bagaimana cara seorang
penghhulu dalam mendidik dan mengajarkan anak kemanakan mengenai nilai-nilai adat Minangkabau didalam surau pasukuan Caniago secara turun-temurun.
3. Mengadakan Kegiatan Manjalang Penghulu didalam Pasukuan Caniago
Penghulu sebagai seorang
pemimpin dalam kaumnya yang
mempuyai tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik dan membimbing anak kemanakan, mengajarkan hal-ahal yang berkaitan dengan adat Minangkabau terutama mengenai Kato Nan Ampek yang merupakan aturan-aturan atau norma
dalam berperilaku, bertindak dan
berbicara yang harus dipahami oleh anak kemanakan, selain itu seorang Penghulu harus bisa memelihara keharmonisan anggota kaum yang dipimpinnya agar terjalinya silaturahmi serta terciptanya rasa persatuan antara anggota kaum, dan
dapat diteruskan kepada generasi
selanjutnya.
Dari hasil observasi dan
wawancara peneliti lakukan dilapangan peneliti melihat adanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam pasukuan Caniago
dalam mengajarkan anak kemenkanan
mengenai adat Minangkabau seperti
kegiatan menjalang penghulu yang
dilakukan satu kali dalam satu tahun ini yang telah diturunkan secara turun-temurun daru dulu sampai pada saat sekarang ini masih tetap bertahan dengan tujuan untuk menjaga keseimbangan, ketentraman antara anggota kaumnya yang dapat mempererat tali silaturahmi antara anggota kaumnya, mendidik dan membimbing anak kemanakan
serta mengajarkan nilai-nilai adat
Minangkabau kepada anak kemanakan
dengan tujuan agar kelak generasi
selanjutnya juga bisa mempertahankan dan mewariskan adat Minangkabau secara
turun-temurun. Permasalahan diatas peneliti
analisis menggunakan teori Tindakan Sosial menurut Max Weber disisni dapat dilihat dalam pasukuan Caniago di Jorong Tangkit Nagari Ampang Kuranji bahwa nilai-nilai adat Minangkabau masih diajarkan oleh orang tua, ninik mamak kepada anak kemanakan baik dalam keluarga maupun disurau pasukuan Caniago.
Penerapan Nilai-Nilai Kato Nan Ampek Dalam Kehidupan Bermasyarakat.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti temukan dilapangan bahwa remaja memahami dan menerapkan apa yang diajarkan oleh penghulu dan orang tua mengenai adat Minangkabau, apalagi mengenai Kato Nan Ampek seorang anak harus bisa menerapkan bagaimana cara bersikap, bergaul dan bertidak kepada orang yang lebih tua, sama besar dan yang lebih kecil baik di dalam keluarga maupun di kehidupan sehari-harinya.
Sesuai dengan teori tindakan sosial
Menurut Max Weber yaitu tindakan
Tradisional dimana seorang anak melakukan tindakan sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh orang tua dan ninik mamak baik didalam keluarga maupun didalam pasukuan Caniago di Jorong tangkit Nagari Ampang Kuranji menegenai nilai-nilai adat Minangkabau terutama mengenai Kato Nan Ampek yang merupakan pedoman bagi
masyarakat Minangkabau dalam bertindak,
bergaul, berperilaku dalam menjalani
kehidupan sehari-hari.
Kesimpulan
Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan dan analisis yang telah dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik
kesimpulan dan merupakan jawaban
permasalahan penelitian yang telah diajukan sebagai berikut :
1. Mendidik dan membimbing anak
kemanakan didalam keluarga,
keluarga sebagai unit terkecil dalam
masyarakat juga mempuyai
tanggung jawab yang sangat besar dalam mendidik dan membimbing dan mengajarkan anak nilai-nilai Kato Nan Ampek didalam keluraga anak diajarkan bagaimana cara
berperilaku sopan santun,
tatakrama, dan berpanggilan kepada orang yang lebih besar.
2. Membelajarkan para remaja tentang nilai-nilai Kato Nan Ampek disurau
kaum caniago, melalui wirid
pasukuan. Dalam wirid pasukuan
anak kemankan diajarkan
bagaimana cara bersuku, sopan santun beperilaku kepada mamak, mematuhi atura-aturan yang telah dibuat sebelumya dan mengjarkan anak kemankan mengenai nilai-nilai Kato Nan Ampek didalam surau pasukuan Caniago.
3. Mengadakan kegiatan manjalang
Penghulu didalam pasukuan
caniago, kegiatan manjalang
Penghulu yang dilakukan satu kali dalam setahun dengan tujuan untuk
menjalin silahturahmi antara
anggota kaum Caniago dan
mengajarkan anak kemanakan
mengenai nilai-nilai Kato Nan Ampek oleh ninik mamak atau Penghulu.
6.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran dari penulis adalah:
1. Diharapkan kepada remaja di
Nagari Ampang Kuranji untuk beperilaku, sopan santun dalam bergaul baik didalam lingkungan keluarga, sekolah dan di kehidupan
sehari-hari agar terciptanya
keseimbangan dan keteraturan
didalam suatu nagari.
2. Diharapkan bagi pemerintah
Nagari, ninik mamak dan orang tua
untuk lebih menerapkan adat
Minangkabau kepada anak
kemenakan agar anak kemanakan bisa tahu apa yang menjadi haknya, baik dan buruk, apa yang boleh
dilakukan atau yang menjadi
pantangan didalam adat
Minangkabau agar terciptanya
kesejahteraan dalam suatu nagari.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin,Yusuf Zainal. Beni Ahmad Saebani. 2014. Pengantar sistem sosial budaya di Indonesia. CV Pustaka Setia: Bandung.
Ali, M dan M. Asrori. 2012. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Bumi Aksara: Jakarta.
Amir, M.S. 2011. Adat Minangkabau Pola Hidup dan Tujuan Hidup Orang Minang. Citra Hata Prima: Jakarta.
Attubani. 2012. Adat dan Sejarah
Minangkabau. Media Explorasi. Padang, Sumatera Barat.
Bugin, Burhan. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif Aktualisasi Metodologi keArah Ragam Varian Kontemporer. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Harjul. Blogspot. Co. id/2012/06/
Tergusurnya- Budaya-Kato-Nan-Ampek. Html.
Harsono, Hanif, 2002. Implementasi
Kebijakan dan Politik. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Iskandar. 2009. Metode Penelitian
Pendidikan Dan Sosial Kualitatif Dan Kuantitatif. Gp Press: Jakarta.
Jakarta.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. PT. Rineka Cipta : Jakarta.
Lufri. 2007. Kiat Memahami dan Melakuakan Penelitian. UNP PRESS: Padang.
Moleong, lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Remaja Rusdakarya: Bandung.
Noor, Juhansyah. 2012. Metodologi,
Penelitian Skripsi, Tesis, Sertasi, Kaya Ilmiah: Jakarta.
Ritzer, Goerge. 2011. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Setiadi, Elly dkk. 2010. ISBD. Kencana: Jakarta.
Soejono Soekanto. 2011. Hukum Adat Indonesia. PT. Raja Grafindo Persada :
Sugiyono. 2011. Metode penelitian
Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&B). Alfabeta: Bandung.
Sundari, siti. Siti Rumini. 2004.
Perkembangan Anak dan Remaja. PT. Rineka Cipta: Jakarta.