KETIDAKBERFUNGSIAN RUMAH GADANG DALAM UPACARA PERKAWINAN
(Studi Kasus : Masyarakat Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung)
ARTIKEL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
GUSMARLAN NPM: 12070059
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
KETIDAKBERFUNGSIAN RUMAH GADANG DALAM UPACARA PERKAWINAN (Studi Kasus : Masyarakat Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus
Kabupaten Sijunjung Oleh
Gusmarlan1, Drs.Nilda Elfemhi,M.Si,²., Yuhelna,S.Sos M.A. ³ 1) Mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat 2) 3) Dosen Program Studi Pendidikan Sosiologi
STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRAK
Rumah Gadang Merupakan Rumah Adat Suku Bangsa Minangkabau, Rumah Gadang ini memiliki beberapa fungsi begitu juga dengan Rumah Gadang di Jorong Bonai yang merupakan salah satu daerah di Minangkabau, memiliki fungsi sebagai tempat tinggal, tempat merawat anggota keluarga yang sakit, dan pelaksanaan upacara adat seperti upacara perkawinan, namun keberadaan Rumah Gadang masih terlihat akan tetapi fungsi Rumah Gadang untuk pelaksanaan upacara adat sudah tidak berfungsi lagi. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan faktor penyebab tidak berfungsinya Rumah Gadang dalam upacara perkawinan di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori tindakan sosial dari Max Weber.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif.
Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan Purposive sampling, informan dalam penelitian ini berjumlah 14 orang. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan sekunder.
Metode pengumpulan data yang digunakan dengan dua cara yaitu observasi terlibat, wawancara mendalam. Unit analisis dalam penelitian ini adalah kelompok yaitu Ninik Mamak, Mamak Rumah dan masyarakat yang masih memiliki Rumah Gadang serta melangsungkan perkawinan beberapa tahun terakhir.Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dengan Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa yang menjadi faktor penyebab tidak berfungsinya Rumah Gadang dalam upacara perkawinan di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung adalah (1) Kurangnya peralatan yang terdapat di Rumah Gadang (2) Terbatasnya kapasitas daya tampung Rumah Gadang (3) kurangnya biaya Operasional.
Malfunction House Tower In Marriage Ceremony Case Study: Community Jorong Bonai Kenagarian Bonai Tanjung Aur District of Holy Sumpur Kudus Sijunjung
By
Gusmarlan1, Drs.Nilda Elfemhi,M.Si,²., Yuhelna,S.Sos M.A. ³ 1) Student of STKIP PGRI West Sumatra
2) 3) Lecturer Program Study Sociology of STKIP PGRI West Sumatra
ABSTRACT
Tower House is a House Tribal Nations Minangkabau, the Tower House has several functions as well as the Tower House in Jorong Bonai which is one of the areas in Minangkabau, has a function as a home, caring for ill family members, and implementation of traditional ceremonies such as ceremonies marriage, but the presence of the Tower House is still visible but the Tower House functions for the implementation of traditional ceremonies is not working anymore. The research objective was to describe the factors causing malfunction of the Tower House in a marriage ceremony in Jorong Bonai Kenagarian Bonai Tanjung Aur District of Holy Sumpur Sijunjung.
The theory used in this research is the theory of social action of Max Weber. The approach used in this study is a qualitative approach with descriptive type. Selection of informants in this study using purposive sampling, informants in this study amounted to 14 people. Data used in this study are primary and secondary data. Data collection methods used in two ways, namely participant observation, in-depth interviews. The unit of analysis in this study is a group that is Ninik Mamak, Mamak house and the people who still have the Tower House and into marriage a few years terakhir.Analisis data used in this study with Miles and Huberman namely data collection, data reduction, data presentation and conclusion ,
The results of this study can be concluded that the factors cause malfunction of the Tower House in a marriage ceremony in Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur District of Sumpur Holy Sijunjung are (1) lack of equipment contained in the Tower House (2) Limited capacity capacity House Tower ( 3) lack of operational costs.
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki kekayaan yang sangat luar biasa, mulai kekayaan alam maupun kekayaan budayanya, satu diantaranya adalah rumah adat yang memiliki keanekaragaman yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebagai negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya, ragam bahasa, dan suku dari Sabang sampai Merauke sehingga Indonesia memiliki banyak koleksi rumah adat (Pramono, 2013:122-124).
Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi yang ada di Indonesia tentunya memiliki kebudayaan tersendiri. Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar(Koentjaraninggrat,2009:144).
Rumah Gadang Minangkabau merupakan tugu hasil kebudayaan suatu suku bangsa yang hidup di daerah bukit barisan yang menjajar di sepanjang pantai barat pulau Sumatera bagian tengah, sebagaimana halnya rumah di daerah khatulistiwa yang dibangun di atas tiang, Rumah Gadang mempunyai kolong yang tinggi, atapnya yang lancip merupakan yang khas serta membedakannya dengan bangunan suku lain di edaran garis khatulistiwa (Navis, 1984:171).
Rumah Gadang disebut juga dengan rumah adat Minangkabau adalah hasil karya nenek moyang masa lampau, dibangun menurut tradisi yang turun temurun sampai sekarang menjadi identitas Minangkabau (Zainuddin, 2014:54). Adapun fungsi Rumah Gadang Menurut Navis (1984:176) sebagai tempat kediaman keluarga selain itu, Rumah Gadang juga berfungsi sebagai lambang kehadiran suatu kaum serta sebagai pusat kehidupan dan kerukunan, seperti tempat bermufakat dan melaksanakan berbagai upacara, bahkan juga sebagai tempat merawat anggota keluarga yang sakit.
Rumah adat Minangkabau dipergunakan untuk tempat tinggal dan pelaksanaan upacara adat istiadat seperti pengangkatan penghulu, perkawinan, kematian, dan lain-lain (Zainuddin, 2014:58).
Berdasarkan pendapat ahli tersebut, salah satu fungsi Rumah Gadang digunakan
sebagai tempat pelaksanaan upacara perkawinan.
Rumah adat Minangkabau atau Rumah Gadang kelihatannya akan hilang dalam jangka waktu yang dekat, karena boleh dikatakan tidak ada yang membangun baru lagi (Koentjraninggrat, 1970:224). Hampir semua Rumah Gadang yang tersebar di selingkar Minangkabau tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya (Ronidin, 2006:115).
Seperti yang terjadi di Jorong Bonai Nagari Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung Rumah Gadang masih tampak keberadaannya tetapi fungsinya tidak berjalan lagi.
Sebagaimana di Jorong Bonai terdapat 6 Rumah Gadang akan tetapi sekarang hanya terdapat 4 Rumah Gadang yang masih layak digunakan, 2 Rumah Gadang sudah tidak layak digunakan dengan keadaan dindingnya sudah lapuk dan atapnya yang roboh. Sedangkan Rumah Gadang yang masih layak digunakan terdiri dari empat suku utama yaitu, Caniago Tongah, Kampai Tolang, Patopang, Piliang, dimana setiap Rumah Gadang masih bisa dipakai dan digunakan sebagaimana mestinya
Menurut Dt. Rajo Aceh Rumah Gadang yang tersebar di Nagari Tanjung Bonai Aur dapat dikatakan tidak layak jika (keadaan roboh, lantainya lapuk, atapnya bocor) dan tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya. Upacara perkawinan dulunya di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus sangat kuat adat- istiadat seperti yang dilaksanakan oleh generasi pendahulunya yang melibatkan fungsi Rumah Gadang dalam upacara perkawinan yang dilakukan saat keberlangsungan upacara adat perkawinan.
Hal ini dibuktikan dengan observasi dan wawancara awal dengan pemuka adat di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung terjadi ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam proses perkawinan. Dengan fakta yang dijumpai sekarang yaitu ditemui beberapa Rumah Gadang masih berdiri kokoh akan tetapi tidak berfungsi untuk melaksanakan upacara perkawinan.
1
Keberlangsungan acara perkawinan tidak dilaksanakan di Rumah Gadang melainkan segala bentuk kegiatannya dilakukan di rumah (tempat kediamannya).
Melihat fenomena di atas, bahwa Rumah Gadang di Jorong Bonai masih tampak keberadaannya akan tetapi Rumah Gadang sebagai tempat pelaksanaan upacara adat seperti upacara perkawinan sudah tidak berfungsi lagi sebagaimana mestinya, melainkan segala bentuk kegiatannya di langsungkan di rumah tinggalnya. Hal ini menarik untuk diangkat dan di gali di samping memiliki nilai-nilai Histori yang tinggi dan juga berdampak kepada wujud keragaman kebudayaan yang terdapat di Minangkabau.
Masalah tersebut diangkat sebagai masalah penelitian yang berjudul “Ketidakberfungsian Rumah Gadang Dalam Upacara Perkawinan di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung”.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah Apa faktor penyebab tidak berfungsinya Rumah Gadang dalam upacara perkawinan di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
METODOLOGI
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif.
Pendekatan kualitatif menurut Afrizal (2014:13) didefinisikan sebagai pendekatan penelitian ilmu-ilmu sosial yang mengumpulkan dan menganalisis data berupa kata-kata (lisan maupun tulisan) dan perbuatan-perbuatan manusia serta tidak
berusaha menghitung atau
mengkuantifikasikan data kualitatif yang telah diperoleh dan dengan demikian tidak menganalisis angka-angka.
Menurut Moleong (2010:6) Prinsip dasar pendekatan kualitatif adalah penelitian yang dimulai dengan persoalan seperti mengapa, bagaimana, apa, dimana, dan bilamana tentang suatu fenomena atau gejala yang terjadi dilapangan dan peneliti dapat memberi suatu makna kepada suatu peristiwa.
Dipilih pendekatan kualitatif dalan penelitian
ini karena dapat mengungkapkan permasalahan secara tajam dan mendalam sehingga didapat data yang akurat dan informasi sebanyak-banyaknya melalui pertanyaan penelitian, dengan tujuan didapatkan pemahaman mengenai ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
Menurut Arikunto (2010:291) tipe deskriptif adalah yang menyatakan bahwa penelitian deskriptif tidak dimaksud untuk menguji hipotesa tertentu, tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang data, gejala atau keadaan tentang masalah-masalah sosial yang ada, berguna untuk mengklasifikasikan mendeskripsikan sejumlah masalah-masalah yang akan diteliti. Dipilih tipe penelitian deskriptif dalam penelitian ini karena tipe penelitian ini dapat menggambarkan tentang faktor penyebab tidak berfungsinya Rumah Gadang dalam upacara perkawinan di Jorong Bonai Kenagarian Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
Analisis data dalam penelitian ini digunakan model analisis data dariMiles dan Huberman. Menurut Miles dan Huberman, ketiga langkah tersebut dilakukan terus setiap setelah melakukan pengumpulan data dengan teknik apapun. Jadi kaitan antara analisis data dengan pengumpulan data disajikan oleh Miles dan Huberman yaitu komponen, 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) penyajian data, 4) kesimpulan.
2
DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN Jorong Bonai merupakan Jorong yang berada di Nagari Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung dengan kondisi secara geografis : Luas Jorong Bonai : 623 Ha
Ketinggian dari permukaan laut:325 Mdpl Topografi : Dataran rendah dan perbukitan Suhu Rata-rata:23 C - 32 C
Curah hujan per tahun : 212 Mm
Jorong bonai merupakan salah satu dari 6 (enam) Jorong yang ada di Nagari Tanjung Bonai Aur dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Jorong Koto Puntian
2. Sebelah timur berbatasan dengan Jorong Koto Gadang
3. Sebelah barat berbatasan dengan Jorong Koto Tinggi
4. Sebelah selatan berbatasan dengan Jorong Koto Baru
Jumlah keseluruhan penduduk Jorong Bonai secara umum berjumlah 479 jiwa yang terdiri 119 KK (kepala keluarga). Hasil wawancara dengan Kepala Jorong Bonai adalah 479 Jiwa dengan jumlah laki-laki 257 jiwa dan perempuan 222 jiwa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Masyarakat Jorong Bonai merupakan bagian salah satu dari enam Jorong yang terdapat di Nagari Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung yang masih membudayakan adat istiadat di Minangkabau.
Dengan semboyan :
“Adat basandi syarak
Syarak basandi kitabullah
syarak mangato adat mamakai”
Berdasarkan semboyan di atas dimana nilai-nilai adat sebagai kebiasaan masyarakat Minangkabau berdasarkan kepada Al-Qur’an dan sunnah, adat dibenarkan oleh agama selama adat masih dalam Syari’at Islam, agama merupakan pedoman bagi adat, apa
yang dijelaskan oleh agama maka adat mengamalkan dan keduanya tidak dapat dipisahkan, adat istiadat Minangkabau di Jorong Bonai masih bertahan hingga sekarang seperti mengatur seluruh aspek kehidupan mulai dari aturan dalam lingkungan keluarga, hubungan antara individu, perkawinan, harta warisan dan lain sebagainya, Hal ini juga didukung karena masih bertahannya salah satu aset atau identitas Minangkabau yaitu Rumah Gadang sebagai simbol keberadaan adat Minangkabau yang sudah ada sejak Jorong Bonai terbentuk.
Sebagaimana Jumlah Rumah Gadang di Jorong Bonai yaitu berjumlah 4 suku/kaum yaitu (suku Caniago, suku Piliang, suku Malayu/Kampai dan suku Patopang), dari semua Rumah Gadang yang terdapat di Jorong Bonai dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suatu suku atau kaum.
Rumah Gadang di buat berbentuk segi empat yang mengambang ke atas. Lengkung badan rumah landai seperti badan kapal, Rumah Gadang berupa rumah panggung dengan lantai papan sekitar satu atau dua meter di atas permukaan tanah, dan terdapat tangga di bagian depan untuk masuk Rumah Gadang.
Bagian dalam Rumah Gadang yang terdapat di Jorong Bonai terbagi atas lanjar dan ruang yang ditandai oleh tiang. dari segi bahan hampir seluruh komponen Rumah Gadang dibuat dari kayu kecuali atap dibuat dari seng dan sandi (dari batu kali berbentuk pipih yang berfungsi sebagai pondasi bangunan).
Adapun Rumah Gadang ini di gunakan sebagai tempat tinggal bagi kaum perempuan dan anak-anak, sementara laki-laki tidak dipuruntukkan tinggal. Rumah Gadang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal keluarga tapi juga sebagai tempat bermusyawarah, sebagai tempat pelaksanaan upacara adat dan sebagai simbol eksistensi suatu kaum dalam Nagari.
Rumah Gadang di Jorong Bonai memiliki berbagai fungsi yaitu : sebagai tempat tinggal, tempat bermusyawarah, tempat pelaksanaan upacara adat seperti upacara kematian, upacara batagak gala dan upacara perkawinan, akan tetapi sekarang Rumah Gadang sebagai tempat pelaksanaan upacara perkawinan sudah tidak berjalan lagi terjadi
3
sekitar tahun 2000, masyarakat yang melangsungkan perkawinan beberapa tahun terakhir segala bentuk kegiatannya dilangsungkan di rumah tinggalnya mulai dari acara baetong dan pada acara alek juga dilakukan dirumah.
Rumah Gadang masih dianggap suatu yang berharga bagi kehidupan masyarakat di Jorong Bonai, tidak ada masyarakat yang tidak memiliki suku walaupun Rumah Gadang sudah tidak sebanyak dulu lagi. karena Rumah Gadang merupakan suatu identitas Minangkabau dan merupakan simbol kebesaran suatu kaum. Walaupun sekarang ini fungsi Rumah Gadang tidak seperti dulu lagi tetapi masih berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat musyawarah jika ada persengketaan yang dialami oleh anak, cucu dan kemenakan, dan juga sebagai tempat pengangkatan penghulu mereka tetap mempertahankan keberadaan Rumah Gadang. dan ini salah satu faktor utama bagi masyarakat Jorong Bonai mempertahankan Rumah Gadang karena jika tidak memiliki Rumah Gadang merupakan suatu aib bagi mereka dan masyarakat yang sudah tidak memiliki Rumah Gadang dengan keadaan yang sudah tidak layak pakai menghimpun ke kaumnya.
Sebagaimana faktor penyebab ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan yang merupakan studi kasus yang terjadi di Jorong Bonai Nagari Tanjung Bonai Aur kecamatan Sumpur Kudus kabupaten Sijunjung. Sebagaimana hakikatnya Rumah Gadang berfungsi sebagai tempat tinggal, tempat bermusyawarah, tempat melaksanakan upacara adat seperti : pengangkatan Panghulu, upacara perkawainan dan lain sebagainya. Akan tetapi berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan ditemukan Rumah Gadang masih berdiri kokoh, akan tetapi sudah tidak berfungsi sebagai tempat melangsungkan upacara perkawinan.
Dari penelitian yang dilakukan, yang menjadi faktor penyebab ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan, yaitu : Kurangnya Peralatan Yang Terdapat Di Rumah Gadang, Terbatasnya Kapasitas Daya Tampung Rumah Gadang, Kurangnya Biaya Operasional
Kaitan dengan teori tindakan sosial Max Weber (dalam Ritzer, 2012: 214-216) tindakan dikatakan terjadi bila para individu melekatkan makna-makna subjektif kepada tindakan mereka. Pada dasarnya tindakan setiap manusia selalu memiliki arti.
Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan dalam klasifikasi mengenai tipe- tipe tindakan sosial, pembedaan pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional dan non rasional, singkatnya tindakan rasional berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan dinyatakan didalam dua kategori utama mengenai tindakan rasional yaitu Pertama rasionalitas instrumental meliputi pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan tujuan tindakan itu dan alat yang dipergunakan untuk mencapainya.
Individu dilihat sebagai memiliki macam- macam tujuan yang mungkin diinginkannya, dan atas dasar suatu kriteria menentukan satu pilihan diantara tujuan yang bersaingan ini, seperti kurangnya peralatan yang terdapat di Rumah Gadang memaksa masyarakat untuk melaksanakan upacara perkawinan di rumah tinggal karena setelah upacara perkawinan selesai maka segala peralatan yang dibawa ke Rumah Gadang akan dibawa kembali dan itu dianggap merepotkan sehingga masyarakat memilih untuk melaksanakan upacara perkawinan di rumah tinggal padahal tindakan seperti ini bertolak belakang dengan nilai-nilai budaya yang ada pada masyarakat sejak dahulunya, tindakan ini dilakukan sesuai dengan tujuan yang diinginkannya. Kedua rasionalitas yang berorientasi nilai yaitu bahwa alat-alat hanya merupakan objek pertimbangan dan perhitungan yang sadar tujuannnya sudah ada dalam hubungan dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya seperti, kurangnya biaya operasional dan terbatasnya kapasitas daya tampung Rumah Gadang memaksa masyarakat untuk memilih tindakannya dan perhitungan yang sadar akan tujuannya dianggap sudah merupakan nilai akhir baginya walaupun bertentangan dengan nilai budaya maupu adat- istiadat yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Dimana dari beberapa tindakan sosial terdapat dua tindakan rasional yang
4
menjadi faktor penyebab ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan yaitu kurangnya peralatan di Rumah Gadang masyarakat untuk bertindak rasional instrumental sehingga pilihan yang sadar berhubungan dengan tujuan yang dicapai, begitu juga dengan terbatasnya kapsitas daya tampung Rumah Gadang dan kurangnya biaya operasional memaksa seseorang bertindak secara sadar dan perhitungan yang sadar tujuan-tujuan atau sudah merupakan nilai akhir baginya.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari hasil lapangan dapat disimpulkan sebagai berikut faktor penyebab ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan pada masyarakat Jorong Bonai Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung) maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Kurangnya Peralatan yang terdapat di Rumah Gadang
Kurangnya peralatan di Rumah Gadang menjadi salah satu penyebab ketidakberfungsian Rumah Gadang karena disini segala bentuk kebutuhan peralatan dibawa dari rumah ke Rumah Gadang dimana tempat berlangsungnya upacara perkawinan.
Peralatan disini berupa wajan, piring, gelas, sendok, dan lain sebagainya.
b. Terbatasnya kapasitas daya tampung Rumah Gadang
Pertumbuhan penduduk di Jorong Bonai mempengaruhi masyarakat yang melangsungkan perkawinan. Dimana sekarang ini Rumah Gadang tidak berfungsi dalam upacara perkawinan melainkan segala bentuk kegiatannya dilangsungkan di rumah tinggal atau kediaman, dengan kendala bahwa jika dilangsungkan di Rumah Gadang maka kapasitas orang yang menghadiri upacara perkawinan terbatas.
c. Kurangnya Biaya Operasional
Biaya operasional disini yaitu segala bentuk biaya yang disiapkan untuk melangsungkan upacara perkawinan baik dari akad nikah
hingga ke acara upacara adat. Seperti halnya upacara adat dilaksanakan sesuai perekonomian masyarakat Jorong Bonai yang melangsungkan perkawinan. Jika mampu melaksanakan alek gadang dipotong sapi atau kerbau untuk acara makan bersama maupun alek manangah di potong kambing dan pada alek ketek biasanya hanya sekedar saja dengan maksud memberi tahu Niniak Mamak, Mamak maupun orang disekitar bahwa mereka telah melangsungkan perkawinan dan sudah menjadi pasangan yang sah secara agama.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah disimpulkan maka saran yang dapat diberikan yaitu :
a. Kepada pemerintahan kabupaten sijunjung khusunya Jorong Bonai untuk kedepannya tetap mempertahankan fungsi Rumah Gadang secara nilai adat sehingga tetap bertahan sebagaimana mestinya.
b. Khusus untuk pembaca dan penulis dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan serta sebagai sumber bahan pedoman dan sumber informasi mengenai ketidakberfungsian Rumah Gadang dalam upacara perkawinan pada masyarakat Jorong Bonai Nagari Tanjung Bonai Aur Kecamatan Sumpur Kudus Kabupaten Sijunjung.
5
DAFTAR PUSTAKA
Afrizal. 2014. Metode Penelitian Kualitatif.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi ). Jakarta: Rineka Cipta.
Koentjaraninggrat.1970. Manusia dan kebudayaan di indonesia. Jakarta:
Djambatan.
Navis, AA.1984. Alam Terkembang Jadi Guru. Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Grafiti pers.
Moleong, J. Lexy. 2009. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Pramono,Andy.2013.Media Pendukung Pembelajaran Rumah Adat Indonesia Menggunakan Augmented Reality.
Jurnal ELTEK, Vol 11 Nomor 01, April 2013 ISSN 1693- 4024.Universitas Negeri Malang.
Ronidin.2006.Minangkabau di mata anak muda. Padang: Andalas University press.
Zainuddin, musyair. 2014. Ranah Minang dan Lingkungan hidup.yogyakarta : ombak.
6