• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manusia hidup di dalam dimensi ruang dan waktu. Allah SWT menciptakan kedua dimensi ini tentunya bukan tanpa sebab. Banyak sekali hikmah yang tersirat yang Allah simpan dibalik penciptaan dua makhluk ini. Bila dikaitkan dengan kehidupan manusia, dimensi ruang dan waktu memiliki peranan penting karena hidup manusia dibatasi oleh dua kejadian paling utama, yaitu lahir dan mati.

Alasan mengapa Allah melahirkan seorang manusia ke muka bumi tentu tidak perlu dipertanyakan. Hak Allah untuk menciptakan apa-apa yang Ia kehendaki. Dan manusia tidak memiliki hak untuk mempertanyakan apa yang Allah perbuat. Yang seharusnya menjadi perhatian dari manusia adalah bagaimana agar kesempatan menjadi bagian dari sejarah umat manusia di kehidupan alam dunia ini tidak menjadi sia-sia. Untuk itulah Allah memerintahkan manusia agar manusia mempersiapkan bekal sebaik-baiknya sebelum masuk ke kehidupan abadi di alam akhirat. Bekal yang tidak hanya mengantarkan manusia pada jalan keselamatan di akhirat kelak, namun bekal yang membawa manusia pada derajat taqwa.

Allah berfirman dalam surat Al-Hasyr ayat 18 dimana ayat tersebut menyerukan untuk

mempersiapkan hari esok dalam menangani perencanaan keuangan pada setiap keluarga.1

آَي ٌريِبَخ َ َّاللَّ َّنِإ َ َّاللَّ اوُقَّتا َو ٍدَغِل ْتَمَّدَق اَم ٌسْفَن ْرُظْنَتْل َو َ َّاللَّ اوُقَّتا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ َنوُلَمْعَت اَمِب

yaa ayyuhaa alladziina aamanuu ittaquu allaaha waltanzhur nafsun maa qaddamat lighadin waittaquu allaaha inna allaaha khabiirun bimaa ta’maluuna

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Artinya di ayat ini Allah benar-benar memerintahkan kepada manusia agar memperhatikan persiapan hari esok sebagai bentuk ikhtiar mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Seruan untuk mempersiapkan hari esok ini diawali dan diakhiri oleh kalimat taqwa. Seruan yang diawali oleh seruan taqwa mengindikasikan bahwa seruan tersebut sangat penting untuk diperhatikan. Terlebih lagi, perintah ini telah dikhususkan untuk

1 Kementrian Agama RI, 2018. Tafsir

(2)

Nya yang bertaqwa. Bila dilihat dari sudut pandang lain, dapat disimpulkan bahwa memperhatikan hari esok itu juga merupakan salah satu karakteristik ketaqwaan.

Memperhatikan hari esok berarti sama halnya melakukan perencanaan-perencanaan hidup agar hidup terarah dan tidak hanya sekadar mengikuti flow saja. Perencanaan yang dimaksud tidak hanya perencanaan yang bersifat ukhrawi saja, namun perencanaan yang bersifat duniawi juga perlu dirancang. Muslim yang baik adalah muslim yang melakukan perencanaan dalam berbagai hal, bahkan untuk ibadah yang bersifat mahdah seperti shalat. Di sini lah letak nilai tambah dari seorang Muslim dibandingkan dengan manusia pada umumnya. Teknis perencanaan yang dirancang tidak masalah bagaimanapun bentuknya. Yang terpenting adalah persiapan yang dilakukan adalah persiapan menghadapi hari esok yang terbaik yang pernah dirancang. Satu hal yang harus diyakini adalah siapa yang mempersiapkan yang terbaik, ia akan mendapatkan yang terbaik.

Disamping itu adanya juga dalam surat lain yakni. Allah berfirman dalam Surat Yusuf ayat 47-49 dimana ayat tersebut membahas diantaranya mengenai perencanaan keuangan, hal tersebut sebenrnya sudah dilaksanakan pada jaman Rasullullah akan tetapi pada era jaman sekarang lebih terlihat pentingnya perencanaan keuangan. Surat tersebut berbunyi :

ََلاَق

ََنوُع َر ْزَت

ََعْبَس

ََنيِنِس

اًبَأَد

اَمَف

َْمُّتدَصَح

َُهو ُرَذَف

يِف

َِهِلُبنُس

َالِإ

ًَليِلَق

اامِ م

ََنوُلُكْأَت

٤٧

﴿

َامُث

يِتْأَي

ن ِم

َِدْعَب

ََكِلَذ

َ عْبَس

َ داَدِش

ََنْلُكْأَي

اَم

َْمُتْمادَق

َانُهَل

َالِإ

ًَليِلَق

اامِ م

ََنوُن ِصْحُت

٤٨

﴿

َامُث

يِتْأَي

َِم

ن

َِدْعَب

ََكِلَذ

َ ماَع

َِهيِف

َُثاَغُي

َُساانلا

َِهيِف َو

ََنو ُر ِصْعَي

٤٩

﴿

47. qāla tazra'ūna sab'a sinīna da-aban famāhashadtum fadzarūhu fī sunbulihi illā qalīlan mimmā ta/kulūna. 48. tsumma ya/tī min ba'di dzālika sab'un syidādun ya/kulna mā qaddamtum lahunna illā qalīlan mimmā tuhsinūna. 49. tsumma ya/tī min ba'di dzālika 'āmun fīhi yughātsu alnnāsu wafīhi ya'shirūna

“Yusuf berkata: “supaya kamu bertanam tujuh tahun lamanya sebagimana biasa; Maka apa

yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudahnya itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari bibit gandum yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan dating tahun yang padanya manusia diberi hujan dan dimasa itu mereka memeras anggur” (Qs Yusuf :47-49)

Dari ayat diatas menjelaskan pentingnya perencanaan keuangan dalam keluarga ataupun dalam situasi apapun, akan tetapi ayat tersebut lebih fokus kedalam perencanaan keuangan terhadap keluarga. Dalam ayat tersebut juga dijelaskan sebagaimana dapat dipahami bahwa penerapan perencanan keuangan sebenarnya sudah dilaksanakan jauh sebelum para

(3)

cendikiawan barat melakukannya, yaitu pada masa Nabi Yusuf AS. Allah SWT juga memperingati hambanya untuk melakukan pencegahan terhadap kesulitan yang akan datang yang bukan dimaksudkan untuk menghilangkannya, tapi untuk mencegah dan meminimalisir risiko kesulitan yang akan dihadapi, jika perencanaan keuangan sangat sesuai dengan prinsip syariah yang ada dan tidak perlu ada kekhawatiran bahwa perencanaan keuangan adalah pelajaran yang diterapkan oleh orangorang konvensional. (Pratiwi, 2010:39)

Dorimolu (2011:12) menyatakan bahwa, perencanaan keuangan atau Financial Planing merupakanَ“prosessَmencapaiَtujuanَhidupَyakniَmasaَdepanَyangَsejahteraَdanَbahagiaَlewatَ penataan keuangan”.َJadiَperencanaanَkeuanganَadalahَprosesَdalamَmerencanakanَkeuanganَ pribadi untuk dapat memberikan solusi perencanaan, pemilihan pengelolaan keuangan, kekayaan atau inventasi agar dapat mencapai tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Jadi kesimpulannya adalah merencanakan keuangan pribadi untuk merencanakan masa depan yang sejahtera dan bahagia melalu perencanaan keuangan. Disamping itu , Lina (2014:25) menjelaskan dalam penelitiannya mengemukakan bahwa ada beberapa alasan penting perencanaan keuangan wajib dilakukan oleh seseorang atau keluarga, antara lain : 1. Naiknya biaya hidup dari tahun ke tahun. ; 2. Ketidakpastian ekonomi dimasa yang akan datang. ; 3. Ketidakpastian kondisi fisik. ; 4. Perubahan budaya positif pada generasi penerus. Melakukan perencanaan keuangan dengan benar dapat membantu seseorang mencapai kebebasan financial dan terciptanya keluarga mapan yang diimpikan oleh setiap keluarga. Jadi kesimpulannya adalah untuk mencapai kebebasan financial yakni harus melewati proses dimana yang dikemukakan oleh peneliti.

Tahapan proses dalam melakukan perencanaan keuangan menurut Manurung dan kawan-kawan (2009) mengemukakan dalam penelitianya : 1. Memeriksa kondisi keuangan saat ini ; 2. Tetapkan tujuan-tujuan hidup dan keuangan ; 3. Analisis dan identifikasi langkah-langkah alternatif yang bisa diambil ; 4. Membuat perencanaan dan mengevaluasi alternatifalternatif ; 5. Merumuskan dan melaksanakan tujuan-tujuan keuangan ; 6. Memeriksa dan memperbaiki rencana secara berkala. Jadi menurut saya yakni adalah melakukan proses perencanaan keuangan tersebut haruslah membuat proses dimana yang sudah dikemukakan oleh peneliti tersebut.

Oleh karena itu, menetapkan tujuan keuangan sejak dini adalah sangat penting karena hal ini merupakan dasar yang baik untuk memulai segalanya, dan darisitulah perencanaan keuangan akan dimulai untuk mencapainya mungkin akan diperlukan adanya pengorbanan.

(4)

Melalui perencanaan keuangan keluarga, keluarga tersebut akan lebih mempunyai tujuan dan arah yang pasti. Terdapat 5 pilar dalam perencanaan keuangan keluarga secara islami yaitu : 1. Mengelola kekayaan melalui cashflow yang sesuai syariah,; 2 mengumpulkan kekayaan dengan investasi syariah,; 3 melindungi kekayaan melalui Asuransi Syariah,; 4 mendistribusikan kekayaan melalui Waris, Wasiat, Wakaf, Hibah, Infaq dan Shodaqoh,; 5 membersihkan kekayaan dengan mengeluarkan zakat.

Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh SunTrust Bank di tahun 2015, keuangan adalah salah satu penyebab utama ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Keuangan merupakan salah satu sumber masalah dalam rumah tangga. Tak jarang, perseteruan tentang keuangan menjadi penyebab retaknya hubungan suami istri. Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh SunTrust Bank di tahun 2015, keuangan adalah salah satu penyebab utama ketidakharmonisan dalam rumah tangga. 35% responden mengaku alami masalah dalam hubungan. Masalah keuangan didakwa sebagai penyebab utama friksi dalam hubungan mereka.

Ada beberapa permasalahan yang membuat perencanaan keluarga tidak berjalan secara harmonis :

1. Penghasilan tidak sebanding dengan gaya hidup ( life style ) 2. Penghasilan istri lebih besar daripada suami

3. Tidak mempunyai rencana keuangan 4. Pengeluaran tak terduga

5. Tidak Mencatat Pemasukan dan Pengeluaran 6. Berat Dalam Menabung

7. Tidak Memiliki Dana Cadangan 8. Perencanaan Keuangan yang Buruk

Nurhayati menjelaskan penyebab utama orang berhutang diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Penghasilan lebih kecil daripada pengeluaran sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka terpaksa harus berhutang.

2. Penghasilan cukup, tetapi pengeluaran lebih besar. Biasanya orang seperti ini dikategorikan orang boros dan tidak bisa mengendalikan keinginan pribadinya.

(5)

3. Musibah yang tidak terduga, seperti kemalingan, banjir, longsor, dan sebagainyayang membuat orang terpaksa berutang. (Nurhayati 2016:99)

Dwita Arini (2015:87) menyatakan, di Indonesia tingkat literasi finansial sangatlah rendah jika dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara. Pemanfaatan produk keuangan bahkan tidak mencapai angka 1% dari jumlah warga produktif di Indonesia. Oleh karena itu, individu-individu dalam keluarga dituntut memiliki kebiasaan untuk merencanakan dan mengelola keuangan, baik dengan pendapatan yang rendah maupun pendapatan yang tinggi serta memahami tentang pengetahuan mengenai keuangan agar hidupnya dapat tetap berlangsung sejahtera dimasa yang akan datang. Sedangkan menurut Robb dan Woodyard (2011) menyatakan, pengetahuan keuangan seseorang akan memberikan dampak yang besar pada perilaku keuangannya.

Senduk (2004) memperkuat dengan menyatakan bahwa manajemen keuangan pribadi meliputi keputusan tentang: Pertama, membeli dan memiliki sebanyak mungkin harta produktif. Maksudnya adalah caranya dengan tentukan harta produktif yang ingin dimiliki, tulis pos-pos harta produktif yang anda inginkan tersebut di kolom harta produktif, segera setelah mendapatkan gaji, prioritaskan untuk memiliki pos-pos harta produktif sebelum membayar pengeluaran yang lain. kalau perlu, pelajari seluk-beluk masing-masing harta produktif tersebut. Kedua, atur pengeluaran anda. Nalarnya adalah caranya usahakan kalau perlu sedikit lebih keras pada diri untuk tidak mengalami defisit karena defisit adalah sumber semua masalah besar yang mungkin muncul di masa mendatang. Prioritaskan pembayaran cicilan utang, lalu premi asuransi, kemudian biaya hidup. Pelajari cara mengeluarkan uang secara bijak untuk setiap pos pengeluaran. Ketiga, hati-hati dengan utang. Penjelasannya adalah caranya ketahui kapan sebaiknya berutang dan kapan tidak berutang.

Tidak menjadi sebuah rahasia lagi jika kebanyakan keluarga saat ini selalu mengalami defisit. Mengapa kebanyakan sebagian keluarga mengalami defisit dalam mengelola keuangan dalam keluarga, hal tersebut adalah menjadi bukti nyata jika setiap keluarga tidak bisa memprioritaskan mana kebutuhan dan mana keinginan. Disamping itu, tidak ada kepastian secara jelas ketika mengeluarkan uang. Selain itu juga, pendapatan yang besar membuat seseorang lebih menggampangkan masalah keuangan bahkan dirinya tidak punya rencana keuangan yang lebih baik. Hal ini membuat banyak orang yang memiliki pendapatan yang besar lebih banyak berhura – hura karena dengan memiliki uang banyak tersebut dirinya lebih mudah untuk membeli apa yang dia inginkan. Bahkan mereka akan lebih merasa jika uang

(6)

tersebut bisa mencukupi kebutuhannya di akhir bulan yang ternyata akibat terlalu sering membeli barang tidak penting itu membuat uangnya habis di tengah jalan.

Dengan merasa kurang dalam mengelola keuangan dalam keluarganya maka banyak ditemukan seseorang akan berhutang. Padahal cukup kita ketahui bahwa berhutang malah akan memperkeruh perekonomian di dalam keluarganya karena jika hutang tersebut bersifat konsumtif maka akan terasa dirugikan. Semakin sering berhutang maka akan mengalami defisit dalam pengelolaan keuangan di keluarganya. Tidak hanya berhenti pada berhutang, kebanyakan seseorang saat ini terlalu memuaskan nafsu keinginannya agar selalu dipenuhi, sehingga tidak melihat kebutuhan di masa akan datang. Hal tersebutlah yang menjadikan keluarga selalu merasa kurang dalam merencakan keuangan dalam keluarganya.

Tidak jauh berbeda, Karvof (2010) menyatakan bahwa keputusan keuangan pribadi meliputi: Amal, sebesar 10% dari total pendapatan, pendidikan dan proteksi, sebesar 20% dari total pendapatan, investasi, sebesar 30% dari total pendapatan, biaya hidup. sebesar 40% dari total pendapatan. Nalarnya yaitu amal sebesar 10% merupakan bentuk dari tanggung jawab sosial individu (personal social responsibility) kepada sesama manusia, sehingga dengan literasi keuangan yang baik maka seseorang juga diwajibkan untuk memberdayakan orang lain (philanthropy) untuk mencapai kebebasan keuangan (financial freedom). Maksud dari kebebasan keuangan menurut adalah kondisi dimana pendapatan pasif melebihi pendapatan aktif atau melebihi pengeluaran pada suatu periode waktu tertentu, sedangkan pendapatan pasif diartikan sebagai pendapatan yang diterima walaupun orang tersebut tidak bekerja atau beraktifitas.

Agar bisa memiliki keuangan yang terus mengalami surplus yakni salah satunya sering mengeluarkan sebagian uangnya atau disebut dengan sedekah. Hal tersebut dapat membantu keuangan dalam keluarga semakin menambah rezekinya, dikarenakan semakin banyak mengeluarkan sedekah , semaikin banyak pula rezeki yang didapatkan. Disamping itu, berbicara masalah perenacanaan keuangan keluarga tidak luput juga berbicara masalah perekonomian yang ada di dalam keluarga tersebut. Jadi ekonomi sedekah adalah suatu konsep yang digagas untuk membahas mengenai perilaku manusia terkait cara pemberian secara sukarela yang berbentuk apapun dengan ikhlas melalui jumlah yang tidak ditentukan dengan mengharap ridha dan pahala dari Allah swt sebagai solusi dari masalah ekonomi yang ada di masyarakat dengan bermodalkan untuk berwirausaha.

(7)

Memiliki keluarga yang selalu hidup damai dan tidak serba kekurangan adalah pujaan setiap keluarga, keluarga muda maupun yang sudah memiliki anak. Hal tersebut dapat dispersiapkan mulai dini dengan mempersiapkan segala resiko. Disamping itu banyak yang mendambakan pengelolaan keuangan yang selalu surplus dalam artian tidak kekurangan dalam kebutuhan di dalamnya. Maka hal tersebut dapat dilakukan dengan mempersiapkan hari esok, karena semakin bertambah umur maka akan semakin banyak juga pengeluaran. Hal utama yang harus dipersiapkan yakni membuat rencana keuangan di masa depan dan memprioritaskan kebutuhan. Disamping itu juga mengutamakan yang telah di wajibkan dalam Islam, yakni Zakat jika mampu. Selain zakat juga dapat melakukan sedekah dan infaq. Semakin banyak melakukan sedekah kepada orang yang membutuhkan maka semakin banyak pula rezeki yang akan didapatkan.

Secara sederhana, perencanaan keuangan keluarga berkaitan dengan berapa banyak uang masuk yang diterima sebagai penghasilan, berapa banyak uang yang keluar yang digunakan sebagai konsumsi untuk memenuhi kebutuhan masing-masing anggota keluarga, dan berapa banyak uang yang digunakan untuk menabung guna mencapai tujuan keuangan keluarga. Perencanaan keuangan merupakan hal yang sangat penting guna membantu kehidupan keluarga dan masa depan anak serta masa depan pensiun. Dengan melakukan perencanaan, pencatatan yang benar serta memiliki tujuan keuangan, maka nantinya keluarga akan memiliki pola hidup yang seimbang dengan penghasilan yang diperoleh.

Dari beberapa permasalahan yang ada diatas tersebut dapat dipecahkan atau terdapat solusi dimana setiap keluarga harus menerapkan konsep 3 1/3 dari Salman Al Farisi. Akan tetapi di dalam konsep 3 1.3 tersebut muncullah kata sedekah yang telah terbukti jika diterapkan. Sebelum dari konsep Salman Al Farisi ini dikenal beberapa kalangan masyarakat pada jaman Rasullullah sudah diterapkan dalam melalukan perencanaan keluarga agar setiap pemasukan (income) dan pengeluaran (spending) keuangan dapat terkontrol dengan baik. Dan hasil dari pengelolaan keuangan keluarga tersebut menghasilkan nilai Surplus atau masih terdapat sisa atau adanya pemasukan yang berlebih karena menggunakan konsep tersebut. Jadi untuk menerapkan perencanaan keuangan islam agar mencapai surplus pendapatan yakni menggunakan Konsep Sedekah dalam setiap merenacanakan keuangan dalam keluarganya.

Konsep 3 1/3 menjelaskan tentang mengelola keuangan keluarga dengan berbagai macam formula diantanya 1-1-1, menyisihkan pemasukan untuk modal dimasa depan, menggunakan keperluan dengan sebaik mungkin dan tidak dianjurkan boros, menabung dan

(8)

juga memperbanyak investasi , melakukan banyak-banyaknya bersedekah, bersedekah dan hindari berhutang serta hindari riba. Hal tersebut dapat menjadikan keuangan keluarga menajdi sehat dan surplus serta membuat keluarga menjadi hidup damai dan tidak menjerat keuangan yang sampai defisit. Jadi, untuk mencapai keuangan keluarga menjadi Surplus maka menggunakan Konsep Sedekah dimana setiap menggunakan keuangan tersebut mengeluarkan sebagian uangnya untuk bersedekah kepada orang yang membutuhkan. Semakin banyak bersedekah maka semakin banyak pula rezeki yang akan di dapatnya.

1.2 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini akan lebih jauh membahas tentang Konsep Perencanaan Keuangan Sedekah yang ada di dalam konsep 3 1/3 (3 sepertiga) dalam melakukan perencanaan keuangan keluarga. Dari konsep tersebut akan dapat membuat perencanaan keuangan keluarga mencapai target Surplus Pendapatan didalam pengelolaan keuangannya. Disamping itu juga dapat menerapkan konsep dari Salman Al Farisi yang dapat menjadikan keuangan keluarga menjadi sehat dan terhindar dari jeratan hutang. Selain itu juga dimana setiap keluarga juga diberikan arahan untuk menabung untuk masa depan serta memperbanyak sedekah di masa kehidupannya. Dalam penelitian ini membahas banyak tentang manfaat sedekah dan perencanaan keuangan keluarga berbasis sedekah dalam perspektif islam.

1.3 Rumusan Masalah

Dalamَpenelitianَiniَakanَmembahasَlebihَlanjutَtentangَ:َ“Bagaimanaَperencanaanَ keuangan islam dengan “Konsep Sedekah” menjadi solusi bagi keluarga untuk mencapai surplusَpendapatanَ?”.

1.4 Tujuan Penelitian

Dari penelitian ini akan memberikan tujuan dimana akan lebih mengetahui Konsep Sedekah dalam perencanaan keuangan keluarga sesuai dengan kaidah islam agar dapat menjadikan surplus dalam mengelola perenacanaan keuangan keluarga sehingga tidak menyebabkan defisit atau kekurangan dalam kebutuhan sehari-hari.

Disamping itu dapat mengetahui cara dan proses seperrti apa agar menjadikan pengelolaan keuangan surplus dengan menggunakan Analisis Six Steps Sedekah Financial

(9)

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Bagi Penulis

Untuk menyelesaikan tugas akhir akademik, dan juga untuk memperdalam pengetahuan penulis khususnya dalam perencanaan keuangan keluarga sesuai dengan Konsep Sedekah.

b. Bagi Akademisi

Untuk menambah khsanah keilmuan dalam bidang Ekonomi Islam terlebih dalam bidang Perencanaan Keuangan Islam/Syariah, dan sebagai bahan perbandingan untuk penelitian selanjutnya. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dan dapat menjadi bahan bacaan dan masukan bagi masyarakat umum, khususnya mahasiswa, dosen, pemerintah, serta instansi yang terkait dengan perekonomian khususnya di perencanaan keuangan keluarga.

c. Bagi Masyarakat

Diharapkan dengan hasil penelitian ini masyarakat lebih mengetahui pentingnya perencanaan keuangan keluarga islam. Dan dapat meningkatkan kesadaran mereka dalam melakukan perencanaan keuangan keluarga.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil perhitungan gaya-gaya dalam yang berupa gaya lintang, momen torsi, dan momen lentur akan dihitung penulangan lentur, penulangan geser, dan penulangan

Gaya kepemimpinan yang ada pada seorang pemimpin dalam suatu perusahaan atau organisasi mempunyai perbedaan dalam penerapan gaya kepemimpinannya masing-masing, yang

Variabel adversity quotient, lingkungan keluarga, dan minat berwirausaha diukur dengan skala Likert, yaitu skala dipergunakan untuk mengetahui setuju atau tidak

Dalam hal ini, dari enam keluarga mereka mempunyai kesadaran untuk mendidik anak remaja mereka karena merupakan tanggung jawab bagi orang tua, meskipun diantara mereka ada yang

Analisis data berisi uraian data yang diolah untuk proses pemilihan strategi permesinan (toolpath strategy), penentuan cutter yang digunakan, feedrate, spindel speed, plungerate

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mengetahui profil pelepasan in vitro ketoprofen dari sediaan tablet lepas lambat dengan menggunakan matriks kombinasi

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pelepasan teofilin secara in vitro dari matriks natrium alginat pada berbagai konsentrasi dalam sediaan

Penelitian terdahulu menggunakan etil selulosa pada konsentrasi 5%, 10 %, 20% sebagai matriks untuk membuat tablet lepas lambat yang mengandung aspirin,