OPTIMALISASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP (Studi di Balai Diklat Keagamaan Semarang Tahun 2009)

85  Download (0)

Full text

(1)

OPTIMALISASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP

(Studi di Balai Diklat Keagamaan Semarang Tahun 2009)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata I Ilmu Tarbiyah

Jurusan Kependidikan Islam

Oleh :

EKA WAHYUNINGSIH NIM : 053311092

FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

(2)

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO SEMARANG FAKULTAS TARBIYAH

Jl. Prof. Dr. Hamka KM 1 Ngaliyan Telp. (024)7601291 Semarang 50185

PENGESAHAN

N a m a : Eka Wahyuningsih

N I M : 053311092

Fakultas/Jurusan : Tarbiyah / Kependidikan Islam

Judul Skripsi : OPTIMALISASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP (Studi di Balai Diklat Keagamaan Semarang Tahun 2009)

Telah Dimunaqosahkan oleh Dewan Penguji Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Walisongo Semarang, pada tanggal:

29 Juni 2010

Dan dapat diterima sebagai kelengkapan ujian akhir dalam rangka menyelesaikan studi Program Sarjana Strata I (S.1) tahun akademik 2010/2011 guna memperoleh gelar sarjana dalam Ilmu Tarbiyah.

Semarang, Juli 2010

Dewan Penguji

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang,

Fahrur Rozi, M.Ag. Ahwan Fanani, M.Ag.

NIP. 19691220 199503 1 001 NIP. 19780930 200312 1001

Penguji I, Penguji II,

Drs. Karnadi, M.Pd. Hj. Nur Uhbiyati, M.Pd. NIP. 19680317 199403 1003 NIP. 19520208 197612 2001

(3)

KEMENTERIAN AGAMA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO

FAKULTAS TARBIYAH

Alamat: Prof. Dr. Hamka Kampus II Telp. 7601295 Fak. 7615387 Semarang

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Semarang, Maret 2010 Lamp : 4 (Empat) Eksemplar

Hal : Naskah Skripsi Kepada Yth. An Sdr. Eka Wahyuningsih Dekan Fakultas

Tarbiyah IAIN Walisongo

di Semarang

Assalamu alaikum Wr. Wb

Setelah saya mengadakan koreksi dan perbaikan seperlunya, maka saya menyatakan bahwa skripsi saudara:

Nama : Eka Wahyuningsih NIM : 053311092

Judul : OPTIMALISASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI DI SEKOLAH (Studi di Balai Diklat Keagamaan Semarang) Tahun 2009

Telah melalui proses bimbingan, selanjutnya saya mohon agar skripsi saudara tersebut dapat dimunaqosahkan.

Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu alaikum Wr. Wb.

Pembimbing I Pembimbing II

Musthofa, M.Ag. Drs. Wahyudi, M.Pd.

(4)

MOTTO

:

:

)

(

Bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.1

1

Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari al-Ja’fiy, Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyah, 1992), Juz I, hlm. 26.

(5)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan untuk :

1. Ayahanda Jumardi dan Ibunda Kuswati, yang senantiasa memberikan do’a. 2. Suamiku Saiful Amar, S.HI dan anakku Safira Kurnia Dewi yang selalu

memberikan motivasi

3. Adik-adikku, Dwi Yulianto dan Farida Tri Rahmawati yang selalu memberikan dukungan sepenuhnya hingga skripsi ini dapat saya selesaikan. 4. Bapak Musthofa, M.Ag dan Bpk. Drs. Wahyudi, M.Pd. yang senantiasa

(6)

DEKLARASI

Penulis menyatakan dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab bahwa skripsi ini tidak berisi materi yang pernah ditulis orang lain atau diterbitkan. Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun pikiran orang lain kecuali informasi referensi yang penulis jadikan bahan rujukan.

Semarang, Juni 2010 Deklarator,

Eka Wahyuningsih NIM. 053311092

(7)

ABSTRAK

Eka Wahyuningsih (NIM. 053311092), Optimalisasi Manajemen Pendidikan

dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP (Studi di Balai Diklat

Keagamaan Semarang Tahun 2009). Skripsi. Program Strata 1 Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2010.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Pelaksanaan Manajemen pendidikan dan pelatihan kompetensi pedagogik Guru PAI SMP tahun 2009 di Balai Diklat Keagamaan Semarang. 2) upaya-upaya yang dilakukan dalam manajemen untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI SMP.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yaitu jenis penelitian data literal dengan faktor-faktor dalam lapangan, sehingga dalam menganalisis data, penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adapun untuk mengumpulkan datanya menggunakan beberapa metode yaitu observasi, wawancara, studi dokumen dan triangulasi.

Hasil penelitian ini diketahui bahwa pelaksanaan manajemen pendidikan dan pelatihan kompetensi pedagogik Guru PAI SMP di Balai Diklat Keagamaan Semarang termasuk dalam kategori baik karena sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen. Hal ini dapat dilihat sebagaimana tercermin dalam tahap-tahap berikut: (1) Perencanaan, dalam perencanaan pendidikan dan pelatihan kompetensi pedagogik Guru PAI SMP dilakukan secara matang oleh berbagai pihak. Balai Diklat Keagamaan Semarang dalam perencanaan berperan sebagai koordinator penyusunan kebutuhan dan penyusunan kurikulum. Perencanaan dilakukan melalui kegiatan penentuan kebutuhan, penetapapan widyaiswara, penyusunan kurikulum diklat serta penyediaan bahan-bahan referensi, penetapan peserta diklat, penyusunan anggaran biaya, penunjukan panitia dan pemanggilan peserta. Dalam penetapan widyaiswara dilakukan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang, penyusunan kurikulum dilakukan dengan melibatkan para widyaiswara dan tim penyusun kurikulum Balai Diklat Keagamaan Semarang, sedangkan penetapan peserta diklat dilaksanakan dalam bentu seleksi setelah pemanggilan peserta dan penetapan biaya serta penunjukan panitia dilakukan oleh Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan (2) Pelaksanaan diklat kompetensi pedagogik Guru PAI SMP di Balai Diklat Keagamaan Semarang dilakuukan dengan tahap-tahap pembukaan, pelaksanaan dan penutupan. Proses penyelenggaraan diklat kompetensi pedagogik guru PAI SMP dilaksanakan oleh Kasi Tenaga Teknis Keagamaan Balai Diklat Keagamaan Semarang (3) Evaluasi Diklat kompetensi pedagogik Guru PAI SMP di Balai Diklat Keagamaan Semarang dilaksanakan sebelum, selama dan setelah diklat, sedangkan sasarannya adalah peserta, widyaiswara, dan panitia diklat. (4) Upaya-upaya yang dilakukan dalam manajemen untuk meningkatkan kompetensi pedagogik Guru PAI di sekolah yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang adalah micro teaching, studi banding dan evaluasi setelah pelaksanaan diklat.

Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi dan masukan bagi mahasiswa, para pengajar, para widyaiswara, para peneliti dan semua pihak yang membutuhkan.

(8)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, penyusun dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul: Optimalisasi Manajemen Pendidikan

dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP (Studi di Balai Diklat

Keagamaan Semarang Tahun 2009).

Penyusun menyadari bahwa laporan skripsi ini bisa terwujud karena berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang telah memberikan pengarahan, keterangan, serta bahan-bahan yang penyusun perlukan dan penyusun menyadari bahwa laporan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan. Maka pada kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Ibnu Hadjar, M.Ed., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

2. Musthofa, M.Ag., selaku Pembimbing I dan Drs. Wahyudi, M.Pd. selaku Pembimbing II yang telah bersedia meluangkan waktu, tenaga dan pikiran di tengah-tengah kesibukannya untuk memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

3. Kepala Balai Diklat Keagamaan Semarang yang telah memberikan izin penelitian bagi penyusun beserta staf-stafnya (Bp. Faizin, Bp. Wahab, Bp. Imron) dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu yang telah bersedia untuk diwawancara guna kelengkapan skripsi yang disusun.

4. Segenap Dosen dan staf di lingkungan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang.

5. Ayahanda Jumardi dan Ibunda Kuswati, pemilik samudra kasih sayang yang tidak pernah surut sehingga membuatku tetap tegar dalam menyongsong masa depan yang gemilang.

6. Suamiku Saiful Amar, S.HI dan anakku Safira Kurnia Dwi yang selalu memberikan motivasi dan membaut hari-hariku indah.

(9)

7. Adik-adikku, Dwi Yulianton Farida Tri Rahmawati yang selalu memberikan dukungan sepenuhnya hingga skripsi ini dapat saya selesaikan.

8. Teman-teman KI “05” dan KI “06” (Ratih, Ida, Kiki, Atik, Indah, Nikmah, Umi, Niswah) dan masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang selalu menemaniku dalam suka dan duka.

9. Teman-temanku KKN di Desa Banyumeneng Kecamatan Mranggen (Munir, Galuh, Karim, Dian, Rifki, Wahyudi, Lukman, Anam)

Penyusun berharap semoga Allah SWT dapat memberikan pahala yang setimpal atas jasa yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini. Tidak lupa pula penyusun berharap adanya sumbangsih pemikiran, kritikan dan masukan yang bersifat membangun sebagai perbaikan bagi penyusun skripsi ini.

Semarang, Juni 2010 Penulis,

Eka Wahyuningsih

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PENGESAHAN PENGUJI ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PERNYATAAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiii

BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Penegasan Istilah... 5

C. Perumusan Masalah ... 6

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian... 7

E. Kajian Pustaka ... 7

F. Metodologi Penelitian ... 9

BAB II: OPTIMALISASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP A. Konsep Dasar Manajemen ... 13

1. Pengertian Manajemen ... 13

2. Fungsi-fungsi Manajemen ... 14

B. Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Guru PAI SMP ... 17

(11)

2. Pentingnya pendidikan dan pelatihan bagi guru PAI

SMP ... 18

3. Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Guru PAI SMP .. 19

C. Kompetensi Pedagogik ... 27

1. Pengertian Kompetensi Pedagogik. ... 27

2. Indikator kompetensi pedagogik ... 27

a. Pemahaman terhadap peserta didik ... 27

b. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran ... 28

c. Penilaian atau evaluasi hasil belajar ... 33

d. Pengembangan peserta didik... 33

D. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP Melalui Manajemen Diklat... 34

BAB III: PELAKSANAAN MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP YANG DISELENGGARAKAN Oleh BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SEMARANG A. Kondisi Umum Balai Diklat KeagamaanSemarang 1. Letak Geografis dan historis ... 37

2. Kedudukan, tugas dan fungsi ... 37

3. Visi, Misi dan Tujuan ... 39

4. Keadaan widyaiswara, pengawas dan peserta didik ... 40

5. Keadaan sarana dan prasarana ... 41

6. Struktur organisasi ... 42

7. Sistem Administrasi, Manajemen dan Wewenangnya ... 42

B. Pelaksanaan Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP yang Diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang... 43 C. Upaya-upaya yang dilakukan dalam manajemen

(12)

pedagogik guru PAI SMP yang diselenggarakan oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang ... 51

BAB IV : UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP YANG DISELENGGARAKAN OLEH BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SEMARANG

A. Perencanaan ... 54 B. Pelaksanaan ... 56 C. Evaluasi ... 58 BAB V : PENUTUP A. Kesimpulan... 62 B. Saran-saran ... 64 C. Penutup... 64 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Keadaan Sarana dan Prasarana Balai Diklat Keagamaan Semarang …...41 Tabel 2 Struktur Organisasi Balai Diklat Keagamaan Semarang ……….42

(14)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.2

Senada dengan pengertian pendidikan tersebut, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas mendefinisikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk menuju suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.3

Pengertian pendidikan tersebut memberikan gambaran bahwa dalam proses pendidikan mutlak terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik. Guru adalah orang dewasa yang secara sadar dan bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.4

Guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar pendidikan.5 Dalam Islam setiap pekerjaan harus dikerjakan secara profesional sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari sebagai berikut:

2

A.D. Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), hlm. 19.

3

UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat (1), (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), hlm. 3.

4

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), hlm. 15.

5

(15)

:

:

)

(

Bila suatu urusan dikerjakan oleh orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.6

Untuk meningkatkan suatu mutu profesi, khususnya profesi keguruan, dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya dengan melakukan penataran, lokakarya, pendidikan lanjutan, pendidikan dalam jabatan, studi perbandingan, dan berbagai kegiatan akademik lainnya.7

Dalam UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pada Bab XI Pasal 40 (1-C) disebutkan bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berhak memperoleh pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas itu artinya pendidikan dan pelatihan sebagai bentuk pembinaan karier adalah hak bagi pendidik, di sini khususnya bagi guru PAI SMP.8

Pendidikan dan pelatihan adalah merupakan upaya mengembangkan SDM, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan kepribadian manusia.9 Oleh karena itu dalam rangka meningkatkan SDM, setiap unit kerja akan berhubungan dengan pendidikan dan pelatihan termasuk di lingkungan lembaga pendidikan. Pendidikan dan pelatihan dapat dipandang sebagai salah satuan bentuk investasi. Oleh karena itu setiap instansi yang ingin berkembang, maka pendidikan dan pelatihan bagi karyawannya harus memperoleh perhatian yang besar.

Pentingnya program pendidikan dan pelatihan bagi suatu organisasi antara lain:

a. Sumber daya manusia yang menduduki suatu jabatan tertentu dalam organisasi belum tentu mempunyai kemampuan yang sesuai dengan

6

Imam Abi Abdillah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Ibn al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari al-Ja’fiy, Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutb al-Ilmiyah, 1992), Juz I, hlm. 26.

7

Soetjipto dan Raflis Kosasi, Profesi Keguruan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1999), Cet. I, hlm. 46.

8

UU RI No. 20 tahun 2003, tentang Sisdiknas Pasal 40 (1-C), op.cit., hlm. 29.

9

(16)

jabatan tersebut. Oleh karena itu, perlu penambahan kemampuan yang mereka perlukan.

b. Dengan adanya kemampuan dan teknologi, akan mempengaruhi suatu organisasi, sehingga kemampuan pegawai terkadang terbatas. Dengan demikian perlu penambahan kemampuan.

c. Promosi dalam suatu organisasi adalah suatu keharusan sebagai salah satu reward dan insentif untuk meningkatkan produktivitas kerja pegawai. Kadang-kadang kemampuan seorang pegawai yang akan dipromosikan untuk menduduki jabatan tertentu masih belum cukup. Oleh karena itu, perlu pendidikan dan pelatihan tambahan.

d. Di dalam masa pembangunan ini organisasi-organisasi / instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta merasa terpanggil untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi karyawan agar diperoleh efektifitas dan efisien kerja sesuai masa pembangunan.

Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses yang akan menghasilkan suatu perubahan perilaku sasaran diklat. Secara konkrit perubahan perilaku itu berbentuk peningkatan kemampuan dari sasaran diklat. Kemampuan itu mencakup kognitif, afektif maupun psikomotorik.

Apabila dilihat dari pendekatan sistem, proses pendidikan dan pelatihan itu terdiri dari input (sasaran diklat), output (perubahan perilaku) dan faktor lain yang mempengaruhi proses tersebut.10

Pendidikan merupakan kegiatan kompleks, yang meliputi berbagai komponen yang berkaitan satu sama lain. Jika pendidikan ingin dilaksanakan secara terencana dan teratur, maka berbagai elemen yang terlibat dalam kegiatan pendidikan perlu dikenali.11 Demikian pula dengan sebuah sistem pendidikan dan pelatihan, yang di dalamnya mengandung elemen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan secara optimal. Berbagai elemen dalam sistem pendidikan dan pelatihan itu perlu dikenali secara mendalam sehingga

10

Ibid., hlm. 30-31.

11

Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 6.

(17)

dapat difungsikan dan dikembangkan. Salah satu komponen sistem pendidikan dalam proses pendidikannya adalah manajemen pendidikan dan pelatihan.

Menurut Shrode dan Vaich, sebagaimana dikutip oleh Nanang Fattah, menyebutkan bahwa tujuan utama manajemen adalah produktivitas dan kepuasan. Produktivitas sebuah organisasi secara lebih luas mengidentifikasi keberhasilan dan atau kegagalan dalam menghasilkan suatu produk tertentu secara kuantitatif dan kualitas dengan pemanfaatan sumber-sumber dengan benar.12 Dalam organisasi pendidikan dan pelatihan produk yang diharapkan keluar sebagai hasil proses pendidikan adalah kualitas para peserta pendidikan dan pelatihan. Dengan demikian kegiatan manajemen pendidikan dan pelatihan yang baik merupakan hal yang penting bagi pencapaian tujuan pendidikan dan pelatihan yakni peningkatan kualitas peserta pendidikan dan pelatihan.

Seiring dengan perubahan zaman serta ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut guru PAI SMP untuk menyesuaikan diri dalam rangka mencapai tujuan pendidikan di era globalisasi ini. Dalam kondisi seperti itu, balai pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu terobosan baru dalam upaya meningkatkan kualitas guru PAI SMP.

Balai Diklat Keagamaan Semarang merupakan Badan Diklat Kementrian Agama untuk wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, Badan Diklat tersebut mempunyai sarana dan prasarana yang cukup representative untuk proses pembelajaran diklat, selain itu juga di dukung dengan system manajemen yang baik sehingga proses diklat dapat berjalan dengan baik pula. Pada evaluasi dampak diklat di Balai Diklat Keagamaan Semarang kurang dapat di jalankan secara optimal, tidak semua alumni peserta diklat di survey karena tempat kerja yang jaraknya jauh dan tersebar di seluruh wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta sedangkan petugas yang menangani hal tersebut juga terbatas padahal itu merupakan cara untuk mengetahui seberapa besar keberhasilan program diklat yang telah di berikan oleh peserta diklat dan

12

(18)

untuk mengetahui apakah materi yang sudah di berikan mereka terapkan SMP yang mereka ajar atau tidak.

Dari pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh tentang Optimalisasi Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP (Studi di Balai Diklat Keagamaan Semarang).

B. Penegasan Istilah

Untuk memudahkan pemahaman dan menghindari kesalahpahaman, maka penulis akan memberikan penegasan beberapa istilah yang berkaitan dengan skripsi yang berjudul: “Optimalisasi Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP (Studi di Balai Diklat Keagamaan Semarang)”

1. Optimalisasi Manajemen

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, optimalisasi adalah proses, cara, perbuatan mengoptimalkan (menjadikan paling baik, paling tinggi, dan sebagainya).13

Manajemen berasal “to manage” yang artinya mengatur.14 Manajemen menurut GT Terry adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.15

Jadi, optimalisasi manajemen adalah proses yang terdiri dari tindakan, perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan secara optimal melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.

13

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2003), Edisi 3, hlm. 800.

14

Malayu Hasibuan, Manajemen, (Jakarta, Bumi Aksara, 2005), hlm. 1.

15

(19)

2. Pendidikan dan Pelatihan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan adalah pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Pelatihan adalah proses, cara perbuatan melatih kegiatan atau pekerjaan melatih.16

Jadi pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah kegiatan pegawai atau calon pegawai yang berkaitan dengan usaha peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam rangka pencapaian tujuan organisasi yang efektif dan efisien.17

3. Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik adalah kemampuan yang berkenaaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantive kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya18

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan di atas, maka kajian dari penelitian ini akan difokuskan pada Optimalisasi Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP (Studi di Balau Diklat Keagamaan Semarang).

Selanjutnya dari fokus tersebut dirinci menjadi sub-sub fokus sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan manajemen pendidikan dan pelatihan kompetensi pedagogik guru PAI SMP di Balai Diklat Keagamaan Semarang?

16

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, op.cit., hlm. 644.

17

Soebagio Admodiwiryo, Manajemen Training, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hlm. 2.

18

Kamrani, Profesionalisme Guru PAI, http: //mansamuntai.wordpres.com/2009/01/28/ profesionalisme-guru-PAI-oleh-prof-dr-h-kamrani-buser i-ma/ tgl 23 Februari 2010 Jam 10:00.

(20)

2. Upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam manajemen pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI SMP oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan yang diangkat, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan manajemen pendidikan dan pelatihan kompetensi pedagogik guru PAI SMP di oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang.

2. Untuk mengetahui upaya optimalisasi manajemen pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI SMP di oleh Balai Diklat Keagamaan Semarang.

Diadakannya penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut: 1. Memberikan sumbangan pemikiran pada pelaksanaan pendidikan dan

pelatihan kompetensi pedagogik guru PAI SMP.

2. Diharapkan para guru PAI SMP dapat aktif mengikuti pendidikan dan pelatihan di Balai Diklat Keagamaan Semarang sebagai upaya meningkatkan kualitas kompetensi pedagogik.

3. Memberikan wacana keilmuan tentang upaya peningkatan kualitas kompetensi pedagogik guru PAI SMP.

E. Kajian Pustaka

Penulis menyadari bahwa secara substansial penelitian ini tidaklah sama sekali baru. Dalam kajian pustaka ini, penulis akan mendeskripsikan beberapa karya yang ada relevansinya dengan judul skripsi Optimalisasi Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMP (Studi di Balau Diklat Keagamaan Semarang). Beberapa karya itu antara lain: 1. Karya Soebagio Atmodiwiro yang berjudul “Manajemen Training”

(21)

terdiri dari 3 tahap yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Pada dasarnya pembangunan ini dimaksudkan agar diklat dapat dikelola dengan baik.19

2. Skripsi yang ditulis oleh Dina Fithriana (3103178), yang berjudul “Upaya

Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI Kelas VII SMP N 1 Comal dengan Menggunakan Supervisi Klinis”, menyebutkan bahwa keberhasilan

penggunaan supervisi klinis untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI kelas VII SMP N 1 Comal ditunjukkan dengan adanya perubahan tingkah laku mengajar guru.20

3. Skripsi Maesuroh (3101159), yang berjudul Studi tentang Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Guru PAI di Balai Diklat Keagamaan Semarang . Skripsi ini membahas tentang tahap-tahap penyelenggaraan

diklat yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

Ada persamaan dan perbedaan antara skripsi penulis dengan skripsi yang ditulis oleh Maesuroh. Persamaannya adalah tempat penelitiannya sama-sama dilakukan di Balai Diklat Keagamaan Semarang. Sedangkan perbedaannya yaitu fokus penelitian pada skripsi Maesuroh masih global tentang manajemen pendidikan dan pelatihan guru PAI, dalam skripsi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan manajemen pendidikan dan pelatihan Guru PAI sudah baik sesuai dengan fungsi manajemen. Hal ini dapat dilihat sebagaimana tercermin dalam tahap-tahap manajemen pendidikan dan pelatihan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Sedangkan pada skripsi penulis fokus penelitiannya lebih spesifik yaitu optimalisasi manajemen pendidikan dan pelatihan kompetensi pedagogik guru PAI SMP serta dalam skripsi ini dibahas tentang upaya-upaya apa saja yang dilakukan dalam manajemen pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI SMP.

19

Soebagio Atmodiwiro, Manajemen Training, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), Cet. I, hlm. 28.

20

Dina Fithriana (3103178), Upaya Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI Kelas VII SMP N 1 Comal dengan Menggunakan Supervisi Klinis, (Semarang: Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2008).

(22)

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif, yaitu data yang terkumpul berbentuk kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku dan diamati. Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental tergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan peristilahannya.21

2. Sumber Data

a. Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian dengan menggunakan alat pengukuran atau alat pengambilan data langsung dari subjek sebagai sumber informasi yang dicari. Adapun yang dimaksud dengan sumber data primer adalah tim manajemen (pengelola) diklat guru PAI SMP.

b. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder biasanya berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia. 22 Adapun sebagai data penunjang penulis mengambil dari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian ini, mengumpulkan dokumentasi serta penulis mengadakan wawancara langsung dengan orang-orang yang berkompeten dengan ini yang ada di Balai Diklat Keagamaan Semarang.

3. Metode Pengumpulan Data

Untuk mempermudah dalam melaksanakan studi lapangan, penulis menggunakan beberapa metode untuk memperoleh data-data yang diperlukan, yaitu:

21

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), Cet. XVII, hlm. 3.

22

(23)

a. Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.23 Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang situasi dan kondisi umum Balai Diklat Keagamaan Semarang. Metode ini juga digunakan untuk mengetahui pelaksanaan pembelajaran di sana.

b. Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, legger, agenda, dan sebagainya. 24 Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang jumlah pegawai, jumlah peserta pelatihan, keadaan, sarana dan prasarana di Balai Diklat Keagamaan Semarang, serta data-data yang bersifat dokumen.

c. Interview / wawancara

Merupakan alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.25 Ciri utama dari interview adalah kontak langsung dengan tatap muka antara pencari informasi dan sumber informasi. Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan keadaan umum di Balai Diklat Keagamaan Semarang. Selain itu metode wawancara juga digunakan untuk memperoleh data tentang manajemen pendidikan dan pelatihan dan upaya optimalisasi manajemen pendidikan dan pelatihan yang ada di sana, data tersebut diperoleh dari tim manajemen (pengelola) diklat guru PAI SMP.

4. Keabsahan Data

Uji keabsahan data dalam penelitan, sering hanya di tekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Validitas merupakan derajat ketepatan antara

23

S. Margono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), hlm. 158.

24

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 1998), hlm. 236.

25

(24)

data yang terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat di laporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang di laporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian.

Terdapat dua macam validitas penelitian, yaitu validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal berkenaan dengan derajat akurasi desain penelitian dengan hasil yang dicapai. Sedangkan validitas eksternal berkenaan dengan derajat akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau di terapkan pada populasi dimana sample tersebut di ambil.

Reliabilitas berkenaan dengan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Suatu data dinyatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama dalam waktu berbeda menghasilkan data yang sama atau sekelompok data bila di pecah menjadi dua menunjukkan data yang tidak berbeda.

Jadi, uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi : uji kredibilitas, transferability, dependability dan conformability. Uji

kredibilitas data atau kepercayaan terhadap data hasil penelitian kualitatif antara lain dengan perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif dan member check26

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan triangulasi sumber untuk uji keabsahan data yaitu dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang di katakana orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi dan membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

5. Metode Analisis Data

Analisis data merupakan upaya mencari dan menata secara sistematis catatan hasil observasi, wawancara dan lainnya untuk

26

(25)

meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Sedangkan untuk meningkatkan pemahaman tersebut analisis perlu dilanjutkan dengan berupaya mencari makna (meaning).27

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis non statistik yaitu menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Analisis data yang diwujudkan bukan dalam bentuk angka, melainkan dalam bentuk laporan dan uraian deskriptif. Di sini penulis berusaha untuk mencoba memberikan arti yang signifikan terhadap analisis, menjelaskan pola uraian dan mencari hubungan di antara dimensi-dimensi uraian.28

Untuk membuat kesimpulan penulis menggunakan metode induktif, yaitu metode yang bertumpu pada fakta peristiwa yang sifatnya lebih khusus yang selanjutnya dijadikan konklusi yang bersifat umum.29

27

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1996), hlm. 104.

28

Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 103.

29

(26)

BAB II

OPTIMALISASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP

A. Konsep Dasar Manajemen 1. Pengertian Manajemen

Manajemen secara etimologi berasal dari kata “to manage” yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan diatur berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen.30 Secara Etimologi dalam buku Essential of Contemporary Management, Management is the

planning, organizing, leading and controlling of human and other resources to active organizational goals effectively,31 yang di maksud adalah manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pimpinan dan pengawasan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif .

Dalam literature Indonesia terdapat beberapa definisi manajemen yang di kemukakan oleh para ahli manajemen antara lain:

a. Menurut Melayu S.P. Hasibuan dalam bukunya yang berjudul "Manajemen" mengatakan bahwa, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tersebut.

b. Menurut G.R Terry sebagaimana dikutip oleh Malayu S.P. Hasibuan, menyebutkan bahwa, manajemen adalah suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang di lakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah di tentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.32

30

Melayu S.P. Hasibuan, Manajemen, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), hlm. 1.

31

Gareth. Jons and Jenifer M., Essential of Contemporary Management, (New York: Mc Graw-Hill, 2004), hlm. 4.

32

(27)

c. Menurut Harmann, sebagaimana dikutip oleh M. Manullang, menyebutkan bahwa, manajemen adalah fungsi untuk mencapai suatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan bersama.

d. Dalam Encyclopedia of the Social Sciences dikatakan bahwa Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang di lakukan untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan melalui pemanfaatan SDM dan Sumber-sumber lainnya.33

Dari beberapa pendapat ahli manajemen diatas dapat disimpulkan bahwa Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian yang di lakukan untuk mencapai tujuan yang telah di tentukan melalui pemanfaatan SDM dan sumber lainnya.

2. Fungsi Manajemen

Para ahli mempunyai pendapat yang beraneka ragam tentang fungsi-fungsi manajemen. Menurut Henry Fayol planning, organizing,

commanding, coordinating, dan controlling.

Luthir Gulich membagi fungsi manajemen menjadi 7 yang dikenal dengan POSDCORB (Planning, organizing, staffing, directing, controlling, reporting dan budgeting), sedangkan Terry mengatakan 4

fungsi manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling).34

Pendapat di atas merupakan sebagian dari sekian banyak pendapat yang dikemukakan oleh para ahli. Para ahli tersebut memberikan pendapat yang beragam, namun pada intinya mempunyai kesamaan. Kesamaan tersebut pada umumnya digunakan pada lembaga-lembaga pemerintahan di Indonesia yaitu Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.

33

M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, (Jakarta: Balai Aksara,1983), hlm. 15.

34

(28)

Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi manajemen meliputi: perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan. a. Planning (Perencanaan)

Perencanaan meliput kegiatan menetapkan apa yang ingin di capai, bagaimana mencapai, berapa lama, berapa orang yang di perlukan dan berapa banyak biayanya. Perencanaan ini di buat sebelum suatu tindakan di laksanakan.

Perencanaan itu dapat diartikan sebagai proses penyusunan berbagai keputusan yang akan pada masa yang akan dating untuk mencapai tujuan yang ditentukan.35 Perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan manajemen, 36tanpa perencanaan, pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam mencapai tujuan yang diinginkan.

b. Organizing (Pengorganisasian)

Organizing adalah pengelompokan kegiatan yang di perlukan yakni penetapan susunan organisasi serta tugas dan fungsi-fungsi dari setiap unit yang ada dalam organisasi, serta menetapkan kedudukan dan sifat hubungan antara masing-masing unit tersebut.

Pengorganisasian dapat pula di rumuskan sebagai keseluruhan aktifitas manajemen dalam mengelompokkan orang-orang serta penetapan tugas, fungsi, wewenang serta tanggungjawab masing-masing dengan tujuan tercapainya aktifitas-aktifitas yang berdaya guna dan berhasil guna dalam mencapai tujuan yang telah di tentukan terlebih dahulu.37

Yang perlu diperhatikan dalam pengorganisasian antara lain bahwa pembagian tugas wewenang dan tanggungjawab hendaknya di sesuaikan dengan pengalaman, bakat minat, pengetahuan da

35

Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, (Bandung: Alfabeta, 2008), hlm. 46.

36

Ngalim Purwanto, Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Mutiara, 1984), hlm. 25.

37

(29)

kepribadian masing-masing orang yang di perlukan dalam menjalankan tugas-tugas tersebut.38

c. Actuating (Penggerakan)

Menggerakkan (Actuating) menurut terry (1977) berarti merangsang anggota-anggota kelompok melaksanakan tugas-tugas dengan aktivitas dan kemauan dengan baik, sedangkan menurut Kerith Davis adalah kemampuan pemimpin membujuk orang-orang mencapai tujuan yang telah di tetapkan dengan penuh semangat.

Penggerakan di lakukan oleh pemimpin yaitu orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi prilaku orang lain dengan menggunakan kekuasaan. kekuasaan merupakan kemampuan untuk mengarahkan dan mengatur bawahan terkait dengan tugas yang harus di laksanakan.39

d. Controlling (Pengawasan)

Pengawasan dapat diartikan sebagai salah satu kegiatan untuk mengikuti realisasi prilaku personel dalam organisasi dan apakah tingkat pencapaian tujuan organisasi dengan yang di kehendaki.

Pengawasan sering di sebut penindakan adalah salah satu fungsi manajemen yang berupa mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan kejahatan yang benar dengan maksud tercapai tujuan yang sudah digariskan semula.40

Menurut Nanang Fatah pengawasan dilakukan melalui 3 tahap yaitu (a) menetapkan standar pelaksanaan, (b) pengukuran pelaksanaan di bandingkan dengan standard , (c) menentukan kesenjangan antara pelaksanaan dengan standard an rencana. Di dalamnya belum terdapat tahapan terakhir pengawasan yaitu upaya perbaikan, dengan demikian dapat di simpulkan bahwa pengawasan di laksanakan melalui empat tahap yaitu:

38

M. Ngalim Pirwanto, op.cit., hlm. 27.

39

Syaiful Sagala, op.cit., hlm. 52-53.

40

(30)

1) Menetapkan standar pelaksanaan pekerjaan sebagai dasar melakukan control.

2) Mengukur pelaksanaan pekerjaan dengan standar.

3) Menentukan kesenjangan (deviasi) bila terjadi antara pelaksanaan dengan pelaksanaan dan tujuan sesuai dengan rencana.

B. Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Guru PAI SMP 1. Pengertian Pendidikan dan Pelatihan Guru PAI SMP

Pendidikan dan pelatihan (diklat) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu sistem, yaitu sistem pengembangan sumber daya manusia.

Beberapa pakar di bidang diklat menyatakan bahwa diklat adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang mengutamakan perubahan pengetahuan, keterampilan dan peningkatan sikap seorang pegawai (guru) dalam melaksanakan tugasnya.

Sedangkan definisi Diklat menurut Raymond A, Noe dalam buku

Employee Training and Development, Training refers to a planned effort by a company to facilitate employees learning of job related competencies. These competencies include knowledge, skills, or behaviors that are critical for successful job performance.41 Artinya pendidikan dan pelatihan (diklat) adalah sebuah perencanaan oleh sebuah lembaga untuk memfasilitasi pembelajaran kerja bagi pegawai itu sendiri yang berhubungan dengan kemampuannya. Kompetensi ini meliputi pengetahuan, ketrampilan atau kebiasaan yang merupakan sebuah kritik untuk kesuksesan dalam pekerjaan.

Pendidikan dan pelatihan adalah suatu proses yang akan menghasilkan suatu perubahan perilaku, sasaran diklat secara konkrit,

41

Raymond A, Noe, Employee Training and Development, (Singapore: Mc Graw_ Hill, 2000 ), hlm 3-4.

(31)

perubahan perilaku itu berbentuk kemampuan yang mencakup kemampuan kognitif, afektif maupun psikomotorik.42

2. Pentingnya Pendidikan dan Pelatihan bagi Guru PAI SMP

Hampir seluruh organisasi apakah itu organisasi pemerintah pendidikan maupun organisasi sosial lainnya menyadari akan keterbatasannya dalam menghadapi berbagai perubahan. Setiap perubahan yang terjadi di masyarakat akan menjadi tantangan terutama bagi organisasi pendidikan untuk mengatasinya. Demikian juga perubahan dan perkembangan dalam bidang teknologi, membawa dampak yang sangat besar bagi dunia pendidikan. Untuk menghadapi dan menjawab perubahan bisa dilakukan bermacam-macam cara, salah satu di antaranya adalah melalui diklat.

Menurut Soekidjo Notoatmadja, dalam bukunya yang berjudul "Pengembangan SDM" menyebutkan bahwa pendidikan dan pelatihan dapat dipandang sebagai salah satu bentuk investasi, jadi setiap organisasi pendidikan yang ingin berkembang harus memperhatikan pendidikan dan pelatihan bagi gurunya.

Pentingnya program pendidikan dan pelatihan bagi suatu organisasi pendidikan antara lain:

a. SDM yang menduduki suatu jabatan tertentu dalam organisasi belum tentu mempunyai kemampuan yang sesuai dengan jabatan tersebut. Oleh karena itu, perlu penambahan kemampuan yang mereka perlukan b. Dengan adanya kemampuan dan teknologi, akan mempengaruhi suatu

organisasi pendidikan, sehingga kemampuan guru terkadang terbatas. Dengan demikian perlu penambahan kemampuan.

c. Promosi dalam suatu organisasi pendidikan adalah suatu keharusan sebagai salah satu reward dan insentif untuk meningkatkan produktivitas kerja guru. Kadang-kadang kemampuan seorang guru yang akan dipromosikan untuk menduduki jabatan tertentu masih

42

(32)

belum cukup. Oleh karena itu perlu pendidikan dan pelatihan tambahan.

d. Di dalam masa pembangunan ini organisasi-organisasi / instansi-instansi baik pemerintah maupun swasta merasa terpanggil untuk menyelenggarakan pelatihan-pelatihan bagi karyawan agar diperoleh efektifitas dan efisien kerja sesuai masa pembangunan.43

3. Manajemen Pendidikan dan Pelatihan Guru PAI SMP

Penyelenggaraan pendidikan di pelatihan (diklat) dapat dibagi dalam tiga tahap. Pembagian ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan diklat secara efisien dan efektif. Pada dasarnya pembagian ini dimaksudkan agar diklat dapat mencapai tujuan, meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap para gurunya. Pada garis besarnya pentahapan diklat terdiri dari tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap penyelesaian.

a. Tahap Persiapan

Dalam tahap ini kegiatan diklat dibagi menjadi dua kegiatan yaitu kegiatan administratif dan kegiatan edukatif.

1) Kegiatan administratif

Pada kegiatan administratif yang perlu diperhatikan adalah: a) Pengumuman

Kegiatan ini merupakan awal persiapan diklat. Pada umumnya pengumuman tentang akan dilaksanakannya suatu diklat merupakan awal persiapan dari seluruh kegiatan diklat. Pengumuman dapat berbentuk surat edaran, selebaran, iklan maupun brosur-brosur. Dalam pengumuman ini yang perlu dicantumkan

- Jenis diklat

- Persyaratan peserta

- Tempat dan waktu penyelenggaraan - Program diklat

43

(33)

- Biaya

- Tempat pendaftaran

b) Pendaftaran peserta dan seleksi

Setelah pengumuman dilaksanakan, maka disiapkan seorang petugas yang akan menampung dan menerima pendaftaran calon-calon peserta.

c) Panitia/Tim/Satgas Pelaksana

Kepanitiaan ini sebenarnya diperlukan karena belum adanya unit kerja tertentu yang dipercayakan untuk melaksanakan diklat tersebut.

d) Penetapan tempat dan waktu

Seperti dalam pengumuman telah ditetapkan di mana diklat akan dilaksanakan.

e) Penyampaian bahan-bahan

Pada tahap persiapan ini yang perlu diperhatikan adalah kesiapan bahan-bahan pendukung antara lain: alat-alat tulis dan alat-alat audiovisual seperti OHP, video dan camera yang merupakan alat peraga dalam proses belajar mengajar.

f) Biaya

Sebagai persiapan terakhir perhitungan biaya untuk diklat (rencana perhitungan keuangan) perlu dipersiapkan. 2) Kegiatan Edukatif

Inti persiapan suatu diklat adalah pada kegiatan edukatif. Pada kegiatan ini ditentukan tentang keberhasilan suatu diklat, dalam arti apakah diklat yang dilaksanakan itu betul-betul telah memenuhi kebutuhan para peserta dan organisasi / unit kerja peserta. Keberhasilan dalam menjabarkan kebutuhan yang sesuai dengan kepentingan organisasi akan menentukan langkah selanjutnya suatu diklat.44

a) Penyusunan Kurikulum

44

(34)

Pada dasarnya penyusunan kurikulum diklat tidak berbeda dengan penyusunan kurikulum pendidikan formal, yaitu agar:

- Metode pendidikan dan pelatihan sesuai dengan tujuan, jenis tingkat dan populasi

- Terdapat pola yang baru tentang proses penyajian

- Mutu program pendidikan pelatihan terjamin kemanfaatan. Ada beberapa variabel yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kurikulum diklat yaitu calon peserta, calon widyaiswara, dan daerah tempat diklat.

b) Proses Belajar mengajar

Sebelum tahap ini dilaksanakan, seorang desainer lebih dahulu menentukan atau memilih strategi diklat yang dikehendaki, artinya bahwa ia memikirkan tentang strategi yang cocok dengan diklat yang akan diselenggarakan.

c) Penetapan Model Diklat

Sebagai seorang pengelola program diklat, kita harus menentukan metode yang cocok agar diklat dapat berhasil sesuai dengan tujuannya.

d) Penetapan tenaga Pengajar (widyaiswara)

Untuk hal ini tidak ada suatu ketentuan yang baku, masing-masing penanggung jawab diklat dapat membuat suatu kriteria tertentu mengenai widyaiswara yang dibutuhkan. Walaupun demikian pada dasarnya pengajar, tenaga pelatih/widyaiswara pada suatu kegiatan diklat disyaratkan telah memiliki kompetensi baik di bidang ilmunya.45

b. Tahap Pelaksanaan

Dalam tahap ini berbagai kegiatan yang perlu diperhatikan dan dikerjakan meliputi:

45

(35)

1) Pembukaan

Pembukaan dapat dilakukan secara seremonial, artinya pembukaan mengikuti ketentuan-ketentuan protokoler yang telah digariskan oleh departemen yang bersangkutan.

2) Penjelasan Program

Penjelasan program dilakukan oleh direktur eksekutif atau langsung oleh direktur.

Penjelasan menyangkut kegiatan-kegiatan a) Tujuan diklat

b) Struktur program c) Sistem penilaian d) Kelulusan

e) Penjelasan tentang segi-segi administratif. 3) Dinamika Kelompok

Kegiatan ini bertujuan agar peserta yang heterogen / homogen, yang berasal dari berbagai tempat dan tugas dapat membentuk kelompok-kelompok yang lebih kohesif. Dengan demikian tujuan dinamika kelompok itu adalah:

a) Menghilangkan rasa kesendirian b) Merasakan kebersamaan antar peserta c) Memupuk rasa kerjasama antar peserta 4) Perkuliahan

Pada tahap ini kegiatan diisi dengan berbagai penyampaian pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, baik melalui ceramah, kuliah maupun praktik dan tugas-tugas.

5) Penugasan-penugasan

Untuk lebih memantapkan kegiatan-kegiatan yang telah disusun dalam mata-mata sajian, kepada peserta diberikan tugas-tugas sebagai berikut:

a) Menulis kertas kerja perseorangan maupun kelompok. b) Diskusi tentang suatu permasalahan.

(36)

c) Praktek kerja lapangan d) Menyusun laporan 6) Penutupan

Penutupan merupakan acara terakhir kegiatan diklat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam acara penutupan adalah:

a) Undangan

Sebaiknya sudah dipersiapkan satu minggu sebelum penutupan.

b) Acara Penutupan

Perlu disusun secara matang dengan arahan dari pejabat yang berwenang.46

c. Tahap Evaluasi

Pada akhir setiap kegiatan diklat, diakhiri dengan evaluasi. Evaluasi maksudnya adalah untuk mengetahui sejauh mana kegiatan diklat telah mencapai tujuannya.

1) Pengertian Evaluasi Pendidikan dan Pelatihan

Evaluasi pendidikan dan pelatihan ialah proses / kegiatan untuk menentukan kemajuan pendidikan dan pelatihan dibandingkan dengan tujuan yang telah ditentukan dan usaha untuk memperoleh informasi (umpan balik) bagi penyempurnaan program pendidikan dan pelatihan.

2) Tujuan

Evaluasi diklat bertujuan untuk:

a) Mendapatkan dan menganalisis informasi untuk mengetahui pencapaian tujuan jangka panjang dan jangka pendek

b) Mengetahui pengaruh program pendidikan dan pelatihan terhadap efisiensi dan efektivitas pelaksanaan tugas instansi peserta diklat.

46

(37)

3) Manfaat

Manfaat evaluasi adalah

a) Memperoleh informasi tentang kualitas dan kuantitas hasil pelaksanaan program diklat.

b) Mengetahui relevansi program pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan instansi yang bersangkutan.

c) Membuka kemungkinan untuk memperbaiki dan menyesuaikan program diklat dengan perkembangan keadaan.

4) Sasaran

Sasaran evaluasi diklat mencakup unsur-unsur sebagai berikut: peserta, program pengajaran, personil, organisasi penyelenggara, sarana dan prasarana, biaya tamatan, partisipasi konsumen dan masyarakat.

5) Ruang Lingkup

Ruang lingkup evaluasi diklat meliputi seluruh bidang diklat yang mencakup bidang teknis, fungsional, bidang teknis dan bidang administrasi pelaksanaan.

6) Pelaksanaan Evaluasi

Evaluasi diklat dilaksanakan pada waktu pra diklat, sesudah diklat dan selama diklat.

a) Evaluasi pra diklat

Dilakukan pada saat akan dilakukan diklat. Tujuannya mengetahui reaksi peserta tentang mata pelajaran yang akan dipelajari.

b) Evaluasi selama diklat

Tujuannya mengetahui reaksi peserta terhadap sebagian / selama program diklat.

c) Evaluasi sesudah diklat

Dilakukan setelah 6 s/d 12 bulan peserta diklat. Tujuannya untuk mengetahui pengetrapan hasil-hasil

(38)

pendidikan dan pelatihan oleh peserta pada instansinya masing-masing dan mengetahui permasalahan yang timbul.

Aspek-aspek yang dinilai meliputi:

a) Aspek prestasi akademik dengan bobot 60-70% terdiri dari: pemahaman materi, komunikasi lesan, pengamatan teoritis dan pemecahan masalah, dan komunikasi tertulis.

b) Aspek sikap dengan bobot 30-40% terdiri dari prakarsa, disiplin, kepemimpinan, dan kerjasama 7) Evaluasi Terhadap Widyaiswara

Penilaian ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh seorang widyaiswara melaksanakan tugasnya. Dalam evaluasi ini yang dinilai adalah unsur:

a) Penguasaan materi b) Ketepatan waktu c) Sistematik penyajian

d) Penggunaan metode dan alat bantu e) Sikap terhadap peserta

f) Penggunaan bahasa

g) Pembinaan motivasi belajar kepada peserta h) Pencapan tujuan instruksional

Evaluasi dilakukan oleh peserta, setelah atau sesaat penyampaian mata sajian.

8) Evaluasi terhadap Penyelenggara

Evaluasi ini dimaksudkan untuk memperoleh umpan balik dalam rangka penyempurnaan program diklat yang akan datang. Evaluasi ini dilakukan secara berkala. Hal-hal yang dinilai meliputi: a) Tujuan Diklat

b) Relevansi program diklat dengan tugas c) Manfaat setiap mata sajian

d) Mekanisme pelaksanaan diklat

(39)

9) Evaluasi Antar Peserta

Evaluasi ini dilakukan oleh peserta terhadap peserta lainnya dengan maksud untuk mengetahui peserta yang aman selama kurun waktu 1 minggu diunggulkan dalam proses pembelajaran .

10) Penghargaan

Kepada peserta yang dinyatakan memenuhi persyaratan diberikan tanda penghargaan berupa Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPL).

11) Laporan Evaluasi

Laporan evaluasi ialah informasi terakhir tentang kegiatan diklat dari segi evaluasinya yang telah disusun secara sistematis. Laporan berisi hasil pengelolaan evaluasi diklat yang bersangkutan. 12) Tahap Laporan

Laporan merupakan tahap akhir dari kegiatan suatu diklat. Satu minggu setelah berakhirnya suatu diklat.47

C. Kompetensi Pedagogik

1. Pengertian Kompetensi Pedagogik

Dari segi etimologi, pedagogik berasal dari bahasa Yunani

pedagogia yang berarti anak-anak. Pedagogik berasal dari kata paedos

(anak) dan agoge (saya membimbing, memimpin). Jadi Pedagogik artinya saya membimbing anak-anak.48

Sedangkan kompetensi merupakan suatu hal yang mengembangkan kualifikasi atau kemampuan seseorang.49

Jadi kompetensi pedagogic adalah kemampuan yang berkenaaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantive kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan

47

Ibid., hlm. 134-164.

48

M. Ngalim Purwanrto, Ilmu Pendidikan, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 3.

49

Rasto, Kompetensi Guru, http://rasto.wodpres.com/2008/01/31/kompetensi-guru/ tgl 23 Februari 2010 Jam 10:00

(40)

pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya50

2. Indikator Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik mengacu pada kemampuan dan ketrampilan seorang guru dalam mengajar yang terkait juga dengan penguasaan teori serta praktek antara lain kemampuan dalam memahami peserta didik, mampu mengevaluasi peserta didik yang untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Dan untuk mengetahui bagaimana penjabaran dari masing-masing sub kompetensi tersebut, maka penjelasannya adalah sebagai berikut:

a. Pemahaman terhadap peserta didik

Guru memiliki pemahaman akan psikologi perkembangan anak, sehingga mengetahui dengan benar pendekatan yang tepat yang dilakukan pada anak didiknya. Guru dapat membimbing anak melewati masa-masa sulit dalam usia yang di alami anak. Selain itu, guru memiliki pengetahuan dan pemahaman terhadap latar belakang pribadi anak, sehingga dapat mengidentifikasi problem-problem yang di hadapi anak serta menentukan solusi dan pendekatan yang tepat.51 b. Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran

1) Perencanaan pembelajaran

Pada hakikatnya bila suatu kegiatan di rencanakan lebih dahulu, maka tujuan dari kegiatan tersebut akan lebih terarah dan lebih berhasil. Itulah sebabnya seorang guru harus memiliki kemampuan dalam merencanakan pembelajaran. Seorang guru sebelum mengajar hendaknya merencanakan program

50

Kamrani, Profesionalisme Guru PAI, http: //mansamuntai.wordpres.com/2009/01/28/ profesionalisme-guru-pai-oleh-prof-dr-h-kamrani-buser i-ma/ tgl 23 Februari 2010 Jam 10:00

51

Mahmudin, Kompetensi Pedagogik Guru, http://Mahmidin.Wodrdpres.com/ 2008/03/19/kompetensi –pedagogik=Guru-Indonesia/ tgl 23 Februari 2010 Jam 10:00

(41)

pembelajaran, membuat persiapan pembelajaran yang hendak di berikan

Perencanaan itu dapat bermanfaat bagi guru sebagai control terhadap diri sendiri agar dapat memperbaiki cara pembelajarannya hal ini sesuai dengan pendapat Hendiyat Soetopo dan Wasti Soemanto bahwa selain berguna sebagai alat control, maka persiapan mengajar juga ber guna sebagai pegangan bagi guru sendiri.52

Perencanaan pembelajaran /biasa di sebut rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan di terapkan guru dalam pembelajaran di kelas. 53 hal senada juga dikemukakan oleh Syaodih, bahwa guru mengembangkan program perencanaan dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, satu minggu atau beberapa jam saja. Untuk satu tahun (prota)/ program tahunan dan satu semester (promes)/ program semester sedangkan untuk beberapa jam pelajaran di sebut program satuan pelajaran. 54 Berdasarkan RPP inilah guru diharapkan bisa menerapkan secara terprogram

2) Pelaksanaan Pembelajaran

Melaksanakan proses pembelajaran merupakan tahap pelaksanaan program yang telah disusun. Dalam kegiatan ini kemampuan yang di tuntut adalah keaktifan guru menciptakan dan menumbuhkan kegiatan siswa belajar sesuai dengan rencana yang telah di susun’

Guru harus dapat mengambil keputusan atas dasar penilaian yang tepat, apakah kegiatan pembelajaran dicukupkan,

52

Suryosubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), hlm. 27-28.

53

Maskur Muslih, KTSP, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 53.

54

Abdul Madjd, Perencanaan Pembelajaran (Mengembangkan Standar Kompetensi Guru), (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 10.

(42)

metodenya di ubah, apakah kegiatan yang lalu perlu di ulang, manakala siswa belum dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran. Pada tahap ini di samping pengetahuan teori pembelajaran, pengetahuan tentang siswa, di perlukan pula kemahiran dan ketrampilan teknik belajar.55 Oleh karena itu setiap guru di tuntut agar menguasai dan menerapkan ketrampilan mengajar yang antara lain sebagai berikut.

a) Membuka dan menutup pelajaran

Membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan secara profesional akan memberikan pengaruh positif terhadap kegiatan pembelajaran. Membuka pelajaran adalah usaha atau kegiatan yang dilakukan guru dalam kegiatan pembelajaran untuk menciptakan pra kondisi bagi siswa agar mental maupun perhatiannya terpusat pada apa yang dipelajarinya sehingga usaha tersebut akan memberikan efek terhadap kegiatan belajar.

Menutup pelajaran dl kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri pelajaran atau kegiatan pembelajaran. Kegiatan menutup pelajaran terdiri dari: merangkum atau membuat garis besar persoalan yang dibahas, mengkonsolidasikan perhatian siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dalam pelajaran dan mengorganisasi semua pelajaran yang telah dipelajari sehingga merupakan satu kesatuan yang berarti dalam memahami materi.56

b) Menjelaskan

Yang dimaksud dengan ketrampilan menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya.

55

Rasto, op.cit.

56

(43)

Penyampaian informasi yang terencana dengan baik dan disajikan dengan urutan yang cocok merupakan ciri utama kegiatan menjelaskan. Pemberian penjelasan merupakan salah satu aspek yang amat penting dari kegiatan guru dalam interaksinya dengan siswa di dalam kelas. Dan biasanya guru cenderung lebih mendominasi pembicaraan dan mempunyai pengaruh langsung. Oleh sebab itu, hal ini haruslah dibenahi untuk ditingkatkan keefektifannya agar tercapai hasil yang optimal dari penjelasan dan pembicaraan guru tersebut sehingga bermakna bagi siswa.

c) Ketrampilan bertanya

Dalam proses pembelajaran, bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa.

Ketrampilan dan kelancaran bertanya dari guru perlu dilatih dan ditingkatkan, baik isi pertanyaannya maupun teknik bertanya.

d) Ketrampilan memberi penguatan

Penguatan adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal maupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik bagi siswa atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi.

Tujuan dari pemberian penguatan adalah meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran, meningkatkan motivasi belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.

e) Ketrampilan mengadakan variasi

Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi pembelajaran yang ditujukan untuk

(44)

mengatasi kebosanan siswa sehingga dalam situasi pembelajaran, siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Untuk itu seorang guru harus menguasai ketrampilan tersebut.57

f) Ketrampilan membimbing diskusi kelompok kecil

Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan atau pemecahan masalah.

Siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah pimpinan guru atau temannya untuk berbagi informasi, pemecahan masalah atau pengambilan keputusan. Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana terbuka. Setiap siswa bebas mengemukakan ide-idenya tanpa merasa ada tekanan dari teman atau gurunya dan setiap siswa harus menaati peraturan yang diterapkan sebelumnya.

g) Ketrampilan mengelola kelas

Pengelolaan kelas adalah ketrampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.

Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur kelas dan sarana pembelajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan untuk mencapai tujuan.

h) Ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan Secara fisik bentuk pembelajaran ini adalah bila jumlah siswa yang dihadapi oleh guru terbatas, yaitu berkisar 3-8 orang untuk kelompok kecil dan seorang untuk perseorangan.

57

Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 74-88.

(45)

Ini berarti bahwa guru hanya menghadapi satu kelompok atau seorang siswa saja sepanjang waktu belajar.

Pengajaran kelompok kecil dan perseorangan memungkinkan guru memberikan perhatian terhadap setiap siswa serta terjadinya hubungan yang lebih akrab antara guru dan siswa maupun antara siswa dan siswa.58

c. Penilaian/ evaluasi hasil belajar

Penilaian proses pembelajaran dilaksanakan untuk mengetahui keberhasilan perencanaan kegiatan pembelajaran yang telah disusun dan dilaksanakan.

Tujuan utama melaksanakan evaluasi dalam proses pembelajaran adalah untuk mendapatkan informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa, sehingga tindak lanjut hasil belajar akan dapat diupayakan dan dilaksanakan. Dengan demikian, melaksanakan penilaian proses pembelajaran merupakan bagian tugas guru yang harus dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran berlangsung dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan pembelajaran, sehingga dapat diupayakan tindak lanjut hasil belajar siswa.59

d. Perkembangan peserta didik

Pengembangan peserta didik merupakan usaha untuk mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Ketika guru melaksanakan penilaian terhadap siswanya, sebenarnya di situlah guru dapat mengetahui sejauh mana kompetensi dan kecenderungan-kecenderungan siswanya terhadap suatu potensi tertentu. Guru berperan penting dalam mengembangkan potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya. Pengembangan potensi peserta didik dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang ada SMPseperti

58

Ibid., hlm. 99-102.

59

(46)

pramuka, sanggar tari, bela diri, kaligrafi, tilawah Al-Qur'an, bank sekolah dan sebagainya.

Melalui kegiatan-kegiatan tersebut guru seyogyanya ikut berperan di dalamnya, sebagai instruktur.

Allah berfirman dalam surat al-Isra’ ayat 84.

ö@è% @@à2 ã@yJ÷ètƒ 4’n?tã ¾ÏmÏFn=Ï.$x© öNä3š/t•sù ãNn=÷ær& ô`yJÎ/ uqèd 3“y‰÷dr& Wx‹Î6y™ ÇÑÍÈ

Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya[867] masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalanNya. (QS. Al-Isra’: 84)

Ayat di atas menjelaskan bahwa tiap diri manusia (peserta didik) memiliki potensi, dorongan dan pembawaan (bakat) sesuai dengan kecenderungan dan keinginan hati nuraninya. Potensi ini apabila jelek / tidak baik haruslah segera dihindari / dicegah, apabila baik haruslah dipupuk, dipelihara dan dikembangkan.60

D. Peningkatan Kompetensi Pedagogik Guru PAI SMPMelalui Manajemen Diklat

Peran dan fungsi guru dalam proses pembelajaran menempati posisi strategis dan menentukan. Karakteristik proses pendidikan SMPmenuntut hadirnya sosok guru yang berkualitas yang memiliki kompetensi dan kemampuan yang memadai. Menurut Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru pasal 8, 9 dan 10, bahwa guru yang berkualitas memiliki kualifikasi akademik tertentu dan tingkat kompetensi. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat, sedangkan kompetensi guru yang meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial diperoleh melalui diklat profesi.61

60

Heri Jauhari Muchtar, Fiqih Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), Cet. I, hlm. 143-144.

61

Diklat Guru Mata Pelajaran, http://bzbgelzam.blogspot.com/2009/07/efektivitas-diklat-guru-mapel-dalam.html, tgl 23 Februari 2010, jam. 10.00

(47)

Masih dalam kaitannya dengan peningkatan mutu guru diharuskan adanya peran serta aktif dari berbagai pihak terkait sedini mungkin dalam proses pengembangan mutu guru akan membuat standar kompetensi yang mengiringinya tidak terisolir dari dunia nyata, sehingga proses transisi dari tahap pengembangan ke tahap pelaksanaan (implementasi) para guru akan dapat berjalan dengan lancar.

Sudarwan Danim mengatakan bahwa meningkatkan dan mengembangkan mutu guru perlu mengusahakan dengan berbagai upaya antara lain melalui pendidikan, pelatihan, dan pembinaan teknis yang dilakukan dengan cara berkesinambungan SMPdan di wadah-wadah pembinaan.62

Peningkatan dan pengembangan mutu guru tersebut meliputi berbagai aspek antara lain kemampuan guru dalam menguasai kurikulum dan materi pengajaran, kemampuan dalam menggunakan metode dan sarana dalam proses pembelajaran, melaksanakan proses dan hasil belajar, dan kemampuan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, disiplin dan komitmen guru terhadap tugas.

Dalam rangka meningkatkan kualitas guru, terutama yang berkaitan dengan tugas-tugas profesi, disusun program-program baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang.

Program jangka pendek, peningkatan kualitas guru berupa penataran, orientasi, konsultasi, dan evaluasi, serta seminar-seminar. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan saling bertukar informasi yang berkaitan dengan problematika di lapangan.

Program jangka panjang berupa bantuan beasiswa bagi para guru yang potensial dan berminat melanjutkan studi lanjutan untuk mencetak guru sebagai profesional, spesialis, fasilitator, atau konsultan.

Sedangkan program jangka sedang berupa pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi guru. Dari pendidikan dan pelatihan diharapkan muncul guru

62

Sudarwan Danim, Agenda Pembaharuan Sistem Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), Cet. I, hlm. 79.

(48)

yang siap pakai, dalam arti siap diterjunkan ke tempat tugas masing-masing dengan bekal wawasan dan ketrampilan yang memadai.

Tujuan utama diterapkannya program diklat guru adalah untuk meningkatkan kompetensi guru sehingga kualitas pendidikan semakin meningkat. Dengan demikian, diklat merupakan upaya mengembangkan sumber daya manusia yang bertujuan untuk memastikan bahwa mereka memiliki kemampuan dan kesanggupan menjalankan tugas-tugas sesuai kewajibannya.

Oleh karena pentingnya pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi peningkatan kompetensi pedagogik guru PAI SMPmaka diharapkan Badan-Badan Diklat Keagamaan dapat memanajemen diklat sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen dan mengacu pada pedoman penyelenggaraan Diklat Tenaga Teknis Keagamaan agar kualitas guru semakin meningkat.

(49)

BAB III

PELAKSANAAN MANAJEMEN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU PAI SMP

DI BALAI DIKLAT KEAGAMAAN SEMARANG

A. Kondisi Umum Balai Diklat Keagamaan Semarang

1. Letak Geografis dan Historis Balai

Diklat Pegawai Teknis Keagamaan Semarang berdiri berdasarkan Keputusan Menteri Agama Nomor 45 tahun 1981. Namun baru mempunyai wujud fisiknya pada tanggal 2 Maret 1982 dan karena belum mempunyai sarana dan fasilitas maka pada satuan itu berkantor satu atap dengan Kantor Wilayah Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah yang waktu itu beralamat di Jalan Pattimura. Kurang lebih satu tahun kemudian tepatnya tanggal 3 Februari 1983 pindah di Jl. Ronggolawe Semarang Barat yang merupakan gedung miliki Yayasan Perwanida Kanwil Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah dan baru mulai tanggal 2 Oktober 1986 Balai Diklat berkantor di Jl. Temugiring Banyumanik Semarang yang ditempati sekarang ini dengan luas tanah 11.148m2, dibangun 11.541.775 m2 dibeli dengan dana DIP tahun 1984/1985.63

Adapun batas wilayah Balai Diklat Keagamaan adalah sebagai berikut:

a. Sebelah barat berbatasan dengan Jl. Raya Banyumanik-Solo b. Sebelah timur berbatasan dengan perumahan Srondol. c. Sebelah selatan berbatasan dengan Sungai Temugiring.64

2. Kedudukan, Tugas dan Fungsi a. Kedudukan

Balai Diklat Keagamaan Semarang sesuai dengan keputusan Menteri Agama RI No. 345 Tahun 2004 tentang organisasi dan Tata

63

Hasil wawancara dengan Bapak Wahab (Staf Subag TU), senin tgl 08 Nopember 2009.

64

(50)

Kerja Balai Diklat Keagamaan adalah unit pelaksana teknis badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementrian Agama. Sedangkan dalam pembinaan teknis terhadap Balai Diklat dilaksanakan oleh Kepala Pusdiklat Administrasi dan Kepala Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan sesuai bidang sekretaris Badan Litbang dan Diklat Keagamaan Agama

b. Tugas Pokok dan Fungsi

Berdasarkan KMA Nomor 345 Tahun 2004 tentang organisasi dan tata kerja Balai Diklat Keagamaan Pasal 1 dan 3 menyebutkan bahwa:

- Tugas Pokok

Balai diklat keagamaan Semarang mempunyai tugas melaksanakan pendidikan dan pelatihan tenaga administrasi dan tenaga teknis keagamaan dengan wilayah kerja jajaran Kementrian Agama Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi DIY.

- Fungsi

Balai Diklat Keagamaan Semarang mempunyai fungsi:

1) Perumusan visi, misi dan kebijakan Balai Diklat Keagamaan 2) Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan Tenaga

Administrasi dan tenaga teknis keagamaan.

3) Pelayanan di bidang pendidikan dan pelatihan keagamaan. 4) Penyiapan penyajian pelaporan hasil pelaksanaan kerja di

Balai Diklat Keagamaan Semarang.

5) Pelaksanaan koordinasi dan pengembangan kemitraan dengan satuan organisasi /satuan kerja di lingkungan Kementrian Agama dan pemerintah daerah serta lembaga terkait lainnya.65

65

Figure

Tabel 2 Struktur Organisasi

Tabel 2

Struktur Organisasi p.54

References

Related subjects :

Scan QR code by 1PDF app
for download now

Install 1PDF app in