• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1. Kondisi Umum TNGGP

TNGGP yang awalnya memiliki luas 15.196 hektar dan terletak di 3 (tiga) wilayah kabupaten yaitu Cianjur (3.599,29 Ha), Sukabumi (6.781,98 Ha) dan Bogor (4.514,73 Ha), saat ini sesuai SK Menhut No 174/Kpts-II/tanggal 10 Juni 2003 diperluas menjadi 21.975 ha. Secara geografi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango terletak antara 106° 51` - 107° 02` dan 6° 41’ - 6° 51` LS. Secara administratif pemerintahan, wilayah TNGGP mencakup ke dalam 3 (tiga) kabupaten, yaitu; Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Batas-batas kawasan ini adalah :

Sebelah Utara : Wilayah Kabupaten Cianjur dan Bogor Sebelah Barat : Wilayah Kabupaten Sukabumi dan Bogor Sebelah Selatan : Wilayah Kabupaten Sukabumi

Sebelah Timur : Wilayah Kabupaten Cianjur

Berdasarkan sejarahnya, kawasan TNGGP merupakan penggabungan dari beberapa spesies kawasan konservasi yang telah ditetapkan sejak jaman Belanda. Berdasarkan tahun penetapannya, kawasan-kawasan tersebut adalah Cagar Alam seluas 240 ha yang ditetapkan pada tahun 1889, dan diperluas menjadi 1.040 ha pada tahun 1925.

3.1.1. Topografi

Kawasan TNGGP merupakan rangkaian gunung berapi, terutama Gunung Gede (2.958 m dpl) dan Gunung Pangrango (3.019 m dpl) yang merupakan dua dari tiga gunung berapi tertinggi di Jawa Barat. Topografinya bervariasi mulai dari landai hingga bergunung, dengan kisaran ketinggian antara 700 m dan 3.000 m dpl. Jurang dengan kedalaman sekitar 70 m banyak dijumpai di dalam kedua kawasan tersebut. Sebagian besar kawasan TNGGP merupakan dataran tinggi tanah kering dan sebagian kecil merupakan daerah rawa, terutama di daerah sekitar Cibeureum yaitu Rawa Gayonggong.

Pada bagian Selatan kawasan yaitu daerah Situgunung, memiliki kondisi lapangan yang berat karena terdapatnya bukit-bukit (seperti bukit masigit) yang

(2)

memiliki kemiringan lereng sekitar 20-80 %. Kawasan Gunung Gede yang terletak di bagian Timur dihubungkan dengan Gunung Pangrango oleh punggung bukit yang berbentuk tapal kuda, sepanjang ± 2.500 meter dengan sisi-sisinya yang membentuk lereng-lereng curam berlembah menuju dataran Bogor, Cianjur dan Sukabumi.

Dibawah puncak Gunung Pangrango ke arah Barat Laut terdapat kawah mati yang berupa alun-alun selluas 5 ha dengan diameter ± 250 m, sedangkan di Gunung Gede masih ditemukan kawah yang masih aktif. Ke arah Timur Gunung Gede sejajar dengan punggung gunung terdapat Gunung Gumuruh yang merupakan dinding kawah pegunungan tua yang terpisahkan oleh alun-alun Suryakancana pada ketinggian sekitar 2.700 m. alun-alun ini memiliki panjang ± 2 km dengan lebar ± 200 m membujur ke arah Timur Laut – Barat Daya.

3.1.2. Geologi

Gunung Gede dan Gunung Pangrango merupakan bagian rangkaian gunung berapi yang membujur dari Sumatera, Jawa dan Nusa Tenggara, dan terbentuk sebagai akibat pergerakan lapisan kulit bumi secara terus menerus selama periode kuarter, sekitar tiga juta tahun lalu, dan dalam skala waktu geologi keduanya termasuk ke dalam golongan gunung muda.

Gunung Gede adalah salah satu dari 35 gunung berapi yang aktif di wilayah Indonesia, sedangkan Gunung Pangrango telah dinyatakan mati. Menurut catatan vulkanologi, letusan Gunung Gede pertama kali terjadi pada tahun 1747, kemudian berturut-turut terjadi letusan pada tahun 1840, 1852, 1886, 1947 dan 1957.

Akibat letusan-letusannya, kawasan TNGGP terdiri atas batuan vulkanik kuarter Gunung Pangrango dan batuan vulkanik tersier Gunung Gede. Batuan vulkanik Gunung Pangrango yaitu (a) formasi Qvpo (endapan tua, lahar dan lava, basal andesit dengan oligoklas – andesine, labradorit, olivine, piroksen dan horenblenda) yang menyebar pada bagian Utara, Barat Laut dan Barat Daya; dan (b) formasi Qvpy (endapan muda, lahar dan bersusunan andesit) pada bagian Barat.

(3)

Batuan vulkanik Gunung Gede sebagian besar terdiri atas formasi Qvg (breksi tufaan dan lahar, andesit dengan oligoklas-andesin, tekstur seperti trakhit); formasi Qvgy (aliran lava termuda) dari puncak Gunung Gede ke arah Utara sepanjang kurang lebih 2,75 km; dan formasi Qvgl (aliran lava bersusunan andesit basal). Patahan dan sesar (fault) tidak dijumpai dalam kawasan TNGGP, tetapi daerah yang rawan bencana geologi karena terjadinya sesar (pergeseran batuan / formasi) dan patahan terdapat di sebelah Selatan Sukabumi dan Cibadak.

3.1.3. Tanah

Faktor-faktor yang mempengaruhi spesies tanah dalam proses pembentukannya adalah bahan induk, topografi, iklim dan vegetasi. Bahan induk merupakan bahan batuan yang telah terlapukan dari batuan-batuan geologi yang didominasi oleh batuan vulkanik tersier dan kuarter. Kondisi iklim dengan curah hujan yang relatif tinggi sepanjang tahun (3.000 mm) mempercepat proses pelapukan bahan induk dan proses pencucian unsure-unsur hara. Proses ini dipercepat dengan keadaan topografi yang curam sampai dengan sangat curam.

Dengan merujuk Peta Tanah Tinjau Propinsi Jawa Barat Skala 1 : 250.000 (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, 1966), spesies-spesies tanah yang mendominasi kawasan TNGGP adalah latosol coklat, asosiasi andosol coklat dan regosol coklat, kompleks regosol kaleabu dan litosol, abu pasir, tuf, dan batuan volkan intermedier sampai dengan basis.

3.1.4. Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson, curah hujan di dalam kawasan TNGGP termasuk ke dalam Tipe A (Nilai Q = 5-9 %). Curah hujan yang tinggi dengan rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 3.000 mm – 4.200 mm, menyebabkan kawasan ini merupakan salah satu daerah terbasah di Pulau Jawa.

Suhu udara rata-rata di puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango pada siang hari berkisar 10°C dan di Cibodas berkisar 18°C. pada malam hari suhu udara di puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango berkisar 5°C. namun, pada musim kering atau kemarau suhu udara di puncak Gunung Gede dan Gunung

(4)

Pangrango bisa mencapai 0°C. Kelembaban udara tinggi yakni sekitar 80 – 90 %, sehingga memungkinkan tumbuhnya spesies-spesies lumut pada batang, ranting dan dedaunan pada pohon-pohon yang ada. Pada hutan pegunungan yang berada antara 1.500 dan 2.000 m dpl, kelembaban yang tinggi menyebabkan terhambatnya aktifitas biologi dan pelapukan kimiawi sehingga terbentuk tanah yang khas “peaty soil”.

Secara umum, angin yang bertiup di kawasan ini merupakan angin muson yang berubah arah menurut musim. Pada musim penghujan, terutama pada bulan Desember – Maret, angin bertiup dari arah Barat Daya dengan kecepatan cukup tinggi dan seringkali mengakibatkan kerusakan hutan. Di sepanjang musim kemarau, angin bertiup dari arah Timur Laut dengan kecepatan rendah.

3.1.5. Hidrologi

Merujuk Peta Hidro-Geologi Indonesia Skala 1 : 250.000 (Direktorat Geologi Tata Lingkungan, 1986), sebagian besar kawasan TNGGP merupakan akuifer daerah air tanah langka, dan sebagian kecil merupakan akuifer produktif sedang dengan sebaran yang luas. Akuifer produktif ini memiliki keterusan yang sangat beragam. Umumnya air tanah tidak tertekan dengan debit air kurang dari 5 liter / detik.

Daerah yang paling produktif kandungan sumber air tanahnya dalah daerah kaki Gunung Gede, yaitu daerah Cibadak-Sukabumi dengan mutu yang memenuhi persyaratan untuk air minum disamping untuk air irigasi. Akuifer terpenting di daerah ini adalah bahan lepas hasil produk gunung berapi seperti tufa pasiran, lahar maupun lava vesikuler. Secara berangsur, produktifitas akuifer di daerah lereng Gunung Gede makin membesar ke arah kaki gunungnya. Hal ini disebabkan oleh aliran tanah dari daerah puncak bergerak secara alami ke arah kaki gunung, disamping oleh tahanan batuan sedimen terlipat yang lebih tua di daerah Sukabumi yang bertindak sebagai penghalang aliran air tanah.

TNGGP merupakan hulu dari 55 sungai, baik sungai besar maupun sungai kecil. Aliran-aliran kecil mengalir dari dinding kawah menuju bawah dan menghilang pada tanah vulkanik yang mempunyai porositas tinggi. Umumnya kondisi sungai di dalam kawasan ini masih terlihat baik dan belum rusak oleh

(5)

manusia. Kualitas air sungai cukup baik dan merupakan sumber air utama bagi kota-kota yang terdapat di sekitarnya. Lebar sungai di hulu berkisar 1 – 2 meter dan di hilir mencapai 3-5 meter dengan debit air yang cukup tinggi. Kondisi fisik sungai ditandai dengan kondisi yang sempit dan berbatu besar pada tepi sungai bagian hilir.

3.1.6. Ekosistem

Secara umum tipe-tipe ekosistem di dalam kawasan TNGGP dapat dibedakan menurut ketinggiannya, antara lain (a) ekositem hutan pegunungan bawah; (b) ekosistem hutan pegunungan atas; dan (c) ekosistem sub alpin.

Selain ketiga tipe ekosistem utama tersebut, ditemukan beberapa tipe ekosistem khas lainnya yang tidak dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Ekosistem tersebut yaitu (a) ekosistem rawa; (b) ekosistem kawah; (c) ekosistem alun-alun; (d) ekosistem danau; dan (e) ekosistem hutan tanaman.

(a) Ekosistem Hutan Pegunungan Bawah dan Hutan Pegunungan Atas

Tipe ekosistem hutan pegunungan bawah terdapat pada ketinggian 1.000 - 1.500 m dpl, dan ekosistem hutan pegunungan atas terdapat pada ketinggian 1.500 – 2.400 m dpl. Pada umumnya tipe ekosistem hutan pegunungan bawah dan pegunungan atas dicirikan oleh keanekaragaman spesies vegetasi yang tinggi, dengan pohon-pohon besar dan tinggi yang membentuk tiga strata tajuk. Tinggi tajuk hutan di dalam kawasan TNGGP sekitar 30 – 40 m, dan strata tertinggi didominasi oleh spesies-spesies Litsea spp dan

Castanopsis spp.

(b) Ekosistem Hutan Sub Alpin

Tipe ekosistem yang terdapat pada daerah dengan ketinggian 2.400 – 3.019 m dpl, memiliki strata tajuk sederhana dan pendek yang disusun oleh spesies-spesies pohon kecil (kerdil), dan dengan tumbuhan bawah yang tidak terlalu rapat. Keanekaragaman spesies vegetasi pada tipe ekosistem sub alpina ini lebih rendah dibandingkan kedua tipe ekosistem lain. Keadaan hutan di puncak Gunung Gede memiliki batang yang lebih kurus, kerapatan tinggi, ditumbuhi lumut lebih banyak dibandingkan keadaan hutan di puncak Gunung Pangrango.

(6)

(c) Ekosistem Rawa

Di dalam kawasan TNGGP terdapat dua areal lahan basah yang sudah dikenal, yaitu Rawa Gayonggong dan Rawa Denok. Rawa Gayonggong terletak pada ketinggian 1.400 m.dpl dan berjarak sekitar 1.800 m dari pitu masuk Cibodas. Rawa kemungkinan terbentuk oleh bekas kawah mati yang kemudian menampung aliran air dari tempat yang lebih tinggi. Erosi tanah ditempat yang lebih tinggi telah menyebabkan sedimentasi Lumpur yang memungkinkan tumbuhnya berbagai spesies rumput-rumputan terutama rumput gayonggong yang tampak mendominasi rawa ini. Sementara itu rawa Denok yang terletak pada ketinggian 1.820 .mdpl, berjarak sekitar 3.400 m dari pintu masuk Cibodas hanya berukuran 5 x 5 m2, karena adanya invasi tumbuhan.

(d) Ekosistem Kawah

Kondisi lingkungan yang steril, batuan asam dan pancaran gas beracun sangat mempengaruhi kehidupan vegetasi dalam ekosistem ini. Tumbuhan yang dapat beradaptasi dengan kondisi demikian antara lain : Selligues feei,

Vaccinium varigiaefolium dan Rhododendron retusum. Pada jarak yang

agak jauh dan pengaruh pancaran gas beracun sudah berkurang. (e) Ekosistem Alun-Alun

Dalam kawasan TNGGP terdapat dua buah alun-alun, yaitu Alun-alun Suryakencana di Gunung Gede dan Alun-alun Mandalawangi di dekat Gunung Pangrango. Alun-alun Suryakencana memiliki luas sekitar 40 Ha, sementara Alun-alun Mandalawangi memiliki luas sekitar 5 Ha. Factor-faktor yang diduga sebagai penyebab tidak terbentuknya hutan di daerah ini adalah kondisi lingkungan yang ekstrim seperti tanah yang tandus dan sering terjadi kabut dingin.

(f) Ekosistem Danau

Beberapa ekosistem danau dapat ditemukan dalam kawasan TNGGP, antara lain Danau Situ Gunung dan Telaga Biru. Luas Danau Situ Gunung diperkirakan sekitar 10 Ha, dengan kedalaman air sekitar 6 m. air danau berwarna hijau kebiru-biruan, karena pada dasar danau terdapat lumut dan ganggang serta karena pantulan warna langit. Hutan sekunder alami dan

(7)

hutan tanaman damar disekitar danau membuat kondisi lingkungan daerah ini cukup menarik untuk areal wisata.

Sementara itu, Telaga Biru yang terletak pada ketingian 1.575 mdpl dan berjarak 1,5 km dari pitu masuk Cibodas, diperkirakan memiliki luas sekitar 500 m2 dan kedalaman air rata-rata 2 m dengan permukaan air berwarna biru.pada awalnya danau ini merupakan tempat penampungan air tetapi karena proses alami yang berlangsung lama membuat danau ini seperti terbentuk secara lami pula.

(g) Ekosistem Hutan Tanaman

Spesies Damar (Agathis lorantifolia) merupakan tanaman dominan dalam satuan ekosistem ini. Spesies ini ditanam pada tahun 1920 dengan luas 2,5 ha.

3.1.7. Flora

TNGGP dikenal dan banyak dikunjungi karena memiliki potensi hayati yang tinggi, terutama keanekaragaman spesies flora. Di kawasan ini hidup lebih dari 1000 spesies flora, yang tergolong tumbuhan berbunga (Spermatophyta) sekitar 900 spesies, tumbuhan paku lebih dari 250 spesies, lumut lebih dari 123 spesies, ditambah berbagai spesies ganggang, Spagnum, jamur dan spesies-spesies

Thalophyta lainnya.

Pohon rasamala terbesar dengan diameter batang 150 cm dan tinggi 40 m dapat ditemukan di kawasan ini di sekitar jalur pendidikan wilayah pos Cibodas. Spesies puspa terbesar dengan diameter batang 149 cm dan tinggi 40 m terdapat di jalur pendakian Selabinta – Gunung Gede. Sedangkan pohon jamuju terbesar ditemukan di wilayah Pos Bodogol.

Disamping pohon-pohon raksasa, di kawasan ini juga terdapat spesies-spesies yang unik dan menarik, diantaranya; “si pembunuh berdarah dingin” kantong semar (Nepenthes gymnamphora); “saudara si bunga bangkai” (Rafflesia

rochusseni); “si bunga sembilan tahun” (Strobilanthus cernua) yang berbunga

(8)

3.1.8. Fauna

Keanekaragaman flora di kawasan ini membentuk keanekaragaman habitat berbagai spesies satwa liar antara lain ; mamalia, reptilia, amfibia, aves, insecta dan kelompok satwa tak bertulang belakang. Dari kelompok burung (Aves) hidup 251 spesies atau lebih dari 50 % dari spesies burung yang hidup di Jawa. Salah satunya adalah “elang jawa” (Spizaetus bartelsi) yang ditetapkan sebagai “Satwa Dirgantara” melalui Keputusan Presiden No. 4 tanggal 9 Januari 1993. Dari kelompok mamalia tercatat sekitar 110 spesies, diantaranya owa jawa (Hylobates

moloch) yang langka, endemik dan unik; anjing hutan (Cuon alpinus) yang sudah

semakin langka dan kijang (Muntiacus muntjak). Selain itu terdapat serangga (insecta) lebih dari 300 spesies, reptilia sekitar 75 spesies, katak sekitar 20 spesies dan berbagai spesies binatang lunak (molusca).

3.2. Sejarah Introduksi Spesies Tumbuhan Asing Invasif di TNGGP

Kawasan hutan TNGGP merupakan salah satu kawasan terbasah dengan curah hujan yang tinggi. Angin yang berhembus merupakan angin Muson yang bergerak dengan kecepatan tinggi (Cyclon Tropic) terutama di musim hujan sehingga sering menyebabkan kerusakan hutan. Kecepatan angin yang tinggi terutama di bulan Desember hingga Maret selain mampu merobohkan pohon juga turut mengakomodasi penyebaran dan dominasi spesies asing tertentu ke dalam kawasan terutama di areal-areal terbuka (Gap) hutan.

Banyaknya tumbuhan asing yang telah menginvasi kawasan hutan TNGGP ini tidak terlepas dari sejarah berdirinya kawasan konservasi ini. Sejak tahun 1800-an kawasan ini telah dilindungi dan di gunakan untuk tujuan penelitian oleh pihak Pemerintah Kolonial Belanda yang ditunjukkan oleh terbitnya buku

Vegetation von Cibodas tahun 1811 – 1813 yang mendeskripsikan spesies-spesies

tumbuhan yang ada di hutan hujan pegunungan Cibodas. Pada tahun 1839 didirikan Kebun Pegunungan Cibodas yang ditandai dengan dibuatnya kebun aklimatisasi untuk pertama kalinya oleh JA. Teysman di bawah air terjun Cibeureum walau menuai kritik dari beberapa peneliti di kala itu, salah satunya adalah oleh Junghun. Pembuatan kebun aklimatisasi ini terus berlanjut ke beberapa lokasi lainnya dalam wilayah pegunungan ini termasuk di Puncak

(9)

Gunung Pangrango. Kebun pegunungan inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal berdirinya Kebun Raya Cibodas yang kini dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Baru pada tahun 1889 kawasan ini ditetapkan menjadi Cagar Alam Cibodas yang memiliki luas 240 ha. Kesadaran akan pentingnya kawasan konservasi untuk menyelamatkan ekosistem hutan pegunungan Jawa yang masih tersisa, menyebabkan Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan kawasan ini menjadi taman nasional pada tahun 1980 dengan luas 15.961 ha dimana spesies-spesies asing yang dimasukkan masih tetap dalam kawasan konservasi. Pada tahun 2003 TNGGP mengalami perluasan menjadi 22.851 ha dimana areal perluasan tersebut merupakan areal ex hutan produksi yang dikelola PT Perhutani dengan spesies tanaman asing monokultur seperti pinus dan damar. Walaupun tidak bersifat invasif, kondisi ini juga memerlukan penanganan untuk segera dikembalikan ke ekosistem aslinya.

Tumbuhan asing yang ditemukan di kawasan hutan TNGGP juga berasal dari kawasan yang berbatasan atau berdekatan dengan kawasan ini, namun diduga ada beberapa spesies yang berasal dari wilayah yang jauh dari kawasan. Hal ini dimungkinkan karena terbawanya biji-biji tumbuhan yang berasal dari wilayah yang jauh oleh kawanan burung yang bermigrasi setiap tahun dimana kawasan TNGGP merupakan salah satu jalur dan tempat persinggahan sementara bagi burung-burung tersebut. Terbentuknya celah akibat robohnya pohon oleh penyakit atau sebab-sebab alam lain memungkinkan masuknya sinar matahari yang merangsang tumbuhnya dan memberi kesempatan tumbuh dan berkembangnya biji-biji spesies asing di dalam kawasan.

Menurut Tjitrosemito (2004), walaupun tumbuhan asing non invasif berasal dari luar habitat alaminya namun karena keberadaannya tidak bersifat mengancam ekosistem suatu kawasan maka keberadaannya masih dapat ditolerir. Tumbuhan asing yang bersifat invasif atau lebih dikenal dengan invasive alien plant species adalah spesies tumbuhan yang tumbuh di luar habitat alaminya yang berkembang pesat dan menimbulkan gangguan dan ancaman kerusakan bagi ekosistem, habitat dan spesies tumbuhan lokal serta berpotensi menghancurkan habitat tersebut, oleh karena itu keberadaannya perlu di waspadai dan di kendalikan. Untuk itu dalam renstra ini spesies IAS yang dijadikan objek merupakan IAS yang ditetapkan

(10)

berdasarkan prioritisasi terhadap kecepatan tumbuhan ini berkembang dan mengancam keberadaan tumbuhan asli TNGGP.

3.3. Jumlah dan Penyebaran

Identifikasi dan inventarisasi alien species atau tumbuhan asing yang dilaksanakan pada tahun 2006 khususnya di kawasan hutan sub montana, montana dan sub alpin berhasil menemukan 35 spesies tumbuhan asing/alien species yang terdiri dari 6 spesies yang bersifat invasif (IAS), 1 kelompok spesies tanaman monokultur yang ditanam secara luas sehingga perlu dikendalikan dan 28 spesies lainnya bersifat tidak invasif yang tersebar pada ketinggian 1200 sampai dengan 2700 mdpl.

Tujuh spesies tumbuhan asing /alien species yang bersifat invasif dan perlu dikendalikan adalah sebagai berikut:

1. Kirinyuh (Austroeupatorium inulaefolium Kunth R. M. King & H. Rob) yang berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan ini ditemukan pada tepi kawasan yang berbatasan dengan penggunaan kawasan perluasan. Umumnya spesies ini menyebar dan berpengaruh ke dalam kawasan sampai tingkat tiang, pengaruh ini dicirikan dengan sifatnya yang mempunyai percabangan banyak, semak menahun dan seringkali mencapai ketinggian 7 m.

Laju perkembangbiakannya sangat cepat, memiliki senyawa

allelopaty pada anakan pohon, berkompetisi sangat kuat untuk mendapatkan

unsur hara tanah dan terlindung dari herbivora karena memiliki minyak esensial dan senyawa sekunder yang tidak disukai oleh satwa (Carrol, 1992). Selain itu spesies ini merupakan pesaing penting bagi regenerasi vegetasi asli, memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap kebakaran di daerah yang berbatasan dengan lahan pertanian, kepadatan populasinya dapat menentukan resiko dari bahaya kebakaran, karena memiliki minyak esensial yang tinggi untuk proses kebakaran.

Spesies ini tersebar di semua resort pada kawasan TNGGP dan telah menginvasi hampir seluruh kawasan di hutan sub montana dan hutan montana. Menurut data terakhir berdasarkan hasil monitoring lapangan yang

(11)

dilakukan rutin oleh petugas TNGGP diketahui bahwa penyebaran kirinyuh saat ini sudah mencapai kawasan sub alpin hingga Puncak Pangrango.

2. Kicente (Lantana nitrida) yang mempengaruhi tingkatan semai dan pancang termasuk tumbuhan antropokari yang di introduksikan secara sengaja tetapi tidak terkait dengan kegiatan manusia dalam pemencarannya karena telah diambil alih oleh pemencar alami yaitu burung. Spesies tumbuhan ini berasal dari Amerika (Julien, 1992). Spesies Kicente dapat ditemukan di semua resort pada tepi-tepi kawasan TNGGP yang berbatasan dengan penggunaan kawasan perluasan, kebun masyarakat dan kebun teh. Dari nilai INP terlihat bahwa spesies ini melimpah di temukan di Resort Sarongge dan Bodogol.

3. Spesies tumbuhan asing yang paling mengancam dan dan tergolong IAS di dalam kawasan TNGGP adalah Konyal (Passiflora suberosa dan Passiflora

edulis) yang berasal dari Amerika Selatan yang dimanfaatkan oleh

penduduk sekitar kawasan untuk meningkatkan pendapatan mereka. Spesies ini menyebar dan dapat beradaptasi pada ketinggian 1.500 mdpl – 1.750 mdpl, merupakan spesies asing yang merusak dan menginvasi hampir di setiap celah hutan, bijinya menyebar keseluruh hutan dan tumbuh dengan agresif pada saat terbentuknya celah hutan baru. Spesies tumbuhan ini sangat berkompetisi dengan spesies asli dan menghambat regenerasi hutan.

Menurut Sutasurya (1998) penyebaran ini terprediksi akan berlanjut pada setiap celah hutan baru setelah badai tahunan dari bulan Desember sampai bulan Januari dan berpindah ke areal lain melalui tepi atau batas kawasan hutan. Spesies tumbuhan ini sangat berkompetisi atau menjadi pesaing dengan spesies asli dan menghambat regenerasi hutan. Dari nilai INP terlihat bahwa spesies ini sangat melimpah ditemukan di Blok Bobojong Resort Gunung Putri dan di Resort Mandalawangi.

4. Babakoan (Eupatorium sordidum) berasal dari Mexico Amerika Selatan dan banyak menginvasi aliran sungai dan daerah berair lainnya. Spesies ini ditemukan hampir di semua Resort TNGGP. Begitu juga dengan Pisang Kole (Musa acuminata) yang berasal dari Jepang.

(12)

5. Kecubung atau bunga terompet (Brugmansia suaveolens) merupakan tumbuhan asing yang umum di jumpai hampir di seluruh kawasan TNGGP. Spesies ini berasal dari Brazilia Amerika Selatan dan merupakan spesies invasif di TNGGP. Berdasarkan nilai INP spesies ini sangat melimpah ditemukan di Blok Telaga Biru dan Airt Terjun Cibeureum Resort Mandalawangi.

6. Teklan (Austroeupatorium riparium) juga merupakan spesies asing yang bersifat invasif yang tersebar hampir di seluruh kawasan TNGGP. Spesies ini berasal dari Amerika Selatan dan merupakan gulma di areal pertanian penduduk. Kecepatan angin yang tinggi di dalam kawasan menyebabkan penyebarannya cepat dan mendominasi areal-areal terbuka. Daya adaptasi yang tinggi, toleransi terhadap naungan menyebabkan spesies ini ditemui merata di dalam kawasan hingga ketinggian lebih dari 2.000 mdpl.

7. Satu kelompok spesies hutan tanaman yaitu Kidamar (Agathis damara) merupakan tumbuhan asing yang berasal dari Australia yang ditemukan di Resort Cimungkat Seksi Konservasi Wilayah I Sukabumi dan Resort Cimande, Seksi Konservasi Wilayah II Bogor. Spesies ini ditanam secara luas dan menutupi hampir seluruh kawasan perluasan TNGGP di resort-resort tersebut.

Spesies tumbuhan lain yang ditemukan pada tepi kawasan TNGGP khususnya di Resort Cimande dan Resort Bodogol adalah Afrika (Maesopsis eminii). Spesies ini berasal dari Afrika dan berada dalam kawasan karena sengaja ditanam pada tahun 1920. Selain itu di kawasan ini juga ditemukan Pinus (Pinus merkusii) yang berasal dari Pulau Sumatra. Spesies-spesies tersebut memang tidak bersifat invasif, namun ditanam secara luas di areal yang saat ini masuk ke dalam kawasan taman nasional, sehingga, secara bertahap harus dieradikasi.

Berdasarkan penafsiran citra landsat beresolusi tinggi tahun 2009-2010 bahwa kehadiran pisang cole (Musa acuminata) telah terlihat secara jelas. Bahkan di beberapa area seperti Geger Bentang dan Mandalawangi beberapa spot telah tertutupi oleh pisang tersebut (Gambar 3).

(13)
(14)

3.4. Dampak Ekologi, Sosial dan Ekonomi

Invasi dan dominasi spesies tumbuhan asing invasif pada areal terbuka di TNGGP mengakibatkan terhambatnya regenerasi spesies tumbuhan asli. Dalam banyak hal pertumbuhan dan perkembangan spesies asing invasif, kerapatan tajuk, banyaknya biji yang dihasilkan sepanjang tahun serta kemampuan untuk menghasilkan dan melepaskan senyawa allelopathy yang dimilikinya sehingga mengakibatkan kematian anakan spesies pohon endemik atau lokal karena lambatnya pertumbuhan serta kekalahan dalam memperebutkan sumberdaya baik unsur hara dari dalam tanah maupun cahaya matahari.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Utomo (2006) diketahui bahwa terdapat 17 spesies pohon endemik yang populasinya terancam menurun sebagai dampak adanya spesies tumbuhan asing invasif di hutan pegunungan bawah dan 19 spesies pohon endemik di hutan pegunungan atas TNGGP. Spesies-spesies tersebut diantaranya adalah rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima

wallichii), manglid (Maglonia blumei), suren (Toona sureni), kisireum (Syzigium rostrattum), salam (Eugenia clavimirtus), serta berbagai spesies tumbuhan obat

dan jasad renik. Populasi yang menurun dari spesies pohon endemik tersebut terlihat dari sedikitnya jumlah permudaan pohon di daerah invasi baik di tingkat semai, pancang maupun tiang, bahkan beberapa spesies diantaranya sama sekali tidak memiliki permudaan.

Disebutkan pula bahwa konyal (Passiflora suberosa) dan kirinyuh (Austroeupatorium inulaefolium) merupakan 2 spesies tumbuhann asing invasif yang sangat membahayakan kelestarian spesies endemik di TNGGP. Konyal mampu memanjat dan menutup tajuk pohon endemik diantaranya rasamala (Altingia excelsa), puspa (Schima wallichii), manglid (Maglonia blumei), suren (Toona sureni) dan pada akhirnya seluruh tajuk akan tertutup oleh daun-daun konyal sehingga menyebabkan kematian pada pohon yang dirambatinya. Dengan patahnya dahan dan atau robohnya pohon akan menyebabkan masuknya sinar matahari dan menstimulir tumbuh dan berkembangnya spesies tumbuhan asing invasif lainnya.

(15)

berpengalaman hampir 30 tahun), bahwa terdapat 7 spesies tumbuhan endemik yang saat ini terancam oleh IAS yaitu :

a. Kibima (Podocarpus amarus), hanya tinggal 10 pohon di wilayah penyebaran aslinya,

b. Jamuju (Dacrycarpus imbricatus) c. Kiputri (Podocarpus nerifolius) d. Saninten (Castanopsis argentea) e. Pasang Batu (Lithocarpus inditus) f. Huru Koneng (Litsea tomentosa) g. Sintok (Cinnamomum sintox)

Penyebab turunnya populasi ketujuh spesies tersebut adalah karena:

a. Habitatnya telah di dominasi IAS terutama aster dan pisang kole (Musa

acuminata)

b. Perkecambahan dan pertumbuhan anakan terhambat oleh IAS

c. Penyebaran biji yang tidak terlalu jauh dari habitat induk, selain itu tidak ada agen (satwa/angin/manusia) yang dapat menyebarkan ke aeral yang lebih luas.

d. Gangguan iklim pada masa reproduksi seperti tingkat kelembaban tinggi, angin dan curah hujan yang tinggi.

e. Hama dan penyakit tanaman pada biji,

f. Proses eradikasi IAS yang turut membunuh biji dan bibit tumbuhan.

Keberadaan IAS di kawasan TNGGP berdasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi telah memperlihatkan bahwa:

a. Beberapa spesies spesies IAS seperti babakoan, kirinyuh, pisang kole dan teklan telah terkolonisasi secara lokal di wilayah-wilayah tertentu di TNGGP; b. Pada beberapa wilayah kolonisasi tersebut tidak ditemukan tumbuhan lain

selain spesies IAS yang mengkolonisasi tersebut (lantai hutan telah tertutup secara rapat)

c. Beberapa spesies tanaman endemik seperti Puspa, Saninten, Jamuju dan Rasamala terhambat pertumbuhannya bahkan mati karena kanopinya tertutup ataupun batang yang terlilit sehingga kekurangan cahaya dan unsur harai

(16)

d. Banjir / kecepatan air permukaan meningkat karena tidak adanya pohon2 besar yang mampu menahan air terutama di areal2 yang telah terkolonisasi oleh IAS.

e. Perubahan perilaku satwa. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan terlihat bahwa telah terjadi proses adaptasi beberapa satwa primata seperti lutung dan owa terhadap keberadaan pohon konyal (Passiflora suberosa dan Passiflora

edulis) dimana buah konyal telah menjadi salah satu sumber pakan bagi

mereka.

Keanekaragaman hayati TNGGP merupakan investasi terbesar untuk perekonomian nasional melalui pemanfaatan berkelanjutan sumber daya alam seperti plasma nutfah, air dan keragaman ekosistem. Penyebaran IAS yang tidak terkendali akan menyebabkan menurunnya atau hilangnya potensi keanekaragaman hayati TNGGP serta menimbulkan dampak negatif yang membutuhkan biaya mitigasi yang tinggi untuk mengendalikannya.

Selama ini, pengelolaan IAS di TNGGP telah melibatkan dan bekerjasama dengan relawan (volunteer) serta mayarakat lokal yang berada di sekitar kawasan. Beberapa spesies IAS menghasilkan buah yang memiliki pasar dan nilai jual untuk masyarakat lokal. Pada tahun 2007-2008, masyarakat lokal dan BBTNGGP melakukan kerjasama dalam mengeradikasi konyal (Passiflora suberosa dan

Passiflora edulis). Pengambilan konyal oleh masyarakat dilakukan untuk

membantu kehidupan ekonomi mereka dengan cara menjualnya. Namun kegiatan ini, ternyata memiliki dampak seperti terganggunya kehidupan satwa dan dimungkinkan membantu penyebaran spesies konyal itu sendiri sehingga upaya ini dihentikan.

Secara umum, masyarakat lokal di sekitar kawasan mendukung usaha pengelolaan IAS karena kesadaran dari masyarakat tersebut terhadap dampak negatif IAS terhadap kawasan konservasi TNGGP. Tetapi di lain pihak pengendalian IAS di TNGGP berpotensi mengandung konflik kepentingan antara ekologi dan ekonom masyarakati. Namun demikian, sesuai tujuan pengelolaan taman nasional, kepentingan ekologis harus di atas kepentingan ekonomi.

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Setelah Invoice diterima oleh Pelanggan dan di setujui, maka bagian Marketing & Trading membuat Berita Acara yang akan diberikan ke Pelanggan sebagai tanda

Penegakan hukum merupakan serangkaian upaya, proses,dan aktifitas untuk menjadikan hukum berlaku sebagaimana mestinya. 13 Prinsipnya dalam penegakan hukum, khususnya

Herowati Pusoko, Parate executie Obyek Hak Tanggungan (Inkonsistensi, Komplik Norma dan.. Ketiga bentuk opsi yang ditawarkan UUHT dalam pelaksanaan eksekusi obyek hak

Pertimbangan hukum dalam putusan hakim Pengadilan Tinggi yang menjatuhkan pidana terhadap anak yang membawa senjata tajam sebagaimana dalam dakwaan jaksa di

Teks Asmarasupi mujudake salah sawijine wiracarita sajrone kasusastran Jawa Anyar, teks iki nyritakake ngenani kaprawirane Raden Asmarasupi minangka satriya. Bab kaprawiran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pada penambahan boraks dan kalsium hidroksida berperan positif baik ketahanan pada lingkungan asam maupun

Eutiroidisme adalah suatu keadaan hipertrofi pada kelenjar tiroid yang disebabkan stimulasi kelenjar tiroid yang berada di bawah normal sedangkan kelenjar