MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 50/PUU-VIII/2010
PERIHAL
PERMOHONAN PENGUJIAN UNDANG-UNDANG
NOMOR 40 TAHUN 2004 TENTANG SISTEM
JAMINAN SOSIAL NASIONAL
TERHADAP
UNDANG-UNDANG DASAR
NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PERBAIKAN PERMOHONAN
(II)
J A K A R T A
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 50/PUU-VIII/2010 PERIHAL
Permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.
PEMOHON
Maemunah, dkk
ACARA
Pemeriksaan Perbaikan Permohonan (II)
Rabu, 15 September 2010 Pukul 09.35 - 09.57 WIB
Ruang Sidang Panel Lantai 4 Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Ahmad Fadlil Sumadi (Ketua)
2) Achmad Sodiki (Anggota)
3) Maria Farida Indrati (Anggota)
Saiful Anwar Panitera Pengganti
Pihak Yang Hadir: Pemohon:
- Willem Engelbert Lukas Warouw (Dewan Kesehatan Rakyat) - Salamuddin
Kuasa Hukum Pemohon:
1. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Sidang untuk Perkara Nomor 50/PUU-VIII/2010, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Bismillahirrahmanirahim, Assalamuallaikum wr. wb.
Saudara Pemohon, saya sudah menerima perbaikan yang Saudara ajukan per tanggal 12 Agustus 2010, diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi, untuk itu sebelum Saudara saya minta untuk menjelaskan perbaikannya, silakan Saudara perkenalkan siapa yang hadir pada pagi hari ini dalam persidangan ini. Silakan.
2. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr.wb
Kami Pemohon yang hadir, saya sendiri Hermawanto Selaku Kuasa Hukum, sebelah kiri saya Bapak Willem Engelbert Lukas Warouw selaku Pemohon nomor 7 dan sebelah sampingnya lagi adalah Bapak Salamuddin, Pemohon nomor 10.
Terima kasih, Yang Mulia.
3. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Jadi Prinsipal yang lain tidak hadir, ya. Dan Saudara di sini lalu menjadi kuasa satu-satunya ya, tidak ada…, biasanyakan dan kawan-kawan, gitu, ini Saudara sendiri, ya? Saudara sendiri. Disilakan Saudara untuk menyampaikan perbaikan-perbaikan yang disarankan oleh Hakim kemarin atau mungkin ada apa namanya temuan-temuan baru dari Saudara, sehingga Saudara karena masih punya hak lalu menambahkan di dalam permohonan ini. Disilakan.
4. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Terima kasih, Yang Mulia.
Sesuai dengan saran dan nasihat Majelis pada persidangan sebelumnya, kami melakukan beberapa perbaikan, sebelum masuk keperbaikan kami menambah 1 orang Pemohon sebelumnya adalah ada 9 orang Pemohon, ada 9 Pemohon dan kemudian kami tambah 1 pada Pemohon yang kesepuluh yaitu Saudara Salamuddin, kemudian
KETUK PALU 3X
berkaitan dengan pokok permohonan, sebelumnya kami mengajukan permohonan pengujian Pasal 17 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), ayat (5) dan ayat (6) di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009, namun ketika atas saran dan nasihat Majelis Hakim kami memperbaiki, kami hanya mengajukan permohonan untuk Pasal 17 itu hanya Ayat (1) dan ayat (2) dan ayat (3). Sehingga ayat (4), (5) dan (6) kami tidak jadi kami ajukan permohonan pengujian. Yang selanjutnya adalah berkaitan dengan nasihat Majelis tentang permohonan provisi, kami tidak memiliki argumentasi lain sehingga apa yang diharapkan oleh Majelis untuk diberikan argumentasi berkaitan permohonan provisi, kami tidak memberikan argumentasi lain. Sehingga kami mohon maaf saran dan nasihat Majelis Hakim kami tidak penuhi, karena kami tidak mampu untuk memenuhi itu, kami apa yang tercatat di dalam permohonan (…)
5. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Ini tetap, ya?
6. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Betul.
7. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Dalam provisi ini tetap dicantumkan.
8. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Betul, namun argumentasinya (…)
9. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Argumentasinya tetap juga?
10. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Betul. Kami belum bisa menambahkan, Yang Mulia. Berkaitan dengan beberapa argumentasi pasal demi pasal ataupun ayat yang dijadikan pokok permohonan, kami juga sudah memenuhi sependek pengetahuan kami menghubungkan pasal-pasal lain atau beberapa ayat-ayat lain di dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009. Sehingga menurut hemat kami inilah kemampuan kami, selebihnya kami serahkan kepada Majelis Yang Mulia untuk memeriksa dan memutuskan permohonan kami. Itu mungkin yang bisa kami sampaikan, Yang Mulia. Terima kasih.
11. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Terkait dengan batu uji atau uji konstutisionalitasnya yang jadi standar pengujian adalah Pasal 28I, ya. Kalau nulis I itu sebenarnya jejer gitu ya, 28I itu tidak dipisah, tidak ada space, sehingga ini seperti angka 1 itu, ya. Coba dibaca Undang-Undang Dasar itu naskah aslinya itu 28A sampai I itu selalu dempet enggak ada spasi itu, itu teknik menulisnya sebagai seorang advokat harus paham. Kemudian juga Pasal 34 gitu ya? ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 dan seterusnya, ini Saudara tambahkan juga pasal-pasal di dalam undang-undang tentang Hak Asasi Manusia, jangan lupa itu undang-undang itu bisa diuji jadi tidak bisa dijadikan patokan untuk menguji yang dapat digunakan sebagai patokan untuk menguji adalah pasal-pasal atau asas-asas konstitusionalitas dari konstitusi kita misalnya negara hukum, kemudian negara kesatuan dan seterusnya. Tapi…, oke ini, lalu pokok-pokok argumentasinya apa yang sangat baru yang Saudara ubah terkait pengujian Pasal 17 ya ayat (1), (2), dan (3) itu, apa sebenarnya yang paling…, yang paling baru?
12. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Terima kasih, Yang Mulia. Kalau yang paling baru sesungguhnya kami menggambungan item di dalam Pasal 17 ayat (1) misalnya dengan ketentuan Pasal 39 sampai dengan Pasal 42 Undang-Undang 40 Tahun 2004 misalnya adalah semua menegaskan tentang pekerja formal di sisi lain pekerja informal pekerja mandiri tidak punya hak atas pensiun artinya di situ kami Pemohon orang miskin menegaskan bahwa orang miskin enggak boleh hari tua, orang miskin itu enggak boleh pensiun yang boleh pensiun hanya pekerja saja dan yang mau membayar iuran, Pemerintah tidak pernah memberikan jaminan tentang orang miskin untuk bisa pensiun, ledek-ledekan kami adalah orang miskin tetap harus minum obat kuat sehingga biar kuat terus sampai tua Yang Mulia.
13. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Gitu ya. Jadi tidak ada pengaturan di dalam sistem jaminan sosial nasional itu yang menampung, yang mengakomodasi tentang pekerja mandiri atau pekerja informal itu. Bukan kah itu soal legislatif review?
14. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Betul, Yang Mulia. Namun karena hal ini sudah diatur dan menurut kami justru adanya semangat yang ada di dalam (suara tidak terdengar jelas) abjection menjadi undang-undang payung untuk memayungi dan memberikan jaminan seluruh Warga Negara Indonesia sebagaimana di dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 007 Tahun 2005 pada halaman 260 ditegaskan bahwa Sistem Jaminan Sosial harus
mencakup seluruh rakyat dengan maksud untuk memberdayakan masyarakat yang lemah, yang tidak mampun sesuai dengan martabat kemanusiaan. Hemat kami itulah norma yang ada di dalam putusan dan itulah yang seharusnya di dalam Undang-Undang JSN. Namun setelah kami kaji item pasal demi pasal, ayat demi ayat, ternyata tidak mencerminkan kaidah norma yang seperti itu, sehingga hemat kami Pasal 17 ayat (1) jika juga dihubungkan Pasal 1 ayat (5) Undang-Undang SJSN dimana iuran yang dibayar oleh Pemerintah adalah dalam bentuk bantuan dan dalam penjelasan yang lain disesuaikan dengan keadaan ekonomi Negara artinya ingin menegaskan sesuatu yang wajib menjadi sunah seperti itu. Jadi, tidak lagi menjadi fardu’ ain tetapi menjadi fardu kifayah.
15. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Jadi, kewajiban…, kewajiban itu musti dilaksanakan sepenuhnya kalau ditambah sesuai dengan kemampuan itu lalu menjadi sunah itu, Pak?
16. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Menjadi sunah menurut kami, karena di situ disesuaikan (…)
17. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Dari mana itu?
18. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Belum lagi dalam penjelasan yang lain ada klausul tentang disesuaikan dengan keadaan-keadaan, sehingga dari situ kami punya keyakinan mengikuti politik (suara tidak terdengar jelas) Pemerintah. Kalau pemerintahannya pas lagi berpihak kepada masyarakat maka dia akan jalankan, kalau Presidennya ganti dan tidak berperan masyarakat maka tidak lagi dijalankan, menurut kami undang-undang ini tidak memastikan jaminan bagi masyarakat miskin dan yang kedua justru menegasi Pasal 34, begitu Yang Mulia.
19. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Oke, jadi…, oke lah saya kira…, cukup Pak Hakim ada, silakan.
20. HAKIM ANGGOTA : MUHAMMAD ALIM
hanya halaman 1 dan halaman 2 yang ada coba Saudara lihat kebagian bawah sekian banyak itu halaman 2 itu barangkali berapa lembar itu, ya kan? Sehingga saya bingung, ya nanti barangkali…, coba Saudara lihat ya saya enggak tahu halaman berapa ini? 3 lembar dari belakang, 3 lembar dari belakang yang cetak tebal itu lho, halaman 2 ini tapi kan tidak tahu halaman berapa. Itu coba saudara pemohon lihat ok, coba lihat ya. Berdasarkan uraian tersebut di atas maka pemohon berkesimpulan ketentuan rumusan Pasal 17 ayat (1), (2) mestinya itu nya yang 2 itu ayat lagi. Ayat (1), ayat (2). Kemudian keseterusnya ke bawah itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 ayat (1) oke, ini yang 28 ayat (2) dan ayat (3) sudah benar itu, coba lihat. Itu lho yang di bawah sebelum dua baris dari sebelum petitum. Itu kan Pasal 28 ayat (2), itu sudah betul dan ayat (3) itu sudah betul. Tapi yang lain 28I ayat (1) eh ayat (2), (4), (5) itu harus tambah ayat di depannya, oke. Jadi harus ada kata ayat itu supaya menurut teknik penulisannya.
Demikian pula di halaman 2 dari terakhir tapi halaman 2 juga kan namanya ini tolong Saudara lihat, itu dalam, barangkali dalam pokok pemohonan. Kata pokoknya tidak ada. Jadi dalam pokok permohonan, oke. Kemudian sesudah pokok permohonan itu ditulis ada baris ke-3 ke bawah permohonan pengujian pasal 17 ayat (1) oke, ayat (2) musti tulis lagi kata ayat dalam (2) ayat (3) ya. Kemudian di petitum ke-2 Anda lihat butir ke-7 nomor 2 ayat (1), ayat (2), ayat (3) ayat dan seterusnya yang ke-3 juga demikian ayat (2), ayat (3) di tulis kata ayatnya lagi. Di petitum ke-4 juga ada baris ke-2 pasal 17 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3). Itu hanya penulisan saja ya, tolong dan ini halamannya halaman 2 dan 1 saja tolong diperbaiki. Terima kasih, Pak Ketua
21. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Dalam permohonan Saudara ini apa tidak pernah ada kasus atau persitiwa dimana pemerintah melakukan suatu upaya jaminan kesehatan lewat program-program yang bersifat affirmative? Ada raskin, ada asuransi dan sebagainya, ini apa Saudara sudah juga mencoba untuk mengemukakan di sini dan mengkritisi itu yang merusak yang bisa disimpulkan bahwa itu belum cukup? Harusnya harus ada apa itu semacam pemaparan yang objektif, sebab itu kalau tidak dianalisis tentunya akan dipantau oleh pihak pemerintah dengan hal demikian. Ketiga tentunya kondisional Saudara, yang ayat (4) Saudara, 17 ayat (4) didrop itu ya? Didrop ya sudah, jadi tentunya ini Saudara perhatikan supaya memang ada, mungkin ada bangunan konsep dulu tentang Negara kesejahteraan yang kita konsepkan itu apakah, apa seperti itu sebab, Negara itu kelihatannya semakin tidak mampu untuk menjamin yang demikian. Ada semacam krisis negara kesejahteraan di Eropa yang dulu semua dijamin oleh Negara akhirnya juga tidak mampu, Apakah itu mungkin konsep itu untuk Indonesia mau diteruskan dimana
pengalaman negara-negara Eropa juga tidak mampu untuk itu? Nah
tentunya ini justru persoalan masalah keadilan sosial, keadilan distributif, keadilan dimana orang miskin dan tidak mampu membayar itulah yang kemudian berdasarkan kebutuhannya dia justru harus ditopang. Jadi tentunya nanti tafsirannya adalah tafsiran yang sepanjang bahwa
bla..bla..bla…untuk orang-orang miskin ini ditanggung oleh negara, kondisinya harus begitu supaya nanti, jarak antara yang miskin dan yang kaya itu semakin tertutup gitu ya. Nah, oleh sebab itu nanti tentu akan mempengaruhi petitum-petitum Saudara sampaikan di sini. Sebab nanti kalau itu kemudian Saudara nyatakan itu tidak, tidak bertentangan dengan UUD lalu kemudian dasar untuk memberikan jaminan sosial dimana? Ya toh. Ini (suara tidak jelas) mengabulkan menyatakan pasal ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar tidak mempunyai ketetapan hukum kalau itu kemudian didrop lalu kira-kira apa yang menjadi dasar negara akan memberikan suatu bantuan penjaminan sosial ini kan kosong kan. Di sini Saudara barangkali masih punya pemikiran ini sekedar anu ya sekedar saran boleh Saudara pertimbangkan tapi waktunya mungkin sudah habis waktu tapi Saudara saya kira ini juga suatu pemikiran ya. kalau ini didrop kemudian akan bagaimana dinyatakan discrap lalu bagaimana untuk memberikan iuran negara akan kontribusi itu ya.
Terima kasih.
22. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Ya, saya kira nasehat ini berbeda maknanya, kalau pada sidang pertama kemarin itu manfaatnya dapat digunakan sebagai poin untuk memperbaiki kalau nasehat yang sekarang setelah Saudara memaparkan perbaikan ini karena waktu sudah habis waktu perbaikan maka poin-poin yang di sampaikan itu manfaatnya nanti untuk menambah argumentasi Saudara ketika kita nanti misalnya setelah saya dan Majelis ini melaporkan kepada pleno, pleno memutuskan untuk diteruskan dalam sidang pleno dengan memanggil DPR dan Pemerintah. Terkait dengan itu Saudara tidak cukup untuk membangun argumentasi saja, tapi juga Saudara menyiapkan Saksi-Saksi atau bukti-bukti pada umumnya, bukti tulis, Saksi, oral apa effidents itu kemudian juga tidak kalah pentingnya kalau ada Ahli yang dapat Saudara ajukan silakan disiapkan Saudara sejak sekarang dan mestinya sejak Saudara mau maju itu sudah punya gambaran ahli yang mau diajukan itu berapa, siapa juga Saksi yang mau diajukan itu berapa? Siapa? Saudara harus tahu persis Saksi itu menjelaskan tentang fakta yang dialami, didengar, dilihat kemudian kalau Ahli menerangkan bagaimana perspektif permohonan Saudara ini, menurut keahlian yang dipunyai oleh ahli itu gitu. Itu penting untuk Saudara siapkan dan argumentasi penting untuk Saudara sampaikan supaya Hakim, DPR dan Pemerintah atau Presiden itu yakin terhadap
Ada yang ingin Saudara katakan?
23. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Terima kasih, Yang Mulia.
Sebenarnya nasehat yang tadi disampaikan oleh Yang Mulia Majelis Hakim Pak Achmad Sodiki pernah juga kami diskusikan tentang tafsir dari pasal ini, namun kami sadar bahwa condition in constitutional itu selama ini memang kesannya menjadi hak preogratif Mahkamah dalam putusannya karena hampir yang kami pahami di dalam undang-undang fungsi negatif intelegent itu, sehingga kami hanya mengajukan permohonan untuk dibatalkan.
24. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Oke.
25. KUASA HUKUM PEMOHON : HERMAWANTO
Persoalan bahwa kemudian Majelis Yang Mulia itu memutuskan di luar apa yang kami mohonkan untuk, misalnya adalah penafsiran atas pasal itu adalah kewenangan Mahkamah, karena itu yang kami pahami hingga saat ini. Sehingga kami mohon maaf, sebenarnya kami memang sudah mendiskusikannya cukup, namun seperti itulah yang kami sampaikan, Yang Mulia.
26. KETUA : AHMAD FADLIL SUMADI
Oke, yang penting Saudara siap-siap manakala nanti pleno memutuskan untuk forced untuk lanjut gitu ya? Kalau tidak ada yang ingin Saudara katakan maka sidang ini dianggap selesai dan segera akan saya nyatakan sidang dinyatakan ditutup.
KETUK PALU 3X
Jakarta, 15 September 2010
Kepala Biro Administrasi Perkara dan Persidangan,
Kasianur Sidauruk
NIP. 19570122 198303 1 001