Latar Belakang
Jumlah petani di Indonesia menurut data BPS mencapai 45% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 42,47 juta jiwa. Sebagai negara dengan sebagian besar penduduk bekerja pada sektor pertanian, Indonesia hendaknya mewujudkan sektor pertanian sebagai unggulan (basis) ekonomi nasional demi peningkatan kesejahteraan rakyat. Untuk menjadikan sektor pertanian sebagai sektor unggulan dalam pembangunan ekonomi nasional, tranformasi pembangunan pertanian harus dilakukan ke arah pembangunan agribisnis. Pembangunan agribisnis memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan daerah. Daerah yang ingin membangun ekonomi kerakyatan harus menjadikan pembangunan agribisnis sebagai fokus perhatian pembangunan. Hal ini disebabkan karena saat ini hampir seluruh ekonomi di daerah Indonesia berbasiskan sistem agribisnis, baik dikaji dari Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), penyerapan tenaga kerja, maupun ekspor daerah (Saragih 2010).
Operasionalisasi pembangunan sistem dan usaha agribisnis sebaiknya dilaksanakan melalui pengembangan kawasan dan pusat-pusat pertumbuhan berbasis komoditas sesuai dengan keunggulan masing-masing daerah. Oleh karena itu, daerah perlu mencermati sejumlah komoditas yang mempunyai keunggulan sesuai dengan kondisi wilayah untuk dikembangkan secara berkesinambungan. Ini berarti mulai meletakkan dasar kebijakan peningkatan produksi dalam sistem ekonomi kerakyatan dengan pertimbangan potensi alam, kondisi sosial ekonomi, penguasaan teknologi, kemampuan manajerial dan pemanfaatan sumber daya alam lokal.
Saat ini di beberapa negara berkembang seperti negara-negara ASEAN negara-negara di Asia Selatan, Afrika, Eropa Timur, dan Amerika Selatan telah menerapkan progran OVOP (One village One Product) untuk mendukung pengembangan potensi daerah. OVOP dirintis oleh Prof. Morihiko Hiramatsu yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Oita, Jepang tepatnya pada 1980. OVOP merupakan suatu pendekatan pengembangan potensi daerah di suatu wilayah untuk menghasilkan suatu komoditas yang mampu bersaing di pasar global, dengan tetap memiliki ciri khas keunikan karakteristik dari daerah tersebut. Komoditas yang dihasilkan adalah komoditas yang memanfaatkan sumber daya lokal, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia dengan tetap menekankan pada nilai tambah lokal dan mendorong semangat menciptakan kemandirian masyarakat. Selain itu, konsepsi yang ditekankan dalam program ini, bahwa yang penting bukan hanya kemakmuran dari segi ekonomi (Gross National Product) tetapi juga kepuasan batin (Gross National Satisfaction) masyarakat setempat (Sugiharto dan Rizal 2008).
Komoditas unggulan yang pada dasarnya bersifat dinamis, dipilih sesuai dengan potensinya dalam meningkatkan pendapatan atau menghemat devisa, meningkatkan nilai tambah, dan menyerap tenaga kerja secara produktif, serta berbasis utama pada sumber daya domestik yang ada (Rusono 1999). Sejalan dengan apa yang dikemukkan oleh Saragih (2010), dimana salah satu landasan kebijakan pembangunan pertanian dengan mengembangkan komoditas unggulan
yang berbasis pada keanekaragaman sumber daya, kelembagaan dan produk lokal. Oleh karena itu, kriteria dan pertimbangan utama dalam pemilihan komoditas unggulan meliputi: 1) memiliki peluang ekspor maupun substitusi impor secara kompetitif; 2) mempunyai potensi basis sumber daya yang relatif siap dimanfaatkan; 3) adanya terobosan teknologi, manajemen, dan kelembagaan; 4) berpotensi meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan dan penanganan pasca panen; 5) memberikan peluang kerja bagi masyarakat dalam proses produksi, pengolahan maupun jasa.
Tabel 1 menjelaskan kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia tahun 2012, terlihat bahwa pertanian menempati urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Ini membuktikan bahwa sektor pertanian mempunyai peranan cukup besar dalam pengembangan perekonomian di Indonesia. Tetapi pada kenyataannya, sektor pertanian tidak dipersiapkan untuk dapat bersaing dengan negara lain. Pada tahun 2012, pertumbuhan sektor pertanian di Indonesia hanya sekitar 3,97% lebih rendah dari sektor lain padahal sektor tersebut diperlukan untuk mendukung sektor lain sebagai bahan baku.
Tabel 1 Produk domestik bruto Provinsi Papua Barat atas dasar harga konstan 2000 menurut lapangan usaha (miliar rupiah) tahun 2012
Lapangan Usaha 2012 Proporsi (%)
1. Pertanian, Peternakan, Kehutanan
dan Perikanan 327.549,70 12,5
2. Pertambangan dan Penggalian 192.585,40 7,3
3. Industri Pengolahan 670.109,00 25,5
4. Listrik, Gas & Air Bersih 20.131,40 0,7
5. Konstruksi 171.996,60 6,5
6. Perdagangan, Hotel & Restoran 472.646,20 18,0 7. Pengangkutan dan Komunikasi 265.378,40 10,1 8. Keuangan, Real Estate & Jasa
Perusahaan 253.022,70 9,6
9. Jasa-jasa 244.719,80 9,3
Produk Domestik Bruto 2.618.139,20 100
Sumber: BPS 2013(diolah)
Kontribusi pengembangan agribisnis dalam upaya peningkatan perekonomian Indonesia dapat dijadikan isu pokok mengingat potensi sektor pertanian Indonesia yang sangat besar, akan tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Potensi sektor pertanian memungkinkan untuk pengembangan agribisnis sebagai sumber pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Hal ini didasarkan pada: 1) Potensi sumberdaya alam Indonesia tersedia cukup besar; 2) Sektor pertanian merupakan sumber bahan baku industri-industri domestik masih sangat dibutuhkan; 3) Beberapa komoditas pertanian Indonesia mempunyai daya keunggulan komparatif di pasar internasional; dan 4) kemampuan sektor pertanian menyerap tenaga kerja, meningkatkan dan meratakan pendapatan masyarakat.
Kondisi sumberdaya yang mendukung serta struktur ekonomi dibeberapa wilayah Indonesia yang berbasis pada pertanian, maka upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pembangunan agribisnis komoditas unggulan
adalah dengan meningkatkan produktivitas serta mengembangkan berbagai kegiatan industri yang terkait dengan potensi sektor tersebut. Peningkatan produktivitas diharapkan akan dapat mendukung peningkatan pendapatan. Hal ini tentunya harus diikuti dengan peningkatan investasi dalam berbagai kegiatan industri serta kegiatan pendukung sektor lainnya.
Salah satu wilayah yang memiliki sumber daya yang dapat mendukung pengembangan agribisnis pertanian adalah Provinsi Papua Barat. Saat ini sektor pertanian di Papua Barat masih menjadi sektor unggulan yang memberikan kontribusi terbesar kedua bagi perekonomian nasional dan daerah, baik secara langsung maupun tidak langsung. Peran secara langsung antara lain melalui kontribusi terhadap PDRB, sumber devisa, dan penyedia lapangan kerja. Sementara itu, dampak tidak langsung diperoleh akibat efek pengganda aktifitas sektor pertanian melalui keterkaitan Input-Output antar industri, konsumsi dan investasi.
Tabel 2 Kontribusi PDRB Provinsi Papua Barat atas dasar harga konstan menurut lapangan usaha tahun 2009-2011 (%)
Lapangan Usaha 2009 2010 2011 Laju
(%/Tahun) 1. Pertanian / Agriculture 26,03 21,51 17,17 -6,60 Tanaman Pangan 4,75 3,99 3,04 -1,33 Tanaman Perkebunan 2,61 2,15 1,86 -0,52 Peternakan 1,56 1,3 1,08 -0,35 Kehutanan 7,11 5,7 4,53 -1,87 Perikanan 9,99 8,36 6,66 -2,51 2. Pertambangan 15,09 11,64 9,7 -3,66 3. Industri Pengolahan 18,78 32,15 41,61 16,14 4. Listrik Dan Air Bersih 0,44 0,36 0,31 -0,09
5. Bangunan 8,98 7,67 6,77 -1,55 6. Perdagangan 9,82 7,94 7 -1,88 7. Pengangkutan dan Komunikasi 7,57 6,54 5,8 -1,25 8. Keuangan 2,55 2,12 1,85 -0,48 9. Jasa-Jasa 10,74 10,08 9,79 -0,62
Sumber: BPS Provinsi Papua Barat 2012 (diolah)
Sasaran Pembangunan Pertanian Provinsi Papua Barat adalah meningkatkan produktivitas tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat serta meningkatkan pendapatan petani. Namun, pada tahun 2010 kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Papua Barat turun dari 21,51% mencapai 17,17% yang menduduki urutan kedua setelah industri pengolahan (41,61%). Dari kontribusi sektor pertanian tersebut kontribusi terbesar adalah sektor perikanan (6,66%), kehutanan (4,53%) dan tanaman pangan (3,04%). Terlihat pada Tabel 2 bahwa laju pertumbuhan hampir semua sektor adalah negatif kecuali industri pengolahan. Produksi LNG mempengaruhi pergeseran struktur ekonomi Papua Barat sejak tahun 2010. Hal ini mendorong sektor industri pengolahan menjadi sektor terbesar yang menyumbang nilai PDRB pada tahun
2011. Keadaan tersebut menggeser kontribusi sektor pertanian yang selama ini menjadi sektor dominan di Papua Barat.
Papua Barat memiliki sumber daya lahan yang sangat berpotensi untuk pengembangan pertanian. Berdasarkan Atlas Tata Ruang Pertanian Indonesia, dari 9,9 juta ha luas lahan Provinsi Papua Barat, seluas 2,7 juta Ha berpotensi untuk pertanian, tetapi baru sekitar 0,62 juta Ha (33%) yang dimanfaatkan sebagai lahan pertanian (BPS Provinsi Papua Barat 2012). Sumber daya lahan pertanian di Papua Barat berperan sebagai penghasil sumber pendapatan petani dan daerah, sehingga upaya untuk mengembangkan pertanian perlu dilakukan. Mengingat sebagian besar masyarakat etnis Papua masih menggantungkan kehidupannya pada sumber daya lahan dan lingkungan maka usaha pengembangan pertanian secara tidak langsung juga meningkatkan taraf hidup, pendapatan, dan kesejahteraan mereka. Selain sumber daya lahan, Provinsi Papua Barat juga memiliki potensi sumber daya manusianya, yaitu sekitar 163.164 jiwa atau 48,50% dari total angkatan kerja penduduk Provinsi Papua Barat bermatapencaharian sebagai petani (BPS Papua Barat 2012). Produksi komoditas utama menurut Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Papua Barat tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 3 dan 4.
Tabel 3 Luas lahan dan produksi komoditas utama di Provinsi Papua Barat tahun 2011
Jenis Komoditas Luas Panen (Ha) Produksi (ton) Tanaman Pangan 1. Padi 2. Jagung 3. Ubi kayu 4. Ubi jalar 5. Kacang tanah 6. Kedelai 7. Sayur-sayuran 8.283 1.278 1.744 1.018 596 375 5.319 29.303 2.125 20.440 10.410 625 403 22.790 Tanaman Perkebunan 1. Kelapa 2. Kelapa sawit 3. Kakao 4. Pala 21.154 13.157 9.131 5.816 17.710 45.358 5.133 588 Sumber: BAPPEDA Papua Barat 2012
Tabel 4 Populasi dan produksi daging peternakan di Provinsi Papua Barat tahun 2011
Peternakan Popuasi (ekor) Produksi (Kg)
1. Sapi 2. Kambing 3. Babi 4. Ayam Buras 5. Ayam Ras 41.462 16.810 78.420 1.021.581 581.089 2.316.136 39.834 334.950 767.944 454.464 Sumber: BAPPEDA Papua Barat 2012
Produksi pertanian yang mendukung pengembangan agribisnis di Provinsi Papua Barat tersebar pada seluruh kabupaten. Kontribusi perkebunan terhadap PDRB Papua Barat tergolong kecil dibandingkan perikanan, kehutanan dan tanaman pangan, namun produksi terbesar masih di duduki oleh sektor perkebunan. Produksi terbesar tanaman perkebunan yang diproduksi adalah kelapa sawit. Sedangkan tanaman pangan yang diproduski antara lain, padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah dan kedelai.
Provinsi Papua Barat memiliki kondisi agroekosistem (iklim dan topografi, sumber daya lahan dan sumber daya air) serta sumber daya manusia dan sosial budaya yang mendukung pertumbuhan pertanian di Provinsi Papua Barat. Potensi sumber daya pertanian yang dimiliki oleh Provinsi Papua Barat hendaknya dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah. Salah satu pemanfaatan potensi tersebut yaitu dengan revitalisasi pertanian, tentunya dengan menitik beratkan pada komoditas-komoditas yang menjadi unggulan di Provinsi Papua Barat agar dapat bersaing dengan daerah lain. Untuk itu perlu adanya identifikasi komoditas unggulan serta penyusunan strategi arah pengembangan agribisnis komoditas unggulan agar mampu bertahan menghadapi persaingan pada era globalisasi ini serta dapat meningkatkan perekonomian daerah.
Rumusan Masalah
Pemanfaatan potensi wilayah untuk pengembangan agribisnis sebaiknya sesuai dengan komoditas yang unggul berdasarkan agroekosistem wilayah tersebut agar memiliki produksi dan produktivitas yang tinggi, memiliki pasar yang jelas sehingga komoditas tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi serta sesuai dengan daya dukung wilayah agar keberlangsungan pengembangan agribisnis komoditas dapat terjaga (Saragih 2010). Penentuan komoditas unggulan daerah merupakan langkah awal menuju pembangunan yang berpijak pada konsep efisiensi dan dapat mendukung kebijakan pengembangan masyarakat pedesaan serta dapat mengetahui keunggulan komperatif dan kompetitif masing-masing daerah (Oddershede et al. 2007). Penetapan komoditas unggulan tentu saja harus berdasarkan kriteria yang sesuai dengan kondisi wilayah setempat. Kriteria-kriteria tersebut antara lain kesesuaian agroekosistem, memiliki nilai ekonomi tinggi, sesuai dengan sosial budaya setempat dan memiliki teknologi dan infrastruktur yang baik. Untuk itu setiap wilayah memiliki komoditas unggulan yang berbeda-beda sesuai dengan kriteria yang dimiliki (Badan Litbang Pertanian 2003).
Penentuan komoditas unggulan pertanian di Provinsi Papua Barat selama ini hanya berdasarkan potensi produksi, tanpa berdasarkan kreiteria-kriteria penetapan yang sesuai dengan wilayah Papua Barat. Komoditas unggulan tersebut dapat dilihat pada Tabel 5. Selain itu, pemerintah daerah setempat belum secara spesifik melakukan pemetaan wilayah-wilayah sentra produksi komoditas pertanian. Hal ini tentu memiliki kelemahan dalam menunjang pengembangan agribisnis dari subsektor hulu hingga hilir di wilayah Papua Barat.
Salah satu pendekatan wilayah basis pengembangan agribisnis komoditas unggulan daerah adalah dalam satuan wilayah kabupaten. Satu kabupaten
dipandang sebagai satu kesatuan wilayah pengembangan yang memiliki keunggulan kompetitif untuk menghasilkan satu atau beberapa komoditas. Kabupaten dengan daya dukung agroekosistem yang sesuai akan menjadi penyumbang utama pembangunan pertanian daerah. Konsentrasi wilayah pengembangan komoditas utama di beberapa kabupaten sentra (basis) dengan kondisi agroekologi yang sesuai akan mempermudah pengembangan komoditas-komoditas tersebut. Pengetahuan tentang lokasi–lokasi (kabupaten) basis akan mempermudah kemungkinan pengembangan untuk memenuhi target kenaikan produksi dengan investasi yang lebih efisien.
Tabel 5 Komoditas unggulan Provinsi Papua Barat berdasarkan potensi luas lahan dan produksi
Komoditas Unggulan Luas Lahan Produksi (ton) 1. Perkebunan - Kakao - Kelapa sawit - Pala - Kelapa 8.463 16.540 5.911 10.942 8.962 17.326 1.749 5.965 2. Pangan - Padi - Ubi kayu - Ubi jalar 8.550 1.963 2.170 27.520 21.913 21.405 Sumber: Supriadi 2008
Diperlukan suatu kajian tentang potensi unggulan yang dimiliki tiap wilayah tersebut agar dapat ditentukan metode pengembangan wilayah yang tepat. Pengembangan agribisnis berbasis komoditi unggulan akan memiliki arti penting bagi penyusunan sistem pembangunan daerah, khususnya Provinsi Papua Barat. Secara umum basis ekonomi wilayah dapat diartikan sebagai sektor ekonomi yang aktifitasnya menyebabkan suatu wilayah itu tetap hidup, tumbuh dan berkembang atau sektor ekonomi yang pokok disuatu wilayah yang dapat menghidupi wilayah tersebut beserta masyarakatnya. Basis ekonomi memainkan peran yang vital didalam menentukan tingkat pendapatan wilayah. Untuk itu, penelitian ini melihat jenis komoditas apa yang menjadi unggulan? Bagaimanakah sebaran sentra komoditas unggulan di Provinsi Papua Barat? serta bagaimana arah pengembangan agribisnis di Provinsi Papua Barat?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah yang telah diuraikan, maka secara umum tujuan yang ingin dicapai adalah menentukan arahan prioritas yang sesuai untuk pengembangan agribisnis komoditas unggulan di Provinsi Papua Barat, sedangkan tujuan spesifik penelitian ini adalah:
1. Menganalisis prioritas penetapan komoditas unggulan Provinsi Papua Barat. 2. Menganalisis sentra wilayah pengembangan komoditas unggulan di Provinsi
Papua Barat
Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi, masukan dan manfaat yang besar, baik bagi pemerintah maupun bagi masyarakat dan pengusaha yang akan bergabung dalam pengembangan agribisnis di Provinsi Papua Barat serta mampu mengembangkan serta meningkatkan produksi komoditas unggulan (basis) tersebut bagi sistem pembangunan pertanian di Papua Barat.
Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam membuat dan meninjau kembali kebijakan dan program-program peningkatan pertumbuhan pertanian serta komoditi pilihan yang harus dikembangkan secara intensif demi tercapainya sistem perekonomian daerah yang kokoh. Diharapkan juga penelitian ini mampu mendorong minat peneliti-peneliti berikutnya terkait dengan komoditi unggulan daerah dalam usaha peningkatan dan pengembangan sektor pertanian serta komoditi-komoditi unggulan di suatu wilayah.
Ruang Lingkup
Penelitian ini secara umum memberikan arahan mengenai wilayah-wilayah yang akan dijadikan sentra arah pengembangan agribisnis komoditas unggulan di Provinsi Papua Barat. Komoditas yang di teliti adalah komoditas unggulan yang sesuai dengan komuditas utama yang dikembangkan di Papua Barat menurut BAPPEDA Provinsi Papua Barat. Komoditas-kemuditas tersebut antara lain kelompok tanaman pangan adalah padi, jagung, ubi jalar, ubi kayu, kedelai dan kacang tanah; kelompok hortikultura adalah tanaman sayuran; kelompok tanaman perkebunan adalah kelapa, pala, kelapa sawit dan kakao; dan kelompok peternakan adalah sapi, kambing, babi dan ayam. Buah-buahan pada kelompok tanaman hortikultura dan komoditas perikanan tidak diteliti karena keterbatasan data yang diperoleh.
Kemudian secara spesifik, dilakukan penentuan prioritas komoditas unggulan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) sesuai dengan kriteria-kriteria yang dibangun sesuai dengan kriteria yang telah di tetapkan oleh badan litbang pertanian dan penelitian-penelitian sebelumnya. Kriteria tersebut adalah kesesuaian agroekosistem, memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan sesuai daya dukung daerah. Untuk mendukung penilaian AHP maka dilakukan analisi pendukung dari setiap aspek-aspek seperti, analisis produktivitas, Location Quotient (LQ), Shift Share, analisis R/C rasio dan B/C rasio serta perhitungan lainnya. Selanjutnya dilakukann penetapan sentra pengembangan berdasarkan kriteria produktivitas, produksi, jarak ekonomi, potensi lahan dan kesesuaian lahan. Terakhir adalah rekomendasi arah pengembangan agribisnis komoditas unggulan di Provinsi Papua Barat berdasarkan hasil AHP yang telah dilakukan.