• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Singkat Berdirinya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sejarah Singkat Berdirinya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bab ini akan mengemukakan hasil wawancara dengan subjek dan analisis hasil wawancara.

4.1 Gambaran Umum Obyek Penelitian

4.1.1 Sejarah Singkat Berdirinya Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat

Karaton Ngayogyakarta berdiri pada tahun 1755 Masehi atau tahun Jawa 1682 oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I. Luas daerah keraton adalah 14.000 km pada masa kini hanya sekitar 1,5km persegi. Terdapat dua tempat tinggal raja yang dikenal dengan Keraton Kasultanan dan Pura Pakualaman. Keraton Kasultanan merupakan tempat tinggal Sultan ( Sri Sultan Hamengku Bowono ) sedangkan Pura Pakualaman adalah tempat tinggal Paku Alam ( Sri Paduka Paku Alam ).

Bangunan Kraton Yogyakarta terdiri atas 7 bangsal dan diapit oleh dua alun-alun ( utara dan selatan ) sedangkan untuk bangunan ini kraton dikelilingi oleh tembok segi empat yang disebut benteng. Tinggi benteng 3,5 meter,dengan kelebaran antara tiga sampai empat meter. Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu gerbang yang disebut plengkung. Terdapat lima pintu gerbang yaitu, Plengkung Tarunasura arau Plengkung Wilijan di sebelah timur laut Kraton , Plengkung Jogosuro atau Plengkung Ngasem ada di sebelah barat daya, Plengkung Joyoboyo atau Plengkung Tamansari di sebelah barat , Plengkung

(2)

Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah selatan , Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah Timur.

Wilayah kecamatan Kraton atau Jero Benteng, selain di huni oleh raja beserta keluarganya , juga di huni oleh kaum bangsawan dan kerabat- kerabat raja beserta abdi dalem yang dikelompokkan menurut tugas mereka didalam kraton sehingga nama kampung tempat tinggal mereka sesuai dengan tugasnya1.

4.1.2 Sejarah Sekaten

Sekaten merupakan suatu tradisi yang telah ada sejak jaman kerajaan Demak. Pada jaman dahulu upacara Sekaten diselenggarakan untuk syiar agama oleh para Wali Songo. Para wali yakin bahwa masyarakat menggemari bunyi gamelan, maka Sunan Giri yang merupakan salah satu dari wali membuat seperangkat gamelan yang diberi nama Kyai Sekati dan juga menciptakan gendhing untuk alat penyebaran agama islam. Gamelan Kyai Sekati, setiap tahun dibunyikan untuk memeriahkan peringatan hari lahir Nabi Muhammad s.a.w atau yang lebih dikenal dengan istilah Maulid Nabi.

Sekaten berasal dari kata syahadatain2 yaitu dua kalimat yang diucapkan seseorang ketika akan memeluk agama Islam. Dalam syahadat tersebut terdiri dari kalimat pertama yang berarti pengakuan kepada Allah , dimana dalam perayaan Sekaten dilambangkan dengan Gamelan Kyai Guntur Madu, sedangkan kalimat kedua merupakan pengakuan bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai

1

Website kratonjogja.co.id 2

(3)

utusan Allah, dalam perayaan sekaten dilambangkan dengan Gamelan Kyai Guntur Sari.

Prosesi sekaten dilaksanakan selama seminggu dimulai dari tanggal 5 Rabiul awal hingga tanggal 11 Rabiul awal, kemudian puncak dari perayaan sekaten dikenal dengan istilah Grebeg Mulud. Untuk pasar malam sekaten diadakan selama sebulan, diawali dari sebulan sebelum acara Grebeg dimulai.

Berikut ini merupakan Flowchart upacara adat Sekaten :

Tata urutan perayaan Sekaten dapat dijelaskan sebagai berikut3 :

1. Tahapan Persiapan

Diawali dengan dua jenis persiapan, yaitu persiapan fisik dan non fisik. Persiapan fisik berwujud benda-benda dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upacara

3

Suyami, Upacara Ritual di Kraton Yogyakarta: Refleksi Mithologi dalam budaya jawa. Yogyakarta.2008

(4)

sekaten, sedangkan perlengkapan non fisik berwujud sikap dan perbuatan yang harus dilaksanakan sebelum upacara sekaten diselenggarakan, seperti bersuci dengan cara puasa dan mandi wajib.

Adapun persiapan berbentuk fisik berwujud benda-benda dan perlengkapan yang diperlukan dalam penyelenggaraan upacara. Terdiri sebagai berikut :

a. Gamelan Sekaten

Merupakan yang gamelan pusaka yang bernama Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga

b . Gendhing- gendhing sekaten atau perbendaharaan lagu

Lagu- lagu atau gending yang dibunyikan pada upacara sekaten merupakan Gendhing khusus, tidak pernah dibunyikan pada acara lain.

c. Sejumlah kepingan uang logam, beras dan bunga setaman untuk disebarkan dalam upacara udhik-udhik

d. Naskah riwayat Maulid Nabi Muhammad yang akan dibacakan oleh Kyai Pengulupada tanggal 12 Rabiulawal malam.

(5)

e. Sejumlah bunga kanthil ( cempaka ) yang akan disematkan pada daun telinga kanan Sultan dan para pengiringnya pada saat menghadiri pembacaan riwayat Nabi Muhammad s.a.w bila pembacaan sudah sampai pada asrokal ( semacam bacaan berjanji )

f. Busana Seragam yang masih baru dan sejumlah samir yang khusus dipakai oleh para niyaga selama bertugas memukul gamelan dalam upacara sekaten.

g. Atribut dan perlengkapan prajurit Kraton yang akan bertugas mengawal gamelan Sekaten dari Kraton menuju halaman masjid Agung.

h. Upacara numplak wajik diselenggarakan dihalaman istana Magangan Kidul, upacara ini sebagai tanda dimulainya pembuatan Gunungan Putri. Pada upacara ini dilakukan dengan membunyikan lesung agar pembuatan Gunungan Putri dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada halangan. Upacara ini dilaksanakan tiga hari sebelum gunungan di keluarkan.

2. Tahap gamelan sekaten mulai dibunyikan

Sebelum diadakan perayaan sekaten, sepasang gamelan yang disimpan di dalam Kraton dibawa keluar menuju Masjid Agung yang ada di Alun-alun Utara. Masing- masing gamelan akan diletakkan di Pagongan utara dan Pagongan selatan, acara

(6)

pengeluaran gamelan sekaten ini dinamakan Miyos Gongso. Gamelan Sekaten dibunyikan selama 7 hari berturut-turut, kecuali pada hari jumat. Pada hari jumat gamelan baru akan dibunyikan setelah sholat jumat selesai.

Gamelan sekaten mulai di bunyikan pada tanggal 5 rabiul awal di Bangsal Ponconiti. Pada pukul 16.00 wib gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dikeluarkan dari persemayaman untuk ditata di Bangsal Ponconiti oleh para abdi dalem Kraton.

Setelah itu sekitar pukul 19.00 wib abdi dalem yang bertugas di Bangsal Ponconiti mulai membunyikan gamelan, mula-mula yang dibunyikan terlebih dahulu adalah Kyai Guntur Madu kemudian disusul Kanjeng Kyai Nagawilaga dengan gendhing yang sama, pemukulan gamelan berselang-seling dengan urutan gendhing yang sudah ditentukan

Gamelan sekaten mulai dibunyikan pada pukul 19.00 wib hingga pukul 23.00 wib. Pada pukul 20.00 wib, Sri Sultan yang di iringi para pangeran, kerabat dan para bupati datang ketempat gamelan di bunyikan untuk menyebarkan udhik-udhik.

3. Tahap gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Besar

Tahapan selanjutnya adalah tahap gamelan sekaten di pindahkan dihalaman Masjid Besar. Pada pukul 23.00 wib, bunyi

(7)

gamelan sudah berhenti. Bersamaan dengan itu, datanglah prajurit yang akan bertugas mengawal iring-iringan gamelan dari Kraton menuju halaman masjid besar dengan di kawal oleh dua pasukan prajurit kraton.

Di Masjid Besar, gamelan sekaten dibunyikan selama 7 hari 7 malam, kecuali hari kamis malam atau malam jumat hingga sehabis solat jumat. Setiap hari gamelan ini dibunyikan sebanyak 3 kali, yaitu waktu pagi ( pukul 08.00 – 11.00 wib), siang (pukul 14.00-17.00 wib) dan malam (pukul 20.00- 23.00 wib). Cara membunyikannya secara bergantian dimulai dari Kanjeng Kyai Guntur Madu kemudian Kanjeng Kyai Nagawilaga, dengan gendhing yang sama.

4. Tahap Sri Sultan Hadir di Masjid Agung

Tanggal 11 rabiul awal malam di Masjid Agung diselenggarakan pembacaan riwayat Nabi Muhammad s.a.w dan penyebaran udhik-udhik oleh Sultan.Kehadiran Sultan disambut dan diiringi oleh para bangsawan, pejabat daerah serta abdi dalem dan jalan yang akan dilintasi Sultan dipagar betis oleh bregada (pasukan ) prajurit. Di depan pintu gerbang Masjid Besar, Sultan disambut Sri Paduka Paku Alam, Kanjeng Raden Pengulu, Walikota Yogyakarta, dan para Abdi Dalem Sipat Bupati beserta para tamu undangan.

(8)

Sesampainya di halaman masjid, Sultan menuju Pagongan selatan untuk menyebarkan udhik-udhik kearah penabuh gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu, kemudian menuju ke Pagongan utara untuk menyebarkan udhik-udik kearah penabuh gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga. Selanjutnya Sultan melanjutkan perjalanan menuju masjid.

Setelah Sultan sampai di Mihrab, Sultan dan Kyai Pengulu berdiri di depan pengimaman menghadap ke arah timur. Seorang abdi dalem punokawan kaji menyerahkan sebuah bokor( kotak ) berisi udhik-udhik untuk disebar di antara saka guru Majid Besar serta keaarah kerabat, para abdi dalem, beserta para hadirin. Dilanjutkan dengan Sultan mengucapkan salam lalu memberi salam kepada Kanjeng Raden Penghulu untuk mulai membacakan riwayat Nabi Muhammad s.a.w. Beberapa saat kemudian Sultan dipersilahkan bersemayam dimasjid untuk beristirahat. Kemudian saat pembacaan Maulid Nabi Muhammad s.a.w sampai pada peristiwa, Sri Sultan beserta pengiringnya kembali ke serambi masjid untuk menerima persembahan bunga cempaka/kanthil (saos sekar sumping) dari Kyai Penghulu.

Pembacaan riwayat nabi selesai sekitar pukul 24.00 wib, bacaan di akhiri dengan doa oleh Kanjeng Raden Pengulu, dan setelah itu Sultan mengucapkan salam lalu kembali ke Kraton.

(9)

5. Tahap Kondur Gangsa

Sekitar pukul 24.00 wib setelah Sultan meninggalkan Masjid, gamelan sekaten dikembalikan ke Kraton, yang disebut kondur gangsa. Dengan dikawal oleh dua pasukan prajurit abdi dalem, yaitu Prajurit Mantrijero dan Prajurit Ketanggung. Sebelumnya , pada pukul 23.00 wib abdi dalem datang ke Pagongan selatan dan utara untuk melindungi keluarnya gamelan dari tempat tersebut. Setelah semuanya siap, gamelan di keluarkan dan diarak menuju Kraton untuk disemayamkan .

4.1.3 Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat daerah Istimewa Yogyakarta yang beralamat di Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

4.1.4 Profil Informan

1. KRT Waseso Winoto

Pria berusia kisaran 70 tahun ini menjabat sebagai penghageng II di Tepas Kridhomardawa, tepas tersebut merupakan tempat untuk bidang kesenian.

Dalam kesehariannya , beliau lebih banyak menghabiskan waktu dalam berkesenian. Beliau juga tidak jarang menjadi narasumber dalam setiap kesempatan ketika ada pengunjung yang membutuhkan informasi -

(10)

informasi terkait upacara Sekaten maupun mengenai seputar Karaton Ngayogyakarta.

2. KPH. Pujaningrat

Pria kisaran 80 tahun ini menjabat sebagai Penghageng di Tepas Sriwandawa , beliau sudah cukup lama aktif dalam koordinator pada setiap acara di Karaton Ngayogyakarta.

Beliau dalam kesehariannya lebih banyak menghabiskan waktu di Kraton, untuk membantu mengembangkan kegiatan – kegiatan yang ada di Kraton Ngayogyakarta.

3. KRT Purwodiningrat

Pria berusia lebih dari 75 tahun ini merupakan Penghageng II di Tepas Widya budaya, tepas tersebut berkaitan dengan kebudayaan apa saja yang ada di Yogyakarta.

Tidak jauh beda dengan KRT Waseso Winoto, beliau juga sering dijadikan narasumber dalam setiap kesempatan. Beliau sangat aktif dalam membantu memberikan informasi yang berkaitang dengan Kraton.

4. Mas Jajar Brongtomadyo

Pria berusia 25 tahun ini sudah lebih dari 5 tahun menjadi Abdi dalem Karaton Ngayogyakarta. Dalam setiap upacara Sekaten beliau bertugas nabuh ( memainkan ) gamelan.

(11)

Kegiatan beliau sehari – hari adalah aktif dalam setiap kegiatan kesenian di Kraton, pernah menempuh pendidikan di bidang kesenian, membuat beliau menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kesehariannya.

5. Saudari Dwiyanti

Wanita berhijab ini berusia 25 tahun, beliau datang dari Bekasi untuk liburan sekaligus menyaksikan upacara Sekaten yang sebelumnya belum pernah beliau lihat.

Wanita berdarah jawa- sunda ini sangat menyukai tentang budaya, terutama budaya jawa. Dalam kesehariannya beliau bekerja akuntan disalah satu perusahaan besar di Jakarta.

4.2 Hasil Penelitian

Komunikasi ritual dalam upacara Sekaten ini merupakan eksistensi kerajaan Mataram Jawa yang sampai saat ini masih dilestarikan. Budaya yang penuh keluhuran, kesantunan dan tinggal dalam kearifan lokal yang menjadi pedoman masyakarat.

Kerajaan Mataram merupakan kerajaan islam ditanah Jawa yang mempunyai andil besar dalam penyebaran agama islam. Namun setelah ada perjanjian Giyanti kerajaan Mataram dibagi menjadi 2, yaitu Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Karaton Kasunanan Surakarta.

(12)

Sebagai pusat budaya, maka kraton juga memberikan sumbangan pada keragaman budaya dan tradisi yang hidup di dalam masyakarat. Salah satunya dengan perayaan sekaten yang bertujuan untuk menyebarkan agama juga memberikan makna dan mengamalkan tradisi-tradisi yang hidup dalam masyarakat.

4.2.1 Simbol – Simbol yang Digunakan dalam Komunikasi Ritual Upacara Adat Sekaten

Upacara sekaten yang diperingati setiap bulan Maulid merupakan salah satu bentuk dari komunikasi tradisional yang sampai saat ini masih terus dilestarikan. Dalam upacara ini banyak menggunakan pesan non verbal seperti simbol-simbol.

Seperti diungkapkan oleh KRT Purwodiningrat dalam wawancara yang dilakukan pada tanggal 9 Desember 2016 di Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Setiap upacara adat pasti menggunakan simbol yang mempunyai makna yang hendak di komunikasikan ke masyarakat.

Berikut ini merupakan simbol- simbol yang digunakan dalam upacara sekaten 4:

4

(13)

a. Gamelan Sekaten

Gamelan sekaten terdiri atas Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga, gamelan ini ditabuh ( dibunyikan ) selamat tujuh hari di halaman Masjid Agung selama upacara sekaten. Dua perangkat gamelan ini ditabuh para abdi dalem berpakaian biru muda.

Gambar (1): Gamelan Kyai Guntur Madu

(14)

Gambar (2): Gamelan Naga Wilaga

(15)

b. Numplak wajik

Merupakan tanda dimulainya pembuatan gunungan putri, biasanya dilakukan dengan membunyikan lesung. Ketujuh gunungan sekaten semuanya dibuat di Magangan kidul. Lokasi pembuatan gunungan ini di Magangan Kidul, lalu dibawa menuju Keben.

Gambar (3): Prosesi numplak wajik ( pembuatan gunungan putri ) dihadiri putri Sri Sultan ( mengenakan kacamata dan kebaya warna pink tua )

(16)

Gambar (4): Proses pembuatan Gunungan

Sumber : foto diambil peneliti di Magangan Kidul

Gambar (5) : Pemukulan lesung ( pengiring saat prosesi numplak wajik) Sumber: foto diambil peneliti di Magangan Kidul

(17)

c. Nyebar udhik-udhik

Proses ini dilakukan oleh Sri Sultan saat miyos dalem ( hadirnya Sultan) di Masjid Agung. Pada acara ini juga dihadir para bangsawan Kraton, para pengageng Kraton, Para abdi dalem dan juga masyarakat. Udhik – udhik itu sendiri terdiri atas; beras, bunga setaman dan uang logam, yang nantinya akan disebar kepada pada pengunjung yang datang.

G

Gambar (6): Sri Sultan nyebar Udhik-udhik Sumber: foto diambil peneliti di Masjid Agung

(18)

d. Gunungan Sekaten

Terdiri dari tujuh buah gunungan yang akan di arak dan diperebutkan ketika puncak acara grebeg pada tanggal 12 Rabiul awal. Gunungan ini terdiri dari; gunungan kakung (pria) ada tiga buah, gunungan estri (putri), gunungan darat, gunungan gepak dan gunungan pawuhan. Gununga kakung terdiri atas sayur dan buah- buahan, sedangkan gunungan putri tersusun atas kue-kue yang terbuat dari ketan.

Gambar (7): Gunungan Kakung

(19)

Gambar (8): Gunungan Putri

Sumber: foto diambil peneliti di Halaman Kraton

Untuk bisa memahami dan memaknai mengenai simbol- simbol yang digunakan dalam upacara sekaten dibutuhkan partisipasi oleh individu dengan cara terlibat langsung dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, peneliti juga melakukan wawancara dengan saudari

Dwiyanti, salah satu pengunjung yang hadir pada saat puncak acara sekaten yaitu Grebeg mengenai pemahaman- pemahamannya mengenai upacara sekaten.

(20)

“ Simbol yang digunakan dalam sekaten salah satunya adalah gunungan, dan juga gamelan. Gunungan melambangkan suatu keberkahan, yang nanti akan diarak dan diperebutkan oleh banyak orang, sedangkan gamelan itu pengiring jalannya gunungan dan prajurit Kraton.”5

Dari informasi yang peneliti peroleh dilapangan, ada banyak simbol yang merujuk pada makna tertentu. Simbol tersebut tentunya merupakan salah satu media komunikasi.

4.2.2 Makna yang Terkandung Komunikasi Ritual Upacara Adat Sekaten Upacara adat sekaten rutin dilaksanakan setiap tahun mengandung makna simbolik yang tersirat dalam setiap peralatan yang digunakan maupun aktifitas yang dilakukan.

Dari hasil pengamatan peneliti telah melakukan observasi dan interaksi langsung dengan beberapa informan dan masyarakat sekitar. Berikut ini merupakan makna yang terkandung dalam upacara sekaten yang menjadi kepercayaan bagi beberapa masyarakat Yogyakarta6:

Pertama, gamelan dan gendhing yang sajikan dalam upacara sekaten memiliki arti mengajak semua orang dimana saja agar segera masuk agama Islam. Gending tersebut hanya dibunyikan pada saat sekaten dan tidak ada latihan terlebih dahulu. Syair dari gendhing yang dibunyikan mengantung arti ajakan karena pada jaman dahulu masyarakat menyukai bunyi-bunyian.

Kedua, prosesi numpak wajik ( tanda dimulainya pembuatan gunungan putri ) dilakukan 3 hari sebelum acara Grebeg dimulai, adapun tujuannya

5

Wawancara pribadi dengan saudari dwiyanti di Alun-alun Utara 6

(21)

adalah agar pembuatan gunungan putri berjalan lancar dan tidak ada halangan. Pembuatan gunungan melibatkan abdi dalem dan juga putri-putri keraton yang mengkoordinir setiap acara yang ada, dengan di iringi bunyi lesung yang di mainkan oleh abdi dalem kraton selama proses pembuatan gunungan putri.

Ketiga, pada awal pembunyikan gamelan , melakukan tradisi nyebar udhik-udhik yang berisi beras, uang logam dan bunga setaman. Ritual ini merupakan simbol kesejahteraan yang dibagikan raja kepada rakyatnya.

Keempat, raja juga mengeluarkan tujuh gunungan yang nantinya akan di arak ke tiga tempat yaitu Masjid Agung, Kepatihan dan Puro Pakualaman. Angka tujuh dalam bahasa jawa pitu, fiosofinya adalah pitulungan yang artinya memberikan pertolongan. Adapun susunan dari gunungan tersebut akan peneliti jabarkan sebagai berikut 7:

a. Gunungan kakung

Gunungan selain bermakna kesuburan juga mempunyai arti simbolik lain, gunungan kakung melambangkan sifat baik, sedangkan gunungan putri melambangkan sifat buruk. Dua sifat ini bila berdiri sendiri akan menimbulkan sifat perusak, sehingga dua sifat ini harus disatukan. Disinilah peran raja untuk menyatukan dua kekuatan itu sehingga akan menjadi satu kekuatan yang besar untuk kejayaan Kraton. Dari sinilah raja mengeluarkan sepasang gunungan pada waktu perayaan sekaten.

7

(22)

Bentuk gunungan kakung dihubungkan dengan lingga atau alat vital laki-laki yang mengacu pada nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan adanya proses penciptaan manusia atau dihubungkan dengan asal-usul manusia. Di samping itu gunungan kakung juga menggambarkan tentang dunia dan isinya yang mencakup berbagai unsur didalamnya, seperti bumi, langit, tumbuh-tumbuhan, api, hewan, dan manusia itu sendiri dengan berbagai jenis dan sifat-sifatnya. Manusia yang dimaksud adalah seorang ksatria utama yang menggambarkan seorang figur manusia ideal bagi orang Jawa

b. Bendera merah putih

Bendera ini ditempatkan pada ujung gunungan, berjumlah lima buah sebagai lambang dari sebuah negara atau kerajaan. Warna merah bermakna semangat atau kebenaran, sedangkan warna putih berarti suci. Warna merah putih mengingatkan akan Kerajaan Majapahit dengan istilah gula klapa yang melambangkan bahwa orang harus mempunyai sifat dan semangat keberanian serta kesucian.

c. Cakra

Cakra sebagai puncak dari pangkal berdirinya gunungan yang mempunyai makna gaman atau pusaka milik dari Prabu Kresna yang mempunyai kekuatan dahsyat dalam menegakkan keutamaan. Selain itu cakra sebagai simbol dari hati yang merupakan petunjuk dan pemimpin dalam kehidupan. Perjalanan cakra adalah berputar yang bermakna bahwa

(23)

roda kehidupan manusia itu selalu berputar, manusia harus selalu ingat kepada Tuhan dalam keadaan senang maupun susah.

d. Wapen

Wapen merupakan simbol yang digunakan sebagai lambang. Adapun wapen dalam gunungan yang dimaksud adalah petunjuk bagi keselamatan dan kekuasaan dari Raja yang bertahta.

e. Kampuh

Kampuh adalah kain berwarna merah putih yang menutupi jodhang (tempat makanan) yang bermakna :

 kesusilaan : kampuh dibuat sebagus mungkin yang membuktikan kepribadian, pepatah Jawa mengatakan ajining salira saka busana yang berarti dihormatinya seseorang karena pakaiannya.

 sandang, yang berarti pakaian yang dipakai oleh manusia. Pakaian melambangkan kenyataan hidup (senang-susah, beja-cilaka). f. Entho-entho

Makanan berbentuk bulat telur yang terbuat dari tepung beras ketan yang dikeringkan hingga keras, kemudian digoreng. Hal ini bermakna keteguhan hati dalam menghadapi masalah kehidupan dunia. g. Telur asin

(24)

Melambangkan amal, adapun makna lain bahwa terbagi dua bagian, bagian kuning melambangkan laki-laki, dan bagian putih adalah perempuan. Kemudian keduanya bersatu dan terjadi manusia baru.

Nasi; Melambangkan kemakmuran dari sebuah kerajaan.

h. Bahan perlengkapan dalam gunungan kakung seperti tebu, cabe, daun pisang, terong, wortel, timun, kacang panjang dan daging yang kesemuanya merupakan hasil dari bumi yang dinikmati manusia. Dan juga dami (batang padi), jodhang, sujen, peniti, jarum bundel, dan samir jene. Bahan-bahan hasil bumi tersebut merupakan lambang dari kesuburan bumi.

i. Gunungan putri

Bentuk gunungan putri dihubungkan dengan yoni atau alat vital perempuan. Gunungan putri melambangkan putri sejati yang menggambarkan bahwa seorang wanita harus memiliki badan dan pikiran yang dingin. Sehingga dia mempunyai penangkal untuk menahan isu-isu yang datang dari luar, baik yang menjelek-jelekkan dirinya maupun keluarganya dan dapat menyimpan rahasia manusia atau keluarganya.

Adapun isi dari gunungan putri ( kue rengginan, jadah,wajik, jenang) merupakan makna dan lambang dari kewajiban wanita untuk menjaga dan mengerjakan urusan belakang atau kebutuhan rumah tangga. Gunungan putri berjalan di belakang gunungan kakung dan gunungan anakan, yang merupakan simbol bahwa istri bertugas sebagai pengasuh utama dari anak dan bertanggungjawab menjaga keselamatan rumah tangga.

(25)

j. Eter

Terbuat dari seng berbentuk jantung manusia atau bunga pisang (tuntut) yang bermakna sebagai api yang menyala, yaitu semangat hidup yang menyala terus ssebagaimana modang (dalam batik menggambarkan nyala api atau uriping latu).

Eter juga berwujud jantung yang merupakan pusat kebatinan atau rohani, hal ini ada pertimbangan kewajiban lahir batin atau dengan Allah dan sesama manusia.

k. Bunga sebagai pengharum

Mempunyai dua makna yang terkandung di dalamnya, yaitu makna lahiriah dapat mendekatkan atau mendatangkan berkah bagi yang cocok dan menjauhkan bagi yang tidak cocok. Sedangkan makna batiniah yaitu kemuliaan atau keharuman jati diri manusia yang diperoleh dengan amal yang baik.

l. Jajan

Terdiri dari jadah, wajik, dan jenang sebagai isi dari jodhang yang menggambarkan hasil karya wanita dalam dapur atau rumah tangga. m. Uang logam

Bermakna sebagai sarana memperoleh kebutuhan lahiriah manusia dalam hidup di dunia, dan bermakna batiniah sebagai simbol sebagai cobaan atau ujian hidup manusia yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang dapat menggunakan dan mendatangkan keresahan bagi yang tidak dapat menggunakan.

(26)

n. Gunungan anakan

Bermakna bahwa anak dari sebuah rumah tangga yang sudah tentu diharapkan oleh orang tuanya, anak dapat menyambung sejarah keluarga atau dapat mikul dhuwur mendhem jero, artinya menjunjung harkat dan martabat orang tua dengan cara menjaga nama baik orang tua atau dalam agama Islam dikenal dengan istilah anak sholeh yang berbakti dan mau mendoakan orang tuanya.

o. Ancak cantaka atau gunungan kecil/tumpeng

Merupakan sedekah para abdi dalem dan kerabat keraton yang dikeluarkan oleh raja karena mereka ada di dalam lindungan-Nya. Melambangkan kehidupan yang makmur tercukupi kebutuhan jasmani dan rohani. Terbinanya kehidupan beragama dan tersedianya kebutuhan di dunia yaitu sandang, pangan, dan papan.

p. Sega uduk atau nasi gurih dengan perlengkapan daging ayam (ingkung), kedelai, dan pisang raja

maksudnya sebagai lambang kehidupan yang enak atau baik, sedang yang dituju adalah untuk para Nabi dan wali.

q. Sega janganan atau nasi sayuran

Melambangkan kehidupan tercukupi (duniawi), sedang yang dituju adalah para roh dan danyang. Dalam kejawen dikenal dengan kiblat papat lima pancer yang mempengaruhi kehidupan manusia.

r. Sega asahan

(27)

s. Buah-buahan atau jajan pasar

Bermakna sebagai penolak balak atau menyingkirkan segala sumber bahaya atau bencana yang akan terjadi.

t. Sirih

Menurut kepercayaan masyarakat, barang siapa yang memakan sirih tepat pada saat gamelan sekaten berbunyi untuk pertama kalinya akan awet muda. Maka banyak orang yang berjualan sirih pada perayaan sekaten.

Dari penjabaran diatas yang diamati oleh peneliti, bahwasanya setiap simbol yang dipergunakan dalam setiap upacara ritual mempunyai makna dan nilai simbolik yang berbeda.

Media komunikasi dalam proses penyampaian pesan sudah cukup diinterprestasikan melalui prosesi yang ditampilkan, acara yang ditampikan juga berfungsi sebagai media komunikasi tradisional.

4.3 Pembahasan

Komunikasi ritual upacara sekaten merupakan suatu proses komunikasi tradisional yang terjadi pada masyarakat Yogyakarta. Pesan non verbal yang menggunakan simbol-simbol dalam hal ini, berkaitan dengan filosofi dalam kehidupan sehari-hari.

(28)

Perayaan ini tidak hanya menampilkan acara-acara yang bersifat ritualis, namun juga mengandung unsur seni, sosial, budaya dan pendidikan. Sehingga di harapkan mampu dilestarikan terus menerus.

Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, upacar sekaten ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan akan dijabarkan sebagai berikut8 :

1. Aspek ekonomi

Pertumbuhan ekonomi saat ada perayaan sekaten tentunya sangat mempengaruhi tingkat pendapatan para pedagang di sekitar Alun-alun Jogja, dimana acara sekaten itu diselengggarakan. Banyak pedagang yang menjadi penjual dadakan, kebanyakan dari mereka menjual berbagai makanan atau bahan- bahan yang digunakan dalam upacara sekaten.

Ditambah lagi dengan adanya pasar malam yang dibuka selama 1 bulan hal tersebut tentunya merangsang pertumbuhan ekomoni masyarakat di Yogyakarta.

2. Aspek sosial dan budaya

Kehidupan masyarakat Yogyakarta sangat penuh dengan kesopanan, keramahan dan kearifan. Pergaulan yang diciptakan masyakarat sangat patut untuk dicontoh. Saling membantu dan menolong sudah menjadi suatu tradisi mereka. Ditambah dengan bahasa jawa yang digunakan dalam sehari- hari mampu dijadikan ciri khas masyakarat Jogja.

8

(29)

Saat sekaten berlangsung masyarakat berkumpul untuk memperebutkan gunungan, komunikasi yang terjalin sangat efektif. Walaupun tidak saling mengenal antar pengunjung, namun mereka saling bertegur sapa.

Selain itu pakaian yang digunakan oleh para abdi dalem saat upacara sekaten sangatlah unik, Secara langsung masyarakat yang melihat acara tersebut diperkenalkan dengan baju adat Jawa.

3. Aspek politik

Perayaan Sekaten ini tentunya tidak lepas dari kerjasama antara pihak Kraton dengan Pemda, dalam segi keamanan pihak pemda menyediakan beberapa petugas kepolisian yang bertugas untuk mengamankan perayaan upacara Sekaten.

Pengamanan ini dilakukan dari awal hingga akhir upacara Sekaten. Mengingat antusias masyarakat yang sangat besar, dan banyak sekali orang-orang yang berkumpul di tempat berlangsungnya acara ini, maka pengamanan pun juga harus lebih ditingkatkan terutama pada waktu acara puncak sekaten.

Selain pengamanan, pihak Kraton juga bekerjasama dengan PMI untuk mengantisipasi jatuhnya korban akibat berdesakan dengan pengunjung lain.

(30)

Perbedaaan keyakinan yang ada pada masyakarat Yogjakarta, tidak begitu terlihat nyata karena masyakat disana saling menghormati dan menghargai kepercayaan masing-masing. Pengunjung dan pelaku kegiatan sekaten ( para abdi dalem ) menganut kepercayaan yang berbeda-beda namun mereka tetap saling menghormati dan bekerja sama dalam kesuksesan acara sekaten.

Perkembangan wisata didaerah Yogjakarta tentunya sudah maju dari tahun ke tahun, ditambahan dengan adanya perayaan sekaten ini wisata budaya Jogja semakin lebih dikenal di Indonesia maupun mancanegara

Konsep dari penelitian ini adalah untuk memahami simbol-simbol komunikasi serta makna apa yang hendak dikomunikasikan dari simbol tersebut.Sehingga upacara sekaten ini merupakan sarana untuk mengkomunikasi nilai-nilai kearifan budaya lokal.

Pendekatan media dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana simbol-simbol dalam upacara sekaten dapat digunakan sebagai media komunikasi dalam menyampaikan pesan baik berupa, informasi, edukasi, hiburan dan sebagainya.

(31)

Gambar : 4.3 (1) Alur komunikasi pada Upacara Sekaten Sumber : hasil analisis peneliti

Keterangan :

Upacara sekaten berperan sebagai media komunikasi dan menyalurkan pesan- pesan moral,sejarah, nilai-nilai serta sosial dan budaya. Kemudian disalurkan kepada komunikan sehingga menghasilkan umpan balik.

Sebagai salah satu media komunikasi tradisional, upacara sekaten tentunya memiliki fungsi untuk melestarikan budaya jawa. Adapun fungsi komunikasi dalam upacara sekaten antara lain sebagai berikut :

1. Sebagai media informasi

Sekaten sebagai perayaan memperingati hari lahir Nabi Muhamma s.a.w dengan tujuan sebagai syiar untuk menyebarkan agama islam.

(32)

Upacara sekaten memberikan hiburan bagi masyarakat, dengan adanya gamelan dan pasar malam diharapkan masyarakat tertarik untuk datang ke acara ini.

3. Sebagai jembatan antara raja dan rakyat

Acara ini merupakan suatu sarana kewajiban seorang raja untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya. Event ini sebagai penghubung agar raja bisa dekat dengan rakyat.

Peristiwa komunikasi ditentukan beberapa komponen-komponen komunikasi yang dapat mempengaruhi upacara sekaten seperti : (1) setting, (2) partisipan, (3) bentuk pesan, (4) isi pesan dan (5) media. Misalnya, dengan adanya partisipan dapat menimbulkan proses pertukaran informasi.

1.Setting

Meliputi waktu, tempat dan tujuan yang di gunakan dalam upacara sekaten. Upacar sekaten dimulai pada tanggal 5 Rabiul awal hinggan 12 Rabiul awal yang bertempat di komplek Kraton.

Banyak masyarakat yang menyaksikan acaraa ini, Hal ini menunjukan bahwa aktivitas komunikasi ada pesan yang ditampilkan dan di terima oleh masyarakat.

2. Partisipan

Siapa saja yang terlibat dalam kegiatan upcara sekaten, baik yang berperan sebagai komunikator (panitia/penyelenggara) ataupun sebagai komunikan ( masyarakat/pengunjung).

(33)

Adanya keterlibatan antara pelaku komunikasi dalam melakukan interaksi merupakan suatu proses komunikasi. Peserta menyampaikan informasi melalui kegiatan yang dibawakan sedangkan penonton menerima informasi dari apa yang di lihat dan dirasakan.

Secara lebih jelasnya kita bisa melihat salah satu kegiatan yang ada, misalnya acara membunyikan gamelan , dalam hal ini masyarakat bukan hanya menonton namun diajak untuk mengenal bahwa upacara membunyikan gamelan ini merupakan rangkaian dari upacara sekaten.

Melalui acara-acara tersebut kita bisa melihat terbentuknya peristiwa komunikasi, dimana terdapat suatu aktivitas komunikasi antara komunikator dan komunikan.

3. Bentuk pesan

Pesan yang dalam perayaan upacara Sekaten baik berupa pesan verbal maupun non verbal bersifat informatif. Pesan-pesan yang disampaikan melalui berbagai prosesi mulai dari pembukaan sampai acara penutup bertujuan untuk memberikan informasi, edukasi maupun hiburan bagi para pengunjung. 4. Isi pesan

Komunikasi merupakan suatu proses penyampaian informasi berupa ide, pemikiran, emosi atau perasaan. Setiap prosesi kegiatan yang berlangsung mempunyai unsur pesan yang ingin disampaikan ke komunikan.

Pesan moral yang ingin disampaikan ke semua orang, seperti acara Grebeg . Acara rebutan gunungan dalam grebeg maulid mengandung arti

(34)

bahwasanya masyarakat untu memperoleh sesuatu harus berani bersaing dan tidak mudah putus asa.

5. Media/saluran

Setiap pesan dalam suatu aktifitas komunikasi membutukan media untuk penyampaian pesan. Dalam perayaan upacara Sekaten pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui berbagai prosesi upacara, simbol-simbol atau artefak dan sebagainya.

Pesan yang disalurkan melalui simbol, dapat dilihat dari prosesi nyebar udhik-udhik. Bukan hanya menyebar sekedar menyebar saja, tapi hal tersebut mempunyai makna bahwasanya raja memberikan sedekah kepada rakyatnya.

4.3.1 Simbol – Simbol yang Digunakan dalam Komunikasi Ritual Upacara Adat Sekaten

Pesan yang ditampilkan dalam upacara Sekaten banyak menggunakan bahasa non verbal. Simbol-simbol banyak digunakan merupakan bagian dari ritual prosesi ini. Lambang-lambang budaya yang di pertunjukan tentunya memiliki arti tersendiri yang dipercayai sebagian masyakarat Yogyakarta.

Sebagai salah satu media komunikasi, simbol budaya yang digunakan dalam sekaten ini sangat tentunya sangat berpengaruh terhadap interaksi yang dilakukan oleh masyakat.

Berikut ini merupakan simbol-simbol yang digunakan dalam upacara Sekaten antara lain :

(35)

a. Gamelan dan gending sekaten

terdiri atas dua perangkat gamelan dan beberapa gending (lagu ) yang akan di bunyikan ketika acara sekaten dimulai.

b. Numpak wajik

Acara ini dihadiri oleh putri Sultan dan para abdi dalem, dalam acara ini juga dilakukan penyusunan gunungan putrid an di iringi dengan bunyi lesung.

c. Nyebar udhik-udhik

Prosesi ini dilakukan oleh Sultan saat menghadiri acara maulid Nabi Muhammad s.a.w di Masjid agung.

d. Gunungan Sekaten

Prosesi ini merupakan prosesi akhir dari prosesi upacar Sekaten yaitu Grebeg yang diselenggarakan pada tanggal 12 rabiul awal.

Dari keseluruhan simbol yang di gunakan dalam upacara Sekaten, Peneliti mengamati bahwa seluruh simbol yang digunakan merupakan suatu rangkaian yang sudah ada dan di percaya masyakarat sebagai bentuk dari media komunikasi. Media komunikasi berupa simbol-simbol tentunya akan menghasilkan suatu tujuan bersama jika simbol tersebut dipahami maknanya secara bersama. Dalam upacara sekaten, banyak sekali simbol yang tentunya belum banyak diketahui oleh masyakat. Sehingga peneliti dalam hal ini selain membaca buku atau artikel juga melakukan wawncara dengan informan ahli yang mampu menjelaskan tentang simbol-simbol tersebut.

(36)

4.2.2 Makna yang Terkandung Komunikasi Ritual Upacara Adat Sekaten Pemahaman makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat Sekaten dipengaruhi oleh interaksi individu terhadap objek yang diamati. Pengamatan, menggali sumber-sumber dan menterjemahkan makna simbol- simbol akan membentuk suatu pemahaman secara mendalam terhadap nilai-nilai pesan yang hendak ditampilkan melalui upcara Sekaten.

Pada acara pembukaan, dikeluarkannya dua perangkat gamelan yang nantinya akan dibunyikan selama tujuh hari (kecuali pada saat solat jumat ). Hal ini sebagai tujuan untuk menarik atau mengajak masyakarat untuk datang ke Masjid.

Selanjutnya ada upacara Numplak Wajik, secara simbolis makna yang ditampilkan dalam upacara ini adalah supaya dalam pembuatan ketujuh gunungan dapat berjalan dengan lancer tidak ada halangan.

Tujuan dari pembuatan gunungan sendiri merupakan ungkapan sedekah dari Sultan kepada rakyat, sebagai ucapan terimakasih kepada tuhan karena panen yang melimpah. Mengingat sususan gunungan sendiri terdiri dari aneka sayur, buah-buahan serta jajanan pasar.

Kemudian pada acara Miyos Dalem di Masjid Agung yang di hadiri oleh Sultan, pejabat daerah serta para abdi dalem. Nantinya Sultan akan nyebar udhik-udhik. Acara ini menggambarkan suatu pola kehidupan yang ideal dimana masyakarat diajak hidup berdampingan dalam perbedaaan. Hal ini merupakan upaya dalam merekatkan hubungan antara kaum bangsawan dengan rakyat.

(37)

Pada acara terakhir,Grebeg mulud. Dikeluarkannnya tujuh gunungan untuk diarak menuju masjid Agung, Puro Pakualaman dan Kepatihan. Masyakarat berebut untuk mendapatkan berkah dari gunungan tersebut, makna dalam upacara ini adalah bahwasanya manusia untuk memperoleh sesuatu hal itu harus senantiasa berusaha dalam persaingan dan tidak mudah putus asa.

Berdasarkan uraian diatas, upacara sekaten berfungsi sebagai media komunikasi tradisional. Artinya acara ini sebagai jembatan penghubung antara kaum bangsawan dengan masyakarat biasa. Penyebaran informasi melalui acara ini saat memberikan dampak positif bagi para pengunjung ataupun penikmat acara ini, walaupun banyak digunakan bahasa non verbal. Sebagai salah satu sarana hiburan,dan sarana edukasi bagi masyakarat rangkaian upacara Sekaten juga banyak memperkenalkan unsur-unsur kesenian seperti gamelan dan gendhing jawa.

Gambar

Gambar : 4.3 (1) Alur komunikasi pada Upacara Sekaten  Sumber : hasil analisis peneliti

Referensi

Dokumen terkait

Assistant Manager Program Anggaran Sarana, mempunyai tugas dan tanggung jawab menyusun program anggaran penyiapan sarana siap operasi, perawatan rutin, pengendalian

Dari hasil pengolahan data penelitian tentang persepsi tata ruang kerja terhadap semangat kerja karyawan di BNN kota Malang, menunjukkan bahwa variabel Tata

Setelah bahan ajar divalidasi oleh ahli materi dan ahli media serta dinyatakan layak untuk digunakan selanjutnya bahan ajar dapat diuji cobakan kepada guru dan

Pembacaan kitab suci Alquran dan tajwid ini merupakan salah satu aktivitas dakwah yang rutin dilakukan oleh para siswa dan siswi SLTP Islam Al- Hidayah Fajar Kotabaru,

Pada setiap upacara adat terdapat unsur bau-bauan yang digunakan baik itu sebagai unsur pelengkap ataupun sudah menjadi suatu kebiasaan atau tradisi, seperti

Pada penelitian ini, analisis data menggunakan media SPSS 16,0 for windows yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel, dan diperoleh data yang

1) Kegiatan pembelajaran menghitung perkalian melalui Contextual Teaching and Learning (CTL) di kelas II MIN Model Panyiuran sebagaimana direncanakan guru

Kemudian adanya pembinaan tentang shalat dhuha yaitu kegiatan rutin mengaji kitab sebelum dimulainya pelajaran yang dibimbing oleh ustadz. Materinya lebih