RENCANA AKSI
KEGIATAN
TAHUN 2015 – 2019
DIREKTORAT PENILAIAN ALAT KESEHATAN
DAN PERBEKALAN KESEHATAN RUMAH TANGGA
DIREKTORAT JENDERAL KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan bimbingan-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga tahun 2015–2019.
Rencana Aksi Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan arahan dan pedoman bagi seluruh pelaksana kegiatan di Lingkungan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan mengacu kepada Rencana Aksi Kegiatan diharapkan kinerja dapat meningkat, tertib administrasi, transparan dan akuntabel.
Dokumen Rencana Aksi Kegiatan ini tidak terlepas dari dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019; dokumen Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2015-2019; dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan serta dokumen perencanaan lainnya.
Dengan adanya perubahan struktur organisasi sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan maka disusun Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga tahun 2015-2019 yang merupakan revisi dari Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan tahun 2015-2019.
Pada Rencana Aksi Kegiatan ini telah diidentifikasi perkembangan kebijakan dan program di bidang alat kesehatan, situasi pasar dan ekonomi global dan nasional, perkembangan industri alat kesehatan dalam negeri, permasalahan yang dihadapi dan analisa SWOT. Oleh karena itu diperlukan beberapa strategi sebagai panduan dalam rangka pencapaian sasaran organisasi.
Akhir kata dalam kesempatan ini kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak yang telah membantu penyusunan Rencana Aksi Kegiatan ini.
Jakarta, Januari 2016 Direktur,
Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT
drg. Arianti Anaya, MKM NIP. 19640924199432001
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Daftar Tabel iv Daftar Ganbar v BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang 1 B. Definisi/Pengertian 1 C. Landasan Hukum 2 D. Tujuan 3
BAB 2 ANALISA SITUASI DAN SASARAN ORGANISASI
A. Situasi Pasar dan Ekonomi 6 B. Perkembangan Industri Alat Kesehatan 7 C. Perkembangan Kebijakan dan Program Alat Kesehatan dan PKRT 8
D. Permasalahan 9
E. Analisa SWOT 11
F. Visi dan Misi Organisasi 12
G. Tujuan Organisasi 13
H. Sasaran Organisasi 14
I. Indikator Kinerja Kegiatan 15
BAB 3 STRATEGI DAN RENCANA AKSI 2015-2019
A. Strategi Pencapaian Sasaran Organisasi 16 B. Rencana Kegiatan 2015-2019 17 C. Rencana Kebutuhan Sumber Daya Manusia 2015-2019 18 D. Rencana Kebutuhan Sumber Daya Barang Milik
Negara 2015-2019 19
E. Rencana Kebutuhan Anggaran 2015-2019 20
A. LATAR BELAKANG
Industri kesehatan sebagai industri sektor strategis yang merupakan salah satu pilar pembangunan bangsa dan memainkan peranan strategis dalam pembentukkan sumber daya manusia yang berkualitas, sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang 1945 Pasal 34 ayat 3 yang menyatakan bahwa ”Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak”. Sesuai amanah UUD 45, maka salah satu upaya Kementerian Kesehatan yang tertuang dalam Rencana Strategis (Renstra) adalah kemandirian sediaan farmasi dan alat kesehatan. Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 35 tahun 2015 tentang Kementerian Kesehatan Pasal 18 disebutkan bahwa, “Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan mempunyai tugas menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang kefarmasian dan alat kesehatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan”. Sesuai tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang ditetapkan, maka Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan melakukan berbagai upaya untuk mencapai kemandirian sedian farmasi dan alat kesehatan.
Sebagai pedoman dalam menuju kemandirian alat kesehatan, Kementerian Kesehatan telah menyusun Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 86 Tahun 2013 tentang Peta Jalan Pengembangan Industri Alat Kesehatan.
Alat kesehatan merupakan salah satu komponen penting di samping tenaga kesehatan dan obat dalam sarana pelayanan kesehatan. Teknologi alat kesehatan berkembang sangat pesat seiring dengan perkembangan teknologi informasi, dari teknologi sederhana sampai teknologi tinggi, dan digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan maupun di rumah tangga. Alat kesehatan juga sangat dibutuhkan dalam upaya mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), dimana peran alat kesehatan untuk mendukung pencapaian khususnya tujuan ketiga, yaitu menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia.
Guna meningkatkan akselerasi upaya pencapaian Visi Rencana Pembangunan Industri Nasional yaitu: “Indonesia Menuju Negara Industri Tangguh”, sebagaimana tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015 – 2035, maka Industri Alat Kesehatan Nasional perlu dikembangkan karena :
1. Faktor Demografi, Indonesia sebagai negara terbesar ke-4 di dunia dengan jumlah 250 juta jiwa penduduk Indonesia sehingga permintaan alat
kesehatan cukup besar dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia mencapai 450 Juta jiwa.
2. Jaringan Fasilitas Kesehatan, beberapa kota besar Indonesia memiliki sistem rumah sakit yang sudah terbangun dengan baik dan penyediaan layanan kesehatan yang unggul.
3. Dukungan Pemerintah, Dukungan pemerintah pada industri alat kesehatan regulasi produksi dan distribusi program JKN akan meningkatkan kebutuhan alat kesehatan yang berkesinambungan.
4. Free Trade Area, terbukanya pasar ekspor dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).
5. Harmonisasi Regulasi, kerjasama Government to Government baik bilateral maupun multilateral dalam harmonisasi standar registrasi.
6. Penyangga Ketahanan Nasional di bidang kesehatan, lebih dari 90% alat kesehatan masih di impor, sedangkan pasar alat kesehatan nasional memiliki pertumbuhan tinggi hingga 12%/ tahun.
7. Tuntutan Standar Global, adanya perkembangan standar alat kesehatan di tingkat global.
8. Sumber Daya Manusia(SDM), ketersediaan infrastruktur dan SDM yang memadai serta relatif murah, competitive advantage pengembangan industri.
9. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.
Peningkatan kebutuhan terhadap alat kesehatan belum diikuti dengan perkembangan industri alat kesehatan dalam negeri. Hal ini yang menyebabkan 94% alat kesehatan yang beredar adalah produk impor. Mudahnya keluar masuk barang dalam era globalisasi dan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa maka Indonesia merupakan pasar yang menarik untuk masuknya produk impor. Hal tersebut sangat tidak mendukung kemandirian nasional terhadap alat kesehatan maupun ketahanan ekonomi nasional terutama dengan nilai tukar dolar yang semakin tinggi sehingga menyebabkan tingginya harga alat kesehatan.
Untuk mengembangkan dan meningkatkan jenis/varian produk alat kesehatan dalam negeri maka harus dilakukan koordinasi lintas sektor antar Kementerian/Lembaga dengan stake holder terkait.
B. DEFINISI / PENGERTIAN Alat Kesehatan :
adalah instrumen, aparatus, mesin, perkakas, dan/atau implan, reagen in vitro dan kalibrator, perangkat lunak, bahan atau material yang digunakan tunggal atau kombinasi, untuk mencegah, mendiagnosis, menyembuhkan, dan meringankan penyakit, merawat orang sakit, memulihkan kesehatan pada manusia, dan/atau membentuk struktur dan memperbaiki fungsi tubuh, menghalangi pembuahan, desinfeksi alat kesehatan, dan pengujian in vitro terhadap specimen dari tubuh manusia, dan dapat mengandung obat yang tidak mencapai kerja utama pada tubuh manusia melalui proses farmakologi, imunologi atau metabolisme untuk dapat membantu fungsi/kerja yang diinginkan.
Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) :
Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, yang selanjutnya disingkat PKRT adalah alat atau bahan atau campuran bahan untuk pemeliharaan dan perawatan kesehatan manusia yang ditujukan untuk penggunaan di rumah tangga dan tempat-tempat umum.
Izin edar
Adalah izin yang diberikan kepada perusahaan untuk produk alat kesehatan atau PKRT, yang akan diimpor, digunakan dan/atau diedarkan di wilayah Indonesia, berdasarkan penilaian terhadap keamanan, manfaat dan mutu.
Indikator kinerja
Adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari kinerja program dan kegiatan yang telah direncanakan.
C. LANDASAN HUKUM
1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
2. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025;
3. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019; 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik IndonesiaNomor64 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Kesehatan;
7. Peraturan Menteri Kesehatan 1190/Menkes/Per/VIII/2010 Tentang Ijin Edar Alat Kesehatan dan PKRT;
8. Peraturan Menteri Kesehatan 1189/Menkes/Per/VIII/2010 Tentang Sertifikat Produksi Alat Kesehatan dan PKRT;
9. Peraturan Menteri Kesehatan 1191/Menkes/Per/VIII/2010 Tentang Penyaluran Alat Kesehatan dan PKRT;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 375/MENKES/SK/V/2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025;
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019.
D. TUJUAN
Tujuan penyusunan rencana aksi kegiatan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Tahun 2015-2019, adalah :
1. Sebagai acuan dalam penyusunan rencana kegiatan dan anggaran serta pelaksanaan tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang Penilaian alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga tahun 2015-2019.
2. Sebagai acuan dalam penyusunan Laporan Kinerja Direktorat Penilaian alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga.
A. ANALISIS SITUASI
WHO (World Health Organization) pada tahun 2000 mendefinisikan bahwa sistem kesehatan merupakan aktifitas yang memiliki tujuan utama untuk meningkatkan, memperbaiki, atau merawat kesehatan. Konstitusi Negara Republik Indonesia menjamin hak warganya untuk sehat: ”Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat, serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Sedangkan, pada permasalahan aspek kesehatan di Indonesia selama ini belum dapat memenuhi harapan seluruh pemangku kepentingan (stake holder), sehingga membutuhkan upaya untuk melakukan rekonstruksi pembangunan sistem kesehatan nasional dengan tetap berpedoman pada nilai-nilai kemajuan dan kearifan lokal bangsa Indonesia.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), estimasi jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 adalah 255.461.700 jiwa. Dengan jumlah tersebut, maka penduduk Indonesia mencapai 40,62% dari total populasi ASEAN dan itu merupakan suatu pangsa pasar yang besar untuk produk alat kesehatan.
Kesehatan saat ini belum sepenuhnya dipandang sebagai unsur utama ketahanan nasional serta modal utama kelangsungan pembangunan nasional. Walaupun jumlah belanja kesehatan setiap tahun selalu mengalami peningkatan (pada tahun 2016, total anggaran kesehatan mencapai 5% dari total APBN), namun akses terhadap pelayanan kesehatan masih menjadi masalah bagi sebagian masyarakat. Hal ini disebabkan oleh permasalahan pada pemerataan dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan, baik sarana pelayanan kesehatan dasar maupun pelayanan lanjutan. Demikian juga sarana pelayanan kesehatan rujukan seperti rumah sakit yang telah tersedia hampir di seluruh Kabupaten/Kota, akan tetapi ketersediaan pelayanan kesehatan masih belum optimal dalam penggunaan alat kesehatan serta biaya penggunaan alat kesehatan yang masih tinggi.
Gambar 2.1 Alokasi Anggaran Kesehatan Tahun 2007 - 2016
Berdasarkan Data Rekapitulasi Rumah Sakit dari Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan, pada tahun 2016jumlah rumah sakit di Indonesia sejumlah 2.607. Dari total jumlah rumah sakit di Indonesia, 2.048 merupakan Rumah Sakit Umum dan 559 merupakan Rumah Sakit Khusus.Dari tahun ke tahun selalu terdapat peningkatan jumlah rumah sakit, baik rumah sakit umum maupun rumah sakit khusus. Kondisi di atas menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah tempat tidur (ruang rawat inap), yang akan meningkatkan kebutuhan alat kesehatan terutama dalam memenuhi kebutuhan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) pada penerapan SJSN.
1. Kondisi Pasar Alat Kesehatan Indonesia
Potensi pengembangan pasar alat kesehatan di Indonesia dapat terlihat dari kondisi ekspor-impor alat kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data perdagangan (ekspor-impor) Indonesia untuk HS 10 digit, terlihat bahwa pertumbuhan permintaan ekspor alat kesehatan, maupun permintaan impor cukup tinggi. Ekspor alat kesehatan Indonesia pada tahun 2015 mencapai 676 USD atau setara dengan 9 trilyun rupiah, sementara impor pada tahun 2015 mencapai 1,28 miliar USD atau setara dengan 17,2 trilyun rupiah.
Terlepas dari penurunan pertumbuhan ekspor dan impor untuk tahun 2015, rata-rata pertumbuhan ekspor alat kesehatan Indonesia tahun 2011-2015 masih mencapai 11,5% per tahun, sementara rata-rata pertumbuhan permintaan impor mencapai 20% per tahunnya. Angka tersebut diperkirakan akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan dengan mempertimbangkan pertumbuhan kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) hingga tahun 2019.
Sumber: Badan Pusat Statistik/ Kementerian Perdagangan (diolah) Gambar 2.2 Kondisi Ekspor Impor Alat Kesehatan Indonesia
2011-2015
2. Kondisi Ekspor Alat Kesehatan di Indonesia
Berdasarkan data perdagangan luar negeri Indonesia tahun 2015, ekspor alat kesehatan Indonesia didominasi oleh alat kesehatan yang bersifat disposable (sekali pakai). Sarung tangan medis (gloves, mittens, and mitts) berkontribusi sebesar 36,3% dari total ekspor alat kesehatan Indonesia. Sementara itu, produk yang menyumbang porsi ekspor terbesar lainnya adalah produk lensa kontak dan sejenisnya yang berkontribusi sebesar 13,4%, serta pembalut dan sejenisnya (disposable sanitary towel, etc) sebanyak 13% dari total ekspor alat kesehatan.
Berikut adalah daftar 20 jenis produk alat kesehatan dengan permintaan ekspor terbesar tahun 2015:
Sumber: Badan Pusat Statistik/ Kementerian Perdagangan Tabel 2.1 Besar Produk dengan Permintaan Ekspor Tertinggi
3. Kondisi Impor Alat Kesehatan Indonesia
Impor alat kesehatan Indonesia didominasi oleh produk alat kesehatan berbasis teknologi tinggi. Pada tahun 2015, impor alat kesehatan Indonesia didominasi oleh alat operasional digital dan portable, mencapai 16,5% dari total impor alat kesehatan Indonesia. Kontribusi lainnya berasal dari produk alat kesehatan lain non-elektronik (7,2%), disposable sanitary towel (6,9%), peralatan kesehatan elektronik (5,7%), serta reagen dan preparat untuk laboratorium (5,3%).
Untuk produk-produk impor, rata-rata pertumbuhan 5 tahunan meliputi, other portable digital automatic data (30,4%), other instrument and appliances (20,2%), other disposable sanitary towel (12,7%), other diagnostic/lab reagents and prepared (18,9%).
Berikut adalah daftar 20 jenis produk alat kesehatan dengan nilai impor terbesar untuk tahun 2015:
Sumber: Badan Pusat Statistik/ Kementerian Perdagangan Tabel 2.2 Besar Produk dengan Nilai Impor Tertinggi (2015)
4. Potensi Permintaan Alat Kesehatan Domestik
Dari data-data diatas, dapat terlihat bahwa potensi ekspor Indonesia berada pada produksi alat kesehatan dengan teknologi rendah, diantaranya, produk sarung tangan dan sejenisnya, produk lensa kontak dan sejenisnya, produk disposable sanitary towel, instrument alat kesehatan non-elektronik, furniture alat kesehatan, cannula, dan lain sebagainya. Pada produk-produk ini, produsen Indonesia dipercaya masih dapat bersaing secara kompetitif.
Sementara untuk impor, potensi pasar Indonesia meliputi produk-produk dengan teknologi tinggi. Dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekspor Compunded Annual Growth Rate (CAGR) untuk ekspor dan impor selama 4
tahun ke belakang, dapat terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan ekspor alat kesehatan Indonesia mencapai 7,7%, sementara pertumbuhan impor untuk alat kesehatan mencapai 12,7%.
Didasarkan pada pertumbuhan tersebut, serta ditambah dengan potensi ekspansi permintaan impor akibat JKN, dihasilkan proyeksi permintaan ekspor dan impor sebagai berikut:
Sumber: Badan Pusat Statistik/ Kementerian Perdagangan (diolah) Gambar 2.3 Grafik Proyeksi Ekspor Alat Kesehatan Indonesia
2015-2030
Berdasarkan hasil proyeksi diatas, pada tahun 2030, ekspor alat kesehatan Indonesia akan mencapai angka 35 trilyun. Sementara itu, proyeksi impor alat kesehatan di Indonesia dijabarkan sebagai berikut:
Sumber: Badan Pusat Statistik/ Kementerian Perdagangan (diolah) Gambar 2.4 Grafik Proyeksi Impor Alat Kesehatan Indonesia
2015-2030
Proyeksi diatas menunjukkan bahwa, pada tahun 2030, impor alat kesehatan mencapai 131,8 trilyun. Sementara, proyeksi permintaan domestik tahun 2016-2030 dijabarkan sebagai berikut:
data diatas, menunjukkan bahwa proyeksi permintaan alat kesehatan Indonesia di tahun 2030 mencapai 153 trilyun. Sementara itu, proyeksi permintaan alat kesehatan di tahun 2017 sebesar 23 trilyun, dan pada tahun 2020 mencapai 35 trilyun.
5. Kemampuan Industri Alat Kesehatan dalam Memenuhi Kebutuhan Standar Alat Kesehatan di Rumah Sakit
Industri alat kesehatan di Indonesia pada saat ini ada sejumlah 216 industri yang tersebar di 11 wilayah Propinsi. Izin edar alat kesehatan dalam negeri ada sejumlah 2.862 izin edar dan bila dibandingkan dengan standar minimal alat kesehatan yang harus tersedia di rumah sakit sesuai dengan Permenkes No 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit maka sudah mampu memenuhi 66,1% dari standar di RS Tipe D, 57,9% dari standar di RS Tipe C, 51,3% dari standar RS Tipe B dan 48,2% dari RS Tipe A.
B. Hambatan
Meningkatnya kebutuhan alat kesehatan belum dapat dipenuhi oleh industri alat kesehatan dalam negeri. Berdasarkan data terakhir, 94 % alat kesehatan yang beredar adalah produk impor (sumber: ASPAKI). Kemudahan keluar masuk barang dalam era globalisasi dan dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa membuat Indonesia menjadi pasar yang menarik untuk masuknya produk impor. Hal tersebut sangat tidak sejalan dengan upaya kemandirian nasional terhadap alat kesehatan maupun ketahanan ekonomi nasional. Permasalahan yang dihadapi industri alat kesehatan meliputi :
1. Regulasi
a. Kurangnya regulasi yang berpihak pada pengembangan industri.
b. Kurangnya dukungan pemerintah untuk mendorong penggunaan alat kesehatan dalam negeri.
2. Produksi
a. Industri alat kesehatan dalam negeri masih terbatas teknologi rendah sampai menengah.
b. Pemberlakuan pajak sebesar 5-20% terhadap bahan baku. c. Terbatasnya riset untuk pengembangan alat kesehatan. d. Masih belum maksimalnya kapasitas produksi industri.
e. Masih banyak industri alat kesehatan yang belum memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Alat Kesehatan yang Baik (CPAKB).
3. Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN)
a. Terbatasnya bahan baku dalam negeri yang memenuhi persyaratan. b. Lebih dari 90% bahan baku alat kesehatan masih impor.
c. Rendahnya minat investasi bahan baku. 4. Infrastruktur
a. Masih minimnya lembaga riset alat kesehatan. b. Masih terbatasnya laboratorium uji alat kesehatan. 5. Sumber Daya
a. Masih terbatasnya tenaga ahli di bidang alat kesehatan.
b. Masih banyak industri alat kesehatan berskala UMKM dengan modal terbatas.
C. PERKEMBANGAN INDUSTRI ALAT KESEHATAN
1. Perkembangan Industri Alat Kesehatan
Berdasarkan hasil penelitian International Monetary Fund, Indonesia diposisikan akan menjadi kekuatan ekonomi baru dengan urutan ke-6 terbesar di dunia pada tahun 2030, seperti yang dapat dilihat pada bagian di bawah ini.
Tabel 2. Hasil Penelitian International Monetary Fund
Hal yang sama diutarakan oleh Bank Dunia pada tahun 2011, bahwa apabila dilihat dalam “global economic horizon” bahwa Indonesia merupakan 1 dari 6 negara di dunia yang akan memberikan kontribusi 50% dari ekonomi Dunia pada tahun 2011 sampai dengan 2025. Keenam negara berpotensi besar tersebuta dalah China, India, Rusia, Brazil, Korea Selatan, dan Indonesia.
Indonesia akan mengalami demographic bonus yang puncaknya diprediksi pada tahun 2025, menurut Bank Dunia. Kondisi ini hanya tercapai pada beberapa negara berkembang dan hanya terjadi sekali dalam satu periode kependudukan. Kondisi dimana pertumbuhan penduduk produktif tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Dengan banyaknya usia produktif masyarakat Indonesia tentu akan mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia dan juga perekonomian dunia. Permintaan akan pasar konsumsi Indonesia akan meningkat, demikian pula kemudahan ketenaga kerjaan Indonesia yang melimpah tentu akan menarik minat investasi asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kondisi ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 5. Indonesia: Demografic Bonus
2. Data Sarana Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Jumlah rumah sakit di Indonesia cukup banyak, yaitu sejumlah 2.068 rumah sakit. Sebagian besar rumah sakit dimiliki oleh pemerintah, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemerintah daerah tingkat II Kabupaten/Kota memiliki 444 rumah sakit. Kondisi di atas menunjukan bahwa apabila terjadi peningkatan jumlah tempat tidur (ruang rawat inap), maka akan meningkatkan kebutuhan alat kesehatan lainnya terutama dalam memenuhi kebutuhan fasyankes pada penerapan SJSN.
Tabel 3. Jumlah Rumah Sakit Se-Indonesia
3. Situasi Alat Kesehatan Dalam Negeri Saat Ini
PT. Surveyor Indonesia (Persero) ditunjuk Kementerian Kesehatan untuk melakukan pemetaan kemampuan produsen alat kesehatan nasional. Dari Hasil survey di peroleh data sebagai berikut:
D. PERKEMBANGAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM ALAT KESEHATAN DAN PKRT
Sesuai dengan Permenkes 1144/Menkes/Per/VIII/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 35 Tahun 2013 Pasal 588 disebutkan bahwa “Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, serta pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang produksi dan distribusi alat kesehatan dan PKRT”, karena tugas pokok dan fungsinya yang cukup luas maka berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015, Direktorat tersebut di bagi menjadi 2 (dua) yaitu Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Direktorat Pengawasan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga.
Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga yang mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan , serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penilaian alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam rangka menjamin alat kesehatan dan/atau PKRT yang memenuhi standard dan/atau persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan diselenggarakan upaya pemeliharaan mutu alat kesehaan dan/atau PKRT. Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1190/Menkes/Per/VIII/2010 tentang Izin Edar dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga pasal 5 ayat (1) menyebutkan sebagai berikut “Alat kesehatan dan/atau PKRT yang akan diimpor, digunakan dan/atau diedarkan di wilayah Republik Indonesia harus terlebih dahulu memiliki izin edar”. Semua alat kesehatan dan PKRT memiliki risiko dalam penggunaan, disamping keuntungan dari penggunaan alat kesehatan dan PKRT tersebut. Untuk Penilaian mutu, keamanan, dan kemanfaatan alat kesehatan dan PKRT dalam rangka pemberian izin edar dibentuk tim penilai dan tim ahli alat kesehatan dan PKRT. Sistem regulasi alat kesehatan bertujuan untuk memaksimalkan keuntungan alat kesehatan dan meminimalkan risiko yang timbul terhadap pasien. Sistem regulasi alat kesehatan terdiri dari Premarket Control yang dilakukan sebelum alat kesehatan beredar dan Post Market Control yang dilakukan setelah alat kesehatan ada di peredaran.
4. PERMASALAHAN
Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi dari Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT maka ada beberapa masalah atau kendala yang dihadapi sebagai berikut:
1. Keterbatasan dalam jumlah SDM, kompetensi SDM, anggaran dan sarana merupakan salah satu hambatan untuk melaksanakan program Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT.
2. Industri alat kesehatan dalam negeri masih terbatas teknologirendah sampai menengah.
3. Terbatasnya riset untuk pengembangan alat kesehatan dalam negeri 4. Sistem regulasi alat kesehatan dan PKRT yang berlaku di Indonesia
masih dalam proses harmonisasi dan ratifikasi dengan regulasi AMDD (Asean Medical Devices Directive).
5. Rendahnya minat investasi terhadap produk alat kesehatan dan PKRT dalam negeri.
5. ANALISA SWOT
Hasil diagnosa alternatif strategi ini dapat dilihat pada matrik SWOT di bawah ini dan digunakan dalam penyusunan strategi.
VISI DAN MISI ORGANISASI
Visi dan Misi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengikuti visi dan misi Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong- royong”. Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah melalui 7 (tujuh) misi pembangunan yaitu:
Dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015- 2019 tidak ada visi dan misi, namun mengikuti visi dan misi Presiden Republik Indonesia yaitu “Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong- royong”.
Upaya untuk mewujudkan visi ini adalah melalui 7 (tujuh) misi pembangunan yaitu:
1. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.
2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis berlandaskan negara hukum.
3. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri sebagai negara maritim.
4. Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.
5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.
6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional, serta
7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.
Selanjutnya terdapat 9 (sembilan) agenda prioritas yang dikenal dengan NAWA CITA yang ingin diwujudkan pada Kabinet Kerja, yakni: 1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan
memberikan rasa aman pada seluruh warga Negara.
2. Membuat pemerintah tidak absen dengan membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya.
3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
4. Menolak negara lemah dengan melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat, dan terpercaya.
5. Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia.
6. Meningkatkan produktifitas rakyat dan daya saing di pasar Internasional.
7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.
8. Melakukan revolusi karakter bangsa.
9. Memperteguh ke-Bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial Indonesia.
TUJUAN ORGANISASI
Terdapat dua tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019, yaitu: 1) meningkatnya status kesehatan masyarakat dan; 2) meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.
SASARAN ORGANISASI
Untuk mendukung sasaran strategis Kementerian Kesehatan dalam meningkatnya akses, kemandirian, dan mutu sediaan farmasi dan alat kesehatan, maka Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga menetapkan sasaran yang akan dicapai yaitu “meningkatnya pengendalian pra pemasaran alat kesehatan dan PKRT”.
INDIKATOR KINERJA KEGIATAN
Untuk mencapai kinerja secara terarah maka telah ditetapkan indikator kinerja kegiatan dan target sebagaimana tabel berikut :
Tabel 6. Indikator Kinerja Kegiatan dan Target Tahun 2015-2019 INDIKATOR
KINERJA KEGIATAN
TARGET
2015 2016 2017 2018 2019 1. Jumlah alkes yang
diproduksi di dalam
negeri (kumulatif) 2 4 6 8 10
2. Persentase penilaian premarket tepat waktu sesuai Good Review Practices
Tabel 8. Rumus Perhitungan. Jumlah alkes yang diproduksi di dalam negeri (kumulatif) : - Persentase penilaian premarket tepat waktu sesuai Good Review Practices D (%) = 100%
A. STRATEGI
Dalam rangka pencapaian kinerja kegiatan 2015-2019, ada beberapa strategi yang dapat digunakan dalam rangka mencapai sasaran organisasi adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan Ketersediaan, Keterjangkauan, Pemerataan, dan Kualitas Alat Kesehatan.
2. Track & trace sistem e-regalkes adalah sistem perizinan registrasi alat kesehatan dan PKRT secara online yang dapat dilacak dan ditelusuri di setiap tahapan proses evaluasi perizinan atau sertifikasi. Dengan sistem ini maka stake holder (pelaku usaha) dapat memantau proses perizinannya sesuai janji layanan. Sistem ini juga terkoneksi dengan fortal INSW milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan.
3. Penerapan e-payment, yaitu aplikasi yang menghubungkan antara sistem registrasi online alkes dan PKRT dengan sistem informasi PNBP online (SIMPONI) milik Kementerian Keuangan. Dengan aplikasi ini pemohon dapat melakukan pembayaran 24 jam realtime online melalui ATM atau Internet banking bank persepsi di seluruh Indonesia. Pembayaran PNBP dengan metode ini dapat lebih terpercaya kebenarannya, efektif dan efisien dibandingkan pembayaran dengan formulir Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) atau pembayaran manual. Selain itu dapat meningkatkan akuntabilitas pencatatan dan pelaporan keuangan.
4. Penerapan e-suka yaitu pelayanan surat keterangan secara online sebagai terobosan banyaknya permohonan surat keterangan yang dibutuhkan masyarakat untuk informasi produk, baik untuk kebutuhan pribadi, pengadaan, ekspor-impor, dan untuk melakukan proses registrasi alat kesehatan dan PKRT. E-sistem surat keterangan alat kesehatan yang dinamakan e-suka yang dapat diakses melalui www.esuka.binfar.kemkes.go.id.
5. Mengajukan usulan penambahan jumlah SDM, memberikan pelatihan/ mengirimkan SDM untuk mengikuti pelatihan sesuai dengan kompetensi, mengajukan anggaran dan penambahan sarana dalam rangka meningkatkan pengembangan produk alat kesehatan dalam negeri dan evaluasi permohonan izin edar alat kesehatan dan PKRT.
6. Memanfaatkan investasi luar negeri untuk transfer ilmu dan teknologi untuk memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan bagi pengembangan produk alat kesehatan dalam negeri.
7. Melakukan koordinasi dan memfasilitasi antara peneliti, perusahaan dan pemerintah dalam rangka hilirisasi hasil penelitian dan pengembangan produk alat kesehatan dalam negeri
8. Mengikuti berbagai pertemuan tingkat regional maupun internasional dalam rangka harmonisasi regulasi
9. Meningkatkan pemahaman terhadap standar alat kesehatan untuk meningkatkan kepercayaan pengguna terhadap produk dalam negeri.
B. KEGIATAN PRIORITAS
Beberapa kegiatan prioritas Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT, antara lain :
a. Pengembangan sistem e-penatausahaan anggaran.
b. Penyediaan dashboard aplikasi registrasi alkes dan PKRT.
c. Sistem online pengukuran kepuasan pelanggan dalam perizinan pelayanan publik alat kesehatan.
d. Integrasi sistem elektronik dan business Intelegence di lingkungan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT.
e. Pameran produksi alat Kesehatan dan PKRT.
f. Workshop pembinaan industri dan pengendalian alat kesehatan.
g. Peningkatan kemampuan SDM dalam tata cara permohonan pendaftaran izin edar alat kesehatan dan PKRT.
h. Pertemuan Tingkat International untuk penerapan harmonisasi peraturan alat kesehan dalam rangka antisipasi globalisasi.
i. Penilaian alat kesehatan dan PKRT dalam rangka pemberian izin edar. j. Sosialisasi dan koordinasi teknis perizinan alkes dan PKRT.
C. RENCANA KEBUTUHAN SUMBER DAYA 2015-2019
1. Sumber Daya Manusia
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bahwa Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga mempunyai tugas melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang Penilaian alat kesehatan dan PKRT sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Dalam rangka melaksanakan tugas Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga menyelenggarakan fungsi:
1) Penyiapan perumusan kebijakan di bidang penilaian alat kesehatan kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, produk radiologi, produk diagnostik, alat kesehatan khusus, produk perbekalan kesehatan rumah tangga, dan produk mandiri.
2) Penyiapan pelaksanaan kebijakan di bidang penilaian alat kesehatan kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, produk radiologi, produk diagnostik, alat kesehatan khusus, produk perbekalan kesehatan rumah tangga, dan produk mandiri;
3) Penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria penyiapan penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria di bidang penilaian alat kesehatan kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, produk radiologi, produk diagnostik, alat kesehatan khusus, produk perbekalan kesehatan rumah tangga, dan produk mandiri;
4) Penyiapan pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang penilaian alat kesehatan kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, produk radiologi, produk diagnostik, alat kesehatan khusus, produk perbekalan kesehatan rumah tangga, dan produk mandiri
5) Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penilaian alat kesehatan kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, produk radiologi, produk diagnostik, alat kesehatan khusus, produk perbekalan kesehatan rumah tangga, dan produk mandiri.
6) Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Direktorat.
Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga terdiri dari 4 (empat) Subdit dan 1 (satu) Sub Bagian Tata Usaha serta Kelompok Jabatan Fungsional yaitu:
a. Subdirektorat Alat Kesehatan Kelas A dan B mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penilaian alat kesehatan kelas A dan B.
b. Subdirektorat Alat Kesehatan Kelas C dan D mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penilaian alat kesehatan kelas C, kelas D, dan produk radiologi.
g. Subdirektorat Produk Diagnostik dan Alat Kesehatan Khusus mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penilaian produk diagnostik dan alat kesehatan khusus.
h. Subdirektorat Produk Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Produk Mandiri mempunyai tugas melaksanakan penyiapan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma, standar, prosedur, dan kriteria, dan pemberian bimbingan teknis dan supervisi, serta pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang penilaian produk perbekalan kesehatan rumah tangga dan produk mandiri.
i. Subbagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan koordinasi penyusunan rencana, program, dan anggaran, pengelolaan keuangan dan barang milik negara, evaluasi dan pelaporan, urusan kepegawaian, tata laksana, kearsipan, dan tata persuratan, serta kerumahtanggaan Direktorat.
Dalam pencapaian kinerja Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT didukung oleh sumber daya manusia dan sumber daya anggaran.
Sumber daya manusia adalah salah satu asset organisasi yang mempengaruhi efesensi dan efektifitas kinerja dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Kondisi Pengawai Negeri Sipil di lingkungan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT awal tahun 2016 berjumlah 44 orang terdiri dari jabatan struktrual sebanyak 14 orang dan Jabatan Fungsional Umum (JFU) 30 orang dengan rincian sebagai berikut:
Gambar 1. Struktur Organisasi Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga
Tabel 18. Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRTTahun 2016
NO. UNIT KERJA STRUKTURAL
FUNGSIONAL UMUM
FUNGSIONAL
TERTENTU JUMLAH
1 Direktur 1 - - 1
2 Sub Direktorat Alat Kesehatan
Kelas A dan B 3 6 - 9
3
Sub Direktorat Alat Kesehatan
Kelas C dan D 3 5 - 8
4
Sub Direktorat Produk Diagnostik
dan Alkes Khusus 3
6 - 9
5
Sub Direktorat Produk Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Produk Mandiri
3 6 - 9
6 Subbag TU 1 7 - 8
Jumlah 14 30 - 44
Tabel 21. Distribusi Pegawai Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRTmenurut Jenjang Pendidikan Tahun 2016
NO. PENDIDIKAN PNS
1 S2 6
3 S1 8
4 D3 1
5 SLTA 4
Jumlah 44
Tabel 22. Distribusi Pegawai Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT menurut Jenjang Pendidikan Tahun 2016
Untuk memenuhi kebutuhan pegawai pada Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT maka diperlukan perencanaan kebutuhan pegawai berdasarkan beban kerja yang ada, oleh karena itu dibuatlah Analisa Beban Kerja (ABK) Direktorat. Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT sesuai Permenkes 1144 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan merupakan Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan yang berdasarkan beban kerja yang cukup luas maka sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 64 Tahun 2015, Direktorat tersebut di bagi menjadi 2 (dua) yaitu Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga dan Direktorat Pengawasan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga.
Berikut adalah ABK Direktorat Bina Produksi dan Distribusi Alat Kesehatan dari Sub Direktorat Penilaian Alat Kesehatan, Sub Direktorat Penilaian Diagnostik in Vitro dan PKRT dan tata usaha yang merupakan bagian dari ABK Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga, sebagai berikut:
UNIT ORGANISASI : SUBDIT PENILAIAN DIAGNOSTIK IN VITRO DAN PKRT: SUBDIT PENILAIAN ALAT KESEHATAN
SATUAN KERJA : DIT BINA PRODIS ALKES: DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALKES
LOKASI : JAKARTA: JAKARTA
(1) (3) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Kasubdit Penilaian Alat kesehatan 1.473,92 1474 : 1200 = 1,23= 1 Orang 1 0 1,23 A OVERLOAD
2 Kasie Elektromedik 1.254,33 1254 : 1200 = 1,05= 1 Orang 1 0 1,05 A OVERLOAD
3 Kasie Non Elektromedik 2.360,92 2361 : 1200 = 1,97= 2 Orang 1 -1 1,97 A OVERLOAD
4 adminkes pertama 10.219,31 10219 : 1200 = 8,52= 9 Orang 8 -1 1,06 A OVERLOAD
5 adminkes muda 2.359,57 2360 : 1200 = 1,97= 2 Orang 0 -2 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
6 adminkes madya 740,83 741 : 1200 = 0,62= 1 Orang 0 -1 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
7 pengola data 4.075,53 4076 : 1200 = 3,40= 3 Orang 2 -1 1,70 A OVERLOAD
8 Penata laporan keuangan 79,00 79 : 1200 = 0,07= 0 Orang 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
9 arsip pemula 3.022,63 3023 : 1200 = 2,52= 3 Orang 0 -3 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
10 caraka 3,77 4 : 1200 = 0,00= 0 Orang 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
11
24.115,89
21,32 21 - 13,00 (8,32) 1,55 A OVERLOAD
Jumla h :
PENGHITUNGAN KEBUTUHAN PEGAWAI/PEJABAT, TINGKAT EFISIENSI & EFEKTIVITAS KERJA JABATAN (EJ) DAN PRESTASI KERJA JABATAN (PJ)
No. Nama Jabatan
Jml. Beban (Bobot) Kerja
Jab
Pe nghitungan Jumlah Kebutuhan Pejabat/Pegawai Jml.Pej/
Peg Yg ada
+/- EJ PJ Keterangan
(2) (4)
NO. GOLONGAN JUMLAH
1 Golongan IV 7
2 Golongan III 35
3 Golongan II 2
Tabel... Analisa Beban Kerja Subdit. Penilaian Alat Kesehatan
Tabel... Analisa Beban Kerja Subdit. Penilaian Diagnostik in Vitro dan PKRT
Tabel... Analisa Beban Kerja Subbag. Tata Usaha
UNIT ORGANISASI : SUBDIT PENILAIAN DIAGNOSTIK IN VITRO DAN PKRT SATUAN KERJA : DIT BINA PRODIS ALKES: DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALKES
LOKASI : JAKARTA: JAKARTA
(1) (3) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Kasubdit Diagnostik In Vitro & PKRT 1.062,58 1063 : 1200 = 0,89= 1 Orang 1 0 0,89 C Cukup
2 Kasie Diagnostik In Vitro 1.162,00 1162 : 1200 = 0,97= 1 Orang 1 0 0,97 B Baik
3 Kasie PKRT 1.157,00 1157 : 1200 = 0,96= 1 Orang 1 0 0,96 B Baik
4 adminkes pertama 5.911,65 5912 : 1200 = 4,93= 5 Orang 6 1 0,82 C Cukup
5 adminkes muda 2.383,53 2384 : 1200 = 1,99= 2 Orang 0 -2 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
6 adminkes madya 956,30 956 : 1200 = 0,80= 1 Orang 0 -1 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
7 Pengolah data 3.251,70 3252 : 1200 = 2,71= 3 Orang 1 -2 2,71 A Sangat Baik
8 Penata laporan keuangan 27,00 27 : 1200 = 0,02= 0 Orang 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
9 Arsiparis pemula 942,73 943 : 1200 = 0,79= 4 Orang 0 -4 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
10 Sekertaris 4,30 4 : 1200 = 0,00= 0 Orang 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
11 Caraka 3,17 3 : 1200 = 0,00= 0 Orang 0 0 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
15.799,37
14,05 17 - 10,00 (7,27) 1,32 A Sangat Baik
PJ Keterangan
(2) (4)
Jumlah :
PENGHITUNGAN KEBUTUHAN PEGAWAI/PEJABAT, TINGKAT EFISIENSI & EFEKTIVITAS KERJA JABATAN (EJ) DAN PRESTASI KERJA JABATAN (PJ)
No. Nama Jabatan
Jml. Beban (Bobot) Kerja
Jab
Penghitungan Jumlah Kebutuhan Pejabat/Pegawai Jml.Pej/
Peg Yg ada
+/- EJ
UNIT ORGANISASI : BAGIAN HUKUM,ORGANISASI DAN HUMAS: SUBBAG. TATA USAHA
SATUAN KERJA : SETDITJEN BINFAR DAN ALKES: DIREKTORAT BINA PRODUKSI DAN DISTRIBUSI ALAT KESEHATAN
LOKASI : JAKARTA: JAKARTA
(1) (3) (5) (6) (7) (8) (9)
1 Direktur 694 694 : 1200 = 0,58= 1 Orang 1 0 0,58 D Sedang
2 Kasubag TU 778,58 779 : 1200 = 0,65= 1 Orang 1 0 0,65 D Sedang
3 Sekertaris 2.150,77 2151 : 1200 = 1,79= 2 Orang 0 -2 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
4 Perencana 2.808,67 2809 : 1200 = 2,34= 2 Orang 2 0 1,17 A Sangat Baik
5 Adminkes 4.693,00 4693 : 1200 = 3,91= 4 Orang 0 -4 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
6 Pengolah data 9.288,47 9288 : 1200 = 7,74= 8 Orang 2 -6 3,87 A Sangat Baik
7 Bendahara 2.227,08 2227 : 1200 = 1,86= 2 Orang 2 0 0,93 B Baik
8 Penata laporan keuangan 980,82 981 : 1200 = 0,82= 1 Orang 0 -1 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
9 Arsiparis pemula 8.047,37 8047 : 1200 = 6,71= 7 Orang 0 -7 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
10 Pengelola BMN 697,83 698 : 1200 = 0,58= 1 Orang 0 -1 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
11 Analis Data 1.200,00 1200 : 1200 = 1,00= 1 Orang 1 0 1,00 A Sangat Baik
12 Caraka 1.317,13 1317 : 1200 = 1,10= 1 Orang 0 -1 #DIV/0! #DIV/0! #DIV/0!
33.411,13
28,49 28 - 8,00 (20,49) 0,06 E Kurang
(2) (4)
Jumlah :
PENGHITUNGAN KEBUTUHAN PEGAWAI/PEJABAT, TINGKAT EFISIENSI & EFEKTIVITAS KERJA JABATAN (EJ) DAN PRESTASI KERJA JABATAN (PJ)
No. Nama Jabatan
Jml. Beban (Bobot) Kerja
Jab
Penghitungan Jumlah Kebutuhan Pejabat/Pegawai Jml.Pej/
Peg Yg ada
a. Sumber Daya Anggaran
Anggaran DIPA Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut :
Kebutuhan anggaran Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga tahun 2015-2019 (dalam ribuan rupiah):
Penilaian Rencana Aksi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya tahun 2015-2019 ditujukan untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan serta keberhasilan upaya dukungan terhadap Program Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga. Penilaian terhadap rencana aksi ini dilakukan sebagai berikut :
a. Penilaian tahunan dilakukan pada setiap akhir tahun anggaran yang dituangkan ke dalam Laporan Kinerja Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga.
b. Penilaian periodik menggunakan aplikasi pemantauan dan evaluasi yang tersedia, baik triwulan, semester, maupun per tahun.
c. Penilaian pada pertengahan periode yang dilakukan pada tahun 2017. d. Penilaian akhir yang dilakukan pada akhir tahun 2019 atau pada awal
tahun 2020.
Penilaian Rencana Aksi Kegiatan Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya tahun 2015-2019 dilakukan dengan menilai capaian target yang telah ditetapkan baik terhadap Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019, Rencana Aksi Program Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT, maupun terhadap sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Aksi ini. Penilaian juga dilakukan setiap tahun terhadap pencapaian hasil luaran dari setiap kegiatan dan realisasi anggaran terhadap anggaran yang ditetapkan. Dalam rangka penilaian tersebut diperlukan upaya penguatan pelaporan terhadap pelaksanaan kegiatan. Hasil dari penilaian yang dilakukan harus terdokumentasi dengan baik, sebagai bahan penyiapan strategi dari implementasi Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya pada Program Penilaian Alat Kesehatan dan PKRT di masa yang akan datang.
2015
2016
2017
2018
2019
Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan
PKRT
TAHUN
Kegiatan
Perumusan Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Rumah Tangga memerlukan pengorganisasian, penggerakan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi serta mutlak membutuhkan kerjasama dari berbagai pihak sesuai dengan kewenangannya masing-masing. Dengan adanya Rencana Aksi Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi petunjuk dalam berkontribusi dari setiap pemangku kepentingan dalam melaksanakan kegiatan dalam rangka pencapaian sasaran organisasi dan target indikator kinerja kegiatan yang telah ditetapkan.
Rencana Aksi Kegiatan yang dibuat diharapkan mampu menjadi arahan dalam mengembangkan produk alat kesehatan dalam negeri dan meningkatkan kualitas pelayanan publik registrasi alat kesehatan dan PKRT. Hal ini dapat mendorong kemajuan perekonomian Indonesia dan yang lebih utama lagi bagi peningkatan derajat kesehatan manusia Indonesia.
Dalam upaya pelaksanaan Rencana Aksi Kegiatan maka harus melibatkan berbagai sektor, baik internal antar subdirektorat dan subbagian TU maupun pihak eksternal dari bidang akademik, laboratorium, asosiasi maupun stake holder lain yang terkait.
Dalam rangka menghadapi perkembangan internal maupun eksternal, tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan penyesuaian terhadap substansi maupun editorial Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga tahun 2015-2019 sesuai dengan dinamika pemerintahan dan pembangunan kesehatan.