• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDUAN PELAKSANAAN LABORATORIUM INOVASI ADMINISTRASI NEGARA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PANDUAN PELAKSANAAN LABORATORIUM INOVASI ADMINISTRASI NEGARA"

Copied!
102
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PANDUAN

PELAKSANAAN

LABORATORIUM INOVASI

ADMINISTRASI NEGARA

Penerbit :

Gedung B. Lt 5 – Jl. Veteran No. 10 – Jakarta Pusat 10110 Telp. 021-3455021 – 25 Ext. 147 – 151

(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Inovasi merupakan kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, daya saing nasional, dan meningkatkan kesejahteraan bangsa. Namun, posisi dan keadaan inovasi di Indonesia tidaklah terlalu menggembirakan. Dalam Global Innovation Index, Indonesia menempati peringkat 87 dengan skor 31,8, turun dari peringkat 85 dengan skor 31,95 pada tahun 2013. Peringkat ini berada di bawah negara-negara tetangga lain di kawasan ASEAN seperti Vietnam (peringkat 71), Thailand (peringkat 48), Malaysia (peringkat 33), dan Singapura (peringkat 7). Sementara itu, Laporan Daya Saing Global yang dirilis World Economic Forum (2014) yang mensurvei 148 negara mennjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 38 dengan skor 4,53. Lagi-lagi, peringkat ini berada di bawah negara tetangga seperti Thailand (peringkat 37), Brunei (peringkat 26), Malaysia (peringkat 24), dan Singapura (peringkat 2). Jika Indonesia tidak berbenah secara cepat, maka kesulitan yang akan dialami Indonesia akan semakin menghebat mengingat pada tahun 2015 sudah mulai akan diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN, di mana barang, jasa, dan tenaga kerja akan bersirkulasi bebas di antara negara-negara ASEAN. Inovasi yang rendah akan berimplikasi pada daya saing yang rendah dan pada akhirnya Indonesia akan kalah bersaing dengan negara-negara ASEAN.

Di antara sektor-sektor yang dituntut untuk melakukan inovasi secara akseleratif, sektor publik merupakan salah satu sektor yang paling diharapkan, khususnya sektor publik di daerah yakni pemerintah daerah provinsi, kabupaten, dan kota. Ini karena titik berat pembangunan dan pelayanan publik kini berada di daerah seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah. Dengan sektor publik yang inovatif, maka pelayanan publik menjadi semakin baik, masyarakat semakin berdaya, pertumbuhan ekonomi semakin tinggi. Pada akhirnya, daya saing daerah dan kesejahteraan warga pun semakin meningkat. Hal ini semakin diperkuat dengan

(5)

ketentuan dalam UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang menyatakan bahwa dalam rangka peningkatan kinerja penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintah daerah dapat melakukan inovasi, yang dipahami sebagai semua bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah (lihat Pasal 386).

Sesungguhnya, telah terdapat beberapa pemerintah daerah yang dipimpin oleh kepala daerah inovatif dan menghasilkan kebijakan-kebijakan inovatif, terbukti dengan adanya beberapa best practices inovasi pemerintah daerah yang telah didokumentasikan (lihat misalnya 99 Inovasi Pelayanan Publik terbitan Kemenpan-RB). Namun, jika dibandingkan dengan total instansi di seluruh pemerintah daerah, yakni terdapat 34 propinsi, 390 kabupaten dan 97 kota, jumlahnya masih terbilang minor.

Atas dasar itulah, maka dirasakan perlunya peningkatan dan pengembangan inovasi di lingkungan pemerintah daerah. Lembaga Administrasi Negara (LAN) pada tahun 2015 dan tahun 2016 telah menjalin kerjasama dengan beberapa pemerintah daerah untuk melakukan pendampingan, asistensi, dan fasilitasi inovasi melalui program yang disebut dengan Laboratorium Inovasi. Laboratorium Inovasi merupakan inovasi pada tataran kolektif dan organisasional, tercatat sampai dengan tahun 2016 ini terdapat 12 daerah kabupaten dan Kota yang telah dijadikan Laboratorium inovasi, dari 12 daerah tersebut telah dihasilkan 1.637 ide inovasi, namun jika dibandingkan dengan jumlah daerah secara keseluruhan (521 daerah) yang meliputi 34 Propinsi, 390 Kabupaten dan 97 Kota, maka jumlah daerah yang menjadi Laboratorium Inovasi tersebut masih tergolong kecil (2 %), oleh sebab itu untuk mengakselerasi perkembangan inovasi di lingkungan pemerintah daerah dipandang perlu menyusun panduan-panduan dalam rangka Pengembangan Manajemen Laboratorium Inovasi Pemerintahan Daerah yang meliputi : a) Panduan Pelaksanaan Laboratorium Inovasi Administrasi Negara; b) Panduan Pelaksanaan Workshop Champion Innovation Pemerintah Daerah; c) Manual Sistem Informasi Laboratorium Inovasi Administrasi Negara (SINOLA); d)

(6)

Aplikasi Sistem Informasi Laboratorium Inovasi Administrasi Negara; dan e) Panduan Penilaian Innovation Readiness Level.

Diharapkan Panduan Pelaksanaan Laboratorium Inovasi Adminstrasi Negara ini dapat dijadikan acuan bagi instansi pemerintah daerah untuk melakukan kegiatan Laboratorium Inovasi di daerahnya.

Kami menyadari, panduan ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu masukan dari berbagai pihak guna penyempurnaan Panduan Pelaksanaan Laboratorium Inovasi Administrasi Negara, dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para Narasumber yang selama ini telah berkontribusi dalam penyusunan panduan ini.

Jakarta, Juli 2016 Deputi Inovasi Administrasi Negara

(7)
(8)

Kata Pengantar iii Daftar Isi vi Pendahuluan 1 Latar Belakang 1 Tujuan 3 Metode 4 Satu : Drum Up 6 Pengantar 6 Tujuan 8 Metode 8 Dua : Diagnose 9 Pengantar 9 Tujuan 11 Metode 12 Tiga : Design 14 Pengantar 14 Tujuan 16 Metode 17 Empat : Deliver 18 Pengantar 18 Tujuan 20 Metode 20

(9)

Lima : Display 21 Pengantar 21 Tujuan 22 Metode 22 Enam : Penutup 23 Lampiran

Lampiran 1 – Persiapan Pra Laboratorium Inovasi 2

Lampiran 2 – Drum-Up 39

Lampiran 3 - Instrumen Penilaian Innovation

Readiness Level (IRL) 42

Lampiran 4 – Diagnose 66

Lampiran 5 – Design 75

Lampiran 6 – Deliver 85

(10)

Latar Belakang

Inovasi merupakan kunci untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, daya saing nasional, dan meningkatkan kesejahteraan bangsa. Namun, posisi dan keadaan inovasi di Indonesia tidaklah terlalu menggembirakan. Dalam Global Innovation Index (GII) tahun 2015, Indonesia menempati peringkat 97 dengan skor 29,79, turun dari peringkat 87 dengan skor 31,8 pada tahun 2014. Peringkat ini berada di bawah negara-negara tetangga lain di kawasan ASEAN seperti Vietnam (peringkat 52), Thailand (peringkat 55), Malaysia (peringkat 32), dan Singapura (peringkat 7). Seiring dengan GII, Laporan Daya Saing Global yang dirilis World Economic Forum (2015) yang mensurvei 148 negara menunjukkan bahwa Indonesia berada pada peringkat 34 dengan skor 4,52. Lagi-lagi, peringkat ini berada di bawah negara tetangga seperti Thailand (peringkat 31), Brunei (peringkat 26), Malaysia (peringkat 20), dan Singapura (peringkat 2). Jika Indonesia tidak mengakselerasi diri, maka tantangan dan hambatan Indonesia semakin berat. Hal ini tentunya tidak terlepas dari menghadapi perdagangan bebas yang telah dimulai sejak akhir tahun 2015, khususnya Masyarakat Ekonomi ASEAN,

INOVASI JALAN UTAMA

Inovasi bukan lagi

alternatif tetapi

menjadi jalan utama

yang harus ditempuh untuk

meningkatkan

pertumbuhan

ekonomi, daya saing

nasional,

dan meningkatkan

kesejahteraan bangsa

(11)

di mana barang, jasa, dan tenaga kerja akan bersirkulasi bebas di antara negara-negara ASEAN.

Inovasi menjadi salah satu tool dalam mengakselerasi peningkatan daya saing Indonesia. Setiap elemen negara yang meliputi pemerintah, swasta, dan masyarakat sipil harus melakukan inovasi. Inovasi pada lingkungan instansi pemerintah meliputi antara lain kementerian, lembaga pemerintah non kementerian (LPNK), pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota sangat penting karena dapat mengakselerasi inovasi swasta dan masyarakat dalam meningkatkan pelayanan publik. Pemerintah daerah menjadi salah satu ujung tombak pelayanan publik yang wajib melakukan inovasi. Pelayanan publik yang inovatif akan meningkatkan pelayanan, pemberdayaan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, dan daya saing yang semakin tinggi. Kemampuan daya saing daerah yang tinggi pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Inovasi, selain diperlukan untuk meningkatkan daya saing daerah dan meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat, pada dasarnya juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi dicanangkan untuk memperbaiki penyakit-penyakit di sektor publik melalui pembaruan di 8 area sasaran (organisasi, tata laksana, peraturan perundang-undangan, SDM aparatur, pengawasan, akuntabilitas, pelayanan publik, dan mindset serta cultural set aparatur). Inovasi menjadi katalisator untuk mempercepat pelaksanaan reformasi birokrasi, di mana banyak program inovasi merupakan pengejawantahan dari upaya perubahan di area-area tersebut. Lebih jauh lagi, inovasi sesungguhnya dapat dimaknai sebagai reformasi birokrasi kontekstual, artinya pelaksanaan reformasi birokrasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan daerah setempat.

Kesadaran pentingnya inovasi saat ini ditandai dengan telah diterbitkannya Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang memberikan peluang pemerintah daerah untuk melakukan inovasi. Tepatnya pada pasal 386 yang menyatakan bahwa ”dalam rangka peningkatan kinerja penyelenggaraan

(12)

Pemerintahan Daerah, Pemerintah Daerah dapat melakukan inovasi”. Inovasi yang dimaksud adalah semua bentuk pembaharuan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang berpedoman pada prinsip sebagai berikut: peningkatan efisiensi, perbaikan efektivitas, perbaikan kualitas pelayanan, tidak ada konflik kepentingan, berorientasi kepada kepentingan umum, dilakukan secara terbuka, memenuhi nilai-nilai kepatutan, dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya tidak

untuk kepentingan diri sendiri.

Inovasi bukan lagi alternatif tetapi menjadi jalan utama yang harus ditempuh meningkatkan daya saing. Dengan pentingnya inovasi tersebut, Pusat Inovasi Tata Pemerintahan (Pusat INTAN)-Deputi Inovasi Administrasi Negara (DIAN)-Lembaga Administrasi Negara (LAN) menerbitkan buku panduan yang dapat digunakan sebagai referensi oleh para fasilitator laboratorium inovasi (champion innovation) dalam melakukan fasilitasi pelaksanaan laboratorium inovasi di lingkungan pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

Tujuan

Inovasi di sektor publik pada prinsipnya berisikan dimensi sikap (soft) dan dimensi teknis (hard). Dimensi sikap berurusan dengan bagaimana menggugah pengambil kebijakan untuk berinovasi, sedangkan dimensi teknis berurusan dengan penguasaan pengetahuan teknis (manajerial dan substantif) yang dibutuhkan oleh suatu inovasi. Oleh karena itu, buku panduan ini dimaksudkan untuk membekali setiap fasilitator laboratorium inovasi (champion innovation) untuk mengelola kedua dimensi ini dengan baik, yang ditunjukkan dengan kemampuan dalam: • Menginspirasi pengambil kebijakan untuk mau berinovasi dan mau menggalang

dukungan untuk berinovasi (drum up support)

Tujuan Champion Innovation

Mengispirasi, Menggalang

Dukungan, Menggali Ide, Merancang

Inovasi, Deliver dan Display Inovasi

(13)

• Mengukur Innovation Readiness Level atau tingkat kesiapan instansi pemerintah dalam berinovasi dan menggali ide-ide inovasi baik yang berangkat dari permasalahan yang dihadapinya maupun untuk mewujudkan visi atau impiannya (diagnose)

• Merancang rencana aksi inovasi yang komprehensif (design)

• Melaksanakan inovasi secara fokus dan konsisten hingga tuntas (deliver) • Menyampaikan progres dan manfaat inovasi kepada stakeholder atau

lingkungannya (display)

Metode

Untuk mewujudkan kedua dimensi (soft dan hard) yang disebutkan di atas, maka model laboratorium inovasi dibagi ke dalam lima tahap yaitu Drum Up, Diagnose, Design, Deliver dan Display atau disingkat 5D. Seperti pada Gambar 1.

Pada gambar sebelumnya, dimensi soft (mindset) yang berorientasi sikap lebih terkonsentrasi pada tahap drum up, sedangkan dimensi hard (teknokratis) berada pada diagnose, design, deliver dan display. Meskipun demikian, dalam praktek dimensi soft tersebut perlu terus diikutkan agar keseluruhan proses inovasi terlaksana dengan penuh semangat sehingga tujuan inovasi dapat dicapai dengan baik.

(14)

Drum Up merupakan tahapan pertama untuk menginspirasi dan menggugah semangat berinovasi.Kesadaran dan kemauan untuk berinovasi ini menjadi kondisi prasyarat sebelum inovasi dilakukan. Diagnose merupakan tahapan kedua untuk mengukur tingkat kesiapan instansi pemerintah dalam berinovasi dan mengidentifikasi serta menemukan ide inovasi. Tahap ini bertujuan untuk memetakan tingkat kesiapan beinovasi masing-masing instansi pemerintah serta memampukan untuk mendiagnosa masalah yang ada di organisasi, menentukan prioritas masalah, dan menemukan ide untuk mengatasi masalah tersebut. Design

merupakan langkah ketiga untuk merancang desain/prototype inovasi secara lebih detail dan siap untuk diimplementasikan. Pada tahap ini akan diberikan pemahaman mengenai cara mendesain rencana kegiatan pelaksanaan inovasi, identifikasi stakeholders, dan strategi komunikasi. Deliver adalah langkah keempat yakni mengimplementasikan, memonitoring, dan mengevaluasi implementasi inovasi. Pada tahap ini akan dilakukan proses monitoring terhadap inovasi yang sedang dilaksanakan. Display merupakan tahap kelima untuk melakukan festival dan promosi inovasi.Tahap ini bertujuan untuk menyebarluaskan kegiatan inovasi yang telah dilakukan kepada stakeholder terkait termasuk kepada masyarakat luas.

(15)

Pengantar

Kata Drum Up dalam bahasa Inggris berarti menabuh genderang. Jika kata ini digabung dengan kata support sehingga menjadi Drum Up Support maka akan berarti menggalang dukungan.

Dalam pedoman ini, kata ini sengaja dipergunakan untuk menunjukkan

bahwa inovasi di sektor publik berawal dari adanya perubahan mindset, adanya kemauan dan kesadaran untuk berinovasi.

Tahap drum up ini merupakan tahapan awal yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pengelolaan laboratorium inovasi. Tingkat kemauan dan motivasi untuk berinovasi pada setiap orang dan atau organsiasi sangat berbeda. Untuk itu, drum up dibutuhkan untuk membangun kesadaran kolektif untuk berinovasi. Tanpa kesadaran kolektif, gagasan inovasi yang secara teknis bagus dan memiliki manfaat yang luas tidak akan berarti. Gagasan tersebut pada akhirnya hanya tertuang dalam rencana tanpa pernah dilaksanakan dengan baik, karena kesadaran kolektif belum muncul untuk menerapkannya secara sungguh-sungguh.

Drum Up

...

membangun

kesadaran kolektif untuk

berinovasi

(16)

Untuk membangun kesadaran kolektif tersebut, maka peranan pimpinan puncak (Bupati, Walikota, Gubernur, Pejabat Pimpinan Tinggi) adalah sangat strategis karena kewenangan formal yang dimilikinya. Dengan kewenangan tersebut, pimpinan puncak dapat menggerakkan bawahannya secara kolektif untuk mendukung pelaksanaan inovasi selanjutnya.

Oleh karena itu, dalam rangka membangun kesadaran kolektif untuk berinovasi ini, maka seorang champion innovation perlu memastikan bahwa kesadaran, kemauan, dan motivasi untuk berinovasi harus lahir dari pimpinan puncak terlebih dahulu. Jika belum, maka sudah menjadi tugas seorang champion innovation untuk terus menyusun strategi untuk mengubah sikap atau mindset mereka.

Dalam tahap drum up, champion innovation pada dasarnya bekerja dalam ranah afektif atau sikap perilaku. Bahan-bahan yang dipergunakan lebih banyak diarahkan untuk menginspirasi atau menggugah kesadaran untuk berinovasi. Contoh-contoh best practice atau success story seseorang menjadi bahan yang sangat penting untuk digunakan. Apalagi jika bahan tersebut mengandung efek dramatis yang dapat menggugah perasaan.

Untuk meningkatkan penerimaan audience dalam suatu acara drum-up, seorang champion innovation perlu mengontekstualkan bahan-bahan yang dimiliki. Misalnya, jika akan melakukan drum up di kabupaten X, maka diupayakan menggali informasi-informasi kontekstual dari Kabupaten X. Bahan-bahan drum up yang mengandung prinsip-prinsip yang diuraikan di atas, dapat dilihat pada Lampiran 2. Untuk dapat menginspirasi, kepada para practicioner innovation (calon inovator) dalam suatu forum drum up, dapat diberikan beberapa pertanyaan yang mampu mengungkit semangat inovasi seperti: Bagaimana perasaan Anda/instansi jika menjadi model RB Nasional? Menjadi daerah termaju dan pusat pertumbuhan ekonomi indonesia? Menjadi benchmark dan barometer pembangunan daerah? Dan menjadi daerah yang menghasilkan inovasi terbanyak dan terbaik di indonesia? Dan, selanjutnya diteruskan dengan pertanyaan inginkah, mungkinkah, mampukah, maukah?

(17)

Jawaban dari pertanyaan di atas sangat mungkin terbentur oleh adanya blockset (hambatan/sumbatan) di antara para practicioner innovation dengan mitos inovasi yakni bahwa inovasi itu mahal, inovasi itu sulit, tidak memiliki ide, dan tidak tahu caranya berinovasi. Dalam menghancurkan blockset tersebut perlu ditunjukan dengan menyajikan antonim mitos dengan menyajikan berbagai evidence bahwa inovasi itu mudah, inovasi itu murah, banyak ide berinovasi, dan caranya sangat sederhana untuk berinovasi seperti kreatif, berpikir berbeda, berbuat berbeda, dan melakukan pembaharuan.

Tujuan

Tahapan drum up ini bertujuan untuk menginspirasi dan mengembangkan semangat inovasi para practicioner innovation baik secara individu mapun kolektif. Dengan demikian, willingness to innovate atau kemauan berinovasi terbentuk dan merupakan modal awal untuk melanjutkan ke tahap-tahap pengelolaan laboratorium inovasi berikutnya.

Metode

Mengingat fungsinya sebagai instrumen untuk menggugah semangat berinovasi, maka drum up dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti sosialisasi, kuliah umum, visitasi ke instansi yang telah berhasil berinovasi, dan lain sebagainya. Selain berbagai metode tersebut, practicioner innovation dapat menggunakan aplikasi SINOLA guna meningkatkan semangat berinovasinya secara swadaya. Metode atau kombinasi metode apapun yang dipilih, pada gilirannya kompetensi champion innovation memainkan peranan yang sangat signifikan.

(18)

Pengantar

Esensi inovasi administrasi negara adalah adanya kebaruan dalam pelaksanaan suatu tugas di sektor publik. Kebaruan sering dimaknai sebagai sesuai yang bersifat out of the box atau di luar kotak yang berarti sesuatu yang selama ini tidak pernah dipraktekkan. Tentu saja kebaruan-kebaruan tersebut muncul dari ide-ide kreatif dan proses berpikir kreatif, sehingga mampu meng-create, yaitu menciptakan sesuatu yang baru.

Kemampuan suatu instansi untuk menciptakan suatu gagasan baru ditentukan oleh tingkat kesiapan instansi ini dalam berinovasi. Hubungan antara tingkat kesiapan organisasi berinovasi dengan kualitas

gagasan inovasi yang dihasilkan sangat erat. Instansi pemerintah yang kurang siap berinovasi dapat diprediksi bahwa kualitas gagasan inovasinya akan rendah. Mengacu pada keterkaitan kedua hal di atas, maka penting bagi champion innovation untuk terlebih dahulu mengetahui tingkat kesiapan suatu instansi pemerintah dalam berinovasi. Untuk mengetahui tingkat kesiapan berinovasi ini, terdapat 4 aspek yang perlu diukur secara akurat yaitu; (a) kepemimpinan, organisasi, sumberdaya manusia, dan implementasi kegiatan. Indikator masing-masing aspek ini dan tata cara mengukurnya dapat dilihat pada lampiran 3.

Diagnose

...

memunculkan ide /

gagasan inovasi

(19)

Oleh karena itu, tahap diagnose perlu dimaknai sebagai proses memfasilitasi calon-calon inovator (innovation practicioner) dari instansi pemerintah yang siap untuk berinovasi, untuk memunculkan ide-ide inovasi mereka. Pada tahap diagnose ini, terdapat dua cara yang dapat ditempuh untuk membantu champion innovation memunculkan potensi mereka dalam melahirkan ide-ide inovasi, yaitu berbasis masalah dan berbasis non-masalah.

Pada cara yang berbasis masalah, seorang practicioner innovation menemukan ide inovasi dengan berangkat dari adanya permasalahan yang ditemukan dalam organisasinya. Cara ini dapat dianalogkan dengan seorang dokter yang melakukan diagnose terhadap seorang pasien. Tentu dia terlebih dahulu harus menentukan jenis penyakit dan kemudian menentukan tindakan yang harus dilakukan. Kesalahan dalam mendiagnosa organisasi dapat mengakibatkan kesalahan dalam menentukan penyakit organisasi yang berujung pada tindakan yang diambil juga keliru sehingga membahayakan organisasi.

Cara mendiagnosa organisasi berbasis masalah ini dilakukan dengan tiga tahapan kegiatan yang berurut, yaitu inovator terlebih dahulu harus mengendalikan dirinya, atau menata niatnya bahwa ide inovasi yang akan dimunculkan sesungguhnya untuk kepentingan publik dan bukan kepentingan dirinya atau kelompok tertentu, kemudian menentukan tingkat kinerja organisasi, dan terakhir menentukan intervensi atau tindakan yang akan diambil. Intervensi atau tindakan inilah yang harus mengandung ide-ide kreatif yang memiliki unsur kebaruan.

Dalam menentukan tingkat kinerja organisasi diagnosa ini, practicioner innovation perlu menentukan kesenjangan dengan mendeskripsikan kondisi saat ini dan kondisi yang diharapkan. Kesenjangan-kesenjangan tersebut bisa ditemukan pada unsur-unsur organisasi seperti output, proses, dan input organisasi. Berangkat dari kesenjangan tersebutlah, dapat dimunculkan ide-ide kreatif untuk menutup kesenjangan tersebut. Selain itu terdapat tools lain dalam mendiagnosa permasalahan organisasi seperti; (a) Pohon Masalah, (b) SWOT and TOWS Analysis, (c) Fishbone Diagram, (d) 5 Whys Analysis dan Force Field Analysis. Bahan-bahan

(20)

tentang cara mendiagnosa organisasi berbasis masalah ini dapat dilihat pada Lampiran 4 bagian Substansi Paparan Diagnose.

Kedua adalah cara mendiagnosa organisasi yang berbasis non-masalah. Ide inovasi dengan cara ini dimunculkan dengan menggunakan teknik atau template berpikir kreatif. Dengan teknik ini, seorang practicioner innovation dapat menemukan ide kreatif secara langsung. Oleh karena itu, seorang practicioner innovation perlu menguasai teknik atau template tersebut. Beberapa template yang dapat dipergunakan adalah innovation shopping, analisis morfologi, berpikir terbalik, dan lain-lain. Pada Lampiran 4 bagian Substansi Paparan Diagnose, memperlihatkan berbagai teknik dan template berpikir kreatif.

Ide-ide inovasi yang dihasilkan baik melalui teknik mendiagnosa organisasi maupun melalui teknik template berpikir kreatif perlu dikomunikasikan dengan kepala daerah atau pimpinan puncak tempat laboratorium inovasi dilaksanakan. Persetujuan mereka terhadap ide-ide inovasi dibutuhkan untuk melanjutkan proses inovasi ke tahap berikutnya yaitu tahap design. Seorang practicioner innovation wajib menjadikan persetujuan pimpinan puncak sebagai persyaratan ke tahap design.

Tujuan

Tahap diagnose ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesiapan instansi berinovasi dan memfasilitasi practicioner innovation untuk menemukan ide inovasi, yaitu gagasan-gagasan yang mengandung unsur kebaruan. Oleh practicioner innovation, ide inovasi ini diyakini dapat meningkatkan kinerja organisasinya.

(21)

Metode

Untuk mencapai tujuan tahap diagnose, maka metode yang dipergunakan adalah workshop. Dengan metode ini, practicioner innovation akan bekerja, menggali potensi yang dimilikinya, dan mengerahkan segala kompetensinya untuk menemukan ide-ide inovasi. Dalam workshop ini berbagai tool diperkenalkan untuk dipergunakan. Pertama adalah beberapa tools dalam mendiagnosa permasalahan dan yakni :

• Pohon Masalah

• SWOT and TOWS Analysis • Fishbone Diagram

• 5 Whys Analysis dan Force Field Analysis

Selain itu terdapat beberapa teknik atau template berfikir kreatif yaitu: • Organizational diagnosis

• Morphology analysis

• Template/Fast idea generation

Innovation shopping

Setelah dilakukan workshop Diagnose

oleh seorang champion innovation kepada

innovation practicioner, maka akan dilanjutkan dengan proses validasi ide inovasi. Terdapat 2 pilihan metode validasi ide inovasi yakni;

1. Metode pertama adalah berupa kegiatan presentasi dan review ide inovasi yang telah dibuat oleh practicioner innovation di hadapan champion innovation, master innovation dan pejabat daerah terkait. Pada metode pertama ini, seorang champion dapat menilai dan memberikan saran atas ide inovasi yang dihasilkan oleh practicioner.

2. Metode kedua adalah berupa proses konsultasi (desk consultation) antara practicioner innovation kepada para champion innovation dan master innovation. Pada metode kedua ini, seorang practicioner innovation dapat

(22)

menerima masukan dari champion dan master secara tatap muka dan lebih mendalam atas ide inovasi yang dihasilkannya.

Pada pelaksanaannya, seorang champion harus memilih salah satu metode tersebut guna menilai dan memperbaiki kualitas ide-ide inovasi yang digagas oleh practicioner innovation .

Selain workshop, terdapat metode lain yang dapat digunakan practicioner innovation untuk meningkatkan kompetensinya dalam menciptakan ide inovasi. Metode tersebut adalah dengan menggunakan aplikasi SINOLA. Melalui aplikasi SINOLA, practicioner dapat mempelajari teknik mendiagnosa secara mandiri melalui bahan-bahan yang disediakan. Selain itu, practicioner innovation dapat menginput data ide inovasi sekaligus berkonsultasi dengan master dan champion innovation terkait pembuatan ide inovasi.

(23)

Pengantar

Seperti halnya tahap diagnose, tahap design ini juga bersifat teknis, yaitu bagaimana menuangkan ide inovasi ke dalam suatu rancangan rencana aksi yang

detail. Oleh karena itu, desain inovasi sangat penting karena akan mendetailkan langkah-langkah mewujudkan ide inovasi yang sudah diperoleh.

Penyusunan sebuah rencana aksi diperlukan dalam merencanakan inovasi yang yang ingin diimplementasikan. Rencana aksi inovasi mengandung beberapa unsur yang kami rangkum dalam akronim ASKABB (Apa, Siapa, Kapan, Apa, Bagaimana, dan Berapa sebagai berikut:

a) Apa saja langkah/kegiatan yang harus dilakukan untuk mewujudkan kondisi yang diharapkan;

b) Siapa dan/atau dengan siapa langkah/kegiatan tersebut dilaksanakan; c) Kapan langkah/kegiatan tersebut dilaksanakan;

d) Apa produk atau output pada setiap langkah/kegiatan tersebut;

e) Bagaimana cara atau metode yang digunakan untuk menghasilkan output suatu kegiatan;

f) Berapa biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan/langkah tersebut dan dari manakah sumbernya

Tabel 1 di bawah ini dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk menyusun rencana aksi inovasi.

DESAIN

...

MENYUSUN

(24)

Tabel 1

Rencana Aksi Inovasi

NO TAHAP KEGIATAN PELAKSANA WAKTU OUTPUT METODE BIAYA

1 Perancangan 2 Pembuatan 3 Ujicoba 4 Implementasi 5 Monev

Terdapat 5 tahap dalam pengelompokkan kegiatan/ aktivitas dalam pelaksanaan ide inovasi yakni (a) Perancangan Inovasi, (b) Pembuatan Inovasi, (c) Ujicoba Inovasi, (d) Implementasi Inovasi hingga (e) Monitoring dan Evaluasi Inovasi. Kegiatan yang masuk pada tahap Perancangan berisi berbagai kegiatan/ aktivitas administratif dan perencanaan awal sebelum inovasi tersebut dibuat. Selanjutnya, kegiatan yang masuk tahap Pembuatan Inovasi berisikan kegiatan/ aktivitas guna membentuk produk, sistem atau mekanisme kerja inovasi. Kemudian pada tahap Ujicoba dipaparkan segala kegiatan/aktivitas terkait pengujicobaan inovasi terbatas pada beberapa lokus atau daerah terpilih. Tahap Implementasi berisikan kegiatan/aktivitas dalam mengimplementasikan produk inovasi pada seluruh area atau masyarakat penerima layanan. Sedangkan pada tahap monitoring dan evaluasi berisikan kegiatan/aktivitas yang berfungsi memonitoring dan mengevaluasi pelaksanaan inovasi. Contoh rencana aksi yang telah berisi kegiatan/ aktivitasnya dapat dilihat pada Lampiran 5 bagian Output Design.

Perlu diketahui oleh setiap champion innovation bahwa rencana aksi inovasi sarat dengan pengetahuan teknis baik yang bersifat administratif atau manajerial maupun yang bersifat substantif. Oleh karena itu, untuk memastikan keakuratan dari rencana aksi ini, seorang practicioner innovation perlu didampingi oleh pihak atau lembaga yang memiliki keahlian (expertise) di bidang substantif tersebut. Misalnya, seorang practicioner innovation yang akan berinovasi di sektor pertanian

(25)

maka rencana aksinya perlu divalidasi oleh pihak atau lembaga yang memiliki keahlian di bidang pertanian.

Di samping rencana aksi inovasi, seorang practicioner innovation perlu memetakan stakeholder dan menyusun strategi komunikasi untuk stakeholder. Hal ini tidak berlaku umum, namun hanya pada inovasi tertentu terutama yang memiliki stakeholder eksternal atau yang di luar jangkauan kewenangan practicioner innovation . Tujuan utama pemetaan stakeholder ini adalah sebagai alat bantu bagi practicioner innovation dalam menyusun strategi komunikasi terutama kepada stakeholder yang tidak diuntungkan oleh suatu inovasi. Stakeholder seperti ini memiliki kecenderungan resistensi yang tinggi terhadap inovasi dan karena itu kemungkinan besar akan menolak inovasi tersebut.

Oleh karena itu, seorang champion innovation perlu menguasai teknik membangun koalisi yaitu kemampuan menyusun strategi komunikasi yang tepat untuk menggiring (framing) stakeholder tertentu yang menolak inovasi menjadi menerima inovasi. Metode pemetaan stakeholder dapat dilihat pada Lampiran 5.

Rencana aksi inovasi dan pemetaan stakeholder (jika dibutuhkan) juga perlu terus dikomunikasikan dengan pimpinan puncak (Bupati, Walikota, Gubernur, Jabatan Pimpinan Tinggi) untuk mendapat persetujuan. Jika sudah disetujui, maka proses inovasi dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu tahap deliver atau pelaksanaan inovasi.

Tujuan

Tahap design inovasi bertujuan untuk menghasilkan rencana aksi inovasi, termasuk pemetaan stakeholder berikut strategi komunikasinya jika diperlukan.

(26)

Metode

Untuk menghasilkan rencana aksi dan/atau pemetaan stakeholder, maka tahap design inovasi ini menggunakan metode workshop. Dengan metode ini, practicioner innovation lah yang akan bekerja membuat rencana aksi tersebut. Champion innovation bertugas memfasilitasi mereka dengan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menghasilkan rencana aksi dan/atau pemetaan stakeholder.

Setelah dilakukan workshop Design oleh seorang champion innovation kepada practicioner innovation, maka akan dilanjutkan dengan proses validasi rencana aksi inovasi. Terdapat 2 pilihan metode validasi rencana aksi inovasi yakni;

1. Metode pertama adalah berupa kegiatan presentasi dan review ide inovasi yang telah dibuat oleh practicioner innovation di hadapan champion innovation dan pejabat daerah terkait. Pada metode pertama ini, seorang champion dapat menilai dan memberikan saran atas ide inovasi yang dihasilkan oleh practicioner innovation .

2. Metode kedua adalah berupa proses konsultasi (desk consultation) antara practicioner innovation kepada para champion innovation. Pada metode kedua ini, seorang practicioner innovation dapat menerima masukan dari champion secra tatap muka dan lebih mendalam atas ide inovasi yang dihasilkannya.

Pada pelaksanaannya, seorang champion harus memilih salah satu metode tersebut guna menilai dan memperbaiki kualitas rencana aksi inovasi yang dirancang oleh practicioner innovation. Selain workshop, terdapat metode lain yang dapat digunakan practicioner innovation untuk meningkatkan kompetensinya dalam menciptakan rencana aksi inovasi. Metode tersebut adalah dengan menggunakan aplikasi SINOLA. Melalui aplikasi SINOLA, practicioner dapat mempelajari teknik membuat rencana aksi secara mandiri melalui bahan-bahan yang disediakan. Selain itu, practicioner innovation dapat menginput data rencana aksi inovasi sekaligus berkonsultasi dengan master dan champion innovation terkait pembuatan rencana aksi tersebut.

(27)

Pengantar

Tahap deliver atau tahap pelaksanaan inovasi merupakan tahap yang memiliki waktu yang cukup panjang. Jumlah kegiatan/langkah dan lamanya waktu pelaksanaan setiap kegiatan/langkah berkontribusi terhadap jangka waktu pelaksanaan suatu inovasi. Mungkin ada inovasi yang membutuhkan waktu beberapa bulan, satu tahun, bahkan beberapa tahun.

Seorang champion innovation perlu memahami bahwa waktu pelaksanaan suatu inovasi tidak menjadi masalah. Practicioner innovation perlu diberi kebebasan untuk menentukan waktu penyelesaian pelaksanaan rencana aksi sesuai kebutuhan waktu yang diperlukan.

Tahap deliver ini diawali dengan pelaksanaan launching atau peluncuran pelaksanaan inovasi. Bentuk kegiatannya bisa bersifat formal seremonial namun bisa juga bersifat informal. Jika berbentuk formal seremonial, seorang champion innovation perlu memastikan penanda apa yang dipergunakan untuk menyatakan bahwa inovasi sudah mulai diluncurkan. Penandanya bisa bervariasi mulai dari pemukulan gong, penandatanganan rencana aksi, pengetukan palu, dan lain-lain. Intinya adalah

DELIVER

... menginformasikan

kepada berbagai pihak bahwa

inovasi sudah mulai

(28)

acara tersebut menginformasikan kepada berbagai pihak bahwa inovasi sudah mulai dilaksanakan.

Peluncuran inovasi ini dikaitkan dengan kinerja practicioner innovation sehingga menjadi kontrak kinerja antara pimpinan puncak dengan practicioner innovation . Dengan demikian, acara peluncuran inovasi berupa acara penandatangan kontrak kinerja. Format kontrak kinerja yang dipergunakan hendaknya diserahkan kepada pihak yang melaksanakan inovasi. Namun, apabila ingin mengetahui contoh format kontrak kinerja dapat dilihat Lampiran 6.

Selain peluncuran inovasi, dalam masa deliver ini, seorang champion innovation juga perlu melakukan monitoring terhadap pelaksanaan setiap langkah/kegiatan. Dengan menggunakan rencana aksi, seorang champion innovation perlu memantau progres pelaksanaan dari masing-masing langkah/kegiatan. Tujuan utama kegiatan monitoring ini adalah untuk memastikan inovator tetap disiplin melaksanakan langkah-langkah yang sudah direncanakan. Instrumen monitoring menggunakan instrumen rencana aksi yang sudah terisi lengkap sebagaimana terlihat pada Tabel 1 sehingga champion innovation cukup melakukan check dan recheck terhadap implementasi rencana aksi tersebut.

Cara kedua dalam melakukan monitoring adalah dengan menggunakan form monitoring laboratorium inovasi. Seorang champion dapat mengecek progress dari pelaksanaan masing-masing langkah/kegiatan menggunakan form tersebut. Cara ketiga dalam melakukan monitoring secara virtual melalui Sistem Informasi Laboratorium Inovasi (SINOLA). Pada portal SINOLA ini, seorang champion dapat mengecek progress dari pelaksanaan masing-masing langkah/kegiatan inovasi melalui akun champion innovation yang mereka miliki. Segera setelah champion masuk menggunakan akun mereka, mereka dapat melihat bukti-bukti rencana aksi yang telah dikirim pada dalam panel history delivery1. Pada panel delivery tersebut

akan nampak berapa kegiatan yang telah diunggah evidence pelaksanaannya oleh

1 Penjelasan terkait penggunaan SINOLA dapat diihat pada Manual Penggunaan SINOLA

(29)

practicioner innovation. Evidence tersebut bisa berupa dokumen, foto kegiatan dan foto produk output inovasi.

Setiap permasalahan yang menyebabkan perlambatan atau bahkan kemandekan pelaksanaan inovasi perlu diatasi oleh champion innovation. Champion inovation perlu menyadari bahwa pada umumnya permasalahan dapat bersumber dari dimensi soft inovasi, yaitu willingness to innovate mengendor, sehingga semangat untuk mengerjakan inovasi menjadi menurun. Di samping itu, permasalahan juga bersumber dari ability to innovate yaitu inovator tidak memiliki pengetahuan (manajerial atau substantif) yang cukup untuk melaksanakan inovasi. Melalui kegiatan monitoring, champion innovation seyogianya dapat memahami sumber permasalahan dan memberikan solusi yang tepat.

Kegiatan monitoring dapat dilakukan melalui pemantauan jarak jauh dengan menggunakan teknologi informasi melalui situs inovasi Lembaga Administrasi Negara. Jika diperlukan, pemantauan juga dapat dilakukan dengan memonitor pelaksanaan inovasi secara langsung di lapangan.

Tujuan

Tahapan deliver bertujuan untuk melaksanankan inovasi sesuai dengan rencana aksi yang telah didesain. Pelaksanaan inovasi diawali dengan peluncuran inovasi dan dilanjutkan dengan monitoring untuk mengetahui berbagai kendala dan hambatan dalam implementasi inovasi serta memastikan pelaksanaan inovasi tetap berjalan hingga inovasi selesai.

Metode

Selama deliver terdapat dua kegiatan utama yaitu peluncuran pelaksanaan inovasi dan monitoring inovasi. Peluncuran pelaksanaan inovasi dilakukan dengan acara seremonial yang dapat bersifat formal maupun informal. Sedangkan monitoring dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dilakukan antara lain dengan observasi dan survei lapangan. Sedangkan monitoring secara tidak langsung dengan menggunakan SINOLA atau berbagai media komunikasi online lainnya.

(30)

Pengantar

Untuk mengumumkan kepada stakeholder

termasuk kepada masyarakat, seorang inovator perlu melaporkan kegiatan inovasi yang telah dilakukan. Kegiatan ini disebut display dan merupakan salah satu bentuk akuntabilitas inovator kepada publik. Di samping itu, kegiatan display dimaksudkan sebagai ajang show off, blow your own trumpet, pengumuman kepada dunia luar bahwa Anda sebagai practicioner innovation sudah berbuat sesuatu untuk kepentingan publik.

Dalam kegiatan ini, inovator memamerkan proses inovasi yang dilakukan. Jika memungkinkan, kegiatan ini juga memamerkan hasil inovasi apabila inovasi telah selesai dilaksanakan. Kegiatan display dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti pameran, talkshow, maupun seminar.

Lalu apa saja yang dipamerkan atau ditampilkan dan bagaimana cara melakukannya? Seorang champion innovation perlu memastikan bahwa practicioner innovation melakukan pendokumentasian yang lengkap terutama dalam bentuk gambar atau foto. Inovator perlu memamerkan bagaimana kondisi awal sebelum inovasi dilakukan, kondisi setelah inovasi dilakukan atau kondisi

DISPLAY

ajang show off, blow your own

(31)

akhir setelah inovasi, dan milestones atau langkah yang ditempuh untuk mewujudkan inovasi. Semua informasi tersebut dapat ditampilkan oleh practicioner innovation dengan berbagai macam bentuk display yang informatif dan komunikatif, misalnya; (a) brosur, (b) pamflet, (c) banner atau x-banner, (d) penayangan video tentang inovasi, dan (e) bentuk media display lainnya. Tata-cara dan bentuk pendokumentasian inovasi untuk kebutuhan display dapat dilihat pada Lampiran 7. Untuk membuat kegiatan display lebih semarak, champion innovation dapat menambahkan kegiatan penilaian hasil inovasi dengan menghadirkan juri yang akan menentukan practicioner innovation mana yang menjadi pemenang. Dalam penjurian ini, dua kriteria perlu dipertimbangkan yaitu kebaruan yang terkandung dalam suatu inovasi dan keluasaan manfaat yang ditimbulkannya.

Efektivitas kegiatan display tentu ditentukan oleh banyak jumlah pengunjung dan luasnya kegiatan tersebut diekspose di media. Oleh karena itu, inovator perlu mengundang sebanyak mungkin stakeholder untuk mengunjungi kegiatan Display ini, dan menghadirkan sebanyak mungkin media untuk meliputnya.

Tujuan

Tujuan dari display inovasi adalah untuk memperkenalkan, menyosialisasikan, dan mendapatkan masukan stakeholders mengenai inovasi yang telah dilakukan sehingga ke depannya, inovasi dapat dilanjutkan dan dikembangkan menjadi lebih baik.

Metode

Kegiatan Display dilakukan dalam beragam bentuk misalnya melalui (a) pameran inovasi, (b) talkshow inovasi, (c) seminar inovasi, atau gabungan dua atau ketiga hal ini.

(32)

Model berinovasi 5D yang berisi lima langkah dalam melaksanakan laboratorium inovasi administrasi yaitu drum up, diagnose, design, deliver, dan display merupakan model yang diperkenalkan oleh Lembaga Administrasi Negara dalam berinovasi di sektor publik. Seorang champion innovation perlu menguasai model ini terlebih dahulu sebelum turun ke lapangan melakukan fasilitasi atau pendampingan ke instansi pemerintah (pusat dan daerah) untuk melaksanakan kegiatan laboratorium inovasi.

Model berinovasi 5D ini adalah jawaban konkret untuk memecahkan dua tantangan utama dalam berinovasi di sektor publik yaitu willingnes to inovate dan ability to innovate. Model berinovasi 5D diyakini dapat membuat pejabat instansi pemerintah dari tidak menyukai inovasi menjadi menyukai inovasi, melakukan inovasi, dan memiliki inovasi di instansi yang dipimpinnya.

Untuk menjangkau pelaksanaan laboratorium inovasi ke seluruh instansi pemerintah mulai dari kementerian, lembaga, provinsi, kota dan kabupaten, kecamatan, bahkan kelurahan dan desa, Lembaga Administrasi Negara saat ini sedang membangun sistem pengelolaan laboratorium inovasi dengan menjadikan model berinovasi 5D sebagai inti yang akan menggerakkan sistem tersebut. Dimulai dari Lembaga Administrasi Negara di mana para innovation master bekerja akan membentuk tim champion inovation di setiap Pemerintah Provinsi, Kementerian, dan Lembaga. Para champion innovation inilah yang akan menggunakan model berinovasi 5D untuk membimbing para inovator (innovation practitioner) melakukan inovasi di kabupaten/kota dan unit organisasinya masing-masing. Selain itu,

(33)

Lembaga Administrasi Negara tengah mengembangkan sebuah Laboratorium Inovasi Virtual atau yang disebut dengan Sistem Informasi Laboratorium Inovasi Administrasi Negara (SINOLA). Melalui penggunaan SINOLA, penyelenggaraan laboratorium inovasi mampu diakselerasi ke lebih banyak daerah secara online. Dengan demikian, arus inovasi diharapkan akan lebih masif menjangkau seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah di Indonesia.

Tentu saja model berinovasi 5D beserta sistem pengelolaan laboratorium inovasi tersebut perlu diperlakukan sebagai model berinovasi yang dinamis. Pandangan kritis perlu terus diberikan agar kinerja model berinovasi ini dapat lebih di tingkatkan lagi dimasa-masa mendatang. Oleh karena itu, segala jenis kritikan konstruktif yang disampaikan akan kami apresiasi setinggi-tingginya.

(34)

Lampiran 1

PERSIAPAN PRA-LABORATORIUM INOVASI

Sebagaimana lazimnya penyelenggaraan suatu acara, laboratorium inovasi juga membutuhkan beberapa langkah persiapan sebelum dimulai pelaksanaannya. Persiapan ini cukup penting guna memastikan keberhasilan dalam pelaksanaan acara pada tiap tahap Laboratorium Inovasi. Persiapan laboratorium inovasi terdiri atas 2 aspek yakni legal dan teknis. Persiapan dari sisi legalitas ini berupa penyiapan dokumen yang bersifat legal-administratif sebagai basis kerjasama antara lembaga pembina Laboratorium Inovasi dengan pemerintah daerah sebagai penyelenggara Laboratorium Inovasi. Sedangkan persiapan secara teknis, berupa pembentukan struktur tim pelaksana pada pemerintah daerah yang menjadi mitra dalam penyelenggaraan Laboratorium Inovasi.

Persiapan Legalitas

Pada persiapan legalitas, perlu dibuat dokumen legal-administratif yang berfungsi sebagai landasan hukum kerjasama penyelenggaraan laboratorium inovasi oleh pemerintah daerah dengan Lembaga Administrasi Negara (LAN). Dokumen yang dimaksud adalah Memorandum of Understanding (MoU) dan Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) antara Pemerintah Daerah dengan LAN. Dokumen MoU menjadi dasar yang legitimate bagi dua institusi, dalam hal ini LAN dan Pemerintah Daerah, untuk melakukan kerjasama dalam berbagai core business yang ditangani LAN, di antaranya diklat aparatur, kajian kebijakan, inovasi administrasi negara, dan penyelenggaraan pendidikan tinggi ilmu administrasi. Namun, pembuatan MoU ini tidak diperlukan apabila pemerintah daerah telah membuat MoU dengan LAN sebelumnya dan masih berlaku hingga tercapai kesepakatan pelaksanaan laboratorium inovasi.

(35)
(36)
(37)
(38)

Dokumen kedua yang diperlukan sebagai landasan hukum pelaksanaan laboratorium inovasi adalah Surat Perjanjian Kerjasama (SPK). SPK merupakan turunan dari MoU yang mengatur mengenai hal-ihwal mekanisme dan aturan main kerjasama di antara dua institusi untuk suatu bidang atau program tertentu, yang dalam hal ini laboratorium inovasi. Pembuatan SPK harus menyesuaikan dengan rancang bangun kemitraan laboratorium inovasi yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah dengan LAN. Rancang bangun kemitraan tersebut sangat dipengaruhi oleh mekanisme penganggaran dan pembagian tugas pada masing-masing pihak dalam penyelenggaraan laboratorium inovasi. Sehingga dalam pembuatan SPK perlu komunikasi intensif antara kedua belah pihak terkait kontennya. Komunikasi ini dapat dibangun secara efektif sepanjang penyelenggaraan laboratorium inovasi apabila telah dibangun sebuah tim pelaksana laboratorium inovasi di daerah yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

(39)
(40)
(41)
(42)
(43)
(44)
(45)

Persiapan Teknis

Aspek kedua yang perlu dipersiapkan dalam penyelenggaraan laboratorium inovasi adalah pembuatan tim pelaksana laboratorium inovasi di daerah yang disebut dengan Tim Daerah. Tim ini berperan sebagai sekretariat atau koordinator dalam pelaksanaan laboratorium inovasi pemerintah daerah. Beberapa tugas yang dilaksanakan oleh Tim Daerah antara lain;

1. Panitia penyelenggara acara setiap kali tim fasilitator LAN melakukan Workshop laboratorium inovasi pada tahap Drum-Up, Diagnose, dan Design, termasuk mengkoordinasikan peserta SKPD yang menjadi peserta laboratorium inovasi

2. Tim Daerah juga bertugas mempersiapkan segala sesuatunya ketika tim fasilitator LAN berkunjung ke lapangan dalam rangka Monitoring, atau Display Inovasi, termasuk mengkoordinasikan peserta SKPD yang menjadi peserta laboratorium inovasi;

3. Mengkoordinasikan pengumpulan semua dokumen yang diperlukan sepanjang proses pelaksanaan laboratorium inovasi (termasuk MoU dan SPK) ;

4. Sebagai Admin Daerah dalam portal Laboratorium Inovasi Virtual (SINOLA)2;

5. Sebagai pihak penghubung yang menjembatani SKPD peserta laboratorium inovasi dengan LAN untuk segala urusan terkait penyelenggaraan laboratorium inovasi

Tim Daerah sebaiknya dipilih berdasarkan unit atau SKPD pemerintah daerah yang memiliki posisi cukup strategis dalam mengkoordinasikan pelaksanaan laboratorium inovasi. Bagian Organisasi Sekertariat Daerah merupakan salah satu contoh unit pemerintah daerah yang cukup strategis dalam mengontrol pelaksanaan laboratorium inovasi, terutama fungsi koordinasi peserta. Hal ini dapat

2 Penjelasan terkait peran Tim Teknis Daerah sebagai Admin Daerah SINOLA dapat dilihat pada

manual penggunaan SINOLA

(46)

dilihat pada laboratorium inovasi Pemerintah Kota Yogyakarta pada tahun 2015, di mana pihak yang berperan sebagai Tim Daerah adalah Bagian Organisasi, Setda Kota Yogyakarta. Begitu pula dengan contoh pelaksanaan laboratorium inovasi di kabupaten Majalengka tahun 2015 di mana bagian organisasi juga berperan sebagai Tim Daerah.

Tim Daerah juga sebaiknya unit atau SKPD pemerintah daerah yang berisikan individu-individu yang memiliki komitmen kuat dalam melaksanakan inovasi. Hal ini terlihat pada laboratorium inovasi Kabupaten Muara Enim tahun 2015, di mana BAPPEDA yang bertindak sebagai Tim Daerah. BAPPEDA merupakan unit yang cukup bersemangat dalam berinovasi sehingga mereka yang berperan sebagai leading sector dalam pelaksanan laboratorium inovasi Muara Enim.

Selain itu, disarankan bahwa individu dalam Tim Daerah mengikuti Workshop Champion Innovation atau pelatihan fasilitator laboratorium inovasi yang diadakan LAN, sehingga dapat mendukung pelaksanaan laboratorium inovasi di daerahnya dengan lebih optimal.

Unit atau SKPD yang menjadi Tim Daerah juga ikut serta sebagai peserta laboratorium inovasi. Pada semua daerah laboratorium inovasi di tahun 2015 dan 2016, Tim Daerah mereka juga ikut sebagai peserta laboratorium inovasi daerah. Posisi sebagai koordinator tidak lantas menghilangkan kesempatan unit atau SKPD tersebut sebagai peserta laboratorium inovasi.

Tim Daerah juga sebaiknya mengandung cross-sector team berisikan individu-individu lintas SKPD/ unit di pemerintah daerah tersebut. Hal ini dapat dilihat pada penyelenggaraan Laboratorium Inovasi Kebumen, Kupang, dan Tarakan di tahun 2016 di mana Tim Daerah berisikan individu lintas instansi. Penggunaan individu lintas SKPD/ unit ini bertujuan untuk mempermudah koordinasi Tim Daerah dalam (a) mengundang SKPD/ unit peserta, (b) mengumpulkan dokumen, (c) membantu fasilitator (champion) laboratorium inovasi dalam memvalidasi ide atau rencana

(47)

aksi inovasi, (d) membantu fasilitator memonitoring implementasi inovasi, serta (e) kegiatan-kegiatan lainnya yang mungkin dbutuhkan.

Persiapan teknis lainnya yang dibutuhkan dalam persiapan laboratorium inovasi adalah pertemuan awal antara pemerintah daerah yang ingin melaksanakan laboratorium inovasi dengan LAN sebagai champion innovation (fasilitator). Pertemuan ini dilakukan sebelum pelaksanaan laboratorium inovasi. Pertemuan awal ini diperlukan guna membahas kerangka kerja pelaksanaan antara lain; (a) pemahaman terkait penyelenggaraan laboratorium inovasi (b) skema anggaran, (c) pembagian tugas antara fasilitator Laboratorium Inovasi dengan Tim Daerah, (d) milestone jadwal pelaksanaan pada tiap tahap, (e) perancangan draft MoU dan SPK, dan (f) persiapan teknis lainnya yang dibutuhkan.

(48)

Lampiran 2 DRUM-UP

Persiapan Teknis Penyelenggaraan

Tahap Drum-Up merupakan tahapan yang cukup penting dalam laboratorium inovasi. Pada tahap ini diharapkan dapat memacu semangat berinovasi dari SKPD peserta Laboratorium Inovasi. Pada tahap Drum-Up inilah biasanya dilaksanakan penandatanganan MoU antara Kepala LAN3 dengan Kepala Daerah penyelenggara

Laboratorium Inovasi. Kehadiran Kepala Daerah sangat penting dalam tahapan ini guna mendapatkan suntikan semangat berinovasi sekaligus mampu mengikat komitmen jajaran SKPD di bawahnya sebagai calon inovator. Selain itu, pada tahap ini juga dapat dilakukan penandatanganan komitmen berinovasi oleh Kepala Daerah dan SKPD Peserta Laboratorium Inovasi.

Terdapat beberapa metode dalam Drum-Up antara lain sosialisasi, kuliah umum, visitasi ke instansi yang telah berhasil berinovasi, dan lain sebagainya. Pemilihan metode Drum-Up dapat didiskusikan terlebih dahulu antara Tim Daerah dengan fasilitator LAN. Tim Daerah harus mempersiapkan segala sesuatunya terkait dengan metode Drum-Up yang dipilih. Misalnya, apabila memilih metode visitasi ke perusahaan swasta maka Tim Daerah harus mempersiapkan segala sesuatu terkait visitasi baik biaya perjalanan peserta, surat-menyurat, dsb.

Penyelenggaraan tahap Drum-Up biasanya digabung dengan tahap Diagnose dengan waktu pelaksanaan minimal 3 hari4. Pada rentang waktu tersebut, hari

pertama digunakan untuk workshop Drum-Up dan Diagnose, sedangkan hari berikutnya digunakan untuk penyajian atau konsultasi ide inovasi yang telah dibuat oleh peserta kepada fasilitator LAN.

3 Atau yang dapat menggantikannya seperti salah satu Deputi LAN

4 Waktu penyelenggaraan tersebut dengan catatan belum memperhitungkan waktu perjalanan

fasilitator LAN ke daerah

(49)

Substansi Paparan Drum-Up

Apabila menggunakan metode kuliah umum, maka pada Fase Drum-Up Champion Innovation (fasilitator LAN) perlu mengontekstualkan bahan-bahan yang dimiliki. Misalnya, jika akan melakukan drum up di kabupaten X, maka diupayakan menggali informasi-informasi kontekstual terkait prestasi dan potensi berinovasi dari Kabupaten X. Berikut ini adalah beberapa slide contoh pemaparan informasi kontekstual lokus laboratorium inovasi.

(50)
(51)

Lampiran 3

Instrumen Penilaian Innovation Readiness Level (IRL)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam percaturan global, posisi Indonesia belum menggembirakan. Pada

berbagai indeks internasional seperti daya saing, efektifitas pemerintahan,

inovasi, kemudahan berusaha, dan sebagainya, Indonesia masih menempati

urutan yang rendah, bahkan di tingkat negara-negara Asia Tenggara

sekalipun. Kinerja pemerintahan yang rendah ini menimbulkan

permasalahan sosial yang memprihatinkan seperti jumlah penduduk miskin,

pengangguran, kekurangan gizi, kematian ibu dan anak yang masih signifikan.

Kondisi di atas ironis dengan potensi yang dimiliki oleh bangsa Indonesia

untuk sejahtera, yang ditandai dengan kekayaan alam yang melimpah,

potensi sumber daya manusia, peluang pasar yang besar dan proses

demokrasi yang relatif stabil. Namun prakondisi yang sudah terpenuhi itu

belum mampu dikelola secara inovatif oleh pemerintah. Instansi pemerintah

belum mampu menghasilkan cara kerja dan produk yang inovatif yang

mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakat bangsa Indonesia.

Untuk mengejar ketertinggalan ini, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan

cara-cara kerja yang sifatnya business as usual, melainkan harus diganti

dengan cara kerja yang inovatif, yaitu suatu cara kerja baru yang akan

menghasilkan produk baru yang membawa manfaat yang dapat dirasakan

secara lebih luas dan lebih cepat. Oleh karena itu, inovasi adalah

satu-satunya pilihan untuk menjawab permasalahan ini.

Pemerintah Indonesia menyadari sepenuhnya urgensi inovasi di sektor

publik. Pada Tahun 2013, Presiden menyetujui kelembagaan Lembaga

Administrasi Negara yang mengusung inovasi dengan membentuk satu

kedeputian baru yaitu Deputi Inovasi Administrasi Negara melalui Peraturan

Presiden Nomor 57 Tahun 2013. Kemudian pada Tahun 2014,

Undang-Undang 23 Tahun tentang Pemerintahan Daerah diterbitkan dengan salah

satu fokusnya adalah inovasi daerah. Selanjutnya, di Buku RPJMN yang terbit

(52)

di Tahun 2015, inovasi merupakan esensi yang kerapkali disebut ketika

dibutuhkan proses akselarasi dalam membangun sektor tertentu.

Tentu semua pihak perlu menyadari bahwa inovasi yang unggul di sektor

publik tentu tidak muncul begitu saja. Ibarat inovasi itu sebagai sebuah

tanaman tentulah dibutuhkan lahan yang subur. Bibit inovasi tentulah sulit

tumbuh dan berkembang di lahan tandus yang gersang dan berbatu-batu.

Tingkat kesiapan instansi pemerintah dalam berinovasi perlu diketahui lebih

terlebih dahulu sebelum organisasi ini diajak berinovasi di sektor publik.

Oleh karena itu, pengukuran Innovation Readiness Level, yang selanjutnya

disingkat IRL, atau pengukuran tingkat kesiapan instansi pemerintah dalam

berinovasi menjadi sebuah kebutuhan. Pengukuran dilakukan dengan cara

menilai kesiapan aspek organisasi seperti visi kepemimpinan, kemampuan

organisasi berkolaborasi, budaya kerja sumberdaya manusia, dan

keterukuran implementasi pelaksanaan kegiatan . Dengan memahami peta

kesiapan masing-masing aspek ini, maka akan memudahkan instansi

pemerintah tersebut dalam melaksanakan pembenahan-pembenahan

internal menuju instansi pemerintah yang inovatif.

B. Tujuan

Panduan IRL ini bertujuan untuk:

1. mengukur dan menentukan tingkat kesiapan suatu instansi pemerintah dalam berinovasi;

2. mengidentifikasi aspek-aspek organisasi yang masih memerlukan penguatan agar instansi pemerintah tersebut dapat lebih siap dalam berinovasi;

3. membantu instansi pemerintah dalam menyusun strategi peningkatan kapasitas internalnya menuju instansi pemerintah yang siap berinovasi.

(53)

C. Manfaat

Dengan tuntutan masyarakat yang begitu tinggi akan peningkatan

kesejahteraan dan peningkatan kualitas pelayanan publik, setiap instansi

pemerintah dituntut untuk menjadi instansi pemerintah yang inovatif.

Kehadiran Panduan IRL ini dapat membantu setiap instansi pemerintah

untuk menyusun strategi pengembangan kapasitas menuju instansi

pemerintah yang siap berinovasi, dan selanjutnya menjadi instansi

pemerintah yang inovatif. Dengan demikian, Panduan ini berkontribusi

dalam menjawab kebutuhan masyarakat.

BAB II

TINGKAT KESIAPAN BERINOVASI

A. Tingkat Kesiapan

IRL adalah sebuah sistem pengukuran yang bertujuan untuk menentukan tingkat kesiapan suatu instansi pemerintah dalam melaksanakan inovasi administrasi negara. Panduan IRL ini menetapkan tingkat kesiapan suatu instansi pemerintah dalam berinovasi ke dalam empat tingkat atau level, yaitu:

Level 4, yaitu Sangat Siap, dengan rentang nilai 84 ≤ 100 Level 3, yaitu Siap, dengan rentang nilai 68 – 84

Level 2, yaitu Cukup Siap, dengan rentang nilai 51 – 67 Level 1, yaitu Kurang Siap, dengan rentang nilai ≤ 50

Instansi pemerintah yang IRL-nya berada pada level I dan 2 tidak kondusif untuk melaksanakan inovasi. Oleh karena itu, instansi pemerintah ini terlebih dahulu perlu mengembangkan kapasitas internalnya.

(54)

B. Deskripsi Tingkat Kesiapan

Panduan IRL ini mengukur tingkat kesiapan instansi pemerintah dalam berinovasi dengan melakukan penilaian terhadap empat aspek yaitu: a) kepemimpinan dengan parameter visi kepemimpinan; b) organisasi dengan parameter kolaborasi organisasi dengan organisasi eksternal; c) sumber daya manusia dengan parameter budaya kerja; dan implementasi dengan parameter pengukuran kinerja. Dengan mengacu pada empat aspek tersebut, masing-masing level dapat dideskripsikan sebagai berikut: INNOVATION READINESS LEVEL DESKRIPSI

Level 4:

Sangat Siap

Organisasi sangat siap untuk berinovasi yang ditandai dengan adanya ambisi pemimpin untuk memberi manfaat kepada stakholder, kerjasama secara luas hingga internasional, adanya budaya kerja inovatif dalam pengelolaan sumberdaya manusia, dan pengukuran kinerja hingga outcome.

Level 3:

Siap

Organisasi siap untuk berinovasi yang ditandai dengan adanya ambisi pemimpin untuk memberi manfaat kepada organisasi, kerjasama secara luas hingga regional, adanya budaya kerja inovatif dalam pengelolaan sumberdaya manusia pada sebagian besar unit kerja, dan pengukuran kinerja hingga output.

Level 2:

Cukup Siap

Organisasi cukup siap untuk berinovasi yang ditandai dengan adanya kemauan pemimpin untuk memberi manfaat kepada sebagian besar unit kerja, kerjasama yang terbatas pada tingkat nasional, budaya kerja inovatif dalam pengelolaan sumberdaya manusia hanya pada sebagian kecil unit kerja, dan pengukuran kinerja hanya sampai proses.

Level 1:

Kurang Siap

Organisasi tidak siap untuk berinovasi karena pemimpin tidak memiliki visi; tidak ada kerjasama dengan organisasi lain, tidak ada budaya kerja inovatif, dan tidak ada pengukuran kinerja sama sekali.

(55)

BAB III

ASPEK DAN INDIKATOR

A. Aspek Kesiapan Instansi Pemerintah

Untuk mengukur tingkat kesiapan instansi pemerintah dalam berinovasi, terdapat empat aspek atau unsur organisasi yang dinilai. Keempat aspek tersebut adalah:

1. Kepemimpinan, 2. Organisasi,

3. Sumberdaya Manusia, dan 4. Implementasi.

Untuk efektivitas penilaian, maka ditetapkan parameter untuk masing-masing aspek, yaitu:

1. Aspek kepemimpinan dengan fokus parameter pada visi,

2. Aspek organisasi dengan fokus parameter pada kolaborasi eksternal, 3. Aspek sumber daya manusia dengan fokus parameter pada budaya kerja,

dan

4. Aspek implementasi dengan fokus parameter pada keterukuran kinerja. Dengan mengacu pada parameter tersebut, Panduan IRL ini menurunkan masing-masing aspek ke dalam empat level secara berjenjang mulai dari level sangat siap, siap, cukup siap, sampai pada level kurang siap. Keempat level ini mengikuti sistem level yang telah ditetapkan, sebagaimana diuraikan pada Bab II sebelumnya. Keterkaitan antara aspek dengan keempat level turunannya dapat dilihat pada tabel berikut:

Aspek/Level

Level 4:

Sangat

Siap

Level 3:

Siap

Level 2:

Cukup

Siap

Level 1:

Kurang

Siap

Kepemimpinan dan Visi Organisasi dan Kolaborasi

Sumberdaya Manusia dan Budaya Kerja

Implementasi dan Pengukuran

(56)

Dari setiap aspek, panduan IRL ini menurunkan sejumlah indikator. Indikator masing-masing aspek adalah sebagai berikut:

1. Indikator dari aspek kepemimpinan adalah: a. Visi

Indikator visi ini menilai sejauh mana ambisi pemimpin untuk membawa manfaat kepada stakeholder dan organisasinya.

b. Sinergi Internal

Indikator sinergi internal menilai kemampuan pemimpin dalam mensinergikan unit-unit kerja dalam organisasinya.

c. Pelaku Inovasi

Indikator pelaku inovasi ini menilai kemampuan pemimpin memfasilitasi lahirnya innovator-inovator di organisasinya.

2. Indikator dari aspek organisasi adalah: a. Kolaborasi dengan instansi pemerintah

Indikator ini menilai kemampuan organisasi dalam membangun kerjasama eksternal dengan instansi pemerintah.

b. Kolaborasi dengan swasta

Indikator ini menilai kemampuan organisasi dalam membangun kerjasama eksternal dengan swasta.

c. Kolaborasi dengan perguruan tinggi

Indikator ini menilai kemampuan organisasi dalam membangun kerjasama eksternal dengan perguruan tinggi.

d. Kolaborasi dengan masyarakat sipil

Indikator ini menilai kemampuan organisasi dalam membangun kerjasama eksternal dengan masyarakat sipil.

3. Indikator dari aspek sumberdaya manusia adalah a. Keragaman sumber daya manusia

Indikator ini menilai keragaman sumber daya manusia dilihat dari disiplin ilmu, suku, agama, gender.

b. Kompetensi sumber daya manusia

Indikator minilai intensitas pengembangan kompetensi yang dialami oleh sumberdaya manusia.

c. Pemberian reward

Indikator ini menilai adanya reward yang diberikan kepada sumber daya manusia yang inovatif.

(57)

Indikator ini menilai tingkat komitmen sumberdaya manusia terhadap pemecahan masalah organisasi.

4. Indikator dari aspek implementasi, adalah: a. Ketersediaan anggaran

Indikator ini menilai ketersediaan anggaran dalam suatu instansi pemerintah.

b. Ketersediaan fasilitas

Indikator ini menilai ketersediaan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan kegiatan organisasi.

c. Jadwal pelaksanaan kegiatan

Indikator ini menilai adanya perencanaan yang komprehensif sebelum suatu kegiatan dilaksanakan.

d. Pengukuran kinerja

Indikator ini menilai adanya sistem manajemen kinerja pada suatu instansi pemerintah.

Setiap indikator di atas juga diturunkan ke dalam empat level, mulai dari deskripsi indikator untuk level sangat siap (Level 4), siap (Level 3) , cukup siap (Level 2) sampai dengan deskripsi indikator untuk level kurang siap (Level 1).

Keterkaitan antara masing-masing indikator dengan ke empat level turunannya dapat dilihat pada tabel berikut

1. Aspek Kepemimpinan

Indikator/

Level

Level 4

Level 3

Level 2

Level 1

1. Visi Terdapat visi yang membawa manfaat bagi stakehol der Terdapat visi yang membawa manfaat bagi organisasi Terdapat visi yang membawa manfaat bagi sebagian besar unit organisasi nya Terdapat visi yang membawa manfaat bagi sebagian kecil unit organisasi nya 2. Sinergi internal Terdapat

(58)

internal pada semua unit kerja. internal pada sebagian besar unit kerja. internal pada sebagian unit kerja. sinergi internal. 3. Pelaku Inovasi Inovasi dilakukan oleh semua unit kerja. Inovasi dilakukan oleh sebagian besar unit kerja Inovasi dilakukan oleh sebagian kecil unit kerja Inovasi dilakukan individu. 2.

Aspek Organisasi

Indikator/

Level

Level 4

Level 3

Level 2

Level 1

1. Kolaborasi dengan instansi pemerin tah Terdapat kerjasama dengan instansi pemerintah dalam negara, regional, internasio nal Terdapat kerjasama dengan instansi pemerintah dalam negara, regional, Terdapat kerjasama dengan instansi pemerintah dalam negara, Tidak terdapat kerjasama dengan organisasi eksternal 2. Kolaborasi dengan pihak swasta Terdapat kerjasama dengan pihak swasta dalam negara, regional, & internasio Terdapat kerjasama dengan pihak swasta dalam negara, regional/ Terdapat kerjasama dengan pihak swasta dalam negara. Tidak terdapat kerjasama dengan pihak swasta.

(59)

nal Internasio nal. 3. Kolaborasi dengan perguruan tinggi Terdapat kerjasama dengan perguruan tinggi dalam negara, regional,int ernasional Terdapat kerjasama dengan perguruan tinggi dalam negara, regional. Terdapat kerjasama dengan perguruan tinggi dalam negara. Tidak terdapat kerjasama dengan perguru an tinggi. 4. Kolaborasi dengan masyaraka t sipil Terdapat kerjasama dengan masyarakat sipil dalam negara, regional, internasio nal Terdapat kerjasama dengan masyarakat sipil dalam negara, regional. Terdapat kerjasama dengan masyarakat sipil dalam negara. Tidak terdapat kerjasama dengan masyara kat sipil .

3. Aspek Sumber Daya Manusia

Indikator/

Level

Level 4

Level 3

Level 2

Level 1

1. Keraga man sumber daya manusia Terdapat keragaman discipline ilmu, suku, agama, gender, usia. Terdapat keragaman discipline ilmu, suku, agama. Terdapat keragaman discipline ilmu. Tidak terdapat keragaman discipline ilmu, suku, agama,

(60)

gender, usia. 2. Kompe tensi sumber daya manusia Pengemba ngan kompetensi pegawai 80 jam per tahun Pengemba ngan kompetensi pegawai 40 jam per tahun Pengemba ngan kompetensi pegawai 20 jam per tahun Pengemba ngan kompetensi pegawai kurang dari 20 jam per tahun 3. Pemberian

reward Terdapat reward bagi innovator berupa sertifikat, kenaikan pangkat, dan insentif. Terdapat reward bagi innovator berupa sertiifikat, kenaikan pangkat. Terdapat reward bagi innovator berupa kenaikan pangkat. Terdapat reward bagi innovator berupa sertifikat. 4. Komitmen sumber daya manusia Terdapat pegawai pada seluruh unit kerja yang memberi kan alternative solusi terhadap masalahan organisasi Terdapat pegawai pada sebagian besar unit kerja yang memberi kan alternative solusi terhadap masalahan organisasi Terdapat pegawai pada sebagian kecil yang memberi kan alternative solusi terhadap masalahan organisasi Tidak terdapat pegawai yang memberi kan alternative solusi terhadap masalahan organisasi

(61)

4. Aspek Implementasi

Indikator/

Level

Level 4

Level 3

Level 2

Level 1

1. Ketersedi aan anggaran Terdapat anggaran pelaksnaan kegiatan pada kesemua unit kerja Terdapat anggaran pelaksana an kegiatan pada sebagian besar unit kerja Terdapat anggaran pelaksaan kegiatan pada sebagian kecil unit kerja Tidak terdapat anggaran pelaksana an kegiatan. 2. Ketersedi aan Teknologi informasi Terdapat teknologi informasi pada kesemua unit kerja Terdpat teknologi informasi pada sebagian besar unit kerja Terdapat teknologi informasi pada sebagian kecil unit kerja Tidak terdapat teknologi informasi 3. Jadwal pelaksa naan kegiatan Terdapat jadwal pelaksana an kegiatan pada semua unit kerja. Terdapat jadwal pelaksana an kegiatan pada sebagian besar unit kerja. Terdapat jadwal pelaksana an kegiatan pada sebagian kecil unit kerja Tidak terdapat jadwal pelaksana an kegiatan. 4. Penguku ran kinerja Terdapat penguku ran kinerja Input, proses, output, outcome. Terdapat penguku ran kinerja Input, proses, output. Terdapat penguku ran kinerja Input, proses. Tidak terdapat penguku ran kinerja.

Gambar

Tabel 1  di bawah ini  dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk menyusun  rencana aksi inovasi
Gambar Tabel Rencana Aksi
Tabel kedua diisi dengan  indikator keberhasilan  pelaksanaan inovasi. Pada  tabel ini diisikan setidaknya 1  indikator yang mampu  menjadi tolok ukur  keberhasilan pelaksanaan  inovasi

Referensi

Dokumen terkait

Proses adsorpsi dilakukan dengan menggunakan methylen blue, yaitu dengan mengontakkan bentonit teraktivasi dengan berbagai variasi ukuran partikel yang

Namun jika kita menjual secara online, maka ada dua keuntungan yang diraih selain mendapatkan downline yang mau bergabung, dan kemudian mendapat keuntungan

Kepedulian kami akan proses dan hasil akhir juga merupakan sebuah komitmen yang kami bangun bersama para konsumen untuk memberikan hasil cetak yang memuaskan dan

Apa yang terjadi apabila Mesin Pabrik sedikit rusak atau Kunci tidak berfungsi baik?.. Apa yang terjadi apabila Mesin Pabrik sedikit rusak atau Kunci tidak

Hal ini sesuai dengan pendapat Swasta dalam Desi (2014) yang menyatakan bahwa tingkat produktivitas kerja seseorang akan mengalami peningkatan sesuai dengan

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan perbandingan harga material, kecepatan pengerjaan dan berat antara bata merah dengan bata ringan untuk pekerjaan pasangan

Sasaran 1 : Peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat Indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan/ kegagalan pencapaian sasaran ini adalah beberapa

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 16 Desember 2020 yang berlokasi di Hotel Swiss-Bel Sorong. Kegiatan penguatan Gugus Tugas Revolusi Mental di Kota Sorong dihadiri sebanyak