12
TINJAUN TEORI
2.1 Leukemia Limfoblastik Akut
2.1.1 Pengertian LLA
Menurut Kyle dan Susan (2016) leukemia merupakan gangguan utama pada sumsum tulang, yaitu elemen normal digantikan dengan sel darah putih abnormal. Normalnya, sel limfoid tumbuh dan berkembang menjadi limfosit dan sel mieloid tumbuh dan berkembang menjadi sel darah merah, granulosit, monosit dan trombosit. Pada semua jenis leukemia, sel darah putih yang abnormal mengambil alih sumsum yang normal. Sel darah merah dan trombosit juga terganggu. Sel leukemia dapat berprofelasi dan dilepaskan ke dalam darah perifer yang menginvasi organ tubuh yang menyebabkan metastasis (Roshdal & Mary 2015).
2.1.2 Jenis Leukemia
Menurut Kyle dan Susan (2016) leukemia dapat diklasifikasikan menjadi akut atau kronik, limfositik atau mielogenus. Leukemia akut merupakan penyakit yang berkembang cepat yang menjangkiti sel yang tidak terdiferensiasi/membelah atau imatur, mengakibatkan sel tanpa (kehilangan) fungsi normal. Leukemia kronik berkembang lebih lambat, memungkinkan maturasi dan diferensiasi sel sehingga dapat
mempertahankan beberapa fungsi normal mereka. Leukemia akut, termasuk leukemia limfoblastik akut (LLA), dan leukemia mielogenus akut (LMA). Sedangkan, leukemia kronik termasuk leukemia limfoblastik kronik (LLK) dan leukemia mielogenus kronik (LMK).
2.1.3 Insidensi LLA
Leukemia limfoblastik akut (LLA) adalah jenis kanker anak yang paling umum terjadi, LLA bertanggung jawab untuk 80% kasus leukemia pada anak. Insiden palimg tinggi terjadi anak-anak yang berusi antara 3 dan 5 tahun (Betz & Linda, 2002). LLA merupakan bentuk kanker paling umum terjadi pada anak. 85 % kasus LLA terjadi pada anak antara usia 2 dan 10 tahun (Kyle & Susan, 2016). Sebagian besar leukemia yang terjadi pada masa kanak-kanak adalah LLA dan sekitar 25% kanker ini terjadi pada anak berusia kurang dari 15 tahun, dengan insiden yang paling tinggi terjadi pada usia antara 2dan 4 tahun. LLA lebih sering terjadi pada anak laki-laki dan orang kulit putih dibandingkan orang kulit hitam (Axton & Terry, 2014).
2.1.4 Etiologi LLA
Etiologi leukemia anak tidak diketahui dan kemungkinan bersifat multifaktoral. Faktor genetik dan lingkungan beperan penting (Marcdante, dkk, 2014). Menurut Kyle dan Susan (2016) penyebab pasti LLA tidak diketahui. Faktor genetik dan abnormalitas kromosom dapat berperan dalam perkembangan LLA. Menurut Tehuteru (2011) penyebab LLA
belum diketahui secara pasti, namun diperkirakan bahwa kanker termasuk leukemia dapat terjadi akibat infeksi empat faktor, yaitu keturunan, zat kimia, virus dan radiasi.
2.1.5 Patofisiologi LLA
Penyebab LLA tidak diketahui. Faktor genetik dan abnormalitas dapat berperan dalam perkembangan LLA. Pada LLA, limfoblast yang abnormal melimpah dalam jaringan pembentuk darah. Limfoblast bersifat mudah pecah dan imatur, menurunkan kemampuan terhadap sel darah putih normal untuk melawan infeksi. Pertumbuhan limfoblast berlebihan dan sel abnormal menggantikan sel normal dalam sumsum tulang. Sel leukemia yang berproliferasi menunjukkan kebutuhan metabolik yang besar, menekan sel tubuh normal terkait kebutuhan zat gizi dan menyebabkan keletihan, penurunan berat badan atau henti tumbuh dan kelelahan otot. Pada sumsum, sel darah putih yang abnormal ini juga menggantikan sel induk yang memproduksi sel darah merah dan produk darah lainnya (seperti trombosit). Sumsum tulang menjadi tidak mampu mempertahankan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit, sehingga menyebabkan penurunan jumlah produk tersebut. Pada akhirnya, anak mengalami anemia dan trombositopenia. Karena sumsum tulang berekspansi atau sel leukemia menginfiltrasi tulang, nyeri sendi dan tulang dapat terjadi. Sel leukemia dapat menembus nodus limfe, menyebabkan limfadenopati difus, atau hati dan limpa, menyebabkan hepatosplenomegali (Axton & Terry, 2014; Kyle & Susan, 2016).
2.1.6 Manifestasi Klinis LLA
Gejala leukemia disebabkan oleh anemia, neutropenia dan trombositopenia-kerusakan sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Gejalanya meliputi demam, malaise, anoreksia, keletihan, nyeri tulang, memar dan perdarahan. Klien juga akan mengalami anemia, pembesaran nodus limfe, berkeringat malam, sesak napas, penurunan berat badan, nyeri tekan pada sternum dan limpa dan keterlibatan liver (Roshdal & Mary, 2015).
Tanda dan gejala lainnya dapat meliputi anoreksia, iritabilitas, keletihan, letargi, sakit kepala, demam, pucat, nyeri tulang, memar dan perdarahan. Triad neutropenia, anemia dan trombositopenia tampak pada hitung sel darah lengkap (complete blood cell count, CBC) (Axton & Terry, 2014).
2.1.7 Komplikasi LLA
Komplikasi yang terjadi apabila pasien dengan ALL tidak tertangani adalah gagal sumsum tulang, infeksi, hepatomegali, splenomegali dan limfadenopati (Betz & Linda, 2002).
2.1.8 Pemeriksaan Penunjang LLA
Jika seorang anak dicurigai menderita leukemia berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan fisik, maka pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Pemeriksaan labotarium dan diagnostik umumyang diprogramkan untuk LLA antara lain (Kyle & Susan, 2016; Marcdante, dkk, 2014):
2.1.8.1 Hitung darah lengkap: temuan abnormal mencakup kadar hemoglobin dan hematocrit yang rendah, penurunan hitung sel darah merah, penurunan hitung trombosit dan hitung sel darah puti yang rendah, normal atau tinggi; 15-20% pasien memiliki hitung leukosit lebih dari 50.000/mm3.
2.1.8.2 Apus darah perifer dapat menunjukkan blast.
2.1.8.3 Aspirasi sumsum tulang akan menunjukkan lebih dari 25% limfoblast. Aspirasi sumsum tulang juga diperiksa untuk mengetahui imunofenotip (limfoid vs mieloid dan kadar maturitas sel kanker) dan anlisis sitogenetik (menentukan abnormalitas pada jumlah dan struktur kromosom). Imunofenotip dan analisis sitogenetik digunakan untuk menetukan klasifikasi leukemia, yang membantu memandu terapi. Analisis sitogenik pada LLA mengidentifikasi kelainan kromosom pada t(12;21) lebih sering terjadi (sekitar 20% dari seluruh kasus) dan dihubungkan dengan prognosis baik, serta t(9;22) terjadi pada kurang dari 5% kasus dan dihubungkan dengan prognosis yang baik.
2.1.8.4 Pungsi lumbal akan menunjukkan apakah sel leukemik telah menginfiltrasi SSP.
2.1.8.5 Pemeriksaan fungsi hati dan BUN serta kadar kreatinin menentukan fungsi hati dan ginjal yang jika abnormal dapat menghindarkan terapi dengan agens kemoterapi tertentu.
2.1.8.6 Radiografi dada dapat menunjukkan pneumonia atu massa mediastinal.
2.1.9 Pengobatan LLA
Manajemen terapeutik anak yang mengalami LLA berfokus pada pemberian kemoterapi untuk mengeradikasi sel leukemik dan mengembalikan fungsi normal sumsum tulang. Terapi kemoterapi terbagi melalui empat tahap, yaitu: (Kyle & Susan, 2016)
Tabel 2.1 Tahap terapi leukemia
Tahap Tujuan Lama Medikasi yang Biasa
Induksi Induksi cepat remisi
sempurna
3 hingga 4 minggu
Steroid oral, vinkristin IV, L-asparginase IM, daunomisin (risiko tinggi) Konsolidasi (intensifikasi) Memperkuat remisi, mengurangi jumlah sel leukemik
Beragam Metotreksat dosis tinggi,
6-merkaptopurin; kemungkinan siklofosfamid, sitarabin, asparaginase, tioguanin, epipodofilotoksin
Rumatan Mengeliminasi
semua sel leukemik residu
2 hingga 3 tahun
Dosis rendah: 6-merkaptopurin setiap hari, metotrkesat setiap minggu, vinkristin IV dan steroid oral intermiten Profilaksis SSP Mengurangi risiko
perkembangan penyakit SSP Diberikan secara berkala pada semua tahap
Kemoterapi intratekal; radiasi kranial digunakan secara jarang
Sumber: Tahap terapi leukemia (Kyle & Susan, 2016)
2.2 Kemoterapi
2.2.1 Pengertian Kemoterapi
Menurut Roshdal dan Mary (2015) istilah kemoterapi menyatakan penggunaan agens kimiawi untuk menghancurkan sel yang bersifat kanker.
2.2.2 Prinsip Kemoterapi
Prinsip kerja agen kemoterapi yaitu mengganggu salah satu siklus sel baik itu sel kanker maupun sel yang dapat tumbuh cepat. Siklus sel merupakan siklus yang dibutuhkan oleh sel yang terdiri dari beberapa fase untuk bereproduksi, menggantikan sel yang rusak atau mati dan menambah jumlah sel pada jaringan yang tumbuh. Siklus sel terdiri dari 2 periode, yaitu interfase dimana sel tidak membelah dan fase mitosis dimana sel membelah (Hapsari, 2012).
2.2.3 Tujuan Kemoterapi
Menurut Roshdal dan Mary (2015) tujuan kemoterapi adalah merusak DNA di dalam sel abnormal dan menyebabkan sel menghancurkan dirinya sendiri (apoptosis). Terdapat beberapa indikasi terapeutik untuk kemoterapi, termasuk:
2.2.3.1 Untuk mengatasi penyebaran atau metastasis penyakit karena kemoterapi merupakan terapi sistemik bukan terapi lokal.
2.2.3.2 Untuk memberikan penyembuhan pada klien jenis kanker tertentu, bahkan dalam kanker stadium lanjut; misalnya leukemia akut, beberapa jenis limfoma dan kanker testis.
2.2.3.3 Untuk mengontrol atau mengurangi kesulitan yang berhubungan dengan tumor secara temporer-terapi paliatif bukan terapi untuk menyembuhkan.
2.2.3.4 Untuk digunakan sebagai terapi adjuvan (bantuan) setelah pembedahan untuk mengatasi metastasis atau berupaya mencegah terjadinya metastasis.
Tidak seperti sel normal, sel kanker memiliki jumlah sel yang secara proporsional lebih tinggi dan membelah kapanpun karena mengalami replikasi yang tidak terbatas dan pertumbuhan yang progresif. Agens kemoterapeutik dirancang agar efektif selama satu fase atau lebih pembelahan sel. Karena proses replikasi abnormalnya, sel ganas sangat rentan terhadap agens kemoterapeutik (Roshdal & Mary, 2015).
2.2.4 Cara Kemoterapi
Menurut Langhorne, dkk (2007) kemoterapi dapat digunakan dalam lima cara:
2.2.4.1 Terapi adjuvant: suatu kemoterapi yang digunakan bersamaan dengan modalitas pengobatan lain (operasi, terapi radiasi, atau bioterapi) dan ditayangkan dalam mengobati micrometastases. 2.2.4.2 Kemoterapi neo-adjuvant: pemberian kemoterapi untuk
mengecilkan tumor sebelum diangkat melalui pembedahan.
2.2.4.3 Kemoterapi induksi: terapi obat diberikan sebagai pengobatan utama untuk pasien yang menderita kanker dimana tidak ada pengobatan alternative.
2.2.4.4 Kombinasi kemoterapi: penguasaan dua atau lebih agen kemoterapi untuk mengobati kanker. Hal ini memungkinkan setiap obat untuk meningkatkan tindakan lain atau bertindak
secara sinergis dengannya (contoh kombinasi kemoterapi adalah rejimen MOPP yang diketahui secara luas dari nitorgen mustard, vincristine (oncovin), procarbazine dan prednison, yang digunakan untuk mengobati pasien dengan Hodgin's penyakit). 2.2.4.5 Terapi myeloblative: terapi dosis intensif yang digunakan untuk
persiapan transplantasi sel induk darah perifer.
2.2.5 Agens Kemoterapeutik
Agens kemoterapeutik diklasifikasikan ke dalam lima katagori, yaitu (Roshdal & Mary, 2015):
Tabel 2.2 Agens kemoterapeutik
Agens Tujuan Terapi Obat
Agens alkilase (Nitrosurea)
Mengganggu sintesis DNA Carboplatin (paraplatin)
Cisplatin (Platinol) Siklofosfamid (Cytoxan), Dakarbazin (DTIC) Ifosfamid (Ifex)
Tiotepa (TESPA, TSPA)
Antibiotik Mencegah replikasi DNA Bleomisin (blenoxane)
Doksorubisin HCl (Adriamycin) Idarubisin (Idamycin)
mitomisin-C (mutamycin)
plikamisin, mitramisin (Mitchracin)
Antimetabolit Menghambat fungsi mentabolit
yang diperlukan untuk sintesis atau replikasi DNA
Sitarabin (Ara-C) Fludarabin
Fluorouracil, 5-Fluorouracil, 5-FU (Adrucil, Efudex)
Gemitabicin (Gemzar)
Metotreksat, natrium metotreksat (Folex, Mexate)
Antimitotik Mengganggu mitosis sel Vinblastine sulfat (Velban, Velsar)
Vinkristin sulfat (Oncovin) Vinorelbin (nNavelbin)
Agens hormonal Menghasilkan regresi kanker
metastatatik secara sementara
Finasterid (Proscar) Flutamid (Eulexin) Leuprolid (Lupron) Tamosikfen (Nolvadex) Sumber: Agens kemoterapeutik (Roshdal & Mary, 2015)
2.2.6 Efek Samping Kemoterapi
Menurut Wong, dkk (2009); Roshdal dan Mary (2015); Hapsari (2012) kemoterapi akan menimbulkan efek samping, yaitu:
2.2.6.1 Mual dan muntah.
Mual dan muntah terjadi setelah sesaat setelah pemberian obat kemoterapi dan disebabkan oleh terapi radiasi kranium.
2.2.6.2 Alopesia
Kemoterapi dapat merusak sel normal, terapi tersebut mempengaruhi semua sel yang sering melakukan pembelahan (termasuk pada sel folikel rambut selain pada sel kanker) yang menyebabkan rambut menjadi rontok.
2.2.6.3 Stomatitis
Klien menerima kemoterapi atau radiasi rentan terhadap stomatitis (inflamasi mulut).
2.2.6.4 Anoreksia
Penurunan selera makan merupakan akibat langsung yang ditimbulkan oleh kemoterapi, serta ulkus pada mulut menyebabkan memperberat gejala anoreksia.
2.2.6.5 Keletihan
Keletihan hampir menyerang semua penderita kanker, keletihan mungkin berasal dari penyakit, terapi atau distres psikologik.
2.2.6.6 Neutropenia
Agen siktoksik merupakan salah satu penyebab anak mengalami neutropenia. Neutropenia menyebabkan pasien berisiko lebih tinggi terjadinya infeksi.
2.2.6.7 Anemia
Pertumbuhan limfoblast berlebihan dan sel abnormal menggantikan sel normal dalam sumsum tulang. Sumsum tulang menjadi tidak mampu mempertahankan kadar normal sel darah merah, trombosit dan sel darah putih.
2.2.6.8 Trombositopenia
Pertumbuhan limfoblast berlebihan dan sel abnormal menggantikan sel normal dalam sumsum tulang. Sumsum tulang menjadi tidak mampu mempertahankan kadar normal sel darah merah, trombosit dan sel darah putih.
2.2.6.9 Infeksi
Kemoterapi sering mengubah klien menjadi lebih rentan terhadap infeksi karena hitung sel darah putih rendah (neutropenia).
2.2.6.10 Diare
Salah satu efek samping yang paling menimbulkan distres dalam pemberian obat-obatan kemoterapeutik adalah kerusakan sel mukosa GI, yang dapat menimbulkan ulkus dimana pun disepanjang saluran pencernaan. Ulkus atau mukosa yang terinflamasi akan menghasilkan lendir yang merangsang peristaltik, hal ini lah yang menyebabkan diare.
2.2.7 Penatalaksanaan Efek Samping Kemoterapi
Kemoterapi menimbulkan sejumlah efek samping, untuk penatalaksanaan efek samping menurut Roshdal & Mary (2015), Wong, dkk (2009) dan Hapsari (2012) adalah:
2.2.7.1 Mual muntah
Agens antagonis reseptor-serotonin (missal ondansentron [Zofran]) merupakan obat yang efektif untuk mengendalikan mual dan muntah sesudah terapi kemoterapi dan radioterapi yang bersifat emetogenetik.
2.2.7.2 Alopesia
Beri anak topi dari kain katun yang lembut merupakan tuutp kepala yang nyaman bagi anak. Pilihan tutup kepalanya yang lain adalah kerudung dan wig (rambut palsu) untuk rambut palsu anjurkan anak atau pilih rambut palsu sesuai dengan gaya rambut asli anak sebelumnya.
2.2.7.3 Stomatitis
Anjurkan orang tua untuk menggunakan sikat gigi halus dan membersihkan mulut secara menyeluruh setelah makan dan sebelum tidur kepada anak tersebut. Alternatif lainnya berikan vitamin E ke area yang terganggu di mulut.
2.2.7.4 Anoreksia
Sediakan makanan yang tidak merangsang, lunak dan berkuah yang cocok dengan usia anak dan pilihan anak.
2.2.7.5 Keletihan
Optimalkan nutrisi beserta suplemen, rencanakan periode istirahat dan aktivitas, beri dukungan untuk distres psikologi seperti depresi dan ansietas, serta berikan tranfusi darah apabila keletihan berhubungan dengan penatalaksanaan medis.
2.2.7.6 Neutropenia
Penatalaksanaan anak dengan neutropenia secara farmakologi adalah pemberian antibiotik oleh dokter untuk mengatasi infeksi dan sepsis. Selain itu, cuci tangan yang benar, menjauhi orang yang sedang sakit, cuci sayur-sayuran dan buah-buahan serta makan-makanan bergizi dapat meningkatkan daya tahan tubuh. 2.2.7.7 Anemia
Memberikan banyak istirahat, membatasi aktivitas terutama yang menguras tenaga dan berikan makanan yang bernutrisi, serta berikan terapi suportif yang diberikan pada anak adalah tranfusi darah jika kadar hemoglobin anak dibawah normal.
2.2.7.8 Trombositopenia
Sikat gigi dengan sikat gigi yang lembut, hindari anak dari benda tajam dan hindari aktivitas anak yang berisiko untuk terluka. Tindakan yang tepat jika terjadi perdarahan adalah tekan dengan lembut daerah yang mengalami perdarahan sampai perdarahannya berhenti.
2.2.7.9 Infkesi
Mencegah keruskan kulit atau membrane mukosa, jangan memberikan obat melalui naus, hindari apapun yang mengakibatkan cedera, hindari orang atautempat yang berisiko menimbulkan infeksi dan lakukan teknik mencuci tangan yang tepat.
2.2.7.10 Diare
Penuhi kebutuan cairan tubuh untuk mencegah dehidrasi adan gangguan keseimbangan elektrolit, berikan anak makanan yang tinggi kalium dan natrium dan berikan makanan rendah serat serta bersihkan area perineal dengan hati-hati setelah buang air besar.
2.3 Anak Usia Prasekolah dan Usia Anak Sekolah
2.3.1 Pengertian
Anak-anak prasekolah adalah mereka yang berusia 3-6 tahun, sedangkan anak-anak sekolah adalah anak yang berusia 6-12 tahun (Kyle & Susan, 2015).
2.3.2 Pertumbuhan dan Perkembangan
Kecepatan pertumbuhan fisik pada anak prasekolah melambat dan semakin stabil selama masa prasekolah. Postur anak prasekolah lebih langsing tetapi kuat, anggun tangkas dan tegap (Wong, dkk, 2009). Menurut Wong, dkk (2009) perkembangan anak usia prasekolah adalah:
2.3.2.1 Perkembangan psikososial (Erikson) anak prasekolah adalah inisiatif versus bersalah. Mereka bermain, bekerja dan hidup sepenuhnya serta merasakan rasa pencapaian dan kepuasan yang sebenarnya dalam aktivitas mereka. Konflik timbul ketika anak mengalami rasa bersalah karena tidak berperilaku atau bertindak dengan benar.
2.3.2.2 Perkembangan kognitif (Piaget) anak prasekolah adalah fase praoperasional meliputi fase prakonseptual (usia 2-4 tahun) dan fase pikiran intuitif (usia 4-7 tahun) yaitu perpindahan egosentris total menjadi kesadaran sosial dan kemampuan untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain.
2.3.2.3 Perkembangan moral (Kohlberg) anak prasekolah adalah prakonvensional meliputi pada orientasi hukuman dan kepatuhan (usia 2-4 tahun) anak menilai suatu tindakan baik atau buruk bergantung dari hasilnya berupa hukuman atau penghargaan dan pada orientasi instrumental naïf, segala tindakan ditujukan kea rah pemuasaan kebutuhan mereka dan lebih jarang ditujukan pada orang lain.
Pada anak sekolah pertumbuhan tinggi dan berat badan terjadi lebih lambat. Proporsi tubuh mereka tampak lebih ramping dengan kaki yang lebih panjang dan proporsi tubuh bervariasi (Wong, dkk, 2009). Menurut Wong, dkk (2009) perkembangan anak usia prasekolah adalah:
2.3.2.1 Perkembangan psikososial (Erikson) anak sekolah adalah rasa industri versus rasa inferioritas. Pada rasa industri anak-anak usia sekolah ingin sekali mengembangkan keterampilan dan berpartisipasi dalam pekerjaan yang berarti dan berguna bagi sosial, sedangkan rasa inferioritas terjadi jik anak tidak mampu atau tidak dipersiapkan untuk memikul tanggung jawab yang terkait dengan rasa pencapaian.
2.3.2.2 Perkembangan kognitif (Piaget) anak sekolah adalah operasional konkret, ketika anak mampu menggunakan proses berpikir untuk mengalami peristiwa dan tindakan.
2.3.2.3 Perkembangan moral (Kohlberg) anak usia sekolah mulai berubah dari egosentrisme ke pola piker rasional yang lebih logis, mereka juga bergerak melalui tahap perkembangan kesadaran diri dan standar moral yang didapatkan dari orang tua mereka.
2.3.3 Tugas Perkembangan Anak Prasekolah dan Anak Sekolah
Tugas perkembangan pada usia anak-anak dimulai dari usai 2-13 tahun. Usia anak-anak dibagi menjadi dua periode yaitu usia prasekolah disebut dengan anak-anak awal (early childhood) dan usia sekolah disebut dengan anak-anak akhir (late childhood) (Jannah, 2015). Menurut Robert J. Havighurts (Jannah, 2015) tugas perkembangan anak-anak awal adalah: 2.3.3.1 Toilet training, hakikat tugas yang harus dipelajari anak yaitu
buang air kecil dan buang air besar yang dapat diterima secara sosial.
2.3.3.2 Belajar membedakan jenis kelamin. Melalui observasi, maka anak akan tingkah lau yang berbeda jensi kelamin satu dengan yang lain.
2.3.3.3 Belajar mencapai stabilitas fisiologis, anak akan cepat sekali merasakan perubahan dari panas ke dingin, oleh karena itu anak harus belajar keseimbangan terhadap perubahan.
2.3.3.4 Pembentukan konsep-konsep yang sederhana tentang realitas fisik dan sosial.
2.3.3.5 Belajar membedakan mana yang baik dan yang buruk.
Tugas perkembangan anak-anak usia akhir menurut Robert J. Havighurts (Jannah, 2015) adalah:
2.3.3.1 Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan yang umum.
2.3.3.2 Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai makhluk yang sedang tumbuh.
2.3.3.3 Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman sebayanya. 2.3.3.4 Mulai mengembangkan peran sosial pria dan wanita yang tepat. 2.3.3.5 Mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial. 2.3.3.6 Mencapai kebebasan pribadi.
2.3.4 Masalah Kesehatan Anak Prasekolah dan Anak Sekolah
Masalah kesehatan anak prasekolah menurut Wong, dkk (2009) adalah: 2.3.4.1 Gangguan infeksi, yaitu penyakit menular, konjungtivitis dan
stomatitis.
2.3.4.2 Penyakit parasite intestinal, yaitu giardiasis dan enterobiasis (cacing kremi).
2.3.4.3 Menelan agnes pencedera, yaitu keracunan logam berat dan keeacunan timbal.
2.3.4.4 Perlakuan salah pada anak. 2.3.4.5 Pengabaian anak.
2.3.4.6 Penganiayaan fisik. 2.3.4.7 Penganiayaan seksual.
Menurut Wong, dkk (2009) masalah kesehatan anak sekolah adalah:
2.3.4.1 Masalah kesehatan umum, yaitu infeksi mononucleosis. 2.3.4.2 Sindrom overuse.
2.3.4.3 Fraktur akibat penekanan.
2.3.4.4 Perubahan pertumbuhan dan kematangan, yaitu postur tubuh tinggi atau pendek dan abnomarlitas kromososm seks.
2.3.5 Aspek Penyakit Kronis Jangka-Panjang Kanak-Kanak
Ada dua masalah yang penting untuk memahami keterlibatan perkembangan penyakit jangka-lama dimasa anak-anak yaitu perkembangan pemahaman terhadap mekanisme penyakit anak dan
dampak penyakit tersebut pada berbagai tahap perkembangan anak. Anak usia prasekolah atau anak usia sekolah cenderung memiliki pemahaman yang nyata dan relatif dangkal mengenai penyakitnya yang terus berlangsung sampai mereka dewasa. Mereka memandang penyakitnya sebagai respon perilaku buruknya atau karena tidak menuruti peraturan, anak pada usia tersebut percaya bahwa mereka akan sembuh bila menuruti aturan. Pada kelompok usia ini, teori kuman tampaknya agak penting dengan pengertian bahwa kuman menyebabkan hampir semua penyakit, penyakit dicegah dengan menghindari kuman dan hasil yang baik dapat diperbesar dengan minum obat, yang dianggap sebagai pembunuh kuman (Behrman, dkk, 2000).
Rawat inap berulang kali di rumah sakit dapat mengganggu perkembangan normal hubungan saling percaya dalam keluarga. Pada tahun-tahun prasekolah akhir, ketika anak mengembangkan autonomi, mobilitas dan pengendalian diri penyakit juga dapat menganggu fungsi perkembangan penting ini. Pada awal usia sekolah, anak dapat menjadi sasaran godaan teman-teman sekelasnya, mereka mungkin perlu absen dari sekolah karena penyakti atau pengobatannya dan dapat kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi awal secara normal (Behrman, dkk, 2000).
2.4 Motivasi
2.4.1 Pengertian Motivasi
Menurut Notoatmodjo (2010) motivasi berasal dari bahasa Latin yang berarti to move. Motivasi mengacu pada adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berperilaku tertentu. Motivasi adalah didefinisikan sebagai kondisi internal yang membangkitkan kita untuk bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu dan membuat kita tetap tertarik dalam kegiatan tertentu (Nursalam & Ferry, 2008). Motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu (Nursalam, 2014).
2.4.2 Tujuan Motivasi
Menurut Taufik (2007) secara umum tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemaunnya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil dan atau mencapai tujuan tertentu. Setiap tindakan motivasi mempunyai tujuan. makin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, maka semakin jelas pula bagaimana tindakan memotivasi itu dilakukan. Tindakan memotivasi akan lebih dapat berhasil apabila tujuannya jelas dan didasari oleh yang dimotivasi.
2.4.3 Jenis Motivasi
Menurut Nursalam (2014) jenis motivasi dibagi dua, yaitu:
2.4.3.1 Motivasi intrinsik yaitu motivasi yang datangnya dari dalam diri individu.
2.4.3.2 Motivasi ekstrinsik yaitu motivasi yang datangnya dari luar individu.
2.4.5 Komponen Motivasi
Menurut Sarina & Madalena (2017) motivasi memiliki tiga komponen pokok, yaitu:
2.4.5.1 Menggerakkan. Hal ini motivasi menimbulkan kekuatan pada individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu.
2.4.5.2 Mengarahkan. Berarti motivasi mengarahkan tingkah laku dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. tingkah laku individu diarahkan terhadap sesuatu.
2.4.5.3 Menopang. Artinya, digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas arah dorong-dorongan dan kekuatan-kekuatan tertentu individu.
2.4.6 Unsur Motivasi
Motivasi mempunyai tiga unsur utama yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang mereka miliki dengan apa yang mereka harapkan.
Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan atau pencapaian tujuan. tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi (Nursalam, 2014).
Pada dasarnya motivasi mempunyai sifat siklus (melingkar), yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal) dan akhirnya setelah tujuan tercapai, motivasi itu terhenti. Tapi itu akan kembali pada keadaan semula apabila ada suatu kebutuhan lagi (Nursalam, 2014).
2.4.7 Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi, yaitu: 2.4.7.1 Kebutuhan
Kebutuhan berhubungan dengan apa yang dilakukan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. Motivasi dimiliki seseorang pada saat belum mencapai tingkat kepuasan tertentu dalam kehidupannya, kebutuhan yang telah terpuaskan tidak akan lagi menjadi motivator (Nursalam, 2015).
2.4.7.2 Penguatan
Sesorang akan termotivasi jika dia memberikan respon pada rangsangan terhadap pola tingkah laku yang konsisten sepanjang waktu (Nursalam, 2015).
2.4.7.3 Harapan
Harapan menyatakan cara memilih dan bertindak dari berbagai alternatif tingkah laku berasarkan harapannya (apakah ada
keuntungan yang diperoleh dari tiap lingkah lau) (Nursalam, 2015).
2.4.7.4 Dorongan keluarga
Dukungan atau dorongan dari anggota keluarga mengarahkan perilaku ke arah kebutuhan atau pencapaian tujuan, mendorong seseorang melakukan atau mencapai sesuatu (Taufik, 2007). 2.4.7.5 Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi dalam enam tingkat pengetahuan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi (Notoadmojo, 2014).
2.4.7.6 Ketersediaan fasilitas kesehatan
Fasilitas ini hakikatnya mendukung atau menmungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan (Notoadmojo, 2012).
2.4.7.7 Tingkat pendidikan
Pendidikan mempunyai pengaruh postif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. (Notoadmojo, 2012).
2.4.7.8 Sikap dan perilaku petugas kesehatan
Masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positif dan dukungan fasilitas saja, melainkan diperlukan perilaku contoh dari para petugas kesehatan untuk berperilaku sehat (Notoadmojo, 2012).
2.4.8 Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Orang Tua
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi orang tua, yaitu: 2.4.8.1 Pengetahuan
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni pengelihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau tingkat yang berbeda-beda. Secara garis besar dibagi dalam enam tingkat pengetahuan, yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi (Notoatmodjo, 2014). Dengan pengetahuan yang diperoleh seseorang akan mengetahui manfaat dari saran atau nasihat sehingga akan termotivasi dalam usaha meningkatkan status kesehatan (Doloksaribu & Risma, 2014).
2.4.8.2 Umur
Umur seseorang mempengaruhi status kesehatan, dimana umur produktif 15-49 tahun merupakan masa berkembangnya keseriusan bekerja dan mempertahankan keberhasilan sehingga dalam hal ini memotivasi orang tua udalam menjalani kemoterapi agar kondisi kesehatan anaknya tetap terjaga sehingga tidak mengganggu segala aktifitasnya, sedangkan umur yang kurang produktif 50-59 tahun merupakan masa berkurangnya kemampuan dan kekuatan terhadap mengatasi stres, berkurangnya minat dan dan masa penerimaan atas perubahan-perubahan yang terjadi sehingga mengurangi motivasi untuk dalam menajalani kemoterapi. Seseorang dengan usia produktif akan lebih mudah termotivasi untuk berperilaku sehat (Doloksaribu & Risma, 2014). 2.4.8.3 Sikap petugas kesehatan
Dukungan dari petugas kesehatan mempengaruhi tumbuhnya motivasi baik. Dukungan tersebut dapat berasal dari informasi atau dari penyuluhan tenaga kesehatan. Dengan penyampaian pesan akan menambah pengetahuan tentang sesuatu yang ingin diketahui sehingga dapat menimbulkan motivasi (Handian, dkk, 2017).
2.4.8.4 Penghasilan keluarga
Orang tua dengan penghasilan tinggi atau rendah sangat mempengaruhi motivasi dalam meningkatkan status kesehatan, dimana orang tua yang berpenghasilan tinggi akan memenuhi
semua pengobatan kemoterapi yang dilakukan anaknya. Sedangkan orang tua yang berpenghasilan rendah adanya keterbatasan untuk memenuhi pengobatan kemoterapi anaknya dikarenakan biaya akomodasi, ketiadaan jaminan kesehatan saat awal sakit, persepsi biaya pengobatan yang mahal sehingga menunda untuk menjalani kemoterapi (Handian, dkk, 2017). 2.4.8.5 Pendidikan
Pendidikan merupakan proses kegiatan pada dasarnya melibatkan tingkah laku individu maupun kelompok. Inti kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil proses dari belajar mengajar adalah terbentuknya tingkah laku, kegiatan dan aktivitas. Dengan belajar formal atau informal, manusia akan mempunyai pengetahuan, dengan pengetahuan yang diperoleh seseorang akan mengetahui manfaat dari saran atau nasihat sehingga akan termotivasi dalam usaha meningkatkan status kesehatan (Handian, dkk, 2017).
2.4.8.6 Jarak tempuh ke RS
Jarak tempuh ke RS mempengaruhi motivasi orang tua dimana waktu pengobatan yang lama membuat keluarga mengalami kesulitan finansial karena orang tua harus berkali-kali ke rumah sakit sehingga membuat biaya akomodasi juga meningkat (Handian, dkk, 2017).
2.4.8.7 Dukungan keluarga
Dukungan keluarga dapat diperoleh dari orang tua yang dianggap sudah pengalaman dalam banyak hal, sehingga nasihat atau saran dari orang tua akan dilaksanakan. Selain itu dukungan keluarga dapat diperoleh dari saudara yang merupakan orang terdekat dan akan secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada motivasi untuk berperilaku (Mushyama, 2015).
2.4.9 Cara Pengukuran Motivasi
Menurut Taufik (2007) motivasi tidak dapat diobservasi secara langsung, namun harus diukur. Beberapa cara mengukur motivasi, yaitu:
2.4.9.1 Tes proyektif
Salah satu teknik proyektif yang sangat dikenal adalah Thematic Apperception Test (TAT). Dalam tes tersebut klien diberikan suatu gambar dank lien diminta untuk dapat membuat cerita dari gambar tersebut. Dari isi cerita tersebut kita dapat menelaah motivasi yang mendasari diri klien.
2.4.9.2 Kuesioner
Salah satu cara untuk dapat mengukur motivasi seseorang adalah dengan menggunakan kuesioner dimana klien diminta untuk mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing motivasi klien. Sebagai contoh adalah EPPS (Edward’s Personal Preference Schedule). Kuesioner terdiri dari dua pertanyaan. Klien diminta untuk dapat memilih salah satu dari
kedua pertanyaan yang telah diajukan tersebut dan lebih mencerminkan keadaan dirinya.
2.4.9.3 Observasi perilaku
Bentuk lain dalam upaya dalam mengukur motivasi seseorang adalah dengan membuat situasi sehingga klien dapat memunculkan perilaku yang mencerminkan motivasinya.