1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kejahatan bukan merupakan peristiwa hereditas (bawaan sejak lahir atau warisan) dan juga bukan merupakan warisan biologis1. Tindak kejahatan dapat dilakukan siapapun baik wanita maupun pria dengan tingkat pendidikan yang bermacam-macam2. Tindak kejahatan bisa dilakukan secara sadar yaitu dipikirkan, direncanakan, dan diarahkan dengan maksud tertentu. Kejahatan sendiri merupakan suatu konsep yang memiliki sifat abstrak, dimana kejahatan tidak dapat diraba dan dilihat secara kasat mata kecuali bila terjadi suatu akibat.
Berdasarkan Pasal 7 huruf b Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, bahwa salah satu pelanggaran berat adalah Kejahatan Terhadap Kemanusiaan. Sebagaimana dalam Pasal 9 huruf g Undang-Undang No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM), salah satu bentuk Kejahatan Terhadap Kemanusiaan adalah perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan kehamilan, pemandulan atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk kekerasan seksual lain yang setara.
1 Wirjono Prodjodikoro, Asas-asas Hukum Pidana di Indonesia, 2003, Bandung: Repika Aditama, hal 1.
2 Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-teori dan Kebijakan Pidana, 1998, Bandung: Alumni, hal. 2
2 Selain kejahatan terhadap kemanusian dalam Undang-Undang Pengadilan HAM, adapun dalam Deklarasi PBB juga membahas tentang kekerasan terhadap perempuan dimana yang didalamnya terdapat pembahasan tentang kekerasan seksual. Berikut Deklarasi PBB tentang Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan yang menyebutkan bahwa3:
“Kekerasan terhadap perempuan merupakan manifestasi dari
hubungan yang secara historis tidak setara antara laki-laki dan perempuan, yang menghasilkan dominasi dan diskrimasi terhadap perempuan oleh laki-laki dan pencegahan akan kemajuan perempuan
…….”.
Selain definisi berdasarkan Deklarasi PBB tersebut, pada dasarnya sampai saat ini belum ada pengertian atau definisi Kekerasan Terhadap Perempuan yang dapat diterima secara universal. Mayoritas aktivis Hak Asasi Manusia menggunakan konsep yang luas dengan memasukkan kekerasan secara struktural seperti kemiskinan, atau ketimpangan akses terhadap pendidikan dan kesehatan sebagai bagian dari bentuk kekerasan4.
Menurut pandangan World Health Organization (WHO), kekerasan terhadap perempuan juga marajuk pada perilaku kekerasan yang dilakukan oleh pasangan atau eks-pasangan yang menyebabkan cedera fisik, seksual, maupun cedera psikologis. Definisi WHO ini secara khusus ditujukan untuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan atau mantan pasangan. Selain itu, kekerasan seksual juga didefinikan sebagai setiap tindakan atau percobaan untuk melakukan suatu tindakan
3 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Statistik Gender Tematik: Mengakhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Indonesia, 2017, hal. 16.
3 seksual, atau tindakan lain yang diarahkan pada seksualitas seseorang secara paksa, oleh setiap orang tanpa memperhatikan hubungannya dengan korban, pada setiap keadaan5.
Komnas (Komisi Nasional) Perempuan juga menyatakan bahwa Kekerasan Terhadap Perempuan merupakan segala tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan yang berakibat atau terdapat kecenderungan untuk mengakibatkan kerugian dan penderitaan secara fisik, seksual, maupun secara psikologis terhadap perempuan, baik perempuan dewasa atau anak perempuan dan remaja. Termasuk didalamnya terdapat ancaman, pemaksaan, maupun secara sengaja menghilangkan kebebasan perempuan. Tindakan kekerasan fisik, seksual, dan psikologis tersebut dapat terjadi dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat6.
Selain Komnas Perempuan, DEPKES RI (Departemen Kesehatan Republik Indonesia) menyatakan bahwa Kekerasan Terhadap Perempuan merupakan setiap bentuk perbuatan yang berkaitan atau yang berakibat pada kesengsaraan atau penderitaan terhadap perempuan, secara fisik, seksual, psikologis. Ancaman perbuatan tertentu, yaitu berupa pemaksaan dan perampasan kebebasan, dapat terjadi di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan rumah tangga.
Pelaporan yang banyak terjadi dalam kekerasan seksual di lingkungan rumah tangga adalah kasus incest, yaitu sebesar 1,210 kasus. Kasus kedua adalah kasus
5 Ibid.
6 B. Rudi Harnoko, Dibalik Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan, 2010, Muwazah, Vol. 2 No. 1, hal. 182
4 eksploitasi seksual atau persetubuhan, yaitu sebanyak 555 kasus. Kemudian berikutnya merupakan kasus perkosaan dan pencabulan. Angka terbanyak dalam kasus incest menujuk pada pelaku kekerasan seksual dilakukan oleh orang terdekat yang masih memiliki hubungan keluarga7.
Kekerasan seksual dalam bentuk incest ini paling banyak dilaporkan kepada LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), Kepolisian (UPPA), P2TP2A, dan Pengadilan Negeri. Kasus incest tertinggi dengan pelaku ayah dan paman (lihat kategori pelaku) yang termasuk kategori kekerasan seksual atau ranah privat. Ini menunjukkan baik ayah maupun paman adalah dua orang yang seharusnya menjadi pelindung bukan lagi menjadi sosok yang aman untuk korban. Total kasus incest tahun 2017 sejumlah 1,210 yang dilaporkan ke polisi sebanyak 266 (22%) dan masuk dalam proses pengadilan sebanyak 160 kasus (13,2%)8.
Selain kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan rumah tangga tersebut, kekerasan seksual juga sering terjadi pada kasus pemerkosaan. Pemerkosaan merupakan serangan dalam bentuk pemaksaan hubungan seksual dengan memakai penis ke arah vagina, anus, atau mulut korban. Selain itu juga bisa menggunakan jari-jari tangan atau benda-benda lainnya yang dilakukan untuk menyerang korban. Serangan terhadap korban juga dilakukan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan. Pencabulan
7 Komnas Perempuan, Catatan Tahunan (CATAHU) Kekerasan Terhadap Perempuan 2018, hal. 16, diaskes dari https://www.komnasperempuan.go.id/ pada tanggal 17 Maret 2019
5 merupakan definisi lain dari perkosaan yang dikenal dalam sistem hukum Indonesia. Istilah ini digunakan ketika perkosaan dilakukan di luar pemaksaan penetrasi penis ke vagina dan ketika terjadi hubungan seksual pada orang yang belum mampu memberikan persetujuan secara utuh, misalnya terhadap anak atau seseorang di bawah 18 tahun9.
Perkosaan merupakan salah satu bentuk pelanggaran terhadap hak asasi manusia sebagaimana yang tertuang didalam konstitusi kita, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Secara khusus perkosaan merupakan salah satu bentuk perampasan hak perempuan sebagai warga negara atas jaminan perlindungan dan rasa aman yang telah dijamin di dalam konstitusi pada Pasal 28G ayat (1). Sebagai akibta dari suatu ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan, pembiaran terhadap terus berlanjutnya perkosaan terhadap perempuan dapat merampas hak perempuan sebagai warga negara untuk bebas dari perlakuan diskriminatif dan untuk mendapatkan perlindungan dari perlakuan diskriminatif itu (Pasal 28I ayat (2)). Sebagai akibat dari perkosaan itu, perempuan korban dapat kehilangan hak untuk hidup sejahtera lahir dan batin (Pasal 28H ayat (1)), hak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia (Pasal 28G ayat (2)), dan bahkan kehilangan haknya untuk hidup (Pasal 28A). Banyak perempuan yang merupakan korban kekerasan seksual kehilangan haknya atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
9 Komnas Perempuan, 15 Bentuk Kekerasan Seksual:Sebuah Pengenalan, hal 5, diakses dari https://www.komnasperempuan.go.id/ pada tanggal 17 Maret 2019
6 yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum (Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1)) karena tidak dapat mengakses proses hukum yang berkeadilan10.
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang dalam rentang waktu Januari hingga Desember 2019 sebanyak 65 perempuan dewasa mengalami kekerasan dalam rentang usia 19-24 sebanyak 9 orang, usia 25-44 sebanyak 50 orang, dan usia 45+ sebanyak 6 orang. Dimana jenis kekerasan yang paling banyak dilakukan adalah kekerasan fisik, yaitu sebanyak 45 kasus, kemudian kekerasan psikis sebanyak 11 kasus, kekerasan seksual sebanyak 8 kasus, kekerasan dengan jenis penelantaran sebanyak 4 kasus, dan jenis kekerasan lainnya sebanyak 3 kasus sebagaimana telah terlapor di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak11.
Banyaknya dampak buruk yang diakibatkan dan masih kurangnya perlindungan hukum bagi perempuan, dalah satunya berakar dari diskriminasi yang didapatkan terhadap perempuan. Termasuk didalamnya diakibatkan karena pengaruh implementasi hukum. Proses berjalannya hukum dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantarnya substansi norma, struktural, dan budaya hukum. Secara substansi, Indonesia telah memiliki banyak produk hukum, namun hanya beberapa yang secara serius melindungi hak-hak perempuan. Diantaranya adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU TPO), Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006
10 Ibid, hal 14.
7 tentang Perlindungan Saksi dan Korban (UU PSK), Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan beberapa undang-undang lainnya. Ketentuan pidana dalam KUHP yang secara generalis menyebutkan perempuan sebagai korban kejahatan diatur dalam Pasal 285 KUHP (perkosaan), Pasal 297 KUHP (pengguguran kandungan tanpa seijin perempuan yang bersangkutan), Pasal 332 KUHP (melarikan perempuan), ganti rugi terhadap korban apabila diminta diatur dalam Pasal 98 KUHAP12.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut diatas, penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji dan menuangkannya kedalam penelitian yang berjudul “PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN
KEKERASAN SEKSUAL (Studi di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang)”.
B. Rumusan Masalah
1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan perempuan rentan menjadi korban kekerasan seksual?
2. Bagaimana upaya perlindungan hukum yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang terhadap perempuan korban kekerasan seksual?
12 Wiwik Afifah, Hukum dan Konstitusi: Perlindungan Hukum Atas Diskriminasi Pada Hak Perempuan Di Dalam Konstitusi, hal. 202, diakses dari https://www.academia.edu/ pada tanggal 18
8
C. Tujuan Penelitian
Adapun Tujuan Penelitian adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui factor-faktor yang menyebabkan perempuan rentan menjadi korban kekerasan seksual.
2. Untuk mengetahui upaya perlindungan hukum yang dilakukan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang terhadap perempuan korban kekerasan seksual.
D. Manfaat Penelitian
1. Untuk melatih diri dalam melakukan penulisan dan penelitian secara ilmiah yangdituangkan dalam bentuk karya ilmiah berupa skripsi.
2. Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu hukum pidana terutama yang berkaitan dengan masalah perlindungan hukum terhadap perempuan korban kekerasan seksual.
E. Originalitas
No. Judul Penulis Lokasi/Tahun Fokus Kajian
1.
Perlindungan Hukum Bagi Korban Kekerasan Seksual Terhadap Anak dan Perempuan I Ketut Sasmita Adi Laksana Bali/2017 Perlindungan Hukum Anak dan Perempuan
9 2. Perbuatan Kekerasan/Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan Marcheyla Sumera 2013 Kajian Perbuatan Kekerasan atau Pelecehan Seksual 3. Pelecehan Seksual Sebagai Kekerasan Gender: Antisipasi Hukum Pidana Supanto 2004 Kajian Pengaturan Perbuatan Tindak Pidana Pelecehan Seksual F. Metode Penelitian
Untuk memecahkan permasalahan pada topik yang dibahas, penelitian telah memilih Metode Pendekatan, Lokasi Penelitian, Sumber Data, Teknik Pengumpulan Data yang akan digunakan untuk menyusun penulisan dari hasil penelitian, dan Metode Analisa Data yang di dapat untuk melakukan analisa terkait hasil penelitian dan menemukan jawaban dari hasil penelitian tersebut, antara lain yaitu:
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah yuridis-sosiologis. Metode ini menekankan penelitian untuk terjun langusng ke objek penelitian. Data yang telah diperoleh dari hasil penelitian ini disusun dan dianalisa secara kualitatif, kemudian selanjutnya data tersebut diuraikan secara deskriptif guna memperoleh gambaran yang dapat
10 dipahami secara jelas dan terarah untuk menjawab permasalahan yang penulis teliti.
2. Lokasi Penelitian
Lokasi yang dipilih oleh peneliti adalah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang.
3. Sumber Data
a. Data Primer
Data primer atau data pokok adalah data yang yang diperoleh secara langsung dari narasumber atau informan, data berupa catatan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi.
b. Data Sekunder
Data sekunder atau data tambahan adalah data yang diperoleh dari peraturan perundang-undangan, buku-buku, catatan, media atau surat kabar, dan dokumentasi yang berkaitan dengan penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
a. Wawancara
Yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan tanya jawab kepada pihak-pihak yang terkait ataupun yang mengenai tindak pidana ini. Wawancara dilakukan kepada Ibu Shelly selaku Kepala Sie
11 Bidang Pemberdayaan Perempuan di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang.
b. Dokumentasi
Yaitu teknik pengumpulan data dengan mempelajari dokumen-dokumen dan arsip-arsip yang diberikan oleh pihak yang terkait.
c. Studi Pustaka
Yaitu suatu teknik penelaahan normatif dari beberapa peraturan perundang-undangan dan berkas-berkas putusan pengadilan yang terkait dengan tindak pidana ini serta penelaahan beberapa literatur yang relavan dengan materi yang dibahas.
5. Metode Analisa Data
Dalam melakukan analisis, penulis menggunakan metode Descriptive
Analysis, yaitu suatu metode dengan serangkaian tindakan dan pemikiran
untuk menelaah sesuatu hal yang secara mendalam ataupun terperinci.
G. Sistematika Penulisan
Rencana sistematika penulisan ini dibuat dalam rangka untuk memudahkan proses penulisan, oleh karena itu penulis membaginya menjadi 4 (empat) bagian, dengan urutan sebagai berikut:
12
BAB I PENDAHULUAN
Dalam Bab I ini memaparkan mengenai Latar Belakang, yakni memuat landasan-landasan yang bersifat melatar belakangi suatu masalah yang hendak dikaji lebih dalam.
Selanjutnya terdapat Rumusan Masalah yang diturunkan dari Latar Belakang, yang memuat suatu masalah yang akan dibahas dan diteliti. Adapun selanjutnya terdapat Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Originalitas, Metode Penelitian, dan Sistematika Penulisan untuk mempermudah penyusunan penulisan ini.
BAB II KAJIAN TEORI
Pada Bab II berisi tentang konsep dan pemaparan kajian-kajian teori yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti dan kemudian menjadi landasan analisis hukum di bab selanjutnya, yakni Bab III Hasil Penelitian dan Pembahasan.
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dalam Bab III ini merupakan pemaparan dari hasil-hasil penelitian, yang akan menjadi pokok pembahasan objek kajian dalam penulisan, focus permasalahan yang dikaji dalam bab ini adalah mengenai factor-faktor yang menyebabkan perempuan cenderung rentan menjadi korban kekerasan seksual, dan upaya perlindungan hukum terhadap perempuan sebagai korban kekerasan seksual. Kemudian semua permasalahan tersebut akan diuraikan dengan sistematika
13 penulisan serta penggunaan bahan hukum yang telah disebutkan diatas sehingga dapat ditemukan jawaban dari permasalahan tersebut.
BAB IV PENUTUP
Bab IV merupakan bab terakhir yang berisi tentang kesimpulan dari Bab III dan jawaban dari pertanyaan penelitian yang terdapat pada Bab I, sehingga permasalahan tersebut dalam terjawab. Selain itu, juga berisikan saran atau rekomendasi dari penulis terhadap permasalahan yang diteliti.