MENYIARKAN MEDIA SOSIAL DI RADIO
(STRATEGI PRODUKSI PROGRAM “LATE
NIGHT SHOW” OZ RADIO JAKARTA)
Winda Wulanningrum
Marketing Communication, School of Economic and Communication, Binus University. Jln. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta Barat, 11480.
Telp. (62-21) 534 5830, [email protected] Winda Wulanningrum, Indra Prawira, S.P., M.I.Kom
ABSTRACT
Activities are quite a lot of public interest is access to a variety of social media services Purpose of research, to have well understanding on how production strategy of program Late Night Show in the broadcast information from social media, to know the barriers faced when determining eligibility information from social media to broadcast. The result is known the production strategies used in social media broadcast through three stages, the pre-production stage of the selection of information, the pre-production phase will transform the information into a text broadcast to broadcast programs currently on air, the post-production stage is evaluation. Obstacles faced contained in the information selection activities carried out by the producer, the limited number of facilities that lack sound recording device to support the production process and the limited ability to process the production crew to the recordings.
Keywords : Production strategy, Social media, Radio
ABSTRAK
Aktivitas yang cukup banyak menarik minat masyarakat adalah akses pada berbagai layanan media sosial. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui strategi produksi program Late Night Show dalam menyiarkan media sosial pada segmen seputar media sosial, dan mengetahui hambatan yang dihadapi saat menentukan kelayakan informasi dari media sosial untuk disiarkan. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa strategi produksi yang digunakan dalam menyiarkan media sosial melalui tiga tahap yaitu, pada tahap pra produksi melakukan seleksi informasi, tahap produksi akan mengubah informasi tersebut menjadi naskah siaran untuk disiarkan saat program on air, tahap pasca produksi adalah evaluasi program. Hambatan yang dihadapi terdapat dalam kegiatan seleksi informasi yang dilakukan oleh produser, keterbatasan fasilitas yaitu kurangnya jumlah alat perekam suara untuk menunjang proses produksi dan keterbatasan kemampuan kru produksi mengolah hasil rekaman suara.
PENDAHULUAN
Setiap stasiun radio harus memiliki program siaran yang dikemas sedemikian rupa agar menarik perhatian dan didengar sebanyak mungkin oleh pendengar. Program siaran dalam media penyiaran merupakan ujung tombak utama. Kenyataan yang ada saat ini untuk seluruh stasiun penyiaran radio mengharuskan mereka bersaing secara ketat untuk mendapatkan target pendengar yang diinginkan. Hal tersebut dapat terwujud melalui penataan program siaran. Media penyiaran khususnya radio mempunyai kebijakan sendiri-sendiri dalam pengelolaan informasi yang disajikan. Pendengar membutuhkan informasi terbaru setiap harinya guna mengimbangi aktivitas mereka yang terus berkembang.
Diantara berbagai aktivitas yang cukup banyak menarik minat masyarakat adalah akses pada berbagai layanan media sosial. Bagi masyarakat Indonesia khususnya kalangan dewasa muda, media sosial seakan sudah menjadi candu, tiada hari tanpa membuka media sosial, bahkan hampir 24 jam mereka tidak lepas menggunakan smartphone. Media sosial terbesar yang paling sering digunakan oleh kalangan remaja antara lain; facebook, twitter, path, youtube, instagram, kaskus, line, whatsapp, blackberry messenger (Abugaza, 2013). Masing-masing media sosial tersebut mempunyai keunggulan khusus dalam menarik banyak pengguna media sosial yang mereka miliki.
Media dan masyarakat adalah dua bagian yang tidak dapat dipisahkan, karena media tumbuh dan berkembang seiring dengan timbulnya kesadaran masyarakat akan pentingnya informasi. Fenomena media sosial dan masyarakat tersebut, akan terus berkembang dari masa ke masa. Untuk membantu keberhasilan dari sebuah program siaran, radio mulai memanfaatkan media yang berbasis internet untuk mendukung program siaran tersebut. Hal ini diterapkan pada program Late Night Show yang disiarkan OZ Radio Jakarta. Program yang mengudara setiap hari Senin hingga Jumat pada pukul 20.00 hingga 24.00 malam hari, dibawakan oleh dua orang penyiar yaitu Argi Wibawa dan Ayu Widy, memilih menggunakan media sosial untuk memberikan informasi serta hiburan yang dikemas secara menarik dan ringan untuk kemudian diangkat sebagai topik dan dijadikan ajang berinteraksi dengan pendengar, untuk memberikan hiburan, melihat pendapat, reaksi, dan atensi dari para pendengar tentang informasi yang disampaikan.
OZ Radio Jakarta memiliki keberanian untuk tampil berbeda dengan menjadikan informasi yang bersumber dari media sosial sebagai sebuah segmen. Program Late Night Show, khususnya pada segmen seputar media sosial memanfaatkan informasi melalui media sosial sebagai sumber program yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan hiburan dan informasi terkini. Semua itu dianggap sebagai magnet kuat yang mampu menarik minat pendengar.
METODE PENELITIAN
Pendekatan penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian kualitatif. Dengan jenis penelitian kualitatif dapat membantu peneliti untuk memenuhi data-data yang di perlukan dalam penelitian ini. Peneliti akan menjelaskan fenomena dengan sedalam-dalamnya yang terjadi antara media sosial dengan masyarakat melalui strategi produksi program Late Night Show yang menyajikan sebuah segmen seputar media sosial dengan tujuan memberikan hiburan dan informasi terkini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Penelitian ini tidak mengutamakan besaran populasi atau sampling sebab di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman data bukan banyaknya data.
Peneliti memilih satu dari tiga paradigma penelitian yang ada yaitu konstruktivisme. Sesuai dengan pendekatan konstruktivisme, peneliti menjelaskan apakah realitas sosial yang ada pada kegiatan produksi program Late Night Show dalam menyiarkan media sosial pada segmen seputar media sosial sesuai dengan konsep strategi produksi yang terdiri dari praproduksi, produksi dan pasca produksi. Sebab peneliti ingin mengetahui apakah semua teori yang dipelajari tentang produksi program akan sama atau beda dengan kondisi di lapangan.
Peneliti melakukan pembahasan penelitian yang disajikan dalam bentuk uraian kata-kata (deskripsi), oleh karena itu digunakanlah jenis penelitian deskriptif. Dengan cara deskriptif mengumpulkan, menganalisa, serta menyajikan data informasi yang sebenar-benarnya, peneliti dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai strategi produksi program Late Night Show untuk
menarik kesimpulan sebab tujuan penelitian tertuju pada strategi produksi maka data yang diperlukan tidak memerlukan prosedur statistik, melainkan prosedur analisis.
Data yang dikumpulkan oleh peneliti terbagi menjadi dua jenis yaitu, data primer dan data sekunder. maka jenis pengumpulan data yang pertama digunakan adalah data primer terdiri dari observasi, dan wawancara. Sedangkan untuk data sekunder terdiri dari dokumentasi.
Dalam menganalisa data, peneliti menggunakan pengkodean (coding), dan kategorisasi (categorizing). Peneliti menggunakan pengkodean untuk mengubah bentuk data yang diperoleh melalui wawancara dan catatan lapangan, dan mengurainya untuk membangun kategori, seiring dengan munculnya kategori utama. Dari berbagai macam triangulasi pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan dua macam yaitu triangulasi sumber dan triangulasi metode karena kedua macam triangulasi itu dianggap teknik yang paling cocok untuk melihat keabsahan data.
HASIL DAN BAHASAN
Tahap pra produksi program Late Night Show khususnya pada segmen seputar media sosial, dapat disimpulkan bahwa pada tahap perencanaan, membuat rencana siaran berarti membuat konsep acara yang akan disajikan kepada pendengar. Hal yang sangat penting adalah mengetahui secara persis apa kebutuhan pendengar, tidak sekadar menghadirkan acara dengan materi atau kemasan baru. Target utama pendengar dari segmen seputar media sosial adalah masyarakat Jakarta. Keadaan dan perkembangan dari masyarakat kawasan perkotaan memiliki pola dan gaya hidup yang konsumtif. Memasuki era informasi yang serba canggih, masyarakat sudah sangat akrab dengan media sosial yang menyajikan begitu banyak informasi. Dalam proses penentuan ide pada program Late Night Show khususnya segmen seputar media sosial, informasi yang berasal dari media sosial digunakan sebagai sumber informasi pada program tersebut. Produser akan mencari kemudian menentukan informasi yang sesuai kebutuhan pendengar untuk disiarkan. Selain materi siaran, produser juga mempersiapkan rencana bagaimana cara menyampaikan informasi tersebut agar pendengar tertarik untuk mendengarkan.
Pada tahap penentuan ide, terdapat kriteria informasi yang pantas untuk dijadikan topik siaran dalam program Late Night Show khususnya segmen seputar media sosial adalah informasi umum mengenai kehidupan sehari-hari yang dibicarakan oleh banyak orang. Informasi tersebut biasanya berisi tentang kejadian politik atau kejadian sehari-hari apapun yang terkadang dibuat dalam bentuk sindiran-sindiran lucu yang membuat hati pendengar tersentil untuk meresponnya. Melakukan seleksi untuk memilih kriteria informasi yang pas dengan pendengar merupakan hal yang wajib dilakukan sebab tidak semua informasi yang disajikan oleh media sosial dapat dipahami dan diminati oleh pendengar. Penilaian tersebut dilihat dari segi aktualitas, kedekatan, tokoh publik, konflik, kemanusiaan dan sensasional.
Cara yang dilakukan ketika menyeleksi informasi adalah disesuaikan dengan segmentasi pendengar Late Night Show yaitu usia dewasa muda. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh produser Late Night Show yang dilakukan sehari-hari melalui interaksi di media sosial dengan pendengarnya yang berusia dewasa muda, mayoritas pendengarnya paling banyak memberikan respon jika topik siaran yang disajikan sedang membahas seputar kehidupan percintaan dan permasalahan politik. Usia dewasa muda disini adalah usia 18 sampai dengan 35 tahun. Pada usia tersebut merupakan periode yang paling banyak menghadapi perubahan. Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda.
Tahap selanjutnya yang dilakukan adalah penetapan jangka waktu kerja biasanya diawali oleh adanya rapat mingguan. Rapat tersebut biasanya dihadiri oleh tim dari program Late Night Show yang terdiri dari program director, produser yang merangkap sebagai kreatif dan kru produksi. Kegiatan yang dilakukan dalam rapat tersebut adalah membahas tentang sumber materi yang akan dipilih untuk nantinya disiarkan seminggu kedepan. Pemilihan materi tersebut berdasarkan diskusi kelompok oleh tim kreatif bersama para pelaksana siaran lainnya. Agar tetap berada di jalurnya, tim program Late Night Show memiliki proposal acara yang memuat nama acara, target pendengar, tujuan dan target, penempatan siar, sumber materi kata dan musik, durasi, serta para kru yang akan terlibat
dalam produksi seperti produser, penyiar, operator dan penulis naskah. nama acara yang dipilih untuk menyajikan informasi dari media sosial adalah segmen seputar media sosial karena nama tersebut cukup menjelaskan secara garis besar apa isi siarannya. Oleh sebab itu, dipilih target pendengar usia dewasa muda khusunya masyarakat berdomisili di Jakarta karena mereka memiliki kebutuhan yang tinggi akan informasi, serta gaya hidup modern membuat mereka tertarik untuk membahas seputar media sosial karena sudah sangat akrab dengan kehidupannya. Penempatan siar yang dipilih pada segmen ini adalah pukul 22.00 sampai 23.00 malam hari, sebab pada jam-jam tersebut mayoritas pendengar berusia 18 sampai 35 tahun sudah tidak melakukan aktivitas diluar rumah.
Faktor yang paling penting dari proses pra produksi ini adalah naskah siaran. Naskah tersebut merupakan jantung dari sebuah program. Dalam segmen seputar media sosial, informasi yang diambil bersumber dari media sosial tidak hanya dalam bentuk tulisan saja namun ada juga gambar, kata-kata dan gambar lawakan atau ekspresi manusia biasanya disebut meme sehingga pembuat naskah harus pintar untuk mengubah bentuk informasi tersebut menjadi kata-kata yang akan menyentuh hati pendengarnya serta membangun suasana yang hidup dan akrab. Naskah yang sudah selesai dibuat oleh produser dengan cara diketik lalu dicetak, tujuannya agar hasil tulisannya secara keseluruhan rapih dan jelas dibaca oleh penyiar. Mengingat segmentasi usia pendengar program Late Night Show khususnya segmen seputar media sosial adalah usia dewasa muda sehingga kata-kata yang digunakan dalam percakapan menggunakan bahasa sehar-hari yang sifatnya tidak formal. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kesan akrab dengan para pendengar.
Untuk memperkuat naskah siaran yang sebelumnya dibuat khusus dibawakan oleh penyiar, produser juga merangkap sebagai salah satu tokoh yang bertugas untuk menghantarkan informasi dari media sosial dengan kemasan berbeda dengan tujuan menarik pendengar. Tokoh tersebut selain meenyajikan informasi dari media sosial juga memiliki tujuan untuk menghibur para pendengar. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa program Late Night Show yang menyajikan segmen seputar media sosial termasuk kedalam program infotainment radio. Produser program Late Night Show juga memberikan perencanaan kegiatan siaran agar kru produksi memberikan hasil kerja yang terbaik. Biasanya produser memberikan pengarahan saat melalakukan rekaman suara hingga nantinya dalam proses editing, meliputi pemilihan sound effect yang sesuai dengan naskah siaran. Kru produksi juga harus memiliki kreatifitas yang tinggi untuk bisa menghasilkan output rekaman yang menarik. Kru produksi memiliki hak untuk mengajukan ide ke produser ketika melakukan editing.
Kru produksi program Late Night Show memiliki pengaruh besar untuk membuat ssebuah hasil rekaman suara yang menjadi daya tarik dalam segmen seputar media sosial saat menyampaikan informasi dari media sosial. Kru produksi di OZ Radio Jakarta memiliki tugas sebagai teknisi audio dan editing. Melalui tahap editing yang dikerjakan oleh kru produksi, hasil rekaman suara Mr. Media Sosial yang membawakan informasi serta hiburan untuk pendengar dikemas semenarik mungkin agar membangun suasana yang hidup dan akrab di telinga sehingga membuat pendengar lebih tertarik untuk mendengarkan.
Ketika kru produksi melakukan proses editing hasil rekaman Mr. Media Sosial, produser tetap memberikan arahan. Dalam hal ini, produser memberikan pengarahan dan pengaruh merupakan keinginan untuk membuat kru produksi mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada tempatnya demi kepentingan OZ Radio Jakarta. Arahan yang diberikan bertujuan agar kru produksi tidak melalakukan kesalahan ketika proses editing berlangsung. Namun, kreativitas dari kru produksi sangat diperlukan untuk memberikan hasil yang lebih maksimal. Ketika kru produksi akan melaksanakan proses editing, sebelumnya produser akan memberikan naskah siaran sebagai acuan kru produksi saat mengedit. Produser biasanya menentukan sound effect yang diinginkan untuk dimasukan kedalam hasil rekaman. Selanjutnya kru produksi akan mencari materinya. Jika kru produksi menemukan atau memiliki ide yang dapat menambah unsur keseruan, ia akan meminta saran kepada produser. Selanjutnya produser memberikan keputusan terhadap usul dari kru produksi.
Dari kriteria informasi yang ditentukan, dapat disimpulkan bahwa topik siaran yang paling diminati oleh pendengar Late Night Show adalah informasi yang membahas seputar kehidupan percintaan yang dijadikan sindiran dengan mengandung unsur humor atau ekspresi manusia yang ditunjukan dalam bentuk gambar-gambar dan juga kata-kata atau saat ini disebut juga dengan istilah meme, sehingga membuat pendengarnya merasa tertarik untuk mendengarkan. Kesimpulan tersebut didapat dengan cara model penelitian sederhana yang dilakukan setiap hari. Pada saat program siaran
berlangsung, biasanya produser akan mengoprasikan komputer yang dilengkapi dengan internet untuk mengakses media sosial berupa twitter. Melalui twitter tersebut produser akan menyebar topik siaran yang sedang disajikan untuk kemudian pendengar memberikan respon terhadap informasi tersebut. Antusiasme pendengar dapat dilihat dalam bentuk angka. Dari sini produser akan melihat apakah topik yang diangkat memberikan respon yang besar atau tidak.
Kendala yang dihadapi oleh produser ketika membuat naskah siaran ada pada kegiatan seleksi materi yang ingin disiarkan. Sebab jika informasi yang dipilih tidak sesuai dengan karakteristik pendengar, minat pendengar akan menurun terhadap program Late Night Show khususnya pada segmen seputar media sosial. Selain itu terkadang kru produksi merasa kesulitan untuk membangun suasana yang hidup dari hasil rekaman Mr. Media Sosial yang membawakan informasi untuk menarik minat pendengarnya.
Tahap produksi program Late Night Show khususnya pada segmen seputar media sosial terbagi menjadi dua proses. Produksi secara on air, yaitu produksi tersebut dilakukan langsung pada saat siaran tanpa adanya proses editing dan menggabungkan materi-materi secara mekanis. Proses yang kedua adalah off air, dimana produksi tersebut dilakukan dalam ruang siaran produksi yang terdiri dari beberapa tahap hingga menghasilkan kemasan acara yang siap untuk disiarkan. Urutan pada proses off air ada pada rekaman suara Mr. Media Sosial yang membawakan informasi seputar media sosial. Awalnya karakter Mr. Media Sosial melakukan rekaman suara dengan didukung peralatan seperti mikrofon. Setelah selesai direkam, hasil rekaman secara otomatis sudah tersimpan langsung kedalam komputer yang memiliki fasilitas editing. Proses selanjutnya adalah pengolahan hasil rekaman suara dengan memilih bagian yang penting dan membuang bagian yang tidak diperlukan menggunakan software yang tersedia pada komputer tersebut. Kemudian proses penggabungan hasil rekaman suara dengan musik atau sound effect yang sesuai dengan naskah siaran. Setelah hasil editing selesai, kemasan siaran yang telah siap untuk disiarkan akan dipindahkan dari komputer bagian produksi ke komputer yang ada di ruangan on air melalui jaringan yang sudah dibuat sebelumnya. Selanjutnya masuk pada proses on air, dimana penyiar yang akan mengatur jalannya siaran program Late Night Show.
Saat segmen seputar media sosial disiarkan, biasanya diawali dengan pemutaran bumper segmen tersebut lalu dilanjutkan dengan pemutaran hasil rekaman suara Mr. Media Sosial. Setelah itu penyiar akan berbicara dengan pendengar untuk menjelaskan lebih lanjut informasi yang dibawakan oleh Mr. Media Sosial sebelumnya, sekaligus mengajak pendengar untuk memberikan respon mereka terhadap topik siaran yang sedang diangkat. Pendengar dapat memberikan respon mereka melalui media sosial yaitu twitter. Teknik siaran interaktif diterapkan dalam segmen seputar media sosial antara penyiar dan pendengar dengan tujuan pendengar dapat berkomentar terhadap materi siaran yang sedang dibicarakan agar menambah keakraban serta menunjukan kepedulian dari pihak OZ Radio Jakarta terhadap atensi para pendengarnya, selain itu mengasah kualitas intelektual penyiar.
Tim program Late Night Show membentuk seorang karakter bernama Mr. Media Sosial untuk memperkuat naskah siaran yang sudah dibuat sebelumnya untuk penyiar. Tokoh tersebut berjenis kelamin laki-laki bernama Mr. Media Sosial. Memiliki kepribadian lucu, ceria, memiliki gaya hidup yang sangat bergantung dengan media sosial, dan saat berbicara menggunakan tutur kata yang disesuaikan dengan keseharian usia dewasa muda. Komunikasi antara penyiar dan pendengar akan efektif bila dapat memikat perhatian pendengar, menarik minatnya, membuat pendengar mengerti dan meyakinkan pendengar untuk melakukan kegiatan sesuai pesan dari informasi yang disiarkan. Adanya karakter Mr. Media Sosial diharapkan pendengar dapat mengembangkan imajinasinya sehingga memahami informasi yang disampaikan dan dapat terhibur karena tokoh tersebut memiliki sifat humoris. Program Late Night Show harus benar-benar dikemas sedemikian rupa agar menarik perhatian dan dapat diikuti sebanyak mungkin orang.
Kendala yang ditemukan dalam proses produksi adalah adanya keterbatasan fasilitas yang menunjang proses rerkaman suara. Kendala lainnya yaitu selain tim program Late Night Show, kru dari program lain juga membutuhkan fasilitas tersebut sehingga ini menyebabkan kru produksi kewalahan mengatasinya. Terkadang masih terjadi kesalahpahaman komunikasi antara produser dan kru produksi mengenai proses editing, sehingga menghasilkan output yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan produser.
Proses pasca produksi yang ada pada program Late Night Show adalah kegiatan evaluasi. Ketika evaluasi berlangsung, program director, produser, kepala produksi, kru produksi, dan penyiar biasanya akan membahas tentang eksistensi program dan kualitas editing kru produksi dalam mengemas paket siaran untuk segmen Seputar Media Sosial. Tim program Late Night Show dapat mengetahui minat pendengar terhadap informasi yang disajikan, melalui model penelitian sederhana yang dilakukan setiap hari. Pada saat program siaran berlangsung, biasanya produser akan mengoprasikan komputer yang dilengkapi dengan internet untuk mengakses media sosial berupa twitter. Tim program Late Night Show berusaha untuk selalu memperhatikan kebutuhan informasi yang disesuaikan dengan usia pendengarnya.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh produser Late Night Show yang dilakukan sehari-hari melalui interaksi dengan pendengarnya di media sosial, mayoritas pendengarnya paling banyak memberikan respon jika topik siaran yang disajikan sedang membahas seputar kehidupan percintaan dan permasalahan politik. Pada usia dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani kehidupan ini dan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalani hubungan secara intim dengan lawan jenis. Pada masa ini seseorang berusaha melakukan penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya. Dari segi fisik usia dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Adanya kondisi fisik yang prima, akan membentuk motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar. Selama masa dewasa, dunia sosial dan personal dari individu menjadi lebih luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Pada masa dewasa, individu memasuki peran kehidupan yang lebih luas. Pola dan tingkah laku sosial orang dewasa berbeda dalam beberapa hal dari orang yang lebih muda. Oleh sebab itu, sangat penting memperhatikan segmentasi pendengar karena melalui cara tersebut tim program Late Night Show dapat menyeleksi informasi yang sesuai dengan kebutuhan.
Program tersebut dapat dikategorikan sukses apabila antusiasme pendengar tinggi. Antusiasme tersebut dapat dilihat dari interaksi pendengar pada saat program on air melalui media sosial yaitu twitter.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan disusun berdasarkan tujuan yaitu untuk mengetahui bagaimana OZ Radio Jakarta menyiarkan media sosial menjadi segmen seputar media sosial dalam program Late Night Show dan mengetahui hambatan yang ditemukan saat menentukan informasi yang layak untuk diangkat kedalam segmen tersebut, maka dapat disimpulkan:
1. Program Late Night Show khususnya pada segmen seputar media sosial memiliki proses praproduksi yang cukup matang pada saat melakukan seleksi informasi. Seleksi informasi dari media sosial yang akan disiarkan, harus disesuaikan berdasarkan kebutuhan segmentasi pendengar, yaitu usia dewasa muda.
2. Informasi yang telah diseleksi kemudian dibentuk menjadi sebuah naskah siaran. Tak hanya itu, di bangun sebuah gimmick untuk menyampaikan naskah siaran, melalui seorang karakter bernama Mr. Media Sosial yang memiliki kepribadian lucu, gaul, dan konsumtif terhadap media sosial. Hal tersebut bertujuan agar pendengar dapat terhibur serta memahami informasi yang disampaikan.
3. Pada proses produksi program Late Night Show terbagi menjadi on air dan off air. Melalui tahap editing off air, hasil rekaman suara Mr. Media Sosial dikemas secara menarik kemudian disiarkan pada saat on air. Selain itu, teknik siaran interaktif diterapkan antara penyiar dan pendengar dengan tujuan menambah keakraban serta menunjukan kepedulian dari pihak OZ Radio Jakarta terhadap pendengar program Late Night Show.
4. Pada proses pasca produksi, hasil evaluasi yang dihasilkan adalah topik siaran yang paling banyak diminati yaitu informasi seputar kehidupan percintaan yang dijadikan sindiran dan mengandung unsur humor. Selain itu, program Late Night Show dikategorikan sukses apabila antusiasme pendengar tinggi, hal tersebut diketahui dari hasil interaksi pendengar melalui media sosial pada saat on air.
5. Hambatan yang dihadapi terdapat dalam kegiatan seleksi informasi yang dilakukan oleh produser, keterbatasan fasilitas yaitu kurangnya jumlah alat perekam suara untuk menunjang proses produksi off air, dan keterbatasan kemampuan kru produksi menentukan sound effect pada saat melakukan produksi off air.
Saran
Praktis:
1. Dalam program Late Night Show diharapkan produser sebagai pencari materi siaran dapat mengembangkan kreatifitasnya dalam menggali dan menentukan informasi dari media sosial yang menarik untuk disiarkan.
2. Peneliti mengharapkan pihak OZ Radio Jakarta untuk menambah kuantitas fasilitas alat perekam suara demi menunjang kelancaran proses produksi yang akan menentukan kualitas dan keberhasilan program Late Night Show.
3. Divisi produksi OZ Radio Jakarta dapat lebih memperkaya dan meningkatkan kinerjanya untuk menghasilkan kemasan siaran yang lebih menarik dengan cara aktif bertanya untuk meminta saran dan pelatihan kepada bagian produksi yang lebih senior.
Akademis:
1. Pada penelitian selanjutnya diharapakan dapat menggali lebih dalam lagi potensi-potensi yang dimiliki oleh sebuah tim program siaran untuk meningkatkan kualitas program sehingga dapat disajikan lebih menarik untuk pendengar.
2. Menjadi bahan rujukan untuk penelitian selanjutnya dalam membahas program Late Night Show di OZ Radio Jakarta.
REFERENSI
Abugaza, Anwar. (2013). Social Media Politica. Jakarta: Tali Writing & Publishing House.
Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian
Kualitatif Dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Ardianto, Elvinaro. (2011). Metode Penelitian Public Relation-Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma dan Teknologi Komunikasi di
Masyarakat. Jakarta: Kencana.
Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi (Teori dan Praktek). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Freddy, Rangkuti. (2006). Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan Kepuasan Pelanggan (Measuring Customer Satifaction).Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ghony, M.D. dan Almanshur, F. (2012). Metode Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Ar-ruzz Media. Herdiansyah, Haris. (2012). Metodologi Penelitian Kualitatif: untuk ilmu-ilmu sosial. Jakata: Salemba
Humanika.
Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Edisi 1 Cetakan ke-5. Jakarta: Kencana.
Masduki. (2005). Menjadi Broadcaster Profesional, Yogyakarta: Pustaka Populer LKiS. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa Edisi 6. Jakarta: Salemba Humanika,
Moleong, Lexy J. (2005). Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya. Morissan. (2008). Manajemen Media Penyiaran Strategi Mengolah Radio & Televisi Edisi Revisi.
Mulyana, Deddy. (2007). Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nurudin. (2011). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Rajawali Pers.
Perebinossoff, Philippe., Gross, Brian., Gross, Lynne S. (2005). Programming for TV, Radio, and the
Internet: Strategy, Development, and Evaluation. United Kingdom: Elsevier.
Riswandi. (2009). Dasar-Dasar Penyiaran. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Romli, Asep Syamsul M. (2009). Dasar-Dasar Siaran Radio: Basic Announcing. Bandung: Nuansa. Santrock, John W. (2012). Life-Span Development, Bahasa Indonesia Language Edition. Jakarta:
Erlangga.
Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Triartanto, A. Ius Y. (2010). Broadcasting Radio Panduan Teori Dan Praktek. Pustaka Book Publisher.
Vera, Nawiroh. (2008). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Renata Pratama Media. Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa Edisi ke-8. Jakarta: Kencana.
Wahyudi, J.B. (2010). Dasar-Dasar Jurnalistik Radio Dan Televisi. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti. Yulia, Wanda. (2010). Andai Aku Jadi Penyiar. Yogyakarta: ANDI.
David Tanya Joosten, Laura Pasquini, & Lindsey Harness. (2013). Journal of Guiding Social Media
at Our Institutions, 41, 125-135, diakses 9 Maret 2015 dari http://e-resources.perpusnas.go.id/
Juditha, Christianty. (2011). Jurnal Penelitian IPTEK-KOM Hubungan Penggunaan Situs Jejaring
Sosial Facebook Terhadap Perilaku Remaja Di Kota Makassar, 13 (1), diakses 9 Maret
2015 dari http://journal.usm.ac.id/
Rosenberry, Jack. (2013). Journal of Circulation Population Factor into Social Media Use, 34, 86-100, diakses 9 Maret 2015 dari http://e-resources.perpusnas.go.id/
Watie, Errika Dwi Setya. (2011). Jurnal Komunikasi dan Media Sosial, 3 (1), 71-76, diakses 9 Maret 2015 dari http://journal.usm.ac.id/
Wicks, Robert H. (1989). Journal of Segmenting Broadcast News Audiences In the New Media
Environment, 66, 383-390, diakses 9 Maret 2015 dari http://e-resources.perpusnas.go.id/
RIWAYAT PENULIS
Winda Wulanningrum, lahir di kota Jakarta pada 11 Oktober 199. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Bina Nusantara University dalam bidang Marketing Communication peminatan Broadcasting pada tahun 2015.