• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecamatan Bunaken Kepulauan Kota Manado.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Kecamatan Bunaken Kepulauan Kota Manado."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ZAT BESI, PROTEIN DAN VITAMIN C DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI KELURAHAN BUNAKEN KECAMATAN BUNAKEN KEPULAUAN

KOTA MANADO

RELATIONSHIP BETWEEN THE INTAKE IRON, PROTEIN AND VITAMIN C WITH EVENTS ANEMIA IN PRIMARY SCHOOL CHILDREN

WARD IN DISTRICT BUNAKEN ISLANDS MANADO CITY

Allenfina O. Tadete1, Nancy S. H. Malonda2, Anita. Basuki3 Bidang Minat Administrasi Kebijakan Kesehatan,

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Abstract: Iron deficiency anemia is the most common nutritional problems found in the world, which is also quite common among school children. Iron deficiency anemia in school children can cause children to become lethargic, tired, morale and decreased academic achievement, as well as the future growth of the body easily infected. Iron deficiency anemia in Indonesia is still one of the major nutritional problems. Efforts that can be done to address the problem of anemia in school children is to eat foods rich in iron. Foods that can increase the absorption of iron is nonheme iron especially vitamin C and certain animal sources of protein, such as meat and fish. The purpose of this study to determine the relationship between the intake of iron, protein and vitamin C with the incidence of anemia among primary school children in the Village Park. This study is a cross-sectional study analytic. The results showed that the majority of school children has media intake of iron, protein and vitamin C sufficient, as much iron as the 53 children (70.7%), as much as 84% protein and vitamin C as much as 80%. Based on the results of measurements of hemoglobin levels showed that as many as 70 children (93.3%) were not anemic. Statistical analysis using the test Fisher's exact test showed that there is a significant association between iron intake with anemia (p = 0.024), there is a relationship between the protein with the incidence of anemia (p = 0.027) and there is a relationship between vitamin C with the incidence of anemia (p = 0.042). Keywords: anemia, iron, protein, vitamin C, children

Abstrak: Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi yang paling sering ditemukan di dunia, yang juga banyak terjadi di kalangan anak-anak sekolah. Anemia defisiensi besi pada anak sekolah dapat mengakibatkan anak menjadi lesu, cepat lelah, semangat dan prestasi belajar menurun, serta tubuh pada masa pertumbuhan mudah terinfeksi. Anemia defisiensi besi di Indonesia masih merupakan salah satu masalah gizi yang utama. Upaya yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah anemia pada anak-anak sekolah yaitu dengan mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi. Makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi terutama besi nonheme adalah vitamin C dan sumber protein hewani tertentu, seperti daging dan ikan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara asupan zat besi, protein dan vitamin C dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bunaken. Penelitian ini merupakan suatu penelitian cross-sectional yang bersifat analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak sekolah memiliki kategori asupan zat besi, protein dan vitamin C cukup, yaitu zat besi sebanyak 53 anak (70,7%), protein sebanyak 84% dan vitamin C sebanyak 80%. Berdasarkan hasil pengukuran kadar hemoglobin menunjukan bahwa sebanyak 70 anak (93,3%) tidak anemia. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji fisher’s exact test menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan zat besi dengan kejadian anemia (p=0,024), terdapat hubungan antara protein dengan kejadian anemia (p=0,027) dan terdapat hubungan antara vitamin C dengan kejadian anemia (p=0,042).

(2)

PENDAHULUAN

Anemia defisiensi besi merupakan

masalah gizi yang paling sering

ditemukan di dunia dan menyerang

semua kelompok umur terutama

golongan rentan. Anak sekolah

merupakan salah satu kelompok yang rentan menderita anemia defisiensi besi karena anak usia sekolah berada pada masa pertumbuhan yang membutuhkan zat gizi yang tinggi termasuk zat besi. Selain itu, anak usia sekolah sangat aktif bermain dan banyak kegiatan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah yang menyebabkan menurunnya nafsu makan sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan (Notoadmodjo, 2007).

Menurut WHO, prevalensi anemia di seluruh dunia pada anak usia sekolah adalah 25,4% (Benoist, 2008). Di Indonesia, berdasarkan Media Indonesia tahun 2013 yang dikutip dari Asian Development Bank (ADB) tahun 2012 sekitar 22 juta anak Indonesia menderita anemia. Hal ini mengindikasikan bahwa anemia termasuk penyakit yang banyak terjadi dan dapat menjadi ancaman bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Anemia defisiensi besi pada anak sekolah dapat mengakibatkan anak menjadi lesu, cepat lelah, semangat dan prestasi belajar menurun, serta tubuh

pada masa pertumbuhan mudah

terinfeksi (Devi, 2012). Menurut

Khomsan (2012) jika hal tersebut tidak diatasi maka akan membawa dampak

negatif pada peningkatan kualitas

sumber daya manusia.

Upaya yang bisa dilakukan untuk menanggulangi masalah anemia pada

anak-anak sekolah yaitu dengan

mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi. Makanan yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi terutama besi

nonheme adalah vitamin C dan sumber

protein hewani tertentu, seperti daging dan ikan (Adriani & Wirjatmadi, 2012).

Tujuan pada penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara asupan zat besi, protein dan vitamin C dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bunaken

Kecamatan Bunaken Kepulauan Kota Manado.

METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini ialah observasional analitik dengan desain penelitian cross

sectional study. Penelitian dilaksanakan

di SD Negeri 1 dan SD Inpres Kelurahan Bunaken Kota Manado dan dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2013.

Populasi pada penelitian ini adalah semua siswa kelas IV dan V SD Negeri 1 dan SD Inpres Kelurahan Bunaken yang berjumlah 96 orang. Sampel dalam penelitian ini adalah total populasi yang telah memenuhi kriteria sampel, yaitu a) kriteria inklusi: siswa yang bersedia dan mendapat persetujuan orang tua dengan mengisi informed consent; b) kriteria eksklusi: tidak hadir saat dilakukan pemeriksaan kadar hemoglobin dan

wawancara food frequency

questionnaire. Berdasarkan kriteria sampel tersebut, maka diperoleh sampel yaitu sebanyak 75 orang.

HASIL PENELITIAN

Gambaran Karakteristik Responden

Responden dalam penelitian ini adalah anak sekolah dasar kelas IV dan V yang bersekolah di SD Negeri 1 dan SD

Inpres Kelurahan Bunaken yang

berjumlah 75 orang dan berusia 9-11

tahun. Konsumsi gizi sangat

mempengaruhi status gizi kesehatan seseorang yang merupakan modal utama

bagi kesehatan individu.

Menurut

Adriani dan Wirjatmadi (2012) anak

usia sekolah memerlukan makanan

yang lebih dari anak prasekolah

karena kebutuhannya yang lebih

banyak, mengingat bertambahnya

berat

badan

dan

aktivitasnya,

sehingga konsumsi makanan harus

seimbang dengan kebutuhan tubuh.

Menurut Arisman (2010) ketidak

seimbangan

antara

asupan

dan

keluaran zat gizi, yaitu asupan yang

melebihi keluaran atau sebaliknya

(3)

akan menimbulkan masalah gizi.

Asupan gizi yang salah atau tidak sesuai akan menimbulkan masalah kesehatan.

Asupan zat gizi dalam penelitian ini adalah persentase rata-rata jumlah zat besi, protein dan vitamin C yang

dikonsumsi dari makanan, yang

diperoleh dari data frekuensi makanan selama tiga bulan terakhir dengan menggunakan program nutri survey kemudian dibandingkan dengan Angka

Kecukupan Gizi (AKG) yang

dianjurkan.Berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan bahwa asupan zat besi anak SD kelas IV dan V di SD Negeri 1 dan SD Inpres Kelurahan Bunaken yaitu sebanyak 53 anak (70,7%) memiliki tingkat asupan zat besi yang cukup dan 22 anak (29,3%) memiliki tingkat asupan zat besi kurang. Sebanyak 63 anak (84%) memiliki tingkat asupan protein cukup sedangkan 12 anak (16%) memiliki tingkat asupan protein kurang. Sebanyak 60 anak (80%) memiliki

tingkat asupan vitamin C cukup

sedangkan 15 anak (20%) memiliki tingkat asupan vitamin C kurang.

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin pada anak umur 5-11 tahun kurang dari 11,5 g/dL

(kriteria WHO tahun 2000).

Pemeriksaan kadar hemoglobin

dilakukan dengan menggunakan metode

Chyanmethemoglobin. Berdasarkan hasil pengukuran kadar hemoglobin

diketahui bahwa dari 75 subjek

penelitian terdapat 70 anak (93,3%) memiliki hemoglobin normal (tidak anemia) dan 5 anak (6,7%) tergolong anemia.

Hubungan Asupan Zat Besi dengan Kejadian Anemia

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji fisher’s exact

test pada penelitian ini menunjukkan

bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara asupan zat besi dengan kejadian anemia (p=0,024).

Tabel 1 menunjukkan bahwa responden yang memiliki tingkat asupan zat besi kurang yang menderita anemia sebanyak 4 orang (18,2%) dan tidak menderita anemia sebanyak 18 orang (81,8%). Sedangkan responden yang memiliki tingkat asupan zat besi cukup yang menderita anemia yaitu 1 orang (1,9%) dan yang tidak anemia sebanyak

52 orang (98,1%).

Tabel 1. Hubungan Asupan Zat Besi dengan Kejadian Anemia Asupan Zat Besi

Kejadian Anemia Jumlah n (%) p * Anemia n (%) Tidak Anemia n (%) Kurang 4 (18,2%) 18 (81,8%) 22 (100%) 0,024 Cukup 1 (1,9%) 52 (98,1%) 53 (100%)

* Fisher’s Exact Test

Hubungan Asupan Protein dengan Kejadian Anemia

Berdasarkan hasil uji penelitian pada tabel 5 menunjukkan bahwa responden yang memiliki asupan protein kurang yang menderita anemia sebanyak 3 orang (25%) dan tidak menderita anemia sebanyak 6 orang (100%). Sedangkan responden yang memiliki

asupan protein cukup yang menderita anemia sebanyak 2 orang (3,2%) dan tidak menderita anemia sebanyak 61 orang (96,8%). Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji fisher’s exact

test pada penelitian ini menunjukkan

bahwa terdapat hubungan yang

signifikan antara asupan protein dengan kejadian anemia (p=0,027).

(4)

Tabel 2. Hubungan Asupan Protein dengan Kejadian Anemia Asupan Protein Kejadian Anemia Jumlah n (%) p * Anemia n (%) Tidak Anemia n (%) Kurang 3 (25%) 9 (75%) 12 (100%) 0,027 Cukup 2 (3,2%) 61 (96,8%) 63 (100%)

* Fisher’s Exact Test

Hubungan Asupan Vitamin C dengan Kejadian Anemia

Berdasarkan hasil uji penelitian pada tabel 6 menunjukkan bahwa

responden yang memiliki asupan

vitamin C kurang yang menderita anemia sebanyak 3 orang (21,4%) dan tidak anemia sebanyak 11 orang (78,6%). Sedangkan responden yang

memiliki asupan vitamin C cukup yang menderita anemia sebanyak 2 orang (3,3%) dan tidak menderita anemia sebanyak 59 orang (96,7%). Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji fisher’s exact test pada penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan vitamin C dengan kejadian anemia (p=0,042).

Tabel 3. Hubungan Asupan Vitamin C dengan Kejadian Anemia Asupan Vitamin C Kejadian Anemia Jumlah n (%) p * Anemia n (%) Tidak Anemia n (%) Kurang 3 (21,4%) 11 (78,6%) 14 (100%) 0,042 Cukup 2 (3,3%) 59 (96,7%) 61 (100%)

* Fisher’s Exact Test PEMBAHASAN

Hubungan Asupan Zat Besi dengan Kejadian Anemia

Zat besi merupakan mikroelemen

yang esensial bagi tubuh, yang

diperlukan dalam pembentukan darah yaitu untuk mensintesis hemoglobin. Kelebihan zat besi disimpan sebagai protein feritin dan hemosiderin di dalam hati, sumsum tulang belakang, dan selebihnya di simpan dalam limfa dan

otot. Kekurangan zat besi akan

menyebabkan terjadinya penurunan

kadar feritin yang diikuti dengan penurunan kejenuhan transferin atau peningkatan protoporfirin. Jika keadaan ini terus berlanjut akan terjadi anemia

defisiensi besi, dimana kadar

hemoglobin turun di bawah nilai normal (Almatsier, 2009).

Pada penelitian ini menyatakan

bahwa terdapat hubungan yang

bermakna secara statistik (p < α = 0,05) antara asupan zat besi dengan kejadian

anemia, dimana hasil penelitian

menunjukkan bahwa kurangnya

konsumsi zat besi berkemungkinan untuk menderita anemia. Hal ini mengindikasikan pentingnya peranan zat besi dalam proses pembentukkan sel darah merah. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitan Cardoso dkk (2012) mengenai faktor-faktor yang terkait dengan anemia pada anak-anak di Amazonian, yang menyatakan bahwa salah satu penyebab terjadinya anemia pada anak-anak yaitu kurangnya asupan zat besi yang dikonsumsi. Penelitian lain yang dilakukan Wijaya (2011) pada anak usia 6-23 bulan di Kabupaten Aceh Besar menyatakan bahwa subjek yang asupan zat besinya kurang berisiko 1,22 kali menderita anemia dibandingkan dengan subjek yang asupan zat besinya cukup.

Kesulitan utama untuk memenuhi kebutuhan zat besi adalah rendahnhya tingkat penyerapan zat besi di dalam tubuh, terutama sumber zat besi dari nabati yang hanya diserap 1-2%. Rendahnya asupan zat besi sering terjadi pada orang-orang yang mengkonsumsi

(5)

bahan makanan yang kurang beragam. Selain itu, karena kurangnya penyediaan makanan, distribusi makanan yang

kurang baik, kemiskinan dan

ketidaktahuan, ditambah lagi dengan kebiasaan mengonsumsi makanan yang dapat mengganggu penyerapan zat besi (seperti kopi dan teh) secara bersamaan

pada waktu makan sehingga

menyebabkan serapan zat besi semakin rendah.

Hubungan Asupan Protein dengan Kejadian Anemia

Protein merupakan zat gizi yang sangat penting bagi tubuh karena selain berfungsi sebagai sumber energi dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat

pembangun dan pengatur. Protein

berperan penting dalam transportasi zat besi dalam tubuh. Kurangnya asupan protein akan mengakibatkan transportasi zat besi terhambat sehingga akan terjadi defisiensi besi (Almatsier, 2009).

Berdasarkan hasil uji fisher’s

exact test diketahui bahwa terdapat

hubungan yang bermakna antara asupan protein dengan kejadian anemia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi protein yang kurang memiliki kemungkinan untuk menderita anemia. Protein merupakan sumber utama zat besi dalam makanan. Absorpsi besi yang terjadi di usus halus dibantu oleh alat angkut protein yaitu transferin dan feritin. Transferin mengandung besi

berbentuk ferro yang berfungsi

mentranspor besi ke sumsum tulang untuk pembentukkan hemoglobin.

Penelitian yang dilakukan di Makasar oleh Syatriani dan Aryani (2010), yang menyatakan bahwa ada hubungan yang bersifat positif antara asupan protein dengan kejadian anemia. Dalam penelitiannya disebutkan bahwa remaja yang kekurangan protein berisiko 3,48 kali lebih besar untuk mengalami anemia daripada remaja yang asupan proteinnya cukup.

Protein terdapat pada pangan nabati maupun hewani. Nilai biologi protein pada bahan pangan yang bersumber dari hewani lebih tinggi

dibandingkan dengan bahan pangan

yang bersumber dari nabati

(Sulistyoningsih, 2011). Penelitian

sebelumnya yang dilakukan oleh

Andarina dan Sumarmi (2006) pada anak balita usia 13-36 bulan di Sidoarjo

yang menyatakan bahwa terdapat

hubungan yang bermakna antara tingkat konsumsi protein hewani dengan kadar

hemoglobin, dimana balita yang

mengkonsumsi protein hewani kurang dari 14,4% standar pola pangan harapan (PPH) mengalami anemia.

Hubungan Asupan Vitamin C dengan Kejadian Anemia

Berdasarkan hasil analisis statistik dengan menggunakan uji fisher’s exact pada penelitian ini menunjukkan bahwa

terdapat hubungan antara asupan

vitamin C dengan kejadian anemia. Dengan kata lain, kurangnya asupan vitamin C yang dikonsumsi memiliki kemungkinan untuk menderita anemia.

Vitamin C merupakan unsur esensial yang sangat dibutuhkan tubuh untuk pembentukan sel-sel darah merah. Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi

untuk membebaskan besi bila

diperlukan. Adanya vitamin C dalam

makanan yang dikonsumsi akan

memberikan suasana asam sehingga memudahkan reduksi zat besi ferri menjadi ferro yang lebih mudah diserap usus halus. Absorpsi zat besi dalam bentuk non heme meningkat empat kali lipat bila ada vitamin C (Adriani dan Wirjatmadi, 2012).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hartati dkk (2012) pada siswa sekolah dasar penderita anemia di

kecamatan Sako Kenten yang

menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara konsumsi vitamin C dengan

penyembuhan anemia. Dalam

penelitiannya menyatakan bahwa

penambahan asupan micro nutrient vitamin C pada komposisi Fe+folat lebih

baik dalam penyembuhan anemia

dibandingkan dengan pemberian

(6)

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Kirana (2011) pada remaja putri di

SMA Negeri 2 Semarang yang

menyatakan bahwa ada keterkaitan antara asupan vitamin C dengan kejadian anemia, dimana korelasinya

bersifat positif yang menunjukkan

semakin tinggi asupan vitamin C maka kadar hemoglobin akan semakin tinggi pula yang berarti kejadian anemia semakin rendah. Hal ini membuktikan bahwa vitamin C dapat meningkatkan absorpsi zat besi dalam tubuh.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Prevalensi anemia pada anak

sekolah dasar di Kelurahan Bunaken yaitu, 6,7%.

2. Asupan zat besi pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bunaken yaitu, 29,3% anak asupan zat besinya kurang dan sebesar 70,7% anak asupan zat besinya cukup.

3. Asupan protein pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bunaken yaitu, 16% anak asupan proteinnya kurang dan sebesar 84% anak asupan proteinnya cukup.

4. Asupan vitamin C pada anak sekolah dasar di Kelurahan Bunaken yaitu, 20% anak asupan vitamin C kurang dan sebesar 80% anak asupan vitamin C cukup.

5. Terdapat hubungan antara asupan zat gizi (zat besi, protein, vitamin C) dengan kejadian anemia pada anak sekolah dasar di kelurahan bunaken.

SARAN

1. Perlu untuk meningkatkan asupan zat gizi (zat besi, protein, vitamin C) bagi anak yang konsumsi zat gizinya kurang sehingga memenuhi angka kecukupan gizi yang dianjurkan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

2. Diharapkan ada tindak lanjut dari pihak puskesmas Tongkeina dalam hal pemberian suplementasi tablet zat besi (Fe) pada beberapa anak yang menderita anemia.

3. Sebaiknya dilakukan penelitian

dengan menggunakan variabel yang lain serta jumlah sampel lebih besar untuk mengetahui lebih mendalam

tentang faktor lain yang

berhubungan dengan kejadian

anemia.

DAFTAR PUSTAKA

Adriani, M. & Wirjatmadi, B. 2012. Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Andarina, D. & Sumarni, S. 2006. Hubungan Konsumsi Protein Hewani dan Zat besi dengan Kadar Hemoglobin pada Balita Usia 13-36 Bulan. The Indonesian Journal of Public Health, 3 (1), pp. 19-23.

Almatsier, S. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Asterina., Neherta, M. & Sari, M. 2009.

Pengaruh Pemberian Fe + Vitamin A Terhadap Peningkatan Hemoglobin pada Anak Usia Sekolah yang Mengalami Anemia di SD 42 Beringin Kelurahan Air Dingin Padang. Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Benoist, B., McLean, E., Egli, I. &

Cogswell, M. 2008. Worldwide Prevalence of Anemia 1993-2005. WHO Global Database on Anemia Geneva, World Health Organization. Cardoso, M; Scopel, K; Muniz, P; Villamor,

E; Ferreira, M. 2012. Underlying Factors Associated with Anemia in Amazonian Children: A Population-Based, Cross Sectional Study. Plos One, 7 (5), pp. e36341.

Devi, N. 2012. Gizi Anak Sekolah. Jakarta: Kompas

Hartati., Rahayu, T., Kurdi, F. & Soegiyanto. 2012. Pengaruh Asupan Micro Nutrient, Aktivitas Fisik dan Jenis Kelamin Terhadap Kebugaran Jasmani Siswa Sekolah Dasar Penderita Anemia. Journal of Physical Education and Sports, 1 (2), pp. 156-160.

Kirana, D. 2011. Hubungan Asupan Zat Gizi dan Pola Menstruasi dengan Kejadian anemia pada Remaja Putri di SMA N 2 Semarang. FK. Undip.

Khomsan, A. 2012. Ekologi Masalah Gizi, Pangan dan Kemiskinan. Bandung: Alfabeta.

Notoadmodjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta.

(7)

Syatriani, S. & Aryani, A. 2010. Konsumsi Makanan dan Kejadian Anemia pada Siswi Salah Satu SMP di Kota Makassar. In KESMAS Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 4 (6). Sulistyoningsih, H. 2011. Gizi untuk

Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wijaya, C. 2011. Hubungan Asupan Zat Gizi dengan Kejadian Anemia pada Anak Usia 6-23 Bulan di Kabupaten Aceh Besar. Tesis. Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Magister Epidemiologi. Depok.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut bahwa terdapat tindakan manajemen laba yang dilakukan perusahaan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan telah dapat diketahui jumlah ditemukannya mangrove, nilai parameter perairan seperti salinitas, pH konsentrasi nitrat,

Fim Jasa Ekatama terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi keputusan pembelian rumah cluster di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan yaitu lokasi, kualitas produk yang

Bobot larva ikan gabus yang diberi pakan cacing sutera memiliki pertumbuhan yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian pakan yang lainnya.. Laju pertumbuhan spesifik

Kepala SMP Negeri 1 Abung Barat ditetapkan sebagai informan kunci (key informant) karena memiliki pengetahuan dan informasi mengenai kebijakan-kebijakan dalam upaya

Flowchart dari metode HMOPSO ini dapat dilihat pada gambar 1. HMOPSO mengintegrasikan beberapa metode,.. antara lain: 1) MOPSO, yang mencari posisi dan kecepatan

Berdasarkan hasil penelitian Sikap Ibu Hamil Tentang Pemeriksaan Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Jatiwates Kecamatan Tembelang Kabupaten Jombang tahun 2015,

Berdasarkan uraian latar belakang di atas dan ketidakkonsistenan hasil penelitian mengenai keputusan pembelian sepatu membuat peneliti tertarik melakukan penelitian