'mana
nusen
LEMBARAN DAERAH
KOTA
TERNATE
PERATURAN DAERAH
KOTA
TERNATE
NOMOR 06 TAHUN 2002
TENTANG
RETRIBUSI IZIN USAHA PENUNJANG ANGKUTAN LAUT
DALAM DAERAH KOTA TERNATE
PEMERINTAH KOTA TERNATE
TAHUN 2002
PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE
NOMOR 06 TAHUN 2002
TENTANG
RETRIBUSI IZIN USAHA PENUNJANG ANGKUTAN LAUT
DALAM DAERAH KOTA TERNATE
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA TERNATE
Menimbang
Mengingat
a. bahwa dengan semakin meningkat dan berkembangnya usaha dibidang perhubungan laut khususnya usaha dibidang Penunjang Angkutan Laut dalam Daerah Kota Ternate, maka sebagai perwujudan dari pelaksanaan Otonomi Daerah yang-nyata, luas dan bertanggung jawab diperlukan suatu pemberian Retribusi izin usaha penunjang Angkutan Laut kepada orang pribadi atau badan yang usahanya berdomisili di Kota Ternate. b. bahwa guna mengimplementasikan Rencana Strategis Pemerintah Kota Ternate dalam mengantisipasi dan menanggulangi banyaknya jumlah usaha dibidang penunjang Angkutan Laut yang beroperasi di Kota Ternate, maka para pengusaha penunjang Angkutan Laut perlu mendapat pengaturan dengan diberikan pelayanan guna mendapat pemberian izin usaha penunjang Angkutan Laut dalam Daerah Kota Ternate.
c. bahwa untuk maksud sebagaimana tersebut pada huruf a dan b di atas perlu ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Ternate [Lembaran 9If!,gara 'Iahun. 1999?1{pmor45,'Iambahan.Lembaran 9If!,gara9{smwr3824) j
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah [Lembaran. 9If!,gara Tahun 1999 ?l{pmor 60, 'Tam6a1ian Lem6aran ~gara?l[pmor 3839)j
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah [Lembaran ~gara Tahun 1999?l{pmor72,'Iambahan. Lembaran 9If!,gara?l{pmor3848) j
4. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah [Lembcrati ~gara 'Iahun. 2000 ?l{pmor246, 'Iambahan Lembaratt ?l{pmor 4048)j
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 1999 tentang Angkutan Perairan {Lembaratt 'J{g,gara Tahu« 1999'J.{pmor 20)i
6. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah
Otonom [Lembarati 'J{g,gara'Tahun. 2000 'J.{pmor 45)i
7. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggung jawaban Keuangan Daerah
(Lembaran 'J{g,gara 'Iahun. 2000 'J.{pmor202, 'Iambahan Lembaran. 'J{g,gara'J.{pmor 4022)i
8. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhanan {Lembaran'J{g,gara 'Iahun 2001 'J.{pmor 127)i
9. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah [Lemboran 'J{g,gara Tahun 2001 'J.{pmor 119, 'Iambahan Lembarati
'J{g,gara'J.{pmor 4139)i
10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang
Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-Undangan ,Bentuk Rancangan
Undang-Undang, Rancangan peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden [Lembaratt 'J{g,gara'Iahun. 1999'J.{pmor 70)i
11. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 84 Tahun 1999 tentang Pemberian Izin Usaha Angkutan Sewa ;
12. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 174 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah ;
13. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 175 Tahun 1997 tentang Pedoman Tata Cara Pemeriksaan di Bidang Retribusi Daerah ;
14. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 147 Tahun 1999 tentang Komponen Penetapan Tarit Retribusi.
15. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 21 Tahun 2001 tentang Teknik Penyusunan dan Materi Muatan Produk-Produk Hukum Daerah ;
16. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 2001 tentang Bentuk Produk-Produk Hukum Daerah ;
17. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 23 Tahun 2001 tentang Prosedur Penyusunan Produk Hukum Daerah ;
18. Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 24 Tahun 2001 tentang Lembaran Daerah dan Berita Daerah ;
19. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 22 Tahun 2000 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dilingkungan Pemerintah Daerah Kota Ternate [Lembaran 'Daetah. 'l(pta Ternate Tahun. 2000'J.{pmor22);
20. Peraturan Daerah Kota Ternate Nomor 30 Tahun 2000 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas-Dinas Daerah Kota Ternate [Lembaran 'Daerah. 'l(pta 'Ietnate 'Tafiun 2000 'J.{pmor 33);
tang tang erah
000
rah tang ang aran ang gan gan ng ng ng ng un uk dik ota Dengan PersetujuanDEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA TERNATE
MEMUTUSKAN
Menetapkan PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE TENTANG RETRIBUSI
IZIN USAHA PENUNJANG ANGKUTAN LAUT DALAM DAERAH
KOTA TERNATE.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1 DalamPeraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : a. Daerah adalah Kota Ternate
b. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah Beserta Perangkat Daerah Otonom yang lain sebagai Badan Eksekutif Daerah.
c.
Kepala Daerah adalah Walikota Ternated. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
e. Dinas Perhubungan adalah Dinas Perhubungan Kota Ternate.
f. Badan Hukum adalah suatu bentuk Badan Usaha yang meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan bentuk apapun, persekutuan, Firma, Kongsi, Koperasi, Yayasan atau Organisasi yang sejenis, lembaga dana pensiun, bentuk usaha tetap serta bentuk badan usaha lainnya.
g.
Angkutan Laut adalah setiap kegiatan pelayaran dengan menggunakan kapal laut untuk mengangkut penumpang, barang, dan atau hewan untuk satu perjalanan atau lebih dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain atau antara beberapa pelabuhan.h. Kapal adalah setiap alat apung dengan bentuk dan jenis apapun.
i. Kapal laut adalah kapal yang memenuhi persyaratan berlayar di laut untuk keperluan angkutan laut atau yang diperuntukkan untuk itu;
j. Kapal laut Indonesia adalah setiap kapal yang dianggap demikian berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-Undangan Indonesia.
k. Perusahaan Pelayaran adalah Badan Hukum dan Badan Usaha yang mengusahakan Jasa Angkutan Laut dengan menggunakan Kapal.
I. Usaha Pelayaran Dalam Negeri adalah kegiatan usaha pelayaran untuk melakukan usaha pengangkutan antar pelabuhan di Indonesia.
m.Usaha Pelayaran Luar Negeri adalah kegiatan usaha pelayaran untuk melakukan usaha pengangkutan ke dan dari pelabuhan luar Negeri.
n. Usaha Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) adalah kegiatan usaha mengurus dokumen dan melaksanakan pekerjaan yang menyangkut penerimaan dan penyerahan muatan yang diangkat melalui lautan untuk diserahkan kepada atau diterima dari perusahan pelayaran bagi kepentingan pemilik barang.
o. Usaha Jasa Pengurusan Transportasi (freight forwading) adalah kegiatan usaha yang ditujukan
mengurus semua kegiatan yang diperlukan bagi terlaksananya pengiriman dan penerimaan
barang melalui transportasi darat, laut atau udara yang dapat mencangkup kegiatan penerimaan,
penyimpanan, sorbusi, pengepakan, pengukuran, penimbangan, pengurusan penyelesaian
dokumen, penerbitan dokumen angkutan, perhitungan biaya angkutan. Selain asuransi atas
pengiriman barang serta penyelesaian tagihan dan biaya-biaya lainnya berkenan dengan
pengiriman barang-barang tersebut sampai dengan diterimanya oleh yang berhak menerimanya.
p. Usaha Bongkar Muat Barang adalah kegiatan jasa yang bergerak dalam kegiatan bongkar muat
barang dari dan ke kapal.
q. Usaha Angkutan Bandar adalah kegiatan usaha memindahkan penumpang, barang, dan atau
hewan dari dermaga ke kapal atau sebaliknya dan dari kapal ke kapal yang sedang berlabuh.
r. Usaha Tally adalah kegiatan usaha jasa menghitung dan memuat catatan mengenai muatan
untuk kepentingan pemilik muatan dan pengangkut.
s. Kas Daerah adalah UPT Kas Daerah pad a Pemerintah Kota Ternate ;
t. Retribusi Perizinan Tertentu adalah kegiatan tertentu pemerintah daerah dalam rangka pemberian
izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan, pengaturan,
pengendalian dan pengawasan atas kegiatan pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya
alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan
menjaga kelestarian lingkungan.
u. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi daerah.
v. Masa retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib
retribusi untuk memanfaatkan fasilitas yang ada.
w. Surat Pendaftaran ObjekRetribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat SPdORD adalah
surat dipergunakan oleh wajib retribusi untuk melaporkan data objek retribusi dan wajib retribusi
sebagai dasar penghitungan dan pembayaran retribusi yang terutang menurut peraturan
perundang-undangan retribusi daerah.
x. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat SKRD adalah surat
ketetapan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang.
y. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar untuk selanjutnya disingkat SKRDKB adalah
Surat Keputusan yang menentukan besarnya jumlah retribusi yang terutang, jumlah kredit
retribusi, jumlah pembayaran kekurangan pembayaran pokok retribusi, besarnya sanksi
administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.
z. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar Tambahan untuk selanjutnya disingkat
SKRDKBT adalah surat keputusan menentukan tambahan atas jumlah yang telah ditetapkan.
aa. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar untuk selanjutnya disingkat SKRDLB adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang.
bb. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya dapat disingkat STRD adalah surat untuk
melakukan tagihan retribusi dan atau sangsi administrasi berupa bunga dan atau denda.
cc. Surat Keputusan Keberatan adalah surat keputusan atas keberatan terhadap SKRD atau
dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB yang diajukan oleh wajib retribusi.
dd. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan dan mengolah data
dan atau keterangan lainnya dalam rangka pengawasan kepatuhan pemenuhan kewajiban
retribusi berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
ee.
Penyidikan tindak pidana di Bidang Retribusi Daerah adalah serangkaian tindakan yang dilakukanoleh penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dapat disebut penyidik , untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana di Bidang Retribusi
Daerah yang terjadi serta menemukan tersangkanya.
ukan aan erian ran, daya dan ngan alah redit nksi gkat kan. urat ibusi ntuk atau i. data iban BAB II
NAMA, OBJEK DAN SUBJEK ANGKUTAN SEWA
Pasal2
DenganNama Retribusi Izin Usaha Penunjang Angkutan Laut Dalam Daerah Kota Ternate dipungut retribusisebagai pembayaran atas pelayanan yang diberikan.
Pasal3
ObjekRetribusi adalah Pemberian Izin Usaha Angkutan Laut bagi perusahaan yang beroperasi dan atauberdomisili dalam Daerah Kota Ternate
Pasal4
SubjekRetribusi adalah orang atau badan hukum yang mendapat Izin Usaha Penunjang Angkutan LautDalam Daerah Kota Ternate.
BAB '"
GOLONGAN RETRIBUSI
Pasal5
RetribusiIzin Usaha Penunjang Angkutan Laut Dalam Daerah Kota Ternate digolongkan sebagai Retribusi Perizinan Tertentu.
BABIV
JENIS-JENIS USAHA PENUNJANG ANGKUTAN LAUT
Pasal6
(1.) Usaha penunjang Angkutan Laut meliputi penyediaan Jasa di bidang : a. Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) ;
b.Jasa PengurusanTransportasi ; c. Bongkar Muat ;
d. Perusahaan Telly ; ~. Angkutan Bandar ;
f. Usaha Penyewaan Peralatan Angkutan LautlAlat Apung ; g. Gudang Laut.
(2.) Kegiatan Usaha Penunjang Angkutan Laut sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) pasal ini, wajib memiliki izin yang dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Ternate.
BABV
PERSYARATAN DAN TATA CARA PERIZINAN
Pasal7
(1.) Untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud pasal 6 ayat (2) diatas, wajib retribusi diharuskan melengkapi persyaratan.
(2.) Persyaratan sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, adalah sebagai berikut : a. Memiliki Badan Hukum Indonesia yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dan atau
Koperasi.
b. Memiliki dan atau menguasai peralatan yang sesuai dengan bidang usahanya. c. Memiliki NPWP dan NPWPD.
d. Kartu Tanda Penduduk (KTP) e. Surat Izin Tempat Usaha (SITU) f. Persyaratan teknis lainnya.
Pasal8
(1.) Orang Pribadi atau Badan Hukum membuat dan mengajukan surat permohonan Retribusi Izin Usaha penunjang angkutan laut kepada Kepala Daerah cq. Dinas Perhubungan Kota Ternate. (2.) Persetujuan atau penolakan atas permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal
ini, diberikan dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari kerja setelah permohonan diterima secara lengkap oleh Dinas Perhubungan Kota Ternate.
(3.) Permohonan Retribusi Izin Usaha Penunjang Angkutan Laut yang ditolak dan atau dikembalikan dengan diberikan alasan-alasan teknis dan atau harus memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Dinas Perhubungan Kota Ternate.
(4.) Permohonan yang ditolak sebagaimana- dimaksud dalam ayat (3) pasal ini, dapat diajukan kembali setelah pemohon memenuhi persyaratan yang telah ditentukan.
BABVI
KEWAJIBAN DAN TANGGUNG JAWAB
Pasal9
Perusahaan yang telah memiliki Izin Usaha Penunjang Angkutan Laut, berkewajiban untuk : a. Mematuhi peraturan dibidang angkutan laut dan kepelabuhanan
b. Memberikan laporan tahunan kegiatan operasional kepada Pemerintah Kota Ternate melalui Dinas Perhubungan Kota Ternate.
c. Melaporkan setiap perubahan/penggantian penanggung jawab atau pimpinan perusahaan kepada Dinas Perhubungan Kota Ternate.
Pasal 10
Izin usaha penunjang angkutan laut dapat dicabut apabila :
a. Perusahaan tidak menjalankan kegiatan usaha dengan nyata dalam jangka waktu 12 bulan secara berturut-turut.
b. Secara yuridis perusahaan dinyatakan pailit.
c. Perusahaan menyatakan membubarkan diri d. Memperoleh izin dengan cara tidak sah
rikut : n atau alikan tukan jukan elalui epada bulan erlaku. BAB VII
PRINSIP DAN SASARAN PELAYANAN JASA
DALAM PENETAPAN STRUKTUR BESARNYA TARIF
Pasal11
(1) Prinsip dan sasaran pelayanan jasa didasarkan pada tujuan untuk penyelenggaraan penyediaan jasa dengan tetap memperhatikan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.
(2) Penetapan struktur besarnya tarif retribusi dipungut berdasarkan klasifikasi perusahaan, dengan
rinciansebgai berikut :
a. Klasifikasi perusahaan Kecil (0 juta sId 200juta) . b. Klasifikasi Perusahaan Menengah (200 juta sId 500 juta) .
c. Klasifikasi Perusahaan Besar (500 juta-keatas) .
Rp. 250.000,- Pertahun Rp. 400.000,- pertahun Rp. 600.000,- pertahun BAB VIII WILAYAH PEMUNGUTAN
Pasal 12
Retribusiyang terutang dipungut kepada orang atau badan hukum yang beropersi dalam daerah
BABIX
MASA RETRIBUSI DAN SAAT RETRIBUSI TERUTANG
Pasal 13
(1) Masa berlakunya izin usaha penunjang angkutan laut dalam Daerah Kota Ternate ditetapkan Selama perusahaan tersebut masih beroperasi.
(2) Guna pengawasan dan pengontrolan bagi pemegang izin diwajibkan untuk setiap 1(satu) tahun
sekali diregistrasi pad a Dinas Perhubungan Kota Ternate dengan membayar retribusi
sebagaimana dimaksud pada pasal 11.
Pasal 14
Saat terutangnya retribusi adalah pad a saat diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
BAB X SURATPENDAFTARAN
Pasal 15
(1) Setiap wajib retribusi wajib mengisi SPdORD
(2) SPdORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, harus diisi dengan benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh wajib retribusi atau kuasanya.
BABXI
PENETAPAN RETRIBUSI
Pasal 16
(1) Berdasarkan SPdORD sebagaimana dimaksudkan dalam pasal 19 ayat (1) diatas, retribusi
terutang ditetapkan dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Bentuk, isi dan tata cara penerbitan SKRD. atau dokumen lain yang dipersamakan ditetapkan
olehKepala Daerah.
BAB XII
TATA CARA PEMUNGUTAN
Pasal 17
(1) Pemungutan retribusi tidak dapat diborongkan
(2) Retribusidipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
BAB XIII
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 18
(1) Dalam hal retribusi tidak dibayar tepat pada waktunya atau kurang bayar dikenakan sanksi
administrasi berupa bunga 2% (dua perseratus) setiap bulan dari retribusi yang terutang atau
kurang bayardan ditagih dengan menggunakan STRD.
(2) Bagi pemegang izin yang tidak mematuhi sanksi administrasi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasalini,makaizin yang bersangkutan dicabut.
BABXIV
TATA CARA PEMBAYARAN RETRIBUSI
Pasal 19
(1) Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasisekaligus
(2) Retribusi yang terutang dllunasl seiambat-Iambatnya 15 (lima belas) hari sejak diterbitkannya
SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(3) Tata cara pembayaran, penyetoran dan tempat pembayaran retribusi diatur dengan Keputusan
Kepala Daerah.
busi an. kan ksi au (1 )
a
BABXVTATA CARA PENAGIHAN
Pasal20
(1) Retribusi terutang berdasarkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDBT, STRD
dan Keputusan keberatan yang menyebabkan jumlah retribusi yang harus dibayar bertambah,
yang tidak atau kurang bayar oleh wajib retribusi dapat ditagih melalui Badan Urusan Lelang
Negara (BULN).
(2) Penagihan retribusi melalui BULN dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan.
BABXVI KEBERATAN
Pasal21
(1) Wajib retribusi dapat mengajukan keberatan kepada Kepala Daerah atau Pejabat yang ditunjuk
atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB.
(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai alasan yang jelas.
(3) Dalam hal wajib retribusi mengajukan keberatan atas ketetapan, wajib retribusi harus dapat
membuktikan ketidakbenaran atas ketetapan retribusi tersebut.
(4) Keberatan harus dapat diajukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD
atau dokumen lain yang dipersamakan SKRDKBT dan SKRDLB diterbitkan, kecuali apabila
wajib retribusi dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan
diluar kekuasaannya.
(5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pad a ayat (2) dan ayat (3)
pasal ini, tidak dianggap sebagai surat keberatan, sehingga tidak dipertimbangkan.
(6) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan
penagihan retribusi.
Pasal22
(1) Kepala Daerah dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal surat keberatan
diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.
(2) Keputusan Kepala Daerah atas keberatan dapat berupa meminta seluruh atau sebagian,
menolak atau menambah besarnya retribusi yang terutang
(3)-Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini telah lewat dan Kepala
Daerah tidak dan/atau memberikan suatu Keputusan, maka keberatan yang diajukan tersebut
dianggap dikabulkan.
BAB XVII
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Pasal23
(1) Atas Kelebihan pembayaran retribusi, wajib retribusi dapat mengajukan permohonan
pengembalian kepada Kepala Daerah.
Kepala Daerah tidak memberikan keputusan, permohonan pengembalian retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan. (4) Apabila wajib retribusi mempunyai hutang retribusi lainnya, kelebihan retribusi sebagaimana
dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang retribusi tersebut.
(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi .sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB.
(6) Apabila pengembalian pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu 2 (dua) bulan Kepala Daerah dapat memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua perseratus).
Pasal24
(1) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran retribusi diajukan secara tertulis kepada Kepala Daerah dengan sekurang-kurangnya menyebutkan ;
a. Nama dan alamat wajib retribusi b. Masa retribusi
c. Besarnya kelebihan pembayaran d. Alasan singkat dan jelas
(2) Permohonan pengembalian kelebihan disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat.
(3) Bukti penerimaan oleh Pejabat Daerah atau bukti penerimaan pos tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Kepala Daerah.
BAB XVIII
PENGURANGAN KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI
Pasal25
(1) Kepala Daerah dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi.
(2) Pemberian pengurangan atau keringanan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal
ini, dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi, antara lain dapat diberikan kepada pengusaha kecil untuk mengangsur.
(3) Pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain diberikan kepada wajib
retribusi yang ditimpa bencana alam dan atau kerusuhan.
(4) Tata cara pengurangan, keringanan dan pembayaran retribusi ditetapkan Kepala Daerah. BABXIX
KADALUARSA PENAGIHAN
Pasal26
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, kadaluarsa setelah melampaui jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali apabila wajib pajak retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.
an ap an. na ulu ini,
B
.
Ian da at. at ala
jib a) n(2) Kadaluarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini, tertangguh apabila :
a. Diterbitkan surat teguran atau
b. Adanya pengakuan hutang retribusi dari wajib retribusi baik langsung / tidak langsung.
(3) Piutang retribusi yang tidak mung kin ditagih lagi karena hak untuk melakukan panagihan sudah kadaluarsa dapat dihapuskan.
BABXX
KETENTUAN PENYIDIKAN
Pasal27
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus
sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang retribusi.
(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) pasal ini, adalah ;
a. Menerima, mencari dan mengumpulkan setia meneliti keterangan atau laporan berkenaan
dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut
menjadi lebih lengkap.
b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan
tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana retribusi
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan hukum sehubungan
dengan tindak pidana retribusi daerah.
d. Memeriksa buku-buku, catatan dan atau dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana
dibidang retribusi.
e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan dan
dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut.
f. Meminta bantuan tenaga ahli guna pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana retribusi.
g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada sa at
pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang atau dokumen yang
dibawa, sebagaimana dimaksud pada huruf c.
h. Memotret seseorang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah.
i. Memanggil orang untuk didengar keterangan dan diperiksa sebagai tersangka / saksi.
j. Menghentikan penyidikan.
k. Melakukan tindakan lain yang dianggap perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana
dibidang retribusi daerah menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.
(3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini, memberitahukan dimulainya
penyidikan dan penyampaian hasil penyidikan pada penuntut umum sesuai ketentuan yang
diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
BABXXI
KETENTUAN PIDANA
Pasal28
(1) Pejabat atau pegawai yang tidak melaksanakan tugas dengan baik sehingga merugikan
keuangan daerah diberi sanksi sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Wajib retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan daerah
diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah retribusi terutang.
BAB XXII
KETENTUAN PERALIHAN Pasal29
Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka seluruh ketentuan dan peraturan yang mengatur tentang Retribusi Izin Usaha Penunjang Angkutan Laut Dalam Daerah Kota Temate yang berlaku
sebelumnya dinyatakan tidak berlaku lagi.
BAB XXIII KETENTUANPENUTUP
Pasal30
Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini, sepanjang mengenai teknis
pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kepala Daerah. Pasal31
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam lembaran daerah Kota Temate.
Ditetapkan di : Temate
Padatanggal :27Mei2002
WALIKOTA TERNATE Diundangkan di : Temate
Padatanggal :27Mei2002 TTD
SEKRETARIS DAERAH KOTA TERNATE DRS. H. SYAMSIR ANDILI
TTD
DRS.FACHRY AM MARl
(Lemfjaran '.[)aerali'l(pta'Iemate 'Iahun.2002 9I[pmor06Seri C)
Kepala Bagian Hukum
Setda Ternate .
-M. ARIF ABD. GANI, SH
PENATA NIP. 630 008 535
ur u
is
ini
TAM BAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA TERNATE
SERle
Tanggal 27 Mei 2002
Tahun 2002
PENJELASAN
ATAS
PERATURAN DAERAH KOTA TERNATE
NOMOR 06 TAHUN 2002
TENTANG
RETRIBUSI IZIN USAHA PENUNJANG ANGKUTAN LAUT
DALAM DAERAH KOTA TERNATE
I. PENJELASAN UMUM
Dalam rangka memantapkan pelaksanaan otonomi daerah yang nyata, luas dan bertanggung [awab, dalam hal pembiayaan pemerintahan dan pembangunan daerah yang bersumber dari Pendapatan AsH Daerah (PAD) khususnya yang berasal dari Retribusi Izin Usaha Penunjang
Angkutan Laut Dalam Daerah Kota Temate dipungut dan dikelola secara lebih bertanggung
jawab.
Disamping itu dengan semakin meningkatnya pelaksanaan pembangunan kegiatan penyediaan
jasa pelayanan oleh Pemerintah Daerah Kota Ternate untuk tujuan dan pemanfaatan umum diarahkan agar tidak menghambat bahkan sebaliknya dapat menunjang usaha peningkatan
pertumbuhan perekonomian daerah.
Peraturan Daerah tentang Retribusi Izin Usaha Penunjang Angkutan Laut Dalam Daerah Kota
Ternate ini ditetapkan untuk mengatur pelayanan masyarakat serta pemungutan terhadap retribusitersebut.
Pasal 1 sampai dengan 8 Cukup Jelas II. PENJELASAN PASAL OEMI PASAL
Pasal9 Kewajiban Perusahaan sebagaimana termaktub dalam
pasal ini, juga harus mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 10 Izin Usaha dapat dicabut sebagaimana termaktub dalam
pasal ini, juga harus mematuhi ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 11 sampai dengan 31 Cukup Jelas