PEMANCAR AMPLITUDO MODULASI DENGAN
FREQUENCY HOPPING
TUGAS
AKHIR
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik pada
Program Studi Teknik Elektro
Disusun oleh
ANDREAS RONY MARLINO NIM : 015114033
PROGRAM STUDI TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
AM TRANSMITTER WITH FREQUENCY HOPPING
FINAL PROJECT
Presented as Partial Fulfillment of the Requirements to obstain the Sarjana Teknik Degree
in Electrical Engineering
By :
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
“Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tugas akhir yang saya tulis ini
tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam
kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah”
Yogyakarta, September 2007
Penulis,
Tugas akhir ini dipersembahkan untuk :
Yesus Kristus dan Bunda Maria atas karuniaNya
Kedua orang tuaku tercinta (ST,Marli Subroto dan Lusia Ema
Sudarmi) Kedua kakakku (Mas Didik Mbak Yeni dan Ms Heru)
Adikku (Dony “Itong”)
Widy...
Teman-temanku semua
INTISARI
Teknik frequency hopping (FH) merupakan salah satu metode transmisi data dalam bidang telekomunikasi. Dengan frequency hopping, gangguan-gangguan pada telekomunikasi seperti jamming dan noise dapat dikurangi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pemancar AM dengan frequency hopping.
Pemancar AM dengan frequency hopping ini terdiri tiga bagian utama yaitu phase locked loop Driver dan Bouster. Phase locked loop berfungsi sebagai pembangkit sinyal carrier. Komponen utama phase locked loop adalah pembangkit frekuensi referensi, phase detector, low pass filter, voltage controlled oscillator, pembagi terprogram dan pengendali data masukan pembagi terprogram. Pemancar ini bekerja dengan frekuensi carrier yang bergantian pada dua frekuensi yang berbeda yaitu 1000KHz dan 1050 KHz dengan periode hopping 0,5 detik.
Hasil dari penelitian ini adalah pemancar AM dengan frequency hopping yang dapat bekerja secara efektif dan dapat digunakan baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan dalam radius 5 meter. Akan tetapi sinyal yang ditangkap penerima AM tetap disertai noise yang berasal dari pemancar itu sendiri dan lingkungan sekitar.
ABSTRACT
Frequency hopping technique is one of data transmission method in telecommunication. Frequency hopping can minimize the effect of the telecommunication disturbances such as jamming and noise. This research goal aim is to produce AM transmitter with frequency hopping.
The transmitter consists of three phase locked loop (PLL) that serve as carrier signal generator, driver and booster. The main component of PLL is reference frequency, phase detector, low pass filter, voltage controlled oscillator, programmed divider and programmed divider input data controller. The transmitter operates in two carrier frequency, 1000 KHz and 1050 KHz with 0.5 second hopping period.
The result of the research is that the transmitter with hopping frequency can work effectively and can be used both indoor and outdoor in the range of 5 meter. However, the signal that is received by AM receiver still followed by noise that comes from the transmitter itself and from the receiver environment.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih dan
karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Skripsi ini berjudul :
Pemancar AM dengan Frequency Hopping.
Skripsi ini ditulis bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat dalam
memperoleh gelar sarjana teknik pada program studi Sains dan Teknologi Universitas
Sanata Dharma. Penulisan skripsi ini didasarkan pada hasil-hasil yang penulis peroleh
berdasarkan pada perancangan alat, pembuatan alat, dan sampai pada pengujian alat.
Penulisan skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan, dorongan, dan
bimbingan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Yesus Kristus dan Bunda Maria atas rahmat dan karuniaNya
2. Bapak Damar Wijaya, S.T, M.T. sebagai dosen pembimbing I dan Alexius
Rukmono, S.T. sebagai pembimbing II yang telah bersedia memberikan ide,
saran, bimbingan, dan waktu untuk penulis dalam menyelesaikan tugas akhir.
3. Dosen-dosen Teknik Elekto, terimakasih atas segala ilmu dan pengetahuannya
yang sangat membantu dalam menyelesaikan studi di sini…
4. Laboran teknik elektro Mas soer dan Mas Mardie, atas lab nya dan ilmu yang
diberikan.
5. Bapakku dan ibukku (Marli dan Darmi)…. Makasih banget ya, buat semua
6. Kedua kakakku dan adikku Mas Didik, Mbak Yeny, Dony”Itong” yang telah
memberi semangat dan setia membimbingku...
7. Roberta Maria Widyarani Boedi Harga, yang telah menjadi teman..
Terimakasih buat cinta dan kesabarannya..
8. Teman-teman “senasib hopping” Widi”03,Merry ’03 dan Kelik’02, atas kerja
sama selama pembuatan tugas akhir.
9. Teman-teman satu angkatan 2001 yang memberikan ide masukan dan
dorongan pada penulis, Indra”Klowor”, Maikel, Parto dan yang lainnya yang
tidak disebutkan satu-persatu.
10. Teman-teman “Tumindak Ngiwo” Kopet, Zigot, Barjo, Si Y, Windra, Sapi,
Kowok yang telah menemani penulis dalam keadaan suka dan duka.
Terimakasih atas dinamika selama ini...
11. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.. Matur Nuwun
Sanget!!!
Penulis sadar bahwa pada penulisan skripsi ini banyak terdapat kesalahan dan
kekurangannya, oleh sebab itu kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan
DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN JUDUL……… i
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING………. iii
LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI……….. iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA………. v
HALAMAN PERSEMBAHAN……….. vi
INTISARI………. vii
ABSTRACT………... viii
KATA PENGANTAR………. ix
DAFTAR ISI……… xi
DAFTAR GAMBAR………... xiv
DAFTAR TABEL……… xvii
DAFTAR LAMPIRAN………... xviii
BAB I PENDAHULUAN
A. Judul………
B. Latar Belakang………...
C. Pembatasan Masalah………..
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian………...
E. Metodologi Penelitian……….
F. Sistematika Penulisan……… 1
1
2
2
3
3
BAB II DASAR TEORI
A. Blok diagram pemancar AM ...
5
B. Phase locked loop(PLL).
1. Detektor Fasa...
2. LPF (low pass filter)...
3. Osilator ...
a. Osilator referensi...
b. Osilator terkendali tegangan...
4. Operasi Phase Loced Loop...
C. Transistor sebagai penguat awal...
D. Transistor Sebagai Penguat Daya...
E. Timer 555...
F. Frequency hopping...
7
8
10
12
12
13
13
14
15
20
22
BAB III PERANCANGAN ALAT
A. Blok Diagram...
B. Osilator dengan PLL...
1. Rangkaian osilator referensi...
2. Rangkaian VCO, Filter dan Detektor Fasa...
3. Rangkaian Pembagi Terprogram...
4. Rangkaian timer 555...
C. Rangkaian Penggerak (Driver)...
24
24
25
26
27
29
30
B. Pengujian dan Pengukuran Alat ……….
1. Pengujian Transmisi pemancar………...
2. Pengujian Saat Hopping ……….
3. Pengujian Jarak Pancar ……….
C. Pengujian Setiap Blok
1. Frekuensi Pembagi 10 KHz………
2. Frekuensi referensi 1KHz………..
3. Voltage Controlled Oscillator………
4. Pembagi Terprogram……….
5. Phase detector dan Low Pass Filter………
6. Timer………
7. Analisa Phase Lokced Loop
8. Driver dan Booster………....
33
33
37
39
40
40
42
43
45
46
47
49
50
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan………..
B. Saran………
56
56
56
DAFTAR PUSTAKA………. 57
DAFTAR GAMBAR
Hal.
Gambar 2.1 Diagram blok sistem pemancar AM ………... 6
Gambar 2.2 Diagram Blok system PLL ………... 7
Gambar 2.3 Karakteristik beda fasa ……….…………... 8
Gambar 2.4 IC 74HC4046………. 10
Gambar 2.5 (a) Filter RC pada rangkaian PLL ... (b) Tanggapan frekuensi ………... 10 Gambar 2.6 Blok diagram IC 74HC4046 ………... 12
Gambar 2.7 Ragam CE dengan prategangan Umpan-balik kolektor... 14
Gambar 2.8 Penguat daya CE dengan prategangan pembagi tegangan... 16
Gambar 2.9 Rangkaian untuk mencari RTH ………... 16
Gambar 2.10 Rangkaian untuk mencari VTH ………... 17
Gambar 2.11 Rangkaian penguat daya CE dengan pembagi tegangan (a). Rangkaian ekivalen dc (b). Rangkaian ekivalen ac... 18 Gambar 2.12 Garis beban dc dan ac dari transistor pada rangkaian penguat daya CE dengan pembagi tegangan... 19 Gambar 2.13 IC LM555 ……….……….. 20
Gambar 2.14 IC LM555 sebagai multivibrator astabil ……… 21
Gambar 3.4 Rangkaian Fasa detector dan VCO ……….. 27
Gambar 3.5 IC TC9122P ……… 28
Gambar 3.6 Diagram blok IC TC9122P ………..….. 29
Gambar 3.7 Rangakaian Timer ……….. 30
Gambar 3.8 Rangkaian Penggerak ……….….... 30
Gambar 3.9 Rangkaian Booster ………..… 31
Gambar 3.10 Rangkaian modulator ……….… 32
Gambar 4.1 Blok pemancar hopping ……….. 33
Gambar 4.2 Pengujian transmisi pemancar ……… 34
Gambar 4.3 Spektrum frekuensi dengan frekuensi carrier 1000 KHz. …. 34 Gambar 4.4 Spektrum frekuensi dengan frekuensi carrier 1050 KHz … 35 Gambar 4.5 Sinyal informasi 4 kHz yang dikirim ….……….. 36
Gambar 4.6 Modulasi amplitudo dengan gelombang carrier 1000 KHz 36 Gambar 4.7 Modulasi amplitudo dengan gelombang carrier 1050 KHz. Gambar 4.8. Spektrum frekuensi audio pada penerima AM dengan frekuensi carrier 1000 KHz……… Gambar 4.9. Spektrum frekuensi audio pada penerima AM dengan frekuensi carrier 1050 KHz……… 37 37 37 Gambar 4.10 Pengujian kestabilan pemancar saat hopping ..………. 38
Gambar 4.11 Gelombang output IC 4060 frekuensi referensi 10 KHz ….. 41
Gambar 4.12 Gelombang output IC 4060 frekuensi referensi 1 KHz ..…. 43
Gambar 4.13 Sinyal output rangkaian osilator 1000 KHz …………... 44
Gambar 4.14 Sinyal output rangkaian osilator 1050 KHz………. 45
Gambar 4.15 Gelombang output pembagi terprogram ………...… 46
(b) Sinyal output IC LM 555 TON……….. 48
Gambar 4.17.a. Gelombang output driver frekuensi carrier 1000 KHz …. Gambar 4.17.b. Spektrum frekuensi driver dengan frekuensi carrier 1000
KHZ……….
51
51 Gambar 4.18.a. Gelombang output booster frekuensi carrier
1000KHz………. Gambar 4.18.b. Spektrum frekuensi booster dengan frekuensi carrier
1000KHz………..
52
52 Gambar 4.19.a. Gelombang output rangkaian driver frekuensi carrier
1050KHz ……… Gambar 4.19.b. Spektrum frekuensi driver dengan frekuensi carrier 1050
KHz………
53
54
Gambar 4.20.a. Gelombang output rangkaian boster frekuensi carrier
1050 KHz………. 54 Gambar 4.20.b. Spektrum frekuensi booster dengan frekuensi carrier
DAFTAR TABEL
Hal.
Tabel 2.1 Pembagian frekuensi dalam bentuk BCD………. 30
Tabel 4.1 Data hasil pengujian pemancar saat hopping.………..…….. 39
Tabel 4.2 Data hasil pengukuran jarak pancar ……….………. 40
DAFTAR LAMPIRAN
Rangkaian Lengkap Pemancar Dengan Frequency Hopping………..
Data spectrum frekuensi pada penerima AM……….. L1
L2
Datasheet 74HC/HCT4046A………... L3
Datasheet CD 40460……… L4
Datasheet IRF510………... L5
Datasheet TC9122P………. L6
Datasheet 2N3904………. L7
Datasheet 74LS90……….. L8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Judul
Pemancar AM dengan Frequency Hopping
B.
Latar Belakang
Komunikasi pada dasarnya merupakan pertukaran informasi antara dua
tempat yang berjauhan. Informasi bisa berupa sinyal suara dan gambar. Sinyal
suara tidak dapat dipancarkan secara langsung. Agar dapat dipancarkan, sinyal
suara harus ditumpangkan pada sinyal radio dengan frekuensi pembawa yang
lebih tinggi dari frekuensi sinyal suara tersebut.
Metode untuk menumpangkan sinyal suara pada sinyal radio disebut
modulasi[1]. Memodulasi artinya meregulasi atau menyesuaikan parameter suatu
sinyal carrier berfrekuensi tinggi dengan sinyal informasi berfrekuensi yang lebih
rendah. Modulasi yang biasa digunakan adalah modulasi amplitudo
(AM-Amplitude Modulation), modulasi frekuensi (FM-Frequency Modulation) dan
modulasi fasa (PM-Phase Modulation).
Pada penelitian ini dibuat sebuah pemancar dengan modulasi amplitudo.
Pada pemancar AM, amplitudo sinyal carrier berubah seiring dengan perubahan
Kendala yang dihadapi pada pemancar AM adalah sinyal informasi yang
dipancarkan akan mengalami variasi amplitudo (fading), mendapat interferensi
dari dan noise. Sehingga sinyal informasi yang diterima akan berubah dan kualitas
informasi yang diterima berkurang. Cara mengatasi permasalahan ini adalah
dengan teknik frequency hopping. Teknik frequency hopping akan diterapkan
pada pemancar AM yang dibuat.
C.
Batasan Masalah
Perancangan perangkat pemancar AM dengan frequency hopping ini
memiliki spesifikasi sebagai berikut:
1. Menggunakan frekuensi osilator 1000 Khz dan 1050 Khz.
2. Menggunakan bandwidth 50 Khz.
D.
Tujuan dan Manfaat
1. Penelitian ini bertujuan untuk membuat pemancar AM dengan
frequency hopping, serta dapat menerapkan teknologi hopping dalam
pemancar radio.
2. Mengatasi fading dan jamming pada system komunikasi termodulasi
E.
Metodologi penelitian
Laporan tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil pengamatan dan
penelitian. Untuk dapat merencanakan dan membuat peralatan, dilakukan
langkah-langkah sebagai berikut :
1. Studi literatur tentang pemasalahan yang ada, yaitu tentang peralatan
yang akan dibuat termasuk cara kerja, dan sekaligus cara-cara
merencanakan dan membuat peralatan.
2. Perencanaan peralatan dengan spesifikasi tertentu sesuai batasan
masalah.
3. Membuat peralatan dari bagian perbagian yang kemudian diuji.
Bagian-bagian tersebut lalu akan disatukan menjadi sebuah sistem dan
akan diuji kembali secara menyeluruh.
F.
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada tugas akhir ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN
Berisi Latar Belakang Masalah, Batasan Masalah, Tujuan dan
Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, dan Sistematika
Penulisan.
BAB II DASAR TEORI
Membahas dasar teori yang berhubungan dengan Pemancar AM
dan frequency hopping.
Menjelaskan tentang perancangan pemancar AM dengan frequency
hopping.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Membahas data hasil pengujian alat dan analisa pembahasan dari
hasil penelitian
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB II
DASAR TEORI
Pada pemancar AM, amplitudo sinyal pembawa akan diubah seiring dengan
perubahan sinyal informasi yang dimasukkan. Sedangkan frekuensi sinyal
pembawanya relatif tetap. Dalam proses pemancaran dari stasiun pemancar ke
penerima, sinyal akan mengalami variasi amplitudo(fading), mendapat interferensi,
noise, atau bentuk-bentuk gangguan lainnya. Akibatnya, informasi yang terkirim
akan berubah dan mutu informasi yang diterima berkurang.
Cara mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh variasi amlitudo, noise, dan
interferensi cukup sulit. Frequency hopping adalah salah satu metoda untuk
mengatasi masalah tersebut. Frequency hopping atau lompatan frekuensi sinyal
pembawa secara periodis diatur oleh algoritma tertentu[2]. Frekuensi ini akan
membawa informasi selama perioda tertentu dan berpindah ke frekuensi yang lain,
begitu seterusnya.
Frequency hoping merupakan salah satu dari teknik spektrum tersebar
(spread spectrum) dengan bandwidth yang digunakan jauh lebih lebar dari bandwidth
minimum yang diperlukan untuk mengirimkan informasi yang sama jika
meggunakan frekuensi pembawa tunggal[3].
Penulis mencoba untuk menerapkan teknik frequency hopping dalam
(phase locked loop) dan PLL sendiri dibangun oleh osilator acuan menggunakan
osilator kristal dan pembagi osilator, detektor fasa dan osilator terkendali tegangan,
filter pelewat bawah, pembagi terprogram dan timer.
A.
Blok diagram pemancar AM
Bentuk dasar pemancar AM ditunjukkan pada gambar 2.1.
Osilator Driver Booster
Modula tor
Gambar 2.1 Diagram blok sistem pemancar AM [1]
Keterangan:
1. Osilator digunakan sebagai penghasil frekuensi yang akan dimodulasi
oleh sinyal informasi.
2. Driver berfungsi untuk memperbesar penguatan tegangan karena
amplitudo sinyal keluaran osilator masih kecil sinyalnya.
3. Booster berfungsi sebagai penguat akhir untuk menguatkan daya
5. Antena pemancar digunakan untuk memancarkan sinyal termodulasi
yang berupa sinyal elektomagnetik.
B.
Phase locked loop(PLL).
Rangkaian PLL merupakan rangkaian umpan balik kalang tertutup yang
menghasilkan sinyal output yang tersinkronisasi (lock) dengan sinyal input. Aplikasi
PLL antara lain sebagai demodulator AM, FM, deteksi FSK, frequency multiplyer.
PLL bisa dibangun dari beberapa rangkaian atau sebuah IC (Integrated Circuit).
Diagram blok PLL terlihat pada gambar 2.2.
ωiθi V3
ω0ϑ0
Gambar 2.2 Diagram Blok system PLL [1]
Detektor fasa (Kf)
Filter LPF
VCO (Kv)
Sinyal input sinusoidal atau kotak dengan frekuensiωidan fasaθi. Sinyal
output VCO (voltage controlled oscillator) sinusoidal atau kotak dengan frekuensi
0
ω fasa θ0 merupakan input kedua detektor fasa. Output PLL bias V3 atau ω0
i
ω = dt dθi
dt d 0 0
θ
ω = ………(2.1)
1.
Detektor Fasa
Bertugas untuk membandingkan fasa antara sinyal input dari pembagi
terprogram dengan sinyal osilator referensi dan hasilnya berupa ayunan tegangan
sesuai magnitude beda fasa.
Beda fasa membandingkan beda fasa antara 2 sinyal, sinyal yang pertama
merupakan referensi dan yang lain adalah sinyal yang akan dibandingkan. Apabila
frekuensi sinyal input lebih tinggi dari frekuensi sinyal acuan maka terjadi beda fasa
(Δθ) sebesar Δθ =+nπ atau frekuensi sinyal input lebih rendah dari frekuensi sinyal acuan maka Δθ =−nπ, dan jika frekuensi sinyal input sama dengan frekuensi sinyal acuan maka tidak terjadi beda fasa atau Δθ =0.
Secara sederhana beda fasa kedua sinyal dapat dilihat dari perbedaan perioda
sinyal, jarak waktu antara puncak naik sinyal yang satu dengan yang lain, yang
kemudian dikonfersikan menjadi tegangan.
V
Kf
Δθ =θi −θ0
Gambar 2.3 Karakteristik beda fasa
Dimana:
KF = Panguatan detector fasa
KP = Penguatan Low-Pass Filter
KO = KV /s Penguatan VCO
KN = 1/n rasio pembagi
Dalam pemograman counter (KN) diperoleh
Nmin =
Langkah out
f f min
………,,,(2.5)
Nmax =
Langkah out
f f max
………(2.6)
Dimana
Nmin : Konstanta minimum perbandingan frekuensi minimum dan
maxsimum
Nmax : Konstanta maxsimum perbandingan frekuensi minimum dan
maxsimum
Penguatan pada detektor fasa dapat dihitung dengan persamaan
π 4
CC p
V
K = ………...………..……….(2.7)
Detektor fasa dapat dibangun dengan IC 4046 yang didalamnya sudah
U5
74HC4046 3
4
14
6
7 5 11 12
1 2
13
9
10 15 CIN
VCOUT
SIN
CX
CX INH R1 R2
PP P1
P2
VCOIN
DEMO ZEN
Gambar 2.4 IC 74HC4046
Output
R2 Input
C1 R1
2.
LPF (
low pass filter
)
Tegangan keluaran dari pembanding fasa, harus ditapis dari sinyal pemodulsi.
Maka penapisan diperlukan agar tegangan kendali pada VCO meperoleh tegangan dc
murni. Untuk itu diperlukan filter pelewat rendah. Filter pelewat rendah ini dapat
dibangun dengan kombinasi resistor dan kapasitor seperti terlihat pada gambar.
Redaman (dB)
f
Untuk mencari frekuensi redaman max atau fcutoff dari gambar diatas dengan
persamaan:
f cutoff = RC
π
2 1
…………...………..………….…………..(2.8)
Penguatan pada filter dapat dihitung dengan rumusan:
s s KF ) ( 1 1 2 1 2 τ τ τ + + +
= ……….………….…(2.9)
Dimana τ1 =R3C2dan τ2 =R4C2
Penjumlahan karakteristik pada LPF dirumuskan
1 + H(S) G(S) = 0 ………..(2.10)
Didapat
(
)
(
)
01 2 1 2 1 2 2 = + + + + + τ τ τ τ
τ P V N
N V
P K K K
s K K K
s ………...(2.11)
Frekuensi naturalωN dihitung dengan rumusan:
(
τ1 τ2)
ω
+ = P V N N
K K K
………..……….(2.12)
Nilai redamanξ dihitung dengan
(
)
⎥⎦⎤ ⎢ ⎣ ⎡ + + ⎥ ⎦ ⎤ ⎢ ⎣ ⎡ = 2 1 2 1 2 1 τ τ τ ωξ P V N
N
K K K
3.
Osilator
Osilator merupakan rangkaian yang dapat membangkitkan sinyal sendiri,
pada pita frekuensi tertentu. Osilasi dapat dibangkitkan dengan adanya umpan balik
positif. Pada penelitiaan ini akan digunakan dua jenis osilator dalam PLL ini yaitu
osilator referensi dan osilator terkendali tegangan.
a.
Osilator referensi
Osilator referensi akan menghasilkan sinyal dengan level amplitudo
keluaran yang sesuai dengan kebutuhan pembanding fasa, dan menjadi
referensi bagi detector fasa. Karena frekuensi ini harus tepat, maka digunakan
kristal karena tingkat kestabilan cukup tinggi. Osilator ini dibangun dengan
osilator kristal dan pembagi osilator, yaitu dengan IC 4060 yang berfungsi
membagi kristal menjadi frekuensi yang diinginkan. Komponen IC 4060
dapat dilihat pada gambar 2.6
U1
74HC4060 11
12
7 5 4 6 14 13 15 1 2 3 9 10
PI RST
Q4 Q5 Q6 Q7 Q8 Q9 Q10 Q12 Q13 Q14 PO PO
b.
Osilator terkendali tegangan
Untuk mendapat mengubah frekuensi output osilator, maka parameter
pembangkit osilasi (R,L,C) harus diubah salah satunya. Perubahan nilai dari
R, L atau C dapat direalisasikan dengan menggunakan berbagai metode.
Pengubahan nilai R (ohm) L (henry), dilakukan secara mekanis, dan hal ini
membuat parametersistem lebih rentan terhadap gangguan.
Maka digunakan perubahan nilai kapasitans (C), karena pengubahan
nilai kapasitansi dapat dilakukan dengan jalan pengubahan nilai tegangan dari
suatu komponen semikonduktor, dalam hal ini adalah dioda varactor. Dioda
terpesang pada rangkaian dan berfungsi sebagai kapasitor variable. Dengan
pemberian tegangan DC secara bias mundur, maka nilai kapasitansi dioda
dikendalikan, yang berarti pengendalian terhadap frekuensi keluaran osilator.
Osilator terkemudi tegangan yang biasa dijumpai adalah jenis osilator
coll-pits, karena bekerja pada frekuensi menengah untuk frekuensi tinggi.
Penguatan pada VCO dapat dihitung dengan rumusan dibawah ini
Kv =
) 9 . 0 (
9 . 0
2 2
− − CC
L
V
f π
………..(2.14)
4.
Operasi
Phase Loced Loop
Kedua input dari detector fasa adalah sinusoidal dangan frekuensi ωFR dan
fasa yang sama maka V3 sama dengan nol yang merupakan input osilator terkendali
tegangan agar output tetap pada frekuensi ωFR =ωidan loop akan terjaga. Jika
sehingga V3 akan naik danω0naik sampai ω0 =ωiyang terjadi adalah semua vektor
beroperasi pada kecepatan yang sama dan loop baru terjadi. Kejadian ini akan tejadi
saat ωiturun. Saat terjadi kondisi terkunci (loocked), V3 akan proporsional dengan
frekuensi VCO jika ωi =ω0maka
V3 =
0 k
FR
i ω
ω −
………..(2.15)
D.
Transistor sebagai penguat awal
Transistor adalah komponen aktif dengan arus, tegangan atau daya yang
dikendalikan oleh arus input. Transistor juga merupakan komponen tiga terminal
yang terdiri atas basis(B), kolektor(K), emiter(E).
C1
I(IC+IB) VCC
R2
Output IC
Q1
3
2
1
Input
C2 R1
IB
Bila suhu naik, βdc dalam transistor juga naik. Hal ini mengakibatkan
kenaikan arus kolektor (Ic). Sesaat setelah Ic naik, tegangan kolektor emitor (Vce)
turun.
Dengan melihat aliran arus dari Vcc, R2, R1,Vbe, Ground, maka:
V= IxR………...………(2.16)
VCC-VBE= (I x Rc) = (IB x RB)………...(2.17)
I = Ic+IB...(2.18)
IC = βdc × IB...(2.19)
Vcc-VBE = {[ IB +(βdc × IB)]×Rc} + (IB×RB)…………(2.20)
IB =
RB Rc dc Rc
VBE Vcc
+ × +
− )
(β ………(2.21)
VCE = VCC-{RC×(IB + IC)}………(2.22)
Dengan VCE = Tegangan pada kaki kolektor-emitor,VBE = Tegangan pada
kaki basis-emitor,Vcc = Tegangan catu, IB = Arus basis, IC = Arus kolektor,
Rc = Hambatan kolektor,RB = Hambatan kaki basis
E.
Transistor Sebagai Penguat Daya
Gambar 2.8 memperlihatkan rangkaian penguat daya CE. “pembagi
IB
L1
Input
C4 R4
R3
Q2
3
2
1
C3
IC
Output
Gambar 2.8Penguat daya CE dengan prategangan pembagi tegangan
Dengan analisis thevenin, maka diperoleh dua besaran yaitu hambatan
thevenin (RTH) dan teganga thevenin (VTH).[7]
1. Untuk mencari RTH, maka rangkaian gambar 2.8 diubah menjadi
Gambar 2.9
RTH
R1
R2
Gambar 2.9 Rangkaian untuk mencari RTH [7] Dari Gambar 2.29. didapat persamaan
RTH = R1 paralel R2………..(2.24)
TH
R 1
=
2 1
1 1
R
2. Untuk mencari VTH, maka rangkaian Gambar 2.9 diubah menjadi Gambar
2.10
VTH
R1 VCC
R2
Gambar 2.10 Rangkaian untuk mencari VTH [7] Dari Gambar 2.10. didapat persamaan
VTH = VCC
R R
R
× ⎟⎟ ⎠ ⎞ ⎜⎜
⎝ ⎛
+ 2
1
2 ………(2.28)
Dengan VTH = Tegangan Thevenin
Setelah diperoleh besaran RTH dan VTH rangkaian Gambar 2.8 diubah
menjadi gambar 2.10, untuk mencari IBQ dan ICQ yang digunakan untuk
menggambarkan garis beban ac dari transistor Gambar 2.8.
Dari Gambar 2.10 didapat persamaan
IBQ =
TH BQ TH
R V
V −
...(2.29)
ICQ = βdc×IBQ………(2.30)
IC(Sat) = ICQ +
e CEQ
r V
………..…...(2.31)
Keterangan: IBQ = Arus basis dc, ICQ = Arus kolektor dc, VBE =
Tegangan basis-emiter,(Si = 0.7V danGe= 0.3V), VCEQ = Tegangan basis
emitter dc, VCE(cutoff) = Tegangan putus ac, IC(sat) = Arus jenuh ac, rc =
Hambatan ac, rc = RP // Rl,
C1
L
C2
Q
3
2
1
RTH
Input
Output
IB
VTH
IC
Rangkaian Pengganti Thevenin
VCC
(a)
L(rc) Q 3
2
1
Vth
1
2
RTH
IB
IC
+ Vce
(b)
Keterangan: RP = Hambatan kumparan parallel, RL = Hambatan
beben, besarnya 500Ω, XL = Reaktansi induktif, QL= Faktor kualitas
kumparan, minimal besarnya 50Ω
Dari nilai-nilai IBQ, ICQ, VCEQ, IC(sat) dan VCE(cutoff), dapat digambarkan
garis beban ac transistor yang ditunjukkan pada Gambar 2.12.
IC (mA) Titik jenuh
ICEQ+
C CEQ
r V
garis beben ac IB2 Garis beben dc
IB1
IBQ Titik kerja (Q)
ICQ IB3
IB2 Titik sumbat VCE (V) VCEQ VCEQ + (ICQ ×re )
Gambar 2.12Garis beban dc dan ac dari transistor pada rangkaian penguat daya CE dengan pembagi tegangan
Garis beban transistor merupakan garis yang menyatakan semua titik operasi
dc dari suatu transistor. Pertemuan garis beban dc dengan garis arus disebut dengan
titik jenuh (saturasion point) dan Pertemuan garis beban dc dengan garis tegangan
merupakan titik sumbat (Cutoff point). Titik kerja tensistor (Q) terletak pada suatu
tempat sepanjang garis beban dc.[11]
Garis beban ac suatu transistor merupakan garis yang menyatakan titik
“sesaat” terletak pada suatu tempat sepanjang garis beban ac sedangkan titik operasi
yang “tepat” .
F.
Timer
555
Multivibrator adalah rangkaian pembangkit pulsa yang menghasilkan
keluaran gelombang segi empat [12]. Multivibrator diklasifikasikan menjadi
multivibrator astabil, bistabil, atau monostabil. Suatu multivibrator astabil juga
disebut dengan multivibrator bergerak bebas. Multivibrator astabil menghasilkan
aliran pulsa yang kontinyu.
IC pewaktu 555 multiguna, dapat digunakan sebagai multivibrator astabil,
bistabil, atau monostabil. Skema IC ditunjukkan pada Gambar 2.13.
Gambar 2. 13 IC LM555 [12].
Gambar 2.14 IC LM555 sebagai multivibrator astabil [12].
Perancangan menggunakan rangkaian yang ditunjukkan pada Gambar 2.14.
Pengisian kapasitor dilakukan melalui RA dan RB, sedangkan untuk pengosongan
dapat dilakukan melalui RB, dengan duty cycle :
RB RA
RB D
2 +
= ...(2.36)
Dalam mode operasi ini kapasitor mengisi dan mengosongkan dengan tegangan
antara 1/3 Vcc dan 2/3 Vcc, dan frekuensi tidak tergantung pada supply tegangannya.
Bentuk gelombang keluaran ditunjukkan pada Gambar 2.15.
G.
Frequency hopping
Frequency hopping atau lompatan frekuensi adalah perubahan frekuensi
sinyal pembawa secara periodis yang diatur oleh algoritma tertentu [2]. Frekuensi ini
akan membawa informasi selama periode tertentu dan berpindah ke frekuensi yang
lain, begitu seterusnya, seperti diperlihatkan pada Gambar 2.16.
Gambar 2.16 Teknik frequency hopping [2].
Anak panah pada Gambar 2.16 menunjukkan urutan lompatan (hop)
frekuensi, dari frekuensi , demikian
berulang-ulang. Perpindahan frekuensi terjadi beberapa ratus sampai beberapa ribu
kali dalam satu detik. Stasiun penerima juga harus melakukan perpindahan frekuensi
dengan lompatan yang sama supaya informasi yang dikirimkan dapat diterima
kembali.[13]
6 4 5 2 7 3
1 f f f f f f
Sistem komunikasi yang menggunakan teknik spread spectrum akan
mempunyai kelebihan dalam aplikasinya, meliputi kemampuan antijam, penekanan
interferensi dari luar, mampu melawan multipath fading, Low probability of intercept
(LPI), komunikasi yang aman, dan perbaikan efisiensi spektral.
Lompatan dari satu frekuensi ke frekuensi yang lain diatur secara berurutan
atau secara acak dengan menggunakan sandi pseudorandom. Sandi pseudorandom
adalah sandi acak yang mempunyai deretan sandi yang akan terulang secara periodis
dalam perioda yang cukup lama. Dengan mengacak pola lompatan, sinyal penggangu
(interfering signal) diharapkan dapat dihindari. Jika interefensi muncul dan
menggangu salah satu kanal berfrekuensi, misal , maka sinyal pembawa akan
selalu mengalami gangguan tetapi hanya saat berada pada frekuensi . Hal ini
diperlihatkan pada Gambar 2.17.
2 f
2 f
BAB III
PERANCANGAN PERANGKAT KERAS
A.
Blok Diagram
Gambar 3.1 merupakan diagram blok penerima AM dengan frequency
hopping
PD LPF VCO DRIVER BOOSTER
PT ORF
MOD
Gambar 3.1 Diagram Blok Pemancar AM
Keterangan:
ORF : Osilator Acuan (Osilator Refferensi), PD : Detektor Fasa (Phase
Detector), LPF : Filter Pelewat Bawah. (Low Phass Filter), PT : Pembagi
Terprogram
Skema terdiri dari osilator dengan PLL ( osilator referensi, detektor fasa,
B.
Osilator dengan PLL
Penentuan spesifikasi sistem perlu dilakukan bertujuan untuk memberikan
batasan dalam menentukan ukuran dan kemampuan alat yang akan dibuat.
Pembangkit frekuensi ini diharapkan mempunyai spesifikasi sebagai berikut:
Frekuensi keluaran : 1000 Khz dan 1050 Khz
Frekuensi langkah (step) : 1 Khz
Waktu : 1 ms
Overshoot : < 20%
Frekuensi keluaran merupakan frekuensi keluaran yang diharapkan dari
perancangan. Frequency steps adalah perubahan frekuensi tiap clock.
1.
Rangkaian osilator referensi
Osilator referensi akan menentukan besar langkah frekuensi (frequency
step) yang terjadi, pada tiap perubahan digit bilangan masukan, dan pada resolusi
frekuensi keluaran. Untuk kestabilan, dipilih osilator kristal. Osilator
menggunakan kristal 10.240 Mhz, yang digunakan sebagai input dari IC4060.
Keluaran dari IC ini adalah 10Khz pada kaki IC nomor 15, kemudian keluaran IC
4060 akan dibagi dengan 1000 dengan pembagi sepuluh IC 74LS90 agar
Gambar 3.2 Rangkaian pembangkit frekuensi 1Khz
2.
Rangkaian VCO, Filter dan Detektor Fasa
Perancangan VCO dan detektor fasa ini menggunakan IC 74HC4046.
Pada kondisi mengunci detektor fasa adalah saat tidak ada beda fasa atau
perbedaan fasanya nol
Blok diagram IC 74HC4046 ditunjukkan pada Gambar 3.3. VCO pada IC
74HC4046 menggunakan komponen eksternal resistor dan kapasitor yang
menentukan frekuensi kerja osilator.
U5 3 4
14
6
1 2
13 CIN
VCOUT
SIN
CX
PP P1
Gambar 3.4 merupakan rangkaian VCO dan detektor fasa dengan IC
CD4046 dan rangkaian eksternal. Tegangan yang akan diberikan pada masukan
VCO akan mengendalikan frekuensi yang dibangkitkan. Frequency range
ditentukan oleh trimmer kapasitor yang terhubung ke pin 6 dan pin 7. Pada pin 13
dan pin 9 terdapat resistor (R3) dan kapasitor (C2) yang berfungsi sebagai filter.
Jika menggunakan tegangan Vcc 5 volt, maka nilai C2 100pF dan R2 5k≥ ≥ Ω.
U2 74HC4046 3 4 14 6 7 5 11 12 1 2 13 9 10 15 CIN VCOUT SIN CX CX INH R1 R2 PP P1 P2 VCOIN DEMO
ZEN R410K
OUTPUT
R3 29K C4
300pF INPUT dr TC1922P
C3 470nF INPUT DARI 74LS90
R5 10K
Gambar 3.4 Rangkaian Fasa detector dan VCO
3.
Rangkaian Pembagi Terprogram
Rangkaian pembagi akan bergantung pada pembagian yang akan
digunakan. Sistem ini menggunakan pembagian langsung, yaitu 4 digit bilangan
bagi yang terdiri dari N1, N2, N3, dan N4. Masing-masing adalah pembagi
ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan. Pembagi terprogram (programmable divider)
menggunakan IC TC9122P.
Logika pembagi ini adalah logika TTLdengan tegangan Vdd = 5 volt. IC
ini akan membagi sinyal masukan, sesuai dengan bilangan decimal yang
Input berasal dari output VCO dan output diumpankan ke input rangkaian
detektor fasa sebagai input yang akan dibandingkan dengan VCO. Pada input
(pin-2) TC9122P, diumpankan gelombang dengan Vpp max = 5 V. Arus yang
dibutuhkan IC sekitar 5 mA .
IC TC9122P ditunjukkan pada Gambar 3.5.
Gambar 3.5 IC TC9122P [15].
Diagram blok IC TC9122P ditunjukkan pada Gambar 3.6.
Gambar 3.6 Diagram blok IC TC9122P [15].
Frekuensi Ribuan (N1) Ratusan (N2) Puluhan (N3) Satuan (N4)
1kHz 01 0000 0000 0000
1050Hz 00 0000 0101 0000
Tabel 3.1. Pembagian frekuensi dalam bentuk BCD [15].
Dimana TON = Saat timer “1”, TOFF = Saat timer “0”
4.
Rangkaian
timer
555
Timer dirancang untuk menghasilkan kondisi “1” dan kondisi “0” selama
0,5 detik (T1 =T2 =0,5 detik). Dengan C1 = 1uF dan RA = 10 kΩ, nilai RB dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan (2.35)
) 2 ( 4 , 1 1 1 1 2
1 T C RA RB
T T f + = + = = ) 2 10 10 ( 10 1 4 , 1 5 , 0 5 , 0 1 3 6 B R x x + = + − B R x
x10 3 2 10 6
10
4 , 1
1 − −
+ =
Ω =
= − k
x
RB 695
10 2 39 , 1 6
Nilai Duty cycle ( D ) dapat dihitung dengan persamaan 2.36
Rangkaian timer ditunjukkan pada Gambar 3.7.
output v cc 5v olt
R27 1Meg
1
3
2
C21 0.1uF C19
1uF R25 10K
U13 LM555/TO
2
5
3
7
6
4 8
1
TR
CV
Q
DIS
THR
R
VC
C
GN
D
TIMER
Gambar 3.7 Rangakaian Timer. [12]
C.
Rangkaian Penggerak (
Driver
)
Rangkaian penggerak yang digunakan adalah jenis penguat ragam CE dengan
prategangan pembagi tegangan. Rangkaian penggerak ditunjukkan pada Gambar
3.8.
R6
27k Output
Q1
2
Penguat penggerak memiliki tegangan yang dicatu oleh Vcc = 12V untuk
memberikan bias balik pada transistor kaki kolektor, penguat dirancang dengan
transistor 2N3904 (Q), resistor (R), inductor (L) dan kapasitor (C). Q yang
berfungsi sebagai komponen aktif untuk penguatan sinyal, R6 = (27 K ), R7 =
(10 K ) dan R8 = (1 KΩ) berfungsi sebagai prategangan kaki basis. C6 = (1.8
nF) yang berfungsi sebagai kapasitor by pass dan C7 (1.6nF) yang berfungsi
sebagai kapasitor coupling dan L = 1
Ω Ω
H
μ berfungsi sebagai RFC (Radio
Frequency Choke).
D.
Rangkaian
Booster
Rangkaian booster yang digunakan adalah adalah jenis penguat FET
dengan prategangan pembagi tegangan. Rangkaian driver ditunjukkan pada
Gambar 3.9.
output
input
Q1 IRF510
3
2
1
VCC
C9 470uF R9
1.6k
C8
113pF
L1 2.5mH,2A
R11 1k R10 10k
Gambar 3.9 Rangkaian Booster [11]
Penguat penggerak memiliki tegangan yang dicatu oleh Vcc = 12V untuk
memberikan bias balik pada transistor kaki drain, penguat ini dibangun dengan
berfungsi sebagai komponen aktif untuk penguatan sinyal, R9 = (1.6 KΩ), R10 =
(10 KΩ) dan R11 = (1 KΩ) berfungsi sebagai prategangan kaki basis. C8 = (113
pF) yang berfungsi sebagai kapasitor by pass dan C9 (470pF) yang berfungsi
sebagai kapasitor coupling dan L = 2.5mH, 2 A berfungsi sebagai RFC (Radio
Frequency Choke).
E.
Modulator AM
Modulator adalah sebuah penguat suara yang berguna untukmenghasilkan
sinyal informasi yang akan dimodulasi pada sinyal frekuensi radio.
Dalam perancangan ini Rangkaian modulator dibangun oleh sebuah penguat suara
yang memiliki daya keluaran sebesar 1W. Pada keluaran penguat ini disambung
dengan Output Transformator (OT 426). Rangkaian modulator ditunjukkan pada
Gambar 3.10.
L2
INDUCTOR AUDIO
8
6 T1
OT 426
1 5
6
4 8
0
MODULATOR PENGUAT
SUARA
Vcc 12V
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Perancangan
Hasil perancangan terdiri dari satu bagian alat pemancar yang terlihat pada
Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Blok pemancar hopping.
B.
Pengujian dan Pengukuran Alat
1.
Pengujian Transmisi pemancar
•
PEMANCAR AM DENGAN
HOPPING
PESAWAT PENERIMA AM 1000KHZ
PESAWAT PENERIMA AM 1050KHZ A
Gambar 4.2. Model sistem untuk pengujian transmisi pemancar.
Pemancar mengirimkan sinyal informasi dengan dua frekuensi carrier 1000
KHz dan 1050 KHz. Sinyal yang dikirim akan diterima oleh dua pesawat penerima
AM yang masing-masing tertala 1000 KHz dan 1050 KHz
Gambar 4.3 dan Gambar 4.4 menunjukkan spektrum frekuensi pemancar yang
diambil secara bergantian di titik a pada Gambar 4.2. Pada Gambar 4.3 dan Gambar
4.4 memperlihatkan bahwa pemancar dengan frekuensi 1000 KHz dan 1050 KHz
memiliki spektrum frekuensi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari frekuensi yang
Gambar 4.3. Spektrum frekuensi dengan frekuensi carrier 1000 KHz.
Gambar 4. 4. Spektrum frekuensi dengan frekuensi carrier 1050 KHz.
Pemancar juga diuji untuk membuktikan bahwa pemancar bekerja dengan
modulasi amplitudo. Dengan sinyal informasi sinusoida berfrekuensi 4 KHz yang
Gambar 4.6 dan Gambar 4.7, ini terlihat bahwa pemancar bekerja dengan modulasi
amplitudo.
Gambar 4.5. Sinyal informasi 4 kHz yang dikirim.
Gambar 4.7 Modulasi amplitudo dengan gelombang carrier 1050 KHz.
Gambar 4.8. Spektrum frekuensi audio pada penerima AM dengan frekuensi carrier 1000 KHz.
Pengamatan juga dilakukan dengan mendengarkan kualitas bunyi tone pada
speaker penerima AM. Semakin tinggi frekuensi sinyal informasi, semakin tinggi
pula bunyi tone yang terdengar demikian pula sebaliknya. Gambar 4.8 dan Gambar
4.9 menunjukkan sektrum frekuensi pada penerima yang memiliki frekuensi
fundamental yang sama dengan frekuensi yang dikirim. Data pendukung dengan
variasi frekuensi masukan dengan amplitudo tetap terdapat pada bagian lampiran.
2.
Pengujian Saat
Hopping
Pengujian dilakukan dengan sistem yang ditunjukkan pada Gambar 4.10.
Sinyal output blok pemancar diukur dengan menggunakan frequency counter dari 50
- 300 detik, dengan nilai kenaikan 50 detik. Data yang didapat ketika proses hopping
berlangsung terlihat pada Tabel 4.1.
frequency counter PEMANCAR
AM DENGAN HOPPING
Dengan X adalah nilai rata-rata,
∑
frekuensi adalah penjumlahan seluruh nilaifrekuensi yang diuji dan N adalah banyaknya data yang diuji. % adalah prosentase
rata-rata error, dapat dihitung dengan persamaan.
% 100
% x
cangan NilaiPeran
X cangan
NilaiPeran −
= (4.2)
Tabel 4.1 Data hasil pemancar saat hopping.
Detik ke- Frekuensi Carrier 1 (KHz)
Frekuensi Carrier 2
(KHz)
50 1000,0 1050,0
100 1000,2 1050,6
150 1000,4 1050,2
200 1000,0 1050,1
250 1000,0 1050,3
300 1000,1 1050,8
Nilai rata-rata 1000,1 1050,3
Presen
error(%)
0,01 0,28
Dari Tabel 4.1 terlihat bahwa persen rata-rata error (%) frekuensi carrier
carrier 1050 KHz. Dari prosentase error itu dapat dikatakan bahwa pemancar
memiliki frekuensi carrier yang stabil saat hopping berlangsung.
3.
Pengujian Jarak Pancar
Pengujian dilakukan untuk mengetahui jarak pancar maksimum sinyal
pemancar AM. Pengukuran jarak dilakukan dengan cara meletakkan pemancar pada
satu titik dalam ruangan dan penerima AM berpindah-pindah.
Tabel 4.2 Data hasil jarak pancar
Jarak
(meter)
Tone pada penerima AM 1 (1000 KHz)
Audio Level (dB)
Tone pada penerima AM 2 (1050 KHz)
Audio Level (dB)
1 Baik -3 Baik -3 2 Baik -3 Baik -3 3 Baik -3 Baik -3
4 Baik -3 Baik -3
5 Baik -3 Baik -3
6 Kurang Baik -20 Baik -3
7 Baik -3 Baik -3
8 Baik -3 Kurang Baik -20
Dari Tabel 4.2 terlihat bahwa pemancar bekerja dengan cukup baik pada
jarak maksimal 5 meter. Dari pengujian proses transmisi pemancar, kestabilan jarak
pancar alat dapat disimpulkan bahwa pemancar AM frequency hopping yang telah
dibuat dapat bekerja dengan cukup baik.
C.
Pengujian Setiap Blok
1.
Frekuensi Pembagi 10 KHz
Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai tingkat kestabilan
frekuensi pembagi. Gambar 4.11 menunjukkan gelombang output rangkaian
pembangkit frekuensi referensi 10 KHz dari IC 4060.
Gambar 4.11. Gelombang output IC 4060 frekuensi pembagi 10 KHz.
T1 T2
V1
Berdasarkan Gambar 4.11 dapat dihitung nilai frekuensi yang terukur dengan
menggunakan persamaan
2 1
1
T T f
−
= (4.3)
Nilai pembangkit frekuensi pembagi adalah
KHz
f 9.94
10 4 . 99
1 )
10 100 ( 10 6 . 0
1
6 6
6− − × = × =
× −
= − − −
Persen error frekuensi pembagi adalah
% = 100% 0,06%
10 94 . 9
10− =
x .
Dilihat dari persen error frekuensi pembagi yang kecil yaitu 0.06%
memperlihatkan bahwa rangkaian pembangkit frekuensi pembagi yang dibuat telah
bekerja sesuai dengan perancangan yaitu 10 KHz.
2.
Frekuensi referensi 1KHz
Pengujian ini bertujuan untuk mendapatkan data mengenai frekuensi referensi.
Gambar 4.12 menunjukkan gelombang output rangkaian pembangkit frekuensi
T1 T2
Gambar 4.10. Gelombang output IC 4060 frekuensi referensi 1 KHz
Berdasarkan Gambar 4.12 dapat dihitung nilai frekuensi yang terukur dengan
menggunakan persamaan (4.1), maka didapat nilai frekuensi referensi sebesar: V1
V2
KHz
f 0.9936
10 9936 . 0
1 )
10 1 ( 10 4 . 6
1
3 3
6− − × = × =
× −
= − − −
Persen error frekuensi referensi adalah
% = 100% 0,0064%
1 9936 . 0
1− =
x .
Dilihat dari persen error frekuensi referensi yang kecil yaitu 0.06%
memperlihatkan bahwa rangkaian pembangkit frekuensi pembagi yang dibuat telah
3.
Voltage Controlled Oscillator
.
Gambar 4.13 dan Gambar 4.14 menunjukkan kinerja dari osilator yang
digunakan sebagai penghasil gelombang carrier tanpa sinyal informasi.
T2 T1
V1
V2
Gambar 4.13. Sinyal output rangkaian osilator 1000 KHz.
Berdasarkan Gambar 4.11 dapat dihitung nilai frekuensi yang terukur dengan
menggunakan persamaan (4.1), dan didapat nilai frekuensi referensi sebesar:
KHz
f 1000
10 1
1 ) 10 3 ( 10 4
1
6 6
6− − × = × =
× −
= − − −
T1 T2
V1
V2
Gambar 4.14. Sinyal output rangkaian osilator 1050 KHz.
Berdasarkan Gambar 4.14 dapat dihitung nilai frekuensi yang terukur dengan
menggunakan persamaan (4.1), maka didapat nilai frekuensi referensi sebesar.
KHz
f 1000
10 1
1 ) 10 8 . 2 ( 10 8 . 3
1
6 6
6 − − × = × =
× −
= − − −
Dari hasil perhitungan frekuensi yang terukur memperlihatkan bahwa
rangkaian pembangkit frekuensi referensi yang telah dibuat telah bekerja sesuai
dengan perancangan yaitu 1050KHz.
4.
Pembagi Terprogram
Pada blok pembagi terprogram terjadi proses pembagian frekuensi output
rangkaian Voltage Controlled Oscillator. Gambar 4.15 menunjukkan gelombang
T1 T1
V1
V2
Gambar 4.15. Gelombang output pembagi terprogram.
Frekuensi pembagi terprogram yang terukur pada Gambar 4.15 dihitung
dengan menggunakan persamaan 4.1 adalah
KHz
f 1
10 1
1 ) 10 3 ( 10 4
1
3 3
3− − × = × =
× −
= − − −
Dari hasil perhitungan frekuensi yang terukur memperlihatkan bahwa
rangkaian pembagi frekuensi terprogram yang telah dibuat telah bekerja sesuai
VCO yang dibuat membutuhkan tegangan 1.5 volt untuk melewatkan frekuensi 1000
KHz dan 3,15 Volt untuk melewatkan frekuensi 1050 KHz.
Phase detector menghasilkan tegangan koreksi karena adanya perbedaan fasa
antara frekuensi referensi 1 KHz dan frekuensi output dari pembagi terprogram. Dari
hasil pengukuran alat yang telah dibuat, phase detector menghasilkan tegangan 1 volt
saat frekuensi 1000 KHz dan 2.8 volt saat frekuensi 1050 KHz kemudian menjadi
input LPF. Tegangan output LPF 0.8 volt saat frekuensi 1000 KHz dan 3 volt saat
frekuensi 1000 KHz.
Persen error tegangan LPF saat frekuensi 1000 KHz adalah
% = 100% 0,46%
5 , 1
8 , 0 5 ,
1 − =
x .
Persen error tegangan LPF saat frekuensi 1050 KHz adalah
% = 100% 0.047%
15 , 3
3 15 ,
3 − =
x
Dilihat dari persen error tegangan yang kecil yaitu 0,06 % dan 0,4 %,
sehingga tidak berpengaruh pada kinerja VCO.
6.
Timer
Gambar 4.16 menunjukkan hasil pengukuran rangkaian timer.
T2 T1
V1
V2
Gambar 4.16. (a) Sinyal output IC LM 555.
T1 T2
V1
Pada Gambar 4.16.(a) terlihat bahwa frekuensi pengendali 1000 KHz sama
dengan frekuensi pengendali 1050 KHz yaitu
Hz
f 0,996
10 8 , 1003 1 ) 10 163 ( 10 8 , 840 1 3 3
3− × = × =
× −
= − − −
sehingga periode sinyal pengendali adalah
s s f
T 1,004 1
996 . 0
1
1 = = ≅
=
Periode ON sinyal pengendali pada Gambar 4.16. (b) adalah
Hz
f 1,83
10 5 , 543 1 ) 10 3 , 297 ( 10 8 , 840 1 3 3
3− − × = × =
× −
= − − −
sehingga periode sinyal pengendali adalah
s f
T 0,54
83 , 1
1
1 = =
=
% = 100% 0,008%
5 , 0 54 , 0 5 ,
0 − =
x
TON
TOFF
Dilihat dari persen error frekuensi referensi yang kecil yaitu 0.008%
memperlihatkan bahwa rangkaian timer yang dibuat tidak sesui dengan perancangan
yaitu 0,5s. Karena timer tidak sesuai maka perlu adanya sinkronisasi timer antara
pemancar dan penerima agar proses hopping tidak terganggu dan data dapat diterima
7.
Analisa
Phase Lokced Loop
Dari data yang diperoleh, cukup memberi gambaran bagaimana sistem PLL
ini bekerja. PLL berfungsi untuk membangkitkan frekuensi carrier 1000 KHz dan
1050 KHz. Tabel 4.3. terlihat bahwa sistem Phase Lokced Loop bekerja dengan baik,
dilihat dari error yang kecil
Tabel 4.3. Data hasil Phase Lokced Loop
Komponen Phase Lokced Loop
Perancangan Hasil pengamatan Error ( %)
Frekuensi Pembagi 10 KHz 10KHz 9,94 KHz 0,06
Frekuensi Referensi 1 KHz 1KHz 0,9936 KHz 0,0036
VoltageControlledOscillator. 1000 KHz
1050 KHz
1000 KHz
1050 KHz
0
0
Pembagi Terprogram 1 KHz 1 KHz 0
Phase detector dan Low Pass
Filter
1,5 v
3,15 v
0,8 v
3 v
0,46
0,047
Output rangkaian driver dan booster diambil dengan sinyal informasi 4 KHz serta
frekuensi carrier 1000 KHz. Nilai tegangan output dapat dihitung dengan
persamaan, nilai ini akan digunakan untuk mengetahui basar penguatan.
p V p V ac
Vout( )= 1 + 2 (4.4)
T1 T2
V1
V2
Gambar 4.17.a. Gelombang output driver frekuensi carrier 1000 KHz
Tegangan output rangkaian driver saat frekuensi carrier 1000 KHz
p mVp x
x ac
driver
Vout = + = −
− −
6 , 5 10 8 , 1 10 8 , 3 )
( 3 3
T2 T1
V2 V1
Sehingga nilai penguatan booster saat frekuensi carrier 1000 KHz adalah
01 , 5 6
, 5
1 ,
28 =
− − =
=
p mVp
p mVp driver
V
booster V
A
out out V
Gambar 4.19.a. dan Gambar 4.19.b. menunjukkan gelombang dan spektrum
frekuensi hasil pengukuran tegangan output rangkaian driver. Gambar 4.20.a. dan
Gambar 4.20.b. menunjukkan gelombang dan spektrum frekuensi booster dengan
frekuensi carrier 1050 KHz.
T2 T1
V1
V2
Gambar 4.19.b. Spektrum frekuensi driver dengan frekuensi carrier 1050 KHz
Dari Gambar 4.19.a. didapat nilai tegangan output dengan menggunakan
persamaan 4.4.
Tegangan output rangkaian driver saat frekuensi carrier 1050 KHz adalah
p mVp x
x ac driver
Vout = + = −
− − 1,7 10 5,7 10
4 )
( 3 3
T1 T1
Gambar 4.20.b. Spektrum frekuensi booster dengan frekuensi carrier 1050 KHz
Tegangan output rangkaian booster saat frekuensi carrier 1050 KHz adalah
p mVp x
x ac
booster
Vout = + = −
− −
1 , 70 10 4 , 14 10 7 , 55 )
( 3 3
Sehingga nilai penguatan booster saat frekuensi carrier 1050 KHz adalah
5 , 12 6
, 5
1 ,
70 =
− − =
=
p mVp
p mVp driver
V
booster V
A
out out V
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada rangkaian Pemancar AM
frequency hopping, maka dapat diambil beberapa kesimpulan :
1. Alat yang dibuat dapat bekerja dengan baik sesuai dengan perancangan.
2. Sinyal informasi yang dikirimkan pemancar dapat diterima dengan baik pada
radius 5 meter. Secara kualitatif semakin tinggi amplitudo tone yang dikirim
semakin tinggi pula bunyi tone yang terdengar pada pesawat penerima AM.
B.
Saran
1. Rangkaian Phase Locked Loop (PLL) harus dibuat dengan baik, karena
komponen dan grounding rangkaian berpengaruh.
2. Adanya pengembangan alat ini untuk jangka waktu kedepan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Roody, Dennis & Coolen, Jhon. 2001. Komunikasi Elektonik. Jakarta: PT. Prenhallindo.
[2] Mouly, M and Pautet, M.B. 1992. The GSM Sistem fer Mobile
Communication. Palaiseau: M. Mouly et Marie-B. Pauttet.
[3] Lee, William C.y. 1998. Mobile Comunication Engineering. Singapore.: McGraw-Hill
[4] Skalar B. 1998. Digital Fundamental and Application. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall
[5] Omnispread Communication. 1999. Direc Sequance vs Frequency hopping. URL: http://www. Omnispread.com/direc-vs-hopping.html
[6] Badell, P. 1999. Cellular/PCS Management. A Real World Perspective. New York: McGraw-Hill.
[7] Boylestad, Robert L.1996 Electronic Devices and Circuit Theory. New Jersey: Prentice Hall
[8] Malik.R, Norbert, Electronic Circuits Analysis, Simulation and Design, Prentice –Hall international Inc, 1995.
[9] Roland.E, Best, Phase Locked Loop Theory, Design and Application, Mcgraw Hill Inc, New York, 1984.
[10] _____, ______, 74HC/HCT4046A Phase-locked-loop with VCO, Philips Semiconductors.
[12] _____, ______, LM555, Timer, National Semiconductor Corporation, 1995.
Diakses pada 24 Januari 2007.
[13] Wijaya, Damar, “Peningkatan Kapasitas Sistem dan Kualitas Sinyal Pada Jaringan GSM dengan Frekuensi Hopping”, Majalah SIGMA., vol 5. No 2, hal. 171-183, Juli 2002..
[14] _____, ________, TC74HC4060 14-Stage Binary Counter/Oscilator, www.TOSHIBA.com, 1998.
Data spektrum frekuensi sinyal informasi pada penerima AM
Frekuensi carrier pemancar 1000 KHz 1. sinyal informasi 1 kHz
3. sinyal informasi 4 kHz
5. sinyal informasi 6 kHz
7. sinyal informasi 8 kHz
Frekuensi carrier pemancar 1050 KHz
2. sinyal informasi 2 kHz
4. sinyal informasi 5 kHz
6. sinyal informasi 7 kHz
2
N
3
9
0
4
/
M
M
B
T
3
9
0
4
/
M
M
P
Q
3
9
0
4
/
P
Z
T
3
9
0
4
Discrete POWER & Signal Technologies
N
2N3904
MMBT3904
MMPQ3904
PZT3904
NPN General Purpose Amplifier
This device is designed as a general purpose amplifier and switch. The useful dynamic range extends to 100 mA as a switch and to 100 MHz as an amplifier. Sourced from Process 23.
Absolute Maximum Ratings* TA = 25°C unless otherwise noted
*These ratings are limiting values above which the serviceability of any semiconductor device may be impaired.
NOTES:
1) These ratings are based on a maximum junction temperature of 150 degrees C.
2) These are steady state limits. The factory should be consulted on applications involving pulsed or low duty cycle operations.
Symbol Parameter Value Units
VCEO Collector-Emitter Voltage 40 V
VCBO Collector-Base Voltage 60 V
VEBO Emitter-Base Voltage 6.0 V
IC Collector Current - Continuous 200 mA
TJ, Tstg Operating and Storage Junction Temperature Range -55 to +150 °C
2
N
3
9
0
4
/
M
M
B
T
3
9
0
4
/
M
M
P
Q
3
9
0
4
/
P
Z
T
3
9
0
4
NPN General Purpose Amplifier
(continued)
Electrical Characteristics TA = 25°C unless otherwise noted
Symbol Parameter Test Conditions Min Max Units
V(BR)CEO Collector-Emitter Breakdown Voltage IC = 1.0 mA, IB = 0 40 V
V(BR)CBO Collector-Base Breakdown Voltage IC = 10 µA, IE = 0 60 V
V(BR)EBO Emitter-Base Breakdown Voltage IE = 10 µA, IC = 0 6.0 V
IBL Base Cutoff Current VCE = 30 V, VEB = 0 50 nA
ICEX Collector Cutoff Current VCE = 30 V, VEB = 0 50 nA
OFF CHARACTERISTICS
ON CHARACTERISTICS*
SMALL SIGNAL CHARACTERISTICS
SWITCHING CHARACTERISTICS (except MMPQ3904)
*Pulse Test: Pulse Width ≤ 300 µs, Duty Cycle ≤ 2.0%
fT Current Gain - Bandwidth Product IC = 10 mA, VCE = 20 V,
f = 100 MHz
300 MHz Cobo Output Capacitance VCB = 5.0 V, IE = 0,
f = 1.0 MHz
4.0 pF Cibo Input Capacitance VEB = 0.5 V, IC = 0,
f = 1.0 MHz
8.0 pF NF Noise Figure (except MMPQ3904) IC = 100 mA, VCE = 5.0 V,
RS =1.0kW, f=10 Hz to 15.7 kHz
5.0 dB
td Delay Time VCC = 3.0 V, VBE = 0.5 V, 35 ns
tr Rise Time IC = 10 mA, IB1 = 1.0 mA 35 ns
ts Storage Time VCC = 3.0 V, IC = 10mA 200 ns
tf Fall Time IB1 = IB2 = 1.0 mA 50 ns
hFE DC Current Gain IC = 0.1 mA, VCE = 1.0 V
IC = 1.0 mA, VCE = 1.0 V
IC = 10 mA, VCE = 1.0 V
IC = 50 mA, VCE = 1.0 V
IC = 100 mA, VCE = 1.0 V
40 70 100 60 30 300 VCE(sat) Collector-Emitter Saturation Voltage IC = 10 mA, IB = 1.0 mA
IC = 50 mA, IB = 5.0 mA
0.2 0.3
V V VBE(sat) Base-Emitter Saturation Voltage IC = 10 mA, IB = 1.0 mA
IC = 50 mA, IB = 5.0 mA
0.65 0.85 0.95
2
N
3
9
0
4
/
M
M
B
T
3
9
0
4
/
M
M
P
Q
3
9
0
4
/
P
Z
T
3
9
0
4
Thermal Characteristics TA = 25°C unless otherwise noted
Symbol Characteristic Max Units
2N3904 *PZT3904
PD Total Device Dissipation
Derate above 25°C
625 5.0 1,000 8.0 mW mW/°C RqJC Thermal Resistance, Junction to Case 83.3 °C/W
RqJA Thermal Resistance, Junction to Ambient 200 125 °C/W
Symbol Characteristic Max Units
**MMBT3904 MMPQ3904
PD Total Device Dissipation
Derate above 25°C
350 2.8 1,000 8.0 mW mW/°C RqJA Thermal Resistance, Junction to Ambient
Effective 4 Die Each Die 357 125 240 °C/W °C/W °C/W Typical Characteristics
Base-Emitter ON Voltage vs Collector Current
0.1 1 10 100 0.2
0.4 0.6 0.8 1
I - COLLECTOR CURRENT (mA)
V B A S E -E M IT T E R O N V O L T A G E ( V ) B E (O N)
V = 5VCE
25 °C
125 °C - 40 °C
Typical Pulsed Current Gain vs Collector Current
0.1 1 10 100 0 100 200 300 400 500
I - COLLECTOR CURRENT (mA)
h - T Y P IC A L P U L S E D C U R R E N T G A IN F E
- 40º C
25 °C
C
V = 5VCE
125 °C
*Device mounted on FR-4 PCB 36 mm X 18 mm X 1.5 mm; mounting pad for the collector lead min. 6 cm2.
**Device mounted on FR-4 PCB 1.6" X 1.6" X 0.06."
NPN General Purpose Amplifier
(continued)
Base-Emitter Saturation Voltage vs Collector Current
0.1 1 10 100 0.4 0.6 0.8 1 V B A S E -E M IT T E R V O L T A G E ( V ) B E S A T
ββ = 10
25 °C
125 °C - 40 °C
Collector-Emitter Saturation Voltage vs Collector Current
Pr23
0.1 1 10 100
0.05 0.1 0.15
I - COLLECTOR CURRENT (mA)
V C O L L E C T O R -E M IT T E R V O L T A G E ( V ) CE S A T 25 °C C
ββ = 10
125 °C
<