EVALUASI PROPERTI PSIKOMETRIS WARWICK-EDINBURGH MENTAL WELL-BEING SCALE (WEMWBS)
SKRIPSI
Disusun sebagai Syarat untuk Meraih Gelar Sarjana Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten
Oleh:
YOGA SETYO WIBOWO NIM. 1361100616
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS WIDYA DHARMA KLATEN
ii
HALAMAN PERSETUJUAN
EVALUASI PROPERTI PSIKOMETRIS WARWICK-EDINBURGH MENTAL WELL-BEING SCALE (WEMWBS)
Disusun Oleh:
YOGA SETYO WIBOWO NIM. 1161100616
Telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Dewan Penguji, pada: Hari : Senin
Tanggal : 18 – 7 - 2017
Pembimbing I Pembimbing II
Hartanto, S.Psi., M.A. NIK. 690313334
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Diterima dan disetujui oleh Dewan Penguji Skripsi Fakultas Psikologi Unversitas Widya Dharma Klaten pada:
Hari, tanggal : Selasa, 08 Agustus 2017 Waktu : 08.30-09.30
Tempat : Gedung D.2.1
Dewan Penguji Skripsi:
Ketua Sekertaris
Drs. H. Jajang Susatya, M.Si. NIP. 19611209 199103 1 001
Winarno Heru Murjito,S.Psi.,M.Psi.,Psi NIK. 690811319
Penguji pertama Penguji pendamping
Hartanto, S.Psi., M.A. NIK. 690313334
Yulinda Erma Suryani, M.Si. NIK. 290208291
Mengetahui Dekan Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma
iv
MOTTO
v
PERSEMBAHAN
Karya ini saya persembahkan untuk: 1. Orang Tua yang selalu
mendoakan yang terbaik untuk saya.
2. Adik saya.
vi
KATA PENGANTAR
Syukur dan pujian penulis haturkan kepada Allah SWT yang penuh kasih atas rahmat dan berkat-Nya yang melimpah pada penulis, sehingga penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik guna mendapatkan gelar Sarjana Strata satu (S1) Jurusan Psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten.
Skripsi ini tidak akan terwujud tanpa ada bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Maka dari itu, dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang besar kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada:
1. Kedua Orang Tua tersayang, Agus Supartono dan Sri Rahayu yang telah memberikan yang terbaik untuk hidup saya.
2. Prof. Dr. Triyono, M.Pd. Selaku Rektor Universitas Widya Dharma Klaten. 3. Drs. Jajang Susetyo, M.Si. sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas
Widya Dharma Klaten yang memberi suasana yang nyaman saat menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma.
4. Winarno Heru Murjito,S.Psi,M.Psi,Psi. sebagai Kaprodi Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten yang telah memberikan nasihat terbaik untuk karir kedepannya.
vii
6. Yulinda Erma Suryani, M.Si. selaku Dosen Pembimbing II yang sabar membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyusunan skripsi, sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya.
7. Rekan-Rekan fakultas Psikologi Universitas Widya Dharma Klaten.
Penulis menyadari akan adanya kekurangan dan ketidaksempurnaan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun, dari semua pihak guna kemajuan masa yang akan datang. Penulis berharap, semoga tulisan yang sedikit ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu psikologi kedepannya.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan berkat kepada kita.
viii
SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini, Nama : YOGA SETYO WIBOWO NIM : 1361100616
Menyatakan dengan sesungguhnya, bahwa Skripsi berjudul “EVALUASI PROPERTI PSIKOMETRIS WARWICK EDINBURGH MENTAL WELL-BEING SCALE (WEMWBS)” adalah benar-benar karya sendiri. Hal-hal yang
bukan karya saya dalam skripsi ini diberi tanda sitasi dan ditunjukkan dalam daftar pustaka.
Apabila dikemudian hari terbukti pernyataan saya ini tidak benar, maka saya bersedia menerima sanksi akademik berupa pencabutan skripsi dan gelar yang saya peroleh dari skripsi ini.
Klaten, Juli 2017
YOGA SETYO WIBOWO NIM. 1361100616
ix
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
SURAT PERNYATAAN ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
ABSTRAK... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 13
1.3. Tujuan Penelitian ... 13
1.4. Manfaat Penelitian ... 14
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kesejahteraan Mental... 15
2.1.1.Definisi Kesejahteraan Mental ……… ... 15
x
2.2.1.Deskripsi Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale ... 16
2.3. Rasch Model ... 17
2.3.1.Jenis Pemodelan Rasch ... 20
2.4. Analisis Faktor ... 24
2.4.1.Metode Analisis Faktor ... 25
2.5. Confirmatory Factor Analysis ... 28
2.5.1.Deskripsi Confirmatory Factor Analysis ... 28
2.5.2.Kelayakan Model (Good of Fit) ... 29
2.5.3.Loading Factor ... 33
2.6. Remaja ... 34
2.6.1.Pengertian Remaja ... 34
2.6.2.Perkembangan Emosi Remaja ... 35
2.6.3.Ciri-Ciri Remaja dengan Kesejahteraan Mental ... 37
2.7. Kerangka Berfikir ... 38
2.8. Pertanyaan Peneliti ... 39
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian ……….… ... 40
3.2. Identifikasi Variabel ... 41
3.3. Definisi Oprational ... 42
3.4. Sumber Data ... 42
3.5. Teknik Pengumpul Data ... 43
3.6. Prosedur Penelitian ... 46
xi
BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Responden ... 54
4.2. Validitas Isi ... 55
4.3. Pemodelan Rasch ... 56
4.3.1.Uji Dimensionalitas Data ... 56
4.3.2.Deteksi Bias Aitem ... 58
4.3.3.Kualitas Aitem WEMWBS ... 62
4.3.4.Reliabilitas Aitem ... 66
4.3.5.Polarisasi Jawaban ... 68
4.3.6.Fungsi Informasi Pengukuran ... 69
4.4. Analisis Faktor Konfirmatori ... 70
4.4.1.Membuat Model Kontrak Berdasarkan Teori ... 71
4.4.2.Evaluasi Estimasi Model ... 71
4.4.3.Evaluasi Model Pengukuran ... 73
4.5. Modifikasi Indeks ... 81
4.6. Pembahasan ... 89
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan ... 95
5.2. Saran ... 96 DAFTAR PUSTAKA ...
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Blue Print WEMWBS ... 44
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi Responden ... 54
Tabel 4.2 Aiken’s V ... 55
Tabel 4.3 Kategori Aitem ... 65
Tabel 4.4 Hasil Pengujian GOF Model ... 74
Tabel 4.5 Ringkasan Faktor Loading dan t-value ... 78
Tabel 4.6 Squared multiple correlation (R2) ... 80
Tabel 4.7 Hasil Pengujian GOF Model Sebelum dan Setelah MI ... 87
xiii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir ... 38
Gambar 4.1 Item Dimension ... 57
Gambar 4.2 DIF Jenis Kelamin ... 58
Gambar 4.3 Grafik DIF ... 59
Gambar 4.4 DIF Usia ... 60
Gambar 4.5 DIF Status ... 61
Gambar 4.6 Grafik DIF status ... 61
Gambar 4.7 Item Fit Order ... 63
Gambar 4.8 Wright Map ... 65
Gambar 4.9 Summary of WEMWBS... 67
Gambar 4.10 Polarisasi Jawaban... 69
Gambar 4.11 Fungsi Informasi Pengukuran ... 70
Gambar 4.12 Spesifikasi Model. ... 71
Gambar 4.13 Multivariat Normality ... 71
Gambar 4.14 Path Diagram ... 74
Gambar 4.15 Faktor Loading ... 77
Gambar 4.16 t-value ... 78
Gambar 4.17 standardized residual ... 82
Gambar 4.18 modification indices ... 83
Gambar 4.19 Path Diagram 2 ... 86
xiv ABSTRAK
YOGA SETYO WIBOWO. 1361100616. Program Studi Psikologi. Fakultas Psikologi. Universitas Widya Dharma Klaten. 2017. Evaluasi Properti Psikometris Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS).
Pengukuran merupakan salah satu elemen utama dalam psikologi karena semua bidang psikologi didasari oleh pengetahuan yang diperoleh dari hasil penelitian yang mengandalkan pengukuran-pengukuran. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi properti psikometris pada Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) menggunakan pemodelan rasch dan melakukan uji kecocokan pada Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) menggunakan analisis faktor konfirmatori. Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) merupakan instrument yang terdiri dari 14 pernyataan yang dirancang untuk mengukur kondisi kesejahteraan mental individu. Subjek pada penelitian ini berjumlah 222 orang berusia 16-22 tahun. Berdasarkan hasil evaluasi properti psikometris menggunakan pemodelan rasch diketahui bahwa Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) merupakan skala dengan kualitas cukup baik. Hal tersebut dibuktikan dengan kemampuan Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS) dalam menjangkau subjek secara luas. Walaupun dalam pengujian bias aitem (DIF) terdapat aitem-aitem yang terindikasi bias berdasarkan jenis kelamin seperti Q12 “saya selama ini merasa dicintai”, Q10 “saya selama ini merasa percaya diri”, dan Q4 “saya selama ini merasa ada ketertarikan terhadap orang lain” serta memiliki aitem dengan kepatutan sosial (social desirability) tingii seperti Q1 “saya selama ini merasa optimis tentang masa depan”. Hal tersebut tidak secara sepihak (arbitrary) membuktikan bahwa kualitas WEMWBS buruk dalam mengukur kesejahteraan mental. Selanjutnya dalam uji kecocokan model menggunakan analisis faktor konfirmatori aitem-aitem seperti Q4, Q10, Q12 dan Q1 tidak dapat dipertahankan karena memiliki error varian yang saling berkorelasi dengan aitem lainnya dan memiliki faktor loading < 0.30 sehingga perlu dilakukan modifikasi indeks menggunakan penghapusan aitem.
1
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.
Pengukuran merupakan salah satu elemen utama dalam psikologi
karena semua bidang psikologi didasari oleh pengetahuan yang diperoleh dari
hasil penelitian yang mengandalkan pengukuran-pengukuran. Makna dan
keterandalan pengukuran tersebut sangat penting bagi penelitian psikologi.
Tes psikologi adalah tes yang digunakan untuk mengukur aspek-aspek
psikologi yang merupakan representative dari tingkah laku. Tes psikologi
sangat beragam tergantung dari penggunaannya. Berdasarkan apa yang akan
diukur, tes psikologi dapat dibagi kedalam beberapa bagian. Menurut
Cronbach (1976), tes psikologi terdiri dari tes yang mengukur performansi
maksimal (maximal performance) dan tes yang mengukur performansi tipikal
(typical performance).
Performansi maksimal (maximal performance) dirancang untuk
mengungkap apa yang dapat dilakukan oleh subjek dan seberapa baik ia dapat
melakukannya. Tes yang dapat digolongkan dalam jenis tes ini adalah tes
intelegensi, tes kemampuan khusus (misal tes bakat) dan sebagainya.
Sedangkan tes yang mengukur performansi tipikal (typical performance)
disusun untuk mengungkap apa yang cenderung dilakukan oleh subjek dalam
situasi-situasi tertentu. Salah satu dari beberapa instrument tes yang termasuk
dalam performansi tipikal (typical performance) adalah Warwick-Edinburgh
Well-2
Being Scale (WEMWBS) adalah skala yang digunakan untuk mengukur
tingkat kesejahteraan mental individu.
World Health Organization’s (1948) mengakui bahwa pentingnya kesehatan mental sebagai komponen kesehatan secara keseluruhan. Pada
tahun 2001, Organisasi Kesehatan Dunia tersebut mendefinisikan kesehatan
mental sebagai "suatu keadaan dimana individu merasakan kesejahteraan atau
dengan kemampuannya sendiri dapat mengatasi tekanan kehidupan, dapat
bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk
masyarakat" (WHO, 2001).
Perspektif itu muncul sejalan dengan berkembangnya studi psikologi
positif di akhir tahun 1990-an. Cabang ilmu psikologi ini berfokus terhadap
komponen hidup positif dari manusia dengan tujuan akhir meningkatkan
kualitas hidup manusia melalui perasaan menyenangkan dan aktualisasi
potensi diri (Seligman & Csikszentmihalyi, 2000).
Konsep kesejahteraan yang muncul dalam definisi WHO sebagai
penentu kesehatan dan kesehatan mental membuat perkembangan psikologi
positif semakin pesat. Pandangan aristoteles yang menganggap tujuan akhir
dari kehidupan adalah kesejahteraan berakibat pada semakin banyaknya hasil
kajian dibidang tersebut. Banyak peneliti di dunia ingin mengetahui faktor
yang berpengaruh dalam meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Disisi
lain hasil perkembangan ilmu psikologi positif berdampak pada perubahan
3
Studi tentang kesejahteraan mental secara tradisional dibagi menjadi
dua aliran penelitian. Konsep pertama disebut hedonis (dari kata Yunani
Ἡδονή, Hedone, yang berarti kesenangan) atau dapat disebut dengan subjektif
well-being. Konsep ini menyamakan kesejahteraan dengan kebahagiaan
sebagai perasaan yang baik. Maksudnya adalah melihat kebahagiaan sebagai
perasaan emosi positif dan menghindari perasaan emosi negatif. Konsep
kedua disebut eudaimonic, berasal dari kata Yunani εὖ, eu (baik), dan δαίμων,
daimon (spirit) atau dapat disebut dengan psychological well-being. Artinya
adalah menyamakan kesejahteraan dengan aktualisasi potensi individu
sehingga dapat mengembangkan fungsi positif dalam hidup. Seperti yang
dijelaskan diatas perbedaan fundamental dari kedua aliran tersebut adalah
filosofi yang melandasinya.
Berkembangnya pembahasan dan perubahan paradigma penelitian ke
arah moderen dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan oleh Howell.
Howell (2007) menunjukan bahwa kesejahteraan subjektif (SWB)
berhubungan positif dengan kesehatan jantung dan sistem kekebalan tubuh
manusia. Howell memperkirakan bahwa 14% individu dengan tingkat
kesejahteraan subjektif yang baik akan memiliki usia yang lebih panjang dari
pada mereka yang tidak. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Luhmann,
Lucas, Eid dan Diener, 2013; Lyubomirsky, Raja dan Diener, (2005)
menunjukan bahwa kesejahteraan secara positif berpengaruh dalam
hubungan kerja yang lebih baik, tingkat kematian lebih rendah yang
4
yang lebih lambat (Ostir, Markides, Black dan Goodwin, 2000) dan
perlambatan penurunan kemampuan kognitif (Gerstorf, Lovden, Rocke,
Smith dan Lindenberger, 2007).
Dewasa ini, banyak negara Eropa yang telah merubah prioritas dari
pembangunan ekonomi ke pembangunan sumber daya manusia. Skotlandia
merupakan salah satu negara yang telah melakukan prioritas untuk
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mental bagi anak anak dan remaja
(Pemerintah HM Departemen Kesehatan, 2011; Pemerintah Skotlandia,
2009),. Hal tersebut dilakukan menyusul banyaknya dampak negatif dari
moderenisasi terhadap perkembangan remaja.
Masa remaja merupakan periode perkembangan antara usia 12 dan 21
tahun (Monks, dkk. 2001) sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990)
menerangkan bahwa terdapat perbedaan antara pria dan wanita dalam batasan
usia remaja yaitu batas akhir usia remaja bagi pria adalah 22 tahun dan wanita
21 tahun. Masa remaja ditandai dengan perubahan-perubahan mulai dari
biologis hingga psikologis (Graber dkk 1996; Petersen dan Leffert 1995;
Seifert dkk. 2000). Selain itu, masa remaja dapat disebut sebagai masa transisi
yang menghubungkan antara masa kanak-kanak dan dewasa (Santrock,
2003). Masa remaja merupakan segmen kehidupan yang penting dalam siklus
perkembangan individu. Erikson (Crain, 2007) menambahkan bahwa remaja
merupakan masa pencarian identitas diri yang memiliki dua kemungkinan
5
Penelitian sebelumnya menunjukan bahwa self-control merupakan
salah satu variabel yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif (SWB) dalam
kaitan ini adalah kesehatan dan kesejahteraan mental (Hofmann, Luhmann,
Fisher, Vohs dan Baumeister, 2013; Tangney, Baumeister dan Boone, 2004).
Hal tersebut disebabkan karena individu yang memiliki tingkat kontrol diri
tinggi dalam pengendalian diri memiliki kesempatan lebih besar untuk
mencapai tujuan sehingga menjadi lebih sukses dan adaptif dalam beberapa
domain kehidupan (de Ridder dkk, 2012).
Dalam berbagai survei terakhir yang dilakukan UNICEF menunjukan
bahwa peningkatan gangguan mental seperti depresi pada remaja terjadi di
seluruh dunia. Tercatat remaja yang mengalami gangguan mental mencapai
1,2 miliar (UNICEF 2011). Peningkatan jumlah gangguan tersebut juga
terjadi di Swedia sejak akhir tahun 1990an (Nasional Dewan Kesehatan dan
Kesejahteraan 2009). Dampak terbesarnya adalah siswa di Swedia menjadi
tidak produktif (Swedia Badan Nasional Pendidikan 2009) dan mengalami
penurunan kualitas hidup (Proctor dkk. 2008). Keadaan tersebut juga dialami
hampir di seluruh negara di dunia (Proctor dkk. 2008).
Gangguan mental yang terjadi pada individu 50% dimulai pada usia
remaja (Helliwell dkk 2013; UNICEF 2011). Data statistik menunjukan
setidaknya terdapat 71.000 remaja bunuh diri setiap tahunnya karena
kurangnya rasa kesejahteraan yang dimiliki (UNICEF, 2007). Selain itu,
sumbangan resiko penyakit kronis seperti depresi berat yang berasal dari
6
2012). Helliwell dkk, (2013) menjelaskan lebih lanjut mengenai efek dari
gangguan mental yang di miliki remaja dapat berpengaruh negatif terhadap
prestasi dan perilaku sosial.
Menurut Uusitalo-Malmivaara (2012), studi kesejahteraan terhadap
anak-anak dan remaja telah jauh tertinggal. Hal tersebut dibenarkan oleh
Batcho dkk. (2011) yang menganggap bahwa kurangnya penelitian terkait
kebahagiaan dan kesejahteraan di usia dini diakibatkan asumsi bahwa
kebahagiaan hanya terjadi apabila individu telah mencapai kematangan usia.
Dampaknya adalah peningkatan prevelensi gangguan mental pada anak anak
dan remaja sulit dihindarkan. Oleh sebab itu pentingnya melakukan kajian
psikologi terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan bagi remaja sebagai salah
satu bentuk tindakan pencegahan terjadinya peningkatan gangguan mental di
masa mendatang.
Psikologi positif yang berkembang saat ini telah banyak melakukan
pengembangan di bidangnya. Salah satunya adalah berkembangnya berbagai
instrumen yang memenuhi sifat psikometrik. Warwick-Edinburgh Mental
Well-Being Scale (WEMWBS) adalah bagian dari berkembangnya instrumen
penelitian di bidang psikologi positif yang dirancang untuk mengukur
kesehatan mental. Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS)
telah di validasi di beberapa negara seperti Australia, Kanada, Amerika
Serikat, Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, Belanda, Belgia, Islandia, India,
7
Penelitian lainnya menunjukan pengembangan alat ukur terhadap
kesejahteraan dan kesehatan mental WEMWBS (Warwick-Edinburg Mental
Well-Being Scale) saat ini mulai dilakukan dalam ranah lintas budaya
(Tennant, Hiller, Fishwick, PlattJoseph, Weich, Parkinson, Secker, &
Steward-Brown, 2007; Bartram, Yadegarfar, Sinclair, & Baldwin, 2011;
Taggart, Friede, Weich, Clarke, Johnson, & Stewart-Brown, 2013).
Penggunaan skala psikologi sebagai salah satu instrumen pengukuran
dalam berbagai bidang psikologi terbukti telah banyak dilakukan. Penelitian
terbaru menunjukkan tingginya frekuensi penggunaan instrumen psikologis
dalam banyak lingkup aktivitas, misalnya dalam bidang industri dan
organisasi dikarenakan tingginya daya prediksi hasil pengukuran terhadap
performansi kerja individu (Meyer, Foster, & Ander-son, 2006).
Namun demikian, penggunaan skala psikologi dalam pengukuran
psikologi rentan terhadap respons tipuan karena individu dapat dengan
sengaja meningkatkan skor untuk menunjukkan kesan positif/baik mengenai
profil kepribadian mereka (Nguyen, Biderman, & McDaniel, 2005). Respons
tipuan diartikan sebagai upaya sadar individu untuk memberikan respons
yang tidak sesuai dengan kondisinya terhadap instrumen pengukuran yang
dikenakan kepadanya (Widhiarso, 2010). Hal tersebut dapat berakibat pada
interpretasi hasil penelitian yang tidak tepat sasaran (bias). Oleh sebab itu,
perlunya untuk menetapkan sebuah instrumen penelitian yang baik.
Instrumen penelitian yang baik adalah instrumen yang memenuhi sifat
8
instrument penelitian psikologi yang baik diperlukan evaluasi properti
psikometris psikologi. Evaluasi properti psikometris skala psikologi
bertujuan untuk memberikan berbagai informasi bagi peneliti mengenai
pengaruh respon terhadap parameter butir skala psikologi. Informasi ini
sekaligus akan menjadi masukan bagi pengembang alat ukur psikologi dalam
menyusun butir yang tahan terhadap respons menipu (Widhiarso, 2010).
Karakteristik instrumen skala psikologi yang saling berhubungan
dengan berbagai aspek (Drolet & Morisson, 2001; Spector, Brannick, &
Chen, 1997) dan pembuatan instrument psikologi yang sering diawali dari
penurunan butir-butir dari beberapa aspek teoritis, misalnya penyusunan
skala efikasi diri yang diturunkan dari aspek atletik, akademik, dan kehidupan
sosial mengakibatkan sulit terpenuhinya asumsi unidimensional (Kamata,
Turhan, & Darandari, 2003).
Penelitian-penelitian telah menujukkan bahwa hasil analisis faktor
terhadap pengukuran psikologi menghasilkan faktor yang majemuk, misalnya:
(a) Hwang Chun, Kurasaki, Mak, dan Takeuchi (2000 menemukan enam
dimensi dalam pengukuran dukungan sosial, (b) Albo, Núñez, Navarro, dan
Grijalvo (2007) membandingkan model dimensi harga diri dan menemukan
bahwa model empat dimensi lebih cocok dibanding dengan satu dimensi, serta
(c) dengan membandingkan indeks ketepatan model antara model efikasi diri
satu faktor dan tiga faktor Brouwers dan Tomic (2001) menemukan bahwa
model tiga dimensi memiliki indeks ketepatan model yang lebih tinggi
9
psikologi yang bersifat multidimensi. Dengan memahami kecenderungan
pengukuran psikologi lebih pada model pengukuran multidimensi, maka perlu
melakukan proses identifikasi propertis psikometri pengukuran psikologi.
Selain itu pentingnya melakukan evaluasi properti psikometris
disebabkan karena proses pengukuran yang tidak lepas dari
pengaruh-pengaruh luar, misalnya heterogenitas karakteristik individu dan interaksi
individu dengan tes atau skala (Preinerstorfer & Formann, 2011).
Heterogenitas karakteristik individu dapat berupa perbedaan cara individu
dalam memahami butir di dalam skala (persepsi). Misalnya, ketika merespons
pernyataan di dalam skala psikologi, ada individu yang cenderung untuk
menyetujui semua pernyataan yang diberikan (yea saying), yaitu dengan
memilih kategori respons (“sesuai” atau “sangat sesuai”) dan ada juga individu yang cenderung memilih kategori respons tengah (“netral”) (Widhiarso, 2013).
Sedangkan interaksi individu terhadap tes atau skala dapat ditunjukkan
dengan kemungkinan adanya individu yang memilih kategori respons yang
dinilai olehnya sebagai respons yang sesuai dengan kepatutan sosial (social
desirability). Penelitian telah menunjukkan bahwa respons yang mengandung
kepatutan sosial seringkali muncul ketika individu menghadapi pengukuran
yang bersifat sensitif terhadap diri individuhingga akhirnya mereka
melakukan respon menipu, misalnya pengukuran perilaku seks (van de
Mortel, 2008) atau pengonsumsian alkohol (Cox, Swinson, Direnfeld, &
10
Kecendrungan skala psikologi yang rentan terhadap respon menipu
mengakibatkan telah banyak penelitian yang dilakukan guna menemukan
solusi yang tepat terhadap permasalahan tersebut. Adapun cara yang telah
dilakukan guna mengatasi masalah tersebut antara lain melalui design
penelitian. Pertama, beberapa peneliti berusaha mengidentifikasi tipuan
dengan bantuan instrument pengukuran yang khusus mendeteksi respons
menipu misalnya Balanced Inventory of Desirable Responding (Paulhus,
1984), Unlikely Virtues Scales, Assessment of Background and Life
Experiences (ABLE), Validity Scale, serta Skala Kecenderungan Sosial
(Social Desirability Scale) yang kembangkan oleh beberapa peneliti,
misalnya Social Desirability Scale (Edwards, 1957), Marlowe-Crowne Social
Desirability Scale (Crowne & Marlowe, 1960). Kedua, respons menipu dikaji
melalui analisis faktor baik eksploratori maupun konfirmatori (Montag &
Comrey, 1990). Perbedaan struktur faktor data yang didapatkan dari subjek
yang memiliki motivasi berbeda diinterprestasikan merupakan resultan dari
respons menipu. Asumsi bahwa konstrak empirik berkaitan dengan faktor
secara linier menyebabkan teknik analisis ini kurang berhasil jika diterapkan
pada skala psikologi yang menyediakan alternatif respon yang minim.
Ditambah lagi dengan ukuran sampel yang sedikit dan jumlah faktor yang
diekstrak terlalu banyak akan menghambat kestabilan hasil analisis faktor
yang diterapkan (Stark, Chernyshenko, Chan, Lee, & Drasgow, 2001).Oleh
sebab itu, dibutuhkan metode yang cukup kuat guna mengurangi
11
Secara metodologis Rasch merupakan bagian dari IRT (Sumintono &
Widhiarso, 2013) dan pelengkap dari teknik analisis konfirmatori (Reise,
Widaman, & Pugh, 1993). Berbeda dengan analisis faktor konfirmatori yang
hanya dipakai untuk mengidentifikasi hubungan yang linier antara respon
terhadap indikator, IRT dapat dipakai untuk mengidentifikasi hubungan
antara respon individu terhadap indikator dengan faktor ukur. Sehingga
permasalahan yang sering muncul pada skala psikologi dapat diminimalisir.
Selain hubungan antara indikator dan faktor, kelebihan IRT dibanding
analisis faktor konfirmatori terletak pada kemampuannya untuk membuat
model berdasarkan alternatif pilihan respon, misalnya pada model politomi
(Widhiarso, 2010).
Menurut Mok dan Wright, 2004 (dalam Sumintono dan Widhiarso,
2013) konsep pengukuran yang objektif dalam ilmu-ilmu sosial dan penilaian
pendidikan harus mempunyai lima kriteria, yaitu: (a) Memberikan ukuran
yang linear dengan interval yang sama; (b) Melakukan proses estimasi yang
tepat; (c) Menemukan aitem yang tidak tepat (misfits) atau tidak umum
(outliers); (d). Mengatasi data yang hilang; dan (e) Menghasilkan pengukuran
yang replicable (independen dari parameter yang diteliti). Dengan adanya
kelima syarat yang harus dipenuhi dalam pengukuran, sejauh ini hanya rasch
model yang bisa memenuhinya. Sehingga dengan menggunakan pemodelan
Rasch kualitas pengukuran instrument yang dilakukan akan mempunyai
kualitas yang sama seperti halnya pengukuran yang dilakukan dalam dimensi
12
Selanjutnya, Azwar (2012) mengungkapkan bahwa pentingnya
mengetahui apakah aitem-aitem tes berkorelasi tinggi dengan konstruk teori
dibuktian melalui pengujian validitas konstrak. Cronbach & Meehel (1995)
mengatakan bahwa menguji validitas konstrak melibatkan paling tidak tiga
langkah, yaitu (a) mengartikulasiakan serangkaian konsep teoritik dan
interrelasinya; (b) mengembangkan cara untuk mengukur konstrak
hipotetiknya yang diteorikan; (c) menguji secara empirik hubungan hipotetik
di antara konstrak tersebut dan manifesnya yang nampak. Adapun salah satu
pendekatan yang dilakukan dalam pengujian validitas konstrak adalah
pendekatan Confirmatory factor analysis (CFA).
Confirmatory Factor Analysis (CFA) adalah tehnik untuk melakukan
konfirmasi mengenai konsistensi suatu teori dan konstruk (Hartanto, 2015).
Tujuan dari analisis faktor ini adalah menjelaskan dan menggambarkan
dengan mereduksi jumlah parameter yang ada (Widhiarso, 2004). Selain itu,
menurut (Waltz, Strickland, & Lenz, 2005 dalam DeVon, 2007) menerangkan
bahwa Confirmatory factor analysis (CFA) dapat digunakan untuk menguji
sejauhmana model statistik yang dipakai sesuai dengan data empiric.
Berdasarkan pada latar belakang di atas mengenai kesejahteraan mental
pentingnya evaluasi properti psikometris pada skala psikologi maka, melalui
penelitin ini penulis melakukan kajian evaluasi psikometri pada instrument
psikologi dengan judul “Evaluasi Properti Psikometris Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale (WEMWBS)”. Hasil penelitian ini
13
memberikan gambaran secara keseluruhan mengenai kualitas intrumen
psikologi tersebut.
1.2. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka dapat di rumuskan
permasalahan sebagai berikut:
a. Bagaimana kualitas instrumen Warwick-Edinburgh Mental
Well-Being Scale (WEMWBS) diukur menggunakan pemodelan rasch?
b. Apakah aitem-aitem Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale
(WEMWBS) sesuai dengan model yang telah ditetapkan
sebelumnya?
1.3. Tujuan.
Berdasarkan rumusan masalah diatas diperoleh dua tujuan penelitian
yaitu:
a. Mengetahui kualitas instrument melalui evaluasi properti
psikometris pada Warwick-Edinburgh Mental Well-Being Scale
(WEMWBS) menggunakan pemodelan rasch.
b. Melakukan uji kecocokan model pada Warwick-Edinburgh Mental
Well-Being Scale WEMWBS menggunakan anaisis faktor
14
1.4. Manfaat.
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini dibagi menjadi manfaat
teoritis dan praktis yaitu:
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
pengetahuan dalam bidang psikologi positif dan memperkaya hasil
penelitian yang telah ada terutama mengenai instrumen penelitian.
b. Manfaat praktis:
1. Bagi Sekolah khususnya BK, instrument yang dihasilkan
dalam penelitian ini dapat dijadikan sebagai alat alternatif
dalam mengukur kesejahteaan mental pada siswa-siswi di tiap
sekolah.
2. Bagi Peneliti selanjutnya, sebagai bahan masukan dalam
mengkaji masalah yang berkaitan dengan kesehatan mental
95
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan.
a. Berdasarkan evaluasi properti psikometris menggunakan pemodelan
rasch diketahui bahwa WEMWBS merupakan skala dengan kualitas
cukup baik. Hal tersebut dibuktikan dengan kemampuan WEMWBS
dalam menjangkau subjek secara luas. Walaupun dalam pengujian bias
aitem (DIF) terdapat aitem-aitem yang terindikasi bias berdasarkan jenis
kelamin dan seperti Q12, Q10, dan Q4 serta memiliki aitem dengan
kepatutan sosial (social desirability) yang tinggi seperti Q1. Hal tersebut
tidak secara sepihak (arbitrary) membuktikan kualitas WEMWBS buruk
dalam mengukur kesejahteraan mental akan tetapi aitem-aitem yang
terindikasi bias dalam pengukuran dapat dipengaruhi oleh persepsi dan
memory subjek dalam berinteraksi dengan WEMWBS. Selain itu,
pengaruh seperti kepatutan sosial berperan dalam mendukung intensitas
individu dalam memberikan tipuan respons.
b. Berdasarkan hasil pengujian konstrak menggunakan analisis faktor
konfirmatori menunjikan 14 aitem WEMWBS memiliki nilai kecocokan
model (good of fit) cukup baik (X2=124,58; df=77; p=0,00049;
RMSEA=0,53; CFI=0,97; & SRMR= 0,046). Namun, dalam pengujian
GOF ditemukan beberapa aitem memiliki error yang saling berkorelasi
dan terdapat aitem yang memiliki faktor loading < 0,30. Berdasarkan hasil
96
WEMWBS dapat dikembangkan dalam bentuk pendek (Bartram dkk,
2012; Stewart-Brown dkk, 2009; Tennant dkk, 2007) menjadikan dasar
modifikasi yang dilakukan dengan menggugurkan aitem-aitem tersebut.
Adapun hasil modifikasi indeks yang dilakukan menunjukan 10 aitem
WEMWBS memiliki nilai GOF yang baik (X2=44,00; df=77; p=0,14;
RMSEA=0,34; CFI=0,99; & SRMR= 0,035).
5.2. Saran.
a. Mengingat tidak ada satupun metode yang dapat berdiri sendiri
(powerfull) dalam mengatasi permasalahan pada skala psikologi, penulis
menyarankan bagi penelitian selanjutnya untuk menggunakan setidaknya
dua metode dalam melakukan evaluasi properti psikometris sehingga data
yang diperoleh mengenai skala dapat menyeluruh (comprehensive).
b. Penulis menyarankan bagi penelitian selanjutnya sebelum melakukan
modifikasi instrument agar memperhatikan bahasa yang digunakan dalam
instrument penelitian agar tidak terjadi bias dalam hasil pengukuran.
c. Penulis menyarankan bagi penelitian selanjutnya untuk lebih memahami
mengenai konstrak yang diteliti dan memperhatikan kemungkinan
instrument yang digunakan memiliki error yang saling berkorelasi.
Sehingga modifikasi yang dilakukan tidak hanya untuk memenuhi asumsi
parameter statistik namun juga memperhatikan dasar-dasar teoritik dan
DAFTAR PUSTAKA
See more at: http://www.depkes.go.id/article/view/201410270010/lighting-the- hope-for-schizoprenia-warnai-peringatan-hari-kesehatan-jiwa-tahun-2014.html#sthash.aNMpIO9g.dpuf.
A. Supratiknya, 1995. Mengenal Perilaku Abnormal, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Azwar, S. 2007. Sikap Manusia dan Pengukurannya, edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2010. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, Saifuddin. 2013. Penyusunan Skala Psikologi (Edisi Dua). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. 2014. Reliabilitas dan Validitas (Edisi Empat). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bernard, H.R. 2002. Research Methods in Anthropology: Qualitative and quantitative methods. 3rd edition. AltaMira Press ,Walnut Creek, California.
Dian,Seri. 1966. Kisah Dari Kampung Halaman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Erma, Y.S. 2016. Pengembangan Model Pengukuran Inteligensi Dengan Menggunakan Rasch Model.
Furnham, A. (2014, October 12). Are Men Really More Intelligent Than Women?
Retrieved May 1, 2017, from Psychology Today:
https://www.psychologytoday.com/blog/sideways-view/201410/are-men-really-more-intelligent-women
Frances Taggart1*, Tim Friede2, Scott Weich1, Aileen Clarke1, Mark Johnson3 and Sarah Stewart-Brown1, Cross cultural evaluation of the Warwick
Edinburgh mental well-being scale (WEMWBS) –a mixed methods study.
Ghozali. 2008. SEM Metode Alternatif Dengan Partial Least Square. Edisi 2. Semarang : BP-Undip.
Garcia, G.S.C. 2006. The mother – child nexus: knowledge and valuation of wild food plants in Wayanad, Western Ghats, India. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine 2:39.
Gigerenzer, G., Galesic, M., & Garcia-Retamero, R. (2014). Stereotypes About
Men’s and Women’s Intuitions: A Study of Two Nations. Journal of Cross-Cultural Psychology , 45, 62–81.
Gerstorf D, Lövdén M, Röcke C, Smith J, Lindenberger U. (2007). Well-being affects changes in perceptual speed in advanced old age: Longitudinal evidence for a dynamic link. Developmental Psychology. 43(3), 705-718.
Hurlock, B. E. 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Erlangga.
Hoyle, R. H. & Panter, A. T., (1995). Writing About Structural Equation Models. Dalam Hoyle, R. H. Structural Equation Modeling: Concepts, Issues, and Applications. (pp. 158 – 176). California: Sage
Hair, J.F., Black, W.C., Babin, B.J., Anderson, R.E., and Tatham, R.L. (2006). Multivariate Data Analysis, New Jersey: Prentice-Hall International, Inc
Joreskog, K.G. and Sorbom, D. (1982). Recent Developments in Structural Equation Modeling. Journal of Marketing Research, 19, 404-416
Kusnendi. 2008. Model-Model Persamaan Struktural. Satu dan Multi-group Sample dengan LISREL. Bandung : Alfabeta.
Miles, J., Banyard, P. 2007. Understanding and UsingStatistics in Psychology A
Practical Introduction. London : SAGE Publications Ltd
Neuroticism and Extraversion in Youth Predict Mental Wellbeing and Life Satisfaction 40 Years Later, Catharine R Gale,1,2 Tom Booth,2 René Mõttus,2,3 Diana Kuh4, Ian J Deary.
Ostir, G. V., Markides, K. S., Black, S. A., & J. s. (2000). Emotional well being predicts subsequent functional independence and survival. Journal of the American geriatries Society, 48(5), 473-478.
Ryff, C. D. (1995). Psychological well-being in adult life. Current Directions in Psychological Science, 57(6), 99-104.
Sumintono, B, Widhiarso, W. 2013. Aplikasi Model Rasch Untuk Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial. Cimahi: Trim Komunikata.
WHO-Five Well-being Index (WHO-5). accessed 25th March 2009 http://www.who-5.org.
Yusrizal,“Pengujian Validitas Konstruk Dengan Menggunakan Analisis Faktor“,