BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan.
Dengan pendidikan akan membantu manusia untuk mengetahui dan menemui
rahasia alam, mengembangkan fitrah manusia yang merupakan potensi untuk
berkembang. Pendidikan itu untuk membentuk kepribadian dan memahami
ilmu pengetahuan. Manusia sangat membutuhkan pendidikan, mulai dari
dilahirkan ia sudah membutuhkan bantuan. Bantuan itulah awal dari kegiatan
pendidikan. Lain halnya dengan binatang, binatang “mendidik” anaknya
secara insting. Seperti firman Allah dalam QS An-Nahl : 78
Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Tafsir ayat ini menurut Salim Bahreisy dan Said Bahreisy adalah
bahwa Allah SWT menyebut nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang
telah mengeluarkan mereka dari perut ibu-ibu mereka dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu. Kemudian kepada mereka diberikan indera pendengaran
untuk menangkap suara-suara, indera penglihatan untuk melihat benda-benda
membedakan hal-hal yang baik dan buruk, yang bermanfaat atau yang
bermudharat. Indera-indera ini diberikan kepada manusia secara bertahap,
makin tumbuh jasmaninya makin kuatlah penangkapan indera-indera itu
hingga mencapai puncaknya. Adapun tujuan Allah memberikan sarana
penglihatan, pendengaran dan pemikiran kepada manusia itu adalah agar
memudahkan manusia melakukan ibadah dan taat kepada-Nya.
Fungsi diberikannya pendengaran, penglihatan dan hati itu adalah
sebagai alat untuk menghasilkan ilmu kema'rifatan kepada Allah SWT.
Pendengaran berfungsi untuk mendengarkan mauidhah (nasehat tentang agama), penglihatan berfungsi untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah
dan hati berfungsi untuk memikirkan atau mengingat tentang keagungan
Allah SWT.
Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa manusia di lahirkan ke
dunia ini pertama kalinya tidak mengetahui apa-apa. Teori behaviorisme
dalam psikologi beranggapan bahwa manusia bukan baik dan bukan juga
jahat semenjak lahir. Dia adalah tabula rasa, putih seperti kertas.
Lingkunganlah yang memegang peranan membentuk pribadinya.
Manusia diciptakan Allah dilengkapi dengan berbagai kelengkapan
sesuai dengan kebutuhan hidupnya, sehingga ia dapat menata kehidupan di
muka bumi dengan baik. Segala kelengkapan itu bersifat potensial. Melalui
tahapan waktu dan perkembangannya, ia akan mampu hidup mandiri. Setelah
lain dalam menggunakan dan mengembangkan potensinya itu. Untuk
mencapai tahap tertentu dalam perkembangannya, manusia memerlukan
upaya orang lain yang mampu dan rela memberikan bimbingan ke arah
kedewasaan, paling tidak bantuan dari seorang ibu. Contohnya manusia
pertama lahir dengan keadaan yang tidak berdaya dan masih sangat
membutuhkan bantuan dari orang tuanya, dimulai dari menyusui, makan,
minum, cara berbicara, berprilaku, dan untuk berjalanpun manusia
memerlukan beberapa tahapan tidak secara langsung bisa berjalan dengan
lancar hal ini membuktikan bahwa manusia sangat membutuhkan bantuan
dari orang lain. Upaya itu disebut sebagai proses pendidikan. Oleh karena itu,
dalam hal apapun manusia memerlukan pendidikan.
Menurut Nizar (2001 : 84) manusia disebut homo education, yaitu
makhluk yang harus dididik, oleh karena manusia itu dikategorikan sebagai
animal educable, yakni sebagai makhuk sebangsa binatang yang dapat dididik. Karena manusia mempunyai akal, mempunyai kemampuan untuk
berilmu pengeahuan, di samping manusia juga memiliki kemampuan untuk
berkembang dan membentuk dirinya sendiri (self-forming).
Dengan demikian jelaslah bahwa manusia dalam hidpunya
memerlukan pendidikan. Namun pendidikan yang bagaimanakah yang dapat
mengembangkan potensi yang ada pada diri manusia yang telah ia bawa
semenjak lahir. Karena fitrah manusia pada umumnya sama, hanya saja yang
membedakan mereka adalah pendidikan yang mereka dapatkan, sehingga
Menurut Nizar (2001 : 85) ada tiga alasan penyebab awal kenapa
manusia memerlukan pendidikan, yaitu :
pertama, dalam tatanan kehidupan masyarakat, ada upaya pewarisan
nilai kebudayaan antara generasi tua kepada generasi muda, dengan tujuan
agar nilai hidup masyarakat tetap berlanjut dan terpelihara. Nilai-nilai
tersebut meliputi nilai intelektual, seni, politik, ekonomi, dan sebagainya.
Kedua, alam kehidupan manusia sebagai individu, memiliki kecendrungan untuk dapat mengembnagkan potensi-potensi yang ada
dalamdirinyaseoptimal mungkin. Untuk maksud tersebut, manusia perlu suatu
sarana. Saran itu adalah pendidikan.
Ketiga, konvergensi dari kedua tuntutan di atas yang
pengaplikasiannya adalah lewat pendidikan (Nizar, 2001 : 85). Para ahli
pendidikan Muslim pada umumnya sependapat bahwa teori dan praktek
kependidikan Islam harus didasarkan pada konsepsi dasar tentang manusia.
Ada dua implikasi penting dalam hubungannya dengan pendidikan Islam,
yaitu :
1. Karena manusia adalah makhluk yang merupakan resultan dari dua
komponen (materi dan immateri), maka konsepsi itu menghendaki proses
pembinaan yang mengacu kearah realisasi dan pengembangan
komponen-komponen tersebut. Sistim pendidikan Islam harus dibangun diatas konsep
terpuji secara moral.
2. Al-quran menjelakan bahwa fungsi penciptaan manusia di alam ini adalah
sebagai khalifah dan ‘abd. Untuk melaksanakan tugas ini Allah membekali dengan seperangkat potensi. Dalam konteks ini, maka pendidikan harus
merupakan upaya yang ditujukan ke arah pengembangan potensi yang
dimiliki manusia secara maksimal sehingga dapat diwujudkan dalam
bentuk konkrit, dalam arti berkemampuan menciptakan sesuatu yang bermamfaat bagi diri, masyarakat dan lingkungannya sebagai realisasi
fungsi dan tujuan penciptaannya, baik sebagai khalifah maupun ‘abd.
Kedua hal di atas harus menjadi acuan dasar dalam menciptakan dan
mengembangkan sistem pedidikan Islam masa kini dan masa depan.
Fungsionalisasi pendidikan Islam dalam mencapai tujuannya sangat
bergantung pada sejauh mana kemampuan umat Islam menterjemahkan dan
merealisasikan konsep filsafat penciptaan manusia dan fungsi penciptaannya
dalam alam semesta ini. Untuk menjawab hal itu, maka pendidikan Islam
dijadikan sebagai sarana yang kondusif bagi proses transformasi ilmu
pengetahuan dan budaya Islami dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dalam konteks ini dipahami bahwa posisi manusia sebagai khalifah dan ‘abd
menghendaki program pendidikan yang menawarkan sepenuhnya penguasaan
ilmu pengetahuan secara totalitas, agar manusia tegar sebagai khalifah dan
Pendidikan merupakan gejala dan kebutuhan manusia. Dalam artian
bahwa bilamana anak tidak mendapatkan pendidikan, maka mereka tidak
akan menjadi manusia sesungguhnya, dalam artian tidak sempurna hidupnya
dan tidak akan dapat memenuhi fungsinya sebagai manusia yang berguna
dalam hidup dan kehidupannya. Hanya pendidikanlah yang dapat
memanusiakan dan membudayakan manusia (Zuhairini, 2004 : 92).
Untuk mengembangkan potensi/kemampuan dasar, maka manusia
membutuhkan adanya bantuan dari orang lain untuk membimbing,
mendorong, dan mengarahkan agar berbagai potensi tersebut dapat
bertumbuh dan berkembang secara wajar dan secara optimal, sehingga
kehidupannya kelak dapat berdaya guna dan berhasil guna. Dengan begitu
mereka akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan dapat menyesuaikan
diri dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
(Zuhairini, 2004 : 93).
Lingkungan fisik yaitu lingkungan alam, seperti keadaan geografis,
iklim dan lainnya. Sedangkan lingkungan sosial ialah lingkungan yang berupa
manusia-manusia yang ada di sekitar anak, yang berinteraksi dengan mereka,
seperti orang tua, saudara dan tetangga. (Zuhairini, 2004 : 94).
Dari beberapa penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan, bahwa
fitrah yang dibawa oleh setiap manusia semenjak ia lahir harus dikembangkan
dengan pendidikan. Karena sifata manusia yang yang selalu membutuhkan
orang lain untuk perubahan dan perbaikan dirinya. Dan juga perkembangan
manusia terdapat suatu kebutuhan-kebutuhan. Untuk memenuhi kebutuhan
tersebut maka perlu adanya bantuan dari orang laian tersebut. Sehingga
kebutuhan-kebutuhan tersebut terpenuhi (Zuhairini, 2004 : 94).
Dari uraian di atas maka peneliti menyimpulkan untuk meningkatkan
kualitas hidup, manusia memerlukan pendidikan, baik pendidikan yang
formal, informal maupun nonformal. Pendidikan merupakan bagian penting
dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan
makhluk hidup lainnya. "Hewan" juga belajar, tetapi lebih ditentukan oleh
instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan
menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak
menerima pendidikan dari orang tuanya dan manakala anak-anak ini sudah
dewasa dan berkeluarga, mereka akan mendidik anak-anaknya. Begitu juga di
sekolah dan perguruan tinggi, para siswa dan mahasiswa diajar oleh guru dan
dosen.
Pendidikan pada manusia di mulai semenjak manusia itu di lahir kan
kedunia
Artinya: "Setiap anak yang dilahirkan ke dunia itu dalam keadaan suci. Hanya kedua orang tuanyalah yang membuat anak itu menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi". (HR. Muslim).
Dari hadist di atas dapat dipahami bahwa manusia di lahirkan ke
dunia ini pertama kalinya tidak mengetahui apa-apa. Teori behaviorisme
jahat semenjak lahir. Dia adalah tabula rasa, putih seperti kertas .maka
pendidikan lah yang memegang peranan membentuk pribadinya.
Dengan demikian, pendidikan merupakan faktor yang sangat
menentukan kepribadian manusia, potensi jasmaniah dan rohaniah tidak secara otomatis tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, tetapi
membutuhkan adanya bimbingan, arahan dan pendidikan.
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa Manusia adalah makhluk
yang paling sempurna diantara mahkluk yang lain ciptaan Allah SWT salah
satu kelebihan yang di miliki oleh manusia ialah manusia diberi akal pikiran
dan nafsu yang tidak dimiliki oleh malaikat, jin dan binatang. Dengan akal ini
lah diharapkan manusia bisa menggelola bumi ini dengan baik, untuk
melakukan tugas yang berat tersebut maka manusia membutuhkan ilmu
pengetahuan, hal inilah yang menyebabkan manusia menjadi objek
pendidikan, atau mahluk yang membutuhkan pendidikan.
Sudah beberapa tahun memasuki milenium baru, yakni milenium
ketiga. Sebelum memasuki milenium sekarang atau era ini sering juga disebut
era globalisasi. Era globalisasi Ini terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya teknologi informasi dan
komunikasi (ITC), yang hasilnya sudah dapat dinikmati oleh umat manusia
yang tidak terbatas hanya golongan saja, tetapi oleh semu lapisan.
Perkembangan ITC yang begitu cepat membuat dunia kita sekarang
berkomunikasi dengan saudara-saudara kita yang ada di negera-negara lain.
Apa yang terjadi di dunia luar dapat dengan cepat kita saksikan beritanya di
tempat kita. Dengan semakin mudahnya kita mengakses berita dan data
melalui internet, maka kita semakin mudah dan cepat memperoleh apa yang
kita inginkan.
Berbagai aspek kehidupan umat manusia dapat dengan mudah kita
lihat melalui berbagai media baik media cetak maupun media elektronika.
Dari sini dapat terlihat bahwa sebagian besar negara di dunia sekarang
mengalami kemajuan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial-budaya.
Dari berbagai penjelasan di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), khususnya
teknologi informasi dan komunikasi (ITC), itu adalah karya dari manusia
yang sudah berpendidikan.
Dengan demikian, pendidikan Islam merupakan faktor yang sangat
menentukan kepribadian manusia, potensi jasmaniah dan rohaniah tidak secara otomatis tumbuh dan berkembang dengan sendirinya, tetapi
membutuhkan adanya bimbingan, arahan, dan pendidikan dan dapat di
simpulkan bahwa manusia adalah makhluk pendidikan yang dapat mendidik
maupun dididik.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik mengadakan
penelitian dengan judul “manusia sebagai makhluk pendidikan dalam
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka penulis memmbuat rumusan
penelitian yaitu : bagaimanakah manusia sebagai makhluk pendidikan dalam
perspektif pendidikan Islam?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan untuk mengetahui manusia sebagai makhluk
pendidikan dalam perspektif pendidikan Islam.
D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
a. Manfaat penelitian secara teoritis adalah untuk menambah khazanah
keilmuan terutama dalam bidang ilmu pendidikan.
b. Untuk melatih berpikir atas dasar persesuaian antara teori dan praktek
yang hasilnya dibukukan sebagai hasil penelitian.
2. Manfaat Praktis
Memberikan sumbangan pemikiran bagi para pendidik dan juga
masyarakat tentang manusia sebagai makhluk pendidikan dalam perspektif