Implementasi Pendidikan Karakter di Madrasah Aliyah Pesantren Putri Al-mawaddah Ponorogo (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Pesantren Putri Al-mawaddah Ponorogo 2014)

Teks penuh

(1)

1

$QQLVD 5LI¶DWXQ 1RRU $]L]DK Pendidikan Sosiologi Antropologi

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana implementasi pendidikan karakter di Madrasah Aliyah Pesantren Putri Al-Mawaddah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah informan, aktivitas, arsip dan dokumen. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Validitas data menggunakan triangulasi data (sumber) dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Pendidikan karakter merupakan tujuan pendidikan di MA Al-Mawaddah yang tercermin melalui visi dan misi yang disusun. 2) Pendidikan karakter diimplementasikan melalui tiga cara yakni kegiatan di asrama, kegiatan belajar mengajar di kelas serta ekstrakurikuler dan organisasi. 3) Pendidikan karakter di asrama dilakukan melalui pembiasaan, keteladanan dan penerapan disiplin. 4) Pendidikan karakter melalui kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai karakter melalui mata pelajaran yang disampaikan. 5) Pendidikan karakter melalui esktrakurikuler terwujud dalam kegiatan muhadlarah (latihan berpidato), pramuka, ekstrakurikuler kesenian dan keterampilan serta organisasi. Implementasi pendidikan karakter yang dianggap paling efektif adalah melalui kegiatan non formal di luar sekolah yakni melalui kegiatan di asrama, kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi.

Kata kunci: implementasi, pendidikan, karakter

I. PENDAHULUAN

Karakter adalah pedoman bagi bangsa untuk bisa menjadi bangsa yang maju, namun pada saat ini banyak sekali kasus yang mencerminkan kemerosotan moral

dan tidak adanya karakter kuat yang melekat pada diri bangsa Indonesia. Sebagai contoh adalah terjadinya aksi-aksi kekerasan, tawuran antar pelajar, kasus pembunuhan, pencurian, kejahatan seksual, dan

(2)

lain-lain. Dalam dunia pemerintahan, kemerosotan moral ditandai dengan banyaknya kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah. Menurut data dari sebuah organisasi internasional yang bertujuan memerangi korupsi yakni Transparency International (TI, 2013), Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat korupsi tertinggi di dunia. Dikutip dari website resmi lembaga yang bermarkas di Jerman tersebut, per tahun 2013 Indonesia mendapatkan nilai Indeks Persepsi Korupsi / Corruption Perceptions Index (CPI) 32 dari skala 1-100 dan menempati peringkat 114 dari 177 negara sebagai negara terkorup di dunia.

Beberapa bukti yang mencerminkan kemerosotan moral bangsa telah memperlihatkan bahwa pendidikan belum mampu mengubah perilaku warga negara Indonesia menjadi lebih baik. Banyaknya kasus yang mencerminkan kemerosotan moral bangsa Indonesia membuat hal ini menjadi keprihatinan bersama. Hal tersebut diwujudkan melalui program pembangunan dan pendidikan karakter di lembaga

pendidikan. Hal ini dilakukan karena lembaga pendidikan adalah lembaga yang dianggap mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan generasi bangsa yang lebih baik di masa mendatang.

Madrasah Aliyah Pesantren Putri Al-Mawaddah merupakan lembaga pendidikan khusus putri di Ponorogo yang berbentuk pondok pesantren bertipe modern dan menggabungkan antara kurikulum dari pemerintah serta kurikulum dari Pondok Modern Darussalam Gontor. Selain itu Madrasah Aliyah Pesantren Putri Al-Mawaddah juga menawarkan program asrama, dimana pembelajaran dilakukan dari pagi hingga sore hari dan dilanjutkan kegiatan rutin di asrama sehingga seluruh kegiatan siswi atau santriwati akan selalu terawasi dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis berinisiatif untuk mengadakan penelitian dengan judul: ³,03/(0(17$6, 3(1',',.$1

KARAKTER DI MADRASAH

ALIYAH PESANTREN PUTRI AL-MAWADDAH PONOROGO (Studi Kasus di Madrasah Aliyah Pesantren

(3)

Putri Al-Mawaddah Ponorogo ´

II. KAJIAN PUSTAKA A. Pendidikan

Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia. Berbagai pengertian pendidikan telah diungkapkan oleh sejumlah pakar pendidikan. Menurut Hasan Langgulung ³3HQGLGLNDQ (education) dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa /DWLQ µeducare¶ EHUDUWL PHPDVXNNDQ VHVXDWX´

4). Pengertian pendidikan juga telah tercantum dalam undang-undang tentang pendidikan di Indonesia yakni dalam Undang-Undang SISDIKNAS No. 20 tahun 2003 Bab 1 Pasal 1 disebutkan bahwa:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan merupakan sebuah usaha

sadar dan terencana untuk membimbing dan mengasuh serta menanamkan nilai-nilai tertentu ke dalam kepribadian peserta didik. Pendidikan dilakukan dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam peserta didik agar menjadi manusia yang berguna, baik bagi dirinya, orang-orang di sekitarnya dan bagi kemajuan bangsa dan negara.

B. Karakter

Dalam bahasa Yunani karakter berasal dari kata charassein yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Sementara itu dalam bahasa Inggris digunakan istilah character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter. Sementara itu, pengertian karakter dari segi istilah (terminologis) telah banyak diungkapkan para pakar. Simon Philips (2008) sebagaimana yang GLNXWLS ROHK )DWFKXO 0X¶LQ mengungkapkan bahwa karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan SHULODNX \DQJ GLWDPSLONDQ 0X¶LQ 2011: 160).

(4)

C. Pendidikan Karakter

Menurut Kementerian Pendidikan Nasional (2010: 4) pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan karakter bangsa pada diri peserta didik sehingga mereka memiliki nilai dan karakter sebagai karakter dirinya, menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan dirinya, sebagai anggota masyarakat, dan warga negara yang religius, nasionalis, produktif dan kreatif. Lickona (1991) dalam buku Konsep dan Model Pendidikan Karakter mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang sungguh-sungguh untuk membantu seseorang memahami, peduli dan bertindak dengan landasan inti nilai-nilai etis. Secara sederhana (Lickona 1994) mendefinisikan pendidikan karakter sebagai upaya yang dirancang dengan sengaja untuk memperbaiki karakter para siswa (Samani dan Hariyanto, 2013: 46).

Dari berbagai pengertian tersebut, maka pendidikan karakter adalah sebuah usaha sadar dan terencana untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter

yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal ini dilakukan kepada peserta didik agar peserta didik mampu memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam perilaku sehari-hari sebagai anggota masyarakat dan sebagai warga negara.

D. Urgensi Pendidikan Karakter Wacana pendidikan karakter kembali mencuat setelah banyaknya potret kehidupan di Indonesia yang mencerminkan kemerosotan moral dan menumbuhkan rasa prihatin bagi berbagi kalangan. Pendidikan karakter ditekankan untuk mengatasi masalah yang ada di hampir seluruh sektor kehidupan masyarakat di Indonesia.

Intisari tujuan pendidikan karakter sebagaimana terdapat dalam Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Karakter yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional adalah sebagai berikut:

1) Mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, dan berperilaku baik

2) Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur

(5)

3) Meningkatkan peradapan bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia (Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2011).

E. Penelitian yang Relevan

Penelitian sejenis yang pernah dilakukan antara lain yang pertama adalah penelitian dari Mujahid Wahyu dari Universitas Sebelas Maret Surakarta tahun 2011 yang berjudul Implementasi Pendidikan Karakter di SMK Ngawi (Studi Kasus di SMK Widodaren Ngawi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di SMK Widodaren Ngawi paham tentang latar belakang, tujuan, dan bagaimana mengimplementasikan pendidikan karakter di sekolah, siswa paham tentang latar belakang dan tujuan implementasi pendidikan karakter, pendidikan karakter diimplementasikan melalui dua jalur yakni ko-kurikuler dan ekstrakurikuler.

Penelitian kedua adalah penelitian Ridwan Vendi Anggara dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2014 yang berjudul Implementasi Pendidikan Akhlak

Sistem Boarding School dan Fullday School di SMP IT Abu Bakar Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak pada siswa di SMP IT Abu Bakar Yogyakarta umumnya dilakukan melalui 3 hal yaitu 1) konsep keterpaduan, 2) pendekatan akhlak yang built-in dalam setiap pelajaran maupun kegiatan dan independen sebagai pelajaran tersendiri, 3) pertauran yang berlandaskan pada AL-4XU¶DQ danAs-Sunnah. Selain itu disebutkan pula faktor pendukung dan penghambat dari sistem pendidikan akhlak di SMP IT Abu Bakar Yogyakarta.

Penelitian yang ketiga berjudul Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Pondok Pesantren dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Ali Maksum Yogyakarta yang dilakukan oleh Purwanti dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pendidikan karakter berbasis pondok pesantren dilaksanakan oleh peserta didik secara terus menerus dan

(6)

berkelanjutan melalui kegiatan sehari-hari dalam lingkungan yang kondusif. Hal ini dilakukan untuk menanamkan dan mengembangkan serta membentuk karakter yang islami. Selain itu telah disebutkan pula beberapa faktor yang mendukung dan menghambat implementasi pendidikan berbasis pondok pesantren di SMP Ali Maksum Yogyakarta.

F. Kerangka Berpikir

Karakter menjadi sesuatu yang sangat penting dalam diri manusia dan berdampak pada kehdiupan berbangsa dan bernegara. Minimnya pendidikan karakter yang dilakukan oleh keluarga, sekolah dan lingkungan tercermin dengan masih banyaknya kejahatan baik kejahatan fisik atau kejahatan moral yang terjadi di Indonesia. Tawuran antar pelajar, perampokan, pembunuhan dan korupsi menjadi keprihatinan bagi lembaga pendidikan sebagai lembaga yang mempersiapkan generasi muda bangsa Indonesia.

Pendidikan karakter menjadi perhatian khusus bagi lembaga pendidikan formal di sekolah untuk kemudian diterapkan di kurikulum

dan seluruh mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Namun, pendidikan karakter di sekolah dirasa belum cukup untuk menanamkan prinsip dan karakter yang kuat dalam diri individu. Keterbatasan waktu di sekolah menjadi salah satu penyebab dimana pihak sekolah tidak memungkinkan untuk melakukan pengawasan secara penuh kepada siswanya setiap hari.

Sebagai salah satu pondok pesantren yang berasrama, Madrasah Aliyah Pesantren Putri Al-Mawaddah dinilai mampu untuk mengatasi masalah keterbatasan pengawasan baik dari sekolah maupun dari orang tua. Dengan adanya sistem asrama pengawasan dapat dilakukan secara optimal dari mulai bangun tidur hingga tidur kembali.

III. Metodologi Penelitian Metodologi yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kualitatis deskriptif. Subjek dalam penelitian ini adalah pengurus sekolah, pengurus pesantren, guru dan siswa. Teknik pengumpulan data yang

(7)

digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Validitas data menggunakan triangulasi data (sumber) dan metode. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

IV. Hasil Penelitian

Pendidikan karakter merupakan tujuan pendidikan di MA Al-Mawaddah yang tercermin melalui visi dan misi yang disusun. Visi dan misi tersebut kemudian dijabarkan melalui peraturan dan program-program yang disusun khusus untuk menanamkan pendidikan karakter atau akhlak melalui segala kegiatan yang ada.

Secara garis besar, pendidikan karakter di MA Al-Mawaddah diimplementasikan melalui tiga cara yakni:

A. Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan di Asrama

Asrama merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan apabila berbicara mengenai pesantren.

Asrama merupakan tempat tinggal santriwati selama menuntut ilmu di suatu pesantren. Di Madrasah Aliyah Al-Mawaddah, selain asrama yang merupakan pengganti rumah, terdapat pula ustadzah pendamping santri yang berperan sebagai pengganti orang tua. Salah satu hal yang mencerminkan pendidikan karakter di pesantren adalah disiplin. Segala kegiatan di pesantren berdasarkan aturan dan tata tertib yang harus ditaati oleh seluruh santriwati.

Salah satu kegiatan yang wajib dilakukan santriwati adalah VKRODW EHUMDPD¶DK OLPD ZDNWX 6KRODW EHUMDPD¶DK GLODNXNDQ GL masjid pesantren. Kegiatan sholat EHUMDPD¶DK GLWXMXNDQ XQWXN membentuk karakter disiplin dalam beribadah.

Disiplin merupakan karakter yang sangat identik dengan pesantren. Kedisiplinan merupakan karakter yang pertama kali diajarkan ketika menjadi santriwati. Baik disiplin waktu, disiplin ibadah, disiplin

(8)

dalam belajar maupun disiplin dalam penggunaan bahasa asing. Kegiatan di asrama berada dalam pengawasan dan tanggungjawab Bagian Pengasuhan.

B. Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah

Pendidikan karakter atau pendidikan akhlak dalam kegiatan belajar mengajar diintegrasikan melalui mata pelajaran yang disampaikan oleh guru. Sebelum penerapan kurikulum 2013 yang memasukkan nilai-nilai karakter, Madrasah Aliyah Al-Mawaddah telah menerapkan pendidikan karakter sejak lama.

C. Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler dan Organisasi

Ekstrakurikuler yang ada di Madrasah Aliyah Al-Mawaddah yakni muhadlarah, pramuka dan ekstrakurikuler lain yang mencakup kesenian, bahasa dan lain-lain. Berbeda dengan sekolah pada umumnya, ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh

seluruh santriwati Al-Mawaddah. Ekstrakurikuler dilakukan di luar jam sekolah yakni antara jam

14.00-15.30 WIB.

Ekstrakurikuler dilaksanakan dalam enam hari yakni hari Sabtu hingga hari Kamis.

Santriwati tingkat Madrasah Aliyah dilatih untuk terjun dalam organisasi sejak kelas IV/X. Santriwati yang duduk di kelas IV akan menjadi pengurus kamar yang memimpin adik-adik kelasnya. Sementara kelas V/XI akan menjadi pengurus OSWAH (Organisasi Santriwati Al-Mawaddah).OSWAH merupakan pelaksana tugas dari Bagian Pengasuhan yang bertanggung jawab atas keberjalanan peraturan dan tata tertib di Pesantren Putri Al-Mawaddah. Selain itu ada pula KOORDINATOR yang bertugas untuk mengorganisir kegiatan ekstrakurikuler pramuka.

Dari ketiga cara implementasi pendidikan karakter yang telah disebutkan, cara yang dianggap paling efektif adalah melalui kegiatan non formal di luar sekolah

(9)

yakni melalui kegiatan di asrama dan juga kegiatan ekstrakurikuler maupun organisasi. Hal ini karena implementsi pendiidikan karakter melalui ekstrakurikuler, organisasi dan kegiatan di asrama menuntut santriwati untuk aktif dan terjun langsung, belajar memahami serta menangani masalah, dan melatih mental, tanggung jawab, percaya diri dan keberanian

V. Pembahasan

Pendidikan karakter yang baik menurut Thomas Lickona (2013) mencakup tiga komponen yakni moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral, dan moral action atau perbuatan moral. Pendidikan karakter yang baik akan mencakup ketiga hal tersebut dalam pelaksanaannya. Ketiga komponen tersebut merupakan sebuah proses untuk menuju karakter yang baik yang akan tertanam dalam diri seseorang.Terdapat banyak metode yang telah dirumuskan oleh para ahli tentang bagaimana menyukseskan pendidikan karakter pada anak. Mulyasa (2012: 165-189)

mengungkapkan tentang model pembelajaran berkarakter yang diterapkan oleh sekolah terhadap peserta didiknya sebagai berikut: 1. Pembiasaan

2. Keteladanan

3. Pembinaan disiplin peserta didik 4. CTL (Contextual Teaching and

Learning)

5. Bermain peran dan 6. Pembelajaran partisipatif

Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis pesantren, asrama merupakan salah satu elemen yang ada di Madrasah Aliyah Al-Mawaddah. Dari keenam model pembelajaran berkarakter yang dirumuskan oleh Mulyasa, pembiasaan, keteladanan, dan pembinaan disiplin merupakan model yang diterapkan di asrama Madrasah Aliyah Al-Mawaddah.

Pembiasaan, keteladanan dan penerapan disiplin juga diterapkan di lingkungan sekolah. Selain itu, penanaman nilai-nilai karakter dilakukan melalui kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Penanaman nilai-nilai karakter melalui kegiatan belajar mengajar dilakukan dengan bervariasi. Sebagian guru

(10)

menggunakan metode seperti ceramah untuk memberi nasehat kepada anak-anak. Hal ini dilakukan dengan memasukkan unsur-unsur nilai karakter melalui materi pelajaran yang diberikan.

Namun terkadang metode pembelajaran yang variatif kurang bisa diterapkan pada materi pelajaran pondok dimana metode ceramah merupakan metode yang paling sering digunakan dalam menyampaikan materi tersebut.

Teori pendidikan karakter Thomas Lickona apabila dikaitkan dengan model pendidikan karakter yang diungkapkan oleh Mulyasa (2012) yakni pembiasaan, keteladanan dan penerapan disiplin, maka penerapan model tersebut dalam pendidikan akan mampu menanamkan moral knowing, moral feeling dan moral action tersebut ke dalam diri peserta didik. Sehingga hal tersebut akan memunculkan karakter yang baik (good character).

Pendidikan karakter di Madrasah Aliyah Al-Mawaddah Ponorogo yang menggunakan model pembiasaan, keteladanan, dan juga penerapan disiplin baik di sekolah

maupun di asrama merupakan salah satu usaha untuk membentuk karakter yang baik. Penggunaan model pendidikan karakter tersebut ditujukan untuk membentuk moral knowing, moral feeling dan moral action secara berproses dalam diri santriwati.

VI. Simpulan dan Saran

Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan analisis data penelitian, maka diperoleh kesimpulan bahwa pendidikan karakter merupakan tujuan dari MA Al-Mawaddah Ponorogo yang tercantum dalam visi dan misi yang telah disusun. Sebagai lembaga pendidikan khusus putri MA Al-Mawaddah Ponorogo menekankan pada pendidikan karakter yang akan membentuk santriwati alimah-sholihah, berbudi tinggi, berpengetahuan luas sesuai dengan asas-asas keislaman. Selain itu lulusan diharapkan dapat menjadi calon ibu yang berakhlak mulia dan dapat menjadi pendidik bagi keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.

Implementasi pendidikan karakter dilakukan melalui tiga cara

(11)

yakni melalui kegiatan diasrama, kegiatan belajar mengajar di sekolah serta ekstrakurikuler dan organisasi. Model pembiasaan, keteladanan, penerapan disiplin dan pembelajaran variatif menjadi metode yang digunakan dalam implementasi pendidikan karakter di MA Al-Mawaddah Ponorogo. Penerapan pendidikan karakter dinilai sudah cukup baik namun belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari beberapa masalah yang mucul antara penerapan disiplin yang tidak optimal karena faktor keteladanan yang kurang dan model pembelajaran yang kurang variatif di dalam kelas.

Saran yang dapat diberikan antara lain:

1. Bagi Ustadzah Pembimbing di asrama Madrasah Aliyah Al-Mawaddah

a. Ustadzah pembimbing di asrama harus bisa menjadi teladan bagi santriwati misalnya dengan mengikuti VKRODW EHUMDPD¶DK bersama dengan santriwati di masjid. b. Ustadzah pembimbing harus

mengetahui kondisi

santriwati. Hal ini dapat dilakukan dengan mengecek kondisi santriwati melalui koordinasi atau pertemuan rutin dengan OSWAH maupun pengurus kamar. 2. Bagi Madrasah Aliyah

Al-Mawaddah

a. Pihak sekolah dapat mengadakan seminar atau pelatihan tentang metode pembelajaran variatif dan inovatif bagi guru terutama untuk mata pelajaran pondok. b. Guru harus bisa memberi teladan yang baik dalam setiap perbuatan maupun perkataan seperti masuk kelas tepat waktu, berpakaian rapi, serta bertutur kata yang baik. 3. Bagi santriwati Madrasah Aliyah

Al-Mawaddah

a. Santriwati diharapkan dapat mengikuti semua kegiatan yang ada di pesantren untuk mendapatkan berbagai pengalaman yang berguna. b. Santriwati harus selalu

disiplin dengan peraturan dan tidak melakukan pelanggaran terhadap tata tertib yang

(12)

berlaku.

4. Bagi masyarakat dan pembaca a. Suatu hal yang baik dapat

dimulai dari hal yang paling kecil yakni diri sendiri. Hal yang dapat dilakukan adalah berniat dan berbuat baik dimulai dari diri sendiri dan orang-orang terdekat seperti teman dan keluarga.

b. Masyarakat dan pembaca dapat menciptakan situasi yang kondusif dalam lingkungan dengan berperilaku baik sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku.

Daftar Pustaka

H.B. Sutopo. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: UNS Press

Huberman, A & Miles, B. 1992. Analisis Data Kualitatif. Penerjemah: Rohendi Rohidi. Jakarta: UI Press

Kemendiknas. 2010. Pengembangan Pendidikan dan Karakter Budaya Bangsa. Jakarta Langgulung, Hasan. 1988. Asas-Asas

Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna

Lickona, Thomas. 2013. Pendidikan Karakter Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar dan Baik. Terj. Lita S. Bandung: Nusa Media

Moleong, Lexy. J. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif.

Bandung: Remaja

Rosdakarya

0X¶LQ )DWFKXO Pendidikan Karakter Konstruksi Teoretik dan Praktik Urgensi Pendidikan Progresif dan Revitalisasi Peran Guru dan Orang Tua. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media

Mulyasa. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: PT. Bumi Aksara

Samani, M & Hariyanto. 2013. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta Transparency Intyernational. Corruption by Country/Territory. Diperoleh 25 Mei 2014, dari http://www.transparency.org/ country#IDN

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...