PEDOMAN TEKNIS
PENGEMBANGAN RUMAH KOMPOS
TA. 2009
DIREKTORAT PENGELOLAAN LAHAN
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN LAHAN DAN AIR
DEARTEMEN PERTANIAN JAKARTA, JANUARI 2009
KATA PENGANTAR
Maksud dan tujuan penerbitan Pedoman Pengembangan Rumah Kompos Tahun 2009 ini dalam rangka memberikan acuan dan panduan bagi para petugas Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura baik Propinsi, Kabupaten/ Kota maupun Petugas lapangan untuk melaksanakan kegiatan Pengembangan Rumah Kompos yang dananya bersumber baik dari dana APBN maupun APBD tahun 2009. Para petugas terkait diharapkan dapat mempelajari dan mencermati pedoman ini dengan seksama. Dengan memahami Pedoman Teknis ini, diharapkan tidak akan terjadi keragu raguan dalam implementasi kegiatan di lapangan serta kendala/ hambatan yang ada akan dapat diatasi yang pada akhirnya kinerja yang diperoleh dapat tercapai secara optimal. Muatan pedoman teknis ini bersifat umum karena berlaku secara nasional oleh karenanya diharapkan pihak Dinas Pertanian Propinsi dapat menerbitkan Petunjuk Pelaksanan dan Dinas Pertanian Kabupaten serta dapat menerbitkan Petunjuk Teknis yang akan menjabarkan secara lebih rinci Pedoman Teknis ini sesuai dengan kondisi spesifik daerah masing masing.
Untuk meningkatkan pemahaman petuga terhadap Pedoman Teknis ini, sangat diharapkan dalam berbagai kesempatan yang ada (misalnya acara sosialisasi, rapat koordinasi, rapat teknis, supervisi, dsbny), pedoman teknis ini dapat didiskusikan bersama secara intensif. Dengan demikian diharapkan semua pihak terkait baik Pusat dan Daerah dapat memiliki ksamaan pandang, gerak dan langkah dalam melaksanakan kegiatan ini.
Akhirnya sangat diharapkan komitmen berbagai pihak untuk dapat melaksanakan kegiatan ini dengan sebaik- baiknya dalam waktu yang telah ditentukan, agar hasil pembangunan melalui kegiatan pengembangan rumah kompos ini benar benar dapat dinikmati manfaatnya bagi sebesar besar kesejahteraan petani di Indonesia.
Jakarta, Januari 2009
Direktur,
Ir. Suhartanto,MM
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv DAFTAR LAMPIRAN ... v I. PENDAHULUAN ... 1 1.1.. Latar belakang ... 1 1.2. Tujuan ... 3 1.3. Sasaran ... 4 1.4. Pengertian ... 4
II. RUANG LINGKUP KEGIATAN ... 7
III. SPESIFIKASI TEKNIS ... 8
3.1. Rumah kompos ... 9
3.2. Pengadaan sarana penunjang ... 8
3.3. Pelatihan ... 11
IV. PELAKSANAAN KEGIATAN ... 13
4.1. Cara pelaksanaan ... 13
4.2. Tahapan pelaksanaan ... 14
4.3. Jadwal kegiatan ... 20
4.4. Pendanaan... 22
4.5. Pengelolaan rumah kompos... 24
V. PEMBINAAN, MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN ... 26
5.1. Tugas dan tanggung jawab Dinas Propinsi………..………. 26
5.2. Tugas dan tanggung jawab Dinas Kab/Kota ……….………. 27
5.3. Jenis dan format laporan... 28
5.4. Alur laporan ………. 29
5.5. Format monitoring ... 30
VI. INDIKATOR KINERJA ... 32
6.1. Indikator keluaran (output)... 32
6.2. Indikator keberhasilan (outcomes)... 32
6.3. Indikator manfaat (benefit) ... 29
DAFTAR GAMBAR
Gambar
1. Contoh rumah kompos Deptan ... 9
2. Alat Pengolah Pupuk Organik Skala Besar ... 10
3. Contoh kendaraan roda 3 Rumah Kompos
Deptan ... 10
4. Contoh pelatihan operasional dan
Pembuatan kompos ... 12
5. Contoh MOL sayuran, bonggol pisang dll. ... 19
6. Contoh bak fermentasi dari anyaman
Bambu ... 20
7. Contoh kompos produksi rumah kompos
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Alokasi anggaran dana TP rumah kompos ... 35
2. Contoh rancangan teknis rumah kompos ... 37
3. Jadwal kegiatan pengembangan rumah kompos . 39
4. Contoh format laporan bulanan ... 40
5. Skoring pembobotan kegiatan pengembangan
Rumah kompos ... 41
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hampir dua dekade terakhir, kenaikan produksi padi sudah tidak sebanding lagi dengan kenaikan harga pupuk, laju kenaikan produktivitas menurun dan terjadi gejala kejenuhan reproduksi atau leveling off, hal ini merupakan petunjuk menurunnya efisiensi pupuk.
Penurunan efisiensi pupuk berkaitan erat dengan faktor tanah dimana telah terjadi kemunduran kesehatan tanah baik secara kimia, fisik maupun biologi sebagai akibat pengelolaan tanah yang kurang tepat. Keadaan ini terjadi di lahan sawah, lahan kering dan lahan rawa yang diusahakan secara intensif dan pengelolaannya tidak tepat dimana seluruh panen diangkut termasuk seresah/ sisa panen (jerami). Padahal sisa panen tersebut merupakan bahan organik yang sangat bermanfaat dan merupakan kunci utama bagi kesehatan tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi.
Salah satu cara yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas kesuburan lahan pada lahan sawah, lahan
kering dan lahan rawa adalah mengembalikan sisa hasil tanaman/ jerami ke dalam tanah sebagai bahan organik dalam bentuk kompos, dan tidak membakar atau membawa sisa hasil tnaman/ jerami keluar dari lahan.
Proses pembuatan sisa hasil tanaman/ jerami menjadi pupuk organik secara manual memerlukan waktu sekitar 5 minggu, dengan bantuan alat pemotong dan penghancur sisa hasil tanaman/jerami waktu pembuatan kompos dapat dipersingkat menjadi 1 minggu. Untuk melakukan proses pengomposan tersebut diperlukan juga tempat untuk mengolah bahan organik, berupa bangunan sederhana yang dilengkapi alat pengangkutan roda tiga.
Sehubungan dengan hal tersebut, untuk mendukung upaya perbaikan kualitas kesuburan lahan melalui penyediaan pupuk organik, maka Direktorat Pengelolaan Lahan pada Tahun Anggaran 2009, melakukan fasilitasi kegiatan pengembangan rumah kompos yang pada tahap awal difokuskan pada wilayah sentra produksi padi dan produksi hortikultura.
1.2. Tujuan
Tujuan pedoman teknis Pengembangan Rumah Kompos adalah untuk memberikan acuan dan masukan kepada Dinas Pertanian di Kabupaten/Kota, dalam melaksanakan kegiatan teknis rumah kompos yang sesuai dengan keadaan wilayah, sosial dan ekonomi masyarakat setempat dan ketersediaan dana sehingga dapat memberikan manfaat bagi para petani di lokasi tersebut.
Tujuan kegiatan pengembangan rumah kompos adalah :
1. Memberdayakan kelompok tani untuk memanfaatkan jerami dan limbah organik lainnya sebagai bahan pembuatan kompos menggunakan APPO, untuk memperbaiki kesuburan lahannya
2. Sebagai pusat/ pembelajaran bagi masyarakat
petani,
3. Memasyarakatkan penggunaan pupuk organik
4. Sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi
kelangkaan dan tingginya harga pupuk anorganik, sehingga dapat mengurangi beban subsidi pemerintah.
1.3. Sasaran
Sasaran kegiatan pengembangan rumah kompos difokuskan pada daerah sentra produksi padi terutama yang telah melaksanakan pengembangan System Rice of Intensification (SRI) dan lokasi sentra produksi hortikultura sebanyak 65 unit yang tersebar di 49 kabupaten dan 8 propinsi. Secara rinci dapat
dilihat pada Lampiran 1.
1.4. Pengertian
a. Rumah kompos adalah bangunan yang berfungsi untuk memproses pengomposan sisa hasil tanaman/ jerami/ limbah kotoran ternak menjadi pupuk organik/ kompos dan dilengkapi dengan alat pengolah pupuk organik, kendaraan roda tiga dan dekomposer.
b. Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah cairan yang terbuat dari bahan- bahan alami yang disukai tanaman sebagai media hidup dan berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk mempercepat penghancuran bahan bahan organik (proses dekomposisi menjadi kompos/ pupuk organik). Disamping itu juga dapat
tumbuhan yang sengaja dikembangkan dari mikro organisme yang berada di tempat tersebut.
c. Bahan organik adalah semua bahan yang berasal dari mahluk hidup yang secara alami dapat di hancurkan jasad renik (mikroba) di alam. Contoh bahan organik adalah seresah tanaman, sisa hasil panen, kotoran ternak/ limbah ternak.
d. Pupuk organik/ kompos adalah pupuk yang sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses dekomposisi, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan organik, memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biolog tanah.
e. Pengomposan adalah proses alami dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis khususnya oleh mikroba mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi.
f. Persyaratan mutu pupuk organik adalah C/N Rasio 10-25 % sebagaimana persyaratan teknis minimal yang ditetapkan oleh Menteri Pertanian Nomor : 02/Pert/HK.060/2/2006.
g. Manager adalah orang yang memiliki kapabilitas untuk mengelola rumah kompos, yang ditunjuk
oleh kelompoktani atas dasar musyawarah dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan dan kelangsungan rumah kompos
h. Operator adalah petugas yang
mengoperasionalkan Alat Pengolah Pupuk Organik di rumah kompos dan bertanggung jawab pada manager.
II. RUANG LINGKUP KEGIATAN
Ruang lingkup kegiatan pengembangan rumah kompos terdiri dari :
2.1. Pembangunan rumah kompos sederhana a. Pengadaan bahan dan material b. Konstruksi rumah kompos
2.2. Pengadaan sarana penunjang
a. Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO) skala besar,
b. Alat Pengangkutan roda 3 c. Dekomposer
2.3. Pelatihan
a. Operasional penggunaan Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO),
b. Pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) c. Pembuatan pupuk kompos (organik)
III. SPESIFIKASI TEKNIS
3.1. Rumah Kompos
a. Norma
Pembangunan rumah kompos diarahkan pada kawasan produksi padi terutama yang telah melaksanakan System of Rice Intensivification (SRI) atau kawasan produksi hortikultura intensif.
b. Standar teknis
Luas tanah minimal 150 m2, terdiri dari :
- Luas bangunan rumah kompos minimal : 8
x 10 meter persegi
- Sisanya untuk lahan dekomposisi
- Instalasi listrik dan air sesuai dengan kebutuhan rumah kompos
c. Kriteria
- Di area lokasi memiliki potensi sumber bahan baku pembuatan kompos, terutama jerami/ limbah panen atau limbah ternak
- Petani secara berkelompok bersedia mengelola rumah kompos secara swadaya
- Kelompoktani bersedia menyediakan lahan untuk rumah kompos dan lahan untuk dekomposisi tanpa ganti rugi tanah
- Terdapat petugas lapangan yang membina para petani secara aktif
Gambar 1 : Contoh rumah kompos Deptan
3.2. Pengadaan Sarana Penunjang
Pengadaan sarana penunjang mengacu kepada spesifikasi teknis sebagai berikut :
a. Alat Pengolah Pupuk Organik (APPO) Skala Besar
- Kapasitas minimal 1.000 kg/jam untuk jerami
atau minimal 1.500 kg/jam untuk bahan organik lainnya.
- Bahan Pisau : Baja kekerasan minimal
54 HRC
- Fungsi : Pencacah, Penghancur dan
‐ APPO : Telah memiliki Test Report dari instansi yang berwenang
- Mesin Penggerak : Engine minimal 10 Hp (ber-SNI )
Gambar 2 Alat Pengolah Pupuk Organik Skala Besar
b. Alat Angkutan Bermotor Roda 3
- Jumlah roda/ ban : 3 (tiga) buah
- Bagian belakang terdapat bak yang dapat berfungsi untuk pengangkutan sisa hasil tanaman atau kompos
c. Dekomposer
- Fungsi dekomposer sebagai bahan utama pembuatan MOL untuk proses dekomposisi bahan organik menjadi kompos, berbentuk padat maupun cair
- Dalam proses pembuatan MOL diperlukan penyediaan drum, ember, bahan baku lokal pembuatan MOL.
3.3. Pelatihan a. Norma
Pelatihan diarahkan kepada kelompoktani pengelola kegiatan pengembangan rumah kompos deserta calon pengurus dan operator APPO.
b. Standar teknis
- Peserta minimal 30 orang
- Materi pelatihan terdiri dari teori dan
praktek antara lain : tata cara mengoperasikan APPO, tata cara pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) dan tata cara pembuatan kompos.
d. Kriteria
- Peserta adalah petani terutama calon manager, calon operator dan para anggota kelompoktani/ penerima bantuan rumah kompos
- Pelatih adalah petugas Dinas Pertanian yang memilki kompetensi dengan kegiatan
Gambar 4 : Contoh pelatihan penggunaan APPO dan pembuatan kompos di Kelurahan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
IV. PELAKSANAAN KEGIATAN
4.1. Cara Pelaksanaan
Mekanisme pelaksanaan pengembangan rumah kompos dilakukan dengan sebesar- besarnya melibatkan partisipasi masyarakat/ petani. (MAK Belanja Lembaga Sosial Lainnya). Dengan mekanisme ini diharapkan dapat ditumbuhkan semangat kebersamaan, rasa memiliki dan melestarikan/ memelihara rumah kompos. Mekanisme pelaksanaan bantuan sosial mengacu kepada Pedoman Umum Bantuan Sosial yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air. Pembangunan fisik rumah kompos dapat dilakukan oleh kelompoktani penerima manfaat yang memiliki pengalaman/ keterampilan mendirikan bangunan. Sedangkan penyediaan sarana penunjang seperti pengadaan APPO, kendaraan roda 3 dan dekomposer dilakukan secara swakelola oleh kelompoktani. Semua komponen kegiatan pengembangan rumah kompos yang direncanakan dan dilaksanakan oleh kelompoktani harus dituangkan dalam RUKK.
Kegiatan pelatihan operasional APPO, pembuatan MOL dan kompos dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota.
4.2. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Jadwal kegiatan ini mepertimbangkan urutan kegiatan, ketersediaan sumberdaya, ketersediaan bahan organik dan lain-lain. Contoh jadwal kegiatan pengembangan rumah kompos
sebagaimana Lampiran 2.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain : 4.2.1. Penyusunan petunjuk pelaksanaan yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Propinsi dilaksanakan pada minggu ke I dan II bulan Januari 2009
4.2.2. Penyusunan petunjuk teknis yang
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten dilaksanakan pada minggu ke III dan IV bulan Januari 2009
4.2.3. Koordinasi dengan instansi terkait
dilaksanakan pada minggu I bulan Pebruari 2009
dilaksanakan pada minggu ke II bulan Pebruari 2009
4.2.5. Inventarisasi Calon Lahan dan Calon Petani (CPCL) dilaksanakan pada minggu III bulan Pebruari 2009
4.2.6. Penetapan lokasi dengan Surat keputusan Kepala Dinas tentang Penetapan lokasi dan petani/ kelompok tani difinitif harus selesai pada bulan minggu IV bulan Maret 2008. 4.2.7. Pembuatan rancangan teknis harus selesai
dilaksanakan pada minggu IV bulan bulan Maret dan minggu ke I bulan April 2009 4.2.8. Musyawarah kelompok tani dilaksanakan
pada minggu II bulan Maret 2009
4.2.9. Pembuatan rekening kelompok tani
selambat lambatnya dilaksanakan pada minggu II dan III bulan Maret 2009
4.2.10. Penyusunan RUKK harus sudah
diselesaikan pada minggu ke IV bulan Maret 2009
4.2.11. Pelaksanaan Fisik Kegiatan terdiri dari
kegiatan transfer dana selesai minggu ke II April, konstruksi rumah kompos diselesakan pada minggu II bulan Juli, sehingga pelatihan penggunaan APPO sudah dapat
diselesaikan pada minggu ke III atau IV Juli 2009.
4.3. Tahapan Pelaksanaan
4.3.1. Penerbitan Juklak dan Juknis
Pedoman teknis ini digunakan sebagai acuan dalam penyusunan petunjuk pelaksanaan oleh Dinas Pertanian Propinsi dan petunjuk teknis oleh Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota.
4.3.2. Koordinasi
Koordinasi dilaksanakan oleh Dinas Pertanian propinsi dengan kabupaten/ kota dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan kegiatan.
4.3.3. Sosialisasi
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mensosialisasikan kegiatan kepada aparat tingkat lapangan, desa dan kecamatan 4.3.4. Inventarisasi calon lokasi dan calon petani
(CLCP)
Inventarisasi calon lokasi dan calon petani dilakukan secara terinci untuk menunjang keberhasilan kegiatan sesua dengan kriteria
Inventarisasi CLCP dilakukan oleh tim/ petugas teknis bersama kelompok tani dan aparat desa setempat, hasilnya dilaporkan kepada Bupati/ Kepala Dinas untuk ditetapkan sebagai lokasi kegiatan.
4.3.5. Penetapan Calon Lokasi dan Calon Petani Berdasarkan hasil inventarisasi calon lokasi dan calon petani/kelompok tani tersebut, Kepala Dinas Pertanian kabupaten/kota menetapkan calon lokasi dan calon kelompoktani pengelola melalui surat keputusan, sehingga dokumen ini digunakan sebagai acuan dalam penetapan pelaksanaan fisik dan pengadaan bahan dan material serta alat dan mesin pertanian.
4.3.6. Pembuatan rancangan teknis
Rancangan teknis bertujuan sebagai acuan dan dasar bagi petani/kelompok tani untuk melaksanakan kegiatan fisik yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Rancangan teknis meliputi suatu informasi sederhana yang menggambarkan :
a. Peta situasi lokasi lahan yang akan di bangun rumah kompos termasuk lahan
sawah dan lahan hortikultura disekitarnya.
b. Peta komponen fisik rumah kompos di lokasi tersebut, seperti letak mesin, gudang, luas bangunan, luas dekomposisi dll.
c. Dimensi bangunan fisik dan penampang melintang bangunan
d. Rencana anggaran biaya yang
diperlukan
Contoh rancangan teknis rumah kompos Departemen Pertanian seperti terlampir. 4.3.7. Musyawarah Kelompok Tani
Pada lokasi dan kelompoktani yang telah ditetapkan dalam kegiatan, perlu dilakukan sosialisasi untuk mendapatkan masukan dan saran agar seluruh rencana kegiatan dapat dipahami dengan benar. Hasil dari pada musyawarah kelompok tani ini dimasukkan dalam RUKK.
4.3.8 Pembuatan Rekening Kelompok
Untuk melaksanakan pencairan dana, maka kelompoktani diwajibkan membuka rekening
4.3.9 Penyusunan RUKK
RUKK atau semacam TOR/proposal sederhana tetapi cukup lengkap dan memadai, disusun melalui musyawarah kelompok tani dan dibimbing oleh tim teknis dan petugas lapangan, dengan substansi RUKK sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Umum Pelaksanaan Bantuan Sosial Ditjen PLA. Contoh penyusunan
RUKK sebagaimana dalam Lampiran 3
4.3.10. Pelaksanaan Fisik Kegiatan
Pelaksanaan fisik kegiatan bangunan rumah kompos harus memperhatikan jarak lokasi dari lahan ke rumah kompos, kesediaan petani secara berkelompok, peralatan yang dipergunakan dan waktu pelaksanaan. a. Penyiapan lokasi
Kegiatan penyiapan lokasi dilaksanakan pada lahan calon lokasi rumah kompos sesuai dengan rancangan teknis.
b. Konstruksi Fisik .
Kegiatan pembuatan rumah kompos didasarkan pada hasil rancangan teknis pelaksanaan pembuatan rumah kompos.
Pelaksanaan fisik kegiatan rumah kompos dinyatakan selesai apabila memperoleh persetujuan tim teknis berdasarkan rancangan teknis yang telah dibuat. Apabila masih dipandang perlu, maka kelompok tani harus memperbaiki pekerjaannya hingga sesuai dengan rancangan teknis.
4.3.11. Penyediaan sarana penunjang
Sarana penunjang yang akan disediakan berupa APPO skala besar, alat angkutan bermotor roda 3 dan dekomposer sebagai bahan pembuatan MOL (drum dll), melalui pengadaan langsung oleh kelompok tani setelah Dinas Pertanian mentransfer dana tersebut ke rekening kelompok tani. Pengadaan sarana penunjang harus bermutu dan memenuhi spesifikasi teknis tersebut diatas, diharapkan atas rekomendasi Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota.
4.3.12. Pelatihan
Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota. Tujuan
kepada kelompoktani, calon manager, calon operator/ tenaga mekanis.
Materi pelatihan antara lain tata cara mengoprasikan APPO, proses pembuatan Mikro Organisme Lokal (MOL) dan pembuatan kompos. Kegiatan ini akan di supervisi oleh petugas pusat Direktorat Pengelolaan Lahan, cq. Sub Direktorat Reklamasi Lahan.
a. Pelatihan penggunaan APPO
Pelatihan diberikan oleh penyedia/ produsen barang APPO, materi pelatihan meliputi komponen- komponen alat, teknik operasional, dan pemeliharaan APPO.
b. Pembuatan MOL
Pelatihan pembuatan MOL diberikan secara sederhana dari bahan bahan alami yang ada di sekitar lokasi, seperti bonggol pisang, rebung bambu, limbah rumah tangga, buah maja, air cucian beras dll. Pelatihan diberikan oleh petugas Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota.
Gambar 5 : Contoh MOL sayuran, bonggol pisang, rebung bambu, dan nasi.
c. Pembuatan kompos
Pelatihan pembuatan kompos sesuai dengan tahapan pembuatan kompos mulai dari penyiapan APPO, penyiapan bahan jerami/ kotoran ternak, penyiapan MOL, pencacahan jerami, penyiapan bak dekomposisi, pematangan kompos dll.
Gambar 7 : Contoh kompos produksi rumah kompos Departemen Pertanian
4.4. Pendanaan
4.4.1. Biaya pelaksanaan kegiatan pengembangan rumah kompos dan pengadaan sarana penunjangnya dialokasikan melalui Dana Tugas Pembantuan di kabupaten/ kota per unit sejumlah Rp. 100.000.000,-, yang dilaksanakan melalui pola bantuan sosial. Prosedur pelaksanaan bantuan sosial mengacu pada Pedoman Pelaksanaan Bantuan Sosial yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal PLA TA. 2009. Secara garis besar komponen pelaksanaan pembangunan rumah kompos terdiri dari :
‐ Pembangunan rumah kompos sejumlah
Rp. 50.000.000,- (50 %)
‐ Pengadaan sarana penunjang seperti
(berupa bahan MOL) sejumlah Rp. 40.000.000,- (40 %)
‐ Pelatihan operasional APPO dan
pembuatan kompos sejumlah Rp. 10.000.000,-. (10 %). Dana ini termasuk biaya supervisi petugas pusat cq. Subdit Reklamasi Lahan, Direktorat Pengelolaan Lahan Ditjen PLA.
4.4.2. Dana APBD Kabupaten/ Kota
Digunakan untuk membiayai kegiatan pertemuan koordinasi, CLCP, rancangan teknis, pembinaan, monitoring, evaluasi dan pelaporan serta pengelolaan rumah kompos 4.4.3. Kontribusi Petani Penerima Manfaat
Petani/ kelompok tani bertanggung jawab terhadap pemeliharaan kegiatan fisik, dan keberlanjutan rumah kompos.
4.5 Pengelolaan Rumah Kompos
Petani secara berkelompok harus bersedia mengoperasionalkan dan memelihara rumah kompos secara swadaya dan swadana. Dalam pengelolaan rumah kompos agar memperhatikan hal hal sebagai berikut :
4.5.1. Dikelola secara baik dengan membentuk struktur organisasi pengelola mulai dari manager, tenaga operator dll.
4.5.2. Biaya operasional dan pemeliharaan rumah kompos, termasuk bahan bakar dan biaya operator menjadi tanggung jawab kelompok tani. Untuk itu pengurus rumah kompos harus menyusun rencana kerja dan analisis biaya yang dibutuhkan, teknis pengumpulan bahan baku dan penetapan biaya yang dibutuhkan.
4.5.3. Kompos yang dihasilkan diutamakan untuk kebutuhan anggota kelompok tani, dengan mengganti ongkos pembuatannya. Kelebihan produksi kompos (jika ada) boleh dijual di luar kelompoktani.
4.5.4. Harga kompos (pengganti ongko produksi) bagi anggota kelompoktani di usahakan semurah murahnya/ terjangkau.
4.5.5. Laporan produksi dan laporan keuangan agar dibukukan dengan baik dan benar
4.5.6. Semua kegiatan operasional wajib
dilaporkan kepada Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota minimal setiap 3 (tiga)
bulanan, melalui petugas lapangan/ tim teknis.
4.5.7. Dinas Pertanian Kabupaten/ Kota harus melakukan pembinaan, bimbingan dan pemantauan terhadap kinerja operasional rumah kompos menggunakan dana APBD Kabupaten/ Kota, serta melaporkan ke Pusat secara periodik.
V. PEMBINAAN, MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN
Dalam pelaksanaan kegiatan pengembangan rumah kompos akan dilakukan kegiatan pembinaan / supervisi, monitoring, evaluasi dan pelaporan oleh petugas terkait kegiatan, di tingkat Propinsi dan Kabupaten / Kota sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya.
5.1. Tugas dan Tanggungjawab Di Tingkat Propinsi
Dinas Pertanian Propinsi melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
5.1.1. Menyusun Petunjuk Pelaksanaan
sebagai penjabaran dari Pedoman Teknis yang disesuaikan dengan kondisi di daerah.
5.1.2. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait horisontal dan vertikal.
5.1.3. Melakukan bimbingan teknis,
5.1.4. Menyusun laporan rekapitulasi pelaksana-an kegiatan yang dibuat oleh Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, selanjutnya disampaikan ke Direktorat Pengelolaan Lahan Ditjen PLA.
5.2. Tugas dan Tanggungjawab d Tingkat Kabupaten / Kota
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten / Kota melaksanakan kegiatan sebagai berikut :
5.2.1. Melakukan koordinasi vertikal dan horisontal dengan instansi terkait.
5.2.2. Menyusun Petunjuk Teknis sebagai penjabaran lebih rinci dari Petunjuk Pelaksanaan dan Pedoman Teknis disesuaikan dengan kondisi di Daerah. 5.2.3. Inventarisasi dan penatapan calon
lokasi dan calon petani
5.2.4. Melaksanakan sosialisasi dan
5.2.5. Membuat rancangan teknis
5.2.6. Mengusahakan alokasi dana APBD Kabupaten / Kota sebagai dukungan sinergitas kegiatan.
5.2.7. Melakukan bimbingan supervisi, monitoring dan evaluasi kegiatan.
5.2.8. Menyusun laporan perkembangan
kegiatan secara periodik, disampaikan kepada Propinsi dan tembusan kepada Pusat (Direktorat Pengelolaan Lahan Ditjen PLA).
5.3. Jenis dan Format Laporan
Adapun jenis dan format laporan kegiatan adalah sebagai berikut :
5.3.1. Laporan Bulanan
Laporan Bulanan disusun setiap bulan oleh
Dinas Pertanian Kabupaten / Kota, dengan format laporan bulanan
sebagaimana Lampiran 4a, 4b, 4c (Form
Propinsi menyusun rekapnya sebagaimana
Lampiran 4d (Form PLA 04).
5.3.2. Laporan Akhir
Laporan Akhir disusun oleh Dinas Pertanian Kabupaten / Kota setelah kegiatan selesai dilaksanakan, dan Dinas Pertanian Propinsi menyusun rekapnya juga dalam bentuk
Laporan Akhir Propinsi. Format Laporan
Akhir mengikuti Outline sebagaimana
Lampiran 5.
5.3.3. Materi Laporan agar dilengkapi dengan : a. Dokumentasi foto-foto kegiatan, minimal
meliputi: kondisi / keadaan sebelum dilaksanakan kegiatan (0%), pelaksanaan kegiatan (50%) dan akhir kegiatan (100%).
b. Pembobotan/skoring nilai kemajuan / perkem-bangan kegiatan sebagaimana
tercantum pada Lampiran 6.
5.4.1. Laporan Bulanan
a. Laporan Bulanan Dinas Pertanian Kabupaten / Kota dikirim ke Propinsi
masing-masing dan ke Pusat
(Direktorat Pengelolaan Lahan), pada
tanggal 5 setiap Bulan.
b. pada tanggal 5 setiap Bulan Laporan Bulanan Dinas Pertanian Propinsi
(merupakan rekapitulasi Laporan Bulanan dari Kabupaten/Kota) dikirim ke
Pusat (Direktorat Pengelolaan Lahan), pada tanggal 10 setiap Bulan.
5.4.2. Laporan Akhir
a. Laporan Akhir dari Dinas Pertanian
Kabupaten / Kota, disusun segera setelah pelaksanaan kegiatan selesai,
selanjutnya dikirim ke Propinsi dan ke
Pusat (Direktorat Pengelolaan Lahan). b. Dinas Pertanian Propinsi menyusun
rekapitulasi laporan akhir dari kabupaten/kota dalam bentuk Laporan Akhir Propinsi, selanjutnya dikirim ke
Alamat laporan ke Pusat : Direktorat Pengelolaan Lahan, Direktorat Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air, Kantor Pusat Departemen Pertanian, Gedung D Lantai 9, Jalan Harsono RM No. 3, Ragunan - Jakarta Selatan.
VI. INDIKATOR KINERJA
6.1. Keluaran (Outputs)
Keluaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah : 6.1.1. Tersedianya jumlah kompos yang dihasilkan
sesuai dengan kebutuhan kelompok tani dan luas areal kawasan produksi padi dan hortikultura
6.1.2. Terserapnya tenaga kerja
6.2. Hasil (Outcomes)
Hasil yang diharapkan dari kegiatan lahan adalah: 6.2.1. Terlaksananya proses pembuatan kompos
dari sisa hasil panen seperti jerami
6.2.2. Terlaksananya perbaikan kesuburan lahan
6.3. Manfaat (Benefits)
Manfaat yang diperoleh dari kegiatan ini adalah meningkatnya kesuburan lahan, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani dari peningkatan produksi padi dan hortikutlura.
6.4. Dampak (Impacts)
6.4.1. Petani akan melakukan kegiatan pembuatan kompos dari sisa hasil tanaman/ jerami
6.4.1. Petani akan melakukan kegiatan perbaikan lahan dengan pemanfaatan rumah kompos.
6.4.2. Petani disekitarnya merasa tertarik dan bermanfaat untuk melakukan perbaikan lahan di lahan petani sendiri.
6.4..3. Pemerintah daerah akan mengalokasikan dana stimulus untuk melaksanakan kegiatan di desa, kecamatan lain untuk peningkatan produksi dan produktivitas lahan dan usaha taninya.
VII. PENUTUP
Berdasarkan perkembangan kerusakan lahan baik lahan sawah maupun lahan kering sebagai akibat dari pola usahatani yang tidak memerhatikan pengelolaan lahan ramah lingkungan, maka sudah saatnya sisa hasil tanaman/ jerami tidak dibakar atau di bawa keluar tetapi dimanfaatkan dengan mengembalikan ke lahan sawah maupun lahan kering melalui proses penguraian dalam bentuk kompos.
Mengingat penyediaan kompos memerlukan proses yang cepat dengan alat pengolah pupuk organik dan sarana serta fasilitas yang mencukupi sesuai dengan kawasan usahatani, maka rumah kompos mutlak diperlukan dalam rangka mempercepat penyediaan kompos dalam jumlah dan waktu sesuai dengan pola tanam di masing masing daerah.
Diharapkan dengan adanya rumah kompos tersebut, para petani dan kelompok tani dapat merubah sikap dalam berusahatani yang berorientasi kepada keberlanjutan usahatani dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan bahan lokal setempat.
LAMPIRAN 2 JADWAL PALANG KEGIATAN PENGEMBANGAN RUMAH KOMPOS
TAHUN 2009
DIREKTORAT : PENGELOLAAN LAHAN SUBDIT : REKLAMASI LAHAN SEKSI : IDENTIFIKASI DAN ANALISIS
No. Komponen Kegiatan
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV A. Persiapan
1 Pembuatan Juklak oleh Propinsi 2 Pembuatan Juknis oleh Kab/Kota 3 Koordinasi dengan Instansi terkait 4 Sosialisasi
5 Inventarisasi CPCL 6 Penetapan Lokasi 7 Pembuatan rancangan teknis 8 Musyawarah Kelompok Tani 9 Pembuatan rekening kelompok 10 Penyusunan RUKK
B. Pelaksanaan 1 Transfer dana 2 Konstruksi rumah kompos
a. Penyediaan bahan/material b. Pelaksanaan fisik c. Operasional dan Pemeliharaan 3 Pengadaan sarana penunjang 4 Pelatihan 5 Monitoring 6 Evaluasi - Kabupaten/Kota - Propinsi Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke
Oktober Nopember Desember Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke Minggu ke
Bulan
Lampiran 3 :
CONTOH FORMAT LAPORAN BULANAN
PERBAIKAN KESUBURAN LAHAN SAWAH BERBASIS JERAMI TA 2009 Propinsi/Kabupaten/Kota : ... Kondisi s/d Bulan : ... Target Realisasi No. Lokasi Kegiatan Kec/Desa/ Kel. tani
Jenis Kegiatan Volume
(HOK) Satuan Dana (Rp) Volume (HOK) Satuan % Dana (Rp) % Ket. 1. 2. ... ... ... ... ... ... • Pengumpulan Jerami Panen • Pencacahan J • Pengomposan • Pembenaman T o t a l = Pengadaan Chopper • Pengumpulan Jerami Panen • Pencacahan J • Pengomposan • Pembenaman T o t a l = Pengadaan Chopper 4 juta 9 juta 4 juta 9 juta
Kababupaten/ Kota : Kecamatan : Desa : Kelompoktani :
Jenis Pekerjaan Volume Satuan Harga Per Satuan Metode
( Rp ) Pelaksanaan
Dana Dana Swadaya TP APBD Petani
a. Pembangunan rumah kompos Bantuan sosial
1) Pengadaan bahan dan material
- Semen ,,,,, sak ,,,,, v v
- Batubata/Batako ,,,,, buah ,,,,, v v
- Bahan atap ,,,,, buah ,,,,, v v
2) Konstruksi rumah kompos
- Tenaga kerja ,,,,, HOK ,,,,, v v
b. Penyediaan Sarana Penunjang Bansos
- APPO skala besar ,,,,, Unit ,,,,, v v
- Alat angkutan motor roda 3 ,,,,, Unit ,,,,, v v - Dekomposer (drum, ember dll) ,,,,, Unit ,,,,, v v Bahan MOL (Urine ternak, buah maja/bonggol
pisang, gula) ,,,,, Paket ,,,,, v
- Kotoran ternak ,,,,, ton ,,,,, v
c. Pelatihan Dinas Pertanian
1) Penggunaan APPO ,,,,, Orang ,,,,, v Kab/ Kota
2) Pembuatan MOL ,,,,, Orang ,,,,, v v
3) Pembuatan kompos ,,,,, Orang ,,,,, v v
TOTAL DANA
Keterangan :
*) Sumber dana bersal dari : Tugas Pembantuan, APBD, Swadaya Petani
..., ... 2009 Mengetahui,
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tim Teknis/ Korlap Ketua Kelompok Tani
( ) ( ) ( ) Catatan :
RUKK agar dilampirkan dokumen sbb : a) Daftar Petani anggota Kelompoktani Pelaksana Kegiatan b) Rancangan teknis
c) Fotocopy rekening kelompoktani
(Rp) Jumlah Biaya & Sumber Dana *) RENCANA USULAN KEGIATAN KELOMPOK (RUKK)