BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat, tentu tidak akan terlepas dari dampak positif dan negatif terhadap kehidupan manusia. Dampak positif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah mendorong manusia untuk mampu bersaing dengan manusia lainnya. Dampak negatif yang akan terjadi dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu: 1) timbulnya kecemasan dan keresahan hidup di masyarakat; 2) individu yang kurang iman akan mencari jalan pintas untuk meraih segala sesuatu yang diinginkan sehingga menimbulkan bias antara yang benar dan salah; 3) tuntutan yang tinggi dan ketidakmampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan akan mengakibatkan manusia berbuat hal yang tidak masuk akal yang cenderung menyakiti diri sendiri.
Salah satu produk yang dihasilkan sebagai bukti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dengan beredarnya rokok di kalangan masyarakat. Keberadaan rokok bukan merupakan suatu hal yang baru karena rokok sudah ada sejak zaman dahulu. Sejarah rokok ditemukan pertama kali oleh Colombus sebelum tahun 1942 yang melihat orang-orang Indian menghisap tembakau dengan menggunakan pipa dalam sebuah upacara adat sebagai lambang tata cara ramah tamah. Penggunaan pipa berbentuk huruf “Y” yang disebut “tobacco” yang digunakan untuk menghisap tanaman yang mengandung racun menjadi dasar disebutnya tanaman tembakau. Berbeda dengan kondisi setelah berkembangnya tegnologi, keberadaan rokok yang dihasilkan dalam berbagai rasa dan kemasan yang menarik membuat ketertarikan sendiri.
Perilaku merokok dilihat dari berbagai sudut pandang sangat merugikan, baik untuk diri sendiri maupun orang di sekelilingnya. Dilihat dari sisi orang yang merokok, pengaruh bahan-bahan kimia yang terkandung dalam rokok seperti nikotin, CO (Karbonmonoksida) dan tar memacu kerja susunan saraf pusat dan susunan saraf parasimpatis sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat dan
detak jantung bertambah cepat. Dampak negatif bagi perokok pasif lebih berbahaya dibandingkan perokok aktif karena daya tahan terhadap zat-zat berbahaya sangat rendah. Sebagai perokok pasif, yang tumbuh di lingkungan yang banyak asap rokok memiliki resiko penyakit yang sama, jika terpapar dengan asap rokok untuk jangka waktu yang lama. Laporan The Jakarta Global Youth Tobacco Survey tahun 2000 menunjukkan, sebanyak 89 persen murid usia 13-15 tahun telah menyedot asap rokok lingkungan di tempat-tempat umum dan beresiko menderita penyakit bronkitis, pneumonia serta penyakit telinga tengah.
Survei yang dilakukan oleh Yayasan Jantung Indonesia (2006) dalam http://www.pikiran-rakyat.com/cetak, pada anak-anak usia 10-16 tahun menunjukkan 70% di antaranya menjadi perokok karena dipengaruhi oleh teman. Hasil riset WHO (World Health Organization) pada tahun 1998 menunjukkan kelompok perokok aktof usia 10 tahun ke atas di Indonesia tercatat sebanyan 59,04% untuk pria dan 4,85% untuk wanita. Pada kelompok usia 10 tahun ke atas, sebanyak 12,8%-27,7% adalah laki-laki berusia muda (young males) dan sebanyak 0,64%-1% adalah perempuan.
Secara nasional, Departemen Pendidikan Nasional (2001) mencatat jumlah perokok di kalangan remaja pada usia 15-24 tahun sekitar 25,56%. Manurut YLKI dalam M. Effendi (2005:634) mencatat 18% remaja SMP diketahui mulai merokok, dan 11% diantaranya mampu menghabiskan 10 batang per hari. Menurut Global Youth Tobacco Survey 2006, 37,3% pelajar laki-laki dan perempuan di Indonesia mengaku pernah merokok, dan 24,5% pelajar laki-laki merupakan perokok aktif saat ini. Oemarjoedi dalam Daryanto (2004) dalam http://metlit.blogspot.com (2007) menambahkan, berdasarkan data Survei Yayasan Pelita Ilmu lebih dari tiga juta remaja menggunakan rokok tembakau, dan dari keseluruhan jumlah tersebut, hampir 20 persen adalah siswa SLTP. Bahkan data dari tiga tahun terakhir, 30 persen dari jumlah anak SLTP adalah perokok aktif. Satu dari tiga siswa menjadi perokok permanen sampai dewasa dan meninggal pada usia yang sangat muda yang diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan karena merokok.
Terdapat banyak alasan yang melatar belakangi perilaku merokok pada remaja. Perilaku merokok merupakan fungsi dari lingkungan dan individu. Artinya, perilaku merokok selain disebabkan faktor dari dalam diri juga disebabkan oleh faktor lingkungan.
Faktor dari dalam remaja dapat dilihat dari kajian perkembangan remaja. Remaja mulai merokok berkaitan dengan adanya krisis aspek psikososial yang dialami pada masa perkembangan remaja yaitu ketika remaja sedang mencari jati diri. Masa remaja sering dilukiskan sebagai masa badai dan topan karena adanya ketidaksesuaian antara perkembangan psikis dan sosial. Upaya-upaya remaja untuk menemukan jati diri, tidak semua berjalan sesuai dengan harapan orang tua. Perilaku merokok pada remaja merupakan perilaku simbolisasi yaitu simbol dari kematangan, kekuatan, kepemimpinan dan daya tarik terhadap lawan jenis.
Faktor yang berasal dari lingkungan berasal dari pengaruh beberapa lingkungan, seperti:
1. Pengaruh Orangtua
Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, orang tua yang tidak terlalu memperhatikan anak-anak dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Remaja yang berasal dari keluarga
konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama yang baik dengan
tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/ tembakau/ obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri", dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anak akan mungkin sekali untuk mencontoh kebiasaan orang tua.
Perilaku merokok lebih banyak dilihat pada remaja yang tinggal dengan satu orang tua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai perokok bila ibu mereka merokok dari pada ayah yang merokok, hal ini lebih terlihat pada remaja putri.
2. Pengaruh teman
Berbagai fakta mengungkapkan, semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-teman di sekitarnya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja terpengaruh oleh teman-teman di sekitarnya atau bahkan teman-teman remaja yang dipengaruhi oleh diri remaja yang bersangkutan dan akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok.
3. Pengaruh Iklan
Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali tertarik untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan. Gejala yang mungkin timbul pada saat pertama kali remaja mengkonsumsi rokok adalah batuk-batuk, lidah terasa getir dan perut terasa mual. Sebagian besar remaja mengabaikan perasaan yang dirasakan kemudian berlanjut menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi ketergantungan. Ketergantungan dipersepsikan sebagai kenikmatan yang akan memberikan kepuasan psikologis. Gejala ketergantungan sering disebut tobacco dependency, artinya perilaku merokok merupakan perilaku yang menyenangkan dan bergeser menjadi aktifitas yang bersifat obsesif. Secara manusiawi, manusia cenderung menghindari ketidakseimbangan dan lebih senang mempertahankan sesuatu yang selama ini dirasakan sebagai kenikmatan sehingga dapat dipahami jika para perokok sulit untuk berhenti merokok. Perokok berpandangan dengan merokok dapat mengurangi ketegangan, memudahkan berkonsentrasi, pengalaman yang menyenangkan dan relaksasi.
Menurut Leventhal dan Clearly (1983) dalam http://metlit.blogspot.com terdapat 4 tahap seseorang menjadi perokok, yaitu: (a) Tahap preparatory yaitu seseorang mendapatkan gambaran yang menyenangkan mengenai merokok dengan cara mendengar, melihat atau dari hasil bacaan. Dengan mendengar, melihat dan membaca akan menimbulkan minat untuk merokok. (b) Tahap
initiation yaitu tahap perintisan merokok yaitu tahap seseorang meneruskan atau
tidak terhadap perilaku merokok. (c) Tahap becoming a smoker yaitu apabila seseorang telah mengkonsumsi rokok sebanyak 4 batang perhari maka mempunyai kecenderungan menjadi perokok. (d) Tahap maintenance of smoking yaitu tahap perokok sudah menjadi salah satu bagian dari cara pengaturan diri (self-regulating). Merokok dilakukan untuk memperoleh efek fisiologis yang menyenangkan.
Dampak terbesar yang ditimbulkan dari kebiasaan merokok pada usia remaja adalah semakin besar kemungkinan menjadi perokok berat di usia dewasa. Selain menjadi perokok berat, kebiasaan merokok pada usia remaja dapat memperikan peluang masuknya perilaku negatif lain seprti minum-minuman keras, penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan akhirnya sampai pada penggunaan narkotika.
Ancaman yang sangat besar sebagai akibat dari perilaku merokok akan merusak masa depan generasi muda. Bimbingan pribadi sangat diperlukan untuk membantu remaja yang memiliki kebiasaan merokok untuk mengurangi intensitas kebiasaan merokok. Apabila kebiasaan merokok pada remaja dibiarkan, akan berdampak buruk pada kesehatan dan prestasi belajar.
Munculnya kebiasaan merokok pada usia remaja, mendorong untuk dilakukan penelitian bagaimana cara mereduksi kebiasaan merokok pada remaja melalui teknik assertive training. Penggunaan teknik assertive training diharapkan mendorong remaja mampu bersikap tegas terhadap diri sendiri.
B. Identifikasi Masalah
Karakteristik remaja erat kaitannya dengan kebebasan, independensi dan berusaha keluar dari norma-norma yang berlaku di lingkungan. Usaha yang dilakukan oleh remaja untuk mencoba suatu hal baru dimanfaatkan oleh para pelaku industri rokok dengan memunculkan slogan promosi yang mudah mempengaruhi remaja. Slogan yang diberikan dipublikasikan melalui berbagai iklan yang menarik baik pada media elektronik maupun media cetak, bukan hanya melalui iklan-iklan yang muncul pada berbagai media melainkan industri rokok sudah menjadi sponsor utama dalam berbagai kegiatan remaja. melalui dukungan
yang kuat melalui berbagai kegiatan remaja, semakin mendorong keingintahuan remaja untuk merokok.
Remaja mencoba merokok dengan alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau hanya sekedar ingin menghilangkan stress serta membebaskan diri dari kejenuhan. Ketertarikan remaja terhadap kebiasaan merokok karena dianggap sebagai lambang kejantanan dan glamour yang diperankan oleh sosok idola dan ingin menjadi seperti sosok idola remaja yang memiliki kebiasaan merokok.
Secara psikologis, kebiasaan merokok merupakan perilaku yang dipelajari yang didapatkan sebagai proses sosialisasi remaja dengan lingkungan. Lingkungan merupakan faktor pertama yang memperkenalkan remaja terhadap kebiasaan merokok. Aktivitas merokok yang ada di lingkungan memberikan stimulus kepada remaja untuk mencoba merokok agar dapat diterima sebagai anggota kelompok.
Perokok mengungkapkan dengan merokok akan mendapatkan kenikmatan dari hasil merokok, perokok juga menyatakan rokok dapat meningkatkan ketekunan bekerja, dan meningkatkan produktivitas. Menurut dr. Aisah Dahlan dalam http://www.depkes.go.id terdapat beberapa alasan mengapa kebiasaan merokok sulit dihilangkan, yaitu:
1. Rokok bersifat legal. Perokok merasa tidak pernah melanggar aturan dan dapat merokok dimana saja tanpa ada rasa takut akan ditangkap. Berbeda dengan peredaran narkoba, pecandu harus pandai bersembunyi untuk dapat menikmati narkoba.
2. Rokok mudah didapatkan di berbagai tempat dan harga rokok pun relatif terjangkau.
3. Perokok melihat bukan hanya dirinya yang merokok, melainkan banyak orang yang melakukan kegiatan yang sama.
Teknik yang digunakan untuk mereduksi kebiasaan merokok pada remaja melalui pndekatan behavioral adalah latihan assertif (assertive training). Teknik latihan asertif dapat diterapkan pada situasi interpersonal pada individu yang
mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan, menyatakan atau menegaskan diri dalam tindakan yang benar.
Teknik latihan asertif membantu orang-orang yang: (a) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung; (b) menunjukkn kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya; (c) memiliki kesulitan untuk mengatakan “TIDAK”; (d) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lain; (e) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri.
Teknik latihan asertif pada dasarnya merupakan penerapan latihan bagi perkembangan manusia untuk mencapai tujuan yang lebih baik. Pada perilaku asertif, tingkat sensitivitas yang dimiliki cukup tinggi sehingga dapat membaca situasi yang terjadi di sekitar lingkungan, yang memudahkan manusia untuk menempatkan diri dan melakukan aktivitas secara strategis, terarah dan terkendali.
Perilaku asertif diperlukan agar mampu mengenal diri dan lebih jujur dalam membina hubungan dengan orang lain. Melalui sifat asertif, remaja dapat belajar untuk lebih menghargai diri sendiri dan orang lain, mengekspresikan perasaan positif dan negatif, mengembangkan kemampuan untuk menolak tanpa rasa bersalah, dan berani meminta bantuan orang lain ketika membutuhkan.
Sikap asertif merupakan ungkapan perasaan, pendapat, dan kebutuhan secara jujur dan wajar. Kemampuan untuk bersikap asertif ini sangat penting dimiliki sejak dini, karena sikap asertif membantu dalam bersikap tepat menghadapi situasi di mana hak-hak pribadi dilanggar.
C. Rumusan Masalah
Kebiasaan merokok pada remaja tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan diri remaja. Kebiasaan merokok pada remaja mengakibatkan timbulnya penyakit-penyakit yang dapat merugikan tubuh. Apabila perilaku merokok pada remaja dibiarkan terus berkembang tanpa adanya upaya pencegahan secara sistematis maka akan membahayakan kehidupan remaja pada masa yang akan datang.
Berdasarkan identifikasi masalah maka rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian adalah “apakah penggunaan teknik assertive training mampu
mereduksi kebiasaan merokok pada remaja?”
Untuk menjawab pertanyaan dalam rumusan masalah, dilakukan tahap-tahap pengumpulan data dengan pertanyaan yang menunjang sebagai berikut.
1. Bagaimana gambaran umum kebiasaan merokok pada remaja?
2. Bagaimana kebutuhan layanan bimbingan bagi remaja yang memiliki kebiasaan merokok?
3. Bagaimana rancangan teknik assertif training untuk mereduksi kebiasaan merokok pada remaja?
4. Bagaimana pelaksanaan intervensi layanan bimbingan pribadi dengan penggunaan teknik assertive training untuk mereduksi kebiasaan merokok pada remaja ?
5. Bagaimana umpan balik dari pemberian intervensi terhadap siswa yang memiliki kebiasaan merokok ?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan identifikasi dan rumusan masalah yang telah diuraikan, maka tujuan umum dalam penelitian adalah memperoleh gambaran keefektifan teknik
assertive training untuk mereduksi kebiasaan merokok pada remaja.
Tujuan khusus dalam penelitian adalah memperoleh gambaran umum kebiasaan merokok pada remaja, menganalisis kebutuhan siswa yang memiliki kebiasaan merokok, merumuskan rancangan teknik assertive training untuk mereduksi kebiasaan merokok, mengintervensi penggunaan teknik assertive
training bagi remaja yang memiliki kebiasaan merokok, memperoleh umpan balik
dari intervensi yang diberikan pada remaja yang memiliki kebiasaan merokok. E. Asumsi Penelitian
Asumsi penelitian mengenai konseling kognitif untuk mereduksi kebiasaan merokok pada remaja, sebagai berikut.
1. Proses seseorang menuju kebiasaan merokok diawali dengan ditawari untuk merokok, kemudian tawaran ditolak akan tetapi temannya mengukuhkan kembali tawaran untuk merokok dengan kata-kata ejekan.
Hasilnya menerima, mencoba tetapi tidak enak dan gagal. Diawali dari sejak mencoba merokok untuk kedua kali, kemudian merasakan enak atau merasa tidak enak namun dipaksakan karena tidak ingin mendapatkan ejekan kembali, mencoba merokok terus dan akhirnya menjadi biasa merokok (Abas Asyafah,1991: 178).
2. Merokok menjadi alternatif yang dipilih remaja untuk mengurangi ketegangan dan membantu relaksasi terhadap stress (Helmi & Komalasari, 2006 dalam http://metlit.blogspot.com).
3. Aktivitas merokok yang ada di lingkungan menstimulasi remaja untuk mencoba merokok agar dapat diterima sebagai anggota kelompok (A.F Muhtar, 2005 dalam http://metlit.blogspot.com).
4. Teknik latihan asertif membantu orang-orang yang: (a) tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung; (b) menunjukkn kesopanan yang berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya; (c) memiliki kesulitan untuk mengatakan “TIDAK”; (d) mengalami kesulitan untuk mengungkapkan afeksi dan respons-respons positif lain; (e) merasa tidak punya hak untuk memiliki perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran sendiri (E. Koswara, 2003: 213)
F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat bagi Konselor
Bagi konselor untuk mengetahui analisis kebutuhan siswa tentang kebiasaan merokok yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengembangkan program bimbingan, serta upaya pemberian bantuan kepada siswa di sekolah yang memiliki kebiasaan merokok. 2. Manfaat bagi Siswa
Siswa mengetahui dampak negatif dari kebiaasaan merokok yang dapat merugikan bagi kesehatan, serta siswa mampu mengendalikan keinginannya untuk merokok agar tidak menjurus kepada penggunaan narkoba.
3. Manfaat bagi Sekolah
Memberikan rekomendasi kriteria siswa yang memiliki kebiasaan merokok, memberikan manfaat bagi para guru dalam menyikapi perilaku dan indikator-indikator perilaku siswa yang memiliki kebiasaan merokok dan memberikan informasi secara empiris tentang profil siswa SMP yang memiliki kebiasaan merokok dan cara –cara penanganannya.
4. Manfaat bagi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Sebagai bentuk pengembangan program dari studi penelitian tentang rokok, dan menambah pengetahuan mengenai kebiasaan merokok pada remaja di lingkungan pendidikan.
G. Pendekatan dan Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan Kuantitatif digunakan dalam mengetahui tingkat kebiasaan merokok remaja di SMPN 2 Margahayu Kabupaten Bandung. Metode penelitian yang digunakan yaitu pra
eksperimen, dengan desain pra tes-pasca tes satu kelompok atau One Group
Pretest-Postest Design. Desain penelitian pra eksperimen, kelompok tidak diambil
secara acak atau pasangan, juga tidak ada kelompok pembanding, tetapi diberi tes awal dan tes akhir di samping perlakuan. Metode pra eksperimen digunakan untuk mengetahui ketepatan teknik assertif training dalam mereduksi kebiasaan merokok pada remaja.
Metode sampling yang digunakan adalah metode non-probabilitas, artinya setiap sampel tidak memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, dengan menggunakan metode purposive sampling pemilihan sampel berdasarkan elemen atau karakteristik tertentu (Shaughnessy J., Zechmeister, 1997 dalam Dwiastuti, 2005: 24). Sampel dalam penelitian hanya sampel yang memiliki kebiasaan merokok.
H. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah sekolah yang memiliki peluang dalam penjaringan data dengan karakteristik: tingkat interaksi siswa dengan masyarakat sekitar sekolah yang umumnya tidak bekerja, sering merokok dan terdapat warung-warung yang menjual rokok di sekitar sekolah.
Sekolah yang memenuhi karakteristik tersebut adalah SMPN 2 Margahayu yang terletak di Gg. Nata Dalam Kopo Sayati Kabupaten Bandung.
Sampel pada penelitian yaitu siswa yang memiliki kebiasaan merokok, dengan karakteristik sebagai berikut.
1. Berada pada rentang usia 13-15 tahun. Pemilihan sampel disesuaikan dengan karakteristik remaja awal yang memiliki rasa keingintahuan dan ingin mencoba suatu hal baru.
2. Memiliki kebiasaan merokok yang mampu menghabiskan satu bungkus dalam sehari.
3. Menghabiskan rokok minimal satu batang setiap hari. 4. Siswa SMPN 2 Margahayu.