• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. Pertama, ditinjau dari latar waktu, yaitru pada era sesudah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN. Pertama, ditinjau dari latar waktu, yaitru pada era sesudah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

57 BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Novel Amba karya Laksmi pamuntjak merupakan novel yang sarat dengan kritik sosial, yakni kritik mengenai kurangnya kesadaran perempuan akan keberadaannya dan makna keberadaannya. Setidaknya terdapat tiga kritik sosial yang dikemukakan, yaitu sebagai berikut.

Pertama, ditinjau dari latar waktu, yaitru pada era sesudah kemerdekaan, tahun 1960-an, pada kenyataannya perempuan belum merdeka. Dalam hal ini tidak terjajah dari penjajahan bangsa asing melainkan dari penjajahan ideologi tradisi patriarki, bahkan yang lebih ironis penjajahan tersebut tak hanya dilakukan kaum laki-laki pada perempuan, tetapi juga kaum perempuan pada perempuan. Hubungan semacam itu tercermin dalam tokoh Nuniek (ibu Amba) dan Amba. Nuniek adalah penganut ideologi tradisi patriarki yang ingin menerapkan ideologi patriarkinya pada putri-putrinya, termasuk pada Amba. Namun, Amba yang cerdas jelas menolak ideologi tradisi yang mengungkung perempuan tersebut.

Kedua, ditinjau dari latar tempat, Kadipura adalah salah satu nama daerah yang termasuk dalam kabupaten Klaten. Sementara itu Klaten merupakan kota yang memiliki jarak tempuh relatif dekat dengan kota Yogyakarta yang telah lama dikenal sebagai kota pelajar, tempat Amba belajar. Namun, kenyataannya masyarakat Kadipura adalah masyarakat penganut ideologi tradisi patriarki yang

(2)

kurang memiliki kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Pendidikan merupakan monopoli kaum laki-laki, sedangkan perempuan hanya diberikan tempat tertinggi sebagai istri. Dengan mitos dan citra, perempuan dikekalkan sebagai jenis kelamin nomor dua yang impian tertingginya sebatas menikah, menjadi istri dan ibu. Dengan demikian, pendidikan merupakan hal tabu dan relatif dikesampingkan bagi perempuan.

Ketiga, ditinjau dari latar sosial, keluarga Amba adalah keluarga yang berkiblat pada imam seorang yang berpendidikan dan berwawasan, ayahnya (Sudarminto). Namun, kenyataannya hal itu tidak berpengaruh pada pola pikir sang istri, Nuniek. Hal ini disebabkan ideologi tradisi patriarki telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya, masyarakat Kadipura pada khususnya, termasuk pada diri Nuniek.

Sebagai jenis kelamin nomor dua atau second sex, perempuan direkati mitos dan citra perempuan yang diciptakan oleh laki-laki. Menanggapi pelabelan ini, terdapat dua jenis perempuan dalam menyikapinya. Pertama, perempuan menerima pelabelan itu begitu saja karena menganggap hal yang demikian adalah kodratnya sebagai perempuan. Kedua, perempuan melawan stereotip terhadap perempuan dan membuktikan kemampuan dirinya dalam rangka mencapai makna keberadaannya sebagai perempuan yang juga merupakan makhluk bernalar dan memiliki daya pikir sebagaimana laki-laki.

Mencermati ketidakberdayaan perempuan dalam gambaran di atas, dapat diasumsikan bahwa ketidakberdayaan perempuan tersebut merupakan akibat dari tekanan laki-laki terhadap dirinya. Selain itu perempuan tidak diberi

(3)

kesempatan untuk mewujudkan eksistensinya. Ketidakberdayaan perempuan bukanlah karena kesadarannya, melainkan karena konstruksi sosial. Perasaan inferior perempuan bukan karena tubuhnya yang berbeda dari laki-laki, tetapi karena tidak memiliki kekuasaan untuk menentang kekuatan patriarki. Para feminis psikoanalisis menyarankan bahwa untuk mencapai keadilan sosial, pertama-tama yang perlu dihilangkan adalah kebudayaan patriarki.

Dari gambaran perempuan dalam analisis di atas, meskipun mereka masih mengalami ketimpangan gender dan menjadi second sex, secara keseluruhan novel ini memperlihatkan kemampuan perempuan untuk menunjukkan eksistensinya sebagai pribadi utuh sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Terdapat dua tipe eksistensi perempuan yang digambarkan dalam analisis di atas yaitu eksistensi tubuh perempuan dan eksistensi diri perempuan. Eksistensi tubuh perempuan merupakan eksistensi diri yang menggunakan instrumen tubuh. Hal ini karena tubuhnya adalah kesatuan dengan dirinya. Ketika tubuhnya melakukan eksistensi, dirinyalah yang merasakan eksistensi. Sedangkan eksistensi diri perempuan adalah eksistensi diri yang menggunakan instrumen diri, tidak terikat pada tubuh. Secara umum, eksistensi diri menggunakan pemikiran dan kecerdasannya untuk membentuk eksistensi.

Perempuan yang menggunakan eksistensi tubuhnya untuk mendapatkan eksistensi diri, meskipun ia dapat menjadi subjek namun ia tidak dapat lepas dari perannya sebagai objek karena penilaian akan eksistensinya bergantung pada orang lain, bukan dirinya. Perempuan bereksistensi tubuh memang tidak menjadi inferior sebagaimana perempuan sebagai second sex,

(4)

namun eksistensinya semu karena penilaian terhadap eksistensi berinstrumen tubuh bersifat relatif.

Berbeda dari eksistensi tubuh yang semata-mata mengandalkan tubuh, eksistensi diri mengandalkan pemikiran dan kecerdasan. Dalam analisis ini eksistensi diri ditempuh melalui dua cara yaitu melalui pilihan-pilihan dalam hidupnya dan melalui kesadaran akan manfaat pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Kemampuan perempuan untuk membuat pilihan-pilihan otonom dalam kehidupannya mencerminkan bahwa perempuan bukan sekadar objek, melainkan subjek yang memiliki kesadaran terhadap keberadaan dirinya dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab. Perempuan yang dimaksudkan adalah Amba. Pilihan-pilihan Amba dalam cerita ini dapat disebut sebagai wujud dari kesadaran terhadap eksistensi dirinya. Pertama, pilihan Amba untuk mengenyam pendidikan di universitas. Ketika rekan-rekan sebayanya memilih untuk menikah, Amba memiliki pilihan lain yaitu mengenyam bangku kuliah. Kedua, pilihan Amba untuk berperan aktif membantu dengan kemampuannya berbahasa Inggris sebagai penerjemah buku-buku asing di bidang ilmu kedokteran untuk membantu kerja dokter di RS Sono Walujo di saat kondisi berbahaya karena pemberontakan G30S tengah berlangsung. Ketiga, pilihan Amba untuk menanggung nasib kehamilannya sendiri agar tidak menyusahkan dan mempermalukan keluarga dengan hijrah dari kota Yogyakarta ke Jakarta. Keempat, memutuskan hidup sendiri tanpa pasangan dan mengembangkan karirnya sepeninggal suaminya, Adalhard. Pilihan-pilihan tersebut menunjukkan

(5)

bahwa perempuan adalah makhluk otonom yang mampu membuat keputusan hidupnya sendiri. Eksistensi perempuan yang telah dicapai Amba merupakan perwujudan dari hasil pendidikan yang diperolehnya. Pendidikan sebagai pengantar menuju eksistensi diri menjadikan Amba mampu bekerja sebagaimana laki-laki dan mendapatkan kemandirian ekonomi sebagai hasil dari pekerjaannya.

Citra kemenangan perempuan dalam menghadapi segala bentuk kemelut hidupnya yang diangkat oleh pengarang dalam novel Amba ini sejalan dengan tujuan ideologi feminisme yaitu membentuk keadilan dalam masyarakat yang mengakui hak dan kedudukan perempuan. Hal ini sesuai dengan inti tujuan feminisme, yakni mengakui kedudukan dan derajat agar sama atau sederajat dengan laki-laki.

4.2 Saran

Hasil analisis terhadap novel Amba karya Laksmi Pamuntjak menunjukkan akan adanya beberapa pesan sosial yang mengemuka sebagai gejala universal. Pesan sosial tersebut adalah peran perempuan yang pasif dan tunduk kepada laki-laki melahirkan ketertindasan perempuan. Pada kosntruksi masyarakat patriarki di masa modern sekalipun kesempatan perempuan untuk mengenyam pendidikan dibatasi. Perempuan diberi kesempatan belajar hanya sampai mampu membaca dan menulis, selanjutnya menikah. Hal ini menyebabkan ketergantungan perempuan terhadap laki-laki semakin besar.

Bagi perempuan yang memiliki kesadaran akan kemampuan dirinya akan melakukan perlawanan terhadap keterpinggirannya, perlakuan berbeda

(6)

kepada dirinya tidak akan lagi diterima. Perlawanan semacam ini akan memunculkan eksistensi perempuan. Untuk mendapatkan eksistensinya, tidak mudah bagi perempuan, tetapi untuk mempertahankan eksistensi juga lebih sulit. Namun, apabila perempuan yang kehilangan eksistensi mampu memperoleh kembali eksistensinya, ia akan mampu bangkit menjadi lebih kuat.

Eksistensi perempuan seperti inilah yang diangkat Laksmi Pamuntjak sebagai tema novelnya, Amba. Oleh karena itu, diharapkan agar dalam penelitian berikutnya dapat diungkapkan citra positif perempuan yang terkandung dalam novel lain. Dengan demikian, penelitian ini dapat mengungkapkan ketidakadilan terhadap perempuan yang tercermin dalam karya sastra. Selain itu, citra positif perempuan sebagai pejuang eksistensi diri perempuan dalam proses jatuh-bangun menjadi pelajaran berharga yang dapat mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap perjuangan perempuan secara luas.

(7)

DAFTAR PUSTAKA

Agger, Ben. 2009. Teori Sosial Kritis: Kritik, Penerapan, dan Implikasinya (terj. Nurhadi). Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Batu, Lumban. 2007. Eksistensi Tokoh Perempuan dalam The Other Side of Midnight Karya Sidney Sheldon. Yogyakarta: Tesis Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Bhasin, Kamla. 1996. Menggugat Patriarki. Yogyakarta: Yayasan Benteng Budaya

Beauvoir, Simone De dkk. 2000. Hidup Matinya Sang Pengarang. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Culler, Jonathan. 1983. On Deconstruction: Theory and Critism After Structuralism. London:Routledge & Keegan Paul.

Fakih, Mansour. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Eksistensi Perempuan dalam Novel Jane Eyre Karya Charlotte Bronte: Tinjauan Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Tesis Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Langland, Elisabeth. 1984. Society in the Novel. USA: University of North Carolina Press.

Lasar, Magnus Davidis Watan. 2006. “Tubuh Perempuan Milik Siapa?” dalam Majalah Driyakarya, nomor 3.

Newton, K.M. 1990. Twentieth-Century Literary Theory. Houndmills, Rasingtoke. London: Macmillan.

Pamuntjak, Laksmi. 2013. Amba. Jakarta: Gramedia Pustaka utama.

Ratna, Nyoman Kutha. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta:pustaka Pelajar.

Rasiah. 2005. Eksistensi Perempuan dalam Novel Jane Eyre karya Charlotte Bronte: Tinjauan Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Tesis Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Ruthven, K.K. 1990. Feminist Literary Studies: an Introduction. Cambridge: Cambridge University Press.

(8)

Sartre, Jean-Paul. 2002. Eksistensialisme dan Humanisme (terj. Yudhi Murtanto). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif Kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.

Usman, Mohtar. 2009. Eksistensi Perempuan dalam Novel Atas Singgasana Karya Abidah El Khalieqy: Sebuah kajian Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Tesis Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

DAFTAR LAMAN

Saptandary, Pinky. 2013. Beberapa Pemikiran tentang Perempuan dalam Tubuh dan Eksistensi. Diakses pada 19 Mei 2015, pukul 16.06: http://journal.unair.ac.id/filerPDF/005%20Pinky.pdf.

Tirta, Alam. 2012. Biografi Laksmi Pamuntjak. Diakses pada 6 Februari 2015, pukul 16.23: http://p.laksmifiler/671.gosas.co.id.

(9)

LAMPIRAN

SINOPSIS

Amba adalah anak sulung dari tiga bersaudara pasangan Nuniek dan Sudarminto. Dua adiknya adalah anak kembar bernama Ambika dan Ambalika. Sang ibu, Nuniek konon adalah kembang desa di masa mudanya dulu, itulah sebabnya ia dapat menarik hati Sudarminto, pria berpendidikan, seorang kepala sekolah di daerahnya, Kadipura. Amba bukan gadis cantik seperti kedua adiknya, tetapi ia adalah gadis yang cerdas. Amba selalu menorehkan prestasi di sekolahnya. Oleh sebab itulah ia menjadi putri kesayangan Sudarminto. Berbeda dari Nuniek yang begitu membanggakan kecantikan, Sudarminto lebih menghargai kecerdasan.

Amba telah lama dianggap berbeda dari gadis-gadis sesusianya di Kadipura. Ketika Ambika, Ambalika, Sati dan gadis lainnya sibuk berlomba-lomba mendapatkan hati pria idaman mereka dengan tubuhnya, kecantikannya, bujuk rayunya, dan berbagai cara lainnya, Amba lebih suka membaca buku-buku ayahnya. Membaca buku-buku ayahnya, Serat Centhini, epos Mahabharata, dan Ramayana membuat dirinya menyadari posisi perempuan yang dilemahkan oleh tradisi. Bagi Amba, pelemahan itu merupakan penindasan yang kejam. Ia menyukai sekaligus membenci buku-buku yang dibacanya. Baginya, buku itu adalah hasil karya yang indah, tetapia memuat paradigma yang keliru baginya.

(10)

Dengan mengatasnamakan tradisi, perempuan dijajah dan ditindas, kehilangan kebebasan, dan hanya dianggap sebagai pelengkap bagi laki-laki.

Pengalaman Amba membaca buku yang jelas menggambarkan ketertindasan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki memberi efek di kehidupan nyata. Amba membenci laki (kecuali ayahnya), ia membenci laki-laki yang berdalih taat pada tradisi untuk mengungkung kaum perempuan. Amba bukan perempuan biasa yang akan mendambakan pernikahan. Ia dengan tegas menolak adanya pernikahan, ia tak ingin terikat. Selain cerdas, ia adalah sosok perempuan mandiri yang sadar akan pentingnya pendidikan.

Keputusan Amba kala itu yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas tentu saja mengejutkan bagi sang ibu, Nuniek. Di saat gadis-gadis seusianya yang delapan belas tahun telah memikirkan pernikahan, bahkan banyak yang telah menikah sebelum usia itu, Amba memilih untuk mengenyam pendidikan di universitas. Ia juga menyatakan dirinya tak ingin menikah.

Di saat Nuniek kebingungan memikirkan putri sulungnya tersebut, teringatlah ia pada sosok yang ia temui di Yogyakarta kala dirinya menemani Sudarminto menghadiri pertemuan di Universitas Gadjah Mada. Salwa, Salwani Munir nama pria itu. Salwa beberapa tahun lebih tua dari Amba, ia seorang asisten pengajar di jurusan Pedagogi. Menurut Nuniek, pria itu sangat baik, taat pada tradisi, pengayom, dan tentu saja cerdas, cocok bagi Amba. Saat mereka bertemu, Nuniek telah memberitahukan alamat mereka pada Salwa, tak lupa Nuniek memberitahukan tentang putri sulungnya yang cerdas. Ia meminta Salwa mampir ke rumah mereka kapan-kapan.

(11)

Tak diduga dua minggu kemudian Salwa mampir ke Kadipura, ke rumah Amba. Nuniek pun memperkenalkan Amba pada Salwa, ia membuat kesan seolah-olah Amba yang menginginkannya. Singkat cerita keduanya dipertunangkan dua bulan kemudian. Meskipun Amba tak menginginkannya, demi ibunya, demi Salwa yang tak tampaknya mencintainya, demi tradisi, ia menerima pertunangan itu.

Amba dan Salwa semakin dekat saat Amba telah menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswi jurusan sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada. Hal ini tentu saja karena keduanya berada di kampus yang sama. Namun kebersamaan itu tak juga menumbuhkan cinta di hati Amba. Kebersamaan mereka terus terjalin hingga akhirnya Salwa ditugaskan untuk mengajar di Surabaya, sampai akhirnya setengah tahun kemudian pecah G30S yang semakin menjauhkan mereka berdua karena diam-diam Amba menawarkan diri untuk ikut serta membantu para dokter asing yang membutuhkan penerjemah seperti dirinya untuk mempelajari ilmu kedokteran di Rumah Sakit Sono Walujo, Kediri yang saat itu penuh dengan para korban G30S.

Di rumah sakit itulah ia bertemu dengan Bhisma, dr. Bhisma Rashad. Pria lulusan Universitas Leipzig, Jerman yang membutuhkan dirinya sebagai penerjemah. Bhisma banyak menghabiskna hidupnya di Eropa sehingga pola pikirnya juga berbeda dari pria-pria yang pernah ditemui Amba. Amba diam-diam menyukainya, mungkin begitu pula Bhisma. Terjalinlah hubungan antara Amba dan Bhisma, hubungan yang sangat dalam, tanpa ikatan dan status. Hubungan keduanya berlanjut hingga mereka berada di Yogyakarta. Mereka akan selalu

(12)

bertemu dan bercinta, begitu yang selalu terjadi. Hingga suatu ketika di tengah kerumunan orang dalam sebuah pesta, Bhisma menghilang. Bhisma hilang seiring kedatangan tentara-tentara yang akan menangkap siapa saja yang ada di sarang PKI. Amba tak menyangka kerumunan itu ada dalam sarang PKI menurut para tentara, dan bukan menurut Bhisma. Bhisma menghilang, tetapi Amba selamat.

Mungkin Amba hanya selamat sementara, karena sebulan kemudian diketahuilah bahwa dirinya tengah mengandung anak Bhisma. Pria yang hilang, yang entah dimana keberadaannya. Ia pun tak tahu pasti apakah terjadi sesuatu pada Bhisma atau bhisma sengaja meninggalkannya. Kondisi ini memaksa Amba untuk kemudian hijrah dari Yogya ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di Jakarta. Di ibukota itulah Amba bertemu dengan Adalhard yang kemudian menikahinya, menjadi ayah bagi bayinya yang ia beri nama Srikandi.

Saat Srikandi tumbuh dewasa, ia menjadi gadis mandiri dan pemberani. Namun Amba sebaliknya, ia terpuruk semenjak kematian Adalhard. Ia kembali teringat pada kekasihnya, Bhisma. Melalui sahabat Bhisma, Zulfikar ia mengetahui keberadaan Bhisma di Pulau Buru sebagai tahanan politik. Dengan harapan besar akan pertemuannya dengan Bhisma ia memantapkan diri mencari Bhisma di Pulau Buru. Berbagai rintangan ia lalui selama perjalannya ke Pulau Buru. Di Pulau buru ia bertemu seorang asli Ambon bernama Samuel yang setia mendampinginya dalam pencariannya akan sosok Bhisma yang ia kasihi.

Di Pulau Buru, bukan Bhisma yang ia temui melainkan seorang perempuan yang mengaku sebagai istri Bhisma. Konon perempuan itu adalah anak kepala suku yang dihadiahkan kepada Bhisma sebagai istri karena jasa-jasa

(13)

Bhisma membangun desa di sana. Harapan Amba tak sesuai dengan kenyataan. Melalui seorang bernama Manalisa, dan banyak warga sana, Amba mendapat informasi tentang kematian Bhisma yang misterius. Tak ada yang tahu pasti penyebab kematiannya, namun jasad dan pusaranya jelas ada di sana.

Dengan berat hati Amba menerima kematian Bhisma. Ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan Samuel menyertainya. Selanjutnya Samuel yang awalnya jatuh cinta pada Amba menjalin kedekatan dengan anak Amba yang bernama Srikandi. Sementara itu Amba melanjutkan hidupnya secara mandiri dengan meneruskan kerja sebagai penerjemah—novel, brosur, subtitles film, buku tahunan perusahaan dan diantara itu terdapat pula puisi, setidaknya untuk penerbitan khusus—dan mengajar di sebuah kursus bahasa Inggris.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi baru tentang teori tekuk pada bambu laminasi akibat gaya tekan aksial dan aplikasinya pada bangunan tradisional Bali

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Berdasarkan latar belakang yang penulis paparkan tersebut, maka penulis memutuskan untuk menggunakan judul Dinamika Kepribadian dan Nilai Pendidikan Dalam Naskah Ketoprak

Perhitungan tulangan geser untuk Column Pier didasarkan pada gaya geser terbesar antara gaya lateral dan momen ultimit untuk kombinasi beban yang menentukan dalam perhitungan

Dalam penelitian ini akan digunakan fungsi kernel RBF karena dapat memetakan data input secara nonlinear ke dimensi yang lebih tinggi sehingga diharapkan dapat menangani

Parfum Laundry Halmahera Timur Beli di Toko, Agen, Distributor Surga Pewangi Laundry Terdekat/ Dikirim dari Pabrik BERIKUT INI JENIS PRODUK NYA:.. Kimia Untuk Laundry Satuan/Kiloan

Metode perakitan yang bagian-bagian yang akan dirakit dapat ditukarkan satu sama lain, karena bagian tersebut dibuat oleh suatu pabrik secara massal dan sudah distandarkan

Selain dari staff, kami juga meminta bantuan dari para pengajar LTC untuk menjadi pembawa acara sekaligus juga ada yang menjadi pembuka dalam berdoa dan juga ada