• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH SUPPLY CHAIN MANAGEMENT TERHADAP KEUNGGULAN KOMPETITIF PADA PERUSAHAAN JASA PERJALANAN WISATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH SUPPLY CHAIN MANAGEMENT TERHADAP KEUNGGULAN KOMPETITIF PADA PERUSAHAAN JASA PERJALANAN WISATA"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH SUPPLY CHAIN MANAGEMENT TERHADAP

KEUNGGULAN KOMPETITIF PADA PERUSAHAAN JASA

PERJALANAN WISATA

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Program Diploma IV

Oleh: TRI YULIANI 4111101028

PROGRAM STUDI AKUNTANSI MANAJERIAL

JURUSAN MANAJEMEN BISNIS

POLITEKNIK NEGERI BATAM

2015

(2)
(3)
(4)

iv

ABSTRAK

Supply chain management merupakan strategi perusahaan untuk mencapai

keunggulan kompetitif yang optimal di lingkungan bisnisnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh supply chain management terhadap keunggulan kompetitif. Responden dalam penelitian ini adalah 46 orang manajer pada perusahaan jasa perjalanan wsisata di Batam. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi sederhana. Hasil penelitian ini menemukan bahwa supply chain management dapat mempengaruhi keunggulan kompetitif, yang dilihat dari nilai signifikansi sebesar 0.002. Dari hasil penelitian ini, penting bagi perusahaan untuk mengimplementasikan dan memperhatikan penggunaan

supply chain management agar tercapainya keunggulan kompetitif yang optimal.

Penelitian ini hanya terbatas pada menajer perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam, maka penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan sampel jenis perusahaan lain atau perusahaan yang berada di daerah lain.

(5)

v

ABSTRACT

Supply hai a age e t is a o pa y’s strategi to gai opti al o petitive advantage in its business environment. This study aims to determine the effect of supply chain management on competitive advantage. Respondents in this study were 46 managers of tour and travels company in Batam. The data analysis technique used is simple regression analysis. This study found that supply chain management can affect competitive advantage, which the significant score is 0.002. From this result, it is necessary for the company to implement and pay attention in practicing supply chain management to gain optimal competitive advantage. This study is limited to managers of tour and travels company in Batam, then for subsequent studies recommended to use sample from other types of company or other regional company.

(6)

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunianya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Supply Chain Management Terhadap Keunggulan Kompetitif Pada Perusahaan Jasa Perjalanan Wisata . Shalawat beserta salam, peneliti limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penulisan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Terapan pada Program Studi Akuntansi Manajerial di Politeknik Negeri Batam.

Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, motivasi, saran, dan bantuan dari berbagai pihak kepada peneliti. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan terima kasih kepada:

1. Allah SWT, yang selalu memberikan berkah dan karunia-Nya kepada peneliti.

2. Kedua orang tua dan adikku Arya yang selalu memberikan doa, kasih sayang, dukungan dan motivasi kepada peneliti.

3. Bapak Dr. Priyono Eko Sanyoto selaku Direktur Politeknik Negeri Batam. 4. Bapak Dovi Septiari, selaku pembimbing skripsi yang selalu memberikan

bimbingan, nasehat dan motivasi dalam proses penyelesaian skripsi ini. 5. Bapak Seto Sulaksono Adi Wibowo, selaku dosen wali kelas Akuntansi

(7)

vii

6. Ibu Ely Kartikaningdyah, SE, M.Si selaku Ketua Jurusan Manajemen Bisnis Politeknik Negeri Batam.

7. Seluruh dosen dan staf pengajar Politeknik Negeri Batam yang telah memberi ilmu pengetahuan yang bermanfaat kepada peneliti.

8. Teman-teman AM A dan AM B angkatan 2011 yang selama ini telah berjuang bersama peneliti selama 4 tahun, baik dalam suka maupun duka.

9. Sahabat karib dari SMA, yaitu: Delvia Safitri, May Wulandari, Lia Angelina, dan Fitriani Effendy yang selalu memberikan nasihat kepada peneliti. 10. Riyan Miharja yang selalu memberikan dukungan dan waktunya untuk

peneliti dalam melakukan penelitian.

11. Para responden yang sudah berkenan untuk mengisi kuesioner penelitian. 12. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang sudah

membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini.

Demikian kata pengantar yang peneliti buat. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca dan pengembangan ilmu. Peneliti menyadari akan adanya kekurangan dan keterbatasan dalam menyusun skripsi ini. Peneliti memohon maaf apabila terdapat kesalahan pada skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun diharapkan oleh peneliti. Terima kasih.

(8)

viii

DAFTAR ISI

Halaman Sampul

Halaman Muka ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Pernyataan Keaslian Karya Tulis ... iii

Abstrak (dalam bahasa Indonesia) ... iv

Abstract (dalam bahasa Inggris) ... v

Kata Pengantar ... vi

Daftar Isi ... viii

Daftar Gambar... x

Daftar Tabel ... xi

Daftar Lampiran ... xiii

Bab I Pendahuluan ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Perumusan Masalah ... 6 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.4 Manfaat Penelitian ... 7 1.5 Batasan Masalah ... 7

Bab II Kajian Teori dan Literatur ... 9

2.1 Landasan Teori... 9

2.1.1 Teori Keunggulan Kompetitif ... 9

2.1.2 Supply Chain Management ... 10

2.2 Kajian Literatur ... 13

2.3 Kerangka Pemikiran ... 14

2.4 Hipotesis ... 16

Bab III Metode Penelitian ... 18

3.1 Instrumen Penelitian ... 18

3.2 Lokasi dan Obyek Penelitian ... 18

3.3 Teknik Penetapan Jumlah Sampel ... 19

3.4 Teknik Penarikan Sampel ... 19

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 20

3.6 Teknik Pengolahan Data ... 20

3.7 Teknis Analisis Data ... 20

3.7.1 Statistik Deskritif ... 20

3.7.2 Statistik Inferensial/Induktif ... 21

(9)

ix

3.8.1 Variabel Independen ... 23

3.8.2 Variabel Dependen ... 24

Bab IV Hasil dan Pembahasan ... 25

4.1 Karakateristik Responden ... 25

4.2 Analisis Deskripsi Variabel ... 26

4.3 Pengujian Instrumen ... 31

4.3.1 Uji Validitas... 32

4.3.2 Uji Reliabilitas ... 33

4.4 Uji Asumsi Klasik ... 34

4.4.1 Uji Normalitas... 34

4.4.2 Uji Multikolinearitas ... 35

4.4.3 Uji Heteroskedastisitas... 36

4.5 Pengujian Hipotesis ... 36

4.5.1 Analisis Regresi Sederhana ... 36

4.5.2 Koefisien Determinasi ... 38

4.6 Analisis Data ... 38

4.6.1 Pengaruh SCM Terhadap Keunggulan Kompetitif ... 38

Bab V Penutup ... 41

5.1 Simpulan ... 41

5.2 Keterbatasan ... 42

5.3 Implikasi dan Saran ... 42

5.3.1 Implikasi ... 42

5.3.2 Saran ... 43

Daftar Pustaka ... 44

(10)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ... 15

Gambar 2.2 Model Penelitian ... 17

Gambar 3.1 Kurva Uji 2 Arah ... 23

(11)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahuli ... 13 Tabel 4.1 Karakteristik Data ... 25 Tabel 4.2 Karakteristik Responden ... 25 Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel SCM dari Segi Strategic Supplier Partnerhip ... 27 Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel SCM dari Segi Customer Relationship... 27 Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel SCM dari Segi Level of Information Sharing ... 28 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel SCM dari Segi Company and Other Logistic Partner ... 29 Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel SCM dari Segi Postponement ... 29 Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Keunggulan Kompetitif dari Segi Cost Leadership ... 30 Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel

Keunggulan Kompetitif dari Segi Product Differentiation ... 30 Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Keunggulan Kompetitif dari Segi CQuick Response ... 31 Tabel 4.11 Uji Validitas Variabel SCM ... 32

(12)

xii

Tabel 4.12 Uji Validitas Variabel Keunggulan Kompetitif ... 33

Tabel 4.13 Uji Reliabilitas ... 34

Tabel 4.14 Uji Normalitas... 35

Tabel 4.15 Uji Multikolinearitas ... 35

Tabel 4.16 Uji Heteroskedastisitas... 36

Tabel 4.17 Analisa SCM Terhadap Keunggulan Kompetitif ... 37

(13)

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian ... 47

Lampiran 2 Uji Validitas ... 52

Lampiran 3 Uji Reliabilitas... 56

Lampiran 4 Karakteristik Responden ... 58

Lampiran 5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden ... 60

Lampiran 6 Uji Asumsi Klasik ... 69

(14)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Globalisasi yang semakin maju mengakibatkan meningkatnya persaingan antar perusahaan (Paulus & Devie, 2013). Perubahan yang terjadi pada lingkungan makro (ekonomi, politik, sosial, budaya, keamanan, dan teknologi), maupun lingkungan mikro (persaingan dalam industri), memunculkan dinamika usaha yang sering berubah-ubah (Snyder, 1996). Globalisasi dan perubahan-perubahan tersebut tidak dapat dihindari oleh semua sektor usaha, termasuk pada sektor usaha jasa perjalanan wisata.

Jasa perjalanan wisata adalah perusahaan yang pendapatan dan keuntungannya diperoleh dengan menawarkan jasa pelayanan serta menjual produk kepada wisatawan. Menurut Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia nomor 4 tahun 2014 tentang Standar Usaha Perjalanan Wisata, usaha jasa perjalanan wisata adalah usaha yang menyediakan barang dan/atau jasa bagi pemenuhan kebutuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. Jasa perjalanan wisata menawarkan pelayanan kepada seseorang atau pun sekelompok orang yang ingin melakukan perjalanan wisata baik dalam negeri maupun luar negeri. Jasa perjalanan wisata telah

(15)

2

menjadi kebutuhan bagi masyarakat yang ingin berlibur saat ini, karena semakin meningkatnya minat masyarakat untuk berwisata.

Salah satu daerah di Indonesia yang dikenal sebagai kota wisata adalah kota Batam, yang juga merupakan kota industri, yang mana berdekatan dengan negara Singapura dan Malaysia. Hal tersebut menjadikan Batam sebagai daerah strategis yang sangat mudah terpengaruh dengan perkembangan ekonomi dari luar negeri dan memiliki daya tarik bagi wisatawan asing maupun domestik. Menurut data BPS Kota Batam tahun 2013, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Batam adalah sebanyak 1.336.430 orang, sedangkan wisatawan nusantara sebanyak 1.291.287 orang. Pada umumnya, wisatawan domestik yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Batam untuk selanjutnya berkunjung ke Singapura atau Malaysia. Batam menjadi persinggahan bagi para wisatawan domestik tersebut sebelum ke Singapura dan Malaysia.

Perusahaan jasa perjalanan wisata tersebut tidak hanya ingin sekedar bertahan dalam persaingan yang ada, tetapi juga berkeinginan untuk lebih unggul secara kompetitif dari pesaing-pesaingnya. Keunggulan kompetitif merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk bertahan pada saat telah mencapai titik unggul dan dapat mempertahankan diri dari serangan pesaingnya (Porter, 1985). Perusahaan yang sudah mencapai keunggulan, maka akan mempertahankan keungggulannya tersebut dari pesaingnya.

(16)

Keunggulan kompetitif ini telah menjadi tujuan semua perusahaan, termasuk perusahaan jasa perjalanan wisata. Perusahaan jasa perjalanan wisata merupakan perusahaan jasa yang sedang mengalami peningkatan, karena meningkatnya minat masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Batam untuk berkunjung ke negara-negara tetangga. Hal tersebut dibuktikan dengan Indeks Implisit PDRB Kota Batam berdasarkan lapangan usaha. Menurut data tersebut, jasa perjalanan wisata termasuk ke dalam sektor pengangkutan, yang mana mengalami peningkatan sebesar 11.2% dari tahun 2012 ke 2013, yaitu dari 157.64% menjadi 168.84%. Perusahaan biro jasa perjalanan wisata di Batam yang tercatat di alamat website www.penghubungkepri.org yang merupakan website Kantor Penghubung Provinsi Kepulauan Riau adalah sebanyak 80 perusahaan.

Peningkatan jumlah perusahaan jasa perjalanan tersebut mengakibatkan persaingan bisnis semakin meningkat. Perusahaan jasa perjalanan wisata akan berusaha untuk mencapai keunggulan kompetitif dengan tujuan untuk memenangkan persaingan di dalam lingkungan bisnis. Keunggulan kompetitif juga digunakan sebagai salah satu cara untuk mencapai tujuan kinerja perusahaan, sehingga perusahaan jasa perjalanan wisata tersebut dapat tumbuh dan berkembang menjadi perusahaan jasa yang terpercaya dalam hal pelayanan pariwisata.

Perusahaan yang mencapai keunggulan kompetitif dapat dilihat dari tiga indikator, yaitu diferensiasi produk atau jasa, kepemimpinan biaya rendah, dan respon yang cepat terhadap pelanggan. Diferensiasi produk atau jasa

(17)

4

dimaksudkan agar konsumen dapat memilih produk atau jasa mana yang diinginkan. Menurut Kotler (2002), pembedaan adalah tindakan merancang serangkaian perbedaan yang berarti untuk membedakan tawaran perusahaan dengan tawaran pesaing. Perusahaan dapat melalukan pembedaan dalam paket layanan wisata, tujuan wisata atau akomodasi penginapan.

Perusahaan juga dapat mencapai keunggulan kompetitif melalui penggunaan biaya produksi yang rendah dan respon yang cepat terhadap pelanggan. Perusahaan akan memiliki keunggulan dalam hal biaya apabila biaya kumulatifnya dalam melakukan semua aktivitas bernilai lebih rendah dibandingkan pesaingnya (Porter, 1985). Perusahaan dapat dikatakan unggul secara kompetitif saat perusahaan memproduksi barang atau jasa dengan menggunakan biaya yang lebih rendah dari yang digunakan oleh perusahaan lain, yang merupakan pesaingnya.

Respon atau kesigapan perusahaan dalam memberikan pelayanan yang cepat dan tanggap juga dapat membantu perusahaan dalam mencapai keunggulan kompetitif. Respon yang cepat terhadap pelanggan berhubungan dengan kualitas pelayanan perusahaan. Perusahaan harus mampu mengirimkan dan menyediakan produk dan jasa secara tepat waktu yang berdasarkan keinginan konsumen (Li et al. 2006). Perkembangan teknologi memungkinkan perusahaan untuk dapat menurunkan biaya sambil meningkatkan respon kepada pelanggan ataupun meningkatkan kualitas produk.

(18)

Banyak strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Salah satunya adalah dengan menggunakan Supply Chain

Management (SCM). SCM merupakan suatu pendekatan untuk mencapai

pengintegrasian berbagai organisasi yang lebih efisien. Menurut Chopra & Meindl (2010), SCM dapat berpengaruh secara kuat pada keuntungan dan kesuksesan suatu perusahaan secara keseluruhan.

Terdapat lima indikator SCM yang dapat digunakan, yaitu Strategic

Supplier Partnership, Level of Information Sharing, Customer Relationship, Company and Other Logistic Partners, dan Postponement (Tjoa, 2013). Kelima

indikator tersebut mencakup aliran puncak dari SCM, yaitu Strategic Partnerships

with Suppliers dan aliran bawah Customer Relationship. Sedangkan untuk aliran

informasi pada SCM melalui Level of Information Sharing, Company and Other

Logistic Partners, dan Postponement.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ghatebi et al. (2013) menunjukkan adanya hubungan dan pengaruh dari SCM terhadap keunggulan kompetitif pada perusahaan manufaktur di Provinsi Khuzestan. Sedangkan untuk penelitian ini, penulis menggunakan sampel perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam. Perusahaan jasa perjalanan wisata dipilih karena perusahaan jasa tersebut sedang diminati oleh masyarakat yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri.

(19)

6

Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul: PENGARUH SUPPLY CHAIN MANAGEMENT TERHADAP KEUNGGULAN KOMPETITIF PADA PERUSAHAAN JASA PERJALANAN WISATA .

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat diketahui bahwa Supply Chain

Management (SCM) memiliki pengaruh terhadap keunggulan kompetitif.

Keungulan kompetitif dapat dicapai dengan menggunakan lima indikator dari SCM, karena dengan kelima indikator tersebut perusahaan dapat mencapai keunggulan yang kompetitif secara optimal. Berdasarkan hal tersebut, maka masalah penelitian ini adalah Bagaimana pengaruh Supply Chain Management terhadap keunggulan kompetitif pada perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam.

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah menguji pengaruh Supply Chain Management terhadap keunggulan kompetitif pada perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah: a. Bagi peneliti

Sebagai tambahan pengetahuan dan wawasan bagi penulis berkaitan dengan masalah yang diteliti.

(20)

b. Bagi pembaca

Untuk menambah kazanah ilmu pengetahuan dan menjadi tambahan referensi mengenai pengaruh Supply Chain Management terhadap keunggulan kompetitif.

c. Bagi perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi para manajer perusahaan jasa perjalanan wisata untuk mempertimbangkan Supply Chain

Manegement dalam perusahaan, sehingga perusahaan dapat mencapai

keunggulan kompetitif yang optimal. 1.5 Batasan Masalah

Banyak cara yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif. Misalnya dengan menggunakan Benchmarking (Attiany, 2014), Total Quality Management (Prayhoego & Devie, 2013), Knowledge

Management and Innovation (Hana, 2013), Management Accounting System

(Muthaher, 2009), Supply Chain Management (Ghatebi et al., 2013), dan lain-lain. Penelitian ini hanya meneliti tentang pengaruh Supply Chain Management terhadap keunggulan kompetitif pada perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam. Peket wisata yang diteliti adalah paket wisata one day tour Batam-Singapura yang meliputi tiket ferry dan tax pulang pergi Batam-Batam-Singapura, layanan transportasi berupa mini bus di Singapura, dan kunjungan ke tempat-tempat terkenal di Singapura.

(21)

8

SCM dilakukan oleh perusahaan jasa perjalanan wisata agar perusahaan tersebut memiliki proses bisnis dan dapat memberikan layanan perjalanan wisata yang baik. SCM merupakan strategi awal yang dilakukan oleh perusahaan menengah dalam proses pencapaian keunggulan dalam persaingan. Menurut peneliti sampai saat ini, peneliti belum menemukan penelitian tentang pengaruh SCM yang berfokus pada perusahaan jasa perjalanan wisata.

(22)

9

BAB II

KAJIAN TEORI DAN LITERATUR

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori Keunggulan Kompetitif

Keunggulan kompetitif telah menjadi perhatian bagi setiap manajer. Para manejer harus selalu waspada pada perkembangan yang terjadi pada pangsa pasar agar dapat bereaksi secara cepat, sehingga dapat mempertahankan keunggulannya. Keunggulan kompetitif merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pesaingnya yang bergerak dalam industri yang sama (Porter, 1985). Keunggulan kompetitif merupakan keunggulan yang dicapai oleh perusahaan melebihi pesaing-pesaingnya dengan cara menawarkan nilai yang lebih kepada konsumen, baik melalui harga produk atau jasa yang lebih rendah atau dengan menyediakan manfaat tambahan dan layanan yang yang lebih baik (Attiany, 2014).

Li et al. (2006) menyatakan bahwa keunggulan kompetitif merupakan kapasitas perusahaan untuk menciptakan dan memelihara posisi yang dapat dipertahankan melebihi pesaingnya. Perusahaan akan berusaha untuk mempertahankan posisis keunggulannya, agar tetap pada posisi unggul dari para pesaingnya. Keunggulan kompetitif dikatakan telah tercapai oleh perusahaan

(23)

10

apabila keputusan yang diambil dapat menciptakan hasil yang melebihi perusahaan lainnya.

2.1.2 Supply Chain Management

Supply Chain Management merupakan hubungan ke hulu (pemasok) dan

ke hilir (konsumen) dengan tujuan untuk memberikan nilai yang unggul kepada konsumen dengan biaya yang mimimum pada rantai pasokan secara keseluruhan (Christopher, 2011). SCM membentuk kerangka kerja dan hubungan antara perusahaan, pemasok, dan konsumen. Menurut Porter (1985), suatu perusahaan dapat mengaitkan rantai nilai perusahaannya dengan Supply Chain Management, yaitu dengan menerapkan sistem agar sumber bahan baku atau sumber jasa tersedia saat dibutuhkan. Rantai nilai perusahaan dalam suatu industri kemungkinan mirip, namun bersifat unik. Setiap aktivitas mencakup suatu informasi dan pengolahannya yang merupakan langkah kunci bagi perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif (Ghatebi et al., 2013).

Menurut Tjoa (2013), terdapat lima indikator dalam SCM yaitu, Strategic

Supplier Partnership, Level of Information Sharing, Customer Relationship, Company and Other Logistic Partners, dan Postponement. Kelima indikator

tersebut terbukti dapat menjadi alat dalam mencapai keunggulan kompetitif, namun tidak mempengaruhi kinerja perusahaan, di mana Tjoa (2013) hanya meneliti satu perusahaan manufaktur saja.

(24)

1. Strategic Supplier Partnerships

Stretegi ini digunakan untuk melakukan perencanaan dan pemecahan masalah antara pemasok dan prusahaan. Hubungan yang efektif dengan pemasok bisa menjadi faktor kritis untuk panduan SCM (Li et al., 2006). Objek utama dari strategi bermitra dengan pemasok adalah dengan meningkatkan kemampuan fungsional yang diinginkan pemasok (Rosenzweig, 2003).

2. Level of Information Sharing

Level of Information Sharing merupakan kemampuan perusahaan untuk

membagi informasi dan pengetahuan dengan partner rantai pasokannya dengan cara yang efektif dan efisien (Ghatebi et al., 2013). Integrasi dari rantai pasokan dapat tercapai dengan menggunakan sistem informasi yang modern. Penerapan sistem informasi rantai pasokan memperbolehkan mitra kerja untuk memberikan kritik dan saran agar komunikasi menjadi efektif (Li et al., 2006). Mitra kerja dalam nilai pasokan yang mau bertukar informasi secara teratur akan mampu untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan perusahaannya.

3. Customer Relationship

Perusahaan akan melakukan cara-cara agar kepuasan pelanggan tercapai. Hubungan yang baik dengan anggota rantai pasokan, termasuk konsumen di dalamnya untuk mencapai kesuksesan dari implementasi SCM. Hubungan yang dekat dengan konsumen memungkinkan konsumen tersebut untuk membedakan produk perusahaan dengan produk pesaing (Li et al., 2006).

(25)

12

4. Company and Other Logistic Partners

Perusahaan dapat memilih untuk menggunakan 1PL (First Partner Logistic), 2PL (Second Partner Logistic), 3PL (Third Partner Logistic), atau 4PL (Fourth Partner Logistic). 1PL dapat digunakan untuk menangani aktivitas logistik secara keseluruhan kepada pembeli. 2PL dan 3PL dapat digunakan apabila pembeli dan penjual terlibat dalam logistic tersebut, seperti berbagi tanggungjawab atas transportasi untuk distribusi. 4PL merupakan partner logistic yang paling banyak digunakan oleh perusahaan saat ini, karena dapat mencari

supplier yang memiliki kontribusi yang baik untuk peningkatan logistik yang lebih

efektif dan efisien (Saglietto, 2013). 5. Postponement

Postponement (penundaan) merupakan indikator yang dapat membuat

fungsi rantai pasokan ke hilir (konsumen) menjadi efektif. Penundaan dapat membawa keunggulan, di mana memungkinkan perusahaan untuk menjadi fleksibel dalam pengembangan dan pembedaan produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Li et al., 2006). Perusahaan dapat membuat perjanjian dengan konsumen mengenai pengiriman barang atau pelayanan.

(26)

2.2 Kajian Literatur

Berikut ringkasan penelitian terdahulu:

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu

No Peneliti Judul Variabel

Independen Variabel Dependen Hasil 1 Attiany (2014) Competitive Advantage Through Benchmarking: Field Study of Industrial Company Listed in Amman Stock Exchange - Benchmarking - Competitive Advantage - Terdapat pengaruh signifikan antara benchmarking terhadap keunggulan kompetitif 2 Prayhoego & Devie (2013) Analisa Pengaruh Total Quality Management Terhadap Keunggulan Bersaing dan Kinerja Perusahaan - Total Quality Management - Keunggulan Bersaing - Kinerja Perusahaan - Terdapat hubungan signifikan antara Total Quality Management terhadap keunggulan bersaing, Total Quality Management terhadap kinerja perusahaan, dan kenggulan bersaing dan kinerja perusahaan 3 Hana (2013) Competitive Advantage Achievement through Innovation and Knowledge - Innovation - Knowledge - Competitive Advantage - Terdapat pengaruh signifikan antara inovasi dan pengetahuan terhadap keunggulan kompetitif 4 Muthaher (2009) Analisis Pengaruh Penggunaan Informasi Sistem Akuntansi Manajemen Terhadap Keunggulan Bersaing - Informasi Sistem Akuntansi Manajemen - Kinerja Bisnis (variabel mediator) - Keunggulan Bersaing - Terdapat hubungan langsung antara Sistem Akuntansi Manajemen terhadap keunggulan

(27)

14

melalui Kinerja Bisnis bersaing

5 Ghatebi et al. (2013) Impact of Supply Chain Management Practices on Competitive Advantage in Manufacturing Companies of Khuzestan Province - Supply Chain Management - Competitive Advantage - Terdapat hubungan antara supply chain management terhadap keunggulan kompetitif 6 Suharto & Devie (2013) Analisa Pengaruh Supply Chain Management terhadap Keunggulan Bersaing dan Kinerja Perusahaan - Supply Chain Management - Keunggulan Bersaing - Terdapat hubungan signifikan antara supply chain management terhadap keunggulan kompetitif 7 Vanathi & Swamynath an (2014) Competitive Advantage Through Supply Chain Collaboration – An Empirical Study of The Indian Textile Industry - Supply Chain Management - Competitive Advantage - Terdapat pengaruh positif antara supply chain management terhadap competitive advantage

Sumber: penelitian terdahulu

2.3 Kerangka Pemikiran

Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh perusahaan dalam mencapai keunggulan kompetitif. Penelitian Attiany (2014) memperoleh hasil bahwa keunggulan kompetitif dapat dicapai dengan menggunakan

benchmarking. Penelitian Prayhoego & Devie (2013) berhasil membuktikan

adanya hubungan yang signifikan antara TQM terhadap keunggulan kompetitif. Menurut Hana (2013), inovasi merupakan hal penting bagi perusahaan, sedangkan knowledge management berdampak signifikan terhadap proses inovasi untuk mencapai keunggulan kompetitif.

(28)

Menurut penelitian Muthaher (2009), Management Accounting System (MAS) memiliki hubungan langsung dengan keunggulan bersaing yang lebih baik. Sedangkan menurut Ghatebi et al. (2013), Supply Chain Management memiliki hubungan dan pengaruh terhadap keunggulan kompetitif. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Suharto & Devie (2013).

Penelitian ini hanya meneliti pengaruh SCM terhadap keunggulan kompetitif pada perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam. SCM merupakan strategi yang dilakukan oleh perusahaan jasa perjalanan wisata dalam menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan jasa yang ada negara lain, khususnya dengan perusahaan jasa perjalanan wisata di Singapura.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Sumber: hasil pemikiran berdasarkan berbagai sumber

Benchmarking

TQM

Knowledge & Innovation Management SCM MAS KEUNGGULAN KOMPETITIF Attiany (2014): positif signifikan

Prayhoego & Devie (2013): berhubungan signifikan

Hana (2013): berpengaruh signifikan

Muthaher (2009): berhubungan langsung

Ghatebi et al. (2013) & Suharto & Devie (2013): berhubungan dan berpengaruh

(29)

16

2.4 Hipotesis

SCM merupakan strategi awal yang dilakukan oleh perusahaan perusahaan jasa perjalanan wisata. SCM timbul karena adanya kesadaran perusahaan jasa perjalanan wisata tentang pentingnya hubungan kerja sama atau kemitraan. Hubungan kemitraan tersebut dilakukan dengan perusahaan jasa perjalanan wisata di Singapura. Perusahaan jasa perjalanan wisata dapat memiliki proses bisnis yang baik, sehingga kedepannya dapat menjadi perusahaan yang unggul dengan memperhatikan hubungan kemitraan yang baik dengan perusahaan lain.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ghatebi et al. (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Impact of Supply Chain Management Practices on

Competitive Advantage in Manufacturing Companies of Khuzestan Province,

diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan dan pengaruh SCM terhadap keunggulan kompetitif. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Suharto & Devie (2013) dalam penelitiannya yang berjudul Analisa Pengaruh Supply Chain

Management terhadap Keunggulan Kompetitif dan Kinerja Perusahaan,

diperoleh hasil adanya hubungan yang signifikan antara Supply Chain

Management terhadap keunggulan kompetitif, Supply Chain Management

terhadap kinerja perusahaan dan keunggulan bersaing terhadap kinerja perusahaan. Berdasarkan hubungan tersebut, hipotesis dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

(30)

H1: Supply Chain Management berpengaruh terhadap keunggulan kompetitif pada perusahaan jasa perjalanan wisata.

Gambar 2.2 Model Penelitian

Sumber: hasil pemikiran berdasarkan berbagai sumber H1

SCM (X1)

CA (Y)

(31)

18

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Instrumen Penelitian

Jenis data dalam penelitian ini adalah data interval (Ghozali, 2012). Menurut Ghozali (2012), data interval sesuai untuk semua uji statistik. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang menggunakan skala likert lima poin, yaitu: sangat setuju (berbobot 5), setuju (berbobot 4), cukup setuju (berbobot 3), tidak setuju (berbobot 2), dan sangat tidak setuju (berbobot 1). Kuesioner tersebut diambil dari penelitian Tjoa (2013) yang menggunakan kuesioner dari penelitian Li et al. (2006) dan Salazar (2012). Kuesioner tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan peneliti dan akan diuji terlebih dahulu reliabilitasnya dengan melihat nilai Cro a h’s Alpha. Jika nilai Cro a h’s Alpha > 0.6, maka kuesioner tersebut sudah reliable. Sedangkan validitasnya akan diukur dengan membandingkan r hitung dan r tabel. Kuesioner dapat dikatakan valid jika r hitungnya lebih besar dari r tabel.

3.2 Lokasi dan Obyek Penelitian

Obyek dari penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak pada jasa perjalanan wisata yang berlokasi di Batam. Subjek dari penelitian ini adalah manajer pada perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam.

(32)

3.3 Teknik Penetapan Jumlah Sampel

Teknik penetapan jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan pengujian menggunakan rumus slovin. Teknik ini dipilih karena menggambarkan kondisi populasi yang sesungguhnya. Adapun rumus slovin untuk menghitung jumlah sampel pada penelitian ini adalah:

� = �

1 + (� × �2)

Keterangan:

n = ukuran sampel N = ukuran populasi

e = presentase kelonggaran ketidakterikatan karena kesalahan pengambilan sampel yang masih diinginkan

Maka, sampel dalam penelitian ini adalah:

� = 80

1 + (80 × 0.052)

� =1.280

� = 66.666 = 67 �� � �ℎ���

3.4 Teknik Penarikan Sampel

Penelitian ini menggunakan teknik penarikan non probability sampling, yaitu purposive sampling. Pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling) dilakukan dengan mengambil sampel dari populasi berdasarkan kriteria tertentu. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan jasa perjalanan wisata yang memiliki paket tour satu hari ke Singapura.

(33)

20

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah survei dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner akan didistribusikan kepada para manajer pada perusahaan jasa perjalanan wisata yang berada di Batam.

3.6 Teknik Pengolahan Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier sederhana dengan program SPSS 20. Data yang telah diperoleh akan diolah dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) menentukan variabel-variabel yang akan dimasukkan ke dalam table frekuensi; (2) editing, yaitu proses pengecekan dan penyesuaian data yang diperoleh; (3) coding, yaitu pemberian angka dari jawaban kuesioner dan kemudian dikelompokkan dalam kategori yang sama, yang bertujuan untuk menyederhanakan jawaban; (4) scoring, yaitu mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif atau memberikan bobot angka pada jawaban persepsi dalam kuesioner; dan (5) tabulating, yaitu menyajikan data-data yang telah diperoleh ke dalam tabel.

3.7 Teknik Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini terdiri dari analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial/induktif.

3.7.1 Statistik Deskriptif

Penggunaan statistik deskriptif dimaksudkan untuk menganalisis data, yaitu dengan cara menggambarkan karakteristik data sampel yang telah terkumpul tanpa membuat kesimpulan yang berlaku umum atau generalisasi

(34)

(Sujarweni, 2008). Statistik deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk mengidentifikasi responden berdasarkan jenis kelamin, pendidikan terakhir, usia responden, dan lama bekerja. Statistik deskriptif dalam penelitian ini juga digunakan untuk mengidentifikasi distribusi frekuensi jawaban responden terhadap masing-masing variabel.

3.7.2 Statistik Inferensial/Induktif

Penggunaan statistik inferensial/induktif dimaksudkan untuk menganalisis data sampel dan hasilnya akan digeneralisasikan kepada populasi dimana sampel diambil (Sujarweni, 2008). Statistik inferensial/induktif dalam peneltian ini terdiri dari uji asumsi klasik dan analisis regresi sederhana.

a. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas

Uji normalitas data ini bertujuan untuk menguji apakah variabel pengganggu atau residual dalam model regresi berdistribusi normal. Normalitas data dapat dilihat dengan menggunakan uji normal

kolmogorov-smirnov. Kriteria pengambilan keputusannya adalah jika sig > 0,05 maka data

berdistribusi normal dan jika sig < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Ghozali, 2012).

b. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah ada korelasi antar variabel bebas dalam sebuah model regresi. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel bebasnya.

(35)

22

Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF). Jika nilai tolerance > 0,10 dan nilai VIF < 10, maka model regresi tersebut bebas dari multikolinieritas (Ghozali, 2012).

c. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji terjadinya perbedaan varian residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas.

Pengujian yang digunakan untuk mendeteksi adanya heteroskedastisitas dalam penelitian adalah uji Spearman. Pengujian heteroskedastisitas dengan uji Spearman dilakukan dengan cara mengkorelasikan nilai absolut residual terhadap seluruh variabel independen. Apabila hasil regresi absolut terhadap seluruh variabel independen mempunyai nilai signifikan lebih kecil dari 0.025, maka dapat disimpulkan bahwa model penelitian tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.

b. Analisis Regresi Sederhana

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan analisis regresi sederhana. Analisis regresi sederhana digunakan untuk menguji pengaruh dari satu variabel independen terhadap satu variabel dependen (Sujarweni, 2008). Pengujian regresi dalam penelitian ini digunakan untuk

(36)

menguji pengaruh Supply Chain Management terhadap keunggulan kompetitif. Jika nilai signifikansi < 0.05, maka hipotesis diterima (Sarwono, 2013). Persamaan regresi dalam penelitian ini adalah:

Y = a + bX + e Keterangan:

Y = Keunggulan Kompetitif a = konstanta

b = koefisien regresi

X = Supply Chain Management

Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji dua arah, sehingga kurva uji adalah seperti pada gambar 3.1.

Gambar 3.1 Kurva Uji 2 Arah

3.8 Definisi Operasional Variabel 3.8.1 Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah Supply Chain

Management yang diukur dari lima indikator, yaitu Strategic Supplier Partnership, Customer Relationship, Level of Information Sharing, Company and

Jangan Tolak Ho 95%

Tolak Ho

1,96 -1,96

(37)

24

Other Logistic Partner, dan Posponement. Kelima indikator tersebut memiliki

item pertanyaan masing-masing. Indikator Strategic Supplier Partnership terdiri dari pertanyaan: (1) kualitas pemasok; (2) program perbaikan atau peningkatan mutu; dan (3) perencanaan dengan pemasok. Indikator Customer Relationship terdiri dari pertanyaan: (1) interaksi dengan pelanggan; (2) evaluasi kepuasan pelanggan; (3) penentuan harapan pelanggan; dan (4) evaluasi hubungan pelanggan. Indikator Level of Information Sharing terdiri dari pertanyaan: (1) pertukaran informasi; (2) keakuratan informasi; (3) informasi yang memadai; dan (4) informasi yang dapat dipercaya. Indikator Company and Other Logistic

Partner terdiri dari pertanyaan: (1) kualitas partner; (2) tugas partner; dan (3)

evaluasi kegiatan. Indikator Posponement terdiri dari pertanyaan: (1) kesesuaian jadwal keberangkatan dan kepulangan; dan (2) kesepakatan atas penundaan. 3.8.2 Variabel Dependen

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah keunggulan kompetitif yang diukur dari 3 indikator, yaitu kepemimpinan biaya rendah, pembedaan produk, dan respon yang cepat. Ketiga indikator tersebut memiliki item pertanyaan masing-masing. Indikator kepemimpinan biaya rendah terdiri dari perntanyaan mengenai harga, indikator pembedaan produk terdiri dari pertanyaan mengenai pilihan paket tour, dan indikator respon yang cepat terdiri dari pertanyaan mengenai ketepatan waktu serta kehandalan perusahaan.

(38)

25

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Karakateristik Responden

Responden pada penelitian ini adalah manajer pada perusahaan jasa tour

and travel di Batam. Sampel yang digunakan berjumlah 46 responden. Rincian

jumlah sampel tersebut ditunjukkan pada tabel 4.1 berikut: Tabel 4.1 Karakteristik Data

Keterangan Frekuensi Presentase

Kuesioner yang disebarkan 67 100% Kuesioner yang tidak kembali 21 42.5%

Total sampel yang digunakan 46 57.5%

Sumber: data primer diolah

Para responden yang telah mengisi kuesioner kemudian diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin, pendidikan, usia dan lama bekerja. Identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik secara umum para responden penelitian. Karakteristik umum responden digambarkan dalam tabel 4.2 berikut:

Tabel 4.2 Karakteristik Responden

Frekuensi Persentase

Jenis Kelamin Laki-laki 22 47.8%

Wanita 24 52.2%

Pendidikan Terakhir SMA 8 17.4%

Diploma 23 50.0%

Sarjana 15 32.6%

Master 0 0.0%

(39)

26

Usia Responden 21-30 18 39.1%

31-40 20 43.5%

41-50 7 15.2%

>50 1 2.2%

Lama Bekerja <1 tahun 0 0.0%

2-4 tahun 22 47.8%

4-6 tahun 18 39.1%

6-8 tahun 3 6.5%

>8 tahun 3 6.5%

Jumlah Sampel 46 100%

Sumber: data primer diolah

Dari tabel 4.2 di atas, dapat dilihat karakteristik responden dari 46 kuesioner yang digunakan dalam pengolahan data, yaitu responden wanita lebih dominan dengan persentase sebesar 52.2% daripada responden pria dengan persentase sebesar 47.8%. Dari sisi pendidikan, mayoritas pendidikan terakhir responden adalah Diploma dengan persentase sebesar 50.0%. Para responden mayoritas berada pada usia 31 - 40 tahun dengan persentase sebesar 43.5% dan mayoritas para responden bekerja pada masa 2 - 4 tahun dengan persentase sebesar 47.8%.

4.2 Analisis Deskripsi Variabel

Analisis deskripsi variabel merupakan analisa terhadap variabel supply chain

management dan keunggulan kompetitif berdasarkan hasil jawaban responden

atas pernyataan kuesioner pada masing-masing indikator variabel penelitian. Variabel supply chain management terdiri dari 5 indikator, yaitu strategic

supplier partnership, customer relationship, level of information sharing, company and other logistics partner, dan postponement. Variabel keunggulan

(40)

kompetitif terdiri dari 3 indikator, yaitu cost leadership, product differentiation, dan quick response. Hasil distribusi jawaban responden dari masing-masing variabel tersebut akan dijelaskan dalam tabel berikut:

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Supply Chain Management dari Segi Strategic Supplier Partnership

Strategic Supplier Partnership

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total

1 % 2 % 3 % 4 % 5 %

SSP1 (X1.1) 0 0 0 0 3 6.5 25 54.3 18 39.1 46

SSP2 (X1.2) 0 0 2 4.3 7 15.2 26 56.5 11 23.9 46

SSP3 (X1.3) 0 0 8 17 15 32.6 17 37 6 13 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, indikator Strategic Supplier Partnership (SSP1-SSP3) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan hubungan perusahaan dan pemasok yang baik. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung setuju dengan pertanyaan mengenai pentingnya kualitas dalam memilih pemasok, adanya program perbaikan untuk peningkatan mutu yang melibatkan pemasok, dan adanya keikutsertaan pemasok dalam kegiatan perencanaan tujuan perusahaan.

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Supply Chain Management dari Segi Customer Relationship

Customer Relationship

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total 1 % 2 % 3 % 4 % 5 % CR1 (X1.4) 1 2.2 1 2.2 3 6.5 18 39.1 23 50 46 CR2 (X1.5) 0 0 5 11 7 15.2 26 56.5 8 17.4 46 CR3 (X1.6) 0 0 1 2.2 8 17.4 32 69.6 5 10.9 46 CR4 (X1.7) 0 0 7 15 15 32.6 19 41.3 5 10.9 46

(41)

28

Berdasarkan tabel 4.4 di atas, indikator Customer Relationship (CR1-CR4) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan hubungan perusahaan dengan customer yang baik. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung setuju dengan pertanyaan mengenai seringnya perusahaan mengukur kepuasan pelanggan, penentuan ekspektasi pelanggan secara berkala, dan adanya evaluasi hubungan yang dilakukan oleh perusahaan kepada pelanggan secara rutin. Sementara itu, responden sangat setuju dengan adanya interaksi dengan pelanggan untuk mengatur kualitas layanan, kepercayaan, dan respon yang baik ke para pelanggan.

Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Supply Chain Management dari Segi Level of Information Sharing

Level of Information Sharing

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total 1 % 2 % 3 % 4 % 5 % LIS1 (X1.8) 0 0 1 2.2 10 21.7 25 54.3 10 21.7 46 LIS2 (X1.9) 0 0 2 4.3 8 17.4 26 56.5 10 21.7 46 LIS3 (X1.10) 0 0 3 6.5 4 8.7 29 63 10 21.7 46 LIS4 (X1.11) 0 0 1 2.2 2 4.3 28 60.9 15 32.6 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.5 di atas, indikator Level of Information Sharing (LIS1-LIS4) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan adanya pembagian atau pertukaran informasi antara perusahaan dan pemasok. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung setuju dengan pertanyaan mengenai adanya pertukaran informasi mengenai acara dan perubahan rencana, pertukaran informasi yang akurat, memadai, serta dapat dipercaya antara perusahaan dan pemasok.

(42)

Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Supply Chain Management dari Segi Company and Other Logistic Partner

Company and Other Logistic Partner

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total

1 % 2 % 3 % 4 % 5 %

COLP1 (X1.12) 0 0 1 2.2 2 4.3 22 47.8 21 45.7 46

COLP2 (X1.13) 0 0 1 2.2 3 6.5 28 60.9 14 30.4 46

COLP3 (X1.14) 0 0 3 6.5 13 28.3 27 58.7 3 6.5 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.6 di atas, indikator Company and Other Logistic Partner (COLP1-CLOP3) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan adanya hubungan yang baik antara perusahaan dan partner logistic. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung setuju dengan pertanyaan mengenai pentingnya kualitas dalam menentukan partner tour and travel di Singapura, Partner tour and travel di Singapura memenuhi tugas dengan tepat waktu, serta adanya evaluasi kegiatan yang dilakukan perusahaan terhadap partner tour and travel di Singapura secara berkala.

Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Supply Chain Management dari Segi Postponement

Postponement

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total

1 % 2 % 3 % 4 % 5 %

PO1 (X1.15) 0 0 0 0 2 4.3 17 37 27 58.7 46

PO2 (X1.16) 1 2.2 0 0 1 2.2 18 39.1 26 56.5 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.7 di atas, indikator Postponement (PO1-PO2) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan adanya pemberitahuan kepada pelanggan apabila terjadi penundaan keberangkatan. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung sangat setuju dengan

(43)

30

pertanyaan mengenai adanya penyelesaian keberangkatan dan kepulangan pelanggan sesuai jadwal, serta adanya kesepakatan dengan pelanggan apabila terjadi penundaan keberangkatan atau kepulangan.

Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Keunggulan Kompetitif dari Segi Cost Leadership

Cost Leadership

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total

1 % 2 % 3 % 4 % 5 %

CL1 (Y1.1) 1 2.2 2 4.3 4 8.7 23 50 16 34.8 46

CL2 (Y1.2) 0 0 3 6.5 11 23.9 26 56.5 6 13 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.8 di atas, indikator Cost Leadership (CL1-CL2) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan penggunaan biaya rendah dalam proses jasa. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung setuju dengan pertanyaan mengenai penawaran harga yang bersaing dan perusahaan mampu menawarkan harga yang sama atau lebih rendah daripara pesaing.

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Keunggulan Kompetitif dari Segi Product Differentiation

Product Differentiation

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total

1 % 2 % 3 % 4 % 5 %

PD1 (Y1.3) 0 0 1 2.2 3 6.5 25 54.3 17 37 46

PD2 (Y1.4) 0 0 5 11 7 15.2 22 47.8 12 26.1 46

PD3 (Y1.5) 0 0 1 2.2 7 15.2 28 60.9 10 21.7 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.9 di atas, indikator Product Differentiation (PD1-PD3) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan bahwa perusahaan melakukan pembedaan jasa. Hal ini terlihat dari jawaban para

(44)

responden yang cenderung setuju dengan pertanyaan mengenai tersedianya berbagai pilihan tour and travel, penyesuaian paket tour and travel dengan kebutuhan pelanggan, dan adanya tanggapan dari perusahaan atas permintaan pelanggan untuk memperbaharui paket layanan wisata.

Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Keunggulan Kompetitif dari Segi Quick Response

Quick Response

Item

Frekuensi Jawaban Responden

Total

1 % 2 % 3 % 4 % 5 %

QR1 (Y1.6) 0 0 0 0 0 0 17 37 29 63 46

QR2 (Y1.7) 0 0 0 0 0 0 19 41.3 27 58.7 46

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.10 di atas, indikator Quick Response (QR1-QR2) menunjukkan bahwa secara umum, responden mempersepsikan adanya respon yang cepat terhadap pelanggan. Hal ini terlihat dari jawaban para responden yang cenderung sangat setuju dengan pertanyaan mengenai keberangkatan dan kepulangan pelanggan secara tepat waktu, serta penyediaan jasa perjalanan wisata yang dapat dihandalkan.

4.3 Pengujian Instrumen

Pengujian instrumen dilakukan terhadap indikator dari masing-masing variabel agar diketahui tingkat valid dan reliabel indikator sebagai alat ukur variabel. Pengujian instrumen ini terdiri dari uji validitas dan uji reliabilitas.

(45)

32

4.3.1 Uji Validitas

Uji validitas dilakukan untuk mengukur valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dapat dikatakan valid apabila pertanyaannya mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur. Pengujian dilakukan dengan mencari nilai korelasi antara skor masing-masing item pertanyaan dengan total skor masing-masing dimensinya. Pertanyaan kuesioner dinyatakan valid jika r hitung > r table (Ghozali, 2012). Hasil uji validitas ditunjukkan pada tabel 4.11 berikut:

Tabel 4.11 Uji Validitas Variabel Supply Chain Management

Indikator

Validitas

Item r hitung r tabel Kesimpulan

Strategic Supplier Partnership Item 1 0.64 0.312 Valid Item 2 0.69 Valid Item 3 0.724 Valid Customer Relationship Item 1 0.633 0.312 Valid Item 2 0.765 Valid Item 3 0.604 Valid Item 4 0.764 Valid Level of Information Sharing Item 1 0.574 0.312 Valid Item 2 0.758 Valid Item 3 0.752 Valid Item 4 0.753 Valid Company and Other Losgistic Partner Item 1 0.762 0.312 Valid Item 2 0.752 Valid Item 3 0.657 Valid

Postponement Item 1 0.759 0.312 Valid

Item 2 0.867 Valid

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.11 di atas, diketahui bahwa masing-masing indikator pertanyaan yang digunakan mempunyai nilai r hitung yang lebih besar dari r tabel, yang berarti indikator pertanyaan dari masing-masing variabel yang

(46)

digunakan dalam penelitian ini dinyatakan valid untuk digunakan sebagai alat ukur variabel supply chain management.

Tabel 4.12 Uji Validitas Variabel Keunggulan Kompetitif

Indikator

Validitas

Item r hitung r tabel Kesimpulan

Cost Leadership Item 1 0.641 0.312 Valid Item 2 0.641 Valid Product Differentiation Item 1 0.775 0.312 Valid Item 2 0.868 Valid Item 3 0.676 Valid Quick Response Item 1 0.831 0.312 Valid Item 2 0.836 Valid

Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.12 di atas, diketahui bahwa masing-masing indikator pertanyaan yang digunakan mempunyai nilai r hitung lebih besar dari r tabel, yang berarti indikator pertanyaan dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini dinyatakan valid untuk digunakan sebagai alat ukur variabel keunggulan kompetitif.

4.3.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui apakah indikator pertanyaan kuesioner yang digunakan reliabel atau handal sebagai alat ukur variabel. Pengujian reliabilitas seluruh item pertanyaan dilakukan dengan menggunakan uji statistik Alpha-Cronbach. Suatu instrumen penelitian dapat dinyatakan reliabel jika nilai Alpha-Cronbach lebih besar dari 0,60 (Ghozali, 2012). Hasil uji reliabilitas ditunjukkan pada tabel 4.13 berikut:

(47)

34

Tabel 4.13 Uji Reliabilitas

Variabel Reliabilitas Alpha Cronbach Cut off Kesimpulan Alpha Cronbach

Supply Chain Management 0.721 0.60 Reliabel

Keunggulan Kompetitif 0.616 0.60 Reliabel Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 4.13 di atas, semua variabel memiliki nilai

Alpha-Cronbach lebih besar dari 0.60, jadi dapat disimpulkan bahwa semua variabel

yang digunakan dalam penelitian ini adalah reliabel. 4.4 Uji Asumsi Klasik

Model regresi dapat disebut sebagai model yang baik jika memenuhi syarat uji asumsi klasik, yang terdiri dari uji normalitas, multikolinieritas dan heteroskedastisitas.

4.4.1 Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk menguji apakah variabel pengganggu atau residual dalam model regresi berdistribusi normal. Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji kolmogorov-smirnov dengan kriteria pengambilan keputusannya adalah jika sig > 0.05 maka data berdistribusi normal. Hasil pengujian normalitas ditunjukkan pada tabel 4.14 berikut:

(48)

Tabel 4.14 Uji Normalitas

Unstandardized Residual Kolmogorov-Smirnov Z 0.642 Asymp. Sig. (2-tailed) 0.805

Sumber: data diolah

Berdasarkan tabel 4.14 di atas, besarnya nilai kolmogorov-smirnov adalah 0.642 dan nilai signifikansinya 0.805. Nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0.05, jadi dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal.

4.4.2 Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas digunakan untuk menguji apakah ada korelasi antar variabel bebas dalam sebuah model regresi. Multikolinieritas dilihat dari nilai

tolerance dan variance inflation factor (VIF) dengan kriteria pengambilan

keputusan adalah jika nilai tolerance > 0.10 dan nilai VIF < 10, maka model regresi tersebut dinyatakan bebas dari multikolinieritas. Hasil pengujian multikolinieritas ditunjukkan pada tabel 4.15 berikut:

Tabel 4.15 Uji Multikolinieritas

Variabel Tolerance VIF

Supply Chain Management 1.000 1.000 Sumber: data diolah

Berdasarkan tabel 4.15 di atas, setiap variabel mempunyai nilai tolerance > 0.10 dan nilai VIF < 10, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi multikolinieritas antar variabel bebas dalam model regresi ini.

(49)

36

4.4.3 Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji terjadinya perbedaan varian residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan yang lain. Pengujian heteroskedastisitas dengan uji Spearman yang dilakukan dengan cara mengkorelasikan nilai absolut residual terhadap seluruh variabel independen. Hasil pengujian heteroskedastisitas ditunjukkan pada tabel 4.16 berikut:

Tabel 4.16 Uji Heteroskedastisitas

Variabel Sig.

Supply Chain Management 0.061 Sumber: data diolah

Berdasarkan tabel 4.16 di atas, tidak ada satupun variabel independen yang signifikan mempengaruhi variabel dependen nilai absolut residual. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi yang lebih besar dari 0.025. Jadi, dapat disimpulkan bahwa model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas.

4.5 Pengujian Hipotesis

4.5.1 Analisis Regresi Sederhana

Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui kekuatan hubungan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil perhitungan regresi sederhana untuk menguji supply chain management terhadap keunggulan kompetitif ditunjukkan pada tabel 4.17 berikut:

(50)

4.17 Analisa Regresi SCM terhadap Keunggulan Kompetitif Variabel Koefisien T Sig. B Std. Error Konstanta 13.732 4.714 2.913 0.006 SCM 0.240 0.073 3.305 0.002

Sumber: data diolah

Berdasarkan tabel 4.17 di atas, dapat ditulis persamaan regresi sebagai berikut:

YCA= 13.732 + 0.240 SCM + e

Berdasarkan tabel di atas, nilai koefisien b = 0.240 adalah positif, sehingga model regresi tersebut searah. Nilai tersebut menunjukkan apabila variabel

Supply Chain Management semakin tinggi, maka variabel keunggulan kompetitif

semakin tinggi pula. Nilai signifikansi pada tabel 4.17 menunjukkan nilai 0.002, yang mana lebih kecil dari 0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa H1 diterima dan Ho ditolak, sehingga dapat dikatakan terdapat pengaruh dari SCM terhadap keunggulan kompetitif.

Gambar 4.1 Kurva Uji Hipotesis 3,305

(51)

38

4.5.2 Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi bertujuan untuk mengukur seberapa besar kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hasil analisis koefisien determinasi ditunjukkan pada tabel 4.18 berikut:

Tabel 4.18 Koefisien Determinasi Model Adjusted R Square

1 0.181

Sumber: data diolah

Berdasarkan tabel 4.18 di atas, nilai koefisien determinasi adalah sebesar 0.181. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan variabel SCM dapat menjelaskan keunggulan kompetitif sebesar 18.1% sedangkan 82.9% sisanya dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

4.6 Analisis Data

4.6.1 Pengaruh Supply Chain Management Terhadap Keunggulan Kompetitif Berdasarkan uji statistik yang telah dilakukan pada hipotesis di atas, diketahui bahwa H1 diterima, yang berarti terdapat pengaruh antara SCM terhadap keunggulan kompetitif. Supply Chain Management dapat menjadi strategi yang baik dilakukan oleh perusahaan agar dapat mencapai keunggulan kompetitif. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Ghatebi et al. (2013), Suharto & Devie (2013), dan Vanathi & Swamynathan (2014) yang menemukan bahwa Supply Chain Management berpengaruh positif signifikan terhadap keunggulan kompetitif.

(52)

Supply Chain Management memungkinkan perusahaan dapat membuat

perencanaan paket perjalanan wisata ke Singapura yang berkualitas, sehingga baik perusahaan maupun penyedia jasa perjalanan di Singapura memiliki hubungan yang baik, peka serta tanggap dalam menangani masalah yang mungkin terjadi. Supply Chain Management juga dapat menciptakan hubungan yang baik antara perusahaan dan pelanggan, yaitu dengan cara menyediakan paket wisata yang bermacam-macam, yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

Pertukaran informasi yang akurat dan memadai dalam Supply Chain

Management dapat membuat perusahaan dan penyedia jasa perjalanan wisata

di Singapura merespon dengan cepat perubahan rencana perjalanan wisata yang mungkin terjadi. Supply Chain Management membantu perusahaan untuk dapat memilih partner perjalanan wisata yang berkualitas dan tidak mahal, sehingga perusahaan dapat menekan biaya dalam penyediaan jasa perjalanan wisata. Selain itu, Supply Chain Management menuntut perusahaan untuk selalu cepat dan tanggap apabila terjadi penundaan keberangkatan dan kepulangan pelanggan dari Singapura, di mana penundaan tersebut dapat terjadi karena adanya cuaca yang tidak baik atau hal lain yang dapat membahayakan keselamatan pelanggan.

Namun demikian, variabel SCM hanya mampu mempengaruhi variabel keunggulan kompetitif sebesar 18.1%. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pengaruh dari factor lain diluar SCM, sehingga perusahaan tidak dapat mencapai keunggulan secara optimal. Sedangkan pada penelitian sebelumnya yang

(53)

40

dilakukan oleh Suharto dan Devie (2013) yang menggunakan sampel perusahaan manufaktur, di dapat hasil pengaruh SCM terhadap keunggualn kompetitif sebesar 60.84%. Jadi, tidak bisa ditarik kesimpulan secara menyeluruh, bahwa semua perusahaan yang menerapkan SCM akan mencapai keunggulan kompetitif secara optimal. Penggunaan SCM yang efektif dapat menjadi cara potensial dalam pencapaian keunggulan kompetitif (Bratic, 2011). Oleh karena itu, perusahaan jasa perjalanan wisata harus mengerti dan memperhatikan penggunaan SCM dengan baik.

(54)

41

BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai supply chain management dan keunggulan kompetitif pada perusahaan jasa perjalanan wisata di Batam, dapat ditarik kesimpulan bahwa, SCM berpengaruh terhadap keunggulan kompetitif. Hubungan perusahaan yang baik dengan penyedia jasa perjalanan di Singapura; hubungan perusahaan dengan pelanggan yang baik; pertukaran informasi yang akurat; hubungan perusahaan dengan perner logistik di Singapura; serta kesigapan perusahaan dalam merespon penundaan keberangkatan atau kepulangan pelanggan, yang merupakan bagian dari supply chain management dapat membantu perusahaan dalam pencapaian keunggulan kompetitif. Supply

Chain Management dapat membantu menekan biaya perusahaan, menyediakan

paket wisata yang bermacam-macam, serta respon yang cepat terhadap hal-hal yang dapat terjadi di luar rencana, sehingga perusahaan dapat mencapai keunggulan yang kompetitif.

(55)

42

5.2 Keterbatasan

Dalam penelitian ini, penulis menemukan beberapa keterbatasan sebagai berikut:

1. Data yang dianalisis menggunakan instrumen kuesioner yang berdasarkan persepsi jawaban responden, sehingga hal ini bisa saja berbeda dengan keadaaan yang sesungguhnya.

2. Sampel pada penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan jasa tour and

travel di Batam yang memiliki paket one day tour Singapura, sehingga

kemungkinan akan diperoleh hasil yang berbeda jika menggunakan sampel dari perusahaan lain atau bahkan di daerah lain.

3. Ketidakbersediaan beberapa perusahaan dalam memberikan kesempatan kepada peneliti untuk memberikan kuesioner penelitian, sehingga jumlah sampel penelitian ini sedikit.

5.3 Implikasi dan Saran 5.3.1 Implikasi

Penelitian ini menguji pengaruh SCM terhadap keunggulan kompetitif. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa SCM dapat menjadi salah satu cara atau strategi perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetitif di lingkungan bisnisnya. Namun pengaruh dari SCM dapat dikatakan kecil, yaitu hanya sebesar 18.1%. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya faktor lain ang mempengaruhi diluar SCM, sehingga tingkat keunggulan yang dicapai oleh perusahaan tidak optimal.

(56)

5.3.2 Saran

Berdasarkan keterbatasan dan implikasi pada penelitian ini, penulis menyampaikan beberapa saran berikut:

1. Dari hasil peneltian yang dilakukan, manajer pada perusahaan jasa perjalanan wisata harus lebih memperhatikan penggunaan SCM untuk mencapai keunggulan kompetitif di lingkungan bisnisnya.

2. Penelitian selanjutnya diharapkan untuk menggunakan sampel jenis perusahaan lain atau tetap menggunakan jenis perusahaan yang sama, namun diterapkan di daerah lain, karena perbedaan budaya dan lingkungan di masing-masing daerah dapat mempengaruhi persepsi manajer. Selain itu, dapat menggunakan sampel perusahaan lain, tidak terbatas pada perusahaan jasa.

(57)

44

DAFTAR PUSTAKA

Attiany, M. S. (2014). Competitive Advantage Through Benchmarking: Field Study of Industrial Companies Listed in Amman Stock Exchange. Journal of

Business Studies Quarterly .

Bratic, D. (2011). Achieving a Compatitive Advantage by SCM. IBIMA Publishing . Chopra, S., & Meindl, P. (2010). Supply Chain Management Strategy, Palnning

and Operation. New Jersey: Pearson.

Christopher, M. (2011). Logistics & Supply Chain Management . London: Prentice Hall.

Ghatebi, M., Ramezani, E., & Shiraz, M. A. (2013). Impact of Supply Chain Management Practices on Competitive Advantage in Manufacturing Companies of Khuzestan Province. Interdiciplinary Journal Of Contemporary Research Business .

Ghozali, I. (2012). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Semarang: BP Universitas Diponegoro.

Gudono. (2012). Analisis Data Multivariat. Yogyakarta: BPFE.

Hana, U. (2013). Competitive Advantage Achievement through Innovation and Knowledge. Journal of Competitiveness .

Indonesia, M. P. (2014). Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Standar Usaha Jasa Perjalanan Wisata. Jakarta.

Indonesia, R. (2008). Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Presiden Republik Indonesia . Jakarta.

Kotler, P. (2002). Marketing Management, Millenium Edition. United States of America: Pearson Custom Publisher.

Li, S., Ragu-Nathan, B., Ragu-Nathan, T., & Rao, S. S. (2006). The Impact of Supply Chain Management Practices on Competitive Advantage and Organizational Performance. Omega .

Gambar

Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu  No  Peneliti  Judul  Variabel
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
Gambar 2.2 Model Penelitian
Gambar 3.1 Kurva Uji 2 Arah
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab dua hal diantaranya pertama, Untuk mengetahui faktor-faktor Supply Chain Management yang memiliki pengaruh pada peningkatan efektifitas

Menurut Cahyono (2010 : 3) keunggulan kompetitif dari supply chain management adalah bagaimana ia mampu mengelola aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasokan

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Khan (2010), di mana hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa supply chain management mempunyai pengaruh yang

Menurut Cahyono (2010) keunggulan kompetitif dari supply chain management adalah bagaimana ia mampu mengelola aliran barang atau produk dalam suatu rantai pasokan

Variabel keunggulan kompetitif tidak berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan pada PT Sumber Air Pagar Batu tetapi berdasarkan persamaan regresi, jika

Oleh karena nilai sig t (0,000) &lt;0,05, maka dapat disimpulkan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh secara signifikan positif supply chain management terhadap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara dimensi supply chain management yang terdiri dari strategic supplier partnership, customer relationship, dan information

Tujuan dari penelitian ini antara lain untuk menganalisis secara parsial pengaruh Supply Chain Management dan Strategi Inovasi terhadap kinerja operasional jasa pengiriman pada PT.Pos