Hasil Peneli 2 perc diguna setelah mengg pada p sehing Perco dengan Gamb pemel 100%. Perco memp percob Penelitian itian tahap pe Untuk mem cobaan, ma akan pada p h perlakuan gunakan suh percobaan ke gga suhu pad baan ke-I Hasil perc n 3 kali ulan ar 7 Sintasa Sintasan p iharaan. Sa . Karena bel baan ke-II Pada perc persempit jar baan ke-II di Sin tas an (%) 40 60 80 100 n ta sa n (%)
HA
ertama (uji b mperoleh su sing-masing percobaan in n. Percoba hu 30, 35, 40 e-II diantara da percobaan obaan ke-I ngan dapat d an pascalarva pascalarva se ampai pada lum diperole cobaan ke-II rak suhu (1 isajikan pada 0 20 40 60 80 100SIL DAN
bioassay) uhu subletal, g dengan 4 ni adalah C aan ini dilak0 dan 450C. suhu 400C n ke-II yaitu menggunak ilihat pada G a Cherax den emakin men suhu 400C d eh suhu subl I, menggun 0C), maka d a Gambar 8. 1 Ul
PEMBAH
maka dilaku perlakuan Cherax dapa kukan sesu Karena bel ke suhu 350 36, 37, 38 d an suhu ma Gambar 7. ngan perlaku nurun denga dan 450C ter letal maka di nakan suhu digunakan s 2 langanHASAN
ukan uji bio dan 3 ulan at bertahan ai dengan lum diperole 0C diturunka dan 390C. asing-masing
uan suhu yan an semakin rlihat bahwa ilakukan per antara 350 suhu 36, 37, 3 Su Su oassay yang ngan. Indik hidup selam rancangan eh suhu subl an 10C secar g 30, 35, 40 ng berbeda tingginya s a mortalitas rcobaan ke-I 0C dan 400 , 38 dan 39 Suhu 30 Suhu 35 Suhu 40 Suhu 45 uhu 36oC uhu 37oC terdiri dari kator yang ma 24 jam awal yang letal, maka ra bertahap, 0 dan 450C uhu media pascalarva II. C, dengan 90C. Hasil 0oC 5oC 0oC 5oC
Gambar 8 Sintasan (%) pascalarva Cherax dengan perlakuan suhu yang berbeda
Pada suhu 390C sintasan mencapai 40-60% sedangkan pada suhu 380C sintasan mencapai 100%, Selain pascalarva harus tetap hidup, pengamatan tentang tingkah laku terutama nafsu makan Cherax setelah perlakuan juga dilakukan. Ternyata perlakuan dengan suhu subletal tidak mempengaruhi nafsu makan pada hari kedua setelah perlakuan tetapi pada hari pertama pakan tersisa sekitar 50-60%. Uji bioassay untuk memperoleh suhu subletal pada media pemeliharaan pascalarva Cherax dapat dilihat pada Gambar 9 dan 10.
Gambar 9 Kondisi pascalarva pada saat uji bioassay dengan suhu 380C. Gambar 10 Kondisi pascalarva pada saat uji bioassay dengan suhu 400C.
Pada perlakuan dengan suhu 380C setelah 10 - 15 menit, Cherax sudah dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungannya sedangkan pada perlakuan dengan suhu 400C pascalarva mati diatas menit ke 10.
Cherax yang ti
Cherax tetap hidup
Penelitian Tahap Kedua
A. Pengaruh lama waktu perlakuan suhu subletal terhadap persentase molting pascalarva Cherax.
Penelitian tahap kedua merupakan rangkaian dari penelitian tahap pertama, dimana suhu subletal (380C) diuji cobakan dengan selang waktu berbeda yaitu; 15, 30, 45 dan 60 menit. Sedangkan sebagai pembanding digunakan kontrol tanpa perlakuan suhu subletal.
Rata-rata persentase molting pascalarva dengan perlakuan waktu berbeda disajikan pada Gambar 11. Sedangkan hasil percobaan dengan perlakuan suhu 380C dengan waktu yang berbeda terhadap persentase molting pascalarva Cherax dapat dilihat pada Lampiran 3.
Gambar 11 Rata-rata persentase molting pascalarva Cherax dengan waktu perlakuan yang berbeda.
Dari grafik terlihat bahwa persentase molting bervariasi pada tiap-tiap perlakuan. Persentase molting tertinggi terjadi pada perlakuan C ulangan kedua sebesar 70% dengan rata-rata persentase molting tertinggi (63,33%). Sedangkan persentase molting terendah pada perlakuan E ulangan kedua yaitu 10% dengan rata-rata persentase molting terendah (16,67%).
Dari hasil analisa ragam dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, Anova satu arah (p<0,05) diperoleh F hitung perlakuan sebesar 35,3 lebih besar dari F tabel 3,48, artinya perlakuan suhu subletal berpengaruh nyata terhadap molting pascalarva lobster air tawar. Setelah melalui uji lanjut dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) diketahui bahwa perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B dan perlakuan C, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan D dan E. Untuk perlakuan B, berbeda nyata pada perlakuan D dan E tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C. Sementara perlakuan C berbeda nyata terhadap perlakuan D dan E. Sedangkan perlakuan D berbeda nyata terhadap perlakuan E, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A, B, dan C. Dari hasil yang diperoleh selama penelitian,
0 10 20 30 40 50 60 70 80 A B C D E Ra ta ‐rat a Pr osent ase mo lt in g (%) Perlakuan
menunjukkan persentase dan kategori molting yang berbeda pada tiap-tiap perlakuan, seperti tersaji pada Tabel 2.
Tabel 2 Rata-rata persentase dan kategori molting pascalarva lobster air tawar pada tiap-tiap perlakuan
Perlakuan Persentase Molting (%) Kategori
A (Kontrol) 23,33 Tidak serempak
B 53,33 Serempak
C 63,33 Serempak
D 33,33 Cukup serempak
E 16,67 Tidak serempak
Dari Tabel 2, terlihat bahwa kategori molting serempak terjadi pada perlakuan B (53,33%) dan perlakuan C (63,33%), sedangkan perlakuan A (23,33%) dan perlakuan E (16,67) menunjukkan kategori molting tidak serempak.
B. Pengaruh lama waktu pemaparan suhu subletal terhadap total hemosit dan kadar glukosa hemolim pascalarva Cherax
Untuk mengetahui pengaruh perlakuan suhu subletal terhadap tingkat stres pascalarva Cherax, maka perlu diketahui indikator stres akibat perlakuan. Dalam penelitian ini, indikator stres yang diukur adalah total hemosit dan kadar glukosa darah. 1. Total Hemosit
Hasil penghitungan rata-rata total hemosit dan standar deviasi untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3. Sedangkan total hemosit setiap perlakuan dan ulangan selama penelitian dapat dilihat pada Lampiran 5.
Tabel 3 Rata-rata total hemosit (x 106 sel/mL) dan standar deviasi pascalarva Cherax pada. Perlakuan Rata‐rata total Hemosit (x106 sel/mL) Standar deviasi Sandi A 6,45 0,15 a B 8,51 0,29 b C 8,9 0,61 c D 9,13 0,59 bc E 9,58 0,53 bc
Dari Tabel 3, terlihat bahwa selisih rata-rata total hemosit masing-masing perlakuan jika dibandingkan dengan kontrol masing-masing ; perlakuan B (54,73%), perlakuan C(37,98%), perlakuan D (41,55%) dan perlakuan E (48,53%). Dari hasil analisa ragam dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (Lampiran 7), Anova satu arah (p<0,05) diperoleh F hitung perlakuan sebesar 24,753 lebih besar dari F tabel
-3 2 7 12 1 2 3 4 5 R a ta-rat a t o tal h em o sit (x 10^6 se l/m L ) Hari PerlakuanA
3,4780, artinya perlakuan suhu subletal berpengaruh nyata terhadap total hemosit pascalarva lobster air tawar. Setelah melalui uji lanjut dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) diketahui bahwa perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B,C,D dan perlakuan E. Untuk perlakuan B, berbeda nyata pada perlakuan A dan C tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan D dan E. Sementara perlakuan C berbeda nyata terhadap perlakuan A dan B tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan D dan E. Sedangkan perlakuan D berbeda nyata terhadap perlakuan A, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan B, C dan E. Rata-rata total hemosit pada masing-masing perlakuan dan ulangan selama penelitian tersaji pada Gambar 13.
Gambar 13 Total hemosit (sel/mL) pada masing-masing perlakuan dari hari ke-1 sampai hari ke-5.
3. Kadar Glukosa Darah
Hasil penghitungan rata-rata kadar glukosa darah dan standar deviasi untuk masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 4. Sedangkan data mengenai rata-rata kadar glukosa darah setiap perlakuan dan ulangan selama dapat dilihat pada Lampiran 7.
Tabel 4 Rata-rata total kadar glukosa darah (mg/dL) dan standar deviasi pascalarva Cherax.
Perlakuan Rata‐rata Kadar
Glukosa (mg/dL) Standar Deviasi Sandi
A 2,539 0,025 a 0 2 4 6 8 10 12 1 2 3 4 5 R a ta -r ata t o talh em osit (x10^6 se l/m L) Hari PerlakuanC 0 2 4 6 8 10 12 1 2 3 4 5 R ata-rat a Tot a l H em o sit ( x10^6 se l/m L) Hari Perlakuan E 0 2 4 6 8 10 12 1 2 3 4 5 R ata-rat a Tot al Hemo si t (x 1 0 ^6 sel /m L ) Hari Perlakuan D 0 2 4 6 8 10 12 1 2 3 4 5 R ata-rat a Tot a l H em o sit ( x10^6 se l/m L ) Hari Perlakuan B
B 8,344 0,171 b
C 9,803 0,601 c
D 10,156 0,124 c
E 14,048 0,533 d
Kadar glukosa darah menunjukkan konsentrasi yang fluktuatif. selisih rata-rata kadar glukosa darah masing-masing perlakuan jika dibandingkan dengan kontrol masing-masing ; perlakuan B (197,5%), perlakuan C(286,1%), perlakuan D (300%) dan perlakuan E (453,3%). Dari hasil analisa ragam dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (p<0,05), menunjukkan bahwa perbedaan waktu perlakuan dapat mempengaruhi jumLah total hemosit lobster air tawar dimana diperoleh F hitung perlakuan sebesar 251,829 lebih besar dari F tabel 5,19217 (Lampiran 8). Setelah melalui uji lanjut dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) diketahui bahwa perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B,C,D dan E. Untuk perlakuan B, berbeda nyata pada perlakuan A, C, D dan E. Sementara perlakuan C berbeda nyata terhadap perlakuan A, B dan E, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan D. Sedangkan perlakuan D berbeda nyata terhadap perlakuan A, B dan E, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan E. Grafik rata-rata kadar glukosa untuk masing-masing perlakuan dan ulangan dari hari kesatu sampai hari kelima setelah perlakuan tersaji pada Gambar 15.
0 5 10 15 20 25 1 2 3 4 5 R at a-r ata k ad ar g luko sa d a ra h (m g /dL ) Hari Perlakuan A 0 5 10 15 20 25 1 2 3 4 5 Ra ta -r a ta Ka d a r G luk osa Dar ah (m g/d L ) Hari Perlakuan B 0 5 10 15 20 25 1 2 3 4 5 R ata-rat a K adar G luk osa Da ra h (m g /d L ) Hari Perlakuan C 0 5 10 15 20 25 Ra ta -r a ta Ka d a r G luk osa Dar ah (m g/d L ) 10 15 20 25 R ata-rat a K adar Gl uko sa Da ra h (m g /dL ) Perlakuan E
Gambar 15 Rata-rata kadar glukosa darah pascalarva pada hari ke-1 sampai hari ke-5 dengan waktu berbeda.
C. Sintasan Pascalarva Cherax
Hasil percobaan yang menggunakan suhu subletal dengan waktu perlakuan yang berbeda terhadap sintasan pascalarva Cherax pada akhir pengamatan disajikan pada Lampiran 9. Sedangkan rata-rata penurunan sintasan pada masing-masing waktu perlakuan tersaji pada Gambar 16.
Gambar 16 Rata-rata sintasan pascalarva Cherax pada masing-masing perlakuan
Sintasan tertinggi sebesar 80% pada perlakuan B (waktu 15 menit), adapun kontrol dan perlakuan C (waktu 30 menit) sintasan sebesar 63,33%, sedangkan pada pelakuan D (45 menit) dan perlakuan E (60 menit) mempunyai sintasan paling rendah yaitu 50%. Hasil sidik ragam (p<0,05), dimana F hitung (3,478) lebih kecil dari F tabel (2,654), menunjukkan bahwa perlakuan stres suhu tidak berbeda nyata terhadap sintasan pascalarva cherax selama percobaan (Lampiran 10).
D. Tingkat Konsumsi Pakan
Rincian data tingkat konsumsi pakan untuk masing-masing perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada Lampiran 9. Tingkat konsumsi pakan harian dihitung berdasarkan selisih antara bobot pakan awal dan bobot pakan sisa, sedangkan total pakan yang dikonsumsi pascalarva Cherax selama penelitian tersaji pada Tabel 5. Tabel 5 JumLah total konsumsi pakan oleh pascalarva Cherax selama penelitian
Perlakuan ∑ Total Pakan (Gram)
A 108,8 0 20 40 60 80 100 A B C D E Si n tas an (%) Perlakuan
B 127,1 C 113,7 D 91,17 E 91,52
Dari Tabel 5, terlihat bahwa jumLah total pakan konsumsi tertinggi pada perlakuan B (127,1 gram) sedangkan konsumsi pakan terendah pada perlakuan D (91,17 gram).
E. Pertumbuhan Bobot Biomassa Mutlak
Pertumbuhan bobot biomassa setiap perlakuan dan ulangan selama penelitian disajikan pada Lampiran 9. Untuk rata-rata pertumbuhan biomassa dan standar deviasi setiap perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Rata-rata pertumbuhan bobot biomassa mutlak dan standar deviasi setiap perlakuan dan ulangan
Perlakuan ∆W (gram) Standar Deviasi Sandi
A 6,21 0,156 a
B 6,89 0,435 b
C 5,76 0,403 a
D 5,32 0,290 c
E 5,48 0,347 d
Dari Tabel 6, terlihat bahwa pertumbuhan bobot biomassa mutlak tertinggi pada perlakuan B (6,89 gram) dan terendah pada perlakuan E (5,48 gram). Berdasarkan uji statistik (p<0,05) (Lampiran 12), diperoleh F hitung perlakuan sebesar 10,356 lebih kecil dari F tabel 3,478. Karena F hitung lebih besar dari F tabel, dengan demikian perbedaan waktu perlakuan mempengaruhi pertumbuhan lobster air tawar. Setelah melalui uji lanjut dengan menggunakan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) diketahui bahwa perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B,D dan E, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C. Perlakuan B, berbeda nyata pada perlakuan A, C, D dan E. Sementara perlakuan C berbeda nyata terhadap perlakuan B, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan A, D dan E. Sedangkan perlakuan D berbeda nyata terhadap perlakuan A dan B, tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C dan E.
F. Laju Pertumbuhan Rerata Harian
Data lengkap yang menjadi dasar pengolahan laju pertumbuhan rerata harian tercantum dalam Lampiran 9. Untuk rata-rata pertumbuhan biomassa dan standar deviasi setiap perlakuan dan ulangan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Rata-rata pertumbuhan rerata harian biomassa dan standar deviasi pascalarva Cherax selama percobaan
Perlakuan α(%) Standar Deviasi A 2,35 0,283 B 2,87 0,178 C 2,69 0,29 D 2,47 0,459 E 1,81 0,202
Laju pertumbuhan rerata harian dipengaruhi oleh bobot rata-rata individu selama masa pemeliharaan dan bobot rata-rata udang pada awal percobaan. Dari Tabel 7, terlihat bahwa perlakuan E memiliki laju pertumbuhan rerata harian terendah (1,81%), sedangkan laju pertumbuhan rerata harian tertinggi pada perlakuan B (2,87%).
G. Kualitas Air
Kualitas media pemeliharaan, yang terdiri dari beberapa peubah fisika dan kimia air, berperan sebagai penentu kelayakan habitat bagi kehidupan pascalarva lobster air tawar. Hasil analisa terhadap peubah fisika dan kimia air disajikan pada Lampiran 13. Dari hasil analisa kualitas air, diperoleh kisaran sebagai berikut ; suhu 26 ±10C ; pH 6,9 - 7,8 ; Alkalinitas 112,9 – 195,5 ppm setara CaCO3; NH3-N 0,01 – 0,17 ppm; NO2 0,01 – 0,09 ppm dan CO2 1,81 – 3,69 ppm.
Rentang nilai dari parameter fisika dan kimia air pada percobaan ini masih relatif kecil. Selama percobaan fluktuasi suhu tidak terlalu besar, karena kondisi tempat penelitian berada dalam ruangan yang mempunyai kisaran suhu yang relatif homogen. Dengan demikian secara keseluruhan kualitas air media pemeliharaan masih dalam kondisi yang layak untuk pemeliharaan pascalarva lobster air tawar.
Pembahasan
1. Suhu Subletal
Parameter kualitas air yang merupakan faktor pengendali dalam penelitian ini adalah suhu. Penelitian dengan suhu subletal diperoleh melalui uji bioassay dengan menguji daya tahan pascalarva lobster air tawar dengan perlakuan suhu yang cukup ekstrim. Dengan mengacu pada indikator penggunaan suhu subletal, dimana Cherax masih dapat bertahan hidup dengan perlakuan suhu 380C selama 24 jam setelah perlakuan, maka diperoleh kesimpulan bahwa suhu 380C merupakan suhu subletal.
Respon stres yang ditunjukkan oleh Cherax dengan perlakuan suhu subletal adalah dengan gerakan yang aktif dan sesekali menghentakkan tubuhnya pada 10-15 menit awal perlakuan. Selanjutnya, diatas 15 menit terlihat bahwa Cherax mulai memperlambat gerakan dan sudah mulai beradaptasi dengan kondisi lingkungannya. Hal ini berbeda pada perlakuan suhu 39 dan 400C, yang mana dengan suhu tersebut terjadi kematian diatas menit ke-10, bila ditelaah lebih lanjut, ternyata kematian terbesar terjadi pada suhu 400C. Indikasi ini menunjukkan bahwa daya tahan tubuh pascalarva Cherax tidak mampu beradaptasi dengan suhu 39 dan 400C dimana mortalitas pada suhu 390C sebesar 40-60% sedangkan pada suhu 400C mortalitas mencapai 100% tetapi mulai suhu 380C ke bawah (suhu 300C) tidak dijumpai lagi adanya kematian pascalarva lobster air tawar.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa stres suhu sebagai akibat perlakuan hanya mengakibatkan kematian pascalarva diatas suhu 380C, yaitu pada saat kemampuan adaptasi homeostasisnya belum cukup kuat. Pada suhu diatas subletal, lobster air tawar tidak cukup memiliki simpanan energi untuk beradaptasi, maka terjadinya stres suhu yang tinggi dari media eksternal dapat berakibat fatal bagi kehidupannya.
2. Pengaruh Perlakuan Suhu Subletal Terhadap Molting, Total Hemosit dan Kadar Glukos Darah
Secara alami larva lobster air tawar akan mengalami siklus ganti kulit secara teratur jika kondisi lingkungan dan nutrisi tercukupi. Sebab potensi tumbuh larva sangat bergantung pada efisiensi penggunaan energi, yaitu ratio antara energi untuk tumbuh dan metabolisme termasuk energi yang dipergunakan untuk adaptasi. Perlakuan dengan waktu pemaparan yang berbeda, ternyata memberikan rata-rata persentase
molting yang berbeda pada tiap-tiap perlakuan. Persentase molting terbesar, pada perlakuan C (63,33%), indikasi ini menunjukkan bahwa respon fisiolgis yang memacu pascalarva untuk molting sangat baik pada perlakuan ini kemudian berturut-turut Perlakuan B, Perlakuan D, Perlakuan A dan Perlakuan E. Hal ini diduga berkaitan dengan kerja hormonal terutama hormon ekdisteroid yang dapat memacu proses molting pada Cherax. Menurut Fingerman et al. (1997), (ahli fisiologi mengetahui) bahwa stres pada hewan dapat merugikan atau menguntungkan. Konsep hormesis bisa relevan, organisme tumbuh secara normal dan berfungsi sedikit dibawah kapasitas maksimalnya, stres-stres yang sedikit kadang-kadang meningkatkan aktifitas fungsi fisiologi.
Akan tetapi jika dilihat lebih lanjut sebenarnya pertumbuhan merupakan proses biologis yang kompleks dimana banyak faktor mempengaruhinya. Menurut Effendie (2002), pertumbuhan dalam individu ialah pertambahan jaringan akibat dari pembelahan sel secara mitosis. Hal ini terjadi apabila ada kelebihan input energi dan asam amino (protein) yang berasal dari makanan. Bahan yang berasal dari makanan akan digunakan oleh tubuh untuk metabolisme dasar, pergerakan, produksi organ seksual, perawatan bagian-bagian tubuh atau mengganti sel-sel yang sudah tidak terpakai. Bahan-bahan tidak berguna akan dikeluarkan dari tubuh melalui eksresi. Apabila terdapat bahan berlebih dari keperluan tersebut akan dibuat sel baru sebagai penambahan unit atau penggantian sel dari bagian tubuh, secara keseluruhan resultantenya merupakan perubahan ukuran.
Akibat pengaruh stres suhu akan memacu organ Y untuk menghasilkan Molt Accelerating Hormone (MAH) yang dapat membantu kelancaran proses ganti kulit (Sullivan, 1982 dalam Anggoro, 1992). Sedangkan menurut Fingerman et al. (1997), dengan adanya rangsangan suhu, akan merangsang organ Y untuk lebih banyak memproduksi hormon ekdisteroid yang berfungsi mempercepat proses molting . Sejauh mana pengaruh perlakuan suhu subletal dengan waktu yang berbeda terhadap produksi hormon ekdisteroid dan zat pemercepat ganti kulit pada Cherax, masih perlu penelitian lanjutan.
Diduga ada kaitan antara jumlah total hemosit akibat perlakuan stres suhu dengan proses molting. Jika dihubungkan total hemosit pada masing-masing perlakuan (Gambar 13), dengan jumlah udang yang molting (Tabel 2), terlihat bahwa jumlah
Cherax yang molting terbanyak pada masing-masing perlakuan pada hari ketiga, sejalan dengan hasil pengamatan total hemosit yang menunjukkan konsentrasi yang tinggi pada hari kedua dan ketiga kecuali pada perlakuan A (Kontrol). Tetapi hubungan total hemosit terhadap molting akibat berbagai respon stres belum banyak diketahui.
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa ada peningkatan jumlah total hemosit pada masing-masing perlakuan jika dibandingkan dengan kontrol. Selama 5 hari pengamatan setelah perlakuan suhu subletal dengan selang waktu pemaparan yang berbeda, menunjukkan bahwa pada hari pertama setelah perlakuan, terlihat sedikit kenaikan jumlah hemosit pada masing-masing perlakuan. Tetapi pada hari ketiga terjadi peningkatan total hemosit kecuali pada kontrol dan mulai turun kembali pada hari ke-4 dan ke-5 mendekati jumlah hemosit kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pascalarva Cherax relatif mulai stabil pada hari ke-5 akibat pengaruh stres suhu. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cheng et al. (2005), yang mengamati pengaruh suhu terhadap respon immun udang vannamei, menunjukkan bahwa perlakuan suhu 24, 28 dan 320C selama 24 sampai 96 jam akan menurunkan total hemosit sekitar 12%-16%. Menurut Anderson dan Siwicki (1995) dalam Djauhari (2005), bahwa secara deskriptif, jumlah total hemosit selama serangan infeksi cenderung meningkat. Adanya gejala stres sering ditandai peningkatan total hemosit. Sebagaimana diungkapkan Person et al. (1987) dalam Djauhari (2005), bahwa tingkat imunitas lobster air tawar terhadap serangan infeksi jamur Aphanomyces astaci dapat diindikasikan oleh jumlah hemosit yang bersirkulasi dalam hemolim. Lebih lanjut dikatakan bahwa menurunnya total hemolim berarti agen patogen mulai menerobos menginfeksi ketingkat jaringan yang berujung kematian inang. Kemungkinan lain peningkatan dan penurunan fluktuatif total hemosit diduga disebabkan oleh variasi metabolisme fisiologis antar individu. Menurut Jussila (1997), beberapa faktor yang mempengaruhi total hemosit antara lain intervensi patogen, mekanisme molting dan kondisi lingkungan. Lebih lanjut diungkapkan oleh Chang (2005), bahwa hemosit berperan dalam proses pembekuan darah, pengerasan eksoskeleton pasca molting dan pembersihan sistem haemocoal dari antigen. Nilai rata-rata total hemosit berbagai jenis udang penaeid bervariasi antara 20 x 106 hingga 40 x 106 sel/ml.
Glukoneogenesis merupakan istilah yang digunakan untuk mencakup semua mekanisme dan lintasan yang bertanggung jawab untuk mengubah senyawa nonkarbohidrat menjadi glukosa atau glikogen. Substrat utama bagi glukoneogenesis adalah asam amino glukogenik, laktat, gliserol dan propionat. Hati dan ginjal merupakan jaringan utama yang terlibat, karena kedua organ tersebut mengandung komplemen lengkap enzim-enzim yang diperlukan (Murray, et al. 2003).
Kadar glukosa darah pada masing-masing perlakuan berfluktatif. Pada hari pertama setelah perlakuan kadar glukosa menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kontrol. Rata-rata peningkatan kadar glukosa darah terjadi pada hari ke-3 dan terjadi penurunan kembali pada hari ke-4 dan ke-5 mendekati kadar glukosa darah kontrol. Dengan demikian penurunan kadar glukosa darah pada hari ke-5 mengindikasikan bahwa kondisi pascalarva Cherax setelah 5 hari perlakuan relatif mulai stabil. Menurut Piliang dan Al Haj (2006), homeostasis gula dalam darah diatur melalui mekanisme hormonal, untuk mempertahankan kadar gula darah agar tetap stabil, memberi arti amat penting untuk kesehatan dan bahkan untuk kehidupan, karena setiap sel dalam tubuh membutuhkan suplai energi agar fungsi dan kehidupan sel dapat berlangsung. Setiap gangguan yang terjadi pada suplai glukosa akibat tidak berfungsinya mekanisme-mekanisme homeostasis glukosa, seperti kekurangan makan dan stres akan membawa dampak serius yang mungkin dapat mengancam kehidupan organisme tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Hall dan Ham (1998), tentang pengaruh berbagai penyebab stres terhadap kadar glukosa darah udang windu, menyimpulkan bahwa pemeliharaan udang dengan kepadatan 9 – 50 ekor/m2 tanpa pemberian oksigen akan menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah dari 1 mmol/l menjadi 2,1 mmol/l setelah 1 jam tanpa aerasi. Tetapi kadar glukosa darah akan turun kembali pada kadar 1 mmol/l setelah 7 – 10 jam pemberian aerasi. Penelitian dengan ikan Gasterosteus aculeatus yang dilakukan oleh Pottinger et al. (2002), melaporkan bahwa stres lingkungan tidak berpengaruh nyata terhadap kadar glukosa darah selama 24 jam tetapi pengaruh stres lingkungan selama 10 hari akan menurunkan kadar glukosa darah dari 2,4 mg/gram menjadi 0,72 mg/gram pada hari ke-10. Sedangkan penelitian pada kepiting Cancer pagurus yang dilakukan oleh Webster (1996), menjelaskan bahwa
kadar glukosa dalam hemolim selama perlakuan stres hypoxia meningkat dari 15 menjadi 65 µg/100 µl hemolim setelah 4 jam.
Menurut Murray, et al. (2003), bahwa Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan tubuh akan glukosa pada saat karbohidrat tidak tersedia dalam jumlah yang cukup di dalam makanan. Pasokan yang terus menerus diperlukan sebagai sumber energi khususnya bagi sistem syaraf dan eritrosit, akan mengakibatkan kegagalan pada glukoneogenesis yang biasanya berakibat fatal.
3. Hubungan antara perlakuan stres suhu terhadap konsumsi pakan
Peubah ini ditentukan berdasarkan tingkat konsumsi pakan selama percobaan. Tingkat konsumsi pakan sangat dipengaruhi oleh kesehatan pascalarva, sintasan dan ukuran Cherax. Dari data selama percobaan Lampiran 12, terlihat bahwa rata-rata konsumsi pakan tertinggi pada perlakuan B (127,1 gram), kemudian berturut-turut perlakuan C (113,7 gram), perlakuan A (108,8), perlakuan E (91,52 gram) dan perlakuan D (91,17).
Tingkat konsumsi pakan ditentukan oleh tiga faktor, yaitu; (1) kualitas dan kuantitas pakan, (2) tata cara pemberian pakan (frekuensi dan waktu), (3) kualitas media pemeliharaan (Capuzzo, 1983 dalam Anggoro, 1992). Dalam percobaan ini, baik kualitas dan kuantitas maupun tata cara pemberian pakan (at satiation), semuanya diatur dan diusahakan seragam (sama). Begitu pula suhu (25-270C) serta kandungan oksigen terlarut (4,09-6,65) masih berada pada kisaran yang layak untuk budidaya Cherax. Satu-satunya faktor yang berbeda adalah lamanya perlakuan suhu subletal.
Akibat adanya perlakuan stres suhu, maka akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan pada masing-masing perlakuan. Di mana pada perlakuan D (45 menit) dan E (60 menit) setelah dilakukan stres suhu, mempengaruhi nafsu makan pascalarva, khususnya pada hari pertama sampai hari ketiga setelah perlakuan. Penurunan dosis pakan harian mencapai 20-50%. Hal ini sangat berbeda nyata pada perlakuan B (15 menit) dan C (30 menit) dimana setelah perlakuan nafsu makan pascalarva Cherax tidak berubah. Diduga bahwa akibat perlakuan suhu subletal yang terlalu lama (45 dan 60 menit), mengakibatkan Cherax mengalami stres berkepanjangan dan selama masa adaptasi nafsu makan akan turun.
4. Hubungan antara perlakuan stres suhu terhadap sintasan dan pertumbuhan biomassa mutlak
Persentase sintasan ditentukan oleh banyaknya kematian larva Cherax selama masa percobaan. Ada beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan kematian Cherax pada media percobaan, diantaranya adalah ; (1) Kualitas air yang tidak layak, (2) Hadirnya hama dan penyakit, (3) Penanganan yang kurang baik pada saat pengamatan, (4) Pakan yang tidak tepat jenis dan ukurannya, (5) Terjadinya gagal molting, (6) Terjadinya kanibalisme, (7) Akibat perlakuan suhu subletal.
Ditinjau dari aspek kualitas air, kondisinya cukup baik dan tingkat kelayakannya relatif seragam pada media percobaan. Dengan demikian dugaan kematian Cherax karena jeleknya kualitas air tidak terbukti. Demikian pula dengan dugaan adanya hama dan penyakit, peluang terjadinya relatif kecil karena media percobaan telah dibebaskan dari hama dan penyakit melalui pengendapan dibak tandon dan sterilisasi alat sebelum digunakan. Dari aspek penanganan percobaan, dapat diketengahkan bahwa kegiatan pengambilan sampel hemolim telah dilakukan dengan sangat hati-hati dan telah melalui beberapa kali latihan pengambilan hemolim. Sehingga pengaruhnya relatif kecil terhadap kematian Cherax. Selanjutnya, bila ditinjau dari aspek pakan, dapat dilihat bahwa pakan yang diberikan adalah pakan udang dengan kadar protein 30%, kadar air maximal 11%, lemak minimal 5% dan fiber maximal 4%. Jumlah dan ukuran pakan yang diberikan telah disesuaikan dengan umur Cherax dan terbukti disukai oleh pascalarva Cherax. Bila ditelaah lebih lanjut dan sesuai pengamatan selama percobaan bahwa kematian terjadi akibat gagal molting dan stres akibat perlakuan suhu subletal terutama pada perlakuan D dan E. Kejadian yang menarik dan sekaligus perlu penelitian lanjutan mengenai kematian akibat kanibalisme, sebab dari hasil pengamatan tidak terjadi kanibalisme pada perlakuan dengan suhu subletal. Hal ini berbanding terbalik jika dibandingkan dengan kontrol, dimana kematian akibat kanibalisme masih terjadi.
Sintasan pascalarva Cherax pada masing-masing perlakuan berkisar antara 50-80%, dimana sintasan tertinggi pada perlakuan B (80%) jika dibandingkan dengan perlakuan lainnya, diduga bahwa perlakuan dengan waktu 15 menit mengakibatkan Cherax mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi stres suhu serta
memanfaatkan pakan. Kematian yang terjadi lebih banyak disebabkan karena gagal molting dan stres suhu. Dari hasil pengamatan kematian akibat gagal molting, disebabkan Cherax kehabisan energi untuk melepaskan kulitnya, jika kulit tidak terlepas secara sempurna maka Cherax akan menyentakkan tubuhnya untuk memudahkan lepasnya kulit tua, kegiatan ini memerlukan banyak energi dan jika kulitnya tidak terlepas maka Cherax akan mati karena kehabisan energi untuk ganti kulit. Menurut Ferraris et al. (1987) dalam Anggoro (1992), kematian akibat gagal molting berkaitan dengan terjadinya gangguan osmolaritas internal, kehabisan energi untuk ganti kulit (pindah stadia) serta berkurangnya daya pemanfaatan pakan.
Pertumbuhan biomassa pascalarva Cherax dievaluasi berdasarkan kajian terhadap pertambahan bobot biomassa dan laju pertumbuhan spesifik. Dari hasil uji beda nyata terkecil diperoleh bahwa perlakuan A berbeda nyata terhadap perlakuan B, D dan E tetapi tidak berbeda nyata terhadap perlakuan C. Untuk perlakuan B berbeda nyata terhadap perlakuan C, D dan E, pada perlakuan C berbeda nyata terhadap perlakuan D dan E. Demikian pula pada perlakuan D berbeda nyata terhadap perlakuan E.
Berdasarkan Gambar 17, terlihat bahwa rata-rata pertumbuhan biomassa tertinggi adalah perlakuan B (11,29 gram), terendah pada perlakuan D (9,45 gram). Diduga bahwa terjadinya perlambatan pertumbuhan setelah perlakuan 45 dan 60 menit dengan suhu subletal, menyebabkan peningkatan pertumbuhan tidak terjadi secara signifikan akibat penggunaan energi yang relatif besar untuk adaptasi stres suhu. Tingginya pertumbuhan pada perlakuan B (15 menit), disebabkan oleh tingkat adaptasi yang lebih cepat pasca stres suhu dan pemanfaatan pakan relatif lebih baik selama percobaan.
5. Kualitas Air
Kualitas media pemeliharaan pascalarva lobster air tawar selama penelitian, terdiri dari beberapa peubah fisika dan kimia air, yang berperan sebagai penentu kelayakan habitat bagi kehidupan lobster air tawar.
Suhu air, pascalarva lobster air tawar sebagaimana udang dewasa memiliki sifat euritermal. Dengan demikian pascalarva lobster air tawar mempunyai kemampuan beradaptasi pada media yang kisaran suhunya cukup lebar. Meskipun daya adaptasinya
cukup lebar, ternyata rentang suhu yang layak untuk tumbuh dan mendukung aktivitasnya sangat terbatas. Menurut Rouse (1977), Cherax jenis red claw akan mengalami pertumbuhan terbaik pada suhu air 24 – 290C. Berdasarkan kriteria tersebut dapat dinyatakan, bahwa suhu media pemeliharaan pascalarva lobster air tawar sebesar 250C ±10C (Lampiran 13) masih dalam rentang layak dan optimum bagi proses pertumbuhan lobster air tawar. Percobaan dilakukan dalam ruangan terkontrol, suhu diusahakan homogen dan fluktuasinya relatif kecil, sehingga stres akibat fluktuasi suhu harian yang besar dapat dihindari.
Kemasaman (pH) air, merupakan indikator kemasaman serta kebasaan air yang dapat mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia di dalam air serta reaksi biokimia di dalam tubuh lobster air tawar. Hasil pengukuran pH air media pemeliharaan selama percobaan menunjukkan bahwa semuanya bersifat alkalis, dengan nilai terendah 6,9 dan tertinggi 7,8 (Lampiran 13). Menurut Meade et al. (2002), pH 7,5 ±0,2 sangat sesuai untuk pemeliharaan dan perkembangan juvenile red claw. Berdasarkan kriteria tersebut, pH air selama percobaan masih berada pada rentang layak yang optimum bagi media pemeliharaan lobster air tawar.
Oksigen terlarut, kandungan oksigen terlarut merupakan faktor pembatas dalam mendukung optimalisasi organisme perairan. Selama penelitian, kandungan oksigen terlarut media pemeliharaan berkisar antara 4,09 – 6,65 ppm. Kisaran ini masih sesuai dengan media pemeliharaan lobster air tawar, sebagaimana dikemukakan oleh Rouse, (1977), bahwa Cherax masih dapat mentolerir kadar oksigen hingga 1 ppm. Dengan demikian dapat dikatakan kandungan oksigen terlarut selama penelitian masih dalam kisaran yang mampu mendukung pertumbuhan optimal lobster air tawar.
Karbondioksida bebas (CO2), keberadaannya di dalam air sebagian besar berasal dari aktivitas respirasi lobster air tawar. Bila kadarnya terlalu tinggi, CO2 bebas tersebut dapat mempengaruhi pH air serta berdaya racun. Akumulasi CO2 bebas ≥ 5 ppm dapat meracuni telur dan larva udang bila kadar O2 terlarut ≤ 3,5 ppm (Tsai, 1989 dalam Anggoro, 1992). Hasil pengukuran CO2, menunjukkan bahwa kandungan CO2 relatif rendah yaitu antara 2,90 – 3,69 ppm. Dengan kandungan oksigen terlarut > 4 ppm selama penelitian, dapat dinyatakan bahwa kandungan CO2 bebas tersebut belum membahayakan kehidupan pascalarva lobster air tawar.
Amonia dan nitrit, kehadiran amonia (NH3) dan nitrit (NO2) di dalam air dapat mengganggu aktivitas dan perkembangan pascalarva lobster air tawar karena jika konsentrasinya tinggi dapat bersifat toksit. Konsentrasi amonia dan nitrit yang dinyatakan aman bagi telur dan larva udang adalah ≤ 0,01 ppm (Tsai, 1989 dalam Anggoro, 1992). Hasil pengukuran amonia (NH3) dan nitrit (NO2) selama penelitian masing-masing berkisar antara 0,01-0,1 ppm dan 0,01-0,09 ppm. Fakta ini memberi petunjuk bahwa konsentrasi tersebut masih dalam kategori layak untuk pemeliharaan lobster air tawar.