BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Pembangunan daerah merupakan salah satu rangkaian dasar keberhasilan dari pembangunan nasional, yang bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sebagaimana yang telah ditetapkan dalam UUD 1945 dalam Pasal 27 ayat (2) menetapkan bahwa “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”. Selain itu dalam Pasal 34 menetapkan bahwa “Fakir miskin dan anak-anak terlantar
dipelihara oleh Negara”. Dua ketentuan pasal tersebut dalam penjelasan telah cukup jelas bahwa dalam hal ini, Negara bertanggungjawab atas penanganan permasalahan sosial dan kesejahteraan di dalam masyarakat.
Pembangunan Kabupaten Badung merupakan bagian integral dari pembangunan Daerah Provinsi Bali serta pembangunan nasional, selain itu Badung merupakan salah satu tujuan pariwisata dunia. Sebagai destinasi pariwisata Indonesia dan dunia, Badung menjadi harapan untuk mengais rezeki tidak hanya para pengusaha, pekerja kantoran maupun buruh bangunan mengais kehidupan di daerah pariwisata ini.1 Bagi kaum pencari kerja yang berharap untuk meningkatkan taraf
hidup di kota besar, kadang tidak dibarengi dengan kemampuan pendidikan dan keahlian yang cukup untuk bersaing di dunia kerja. Dalam persaingan mendapatkan pekerjaan inilah terdapat orang-orang yang tersingkirkan dan mencoba untuk bertahan hidup dengan membanjiri sektor-sektor informal entah dengan menjadi pemulung atau dengan cara meminta-minta.
Masyarakat ini bisa digolongkan sebagai masyarakat miskin, banyak bukti menunjukkan bahwa yang disebut sebagai orang atau keluarga miskin pada umumnya selalu lemah dalam kemampuan berusaha dan terbatas aksesnya kepada kegiatan ekonomi sehingga seringkali makin tertinggal jauh dari masyarakat lain yang
memiliki potensi lebih tinggi.2 Sehingga mengakibatkan orang-orang tersebut akan mengalami keputusasaan. Dari keputusasaan inilah mereka akan melakukan apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, salah satu diantaranya dengan menjadi “Gelandangan dan Pengemis” atau yang sering disebut dengan “Gepeng”.
Dengan berkembangnya gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Badung terlebih di daerah Kuta, diduga akan mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban umum. Dikarenakan gelandangan dan pengemis (gepeng) dianggap sebagai
1Pemerintah Kabupaten Badung, 2014, Terkait Upaya Penanggulangan Gepeng, Disosnaker Lakukan Rapat Koordinasi URL : http://www.Badungkab.go.id/, diakses pada tanggal 21 April 2015
2Dr. Bagong Suyanto, 2013, Anatomin Kemiskinn dan Strategi Penanganannya, Faktor
Kemiskinan Masyarakat Pesisir, Kepulauan, Perkotaan dan Dampak dari Pembangunan di Indonesia,
sampah masyarakat yang harus di tuntaskan secara maksimal. Maka sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah kabupaten Badung telah membuat Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum, spesifik dari perda ini adalah dikhususkan pada Pasal 24 ayat (2) yaitu dilarang melakukan pekerjaan untuk meminta-minta dimuka umum baik dijalan, taman dan tempat-tempat lain di Kabupaten Badung dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Dalam hal ini yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 24 ayat (2) adalah gelandangan dan pengemis (gepeng). Apabila terbukti melanggar ketentuan pasal tersebut dapat dikenai pidana kurungan paling lama 3 (tiga bulan) atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah) sebagaimana tercantum dalam pasal 42 ayat (1) Perda Badung No. 4 tahun 2001 tentang Kebersihan dan Ketertiban Umum.
Alasan kabupaten Badung membuat perda tersebut karena bertujuan untuk menciptakan dan meningkatkan kondisi Badung yang aman, tertib, bersih, dan kondusif. Agar terciptanya kondisi tersebut pihak Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) memnpunyai peranan penting dalam menegakkan Perda yang ada di wilayahnya. Namun kenyataannya menurut data yang diperoleh dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kabupaten Badung jumlah gepeng yang ada di Badung pada tahun 2011 mencapai 556 gepeng, pada tahun 2012 mencapai 410 gepeng, dan selanjutnya
pada tahun 2013 mencapai 430 gepeng.3 Hal ini bertentangan dengan ketentuan
Pasal 24 ayat (2) Perda Badung No. 4 Tahun 2001. Ini tentunya sebuah fakta yang belum mampu diupayakan pemerintah untuk menanganinya secara maksimal.
Melihat banyaknya pelanggaran ketentuan Pasal 24 ayat (2) Perda Badung No. 4 Tahun 2001 di wilayah Badung, penulis tertarik untuk mencoba menelaah lebih dalam mengenai penanggulangan gelandangan dan pengemis di kabupaten Badung. Dan faktor apa saja yang menjadi kendala dalam penanggulangan gelandangan dan penegmis (gepeng). Dengan alasan tersebut, penulis mengangkat penelitian dengan judul “Efektivitas Penanggulangan Gelandangan Dan Pengemis di Kabupaten
Badung”. Pemerintah selaku pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya
fenomena sisoal ini diharapkan untuk lebih sadar dengan kenyataan yang terjadi didalam masyarakat.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka dapat dirumuskan dua permasalahan, yaitu :
1. Bagaimana efektivitas penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Badung ?
2. Faktor apa saja yang menjadi kendala dalam penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Badung ?
1.3 Ruang Lingkup Masalah
Ruang lingkup penelitian merupakan bingkai penelitian, yang menggambarkan batas penelitian, memepersempit permasalahan, dan membatasi areal penelitian. Untuk mencegah agar isi dan uraian tidak menyimpang dari pokok-pokok permasalahan, maka perlu diberikan batasan-batasan mengenai ruang lingkup masalah yang akan dibahas.4 Selain itu, agar terdapat kesesuaian antara pembahasan dan permasalahan. Maka terhadap pembahasannya diberikan batasan ruang lingkup:
1. Efektivitas penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Badung.
2. Faktor kendala yang dihadapi dalam penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Badung.
1.4 Orisinalitas Penelitian
Skripsi ini merupakan karya tulis asli sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Untuk memperlihatkan orisinalitas skripsi ini maka dapat dilihat perbedannya dengan skripsi terdahulu yang sejenis, yaitu sebagai berikut:
4Bambang Sunggono, 2007, Metodelogi Penelitian Hukum, Cet.7, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h.111
1. Judul : KINERJA DINAS SOSIAL KOTA CILEGON DALAM
PENANGANAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KOTA
CILEGON
Penulis : Nitha Chitrasari
Tempat : Universitas Sultan Ageng TirtaYasa, Serang Tahun : 2012
Rumusan Masalah :
a. Bagaimanakah kinerja Dinas Sosial Cilegon dalam penanganan gelandangan dan pengemis di Kota Cilegon?
b. Hal apa saja yang menjadi hambatan Dinas Kota Cilegon dalam menangani gelandangan dan pengemis di Kota Cilegon?
2. Judul: PEMBERDAYAAN GELANDANGAN DAN PENGEMIS DI KABUPATEN SIDOARJO (Studi Kasus di UPTD Liponsos Sidokare)
Penulis : Andre Pane Sixwanda
Tempat : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur Tahun : 2013
Rumusan Masalah :
Bagaimana Pemberdayaan bagi Gelandangan dan pengemis di Kabupaten Sidoarjo (Studi kasus di UPTD Liponsos Sidokare)?”
Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan diatas, maka dapat disampaikan tujuan penelitian sebagai berikut :
1.5.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan skripsi ini secara umum adalah untuk mengetahui efektif atau tidaknya penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di kabupaten Badung.
1.5.2 Tujuan Khusus
Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis efektivitas penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di kabupaten Badung.
2. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis faktor yang menjadi penghambat dalam penanggulangan gelandangan dan pengemis (gepeng) di kabupaten Badung.
1.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik baik penyusun maupun bagi pihak lain berupa :
1.6.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu hukum dan informasi mengenai efektivitas penanggulangan gelandangan dan pengemis di kabupaten Badung.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan penelitian dalam rangka meningkatkan perhatian pemerintah tentang penanggulangan gelandangan dan pengemis. Serta dapat dijadikan pedoman oleh kalangan mahasiswa, praktisis maupun masyarakat umum di dalam menyikapi masalah yang timbul karena keberadaan gelandangan dan pengemis di tengah-tengah masyarakat.
1.7 Landasan Teoritis
1.7.1 Teori Negara Hukum
Negara Indonesia merupakan Negara yang berdasarkan pada hukum (rechsstaat) bukan Negara kekuasaan (machsstaat).5 Wiryono Prodjodikoro mengartikan Negara hukum adalah Negara dimana penguasa atau Pemerintah sebagai penyelenggara Negara dalam melaksanakan tugas kenegaraan terikat pada peraturan perundang-undangan hukum yang berlaku.6 Di negara hukum inilah, masyarakat sangat memerlukan sebuah aturan untuk menciptakan suasana
5 Philipus M. Hadjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia , Bina Ilmu, Surabaya, hal. 21
6 Bander Johan Nasution, 2011, Negara Hukum dan Hak Asasi Manusia, Mandar Maju, Bandung, h.1
yang harmonis didalam kehidupannya. Aturan yang hidup didalam masyarakat berupa hukum, hukum tertulis ataupun tidak tertulis. Dan memiliki fungsi yang ideal dengan memiliki unsur keadilan, kepastian dan kemanfaatan bagi masyarakat.
Secara umum dalam setiap Negara yang menganut paham Negara hukum dapat dilihat bekerjanya tiga prisnisp dasar, yaitu :
1. Supermasi hukum (supermacy of law);
2. Kesetaraan di hadapan hukum (equality before of the law);
3. Penegakan hukum dengan cara yang tidak bertentangan dengan
hukum (due Process of Law).7
Sehingga penerapan teori Negara hukum ini, memiliki konsekuensi bahwa setiap tindakan, kebijakan maupun perilaku yang dilakukan oleh Pemerintah ataupun masyarakatnya harus sesuai dengan hukum yang berlaku. Dengan adanya perilaku tertib hukum dapat mencegah terjadinya kesewenang-wenangan kekuasaan, sehingga mampu menciptakan suatu keadaan yang aman dan tertib.
1.7.2 Teori Kepastian Hukum
Dalam suatu negara, hukum mempunyai posisi strategis dan dominan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam upaya
penegakan hukum, para pejabat berwenang maupun aparat penegak hukum bertitik tolak pada tiga unsur yaitu kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan. Kepastian hukum oleh setiap orang dapat terwujud dengan ditetapkannya hukum dalam hal terjadinya suatu peristiwa konkrit.8 Penekanan pada kepastian hukum dalam upaya penegakan huku memperhatikan norma-norma hukum tertulis dari hukum positif yang ada.
Indonesia dalam menyelenggarakan Negara menganut asas kepastian hukum sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 3 angka 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotsme. Dalam penjelsan pasal tersebut, yang dimaksud dengan “Asas Kepastian Hukum adalah asas dalam negara hukum
yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara negara”. Bagi sistem
pemerintahan di Indonesia, asas kepastian sangat penting perannya demi menjamin perlindungan hukum bagi pihak administrabele.9
Hukum harus dilaksanakan dan ditegakkan. Setiap orang mengharapkan dapat ditetapkannya hukum dal hal terjadi peristiwa yang konkrit. Bagaimana
8 Lili Rasdjidi dan Ira Rasdjidi, 2001, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, h.42.
9 Muchsan, 1982, Pengantar hukum Administrasi Negara Indonesia, Liberty, Yogyakarta (selanjutnya disingkat Muchsan I), h.78.
hukumnya itulah yang harus berlaku; pada dasarnya tidak boleh meyimpang : fiat
justitia et pereat mundus (meskipun dunia ini runtuh hukum harus ditegakkan).
Itulah yang diinginkan oleh kepastian hukum. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang-wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum
karena bertujuan ketertiban masyarakat.10 1.7.3 Teori Efektivitas Hukum
Hukum yang hidup dalam masyarakat harus memiliki fungsi yang ideal dengan memiliki unsur keadilan, kepastian, dan kemanfaatan bagi seluruh lapisan masyarakat. Produk hukum yang dibuat nantinya akan hidup bersama didalam masyarakat, maka hukum yang dibuat itu harus memiliki sifat dinamis yang berarti mengikuti perkembangan dari masyarakat. Sehingga, hal ini dapat mengetahui dan memahami bagaimana perkembangan hukum yang ada didalam masyarakat, serta mengetahui efektivitas hukum yang hidup dalam masyarakat, dan mampu memetakan masalah-masalah sosial dalam kaitan dengan penerapan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Efektivikasi hukum merupakan proses yang bertujuan agar supaya hukum berlaku efektif. Secara etimologi kata efektivitas berasal dari kata efektif dalam
10 Sudikno Mertokusumo, 1986, Mengenal Hukum (suatu pengantar), Liberty Yogyakarta, Yogyakarta, h.130
bahasa inggris “effective” yang telah mengintervensi kedalam bahasa Indonesia dan memiliki makna “berhasil” dalam bahasa Belanda “effectief” memiliki makna “berhasil guna”. Sedangkan efektivitas hukum secara tata bahasa dapat
diartikan sebagai keberhasil-gunaan hukum, dalam hal ini berkaitan dengan keberhasilan pelaksanaan hukum itu sendiri. L.J Van Apeldoorn, menyatakan bahwa efektivitas hukum berarti keberhasilan, kemajemukan atau kekujaraban hukum atau Undang-undang untuk mengatur pergaulan hidup masyarakat secara damai.11
Secara terminologi pakar hukum dan sosiologi hukum memberikan pendekatan tentang makna efektivitas sebuah hukum beragam, bergantung pada sudut pandang masing-masing. Soerjono Soekanto berbicara mengenai efektivitas suatu hukum ditentukan antara lain oleh taraf kepatuhan warga masyarakat terhadap hukum, termasuk para penegak hukumnya.12 Efektivitas hukum dilain pihak juga dipandang sebagai tercapainya tujuan hukum. Menurut Soerjono Soekanto, dalam ilmu sosial antara lain dalam sosiologi hukum, masalah kepatutan atau ketaatan hukum atau kepatuhan terhadap kaidah-kaidah
11 Van Apeldoorn, 2005, Pengantar Ilmu Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, Cetakan Ke 30, hal.11.
hukum pada umumnya telah menjadi faktor yang pokok dalam menakar efektif tidaknya sesuatu yang ditetapkan dalam hal ini hukum.13
Efektivitas suatu peraturan harus terintegrasinya ketiga elemen hukum baik penegak hukum, subtansi hukum dan budaya hukum masyarakat, sehingga tidak terjadi ketimpangan antara das solen dan das sein. Hal ini sesuai dengan pendapat Lawrence M.Friedman yang mengemukakan bahwa dalam sesuai sistem hukum terdapat tiga unsur yaitu struktur, substansi dan kultur hukum.14 1.7.4 Teori Penegakan Hukum
Hukum berfungsi sebagai perlindungan kepentingan manusia. Agar kepentingan manusia terlindungi, hukum harus dilaksanakan. Pelaksanaan hukum dapat berlangsung secara normal, damai, tetapi dapat terjadi juga karena pelanggaran hukum. Dalam hal ini yang telah dilanggar itu harus ditegakkan. Melalui penegakan hukum inilah hukum itu menjadi kenyataan. Dalam menegakkan hukum ada tiga unsur yang selalu harus diperhatikan, yaitu : kepastian hukum (Rechtssicherheit), kemanfaatan (Zweckmassigkeit), dan keadilan (Gerechitgkeit).15
13 Ibid, hal.20.
14 Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) & Teori Peradilan (Judicial
Prudence) : Termasuk Interpretasi Undang-undang (LegisPrudence) Volume I Pemahaman Awal.
Kencana, Jakarta, hal.225
Menurut Jimly Asshidiqie, pada pokoknya penegakan hukum merupakan upaya yang secara bersengaja dilakukan untuk mewujudkan cita-cita hukum dalam rangka menciptakan keadilan dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.16 Berbeda dengan Soerjono Soekanto mengartikan penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan di dalam kaidah-kaidah yang mantap serta sikap tindak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahap akhir, untuk menciptakan, memelihara, dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup.17
Masalah pokok penegakan hukum terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut mempunyai arti yang netral, sehingga
dampak positif atau negatifnya terlteak pada isi faktor-faktor tersebut.18 Soerjono Soekanto mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi penegakan hukum antara lain :
1. Faktor hukumnya sendiri, yang di dalam tulisan ini akan dobatasi undang-undang saja.
2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang embentuk maupun menerapkan hukum.
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegak hukum.
16 Jimly Asshiddiqie, 1998, Agenda Pembangunan Hukum Nasional di Abad Globalisasi, Balai Pustaka, Jakarta, (selanjutnya disingkat Jimly Asshiddiqie II), h.93.
17 Soerjono Soekanto, 2013, Faktor-Faktor yang mempengaruhi Penegakan Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, h.5.
4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersbut berlaku atau diterapkan.
5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.
Kelima faktor diatas saling berkaitan erat karena saling merupakan esensi dari penegakan hukum, juga merupakan tolak ukur daripada efektivitas penegakan hukum.19
Lawrence M. Friedman mengungkapkan bahwa hukum sebagai sistem terdiri atas 3 komponen yaitu :20
1. Substansi hukum adalah aturan/norma dan pola prilaku manusia yang berada dalam sistem termasuk produk yang dihasilkan oleh manusia dalam sistem hukum.
2. Struktur hukum adalah kerangka bagian yang tetap bertahan yang memberi semacam bentuk dan batasan terhadap sesuatu secara menyeluruh.
3. Budaya hukum adalah intelektual sosiaol dna kemapuan sosial menentukan bagaimana hukum dilaksanakan, dihidnari, atau disalahgunakan.
1.8 Metode Penelitian
19 Soerjono Soekanto, op.cit, h.9.
20 Lawrence M. Friedman, 1984, Hukum amerika: Sebuah Pengantar, terjemahan Wisnnu Basuki, Tatanusa, Jakarta, h.190.
Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah dengan mencari data suatu masalah, diperlukan suatu metode yang bersifat ilmiah yaitu metode penelitian yang sesuai dengan yang akan diteliti. Suatu metode merumuskan cara kerja atau tata kerja untuk dapat memahami obyek yang menjadi sasaran ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Jadi suatu metode dipilih berdasarkan dan mempertimbangkan keserasian dengan obyeknya serta metode yang digunakan sejalan dengan tujuan, sasaran variabel dan yang hendak diteliti. Sedangkan metode penelitian menguraikan secara teknik apa yang digunakan dalam penelitiannya.21 Adapun moetode penelitian yang akan digunakan dalampenelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut :
1.8.1 Jenis Penelitian
Pada penulisan ini, dalam upaya mengkaji dan mencari pemecahan terhadap masalah yang penulis kemukakan, maka jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum empiris artinya suatu penelitian dengan mengkaji permasalahan berdasarkan fakta yang terjadi di lapangan. Orientasi pengkajiannya menitikberatkan mengenai efektvitas penanggulangan gelandangan dan pengemis di kabupaten Badung. Penelitian ini dapat berupa identifikasi hukum dan efektivitas hukum.22
1.8.2 Jenis Pendekatan
21 Neong Maharjid, 1990, Metodelogi Penelitian Kwantitas, Rake Sodasih, Yogyakarta, hal. 3. 22 Zainuddin Ali, 2010, Metode Penelitian Hukum, cet. II, Sinar Grafika,Jakarata, h.12.
Dalam pendekatan ada beberapa jenis pendekatan yaitu pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendenkatan kasus (case approach), pendekatan hsitoris (historical approach), pendekatan konseptual (conseptual
approach), pendektana fakta (facta approach), dan pendekatan perbandingan
(comprative approach).23 Sedangkan jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Pendekatan Fakta (Fact Approach)
Pendekatan ini dilakukan dengan mengkaji fakta yang terjadi dilapangan, yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran nyata dari fakta yang terkait dengan permasalahan yang ditangani.
2. Pendekatan Kasus (Case Approach)
Pendekatan ini dilakukan dengan jalan menelaah dan megkaji sumber-sumber hukum yang berlaku dan berkompeten untuk digunakan sebagai dasar dalam melakukan pemecahan masalah.
1.8.3 Sifat Penelitian
Penelitian hukum empiris menurut sifatnya dibedakan menjadi tiga, yakni Penelitian Hukum Eksploratori ( Exploratory Legal Study), Penelitian Hukum
23 Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 93.
Deskriptif (Descriptive Legal Study), dan Penelitian Hukum Ekslpanatori (Eksplanatory Legal Study).24
Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Hukum Deskriptif (Descriptive Legal Study), yaitu penelitian yang bersifat pemaparan dan bertujuan untuk memperoleh gambaran (deskriptif) lengkap tentang keadaan hukum yang berlaku ditempat tertentu dan pada saat tertentu, atau mengenai gejala yuridis yang ada, atau peristiwa hukum tertentu yang terjadi dalam masyarakat.
1.8.4 Sumber Hukum/Data
Sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah :
a. Data Primer yaitu sumber datanya diperoleh dari penelitian lapangan (field research), yaitu data-data yang diperoleh dengan mengadakan penelitian di lapangan secara langsung dan melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait dengan hal yang terjadi.
b. Data sekunder, yaitu suatu data yang bersumber dari penelitian kepustakaan, dimana data tersebut tidak diperoleh secara langsung dari sumber pertamanya, melainkan bersumber dari data-data yang sudah terdokumenkan.
1.8.5 Teknik Penentuan Sampel Penelitian
24 Abdulkadir, Muhamad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, cet.1, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, h.49.
Teknik penentuan sampel penelitian yang dipergunakan dalam usulan penelitian yang dibuat oleh penulis adalah teknik non probability sampling khususnya dengan menggunakan teknik purposive sampling yakni sampel penelitian ditentukan sendiri oleh si peneliti dengan mencari key information (informasi kunci) ataupun responden kecil yang dianggap mengetahui tentang penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti.
1.8.6 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Soerjono Soekanto, dalam penelitian dikenal tiga jenis teknik pengumpulan data, yakni studi dokumen atau bahan pustakka, pengamatan atau
obeservasi, dan wawancara atau interview.25 Dalam penelitian ini, penulis menggunakan teknik pengumpulan data berupa:
1. Teknik Wawancara (interview)
Menurut M. Mochtar, teknik wawancara adalah; “Teknik atau
metode memperoleh informasi untuk tujuan penelitian dengan cara melakukan tanya jawab secara langsung (tatap muka), antara pewawancara dengan responden. Selain dengan cara tatap muka wawancara dapat dilakukan secara tidak langsung dengan telepon atau surat”.26
Dalam Penelitian ini data diperoleh dari pihak-pihak
25 Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2006 , Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, h.67.
yang terkait dengan masalah yang diteliti, dalam hal ini pihak Dinas Sosial dan Satpol PP.
2. Dalam pengumpulan data melalui studi kepustakaan atau library research, teknik yang dipergunakan adalah membaca, menganalisa literatur-literatur yang terkait dengan masalah yang ditelitii, sehingga nantinya akan ditarik sebuah kesimpulan terhadap data tersebut. 1.8.7 Pengolahan dan Analisis Data
Teknik pengolahan dan analisis data dalam penulisan ini dengan mengumpulkan dan mengambil data baik dari lapangan maupun dari kepustakaan kemudian diolah secara kualitatif dan disajikan secara deskriptif kualitatif, yaitu dengan menggambarkan secara lengkap sebagaimana asalnya tentang aspek-aspek yang berkaitan dengan masalah yang dibahas sehingga dapat diperoleh suatu kebenaran dan suatu kesimpulan.