LAPORAN
PRAKTIKUM KESEHATAN LINGKUNGAN
PEMANTAUAN DAN IDENTIFIKASI JENTIK NYAMUK, PINJAL TIKUS, DAN TIKUS DI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS AIRLANGGA
KELOMPOK A-5 IKM A 2011
1. Fanny Oktavia (101111013) 2. Nihayatul Muna (101111015) 3. Mohamad Zamroni (101111025) 4. Marta Laily Ramadany (101111032) 5. Cholifatun Ni’mah (101111058)
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA
KONTRIBUSI ANGGOTA KELOMPOK
NO NAMA NIM KONTRIBUSI
- Membuat ovitrap
- Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus 1. Fanny Oktavia 101111013 terperangkap
- Identifikasi tikus
- Mencari dan identifikasi pinjal
- Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap
- Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus 2. Nihayatul Muna 101111015 terperangkap
- Identifikasi tikus
- Mencari dan identifikasi pinjal
- Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap
- Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap
Muhammad - Memantau adanya tikus
3. 101111025 terperangkap
Zamroni
- Identifikasi tikus
- Mencari dan identifikasi pinjal
- Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap
- Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus 4. Marta Laily R 101111032 terperangkap
- Identifikasi tikus
- Mencari dan identifikasi pinjal
- Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum 5. Cholifatun Ni’mah 101111058 - Membuat ovitrap
- Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus
terperangkap - Identifikasi tikus
- Mencari dan
identifikasi pinjal
- Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ...i
KONTRIBUSI ANGGOTA KELOMPOK ...ii
DAFTAR ISI ...iv
DAFTAR GAMBAR ...vi
DAFTAR TABEL ...vii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1
1.2 Rumusan Masalah ...2
1.3 Tujuan Praktikum ...2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jentik Nyamuk ...3
2.2 Jenis dan Ciri-ciri Jentik ...3
2.3 Penyakit yang Ditimbulkan Nyamuk ...6
2.4 Definisi Kontainer ...8
2.5 Definisi Ovitrap ...8
2.6 Kepadatan Jentik ...9
2.7 Pinjal Tikus sebagai Vektor ...10
2.8 Jenis- Jenis Pinjal ...12
2.9 Penyakit yang Ditimbulkan Pinjal ...12
2.10 Indeks Pinjal ...13
2.11 Tikus sebagai Rodent ...13
2.12 Jenis- Jenis tikus...14
2.13 Penyakit yang Ditimbulkan Tikus ...16
2.14 Angka Kepadatan Tikus ...17
2.15 Pengendalian Jentik, Vektor, dan Rodent ...17
BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Praktikum Jentik ...21
3.1.1 Metode Visual ...21
3.1.1.1 Waktu dan Tempat ...21
3.1.1.2 Alat dan Bahan...21
3.1.1.3 Cara Kerja ...21
3.1.1.4 Tabel Pengamatan ...22
3.1.2 Metode Ovitrap ...22
3.1.2.1 Waktu dan Tempat ...22
3.1.2.2 Alat dan Bahan...22
3.1.2.3 Cara Kerja ...23
3.1.2.4 Rincian Biaya ...23
3.1.2.5 Tabel Pengamatan ...24
3.2. Praktikum Vektor dan Rodent ...24
3.2.1 Metode Mekanik (Trapping) ...24
3.2.1.1 Waktu dan Tempat ...24
3.2.1.3 Cara Kerja ...25
3.2.1.4 Rincian Biaya ...26
3.2.1.5 Tabel Pengamatan ...26
BAB IV HASIL PRAKTIKUM 4.1 Praktikum Jentik ...27 4.1.1 Metode Visual ...27 4.1.2 Metode Ovitrap ...27 4.2 Praktikum Pinjal ...29 4.3 Praktikum Tikus ...30 4.4 Kendala Praktikum...30 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Praktikum Jentik ...32 5.1.1 Metode Visual ...32 5.1.2 Metode Ovitrap ...33 5.2 Praktikum Pinjal ...34 5.3 Praktikum Tikus ...35
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan ...36
6.2 Saran ...36
DAFTAR PUSTAKA ...38
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Perbedaan Jentik Nyamuk ...6 Gambar 3.1 Ovitrap ...18 Gambar 3.2 Perangkap Hidup Tikus ...19
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Tabel Kepadatan Jentik ...10
Tabel 2.2 Tabel Identifikasi Tikus ...16
Tabel 4.1 Hasil Praktikum Jentik Metode Visual ...27
Tabel 4.2 Hasil Praktikum Jentik Metode Ovitrap ...27
Tabel 4.3 Hasil Identifikasi Tikus...31
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lingkungan yang bersih merupakan manifestasi kesehatan. Lingkungan yang bersih dan sehat identik dengan lingkungan yang jauh dari unsur kotor dan pengganggu lainnya. Pengganggu ini tidak hanya datang dari sampah yang berserakan atau tempat yang kumuh, akan tetapi lingkungan yang bersih juga harus jauh dari unsur hewan pengganggu, vektor, maupun hewan lain yang akan menambah kekumuhan tempat tersebut dan mengganggu kesehatan misalnya jentik nyamuk. Jentik nyamuk apabila tumbuh manjadi nyamuk dewasa jika menggigit manusia bisa menimbulkan penyakit, misalnya malaria yang disebabkan gigitan nyamuk
Anopheles.
Dinamakan hewan pengganggu karena beberapa hewan ini akan menyebabkan ketidaknyamanan bagi suatu tempat tersebut. Hewan pengganggu ini biasanya senang dengan tempat yang memiliki unsur bisa memberikan mereka kenyamanan, salah satunya hewan ini senang berada di tempat yang kumuh. Salah satu hewan pengganggu ini adalah tikus. Tikus termasuk dalam hewan rodent. Rodent merupakan salah satu ordo dari binatang menyusui. Bahasa Latinnya Rodentia. Ada sekitar 2000 sampai 3000 spesies binatang pengerat yang ditemukan di semua benua kecuali Antarktika. Hewan pengerat memiliki gigi depan yang selalu tumbuh dan harus diasah dengan menggerigiti sesuatu.
Pinjal merupakan salah satu jenis vektor yang dapat menganggu kesehatan manusia. Penyakit yang dibawa oleh vektor ini misalnya adalah penyakit pes (sampar = plague) dan murine
typhus yang dipindahkan dari tikus ke manusia. Disamping itu pinjal
bisa berfungsi sebagai penjamu perantara untuk beberapa jenis cacing pita anjing dan tikus, yang kadang-kadang juga bisa
menginfeksi manusia. Beberapa spesies pinjal menggigit dan menghisap darah manusia. Vektor terpenting untuk penyakit pes dan murine typhus ialah pinjal tikus Xenopsylla cheopis. Kuman pes, Pasteurella, berkembang biak dalam tubuh penyakit tikus sehingga akhirnya menyumbat tenggorokkan pinjal itu. Jika pinjal ingin mengisap darah maka ia harus terlebih dulu muntah untuk mengeluarkan kuman-kuman pes yang menyumbat tenggorokkannya. Muntahan tersebut masuk dalam luka gigitan dan terjadi infeksi dengan Pasteurella.
Ketiga jenis hewan diatas dapat mengganggu kesehatan manusia sehingga perlu diadakan pengawasan dan pengendalian atas ketiganya. Salah satu metode pengawasan dan pengendalian nyamuk adalah visual dan ovitrap. Pengendalian atas vektor pinjal dapat dilakukan dengan metode mekanik, yaitu penyisiran pinjal pada bulu tikus. Selain itu pengendalian tikus juga dapat dilakukan dengan metode mekanik, yaitu trapping.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara melakukan pemantauan dan identifikasi jentik nyamuk dengan metode visual dan ovitrap?
2. Bagaimana cara melakukan pemantauan pinjal tikus dan tikus dengan metode mekanik (trapping)?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mempraktikkan kegiatan pemantauan dan identifikasi jentik nyamuk, pinjal tikus, dan tikus hitam.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mempraktikkan kegiatan pemantauan jentik nyamuk dengan metode visual dan ovitrap.
2. Mempraktikkan kegiatan pemantauan vektor dan rodent dengan metode mekanik (trapping).
3. Mengidentifikasi jenis jentik nyamuk, pinjal tikus, dan tikus. 4. Menganalisis indeks ovitrap dan indeks pinjal.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jentik Nyamuk
Nama "jentik" berasal dari gerakannya ketika bergerak di air. Jentik dalam bahasa lokal dikenal sebagai cuk atau uget-uget. Jentik merupakan tahap larva pada nyamuk. Nyamuk akan mengelurakan telurnya di dalam air, setelah itu telur akan menetas menjadi jentik. jentik selanjutnya tumbuh menjadi pupa. Dalam beberapa hari pupa akan tumbuh menjadi nyamuk.
Jentik nyamuk sering ditinggalkan oleh induk nyamuk dewasa di genangan air yang tidak tertutupi. Dalam sekali bertelur nyamuk dewasa akan menghasilkan 100 butir telur yang siap menetas menjadi jentik nyamuk. Jentik nyamuk akan menetas setelah dua hari berada di dalam air, dan akan bertahan sampai 6 bulan di tempat kering. Adanya jentik nyamuk mengindikasikan terdapatnya nyamuk di daerah tersebut.
2.2 Jenis dan Ciri-ciri Jentik
Setiap jenis nyamuk memiliki karakteristik jentik yang berbeda- beda, misalnya dilihat dari posisi jentik saat beristirahat. Ada berbagai jenis nyamuk beserta jentik-jentiknya yang berbeda-beda, antara lain:
1. Aedes aegepty
Pada fase telur nyamuk Aedes aegepty memiliki ciri- ciri yaitu telur nyamuk Aedes aegepty berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm. Telur ini di tempat yang kering dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah terendam air.
Pada fase jentik memiliki ciri- ciri yaitu jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi besar, panjangnya 0– 1 cm. Jentik nyamuk Aedes aegeptyi selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan
air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air (bergantung dengan memberntuk posisi vertikal dengan permukaan air). Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/ berubah menjadi kepompong.
Jentik nyamuk Aedes aegepty banyak ditemukan di penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, ban bekas, kaleng bekas dan lain-lain.
Pada fase kepompong atau pupa memiliki ciri- ciri yaitu Bentuk seperti koma, gerakannya lamban, sering berada dipermukaan air. Setelah 1 – 2 hari akan menjadi nyamuk baru. 2. Anopheles
Sebelum memasuki fase jentik, dimulai dengan fase telur. Pada fase telur, telur berbentuk seperti perahu yang bagian bawahnya konveks dan bagian atasnya konkaf dan mempunyai sepasang pelampung yang terletak pada sebuah lateral sehingga telur dapat mengapung di permukaan air. Jumlah telur yang dikeluarkan oleh nyamuk betina Anopheles bervariasi, biasanya antara 100-150 butir. Pada fase jentik saat istirahat, posisinya mengapung sejajar dengan permukaan air.
Telur Anopheles tidak dapat bertahan lama di bawah permukaan air. Telur Anopheles yang terdapat di bawah permukaan air dalam waktu lama (melebihi 92 jam) akan gagal menetas.
Pada fase larva, larva Anopheles bersifat akuatik yakni mempunyai habitat hidup di air. Stadium larva Anopheles yang di tempat perindukan tampak mengapung sejajar dengan permukaan air dan spirakelnya selalu kontak dengan udara luar. Sekali- sekali larva Anopheles mengadakan gerakan-gerakan turun ke dalam/bawah untuk menghindari predator/musuh
alaminya atau karena adanya rangsangan di permukaan seperti gerakan-gerakan dan lain-lain.
Perkembangan hidup larva nyamuk memerlukan kondisi lingkungan yang mengandung makanan antara lain mikroorganisme terutama bakteri, ragi dan protozoa yang cukup kecil sehingga dapat dengan mudah masuk mulutnya.
Pada fase pupa, merupakan masa tenang. Pada umumnya pupa tidak aktif bila memasuki stadium ini, pupa nyamuk dapat melakukan gerakan yang aktif, dan bila sedang tidak aktif maka pupa ini akan berada mengapung pada permukaan air.. Pupa tidak menggunakan rambut dan kait untuk dapat melekat pada permukaan air, tetapi dengan bantuan dua terompet yang cukup besar yang berfungsi sebagai spirakel dan dua rambut panjang stellate yang berada pada segmen satu abdomen (Santoso, 2002).
Stadium pupa mempunyai tabung pernapasan (respiratory
trumpet) yang bentuknya lebar dan pendek dan digunakan
untuk pengambilan O2 dari udara (Gandahusada, 1998). Perubahan dari pupa menjadi dewasa biasanya antara 24 jam sampai dengan 48 jam. Tetapi hal ini akan sangat bergantung pada kondisi lingkungan terutama suhu (Santoso, 2002).
3. Culex
Sebelum memasuki fase jentik (larva), telur nyamuk culex berbentuk lonjong menyerupai peluru senapan, beropekulum tersusun seperti bentuk rakit saling melekat satu sama lain, telur biasanya diletakkan di permukaan air. Pada fase jentik saat istirahat, posisinya bergantung membentuk sudut lancip.
Pada stadium larva nyamuk Culex memiliki bentuk siphon langsing dan kecil yang terdapat pada abdomen terakhir dengan rambut siphon yang berkelompok- kelompok. Jentik nyamuk
Pada stadium pupa, air tube berbentuk seperti tabung dengan pasa paddle tidak berduri.
Gambar 2.1. Perbedaan Jentik Nyamuk 2.3 Penyakit yang Ditimbulkan Nyamuk
Jentik dari jenis nyamuk yang berbeda- beda ketika dewasa akan menyebabkan penyakit pada manusia. Penyakit yang ditimbulkan tergantung dari jenis nyamuk:
1. Aedes aegepty
Jentik nyamuk Aedes aegepty jika berkembang biak menjadi nyamuk dewasa, akan mengakibatkan penyakit bagi manusia yaitu demam berdarah. Nyamuk Aedes aegepty yang menggigit manusia dan menyebabkan demam berdarah adalah jenis nyamuk betina, sedangkan nyamuk jantan tida menggigit manusia. Demam berdarah biasanya terjadi pada saat udara panas di musim hujan dan paling sering terjadi di kota- kota, di tempat- tempat air tergenang, dan di tempat yang saluran pembuangan airnya buruk.
Tanda- tanda awal adalah seseorang akan tiba- tiba mengalami demam tinggi disertai kedinginan, sakit di beberapa bagian tubuh, sakit kepala, dan sakit tenggorokan setelah 3 sampai 4 hari penderita merasa lebih biak selama beberapa jam
sampai dua hari. Kemudian penyakitnya akan kembali selama 1 atau 2 hari, kadang dengan bintik merah yang dimulai dari tangan dan kaki. Bintik merah kemudian menyebar ke lengan, kaki, dan badan.
2. Anopheles
Jentik nyamuk anopheles apabila sudah berkembang biak menjadi dewasa jika menggigit manusia akan mengakibatkan penyakit malaria. Malaria adalah infeksi darah yang menyebabkan demam panas tinggi dan kedinginan. Malaria berbahaya bagi anak- anak usia di bawah 5 tahun, wanita hamil, dan orang penderita HIV/AIDS. Tanda- tanda seseorang menderita malaria:
a. Tanda pertama adalah rasa kedinginan dan sering sakit kepala. Penderita menggigil selama 15 menit sampai 1 jam. b. Kedinginan diikuti dengan demam tinggi. Penderita menjadi
lemah dan kadang- kadang mengigau. Demamnya bisa berlangsung antara beberapa jam sampai beberapa hari. c. Pada tahap tiga penderita mulai berkeringat dan demamnya
menurun. Setelah demam turun, penderita merasa lemah.
3. Culex
Jentik nyamuk culex apabila dewasa akan menyebabkan penyakit kaki gajah (Wucheria brancofti). Penyakit kaki gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filariasis, yang ditularkan lewat vektor nyamuk, salah satunya adalah nyamuk culex. Penyakit kaki gajah merupakan penykait kronis, dan apabila tidak diobati akan mengakibatkan kecacatan permanen.
Seseorang bisa tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif, yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk
tersebut mendapat cacing filaria sewaktu menghisap darah penderita penyakit kaki gajah.
2.4 Definisi Kontainer
Kontainer merupakan semua tempat/wadah yang dapat menampung air yang mana air didalamnya tidak dapat mengalir ke tempat lain. Dalam kontainer seringkali ditemukan jentik-jentik nyamuk karena biasanya kontainer digunakan nyamuk untuk perindukan telurnya. Misalnya saja nyamuk Aedes aegepty menyukai kontainer yang menampung air jernih yang tidak langsung berhubungan langsung dengan tanah dan berada di tempat gelap sebagai tempat perindukan telurnya. Indeks kontainer merupakan presentase antara kontainer dimana ditemukan jentik terhadap seluruh kontainer yang diperiksa.
2.5 Definisi Ovitrap
Ovitrap adalah alat untuk menangkap telur nyamuk. Nyamuk
harus meletakkan telurnya di permukaan atau didalam air sehingga dapat berkembang menjadi larva, pupa dan nyamuk dewasa.
Ovitrap berupa wadah berisi air yang di tutupi jaring, sehingga
telur-telur yang di letakkan oleh nyamuk di permukaan air saat menetas dan menjadi nyamuk dewasa tidak mampu keluar dari wadah tersebut, sehingga tidak dapat mencari makan sehingga mati.
Ovitrap berupa bejana (kaleng, palstik atau potongan
bambu) yang dinding bagian dalamnya dicat hitam dan diberi air secukupnya. Ke dalam bejana tersebut dimasukan padel yaitu berupa potongan bambu atau kain yang tenunanya kasar dan berwarna gelap sebagai tempat menyimpan telur. Ovitrap ini akan ditempatkan baik di dalam atau diluar rumah yang gelap dan lembab karena nyamuk menyukai tempat-temat tersebut untuk bertelur. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada/tidaknya telur di paddel.
Cara menghitung Ovitrap index adalah :
Jumlah paddle dengan telur
Ovitrap Index = X 100 %
Untuk mengetahui lebih tepat gambaran kepadatan populasi nyamuk dengan cara:
Jumlah telur dari seluruh ovitrap
Ovitrap Index = X 100%
Jumlah ovitrap yang digunakan
2.6 Kepadatan Jentik
Untuk mengetahui kepadatan vektor nyamuk pada suatu tempat, diperlukan survei yang meliputi suvei nyamuk, survei jentik, dan survei perangkap telur (ovitrap). Data – data yang diperoleh nantinya dapat digunakan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan nyamuk. Setelah dilakukan survei, hasil yang didapatkan akan dilakukan pemeriksaan kepadatan jentik dengan ukuran berikut ini :
1. House Index (HI) : presentase rumah yang positif jentik dari seluruh rumah yang diperiksa.
2. Container Index (CI) : presentase kontainer yang positif jentik dari seluruh kontainer yang diperiksa.
3. Breteu Index (BI) : jumlah kontainer dengan jentik dari 100 rumah
4. Angka Bebas Jentik : presentase rumah/bangunan/tempat umum yang tidak ditemukan jentik pada pemeriksaan jentik.
House index lebih menggambarkan penyebaran nyamuk di
suatu wilayah. Density figure (DF) adalah kepadatan jentik Aedes
aegypti yang merupakan gabungan dari HI, CI dan BI yang
dinyatakan dengan skala 1-9 seperti tabel menurut WHO di bawah ini :
Tabel 2.1. Tabel Kepadatan Jentik Sumber: publikasi.ftsl.itb.ac.id Keterangan tabel : DF = 1 → kepadatan rendah DF = 2 – 5 → kepadatan sedang DF = 6 – 9 → kepadatan tinggi
Menurut Depkes tahun 2000 dalam Zulkarnaini, dkk. 2008 menyatakan angka House Index yang dianggap aman untuk penularan penyakit DBD adalah <5%. Menurut Kantachuvessiri 2002, dalam Zukkarnaini, dkk. 2008 angka CI diatas 10% dan angka BI di atas 50% sangat potensial bagi penyebaran penyakit DBD. Menurut Depkes 1992, dalam Zulkarnaini, dkk., 2008 indikator Angka Bebas Jentik minimal 95% dimana digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk DBD.
2.7 Pinjal Tikus Sebagai Vektor
Vektor berasal dari bahasa latin yaitu vehere yang mempunyai arti pembawa (agent). Pengertian vektor adalah golongan arthropoda atau binatang yang tidak bertulang belakang lainnya (avertebrata) yang dapat memindahkan penyakit dari sumber (reservoir) ke pejamu. Vektor mungkin hanya membawa unsur penyebab penyakit secara mekanik dengan cara menempatkan mikroorganisme penyebab pada kaki atau bagian tubuh lainnya, sehingga unsur penyebab tidak mengalami
perubahan selama berada pada vektor. Namun, vektor membawa unsur penebab biologis, yang mengalami perubahan atau berkembang biak dalam tubuh vektor sebelum dipindahkan ke pejamu potensial.
Vektor yang diambil dalam pembahasan ini adalah pinjal atau dikenal dengan kutu loncat (fleas) yang terdapat pada tikus. Pinjal merupakan salah satu parasit yang pada umumnya banyak dijumpai pada kucing atau anjing. Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan bergerak cepat, berwarna gelap. Pinjal ini merupakan serangga bersayap dengan bagian mulut seperti tabung yang digunakan untuk menghisap darah host. Kaki pinjal berukuran panjang, sepasang kaki belakang digunakan untuk melompat, tubuh bersifat lateral dikompresi yang memudahkan untuk bergerak diantara rambut atau bulu tubuh inang. Kulit tubuhnya keras, ditutupi banyak bulu dan duri pendek, dimana bulu dan duri berfungsi untuk memudahkan bergerak.
Pinjal tikus oriental (Xenopsylla cheopis) merupakan parasit dari hewan pengerat, terutama dari genus Rattus, dan merupakan dasar vektor untuk penyakit pes dan murine tifus. Hal ini terjadi ketika pinjal menggigit hewan pengerat yang terinfeksi, dan kemudian menginfeksi menggigit manusia. Pinjal tikus oriental ini terkenal memberikan kontribusi bagi black death.
Siklus hidup pinjal terdiri dari empat tahapan yaitu: 1. Tahap telur
Kutu betina dapat bertelur 50 telur perhari di hewan peliharaan dan selama hidupnya dapat bertelur sampai 1.500 telur. Telur kutu ini tidak lengket, sehingga mudah jatuh dan dapat menetas dalam dua atau lima hari.
2. Tahap larva
Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap di sekitar rumah dan makan kotoran kutu loncat.
Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kepompong yang selanjutnya tumbuh menjadi pupa. 3. Tahap pupa
Lama tahap pupa ini rata-rata 8 sampai 9 hari, tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi, dan sebagainya.
4. Tahap dewasa
Kutu loncat dewasa keluar dari kepompongnya ketika merasa hangat, getaran, dan karbondioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah loncat ke host, selanjutnya kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus secara keseluruhan dapat dipendek secepatnya sampai 3 – 4 minggu. Umur rata-rata pinjal sekitar 6 minggu, namun pada kondisi tertentu dapat berumur 1 tahun. Pinjal betina dapat bertelur sebanyak 20 – 28 per-hari.
2.8 Jenis-jenis Pinjal
1. Nosopsyllus fasciatus
Nosopsyllus fasciatus memiliki tubuh memanjang, panjangnya 3
hingga 4 mm. Memiliki pronotal ctenidium dengan 18-20 duri tapi tidak memiliki ctenidium genal. Pinjal tikus utara memiliki mata dan sederet tiga setae di bawah kepala. Kedua jenis kelamin memiliki tuberkulum menonjol di bagian depan kepala. Tulang paha belakang memiliki 3-4 bulu pada permukaan bagian dalam.
2. Xenopsylla cheopis
Secara umum memiliki ciri-ciri antara lain tidak bersayap, kaki sangat kuat dan panjang (berguna untuk meloncat), mempunyai mata tunggal, segmentasi tubuh tidak jelas, ukuran + 1,5-3,3 mm, kepala membulat dan tidak ada comb, tetapi memiliki
ocular bristle.
2.9 Penyakit yang Ditimbulkan Pinjal
Penyakit yang diakibatkan oleh pinjal yang menginfeksi manusia antara lain:
1. Pes
Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent. Kuman pes yang ada pada tikus sakit dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes, dan kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan lain atau manusia dengan cara melalui gigitan.
2. Murine typus, yang dipindahkan dari tikus ke manusia. 2.10 Indeks Pinjal
Kepadatan pinjal pada tubuh tikus disebut Indeks Umum Pinjal, yaitu cara untuk mengetahui kepadatan investasi rata-rata dari pinjal yang ditemukan dibagi jumlah total tikus yang tertangkap. Untuk standart keamanan indeks, lebih dari satu merupakan potensi semakin rendah untuk penyakit pes. Indeks umum pinjal dihitung dengan rumus berikut:
IUP = JP JT Keterangan:
IUP : indeks umum pinjal
JP : jumlah total semua jenis pinjal yang diperoleh dari tikus JT : jumlah total tikus yang tertangkap
2.11 Tikus Sebagai Rodent
Rodent adalah hewan pengerat yang memiliki gigi depan
selalu tumbuh dan biasanya pada manusia bisa menyebabkan penyakit dan dapat digunakan sebagai hewan percobaan. Pada pembahasan ini, yang dimasukkan menjadi rodent adalah tikus.
Tikus adalah jenis binatang pengerat yang perkembangbiakannya sangat cepat. Tikus bisa hidup antara 3 – 4 tahun. Umumnya umur 1,5 – 5 bulan, tikus siap kawin. Seekor tikus betina bisa beranak antara 6 – 8 ekor dan yang hidup bisa 5 – 6 ekor. Masa kehamilan tikus berkisar ± 21 hari dan dalam 1 tahun bisa sampai 4 kali melahirkan.
2.12 Jenis-jenis Tikus
Ada beberapa jenis tikus di lingkungan pemukiman antara lain Rattus-rattus (tikus atap), Rattus norvegicus (tikus got) dan
Rattus tanezumi (tikus rumah) (Zumrotus, 2007 ). Identifikasi tikus
berdasarkan jenis kelamin, warna badan&ekor, panjang tikus seluruhnya (TL), panjang ekor (T), panjang kaki belakang (HF), lebar telinga (E), dan jumlah puting susu (M).
1. Rattus-rattus
Tikus atap pada umumnya bersarang di dalam rumah, gedung-gedung tinggi dan disekitar pelabuhan. Tikus ini memiliki kemampuan memanjat dan menyeberangi kabel-kabel yang menghubung bangunan yang satu dengan yang lainnya.
Tikus atap memliki moncong runcing, dengan telinga dan mata yang besar. Berat tikus atap mencapai 150- 250 gram. Panjang tubuhnya mencapai 15- 22 cm. panjang ekor tikus atap melebihi panjang tubuhnya, yaitu mencapai 18- 25 cm. Warna bulunya abu- abu kehitaman, dengan bentuk kotoran ramping, panjangnya mencapai 1,2 cm dan ujung kotoran tersebut berbentuk runcing. Usia hidupnya 9- 24 bulan. Tikus atap mencapai dewasa 2-3 bulan setelah dilahirkan. Jumlah anak per kelahirannya antara 6-10 ekor. Kelahiran dalam satu tahun mencapai 6 kali. Jangkauan tikus atap antara 15- 30 meter, dan bisa menembus lubang 1,2 cm
2. Rattus norvegicus (Tikus Got)
Tikus ini sangat cepat penyebarannya, dan paling merusak secara ekonomi. Biasanya menyerang gudang, pabrik, supermarket, gedung dan lain-lain. Tikus ini biasanya bersarang di lubang- lubang saluran atau got, dibawah bangunan, dibawah timbunan sampah dan lain-lain. Hewan ini tergolong omnivora yang memakan semua makanan manusia dan hewan. Tikus got sangat bergantung pada makanan dan air.
Karakteristik tikus got antara lain memiliki moncong yang tumpul, telinga dan mata kecil. Berat tikus dewasa antara 200-500 gram. Tikus got memiliki panjang tubuh 19-25 cm, sedangkan panjang ekornya antara 15-22 cm. Warna bulu tikus got coklat tua dibagian atas, dan coklat muda dibagian bawah. Bentuk kotoran dari tikus got adalah kapsul dengan ukuran 2 cm. Usia hidupnya 5-12 bulan, bahkan hingga 3 tahun. Tikus got mencapai dewasa 2- 3 bulan setelah dilahirkan. Jumlah anak per kelhirannya antara 8- 12 ekor. Kelahiran dalam satu tahun mencapai tujuh kali. Jangkauan tikus got antara 15- 30 meter, dan bisa menembus lubang 1,2 cm.
3. Rattus tanezumi (Tikus rumah)
Tekstur rambut agak kasar dan lebih mengkilap dari tikus riol (Rattus norvegicus), bentuk hidung kerucut, hidung runcing, badan kecil, bentuk badan silindris, warna badan bagian atas dan bawah coklat kelabu, warna ekor bagian atas dan bawah coklat gelap. Tikus ini memiliki berat badan 60-300 gram, panjang kepala dan badan 100-210 mm, panjang ekor 120-250 mm (lebih dari panjang kepala dan badan), panjang dari ujung hidung sampai ujung ekor 220-460, panjang telapak kaki belakang 30-37 mm, lebar telinga 19-23 mm. Tikus betina mempunyai 10 puting susu, 3 pasang di pektoral dan 2 pasang di inguinal (3+2=10). Tikus ini terdapat di gudang makanan, pemukiman manusia terutama di langit-langit rumah. Tikus ini sangat pandai memanjat.
4. Mus musculus (Mencit rumah)
Mencit rumah biasanya bersarang di dinding kayu, lemari, gudang makanan, furniture dan dilubang-lubang. Tikus ini lebih teliti dan selalu menyelidiki dan tikus ini sangat baik dalam meloncat, memanjat dan berenang.
Mencit rumahmemiliki moncong yang runcing, dengan telinga yang besar dan mata kecil. Berat dewasa dari tikus
rumah mencapai 50-150 gram. Panjang tubuhnya yaitu 6-10 cm ssedangkan panjang ekornya antara 7,5 cm- 10 cm. Warna bulunya coklat muda atau abu- abu muda. Kotoran mencit rumah berbentuk runcing, dengna ukuran 0,3-0,6 cm. Usia hidupnya antara 9-12 bulan. Berubah menjadi dewasa dalam waktu 1,5 bulan. Jumlah anak per kelahirannya antara 6-7 ekor, dengan kelahiran 8-10 kali dalam satu tahun. Mencit ruah bisa menembus lubang 0,6 cm.
Tabel 2.2 Tabel Identifikasi Tikus
Sumber: Edi Rommel, 2014
2.13 Penyakit yang Ditimbulkan Tikus
Tikus berperan sebagai perantara berbagai jenis penyakit yang dikenal dengan Rodent Borne Disease. Penyakit yang
tergolong dalam rodent borne disease adalah penyakit pes,
leptospirosis, scrup thypus, murine typhus, ratbite fever.
2.14 Angka Kepadatan Tikus
Angka kepadatan tikus merupakan suatu metode atau cara yang digunakan untuk mengetahui jumlah populasi tikus yang ada serta dampaknya pada penularan penyakit. Penangkapan yang dilakukan pada tikus untuk diketahui pinjal yang ada dapat digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh hewan rodent.
2.15 Pengendalian Jentik Nyamuk, Pinjal Tikus, dan Tikus Pengendalian jentik nyamuk dapat dilakukan dengan cara:
1. 3M Plus: tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik nyamuk meliputi, menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas, serta tindakan membunuh jentik dngan menaburkan bubuk abate.
2. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
Pengendalian pinjal tikus sebagai vektor dapat dilakukan dengan cara:
1. Mekanik atau fisik
Pengendalian pinjal secara mekanik atau fisik dilakukan dengan cara membersihkan karpet, alas kandang, daerah di dalam rumah yang biasa disinggahi tikus atau hewan lain dengan menggunakan vaccum cleaner berkekuatan penuh, yang bertujuan untuk membersihkan telur, larva dan pupa pinjal yang ada. Sedangkan tindakan fisik dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang dan lingkungan sekitar hewan piaraan, member nutrisi yang bergizi tinggi untuk meningkatkan daya tahan hewan juga perlindungan dari kontak hewan peliharaan dengan hewan liar atau tidak terawat lain di sekitarnya.
Selain itu juga dapat melalui pemberantasan inangnya yaitu tikus dengan pemasangan perangkap tikus. Dinas Kesehatan menyajikan Upaya pengendalian pinjal penular pes melalui pemasangan bumbung bambu berinsektisida 2. Kimia
Pengendalian pinjal secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Repelen seperti dietil
toluamide (deet) atau benzilbenzoat bisa melindungi orang
dari gigitan pinjal. Sejauh ini resistensi terhadap insektisida dari golongan organoklor, organofosfor, karbamat, piretrin, piretroid pada pinjal telah dilaporkan di berbagai belahan dunia. Namun demikian insektisida masih tetap menjadi alat utama dalam pengendalian pinjal, bahkan saat ini terdapat kecenderungan meningkatnya penggunaan Insect Growth
Regulator (IGR).
Secara umum untuk mengatasi pinjal, formulasi serbuk
(dust) dapat diaplikasikan pada lantai rumah dan tempat
jalan lari tikus. Insektisida ini dapat juga ditaburkan dalam lubang persembunyian tikus. Diberbagai tempat Xenopsylla cheopis dan Pulex irritans telah resisten terhadap DDT, HCH dan dieldrin. Bila demikian, insektisida organofosfor dan karbamat seperti diazinon 2 %, fention 2%, malation 2%, fenitrotion 2%, iodofenfos 5%, atau karbaril 3-5% dapat digunakan. Insektisida fogs atau aerosol yang mengandung malation 2% atau fenklorfos 2% kadang-kadang juga digunakan untuk fumigasi rumah yang mengandung pinjal. Insektisida smoke bombs yang mengandung permetrin atau tirimifos metal dapat juga digunakan untuk desinfeksi rumah.
Upaya pengendalian pinjal di daerah urban pada saat meluasnya kejadian pes atau murinethyphus, diperlukan insektisida dan aplikasi yang terencana dengan baik agar operasi berjalan dengan memuaskan. Pada saat yang sama
ketika insektisida diaplikasikan, rodentisida seperti antikoagulan, warfarin dan fumarin dapat digunakan untuk membunuh populasi tikus. Namun demikian, bila digunakan redentisida yang bekerja cepat dan dosis tunggal seperti zink fosfid, sodium fluoroasetat, atau striknin atau insektisida modern seperti bromadiolon dan klorofasinon, maka hal ini harus diaplikasikan beberapa hari setelah aplikasi insektisida. Jika tidak dilakukan maka tikus akan mati tetapi pinjal tetap hidup dan akan menggigit mamalia termasuk orang dan ini akan menongkatkan transmisi penyakit.
Pengendalian rodent (tikus) dapat dilakukan dengan cara: 1. Inspeksi tikus dan inisial survei
Inspeksi tikus dilakukan sebelum programpengendalian tikus dilaksanakan, inspeksi yang baik akan memberikan hasil yang maksimal dalam pengendalian tikus. Sedangkan, inisial survei dimaksudkan untuk menentukan kondisi awal atau tingkat serangan dan kerusakan yang ditimbulkan oleh tikus sebelum dilakukan program pengendalian tikus.
2. Sanitasi
Sanitasi diperlukan untuk suksesnya program pengendalian hama tikus. Supaya mendapatkan hasil sanitasi yang baik, maka perlu dibuat rekomendasi yang benar tentang pengelolaan sampah, menjaga kebersihan area, sistem tata letak barang digudang dengan susunan berjarak dari dinding dan tertata diatas palet, dan sebagainya. Tikus menyukai tempat yang kotor dan lembab, dengan melakukan sanitasi sama halnya dengan menghilangkan tempat beristirahat, bersembunyi, berteduh dan berkembang biak tikus. Selain itu, makanan tikus juga dapat dihilangkan.
3. Rat proofing
Rat proofing merupakan upaya pengendalian tikus dengan
tikus tidak bisa masuk. Tikus dapat leluasa masuk lewat bawah pintu yang renggang, lubang pembuangan air yang tidak tertutup kawat kasa, lewat shaft yang tidak bersekat atau lewat jalur kabel dari bangunan yang saling tersambung disekitarnya.
4. Rodent killing (trapping program dan rodenticide program)
Trapping program merupakan cara yang paling efektif untuk
mengendalikan tikus yaitu dengan membuat perangkap yang diletakkan ditempat yang biasanya dilewati tikus sehingga tikus bisa masuk dan terperangkap. Sedangkan, poisoning
programe merupakan pengendalian tikus dengan
memberikan racun pada umpan tikus. Keberhasilannya tergantung bagaimana usaha agar tikus memilih dan menyukai umpan makanan yang dipasang dan tidak memilih menyukai makanan lain yang ada disekitarnya. Umpan makanan harus disukai bagi tikus dan pemangsanya ditempat yang mudah dijangkau tikus. Rodenticide programe menggunakan bahan kimia untuk mengendalikan tikus.
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Praktikum Jentik 3.1.1 Metode Visual
3.1.1.1 Waktu dan Tempat
1. Waktu pelaksanaan : dilakukan sebanyak tiga kali pengamatan yaitu tanggal 17, 19, 21 Maret 2014, setiap pukul 14.30 WIB
2. Tempat pelaksanaan : 10 bak air kamar mandi mahasiswa Fakultas Kesahatan Masyarakat Universitas Airlangga Surabaya
3.1.1.2 Alat dan Bahan 1. Senter 2. Alat tulis 3.1.1.3 Cara Kerja
1. Memeriksa setiap kontainer yang dijadikan sebagai tempat pengamatan yaitu bak air kamar mandi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
2. Mengamati setiap kontainer dengan alat bantu senter, apakah di dalam kontainer tersebut terdapat jentik nyamuk.
3. Hitung dan catat hasil pengamatan jumlah jentik nyamuk yang ada di dalam kontainer.
4. Setelah semua kontainer sudah diamati dan dicatat, lakukan perhitungan Container Index (CI) untuk mengetahui kepadatan jentik nyamuk yang ada di kontainer bak air kamar mandi mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat.
Cara menghitung Conteiner Index (CI) adalah : Jumlah kontainer positif nyamuk
Jumlah kontainer yang diperiksa 3.1.1.4 Tabel Pengamatan
Tanggal pengamatan:
Bak ke- Kontainer Jumlah
Positif Negatif 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah 3.1.2 Metode Ovitrap
3.1.2.1. Waktu dan Tempat
1. Waktu pelaksanaan : tanggal 24 Maret – 5 April 2014 pada pukul 06.30 dan 14.30 WIB
2. Tempat pelaksanaan : 4 titik diletakkan ovitrap yaitu, a. Kamar mandi mahasiswa lantai 2 sebelah utara b. Taman tengah FKM
c. Ruang Senat d. Parkiran Motor 3.1.2.2 Alat dan Bahan
1. Ember hitam 2. Kasa 3. Tali rafia 4. Senter 5. Kaca pembesar 6. Alat tulis 7. Air bersih
3.1.2.3 Cara Kerja
1. Siapkan ember hitam dan kain kasa secukupnya serta tali rafia.
2. Letakkan kasa pada mulut ember dengan bagian tengah menggantung ke dalam, kemudian beri tali rafia. 3. Isi ember dengan air bersih sebanyak ¾ ember sampai
bagian permukaan air berada diatas kasa.
4. Buat ovitrap sebanyak lima buah atau sesuai kebutuhan.
Gambar 3.1 Ovitrap
5. Letakkan ovitrap di tempat – tempat yang ditentukan. Amati dan periksa ovitrap secara berkala hingga terdapat telur yang akan berubah menjadi jentik.
6. Amati dan identifikasi jentik yang ada di dalam ovitrap dengan senter dan kaca pembesar atau ambil jentik untuk mengetahui jenis jentik seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya.
7. Catat hasil dengan alat tulis di selembar kertas. 3.1.2.4 Rincian Biaya
Alat dan
Jumlah Harga Harga
Bahan satuan
Ember hitam 5 buah Rp 5.000,00 Rp 25.000,00 Kasa 1 meter Rp 5.000,00 Rp 5.000,00 Tali rafia 1 buah Rp 1.000,00 Rp 1.000,00 Senter 1 buah Rp 10.000 Rp 10.000,00
3.1.2.5 Tabel Pengamatan Tanggal Pengamatan:
Tempat Karakteristik Jenis Jumlah Fisik Jentik Jentik
No Diletakkan Ket
Jentik Saat Yang
Ovitrap Hinggap Ditemukan Kamar 1 mandi FKM Taman 2 tengah FKM 3 Ruang senat 4 Parkiran motor Tempat 5 wudhu putri
3.2 Praktikum Vektor dan Rodent 3.2.1 Metode Mekanik (Trapping)
3.2.1.1 Waktu dan Tempat
1. Waktu pelaksanaan : 19-20 Maret 2014
2. Tempat pelaksanaan : Kantin dan taman Fakultas Kesehatan Masyarakat
3.2.1.2 Alat dan Bahan 1. Tikus hitam 2. Pinjal Tikus
3. Perangkap Tikus Hidup
4. Umpan ( ikan asin )
5. Kantong kain/karung warna putih 6. Timba putih dengan tinggi + 45 cm 7. Masker 8. Sarung tangan 9. Penggaris 10. Chloroform 11. Sisir serit 12. Alat tulis 3.2.1.3 Cara Kerja
1. Cuci perangkap yang akan digunakan dengan air panas, untuk menghilangkan lemak/bau khas tikus.
2. Pasang perangkap pada siang/sore hari di tempat habitat tikus.
3. Beri perangkap dengan umpan, misal ikan asin.
4. Hitung jumlah perangkap yang dipasang serta beri tanda nomor dan lokasi.
5. Keesokan harinya, periksa perangkap dan dikumpulkan kembali perangkap yang terdapat tikus.
6. Kegiatan ini dilakukan 3 hari berturut-turut. 7. Catat dan hitung jumlah tikus yang tertangkap.
8. Perangkap yang terdapat tikus dimasukkan dalam kantong plastik, kemudian bius dengan chloroform. 9. Setelah pingsan, letakkan tikus dalam nampan untuk
dilakukan identifikasi.
10. Ukur panjang badan (TL), panjang ekor (T), panjang telapak kaki belakang (HF), panjang telinga (E), jumlah puting susu (M), berat badan (BB), dan warna bulu badan.
11. Catat dalam form pengamatan.
12. Bandingkan hasil pengamatan dengan ciri dan identifikasi tikus.
13. Pinjal didapat dengan cara menyisir rambut tikus berlawanan arah pertumbuhan rambut tikus dengan sikat sepatu/serit.
14. Pinjal yang jatuh ditampung dalam timba putih/warna terang yang didalamnya diberi air.
15. Hitung jumlah pinjal yang jatuh dan indeks pinjal. 3.2.1.4 Rincian Biaya
Alat dan
Jumlah Harga Harga
Bahan satuan Perangkap 10 buah Rp 15.000,00 Rp 150.000,00 hidup Umpan - - Rp 15.000,00 Kantong 2 buah Rp 5.000,00 Rp 10.000,00 kain Timba 1 buah Rp 50.000,00 Rp 50.000,00 putih Masker 10 buah Rp 1.000,00 Rp 10.000,00 Sarung 10 pasang Rp 1.500,00 Rp 15.000,00 tangan Chloroform - - Rp 25.000,00
Sisir serit 1 buah Rp 5.000,00 Rp 5.000
Total Rp 280.000,00
3.2.1.5. Tabel Pengamatan Tanggal Pengamatan:
Warna Bentuk
Jenis hidung Jenis
No Lokasi Badan& TL T E HF M
Kelamin dan Tikus
Ekor
BAB IV
HASIL PRAKTIKUM 4.1 Praktikum Jentik
4.1.1 Metode Visual
Tabel 4.1 Hasil Praktikum Jentik Metode Visual Tanggal pengamatan: 4 April 2014
Bak ke- Kontainer Jumlah
Positif Negatif
1 (bak kamar mandi √
0 lantai 1)
2 (bak kamar mandi √
0 lantai 1)
3 (bak kamar mandi √
0 lantai 2)
4 (bak kamar mandi √
0 lantai 2)
5 (bak kamar mandi √
0 lantai 3)
6 (bak kamar mandi √
0 lantai 3)
Jumlah 0
Conteiner Index (CI) adalah = Jumlah kontainer positif nyamuk
Jumlah kontainer yang diperiksa = 0 = 0
6 Angka Bebas Jentik (ABJ) =
= Jumlah bangunan yang tidak ditemukan jentik x 100% Jumlah rumah yang diperiksa
= 6 x 100% = 100% 6
4.1.2 Metode Ovitrap
Tabel 4.2 Hasil Praktikum Jentik Metode Ovitrap Tanggal Peletakan: 4 April 2014
Tanggal Identifikasi: 21 April 2014
Tempat Jenis
Jumlah Karakteristik Jentik
No Diletakkan Ket
Jentik Fisik Jentik Yang
Ovitrap
Ditemukan - Bergerak aktif
Kamar - Ekor hitam
1 mandi 16 bercabang Culex
FKM - Jalannya jentit
serabut - Warna hitam abu-abu - Panjang + 0,6 cm - Bergerak aktif di tengah
2 Dekanat 1 permukaan Culex
FKM UA - Warna abu - Panjang 0,2 cm - Bergerak aktif - Bergerak keatas permukaan - Warna putih
3 Ruang 9 terang Aedes
senat - Ekor aegepty
bercabang dan ada tonjolan - Panjang 0,8
cm
Parkiran Hilang (tidak
4 - - - bisa motor diidentifikasi) - Gerak aktif ke permukaan - Warna coklat dan hitam gelap - Jalannya jentit Tempat - Panjang 0,5 Aedes 5 wudhu 57 cm aegepty
putri - Pupa: warna
terang, bengkok, kecil, panjang, bentuk seperti koma, muncul di permukaan
Jumlah jentik dari seluruh ovitrap
Ovitrap Index = X 100 %
Jumlah ovitrap yang digunakan = 4 X 100% = 100%
4.2 Praktikum Pinjal
Berdasarkan 3 tikus yang tertangkap di kantin, depan ruang laboratorium penyajian dan ruang dosen PKIP, maka hasil identifikasi pinjal adalah sebagai berikut:
1. Tikus yang ditemukan di kantin adalah tikus mati, sehingga tidak dapat diidentifikasi.
2. Rattus norvegicus (tikus got) yang ditemukan di depan ruang laboratorium penyajian tidak ditemukan satupun pinjal.
3. Rattus-rattus (tikus atap) yang ditemukan di ruang dosen PKIP ditemukan 7 pinjal. Pinjal yang ditemukan dengan ciri-ciri kaki panjang dan panjangnya + 1,5 mm. Warna pinjal yang ditemukan adalah warna badan hitam dan merah, serta kaki berwarna kuning. Dua pinjal yang telah diidentifikasi merupakan jenis Xenopsylla
cheopis.
Indeks umum pinjal dihitung dengan rumus berikut:
4.3 Praktikum Tikus
Perangkap tikus yang telah diberi umpan berupa ikan asin yang dipasang di Fakultas Kesehatan Masyarakat pada tanggal 20 April 2014 diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Taman tengah FKM (depan laboratorium komputer): umpan hilang, namun tidak ada tikus yang tertangkap
2. Taman tengah FKM (depan ruang laboratorium penyajian): ada tikus yang tertangkap
3. Taman tengah FKM (dekat dekanat): umpan masih ada dan tidak ada tikus yang tertangkap
4. Parkir selatan: umpan hilang, namun tidak ada tikus yang tertangkap
5. Tempat penampungan sampah (dekat parkir selatan): umpan masih ada dan tidak ada tikus yang tertangkap
6. Parkiran motor dosen: perangkap hilang
7. Parkiran motor mahasiswa: umpan masih ada dan tidak ada tikus yang tertangkap
8. Kantin: umpan hilang dan didalamnya terdapat tikus mati 9. Sebelah senat: perangkap hilang
10. Sebelah koperasi mahasiswa (kopma): perangkap hilang
11. Ruang dosen PKIP: ada tikus hidup yang tertangkap di lem tikus 4.4 Kendala Praktikum
Pada praktikum jentik, ovitrap yang kelompok kami buat masih salah. Karena tali rafia pada ovitrap tidak bisa diatur naik-turun. Pada perhitungan kepadatan jentik, angka Breteau index lebih sensitif. Namun angka ini perlu penelitian pada 100 rumah. Karena ini hanya praktikum, maka angka kepadatan jentik hanya menggunakan container index.
Angka kepadatan tikus tidak dapat dihitung dengan pasti, karena peletakan yang kurang tepat. Selain itu, kami tidak bisa menghitung pinjal dengan pasti karena penangkapan tikus menggunakan lem. Sehingga sisi sebelahnya pinjal tidak bisa diidentifikasi. Pada identifikasi pinjal tersebut, kami juga belum bisa memastikan apakah terdapat Yersinia yang merupakan penyebab penyakit pes.
Berikut ini adalah hasil identifikasi tikus yang telah tertangkap di depan ruang laboratorium penyajian dan di ruang dosen PKIP:
Tabel 4.3 Hasil Identifikasi Tikus Tanggal Pemasangan: 20 April 2014
Tanggal Identifikasi: 30 April 2014 02 Mei 2014
No Lokasi Jenis Warna Badan& TL T E HF M Bentuk Bentuk Jenis Tikus
Kelamin Ekor Hidung Badan
Taman - Badan atas:
tengah FKM
Laki- coklat tua 38 19 1 4 Kerucut Besar, Rattus norvegicus
1 (Depan - Badan bawah: -
laki cm cm cm cm tumpul pendek (Tikus got)
ruang lab. coklat muda
penyajian - Ekor: coklat Ruang - Badan atas:
coklat hitam
dosen Laki- 35,7 19,2 1,7 2,5 Mancung Panjang, Rattus-rattus
2 - Badan bawah: -
Departemen laki cm cm cm cm (lancip) kecil (Tikus atap)
coklat abu-abu
PKIP
- Ekor: coklat
Trap success = Jumlah tikus yang tertangkap X 100%
Jumlah perangkap yang dipasang
= 3 = 27,27%
BAB V PEMBAHASAN
5.1 Praktikum Jentik 5.1.1 Metode Visual
Persiapan yang dilakukan berupa survei lokasi dan kebutuhan kontainer. Lokasi yang digunakan untuk pengamatan adalah area Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga. Kontainer yang digunakan di kamar mandi FKM adalah berbahan porselen dan bak plastik.
Dari hasil pengamatan, dari keenam kontainer yang diamati di kamar mandi FKM semuanya tidak terdapat jentik nyamuk. Pada perhitungan container index didapatkan hasil sebesar 0%. Itu artinya tidak didapatkan Density Figure (DF) atau bisa dikatakan bahwa DF=0. Sehingga kepadatan jentik nyamuk di area FKM adalah tidak ada atau bernilai nol. Hasil dipengaruhi oleh adanya petugas kebersihan di FKM yang setiap hari rutin membersihkan kamar mandi. Sedangkan untuk angka bebas jentik didapatkan hasil sebesar 100%. Artinya, keenam bangunan yang diperiksa tersebut bebas dari jentik nyamuk.
Jadi berdasarkan hasil diatas, kemungkinan di keenam bangunan di area FKM tersebut akan timbul penyakit seperti DBD, malaria, yellow
fever, dan chikungunya di area FKM UA adalah 0% berdasarkan
pengamatan dan pengukuran diatas.
Kendala yang terjadi dalam praktikum ini adalah bak mandi yang selalu rutin dibersihkan oleh petugas kebersihan. Sehingga kami tidak menemukan kepadatan jentik nyamuk di kamar mandi FKM. Selain itu tidak semua kamar mandi diidentifikasi dan dipantau. Sehingga tidak semua bangunan di area FKM bisa diidentifikasi akan timbulnya beberapa penyakit. Untuk itulah, identifikasi jentik nyamuk didapatkan dari hasil metode ovitrap.
5.1.2. Metode Ovitrap
Persiapan yang dilakukan pertama kali adalah mencari referensi pembuatan ovitrap. Setelah itu, membeli alat dan bahan yang dibutuhkan dan kemudian membuat ovitrap sebanyak lima buah.
Ovitrap yang sudah jadi diletakkan di lima titik yaitu kamar mandi lantai
2, Dekanat, ruang senat, parkiran motor dan tempat wudhu putri.
Berdasarkan dari hasil perhitungan didapatkan indeks ovitrap sebesar 100%. Untuk mengetahui interpretasi dari hasil yang didapatkan dapat dibandingkan dengan klasifikasi indeks ovitrap seperti dibawah ini:
Tabel 5.1 Klasifikasi Ovitrap Index
Klasifikasi Ovitrap Index Tindakan yang dilaksanakan Tingkat 1 <5% - Pengawasan dengan cermat
kondisi kebersihan lingkungan untuk mencegah tempat perindukan nyamuk
- Pemeriksaan mingguan untuk mengidentifikasi tempat perindukan atau yang berpotensi dan meniadakan tempat yang mungkin sebagai perindukan nyamuk
Tingkat 2 > 5% - 20% Mengingatkan manajemen tempat umum untuk memeriksa secara berkala (waktu tidak lebih tujuh hari) dan menghilangkan tiap perindukan di sekitarnya. Tingkat 3 > 20% - 40% Kegiatan meniadakan tempat
perindukan atau yang berpotensi lebih ditingkatkan.
Tingkat 4 > 40% Memberikan kewenangan kepada perusahaan pest control untuk mengatasi permasalahan nyamuk. Tindakan larvasida atau stadium dewasa dapat diterapkan.
Sumber: http://www.fehd.gov.hk , 2004
Indeks ovitrap 100% termasuk ke dalam tingkat 4, artinya daerah tersebut termasuk rawan timbul penyakit DBD dan penularan penyakit kaki gajah. Karena pada area bangunan tersebut banyak ditemukan jentik jenis Aedes aegepty dan Culex. Pencegahan yang perlu dilakukan pengelolaan lingkungan antara lain :
c. Rajin menguras tempat penampungan air bersih. d. Penggunaan larvasida jika memang dibutuhkan.
Kendala yang terjadi saat praktikum berlangsung adalah butuh waktu yang lama untuk mendapatkan jentik di dalam ovitrap. Selain itu,
ovitrap yang kami letakkan di parkiran motor, air didalamnya tumpah
sehingga ovitrap tersebut tidak dapat diidentifikasi. 5.2 Praktikum Pinjal
Berdasarkan hasil perhitungan indeks pinjal di Fakultas Kesehatan Masyarakat yang diperoleh indeks pinjalnya sebesar 2.34, dengan jumlah tikus 3 ekor dan 7 ekor pinjal. Adapun syarat jumlah indeks pinjal umum adalah tidak melebihi 2 (<2). Hal ini menunjukkan bahwa perlunya upaya pemberantasan dan pengendalian tikus agar tempat pendidikan Fakultas Kesehatan Masyarakat bebas dari pinjal. Sesuai dengan hasil identifikasi pinjal yang ditemukan pada tikus di ruang dosen departemen PKIP FKM adalah pinjal jenis Xenopsylla
cheopis.
Menurut WHO (1988) dalam pedoman pemberantasan pes di Indonesia tahun 1999, suatu wilayah dikatakan waspada terhadap penularan pes jika terdapat 30% tikus terinfestasi pinjal, dan indeks umum pinjal > 2 serta indeks khusus pinjal (X.cheopis) > 1. Artinya, wilayah Fakultas Kesehatan Masyarakat termasuk wilayah waspada terhadap penularan pes. Adanya tikus yang terinfestasi pinjal ini, perlu ditingkatkan kewaspadaannya dengan melakukan beberapa upaya pengendalian.
Pinjal Xenopsylla cheopis merupakan pinjal yang khas ditemukan pada rodent. Pinjal ini mempunyai habitat di tempat yang hangat sesuai dengan hostnya. Pinjal ini banyak ditemukan pada tikus yang tertangkap di ruang dosen PKIP dimana kondisi ruangan yang kering dan hangat, merupakan tempat yang disukai pinjal. Perkembangan pinjal ini membutuhkan kondisi kering seperti yang terdapat dalam sarang tikus rumah dan lebih senang hidup di tempat yang kering dan mendapatkan makanan berupa darah mangsanya.
5.3 Praktikum Tikus
Keberhasilan penangkapan tikus pada praktikum ini adalah 27,27%, dimana ada 3 tikus yang tertangkap dari keseluruhan 11 perangkap yang telah dipasang. Hasil investigasi tikus dengan trapping atau penangkapan tikus di beberapa lokasi di daerah tidak ada banjir, kepadatan tikus tergolong tinggi di atas rata-rata ambang batas normal yaitu 7 % trap success. Angka keberhasilan penangkapan tikus ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu kualitas perangkap, kepadatan tikus, dan penempatan perangkap tikus yang kurang tepat karena tikus mempunyai sifat thigmotaxis yaitu mempunyai lintasan yang sama saat mencari makan, sarang, dan aktivitas harian lainnya.
Tikus yang tertangkap di taman tengah dapat disebabkan karena permukaan tanah yang becek sehingga tampak kotor dan letaknya dekat dengan tong sampah. Sedangkan tikus yang terdapat di ruang dosen dapat disebabkan karena kondisi ruangan yang terlalu padat, tidak teratur dalam peletakan barang, dan kotor.
Identifikasi tikus didapatkan bahwa tikus yang tertangkap di taman tengah adalah jenis tikus got. Habitat tikus got ini adalah di lubang-lubang saluran atau got, di bawah bangunan, di bawah timbunan sampah dan lain-lain. Sedangkan tikus yang tertangkap di ruang dosen adalah jenis tikus atap. Hal ini karena salah satu habitat tikus atap adalah di gedung tinggi, karena memiliki kemampuan memanjat dan menyeberangi kabel.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kontainer di Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat dikatakan bebas jentik nyamuk, karena tidak ditemukan jentik saat dilakukan pemeriksaan ddengan metode visual. Sedangkan, berdasarkan metode
ovitrap didapatkan angka ovitrap index 100% karena ditemukan jentik
nyamuk pada seluruh ovitrap yang dipasang.
Tingkat kepadatan relatif (trap success) di wilayah Fakultas Kesehatan Mayarakat Universitas Airlangga termasuk tinggi, yaitu 27,27%. Jenis tikus yang ditemukan adalah Rattus novergicus (tikus got) dan Rattus-rattus (tikus atap). Spesies pinjal yang ditemukan adalah Xenopsylla cheopis dengan hasil IUP (indeks umum pinjal) sebesar 2,34.
6.2 Saran
6.2.1 Untuk Mahasiswa dan Civitas Akademika FKM UA
Diharapkan seluruh mahasiswa dan civitas akademika UA selalu menjaga kebersihan kampus agar tidak memicu perkembangbiakan jentik nyamuk, pinjal, dan tikus. Selain itu, para dosen juga dapat menata ruangannya agar selalu terlihat rapi dan bersih agar tidak memicu kedatangan tikus ke dalam ruangan dosen.
6.2.2 Untuk Institusi Pendidikan FKM UA
Hendaknya dapat melakukan kegiatan rutin 3M atau PSN untuk pencegahan penyakit menular akibat nyamuk. Selain itu, lebih memperhatikan kondisi ruangan dosen yang masih ditemukan tikus berkeliaran didalamnya. Sebaiknya melakukan kegiatan bersama untuk pengendalian tikus dan pinjal di FKM UA.
6.2.3 Untuk Peneliti Selanjutnya
Diharapkan pada penelitian selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu sumber data. Selain itu, penelitian ini dapat dilakukan di tempat lain dengan memasang lebih banyak perangkap dan lebih
memperhatikan lokasi penempatan perangkap beserta umpan yang akan dipasang.
DAFTAR PUSTAKA
Aditama, T. Y. 2009. Standar Operasional Prosedur Pengendalian Resiko Lingkungan. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada tanggal 04 Mei 2014. <http://www.slideshare.net/masripsarumpaet1/sop-prl-kkp>. Affiah Immatul, Angga Saktia, Ari Indah K, Arumdhika N, Resti Qodariah.
(2011). Anopheles dan Metode Pengendaliannya. Diakses 8 Maret 2014, dari http://kesmas-unsoed.info/2011/03/makalah-anopheles-dan- pengendaliannya.html
Anonim.2013. Jenis- Jenis Tikus Yang Sering Ditemukan di Sekitar Kita. Diakses 3 Mei 2014 dari : http://www.thecrowdvoice.com/post/jenis2- tikus-yg-sering-ditemukan-di-sekitar-kita-11462191.html
Anonim. ( Januari 2011 ). Identifikasi Nyamuk. Diakses 9 Maret 2014, dari http://www.slideshare.net/AriniUtami/lap-parasitologi-ii-nyamuk
Anonim. (2010). Pengendalian Vektor Epidemiologi Pinjal. Diakses 9 Maret 2014, dari http://kesmas-unsoed.info/2011/05/makalah-pinjal-mata- kuliah-pengendalian-vektor-epidemiologi.html
Anonim. (2001). Bionomik Nyamuk (Pengendalian Vektor Nyamuk). Fakultas Kedokteran Universitas Jendral Soedirman:Purwokerto.
Anonim. (2010). Kutu Loncat Pinjal (Flea) Dan Caplak (Tick).
www.hewanpeliharaan.com/index2.php?option=com. Diakses pada tanggal 8 Maret 2014.
Anonim. Gangguan Kesehatan Akibat Nyamuk. Diakses 9 Maret 2014 dari http://hesperian.org/wpcontent/uploads/pdf/id_cgeh_2010/id_cgeh_2010 _08.pdf
Denny Riyono. (2010). Nyamuk Sebagai Vektor Penyakit ( Malaria, demam
Berdarah, Demam Tulang, Kaki Gajah ) di Indonesia. Diakses 9 Maret
2014 dari http://www.docstoc.com/docs/112724650/Nyamuk-sebagai- Vektor-Penyakit
Depkes. 2012. Pedoman Pengendalian Deman Chikungunya Edisi 2. Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diakses pada tanggal 04 Mei 2014. <http://pppl.depkes.go.id/_asset/_download/bk%20cikungunya%20edited _27_10_12ok.pdf>.
Food and Environmental Hygiene Departement. 2014. Dengue Fever Ovitrap Index Update. Diakses pada tanggal 04 Mei 2014. <http://www.fehd.gov.hk/english/safefood/dengue_fever/ovitrap_index.ht ml>.
Isnani, Tri. (2008). Tikus Rumah. Balaba Ed. 006, No. 01: 20
Raharjo, Jarohman dan Tri Ramadhani. 2012. Studi Kepadatan Tikus dan
Ektoparasit (Fleas) Pada Daerah Fokus dan Bekas Pes. Universitas
Kasnodihardjo, Rachmalina Soerachman, Sunanti Zalbawi S. 2005. Studi
Tentang Penularan Penyakit Pes Engan Pendekatan Sosioekologi Di Dusun Sulorowo, Perbukitan Tengger Bromo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Media Litbang Kesehatan Volume XV Nomor 1 Tahun 2005
Maulana, Yusuf, dkk. (2011). Identifikasi Ektoparasit Pada Tikus dan Cecurut Di
Daerah Fokus Pes Desa Suroteleng Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali. Balaba Vol. 8, No. 01: 17-20
Rommel, Edi. Tikus ( Hewan Pengerat ). Diakses 3 mei 2014 dari http://id.scribd.com/doc/62057837/TIKUS-Hewan-Pengerat
Sabrina Aprilisa, Martha. 2010. Survei Pinjal Dan Tikus Riul (Rattus Norvegicus,
Berkenhout 1769) Dibeberapa Kelurahan Di Kecamatan Tembalang Kota Semarang Tahun 2009-2010
Samsudrajat, Agus. (2008). Pemasangan Perangkap , Pemeriksaan
(identifikasi), dan Penyisiran Tikus (Penangkapan Ektoparasit) :
Universitas Muhammadiyah Surakarta. Surakarta
Sholichah, Zumrotus. (2007). Mengenal Jenis Tikus. Balaba Ed.005, No.02: 18- 19
Sudibyo, P.A., dkk. 2012. Kepadatan Populasi Larva Aedes aegypti Pada Musim Hujan di Kelurahan Petemon, Surabaya. Diakses pada tanggal 04 Mei 2014. <http://biologi.fst.unair.ac.id/wp-content/uploads/2012/04/JURNAL- KEPADATAN-POPULASI-LARVA-Aedes-aegypti-PADA-MUSIM-HUJAN-DI-KELURAHAN-PETEMON-SURABAYA.pdf>.
Taviv, Yulian. 2009. Survei Jentik Tersangka Vektor Chikungunya di Desa Batumarta Unit 2 Kecamatan Lubuk Raja Kabupaten Ogan Komering Ulu
Tahun 2009. Loka Litbang P2B2 Baturaja.
<http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/spirakel/article/download/ 1241/646>.
Taviv, Yulian, dkk. 2010. Pengendalian DBD Melalui Pemanfaatan Pemantau Jentik dan Ikan Cupang di Kota Palembang. Vol. 38. No. 4. Hal : 198-207. Loka Litbang P2B2 Baturaja.
<http://download.portalgaruda.org/article.php?captcha=cladonia&article= 71021&val=4882&title=&yt0=Download%2FOpen>.
Ustiawan, Adil. (2008). Xenopsylla cheopsis. Balaba Ed. 007, No. 02: 20
WHO. Dengeu Control, Vector Surveillance. Diakses pada tanggal 04 Mei 2014. <http://www.who.int/denguecontrol/monitoring/vector_surveillance/en/>. Widiyanto, Teguh. (2007). Kajian Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian
Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Kota Purwokerto Jawa –Tengah.
Universitas Diponegoro: Semarang
Yoga Candra. (2009). Standar Operasional Prosedur Pengendalian Nyamuk
Aedes Aegypti. Diakses 9 Maret 2014 dari
Zulkarnaini, dkk. 2009. Hubungan Kondisi Sanitasi Lingkungan Rumah Tangga dengan Keberadaan Jentik Vektor Dengue di Daerah Rawan Demam Berdarah Dengue Kota Dumai Tahun 2008.
DOKUMENTASI
Tempat peletakan ovitrap
Identifikasi Jentik Nyamuk
Identifikasi Pinjal (Xenopsylla cheopis)
Tikus got (Rattus norvegicus)
Tikus atap (Rattus-rattus)