PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI
PADA MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (PKn)
A. PENGINTEGRASIAN PENDIDIKAN ANTIKORUPSI PADA SK/KD
MODEL INTEGRASI PENGEMBANGAN ASPEK DAN INDIKATOR PENDIDIKAN ANTIKORUPSI
SEKOLAH DASAR/MADRASAN IBTIDAIYAH
STANDAR
KOMPETENSI KOMPETENSI DASAR KLS/
SMT
PENDIDIKAN ANTIKORUPSI
MODEL INTEGRASI DIMENSI DAN INDIKATOR NILAI ACUAN
1. Memahami pentingnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 1.1 Mendeskripsikan Negara Kesatuan Republik Indonesia : V/1 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepenti-ngan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab,
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/ kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan.
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya),
Marilah kita renungkan kembali mengenai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Apakah negara kita sejak dulu sudah merupakan negara yang merdeka? Di dalam sejarah, Indonesia semula memang merupakan negara merdeka. Namun di dalam perjalanan sejarahnya, Indonesia kemudian dijajah oleh Belanda, selanjutnya oleh Jepang. Berkat perjuangan bersama para pemimpin dan pahlawan kita yang tidak mengenal lelah (berani, kebersamaan) dengan segala pengorbanannya, baik harta maupun jiwa (kerja keras, konsekuen, komitmen), dan dilandasi rasa percaya diri (mandiri) akhirnya kemerdekaan dapat diraih kembali. Perjuangan memperoleh kemerdekaan ini mencapai puncaknya pada masa akhir pendudukan Jepang. Ketika Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, kesempatan ini digunakan sebaik-baiknya oleh para pemimpin dan tokoh
disiplin). b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme (adil).
d. idak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat ( jujur dan kerja keras b. Tidak melakukan suap (jujur) c. Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan
arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
pejuang kita, yaitu dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia (kerja keras). Semua tokoh pada waktu itu sepakat dan merasa bertanggungjawab atas terwujudnya kemerdekaan Indonesia (konsisten, bertanggungjawab).Para pejuang mempunyai prinsip bahwa bangsa Indonesia harus mempunyai kedudukan yang sama dengan bangsa-bangsa lain yang ada di dunia ini (kesetaraan). Ketika memperjuangkan kemerdekaan, para tokoh pejuang selalu berjuang tanpa pamrih (ikhlas), teguh pendirian (konsekuen), pantang menyerah (kerja keras). Berkat sikap-sikap itulah maka kemerdekaan dapat dicapai. Pada awal kemerdekaan setiap orang ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan kemampuannya (tidak nepotisme, adil). Lihat saja bagaimana proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden di dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Para anggota PPKI secara aklamasi menyetujui Ir Soekarno dan Drs Moh. Hatta menjadi Presiden dan Wakil Presiden. Tidak ada satu anggotapun yang menolak ditetapkannya Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta menempati posisi itu (bijaksana, sportif, disiplin)
Karena terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah kehendak seluruh rakyat Indonesa, maka dalam penyelenggaraan pemerintahannya harus berdasarkan musyawarah, bukan berdasarkan ambisi seseorang atau kelompok yang dapat
penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara (peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
menguntungkan seseorang atau kelompok tertentu.
Dalam mendeskripsikan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus memahami hak dan kewajiban warga negara secara utuh agar tercipta kehidupan yang rukun. tidak boleh membeda-bedakan orang ditinjau dari suku, agama dan ras ( sosiologi). Dalam menjalin hubungan antar sesama tidak boleh memaksakan kehendaknya sendiri (sosiologi), tidak megingkari janji( sosiologi) yang sudah dibuat sehingga menimbulkan perselisihan, (sosiologi) dan tidak mementingkan kepentingan keluarganya atau kelompoknya (politik) serta menghindari perbuatan persekongkolan dalam berbagai hal.
Di samping itu dalam rangka mewujudkan keadilan sosial harus dihindari perbuatan seperti persaingan yang tidak sehat (ekonomi), karena akan berakibat menghalalkan segala cara, melakukan pelanggaran hak ekonomi seseorang, melakukan penyimpangan standar prosedur operasional yang ditetapkan, melakukan penyuapan agar diberi kemudahan dalam kepengurusan sesuatu, menggunakan sumber daya seefisien mungkin (ekonomi), serta tidak melakukan penyelewengan alokasi dana dan distribusi dana (ekonomi).
Negara Indonesia akan tetap utuh dan suasana kehidupan masyarakat akan rukun apabila
seluruh warga Negara taat pada aturan.
Dalam lingkup yang lebih kecil, misalnya lingkup sekolah, maka setiap siswa juga harus mengindari tindakan-tindakan yang dapat merugikan diri sendiri, misalnya menyontek ketika menempuh ulangan/ujian. Selain itu, setiap siswa hendaknya menunjukkan sikap-sikap yang positif, misalnya (kebersamaan, konsekuen, hemat, ikhlas, berbagi, rajin, tanggung jawab, disiplin, jujur).
Nah, sikap seperti ini sejak dini harus sudah ditanamkan kepada siswa agar siswa tahu mana yang baik sehingga harus diteladani/ diwujudkan di dalam praktik kehidupan sehari-hari, dan mana yang tidak baik sehingga harus ditinggalkan. 1.2 Menjelaskan pentingnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia: V/1 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
Menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia, merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu dalam membuat aturan negara tidak boleh didasari ambisi pribadi yang dapat menguntungkan kelompoknya ( politik ), pembuat aturan tidak boleh memberikan hadiah agar orang lain mengikuti kemauannya ( politik), dan apabila ada yang bersalah siapapun pelakunya harus ditindak (tidak boleh pilih kasih) (politik, hukum). Dengan menghindari sikap demikian kita akan merasa bersatu sebagai bangsa Indonesia dan dapat mempertahankan keutuhan negara.
tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Nepotisme (adil) d. Tidak kolusi atau
bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras b. Tidak melakukan suap (jujur) c. Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
sangat penting untuk dipertahankan. Oleh karena itu dalam kehidupan bermasyarakat kita harus saling menghormati (sosiologi), apabila berjanji harus ditepati (sosiologi), dalam bergaul tidak membedakan teman (sosiologi), tidak memaksakan kemauan sendiri (sosiologi) untuk kepentingan pribadi atau keluarga dan tidak bersekongkol dengan tujuan yang tidak baik hingga /merugikan orang lain.
Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berarti juga memperhatikan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu agar tercipta keadilan sosial yang merata, maka harus dihindari sikap bersaing secara tidak sehat dalam berusaha, tidak ingin menyuap untuk mendapatkan sesuatu, membeli barang sesuai kebutuhan(ekonomi), dan apabila ada siswa yang dipilih sebagai bendahara kelas harus menggunakannya sesuai aturan dan membuat catatan sebagai laporan (ekonomi).
Di dalam lingkup yang lebih kecil, lingkup sekolah misalnya, di dalam menjaga keutuhan bangsa, dapat diwujudkan mulai dari skala yang lebih kecil, dengan mewujudkan tindakan-tindakan yang merupakan perwujudan nilai-nilai positif di dalam kehidupan sehari-hari, (misalnya selalu menjaga kebersamaan, bertindak konsekuen, bijaksana, melakukan sesuatu secara ikhlas, rajin, sportif, tanggung jawab, jujur, kerja keras, mandiri, berani,. adil, juga peduli).
jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum: a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara (peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana).
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan
h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
(empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya. 1.3 Menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia V/1 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama,
Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia akan terwujud apabila seluruh masyarakat mentaati peraturan perundang-undangan yang berlaku (hukum), bekerja sama bahu-membahu.
Dalam lingkup kecil, para siswa saling menghormati dan saling bekerjasama, meskipun berasal dari suku atau agama yang berbeda, memberi pertolongan kepada yang membutuhkan pertolongan ( peduli), tidak memperlihatkan kekayaannya meskipun sesungguhnya kaya ( sederhana). Dengan sikap-sikap tersebut persatuan dan kesatuan akan terwujud. Guru harus menindak siswa yang berlaku curang di dalam ulangan/ujian ( menyontek), dengan tidak mempertimbangkan siapa siswa yang menyontek tersebut, serta siswa yang melanggar peraturan yang ada. (adil).
Selain itu, dalam kehidupan masyarakat kita harus menghindari perilaku ingkar janji, membeda-bedakan teman, memaksakan kehendak sendiri kepada teman untuk kepentingan pribadi atau keluarga (sosiologi), dan bersekongkol untuk melakukan tindakan
(adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras b. Tidak melakukan suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab)
b. Tidak melakukan
membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
yang merugikan orang lain.
Dalam kaitannya dengan peristiwa sejarah, ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) masih ada, bangsa Indonesia dua kali terancam perpecahan, yaitu ketika pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, dan pengkhianatan G.30.S/PKI tahun 1965. Karena itu kita harus berusaha agar faham komunis tidak lagi hidup dan berkembang di Indonesia. (politik, berani, komitmen, konsekuen). Cara yang dapat ditempuh antara lain adalah menolak setiap ajaran yang mengandung unsur-unsur komunis. Selain itu juga adanya gerakan separatis (gerakan yang ingin memisahkan diri dari RI Proklamasi), misalnya Organisasi Papua Merdeka (OPM), Republik Maluku Selatan (RMS), Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang kesemuanya itu juga mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Karena itu gerakan-gerakan semacam ini juga harus kita tolak. Kita harus sepakat untuk menolak usaha-usaha tersebut, dan kita harus sepakat untuk tetap mempertahankan keutuhan NKRI (komitmen, konsekuen).
pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara (peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya. 2 Memahami peraturan perundang-undangan tingkat pusat 2.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya peraturan perundang-V/1 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa
Di dalam setiap kehidupan bernegara, adanya peraturan perundang-undangan sangat diperlukan. Diperlukannya peraturan perundang-undangan ini tidak lain adalah agar kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi teratur, tidak
dan daerah. undangan tingkat pusat dan daerah
(adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme (adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras b. Tidak melakukan
persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap
kacau, Di dalam setiap penyusunan peraturan perundang-undangan tidak dibenarkan adanya peraturan yang hanya menguntungkan kelompok tertentu ( politik ), misalnya hanya untuk mengun tungkan para pengusaha besar, dan merugikan pelaku ekonomi kecil. Ini bisa terjadi baik untuk peraturan perundangan tingkat pusat maupun tingkat daerah.
Agar masyarakat dapat memenuhi kewajibannya dengan baik, maka dalam menentukan peraturan perundang-undangan tersebut tidak boleh sewenang-wenang - seperti didasarkan pada ambisi pribadi, selalu menguntungkan kelompok tertentu saja, melaksanakan kebijakan dilandasi oleh pemberian janji-janji pada bawahan agar berpihak kepadanya serta dalam melaksanakan pengawasan dilakukan secara tebang pilih.(politik)
Korupsi dapat dilakukan dalam pembayaran pajak dan ketika melanggar lalu lintas atau pelanggaran terhadap larangan merokok (hukum).
suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan
persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung
menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak
Ditinjau dari aspek ekonomi, korupsi dapat berbentuk persaingan tidak sehat karena dapat menghalalkan segala cara, melakukan pelanggaran hak ekonomi orang lain, antara lain dengan cara menyuap para anggota DPR/DPRD untuk membuat peraturan perundang-undangan yang menguntungkan kelompoknya sendiri, disatu sisi dapat merugikan kelompok lain. (politik).
Contoh peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah yang harus ditaati oleh setiap masyarakat Indonesia antara lain undang-undang tentang perpajakan, undang-undang-undang-undang tentang tindak pidana korupsi, undang-undang tentang lalu lintas. Di lingkup yang lebih kecil misalnya peraturan tata tertib sekolah, peraturan tata tertib di keluarga, peraturan tata tertib di masyarakat, misalnya mengenai jam wajib belajar, larangan merokok di tempat-tempat tertentu, larangan membuang sampah di sembarang tempat (hukum, politik, sosiologi). Setiap warga negara Indonesia yang telah memenuhi ketentuan peraturan perundangan, misalnya undang-undang yang mengatur tentang pajak, maka wajib memenuhi kewajiban membayar pajak, dengan tanpa melakukan manipulasi data ( misalnya mengecilkan penghasilan dalam surat pemberitahuan pajak), dengan maksud agar pajak yang harus
jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara( peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
dibayarkannya menjadi lebih kecil dari yang seharusnya dibayarkan (hukum).
Agar masyarakat dapat memenuhi kewajibannya dengan baik, maka dalam menentukan peraturan perundangan tersebut tidak boleh sewenang-wenang seperti didasarkan pada ambisi pribadi, selalu menguntungkan kelompok tertentu saja, melaksanakan kebijakan dilandasi oleh pemberian janji-janji pada bawahan agar berpihak kepadanya serta dalam melaksanakan pengawasan dilakukan secara tebang pilih (sosiologi, politik).
Korupsi dapat dilakukan dalam pembayaran pajak dan ketika melanggar lalu lintas ( misalnya ketika melanggar rambu lalu lintas hanya diselesaikan di bawah tangan, diselesaikan cukup dengan polisi, tidak lewat proses peradilan. Jika ini terjadi, maka besar kemungkinan uang yang masuk ke polisi tidak diserahkan ke kas negara.
2.2 Memberikan contoh peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah seperti pajak, antikorupsi, lalu lintas, larangan merokok. 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk
Contoh peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah yang harus ditaati oleh setiap masyarakat Indonesia antara lain undang-undang tentang perpajakan, undang-undang-undang-undang tentang tindak pidana korupsi, undang-undang tentang lalu lintas. Di lingkup yang lebih kecil misalnya peraturan tata tertib sekolah, peraturan tata tertib di keluarga, peraturan tata tertib di masyarakat, misalnya mengenai jam
menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan
pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil)..
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme (adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras) b. Tidak melakukan suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya
melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan
wajib belajar, larangan merokok di tempat-tempat tertentu, larangan membuang sampah di sembarang tempat (hukum, politik, sosiologi). Setiap warga negara Indonesia yang telah memenuhi ketentuan peraturan perundangan, misalnya undang-undang yang mengatur tentang pajak, maka wajib memenuhi kewajiban membayar pajak, dengan tanpa melakukan manipulasi data ( misalnya mengecilkan penghasilan dalam surat pemberitahuan pajak), dengan maksud agar pajak yang harus dibayarkannya menjadi lebih kecil dari yang seharusnya dibayarkan (hukum).
Agar masyarakat dapat memenuhi kewajibannya dengan baik, maka dalam menentukan peraturan perundangan tersebut tidak boleh sewenang-wenang seperti didasarkan pada ambisi pribadi, selalu menguntungkan kelompok tertentu saja, melaksanakan kebijakan dilandasi oleh pemberian janji-janji pada bawahan agar berpihak kepadanya serta dalam melaksanakan pengawasan dilakukan secara tebang pilih (sosiologi, politik).
Korupsi dapat dilakukan dalam pembayaran pajak dan ketika melanggar lalu lintas ( misalnya ketika melanggar rambu lalu lintas hanya diselesaikan di bawah tangan, diselesaikan cukup dengan polisi, tidak lewat proses peradilan. Jika ini terjadi, maka besar kemungkinan uang yang masuk ke polisi tidak
(sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas
dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional.
negara( peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya. 3. Memahami kebebasan berorganisasi 3.1 Mendeskripsikan pengertian organisasi V/2 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksanakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji ( tanggung jawab, disiplin)
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati
Dalam kehidupan bersama/ bermasyarakat, orang tidak dapat mengisolasi diri dari pergaulan. Mereka membutuhkan kerjasama antara satu dengan lainnya. Salah satu wujud kerjasama adalah dalam bentuk organisasi. Di dalam setiap organisasi, pasti ada pembagian tugas antar komponen yang ada. Setiap orang yang menjadi anggota organisasi harus mematuh-taati semua ketentuan organisasi (konsisten, konsekuen). Semua anggota pengurus/ pimpinan harus melaksanakan tugas sesuai dengan pembagian tugas yang telah digariskan oleh organisasi (konsisten). Pimpinan organisasi harus memperlaku kan semua anggotanya secara sama (sosiologi, adil).
b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme
(adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras) b. Melakukan suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum: a. Tidak melakukan penggelapan. dana, (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur, tanggung jawab, c. Tidak melakukan pencurian (jujur). d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara( peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
3.2 Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat V/2 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme (adil) d. Kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur,).
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak
Di setiap sekolah pada umumnya cukup banyak organisasi yang melibatkan siswa, misalnya OSIS, Palang Merah Remaja, Pecinta Alam. Karena organisasi ini prinsipnya adalah dari, oleh, dan untuk siswa, maka keberadaan organisasi ini sepenuhnya tergantung kepada siswa. Guru hanyalah membimbing siswa dalam berorganisasi ini. Guru tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada siswa dalam berorganisasi ini , misalnya memaksakan kepada siswa yang lain untuk dapat menerima agar siswa tertentu yang menjadi pengurus (nepotisme, adil).
3. Ekonomi: a. Melakukan
persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras) b. Melakukan suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin
(tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara( peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
3.3 Menampilkan peran serta dalam memilih organisasi di sekolah V/2 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur).
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati),
Karena organisasi siswa di sekolah pada prinsipnya adalah dari, oleh, dan untuk siswa, maka siswa diberi kebebasan untuk menentukan pilihan organisasi apa yang akan mereka masuki, tanpa paksaan dari manapun dan dari siapapun (sosiologi,kolusi, nepotisme).
Di dalam berorganisasi, tentu ada kegiatan untuk memilih pengurus organisasi tersebut. Di dalam memilih pengurus organisasi ini, para
c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Tidak deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme (adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur,). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat ( jujur dan kerja keras) b. Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan
sungguh-siswa harus menunjukkan perannya secara aktif, yaitu turut serta di dalam memilih pengurus. Dan ketika memilih pengurus organisasi ini, para siswa di dalam memilihnya harus mendasarkan diri pada kriteria kecakapan/kemampuan yang dipilih. Mereka yang dipilih haruslah benar-benar yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, bukan didasarkan pada dekatnya hubungan (sosiologis, nepotisme), apalagi didasarkan pada iming-iming (politik, ekonomi, adil, jujur).
alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara( peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan
gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya. 4. Memahami keputusan bersama 4.1 Mengenal bentuk-bentuk keputusan bersama V/2 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin)
b. Tidak deskriminatif
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
Di dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti dihadapkan pada pilihan-pilihan yang ada. Dan setiap orang harus menentukan salah satu dari pilihan-pilihan yang ada itu. Ketika kita menentukan pilihan salah satu dari sekian banyak pilihan tersebut, berarti kita telah membuat keputusan. Dengan demikian keputusan dapat diartikan sebagai pilihan yang diambil oleh seseorang, untuk dilaksanakan. Di dalam menentukan pilihan ini, kita harus mempunyai kebebasan, tidak boleh didekte oleh orang lain, lebih-lebih dipaksa oleh orang lain untuk menentukan pilihan itu (sosiologis, tidak memaksakan kehendak).
dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme
(adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur). 3. Ekonomi: a. Melakukan persaingan secara sehat (jujur dan kerja keras) b. Tidak melakukan suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jatwab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak (tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa
(jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara (peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
4.2 Mematuhi keputusan bersama V/2 1. Politik: a. Membuat kebijakan didasarkan pada kepentingan umum/bersama (adil) b. Melaksanakan kebijakan didasari pada sikap menjunjung tinggi kebenaran (jujur). c. Melaksakan pengawasan kebijakan secara tidak tebang pilih (adil).
2. Sosiologi:
a. Tidak ingkar janji atau menepati janji (tanggung jawab, disiplin) b. Deskriminatif dalam memberikan layanan (adil) c. Tidak nepotisme (adil)
d Tidak kolusi atau bersekongkol untuk berbuat jahat (jujur).
KESETARAAN: kesejajaran, sama
tingkatan/kedudukan, sebanding, sepadan, seimbang.
KEBERSAMAAN Hal bersama seperti rasa persaudaraan/kekeluargaan, senasib sepenanggungan, dan merasa menjadi satu kesatuan(integritas).
KOMITMEN: perjanjian, keterikatan untuk melakukan sesuatu (yang telah disepakati), kontrak.
KONSEKUEN: sesuai dengan apa yang dikatakan/diperbuat, berwatak teguh, tidak menyimpang dari apa yang sudah
diputuskan
HEMAT: berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, cermat.
BIJAKSANA: selalu menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), arif, tajam pikiran, pandai dan hati-hati (cermat, teliti, dsb.)
IKHLAS: bersih hati, tulus hati.
BERBAGI: membagi sesuatu bersama, membagi diri, saling memberi pengalaman. RAJIN: suka bekerja (belajar dsb.), tekun, sungguh2 bekerja, selalu berusaha giat, terus menerus.
SPORTIF: bersifat kesatria, jujur, tegak
Di dalam setiap pengambilan keputusan, kita mengenal adanya dua macam cara, yaitu (1) secara musyawarah mufakat, dan (2) dengan pemungutan suara. Di dalam setiap pengambilan keputusan ini, setiap peserta musyawarah harus menentukan secara bebas mana yang menjadi pilihannya, bebas dari paksaan pihak lain, serta pihak lain tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada peserta musyawarah yang lainnya (sosiologis, memaksakan kehendak).
Kita semua telah tahu bahwa ada dua macam cara untuk mengambil keputusan bersama, yaitu dengan cara musyawarah mufakat dan dengan cara pemungutan suara. Apapun cara yang ditempuh untuk mengambil keputusan bersama itu, kita boleh berbeda pendapat. Namun setelah menjadi keputusan bersama, meskipun keputusan itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita harus mematuhi dan melaksanakan keputusan itu. Kita tidak boleh berdalih, karena apa yang menjadi keputusan bersama itu tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, lantas kita menolak hasil keputusan bersama itu. Ketika semua itu telah menjadi keputusan bersama, cara apapun yang ditempuh, apakah dengan cara musyawarah mufakat ataukah dengan cara pemungutan suara, maka semua terikat oleh keputusan itu, dan harus melaksanakannya. Di dalam melaksanakan keputusan bersama,
3. Ekonomi: a. Melakukan
persaingan secara sehat ( jujur dan kerja keras) b. Tidak melakukan suap (jujur) c Tidak melakukan pemborosan sumber daya (sederhana, tanggung jawab) d. Tidak melakukan penyimpangan alokasi dan disitribusi barang, jasa, maupun dana (jujur, peduli, tanggung jawab) 4. Hukum:
a. Tidak melakukan penggelapan. dana, pajak dan barang (jujur, tanggung jawab) b. Tidak melakukan pemalsuan (jujur) c. Tidak melakukan pencurian (jujur, tanggung jawab), disiplin
(tetap pendirian, tetap memegang keadilan). TANGGUNG JAWAB: keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb. Misalnya berani dan siap menerima resiko, amanah, tidak mengelak, dan berbuat yang terbaik), hak fungsi menerima pembebanan sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain, melaksanakan dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh.
DISIPLIN: tata tertib, ketaatan (kepatuhan) pada peraturan, tepat waktu, tertib, dan konsisten.
JUJUR: lurus hati, tidak curang, tulus, dapat dipercaya, berkata dan bertindak benar, mengungkapkan sesuatu sesuai dengan kenyataan (tidak berbohong), dan punya niat yang lurus terhadap setiap tindakan.
SEDERHANA: bersahaja, sikap dan perilaku yang tidak berlebihan, tidak banyak seluk-beluknya, tidak banyak pernik, lugas, apa adanya, hemat, sesuai kebutuhan, dan rendah hati.
KERJA KERAS: kegiatan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah/ulet dan semangat dalam
berusaha.
MANDIRI: dalam keadaan dapat berdiri
hendaknya dilandasi sikap ikhlas, penuh tanggungjawab, jujur, komitmen.
Di dalam mematuhi dan melaksanakan keputusan bersama ini tidak boleh ada yang merasa dipaksakan atau ditekan oleh pihak manapun (sosiologi).
d. Tidak melakukan penipuan terhadap pihak lain (jujur) e. Tidak melakukan persekongkolan dalam membuat putusan (tanggung jawab) f. Tidak melakukan perusakan barang/fasilitas negara( peduli, tanggung jawab) g. Tidak memberikan atau menerima gratifikasi (jujur, sederhana). h. Tidak menyalahi/ melanggar aturan (disiplin, tanggung jawab)
sendiri, tidak bergantung dengan orang lain, percaya pada kemampuan diri sendiri, mampu mengatur dirinya sendiri, dan mengambil inisiatif.
ADIL : sama berat, tidak berat sebelah, tidak memihak /tidak pilih kasih,
berpihak/berpegang kepada kebenaran, sepatutnya, tidak sewenang-wenang, seimbang, netral, objektif dan proporsional. BERANI: mempunyai hati yang mantap dan rasa percaya diri yang besar dalam
menghadapi bahaya, kesulitan, dsb. (Tidak takut, gentar, kecut) dan pantang mundur. PEDULI: mengindahkan, memperhatikan (empati), menghiraukan, menolong, toleran, setia kawan, membela, memahami, menghargai dan memperlakukan orang lain sebaik-baiknya.
Satuan Pendidikan
: SD/MI Indonesia
Mata Pelajaran
: Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas
: V (lima)
Semester
: 1 (satu)
Standar Kompetensi
: 1. Memahami Pentingnya Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
KOMPETENSIDASAR INDIKATOR
MATERI
PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN
ALOKASI WAKTU SUMBER/ BAHAN/ ALAT 1.1 Mendeskripsikan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1. Menceritakan perjuangan pahlawan dalam mencapai kemerdekaan NKRI 2. Menjelaskan perjuangan
mencapai kemerdekaan Indonesia
3. Menyebutkan nama para pahlawan yang terlibat dalam perjuangan mencapai kemerekaan
4. Menceritakan peristiwa yang mengiringi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia 5. Mendeskripsikan saat lahirnya
Negara Kesatuan Republik Indonesia
6. Menceritakan proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia
7. Menunjukkan nilai-nilai juang dalam proses lahirnya NKRI. (kesetaraan, kebersamaan, 1. Proses perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia. 2. Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia 3. Proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 4. Nilai-nilai juang dalam proses lahirnya NKRI (kesetaraan, kebersamaan, komitmen, konsekuen, bijaksana, ikhlas, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, mandiri, adil, berani)
1. Membaca buku PKn untuk SD/MI kelas V tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia
2. Menggali informasi dan berdiskusi tentang perjuangan mencapai kemerdekaan negara Indonesia.
3. Menggali informasi dan berdiskusi tentang nama para pahlawan yang terlibat dalam perjuangan mencapai kemerekaan
4. Mencari dari berbagai sumber tentang peristiwa yang mengiringi lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia
5. Menggali informasi dan berdiskusi tentang saat lahirnya Negara Kesatuan
1. Tes bentuk uraian. 2. Non tes Sikap dalam bentuk skala sikap. 3. Tugas membuat karangan bebas 2 JP @ 35 menit 1. Najib Sulhan, 2008, Mari Belajar Pendidikan Kewarga-negaraan Untuk SD/MI Kelas V, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2. Setiati Widiahastuti, Fajar Rahayuningsih, 2008, Pendidikan Kewarganegaraa n, SD/MI, Kelas V, Jakarta, Depdiknas.
komitmen, konsekuen, bijaksana, ikhlas, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, mandiri, adil, berani)
8. Menunjukkan contoh tindakan yang harus dihindari karena bertentangan dengan nilai-nilai juang dalam proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (mis. ingkar janji, egois, boros, bohong)
5. Contoh tindakan yang harus dihindari karena bertentangan dengan nilai-nilai juang dalam proses lahirnya NKRI (mis. ingkar janji, egois, boros, bohong)
Republik Indonesia 6. Menggali informasi dan
berdiskusi tentang proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia 7. Menggali informasi
mengenai nilai-nilai juang dalam proses lahirnya NKRI 8. Mencari contoh tindakan
yang harus dihindari karena bertentangan dengan nilai-nilai juang dalam proses lahirnya NKRI NKRI (mis. ingkar janji, egois, boros, bohong) 1.2 Menjelaskan pentingnya keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1. Menjelaskan cara-cara mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 2. Mendeskrip-sikan cara-cara
menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Menjelaskan Semboyan
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4. Menjelaskan arti persatuan dan kesatuan
5. Menyebutkan cara-cara membina persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia 6. Menunjukkan contoh
perbuatan menjaga keutuhan NKRI (kebersamaan, 1. Menjaga Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia 2. Semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia
3. Arti persatuan dan kesatuan 4. Cara membina persatuan dan kesatuan bangsa 5. Contoh-contoh perbuatan menjaga keutuhan NKRI. (kebersamaan, komitmen,konsekuen , hemat, bijaksana,
1.
Membaca buku PKn untuk SD/MI kelas V tentang pentingnya keutuhan Negara Kesatuan RepublikIndonesia
2.
Menggali informasi dan berdiskusi tentang cara-cara mempertahankan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.3.
Menggali informasi dan berdiskusi tentang Semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1. Tes bentuk uraian. 2. Non tes Sikap dalam bentuk skala sikap. 3. Tugas membuat karangan bebas 2 JP @ 35 menit 1. Najib Sulhan, 2008, Mari Belajar Pendidikan Kewargane-garaan Untuk SD/MI KelasV, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. 2. Setiati Widiahastuti, Fajar Rahayuningsih, 2008, Pendidikan Kewarganegaraa n, SD/MI, Kelaskomitmen,konsekuen, hemat, bijaksana, ikhlas, berbagi,sportif, tanggungjawab) ikhlas, berbagi,sportif,
tanggungjawab)
4.
Menggali informasi dan berdiskusi tentang arti persatuan dan kesatuan5.
Berdiskusi tentangkebersamaan, komitmen,konsekuen, hemat, bijaksana, ikhlas, berbagi,sportif, tanggungjawab V, Jakarta, Depdiknas. 1.3 Menunjukkan contoh-contoh perilaku dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1. Menyebutkan peristiwa sejarah di dalam negeri yang mengancam keutuhan NKRI. 2. Menjelaskan cara menjaga
keutuhan NKRI.
3. Melaksanakan sikap rukun di lingkungan masyarakat 4. Menunjukkan contoh-contoh
perilaku dalam kerhidupan sehari-hari yang
menggambarkan menjaga keutuhan NKRI.
(mis.komitmen, konsekuen, ikhlas, berbagi, kerja keras, adil, peduli) 1. Peristiwa sejarah yang mengancam keutuhan NKRI 2 Cara menjaga keutuhan NKRI 3. Penerapan sikap rukun di lingkungan masyarakat. 4. Contoh-contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan menjaga keutuhan NKRI (mis.komitmen, konsekuen, ikhlas, berbagi, kerja keras, adil, peduli)
1.
Menyanyikan lagu dari Sabang sampai Merauke.2.
Tanya jawab tentangperjuangan para pahlawan yang tidak mementingkan ambisi pribadi dan
menguntungkan kelompok tertentu
3.
Berdiskusi tentang contoh-contoh perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang menggambarkan menjaga keutuhan NKRI(mis.komitmen, konsekuen, ikhlas, berbagi, kerja keras, adil, peduli)
4.
Memberikan tugas melalui kegiatan kerja bakti.5.
Menyimpulkan inti materipelajaran. 1. Tes” Tes lisan .Tes Tertulis bentuk Uraian . 2. Nontes: Perbuatan 2 X 35 menit 1. Najib Sulhan, 2008, Mari Belajar Pendidikan Kewargane-garaan Untuk SD/MI KelasV, Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional 2. Setiati Widiahastuti, Fajar Rahayuningsih, 2008, Pendidikan Kewarganegaraa n, SD/MI, Kelas V, Jakarta, Depdiknas.
KOMPETENSI
DASAR INDIKATOR
MATERI
PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN
ALOKASI WAKTU SUMBER/ BAHAN/ ALAT 2.1 Menjelaskan pengertian dan pentingnya peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah
1. Menjelaskan pengertian peraturan perundangan tingkat pusat dan daerah
2. Mengemukakan alasan pentingnya peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah
3. Menjelaskan proses pembuatan peraturan perundang-undangan. 4. Menemukan nilai-nilai positif
dalam pembuatan peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah. (mis. komitmen, tanggung jawab, adil)
5. Menemukan nilai-nilai negatif di dalm pembuatan peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah. (mis curang, berat sebelah)
1. Peraturan
perundang-undangan tingkat pusat dan daerah.
2. Pentingnya peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah. 3. Proses pembuatan peraturan perundang undangan 4. Nilai-nilai positif dalam pembuatan peraturan perundang-undangan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah. (mis. komitmen, tanggung jawab, adil) 5. Nilai-nilai negatif dalam pembuatan peraturan perundang –undangan tingkat pusat dan daerah. (mis curang, berat sebelah)
1.
Membaca buku PKn untuk SD/MI kelas V tentang peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah2.
Menggali informasi peraturan perundangan tk pusat dan daerah3.
Menggali informasi dan berdiskusi tentang cara-cara pembuatan peraturan perundang-undangan4.
Mencari dari berbagaisumber tentang peraturan yang ada di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat
5.
Mencari nilai-nilai positif dalam pembuatan peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah. (mis. komitmen, tanggung jawab, adil)6.
Mencari nilai-nilai negatif dalam pembuatan peraturan perundang –undangan tingkat pusat dan daerah. (mis curang, berat sebelah)1. Tes bentuk uraian. 2. Non tes Sikap dalam bentuk skala sikap. 2JP @ 35 menit 1. Najib Sulhan, 2008, Mari Belajar Pendidikan Kewarga-negaraan Untuk SD/MI Kelas V, Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional 2. Setiati Widiahastuti, Fajar Rahayuningsih, 2008, Pendidikan Kewarganegaraa n, SD/MI, Kelas V, Jakarta, Depdiknas.
2.2 Memberikan contoh peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah seperti pajak, Antikorupsi, lalu lintas,larangan merokok. 1. Menunjukkan contoh peraturan
perundang-undangan di tingkat pusat dan daerah.
2. Menyebutkan peraturan-peraturan yang ada di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.
3. Menyebutkan cara-cara menegakkan peraturan perundang-undangan. 4. Menunjukkan contoh perilaku
menaati peraturan yang berlaku di lingkungannya. 5. Berani mengungkapkan
perasaan setelah melanggar peraturan.
6. Menyebutkan sanksi apabila melanggar peraturan. 7. Mengungkapkan akibat
setelah melanggar peraturan yang merugikan orang lain. 8. Menunjukkan contoh sikap
1. Peraturan
perundang-undangan tingkat daerah dan pusat
2. Peraturan yang ada di lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat 3. Cara-cara menegakkan peraturan perundang-undangan. 4. Contoh perilaku menaati peraturan yang berlaku di lingkungannya. 5. Contoh ungkapan berani setelah setelah melanggar peraturan.
6. Contoh sanksi setelah melanggar peraturan. 7. Berbagai akibat
1.
Membaca buku PKn untuk SD/MI kelas V tentang peraturan perundang-undangan tingkat pusat dan daerah2.
Menggali informasi tentang peraturan yang ada di lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat.3.
Menggali informasi dan berdiskusi tentang cara-cara menegakkan peraturan perundang-undangan4.
Menggali informasi danberdiskusi tentang perilaku menaati peraturan yang berlaku di lingkungan.
5.
Mendiskusikan contohungkapan berani setelah melanggar peraturan.
6.
Mendiskusikan sanksi setelah melanggar peraturan. 1. Tes bentuk uraian. 2. Non tes Sikap dalam bentuk skala sikap. 3. Tugas membuat karangan bebas 4 JP @ 35 menit 1. Najib Sulhan, 2008, Mari Belajar Pendidikan Kewarga-negaraan Untuk SD/MI Kelas V, Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional 2. Setiati Widiahastuti, Fajar Rahayuningsih, 2008, Pendidikan Kewarganegaraa n, SD/MI, Kelas V, Jakarta, Depdiknas.berani dan tanggung jawab dalam menegakkan peraturuan.
setelah melanggar peraturan.
8. Contoh sikap berani dan tanggung jawab dalam menegakkan peraturan.