• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III AKUNTABILITAS KINERJA"

Copied!
137
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III -49 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

Akuntabilitas Kinerja dalam format Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak terlepas dari rangkaian mekanisme fungsi perencanaan yang sudah berjalan mulai dari Perencanaan Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dan Perjanjian Kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur, tidak terlepas dari pelaksanaan pembangunan itu sendiri sebagai fungsi actuating dari berbagai piranti perencanaan yang sudah dibuat tersebut, hingga kemudian sampailah pada saat pertanggung jawaban pelaksanaan pembangunan yang mengerahkan seluruh sumber daya manajemen pendukungnya.

Pertanggungjawaban kinerja pelaksanaan pembangunan sifatnya terukur, terdapat standar pengukuran antara yang diukur dengan piranti pengukurannya. Pertanggung jawaban pengukuran yang diukur adalah kegiatan, program, dan sasaran, yang prosesnya adalah sejauh mana kegiatan, program, dan sasaran dilaksanakan tidak salah arah dengan berbagai piranti perencanaan yang telah dibuat.

A. PENGUKURAN REALISASI KINERJA TAHUN 2016

Adapun pengukuran Kinerja dilakukan dengan cara membandingkan target setiap IndIkator Kinerja Sasaran dengan realisasinya. Setelah dilakukan penghitungan akan diketahui selisih atau celah kinerja (peformance gap).. Selanjutnya berdasarkan selisih kinerja tersebut dilakukan evaluasi guna mendapatkan strategi yang tepat untuk peningkatan kinerja di masa yang akan datang (performance improvement). Adapun dalam memberikan penilaian tingkat Realisasi kinerja setiap sasaran, menggunakan rumus sebagai berikut :

a. Tingkat Realisasi Positif Realisasi

Capaian = x 100% Target

(2)

BAB III -50 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 b. Tingkat Realisasi Negatif

Adapun rincian pengukuran kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 sebagai berikut:

Tabel 3.1

Pengukuran Realisasi Kinerja Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya partisipasi angkatan kerja dan penyerapan tenaga kerja 1 Persentase penduduk yang bekerja 95,97 95,79 99,81 2 Tingkat Pengangguran Terbuka 4,04 4,21 95,80 2 Meningkatnya hubungan industrial yang harmonis 3 Persentase penurunan kasus perselisihan hubungan industrial yang masuk ke pengadilan hubungan industrial 20 21,40 93,00 3 Meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas

4 Angka rata-rata lama sekolah

8,8 7,11 80,80

5 Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A

97,96 98,56 100,61 6 Angka Partisipasi Murni

(APM) SMP/MTs/ Paket B

86,7 88,14 101,66

7 Angka Partisipasi Murni (APM)

SMA/SMK/MA/Paket C

62,11 68,21 109,82

8 Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/Paket A

112,84 112,84 100,00 9 Angka Partisipasi Kasar

(APK) SMP/MTs/ Paket B

102,45 103,42 100,95

10 Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/ SMK/ MA/ Paket C

80,9 81,42 101,78

Target – (Realisasi-Target)

Capaian = x 100% Target

(3)

BAB III -51 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

4 Meningkatnya kuantitas dan kualitas

pendidikan anak usia dini (PAUD)

11 Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD 86,64 97,28 112,28 5 Meningkatnya mutu pendidikan dan tenaga kependidikan 12 Persentase kualifikasi guru menurut ijazah ≥ Sarjana/ Pasca Sarjana

67,34 95,46 141,57 6 Meningkatnya kualitas peran pemuda dan prestasi olahraga 13 Persentase pemuda berprestasi yang dibina

20,73 29,02 139,9

14 Persentase atlet berprestasi yang dibina

13,73 13,95 101,6 7 Meningkatnya sarana dan prasarana kesehatan, termasuk tenaga medis dan non-medis secara merata

15 Rasio tenaga medis per 100.000 satuan penduduk

18,00 17,04 94,67

8 Menurunnya angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan

16 Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup

97,19 91,00 106,37

17 Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup 25,61 25,82 * (2015) 99,18 9 Meningkatnya pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal

18 Angka Harapan Hidup (AHH) 70,82 70,68 * (2015) 99,80 10 Meningkatnya keikutsertaan masyarakat dalam jaminan kesehatan 19 Persentase masyarakat miskin peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) terintegrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)

(4)

BAB III -52 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 11 Meningkatnya akseptor Keluarga Berencana (KB) 20 Persentase cakupan peserta KB aktif 65 76,84 118,21 12 Menurunnya persentase penduduk miskin 21 Persentase penduduk miskin 11,72 11,85 98,89 13 Menurunnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) 22 Persentase penurunan PMKS 1,42 1,38 97,18 14 Meningkatnya pengarusutama an gender dalam pembangunan 23 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 20 14 70,00 24 Indeks Pembangunan Gender (IPG) 69 91,77* 133,00 25 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 71,02 68,64* 96,64 15 Meningkatnya volume usaha UMKM dan kualitas kelembagaan koperasi 26 Rasio PDRB UKM terhadap total PDRB 54,85 – 54,93 54,98* 100,20 27 Persentase koperasi aktif 80,13 88,11 110,00 16 Meningkatnya jumlah wirausaha baru (WUB) 28 Pertumbuhan Wirausaha Baru 9,25 11 118,90 17 Meningkatnya volume usaha ekonomi kaum perempuan 29 Rasio perputaran modal Kopwan 2,2 2,23 101,40 18 Meningkatnya nilai tambah hasil dan daya saing produk pertanian (tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) 30 Pertumbuhan sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB (%) 1,96 2,82 143,00 31 Pertumbuhan sub-sektor tanaman perkebunan terhadap PDRB (%) 2,1 2,01 95,71 32 Pertumbuhan sub-sektor peternakan terhadap PDRB (%) 4,38 2,45* 55,94

(5)

BAB III -53 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 33 Pertumbuhan sub-sektor kehutanan terhadap PDRB (%) 6,9 -9,12 -132,17 34 Pertumbuhan sub-sektor perikanan terhadap PDRB (%) 4,8 5,06 105,42 19 Meningkatnya ketersediaan pangan masyarakat (food avaibility) 35 Ketersediaan pangan (ton) - Beras - Jagung - Kedelai - Daging - Telur - Susu - Ikan - Gula - 7.780.579 6.474.225 490.417 362.861 352.216 415.521 1.465.727 1.316.966 7.497.526 5.425.180 316.390 377.220 367.174 449.661 1.453.398 1.195.501 96,36 83,79 64,51 103,95 104,24 108,21 99,15 90,77 20 Meningkatnya penyerapan pangan (food utilization)

36 Skor Pola Pangan Harapan (PPH)

84,40 83,36 98,76

37 Tingkat konsumsi beras penduduk Jawa Timur (kg/Kap/Th) 85,00 87,77 103,25 38 Tingkat keamanan pangan (%) 81,00 88,00 108,64 21 Meningkatnya akses pangan (food access)

39 Stabilisasi harga beras di tingkat konsumen (coefisien variasi/CV)

<10 2,98 100,00

22 Meningkatnya volume ekspor dalam dan luar negeri 40 Pertumbuhan sub sektor perdagangan terhadap PDRB (%) 9,54 5,81 61,81 23 Meningkatnya kontribusi sektor industri 41 Pertumbuhan sub-sektor industri pengolahan terhadap PDRB (%) 6,6 4,51 68,33 24 Meningkatnya kunjungan wisata 42 Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara 368.626 618.536 167,80 43 Jumlah kunjungan wisatawan nusantara 45.824.051 54.565.006 119,07

(6)

BAB III -54 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 25 Meningkatnya kuantitas dan kualitas seni budaya lokal 44 Jumlah fasilitasi pergelaran, festival, lomba karya seni budaya, pameran dan perfilman

205 212 103,41

45 Indeks Kepuasan thd penyelenggaraan gelar seni budaya di Jawa Timur 79 80 101,26 26 Meningkatnya jumlah izin prinsip dan realisasi PMA, PMDN dan investasi daerah

46 Jumlah minat investasi PMA berdasarkan ijin prinsip (trilyun rupiah)

61.72 24,09 39,67

47 Jumlah minat investasi PMDN berdasarkan ijin prinsip (trilyun rupiah)

49.38 37,34 75,61

48 Jumlah nilai realisasi investasi PMA berdasarkan LKPM (trilyun rupiah)

41.40 26,57 64,17

49 Jumlah nilai realisasi investasi PMDN berdasarkan LKPM (trilyun rupiah)

42.92 46,33 107,94

50 Jumlah nilai realisasi PMDN non fasilitas (trilyun rupiah) 94.28 82,14 87,12 27 Meningkatnya kinerja pelayanan, dan pembangunan prasarana transportasi jalan serta terwujudnya keselamatan, efisiensi dan efektivitas pelayanan angkutan darat, laut dan udara

51 Persentase jalan provinsi dalam kondisi mantap fungsional (%) 88,60 88,87 100,30 52 Persentase jalan provinsi yang memenuhi persyaratan teknis jalan (%) 57,90 57,90 100,00 53 Persentase penyelesaian pembangunan jalan menuju kawasan potensial dan jalan lintas selatan 47,00 47,36 100,76 54 Persentase penyelesaian pembangunan jembatan menuju kawasan potensial dan jalan lintas selatan

(7)

BAB III -55 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

55 Persentase kabupaten/ kota berpredikat Wahana Tata Nugraha

55 78,95 143,55 56 IKM terhadap pelayanan Penimbangan Kendaraan Angkutan Barang 81 77,91 96,19 28 Meningkatnya akses masyarakat terhadap perumahan layak, pelayanan air minum dan sanitasi 57 Persentase KK yang mendapatkan

pelayanan air bersih

63,69 72,06 112,06 58 59 60 61 Persentase KK yang mendapatkan

Pelayanan Air Limbah Persentase KK yang mendapatkan pelayanan drainase perkotaan Persentase Realisasi layanan persampahan perkotaan Persentase rusun terbangun 65,97 82,12 85,48 49,11 65,31 41,61 71,97 39,76 98,99 50,67 84,19 80,96 29 Meningkatnya pengelolaan sumber daya air untuk memenuhi pelayanan kebutuhan air baku melalui konservasi dan pendayagunaan sumber daya air serta

pengendalian daya rusak air

62 Luas areal layanan irigasi (ha)

98,02 98,04 100,02 63 Rasio/ kinerja jaringan

irigasi

68,40 68,50 100,15 64 Rasio ketersediaan dan

kebutuhan air baku

87,89 87,78 99,87

65 Persentase Penurunan luas genangan banjir

75,73 72,73 104,12 30 Meningkatnya infrastruktur & ketersediaan energi 66 Rasio ketersediaan listrik 72,53 88,79 122,00 67 Persentase rumah

tangga pengguna listrik

99,61 99,87 100,26 31 Meningkatnya kawasan hutan yang dikonservasi 68 Luas konservasi kawasan hutan (ha)

(8)

BAB III -56 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

32 Meningkatnya sumber mata air

terkonservasi

69 Jumlah sumber mata air yang terkonservasi (titik) 5 6 120,00 33 Meningkatnya kualitas lingkungan hidup melalui upaya pengendalian sumber-sumber pencemaran terutama sumber daya air, DAS dan wilayah pesisir serta laut

70 Persentase titik pantau dengan peningkatan kualitas air 33 39 118,18 34 Menurunnya emisi Gas Rumah Kaca (GRK)

71 Penurunan emisi Gas Rumah Kaca (juta ton eq CO2) 4 4,29 107,23 35 Terwujudnya perumusan dan pelaksanaan kebijakan bidang penataan ruang 72 Persentase RTR Kawasan Strategis Provinsi yang tersusun Jumlah rencana rinci tata ruang Kabupaten/ Kota

Persentase

ketersediaan petunjuk pelaksanaan

pemanfaatan tata ruang Persentase kasus mediasi pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang 69,23 70,27 101,50 73 74 75 7 25 75 15 63,63 100 214,28 254,52 133,33 36 Meningkatnya kualitas kelembagaan dan kapabilitas penyeleng-garaan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan pelayanan publik 76 Jumlah SKPD provinsi yang melaksanakan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) 71 99 139,00

(9)

BAB III -57 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 37 Meningkatnya transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraa n pemerintah daerah

77 Hasil EKPPD ST ST Tercapai

38 Meningkatnya kualitas perencanaan, penganggaran, dan pengendalian program serta kegiatan pembangunan

78 Penilaian SAKIP A A* Tercapai

39 Meningkatnya peran DPRD sesuai dengan fungsinya

79 Jumlah raperda inisiatif dewan 3 10 333,33 40 Meningkatnya kualitas pengelolaan keuangan dan aset daerah 80 Opini BPK WTP WTP Tercapai 41 Meningkatnya pengelolaan arsip pemerintah daerah yang tertib, rapi dan handal serta ketersediaan dokumen statistik yang terpercaya dan berkualitas 81 Persentase SKPD yang menerapkan standarisasi pengelolaan arsip sesuai ketentuan 20 20,41 102,00

(10)

BAB III -58 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI CAPAIAN

(1) (2) (3) (4) (5) (6) 42 Mewujudkan sistem penanggulanga n bencana untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bencana 82 Tertangani korban bencana secara cepat dan tepat sasaran (%)

100 100 100,00

43 Meningkatnya fasilitas layanan keagamaan

83 Rasio tempat ibadah per satuan penduduk

5,46 4,11 75,27 44 Meningkatnya komunikasi antar-umat beragama 84 Persentase kerusuhan bermotif SARA yang ditangani 100 100 100,00 45 Terciptanya situasi kondisi masyarakat yang aman, tenteram, nyaman dan tertib 85 Persentase Penanganan Gangguan Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat 100 100 100,00 46 Menguatnya budaya dan tradisi lokal sebagai bagian dari upaya mewujudkan harmoni sosial

86 Persentase benda situs dan kawasan cagar

budaya yang dilestarikan 100 100 100,00 47 Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang hukum dan HAM 87 Persentase kejadian terkait HAM yang ditindaklanjuti 100 100 100,00 48 Meningkatnya partisipasi aktif masyarakat menjunjung supremasi hukum 88 Jumlah ormas/ LSM yang terdaftar 910 901 99,01

(11)

BAB III -59 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

B. EVALUASI DAN ANALISIS REALISASI KINERJA

Pengukuran kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 menggunakan metode yang diatur dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Hasil pengukuran kinerja beserta evaluasi setiap tujuan dan sasaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 disajikan sebagai berikut :

1. Misi Pertama Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan, dengan Tujuan Pertama Meningkatkan Perluasan Lapangan Kerja.

Tabel 3.2

Perbandingan Realisasi Kinerja Tujuan I NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

REALISASI Th. 2015 (n-1) Th. 2016 (n) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya partisipasi angkatan kerja dan penyerapan tenaga kerja

1 Persentase penduduk yang bekerja 95,97 95,53 95,79 2 Tingkat Pengangguran Terbuka 3,92 4,47 4,21 2 Meningkatnya hubungan industrial yang harmonis 1 Persentase penurunan perkara perselisihan hubungan industrial yang masuk ke pengadilan hubungan industrial

20 15,11 21,40

Sumber Data: BPS dan Pengadilan HI

Tabel 3.3

Perbandingan Realisasi Kinerja s.d. Akhir Periode RPJMD NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya partisipasi angkatan kerja dan penyerapan tenaga kerja 1 Persentase penduduk yang bekerja 96,27 95,79 99,50 2 Tingkat Pengangguran Terbuka 3,73 4,21 83,06

(12)

BAB III -60 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 2 Meningkatnya hubungan industrial yang harmonis 1 Persentase penurunan perkara perselisihan hubungan industrial yang masuk ke pengadilan hubungan industrial

85,41 21,40 25,05

Sumber Data: BPS dan Pengadilan HI

Tabel 3.4

Perbandingan Realisasi Kinerja dengan Realisasi Nasional NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya partisipasi

angkatan kerja dan penyerapan tenaga kerja 1 Persentase penduduk yang bekerja 95,79 94,40 + 1.39 (positif) 2 Tingkat Pengangguran Terbuka 4,21 5,61 + 1.40 (positif) 2 Meningkatnya hubungan industrial yang harmonis 1 Persentase penurunan perkara perselisihan hubungan industrial yang masuk ke pengadilan hubungan industrial 21,40 - -

Sumber Data: BPS dan Pengadilan HI

Salah satu Indikator Kinerja Utama Pemerintah Provinsi Jawa Timur adalah penurunan TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka). Berdasarkan hasil Survey Angkatan Kerja (Sakernas) BPS pada Tahun 2016, TPT Jawa Timur turun dari semula 4,47% di tahun 2015 menjadi 4,21% di tahun 2016. Adapun kondisi-kondisi yang menjadi penyebab turunnya TPT dan perkara perselisihan hubungan industrial di Jawa Timur antara lain:

a. Jumlah angkatan kerja di Jawa Timur pada Agustus 2016 berkurang sebanyak 324.681 orang menjadi 19.950.000 orang dibandingkan jumlah angkatan kerja pada Agustus Tahun 2015 yang mencapai 20.274.681 orang. Sedangkan jumlah penduduk Jawa Timur yang bekerja pada Bulan Agustus 2016 juga turun menjadi 19.110.000 orang atau berkurang 266.777 orang dibandingkan Agustus Tahun 2015 yang mencapai 19.367.777 orang;

(13)

BAB III -61 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

b. Pekerja yang berstatus buruh/karyawan/pegawai meningkat dari 32,94 persen di Agustus 2015 menjadi 34,13 persen pada Agustus 2016 sedangkan Proporsi penduduk Jawa Timur yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu turun 2,93 persen menjadi 5,60 juta orang pada Agustus 2016 dibanding periode yang sama di tahun 2015;

c. Terjadi kenaikan penduduk yang bekerja di 5 (lima) sector lapangan pekerjaan utama, yaitu sector Industri, transportasi, keuangan, pertambangan dan sector listrik, air serta gas. Penurunan yang cukup signifikan terjadi pada 4 (empat) sektor, yaitu sektor pertanian, konstruksi, perdagangan dan jasa kemasyarakatan;

d. Secara umum Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan TPT, melalui pengaktifan program “AYO KERJA” berbasis website, pelaksanaan rutin bursa kerja yang bekerja sama dengan perusahaan dari Provinsi Jawa Timur maupun dengan Luar Provinsi, pendampingan lulusan baru oleh Tenaga Suka Rela dari perusahaan, serta penyesuaian kurikulum BLK yang berbasis kebutuhan daerah;

e. Untuk Perselisihan Hubungan Industrial, yang masuk pada Pengadilan Hubungan Industrial pada PN Surabaya dan ke Pengadilan Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Gresik untuk tahun 2016 sebanyak 191 kasus dan selesai diputus sejumlah 151 kasus. Sedangkan untuk tahun 2015 kasus yang masuk sebanyak 243 kasus dan selesai diputus sejumlah 189 kasus. Sehingga terjadi penurunan jumlah kasus sebesar 52 kasus (21,40%) dan peningkatan keberhasilan penyelesaian kasus sebesar 1,06%;

f. Meningkatnya pemahaman para pihak pelaku hubungan industrial yaitu pengusaha dan para pekerja terhadap peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan;

g. Digalakkannya upaya pembentukan Lembaga Kerjasama Bipartit, serta penyelenggaraan bimbingan teknis, sosialisasi dan pelatihan-pelatihan yang terkait dengan penyelesaian perselisihan hubungan industrial, sehingga pekerja dan pengusaha yang bermasalah dapat melalukan perundingan bipartite sehingga tercapai kesepakatan yang dituangkan dalam perjanjian bersama (PB);

(14)

BAB III -62 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

h. Adanya forum komunikasi dan konsultasi mediator Hubungan Industrial dalam rangka mendorong penyelesaian perselisihan hubungan industrial secara musyawarah mufakat.

Terkait belum tercapainya kinerja penurunan pengangguran dan sebagai langkah peningkatan capaian kinerja penyelesaian hubungan insdustrial pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Memperluas jejaring kerjasama informasi bursa kerja dengan pihak-pihak yang berkontribusi tinggi terhadap penyediaan peluang kerja (dunia industri, asosiasi profesi, satuan pendidikan menengah dan perguruan tinggi) secara online sehingga info peluang kerja di sektor formal semakin terbuka, banyak dan mudah diakses pencari kerja, serta mengoptimalkan inovasi pelayanan penempatan “AYO KERJA”;

b. Meningkatkan pembinaan kepada Kab./Kota untuk lebih mengefektifkan pelayanan dan pendataan penempatan tenaga kerja dari pencari kerja umum maupun alumni dari dunia pendidikan/alumni pelatihan;

c. Penyelenggaraan Bursa Kerja Bulanan, Pekan Pasar Kerja di bulan September (2 bulan pasca kelulusan), serta Bursa Kerja Bersama dengan Provinsi lain; d. Revitalisasi UPT Pelatihan Kerja (BLK) melalui upgrading Instruktur, penyusunan

kurikulum berbasis kebutuhan, dan modernisasi peralatan pelatihan guna mendukung program-program pelatihan kerja;

e. Mengoptimalkan penempatan tenaga kerja di sektor formal melalui AKL (Antar Kerja Lokal), AKAD (Antar Kerja Antar Daerah), AKAN (Antar Kerja Antar Negara) dan AKSUS (Antar Kerja Khusus) serta perluasan kerja di sektor informal, termasuk penciptaan wirausaha baru;

f. Peningkatan koordinasi dan membangun mitra kerja melalui Forum Komunikasi Jejaring Pemagangan (FKJP) di setiap Kabupaten/Kota untuk meningkatkan pemagangan mandiri, dengan melibatkan unsur asosiasi perusahaan, industri, lembaga pelatihan kerja, dinas yang menangani ketenagakerjaan ; termasuk upaya untuk peningkatan program magang ke luar negeri (Jepang);

(15)

BAB III -63 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

g. Meningkatkan fungsi LKS Bipartit untuk menciptakan harmonisasi hubungan industrial dan iklim ketenagakerjaan yang kondusif, menjamin keberlangsungan usaha dan peningkatan kesejahteraan karyawan/buruh, serta mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerja;

h. Membekali tenaga kerja ter-PHK melalui Program Alih Kerja atau Alih Profesi, bimbingan kerja, serta orientasi kewirausahaan.

Dalam hal pencapaian kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur, output-output dari berbagai program/kegiatan tersebut saling mendukung dan harus dilaksanakan secara terpadu/terintegrasi sehingga memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap penurunan TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka). Indikator kinerja yang meliputi penduduk yang bekerja dan penurunan TPT bukanlah merupakan indikator khusus ketenagakerjaan, karena capaiannya dipengaruhi oleh berbagai faktor penyebab maupun intervensi eksternal di luar sektor ketenagakerjaan. Mengingat masalah pengangguran dan kesempatan kerja bukan hanya merupakan masalah ketenagakerjaan dikarenakan penciptaan kesempatan kerja berada pada seluruh sektor lapangan usaha, maka sumbangan dari intervensi

program/kegiatan di SKPD sektoral lainnya yang berkontribusi terhadap penciptaan kesempatan kerja maupun pertumbuhan investasi sangat diperlukan.

(16)

BAB III -64 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

2. Misi Pertama Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan, dengan Tujuan Kedua Meningkatkan Pemerataan, dan Perluasan Akses Pendidikan.

Tabel 3.5

Perbandingan Realisasi Kinerja Tujuan II No. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

REALISASI Th. 2015 (n-1) Th. 2016 (n) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas

1. Angka rata-rata lama sekolah

8.8 8,7 7,11*

2. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A

97.96 98,35 98,56

3. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B

86.7 87,64 88,14

4. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C 62.11 65,83 68,21 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/Paket A 112.84 112,79 112,84 6. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/Paket B 102.45 102,90 103,42 7. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/ SMK/ MA/ Paket C 80,9 79,14 81,42 2. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD)

1. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD

86.64 79,58 97,28 3. Meningkatnya mutu pendidikan dan tenaga kependidikan 1. Persentase kualifikasi guru menurut ijazah ≥ Sarjana/ Pasca Sarjana

67.34 88,32 95.46 4. Meningkatnya kualitas peran pemuda dan prestasi olahraga 1. Persentase pemuda berprestasi yang dibina

60,00 43,33 57,77

2. Persentase atlet berprestasi yang dibina

51,00 39,78 63,14

(17)

BAB III -65 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Tabel 3.6

Perbandingan Realisasi Kinerja s.d. Akhir Periode RPJMD NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas

1. Angka rata-rata lama sekolah 9,1 7,11* 78,13 2. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 98,1 98,56 100,25 3. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 87,36 88,14 100,32 4. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Paket C 64,9 68,21 101,43 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/Paket A 113,1 112,84 99,72 6. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/Paket B 103,11 103,42 99,79 7. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/ SMK/ MA/ Paket C

83,44 81,42 94,84

2. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD)

1. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD

86,97 97,28 91,50 3. Meningkatnya mutu pendidikan dan tenaga kependidikan 1. Persentase kualifikasi guru menurut ijazah ≥ Sarjana/ Pasca Sarjana 99,34 95.46 88,91 4. Meningkatnya kualitas peran pemuda dan prestasi olahraga 1. Persentase pemuda berprestasi yang dibina 75 57,77 77,03 2. Persentase atlet berprestasi yang dibina 63 63,14 100,22

(18)

BAB III -66 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Tabel 3.7

Perbandingan Realisasi Kinerja dengan Realisasi Nasional NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Meningkatnya akses pendidikan dasar dan menengah yang berkualitas 1. Angka rata-rata lama sekolah 7,11* 7,83 (-) 2. Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI/Paket A 98,56 93,38 (+) 3. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B 88,14 81,01 (+) 4. Angka Partisipasi Murni (APM) SMA/SMK/MA/Pak et C 68,21 59,10 (+) 5. Angka Partisipasi Kasar (APK) SD/MI/Paket A 112,84 108,00 (+) 6. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMP/MTs/Paket B 103,42 100,72 (+) 7. Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/ SMK/ MA/ Paket C

81,42 76,45 (+)

2. Meningkatnya kuantitas dan kualitas pendidikan anak usia dini (PAUD)

1. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD

97,28 70,06 (+) 3. Meningkatnya mutu pendidikan dan tenaga kependidikan 1. Persentase kualifikasi guru menurut ijazah ≥ Sarjana/ Pasca Sarjana 95.46 85.60 (+) 4. Meningkatnya kualitas peran pemuda dan prestasi olahraga 1. Persentase pemuda berprestasi yang dibina 57,77 2. Persentase atlet berprestasi yang dibina 63,14

(19)

BAB III -67 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa ada beberapa Indikator Kinerja yang mengalami keberhasilan ataupun kegagalan. Adapun hal-hal utama yang menjadi penyebab antara lain :

a. Peningkatan akses dan pelayanan pendidikan melalui jalur formal, seperti Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), dan bentuk lain yang sederajat; juga jalur pendidikan non-formal berbentuk Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat; serta informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan, dalam rangka membina, menumbuhkan dan mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal agar memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan selanjutnya;

b. Pemberian bantuan pendidikan tepat sasaran, baik Biaya Operasional Sekolah (BOS) jenjang SD/MI dan SMP/MTs maupun Biaya Operasional Manajemen Mutu (BOMM) dan Bantuan Khusus Siswa Miskin (BKSM) pada jenjang SMA/MA serta SMK yang memberikan dampak bertambahnya jumlah siswa yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sehingga dapat mengurangi angka putus sekolah dan meningkatkan angka partisipasi kasar maupun angka partisipasi murni;

c. Penyelenggaraan SMK Mini di Pondok Pesantren, penyelenggaraan kelas wirausaha, praktek industri luar negeri merupakan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja terampil dan memperhatikan kemampuan serta kondisi ekonomi masyarakat;

d. Adanya pemberian beasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada guru dapat meningkatkan prosentase guru dengan kualifikasi lebih dari atau sama dengan D4/S1. Sesuai dengan PP Nomor 19/2005 Pasal 28 ayat (1), pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Ayat (2) kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau

(20)

BAB III -68 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam rangka meminimalisir kegagalan tersebut dan sebagai langkah peningkatan realisasi kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

a. Mendukung dan bekerjasama dengan pihak swasta baik tingkat pusat maupun daerah untuk membangun pendidikan anak usia dini berupa bantuan dana, supervisi, pembinaan guru dan sosialisasi acuan pembelajaran yang lebih intensif di jenjang PAUD;

b. Meningkatkan dan mengembangkan secara bertahap Wajib Belajar Pendidikan Menengah 12 Tahun sebagai kelanjutan dari Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun;

c. Meningkatkan kualitas pendidikan pondok pesantren melalui progam Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru Swasta yang lebih dikenal dengan BOSDA Madin;

d. Meningkatkan rasio jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dibanding Sekolah Menengah Umum (SMU) dengan perbandingan 70:30, untuk menyiapkan tenaga kerja terampil berpendidikan menengah. Pengembangan bidang keahlian SMK disesuaikan kebutuhan lapangan kerja, didukung kerjasama dengan dunia usaha dan industry;

e. Menghilangkan hambatan administratif pemberian bantuan bagi sekolah umum, sekolah agama, sekolah kejuruan dan sekolah khusus;

f. Meningkatkan dan mengembangkan penyediaan tambahan fasilitas dan program antara (bridging program) bagi lulusan sekolah kejuruan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.

(21)

BAB III -69 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

3. Misi Pertama Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan, dengan Tujuan Ketiga Meningkatkan Derajat Kesehatan Masyarakat.

Tabel 3.8

Perbandingan Realisasi Kinerja Tujuan III No SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

REALISASI Th. 2015 (n-1) Th. 2016 (n) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Meningkatnya sarana dan ketersediaan tenaga medis secara merata

1. Rasio tenaga medis per 100.000 satuan penduduk 18.00 17.14 17.04 2. Menurunnya angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan

1. Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup

97.19 89.6 91.00

2. Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup 25.61 25.82 25.82* (2015) 3. Meningkatnya pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal

1. Angka Harapan Hidup (AHH) 70.82 70.68 70.68* (2015) 4. Meningkatnya keikutsertaan masyarakat dalam jaminan kesehatan 1. Persentase masyarakat miskin peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) terintegrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 15.00 6.00 15.00 5. Meningkatnya akseptor Keluarga Berencana (KB) 1 Persentase cakupan peserta KB aktif 65 76,70 76,84

* Angka Perhitungan Tahun 2015

(22)

BAB III -70 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Tabel 3.9

Perbandingan Realisasi Kinerja s.d. Akhir Periode RPJMD

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Meningkatnya sarana dan ketersediaan tenaga medis secara merata

1. Rasio tenaga medis per 100.000 satuan penduduk

24 17,04 71

2. Menurunnya angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan

2. Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup 97,10 91,00 106,28 3. Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup 22,12 25,82* 83,27 3. Meningkatnya pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal 1. Angka Harapan Hidup (AHH) 71,18 70,68 99,29 4. Meningkatnya keikutsertaan masyarakat dalam jaminan kesehatan 2. Persentase masyarakat miskin peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) terintegrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 100 15 15 5. Meningkatnya akseptor Keluarga Berencana (KB) 1 Persentase cakupan peserta KB aktif 67 76,84 114,69

* Angka Perhitungan Tahun 2015

Sumber: Jawa Timur Dalam Angka 2016, BPS Prov. Jatim Tabel 3.10

Perbandingan Realisasi Kinerja dengan Realisasi Nasional NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Meningkatnya sarana dan ketersediaan tenaga medis secara merata 1. Rasio tenaga medis per 100.000 satuan penduduk 17,04 -* -* 2. Menurunnya angka kematian bayi dan angka kematian ibu melahirkan

1. Angka Kematian Ibu per 100.000 Kelahiran Hidup

(23)

BAB III -71 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 2. Angka Kematian Bayi per 1.000 Kelahiran Hidup 25,82* -* -* 3. Meningkatnya pelayanan kesehatan sesuai dengan standar pelayanan minimal 1. Angka Harapan Hidup (AHH) 70,68* -* -* 4. Meningkatnya keikutsertaan masyarakat dalam jaminan kesehatan 1. Persentase masyarakat miskin peserta Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) terintegrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 15 -* -* 5. Meningkatnya akseptor Keluarga Berencana (KB) 1 Persentase cakupan peserta KB aktif 76,84% 74,79% + 2,05%

* AKB dan AHH adalah data capaian Tahun 2015 dan data Realisasi Nasional belum tersedia Sumber: Jawa Timur Dalam Angka 2016, BPS Prov. Jatim

Berdasarkan data capaian tersebut di atas, permasalahan utama dari urusan kesehatan adalah:

1. Masih tingginya Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi;

2. Masih tingginya masalah kesehatan akibat penyakit menular dan tidak menular; 3. Belum optimalnya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan;

4. Belum optimalnya pelaksanaan jaminan kesehatan; 5. Penyebaran tenaga kesehatan yang belum merata.

Dalam rangka meminimalisir kegagalan tersebut dan sebagai langkah peningkatan realisasi kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Dalam rangka menyeimbangkan penyebaran tenaga kesehatan yang belum merata adalah dengan memastikan kembali implementasi Perda Provinsi Jawa Timur No 7 Tahun 2014 dan Pergub Jawa Timur No 74 Tahun 2015;

(24)

BAB III -72 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

2. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak melalui upaya Kelembagaan forum Penakib di Provinsi, Pengembangan forum Penakib di Kab/Kota, Pengembangan rumah tunggu lahiran, Penguatan jejaring sistem rujukan maternal dan neonatal di Kab/Kota, Surveillans kesehatan anak dan kematian ibu, melaksanakan Audit maternal perinatal, Penguatan keterlibatan masyarakat pada program KIA melalui P4K dan menjamin ketersediaan buku KIA, buku pintar KIA bagi Calon Pengantin;

3. Sebagai upaya meningkatkan Angka Harapan Hidup, untuk mengatasi masih tingginya masalah kesehatan akibat penyakit menular dan tidak menular akan dilaksanakan upaya Desentralisasi ARV ke Kab/kota dan implementasi layanan ARV di Puskesmas, Aktivasi layanan tes HIV di seluruh UPT RSU dan RSP/kusta, Penyediaan logistik untuk pengendalian Tuberkulosis, penguatan keterlibatan UPT dalam program, peningkatan keterlibatasan semua stakeholder, peningkatan mutu program dengan menjaga mutu Lab, penguatan jejaring lab dan pendampingan RS Sub Rujukan TB MDR, Penguatan kapasitas petugas, deteksi dini melalui penemuan secara aktif berbasis keluarga melalui Gerakan Cinta Keluarga, Penguatan seluruh stakeholder untuk menghilangkan stigma dengan melibatkan orang yang pernah menderita kusta, membentuk Posbindu di masyarakat yang sampai saat ini sudah terbentuk 3884 Posbindu;

4. Terkait belum optimalnya pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan memberlakukan kebijakan akreditasi terhadap pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, untuk meningkatkan pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat;

5. Sebagai upaya pengoptimalan pelaksanaan jaminan kesehatan, akan dilakukan release rencana pembiayaan yang baru pasca Pencabutan Perda No 4 Tahun 2009 dengan fokus Rencana Integrasi Oleh Daerah dan rencana Pembiayaan Provinsi yang diatur dalam PERDA N0. 1 Th. 2016 tentang Sistem kesehatan Provinsi;

(25)

BAB III -73 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

4. Misi Pertama Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat yang Berkeadilan, dengan Tujuan Ke-4 Mempercepat dan Memperluas Penanggulangan Kemiskinan.

Tabel 3.11

Perbandingan Realisasi Kinerja Tujuan IV No. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

REALISASI Th. 2015 (n-1) Th. 2016 (n) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Menurunnya persentase penduduk miskin 1 Persentase penduduk miskin 11,72 12,28 11,85 2 Menurunnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) 1 Persentase penurunan PMKS 1,42 1,35 1,8 3 Meningkatnya pengarusutam aan gender dalam pembangunan 1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 20 26 14 2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) 69 91,07 91,77* 3 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 71,02 68,41 68,64* *) Realisasi IPG dan IDG tahun 2016 adalah estimasi dari rata-rata capaian periodik tahun 2011 s/d 2015 Sumber Data: BPS

Tabel 3.12

Perbandingan Realisasi Kinerja s.d. Akhir Periode RPJMD

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Menurunnya persentase penduduk miskin 1 Persentase penduduk miskin 10,19 11,85 83,71 2 Menurunnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) 1 Persentase penurunan PMKS 7,22 1,38 19,11 3 Meningkatnya pengarusutamaan gender dalam pembangunan 1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 20 14 70 2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) 70,83 91,77* 129,56 3 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 72,89 68,64* 94,17 *) Realisasi IPG dan IDG tahun 2016 adalah estimasi dari rata-rata capaian periodik tahun 2011 s/d 2015 Sumber Data: BPS

(26)

BAB III -74 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Tabel 3.13

Perbandingan Realisasi Kinerja dengan Realisasi Nasional NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Menurunnya persentase penduduk miskin 1 Persentase penduduk miskin 11,85 10,7 (-) 2 Menurunnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) 1 Persentase penurunan PMKS 1.38 -* - 3 Meningkatnya pengarusutamaan gender dalam pembangunan 1 Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah 14 - - 2 Indeks Pembangunan Gender (IPG) 91.77* 91.03 (+ 2.79) 3 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 68.64* 70.83 (- 2.19)

*) Realisasi IPG dan IDG tahun 2016 adalah estimasi dari rata-rata capaian periodik tahun 2011 s/d 2015

Sumber Data: BPS

Berdasarkan data resmi statistik bahwa penduduk miskin di Jawa Timur mencapai 4, 63 juta jiwa dari total jumlah penduduk yang mencapai 40 juta jiwa per September 2016, secara persentase penduduk miskin turun dari 12,28 % per September 2014 menjadi 12,05 % pada Maret 2016 dan turun kembali menjadi 11,85 % pada September 2016 atau turun sekitar 64,77 ribu jiwa dari 4,70 juta jiwa pada Maret 2016 menjadi 4,63 juta jiwa pada September 2016.

Jumlah penduduk miskin Provinsi Jawa Timur terus menurun, walaupun masih di bawah angka nasional, tetapi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang memberikan kontribusi penurunan penduduk miskin terbesar kedua sebesar 72.670 jiwa atau sebesar 10,62% dari penurunan jumlah penduduk miskin secara nasional. Meskipun laju penurunan jumlah penduduk miskin Jawa Timur cenderung mulai melambat. Perlambatan penurunan jumlah penduduk miskin sulit dihindari pada saat persentase penduduk miskin mulai mendekati angka 10%, karena berhadapan dengan hardcore poverty, atau disebut juga keraknya kemiskinan, ultra-poor, atau extreme poor, yakni kelompok paling miskin di antara orang miskin (the poorest of

(27)

BAB III -75 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

the poor), paling tidak berdaya, dan sulit dijangkau. Culture of poverty yang membangun hardcore poverty diduga sangat kuat bertahan di sebagian kelompok masyarakat, dan ini sangat tidak mungkin hanya diselesaikan oleh pemerintah tanpa keterlibatan kuat kelompok civil society.

Dalam rangka penurunan penduduk miskin di Jawa Timur, sebagai langkah peningkatan capaian kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan berbagai upaya program/kegiatan yang diarahkan pada kelompok tersebut dan memastikan bahwa mereka inklusif dalam setiap proses pembangunan yang dilakukan, menjamin bahwa rumah tangga miskin menjadi bagian dari pelaksana pembangunan.

Salah satu kegiatan prioritas penanggulangan kemiskinan adalah Jalan Lain Menuju Mandiri dan Sejahtera (Jalin Matra) yang mampu memberikan kontribusi terhadap penurunan rumah tangga miskin, yaitu berdasarkan Basis Data Terpadu PPLS 2011 dan PBDT Tahun 2015 yang dikeluarkan oleh Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), telah terjadi penurunan jumlah rumah tangga miskin yang berada pada tingkat kesejahteraan 10% terendah (Desil 1) sebesar 134.692 rumah tangga, yaitu dari sebesar 1.230.042 rumah tangga (berdasarkan data PPLS 2011) menjadi sebesar 1.095.350 rumah tangga (berdasarkan data PBDT 2015).

Rancangan Program Penanggulangan Kemiskinan Tahun 2017 dilakukan secara integral dengan melibatkan OPD terkait, Program Jalin Matra tidak hanya memberikan bantuan uang untuk modal usaha kepada rumah tangga miskin tetapi juga memberikan pelatihan-pelatihan pasca program agar rumah tangga miskin dapat mengembangkan usaha, hal ini dilakukan melalui kerjasama dengan beberapa OPD seperti Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta beberapa Perguruan Tinggi seperti Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga dan Universitas Negeri Malang.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur tetap memprioritaskan Program Pemberdayaan Masyarakat di Perdesaan seperti Program Jalin Matra dimana selama Tahun 2014 s/d 2016 mampu memberikan lapangan pekerjaan baru bagi 312 Pendamping Kabupaten dan 4.226 Pendamping Desa, memberdayakan 1.963 Kader PKK sebagai Pendamping Desa sekaligus sebagai “Mother Care” layaknya sosok orang

(28)

BAB III -76 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

tua yang mampu melindungi dan memupuk semangat rumah tangga miskin untuk berjuang bersama sama keluar dari kemiskinan, serta mampu menumbuhkan usaha baru bagi 29.726 Kepala Rumah Tangga Perempuan (KRTP), 24.191 Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) yang bergerak dibidang peternakan, perikanan, perdagangan, pertanian, ketrampilan dan jasa. Oleh karena itu kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap upaya percepatan penurunan kemiskinan tetap dilakukan melalui alokasi APBD Pemerintah Prov. Jatim Tahun 2017 yang tetap memprioritaskan Program Percepatan Penanggulangan Kemiskinan seperti Jalin Matra yang mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan bantuan permodalan kepada UMKM serta mendorong urbanisasi profesi bagi petani menuju industri primer.

Sedangkan tentang penurunan PMKS, diketahui hal-hal utama yang menjadi penyebab ketidakberhasilan penurunan jumlah PMKS di Jawa Timur antara lain:

a. Kurang sinkronnya kebijakan Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten / Kota dalam memberikan penanganan terhadap PMKS;

b. Lemahnya SDM Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS) dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial.

Dalam rangka meminimalisir kegagalan tersebut dan peningkatan Realisasi kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Melakukan penguatan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten / Kota dalam penanganan terhadap PMKS;

b. Melakukan peningkatan koordinasi dengan Kementerian Sosial RI dalam memperluas jangkauan pelayanan terhadap PMKS;

c. Mendorong Bidang dan UPT di lingkungan Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur untuk membuat inovasi-inovasi pelayanan terhadap PMKS;

Berkaitan dengan Pemberdayaan Gender, diketahui beberapa hal berikut:

a. Lemahnya koordinasi lintas program dalam mewujudkan KB yang responsive Gender;

b. Kurang adanya kemampuan perempuan untuk setara dengan laki-laki serta kurangnya pemahaman terhadap arti, tujuan, dan arah pembangunan yang responsif gender;

(29)

BAB III -77 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

c. Dengan adanya metodologi penghitungan yang baru, interpretasi angka IPG berubah. Interpretasi angka IPG tidak lagi di perbandingkan dengan angka IPM. Angka IPG berdiri sendiri. Semakin besar angka IPG, dan mendekati nilai 100 (seratus) maka capaian Pembangunan Gender semakin baik. Nilai 100 memberikan gambaran bahwa hasil pembangunan antara laki-laki dengan perempuan sudah setara. Sebaliknya jika angka IPG semakin jauh dengan nilai 100, maka semakin terjadi ketimpangan pembangunan antara laki-laki dengan perempuan. IPG metode baru merupakan perbandingan rasio capaian IPM perempuan terhadap rasio capaian IPM Laki-laki, pada tahun 2015 IPM perempuan Prov. Jatim sebesar 66,78 terhadap rasio capaian IPM Laki-laki sebesar 73,31 (sumber: Buku Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun 2016) sehingga Kesetaraan dan Keadilan Gender belum terwujud.

Dalam rangka meminimalisir kegagalan tersebut dan sebagai langkah peningkatan realisasi kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Menggugah kesadaran dan komitmen stakedolder 38 Kab/Kota di Jawa Timur sebagai upaya revitalisasi program KB di Jawa Timur.

b. Melakukan kegiatan review dan pendampingan pada SKPD Provinsi, Kabupaten/Kota Jawa Timur agar mengoptimalkan integrasi gender kedalam dokumen perencanaan, pengganggaran di semua sektor pembangunan hingga menjadi Anggaran Responsif Gender sebagai upaya untuk mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender.

c. Meningkatkan pemahaman dan kesadaran perempuan melalui pendidikan dan pelatihan agar dapat meningkatkan rasa percaya diri perempuan pada kemampuan mereka sendiri untuk bersaing dengan laki-laki.

Dalam hal pencapaian kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Timur tersebut, program/kegiatan yang menunjukkan output paling mendukung bagi pencapaian kinerja organisasi adalah Program Penguatan Kelembagaan Pengarusutamaan Gender dan Anak. Hal tersebut dikarenakan program/kegiatan tersebut dapat memberikan dampak secara langsung kepada masyarakat.

(30)

BAB III -78 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

5. Misi Kedua Meningkatkan Pembangunan Ekonomi yang Inklusif, Mandiri, dan

Berdaya Saing, Berbasis Agrobisnis/ Agroindustri dan Industrialisasi dengan

Tujuan ke-5 Meningkatkan Aktivitas Ekonomi dan Kualitas Kelembagaan UMKM dan Koperasi.

Tabel 3.14

Perbandingan Realisasi Kinerja Tujuan V 1.

SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

REALISASI Th. 2015 (n-1) Th. 2016 (n) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya volume usaha UMKM dan kualitas kelembagaan koperasi 1 2 Rasio PDRB UKM terhadap total PDRB (%) Persentase koperasi aktif 54,85 – 54,93 80,13 54,98 88,10 54,98* 88,11 2 Meningkatnya jumlah wirausaha baru (WUB) 1 Pertumbuhan Wirausaha Baru (%) 9,25 10,00 11,00 3 Meningkatnya volume usaha ekonomi kaum perempuan 1 Rasio perputaran modal Kopwan 2,20 2,10 2,23

*) data realisasi tahun 2015

Sumber Data: BPS diolah

Tabel 3.15

Perbandingan Realisasi Kinerja s.d. Akhir Periode RPJMD

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya volume usaha UMKM dan kualitas kelembagaan koperasi 1 2 Rasio PDRB UKM terhadap total PDRB (%) Persentase koperasi aktif 55,11 81,03 54,98* 88,11 99,8 108,7 2 Meningkatnya jumlah wirausaha baru (WUB) 1 Pertumbuhan Wirausaha Baru (%) 10 11 110 3 Meningkatnya volume usaha ekonomi kaum perempuan 1 Rasio perputaran modal Kopwan 2,5 2,23 89,2

*) data realisasi tahun 2015

(31)

BAB III -79 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

Tabel 3.16

Perbandingan Realisasi Kinerja dengan Realisasi Nasional NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya volume usaha UMKM dan kualitas kelembagaan koperasi 1 Rasio PDRB UKM terhadap total PDRB (%) 54,98* n/a n/a 2 Persentase koperasi akti 88,11 n/a n/a 2 Meningkatnya jumlah wirausaha baru (WUB) 1 Pertumbuhan Wirausaha Baru (%) 11 n/a n/a 3 Meningkatnya volume usaha ekonomi kaum perempuan 1 Rasio perputaran modal Kopwan 2,23 n/a n/a

*) data realisasi tahun 2015

Sumber Data: BPS diolah

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa ada beberapa Indikator Kinerja yang mengalami keberhasilan ataupun kegagalan. Adapun hal-hal utama yang menjadi penyebab keberhasilan antara lain :

a. Komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mengembangkan koperasi dan UKM di berbagai sektor usaha melalui tiga strategi utama, yakni yaitu aspek produksi, aspek pembiayaan, dan aspek pasar. Dari aspek produksi, strategi yang ditempuh diantaranya adalah pengembangan Business Development Centre (BDC) yang sampai sekarang menjangkau 13 layanan (menjadi salah satu top 99 inovasi pelayanan publik Kemenpan RB tahun 2016) dan peningkatan produktivitas UKM (magang ke profesional UKM ekspor). Lalu dari aspek pembiayaan, strategi yang ditempuh salah satunya adalah dengan skim pembiayaan linkage program model “loan agreement”. Kemudian dari aspek pasar, strategi yang ditempuh antara lain melalui fasilitasi pemasaran melalui Cooperative Trading House (CTH) yang bertujuan meningkatkan akses pasar baik dalam negeri maupun pasar ekspor dan meningkatkan jaringan usaha produk koperasi dan UMKM anggotanya yang berbasis agro industri serta penguatan akses pasar melalui Gedung Galeri Batik dan Galeri Cinderamata.

(32)

BAB III -80 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

b. Dukungan alokasi anggaran bagi pengembangan koperasi dan UMKM di Jawa Timur yang cukup besar, serta dukungan dari stakeholder (gerakan koperasi, dekopin dan pihak perguruan tinggi, dsb) dan koordinasi yang baik antar Kabupaten/Kota dalam pengembangan dan pemberdayaan Koperasi dan UMKM di Jawa Timur.

Adapun hal-hal yang menjadi penyebab kekurangberhasilan yang merupakan tantangan ke depan antara lain:

a. Pertumbuhan jumlah anggota koperasi tidak sesuai target karena pada tahun 2016 beberapa koperasi yang tidak aktif di jawa timur telah dibubarkan, sehingga mengurangi jumlah anggota koperasi secara agregat.

b. Program pengembangan koperasi baru dari pemerintah daerah juga tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

c. Produk KUKM yang kurang bersaing dengan produk industri besar, terutama dari aspek packaging.

Dalam rangka meminimalisir kegagalan tersebut dan sebagai langkah peningkatan capaian kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengoptimalkan peran Business Development Centre (BDC) dan Cooperative Trading House (CTH) dalam meningkatkan aspek produksi dan pemasaran produk KUKM.

b. Melakukan pendataan terhadap koperasi – koperasi yang kurang aktif, untuk kemudian dilakukan pembubaran bagi koperasi yang benar – benar tidak aktif. c. Menyesuaikan indikator kinerja serta target berkenaan dengan

diimplementasikannya UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang berimplikasi pada pembagian kewenangan.

(33)

BAB III -81 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

6. Misi Kedua Meningkatkan Pembangunan Ekonomi yang Inklusif, Mandiri, dan

Berdaya Saing, Berbasis Agrobisnis/ Agroindustri dan Industrialisasi dengan

Tujuan ke-6 Meningkatkan Produktivitas Pertanian. Tabel 3.17

Perbandingan Realisasi Kinerja Tujuan VI

No. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET

REALISASI

Th. 2015 (n-1) Th. 2016 (n)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

1 Meningkatnya nilai tambah hasil dan daya saing produk pertanian (tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) 1 Pertumbuhan sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB (%) 1,96 3,39 2,82 2 Pertumbuhan sub-sektor tanaman perkebunan terhadap PDRB (%) 2,1 2,12 2,01 3 Pertumbuhan sub-sektor peternakan terhadap PDRB (%) 4,38 2,01 2,45 4 Pertumbuhan sub-sektor kehutanan terhadap PDRB (%) 6,9 4,43 -9,12 34 Pertumbuhan sub-sektor perikanan terhadap PDRB (%) 4,8 5,71 5,06 Sumber Data: BPS Tabel 3.18

Perbandingan Realisasi Kinerja s.d. Akhir Periode RPJMD

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya nilai tambah hasil dan daya saing produk pertanian (tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) 1 Pertumbuhan sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB (%) 2,05 2,82 137,5 2 Pertumbuhan sub-sektor tanaman perkebunan terhadap PDRB (%) 3,1 2,01 64,83 3 Pertumbuhan sub-sektor peternakan terhadap PDRB (%) 4,58 2,45 53,49

(34)

BAB III -82 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

TARGET AKHIR RPJMD REALISA SI Th. 2016 TINGKAT KEMAJU AN (1) (2) (3) (4) (5) (6) 4 Pertumbuhan sub-sektor kehutanan terhadap PDRB (%) 7,2 -9,12 -126,67 5 Pertumbuhan sub-sektor perikanan terhadap PDRB (%) 5,3 5,06 95,47 Sumber Data: BPS Tabel 3.19

Perbandingan Realisasi Kinerja dengan Realisasi Nasional NO. SASARAN

STRATEGIS INDIKATOR KINERJA

REALISASI Th. 2016 REALISASI NASIONAL KET. (+/-) (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Meningkatnya nilai tambah hasil dan daya saing produk pertanian (tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan) 1 Pertumbuhan sub-sektor tanaman bahan makanan terhadap PDRB 2,82 2,67 (-) 2 Pertumbuhan sub-sektor tanaman perkebunan terhadap PDRB 2,01 n/a n/a 3 Pertumbuhan sub-sektor peternakan terhadap PDRB 2,45 4,33* (-) 4 Pertumbuhan sub-sektor kehutanan terhadap PDRB -9,12 n/a n/a 5 Pertumbuhan sub-sektor perikanan terhadap PDRB 5,06 n/a n/a

Sumber Data: Pusdatin Kementerian Pertanian

Pertumbuhan ekonomi kategori pertanian, kehutanan dan perikanan tahun 2015 adalah sebesar 3,44 persen di mana pada kategori lapangan usaha tersebut, Sub sektor perikanan memiliki pertumbuhan tertinggi diantara sub sektor lainnya yakni sebesar 5,58 persen atau mencapai 118,72 persen dari target yang telah ditetapkan yakni 4,7 persen. Pertumbuhan ekonomi sub sektor perikanan pada tahun 2015

(35)

BAB III -83 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

sebesar 5,58 persen juga lebih tinggi dari pertumbuhan PDRB Jawa Timur secara umum yang besarnya 5,44 persen.

Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa ada beberapa Indikator Kinerja yang mengalami keberhasilan ataupun kegagalan. Adapun hal-hal utama yang menjadi penyebab antara lain :

a. Sub sektor tanaman bahan makanan, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2015, yaitu menjadi 2,82, meskipun telah memenuhi target yang ditetapkan. Adapun permasalahan utamanya adalah belum optimalnya produksi dan produktivitas tanaman pangan karena beberapa permasalahan pokok yang mengakibatkan gangguan capaian produksi dan produktivitas pertanian. Gangguan tersebut meliputi:

1. Adanya isu pemanasan global yang berdampak terjadinya perubahan iklim; 2. Tingginya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian serta

terjadinya degradasi sumber daya alam; 3. Kelembagaan petani yang masih lemah;

4. Lemahnya akses petani terhadap permodalan, dan terbatasnya ketersediaan sarana dan prasarana produksi pertanian (benih, pupuk, pestisida, alsintan) pendukung pengembangan sistem agribisnis;

5. Belum optimalnya infrastruktur pertanian (jaringan irigasi dan pengairan yang masih terbatas);

6. Masih tingginya tingkat kehilangan hasil pertanian karena keterbatasan sarana prasarana;

7. Daya saing produk pertanian relatif masih rendah karena kualitas sumber daya manusia yang juga relatif masih rendah dan teknologi pertanian yang masih terbatas;

8. Harga beberapa komoditas pertanian yang berfluktuatif yang relatif tidak stabil yang salah satunya disebabkan oleh kebijakan import oleh Pemerintah.

b. Sub sektor perkebunan, pertumbuhan tahun 2016 mengalami penurunan, angka pertumbuhan ekonomi sub sektor perkebunan sebesar 2,01 %. Adapun hal-hal utama yang menjadi penyebab adalah tahun 2016 untuk tanaman perkebunan semusim mengalami penurunan mulai dari areal tertanam sampai dengan areal

(36)

BAB III -84 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

terpanen, dikarenakan sepanjang tahun 2016 mengalami kemarau basah. Untuk tanaman tebu walaupun bobot tebu terpanen meningkat dari tahun 2015 mencapai produksi sebesar 14.367.469 ton naik di 2016 sebesar 16.249.430 ton namun rendemen tebu mengalami penurunan, dengan produksi gula di tahun 2015 sebesar 1.217.333 ton turun di 2016 dengan produksi gula sebesar 1.035.156 ton, sehingga mempengaruhi terhadap nilai produksi sub sektor perkebunan. Di tanaman tembakau, dengan faktor adanya kemarau basah di 2016, diawal on farm sudah banyak terjadi kegagalan tanam di berbagai wilayah Jawa Timur, dari total tertanam di tahun 2016 seluas 71.361 hektar, terpanen seluas 53.011 hektar atau turun sebesar 25,71 %. hal mengakibatkan pengaruh yang besar terhadap nilai produksi sub sektor perkebunan. Untuk tanaman tahunan perkebunan di Jawa Timur khususnya kopi dan kakao dengan keadaan kemarau basah di tahun 2016 tidak secara signifikan berpengaruh terhadap produksi maupiun produktivitasnya.

c. Sub sektor Peternakan, Usaha peternakan masih dilakukan sebagai usaha sampingan skala rumah tangga dengan kareteristik : modal kecil, cara beternak konvensional, dan mudah sekali mengalihkan ternak untuk dijual, Kurang tersedianya ternak bibit yang berkualitas dan mahalnya harga pakan ternak. d. Sub-sektor kehutanan terhadap PDRB, Tahun 2016 sebesar -9,12 di bawah

target yang ditetapkan sebesar 6,9-7,0. Realisasi indikator dimaksud dipengaruhi oleh penurunan produksi kayu dr hutan negara. Sebagaimana diketahui produksi kayu dr hutan negara Tahun 2016 sebesar 311.371 m3 jauh dibawah Tahun 2015 sebesar 415.192 m3. Penurunan produksi kayu dari hutan negara Tahun 2016 disebabkan oleh faktor lesunya kondisi pasar log (kayu bulat) di Jawa Timur, sehingga kayu yang telah ditebang Tahun 2015 masih menumpuk di Tempat Penimbunan Kayu (TPk). Untuk meminimalisir kerusakan kayu di Tpk maka pada Tahun 2016 dilakukan penundaan tebangan. Penundaan tebangan Tahun 2016 berdampak pada produksi kayu yang dihasilkan selama Tahun 2016. Penundaan tebangan Tahun 2016 sesuai dengan Surat Direksi Perhutani No 122/053.4/PPHH-Prod/Dir tanggal 4 Mei 2016 perihal Kebijakan Produksi dan Pemasaran 2016 dan Surat Kepala Perum Perhutani Divre Jawa Timur No

(37)

BAB III -85 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

263/053.4/Prod/Divre Jatim tanggal 24 Juni 2016 perihal Kebijakan Produksi 2016. Namun demikian sub sektor kehutanan memberikan kontribusi sebesar 0,48 % terhadap PDRB Jawa Timur.

e. Sub Sektor Perikanan, memiliki pertumbuhan tertinggi diantara sub sektor lainnya yakni sebesar 5,06 persen atau mencapai 105,42 persen dari target yang telah ditetapkan yakni 4,8 persen. Kontribusi sub sektor perikanan Jawa Timur atas dasar harga berlaku tahun 2016 terhadap PDRB menunjukkan kontribusi yang stabil yakni rata-rata 2,38 persen dalam kurun waktu 5 tahun, hal ini menunjukkan kontinuitas peningkatan nilai tambah yang mencerminkan peningkatan income para pelaku sub sektor perikanan dan kelautan. Pada tahun 2016 juga diwarnai adanya penurunan laju implisit pada sub sektor perikanan. Laju ini akan merefleksikan perubahan harga dan kualitas yang terjadi di sub sektor kelautan dan perikanan atau mencerminkan perubahan harga yang terjadi di tingkat produsen di sub sektor tersebut. Pada tahun 2016, laju implisit sub sektor perikanan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yaitu 6,26 persen pada tahun 2015 menjadi 3,94 persen di tahun 2016.

Dalam rangka meminimalisir kegagalan tersebut dan sebagai langkah peningkatan Realisasi kinerja pada tahun yang akan datang, Pemerintah Provinsi telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Sektor tanaman perkebunan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan upaya Intensifikasi tebu seluas 4.550 hektar, pengembangan kopi arabika seluas 2000 hektar, Pengembangan kakao seluas 4.000 hektar dan Intensifikasi tembakau seluas 7.000 hektar, Mengembangkan usaha peternakan berbasis kawasan, sehingga dapat fokus pengembangan sesuai dengan potensi sumber daya lokal. b. Memfasilitasi aksesbilitas permodalan untuk mengembangkan usaha ternak, baik

melalui koperasi, bank pemerintah atau lembaga pembiayaan lainnya dan memberikan penyuluhan good farming practise secara berkala kepada para peternak, mendatangkan ternak indukan impor yang berkualitas, mengembangkan lahan hijauan makanan ternak dan pemanfaatan alat mesin

(38)

BAB III -86 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

pengolah pakan skala kecil dan pelaksanaan rehabilitasi disesuaikan dengan musim penghujan;

c. Pendampingan dan penyuluhan kepada masyarakat sebagai upaya meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan sehingga masyarakat dapat berpartisipasi mengelola hutan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan Penerapan metode rehabilitasi hendaknya disesuaikan dengan kondisi medan sehingga kegiatan rehabilitasi dapat berjalan secara efektif dan efisien;

d. Melakukan perbaikan sumberdaya habitat dan stok sumberdaya ikan melalui pembangunan rumah ikan serta pengkayaan ikan di laut dan perairan umum darat (PUD) yang telah padat tangkap. Kinerja perikanan tangkap masih sangat mungkin untuk ditingkatkan dengan memaksimalkan potensi Pantai Selatan Jawa Timur yang masih relatif rendah tingkat eksploitasinya dan selain melaksanakan kegiatan rehabilitasi juga dilakukan upaya konservasi dengan melibatkan masyarakat melalui kegiatan bimtek dan sosialisasi konservasi mangrove dan terumbu karang berkelanjutan;

e. Pemberian bantuan/hibah sarana penangkapan ikan berupa alat tangkap jaring dan pancing serta alat bantu penangkapan ikan berupa GPS untuk mempermudah mencari lokasi penangkapan (fishing ground), penyediaan modal usaha melalui pembangunan sarana dan prasarana pelabuhan dan Sosialisasi dan alih teknologi baru kepada pembudidaya ikan yang dilakukan oleh UPT maupun instalasi budidaya lingkup Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Jawa Timur dan juga dengan pemberian paket hibah untuk teknologi baru yang akan diterapkan sebagai contoh budidaya lele sistem bioflok;

f. Intensifikasi produksi perikanan budidaya melalui kegiatan pemberian paket hibah perikanan budidaya, pakan mandiri dan obat ikan; pelatihan teknis perbenihan dan budidaya ikan; apresiasi kepada kelompok pembudidaya ikan (pokdakan); perbaikan mutu induk dan benih, alih teknologi (adopsi teknologi hasil penelitian); Intensifikasi, pemanfaatan lahan terbatas budidaya ikan dengan memanfaatkan lahan di pekarangan, sekolah pondok pesantren/panti asuhan, Lembaga Pemasyarakatan, Sistem Bioflok, pemanfaatan tambak porous dengan pemlastikan HDPE;

(39)

BAB III -87 Laporan Kinerja Instansi Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2016

g. Peningkatan kuantitas, kualitas dan produktivitas usaha garam melalui pembuatan unit pengolah garam, pelatihan teknis dan manajemen bagi kelompok PUGAR serta pengembangan teknologi Geomembran.

h. Mendorong industri kecil dan menengah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk olahan melalui pelaksanaan bimtek, pelatihan dan sosialisasi terkait pengendalian mutu, keamanan hasil olahan, peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan sumberdaya manusia.

Selain Kontribusi sektor pertanian melalui produksi dan produktivitas tanaman pangan terhadap pendapatan domestik regional bruto, indikator lain untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani di daerah pedesaan adalah indikator Nilai Tukar Petani (NTP) yang juga merupakan salah satu indikator yang berpengaruh terhadap PDRB Provinsi Jawa Timur. Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan rasio antara indeks harga yang diterima petani (lt) dengan indeks harga yang dibayar petani (lb) pada waktu tertentu dan dinyatakan dalam persentase dengan tahun dasar 2012=100. Perubahan indeks harga yang diterima petani disini menunjukkan fluktuasi harga komoditas pertanian yang dihasilkan oleh petani.

Tabel 3.20

Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jawa Timur Tahun 2012-2016

No Uraian 2012 2013 2014 2015 2016

1. Indeks yang diterima

petani (It) 147,27 151,12 117,67 125,77 131,82

2. Indeks yang dibayar

petani (Ib) 144,15 146,57 112,34 119,96 125,99

3. NTP 102,16 103,05 104,75 104,83 104,63

Sumber Data: BPS Provinsi Jawa Timur, 2017

Rata-rata Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur Tahun 2016 sebesar 104,63 mengalami kenaikan sebesar 1,04 persen dari Tahun 2015 sebesar 104,83. Kenaikan NTP ini disebabkan oleh indeks harga yang diterima petani (lt) lebih besar dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani (lb). Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Timur Tahun 2016 terlihat cenderung berfluktuasi dengan NTP terendah pada bulan Maret sebesar 103,77 yang disebabkan naiknya indeks harga yang dibayar petani (lb) sedangkan indeks harga yang diterima petani (lt) mengalami penurunan. Dibandingkan bulan Februari, NTP bulan Maret turun 0.98

Gambar

Grafik 3.1  Tren Capaian Realisasi APBD Provinsi Jawa Timur
Grafik 3.2   Komposisi Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Jawa Timur
Grafik  di  atas  menggambarkan  bahwa  struktur  belanja  daerah  Provinsi  Jawa  Timur  sebagian  besar  realisasinya  adalah  belanja  tidak  langsung  jika  dibandingkan  dengan belanja langsungnya

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini meliputi 1) mengidentifikasi kesalahan yang dilakukan mahasiswa dalam menyelesaikan turunan fungsi implisit. 2) mengidentifikasi kesalahan yang

Berdasarkan hasil penelitian ini lama bekerja/masa jabatan, aparatur desa pada Kecamatan Banda Raya di Kota Banda Aceh mayoritas bekerja selama lebih dari 5 tahun

Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan estimasi durasi rupture pada gempa bumi pembangkit tsunami (tsunamigenic earthquake) yang terjadi di segmen Nias

Meningkatkan pengetahuan dan wawasan di bidang Hak katas Kekayaan Intelektual dan ilmu hukum mengenai masalah-masalah yang terjadi di masyarakat, khususnya

Penyediaan Barang Cetakan dan Penggandaan dikarenakan pada rekening belanja bendera, umbul-umbul dan spanduk tidak dapat dilaksanakan seluruhnya

Penelitian dilakukan pada daerah ini atas berbagai pertimbangan seperti adanya hubungan antara kepercayaan merek, kepuasan pelanggan dan loyalitas pelanggan dalam

sesuai dengan sasaran perbaikan yang diharapkan untuk manajemen data dan informasi, seperti proses administrasi yang lebih mudah dan lebih cepat, dimana waktu

Pada 2015, untuk empat tahun berturut dan berasaskan skop yang lebih luas untuk skim tersebut, VINCI menawarkan kepada majoriti tenaga kerjanya peluang untuk menjadi pemegang