• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS DATA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS DATA"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

23

BAB IV

ANALISIS DATA

4.1 Pelaksanaan penelitian

Penelitian dilaksanakan selama kurang lebih 2 bulan di lapangan, mulai bulan Oktober hingga November. Total proses penelitian dari pembuatan proposal hingga analisis data yaitu 7 bulan, dimulai bulan Mei hingga Desember. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam. Adapun persiapan dilakukan sebelum melakukan wawancara, seperti menetapkan subjek wawancara yang akhirnya dilakukan kepada Kepala Sekolah di 1 SMK Swasta, 1 SMK Negeri, 1 SMA Swasta dan 1 SMA Negeri. Total responden ada 4 Kepala Sekolah.

Selanjutnya, menyiapkan pokok masalah yang akan menjadi bahan wawancara yang sesuai dengan teori yang ada, melangsungkan alur wawancara, melakukan wawancara dengan cara merekam menggunakan media rekam berupa telepon genggam. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis menggunakan teknik analiis yang sudah ditentukan oleh peneliti.

4.2 Subyek Penelitian

1. Nama : J

Sekolah : SMK Kristen T dan I Salatiga

(2)

24

2. Nama : S

Sekolah : SMA Negeri 1 Salatiga

Wawancara : Selasa, 23 Oktober 2012

3. Nama : K

Sekolah : SMA Kristen 1 Salatiga

Wawancara : Kamis, 24 Oktober 2012

4. Nama : B

Sekolah : SMK N 1 Salatiga

Wawancara : senin, 5 November 2012

4.3 Pelaksanaan Supervisi Layanan Bimbingan dan Konseling oleh Kepala Sekolah Di SMA dan SMK Di Kota Salatiga

Berdasarkan rumusan masalah mengenai bagaimana pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh Kepala Sekolah. Hasil penelitian dapat dianalisis bahwa pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah terdiri dari fungsi supervisi, manfaat supervisi, tujuan supevisi, pendekatan supervisi, teknik supervisi dan metode yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah.

(3)

25 4.3.1 Manfaat dan Bentuk Kegiatan Pelaksanaan Supervisi Layanan Bimbingan dan Konseling oleh Kepala Sekolah di SMA dan SMK di Kota Salatiga

Berdasarkan data yang dikumpulkan dapat diketahui manfaat pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga mengungkapkan bahwa manfaat supervisi adalah :

Supervisi layanan bimbingan dan konseling dilakukan kalau ada yang menyimpang dari guru pembimbing dan layanan yang diberikan, dan apabila ada yang tidak sesuai barulah saya sebagai kepala sekolah melakukan supervisi.

Ditambahkan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Salatiga, pernyataannya sebagai berikut :

Melalui supervisi layanan bimbingan dan konseling, kepala sekolah mampu memonitoring pergantian sistem di sekolah ini yang berdampak pada para siswa. Di mana para siswa banyak yang datang ke guru pembimbing untuk minta bantuan, khususnya di sekolah kami yang sedang berubah ke sistem sks 5 hari sekolah.

Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah juga menemukan hambatan, hambatan dirasakan oleh Kepala Sekolah SMA Kristen 1 Salatiga dan SMA Negeri 1 Salatiga. Berikut pernyataan dari Kepala Sekolah SMA Kristen 1 Salatiga :

Hambatan yang dialami dalam pelaksanaan supervisi kepala sekolah adalah waktu, di sekolah kami kepala sekolah mengajar 15 jam seminggu. Supervisi tidak hanya untuk unit BK saja, waktu yang tersita banyak merupakan hambatan sayadalam melakukan supervisi. Namun jusru dengan bimbingan dan konseling, karena tidak harus masuk kelas dan bisa dimana saja kapan saja, saya bisa sering melaksanakan supervisi layanan bimbingan dan konseling. Jadi untuk melakukan supervisi layanan bimbingan dan konseling, jalan keluar untuk hambatan tadi ya melakukan supervisi tidak harus di dalam kelas, namun fleksibel dan bisa lebih intens. Selain itu, ketika masalah yang ditangani tiap personel unit BK tidak bisa disupervisi bersamaan, karena tiap guru pembimbing memiliki ketrampilan yang berbeda-beda.

Beberapa pernyataan di atas merupakan manfaat yang dapat dipetik dari pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala

(4)

26 sekolah. Manfaat supervisi tersebut bisa dikategorikan seperti manfaat supervisi yang dipaparkan oleh Nurihsan (2005) :

1. Mengontrol pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling. 2. Mengontrol hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan Program

Bimbingan dan Konseling

3. Jalan keluar terhadap hambatan yang terjadi

Pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, serta ketercapaian tujuan layanan bimbingan dan konseling.Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMK Kristen T dan I, SMA Negeri 1 dan SMA Kristen 1 Salatiga sudah mencakup 2 bentuk kegiatan seperti yang dikemukakan Jones (dalam Nurihsan, 2005) yaitu :

1. Sebagai kontrol kualitas yang direncanakan untuk memelihara, menyelenggarakan, dan menentang perubahan. (J6, J10 dan L11, K6). Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah di SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga.

Pernyataan responden J yang berkenaan dengan bentuk kegiatan supervisi sebagai berikut :

Sama seperti supervisi pada umumnya, kalau ada yang menyimpang dari guru pembimbing dan layanan yang diberikan, dan apabila ada yang tidak sesuai barulah saya sebagai kepala sekolah melakukan supervisi. Dan perlu diketahui bahwa supervisi dilakukan karena ada ketidaksesuaian layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling.

(5)

27 Pernyataan dari responden K juga menyatakan bentuk kegiatan supervisi seperti yang dipaparkan Jones (dalam Nurihsan, 2005), sebagai berikut :

Di sekolah ini ada tiga guru pembimbingnya, jadi untuk setiap kasus kepala sekolah selalu mengikuti perkembangannya. Bagaimana pendampingannya, penyelesaiannya, pengentasannya, perkembangannya kepala sekolah sebagai supervisor selalu mengikuti.

2. Mengadakan perubahan, penataan, dan mengadakan perubahan perilaku. (J6, J9, K13, K20, K23, K30, K33 dan K35). Kegiatan supervisi ini dilakukan di SMK Kristen T dan I Salatiga dan SMK Kristen 1 Salatiga.

Peryataan responden K yang berkaitan dengan bentuk kegiatan supervisi di atas sebagai berikut :

Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah membuat saya bisa memetakan apa permasalahan siswa, kemudian mendorong konselor sekolah supaya bisa memberikan layanan bimbingan dan konseling di mana layanan tersebut merupakan layanan bimbingan dan konseling yang relevan dengan kebutuhan para siswa. Melalui supervisi dari kepala sekolah terdapat motivasi secara personel, sendiri-sendiri tidak secara kelompok. Selain itu, ketika saya mengikuti suatu kasus dan belum ada perkembangan dan guru pembimbing tidak melaporkan pada saya, sebagai kepala sekolah yang menjadi supervisor saya pasti akan menanyakan mengenai hambatan penanganan kasus tersebut melalui layanan bimbingan dan konseling sehingga belum ada perkembangan.

Jadi dalam supervisi pasti ada temuan dan guru pembimbing pasti ada diskusi, kemudian kepala sekolah memberikan saran dan masuka yang diberikan langsung kepada guru pembimbing mengenai layanan yang diberikan, guru pembimbing tanda tangan apabila menerima masukan dan saran dari kepala sekolah. Pemantauan kepala sekolah tidak harus hadir melakukan supervisi tetapi bisa meminta bantuan pihak lain seperti meminta masukan dari siswa mengenai layanan yang diberikan oleh guru pembimbing, kemudian untuk tindak lanjut nanti dari saya dan unit BK.

4.3.2 Tujuan Supervisi Bimbingan dan Konseling

Tujuan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling yang dipaparkan kepala sekolah di SMK Kristen T dan I yaitu

(6)

28

Dan perlu diketahui bahwa supervisi dilaksanakan untuk melihat ada tidaknya kesesuaian job dan pertanggungjawaban layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling.

Ditambahi dengan pernyataan dari kepala sekolah SMA N 1 Salatiga yaitu :

Supervisi dari kepala sekolah sekiranya bermanfaat, karena dengan adanya supervisi menjadikan adanya laporan layanan bimbingan dan konseling serta adanya pertangggungjawaban.

Kepala sekolah SMA Kristen 1 Salatiga melengkapi tujuan pelaksanaan supervisi di sekolah yang dipimpin, tujuan dipaparkan sebagai berikut :

Bisa mengetahui tujuan supervisi tercapai atau tidak dengan cara melihat respon siswa terhadap layanan yang diberikan oleh unit bimbingan dan konseling. Para siswa artinya tertarik atau tidak dengan adanya layanan bimbingan dan konseling para siswa menjadi termotivasi atau tidak. Melalui kegiatan ini bisa diketahui kompetensi guru bimbingan dan konseling.

Saat pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, kepala sekolah bisa berdialog dengan siswa. Dalam dialog tersebut saya selaku kepala sekolah ingin mengetahui bagaimana layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan, apa yang siswa dapatkan dari layanan tersebut. Kepala sekolah menanyakan hal-hal tersebut kepada siswa yang baru saja menerima layanan bimbingan dan konseling.

Melalui supervisi dari kepala sekolah terdapat motivasi secara personel, sendiri-sendiri tidak secara kelompok. Mengenai kinerja dan komitmen memang sudah baik. Namun, untuk keterampilan memang tiap guru pembimbing berbeda-beda. Kalau sudah baik kepala sekolah hanya memberi motivasi saja, namun bagi yang kurang pasti ada pendampingan dari kepala sekolah selaku supervisor. Kepala sekolah juga memberi kesempatan kepada guru pembimbing untuk ikut seminar dan workshop untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang nantinya berguna untuk menunjang kualitas layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling.

Hasil pengumpulan data mengenai tujuan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling di atas bisa dikategorikan sehingga sama seperti tujuan supervisi layanan bimbingan dan konseling yang diungkapkan oleh Boyd (1978), seperti berikut :

1. Memfasilitasi perkembangan personal dan profesional guru bimbingan dan konseling. (K21, K 30, K31 dan K38)

(7)

29 3. Mempromosikan akuntabilitas program bimbingan dan konseling.

Baik secara sendiri-sendiri maupun kolektif. (J10, L12, K19) Berdasarkan data yang diperoleh tujuan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling ini bisa tercapai dan yang mampu mencapai tujuan supervisi layanan bimbingan dan konseling yaitu SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga. SMK Negeri 1 Salatiga tidak memaparkan dengan jelas apa yang membuat tujuan dari pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah tidak tercapai, berdasarkan data yang diperoleh pelaksanaan supervisi lebih banyak dilakukan secara adminitratif sehingga apabila laporan layanan bimbingan dan konseling lengkap kepala sekolah menganggap layanan bimbingan dan konseling sudah terlaksana dengan baik.

4.3.3 Pendekatan Supervisi Layanan Bimbingan dan Konseling

Berdasarkan data yang diperoleh, pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMA dan SMK di kota Salatiga yaitu berupa pendekatan perilaku yang diketahui dilaksanakan di SMA Kristen 1 Salatiga (K11 dan K38). Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Sekolah SMA Kristen 1 Salatiga sebagai berikut

Pendekatan supervisi yang saya gunakan dalam pelaksanaan supervisi tersebut adalah pendekatan perilaku. Pendekatan perilaku yang digunakan bisa memberi kesempatan kepada guru pembimbing untuk ikut seminar dan workshop untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang nantinya berguna untuk menunjang kualitas layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling.

(8)

30 Pendapat tersebut sesuai dengan pendekatan perilaku yang dipaparkan oleh Boyd (1978) bersamaan dengan pendekatan supervisi lainnya. Boyd (1978) mengungkapkan bahwa pendekatan perilaku menekankan fungsi pelatihan dan instruksional.

4.3.4 Metode Supervisi Layanan Bimbingan dan Konseling

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga yaitu :

Sebagai kepala sekolah saya melihat tugas guru pembimbing, adakah kesesuaian tugas yang seharusnya dilakukan. Dan itu terlihat dari ada tidaknya kesesuaian job dan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru pembimbing di sekolah ini.

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah SMA Negeri 1 Salatiga yaitu :

Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah biasanya berupa laporan administratif layanan bimbingan dan konseling. Pelaksananaan supervisi layanan bimbingan dan konseling sifatnya fleksibel dan juga administratif.

Metode yang sama juga dilakukan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMK Negeri 1 Salatiga, yaitu supervisi administratif. Kepala sekolah SMA Kristen 1 Salatiga memaparkan metode supervisi yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling yaitu metode supervisi administratif yang terekam dalam dokumentasi berupa laporan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, serta penilaian

(9)

31 terhadap layanan bimbingan dan konseling. Kepala sekolah SMA Kristen 1 Salatiga juga menggunakan metode supervisi klinis, seperti yang diungkapkan dala wawancara sebagai berikut :

Kemudian untuk supervisi klinis prosesnya sama seperti kunjungan kelas. Supervisi klinis jelas bagaimana proses layanan yang diberikan, kegiatan yang dilakukan melalui layanan bimbingan dan konseling. Kemudian yang paling intensif itu pendampingan. Jadi setiap guru bimbingan dan konseling itu mengadakan identifikasi permasalahan yang dihadapi hasilnya berbeda-beda, sehingga terkaang kepala sekolah menganjurkan guru bimbingan dan konseling untuk bekerja dalam tim.

Data yang terkumpul di atas sesuai dengan metode supervisi layanan bimbingan dan konseling yang dipaparkan oleh Barret dan Schimdt (dalam Taufiq, 2008), mengemukakan jenis supervisi layanan bimbingan dan konseling berupa supervisi klinis, supervisi pengembangan dan supervisi administratif. Berdasarkan hasil pengumpulan data supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMA dan SMK di kota Salatiga mencakup supervisi administratif dan supervisi klinis (J5, J10, L2, L5, B2, K13 dan K34). Menurut Barret dan Schimidt (dalam Taufiq, 2008), melalui supervisi administratif dapat diketahui adanya jaminan bahwa guru pembimbing mempunyai kebiasaan pekerjaan yang dilakukan, mematuhi hukum dan kebijakan, hubungan baik dengan staf sekolah yang lain dan orang tua dan kegiatan kependidikan lainnya secara efektif dikerjakan di sekolah. Supervisi klinis menyoroti peningkatan ketrampilan profesional dan fungsi-fungsi etis guru pembimbing yang sedang menerapkan ketrampilan profesionalnya dan nilai-nilainya.

(10)

32 Pelaksanaan supervisi administratif dilakukan di SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMK Negeri 1 Salatiga, sedangkan SMA Kristen 1 Salatiga melaksanakan keduanya yaitu supervisi administratif dan supervisi klinis.

Pelaksanaan supervisi melalui supervisi administratif dan klinis mempunyai alasan tersendiri dari kepala sekolah yang melakukan supervisi. Kepala sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga mengatakan bahwa supervisi administratif dilakukan untuk melihat ada tidaknya kesesuaian job dan layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru pembimbing kepada siswanya (J10). Sedangkan kepala sekolah SMA Kristen 1 Salatiga menggunakan metode supervisi adminitrastif supaya semua pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling bisa didokumentasikan dan memberikan penilaian terhadap layanan yang diberikan oleh unit bimbingan dan konseling. Berbeda lagi dengan SMA Negeri 1, pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konsleing menggunakan metode supervisi administratif supaya kepala sekolah bisa melaksanakan supervisi secara mudah dan bersama-sama dengan supervisi untuk bagian kurikulum dan bagian unit sekolah lainnya.

4.4 Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMA dan SMK di Kota Salatiga, penulis mampu mengumpulkan data melalui wawancara mendalam

(11)

33 di empat sekolah yaitu SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga.

Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh Kepala Sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1, SMK Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga mencakup fungsi pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, manfaat dan bentuk pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, tujuan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, pendekatan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, teknik yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling, dan metode pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling.

4.4.1 Manfaat dan Bentuk Kegiatan Pelaksanaan Supervisi Layanan Bimbingan dan Konseling oleh Kepala Sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga

Manfaat pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh Kepala Sekolah di SMK Negeri 1 Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga yaitu :

1. Memonitoring pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. 2. Mengontrol hambatan yang ditemui dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling oleh unit bimbingan dan konseling

(12)

34 3. Membantu menemukan jalan keluar terhadap hambatan yang

terjadi.

Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMK Kristen T dan I, SMA Negeri 1 dan SMA Kristen 1 Salatiga sudah mencakup 2 bentuk kegiatan seperti yang dikemukakan Jones (dalam Nurihsan, 2005) yaitu :

1. Sebagai kontrol kualitas yang direncanakan untuk memelihara, menyelenggarakan, dan menentang perubahan. Kegiatan tersebut berupa pemantauan yang diberikan oleh kepala sekolah selaku supervisor. Kegiatan supervisi ini dilakukan oleh kepala sekolah di SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga.

2. Mengadakan perubahan, penataan, dan mengadakan perubahan perilaku. Kegiatan tersebut berupa motivasi, penguatan, memberikan masukan terhadap kinerja dan layanan bimbingan dan konseling yang tidak sesuai atau tidaka ada perkembangan ke arah yang lebih baik. Kegiatan supervisi ini dilakukan di SMK Kristen T dan I Salatiga dan SMK Kristen 1 Salatiga.

4.4.2 Tujuan Pelaksanaan Supervisi Layanan Bimbingan dan Konseling Oleh Kepala Sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga.

(13)

35 1. Mengetahui kualitas layanan bimbingan dan konseling dengan melihat respon siswa terhadap layanan yang diberikan oleh guru pembimbing.

2. Memberikan motivasi terhadap guru pembimbing supaya meningkatkan kemampuan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling. Memfasilitasi perkembangan personal dan profesional guru bimbingan dan konseling

3. Mampu memberi kesempatan kepada guru pembimbing untuk ikut seminar dan workshop untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang nantinya berguna untuk menunjang kualitas layanan bimbingan dan konseling yang diberikan oleh guru bimbingan dan konseling.

4. Mempromosikan kompetensi guru bimbingan dan konseling

5. Mempromosikan akuntabilitas program bimbingan dan konseling. Baik secara sendiri-sendiri maupun kolektif.

Berdasarkan data yang diperoleh tujuan pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling ini bisa tercapai dan yang mampu mencapai tujuan supervisi layanan bimbingan dan konseling yaitu SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga. Sedangkan SMK Negeri 1 Salatiga belum mencapai tujuan, karena tugas dan tanggung jawab kepala sekolah di sekolah tersebut yang menjadi hambatan dari supervisi layanan bimbingan dan konseling, sehingga tujuan supervisi belum tercapai.

(14)

36 4.4.3 Pendekatan Pelaksanaan Supervisi Layanan Bimbingan dan

Konseling oleh Kepala Sekolah Di SMA Kristen 1 Salatiga

Pendekatan yang digunakan dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di SMA dan SMK di kota Salatiga yaitu berupa pendekatan perilaku yang diketahui dilaksanakan di SMA Kristen 1 Salatiga. Boyd (1978) mengungkapkan bahwa pendekatan perilaku menekankan fungsi pelatihan dan instruksional. Sedangkan, SMA Negeri 1 Salatiga, SMK Kristen T dan I Salatiga dan SMK Negeri 1 Salatiga tidak menggunakan pendekatan supervisi dalam pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah.

4.4.4 Metode Pelaksanaan Supervisi Layanan bimbingan dan Konseling oleh Kepala Sekolah SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga

Pelaksanaan supervisi layanan bimbingan dan konseling oleh kepala sekolah di empat sekolah menggunakan metode supervisi administratif dan supervisi klinis. Supervisi administratif dilakukan di SMK Kristen T dan I Salatiga, SMA Negeri 1 Salatiga, SMK Negeri 1 Salatiga dan SMA Kristen 1 Salatiga dan metode supervisi klinis dilaksanakan oleh kepala sekolah SMA Kristen 1 Salatiga.

Menurut Barret dan Schimidt (dalam Taufiq, 2008), melalui supervisi administratif dapat diketahui adanya jaminan bahwa guru pembimbing mempunyai kebiasaan pekerjaan yang dilakukan, mematuhi hukum dan kebijakan, hubungan baik dengan staf sekolah yang lain dan

(15)

37 orang tua dan kegiatan kependidikan lainnya secara efektif dikerjakan di sekolah. Supervisi klinis menyoroti peningkatan ketrampilan profesional dan fungsi-fungsi etis guru pembimbing yang sedang menerapkan ketrampilan profesionalnya dan nilai-nilainya.

Referensi

Dokumen terkait

Manajer Investasi dapat menghitung sendiri Nilai Pasar Wajar dari Efek tersebut dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab berdasarkan metode yang menggunakan asas konservatif

Gambar 3.1 Bagan Alir Rencana Kerja Tugas Akhir Start Survey Lapangan Identifikasi Masalah Pengumpulan Data Analisis Hidrologi Data Sekunder : -Data curah hujan -Peta topografi

Didalam hukum islam perbuatan kebakaran hutan merupakan perbuatan yang dilarang oleh syara’ sehingga aturan mengenai sanksi hukuman terhadap pelakunya sudah diatur

Oleh sebab itu, berikanlah aku ( Jibril) izin untuk membunuhnya tetapi kata Nabi Muhammad SAW bahwa, “ Orang itu tidak tahu kalau tahu dia dengan Aku maka dia tidak

Hasil pengujian menunjukkan tingkat keberhasilan menerima perintah suara dari kondisi yang sudah ditentukan dan pengucapan perintah suara yang memiliki variasi sama

Semen Gresik (Persero) Tbk memiliki nilai EVA yang lebih baik dibandingkan dengan PT Indocement Tunggal Prakarsa.Dari hasil perhitungan dan analisis data yang

Penulis tertarik melakukan penelitian mengenai Customer Service di Bank Jatim Syariah Cabang Darmo Surabaya, karena saya senang dengan pelayanan Customer Service yang

Pada umumnya suatu perusahaan mempunyai 3 (tiga) tujuan dalam melakukan penjualan, yaitu mencapai volume penjualan tertentu, mendapatkan laba tertentu, dan