• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanaman kakao milik masyarakat di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di lahan pertanaman kakao milik masyarakat di"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di lahan pertanaman kakao milik masyarakat di desa Candi Rejo dan desa Sidomulyo, Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang pada ketinggian ±83 m diatas permukaan laut dan identifikasi serangga dilakukan diLaboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan. Penelitian dimulai pada bulan Juni sampai dengan bulan September 2016.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman kakao yang telah berbuah, imago serangga yang tertangkap, air bersih, detergen, plastik transparan, kertas warna kuning, lem perekat tikus, minyak lampu, tali plastik, formalin dan alkohol 70%.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah triplek, bambu, lampu badai, stoples, ember, suduk tanah, botol kecil, kain kasa, jaring serangga, cup plastik, lup/ kaca pembesar, preparat/petridis, selotip, pinset, gunting, toples, kalkulator, kamera, killing bottle, buku acuan identifikasi yaitu Kalshoven (1981) dan Borror et al. (1981), dan alat tulis menulis.

Pelaksanaan Penelitian

Penentuan Lokasi Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada lahan pertanaman kakao milik masyarakat yang dibudidayakan dengan teknik PHT melalui bimbingan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBP2TP) Medan yang berada pada desa Candi Rejo, Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang dengan luas

(2)

lahan kurang lebih 4200 m2. Kemudian diambil lahan yang dijadikan sampel sebanyak 10% dari keseluruhan lahan (420 m2).Selanjutnya sampel dibagi menjadi 5 petak pengamatan, sehingga setiap petakan terdiri dari 84 m2 yang terdiri dari 9-10 pohon kakao.Lahan pertanaman kakao non PHT terletak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Biru-Biru, Kabupaten deli Serdang.Luas petakan sampel mengikuti luas petakan lahan kakao PHT.

Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel yang dilakukan sebanyak 5 kali pengambilan dengan menangkap serangga yang tertangkap pada pertanaman kakao di lahan pengamatan.Yang menjadi sampel pengamatan adalah serangga dewasa (imago) yang didapatkan di pertanaman kakao.

Penangkapan serangga dilakukan dengan menggunakan 4 perangkap yaitu: perangkap jaring (sweep net), perangkap jatuh (fit fall trap), perangkap lampu (light trap), dan perangkap kuning (yellow trap).

Gambar 9. Perangkap Jaring (Sweep Net)

Perangkap Jaring (Sweep Net)

Perangkap jaring (sweep net) terbuat dari bahan ringan dan kuat dengan kain kasa yang mudah diayunkan dan serangga yang ditangkap dapat terlihat.Pengambilan sampel pada lahan pertanaman kakao dilakukan dengan 40x

(3)

pengayunan secara diagonal pada lahan pertanaman.Serangga yang tertangkap kemudian dikumpulkan dan dipisahkan lalu dimasukkan kedalam botol sampel untuk diidentifikasi.Penangkapan serangga dilakukan pada pagi pukul 09.00 - 10.00 WIB.Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 5 kali.

Gambar 10.Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)

Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)

Perangkap jatuh (Pit Fall Trap) digunakan untuk menangkap serangga yang hidup diatas permukaan tanah.Alat ini dibuat dari cup plastik dengan volume 125 ml, kemudian kedalam cup plastik tersebut dimasukkan air jernih yang telah dicampur dengan deterjen.Cup tersebut dimasukkan kedalam tanah yang diletakkan rata dengan permukaan tanah.Cup diletakkan sebanyak 5 buah pada setiap petak pengamatan dan diberi naungan agar apabila hujan datang air tidak memenuhi cup yang dapat membuat serangga tertangkap menjadi keluar.Serangga yang jatuh kedalam cup dikumpulkan, dihitung dan dimasukkan ke dalam toples untuk diidentifikasi.Peletakan perangkap dilakukan pada pukul 07.00 – 09.00 WIB.Perangkap diletakkan selama 24 jam.Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 5 kali.

(4)

Gambar 11.Perangkap Lampu (Light Trap)

Perangkap Lampu (Light Trap)

Perangkap ini digunakan untuk menangkap serangga yang respon terhadap cahaya pada malam hari (nocturnal).Perangkap ini menggunakan lampu badai sebagai sumber cahaya. Lampu diletakkan diatas baskom yang telah dipaku bambu/ kayu dengan ketinggian + 150 cm dari permukaan tanah, baskom terlebih dahulu diisi air yang dicampur dengan detergen sehingga serangga yang tertarik cahaya lampu akan jatuh kedalam ember. Perangkap diletakkan sebanyak 1 buah pada setiap petak pengamatan.Serangga yang jatuh kedalam ember dikelompokkan sesuai dengan ordo serangga dan diidentifikasi.Pemasangan alat ini dilakukan pada pukul 17.00 – 18.00 WIB dan dipasang sepanjang malam.Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 5 kali.

(5)

Perangkap Kuning (Yellow Trap)

Perangkap ini terbuat dari kertas berwarna kuning yang berukuran 30 cm x 30 cm kemudian dilapisi plastik bening yang diolesi dengan lem perekat tikus dan ditempelkan pada triplek yang dipaku pada bambu setinggi + 150 cm. Pemasangan perangkap ini dilakukan pada pukul 11.00 – 12.00 WIB. Perangkap diletakkan sebanyak 1 buah pada setiap petak pengamatan.Penangkapan dilakukan 1 minggu sekali dengan jumlah pengamatan sebanyak 5 kali.

Seluruh serangga yang terdapat dalam perangkap diambil kemudian diamati (diidentifikasi) secara langsung di lapangan maupun di laboratorium dengan mengacu pada buku kunci determinasi serangga yaitu Kalshoven (1981) dan Borror, et al. (1992).

Identifikasi Serangga

Serangga yang didapat di lapangan dikelompokkan sesuai dengan ordonya. Serangga yang dikenali spesiesnya diindentifikasi langsung dilapangan, sedangkan serangga yang belum dikenal diidentifikasi di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan dengan mengacu pada buku kunci determinasi serangga, antara lain Kalshoven (1981) dan Borroretal. (1992). Identifikasi dilaksanakan maksimal sampai pada tingkat famili.

Peubah Amatan

1. Jumlah dan Jenis Serangga Tertangkap

Serangga yang tertangkap dari berbagai perangkap dikumpulkan, diamati dan diidentifikasi dengan menggunakan buku kunci determinasi serangga kemudian dihitung sesuai dengan jenis famili masing-masing pada setiap

(6)

pengamatan.

2. Nilai Frekuensi Mutlak, Frekuensi Relatif, Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif pada setiap pengamatan.

Dengan diketahuinya jumlah populasi serangga tertangkap yang telah diidentifikasi maka dapat dihitung nilai frekuensi mutlak, frekuensi relatif, kerapatan mutlak, kerapatan relatif pada setiap pengamatan.

3. Nilai Indeks Keragaman Jenis Serangga

Setelah jumlah serangga yang tertangkap pada setiap pengamatan diketahui, maka dihitung indeks keragaman pada masing-masing pengamatan dengan menggunakan rumus indeks Shanon-Weiner (H).

4. Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga

Untuk menilai kemantapan atau kestabilan suatu serangga dalam suatu komunitas maka dapat digunakan nilai indeks kemerataan jenis.

Metode Analisa Data

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei yaitu dengan melakukan pengambilan sampel serangga pada pertanaman kakao yang dibudidayakan secara PHT dan non PHT di Kecamatan Biru-biru. Serangga yang diperoleh pada setiap penangkapan setelah dikumpulkan, dikelompokkan dan diidentifikasi langsung dan juga dilaboratorium, kemudian dianalisis dengan menggunakan rumus-rumus sebagai berikut :

- Kerapatan Mutlak (KM) suatu jenis serangga

Kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak (Suin, 1997).

(7)

KR = KM x 100% ∑ KM

KR = Jumlah individu suatu jenis dalam setiap penangkapan × 100% Total individu dalam setiap penangkapan

- Frekuensi Mutlak (FM) suatu jenis serangga

Frekuensi mutlak menunjukkan jumlah keseringhadiran suatu serangga tertentu yang ditemukan pada habitat tiap pengamatan yang dinyatakan secara mutlak(Suin, 1997).

- Frekuensi Relatif (FR) suatu jenis serangga

Frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut (Suin, 1997).

FR = FM × 100% ∑ FM

FR = Nilai FM suatu jenis serangga setiap penangkap x 100% Nilai FM semua jenis serangga setiap penangkapan

- Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga

Untuk membandingkan tinggi rendahnya keragaman jenis serangga digunakan indeks Shanon-Weiner (H) dengan rumus :

s H = -

Σ

pi ln pi i=1 pi = ni N Dimana :

pi = perbandingan jumlah individu suatu jenis dengan keseluruhan jenis Pi = ni/N ni = jumlah individu jenis ke-i

(8)

N = jumlah total individu semua jenis (Price, 1997).

Dengan kriteria indeks keanekaragaman menurut Krebs (1978) sebagai berikut :

H > 3 (Tinggi) 1 < H < 3 (Sedang) H < 1 (Rendah)

- Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga

Untuk menilai kemantapan atau kestabilanjenis serangga dalam suatu komunitas maka dapat digunakan nilai indeks kemerataan antar jenis dengan menggunakan rumus :

E’ = H’ / ln(S) Dimana :

E’ = Indeks kemerataan jenis H’ = Indeks Shannon

S = Jumlah jenis yang ditemukan ln = Logaritma natural

Dengan kriteria indeks kemerataan jenis menurut Odum (1996) sebagai berikut :

E’ < 0.3 menunjukkan kemerataan jenis tergolong rendah E’ = 0.3 – 0.6 menunjukkan kemerataan jenis tergolong sedang E’ > 0.6 menunjukkan kemerataaan jenis tergolong tinggi.

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah dan Jenis Serangga yang Tertangkap

Tabel 1. Jumlah dan Jenis Serangga yang Tertangkap

Ordo Famili

Lahan PHT Lahan Non PHT Pengamatan (Ekor)

Total Pengamatan (Ekor) Total I II III IV V I II III IV V Hemiptera Alydidae 1 0 1 4 4 10 0 0 0 0 0 0 Cicadidae 0 1 2 4 2 9 2 3 1 0 4 10 Miridae 7 10 8 13 9 47 29 16 24 16 13 98 Pentatomidae 6 4 1 3 3 17 5 6 0 3 5 19 Hymenoptera Eulophidae 8 0 3 7 9 27 3 5 0 7 4 19 Formicidae 232 112 169 146 103 762 104 73 28 67 87 359 Ichneumonidae 11 25 13 17 15 81 8 17 9 11 20 65 Pompilidae 19 21 16 18 14 88 23 28 21 21 16 109 Vespidae 2 7 3 9 11 32 4 6 2 6 12 30 Diptera Agromyzidae 1 8 3 11 12 35 15 20 12 15 14 76 Calliphoridae 0 17 6 13 7 43 6 5 11 10 13 45 Culicidae 4 3 0 6 5 18 12 15 4 13 20 64 Muscidae 10 16 13 7 11 57 3 8 4 7 4 26 Sciaridae 15 21 17 29 26 108 256 213 93 198 172 932 Stratiomydae 6 8 5 9 6 34 5 6 8 10 8 37 Tachinidae 44 18 31 28 21 142 23 40 29 37 17 146 Tephritidae 57 69 42 53 82 303 8 14 5 34 58 119 Homoptera Cicadellidae 0 13 15 16 12 56 26 41 24 43 18 152 Delphacidae 1 2 2 1 5 11 0 0 0 0 0 0 Lepidoptera Cossidae 2 7 8 3 2 22 12 9 16 11 18 66 Geometridae 1 4 0 2 4 11 3 1 0 5 4 13 Noctuidae 3 6 3 4 3 19 2 9 3 7 4 25 Papilionidae 1 5 4 0 3 13 2 1 6 2 0 11 Coleoptera Anthicidae 0 5 3 4 0 12 3 1 6 2 3 15 Carabidae 12 10 7 13 6 48 16 12 2 13 9 52 Cerambycidae 1 2 1 3 2 9 1 3 7 5 4 20 Chrysomelidae 4 17 12 6 10 49 12 9 12 15 8 56 Coccinellidae 18 69 43 56 50 236 21 18 29 23 12 103 Curculionidae 2 8 9 5 8 32 9 3 13 11 2 38 Lampyridae 1 1 0 2 6 10 0 0 0 0 0 0 Oedemeridae 3 2 6 4 2 17 2 3 5 4 5 19 Scarabaeidae 8 18 12 11 7 56 7 7 9 8 6 37 Tenebrionidae 8 3 9 7 11 38 6 9 4 3 3 25 Orthoptera Acrididae 3 7 9 5 2 26 12 5 3 3 2 25 Gryllidae 10 17 8 29 12 76 27 41 20 24 51 163 Gryllotalpidae 1 0 0 1 0 2 0 0 0 0 0 0 Tettigonidae 1 1 2 4 3 11 2 6 2 5 2 17 Odonata Ghomphidae 3 4 2 0 4 13 2 3 2 1 4 12 Lestidae 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 2 4 Libellulidae 0 1 1 3 1 6 2 1 1 2 3 9 Dermaptera Forficuloidea 2 1 2 2 0 7 0 0 0 0 0 0 Blatodea Blaberidae 1 2 2 0 3 8 2 3 1 2 1 9 Blattellidae 1 1 4 3 2 11 5 3 2 4 2 16 Mantodea Mantidae 0 1 2 3 4 10 0 0 0 0 0 0 Isoptera Rhinotermitidae 118 0 0 31 0 149 354 0 0 293 0 647 Total 628 547 499 595 502 2771 1035 664 418 941 630 3688

(10)

Pada Tabel 1 dapat diketahui bahwa hasil pengamatan serangga yang tertangkap pada lahan pertanaman kakao dengan teknik pengendalian hama terpadu (PHT) terdiri dari 12 ordo dan 44 famili dengan jumlah populasi serangga sebanyak 2771 ekor, sedangkan pada lahan kakao non PHT serangga yang tertangkap lebih sedikit yaitu 10 Ordo dan 39 familidengan jumlah populasi serangga sebanyak3688 ekor. Hal ini disebabkan karena pengendalian hama pada lahan kakao PHT hanya dilakukan apabila serangan hama sudah melewati batas ambang ekonomi dan kegiatan pengendalian yang dilakukan diusahakan spesifik pada hama yang ingin dikendalikan, sementara pada lahan kakao non PHT pengendalian hama dilakukan menggunakan pestisida kimiawi sehingga ikut membunuh jenis serangga lainnya yang menjadikan jenis famili serangga menjadi sedikit dan menyebabkan hama menjadi resisten yang mengakibatkan meningkatnya jumlah serangga tertentu. Rauf et al.(2000) menyatakan bahwa penggunaan pestisida kimiawi secara terus menerusakan menimbulkan masalah yang lebih berat yaitu terbunuhnya musuh alami, terjadinya resistensi, peledakan hama skunder, dan pencemaran lingkungan.

Hasil pengamatan menunjukkan jumlah serangga yang paling banyak tertangkap pada pertanaman kakao PHT adalah Formicidae dari ordo Hymenoptera yang berjumlah 762 ekor yang didominasi oleh spesies semut hitam. Adanya salah satu konsep PHT yang diterapkan pada lahan kakao PHT yaitu pembuatan sarang-sarang semut merupakan penyebab utama banyaknya spesies ini.Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan tersebut berhasil mendatangkan semut.

(11)

Berdasarkan hasil pengamatan pada lahan kakao dengan teknik PHT diketahui bahwa jumlah serangga yang paling sedikit tertangkap adalah Gryllotalpidae dari ordo Orthoptera yaitu sebanyak 2 ekor.Penyebabnya yaitu habitatnya yang berada di dalam tanah dan sangat jarang keluar kecuali malam hari (serangga nocturnal). Frank, et. al. (2007) menyatakan bahwa gryllotalpidae(Anjing tanah) adalah hewan yang agak jarang terlihat karena lebih suka bersembunyi dalam lubang dan aktif pada malam hari mencari makanan.

Hasil pengamatan pada lahan kakao non PHT menunjukkan jumlah serangga yang paling banyak tertangkap adalahSciaridae dari ordo Dipterayang berjumlah 932 ekor.Hal ini dikarenakan lokasi lahan kakao PHT yang dekat dengan sungai dan lahan yang pada saat penelitian sedang dalam keadaan semak.Tempat seperti ini merupakan habitat yang disukai oleh serangga ini.Salmela dan Vilkamaa (2005) menyatakan bahwa Sciaridaeadalah sejenis serangga yang menyerupai nyamuk tetapi lebih kecil dan biasanya terdapat di tepi laut, sungai dan kawasan semak.

Pada lahan kakao non PHT menunjukkan jumlah serangga yang paling sedikit tertangkap adalah Lestidae dari ordo Odonata dengan jumlah yang tertangkap yaitu 4 ekor.Penyebabnya adalah serangga jenis ini kemampuan terbangnya lemah dengan wilayah jelajah yang tidak luas. Rahadi et al. (2013) menyatakan bahwa Lestidae termasuk jenis zygoptera (capung jarum) memiliki sepasang mata majemuk terpisah, ukuran tubuh relatif kecil, ukuran sayap depan dan belakang sama besar serta posisi sayap dilipat diatas tubuh saat hinggap, kemampuan terbang cenderung lemah dengan wilayah jelajah tidak luas.

(12)

penangkapan berbeda-beda.Serangga yang paling banyak tertangkap pada penangkapan pertama yaitu 628 ekor dan berbeda-beda jumlahnya di penangkapan-penangkapan berikutnya. Hal ini disebabkan karena kondisi fisik ekosistem yang tidak selalu sama. Menurut Susniahtiet al. (2005) faktor fisikterbatas kepada suhu, kelembaban, cahaya, curah hujan dan angin yang mudah dievaluasi.Setiap serangga mempunyai kisaran fisik tertentu, dimana pada kisaran terendah ataupun kisaran tertinggi, serangga tersebut masih dapat bertahan hidup.

Penangkapan serangga pada lahan kakao non PHT juga berbeda-beda.Jumlah serangga paling sedikit terdapat pada pengamatan ke-3.Hal ini dipengaruhi oleh adanya penggunaan herbisida kimiawi untuk mengendalikan gulma yang menyebabkan berkurangnya serangga-serangga yang melakukan aktivitasnya di permukaan tanah.

Dari empat cara penangkapan yang dilakukan, jumlah serangga yang paling banyak tertangkap adalah pada perangkap kuning (yellow trap) dan paling sedikit pada perangkap jaring (sweep net). Hal ini dikarenakan serangga pada umumnya lebih tertarik pada gelombang cahaya warna kuning yang dipantulkan dari perangkap kuning sehingga mendekati perangkap kuning yang telah diberi perekat dan akhirnya melekat di perangkap sedangkan pada perangkap jaring serangga yang ditangkap relatif sedikit karena saat penangkapan secara langsung serangga tidak selalu ada dan dipengaruhi daya mobilitas serangga yang tinggi.

Status Fungsi Serangga yang Tertangkap

Setiap spesies mempunyai relung (cara hidup) dan fungsi yang berbeda dan berkaitan satu dengan yang lainnya. Selama spesies serangga tersebut

(13)

melaksanakan fungsinya dan bekerjasama dengan baik maka keteraturanekosistem akan tetap terjaga. Berikut ini dapat dilihat jenis serangga dan masing-masing fungsi serangga yang tertangkap pada Tabel 2.

Tabel 2. Status Fungsi Serangga yang Tertangkap Ordo Famili Status Fungsi

Serangga

Total

Lahan PHT Lahan Non PHT

Hemiptera

Alydidae Hama 10 0

Cicadidae Tidak Diketahui 9 10

Miridae Hama 47 98

Pentatomidae Hama 17 19

Hymenoptera

Eulophidae Parasitoid 27 19

Formicidae Predator/ Dekomposer 762 359

Ichneumonidae Parasitoid 81 65 Pompilidae Parasitoid 88 109 Vespidae Predator 32 30 Diptera Agromyzidae Hama 35 76 Calliphoridae Dekomposer 43 45 Culicidae Hama 18 64 Muscidae Predator 57 26 Sciaridae Hama 108 932 Stratiomydae Hama 34 37 Tachinidae Parasitoid 142 146 Tephritidae Hama 303 119

Homoptera Cicadellidae Hama 56 152

Delphacidae Hama 11 0

Lepidoptera

Cossidae Hama 22 66

Geometridae Hama 11 13

Noctuidae Hama/ Polinator 19 25

Papilionidae Polinator 13 11

Coleoptera

Anthicidae Tidak Diketahui 12 15

Carabidae Predator 48 52

Cerambycidae Hama/ Dekomposer 9 20

Chrysomelidae Hama 49 56 Coccinellidae Predator 236 103 Curculionidae Hama 32 38 Lampyridae Predator 10 0 Oedemeridae Dekomposer 17 19 Scarabaeidae Hama 56 37 Tenebrionidae Hama 38 25 Orthoptera Acrididae Hama 26 25 Gryllidae Hama 76 163 Gryllotalpidae Hama 2 0 Tettigonidae Hama 11 17 Odonata Ghomphidae Predator 13 12 Lestidae Predator 0 4 Libellulidae Predator 6 9

Dermaptera Forficuloidea Predator 7 0

Blatodea Blaberidae Hama/ Dekomposer 8 9

(14)

Mantodea Mantidae Predator 10 0 Isoptera Rhinotermitidae Hama/ Dekomposer 149 647

Total 2771 3688

Dari Tabel 2 diketahui bahwa status serangga yang terdapat pada lahan pertanaman kakao dengan teknik PHT yaitu serangga yang diketahui sebagai hama terdiri dari 25 famili dari 8 ordo, serangga sebagai predator terdiri dari 11 famili dari 6 ordo. Status serangga sebagai parasitoid berasal dari 4 famili dari ordo Hymenoptera dan Diptera, serangga yang berstatus sebagai polinator hanya terdapat pada ordo Lepidoptera yaitu pada famili Noctuidae danPapilionidae.Status serangga sebagai dekomposer terdiri dari 7 famili dari 5 ordo sedangkan status fungsi serangga yang tidak diketahui yakni Cicadidae dari ordo hemiptera dan famili Anthicidae dari ordo coleoptera.

Pada lahan pertanaman kakao dengan teknik non PHT diketahui bahwa status serangga sebagai hama terdiri dari 22 famili dari 8 ordo, serangga sebagai predator terdiri dari 8 famili dan 4 ordo. Status serangga sebagai parasitoid berasal dari 4 famili dari ordo Hymenoptera dan Diptera, serangga yang berstatus sebagai polinator terdapat pada ordo Lepidoptera yaitu pada famili Noctuidae dan Papilionidae.Status serangga sebagai dekomposer terdiri dari 7 famili dari 5 ordo sedangkan status fungsi serangga yang tidak diketahui yakni Cicadidae dari ordo hemiptera dan famili Anthicidae dari ordo coleoptera.

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa jenis family serangga yang diketahui sebagai hama dan predator lebih banyak terdapat pada lahan kakao PHT yaitu pada hama 25 famili dari 8 ordo dibandingkan dengan lahan kakao non PHT yaitu 22 famili dari 8 ordo sedangkan pada predator di lahan kakao PHT yaitu 11 famili dari 6 ordo dibandingkan dengan lahan kakao non PHT yaitu 8 famili dari 4 ordo. Sementara itu diketahui bahwa jenis serangga yang berstatus sebagai

(15)

parasitoid, polinator, dekomposer dan yang tidak diketahui pada kedua tempat penelitian adalah sama. Hal ini dikarenakan pada lahan kakao non PHT digunakan pestisida kimiawi secara terus-menerus sehingga menghilangkan berbagai jenis serangga pada lahan.Rauf et al. (2000) menyatakan bahwa penggunaan pestisida kimiawi secara terus menerus akan menimbulkan masalah yang lebih berat yaitu terbunuhnya musuh alami, terjadinya resistensi, peledakan hama skunder, dan pencemaran lingkungan.

Jumlah jenis famili serangga yang berstatus sebagai hama pada lahan penelitian umumnya lebih banyak pada lahan kakao non PHT dibandingkan dengan lahan kakao dengan PHT kecuali pada Tephritidae, Curculionidae, Scarabaeidae, Acrididae, dan Tenebrionidae. Hal ini dikarenakan adanya berbagai pengendalian yang dilakukan pada lahan kakao PHT yang menekan jumlah hama. Pada lahan kakao PHT juga dilakukan sistem tanam tumpang sari dengan nenas, pepaya, pisang, durian dan lain-lain yang menyebabkan keanekaragaman jenis serangga pada lahan khususnya kehadiran lalat buah (Tephritidae) yang cukup banyak. Alyoklin et al. (1991) menyatakan bahwa spesies lalat buah merupakan hama penting yang berasosiasi dengan berbagai buah-buahan dan sayuran tropika yang menyebabkan kerusakan langsung terhadap 150 spesies tanaman buah dan sayuran.

Berdasarkan Tabel 2, tampak bahwa terdapat keseimbangan ekosistem diantara serangga – serangga pada areal tersebut. Hal ini dapat diketahui karena pada kedua pertanaman kakao serangga yang didapatkan tidak hanya berstatus sebagai hama, melainkan terdapat juga parasitoid, predator, dan serangga berguna lainnya. Putra (1994) menyatakan bahwa setiap serangga mempunyai sebaran

(16)

khas yang dipengaruhi oleh biologi serangga, habitat dan kepadatan populasi.

Nilai Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif, Frekuensi Mutlak, Frekuensi Relatif Pada Lahan

Tabel 3. Nilai Kerapatan Mutlak, Kerapatan Relatif, Frekuensi Mutlak, Frekuensi Relatif pada Lahan

Ordo Famili Lahan PHT Lahan Non PHT

KM KR (%) FM FR KM KR FM FR (%) Hemiptera Alydidae 10 0.3609 4 2.0202 0 0 0 0 Cicadidae 9 0.3248 4 2.0202 10 0.2711 4 2.1622 Miridae 47 1.6961 5 2.5253 98 2.6573 5 2.7027 Pentatomidae 17 0.6135 5 2.5253 19 0.5152 4 2.1622 Hymenoptera Eulophidae 27 0.9744 4 2.0202 19 0.5152 4 2.1622 Formicidae 762 27.4991 5 2.5253 359 9.7343 5 2.7027 Ichneumonidae 81 2.9231 5 2.5253 65 1.7625 5 2.7027 Pompilidae 88 3.1757 5 2.5253 109 2.9555 5 2.7027 Vespidae 32 1.1548 5 2.5253 30 0.8134 5 2.7027 Diptera Agromyzidae 35 1.2631 5 2.5253 76 2.0607 5 2.7027 Calliphoridae 43 1.5518 4 2.0202 45 1.2202 5 2.7027 Culicidae 18 0.6496 4 2.0202 64 1.7354 5 2.7027 Muscidae 57 2.0570 5 2.5253 26 0.7050 5 2.7027 Sciaridae 108 3.8975 5 2.5253 932 25.2711 5 2.7027 Stratiomydae 34 1.2270 5 2.5253 37 1.0033 5 2.7027 Tachinidae 142 5.1245 5 2.5253 146 3.9588 5 2.7027 Tephritidae 303 10.9347 5 2.5253 119 3.2267 5 2.7027 Homoptera Cicadellidae 56 2.0209 4 2.0202 152 4.1215 5 2.7027 Delphacidae 11 0.3970 5 2.5253 0 0 0 0 Lepidoptera Cossidae 22 0.7939 5 2.5253 66 1.7896 5 2.7027 Geometridae 11 0.3970 4 2.0202 13 0.3525 4 2.1622 Noctuidae 19 0.6857 5 2.5253 25 0.6779 5 2.7027 Papilionidae 13 0.4691 4 2.0202 11 0.2983 4 2.1622 Coleoptera Anthicidae 12 0.4331 3 1.5152 15 0.4067 5 2.7027 Carabidae 48 1.7322 5 2.5253 52 1.4100 5 2.7027 Cerambycidae 9 0.3248 5 2.5253 20 0.5423 5 2.7027 Chrysomelidae 49 1.7683 5 2.5253 56 1.5184 5 2.7027 Coccinellidae 236 8.5168 5 2.5253 103 2.7928 5 2.7027 Curculionidae 32 1.1548 5 2.5253 38 1.0304 5 2.7027 Lampyridae 10 0.3609 4 2.0202 0 0 0 0 Oedemeridae 17 0.6135 5 2.5253 19 0.5152 5 2.7027 Scarabaeidae 56 2.0209 5 2.5253 37 1.0033 5 2.7027 Tenebrionidae 38 1.3713 5 2.5253 25 0.6779 5 2.7027 Orthoptera Acrididae 26 0.9383 5 2.5253 25 0.6779 5 2.7027 Gryllidae 76 2.7427 5 2.5253 163 4.4197 5 2.7027 Gryllotalpidae 2 0.0722 2 1.0101 0 0 0 0 Tettigonidae 11 0.3970 5 2.5253 17 0.4610 5 2.7027 Odonata Ghomphidae 13 0.4691 4 2.0202 12 0.3254 5 2.7027 Lestidae 0 0 0 0 4 0.1085 3 1.6216 Libellulidae 6 0.2165 4 2.0202 9 0.2440 5 2.7027 Dermaptera Forficuloidea 7 0.2526 4 2.0202 0 0 0 0 Blatodea Blaberidae 8 0.2887 4 2.0202 9 0.2440 5 2.7027

(17)

Mantodea Mantidae 10 0.3609 4 2.0202 0 0 0 0 Isoptera Rhinotermitidae 149 5.3771 2 1.0101 647 17.5434 2 1.0811

Total 2771 100 198 100 3688 100 185 100

Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi pada lahan kakao PHT terdapat padaFormicidae dengan nilai KM = 762 dan KR = 27,49% sedangkan yang terendah terdapat pada Gryllotalpidaedengan nilai KM = 2 dan KR = 0,07%. Hal ini disebabkan karena Formicidae pada lahan pengamatan adalah famili paling banyak tertangkap dan yang paling sedikit tertangkap adalah Gryllotalpidae.Michael (1995) menyatakan bahwa kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.

Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif tertinggi pada lahan kakao PHT terdapat pada famili Miridae, Pentatomidae, Formicidae, Ichneumonidae,Pompilidae, Vespidae, Agromyzidae, Muscidae, Sciaridae, Stratiomydae, Tachinidae, Tephritidae, Delphacidae, Cossidae, Noctuidae, Cerambycidae, Chrysomelidae, Coccinellidae, Curculionidae, Oedemeridae, Scarabaeidae, Tenebrioidae, Acrididae, Gryllidae, Tettigonida, dan Blattellidaedengan nilai FM = 5 dan FR = 2,52%. Nilai tersebut karena serangga tersebut sering hadir dalam lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut luas di daerah lahan pertanaman kakao.Hal ini sesuai dengan Michael (1995) yang menyatakan bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.

Dari hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif terendah pada lahan kakao PHT terdapat pada famili Gryllotalpidae dan Rhinotermitidae dengan nilai FM = 2 dan FR = 1,01%. Nilai

(18)

yang rendah disebabkan karena serangga tersebut jarang hadir pada lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut tidak luas pada lahan pengamatan.Michael (1995) menyatakan bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.

Pada pengamatan kakao non PHT diketahui bahwa nilai kerapatan mutlak dan kerapatan relatif tertinggi adalahSciaridaedengan nilai KM = 932 dan KR = 25,27% sedangkan nilai yang terendah adalahLestidaedengan nilai KM = 4 dan KR = 0,10%. Hal ini disebabkan karenaSciaridae adalah famili yang paling banyak tertangkap dan yang paling sedikit tertangkap adalahLestidae.Berdasarkan Michael (1995) diketahui bahwa kerapatan mutlak menunjukkan jumlah serangga yang ditemukan pada habitat yang dinyatakan secara mutlak.

Pada lahan kakao non PHT diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan

frekuensi relatif tertinggi terdapat pada famili Miridae, Formicidae, Ichneumonidae, Pompilidae, Vespidae, Agromyzidae, Calliphoridae, Culicidae, Muscidae, Sciaridae, Stratiomydae, Tachinidae, Tephritidae, Cicadellidae, Delphacidae, Cossidae, Noctuidae, Anthicidae, Cerambycidae, Chrysomelidae, Coccinellidae, Curculionidae, Oedemeridae, Scarabaeidae, Acrididae, Gryllidae, Tettigonidae, Ghomphidae, Libellulidae, Blaberidae, dan Blattellidae dengan nilai FM = 5 dan FR = 2.70%. Nilai tersebut karena serangga tersebut sering hadir dalam lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut luas di daerah lahan pertanaman kakao.Michael (1995) yang menyatakan bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.

(19)

Dari Tabel hasil perhitungan dapat diketahui bahwa nilai frekuensi mutlak dan frekuensi relatif terendah pada lahan kakao non PHT terdapat pada famili Rhinotermitidaedengan nilai FM = 2 dan FR = 1,08%. Nilai yang rendah disebabkan karena serangga tersebut jarang hadir pada lahan pengamatan dan penyebaran serangga tersebut tidak luas pada lahan pengamatan.Hal ini sesuai dengan Michael (1995) yang menyatakan bahwa frekuensi relatif menunjukkan keseringhadiran suatu jenis serangga pada habitat dan dapat menggambarkan penyebaran jenis serangga tersebut.

Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga

Tabel 4. Nilai Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga Ordo Famili

Indeks Keanekaragaman Lahan Kakao PHT

Indeks Kenaekaragaman Lahan Kakao Non PHT Pi ln Pi H' Pi ln Pi H' Hemiptera Alydidae 0.0036 -5.6244 -0.0203 0 0 0 Cicadidae 0.0032 -5.7297 -0.0186 0.0027 -5.9103 -0.0160 Miridae 0.0170 -4.0768 -0.0691 0.0266 -3.6279 -0.0964 Pentatomidae 0.0061 -5.0938 -0.0313 0.0052 -5.2684 -0.0271 Hymenoptera Eulophidae 0.0097 -4.6311 -0.0451 0.0052 -5.2684 -0.0271 Formicidae 0.2750 -1.2910 -0.3550 0.0973 -2.3295 -0.2268 Ichneumonidae 0.0292 -3.5325 -0.1033 0.0176 -4.0385 -0.0712 Pompilidae 0.0318 -3.4496 -0.1096 0.0296 -3.5215 -0.1041 Vespidae 0.0115 -4.4612 -0.0515 0.0081 -4.8116 -0.0391 Diptera Agromyzidae 0.0126 -4.3716 -0.0552 0.0206 -3.8821 -0.0800 Calliphoridae 0.0155 -4.1658 -0.0646 0.0122 -4.4062 -0.0538 Culicidae 0.0065 -5.0366 -0.0327 0.0174 -4.0540 -0.0704 Muscidae 0.0206 -3.8839 -0.0799 0.0070 -4.9547 -0.0349 Sciaridae 0.0390 -3.2448 -0.1265 0.2527 -1.3755 -0.3476 Stratiomydae 0.0123 -4.4006 -0.0540 0.0100 -4.6019 -0.0462 Tachinidae 0.0512 -2.9711 -0.1523 0.0396 -3.2292 -0.1278 Tephritidae 0.1093 -2.2132 -0.2420 0.0323 -3.4337 -0.1108 Homoptera Cicadellidae 0.0202 -3.9016 -0.0788 0.0412 -3.1890 -0.1314 Delphacidae 0.0040 -5.5291 -0.0219 0 0 0 Lepidoptera Cossidae 0.0079 -4.8359 -0.0384 0.0179 -4.0232 -0.0720 Geometridae 0.0040 -5.5291 -0.0219 0.0035 -5.6479 -0.0199 Noctuidae 0.0069 -4.9825 -0.0342 0.0068 -4.9940 -0.0339 Papilionidae 0.0047 -5.3620 -0.0252 0.0030 -5.8149 -0.0173 Coleoptera Anthicidae 0.0043 -5.4421 -0.0236 0.0041 -5.5048 -0.0224 Carabidae 0.0173 -4.0558 -0.0703 0.0141 -4.2616 -0.0601 Cerambycidae 0.0032 -5.7297 -0.0186 0.0054 -5.2171 -0.0283 Chrysomelidae 0.0177 -4.0351 -0.0714 0.0152 -4.1875 -0.0636 Coccinellidae 0.0852 -2.4631 -0.2098 0.0279 -3.5781 -0.0999 Curculionidae 0.0115 -4.4612 -0.0515 0.0103 -4.5753 -0.0471

(20)

Lampyridae 0.0036 -5.6244 -0.0203 0 0 0 Oedemeridae 0.0061 -5.0938 -0.0313 0.0052 -5.2684 -0.0271 Scarabaeidae 0.0202 -3.9016 -0.0788 0.0100 -4.6019 -0.0462 Tenebrionidae 0.0137 -4.2894 -0.0588 0.0068 -4.9940 -0.0339 Orthoptera Acrididae 0.0094 -4.6689 -0.0438 0.0068 -4.9940 -0.0339 Gryllidae 0.0274 -3.5962 -0.0986 0.0442 -3.1191 -0.1379 Gryllotalpidae 0.0007 -7.2338 -0.0052 0 0 0 Tettigonidae 0.0040 -5.5291 -0.0219 0.0046 -5.3796 -0.0248 Odonata Ghomphidae 0.0047 -5.3620 -0.0252 0.0033 -5.7279 -0.0186 Lestidae 0 0 0 0.0011 -6.8265 -0.0074 Libellulidae 0.0022 -6.1352 -0.0133 0.0024 -6.0156 -0.0147 Dermaptera Forficuloidea 0.0025 -5.9811 -0.0151 0 0 0 Blatodea Blaberidae 0.0029 -5.8475 -0.0169 0.0024 -6.0156 -0.0147 Blattellidae 0.0040 -5.5291 -0.0219 0.0043 -5.4403 -0.0236 Mantodea Mantidae 0.0036 -5.6244 -0.0203 0 0 0 Isoptera Rhinotermitidae 0.0538 -2.9230 -0.1572 0.1754 -1.7405 -0.3053 Total 1 -201.8445 2.9052 1 -175.8301 2.7633

Nilai indeks keanekaragaman pada lahan kakao PHT adalah H’ = 2,90. Hal ini menunjukkan bahwa keanekaragaman serangga pada lingkungan lahan tersebut sedang karena H’ = 1-3 adalah kondisi lingkungan sedang. Menurut Michael (1995) bila H’ 1-3 berarti keanekaragaman serangga sedang yaitumengarah hampir baik dimana keberadaan hama dan musuh alami hampir seimbang.

Pada lahan kakao non PHT nilai indeks keanekaragaman serangga adalah H’ = 2,76. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan lingkungan dalam keadaan sedang.Michael (1995) menyatakan bila H’ 1-3 berarti keanekaragaman serangga sedang yaitu mengarah hampir baik dimana keberadaan hama dan musuh alami hampir seimbang.

Pada lahan kakao PHT, serangga yang tertangkap adalah12 ordo dan 44 famili sedangkan pada lahan kakao non PHT serangga yang tertangkap yaitu 10 Ordo dan 39 famili. Famili yang tidak terdapat pada saat penangkapan pada lahan kakao PHT adalah Lestidae dari ordo odonatasedangkan pada lahan kakao non PHT famili yang tidak ada yaitu Alydidae dari ordo hemiptera, Delphacidae dari

(21)

ordo homoptera, Lampyridae dari ordo Coleoptera, Gryllotalpidae dari ordo Orthoptera, Forficuloidae dari ordo Dermaptera, dan Mantidae dari ordo mantodea.

Penyebab perbedaan nilai indeks keanekaragaman yaitu adanya pengendalian hama terpadu yang dilakukan pada lahan kakao PHT sehingga meningkatkan keanekaragaman, selain itu juga karena lahan kakao non PHT yang cenderung heterogen yaitu hanya terdapat tanaman kakao dan tanaman durian sebagai pelindung, sedangkan pada lahan kakao PHT dilakukan dengan sistemtumpang sari dengan tanaman nenas, durian, mahoni, manggis dan pisang sehingga serangga yang terdapat pada lebih beragam. Hal ini sesuai dengan Krebs (1978) yang menyatakan semakin heterogen suatu lingkungan fisik semakin kompleks komunitas flora dan fauna disuatu tempat tersebut dan semakin tinggi keragaman jenisnya.

Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga

Tabel 5. Nilai Indeks Kemerataan Jenis Serangga Pengamatan Indeks Kemerataan Lahan

PHT

Indeks Kemerataan Lahan Non PHT

E’ 0.7677 0.7543

Nilai indeks kemerataan jenis serangga (E’) pada tanaman kakao PHT adalah 0,76 yang menunjukkan bahwa kemerataan jenis serangga pada lingkungan lahan tersebut adalah tinggi karena E’ > 0,6 maka kemerataan jenis serangga tergolong tinggi. Hal ini menunjukkan keadaan ekosistem lahan dalam keadaan baik. Mahrub (1997) menyatakan bahwa nilai kemerataan berkisaran antara 0 – 1, makin tinggi nilai E (indeks kemerataan) maka keadaan ekosistem akan lebih baik.

(22)

Pada lahan kakao non PHT nilai indeks kemerataan jenis serangga (E’) adalah 0,75 yang menunjukkan bahwa kemerataan jenis serangga pada lingkungan lahan ini juga tinggi karena jika E’ > 0,6 maka kemerataan jenisnya tergolong tinggi. Odum (1996) menyatakan bahwa nilai kemerataan (E) berkisar antara 0 dan 1 yang mana jika nilai kemerataan semakin mendekati 1 maka menggambarkan suatu keadaan dimana semua spesies cukup melimpah.

Penyebab tingginya kemerataan jenis serangga pada lahan kakao PHT dan Non PHT disebabkan karena tidak ada jenis famili yang jumlahnya sangat mendominasi. Hal ini sesuai dengan Oka (1994) yang menyatakan bahwa nilai kemerataan akan cenderung tinggi bila jumlah populasi dalam suatu famili tidak mendominasi populasi famili lainnya sebaliknya kemerataan cenderung rendah bila suatu famili memiliki jumlah populasi yang mendominasi jumlah populasi lain.

(23)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Terdapat perbedaan keanekaragaman jenis serangga pada pertanaman kakao dengan teknik budidaya PHT dan Non PHT di Kecamatan Biru-biru Kabupaten Deli Serdang. Nilai indeks keanekaragaman serangga Shanon-Weiner (H) pada pertanaman kakao dengan teknik budidaya PHT lebih tinggi yaitu 2,9052 (sedang) dibandingkan dengan pada pertanaman kakao non PHT yaitu 2,7633 (sedang).

Saran

Setelah mengetahui keanekaragaman serangga pada lahan pertanaman kakao dengan teknik PHT dan non PHT, sebaiknya petani kakao yang masih melakukan teknik budidaya non PHT beralih ke teknik PHT karena meningkatkan musuh alami dan meningkatkan keanekaragaman jenis serangga.

Gambar

Gambar 9. Perangkap Jaring (Sweep Net)  Perangkap Jaring (Sweep Net)
Gambar 10.Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)  Perangkap Jatuh (Pit Fall Trap)
Gambar 11.Perangkap Lampu (Light Trap)  Perangkap Lampu (Light Trap)
Tabel 1. Jumlah dan Jenis Serangga yang Tertangkap
+3

Referensi

Dokumen terkait

Sebaliknya pada lahan pertanaman bawang merah yang tidak menggunakan sprinkler jumlah serangga yang tertangkap lebih banyak dari lahan yang menggunakan sprinkler yaitu

Karena waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki pompa hanya sebentar + 15 menit, Masinis jaga dan Juru Minyak jaga yang pada saat itu berada dalam kamar mesin

Welch-Powell telah memberikan kesimpulan bahwa teknik pewarnaan simpul graf dengan menggunakan algoritma Welch-Powell dapat diterapkan untuk membentuk jadwal ujian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kerusakan Biji Kakao Oleh Hama Penggerek Buah (C. Cramerella Snellen) Pada Pertanaman Kakao Di Desa Muntoi dan Desa

Diperlukan pengetahuan mengenai evaluasi lahan secara kualitatif dan kuantitatif. Penelitian dilaksanakan pada 5 unit lahan pertanaman padi gogo di Laboratorium Lapang Terpadu

Sistem aktivasi proPO dipertimbangkan sebagai bagian dari sistem imun yang mungkin bertanggung jawab terhadap proses pengenalan benda asing dalam sistem pertahanan krustase dan

Aplikasi Delphi dan Mikrokontroller ATMega 8535 dapat diaplikasikan pada alat ukur kecepatan respon manusia dengan program aplikasi Delphi yang di gunakan sebagai otak