Penanya:
Saya baru saja membaca buku yang menyatakan bahwa Allah memiliki sembilan puluh sembi-lan nama. Berapa sebenarnya jumlah nama Allah?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Allah memiliki demikian banyak nama sehingga kita tidak akan mampu mengenali semuanya, tetapi melalui panca indera yang kita miliki, Dia memanifestasikan Wujud-Nya dengan cara yang bisa kita mengerti. Allah tidak mengenal batas sedangkan pemahaman kita terbatas. Karena itu apakah
nama-Nya ada sembilan puluh sembilan atau pun seratus satu, bukanlah suatu hal yang relevan. Kenyataan-nya memang benar Allah memani-festasikan Wujud-Nya kepada manusia yang nyatanya memiliki fitrat terbatas. Adalah kemampuan manusia itu yang menentukan bagaimana Tuhan memanifes-tasikan Diri-Nya kepada seseorang. Tuhan tidak akan menampakkan Diri-Nya kepada manusia di luar k emampu an m erek a u n tu k memahami. Sebagai contoh, jika anda memperlihatkan wajah anda kepada seorang yang buta matanya dan mengatakan kepada yang
ber-Keimanan pada
Wujud Ilahi
H azrat M irza Tah ir Ah m ad, K h alifah ke em pat d ari J e m a a t Isla m A h m adiyah selalu m e m be r ik a n kesem patan dari w aktu ke w aktu kepada sem ua oran g dari segala ba n g sa, agam a dan keyakinan untuk bertanya tentang segala hal yang m enarik bagi m ereka. D i bawah in i adalah notulen tan ya ja w ab pada suatu sesi di Lon don pada tan ggal 8 Agustu s 1997, 29 Januari 1995 dan 23 April 1997.
sangkutan ‘Lihat, betapa cantiknya diriku, lihat hidungku, lihat wajahku dan mataku’ - apa yang bisa dilakukan oleh orang buta itu? Tidak ada suatu pun! Anda memiliki semua fitrat diri seperti resam tubuh, warna kulit, kekuatan atau kelemahan diri, belum lagi ada ratusan posibilitas yang berkaitan dengan pandangan saja, namun yang jelas anda tidak akan bisa menampakkan diri anda itu kepada seseorang yang tidak memiliki penglihatan. Begitu juga Tuhan tidak akan sia-sia memperlihatkan Diri-Nya - Dia tidak akan memani-festasikan fitrat-Nya kepada mereka yang hanya memiliki kemampuan terbatas dan mengandalkan panca indera saja. Hanya saja, setelah kematian nanti memang indera-indera itu akan menjadi lebih tajam dan kemungkinan kita akan dibekali dengan indera baru
dimana Allah akan terlihat dalamswt
tampilan fitrat baru - suatu manifestasi yang dibukakan kepada kita yang sekarang ini bahkan berada di luar jangkauan bayangan khayalan manusia.
Penanya:
Dalam bu k u y an g sama dikatakan bahwa beberapa nama tertentu dari Allah bisa dibaca berulang-ulang untuk mengusir kejahatan atau mengangkat musibah. Apakah hal ini bisa dipercaya?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Semata-mata mengulang-ulang nama apa pun tidak akan bisa mengusir kejahatan, tetapi peng-ulangan beberapa nama itu sendiri bisa memberikan kekuatan untuk berkonsentrasi atas makna dari nama tersebut. Setiap fitrat Allah sepertinya berdiri sendiri tetapi jika kalian memusatkan fikiran atas hal itu dan mengulang-ulangnya maka akan muncul makna baru di hadapan kalian, sama halnya seperti kalian jika memutar atau menggerakkan kaleidoskop akan muncul bentuk-bentuk baru di hadapan kalian. Sama seperti itu, pengulangan nama atau fitrat Ilahi ditujukan untuk menciptakan efek dimaksud dalam fikiran kalian. Sebagai contoh, fitrat Rahman (Maha Pengasih) yang diulang-ulang sehingga kini bermakna meliput seluruh alam semesta. Kata
‘Rahman’ itu sendiri sepertinya fitrat tunggal tetapi nyatanya meli-puti seluruh sejarah umat manusia, seluruh sejarah penciptaan alam semesta, seluruh sejarah hubungan Allah dengan manusia dan seba-gainya. Misalnya kalian mengulang-ulang kata itu saja sepanjang hayat, masih saja maknanya tidak pernah akan habis diungkapkan. Dengan demikian maka tujuan pengulangan fitrat-fitrat Ilahi adalah guna mem-peroleh pemahaman yang lebih mendalam akan maknanya. Meski keluasan makna yang dikandung-nya jauh berada di luar kemam-puan nalar kita, tetap saja perlu bagi kita merenungi makna dari pada fitrat-fitrat itu dan mengem-bangkannya dalam pandangan kita dengan cara mengulang-ulangnya.
Dengan rahmat Allah tambahswt
mendalam kita memahami fitrat Rahman akan bertambah dekat hubungan kita kepada Rahman tersebut. Ini juga yang menjadi tujuan dari mengulang-ulang suatu fitrat Ilahi ketika sedang meng-hadapi suatu masalah khusus. Hanya mengulang-ulang menyebut fitrat Ilahi seperti seekor burung beo dengan sendirinya tidak akan memberikan manfaat apa pun.
Penanya:
Karena dibesarkan sebagai seorang Kristiani, dengan sen-dirinya saya sudah terbiasa diajarkan untuk mempercayai Yesus. Bagaimana caranya mengalihkan kepercayaan itu kepada Islam?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Kenyataan bahwa bila anda telah beriman kepada seorang Nabi Ilahi berarti anda juga mengimani semua Nabi Allah. Ada yang menarik dari apa yang biasa dikemukakan oleh kelompok Saksi Yehovah yang selalu menekankan bahwa Yesus Kristus satu-satunya jalan, beliau adalah Alpha dan juga Omega dengan menafikan wujud yang lainnya. Bukan demikian pan-dangan kami dalam memahami fitrat agama. Sebenarnya dalam setiap agama, anda akan menemu-kan pernyataan-pernyataan yang sama bertalian dengan kurun masa dan bangsa yang dituju oleh agama bersangkutan. Memang benar untuk bangsa tersebut agama tadi menjadi jalan terbaik tetapi tidak berarti terbaik secara universal. Yang dimaksud ialah untuk suatu kurun waktu dan tempat tertentu,
jika bangsa bersangkutan tidak mengikuti Nabi yang diutus kepada mereka maka mereka tidak akan mendapat penebusan atau kesela-matan, dan pernyataan seperti ini terdapat di semua agama. Di tengah kita hari ini (dalam sesi ini) ada seorang cendekiawan agama yang telah melakukan riset mendalam tentang ajaran Buddha dan Hindu serta agama-agama lain dan yang bersangkutan menyatakan bahwa pernyataan mendasar demikian ter-dapat dalam semua agama. Kitab su ci Al-Quran memecah kan problema ini dengan menyatakan bahwa semua Nabi yang diutus untuk menyelamatkan manusia dari dosa, sesungguhnya datang dari Tuhan yang satu, karena itu semestinya mereka diterima tanpa kecuali karena mereka semua menyeru kepada jalan yang sama. Kelihatannya jalan yang dikemu-kakan Yesus seperti berbeda tetapi Al-Quran menegaskan bahwa jalannya tetap sama namun para pengikutnya itulah yang telah menjadikannya berbeda. Dalam setiap masyarakat kepada siapa seorang Nabi telah diutus, hanya ia itulah penyeru kepada jalan yang benar. Hal ini terdapat di India,
Cina, Afrika bahkan di antara bangsa Aborigin Australia dan Indian Amerika. Dalam semua agama itu akan ditemukan kata ‘jalan yang benar, jalan utama’ atau istilah-istilah lainnya.
Penanya:
Apakah agama bukannya hanya suatu helah bagi manusia untuk menjelaskan eksistensi dirinya?
Hazrat Mirza Tahir Ahmad:
Jika kita abaikan logika yang desep-tif demikian, apakah manusia lalu menjadi tidak akan eksis? Jelas tidak! Apakah suatu agama itu benar atau salah, manusia tetap saja eksis. Logika demikian tidak ada kaitannya dengan realita kehidupan. Agama tercipta begitu manusia diciptakan karena sebelum penciptaan manusia kita tidak ada menemukan bukti-bukti adanya agama dalam bentuk kehidupan sub-human. Penciptaan manusia bergandengan dengan terciptanya agama dan eksistensi konsep Tuhan tersebut bukan hasil pemikiran ahli filosofi atau pun sosiologi. Konsep tersebut bersifat universal yang independen terhadap pengetahuan
tentang apa yang dianut oleh manusia di belahan bumi lainnya. Adalah keyakinan universal di selu-ruh dunia ini yang terkadang membuat seorang atheis berfikir bahwa memang ada suatu konsep pemikiran kuat sehingga perlu mempertimbangkan posibilitas adanya Tuhan. Mereka yang belum sepenuhnya yakin kiranya perlu mempertimbangkan pertanyaan ini secara serius yaitu ‘Mengapa konsep Tuhan ada di seluruh dunia dan di segala zaman?’ Coba tengok benua Australia dimana hidup bangsa Aborigin yang memiliki tamadun terpanjang tidak berke-putusan sejak zaman purba. Pengetahuan atau bukti tentang awal tamadun mereka membuat beberapa cendekiawan memper-kirakan bahwa budaya mereka sudah berlangsung selama empat puluh ribu tahun lamanya, sedang yang lainnya mengatakan enam puluh ribu tahun atau bahkan lebih jauh lagi. Bukti dari tamadun mereka tentang keimanan kepada Tuhan demikian mencengangkan sehingga para ahli sosiologi yang biasanya menganggap Tuhan sebagai ciptaan imajinasi manusia, terpana tidak bisa menjawab bukti
yang ditunjukkan oleh Australia itu. Bangsa Aborigin Australia terbagi dalam sekitar kurang lebih enam ratus suku bangsa yang bersifat independen satu sama lain. Masing-masing suku bangsa itu memiliki bahasa sendiri yang tidak dikenal oleh tetangganya. Secara historis mereka tidak berhubungan satu sama lain kecuali jika terka-dang bertemu di perbatasan teritori mereka dimana mereka bertemu singkat saja. Yang menjadi perta-nyaan ialah bagaimana konsep adanya satu Sang Maha Pencipta bisa terdapat pada semua suku bangsa yang independen tersebut? Beberapa cendekiawan sosiologi Kristen yang merupakan penganut taat agama Kristen mengatakan bahwa hal itu berkat kemunculan agama Kristiani yang berkembang di Australia sehingga memunculkan konsep tentang Tuhan. Namun beberapa cendekiawan Kristiani lainnya membantah hal itu dan menyebutnya sebagai tidak mem-punyai dasar sama sekali. Mereka menyatakan terdapat cukup bukti bahwa sebelum kedatangan agama Kristen ke pantai Australia, bahkan jauh sebelum budaya barat mencapai benua ini, keyakinan
pada wujud Sang Pencipta Agung itu sudah ada.
Begitu banyak bukti-bukti yang ter-sedia sehingga tidak akan ada orang waras yang akan menolak atau menyangkalnya. Kiranya hal ini cukup bagi tuan penanya tadi untuk merubah opininya tentang eksistensi Tuhan serta peran agama dalam hal ini. Karena itu tinggal lagi dua pilihan bagi kita yaitu apakah memang ada Tuhan yang menciptakan umat manusia berikut agamanya atau memang tidak ada yang namanya Tuhan dan adalah manusia sendiri yang telah men-cipta konsep apa yang dianggap sebagai pencipta mereka. Keselu-ruhan masalah penciptaan bisa ditelaah dari perspektif ini, mulai dari asal mula kehidupan yang berakhir dengan terciptanya mahluk yang bernama manusia. Setiap langkah yang diarahkan pada evolusi manusia merupakan langkah-langkah yang tertata rapih. Hidup ini tidak kekal dengan pengertian memang belum ada sebelum penciptaan dan hal ini sudah terbukti tanpa keraguan lagi. Bisa jadi kehidupan ini bermula dengan sebuah ‘letupan besar’ yang
terjadi sekitar dua puluh milyar tahun yang lalu dan sejak itu m u n c u llah kehi d u p an d ari ketiadaan. Masalah ini telah saya
bahas dalam salah satu buku saya*
dimana dibuktikan secara ilmiah dimana para penganut teori evolusi y an g m em b u ta pu n haru s mengakui bahwa mereka tidak mempunyai jawaban atasnya. Jika direnungi segala keajaiban evolusi yang tercipta dalam kurun waktu satu milyar tahun, bahkan para atheis juga lalu menghitung secara matematika betapa besar bilangan waktu yang dibutuhkan oleh proses evolusi sampai pada kesempur-naannya jika hanya mengandalkan pada faktor kebetulan semata. Angka yang mereka peroleh luar biasa besarnya sehingga tidak saja berada di luar kemampuan akal tetapi juga tidak mungkin bisa dipahami orang awam. Angka yang mereka peroleh adalah angka sepuluh pangkat 249 atau dengan kata lain angka sepuluh dengan 249 angka nol di belakangnya. Angka itu menunjukkan kurun waktu tahun yang diperlukan bukan
Revelation, Rationality, Knowledge and
*
Truth, Mirza Tahir Ahmad, Islam Int. Publ.
untuk penciptaan keseluruhan evolusi tetapi hanya untuk langkah awal terciptanya unsur kehidupan pertama yaitu protein yang diperlukan untuk perumusan DNA dan zat besi.
Jika kalian tidak meyakini filsafat, kalian bisa saja menjadi ilmuwan. Hitunglah sendiri bagaimana manusia kemudian tercipta, bagaimana organisme kehidupan awal bisa muncul tanpa adanya Wujud yang sadar, Wujud yang Maha Mengetahui dan Maha Kekal. Masalah ini berikut masalah-masalah lainnya yang mendorong ilmuwan yang berfikiran jernih untuk mempercayai sosok Tuhan sudah dibahas dalam buku yang saya sebutkan tadi dan bisa kalian miliki.