• Tidak ada hasil yang ditemukan

BUDI DAYA KACANG TANAH BERBASIS PEMULIHAN LAHAN YANG TERKENA ERUPSI MERAPI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BUDI DAYA KACANG TANAH BERBASIS PEMULIHAN LAHAN YANG TERKENA ERUPSI MERAPI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BUDI DAYA KACANG TANAH BERBASIS PEMULIHAN LAHAN

YANG TERKENA ERUPSI MERAPI

Eko Srihartanto, Utomo Bimo Bekti, dan Mulud Suhardjo Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta

Ringroad Utara, Karangsari, Kotak Pos 1013 Sleman Yogyakarta Email: [email protected]

ABSTRAK

Pengkajian bertujuan untuk mendapatkan teknologi rehabilitasi lahan secara vegetatif dengan menggunakan tanaman kacang tanah sebagai penutup tanah untuk memulihkan lahan yang terkena erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Sleman. Pengkajian dilakukan melalui percobaan lapang dengan metode demplot di lahan petani di Dusun Kopeng, Desa Kepuh-harjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman pada lahan seluas 1.200 m2. Percobaan dilaksanakan pada bulan Mei−September 2011 (+ 240 hari setelah erupsi merapi). Kacang tanah ditanam dengan perlakuan (A) pupuk kandang dosis 10 t/ha dan (B) tanpa pupuk kandang. Benih ditanam pada jarak 25 cm x 25 cm. Pengolahan tanah dilakukan minimum (diaduk pada lubang tanam sampai lapisan tanah bercampur dengan pasir). Penanaman benih 3 biji per lubang, kemudian ditutup dengan pupuk kandang 0,25 kg/lubang (10 t/ha). Pupuk dasar adalah NPK 15:15:15 dosis 5 gr/lubang (250 kg NPK 15:15:15/ ha). Data yang dikumpulkan meliputi analisis tanah sebelum tanam, pada saat kacang tanah berumur 70 HST dan sesudah panen. Pengamatan meliputi tinggi tanaman, panjang akar, bintil akar, bobot brangkasan basah, persentase kanopi dan produktivitas. Hasil analisis tanah setelah perlakuan menunjukkan pH dalam keadaan masam yaitu 4,75. Kandungan C-organik tanah pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha tergolong sedang (2,43 %) sedangkan tanpa pupuk kandang tergolong rendah (1,24 %), kandungan P pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha tergolong tinggi 11,33% sedangkan tanpa pupuk kandang tergolong sedang (10%). Secara keseluruhan perlakuan pupuk kandang 10 t/ha meningkatkan C-organik, P dan K tersedia pada tanah di lahan pasir pascaerupsi merapi. Tinggi tanaman berbeda nyata pada umur 80 HST dan 112 HST, panjang akar ber-beda nyata pada umur 48 HST, 80 HST dan 112 HST. Pada umur 80 HST jumlah bintil akar pada perakuan pupuk kandang 10 t/ha berbeda nyata dengan tanpa pupuk kandang. Ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang 10 t/ha unsur hara dan C-organik sehingga merangsang perkembangan rizobium dan pertumbuhan tanaman. Hasil kacang tanah pada petak A sebesar 0,7 t/ha dan pada petak B 0,5 t/ha.

Kata kunci: budidaya kacang tanah, rehabilitasi lahan, kualitas lahan, produktivitas. ABSTRACT

Groundnut cultivation based on rehabilitazion of land affected by Mount Merapi eruption. The assessment aimed to obtain the vegetative rehabilitation technology using

groundnut plants as ground cover to restore the land affected by the eruption of Mount Merapi. Assessment was done in Kepuhharjo Village, Cangkringan Sub-district, Sleman District in an area of 1,200 m2 from May to September 2011 (240 days after the eruption of Merapi). Groundnut plants were treated with 10 t ha-1 of manure (A) and (B) without manure, as seed hole cover. A minimum tillage (planting hole was stirred in until a layer of soil mixed with sand) was applied. The plant spacing was 25 cm x 25 cm, 3 seeds/hole. The holes then covered with 0.25 kg of manure/hole. Basal fertilizer NPK 15:15:15 of 5 g/hole (250 kg NPK ha-1). The results of soil analysis after treatment showed that soil pH was 4.75, C-organic content in treatment A

(2)

A was high while without manure was being considered moderate (10%). Treatment A increased C-organic, P and K available in the soil post-eruption. Plant height was significantly different between 80 and DAS, root length was significantly different at 48, 80 and 112 DAS. The number of nodules in plants treated with manure was significantly different to those without manure. This suggests that application of 10 t / ha-1 manure manure manure increased C-organic of soil, thus stimulated the development of rizobium and plant growth. The productivity of groundnut treated with and without manure was 0.7 t ha-1 and 0.5 t ha-1 respectively.

Key words: groundnut cultivation, land rehabilitation, land quality, productivity. PENDAHULUAN

Lahan yang terkena erupsi gunung Merapi merupakan lahan kritis karena terbakar oleh awan panas. Bahan yang mengendap di permukaan tanah merupakan mineral primer muda (baru), belum terjadi pelapukan dan mineralisasi sehingga belum tersedia bagi tanaman. Dalam hal ini diperlukan upaya konservasi sehingga kesuburan tanah meningkat yang dapat dimanfaatkan untuk budi daya pertanian.

Sistem usaha tani konservasi merupakan suatu sistem yang mengkaitkan sumberdaya alam (tanah dan iklim), teknologi konservasi tanah dan air, teknik budidaya, pola tanam dan peternakan menjadi suatu usaha untuk mengendalikan erosi, meningkatkan produktivitas lahan, meningkatkan pendapatan petani (Suwardjo dan Abbas 1994), dan untuk mencapai keberlanjutan produktivitas lahan (Santoso et. al. 2004).

Konservasi tanah secara vegetatif mencakup semua tindakan konservasi yang menggunakan tumbuh-tumbuhan (vegetasi), baik tanaman legum yang menjalar, semak perdu atau pohon, maupun rumput dan tumbuh-tumbuhan lainnya, serta sisa tanaman yang ditujukan untuk mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Tindakan konservasi tanah tersebut dapat berupa pergiliran tanaman, tumpang gilir dan monokultur (Ai Dariah 2007). Salah satu metode konservasi vegetatif adalah penanaman tanaman penutup tanah, seperti kacang tanah. Tujuan dari penanaman penutup tanah adalah: (1) melin-dungi permukaan tanah dari erosi percikan (splash erosion) akibat air hujan; (2) mening-katkan kandungan bahan organik tanah dan serta memperbaiki sifat-sifat fisik dan kimia tanah; (3) menekan pertumbuhan gulma sehingga dapat mengurangi biaya perawatan tanaman; dan (4) meminimumkan perubahan-perubahan iklim mikro dan suhu tanah, sehingga dapat menyediakan lingkungan hidup yang lebih baik bagi tanaman (Santoso et.

al. 2004).

Upaya perbaikan kualitas lahan yang relatif murah adalah dengan pemberian bahan organik. Penambahan bahan organik secara terus-menerus diharapkan dapat meningkat-kan kadar bahan organik tanah, tidak hanya meningkatmeningkat-kan C-organik total tetapi juga fraksi bahan organik lainnya (Nurida et. al. 2008). Menurut Lal (1994), tanah memiliki produktivitas yang baik apabila kadar bahan organik berkisar antara 8−16% sehingga peningkatan bahan organik tanah secara bertahap dapat dilakukan dengan mengem-balikan bahan organik ke tanah sehingga akan terjadi akumulasi bahan organik tanah.

Tujuan Pengkajian ini adalah untuk mendapatkan teknologi rehabilitasi lahan secara vegetatif dengan menggunakan tanaman kacang tanah sebagai penutup tanah untuk memulihkan kualitas dan produktivitas lahan yang terkena erupsi Gunung Merapi di Kabupaten Sleman.

(3)

METODOLOGI

Pengkajian dilakukan melalui percobaan lapang dengan metode demplot pada lahan petani di Dusun Kopeng, Desa Kepuhharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada lahan seluas total luas 1.200 m2. Pengkajian dilaksanakan pada bulan Mei −

Sep-tember 2011 (+240 hari setelah erupsi merapi). Kacang tanah ditanam dengan perlakuan (A) pupuk kandang dosis (10 ton/ha) seluas 600 m2 dan (B) tanpa pupuk kandang seluas 600 m2. Benih kacang tanah ditanam dengan jarak 25 cm x 25 cm.

Tahapan pelaksanaan penelitian meliputi pengolahan tanah secara minimum (diaduk pada lubang tanam sampai lapisan tanah bercampur pasir). Setelah lubang disiapkan maka benih ditanam 3 biji per lubang kemudian ditutup dengan pupuk kandang dosis 0,25 kg/lubang (10 t/ha). Pupuk dasar diberikan pada saat tanaman berumur 6 hari dengan pupuk NPK 15:15:15 dosis 5 g/lubang (250 kg NPK 15:15:15/ha). Selama tana-man kacang tanah belum menutupi lahan, tanatana-man lain yang tumbuh dibersihkan dan dibenamkan pada lahan setempat. Pengamatan hasil dilakukan dengan cara ubinan ukuran 2,5 m x 2,5 m yang diulang 4 kali pada masing-masing perlakuan.

Data yang dikumpulkan meliputi analisis tanah sebelum tanam, pada saat tanaman berumur 70 HST dan sesudah panen. Pengamatan pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, panjang akar dan bintil akar sedangkan pengamatan pada saat panen meliputi bobot brangkasan basah, persentase kanopi, dan produktivitas. Data dianalisis dengan Uji T dengan cara membandingkan beberapa perlakuan sehingga diketahui perlakuan terbaik dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas lahan yang terkena erupsi gunung Merapi.

PEMBAHASAN Status dan Kesuburan Tanah

Tanah sebelum perlakuan bereaksi masam, karena tertutup oleh abu vulkanik dan pasir yang mengandung. C-organik tanah tergolong rendah (1,59 %), kandungan P tinggi (15,65%), dan K termasuk rendah (0,03 %) (Tabel 1). Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa tanah percobaan termasuk kurang subur sehingga diperlukan upaya konservasi dan perbaikan tingkat kesuburan tanah.

Tabel 1. Analisis kimia tanah sebelum percobaan lahan yang terkena erupsi Merapi, April 2012.

pH C-org. N-total N-NH4 P2O5 K-dd

Ekstraksi Am.Asetat Spektrometri Kyel dahl Kyel dahl Bray I

1 N, pH 7 KTK Perlakuan Ula nga n H2O ---(%)--- ---(ppm)--- ---(me/100g)--- Tanpa PK 1 4,8 2,15 0,18 338 14 0,05 5,60 Tanpa PK 2 5,5 1,02 0,10 249 16 0,03 4,46 Tanpa PK 3 5,0 1,96 0,16 331 10 0,02 5,27 Rata-rata 5,1 1,71 0,14 306 13,3 0,03 5,11 PK 10 ton/ha 1 4,8 1,20 0,16 153 18 0,03 2,52 PK 10 ton/ha 2 4,8 1,61 0,16 434 21 0,01 4,96 PK 10 ton/ha 3 4,5 1,64 0,17 382 15 0,06 4,48 Rata-rata 4,7 1,48 0,16 323 18 0,03 3,98 PK = Pupuk Kandang.

(4)

Tabel 2. Analisis Kimia Tanah Saat Pertumbuhan tanaman 70 HST lahan yang terkena erupsi merapi pada bulan Juli 2012.

C-org. pH N-total N-NH4 P2O5 K - dd KTK

Ekstraksi Am.Asetat Spektrometri

Kyel-dahl Kyeldahl Bray I

1N, pH 7 Perlakuan Ula nga n H2O ---(%)--- ---(ppm)--- ---(me/100g)--- Tanpa PK 1 4.6 0.95 0.08 350 6 0.11 2.52 Tanpa PK 2 5.2 1.31 0.12 386 8 0.51 4.76 Tanpa PK 3 4.7 1.69 0.15 186 7 0.05 4.85 Rata-rata 4.8 1.32 0.12 307.33 7.00 0.22 4.04 PK 10 ton/ha 1 4.5 1.33 0.23 294 12 0.61 4.14 PK 10 ton/ha 2 4.4 2.32 0.2 491 10 0.41 7.64 PK 10 ton/ha 3 4.5 1.78 0.19 405 13 0.59 6.11 Rata-rata 4.5 1.81 0.21 396.67 11.67 0.54 5.96 PK= Pupuk Kandang.

Hasil analisis tanah pada saat tanaman berumur 70 HST menunjukkan bahwa tanah bereaksi masam, kandungan C-organik tergolong rendah. Kandungan C-organik pada perla-kuan pemberian 10 t/ha pupuk kandang relatif lebih tinggi (1,81%) dibandingkan tanpa pupuk kandang (1,32%). Kandungan P pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha tergolong tinggi (11,67 ppm P) sedangkan pada perlakuan tanpa pupuk kandang tergolong rendah (7 ppm P). K tersedia pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha tergolong sedang ( 0,54 me/100g) dan tanpa pupuk kandang tergolong rendah (0,22 me/100g) (Tabel 2). Hasil analisis menun-jukkan bahwa tanah setelah ditanami kacang tanah dan diberi pupuk kandang 10 t/ha me-ningkat tingkat kesuburannya. Hal ini ditunjukkan oleh kadar C-organik, P, K tersedia yang meningkat.

Tanaman kacang tanah mempunyai peran dalam meningkatkan kesuburan tanah. Tana-man mampu bersimbiosis dengan bakteri rhizobium yang membentuk koloni sebagai bintil akar, bakteri rhizobium mampu mengikat nitrogen dari udara, kemudian dilepas kembali bagi pertumbuhan tanaman, di sisi lain rhizobium memerlukan makanan dari hasil foto-sintesis. Rhizobium sp. tergolong bakteri yang dapat bersimbiosis mutualisme dengan tana-man inang. Bakteri yang termasuk ke dalam genus Rhizobium hidup bebas di tanah dan daerah perakaran tanaman legume maupun bukan legume, namun bakteri Rhizobium sp. dapat berlangsung hanya dengan tumbuh-tumbuhan legum dengan menginfeksi akarnya dan membetuk bintil akar di dalamnya (Rao 1994).

Tanah setelah percobaan masih bereaksi masam dengan pH 4,75. Kandungan C-organik tanah pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha tergolong sedang (2,43%) dan tanpa pupuk kandang tergolong rendah (1,24%). Kandungan P pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha tergolong tinggi 11,3% sedang tanpa pupuk kandang tergolong sedang (10%) (Tabel 3). Secara keseluruhan, perlakuan tanaman kacang tanah dengan pupuk kandang 10 t/ha dapat meningkatkan C-organik, P dan K tersedia pada tanah pasir Merapi pascaerupsi.

(5)

Tabel 3. Analisis Kimia Tanah setelah panen di lahan yang terkena erupsi merapi pada bulan September 2012.

C-org. N-total N-NH4 P2O5 K-dd KTK

pH Ekstraksi .Am. Asetat

Spektrometri Kyel dahl Kyel dahl Bray I 1N, pH 7 Perlakuan Ula nga n H2O ---(%)--- ---(ppm)--- ---(me/100g)---- Tanpa PK 1 4.8 1.17 0.10 350.00 12 0.05 3.07 Tanpa PK 2 4.9 1.68 0.14 386.00 7 0.04 5.37 Tanpa PK 3 4.9 0.86 0.07 186.00 10 0.06 2.64 Rata-rata 4.9 1.24 0.10 307.33 10 0.05 3.69 PK 10 ton/ha 1 4.3 1.93 0.13 294.00 11 0.04 3.33 PK 10 ton/ha 2 4.1 2.81 0.23 491.00 12 0.06 4.96 PK 10 ton/ha 3 4.3 2.56 0.23 405.00 11 0.04 7.94 Rata-rata 4.2 2.43 0.20 396.67 11.33 0.05 5.41 PK=Pupuk Kandang.

Pertumbuhan Tanaman Kacang Tanah

Pertumbuhan tanaman kacang tanah pada kawasan terkena dampak erupsi gunung Merapi nampak optimal. Namun pertumbuhan dan persentase hidup tanaman dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban tanah di lapangan.

Tabel 4. Tinggi tanaman, panjang dan bintil akar tanaman kacang tanah di lahan yang terkena erupsi merapi.

Tinggi tanaman (cm) Panjang akar (cm) Bintil akar Perlakuan 48 HST 80 HST 112 HST 48 HST 80 HST 112 HST 48 HST 80 HST Pupuk kandang 10 t/ha 17,9 23 32,8 18,3 26,8 25 20 36 Tanpa pupuk kandang 17,2 19 25,2 21,0 23,9 24 20 31 tn * * * * tn tn * Koefisien Keragaman (%) 24.07 20.11 14.56 21.50 16.66 17.24 21.12 12.61 Keterangan : tn : tidak nyata ; * : nyata pada uji t 5%

Tinggi tanaman berbeda nyata pada umur 80 HST dan 112 HST, demikian juga panjang akar pada umur 48 HST, 80 HST, dan 112 HST. Pada umur 80 HST jumlah bintil akar pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha berbeda nyata dengan tanpa pupuk kandang (Tabel 5). Ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang 10 t/ha mening-katkan unsur hara tanah dan C-organik sehingga merangsang perkembangan rizobium.

Bobot brangkasan panen dan persentase penutupan tanah (kanopi) pada perlakuan pemberian pupuk kandang 10 t/ha berbeda nyata dengan tanpa pupuk kandang. Ini menun-jukkan bahwa pemberian pupuk kandang 10 t/ha meningkatkan biomass tanaman kacang tanah sehingga dapat menyediakan hijauan pakan ternak yang relatif tinggi pada tanah terkena erupsi Merapi. Selain itu tanaman penutup tanah ini juga dapat menjaga kelembaban tanah dan mengurangi intensitas penyinaran matahari ke permukaan tanah. Produktivitas kacang tanah pada perlakuan pupuk kandang 10 t/ha rata-rata 0,7 t/ha, sedangkan tanpa

(6)

nyata meningkatkan produktivitas kacang tanah pada lahan terkena erupsi Merapi diban-dingkan dengan tanpa pupuk kandang.

Tabel 5. Bobot brangkasan, kanopi dan produktivitas kacang tanah di lahan yang terkena erupsi Merapi.

Perlakuan Berat brangkasan panen

(kg/ha) Kanopi (%) Produktivitas (t/ha)

Pupuk kandang 6520 73,3 0,7

Tanpa pupuk kandang 3120 53,3 0,5

* * tn

Koefisien Keragaman (%) 13,62 16,72 11,11

tn : tidak nyata ; * : nyata pada uji t 5%.

KESIMPULAN

1. Tanaman kacang tanah dengan penambahan pupuk kandang 10 t/ha meningkatkan status kesuburan tanah sehingga dapat dijadikan alternatif rehabilitasi lahan secara vegetatif pada lahan kering terkena erupsi Merapi.

2. Tanaman kacang tanah yang dipupuk kandang 10 t/ha tumbuh baik dan mengha-silkan biomass 6,52 t/ha dan produktivitas 0,7 t/ha, lebih baik dibandingkan dengan perlakuan tanpa pupuk kandang yng hanya menghasilkan 0,5 t/ha.

DAFTAR PUSTAKA

Dariah Ai. 2007. Bunga Rampai Konservasi Tanah dan Air. Pengurus Pusat Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia 2004−2007. Jakarta. Hal 139.

Lal, R. 1994. Method and Guidelines for Assesing Sustainable Use For Soil and Water Resources in the Tropics. SMSS Tech. Monograph no. 21. USDA. 78 p.

Nurida, N. L., Haridjaja O., Arsyad S., 2008. Prociding Seminar dan Kongres Nasional MKTI VI. Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia. Jakarta. Hal 190.

Rao, N.S. 1994. Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman. UI Press. Jakarta. 353 Hal. Santoso, D., Joko Purnomo, IG.P.Wigena, Enggis Tuherkih. 2004. ”Teknologi Konservasi Tanah

Vegetatif”. Pusat Penelitian dan Penembangan Tanah dan Agroklimat Bogor.

Suwardjo, H. dan A. Abbas. 1994. Jenis Tanah dan Permasalahannya. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat Bogor.

Gambar

Tabel 1. Analisis kimia tanah sebelum percobaan lahan yang terkena erupsi Merapi, April 2012
Tabel 2.   Analisis Kimia Tanah Saat Pertumbuhan tanaman 70 HST lahan yang terkena erupsi  merapi pada bulan Juli 2012
Tabel 3.   Analisis Kimia Tanah setelah panen di lahan yang terkena erupsi merapi pada bulan  September 2012
Tabel 5.   Bobot brangkasan, kanopi dan produktivitas kacang tanah di lahan yang terkena erupsi   Merapi

Referensi

Dokumen terkait

gung, Kedelai dan Kacang Tanah Tanpa Olah Tanah ( M bawah.. bimbingan

Hal ini menunjukkan bahwa pembenaman bahan organik baik yang berasal dari sisa tanaman kacang tanah, kacang jogo, mulsa jerami, ataupun pupuk kandang selama 1

Hasil pengamatan tinggi tanaman kacang tanah serta analisis ragamnya diketahui bahwa interaksi pupuk kandang kotoran ayam dan abu sekam padi tidak berpengaruh,

Faktor jenis pupuk, tingkat kelarutan pupuk & efisiensi serapan Nitrogen oleh tanaman mendukung pembentukan klorofil daun kacang tanah pada fase vegetatif.. Kata Kunci:

Berdasarkan indeks tersebut diketahui bahwa tanah di lahan pasir pantai Samas yang telah ditambah tanah lempung dan pupuk kandang, dan digunakan sebagai lahan

Tindakan praktis yang disarankan adalah (1) perbaikan kesuburan fisik melalui penyiapan lahan untuk mencapai kondisi solum tanah cukup dalam (40-50 cm), struktur tanah gembur,

Tindakan praktis yang disarankan adalah (1) perbaikan kesuburan fisik melalui penyiapan lahan untuk mencapai kondisi solum tanah cukup dalam (40-50 cm), struktur

PENGARUH PEMBERIAN PUPUK KANDANG SAPI DAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KACANG TANAH Arachis hypogaea L PADA TANAH ULTISOL SIMALINGKAR SKRIPSI Sebagai