Geologi Lingkungan Untuk Tata Ruang Pasca Tambang Maros

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENYELIDIKAN GEOLOGI LINGKUNGAN

PENYELIDIKAN GEOLOGI LINGKUNGAN

UNTUK ARAHAN TATA RUANG LAHAN PASCA TAMBANG

UNTUK ARAHAN TATA RUANG LAHAN PASCA TAMBANG

DAERAH KABUPATEN MAROS,

DAERAH KABUPATEN MAROS, PROVINSI SULAWESI SELATAN

PROVINSI SULAWESI SELATAN

Oleh :

Oleh :  Ediwan.A.Syarief dan Ron

 Ediwan.A.Syarief dan Ron i Alfiani Alfian SARI 

SARI   Kabu

 Kabupatepaten Maron Maros ters terletak paletak pada bagida bagian pesian pesisir basir barat Prrat Provinovinsi Sulasi Sulawewesi Selasi Selatan, teptan, tepatnya patnya pada poada posisi sisi 4400 40’ - 40’ -5

500 11’” Lintang Selatan dan 119 11’” Lintang Selatan dan 11900 30’ - 120 30’ - 1200002’ B02’ Bujur Tiujur Timur, mur, terletak terletak pada pada ketinggian ketinggian antara antara 0 - 0 - 1600 1600 m m didi atas permukaan laut. Di sebelah utara, Kabupaten Maros berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene atas permukaan laut. Di sebelah utara, Kabupaten Maros berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene  Kepu

 Kepulaualauan, n, di di sebesebelah lah TimTimur ur berbberbatasatasan an dengdengan an KabuKabupatepaten n BoneBone, , sebesebelah lah selaselatan tan berbberbatasatasan an dengdenganan  Maka

 Makasar sar dan dan KabuKabupatepaten Gon Gowwa, sea, serta rta di sedi sebelabelah Bah Barat brat berbaerbatasatasan lan langsungsung dng dengaengan pen perairrairan San Selat elat MakaMakassssar.ar.  Penambangan

 Penambangan di di Kabupaten Kabupaten Maros, Maros, Sulawesi Sulawesi Selatan Selatan dilakukan dilakukan baik baik secara secara resmi resmi (berizin) (berizin) oleholeh  perusahaan

 perusahaan swasta maupun swasta maupun secara secara tidak tidak resmi resmi (tidak (tidak berizin) berizin) oleh oleh rakyat rakyat yang yang dikenal dikenal dengan dengan istilahistilah tambang inkonvensional (TI).

tambang inkonvensional (TI).  Penyelidikan

 Penyelidikan ini ini dimaksudkan dimaksudkan untuk untuk mendapatkan mendapatkan berbagai berbagai data data dan dan informasi informasi kondisi kondisi geologigeologi lingkungan pada daerah kegiatan penambangan dan lahan pasca penambangan yang tidak direklamasi lingkungan pada daerah kegiatan penambangan dan lahan pasca penambangan yang tidak direklamasi dan terlantarkan. Adapun tujuannya adalah memberikan arahan tata cara reklamasi dan pengelolaan dan terlantarkan. Adapun tujuannya adalah memberikan arahan tata cara reklamasi dan pengelolaan lingkungan yang baik dan benar sehingga lahan bekas tambang dapat dimanfaatkan kembali untuk  lingkungan yang baik dan benar sehingga lahan bekas tambang dapat dimanfaatkan kembali untuk  berbagai keperluan. Disamping itu untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah mengenai berbagai keperluan. Disamping itu untuk memberikan masukan kepada pemerintah daerah mengenai arahan

arahan penataan ruang/penggunaan penataan ruang/penggunaan lahan pasca lahan pasca penambangan penambangan ditinjau dari ditinjau dari aspek aspek geologigeologi lingkungan. lingkungan. 1.PENDAHULUAN 1.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1. Latar Belakang Di

Di Indonesia Indonesia banyak banyak lahan bekas lahan bekas tambang,tambang,  baik

 baik tambang tambang berizin berizin ataupun ataupun tanpa tanpa izin, izin, yangyang tidak direklamasi kembali atau usaha reklamasi tidak direklamasi kembali atau usaha reklamasi telah dilakukan namun belum optimal. Hal ini telah dilakukan namun belum optimal. Hal ini menyebabkan lahan bekas tambang tersebut menyebabkan lahan bekas tambang tersebut kurang dapat dimanfaatkan kembali secara kurang dapat dimanfaatkan kembali secara optimal. Karena para penambang dianggap optimal. Karena para penambang dianggap sulit untuk dapat melaksanakan reklamasi, suka sulit untuk dapat melaksanakan reklamasi, suka atau tidak suka, kewajiban untuk mereklamasi atau tidak suka, kewajiban untuk mereklamasi lahan bekas tambang ini menjadi kewajiban lahan bekas tambang ini menjadi kewajiban  pemerintah

 pemerintah daerah daerah setempat setempat yang yang tentunyatentunya akan menyulitkan pemerintah daerah karena akan menyulitkan pemerintah daerah karena reklamasi membutuhkan pengetahuan teknis reklamasi membutuhkan pengetahuan teknis dan biaya yang tidak sedikit. Idealnya penataan dan biaya yang tidak sedikit. Idealnya penataan ruang lahan bekas tambang memerlukan ruang lahan bekas tambang memerlukan  pendekatan

 pendekatan multi multi disiplin disiplin secara terpadu. secara terpadu. SalahSalah satu aspek yang diperlukan adalah aspek  satu aspek yang diperlukan adalah aspek  geologi lingkungan.

geologi lingkungan.

Dari berbagai data dan informasi yang Dari berbagai data dan informasi yang diperoleh, di wilayah Kabupaten Maros, diperoleh, di wilayah Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan terdapat banyak  Provinsi Sulawesi Selatan terdapat banyak  kegiatan penambangan yang pada umumnya kegiatan penambangan yang pada umumnya tidak atau belum melakukan reklamasi lahan tidak atau belum melakukan reklamasi lahan  pasca

 pasca tambang tambang dan dan telah telah banyak banyak pula pula yangyang telah menimbulkan dampak negatif terhadap telah menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

lingkungan.

1.2. Maksud dan Tujuan 1.2. Maksud dan Tujuan

Penyelidikan ini dimaksudkan untuk  Penyelidikan ini dimaksudkan untuk  mendapatkan berbagai data dan informasi mendapatkan berbagai data dan informasi kondisi geologi lingkungan pada daerah kondisi geologi lingkungan pada daerah kegiatan penambangan dan lahan pasca kegiatan penambangan dan lahan pasca tambang yang tidak direklamasi dan tambang yang tidak direklamasi dan terlantarkan.

terlantarkan.

Adapun tujuannya adalah memberikan arahan Adapun tujuannya adalah memberikan arahan tata cara reklamasi dan pengelolaan tata cara reklamasi dan pengelolaan lingkungan yang baik dan benar sehingga lingkungan yang baik dan benar sehingga lahan bekas tambang dapat dimanfaatkan lahan bekas tambang dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan. Disamping kembali untuk berbagai keperluan. Disamping itu untuk memberikan masukan kepada itu untuk memberikan masukan kepada  pemerintah

 pemerintah daerah daerah mengenai mengenai arahan arahan penataanpenataan ruang/penggunaan lahan pasca tambang ruang/penggunaan lahan pasca tambang tersebut

tersebut ditinjau ditinjau dari dari aspek aspek geologigeologi lingkungan.

lingkungan.

1.3. Lokasi 1.3. Lokasi

Wilayah

Wilayah Kabupaten Kabupaten Maros Maros terletak terletak padapada  bagian

 bagian pesisir pesisir barat barat Provinsi Provinsi Sulawesi Sulawesi Selatan,Selatan, tepatnya pada posisi 4

tepatnya pada posisi 400 42’ 51” LS - 5 42’ 51” LS - 500 13’ 5” 13’ 5” LS dan 119

LS dan 11900  27’   27’ 35” B35” BT T - - 11911900 58’ 14” BT,58’ 14” BT, terletak pada

terletak pada ketinggian ketinggian yang yang berkisar berkisar  antara 0 - 1600 m di atas permukaan laut. Di antara 0 - 1600 m di atas permukaan laut. Di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan, di sebelah Timur  Pangkajene Kepulauan, di sebelah Timur   berbatasan

 berbatasan dengan dengan Kabupaten Kabupaten Bone, Bone, sebelahsebelah selatan berbatasan dengan Makasar dan selatan berbatasan dengan Makasar dan

(2)

Kabupaten Gowa, serta di sebelah Barat  berbatasan langsung dengan perairan Selat

Makassar.

2. METODA PENYELIDIKAN Metoda Pengumpulan Data

Data yang diperlukan dalam penyelidikan ini adalah berupa data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa peta topografi, peta geologi, literatur dan peta-peta lainnya (peta hidrogeologi, peta geologi teknik, potensi  bahan galian, tata guna lahan, dan lain-lain).

Data primer yang diambil dari lapangan adalah  pengamatan morfologi dan kemiringan lereng,  pengamatan geologi, pengamatan lahan bekas tambang dan pengambilan contoh tanah tidak  terganggu untuk dianalisis dilaboratorium. Pengujian yang dilakukan di laboratorium mekanika tanah dan batuan terhadap contoh tanah tak terganggu. Sebagian pengujian mengacu kepada metoda American Society for  Testing and Materials Standards (ASTM, 1993)

Metoda Analisis Data

Untuk menganalisis kemantapan lereng dan mendapatkan angka stabilitas setiap litologi di sekitar daerah bekas penambangan dilakukan analisis kestabilan lereng mempergunakan metoda “Bishop” jenis gerakan tanah rotasi dengan bantuan program Stabil 23.

Cara analisis yang dibuat oleh Bishop (1955) menggunakan cara potongan (element) yang mengasumsikan bahwa gaya-gaya bekerja pada tiap potongan.

3. Kondisi Daerah Morfologi

Kabupaten Maros dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga) satuan geomorfologi yaitu : Satuan Geomorfologi Perbukitan, Satuan Geomorfologi Perbukitan Karst, dan Satuan geomorfologi Pedataran :

• Satuan geomorfologi pedataran terletak di  bagian barat menyebar ke arah utara-selatan, menempati sekitar 25%, dicirikan oleh bentuk topografi datar, kemiringan lereng 0 – 2%, relief rendah dan tekstur  topografi halus.

• Satuan geomorfologi Perbukitan

mencapai 60% dari luas daerah  penyelidikan. Geomorfologi ini dicirikan dengan bentuk relief dan tekstur  topografi halus-sedang, kemiringan lereng 15 % - 30 %,

• Satuan geomorfologi perbukitan karst terletak di bagian tengah dan utara, menyebar ke arah utara – selatan, luas  penyebaran mencapai 15% dari luas daerah penyelidikan dicirikan oleh  bentuk topografi relief tinggi, kemiringan lereng rata-rata lebih dari 15 %, dan sebagian berupa dataran.

Litologi

Berdasarkan peta geologi lembar Ujung Pandang, Benteng, Sinjai, Pangkajene dan Watampone Bagian Barat, Sulawesi, skala 1 : 250.000, Oleh Rab Sukamto dan S. Supriatna. (1982) daerah penyelidikan disusun oleh  beberapa formasi dan satuan batuan yaitu:

• Formasi Balangbaru terdiri atas  perselingan antara serpih dengan  batu pasir, batulanauan dan batu

lempung

• Batuan gunung api terpropilitkan yang terdiri dari breksi dan lava.

• Batuan Formasi Mallawa terdiri atas  batu pasir kuarsa, batulanau, batu lempung dan konglomerat, dengan sisipan atau lensa batubara.

• Batuan sedimen laut Formasi Camba (Tmc), terdiri dari perselingan antara batuan sedimen dengan  batuan gunung api, yaitu : batu pasir 

tufaan berselingan dengan tufa, batu  pasir, batulanau dan batu lempung.

• Batuan gunung api Formasi Camba (Tmcv) terdiri dari breksi, lava dan

konglomerat. Breksi dan

konglomerat terdiri dari fragmen andesit dan basal, matriks dan semen dari tufa halus hingga tufa pasiran.

• Batuan gunung api Baturappe-Cindako, terdiri dari lava (Tpbl) dan  breksi gun ung api (Tpbv), bersisipan

tufa dan konglomerat.

• Satuan endapan terdiri atas endapan aluvium pantai dan endapan aluvium sungai.

• Batuan terobosan yang terdiri dari Batuan granodiorit, Batuan andesit, diorit Batuan beku trakit dan basal  piroksin.

4. Analisis/Evaluasi Arahan Tata Pada Lahan Bekas Penambangan

Penyelidikan geologi lingkungan untuk arahan tata ruang lahan meliputi kajian / evaluasi aspek - aspek geologi lingkungan seperti: aspek  morfologi/topografi, aspek tanah/batuan, aspek 

(3)

keairan, dan aspek kebencanaan (kendala) geologi.

Hasil penyelidikan ini menunjukkan karakteristik geologi lingkungan lahan yang  beragam. Dalam kaitannya dengan  perencanaan peruntukan lahan, karakteristik 

geologi lingkungan ini ada yang bersifat sebagai faktor pendukung dan ada juga yang  bersifat sebagai faktor kendala/pembatas. Aspek yang bersifat sebagai faktor pendukung adalah berupa kestabilan/kemantapan lahan dan sumber daya, sedang faktor pembatas adalah berupa aspek kebencanaan/kendala geologi.

Di wilayah Kabupaten Maros beberapa lahan  bekas tambang, seperti di Desa Sabila, Kecamatan Mallawa belum dilakukan reklamasi secara memadai. Lahan yang mendapat material urugan, pola drainasenya tidak tertata sesuai drainase sekitarnya, materialnya tidak dipadatkan, rawan erosi dan gerakan tanah.

Berdasarkan pertimbangan seperti tersebut diatas, berikut akan diuraikan arahan tata ruang pasca penambangan dari ketiga lokasi terpilih sebagai berikut:

4.1 Arahan Tata Ruang Pasca Tambang Pasir Kuarsa di Desa Sabila

Merupakan lahan bekas tambang pasir kuarsa PT. Bina Patra Manunggal seluas ± 8 Ha dari 10 Ha luas lahan penambangan yang dimiliki oleh. Morfologi pebukitan bergelombang lemah sampai Perbukitan, kemiringan lereng > 15 %, ketinggian medan 392 m dpl.

Batuan dasarnya berupa batugamping pejal,  bioklastik, kalkarenit, koral dan kalsirudit bersisik.

Mata air yang mengalir dilokasi penambangan merupakan sumber daya air yang cukup  potensial di lokasi ini. Kebencanaan/kendala geologi yang dijumpai hanya erosi permukaan dan longsoran kecil pada tanah timbun yang  belum terkonsolidasi.

Upaya reklamasi yang harus dilakukan di Desa Sabila sebelum dilakukan arahan tata ruang lahan adalah :

• Penataan geometris lereng, diantaranya membentuk terasering dengan tinggi jenjang teras < 5 m, sudut kemiringan jenjang maksimal 30°, dan lebar bidang olah/datar 5 –  10 m, serta di kaki teras bagian bawah dibuatkan saluran drainase pembuang air hujan di setiap kaki jenjang yang

alirannya diarahkan ke kolam  pengendap lumpur.

• Penebaran tanah pucuk di seluruh  permukaan hasil reklamasi tebalnya 30  – 40 Cm sebagai media tumbuh untuk 

tanaman.

• Segera melakukan penanaman pohon yang telah ditetapkan sesuai rencana, sedangkan permukaan tanahnya ditanami dengan jenis rumput  pelindung agar terbebas dari kikisan erosi air, sedangkan tanaman keras dapat ditanam pada bidang datar/olah seperti albasia, mahoni, sungkai, dll dengan jarak tanam 4 x 4 m.

• Untuk memperkuat bibir teras dan  pinggir saluran air agar ditanami rumput Vetier atau pun rumput gajah. Setelah upaya reklamasi dilakukan, maka dapat dilakukan arahan tata ruang lahan pasca  penambangan berdasarkan pertimbangan karakteristik geologi lingkungan bekas tambang pasir kuarsa di Desa Sabila cukup  baik bila dimanfaatkan sebagai lahan hutan  produksi, perkebunan, pertambangan, sebagai  berikut :

Lahan perkebunan, sebaiknya dikembangkan  pada lahan bergelombang lemah. Sumber 

airnya, disamping dari curah hujan juga dapat memanfaatkan beberapa genangan air lubang  bekas penambangan di sekitarnya.

4.2 Arahan Tata Ruang Pasca Tambang Batubara di Desa Tellumpanue

Lahan bekas tambang CV. Taman Indah ini terdapat di bagian utara daerah penyelidikan, luasnya ± 0,5 Ha yang telah ditambang dari 9 Ha luas lahan penambangan batubara. Morfologi pebukitan bergelombang lemah sampai Perbukitan dengan kemiringan lereng secara umum lebih dari 20 % dan ketinggian medan 442 sampai 448 m dpl.

Batuan dasarnya berupa berupa batupasir  kuarsa umumnya bersifat rapuh dan kurang kompak, struktur berlapis tipis (laminasi). Pada  batulempung dan batulanau mengandun g fosil

moluska, sisipan batugamping dan lapisan  batubara dengan ketebalan antar a 10 centimeter 

sampai 1,5 meter.

Potensi airtanah pada wilayah ini termasuk  katagori akifer produktivitas sedang – kecil. Kebencanaan/kendala geologi yang dijumpai hanya erosi permukaan dan longsoran kecil  pada tanah timbun yang belum terkonsolidasi.

(4)

Upaya reklamasi yang harus dilakukan di Desa Tellumpanue sebelum dilakukan arahan tata ruang adalah :

• Melakukan pemadatan material tanah di

waste dump dari lapis ke lapis.

• Penataan geometris lereng, diantaranya membentuk terasering dengan tinggi  jenjang teras 5 m, sudut kemiringan  jenjang maksimal 30°, dan lebar bidang olah/datar 5 – 15 m, serta di kaki teras  bagian bawah dibuatkan saluran drainase pembuang air hujan di setiap kaki jenjang yang alirannya diarahkan ke kolam pengendap lumpur.

• Penebaran tanah pucuk di seluruh  permukaan hasil reklamasi tebalnya 40 Cm

sebagai media tumbuh untuk tanaman. • Segera melakukan penanaman pohon yang

telah ditetapkan sesuai rencana, sedangkan  permukaan tanahnya ditanami dengan  jenis rumput pelindung agar terbebas dari kikisan erosi air, sedangkan tanaman keras dapat ditanam pada bidang datar/olah seperti albasia, mahoni, jati, kemiri dll dengan jarak tanam 4 x 4 m.

•Untuk memperkuat bibir teras dan pinggir  saluran air agar ditanami rumput Vetier  atau pun rumput gajah.

•Guna menjamin pertumbuhan tanaman dengan baik, lapisan tanah perlu diberi kapur dan pupuk fospat alam dengan ukuran 1 Ton/Ha dan pupuk NPK  sebanyak 200 Kg/Ha.

Dengan mempertimbangkan karakteristik  geologi lingkungan, lahan bekas tambang  batubara di daerah ini cukup baik bila dimanfaatkan sebagai lahan, lahan perkebunan,  pertanian, dan hutan produksi.

4.3 Arahan Tata Ruang Pasca Tambang Tanah Urug di Desa Damai.

Lahan bekas galian tanah urug terdapat di bagian  barat desa Damai luasnya ±  2 Ha. Morfologi

dataran hingga bergelombang lemah dengan kemiringan lereng kurang dari 5 %, ketinggian antara 19 m - 22 m dpl.

Batuan penyusun adalah batu lempung, batu lanau dan batu pasir yang bersifat padat dan relatif  kedap air.

Potensi air tanah termasuk akuifer produktif  sedang-kecil. Kebencanaan/kendala geologi yang dijumpai adalah erosi permukaan dan longsoran kecil pada tanah timbun yang belum terkonsolidasi.

Upaya reklamasi yang harus dilakukan di Desa Damai sebelum dilakukan arahan tata ruang adalah :

• Penataan geometris kolam, diantaranya membentuk terasering dengan tinggi  jenjang teras 3 m, sudut kemiringan  jenjang maksimal 30°.

• Penebaran tanah pucuk di seluruh permukaan hasil reklamasi tebalnya 40 Cm sebagai media tumbuh untuk tanaman.

• Segera melakukan penanaman pohon yang telah ditetapkan sesuai rencana, sedangkan  permukaan tanahnya ditanami dengan jenis rumput pelindung agar terbebas dari kikisan erosi air, sedangkan tanaman keras dapat ditanam pada bidang datar seperti albasia, mahoni, sungkai, bambu dll dengan jarak  tanam 4 x 4 m.

• Untuk memperkuat bibir teras dan pinggir  saluran air agar ditanami rumput Vetier atau  pun rumput gajah.

• Guna menjamin pertumbuhan tanaman dengan baik, lapisan tanah perlu diberi kapur  dan pupuk fospat alam dengan ukuran 1 Ton/Ha dan pupuk NPK sebanyak 200 Kg/Ha.

Setelah upaya reklamasi dilakukan, maka dapat dilakukan arahan tata ruang lahan pasca  penambangan berdasarkan pertimbangan karakteristik geologi lingkungan di Desa Damai, dapat dimanfaatkan sebagai lahan  permukiman, kolam budidaya ikan air tawar,

dan pertanian.

KESIMPULAN DAN SARAN

Dari uraian di muka dapat disimpulkan sebagai  berikut:

Di Kabupaten Maros terdapat 3 jenis kegiatan  penambangan, yaitu penambangan pasir 

kuarsa, panambangan batu bara dan  penambangan tanah urug.

• Lahan bekas penambangan ini umumnya berupa lahan timbunan dan genangan-genangan (lubang berair). • Morfologi lahan bekas penambangan

umumnya berupa dataran hingga  bergelombang lemah, batuan dasar   penyusun terdiri dari batu lempung dan,

tanah penutupnya berupa pasir  lempungan mengandung kuarsa.

• Genangan (lubang berair) merupakan sumber daya air cukup potensial pada lahan-lahan bekas penambangan.

(5)

   G  a   m    b  a  r    1 .    P  e    t  a    A  r   a    h  a  n    P  e  n   u   n   a   a   n    L  a    h  a  n    P  a  s   c   a    P  e  n   a   m    b  a  n   a   n    T  a   n   a    h    U  r   u

(6)

You're Reading a Preview

Unlock full access with a free trial.

Download With Free Trial

(7)

• Kebencanaan/kendala geologi berupa erosi permukaan pada tanah timbunan dan longsoran kecil pada dinding lubang  penambangan yang agak terjal.

• Berdasarkan pertimbangan karakteristik  geologi lingkungan, lahan bekas

•  penambangan silika di Desa Sabila cukup baik bila dimanfaatkan sebagai lahan hutan produksi, perkebunan,  pertambangan, lahan bekas tambang  batu bara di Desa Tellumpanue dapat dimanfaatkan sebagai kawasan lahan  perkebunan, pertanian , dan hutan  produksi, sedangkan lahan bekas  penambangan tanah urug di Desa Damai, dapat dimanfaatkan sebagai lahan permukiman, kolam budidaya ikan air tawar, dan pertanian.

Saran

1. Kegiatan penambangan sebaiknya

dilakukan pada tempat-tempat telah ditentukan sebagai kawasan pertambangan. Pertambangan oleh rakyat sangat perlu ditertibkan dengan membentuk wilayah

 pertambangan rakyat (WPR) supaya

 pengendalian dan pengontrolan mudah dilakukan.

2. Model arahan tata ruang lahan pasca

 penambangan ini diharapkan dapat

dipergunakan oleh pemerintah daerah maupun para pengusaha pertambangan

sebagai salah satu acuan dalam

 pengelolaan lahan pasca penambangan di lokasi-lokasi yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

1. ---, 2003, Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maros, Kabupaten Maros Dalam Angka Tahun 2003. Pemda Kabupaten Maros.

2. ---, 2001, Penyelidikan Pengelolaan Geologi Lingkungan pada Tahap Pasca Penambangan Batubara dalam Rangka Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. DTLGKP Bandung.

3. Dhadar, R.J., --- Eksplorasi Endapan Bahan Galian, G.S.B., Bandung.

4. Khalil, 1995, Laporan Eksplorasi

Pendahuluan Bahan Galian Pasir Kuarsa Daerah Uludaya Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.Ujungpandang.

5. RAB Sukamto dan S. Supriatna, 1982. Peta Geologi Bersistem Lembar Pangkajene dan Camba, Ujung Pandang, Malino, Sulawesi Selatan, Skala 1 : 250.000, PPPG Bandung.

6. Supriatna, 1997. Bahan Galian Industri. PPTM, Bandung.

7. Wijaya, S, dkk, 1994, Penyelidikan Geologi Terpadu Kabupaten Daerah Tingkat II Maros, propinsi Sulawesi Selatan, Ujung Pandang.

(8)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :