• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Energi

Energi adalah suatu yang bersifat abstrak yang sukar dibuktikan tetapi dapat dirasakan adanya. Energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja (energy is the capacity for doing work).

Energi adalah kemampuan untuk melakukan usaha. Energi merupakan besaran yang kekal, artinya tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk lain. Ditinjau dari asalnya energi mempunyai bermacam-macam bentuk misalnya Energi Listrik.

Energi listrik adalah energi yang berkaitan dengan akumulasi arus elektron, dinyatakan dalam watt-jam atau killowatt-jam ( Pudjanarsa, 2008 ).

Energi Listrik adalah energi akhir yang dibutuhkan peralatan listrik untuk menggerakan motor, lampu penerangan, memanaskan, mendinginkan, ataupun untuk menggerakan kembali suatu peralatan mekanik untuk

(2)

Energi yang dihasilkan ini dapat berasal dari berbagai sumber misalnya air, minyak, batu bara, angin, panas bumi, nuklir, matahari dan lainnya. Energi ini besarnya dari beberapa volt sampai ribuan hingga hingga jutaan volt.1

Menurut definisi dalam Undang-undang Republik Indonesia No.30 Tahun 2007, energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja yang dapat berupa panas, cahaya, mekanika, kimia, dan elektromagnetik. Misalnya energi panas ( kalori ) hasil pembakaran bahan bakar minyak ( BBM ) mampu menggerakan poros mesin kendaraan. Selanjutnya lewat mekanisme tertentu energi putaran mesin ditransfer ke roda-roda kendaraan. Akhirnya kendaraan tersebut melaju di jalan-jalan.2

Energi alternatif adalah energi pengganti minyak bumi, yaitu gas, batu bara, dan semua jenis energi non fosil. Jika menyangkut pemanfaatan langsung, misalnya saja untuk pembangkit tenaga listrik, semua jenis energy alternatif pengganti minyak bumi dapat dikatakan tidak ada kendala karena memang teknologi yang ada saat ini sudah mampu melakukannya. Paling-paling kendalanya terletak pada sisi keekonomiannya.

Ketersediaan energi listrik maupun energi bahan bakar untuk supply pembangkit sangat terbatas sebagai akibat krisis energi. Masyarakat harus selektif dalam menggunakan energi listrik untuk kehidupan sehari-hari agar dapat menghemat dalam segi keuangan maupun ketersediaan energi. Dunia

       1

 wikipedia.org 

2 

(3)

industri memerlukan energi dalam jumlah yang besar. Energi tersebut diantaranya digunakan untuk keperluan menjalankan mesin-mesin industri. Sumber energi yang digunakan dibidang industri biasanya berasal dari listrik dan bahan bakar fosil seperti solar, bensin, dan gas.

Ketersediaan energi listrik maupun energi bahan bakar untuk supply pembangkit sangat terbatas sebagai akibat krisis energi. Masyarakat harus selektif dalam menggunakan energi listrik untuk kehidupan sehari-hari agar dapat menghemat dalam segi keuangan maupun ketersediaan energi. Dunia industri memerlukan energy dalam jumlah yang besar. Energi tersebut diantaranya digunakan untuk keperluan menjalankan mesin-mesin industri. Sumber energi yang digunakan dibidang industri biasanya berasal dari listrik dan bahan bakar fosil seperti solar, bensin, dan gas.

Seperti telah disebutkan diatas bahwa salah satu sumber energy yang digunakan dibidang industri adalah energ listrik. Sumber energi ini dirasakan sangat penting peranannya dalam perkembangan industri yang semakin modern.

Krisis energi tersebut diatas akan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan perekonomian dan industri nasional. Hal ini dapat dilihat dengan semakin buruknya kinerja industri dikarenakan biaya produksi domestik yang meningkat dengan kenaikan harga BBM dan energi listrik. Sementara itu tingkat konsumsi energi listrik perkapita nasional serta daya beli ekonomi yang rendah, menyebabkan efesiensi dan nilai tambah yang

(4)

memerlukan infrastruktur, teknologi dan know-how mengenai sistem konversi dan konservasi, serta kebijakan dan manajemen yang optimal.

Penggunaan energi yang bijaksana dan hemat akan mengurangi biaya produksi. Salah satu upaya untuk menuju penghematan pemakaian energi adalah dengan mengaudit pemakaian energinya. Audit energy merupakan analisa terhadap konsumsi energi dalam sebuah system yang menggunakan energy, seperti gedung bertingkat, pabrik dan sebagainya. Dengan audit energy metode EPS dapat dibandingkan antara konsumsi riil energy peralatan dengan konsumsi berdasarkan spesifikasi peralatan.

Dalam keperluan peraktis, energi sering kali dikaitkan dengan jumlah bahan bakar atau konsumsi jumlah listrik. Untuk melakukan analisis energy suatu system, harus dilakukan berbagai proses perhitungan yang melibatkan jumlah material / zat dan energy. Oleh karena itu perlu dipahami berbagai satuan yang sering digunakan dalam menyatakan besar atau jumlah dari suatu besaran. Untuk menyatakan jumlah material, ada beberapa besaran yang dapat digunakan, yaitu :

a. Massa, dengan satuan Kg,lbm, ton dan sebagainya. b. Volume, dengan satuan liter, m3, gallon dan sebagainya.

Untuk menyatakan jumlah energi, ada beberapa satuan yang digunakan, misalnya joule, ft, lbf, Kwh, BTU dan sebagainya. Satuan joule merupakan satuan standart internasional ( SI ) yang biasa digunakan untuk semua bentuk energy. Sedangkan kWH adalah satuan yang biasa digunakan

(5)

untuk menyatakan energi-energi listri, ft. lbf adalah satuan yang biasanya digunakan untuk menyatakan energy termal.3

2.2Konservasi Energi

Konservasi energi adalah usaha yang dilakukan dengan cara mengefisienkan penggunaan energi, terutama energi yang berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batu bara. Hal ini dibarengi dengan usaha untuk mencari dan membuat teknologi baru dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tidak habis. Misalnya energi matahari, air, dan panas bumi.

Konservasi energi merupakan langkah kebijaksanaan yang pelaksanaannya paling mudah dan biayanya paling murah, serta sekarang juga dapat dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kebijakan energi ini dimaksudkan untuk memanfaatkan sebaik-baiknya sumber energi yang ada, juga dalam rangka mengurangi ketergantungan akan minyak bumi, dengan pengertian bahwa konservasi energi tidak boleh menjadi penghambat kerja operasional maupun pembangunan yang telah direncanakan. Hal ini tertuang dalam Intruksi Presiden ( Inpres ) No.9 tahun 1982 tertanggal 7 April 1982, yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik Indonesia, tentang konservasi Energi. Inpres ini terutama ditujukan terhadap pencahayaan gedung, AC, peralatan dan perlengkapan kantor yang menggunakan listrik, dan kendaraan Dinas.

(6)

Inpres No.9 tahun 1982 tersebut kemudian diperkuat dengan Keppres No.43 tahun 1991 tentang konservasi energi, yang isinya merinci lebih jauh petunjuk langkah-langkah konservasi energi melalui :

a. Kampanye hemat energi. b. Diklat konservasi.

c. Peragaan dan contoh peralatan hemat energi. d. Litbang teknologi konservasi.

e. Pengembangan sistem audit energi, identifikasi potensi peningkatan efesiensi.

f. Standarisasi.

Keppres No.43 tahun 1991 ini, selain mencakup aspek teknis, juga mencakup aspek pelaksanaan dan implementasi seperti kebijakan di bidang investasi, perkreditan, serta harga dan tarif energi.4

Selanjutnya Inpres No.10 tahun 2005, tentang penghematan energi, dikeluarkan dengan mempertimbangkan potensi ancaman krisis energy listrik karena pasokan listrik yang tersedia, yaitu kapasitas terpasang, tidak mampu mengimbangi pertumbuhan permintaan konsumsi listrik nasional dengan pertumbuhan rata-rata 7% pertahun. Kebutuhan energi listrik dari dua sektor

      

(7)

utama yaitu rumah tangga dan industri, bahkan mengalami peningkatan dengan laju kenaikan rata-rata 10%-15% pertahun.5

Oleh karena itu disamping harus secepatnya mengembangkan sumber-sumber energy dari bahan bakar non fosil seperti biomassa, biogas, dan sebagainya, harus juga berusaha untuk dapat mengoptimalkan penggunaan energy minyak bumi secara lebih tepat, cermat, hemat, efisien dalam rangka pelaksanaan program konservasi energi. Keberhasilan penghematan energi dipengaruhi oleh kesadaran semua pihak serta komitmen pemimpin yang jelas dan tegas dalam menentukan kebijakan dan melakukan motivasi dan memaksa terlibatan karyawan secara isentif.

2.3Audit Energi

2.3.1 Pengertian Audit Energi

Audit energi adalah proses evaluasi pemanfaat energi dan

identifikasi peluang penghematan energi serta rekomendasi peningkatan efisiensi pada pengguna sumber energi dan pengguna energi dalam rangka konservasi energi. Audit energi dilaksanakan sekurang-kurangnya pada proses dan pengguna energi utama secara berkala paling sedikit satu kali dalam tiga tahun. Proses audit dapat dilakukan oleh auditor internal maupun eksternal, namun auditor-auditor tersebut wajib memiliki sertifikat kompetensi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.6

      

(8)

Audit energi suatu gedung adalah suatu survey terorganisir di satu gedung tertentu untuk mengidentifikasi dan mengukur semua penggunaan energi, menentukan sumber pemborosan energi, dan menentukan peluang penghematan energi ( ECO = Energy Coservation Opportunities ). Audit energi ini merupakan dokumentasi spesifik atas berbagai bentuk energi yang digunakan selama rentang waktu tertentu, biasanya untuk satu tahun.

Tujuan audit energi adalah menghasilkan data-data penggunaan energi yang dapat digunakan sebagai acuan penghematan energi, dan memberikan informasi mengenai langkah tepat, untuk menjalankan program efisiensi energi, serta mengetahui penggunaan energi aktual gedung serta mengetahui pilihan ECO yang paling tepat.

1. Pemeriksaan sistem energi secara berkala untuk memastikan bahwa energi tersebut digunakan seefisien mungkin.

2. Identifikasi pemborosan energi, potensi dan peluang penghematan serta menetapkan langkah-langkah penyempurnaan ditindak lanjuti dengan langkah nyata untuk merealisasikan potensi penghematan energi.

3. Memperkirakan berapa potensi nilai manfaat finansial yang diperoleh dari penghematan tersebut.

4. Merupakan top-down initiative.

5. Hasil audit energi tersebut bergantung pada resources yang dialokasikan oleh top management.

(9)

6. Dalam banyak cara, audit energi sama halnya dengan laporan keuangan dan pemeriksaan. Audit energi ini merupakan dokumentasi spesifik atas berbagai bentuk energi yang digunakan selama rentang waktu tertentu – biasanya untuk satu tahun.

7. Merupakan suatu prosedur sistematis yang dilakukan secara terbatas hanya pada gedung, situs, atau objek tertentu, yang bertujuan untuk: a. Mengidentifikasi dan mengukur penggunaan energi.

b. Menentukan sumber pemborosan energi.

c. Menentukan peluang penghematan energi yang paling tepat d. (ECO = Energy Conservation Opportunities).

e. Melaporkan temuan yang didapat.

2.3.2 Keuntungan Audit Energi

1. Meningkatkan pengetahuan tentang efisiensi energi 2. Mengidentifikasi biaya energi yang digunakan

3. Mengidentifikasikan dan meminimumkan hal yang terbuang

4. Membuat perubahan prosedur, peralatan, dan sistem untuk

menyimpan energi

5. Menghematkan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui 6. Menjaga lingkungan dengan mengurangi pembangkitan tenaga

(10)

7. Mengurangi running costs.7 2.3.3 Tingkat Audit Energi

Audit energi secara garis besar dapat dibagi dalam 3 tingkat : 1. Audit Tingkat I Penaksiran Selintas

Audit tingkat 1, seringkali disebut sebagai garis besar, membolehkan seluruh pemakaian energi pada suatu area untuk dievaluasi, untuk melihat apakah penggunaan energi masih rasional atau berlebihan. Ini memberikan suatu benchmark pada suatu area sehingga pengaruh dari pengukuran energi dapat dilacak dan dievaluasi. Ini bisa disebut sebagai studi di komputer, meskipun informasi sudah diberikan, atau didapatkan. Para auditor perlu lebih bekerja keras lagi untuk mendapatkan keseluruhan tingkat efisiensi pada area tersebut. Analisis energi pada tingkat ini dapat mengidentifikasi pilihan-pilihan ECO tanpa biaya atau berbiaya sangat rendah, dengan analisis penghematan dan biayanya.

Catatan: Audit tingkat 1 diharapkan memberikan garis

besar singkat, yang memberikan perintah umum penghematan dan pembiayaan. Penyimpangannya secara umum sekitar 40%.

2. Audit Tingkat II Survey dan analisis energi

      

7 Muslim, Erlinda, Presentasi 2008. Audit Energi, Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas

(11)

Audit tingkat 2, mengidentifikasikan sumber dari energi pada suatu area, besarnya pasokan energi, dan penggunaan dari energi tersebut. Pada tingkat ini juga mengidentifikasikan lokasi mana saja yang memungkinkan adanya penghematan, merekomendasikan tindakan yang harus dilakukan, dan memberikan pernyataan biaya dan kemungkinan penghematan. Catatan: Audit tingkat 2 adalah survey penggunaan energi, dimana diharapkan memberikan pengkajian awal dari pembiayaan dan penghematan. Penyimpangannya secara umum sekitar 20%.

3. Audit Tingkat III Analisis mendetail atas modifikasi padat modal Audit tingkat 3 memberikan analisis yang detail tentang penggunaan energi, penghematan yang bias dilaksanakan, dan biaya yang dicapai dari penghematan tersebut. Penghematan ini mungkin meliputi seluruh area atau mungkin dikhususkan pada suatu bagian, seperti pada satu proses industri atau salah satu pelayanan saja. Auditor biasanya menggunakan jasa ahli/spesialis untuk mengatasi bagian tertentu pada suatu audit atau mungkin perlu untuk memasang meteran atau pengukur lokal.

Laporan dari audit tingkat 3 sering dipakai menjadi acuan untuk pengambilan keputusan untuk investasi tertentu oleh pemilik atau kontraktor kinerja energi. Dibutuhkan analisis ekonomi yang detail dengan tingkat keakuratan yang sesuai.

(12)

Catatan: Audit tingkat 3 diharapkan menyediakan gambaran perkiraan penghematan dan pembiayaan. Penyimpangannya lebih dari 10% untuk pembiayaan dan kurang dari 10% untuk penghematan.8

2.3.4 Analisa Tagihan

1. Audit harus dimulai dengan analisa yang detail dari tagihan energi selama dua belas bulan yang lampau.

2. Data tagihan energi harus dianalisa dengan sumber energi dan lokasi tagihan.

a. Letak Geografis/Derajat Harian/Data Cuaca Derajat panas harian dan derajat dingin harian

b. Layout Fasilitas c. Waktu Operasi d. Equipment List.9

2.3.5 Ruang Lingkup Audit Energi

1. Pentingnya keikutsertaan manajemen senior, operator dan staf dalam menentukan ruang lingkup kerja dan ketersediaan sumber daya untuk mengadakan audit energi

       8

 Sujatmiko Wahyu. 2008. Penyempurnaan Standar Audit Energi pada Bangunan Gedung. Bandung. 

(13)

2. Ruang lingkup kerja meliputi area yang akan diaudit, tingkat pengalaman, antisipasi penyimpanan, kebutuhan untuk pelatihan dan kebutuhan untuk meningkatkan organisasi dan Manajemen.

2.3.6 Karakteristik Pemakaian Energi Listrik Pada Gedung

1. Umumnya untuk menggarahkan a. AC

b. Lighting c. Peralatan

d. Sistem Keamanan e. Peralatan lain

2. Karakterisitik tiap gedung berbeda

3. Hasil penelitian penggunaan energi pada beberapa bangunan 4. Dari data hasil penelitian dilakukan

a. AC konsumsi

b. Diikuti untuk penerangan

5. Untuk penghematan dilakukan benchmarking IKE dengan

(14)

2.3.7 Proses Audit Energi

Adapun audit energi awal antara lain meliputi data-data yang diperlukan pada audit energi awai, yaitu :

1. Dokumentasi bangunan

a. Denah bangunan seluruh lantai

b. Denah instalasi pencahayaan bangunan seluruh lantai

c. Diagram garis tunggal listrik, lengkap dengan penjelasan penggunaan daya listriknya dan besarnya sambungan daya PLN serta besarnya daya listrik cadangan dari Diesel Generating Set ( Genset ).

d. Pembayaran rekening listrik bulanan bangunan gedung selama satu tahun terakhir dan rekening pembelian bahan bakar minyak ( BBM ).

2. Tingkat hunian bangunan (occupancy rate). Menghitung besarnya Intensitas Konsumsi Energi ( IKE ) gedung.

Berdasarkan data bangunan dan data energi seperti disebutkan diatas dapat dihitung :

1) Rincian luas bangunan dan luas total bangunan ( m2 ). 2) Daya listrik total yang dibutuhkan.

(15)

Intensitas Konsumsi Energi ( IKE ) listrik merupakan istilah yang digunakan untuk mengetahui besarnya pemakaian energi pada suatu sistem ( bangunan ). Namun energi yang dimaksudkan dalam hal ini adalah energi listrik. Pada hakekatnya Intensitas Konsumsi Energi ini adalah hasil bagi antara konsumsi energi total selama periode tertentu ( satu tahun ) dengan luasan bangunan. Satuan IKE ini telah ditetapkan diberbagai negara antara lain ASEAN dan APEC.

Menurut hasil peelitian yang dilakukan oleh ASEAN_USAID pada tahun 1987 yang laporannya baru dikeluarkan tahun 1992, target besarnya Intensitas Konsumsi Energi ( IKE ) listrik untuk Indonesia adalah sebagai berikut : ( Direktorat Pengembangan Energi )10

a. IKE untuk perkantoran ( komersil ) : 240 kWH/m2 per tahun b. IKE untuk pusat belanja : 330 kWH/m2 per tahun c. IKE untuk hotel / apartemen : 300 kWh/m2 per tahun

d. IKE untuk rumah sakit : 380 kWh/m2 per tahun

Audit energi rinci dilakukan apabila nilai IKE bangunan lebih besar dari target nilai IKE standar. Rekomendasi yang disampaikan oleh Tim Hemat Energi ( THE ) yang dibentuk oleh pemilik / pengelola bangunan gedung dilaksanakan sampai diperolehnya nilai IKE sama atau lebih kecil dari target nilai IKE standar untuk bangunan di

       10

(16)

Indonesia dan selalu diupayakan untuk dipertahankan atau diusahakan lebih rendah dimasa mendatang.

2.4Energy Potential Scan ( EPS )

2.4.1 Pengertian Energy Potential Scan ( EPS )

Energy Potential Scan ( EPS ) adalah suatu metoda untuk menurunkan tingkat konsumsi energi di industri. EPS merupakan program partisipatif dimana pihak industri memainkan peran penting, berbeda dengan Audit Energi Konvensional. Tujuan EPS adalah pencarian peluan penurunan konsumsi energi pabrik yang dinilai industri realistis dan fisibel. Efektifitas EPS diukur dengan diimplementasikannya peluang penghematan energi di atas.

Efektivitas hasil EPS digambarkan oleh E = Q x A, dimana E adalah effectiveness ( efektivitas ), Q adalah quality ( kualitas ), dan A adalah acceptance ( keberterimaan ).

Adapun perbedaan antara Audit Energi Tradisional dan EPS yaitu: 1. Pendekatan Audit Energi Tradisional

(17)

Skema 2.1 Pendekatan Audit Energi Tradisional

( Sumber : Slide Pembelajaran EPS.2011 )

2. Pendekatan Audit Energy Potential Scan

Share holders 

management 

Manager 1  Manager 2  Manager 3  Manager  

Dep. 1  Dep. 2  Dep. 3  Dep. 4 

Skema 2.2 Pendekatan Audit Energy Potential Scan

(18)

2.4.2 Kualitas dan Keberterimaan EPS

1. Pemastian Kebaikan Kualitas

a. Keikutsertaan staf / enginer yang mengerti betul seluk beluk pabrik serta seluruh aspek produksi.

b. Konsultan Eksternal yang siap dengan seluruh metoda dan pengangkatan analisis yang diperlukan dalam pelaksanaan EPS. c. Konsultasi Eksternal menunjang implementasi hasil EPS. 2. Pemaksimalan Aspek Keberterimaan

a. Adanya komitmen Manajemen Puncak. Disarankan kegiatan EPS berada di bawah Direktur atau Manajemen Pabrik, Produksi atau Operasi atau pejabat lain sebagai pengguna energi terbesar. b. Penunjukkan staf / enjinir yang paham seluk beluk pabrik

didukung oleh Konsultan / Eksternal.

Catatan : mayoritas anggota EPS adalah dari pihak Industri.

2.4.3 Implikasi Persyaratan EPS

1. Manajemen memilih dan menentukan staf sebagai anggota EAT. 2. EAT ( Energy Action Team ) memainkan peran sangat penting

(19)

3. Konsultasi Eksternal berperan sebagai pendukung dan memandu pelaksanaan EPS serta menyiapkan seluruh metoda dan perangkat analisis.

4. Berdasarkan hasil kegiatan EPS, EAT akan menyusun program Penghematan Energi.

5. Manajemen memutuskan cakupan dan kedalaman Program

Penghematan Energi tersebut.

2.4.4 Keuntungan Pendekatan EPS

Keuntungan penerapan EPS di Industri antara lain :

1. Pemanfaatan maksimum keahlian yang dimiliki “orang dalam” (pegawai, staff) industri yang bersangkutan.

2. Pemikiran atau ide penghematan energi yang telah lebih dahulu ada (dalam pikiran “orang dalam”) secara otomatis dapat diajukan, dianalisis dan disarankan dalam program ini.

3. Mendorong peningkatan kesadaran pegawai / keryawan terhadap penggunaan energi yang bertanggung jawab.

4. Pemikiran atau ide yang timbul dan atau diajukan oleh “orang dalam” biasanya lebih mudah diterima oleh industri yang bersangkutan.

(20)

2.4.5 Metodologi Pelaksanaan Global EPS

Energi Scan Manajemen   Rencana Efisiensi Energi 

Skema 2.3 Metodelogi Pelaksanaan Global EPS

1. Energi analisis konsumsi terdiri dari pengumpulan data dan distribusi energi.

2. Langkah ini mengumpulkan isu-isu besar terjadi berkaitan dengan energi. 3. Energi efisiensi scan melibatkan brainstorming, memikirkan ide-ide untuk

meningkatkan efisiensi, dan aplikasi yang mungkin baik secara finansial dan teknis.

4. Manajemen energi scan melibatkan pemeriksaan dan tindakan.

Setelah semua berkesempatan untuk meningkatkan efisiensi dikumpulkan, saatnya untuk mengatur rencana efisiensi energi. Pada langkah ini, manajemen perusahaan harus mempersiapkan tim yang berkualitas untuk melakukan EPS.

Efisiensi energi di Indonesia masih di atas kertas, tidak ada kebijakan yang tepat yang mengatur tentang efisiensi energi.

Efisiensi Energi Scan 

(21)

2.4.6 Energy Action Team ( EAT )

2.4.6.1 Tugas Energy Action Team

1. Mengorganisir dan merencanakan kegiatan 2. Implementasi

3. Mempresentasikan dan melaporkan hasil kegiatan EPS 4. Setelah kegiatan EPS selesai, EAT dapat melanjutkan

kegiatannya dalam mempersiapkan dan melaksanakan tindakan maupun pekerjaan penghematan energi.

Konsultan Eksternal memberikan dukungan penuh bagi anggota EAT dalam melaksanakan tugasnya selama kegiatan EPS berlangsung.

2.4.6.2 Pengorganisasian dan Perencanaan EAT

1. EAT bertanggung jawab :

a. Memastikan kegiatan EPS terlaksanakan secara efisiensi dan menyeluruh ( tuntas ).

b. Melakukan supervisi terhadap kemajuan EPS. 2. EAT menyusun perencanaan implementasi EPS

a. Mengatur waktu bagi staf diluar EAT untuk turut terlibat dalam EPS ( bila diperlukan ).

(22)

b. Menyiapkan kelengkapan dan perlengkapan kegiatan EPS.

c. Memastikan ketersediaan waktu yang cukup bagi

anggota EAT

3. EAT mengorganisir meeting untuk mendiskusikan hasil EPS dan bertanggung jawab terhadap pelaporan hasil kegiatan dalam perusahaannya.

2.4.6.3 Implementasi EAT

1. EAT bertanggung jawab terhadap kegiatan berikut :

a. Mengumpulkan data konsumsi energi dan emisi

akibat proses produksi, bangunan, dan utilitas.

b. Menentukan dan mengkuantifikasi peluang

penurunan energi dan emisi .

c. Melakukan pemeringkatan terhadap seluruh peluang ini berdasarkan kriteria teknis dan keekonomian.

d. Menyusun skenario penghematan energi dan

Program Efisiensi Energi.

2. EAT bertanggung jawab mengumpulkan data konsumsi energi.

a. EAT memastikan ketersediaan data diperlukan

(23)

b. EAT menjadi perantara kehadiran pihak luar lainnya yang dapat mensuplai ( memegang ) kelengkapan data EPS.

c. EAT mengevaluasi kualitas dan menginterpretasikan data EPS yang telah terkumpul secara sistematis. d. Berdasarkan pengetahuan dan familiaritas terhadap

proses produksi, EAT berada pada posisi strategis untuk menentukan perbaikan / peningkatan berkelanjutan.

2.4.6.4 Presentasi dan Pelaporan

1. EAT mencatat dan menuangkan temuannya dalam suatu laporan.

2. EAT mempresentasikan seluruh hasil EPS dan rencana Program Efisiensi kepada Manajemen.

2.4.6.5 Susunan atau Komposisi EAT

1. Susunan atau komposisi EAT bergantung pada

karakteristik industri.

a. Bagi industri pengguna energi besar di

rekomendasikan mengikutsertakan departemen pengguna energi dan penghasil emisi utama.

(24)

Misalnya Produksi, Proses dan Product Development, atau Operasional Pabrik.

b. Guna memastikan efektivitas tim, jumlah anggota EAT dibatasi pada 4-5 orang (bagian lain dapat dikonsultasikan saat diperlukan).

2. Pejabat Departemen Produksi ditunjuk sebagai ketua EAT karena proses produksi biasanya pengguna energi terbesar dalam suatu industri.

3. Jabatan sekretaris EAT sebaiknya diisi oleh manajer atau koordinator pabrik atau manajer energi atau lingkungan hidup.

2.4.7 Dukungan dan Kontribusi Konsultan

1. Jenis dukungan dan Kontribusi Konsultan : a. Konsultansi Manajemen

b. Produksi – Konsultansi enjiniring c. Utilitas – konsultasi enjiniring 2. Tugas Utama Konsultan EPS

a. Memberikan EAT informasi latar belakang yang relevan dan memberikan jasa konsultansi terhadap implementasi EPS baik dari sudut metoda maupun kelengkapan analisis lainnya.

(25)

b. Mengindikasikan peluang penghematan energi dan mendampingi perbaikan atau peningkatan terhadap manajemen energi ( dan atau lingkungan hidup ).

2.4.8 Organisasi dan Perencanaan EPS 2.4.8.1Organisasi EPS

1. Tanggung jawab ketua EPS

a. Mengendalikan perencanaan dan budget ( utamanya man-hour ).

b. Memastikan seluruh kegiatan EPS dapat dilaksanakan. c. Mengundang atau memastikan kehadiran pihak lain

dalam perusahaan.

d. Memastikan ketersediaan masukan bagi EPS pada

waktunya.

2.4.8.2 Perencanaan Kegiatan EPS

1. Kegiatan EPS dilaksanakan sesuai jadwal

2. EAT akan beradaptasi terhadap perencanaan ini sesuai kebutuhan spesifiknya.

2.4.9 Program Efisiensi Energi

Program efisiensi energi merupakan hasil akhir EPS. 1. Penyusunan Program Efisiensi Energi mencakup :

(26)

a. Opsi indikatif penghematan energi jangka panjang

b. Tindakan atau program energi yang terukur dan terdistribusi dengan baik

c. Tindakan perbaikan atau peningkatan terhadap manajemen energi

2. Program Efisiensi Energi yang disetujui dapat digunakan untuk : a. Penunjang teknis kebutuhan finansial program (justifikasi) b. Menjadi pedoman program jangka panjang peningkatan

pemanfaatan energi perusahaan.11 2.5Sistem Penerangan Ruangan

Penerangan ( iluminasi ) adalah keadatan dari suatu berkas cahaya yang mengenai suatu permukaan. Cahaya merupakan sinar elektromagnet yang hanya dibedakan oleh panjang gelombang dan frekuensi dengan gelombang elektromagnet lainnya.

2.5.1 Definisi dan Istilah yang Umum Digunakan

1. Lumen: Satuan flux cahaya; flux dipancarkan didalam satuan unit sudut padatan oleh suatu sumber dengan intensitas cahaya yang seragam satu candela. Satu lux adalah satu lumen per meter persegi. Lumen (lm) adalah kesetaraan fotometrik dari watt, yang memadukan respon mata “pengamat standar”. 1 watt

      

11 UNEP.2006.Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia

(27)

= 683 lumens pada panjang gelombang 555 nm (Dwimirnani, 2010).

2. Efficacy Beban Terpasang: Merupakan iluminasi/terang rata-rata yang dicapai pada suatu bidang kerja yang datar per watt pada pencahayaan umum didalam ruangan yang dinyatakan dalam lux/W/m².

3. Perbandingan Efficacy Beban Terpasang: Merupakan

perbandingan efficacy beban target dan beban terpasang.

4. Luminaire: Luminaire adalah satuan cahaya yang lengkap, terdiri dari sebuah lampu atau beberapa lampu, termasuk rancangan pendistribusian cahaya, penempatan dan perlindungan lampu-lampu, dan dihubungkannya lampu ke pasokan daya.

5. Lux: Merupakan satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan. Cahaya rata-rata yang dicapai adalah rata-rata tingkat lux pada berbagai titik pada area yang sudah ditentukan. Satu lux setara dengan satu lumen per meter persegi.

6. Tinggi mounting: Merupakan tinggi peralatan atau lampu diatas bidang kerja.

7. Efficacy cahaya terhitung: Perbandingan keluaran lumen terhitung dengan pemakaian daya terhitung dinyatakan dalam lumens per watt.

(28)

8. Indeks Ruang: Merupakan perbandingan, yang berhubungan dengan ukuran bidang keseluruhan terhadap tingginya diantara tinggi bidang kerja dengan bidang titik lampu.

9. Efficacy Beban Target: Nilai efficacy beban terpasang yang dicapai dengan efisiensi terbaik, dinyatakan dalam lux/W/m². 10. Faktor pemanfaatan (UF): Merupakan bagian flux cahaya yang

dipancarkan oleh lampulampu, menjangkau bidang kerja. Ini merupakan suatu ukuran efektivitas pola pencahayaan.

11. Intensitas Cahaya dan Flux: Satuan intensitas cahaya I adalah candela (cd) juga dikenal dengan international candle. Satu lumen setara dengan flux cahaya, yang jatuh pada setiap meter persegi (m2) pada lingkaran dengan radius satu meter (1m) jika

sumber cahayanya isotropik 1-candela (yang bersinar sama ke seluruh arah) merupakan pusat isotropik lingkaran. Dikarenakan luas lingkaran dengan jarijari r adalah 4πr2, maka lingkaran

dengan jari-jari 1m memiliki luas 4πm2, dan oleh karena itu flux

cahaya total yang dipancarkan oleh sumber 1- cd adalah 4π1m. Jadi flux cahaya yang dipancarkan oleh sumber cahaya isotropik dengan intensitas I adalah: Flux cahaya (lm) = 4π × intensitas cahaya (cd). Perbedaan antara lux dan lumen adalah bahwa lux berkenaan dengan luas areal pada mana fluxmenyebar 1000 lumens, terpusat pada satu areal dengan luas satu meter persegi, menerangi meter persegi tersebut dengan cahaya 1000 lux. Hal yang sama untuk 1000 lumens, yang menyebar kesepuluh meter

(29)

persegi, hanya menghasilkan cahaya suram 100 lux (Puspakesuma, 1991).

2.5.2 Jenis-Jenis Sitem Pencahayaan

Bagian ini menjelaskan berbagai jenis dan komponen sistim

pencahayaan.

1. Lampu Pijar (GLS)

Lampu pijar bertindak sebagai ‘badan abu-abu’ yang secara selektif memancarkan radiasi, dan hampir seluruhnya terjadi pada daerah nampak. Bola lampu terdiri dari hampa udara atau berisi gas, yang dapat menghentikan oksidasi dari kawat pijar tungsten, namun tidak akan menghentikan penguapan. Warna gelap bola lampu dikarenakan tungsten yang teruapkan mengembun pada permukaan lampu yang relatif dingin. Dengan adanya gas inert, akan menekan terjadinya penguapan, dan semakin besar berat molekulnya akan makin mudah menekan terjadinya penguapan. Untuk lampu biasa dengan harga yang murah, digunakan campuran argon nitrogen dengan perbandingan 9/1. Kripton atau Xenon hanya digunakan dalam penerapan khusus seperti lampu sepeda dimana bola lampunya berukuran kecil, untuk mengimbangi kenaikan harga, dan jika penampilan merupakan hal yang penting. Gas yang terdapat dalam bola pijar dapat menyalurkan panas dari

(30)

Lampu yang berisi gas biasanya memadukan sekering dalam kawat timah. Gangguan kecil dapat menyebabkan pemutusan arus listrik, yang dapat menarik arus yang sangat tinggi. Jika patahnya kawat pijar merupakan akhir dari umur lampu, tetapi untuk kerusakan sekering tidak begitu halnya (Pakpahan, 1999).

Gambar 2.1 Lampu Pijar dan Diagram Aliran Energi Lampu Pijar

( Sumber : Biro efisiensi Energi, 2005)

2. Lampu Tungsten--Halogen

Lampu halogen adalah sejenis lampu pijar. Lampu ini memiliki kawat pijar tungsten seperti lampu pijar biasa yang digunakan di rumah, tetapi bola lampunya diisi dengan gas halogen. Atom tungsten menguap dari kawat pijar panas dan bergerak naik ke dinding pendingin bola lampu. Atom tungsten, oksigen dan halogen bergabung pada dinding bola lampu membentuk molekul oksihalida tungsten. Suhu dinding bola lampu

(31)

menjaga molekul oksihalida tungsten dalam keadaan uap. Molekul bergerak kearah kawat pijar panas dimana suhu tinggi memecahnya menjadi terpisah-pisah. Atom tungsten disimpan kembali pada daerah pendinginan dari kawat pijar – bukan ditempat yang sama dimana atom diuapkan. Pemecahan biasanya terjadi dekat sambungan antara kawat pijar tungsten dan kawat timah molibdenum dimana suhu turun secara tajam.

Gambar 2.2 Lampu halogen tungsten

( Sumber : http://www.istanasenter.com.2006 )

3. Lampu Neon

Lampu neon, 3 hingga 5 kali lebih efisien daripada lampu pijar standar dan dapat bertahan 10 hingga 20 kali lebih awet. Dengan melewatkan listrik melalui uap gas atau logam akan menyebabkan radiasi elektromagnetik pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan komposisi kimia dan tekanan gasnya. Tabung neon memiliki uap merkuri bertekanan rendah, dan akan memancarkan sejumlah kecil radiasi biru/ hijau, namun kebanyakan akan berupa UV pada 253,7nm dan 185nm.

(32)

daerah nampak. Proses ini memiliki efisiensi sekitar 50%. Tabung neon merupakan lampu ‘katode panas’, sebab katode dipanaskan sebagai bagian dari proses awal. Katodenya berupa kawat pijar tungsten dengan sebuah lapisan barium karbonat. Jika dipanaskan, lapisan ini akan mengeluarkan elektron tambahan untuk membantu pelepasan. Lapisan ini tidak boleh diberi pemanasan berlebih sebab umur lampu akan berkurang. Lampu menggunakan kaca soda kapur yang merupakan pemancar UV yang buruk. Jumlah merkurinya sangat kecil, biasanya 12 mg. Lampu yang terbaru menggunakan amalgam merkuri, yang kandungannya sekitar 5 mg. Hal ini memungkinkan tekanan merkuri optimum berada pada kisaran suhu yang lebih luas. Lampu ini sangat berguna bagi pencahayaan luar ruangan karena memiliki fitting yang kompak.

Gambar 2. 3 Lampu Neon

(33)

3. Lampu neon yang kompak

Lampu neon kompak yang tersedia saat ini membuka seluruh pasar bagi lampu neon. Lampulampu ini dirancang dengan bentuk yang lebih kecil yang dapat bersaing dengan lampu pijar dan uap merkuri di pasaran lampu dan memiliki bentuk bulat atau segi empat. Produk di pasaran tersedia dengan gir pengontrol yang sudah terpasang (GFG) atau terpisah (CFN).

Gambar 2.4 Lampu Neon Kotak ( Sumber :

http://www.istanasenter.com.2006 )

4. Lampu Sodium

Lampu sodium tekanan tinggi (HPS) banyak digunakan untuk penerapan di luar ruangan dan industri. Efficacy nya yang tinggi membuatnya menjadi pilihan yang lebih baik daripada metal halida, terutama bila perubahan warna yang baik bukan menjadi prioritas. Lampu HPS berbeda dari lampu merkuri dan metal halida karena tidak memiliki starter elektroda; sirkuit balas dan starter elektronik tegangan tinggi. Tabung pemancar listrik terbuat dari

(34)

Didalamnya diisi dengan xenon untuk membantu menyalakan pemancar listrik, juga campuran gas sodium – merkuri.

Gambar 2.5 Lampu Uap Sodium ( Sumber : http://www.istanasenter.com.2006 )

5. Lampu Uap Merkuri

Lampu uap merkuri merupakan model tertua lampu HID. Walaupun mereka memiliki umur yang panjang dan biaya awal yang rendah, lampu ini memiliki efficacy yang buruk (30 hingga 65 lumens per watt, tidak termasuk kerugian balas) dan memancarkan warna hijau pucat. Isu paling penting tentang lampu uap merkuri adalah bagaimana caranya supaya digunakan jenis sumber HID atau neon lainnya yang memiliki efficacy dan perubahan warna yang lebih baik. Lampu uap merkuri yang bening, yang menghasilkan cahaya biru-hijau, terdiri dari tabung pemancar uap merkuri dengan elektroda tungsten di kedua ujungnya. Lampu tersebut memiliki efficacy terendah dari keluarga HID, penurunan lumen yang cepat, dan indeks perubahan warna yang rendah. Disebabkan karakteristik tersebut, lampu jenis HID yang lain telah

(35)

menggantikan lampu uap merkuri dalam banyak penggunaannya. Walau begitu, lampu uap merkuri masih merupakan sumber yang populer untuk penerangan taman sebab umur lampunya yang mencapai 24.000 jam dan bayangan taman yang hijaunya terlihat seperti gambaran hidup. Pemancar disimpan di bagian dalam bola lampu yang disebut tabung pemancar. Tabung pemancar diisi dengan gas merkuri dan argon murni. Tabung pemancar tertutup di dalam bola lampu yang berada diluarnya, yang diisi dengan nitrogen.

Gambar 2.6 Lampu Uap Merkuri ( Sumber : http://www.istanasenter.com.2006 )

6. Lampu Kombinasi

Lampu kombinasi kadang disebut sebagai lampu two-in-one. Lampu ini mengkombinasikan dua sumber cahaya yang tertutup dalam satu lampu yang diisi gas. Salah satu sumbernya adalah tabung pelepas merkuri kuarsa (seperti sebuah lampu merkuri) dan sumber lainnya adalah kawat pijar tungsten yang

(36)

untuk tabung pelepasan yang menstabilkan arus, jadi tidak diperlukan balas yang lain. Kawat pijar tungsten digulung dengan susunan melingkar pada tabung pelepasan dan dihubungkan dalam susunan seri. Lapisan bubuk fluorescent diletakkan ke bagian dalam dinding lampu untuk mengubah sinar UV yang dipancarkan dari tabung pelepas ke cahaya nampak. Pada penyalaan, lampu hanya memancarkan cahaya dari kawat pijar tungsten, dan selama perjalanan sekitar 3 menit, pemancar didalam tabung pelepas melesat mencapai keluaran cahaya penuh. Lampu ini cocok untuk area anti nyala dan dapat disesuaikan dengan perlengkapan lampu pijar tanpa modifikasi.

Gambar 2.7 Lampu Kombinasi

(Sumber : http://www.istanasenter.com.2006)

7. Lampu Metal Halida

Halida bertindak sama halnya dengan siklus halogen tungsten. Manakala suhu bertambah maka terjadi pemecahan

(37)

senyawa halida melepaskan logam ke pemancar. Halida mencegah dinding kuarsa diserang oleh logam-logam alkali.

Gambar 2.8 Lampu Metal Helida ( Sumber : http://www.istanasenter.com.2006 )

8. Lampu LED

Lampu LED merupakan lampu terbaru yang merupakan sumber cahaya yang efisien energinya. Ketika lampu LED memancarkan cahaya nampak pada gelombang spektrum yang sangat sempit, mereka dapat memproduksi “cahaya putih”. Hal ini sesuai dengan kesatuan susunan merah-biruhijau atau lampu LED biru berlapis fospor. Lampu LED bertahan dari 40.000 hingga 100.000 jam tergantung pada warna. Lampu LED digunakan untuk banyak penerapan pencahayaan seperti tanda keluar, sinyal lalu lintas, cahaya dibawah lemari, dan berbagai penerapan dekoratif. Walaupun masih dalam masa perkembangan, teknologi lampu LED sangat cepat mengalami kemajuan dan menjanjikan untuk masa depan. Pada cahaya sinyal lalu lintas, pasar yang kuat untuk LED, sinyal lalu lintas warna merah menggunakan lampu 10W yang

(38)

menggunakan 150W. Berbagai perkiraan potensi penghematan energi berkisar dari 82% hingga 93%. Produk pengganti LED, diproduksi dalam berbagai bentuk termasuk batang ringan, panel dan sekrup dalam lampu LED, biasanya memiliki kekuatan 2-5W masing-masing, memberikan penghematan yang cukup berarti dibanding lampu pijar dengan bonus keuntungan masa pakai yang lebih lama, yang pada gilirannya mengurangi perawatan.12

2.5.3 Control Gear ( BALLAST )

Control gear yang digunakan untuk mengoperasikan lampu fluoresensi disebut ballast. Ballast adalah suatu kumpulan elektronik yang dapat mengubah listrik input 12 volt menjadi 23.000 Volt dalam 1 detik pertama, listrik ini dibutuhkan untuk menyalakan bohlam yang berisikan gas Xenon.13

Lampu fluorescent lebih dikenal sebagai lampu TL. Lampu penerangan jenis ini lebih banyak dipakai karena daya yang dipakai relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan lampu bolam. Selain itu lampu TL juga lebih dingin daripada lampu bolam dengan pemakain daya yang sama. Penggunaan lampu fluorescent, dan selanjutnya disebut lampu TL ini penggunaannya sudah sangat luas dan sangat umum baik untuk penerangan rumah ataupun penerangan pada industri-industri. Keuntungan dari lmapu TL ini, seperti yang telah disebutkan di atas adalah menghasilkan cahaya

       12

 http://elektronika-elektronika.blogspot.com. 2007

(39)

output per watt daya yang digunakan lebih tinggi daripada lampu bolam biasa (incandescent lamp).

Sebagai contoh, sebuah penelitian menunjukkan bahwa 32 watt lampu TL akan mengjasilkan cahaya sebesar 1700 lumens pada jarak 1 meter sedangkan 75 watt lampu bolam biasa (lampu bolam dengan filamen tungsten) menghasilkan 1200 lumens. Atau dengan kata lain perbandingan effisiensi lampu TL dan lampu bolam adalah 53 : 16. Efisiensi disini didefinisikan sebagai intensitas cahaya yang dihasilkan dibagi dengan daya listrik yang digunakan.

Walaupun lampu TL mempunyai keuntungan yang besar yaitu pada penghematan daya, lampu TL juga mempunyai kerugian. Kerugian lampu TL adalah :

1. Besarnya biaya pembelian satu set lampu TL

2. Tempat yang digunakan oleh satu set lampu TL lebih besar.

Oleh karena lampu TL standard measih mempunyai kelemahan seperti yang disebutkan di atas maka dengan electronic ballast tempat yang digunakan oleh sebuah lampu TL standar dapat diperkecil sehingga menyamai tempat yang digunakan oleh sebuah lampu bolam. Selain itu dengan electronic ballast dapat mengatasi adanya flicker yang disebabkan karena turunnya frekuensi tegangan supply.14

(40)

        Gambar 2.9 Blok Diagram Lampu TL Standar

( Sumber : http://www.istanasenter.com.2006 )

Operasi lampu TL standar hanya membuthkan komponen yang sangat sedikit yaitu : Ballast (berupa induktor), starter, dan sebuah kapasitor (pada umumnya tidak digunakan) dan sebuah tabung lampu TL. Konstruksi ini dapat dilihat pada gambar 2.9

Tabung lampu TL ini diisi oleh semacam gas yang pada saat elektrodanya mendapat tegangan tinggi gas ini akan terionisasi sehingga menyebabkan elektron-elektron pada gas tersebut bergerak dan memendarkan lapisan fluorescent pada lapisan tabung lampu TL.

Starter merupakan komponen penting pada sistem lampu TL ini karena starter akan menghasilkan suatu pulsa trigger agar ballast dapat menghasilkan spike tegangan tinggi. Starter merupakan komponen bimetal yang dibangun di dalam sebuah tabung vacuum yang biasanya diisi dengan gas neon.15

       15 

(41)

2.5.4 Konsumsi Pemakaian Daya Lampu

Untuk lampu tubularfluoresensi 18 watt kira-kira konsumsi daya listrik termasuk ballast konvensional menjadi 30 watt, sedangkan untuk 36 watt dan 58 watt konsumsinya termasuk ballast masing-masing 46 watt dan 71 watt.

Lampu kompak fluoresensi biasanya diperbandingkan dengan lampu pijar, tetapi tidak diperhitungkan konsumsi ballast yang diserap untuk lampu kompak fluoresensi tersebut. Padahal untuk lampu PL atau Dulux 5 watt konsumsi daya listrik termasuk ballast kurang lebih 10 watt, sedangkan untuk 7 watt, 9 watt, dan 11 watt konsumsinya termasuk ballast masing-masing menjadi 11 watt, 13 watt, dan 15 watt. Untuk lampu kompak fluoresensi PL-C atau Dullux-D 10 watt konsumsi daya listrik termasuk ballastnya kira-kira 15 watt, sedangkan untuk 13 watt, 18 watt, dan 26 watt konsumsinya termasuk ballast menjadi 17 watt, 24 watt, dan 34 watt. Demikian pula untuk PL Long atau Dulux-L 18 watt, 24 watt, dan 36 watt konsumsinya termasuk ballast masing-masing menjadi 30 watt, 35 watt, dan 46 watt.

Disamping itu, perlu diperhitungkan bahwa mekanisme alat pengendalian yang memakai kumparan (coil control gear) memerlukan arus yang lebih tinggi pada waktu start. Dalam lingkaran induktif arus start lebih kurang 1,5 kali arus operasi normal. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel 3.8 dibawah ini berdasarkan pemakaian ballast dari Artolite (Rumagit, 2007).

(42)

Tabel 2.1 Pebandingan Pemakaian Ballast Lampu  Konsumsi Daya 

   Tanpa Ballast  Dengan Ballast  Tubular Fluoresensi  20 watt  30 watt  TL  36 watt  46 watt 

   58 watt  71 watt 

Kompak Fluoresensi  5 watt  10 watt  PL/Dulux  7 watt  11 watt 

   9 watt  13 watt 

   11 watt  15 watt 

Kompak Fluoresensi  10 watt  15 watt  PL‐C/Dulux‐D  13 watt  17 watt 

   18 watt  24 watt 

   26 watt  34 watt 

Kompak Fluoresensi  18 watt  30 watt  PL Long/Dulux L  24 watt  35 watt 

   36 watt  46 watt 

( Sumber : http://fisbang.tf.itb.ac.id )

Untuk mencapai hal tersebut SNI merekomendasikan perhitungan dilakukan dengan metode CLTD (SNI 03-6390-2000, pasal 4.2.3.1), cara ini juga diperkenalkan oleh ASHRAE dan merupakan cara perhitungan yang akurat. Untuk perhitungan yang sangat akurat ditambahkan faktor pembayangan.

Berikut ini tingkat pencahayaan rata-rata, renderansi dan temperatur warna yang direkomendasikan :

(43)

Tabel 2.2 Tingkat pencahayaan rata-rata, rendensi dan temperatur warnab yang direkomendasikan

( Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008 )

Tabel 2.3 Tingkat pencahayaan rata-rata, rendensi dan temperatur warna yang direkomendasikan Fungsi ruangan Tingkat Pencahayaan (lux) Kelompok renderasi warna Keterangan Rumah Tinggal : Teras 60 1 atau 2

Ruang tamu 120~250 1 atau 2

Ruang makan 120~250 1 atau 2

Ruang kerja 120~250 1

Kamar tidur 120~250 1 atau 2

Kamar mandi 250 1 atau 2

Dapur 250 1 atau 2

Garasi 60 3 atau 4

Perkantoran :

Ruang Direktur 350 1 atau 2

(44)

Ruang gambar

750 1 atau 2 Gunakan pencahayaan

setempat pada meja gambar.

Gudang arsip 150 3 atau 4

Ruang arsip aktif. 300 1 atau 2

Lembaga Pendidikan :

Ruang kelas 250 1 atau 2

Perpustakaan 300 1 atau 2

Laboratorium 500 1

Ruang gambar

750 1 atau 2 Gunakan pencahayaan

setempat pada meja gambar.

Kantin 200 1

Hotel dan Restauran :

Lobby, koridor 100 1

Pencahayaan pada bidang vertikal sangat penting untuk menciptakan suasana/kesan ruang yang baik.

Ballroom/ruang sidang. 200 1

Sistem pencahayaan harus di rancang untuk menciptakan suasana yang sesuai. Sistem pengendalian “switching” dan “dimming” dapat digunakan untuk memperoleh berbagai efek pencahayaan.

Ruang makan. 250 1

Cafetaria. 250 1

Kamar tidur. 150 1 atau 2

Diperlukan lampu tambahan pada bagian kepala tempat tidur dan

cermin.

Dapur. 300 1

Rumah Sakit/ Balai pengobatan:

Ruang rawat inap.

250 1 atau 2

Ruang operasi, ruang

bersalin. 300 1

Gunakan pencahayaan setempat pada tempat

(45)

yang diperlukan.

Laboratorium 500 1 atau 2

Ruang rekreasi dan

rehabilitasi. 250 1

Pertokoan/ Ruang pamer:

Ruang pamer dengan obyek

berukuran besar (misalnya mobil).

500 1

Tingkat pencahayaan ini harus di-penuhi pada lantai. Untuk

beberapa produk tingkat pencahayaan pada bidang vertikal juga penting.

Toko kue dan makanan. 250 1

Toko buku dan alat

tulis/gambar. 300 1

Toko perhiasan, arloji. 500 1

Toko Barang kulit dan

sepatu. 500 1

Toko pakaian. 500 1

Pasar Swalayan. 500 1 atau 2 Pencahayaan pada bidang vertical pada rak barang. Toko alat listrik (TV,

Radio/tape, mesin cuci, dan lain-lain). 250 1 atau 2 Industri (Umum): Ruang Parkir 50 3 Gudang 100 3

Pekerjaan kasar. 100~200 2 atau 3

Pekerjaan sedang 200~500 1 atau 2

Pekerjaan halus 500~1000 1

Pekerjaan amat halus 1000~2000 1

Pemeriksaan warna. 750 1

Rumah ibadah:

Mesjid 200 1 atau 2

Untuk tempat-tempat yang mem butuhkan tingkat pencahayaan yang lebih tinggi dapat digunakan pencahayaan setempat.

(46)

Tabel 2.4 DayaListrik Maksimum Untuk Pencahayaan

( Sumber : http://m-edukasi.net/online/2008 )

Lokasi

Daya pencahayaan maksimum (W/m2)

(termasuk rugi-rugi ballast)

Ruang Kantor 15 Auditorium 25 Pasar Swalayan 20 Hotel : Kamar tamu 17 Daerah Umum 20 Rumah Sakit : Ruang Pasien 15 Gedung 5 Cafetaria 10 Garasi 2 Restaurant 25 Lobi 10 Tangga 10 Ruang Parkir 5 Ruang Perkumpulan 20 Industri 20 Pintu masuk dengan kanopi

Lalu lintas sibuk seperti hotel,

bandara, teater. 30

Lalu lintas sidang seperti rumah

sakit, kantor dan sekolah 15

Jalan dan Lapangan :

Tempat penimbunan atatu tempat kerja

2.0 Tempat untuk santai seperti taman,

tempat rekreasi, dan tempat piknik

1.0 Jalan untuk kendaraan dan pejalan

kaki

1.5

(47)

2.6 Sistem Pengkondisian Udara

Air Conditioning (AC) atau alat pengkondisi udara merupakan modifikasi pengembangan dari teknologi mesin pendingin. Alat ini dipakai bertujuan untuk memberikan udara yang sejuk dan menyediakan uap air yang dibutuhkan bagi tubuh. Penggunaan AC ini sering ditemui di daerah tropis yang terkenal dengan musim panas. Suhu udara pada saat musim panas yang sedemikian tinggi dapat mengakibatkan dehidrasi cairan tubuh yang dapat mengakibatkan kematian.

Selain itu, AC dimanfaatkan sebagai pemberi kenyamanan. Di lingkungan tempat kerja AC juga dimanfaatkan sebagai salah satu cara dalam upaya peningkatan produktivitas kerja. Karena dalam beberapa hal manusia membutuhkan lingkungan udara yang nyaman untuk dapat bekerja secara optimal. Tingkat kenyamanan suatu ruang juga ditentukan oleh temperatur, kelembapan, sirkulasi dan tingkat kebersihan udara.

Sistem tata udara lengkap dibagi dalam dua daur yaitu : 1. Daur Refrigerasi

Siklus refrigerasi adalah salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk pengkondisian udara. Siklusnya sederhana, melibatkan kondenser, katub ekspansi (expantion valve), evaporator dan kompressor.

(48)

Gambar 2.9 Daur Refrigerasi

( Sumber : http://xlusi.com/2010/car-components/airconditioner/kopling-magnet-kondensor-dan-filter/)

Empat komponen utamanya yaitu: a. Kompresor

b. Kondensor c. Katup ekspansi d. Evaporator

Selain komponen utama diatas, pada suatu sistem refrigerasi juga terdapat komponen-komponen pendukung seperti receiver, sight glass, dan filter drier. Masing-masing komponen tersebut dihubungkan dengan pipa-pipa tembaga.

2. Daur Pengolah Udara

Dua komponen utamanya yaitu :

a. Kipas (fan) dengan rumah kipas (fan housing) b. Kumparan pendingin (evaporator)

(49)

1) Ducting: saluran udara yang terbuat dari bahan seng. Ducting dibutuhkan jika terdapat jarak yang cukup jauh antara tempat sistem pengolah udara dengan ruangan yang hendak dikondisikan.

2) Preheater: alat pemanas

3) Humidifier/dehumidifier: alat pelembab/pengering

4) Filter: alat penyaring yang digunakan untuk menjaga

kebersihan udara.

Ketiga alat yang disebut terakhir diletakkan di dalam ducting yang menuju ke ruangan yang hendak dikondisikan.

Evaporator adalah bagian yang berfungsi untuk mengambil panas laten dari udara dalam ruangan. Panas laten udara dalam ruangan digunakan untuk memanaskan refrigerant cair hingga menjadi uap. Uap refrigerant ini kemudian diteruskan ke kompressor, disini uap refrigerant dinaikkan tekanannya melalui proses kompresi.

Setelah tekanannya naik, uap refrigerant lalu masuk ke kondensor. Di kondensor, uap refrigerant berubah fase manjadi cair dengan melepaskan panas ke lingkungan luar.

Keluar dari kondensor, refrigerant cair ini menuju expantion valve untuk diturunkan tekanannya. Selepas dari expantion valve, refrigerant kembali masuk ke evaporator, dan begitulah siklus ini terus-menerus berulang.

(50)

2.6.1 Komponen AC

1. Kompresor.

Kompresor merupakan unit tenaga dalam sistem AC. Kompresor akan memompa gas refrigerant dibawah tekanan dan panas yang tinggi pada sisi tekanan tinggi dari sistem dan menghisap gas bertekanan rendah pada sisi intake (sisi tekanan rendah).

Gambar 2.10 Kompresor

( Sumber : http://xlusi.com/2010/car-components/airconditioner/kopling-magnet-kondensor-dan-filter/)

Ada 3 kerja yang dilakukan oleh kompresor yaitu :

a. Fungsi penghisap : proses ini membuat cairan refrigerant dari evaporator dikondensasi dalam temperatur yang rendah ketika tekanan refrigerant dinaikkan.

b. Fungsi penekanan : proses ini membuat gas refrigerant dapat ditekan sehingga membuat temperatur dan tekanannya tinggi lalu disalurkan ke kondensor, dan dikabutkan pada temperatur yang tinggi.

(51)

c. Fungsi pemompaan: proses ini dapat dioperasikan secara

kontinyu dengan mensirkulasikan refrigerant berdasarkan hisapan dan kompresi.

2. Kopling magnet (Magnetic Clutch).

         1. Sakelar

2. Plat Penekan

3. Roda Pulley

4. Poros Kompresor

5. Gulungan Magnet Listrik

6. Kompressor

7. Pegas Plat Pengembali

8. Baterai

 

 

Gambar 2.11 Kopling Magnet

( Sumber : http://xlusi.com/2010/car-components/airconditioner/kopling-magnet-kondensor-dan-filter/)

Upaya hubungan kompresor dengan motor penggeraknya dapat diputuskan dan dihubungkan (pada saat AC dihidupkan dan dimatikan), maka kita perlukan sebuah kopling magnet yang dipasang pada poros kompresor, bersama roda puli.

Bila sakelar dihubungkan, magnet listrik akan menarik plat penekan sampai berhubungan dengan roda pulley dan poros kompresor terputar. Pada waktu sakelar diputuskan pegas plat pengembali akan menarik plat penekan sehingga putaran motor

(52)

penggerak terputus dari poros kompresor (putaran mesin hanya memutar puli saja).

3. Kondensor

Gambar 2.12 Kondensor

( Sumber : http://xlusi.com/2010/car-components/airconditioner/kopling-magnet-kondensor-dan-filter/)

Kondensor di dalam sistem air conditioner merupakan alat yang digunakan untuk merubah gas refrigrant bertekanan tinggi menjadi cairan. Alat tersebut melakukan cara ini dengan menghilangkan panas dari refrigerant ke temperature atmosfir. Kondensor terdiri dari coil dan fin yang berfungsi mendinginkan refrigerant ketika udara tertiup diantaranya. Kondensor ditempatkan didepan radiator yang pendinginanya dijamin oleh kipas. Penempatan kondensor harus poada tempat yang cukup luas, agar aliran udara tidak terhalang. Untuk refrigrant jenis R-134a menggunakan kondensor jenis parallel flow untuk memperbaiki efek pendinginan udara. Dengan cara itu maka efek pendinginan udara dapat diperbaiki sekitar 15% sampai 20%(Sumanto, 2004).

(53)

4. Filter (receiver drier)

Gambar 2.13 Filter

( Sumber : http://xlusi.com/2010/car-components/airconditioner/kopling-magnet-kondensor-dan-filter/)

Receiver drier merupakan tabung penyimpan refrigerant cair, dan ia juga berisikan fiber dan desiccant (bahan pengering) untuk menyaring benda-benda asing dan uap air dari sirkulasi refrigerant. Receiver-drier menerima cairan refrigerant bertekanan tinggi dari kondensor dan disalurkan ke katup ekspansi (katup ekspansi). Receiver drier terdiri dari main body filter, desiccant, pipe, dan side glass . Cairan refrigerant dialirkan ke dalam pipa untuk disalurkan ke katup ekspansi melalui outlet pipe yang ditempatkan pada bagian bawah main body setelah tersaringnya uap air dan benda asing oleh filter dan desiccant. Filter / Reciever drie mempunyau 3 fungsi , yaitu :

(54)

a. Menyimpan refrigrant

b. Menyaring benda-benda asing dan uap air dengan desiccant dan filter agar tidak bersirkulasi pada sistem AC.

c. Memisahkan gelembung gas dengan cairan refrigrant

sebelum dimasukkan ke katup ekspansi. 5. Saklar pengatur tekanan

Dual pressure switch dipasangkan pada refrigerant line di antara kondensor dan receiver drier atau pada receiver drier. Dual pressure switch, sebagai alat pengaman, berfungsi untuk menghentikan kompresor dengan meng-off-kan magnetic clutch, ketika tekanan pada high pressure line tidak normal tinggi atau rendah.

a. Low pressure : Jika tidak ada refrigerant dalam sistem A/C, switch ini akan terbuka, sehingga memutus pengiriman listrik ke compressor clutch . Ia dapat melindungi kerusakan compressor.

b. High pressure : Ia mendeteksi tekanan refrigerant pada sisi

tekanan tinggi,jika tekanan yang ada lebih tinggi dari normal, maka switch akan terbuka dan memutus aliran listrik, untuk menjaga agar tekanan sistem A/C tidak melampaui batasnya.

(55)

6. Katup ekspansi

Gambar 2.14 Katup Ekspansi

( Sumber : http://sekawan-servis

pendingin.blogspot.com/2011/04/evaporator-katup-ekspansi.html )

Tekanan zat pendingin yang berbentuk cair dari kondensor, saringan harus diturunkan supaya zat pendingin menguap, dengan demikian penyerapan panas dan perubahan bentuk zat pendingin dari cair menjadi gas akan berlangsung dengan sempurna sebelum keluar evaporator. Untuk itulah pada saluran masuk evaporator dipasang katub ekspansi. Bekerjanya katup ekspansi diatur sedemikian rupa agar membuka dan menutupnya katup sesuai dengan temperatur evaporator atau tekanan di dalam sistem.

(56)

a. Katup ekspansi jenis Blok

Gambar 2.15 Katup Ekspansi Jenis Blok

( Sumber : http://sekawan-servis

pendingin.blogspot.com/2011/04/evaporator-katup-ekspansi.html )

Ruangan di atas membran diisi dengan cairan khusus yang sensitif terhadap perubahan temperatur pada evaporator. Bila temperatur evaporator rendah, tekanan cairan di atas membran tidak mampu melawan tekanan pegas, katup jarum menutup saluran masuk ke evaporator, penguapan zat pendingin terhenti dan temperatur evaporator naik kembali. Sebaliknya pada saat temperatur evaporator naik, tekanan cairan di atas membran akan naik pula, sampai melebihi tekanan pegas, katup terdorong ke bawah, saluran terbuka. Suhu evaporator turun kembali, demikian seterusnya.

(57)

7. Evaporator.

Zat pendingin cair dari receiver drier dan kondensor harus dirubah kembali menjadi gas dalam evaporator, dengan demikian evaporator harus menyerap panas, agar penyerapan panas ini dapat berlangsung dengan sempurna, pipa–pipa evaporator juga diperluas permukaannya dengan memberi kisi–kisi (elemen) dan kipas listrik (blower), supaya udara dingin juga dapat dihembus ke dalam ruangan. Rumah evaporator bagian bawah dibuat saluran/pipa untuk keluarnya air yang mengumpul disekitar evaporator akibat udara yang lembab. Air ini juga akan membersihkan kotoran– kotoran yang menempel pada kisi–kisi evaporator, karena kotoran itu akan turun bersama air.

Gambar 2.16 Evaporator

( Sumber : http://sekawan-servis

pendingin.blogspot.com/2011/04/evaporator-katup-ekspansi.html )

8. Thermostat

Jika suhu pengabutan refrigrant menurun dibawah 0oC maka akan terbentuk pembekuan (frost) pada fin evaporator dan hal ini menyebabkan menurunya aliran udara serta kapasitas

(58)

frosting ini, dan agar temperatur ruang dalam kendaraan dapat disetel sesuai dengan suhu yang diinginkan, maka thermostats dipasangkan. Alat berupa saklar ini terpasang pada evaporator case dengan pipa kapilernya terpasang dan terbungkus rapat pada pipa saluran masuk evaporator.

Thermostat dihubungkan ke magnetic clutch pada kompresor secara seri. Thermostat akan melepaskan magnetic clutch ketika temperatur permukaan evaporator fin ada dibawah sekitar 1 C dan akan menghubungkan magnetic clutch dengan kompresor ketika suhunya telah mencapai > 4 C.

9. Penyaring udara (air filter).

Air filter ini menggunakan combination filter, untuk menyaring debu dan bau dalam udara secara efektif sehingga udara yang masuk ke ruangan mobil benar – benar bersih dan tidak berbau

(59)

10.Motor Blower

Gambar 2.17 Motor Blower

( Sumber : https://pontiworld.com.au )

Kegunaannya adalah meniupkan udara ke ruangan dalam penumpang dan mengirimkannya melalui evaporator. Biasanya putaran motor blower terdiri lebih dari satu tingkat kecepatan ( 2 – 3 tingkat kecepatan ).

2.6.2 Prinsip Kerja AC

Mesin pendingin udara ruangan (Air Conditioner/AC) adalah alat yang menghasilkan dingin dengan cara menyerap udara panas sekitar ruangan. Proses udara menjadi dingin adalah akibat dari adanya pemindahan panas. Sedangkan bahan yang digunakan sebagai bahan pendingin dalam mesin pendingin disebut refrigeran. Di dalam Air Conditioner dibagi menjadi 2 ruang.

Ruang dalam dan ruang luar. Dibagian ruang dalam udaranya dingin karena adanya proses pendnginan. Dibagian ruang luar digunakan untuk melepaskan panas ke udara sekitar. Secara umum gambaran mengenai

(60)

1. Penyerapan panas oleh evaporator 2. Pemompaan panas oleh kompresor 3. Pelepasan panas oleh kondensor

Secara garis besar prinsip kerja air conditioner adalah sebagai berikut: 1. Udara di dalam ruangan dihisap oleh kipas sentrifugal yang ada

dalam evaporator dan udara bersentuhan dengan pipa coil yang berisi cairan refrigerant. Dalam hal ini refrigerant akan menyerap panas udara sehingga udara menjadi dingin dan refrigerant akan menguap dan dikumpulkan dalam penampung uap.

2. Tekanan uap yang berasal dari evaporator disirkulasikan menuju kondensor, selama proses kompresi berlangsung, temperatur dan tekanan uap refrigerant menjadi naik dan ditekan masuk ke dalam kondensor.

3. Untuk menurunkan tekanan cairan refrigerant yang bertekanan tinggi digunakan katup ekspansi untuk mengatur laju aliran refrigerant yang masuk dalam evaporator.

4. Pada saat udara keluar dari condensor udara menjadi panas. Uap refrigerant memberikan panas kepada udara pendingin dalam condensor menjadi embun pada pipa kapiler. Dalam mengeluarkan panas pada condensor, dibantu oleh kipas propeller.

5. Pada sirkulasi udara dingin terus-menerus dalam ruangan, maka perlu adanya thermostat untuk mengatur suhu dalam ruangan atau sesuai dengan keinginan.

(61)

6. Udara dalam ruang menjadi lebih dingin dibanding diluar ruangan sebab udara di dalam ruangan dihisap oleh sentrifugal yang terdapat pada evaporator kemudian terjadi udara bersentuhan dengan pipa/coill evaporator yang didalamnya terdapat gas pendingin (freon). Di sini terjadi perpindahan panas sehingga suhu udara dalam ruangan relatif dingin dari sebelumnya.

7. Suhu di luar ruangan lebih panas dibanding di dalam ruangan, sebab udara yang di dalam ruangan yang dihisap oleh kipas sentrifugal dan bersentuhan dengan evaporator, serta dibantu dengan komponen AC lainnya, kemudian udara dalam ruangan dikeluarkan oleh kipas udara kondensor. Dalam hal ini udara di luar ruangan dapat dihisap oleh kipas sentrifugal dan masuknya udara melalui kisi-kisi yang terdapat pada AC.

8. Gas refrigerant bersuhu tinggi saat akhir kompresi di condensor dengan mudah dicairkan dengan udara pendingin pada sistem air cooled atau uap refrigerant menyerap panas udara pendingin dalam condensor sehingga mengembun dan menjadi cairan di luar pipa evaporator.

Karena air atau udara pendingin menyerap panas dari refrigerant, maka air atau udara tersebut menjadi panas pada waktu keluar dari kondensor. Uap refrigerant yang sudah menjadi cair ini, kemudian dialirkan ke

(62)

dalam pipa evaporator melalui katup ekspansi. Kejadian ini akan berulang kembali seperti di atas.16

2.6.3 Jenis AC yang diteliti

Dari hasil penelitian di gedung Tower UMB terdapat 2 jenis AC yang digunakan, berikut nama Plat dari masing-masing AC :

1. Sistem AC Split

Mesin tata udara jenis ini terbagi atas dua unit, satu dibagian luar ruangan ( outdoor unit ) yang berisi kondensor dan kompresor, dan satu di dalam ruangan ( indor unit ) berisi evaporator dan kipas udara. Untuk AC Split dengan kapasitas besar, unit dalam ruangan dapat terdiri lebih dari satu unit (multi split) sedang unit luarnya tetap satu. Tipe lain dari AC sistem split ini adalah sistem AC split duct. Pada sistem ini untuk mengalirkan udara dingin dibantu dengan sistem ducting, sehingga jangkauannya lebih luas dan merata.

Pada AC split konvensional, motor pada kompresor akan bekerja pada kecepatan maksimum jika suhu ruangan belum terpenuhi dan akan mati bila suhu ruangan sudah terpenuhi. Sedangkan arus yang dibutuhkan kompresor untuk start sangat tinggi sehingga menyebabkan biaya listrik meningkat. Hal inilah yang coba

      

16 Harnadi Hajri.2011.Prinsip Kerja AC di tinjau dari fisika.http://

(63)

dihindari oleh sistem AC split inverter. Pada AC split dengan inverter ini hidup dan mati dari motor kompresor dimunumalkan, dengan menggunakan kompresor yang kecepatan motornya dapat berubah-ubah sesuai kebutuhan. Berikut ini spesifikasi AC Split

Tabel 2.5 Spesifikasi AC Split 1 ½ PK

Model Name  Indoor unit  FT35FV1M  Outdoor  unit  R35FV1M  Merek       DAIKIN  PK        1 ½  Power Consumption       1200 w  COP Rated W/W)        3.20  Capcity (kW)        3.52  Power Supply        1 phase, 220‐230‐240 V, 50  Hz 

Running Current (A)        5.4  Refrigerant Type       R‐22  Energy Efficiency Ticks Rating          2 

Indoor unit        FT35FV1M  Dimensions       283 x 800 x 195  (HxWxD mm)          Machine weight (kg)       9  Outdoor unit       R35FV1M  Dimensions        560 x 800 x 265  (HxWxD mm)          Machine weight (kg)       33  Commpressor Type Motor Output (w)         1,100  Made in        Malaysia 

(64)

Tabel 2.6 Spesifikasi AC Split 2 PK Model Name  Indoor unit  FT50FVM  Outdoor  unit  R50BV1  Merek       DAIKIN  PK        2  Power Consumption       1650  w  COP Rated W/W)        3.21  Capcity (kW)        5.3  Power Supply        1 phase, 220‐230‐240 V, 50  Hz 

Running Current (A)        7.9  Refrigerant Type       R‐22  Energy Efficiency Ticks Rating        3 

Indoor unit        FT50FVM  Dimensions       290 x 1,050 x 238  (HxWxD mm)          Machine weight (kg)       12  Outdoor unit       R50BV1  Dimensions        685 x 800 x 300  (HxWxD mm)          Machine weight (kg)       49  Commpressor Type Motor Output (w)         1,500  Made in        Malaysia 

(65)

2. Sistem Ducting AC

Gambar 2.18 Ducting AC

AC Ducting biasanya dipakai untuk instalasi AC

sentral atau AC Split Duct. AC Sentral biasanya diperuntukkan untuk instalasi AC di satu gedung yang tidak memiliki pengatur suhu sendiri-sendiri (misalnya per ruang). Semua dikontrol di satu titik dan kemudian hawa dinginnya didistribusikan dengan pipa ke ruangan-ruangan. Dengan AC Central yang bisa dilakukan cuma mengecilkan dan membesarkan lubang tempat hawa dingin AC masuk ke ruang kita. Contoh AC Central adalah di mall atau di dalam bis ber-AC.

(66)

Sedangkan Sistem ducting untuk AC, atau juga popular dengan sebutan “Air Handling System”, merupakan bagian penting dalam sistem AC sebagai alat penghantar udara yang telah dikondisikan dari sumber dingin ataupun panas ke ruang yang akan dikondisikan. Perkembangan desain ducting untuk AC hingga saat ini sangat dipengaruhi oleh tuntutan efisiensi, terutama efisiensi energi, material, pemakaian ruang, dan perawatan.

Selain efisiensi, juga ada tuntutan kenyamanan (termasuk kesehatan dan keselamatan) bagi pengguna. Oleh karena itu dalam desain ducting meliputi pula desain untuk kebutuhan ventilasi, filtrasi, dan humidity. Tiap tipe sistem ducting memiliki manfaat untuk aplikasi tertentu. Suatu tipe sistem yang tidak umum dipakai mungkin lebih efisien bila dipakai untuk suatu aplikasi tertentu yang tergolong unik. Saat ini telah banyak dikembangkan berbagai tipe sistem ducting, dan ini akan terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan munculnya aplikasi-aplikasi yang baru. Dalam suatu desain ducting untuk suatu gedung tertentu, sangat mungkin beberapa tipe dipakai untuk memenuhi masing-masing kebutuhan.

Selain biaya instalasi, efisiensi dan operasional sistem ducting harus menjadi perhatian penting. Dahulu ketika harga energi, material dan ruang belum terlalu menjadi pertimbangan, desain ducting tidak terlalu memiliki banyak batasan. Salah satu contoh dalam hal energi adalah mulai populernya sistem Variable

(67)

Air Volume di tahun 1970-an, terlebih sejak terjadinya embargo minyak Arab di tahun 1973-1974 yang memaksa seluruh industri melakukan peningkatan efisiensi energi. Sejak masa tersebut terjadi kecenderungan penggantian sistem dari Constant Air Volume ke Variable Air Volume. Dalam hal penggunaan material sangat jelas, yaitu semakin besar penggunaan material maka semakin besar biaya instalasi, dan bahkan perawatan sistem.

Dalam hal pemakaian ruang, saat ini ruang sekecil apapun sangat berharga, sehingga dalam perancangan gedung terjadi pengurangan tinggi ceiling, juga tinggi antar lantai, yang di masa lalu hal ini belum terlalu menjadi perhatian utama.Berbagai pertimbangan sering memunculkan benturan dalam mendesain sistem ducting. Misalnya pertimbangan ruang versus energi. Pengurangan tinggi ceiling akan menyebabkan lebih tingginya tekanan udara yang dibutuhkan di dalam ducting, yang berarti lebih tingginya kebutuhan energi. Namun saat ini terjadi kecenderungan untuk mengutamakan efisiensi energi dan kelestarian lingkungan. Bahkan beberapa negara membuat regulasi yang mengarahkan desainer, developer, dan user pada hal tersebut. Tentu saja ini menjadi tantangan dan peluang besar bagi para desainer untuk menentukan kombinasi tipe sistem ducting yang tepat, atau bahkan melakukan inovasi.17

Gambar

Gambar 2.1 Lampu Pijar dan Diagram Aliran Energi Lampu Pijar
Gambar 2.2 Lampu halogen tungsten
Gambar 2. 3 Lampu Neon
Gambar 2.4 Lampu Neon Kotak
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil belajar matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan yang dicapai atau dimiliki siswa yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka atau skor dari hasil

g Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Index Card Match Pada Mata Pelajaran Aqidah Akhlak

terhadap parenting self efficacy pada ibu bekerja dengan anak usia pra-sekolah sebesar 31,6% dan hanya fatigue dan dukungan informasional yang memiliki pengaruh

Dalam penggunaan identitas material seperti nama, foto dan bio pada akun Twitter, Wonkyu shipper (penggemar yang merupakan anggota fandom slash pairing Wonkyu)

menggunakan teknologi tradisional. Peralatan yang digunakan berasal dari bahan bambu yang didapat dengan dibuat sendiri. Cara penggunaan alat tidak rumit,

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti merasa perlu untuk melakukan intervensi masalah-masalah penyebab tingginya angka bayi baru lahir yang menjadi tidak stabil dan

Program Penyiapan  Potensi  Sumberdaya,  Sarana  dan

Bahan pustaka atau koleksi yang di minati oleh seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat adalah mengandung manfaat, nilai, yang sesuai dengan apa yang