MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
---
RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 16/PUU-XII/2014
PERIHAL
PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2011
TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG
NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
SERTA PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30
TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN
TINDAK PIDANA KORUPSI
TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945
ACARA
PEMERIKSAAN PENDAHULUAN
(I)
J A K A R T A
SELASA, 11 MARET 2014
MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
--- RISALAH SIDANG
PERKARA NOMOR 16/PUU-XII/2014 PERIHAL
Pengujian Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial [Pasal 28 ayat (3) huruf c, ayat (6), dan Pasal 37 ayat (1)]; serta Pengujian Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi [Pasal 30 ayat (1), ayat (10), dan ayat (11)] terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
PEMOHON
1. Edy Suandi Hamid
2. Sri Hastuti Puspitasari
ACARA
Pemeriksaan Pendahuluan (I)
Selasa, 11 Maret 2014, Pukul 14.09 – 14.47 WIB Ruang Sidang Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat
SUSUNAN PERSIDANGAN
1) Ahmad Fadlil Sumadi (Ketua)
2) Muhammad Alim (Anggota)
3) Patrialis Akbar (Anggota)
Pihak yang Hadir:
A. Pemohon:
1. Sri Hastuti Puspitasari 2. Nandang Sutrisno 3. Syaifuddin
B. Kuasa Hukum Pemohon:
4. Zairin Harahap
5. Anang Zubaidy
1. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Sidang untuk Perkara Nomor 16/PUU-XII/2014 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum.
Assalamualaikum wr. wb. Selamat siang, Saudara. Salam sejahtera. Hari ini sidang untuk Perkara Nomor 16, disilakan siapa yang hadir, apakah Pemohon sendiri, Kuasanya, atau bersama-sama? Disilakan, Saudara!
2. KUASA HUKUM PEMOHON: ZAIRIN HARAHAP
Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb.
3. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Waalaikumsalam wr. wb.
4. KUASA HUKUM PEMOHON: ZAIRIN HARAHAP
Yang hadir dalam kesempatan ini dari Kuasa Hukum, saya sendiri Zairin Harahap. Kemudian samping kanan saya berturut-turut, Anang Zubaidy dan Ahmad Khairun.
Kemudian dari Pemohon hadir, dalam hal ini yang mewakili Rektor UII adalah Wakil Rektor I UII Bapak Dr. Nandang Sutrisno sebelah kiri saya. Kemudian Pemohon II, yakni Ibu Sri Hastuti Puspitasari. Kemudian dalam kesempatan ini juga hadir dari Wakil dari Fakultas Hukum, yakni Wakil Dekan Fakultas Hukum Bapak Dr. Syaifuddin.
Saya kira demikian, Yang Mulia. Terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.
5. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Waalaikumsalam wr. wb. Selamat datang yang semuanya, baik yang mewakili Pak Rektor, atau Fakultas Hukum, atau Kuasanya, gitu ya.
Hari ini adalah sidang yang khas untuk perkara yang putusannya erga omnes itu, disebut dengan pemeriksaan pendahuluan berdasarkan Pasal 39. Dalam pemeriksaan pendahuluan itu tujuannya supaya permohonan itu sudah lengkap dan sudah jelas. Dalam rangka supaya permohonan itu jelas dan lengkap, nanti setelah Saudara menyampaikan
SIDANG DIBUKA PUKUL 14.09 WIB
kalau ada hal-hal yang dipandang oleh Hakim ada yang kurang jelas, kurang lengkap, akan diberikan nasihat.
Jadi, untuk yang pertama kalinya, disilakan Saudara menyampaikan apa yang sudah Saudara tulis karena yang ditulis itu sudah diterima, maka diminta Saudara menyampaikan yang menjadi hal yang untuk memperoleh perhatian yang lebih atau dengan kata lain, yang pokok-pokoknya saja. Disilakan siapa yang akan menyampaikan?
6. KUASA HUKUM PEMOHON: ZAIRIN HARAHAP
Terima kasih, Yang Mulia. Saya kira, mengenai Kewenangan Mahkamah Konstitusi dan kedudukan hukum (legal standing), saya kira tidak perlu kami sampaikan. Kami langsung saja kepada alasan permohonan pengujian ini.
Pertama bahwa kami menganggap ketentuan Pasal 28 ayat (6), Pasal 28 ayat (3) huruf c, dan Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang 18 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, itu bertentangan dengan Pasal 28B ayat (3) dan Pasal 28D ayat (1).
Alasannya adalah bahwa sebagaimana kita ketahui bahwa Pasal 28 ... 24B ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan, “Anggota KY diangkat dan diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan DPR.” Dan ketentuan ayat ini mengenai wewenang DPR ini dipertegas kembali oleh ketentuan Pasal 71 huruf o Undang-Undang 27 Tahun 2009 yang juga menyebutkan bahwa kewenangan dari DPR di dalam penentuan calon anggota KY itu adalah memberikan persetujuan.
Nah, dengan demikian, kewenangan konstitusional DPR adalah bersifat memberikan persetujuan menurut konstitusi, bukan untuk memilih. Namun, di dalam ketentuan Pasal 28 ayat (6) Undang-Undang KY sebagaimana salah satu dari objek pengujian dalam kesempatan ini menyebutkan bahwa DPR wajib memilih dan menetapkan tujuh calon anggota dalam waktu 30 hari dan seterusnya.
Nah, frasa memilih dan menetapkan sebagaimana yang
disebutkan di dalam ketentuan Pasal 28 ayat (6) Undang-Undang KY tersebut, sangat jelas kami melihat itu bertentangan dengan ketentuan Pasal 24B ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945.
Nah, oleh karena makna kata persetujuan itu berbeda dengan
makna kata memilih, maka secara otomatis ketentuan Pasal 28 ayat (3)
huruf c Undang-Undang KY, kemudian juga ketentuan Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang KY yang menyebutkan bahwa calon anggota KY itu berbanding tiga, itu secara otomatis kami menganggap itu juga bertentangan dengan ketentuan Pasal 24B ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Karena kata persetujuan itu maknanya berbeda dengan kata memilih.
Nah, dengan demikian, maka ketentuan pasal-pasal yang kami uji sebagaimana yang terdapat dalam Undang-Undang KY itu, juga bertentangan dengan Ketentuan Pasal 28D ayat (1) Tahun 1945 karena secara otomatis, itu menimbulkan ketidakpastian hukum.
Kemudian yang kedua, Yang Mulia. Yang kami uji adalah Ketentuan Pasal 30 ayat (1), ayat (10), dan ayat (11) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, ini kami anggap bertentangan dengan Ketentuan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.
Nah, inti dari pasal itu adalah bahwa memberikan kewenangan kepada DPR untuk memilih calon anggota KPK yang diajukan oleh presiden dengan perbandingan 1 banding 3. Artinya, untuk mengisi kekosongan satu anggota KPK, maka harus diajukan 3 orang calon.
Yang Mulia, sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, keterlibatan DPR dalam rekrutmen calon anggota KY diperoleh dari konstitusi. Namun berbeda halnya dengan calon anggota KPK yang bukan diperoleh DPR dari konstitusi, tetapi dari undang-undang. Dan ternyata setelah kami selidiki, kewenangan DPR terlibat di dalam pemilihan jabatan publik itu yang didasarkan pada undang-undang, itu sangat banyak sekali. Misalnya di sini, kami sebutkan adalah pengangkatan Panglima TNI, sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004, kemudian Kapolri Pasal 11 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002.
Bahwa banyaknya undang-undang yang memberi kewenangan kepada DPR untuk terlibat dalam rekrutmen pejabat publik, menurut hemat kami, ini telah mengakibatkan terjadinya pergeseran fungsi DPR. Sebagaimana kita ketahui bahwa fungsi DPR yang paling utama itu adalah membentuk undang-undang dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang itu sendiri. Namun, dengan banyaknya undang-undang yang memberikan kewenangan kepada DPR untuk terlibat di dalam rekrutmen pejabat publik, maka ini telah menggeser peran DPR sebagai pelaksana undang-undang. Dengan kata lain, kami menganggap bahwa lembaga DPR ini telah menjadi semi eksekutif.
Oleh karena itu, kalau pasal-pasal ini tidak dibatalkan, maka besar kemungkinan akan muncul lagi berbagai undang-undang di kemudian hari yang memberikan peran kepada DPR yang menempatkan dia sebagai semi eksekutif itu. Oleh karena itulah, dalam kesempatan ini, kami sangat mengharapkan kepada Mahkamah untuk meluruskan persoalan ini.
Yang Mulia bahwa ternyata undang-undang juga tidak konsisten di dalam memberikan kewenangan kepada DPR dalam rekrutmen pejabat publik ini. Sebagaimana dua undang-undang yang kami sebutkan sebelumnya, yakni pengangkatan Panglima TNI dan Kapolri, itu kewenangan DPR hanyalah sebatas memberikan persetujuan, sehingga
jumlah atau kuota yang diajukan oleh presiden tidak menjadi penting. Namun, berbeda halnya dengan Undang KY dan Undang-Undang KPK, di sini menjadi penting kuota atau jumlah itu dan peran DPR di situ tidak hanya memberikan persetujuan, tapi memilih.
Nah, ini juga kita melihat bahwa di sini undang-undang juga tidak konsisten di dalam memberikan peran kepada DPR itu. Oleh karena itulah, ini kami sangat mengharapkan sekali bahwa persoalan ini harus diluruskan supaya DPR itu tidak menjadi eksekutif.
Nah, sebagaimana kita ketahui bahwa praktik-praktik pemilihan pejabat publik, itu selama ini kan sudah melalui timsel. Timsel itu melibatkan banyak tokoh-tokoh masyarakat di berbagai kalangan, kemudian juga memakan waktu yang cukup lama. Namun hasil dari timsel itu bisa dimentahkan oleh DPR. Nah, atas dasar inilah, kami juga melihat, kami khawatir kalau hal ini tidak diluruskan, saya kira lembaga-lembaga penegak hukum, seperti KPK dan KY ini, saya kira tidak bisa kita
harapkan sebagai lembaga yang independent. Karena kalau kita
berbicara tentang independency sebuah lembaga, itu tidak hanya kepada lembaganya saja, tetapi juga kepada orangnya. Dan kalau kita bicara orang, itu haruslah juga kita mulai dari pola rekrutmennya itu sendiri.
Yang Mulia, atas dasar itulah, maka kami menganggap Ketentuan Pasal 30 ayat (1), ayat (10), dan ayat (11) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi bertentangan dengan Ketentuan Pasal 28D ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 karena telah menimbulkan ketidakpastian hukum.
Kemudian selanjutnya, Yang Mulia, yang terakhir mengenai petitum. Saya kira, kami tidak perlu membacakan seluruhnya, cuma di sini ada sedikit ralat, ralat kami sampaikan mengenai Petitum Nomor 2.5
itu. Saya kira yang paling akhir itu, kami ganti dengan sepanjang tidak
dimaknai sebanyak sama dengan, bukan ... yang kalau kami sampaikan kepada Yang Mulia, itu bunyinya adalah (...)
7. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Satu kali (...)
8. KUASA HUKUM PEMOHON: ZAIRIN HARAHAP
Sepanjang tidak dimaknai sebanyak satu kali. Setelah kami gandengkan kepada bunyi rumusan pasal aslinya, kok ini kurang begitu pas.
Oleh karena itu, kami meralatnya menjadi sepanjang tidak
dimaknai sebanyak sama dengan.
Kemudian juga ... tetapi yang paling lengkapnya begini, Yang Mulia. 2.5 frasa sebanyak tiga kali dari dalam Pasal 37 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2011 dan seterusnya adalah bertentangan
dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sepanjang tidak dimaknai sebanyak sama dengan. Sehingga hal itu juga menyesuaikan dengan petitum kami 2.6.
Kemudian juga, petitum nomor 3 dan juga nomor 4, itu juga kami sempurnakan sedikit. Bunyinya menjadi, ”Menyatakan Pasal 30 ayat (1)
sepanjang kata dipilih dan Pasal 30 ayat (10) dan ayat (11) sepanjang
frasa memilih dan menetapkan dari Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 dan seterusnya sepanjang ... bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia sepanjang tidak dimaknai persetujuan. Sehingga nomor 4 juga menyesuaikan, Yang Mulia.
Kemudian petitum nomor 5, itu kami hapus, Yang Mulia. Karena saya kira itu tidak ... tidak ada dasarnya. Kemudian ... sehingga yang nomor 6 itu kita naikkan menjadi nomor 5 yang bunyinya, ”Jika Mahkamah berpendapat lain, maka kami mohon putusan yang seadil-adilnya.” Mungkin itu yang bisa kami sampaikan, Yang Mulia.
Mengenai legal standing kalau memang ada waktu yang diizinkan, ini Pemohon ini akan ... Pemohon I dan Pemohon II akan menambahkan sehingga kalau diizinkan.
Demikian, Yang Mulia. Terima kasih, wassalamualaikum wr. wb.
9. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Waalaikumsalam. Boleh, pendek saja, disilakan. Yang penting.
10. PEMOHON: NANDANG SUTRISNO
Assalamualaikum wr. wb.
11. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Waalaikumsalam.
12. PEMOHON: NANDANG SUTRISNO
Yang Mulia, izinkan saya menyampaikan salam dari Pak Rektor dan mohon izin untuk mewakili beliau. Universitas Islam Indonesia sebagai lembaga pendidikan tinggi tidak steril dari permasalahan-permasalahan bangsa dan negara.
Oleh karena itu, permohonan ini mohon dibaca juga sebagai kepedulian kami terhadap masalah-masalah bangsa dan masalah negara.
Yang kedua, kami memiliki mahasiswa yang banyak, sekitar 20.000 dan demikian juga alumni-alumni kami sekitar 70.000-an. Dan banyak juga yang berkecimpung di bidang penegakan hukum.
Oleh karena itu, putusan dari Mahkamah Konstitusi ini paling tidak, ini akan berpengaruh, baik langsung maupun tidak langsung ke
dalam penegakan hukum kita. Demikian, terima kasih. Wassalamualaikum wr. wb.
13. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Waalaikumsalam. Terima kasih. Ada yang lain lagi?
14. PEMOHON: SRI HASTUTI PUSPITASARI
Terima kasih kesempatannya. Yang Mulia Majelis Hakim. Menguatkan apa yang telah disampaikan oleh Kuasa Hukum bahwa saya sebagai Pemohon yang juga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia dan juga sebagai Kepala Pusat Studi Hukum Konstitusi, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Mempunyai alasan bahwa fit and proper test yang dilakukan oleh DPR dalam rangka memilih calon anggota KY dan calon anggota KPK, itu sangat berpotensi melanggar hak saya. Terutama adalah hak akan kepastian hukum yang adil dan persamaan di hadapan hukum.
Pemohon juga berpandangan bahwa apa yang dilakukan oleh DPR dengan melakukan pemilihan, juga berpotensi mereduksi bahkan mengabaikan sama sekali seleksi yang telah dilakukan oleh panitia atau tim seleksi. Padahal panitia atau tim seleksi itu telah melibatkan unsur pemerintah, akademisi, praktisi, dan juga tokoh masyarakat. Dan juga proses seleksi … proses seleksinya itu dilakukan secara komprehensif meliputi seleksi administratif, seleksi substantif, dan juga telah
melakukan assessment terhadap calon anggota KY maupun anggota
KPK.
Majelis Hakim Yang Mulia. Selain itu, saya sebagai Kepala PSHK FHUII pernah melakukan kajian bahwa seleksi yang ada di DPR melalui fit and proper test tersebut, itu sangat kental nuansa politiknya. DPR adalah lembaga politik, sehingga pengaruh konfigurasi politik yang ada di DPR, itu juga sangat besar di dalam proses pemilihan calon anggota KY maupun calon anggota KPK. Meskipun proses seleksi itu dilakukan oleh Komisi III, komisi yang berwenang yang membawahi masalah hukum.
Tetapi, kami berpandangan bahwa fit and proper test yang dilakukan
oleh Komisi III ini sangat mungkin menghasilkan orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi atau kurang kompetensinya, baik di bidang keilmuan, kemampuan, maupun integritas, itu terpilih karena konfigurasi politiknya berpihak kepadanya.
Selain itu, Pemohon juga mempunyai pandangan bahwa DPR sebagai lembaga politik, itu mewujudkan diri sebagai representasi politik, juga representasi kepentingan. Sehingga kami … saya melihat bahwa dua hal itulah yang sangat menonjol di dalam proses pemilihan anggota … calon anggota KY maupun calon anggota KPK.
Oleh karena itu, besar Pemohon berharap kepada Majelis Hakim Yang Mulia untuk mengabulkan permohonan Pemohon, sehingga ini akan berdampak sangat luas terhadap warga Negara Indonesia yang mempunyai potensi untuk menjadi calon anggota KY maupun calon anggota KPK, sehingga mereka punya kesempatan untuk berbakti kepada negara melalui dua komisi itu. Dan Pemohon juga melihat bahwa
apa yang terjadi di DPR dengan proses pemilihan melalui fit and proper
test itu, ternyata bisa mengundang keengganan warga Negara Indonesia yang sesungguhnya mempunyai potensi untuk mendaftarkan menjadi calon anggota KY maupun calon anggota KPK.
Demikian, Majelis Hakim Yang Mulia, apa yang saya sampaikan sebagai Pemohon. Terima Kasih.
15. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Terima Kasih kembali. Masih ada? Sudah cukup? Sudah cukup.
Ini kan poin inspiring-nya bukan putusan MK tentang Mahkamah
Agung, kan?
Kemudian yang kedua, bukan karena calon Hakim Konstitusi dari UII tidak diterima, kan? Paling tidak, saya berharap tidak seperti itu. Tapi whatever, ya … ya itu kan hak juga, gitu ya?
Seperti yang saya sampaikan di muka bahwa persidangan ini adalah persidangan untuk memberikan dan menerima nasihat.
Oleh karena itu, saya menyilakan kepada Yang Mulia Hakim Dr. Patrialis Akbar.
16. HAKIM ANGGOTA: PATRIALIS AKBAR
Terima Kasih, Ketua Yang Mulia Pak Fadlil.
Para Pemohon, tadi sudah dijelaskan secara lisan permohonan ini sangat terang-benderang dan sangat jelas tujuan, maksudnya, dan persoalan yang disampaikan.
Tentu untuk lebih memenuhi kualifikasi, dan tata cara, serta beberapa kaidah-kaidah yang berkaitan dengan perkara di Mahkamah Konstitusi ini, ada beberapa hal yang menjadi catatan penting. Barangkali ini bisa disesuaikan kalau setuju … kalau setuju. Kalau enggak, juga enggak apa-apa.
Di dalam permohonan ini sendiri, sebetulnya juga sudah menjelaskan di dalam halaman 4 berkenaan dengan adanya Putusan MK Nomor 006, kemudian Undang-Undang MK sendiri tentang syarat-syarat permohonan diajukan. Paling tidak ada lima hal, yaitu berkenaan dengan persoalan hak konstitusional yang dirugikan, ya. Hak konstitusional yang dirugikan terhadap Para Pemohon. Meskipun tadi Pak Wakil Rektor maupun juga Ibu Sri Hastuti menjelaskan ada potensial itu, ya.
Ini di dalam permohonannya terus terang belum kelihatan. Jadi, hak konstitusional itu terhadap apa dirugikan? Apakah gagal menjadi Komisioner KY atau juga pernah gagal menjadi Komisioner KPK, ya? Itu perlu dijelaskan. Atau memang seperti tadi, potensial tadi? Jadi, harus kelihatan betul hubungan (causal verband) terhadap permohonan dengan kerugian hak konstitusional yang dialami oleh Para Pemohon.
Saya baca-baca, ini belum kelihatan ini, meskipun Pak Zairin mungkin sudah sering di sini barangkali, ya? Dan kawan-kawan, ya? Tapi biasalah, ya. Ada hal yang kadang-kadang bisa terlupakan. Jadi, itu sangat penting, Pak, disebutkan di sini, diuraikan lagi dalam perubahannya.
Yang kedua tadi juga menjelaskan terhadap fungsi DPR ya, yang juga dikaitkan dengan rekrutmen … apa namanya … aparat-aparat atau pejabat-pejabat yang lain. Saya kira juga tidak ada salahnya, Bapak atau Pemohon di sini mencoba mengelaborasi kehadiran Pasal 20A Undang-Undang Dasar Tahun 1945. Fungsi-fungsi DPR itu apa sih? Sebetulnya kan tadi sudah dijelaskan? Sudah ada fungsinya legislasi, anggaran, pengawasan. Lho, kok ini perginya ke yang lain-lain, kan begitu?
Nah, saya kira ini penting dijadikan sebagai landasan juga di dalam permohonan ini.
Dan yang terakhir, ketika bicara masalah KPK. Kalau Komisi Yudisial kan, itu kan lembaga negara yang memang ada dalam Undang-Undang Dasar, sementara KPK kan enggak ada di dalam Undang-Undang-Undang-Undang Dasar. Nah, menurut hemat saya, juga ada baiknya Bapak mengemukakan kehadiran Pasal 24 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Di situ menjelaskan bahwa … ya dalam Pasal 24 ayat (3), “Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam undang-undang.”
Agak capek sedikit, tolong dibuka risalah-risalah rapat Badan Pekerja MPR yang membahas terhadap Pasal 24 ayat (3) ini. Dulu sejarahnya banyak sekali badan-badan atau organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga yang bagian pekerjaannya itu adalah bagian dari tugas-tugas kekuasaan kehakiman, tapi enggak bisa dimasukkan di dalam Undang-Undang Dasar ini. Ya ada kepolisian, ada kejaksaan, ada notaris, ada pengacara, semuanya ingin masuk di sini pada waktu itu.
Nah, KPK bagian dari kekuasaan kehakiman juga, meskipun dia bukan mengadili, ya, tapi bagian dari kekuasaan kehakiman dan sejarahnya memang diperluas itu pengertian Pasal 24 ayat (3) itu.
Jadi cantolannya ini belum kelihatan, di dalam konstitusi itu ya. Jadi saya mengingatkan, mungkin 3 hal ini sangat penting untuk … apalagi tadi Pak Rektor sama Ibu Sri Hastuti, mengatakan ini juga sangat perlu untuk kepentingan pendidikan hukum. Ya, di negara kita, umumnya tentu khusus juga di UII. Saya kira itu dari saya. Terima kasih.
17. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Selanjutnya, disilakan Yang Mulia Hakim Dr. Muhammad Alim.
18. HAKIM ANGGOTA: MUHAMMAD ALIM
Terima kasih, Yang Mulia Pak Ketua.
Hanya sedikit saja mau menambahkan. Jadi begini, Saudara Pemohon. Ini di halaman 10 permohonan Anda, halaman 10 angka 10 dan angka 11. Di angka 10 itu huruf o menurut Anda, Undang-Undang Nomor 27 ... tentang MD3 ini, itu kan di situ dikatakan memberikan persetujuan bukan memilih, itu lho. Sedangkan karena itu menurut Anda bertentangan dengan Pasal 24B ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945. Ini juga kalau antara undang-undang dengan undang-undang lain bertentangan, itu juga ketidakpastian hukum. Jadi barangkali ditambah 28D ayat (1), barangkali ya. Ini karena ... saya katakan barangkali karena ini kan nasihat saja, Anda mau terima atau tidak terima, itu urusan Anda. Tapi kami punya kewajiban memberi nasihat. Mungkin ... jadi kalau satu undang-undang dengan undang-undang lain bertentangan itu, melanggar Pasal 28D atau satu undang-undang antara pasal yang satu dengan yang lainnya bertentangan, itu juga melanggar kepastian hukum yang adil. Jadi mungkin bisa ditambah Pasal 28D di situ.
Nah, kemudian, saya lihat bagus permohonannya ini kalau menurut saya. Kemudian, tadi Saudara Kuasa Pemohon mengatakan nomor 5 kami drop karena tidak ada dasarnya. Lho, ada dasarnya. Siapa yang bilang tidak ada? Coba lihat! Anda punya begini? Tidak punya, tidak bawa? Nah, saya bacalah.
Ini undang-udang tentang MK itu, Pasal 57 ayat (3) mengatakan begini ... saya baca, “Putusan Mahkamah Konstitusi yang mengabulkan permohonan wajib dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia.” Kok Anda bilang tidak ada dasarnya? Ada dasarnya. Jadi angka 5 ... petitum nomor 5 yang Anda minta itu memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik Indonesia sebagaimana mestinya, itu ada dasarnya. Pasal 57 ayat (3) Undang-Undang MK.
Jadi, janganlah didrop itu ... tapi ini kan masih ada waktu perbaikan, nanti yang salah-salah seperti sebagaimana sama dengan yang sebenarnya, itu apa yang tadi itu kan, bisa diperbaiki nanti. Buat sementara itu saja dulu yang saya sampaikan. Terima kasih, Pak Ketua.
19. KETUA: AHMAD FADLIL SUMADI
Saya akan menyampaikan hal yang mungkin penting buat Pemohon untuk melengkapi atau menjadikan permohonan ini lebih jelas. Itu yang soal legal standing misalnya ya. Soal legal standing itu mengapa
tidak dimulai dari mengonstruksikan Tri Darma Perguruan Tinggi orang ini yang mengajukan. Kalau sebutannya rektor, itu kan on behalf dari kelembagaan yang bernama perguruan tingginya itu, yang Tri Darmanya salah satu di antaranya itu pengabdian misalnya kepada masyarakat. Dalam soal pengabdian masyarakat itu, lalu kan bisa dikonstruksi bahwa pengujian undang-undang ini bagian dari situ. Ya mengonstruksinya seperti apa, saya tidak bermaksud menggarami lautan, gitu kan. Saya kira sudah oke.
Lalu yang kedua, argumentasi tentang pokok permohonan. Sebenarnya dari yang disampaikan orally tadi, itu lebih … lebih lengkap dibandingkan dengan yang ditulis di sini. Mengapa itu tidak ditambahkan saja di dalam … apa namanya … argumentasi-argumentasi pokok permohonan. Misalnya, di awal itu argumentasi yang terkait dengan pokok permohonan itu ada umum, begitu ya, ada argumentasi secara umum. Itu salah satu di antaranya misalnya disebutnya bahwa setelah Undang-Undang Dasar ini diubah, itu makin mempertegas anutan negara yang kita bentuk ini dengan negara hukum yang demokratis, tapi itu exploring-nya enggak ada. Saya baca ini enggak ada. Kenapa tidak … dari situ kan mestinya bisa dikonstruksikan bahwa negara hukum itu kalau kita … apa namanya … derivasikan ke dalam hal-hal yang bersifat … apa namanya … empirik kayak pengangkatan … apa … anggota KPK misalnya, itu kan bisa dikonstruksi-konstruksi lewat situ, misalnya.
Nah, itu kan artinya argumentasi itu lalu bernilai sebagai suatu argumentasi yang konstitusional sifatnya karena turunan dari prinsip-prinsip negara hukum yang sudah dianut oleh konstitusi itu menjadikan argumentasinya itu konstitusional, sehingga tidak … lalu soal misalnya, yang tadi yang ditonjolkan kan DPR sebagai lembaga politik kalau rekrutmen itu diserahkan kepada dia, lalu akan nuansa politisnya akan sangat tinggi begitu. Tapi juga jangan lupa bahwa DPR itu merupakan lembaga politik yang dalam satu hal soal jabatan publik itu, kalau diserahkan salah satu rentang prosesnya itu melibatkan dia, itu pejabatnya nanti akan memiliki legitimasi politik yang tinggi.
Nah, apakah soal Komisi Yudisial perlu? Misalnya, baru kita bantah. Apakah kok pengisian Komisi Yudisial memerlukan legitimitas politik? Selain itu, DPR itu juga representasi rakyat. Apakah ini tidak berarti itu tidak dapat dikonstruksikan bahwa kalau DPR yang milih, justru dia karena mewakili seluruh rakyat Republik Indonesia ini. Suatu badan yang akan … apa namanya … menjalanlan bagian dari … apa … tujuan bernegara mereka. Itu kait-mengait soal itu adalah soal-soal konstitusional yang ada di situ. Misalnya, terutama adalah mengonstruksikan secara konstitusional pengisian anggota KPK. Anggota
KPK ini kan sejarahnya sebeneranya ad hoc karena fungsi apa yang
menjalankan kekuasaan … kekuasaan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman Pasal 24 ayat (3) itu, itu yang ada dinilai
tidak fungsional atau tidak optimal, paling tidak ya di dalam menjalankan fungsinya hingga diperlukan KPK.
Lalu, ini kehendak siapa KPK itu, kalau begitu? Kehendak seluruh rakyat Indonesia. Kalau kehendak seluruh rakyat Indonesia, kalau yang mengisi itu melibatkan representasi rakyat, salahnya di mana? Misalnya begitu. Ini mumpung belum ketemu … apa … pembentuk undang-undang kan. Jadi, ini soal-soal semacam itu mesti di-explore, sehingga kalau ada kontra argumentasi terhadap yang saya sampaikan ini, Anda sudah siap.
Saya kira catatan saya itu. Karena ini ada dua soal. Kalau KY, expressis verbis ada pasalnya. Kalau KPK, tidak ada. Karena itu lembaga yang dibentuk oleh undang-undang, murni oleh undang-undang. Dan bahkan untuk … apa namanya … mengatasi … apa … tidak optimalnya lembaga yang secara konstitusional sudah ditunjuk, meskipun tidak langsung.
Saya kira, itu yang perlu saya sampaikan, tapi ya, whatever. Ini nasihat yang menjadi kewajiban kami, tapi Anda punya hak untuk mengabaikan atau untuk mempergunakannya sebagai bahan dalam memperbaiki permohonan ini. Gitu, ya?
Dan saya kira karena Kuasa Hukum ini sudah sering tampil di sini, kadang di situ, gitu ya.
Oleh karena itu, tidak usah banyak-banyaklah nasihatnya dan waktunya 14 hari ya. Lebih … paling lama 14 hari. Jadi, lebih cepat, lebih baik, gitu ya. Tidak bermaksud kampanye, tapi ini lebih cepat, lebih baik, itu norma umumnya begitu.
Saya kira begitu, ya. Sekali lagi terima kasih atas perhatian Anda dan salam kembali untuk Pak Rektor dari Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Cukup, ya? Ya.
Dengan demikian, maka sidang dianggap selesai dan sidang dinyatakan ditutup.
Jakarta, 11 Maret 2014 Kepala Sub Bagian Risalah, t.t.d.
Rudy Heryanto
NIP. 19730601 200604 1 004
SIDANG DITUTUP PUKUL 14.47 WIB KETUK PALU 3X