• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

2.1. Gambaran Umum Kondisi Kabupaten Solok 2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi

2.1.1.1. Letak, Luas, Batas Wilayah Administrasi dan Kondisi Geografis

Secara geografis Kabupaten Solok berada pada posisi 00°32 ’14’’ -01°46’45” Lintang Selatan, 100°25 ’00” - 101°41 ’41” Bujur Timur dengan luas 373.800 Ha (3.738.00 Km 2) dan batas-batas wilayah sebagai berikut :

1.sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tanah Datar; 2.sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Solok Selatan;

3.sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pesisir Selatan dan Kota Padang; dan

4.sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sijunjung.

Secara administratif Kabupaten Solok terbagi dalam 14 kecamatan, 74 Nagari dan 414 Jorong. Kecamatan yang memiliki nagari terbanyak adalah Kecamatan IX Koto Sungai Lasi dan Kecamatan X Koto Diatas masing-masing memiliki 9 nagari, sedangkan kecamatan dengan jumlah nagari terkecil terdapat di Kecamatan Pantai Cermin, Kecamatan Danau Kembar dan Kecamatan Junjung Sirih masing-masing hanya memiliki 2 nagari. Kecamatan yang memiliki jorong terbanyak adalah Kecamatan X Koto Diatas dengan jumlah 52 jorong dan kecamatan yang memiliki jorong paling sedikit adalah Kecamatan Payung Sekaki

(2)

dan Kecamatan Junjung Sirih dengan jumlah masing-masing 11 jorong sebagaimana terlihat pada Tabel berikut ini :

Tabel 2.1

Luas Wilayah Per-Kecamatan

NO KECAMATAN IBUKOTA

KECAMATAN

NAGARI JORONG LUAS

DAERAH (HA)

1. Pantai Cermin S u r i a n 2 28 36.600

2. Lembah Gumanti Alahan

Panjang

4 39 45.972

3. Hiliran Gumanti Talang Babungo

3 20 26.328

4. Payung Sekaki Kubang Nan Duo

3 11 36.450

5. Tigo Lurah Batu

Bajanjang

5 20 60.250

6. Lembang Jaya Bukik Sileh 6 43 9.990

7. Danau Kembar Sp. Tj. Nan IV 2 19 7.010

8. Gunung Talang Talang 8 40 38.500

9. Bukit Sundi Muaro Paneh 5 20 10.900

10. IX Koto Sungai Lasi Sungai Lasi 9 28 17.100

11. Kubung Selayo 8 37 19.200

12. X Koto Singkarak Singkarak 8 46 25.700

13. Junjung Sirih Paninggahan 2 11 29.550

14. X Koto Diatas Tanjung Balik 9 52 10.250

TOTAL 74 414 373.800

Sumber : Keputusan Bupati Solok Nomor 100-592-2012

Dari tabel 2.1 dapat dilihat bahwa Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Tigo Lurah dengan luas 60.250 Ha, sedangkan kecamatan yang memiliki luas wilayah paling kecil adalah Kecamatan Danau Kembar dengan luas 7.010 Ha.

(3)

Berdasarkan evaluasi dan verifikasi internal Bappeda Kabupaten Solok dari Tahun 2011 sampai dengan 2013 yang menggunakan 14 indikator penetapan desa tertinggal dari Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2010, maka dari 74 Nagari di Kabupaten Solok dapat dikelompokkan menjadi, 1 Nagari Tertinggal, 5 Nagari Sangat Tertinggal, 53 Nagari Maju, dan 15 Nagari Sangat Maju.

2.1.1.2 Topografi

Topografi wilayah Kabupaten Solok sangat bervariasi antara dataran, lembah dan berbukit-bukit mulai dari dataran tinggi di bagian Selatan hingga dataran yang relatif rendah di bagian Utara dengan ketinggian berkisar antara 329 m hingga 1.458 m diatas permukaan laut.

Ketinggian wilayah di Kabupaten Solok ini dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) kelas ketinggian, yaitu :

1. ketinggian antara 100 – 500 m diatas permukaan laut, tersebar di Kecamatan X Koto Singkarak, Junjung Sirih, IX Koto Sungai Lasi, Kubung, dan Bukit Sundi;

2. ketinggian antara 500 – 1.000 m diatas permukaan laut, tersebar dibagian utara, yaitu Kecamatan Tigo Lurah, Gunung Talang, Kecamatan X Koto Diatas dan Kecamatan Payung Sekaki; dan

3. ketinggian 1.000 – 1.500 m diatas permukaan laut, tersebar di kecamatan Lembah Gumanti, Hiliran Gumanti, Pantai Cermin, Lembang Jaya dan Kecamatan Danau Kembar.

Berdasarkan kemiringan lereng dan luasnya yang bersumber dari data Status Kehutanan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Tahun 2001 dapat dibagi atas beberapa klasifikasi yang dilihat pada tabel di bawah ini :

(4)

NO KLASIFIKASI LERENG LERENG (%) LUAS (HA) PERSENTASE LUAS (%) 1. Datar, Agak Landai 0 – 8 84.642,97 22,64

2. Landai 8 – 15 90.005,35 24,08 3. Agak Curam 15 – 25 118.176,0 4 31,61 4. Curam 25 – 40 70.286,53 18,80 5. Sangat Curam > 40 10.689,11 2,86

Sumber : Hasil Analisis Peta, 2011

Berdasarkan kondisi kemiringan lereng di atas, maka dapat digambarkan sebagai berikut :

1. Kemiringan 0 – 8% (datar), terkonsentrasi dibeberapa tempat yang mencakup sebagian Kecamatan X Koto Diatas, X Koto Singkarak, Kubung, Bukit Sundi, Gunung Talang, Payung Sekaki, Danau Kembar, dan Lembah Gumanti.

2. Kondisi kemiringan 8 – 15% (datar s/d landai), yang terkonsentrasi di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Solok.

3. Kondisi kemiringan 15 – 25% (agak curam), yang menyebar secara merata di semua kecamatan.

4. Kondisi kemiringan 25 – 40% (curam), yang terkonsentrasi di semua kecamatan yang ada di Kabupaten Solok khususnya pada daerah Barat dan Selatan.

5. Lahan dengan kemiringan > 40% (sangat curam), tersebar secara merata di setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Solok dan lebih terkonsentrasi pada daerah Bagian Barat dan Selatan.

2.1.1.3 Geologi

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Peta Geologi skala 1 : 250.000 lembar Solok (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, 1995) Strata Batuan Penyusun Kabupaten Solok adalah :

(5)

1. Endapan Permukaan (Qal dan Qf) 2. Endapan Gunung Api Muda (Qyu, Qatg) 3. Endapan Gunung Api Tua (Qtau, Qou, Qol) 4. Endapan Sedimen (Tmo, Pbl)

5. Batuan Metamorfosis (Pb, PCkq, PCks, Rts) 6. Batuan Terobosan (Kgr, gd,g)

Sedangkan struktur geologi yang berkembang adalah :

1. Struktur patahan aktif adalah struktur yang paling dominan dengan Arah jalur struktur patahan ini berarah barat laut – tenggara. Mulai dari Danau Atas, Danau Bawah menerus ke arah Barat Laut ke Danau Singkarak. Struktur ini termasuk dalam jalur patahan besar Sumatera yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi konvergen antara lempeng Samudera Hindia dengan lempeng benua Asia. Pergerakan struktur patahan aktif menghasilkan juga dataran antar perbukitan (graben) di sekitar Solok. 2. Patahan-patahan yang terbentuk sebagai akibat pergerakan patahan utama Sumatera,

dengan sebaran hampir merata khususnya di wilayah bagian Selatan kajian mulai dari Danau Dibawah ke arah Selatan meliputi Kecamatan Pantai Cermin, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kecamatan Lembah Gumanti dan Kecamatan Tigo Lurah. Sedangkan wilayah dengan sebaran patahan kecil meliputi Kecamatan Gunung Talang, Kubung, X Koto Singkarak, Kec. IX Koto Sungai Lasi dan Kecamatan Payung Sekaki.

3. Kekar/rekahan berkembang pada batuan dan untuk batuan malihan dan terobosan berkembang struktur kekar/rekahan berkembang di Kecamatan Tigo Lurah dan sekitarnya.

2.1.1.4 Hidrologi

Hidrologi merupakan kondisi tata air yang ada pada suatu wilayah. Kondisi hidrologi suatu kawasan sangat dipengaruhi oleh kondisi curah hujan, jenis batuan, jenis tanah serta tingkat kelerengan (faktor internal) dan kondisi tutupan lahan (kondisi internal). Kondisi hidrologi yang ada di Kabupaten Solok dapat dikatakan sangat baik. Dengan pola aliran pada umumnya adalah bersifat dendritik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya sumber air baik yang berupa air permukaan maupun mata air dan air tanah, yang dapat diuraikan sebagai berikut :

(6)

1. Air Permukaan

Keadaan air permukaan sangat dipengaruhi oleh kondisi topografi, jenis batuan dan materi penyusun tanah, penggunaan lahan, curah hujan dan aktifitas manusia. Potensi air permukaan sebagian besar berasal dari berbagai mata air mengalir melalui sungai-sungai kecil dengan membentuk pola aliran yang berbentuk dendritik dan karena sifat hujan arografisnya yang tinggi memungkinkan kondisi sungai untuk mengalir sepanjang tahun. Sebagian besar wilayah Kabupaten Solok merupakan bagian dari dua Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalir kearah timur yaitu DAS Agam Kuantan – Indragiri dan DAS Batang Hari.

Tabel. 2.4

Jumlah Sungai di Kabupaten Solok

NO KECAMATAN NAMA SUNGAI LOKASI

1. Pantai Cermin Batang Lolo Lolo

Batang Indarung Surian / Lolo Batang Kulemban Surian Batang Kayu

Manang Surian

NO KECAMATAN NAMA SUNGAI LOKASI

2. Lembah Gumanti Batang Gumanti Alahan Panjang

Talang Babungo Sariak Alahan Tigo Sungai Abu

Batang Hari Alahan Panjang Lolo

Surian Sungai Pagu Sangir Sungai Pagu

3. Payung Sekaki Batang Kipat Air Luo

(7)

4. Tigo Lurah Batang Pelangki Batu Bajang

Rk. Luluih Sumiso Batang Kapujan Rk. Luluih

Sumiso

5. Lembang Jaya Batang Lembang Danau Kembar

Lembang Jaya Bukit Sundi Kubung

X Koto Singkarak

6. Gunung Talang Batang Paneh

Gadang Talang

Cupak

Muaro Paneh Batang Sumani Lubuk Salasih

Batang Barus Koto Gaek Jawi-Jawi Cupak Koto Baru

NO KECAMATAN NAMA SUNGAI LOKASI

7. Bukit Sundi Batang Air Halim Kinari

Muaro Paneh

8. X Koto Sungai Lasi Sungai Lasi Sungai Lasi

Batang Pamo Pianggu

Batang Lawas Lembah Gumanti Payung Sekaki

9. Kubung Batang Gantung Gantung Ciri

(8)

Batang Gawan Koto Hillang/Selayo Batang Imang Tanjung Bingkung

Koto Sani

10. X Koto Singkarak Air Lasi, Batang

Saniang Baka Saning Bakar

Batang Sumani Sumani

11. Junjung Sirih Batang Muaro

Paninggahan Paninggahan

Batang Muara

Pingai Muara Pingai

12. X Koto Diatas Batang Katialo Katialo Tj. Balik

Sulit Air

Sumber : Kabupaten Solok Dalam Angka, 2013/2014

Selain sungai, Kabupaten Solok juga mempunyai Danau yang terdiri-dari :

1. Danau Diatas yang berada di Kecamatan Lembah Gumanti dan Kecamatan Danau Kembar;

2. Danau Dibawah yang berada di Kecamatan Danau Kembar;

3. Danau Talang yang berada di Kecamatan Danau Kembar;

4. Danau Singkarak yang berada di Kecamatan X Koto Singkarak dan Kecamatan Junjung Sirih. Danau ini juga terdapat pada wilayah administrasi Kabupaten Tanah Datar.

Tabel 2.5

Jumlah Danau di Kabupaten Solok

NO NAMA DANAU KECAMATAN PANJANG

(KM)

LEBAR (KM)

LUAS (KM2)

(9)

Danau Kembar

2. Danau Dibawah Danau Kembar 5,62 3,00 16,9

3. Danau Talang Danau Kembar 1,5 0,88 1,3

4. Danau Singkarak

X Koto Singkarak

Junjung Sirih

20,75 6,25 129,7

Sumber : Kabupaten Solok Dalam Angka, 2013/2014

2. Mata Air

Dari kondisi alam yang terdapat di Kabupaten Solok banyak dijumpai mata air yang berasal dari lembah atau kaki perbukitan. Hal ini disebabkan adanya lapisan batuan yang kedap air dibawahnya yang mengalami peregangan tidak terus ke dalam melainkan ke arah lateral dan muncul di kaki tebing (lembah) atau kaki perbukitan sebagai mata air. Adanya mata air dapat dimanfaatkan menjadi cadangan sumber air bersih.

Secara keseluruhan, pemanfaatan sumber mata air di Kabupaten Solok belum optimal dimanfaatkan. Pemanfaatan sumber mata air yang ada selama ini, sebagian besar dikelola/dimanfaatkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Solok, seperti di Kecamatan Kubung, Nagari Selayo dan Nagari

Gaung. PDAM juga memanfaatkan sumber mata air di Kecamatan X Koto Diatas Nagari Sulit Air, Kecamatan X Koto Singkarak Nagari Kacang dan Koto Sani dan Nagari Koto Anau, Kecamatan Lembang Jaya.

3. Air Tanah

Keberadaan air tanah dipengaruhi oleh faktor hujan, luas dan kondisi daerah peresapan, sifat kelulusan bahan permukaan dan batuan yang terdapat di bawahnya serta morfologi. Potensi air tanah bebas yang cukup besar dapat dijumpai di sekitar Kota Solok dan Muara Labuh yang berkisar antara 1-3 meter dibawah permukaan air tanah.

Sedangkan di wilayah lainnya relatif berkedudukan dalam, yaitu berkisar antara 5-15 meter dibawah permukaan air tanah, kecuali sekitar daerah lembah yang agak lebar

(10)

2.1.1.5 Klimatologi

Secara umum daerah Kabupaten Solok beriklim tropis dengan temperatur bervariasi antara 120C hingga 300C. Ketinggian daerah berkisar antara 329 sampai 1.458 meter di atas permukaan laut. Dengan curah hujan rata-rata berkisar antara 174.83 mm/bulan dan hampir merata di sepanjang tahun dengan hari hujan berkisar rata-rata 14 hari hujan perbulan.

Daerah bagian Utara mempunyai curah hujan lebih rendah dibandingkan dengan bagian Tengah dan Selatan. Bulan Juli merupakan bulan yang paling rendah curah hujannya sementara bulan November hingga Februari cukup banyak hari hujannya. Curah hujan di Kabupaten Solok berada pada kisaran rata-rata Kabupaten 2.098 mm per tahun dan distribusinya di beberapa daerah merata sepanjang tahun misalnya di Kecamatan Lembah Gumanti, Gunung Talang, Lembang Jaya dan Danau Kembar, sedangkan di Kecamatan lainnya curah hujan terkumpul pada bulan-bulan basah antara bulan Nopember hingga April. Hal ini mengakibatkan kebutuhan air untuk sektor pertanian pada bulan-bulan kering harus diupayakan oleh para petani.

2.1.1.6 Penggunaan Lahan

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Solok Nomor 1 Tahun 2013 tentang RTRW Kabupaten Solok Tahun 2012 – 2031 rencana pola ruang wilayah Kabupaten Solok terdiri atas :

1. Kawasan Lindung

Rencana Pengembangan Kawasan Lindung Kabupaten meliputi : a. Kawasan Hutan Lindung ,

Kawasan Hutan Lindung dengan luas seluruhnya lebih kurang 118.141 Ha yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Solok kecuali kecamatan Bukit Sundi. Luas kawasan hutan lindung ini 31.60 % dari luas wilayah Kabupaten Solok.

(11)

Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya berupa kawasan resapan air yang meliputi wilayah kecamatan Gunung Talang, Lembang Jaya, Payung Sekaki, Bukit Sundi, Hiliran Gumanti dan Tigo Lurah.

c. Kawasan Perlindungan Setempat ,

Kawasan perlindungan setempat meliputi kawasan sempadan sungai, kawasan sekitar danau atau waduk, dan kawasan sekitar mata air.

d. Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam,

Kawasan suaka alam dengan luas lebih kurang 47.279 Ha meliputi Kawasan Suaka Alam Barisan I, Kawasan Suaka Alam Air Tarusan dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam ini 12,65 % dari luas wilayah Kabupaten Solok.

e. Kawasan Rawan Bencana Alam,

Kawasan rawan bencana alam meliputi kawasan rawan bencana tanah longsor, kawasan rawan bencana banjir, kawasan rawan bencana letusan gunung api dan kawasan rawan bencana gempa bumi/gerakan tanah.

f. Kawasan Lindung Geologi,

Kawasan lindung geologi meliputi kawasan rawan letusan Gunung Berapi Gunung Talang dan rawan bencana akibat pergeseran patahan Sumatera (Sesar Semangko).

2. Kawasan Budidaya

Rencana pengembangan kawasan budidaya Kabupaten Solok terdiri atas :

a. Kawasan Peruntukan Hutan Produksi,

Kawasan peruntukan hutan produksi terdiri atas kawasan hutan produksi terbatas (dengan luas lebih kurang 12.793 Ha), kawasan hutan produksi tetap (dengan luas lebih kurang 5.685 Ha), kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi (dengan luas lebih kurang 9.810 Ha). Luas kawasan hutan produksi ini adalah 7,57% dari luas wilayah Kabupaten Solok.

(12)

b. Kawasan Peruntukan Pertanian

Kawasan peruntukan pertanian terdiri atas ; kawasan pertanian tanaman pangan (dengan luas lebih kurang 33.974 Ha), kawasan tanaman hortikultura (dengan luas lebih kurang 72.475 Ha), kawasan perkebunan (dengan luas lebih kurang 42.778 Ha) dan kawasan peternakan diarahkan di seluruh kecamatan. Luas kawasan untuk pertanian ini adalah 39,92 % dari luas wilayah Kabupaten Solok.

c. Kawasan Peruntukan Perikanan

Kawasan peruntukan perikanan terdiri atas ; kawasan peruntukan budidaya perikanan air tawar (dengan luas lebih kurang 10.182,5 Ha), kawasan peruntukan perikanan tangkap perairan danau (dengan Luas 168,95 Ha). Luas kawasan perikanan ini adalah 10.351,45 Ha atau 2,77% dari luas wilayah Kabupaten Solok.

d. Kawasan Peruntukan Pertambangan

Kawasan peruntukan pertambangan meliputi kawasan pertambangan mineral dan batubara serta energi.

e. Kawasan Peruntukan Permukiman

Kawasan peruntukan permukiman terdiri atas kawasan permukiman perkotaan (dengan luas lebih kurang 1.348 Ha) dan kawasan permukiman pedesaan (dengan luas lebih kurang 5.690 Ha).

f. Kawasan Peruntukan Pariwisata

Kawasan peruntukan pariwisata terdiri atas kawasan pariwisata alam dan kawasan pariwisata budaya.

g. Kawasan Peruntukan Industri

Kawasan peruntukan industri terdiri atas kawasan peruntukan industri besar, kawasan peruntukan industri menengah dan kawasan peruntukan industri kecil.

h. Kawasan Peruntukan Lainnya

(13)

Secara geografis dan administratif Kabupaten Solok memiliki potensi pengembangan, hal ini didasarkan kepada masih banyaknya daerah wisata yang belum tergarap secara optimal untuk pengembangan sektor hotel dan restoran serta wisata budaya.

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Solok Nomor 1 Tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Solok Tahun 2012 – 2031, potensi pengembangan wilayah di Kabupaten Solok dilakukan dengan penetapan kawasan strategis kabupaten yang meliputi :

1. Kawasan Strategis Kabupaten Solok terdiri atas :

a. kawasan strategis dari aspek kepentingan pertumbuhan ekonomi; b. kawasan strategis dari aspek kepentingan sosial dan budaya; dan c. kawasan strategis dari aspek kepentingan pertahanan dan keamanan. 2. Kawasan strategis dari aspek kepentingan pertumbuhan ekonomi meliputi :

a. kawasan wisata Danau Singkarak; b. kawasan wisata Danau Kembar; c. kawasan perkotaan Arosuka;

d. kawasan agropolitan di Kecamatan Lembah Gumanti;

e. kawasan perkotaan Alahan Panjang di Kecamatan Lembah Gumanti; f. kawasan perkotaan Sumani di Kecamatan X Koto Singkarak; dan g. kawasan perkotaan Muara Panas di Kecamatan Bukit Sundi.

3. Kawasan strategis dari aspek kepentingan sosial dan budaya meliputi :

a. kawasan Masjid Tuo Kayu Jao dan sekitarnya di Kecamatan Gunung Talang; b. kawasan Masjid Raya Tanjung Bingkung dan sekitarnya di Kecamatan Kubung; c. kawasan Makam Datuk Perpatih Nan Sabatang dan sekitarnya di Kecamatan

Kubung;

d. kawasan Balairung Sari dan sekitarnya di Kecamatan X Koto Diatas;

(14)

g. kawasan Makam Syech Imam Marajo dan sekitarnya di Kecamatan Kubung; dan h. kawasan Sentra Pendidikan Koto Baru dan sekitarnya di Kecamatan Kubung.

4. Kawasan strategis dari aspek kepentingan pertahanan dan keamanan ditetapkan dengan kriteria :

a. diperuntukan bagi kepentingan pemeliharaan dan pertahanan negara berdasarkan geostrategis nasional;

b. diperuntukan bagi basis militer, daerah latihan militer, daerah pembuangan amunisi, daerah uji coba sistem persenjataan, dan/atau kawasan industri sistem persenjataan; dan

Terkait dengan diperuntukan kawasan strategis dari aspek kepentingan pertahanan dan keamanan dapat diakomodasikan dengan mempertimbangkan peruntukan kawasan yang sudah diatur dalam RTRW Kabupaten Solok.

2.1.1.8 Wilayah Rawan Bencana

Wilayah Kabupaten Solok merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi rawan bencana alam seperti letusan gunung api, banjir, tanah longsor, gempa bumi. Hal ini salah satu penyebabnya adalah karena kedudukan Kabupaten Solok secara tektonik yang termasuk dalam lempeng benua Asia yang ditunjam lempeng Samudra Hindia di Pantai Barat Sumatera. Penunjaman kedua lempeng tersebut menghasilkan beberapa patahan aktif didaratan Sumatera berupa Patahan Besar Sumatera (Patahan Semangko).

Patahan aktif Semangko tersebut memanjang pada ruas Kecamatan Pantai Cermin, Danau Diatas, Danau Dibawah ke utara sampai Danau Singkarak dan membentuk graben Kota Solok yang merupakan bagian dari patahan aktif sepanjang Sumatera. Jalur patahan – patahan aktif di Kabupaten Solok melintasi mulai dari Kecamatan Pantai Cermin terus ke Utara melewati Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Diatas – Danau Dibawah Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Bukit Sundi, Kecamatan X Koto Singkarak terus ke Danau Singkarak. Akibat pergerakan patahan aktif utama timbul patahan aktif ikutan lain yang berdimensi lebih kecil sejajar dengan jalur patahan utama (Sumatera) tersebar di

(15)

Kecamatan Gunung Talang, Kecamatan Kubung sedikit di Kecamatan Hiliran Gumanti, Kecamatan Tigo Lurah, Kecamatan Payung Sekaki terus ke Utara.

Jalur gempa utama di Kabupaten Solok berada pada sepanjang jalur patahan Sumatera yang melintasi Kabupaten Solok. Bila terjadi pelepasan energi yang terjadi di Samudera Hindia dengan kekuatan > 7 SR, maka akan sangat berpotensi menghasilkan gempa sepanjang patahan tersebut.

Berdasarkan beberapa penelitian serta observasi lapangan, maka potensi bencana alam di Kabupaten Solok terdiri dari :

1. Bencana Alam Gempa Bumi Patahan Aktif

Kabupaten Solok didominasi oleh perbukitan dan pegunungan serta dijumpai gunung api Talang yang merupakan bagian dari Pegunungan Bukit Barisan. Potensi bahaya gempa di Bagian Tengah Kabupaten Solok sangat besar, hal ini mengingat daerah bagian tengah khususnya jalur patahan aktif di Kabupaten Solok yang melintasi mulai dari Kecamatan Pantai Cermin terus ke utara melewati Kecamatan Lembah Gumanti, Danau Diatas – Danau Dibawah Kecamatan Lembang Jaya, Kecamatan Bukit Sundi, Kecamatan X Koto Singkarak terus ke Danau Singkarak sangat rentan terjadinya pergerakan.

2. Bencana Alam Gunung Api Talang

Kabupaten Solok mempunyai satu gunung api yaitu Gunung Talang, yang sampai sekarang masih aktif. Potensi yang paling besar terhadap bencana letusan Gunung Api Talang terdapat di tiga wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Gunung Talang, Kecamatan Bukit Sundi dan Kecamatan Lembang Jaya. Dimana keberadaan wilayah tersebut berada pada lereng utara Gunung Talang. Letusan yang terjadi sebelumnya, baik yang terjadi pada Pleistosen maupun Holosen telah megeluarkan lahar dan material lainnya (Qyu, Qatg, Qou) yang cukup luas di Kecamatan Gunung Talang dan Kecamatan Lembang Jaya.

Gunung api Talang merupakan gunung api aktif bertipe strato atau berlapis, memiliki lapangan fumarola yaitu Solfatara Gabuo Gadang Bawah dan Gabuo Gadang Ateh. Gunung api ini kembar dengan pasar Arbaa yang telah padam. Di puncak tidak

(16)

terdapat kawah. Tempat terjadinya letusan dan lapangan fumarola merupakan sebuah lembah sepanjang 300 m dengan lebar 30 sampai 90 meter. Terdapat dua buah danau yang mungkin dulunya kawah yaitu Danau Talang dan Danau Kecil. Mata air panas terdapat di kaki Gunung Talang, di antara Bt. Kili, Batu bajanjang, Buah Batung dan Sapan.

Letusan Gunung Talang pada Tahun 2005, mengakibatkan rekahan sepanjang 500 meter di selatan puncak Gunung Talang dan paling tidak ada tiga lobang letusan dalam segaris. Letusan pada tahun ini dipicu oleh adanya

peningkatan aktifitas tumbukan lempeng di Selatan Sumatera menyebabkan gempa tektonik (Mentawai) pada 10 April 2005, dengan magnitude 6,8. Selanjutnya terjadi peningkatan gejala kegempaan di Gunung Talang berupa gempa tektonik lokal dan gempa vulkanik. Beberapa sejarah kegiatan Gunung Talang dapat dilihat pada Tabel berikut :

Tabel 2.6

Sejarah Kegiatan Gunung Talang

NO TAHUN KEGIATAN

1. 1833 Letusan dengan tiang asap tebal dan batu membara dari kawah parasit.

2. 1843 Letusan serupa dengan letusan Tahun 1833.

3. 1845 Letusan pada tiap asap raksasa berwarna hitam dari kawah parasit.

4. 1883 Terbentuknya sistem rekahan NE – SW, rekahan di lereng Selatan sangat aktif.

5. 1963 Peningkatan kegiatan.

6. 1967 Peningkatan kegiatan tembusan fumarola pada satu retakan sepanjang 800 m, lebar 10 – 50 m, dengan 7 lubang utama tanpa letusan.

7. 1980-198 1

Peningkatan kegiatan, 65 kali gempa tektonik, 10 kali gempa vulkanik disertai suara gemuruh dan asap putih tebal dari kepundan Panjang.

(17)

9. 2003 Peningkatan kegiatan diikuti dengan letusan preatik di Kawah Gabuo Ateh (Atas).

10. 2005 Letusan abu.

11. 2007 Letusan Central Vent Eruption dan Explosive Eruption

Sumber : Pengamatan Gunung Api Talang (PGA Talang)

3. Gerakan Tanah

Gerakan tanah merupakan perpindahan tanah yang disebabkan karena gempa bumi, kelerengan terjal maupun adanya kontak antar batuan yang mempunyai densitas berbeda. Gerakan tanah / longsoran yang terjadi di

Kabupaten Solok umumnya disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kondisi geologi, morfologi, curah hujan, bahaya gunung api dan kegempaan.

Hasil pengamatan di lapangan, daerah yang cukup banyak dijumpai gerakan tanah adalah pada daerah yang dibentuk oleh batuan Anggota Filit dan serpih Formasi Tuhur (PCks) dan batuan volkanik tak terpisahkan (Qtau).

Umumnya gerakan tanah berupa longsoran bahan rombakan dan nendatan, berdimensi panjang antara 10 - 15 m, lebar antara 5 – 7 m, terdapat pada kemiringan lereng antara 40 - 50 %. Sedangkan tipe gerakan tanah yang sering terjadi berupa longsoran bahan rombakan dan batu.

Menurut informasi penduduk gerakan tanah berupa galodo pernah terjadi di desa Anau Kadok, Gunung Talang pada Tahun 1926 dan Tahun 1987, mengakibatkan rusaknya lahan pertanian di daerah tersebut. Galado termasuk salah satu tipe gerakan tanah yang dicirikan oleh adanya pergerakan suatu masa tanah/batuan dan air yang terjadi secara tiba-tiba dan serentak dengan kecepatan tinggi.

Gerakan tanah di Kabupaten Solok dapat dikelompokkan berdasarkan dominasi sebaran batuan utamanya, sehingga sebaran batuan yang luasnya kecil dan mempunyai topografi hampir sama akan disatukan dengan dominasi batuan utamanya, sedangkan metode yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan gerakan tanah digunakan metode kualitatif. Metode ini parameter yang digunakan untuk menentukan tingkat kerentanan gerakan tanah terdiri atas : bentuk muka tanah

(18)

4. Bencana Alam Erosi

Bencana alam erosi dikelompokkan menjadi 3 (tiga) tingkatan erosi yaitu : a. Tinggi

Erosi tertinggi terjadi diwilayah yang tersusun oleh batuan hasil letusan gunung api muda, berupa pasir – pasir krikilan seperti yang terdapat di

sekitar wilayah Gunung Api Talang dan Aripan Paninjauan. Di daerah ini erosi pasir lepas sangat aktif bahkan pada waktu musim hujan material pasir dapat terbawa oleh air permukaan.

b. Sedang

Erosi sedang umumnya terjadi pada daerah yang dibentuk oleh tanah hasil pelapukan tufa dan breksi berupa lempung – lempung lanauan.

c. Rendah

Erosi sedang umumnya terjadi pada daerah yang dibentuk oleh tanah hasil pelapukan lava, breksi dan pada endapan aluvium serta kipas aluvium. Pada wilayah ini erosi jarang terjadi karena tingkat pelapukannya cukup rendah dengan vegetasi lebat.

2.1.1.9 Demografi

Aspek kependudukan merupakan salah satu faktor yang sangat penting didalam menyusun perencanaan pembangunan daerah. Penduduk dalam proses pembangunan merupakan objek dan subjek pembangunan nantinya. Penduduk diharapkan terlibat mulai dari proses perencanaan, implementasi rencana serta menikmati hasil dari implementasi tersebut.

Berdasarkan hasil sensus penduduk Tahun 2010 jumlah penduduk Kabupaten Solok berjumlah 348.566 jiwa kemudian pada Tahun 2011 meningkat menjadi 352.705 jiwa.

(19)

Berdasarkan BPS Kabupaten Solok untuk Tahun 2013 jumlah penduduk diperkirakan meningkat menjadi sebanyak 358.383 jiwa.

Tabel 2.7

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Rasio Jenis Kelamin Per Kecamatan

NO KECAMATAN LAKI-LAKI PEREMPUA

N JUMLAH RASIO JENIS KELAMIN 1. Pantai Cermin 10.078 10.460 20.538 96 2. Lembah Gumanti 28.388 28.166 56.554 101 3. Hiliran Gumanti 8.340 8.253 16.593 101 4. Payung Sekaki 4.108 4.074 8.181 101 5. Tigo Lurah 4.909 5.009 9.918 98 6. Lembang Jaya 13.108 13.321 26.429 98 7. Danau Kembar 9.695 9.740 19.435 100 8. Gunung Talang 24.178 24.586 48.764 98 9. Bukit Sundi 11210 12.042 23.253 93

10. IX Koto Sungai Lasi 4.797 4.808 9.605 100

11. Kubung 28.578 29.244 57.822 98

12. X Koto Diatas 8.443 9.260 17.703 91

13. X Koto Singkarak 15.405 16.339 31.744 94

14. Junjung Sirih 5.626 6.218 11.844 90

JUMLAH 176.862 181.521 358.383 97

Sumber : BPS Kab. Solok Tahun 2013

Jika melihat data jumlah penduduk Tahun 2011 dan Tahun 2012 serta Tahun 2013, maka dapat diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk mengalami penurunan pada Tahun 2012, namun mengalami kenaikan pada Tahun 2013 dengan pertumbuhan

(20)

penduduk sebesar 0,93. Selanjutnya laju pertumbuhan penduduk pada Tahun 2009 – 2013 digambarkan dalam tabel berikut ini :

Tabel 2.8

Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun 2009 – 2013

N O URAIAN TAHUN 2009 2010 2011 2012 2013 1. Laju Pertumbuhan Penduduk (%) 1,16 0,68 1,19 0,67 0,93 2. Jumlah Penduduk (Jiwa) 359.819 348.566 352.705 355.077 358.38 3

Sumber : BPS Kab. Solok Tahun 2013

Berdasarkan komposisi jumlah penduduk Per Kecamatan dapat diketahui bahwa Kecamatan Kubung memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu sebesar 57.822 jiwa dan diikuti oleh Kecamatan Lembah Gumanti dengan jumlah penduduk sebesar 56.554 jiwa serta Kecamatan Gunung Talang dengan jumlah penduduk sebanyak 48.764 jiwa.

Guna melakukan kebijakan yang bersifat gender maka sangat diperlukan pengetahuan mengenai persebaran penduduk berdasarkan jenis kelamin. Kebijakan pada persebaran penduduk yang seimbang antara laki-laki dan perempuan sudah seharusnya berbeda dengan persebaran yang didominasi salah satunya. Dengan demikian kebijakan yang diambil lebih efektif.

Berdasarkan angka sex ratio, jumlah penduduk perempuan di Kabupaten Solok lebih banyak dibanding jumlah penduduk laki-laki. Pada Tahun 2013 sex ratio masih tetap sebesar 97,00 yang menunjukan bahwa untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 97 penduduk laki-laki.

Sebagian besar kecamatan di Kabupaten Solok memiliki jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk laki-laki. Hal ini dapat dilihat dari angka sex ratio yang nilainya lebih kecil dari 100. Tapi ada kecamatan yang memiliki sex ratio 100 yaitu Kecamatan Danau Kembar dan Kecamatan IX Koto Sei Lasi,

(21)

sedangkan Kecamatan dengan angka sex ratio diatas 100 adalah Kecamatan Lembah Gumanti, Hiliran Gumanti, dan Kecamatan Payung Sekaki.

Kepadatan penduduk secara geografis menunjukkan jumlah penduduk pada suatu daerah setiap kilometer persegi. Kepadatan penduduk secara geografis menunjukkan penyebaran penduduk dan tingkat kepadatan penduduk di suatu wilayah. Secara keseluruhan pada Tahun 2013 kepadatan penduduk Kabupaten Solok mencapai 95,58 jiwa/Km2. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kepadatan penduduk mengalami peningkatan 1 jiwa/Km2.

Bila ditinjau menurut kecamatan, terlihat bahwa Kecamatan Kubung merupakan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi yaitu 301 jiwa/Km2. Selanjutnya diikuti oleh Kecamatan Danau Kembar dengan kepadatan penduduk 277 jiwa/Km2 dan Kecamatan Lembang Jaya dengan kepadatan penduduk sebesar 265 jiwa/Km2. Sedangkan Kecamatan Tigo Lurah adalah kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah dengan angka 16 jiwa/Km2.

Jika dibandingkan dengan Tahun 2012, kepadatan penduduk per kecamatan tidak mengalami perubahan yang cukup signifikan karena pada Tahun 2012 Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk terpadat setelah Kubung masih Kecamatan Danau Kembar. Hal ini terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 2.9

Jumlah Kepadatan Penduduk Per Kecamatan

NO KECAMATAN LUAS DAERAH

(Km2) PENDUDU K KEPADATA N 1. Pantai Cermin 366.00 20.538 56.00 2. Lembah Gumanti 459.72 56.554 123 3. Hiliran Gumanti 263.28 16.593 63 4. Payung Sekaki 364.50 8.181 22 5. Tigo Lurah 602.50 9.918 16 6. Lembang Jaya 99.90 26.429 265 7. Danau Kembar 70.10 19.435 277 8. Gunung Talang 385.00 48.764 127 9. Bukit Sundi 109.00 23.253 213

(22)

10. IX Koto Sungai Lasi 171.00 9.605 56.00 11. Kubung 192.00 57.822 301 12. X Koto Diatas 257.00 17.703 69 13. X Koto Singkarak 295.50 31.744 107 14 Junjung Sirih 102.50 11.844 116 JUMLAH 3.738.00 358.383 96

Sumber : BPS Kab. Solok

2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

1. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu periode tertentu ditunjukkan oleh data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik atas dasar

harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. PDRB didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.

PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan menunjukan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai dasar.

PDRB atas dasar harga berlaku nominal menunjukan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu wilayah. Nilai PDRB yang besar menunjukan kemampuan sumber daya ekonomi yang besar. Disamping itu PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan pendapatan yang memungkinkan dapat dinikmati oleh penduduk suatu daerah.

PDRB Kabupaten Solok berdasarkan atas harga berlaku pada Tahun 2013 sebesar 7,82 Triliun Rupiah. Dibandingkan dengan nilai PDRB pada Tahun 2012 yang mencapai 6,82 Triliun Rupiah, berarti selama Tahun 2013 terjadi kenaikan sebesar 996,96 Milyar Rupiah. Kenaikan nilai PDRB atas

(23)

dasar harga berlaku ini belum mencerminkan kenaikan produktifitas sektor ekonomi secara riil, karena kenaikan ini masih mengandung faktor perubahan harga (inflasi).

Untuk itu perlu dilihat perkembangan PDRB Kabupaten Solok berdasarkan harga konstan Tahun 2000. Pada Tahun 2013 PDRB Kabupaten Solok berdasarkan Harga Konstan adalah 2,60 Triliun Rupiah, angka ini mengalami kenaikan sebesar 154,05 Milyar Rupiah jika dibandingkan dengan angka pada Tahun 2012 sebesar 2,45 Triliun Rupiah. Adapun perkembangan PDRB Kabupaten Solok Tahun 2009 sampai Tahun 2013 seperti terdapat pada tabel dan gambar berikut :

Tabel 2.10

Perkembangan PDRB Kab. Solok Tahun 2009-2013

No Tahun

PDRB Atas Dasar Harga Berlaku

PDRB Atas Dasar Harga Konstan

Jumlah (Jutaan Rupiah) Jumlah (Jutaan Rupiah)

1 2009 4.637.924,61 2.047.056,55

2 2010 5.309.858,89 2.170.836,33

3 2011 6.088.212,78 2.303.828,56

4 2012 6.823.603,73 2.448.011,40

5 2013* 7.820.562,87 2.602.065,79

Sumber : BPS Kab. Solok *) Angka Sementara

Grafik 2.1

(24)

Sumber : BPS Kab. Solok

Jika ditelaah menurut sektor ekonomi atau lapangan usaha, secara keseluruhan kegiatan perekonomian di Kabupaten Solok menunjukkan peningkatan yang cukup bervariasi. Namun sektor pertanian masih merupakan sektor ekonomi andalan dengan nilai tambah sebesar 2,76 Triliun Rupiah pada Tahun 2011, dan meningkat menjadi 3,06 Triliun Rupiah Tahun 2012 serta 3,54 Triliun Rupiah pada Tahun 2013. Disamping itu sektor pertanian merupakan sektor yang paling besar peningkatannya dibanding sektor lain yaitu dengan kenaikan nilai tambah sebesar 481,76 Milyar Rupiah dibanding dengan nilai tambah pada Tahun 2012.

Selanjutnya sektor perdagangan, hotel dan restoran merupakan sektor kedua terbesar yang menghasilkan nilai tambah

dalam PDRB Kabupaten Solok yaitu sebesar 1.09 Triliun Rupiah pada Tahun 2013. Jika dibandingkan dengan nilai tambah yang dihasilkan pada Tahun 2012 sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami peningkatan sebesar 135,67 Milyar Rupiah.

Sementara, sektor ketiga terbesar dalam menghasilkan nilai tambah dalam perekomian Kabupaten Solok adalah sektor pengangkutan dan komunikasi yaitu sebesar 933,94 Milyar Rupiah. Pada Tahun 2012 sektor angkutan dan komunikasi ini menghasilkan nilai tambah sebesar 808,52

(25)

Milyar Rupiah. Dengan demikian sektor ini selama Tahun 2013 meningkat sebesar 125,42 Milyar Rupiah dibanding dengan Tahun 2012.

Sektor ekonomi yang terendah memberikan kontribusinya masih sektor listrik dan air yaitu sebesar 37,59 Milyar Rupiah. Sektor ini mengalami sedikit kenaikan jika dibandingkan dengan nilai tambah pada Tahun 2012 yaitu sebesar 3,77 Milyar Rupiah.

Selanjutnya jika dilihat perkembangan perekonomian Kabupaten Solok selama periode Tahun 2009 sampai Tahun 2013, rata-rata PDRB atas dasar harga berlaku yang dihasilkan seluruh sektor usaha di Kabupaten Solok adalah 6,13 Triliun Rupiah sebagaimana terlihat pada berikut ini :

Tabel 2.11

Nilai dan Konstribusi Sektor Dalam PDRB Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

Atas Dasar Harga berlaku

No Sektor Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 Rata-Ra ta 2009-20 13 (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % 1 Pertanian 2075,14 44,78 2389,77 44,74 2759,04 45,32 3060,88 44,86 3542,64 45,30 2765,49 2 Pertambangan / Penggalian 178,9 3,84 201,51 3,86 223,83 3,68 252,48 3,7 287,80 3,68 228,90 3 Industri Pengolahan 303,51 6,55 337,03 6,54 378,52 6,22 423,09 6,2 472,90 6,05 383,01

4 Listrik dan Air Bersih 25,77 0,58 28,01 0,56 30,51 0,5 33,83 0,5 37,59 0,48 31,14

5 Konstruksi 319,3 7,3 365,71 6,88 419,96 6,9 475,4 6,97 544,45 6,96 424,96

6 Perdagangan, Hotel & Restoran 620,57 12,95 721,71 13,38 833,79 13,7 956,27 14,01 1091,94 13,96 844,86 7 Pengangkutan & Komunikasi 528,15 11,29 611,17 11,39 706,96 11,61 808,52 11,85 933,94 11,94 717,75 8 Keuangan 80,47 1,74 90,54 1,74 102,26 1,68 115,41 1,69 131,30 1,68 104,00 9 Jasa-Jasa 506,12 10,97 564,35 10,91 633,34 10,4 697,73 10,23 778,00 9,95 635,91 PDRB 4637,93 100 5309,86 100 6088,21 100 6823,61 100 7820,56 2 100 6136,02

Sumber : BPS Kab. Solok *) Angka Sementara

Grafik dan Diagram 2.2

Nilai dan Kontribusi Sektor Dalam PDRB Kabupaten Solok Tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Berlaku

(26)

Perkembangan perekonomian Kabupaten Solok belum terpengaruh oleh perekonomian dunia yang akhir-akhir ini mengalami perkembangan yang tidak menentu hal ini disebabkan karena kegiatan-kegiatan

(27)

perekonomian di Kabupaten Solok masih sangat lemah korelasinya dengan krisis perekonomian dunia.

Kondisi perekonomian Kabupaten Solok dipersentasikan melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Solok atas dasar harga konstan 2000 dimana pada Tahun 2013 masih mampu mengalami pertumbuhan yang cukup baik yaitu mengalami peningkatan 6,29 %. Perkembangan PDRB Kabupaten Solok berdasarkan harga konstan 2000 tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.12

Nilai dan Kontribusi Sektor Dalam PDRB Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

Atas Dasar Harga Konstan 2000

No Sektor Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 Rata-Rata 2009-2013 (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % (Milyar Rp.) % 1 Pertanian 861,03 42,06 915,27 42,16 970,7 42,13 1028,84 42,02 1089,05 41,85% 972,978 2 Pertambangan / Penggalian 75,04 3,67 80,64 3,71 86,75 3,77 92,88 3,79 99,88 3,84% 87,038 3 Industri Pengolahan 152,38 7,44 158,66 7,31 167,01 7,25 175,96 7,2 185,7 7,14% 167,942

4 Listrik dan Air Bersih 8,11 0,4 8,54 0,39 9,01 0,39 9,57 0,39 10,18 0,39% 9,082

5 Konstruksi 113,36 5,54 120,4 5,55 127,87 5,55 135,68 5,54 144,58 5,56% 128,378 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 296,28 14,47 317,23 14,61 338,56 14,7 362,65 14,82 388,58 14,93 % 340,66 7 Pengangkutan & Komunikasi 207,91 10,16 224,21 10,33 241,89 10,5 260,36 10,63 280,1 10,76 % 242,894 8 Keuangan 42,28 2.07 44,9 2,07 47,76 2,07 51,12 2,09 54,83 2,11% 48,178 9 Jasa-Jasa 290,69 14,2 300,99 13,87 314,27 13,64 331,06 13,52 349,16 13,42 % 317,234 PDRB 2047,0 8 97,9 4 2170,8 4 100 2303,8 2 100 2448,1 2 100 2602,0 6 100 2314,38 4

Sumber : BPS Kab. Solok

Grafik dan Diagram 2.3

Nilai dan Kontribusi Sektor Dalam PDRB Kabupaten Solok Tahun 2009-2013 Atas Dasar Harga Konstan 2000

(28)

Pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada Tahun 2013 diakibatkan adanya beberapa sektor ekonomi yang mengalami pertumbuhan yang lebih pesat dan sekaligus kontribusinya yang cukup tinggi. Namun bila dikaji lebih dalam

(29)

sampai sub sektor ekonomi maka akan terlihat laju pertumbuhan masing-masing sub sektor ekonomi relatif bervariasi. Ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.13

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Solok (Persentase) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha Tahun 2009-2013

No Lapangan Usaha Tahun Rata-rata

2009 2010 2011 2012 2013*) 1 Pertanian 5,87 6,30 6,06 5,99 5,85 6,01 2 Pertambangan & Penggalian 7,35 7,45 7,58 7,07 7,53 7,39 3 Industri pengolahan 6,64 4,12 5,26 5,36 5,53 5,38

4 Listrik dan air 5,19 5,31 5,50 6,22 6,45 5,73

5 Bangunan/konstr uksi 4,12 6,21 6,21 6,11 6,55 5,84 6 Perdagangan, hotel dan restoran 6,99 7,07 6,72 7,12 7,15 7,01 7 Angkutan dan komunikasi 8,12 7,84 7,89 7,63 7,63 7,81 8 Keuangan, sewa dan jasa perusahaan 6,24 6,19 6,38 7,03 7,26 6,62 9 Jasa-jasa 5,65 3,54 4,41 5,34 5,47 4,88 Pertumbuhan 6,24 6,05 6,13 6,26 6,29 6,20

Sumber : BPS Kab. Solok *) Angka Sementara

Grafik 2.4

Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Solok (Persentase) Atas Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha

(30)

Sektor pertanian selama Tahun 2013 menghasilkan nilai tambah terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Solok. Sektor pertanian atas dasar harga konstan 2000 selama Tahun 2013 tumbuh sebesar 5,85 persen. Pertumbuhan yang dicapai sektor pertanian ini lebih lambat jika dibandingkan dengan pertumbuhan pada Tahun 2012 bahkan Tahun 2011 yaitu masing-masing 5,99 persen dan 6,06 persen.

Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan yang terbesar pada Tahun 2013 adalah sektor angkutan dan komunikasi yaitu sebesar 7,63 %.

Tabel 2.14

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Solok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2012-2013

No Lapangan Usaha Tahun

2012 2013*)

1 Pertanian 5,99 5,85

2 Pertambangan & Penggalian 7,07 7,53

3 Industri pengolahan 5,36 5,53

4 Listrik dan air 6,22 6,45

5 Bangunan/konstruksi 6,11 6,55

6 Perdagangan, hotel dan restoran 7,12 7,15

7 Angkutan dan komunikasi 7,63 7,63

(31)

9 Jasa-jasa 5,34 5,47

Grafik 2.5

Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Solok Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha

Tahun 2012-2013

2. Perkembangan Kelompok Sektor PDRB

Pada dasarnya dari sembilan sektor ekonomi dalam PDRB dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok sektor, yaitu kelompok sektor primer, sekunder dan tersier. Pengelompokan kegiatan ekonomi ini didasarkan atas input –output dan atas asal terjadinya proses produksi untuk masing-masing produsen.

Kelompok sektor primer meliputi kegiatan yang outputnya masih merupakan output proses tingkat dasar, kelompok sektor primer meliputi sektor pertanian dan sektor pertambangan. Selanjutnya, sektor yang sebagian besar inputnya berasal dari sektor primer dikelompokkan ke dalam kelompok sektor sekunder, yang meliputi sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air minum serta sektor konstruksi. Sedangkan sektor lainnya, yakni sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor pengangkutan dan

(32)

komunikasi, sektor keuangan serta sektor jasa –jasa dikelompokkan ke dalam sektor tersier.

Sejak Tahun 2009 sampai dengan Tahun 2013 nilai tambah kelompok sektor primer senantiasa menunjukkan angka yang terbesar dalam struktur perekonomian Kabupaten Solok kemudian diikuti oleh sektor tersier sebagaimana tergambar dalam tabel berikut ini :

Tabel 2.15

Perkembangan PRBD Kabupaten Solok Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Kelompok Sektor Tahun 2009-2013 (Milyar Rupiah)

No Sektor Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 1 Primer 2254,04 2591,34 2982,87 3313,36 3830,4 4 2 Sekunder 648,58 730,75 828,99 932,32 1054,9 4 3 Tersier 1735,31 1987,77 2276,35 2577,93 2935,1 8 Grafik 2.6

Perkembangan PRBD Kabupaten Solok Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Kelompok Sektor Tahun 2009-2013 (Milyar Rupiah)

(33)

3. Pergeseran Struktur Perekonomian Kabupaten Solok

Struktur perekonomian suatu daerah merupakan gambaran tentang komposisi perekonomian daerah yang terdiri atas sembilan sektor ekonomi/lapangan usaha. Struktur ekonomi suatu daerah juga menggambarkan tinggi rendahnya kontribusi seluruh sektor ekonomi terhadap pembentukan PDRB. Dengan terjadinya perkembangan nilai tambah yang dihasilkan oleh masing-masing sektor ekonomi maka akan mengakibatkan penggeseran struktur ekonomi. Penggeseran struktur ekonomi dapat digunakan sebagai indikator untuk menunjukan adanya suatu proses pembangunan sehingga bermanfaat bagi arah kebijakan dimasa yang akan datang.

Sebagaimana yang disajikan pada Tabel 2.11 bahwa sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam perekonomian Kabupaten Solok selama periode Tahun 2009 sampai Tahun 2013. Struktur perekonomian ini belum menunjukan pergeseran yang signifikan. Dimana pada Tahun 2013 kontribusi sektor pertanian mencapai 45,30%. Kontribusi sektor pertanian ini mengalami sedikit kenaikan setelah mengalami penurunan kontribusi pada Tahun 2010 dan Tahun 2012 yaitu masing-masing mencapai 44,74 persen dan 44,86 persen.

(34)

cukup bagus dari Tahun 2009 sampai Tahun 2013 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, dimana pada Tahun 2013 memberikan kontribusi sebesar 13,96 persen.

Sektor ekonomi lain yaitu pengangkutan dan komunikasi masih tetap berada diurutan ketiga yang memberikan kontribusi terbesar dari Tahun 2009 sampai Tahun 2013 sedangkan sektor jasa-jasa terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun hingga mencapai kontribusi sebesar 10,23 persen pada Tahun 2012, dan 9,95 persen pada Tahun 2013, namun peningkatan kontribusinya masih berada pada urutan empat besar.

4. PDRB Perkapita

Berkembangnya nilai tambah yang terbentuk dalam PDRB memberikan pengaruh terhadap peningkatan PDRB perkapita jika ditunjang dengan pertumbuhan penduduk yang relatif lebih rendah dari pertumbuhan PDRB.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita Kabupaten Solok Tahun 2013 memperlihatkan peningkatan yang cukup berarti dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ini disebabkan cukup tingginya peningkatan nilai nominal PDRB dan pertumbuhan penduduk Kabupaten Solok yang relatif lebih rendah dari pertumbuhan PDRB. Secara konseptual, PDRB perkapita merupakan hasil bagi antara nilai nominal PDRB dengan jumlah penduduk pertengahan tahun Kabupaten Solok pada tahun yang bersamaan. Sehingga PDRB Perkapita bukan merupakan pendapatan riil dari setiap penduduk sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.16

(35)

Tahun PDRB Perkapita Perubahan (%) 2009 13.452,15 13,21 2010 15.198,08 12,98 2011 17.261,49 13,58 2012 19.217,25 11,33 2013*) 21.232,37 10,48

Sumber : BPS Kabupaten Solok *) Angka sementara

Grafik 2.7

PDRB Perkapita Kabupaten Solok Atas Dasar Harga Berlaku Tahun 2009-2013 (Ribu Rupiah)

Dari perkembangan PDRB perkapita Kabupaten Solok dari Tahun 2009 sampai Tahun 2013 dapat dilihat bahwa perkembangannya cenderung mengalami peningkatan walaupun dengan persentase perubahan yang bervariasi.

Disamping gambaran indikator ekonomi di atas, juga perlu dilihat perkembangan tingkat kemiskinan di Kabupaten Solok yang tergambar pada data-data jumlah Keluarga Prasejahtera (sangat miskin) dan Keluarga Sejahtera I (miskin) dari Tahun 2009 sampai Tahun 2013.

(36)

Tabel 2.17

Perkembangan Jumlah Keluarga Prasejahtera dan Keluarga Sejahtera I di Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Klasifikasi Keluarga Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 1 Pra Sejahtera 9.512 8.979 8.357 9.105 9.637 2 Sejahtera I 18.582 18.966 18.346 18.427 19.454 3 Jumlah Keluarga 90.350 92.308 92.715 93.169 95.204 4 Persentase 31.09 30.27 28.80 29.55 30.56

Sumber : Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Solok

Pada Tahun 2013 jumlah persentase Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I di Kabupaten Solok adalah 30.56%, angka ini jika dibandingkan dengan kondisi Tahun 2011 dan Tahun 2012 terus mengalami kenaikan. Peningkatan Persentase Keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I, ini perlu mendapat perhatian khusus agar pada Tahun 2014 angka persentase jumlah keluarga Prasejahtera dan Sejahtera I ini tidak terus meningkat.

Sementara jika dilihat dari jumlah penduduk diatas garis kemiskinan, maka dari Tahun 2009 s/d 2013 terus mengalami peningkatan, sebagaimana terlihat pada Tabel berikut :

Tabel 2.18

Perkembangan Persentase Penduduk Diatas Garis Kemiskinan Kabupaten Solok Tahun 2009-2013 No Indikator Kinerja Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 1 Persentase penduduk diatas garis kemiskinan 87,85 88,25 88,81 89,96 90,71

Sumber : BPS Kabupaten Solok

Ini menandakan bahwa penduduk miskin di Kabupaten Solok terus mengalami penurunan.

(37)

Indikator lain yang menjadi ukuran dalam penilaian fokus kesejahteraan dan pemerataan ekonomi adalah banyaknya kejahatan yang terjadi pada wilayah Hukum Kabupaten Solok yang tertangani. Berdasarkan data dari Kepolisian pada Tahun 2012 jumlah kejahatan yang terjadi adalah sebanyak 930 kejadian, angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan jumlah kejahatan yang terjadi pada Tahun 2011 yaitu sebesar 792 kejadian. Dari jumlah laporan kejadian yang masuk yaitu sebanyak 930 kasus, baru 616 kasus yang telah selesai ditangani atau 66,24 %. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk maka angka kejahatan yang tertangani adalah sebesar 0,17 %.

2.1.2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial

Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan sosial dilakukan terhadap indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipatif kasar, angka pendidikan yang ditamatkan, angka partisipasi murni, angka kelangsungan hidup bayi, angka usia harapan hidup, persentase penduduk yang memiliki lahan, rasio penduduk yang bekerja. Kondisi umum bidang pendidikan di Kabupaten Solok dapat dilihat dari tabel berikut ini yang menyajikan data-data indikator kinerja fokus kesejahteraan sosial bidang pendidikan.

Tabel 2.19

Perkembangan Indikator Kinerja Fokus Kesejahteraan Sosial Bidang Pendidikan Kabupaten solok

Tahun 2009-2013

NO INDIKATOR KINERJA TAHUN

2009 2010 2011 2012 2013

1 Angka Melek Huruf 96,86 % 97,19 % 97,21 % 97,24 % 97,40 %

2 Angka Rata-rata Lama Sekolah (Tahun)

7,21 7,60 8,03 8,04 8,05

3 Angka Partisipasi Kasar

- APK SD/MI/Paket A 108,48% 113,46% 109,58% 121,27% 116,53%

- APK SMP/MTs/Paket B 81,52 % 84,02 % 82,11 % 80,37 % 81,03 %

- APK SMA/SMK/MA/Paket C

46,18% 50,88% 51,11% 55,42% 57,95%

4 Angka Pendidikan Yang Ditamatkan - APT SD/MI/Paket A 29,39 % 28,17 % 26,24 % 27,35 % 29,29 % - APT SMP/MTs/Paket B 17,38 % 16,47 % 15,56 % 16,68 % 17,37 % - APT SMA/SMK/MA/Paket C 16,05 % 14,29 % 12,87 % 13,72 % 14,37 %

5 Angka Partisipasi Murni

(38)

- Angka Partisipasi Murni (APM) SMP/MTs/Paket B

68,11 % 65,13 % 61,44 % 63,50 % 64,67 %

- Angka Partisipasi Murni (APM)

SMA/SMK/MA/Paket C

36,12 % 36,18 % 45,57 % 46,79 % 46,95 %

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Berdasarkan Tabel 2.19 di atas dapat dilihat bahwa angka melek huruf secara umum terus mengalami peningkatan walaupun dengan tingkat perkembangan yang relatif kecil. Pada Tahun 2013 angka melek huruf adalah 97,40 % yang berarti bahwa jumlah penduduk yang buta huruf semakin kurang. Begitu juga halnya dengan angka rata-rata lama sekolah yang juga mengalami peningkatan menjadi 8,05 % pada Tahun 2013. Artinya rata-rata penduduk Kabupaten Solok memutuskan berhenti sekolah ketika kelas 2 SMP.

Selanjutnya adalah indikator Angka Partisipasi Kasar (APK), pada Tahun 2012 APK pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar atau sederajat mengalami peningkatan, namun pada Tahun 2013 turun menjadi 116,53 begitu juga dengan Angka Partisipasi Murni (APM) Sekolah Dasar atau sederajat yang juga mengalami peningkatan mencapai angka 99,03 % pada Tahun 2012, namun turun pada Tahun 2013 menjadi sebesar 97,18. APM Sekolah Dasar atau sederajat sebesar 97,18 % menunjukan bahwa 97,18 %, penduduk yang berusia 7 – 12 Tahun mengenyam pendidikan Sekolah Dasar atau sederajat dan 2,82 % tidak bersekolah.

Kemudian pada tingkat pendidikan SLTP atau sederajat, APK pada Tahun 2012 mengalami penurunan dari Tahun 2011 yaitu sebesar 80,37 %, kemudian angka ini meningkat pada Tahun 2013 menjadi sebesar 81,03 %. Selanjutnya APM pada Tahun 2012 mengalami peningkatan dibanding dengan Tahun 2011 yaitu besar 63,50 %, angka ini juga terus naik pada Tahun 2013 sehingga menjadi sebesar 64,67 %. Pada tingkat SLTA, APK ditingkat pendidikan SLTA atau sederajat pada Tahun 2013 mengalami kenaikan dari Tahun 2012 yaitu menjadi sebesar 57,95 % begitu juga dengan APM, APM pada Tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi 46,95 % dibandingkan dengan angka pada Tahun 2012.

(39)

Dari data-data tersebut juga dapat dilihat bahwa APK maupun APM ditingkat pendidikan Sekolah Dasar atau sederajat lebih tinggi dibandingkan dengan APK dan APM ditingkat pendidikan SLTP dan SLTA, hal ini merupakan dampak adanya program wajib belajar 9 Tahun.

Tabel 2.20

Perkembangan Indikator Kinerja Fokus Kesejahteraan Sosial Bidang Kesehatan Kabupaten solok Tahun 2009-2013

NO INDIKATOR KINERJA TAHUN

2009 2010 2011 2012 2013

1 Angka kelangsungan hidup bayi (orang)

985,04 988,04 991,93 986,72 985,74 2 Angka usia harapan hidup

(Tahun)

66,25 66,60 66,95 67,26 67,50

3 Persentase balita gizi buruk

0,028 0,031 0,036 0,044 0,048

Sumber : Dinas Kesehatan

Pada bidang kesehatan dapat dilihat bahwa angka usia harapan hidup masyarakat Kabupaten Solok pada Tahun 2013 mencapai umur 67,50 Tahun. Angka usia harapan hidup ini dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan, ini menandakan bahwa kualitas kesehatan penduduk Kabupaten Solok meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Kemudian jika dilihat dari indikator Angka Kelangsungan Hidup Bayi, perkembangannya dari Tahun 2009 sampai Tahun 2013 cukup berfluktuatif. Pada tahun 2012 dan 2013 indikator ini menunjukan angka yang terus mengalami penurunan, dimana pada Tahun 2013 adalah sebesar 985,74. Angka 985,74 menunjukkan bahwa dari 1.000 bayi yang lahir 985,74 orang hidup dan 14,26 bayi meninggal. Kondisi ini tentunya perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Solok, begitu juga halnya dengan angka persentase balita gizi buruk yang terus mengalami peningkatan sehingga pada Tahun 2013 menjadi sebesar 0,048%.

Disamping indikator di bidang pendidikan dan kesehatan, rasio penduduk yang bekerja juga mencerminkan kinerja atas fokus kesejahteraan sosial. Pada Tahun 2013 rasio penduduk yang berkerja adalah sebesar 94,28 %, angka ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan rasio penduduk yang berkerja

(40)

Tahun ke tahun mulai dari Tahun 2009 sampai Tahun 2013 dapat dilihat bahwa terjadi fluktuasi terhadap rasio penduduk yang bekerja tersebut. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.21 berikut ini :

Tabel 2.21

Perkembangan Rasio Jumlah Penduduk yang Bekerja di Kabupaten solok Tahun 2009-2013

NO INDIKATOR KINERJA TAHUN

2009 2010 2011 2012 2013

1 Penduduk yang bekerja (Orang)

160.023 161.700 148.795 141.543 136,099

2 Angkatan kerja (Orang) 167.579 166.775 158.284 148.611 144,359

3 Rasio penduduk yang bekerja 95,49 96,95 94,01 95,24 94,28

2.1.2.3. Fokus Seni Budaya dan Olah Raga

Analisis kinerja atas seni dan budaya serta olah raga dapat dilakukan terhadap indikator jumlah grup kesenian, jumlah klub olah raga dan jumlah gedung olah raga. Perkembangan terhadap indikator tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.22

Perkembangan Indikator Kinerja Fokus Seni, Budaya dan Olah Raga di Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator

Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1 Jumlah Klub Olah Raga 25 25 25 25 25

2 Jumlah Gedung Olah Raga 14 14 14 14 14

3 Jumlah Organisasi Olah Raga

25 25 25 25 25

4 Jumlah Kegiatan Olah Raga 20 22 22 22 22

5 Jumlah Lapangan Olah Raga

196 196 196 196 196

6 Jumlah Grup Kesenian 223 227 230 230 230

7 Jumlah Sarana

Penyelenggaraan Seni dan Budaya

26 26 30 30 30

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

(41)

Berdasarkan data sebagaimana dilihat pada tabel tersebut di atas dapat dilihat bahwa perkembangan olah raga di Kabupaten Solok tidak mengalami kemajuan. Sedangkan bidang seni dan budaya perkembangannya sangat lambat yang ditandai dengan perkembangan grup kesenian dan jumlah sarana penyelenggaraan seni dan budaya.

2.1.3. Aspek Pelayanan Umum

Aspek pelayanan umum atau pelayanan publik menjelaskan tentang kondisi atau perkembangan semua bentuk jasa pelayanan yang menjadi tanggungjawab pemerintah Kabupaten Solok dalam upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Aspek pelayanan umum ini terdiri atas fokus pelayanan urusan wajib dan fokus pelayanan urusan pilihan.

2.1.3.1. Fokus Pelayanan Urusan Wajib

Analisis kinerja atas layanan urusan wajib dilakukan terhadap indikator-indikator kinerja penyelenggaraan urusan wajib pemerintahan daerah yaitu :

1. Bidang Urusan Pendidikan a. Pendidikan Dasar

Tabel 2.23

Perkembangan Layanan Urusan Wajib Bidang Pendidikan Dasar kabupaten Solok Tahun 2009-2013 No Indikator Tahun 2009 2010 2011 2012 2013 1 Angka Partisipasi Sekolah 102,11 % 102,15 % 102,40 % 102,57 % 102,74 % 2 Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah : a. SD/MI b. SMP/MTs 1:139 1:235 1:139 1: 235 1:138 1:237 1:138 1:231 1:138 1:231 3 Rasio Guru Terhadap Murid 1:16 1:15 1:16 1:16 1:16 4 Rasio Guru 1:15 1:15 1:14 1:14 1:14

(42)

Kelas Rata-Rata

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Pada pendidikan dasar ini dapat dilihat bahwa secara umum perkembangan kinerjanya cukup baik karena mengalami peningkatan walaupun tidak terlalu signifikan seperti Angka Partisipasi Sekolah dan Rasio Ketersediaan Sekolah terhadap Penduduk Usia Sekolah yang terus bergerak naik, namun perkembangan Rasio Guru terhadap Murid dan Rasio Guru terhadap Murid per Kelas Rata-Rata pada Tahun 2012 dan Tahun 2013 tetap.

b. Pendidikan Menengah

Tabel 2.24

Perkembangan Layanan Urusan Wajib Bidang Pendidikan Menengah Kabupaten Solok

Tahun 2009-2013 No Indikator Tahun 200 9 201 0 201 1 2012 201 3 1 Rasio Ketersediaan Sekolah Terhadap Penduduk Usia Sekolah

1:52 9 1:47 5 1:47 8 1:460 1:46 0 2 Rasio Guru Terhadap

Murid Per Kelas Rata-rata

1:10 1:11 1:9 1:9 1:9

3 Penduduk Yang Berusia >15 Tahun Melek Huruf (Tidak Buta Aksara)

96,86 97,19 97,21 97,24 97,40

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Berdasarkan data sebagaimana tersebut di atas dilihat bawah perkembangan kinerja layanan urusan wajib bidang pendidikan menengah mengalami peningkatan sebagaimana dilihat dari perkembangan indikator Rasio Ketersediaan Sekolah terhadap Penduduk Usia Sekolah serta Angka Melek Huruf. Sedangkan Rasio Guru terhadap Murid per Kelas Rata-Rata tidak mengalami perubahan dari Tahun 2011.

(43)

c. Fasilitas Pendidikan

Tabel 2.25

Perkembangan Fasilitas Pendidikan Kabupaten Solok Tahun 2009-2013 No Indikator Tahun 2009 2010 2011 201 2 201 3 1 Sekolah Pendidikan SD/MI Kondisi Bangunan Baik 57,83 % 58,37 % 58,97 % 60,24 % 65,35 % 2 Sekolah Pendidikan SMP/MTs dan SMA/SMK/MA Kondisi Bangunan Baik 76,84 % 77,73 % 79,45 % 80,67 % 82,67 %

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Fasilitas pendidikan di Kabupaten Solok dengan kondisi baik terus meningkat baik ditingkat pendidikan dasar maupun pada pendidikan menengah.

d. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kabupaten Solok terus mengalami peningkatan dimana pada Tahun 2013 jumlah lembaga pendidikan PAUD mencapai 188 unit dan jumlah anak didik pada Tahun 2013 mencapai 14.851 orang, angka ini meningkat jika dibandingkan dengan angka pada Tahun 2012 yaitu sebesar 12.217 orang.

e. Angka Putus Sekolah

Tabel 2.26

Perkembangan Angka Putus Sekolah Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator

Tahun

(44)

1 Angka Putus Sekolah (APS) SD/MI 0,45 % 0,42 % 0,38 % 0,27 % 0,21 % 2 Angka Putus Sekolah

(APS) SMP/MTs 1,02 % 1,01 % 0,66 % 0,16 % 0,15 % 3 Angka Putus Sekolah

(APS) SMA/SMK/MA 0,98 % 0,47 % 0,41 % 0,06 % 0,05 %

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Secara umum baik ditingkat Sekolah Dasar atau sederajat, SMP atau sederajat, maupun SMA atau sederajat indikator Angka Putus Sekolah di Kabupaten Solok terus mengalami penurunan. Penurunan yang sangat signifikan adalah pada tingkat SMA / SMK / MA.

f. Angka Kelulusan

Tabel 2.27

Perkembangan Angka Kelulusan Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator

Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1 Angka Kelulusan (AL)

SD/MI 99,98 % 100 % 99,56 % 99,89 % 99,99 %

2 Angka Kelulusan (AL)

SMP/MTs

95,64 % 96,70 % 93,35 % 96,67

%

99,24 %

3 Angka Kelulusan (AL)

SMA/SMK/MA 94,12 % 92,05 % 98,03 %

98,93 %

99,12 %

4 Angka Melanjutkan (AM)

dari SD/MI ke SMP/MTs

98,27 % 98,31 % 98,42 % 100 % 100 %

5 Angka Melanjutkan (AM)

dari SMP/MTs ke SMA/SMK/MA 88,78 % 88,85 % 88,92 % 88,92 % 89,12 %

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Pada tingkat Sekolah Dasar atau Sederajat dan SMP atau sederajat Angka Kelulusan dari Tahun 2009 sampai Tahun 2010 mengalami peningkatan namun pada Tahun 2011 angka tersebut mengalami penurunan, kemudian dari Tahun 2012 sampai dengan Tahun 2013 kembali mengalami kenaikan. Sedangkan ditingkat SMA atau sederajat Angka Kelulusan dari Tahun 2009 sampai Tahun 2010 berfluktuasi namun kemudian pada Tahun 2011 sampai Tahun 2013 meningkat menjadi 99,12%.

Sementara indikator Angka Melanjutkan baik dari Tingkat Sekolah Dasar atau sederajat ke Tingkat SMP atau sederajat maupun dari Tingkat

(45)

SMP atau sederajat ke Tingkat SMA atau sederajat terus mengalami kenaikan dari Tahun 2009 sampai 2013, bahkan angka melanjutkan dari Sekolah Dasar ke Tingkat SMP atau sederajat mencapai 100 %. Angka Melanjutkan dari SMP atau sederajat ke SMA atau sederajat lebih rendah jika dibandingkan dengan Angka Melanjutkan dari Tingkat Sekolah Dasar atau sederajat ke Tingkat SMP atau sederajat. Hal ini tentunya sebagai dampak Program Wajib Belajar 9 Tahun.

g. Kualifikasi Guru S1 Atau D-IV

Tabel 2.28

Perkembangan Guru Yang Memenuhi Kualifikasi S1 Atau D-IV Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator Tahun 2009 2010 2011 201 2 201 3 1 Guru SD/MI Yang

Memiliki Ijazah S1/D4 30,24 % 32,48 % 65,40 % 72,94 % 74,54 % 2 Guru SMP/MTs Yang Memiliki Ijazah S1/D4 69,2 % 69,36 % 83,38 % 87,5 % 89,35 % 3 Guru SMA/MA/SMK

Yang Memiliki Ijazah S1/D4 92,95 % 93,37 % 94,47 % 98,68 % 99,15 %

Sumber : Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga

Berdasarkan data-data tersebut dapat dilihat bahwa guru-guru di Kabupaten Solok sudah mengalami peningkatan kualifikasi bahkan guru Sekolah Dasar atau MI mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu 32,48 % pada Tahun 2010 menjadi 65,40 % pada Tahun 2011 dan 72,94 % pada Tahun 2012, terus meningkat pada Tahun 2013 menjadi sebesar 74,54 persen.

2. Bidang Urusan Kesehatan

Untuk melihat perkembangan kinerja pelayanan umum urusan wajib di bidang kesehatan dapat menggunakan indikator sebagaimana tertuang pada Tabel berikut :

(46)

Perkembangan Indikator Pelayanan Umum Urusan Wajib di Bidang Kesehatan Kabupaten Solok Tahun 2009-2013

No Indikator Tahun

2009 2010 2011 2012 2013

1 Rasio Posyandu Per Satuan Balita

16,28 20,68 20,89 20,72 20,52 2 Rasio Puskesmas, Pustu,

Poskesri Per Satuan Penduduk

1,05 1,08 1,07 1,06 1,05

3 Rasio Rumah Sakit Per Satuan Penduduk 0,003 0,0028 68 0,0028 35 0,0028 116 0,0027 90 4 Rasio Dokter Per Satuan

Penduduk

0,15 0,1836 0,1701 0,1718 0,1702 5 Rasio Tenaga Medis Per

Satuan Penduduk

0,67 1,3512 1,4006 1,2870 1,2835 6 Cakupan Jorong UCI (%) 27,8 57,49 60,20 70,00 80,00 7 Cakupan Balita Gizi

Buruk Mendapat Perawatan (%)

100 100 100 100 100

8 Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Kompetensi Kebidanan (%)

62,17 66,94 83,45 73,51 84,39

9 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC BTA (%)

35,61 33,09 33,51 40,36 47,04

10 Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD (%) 100 100 100 100 100 11 Cakupan Puskesmas (%) 128,57 128,57 128,57 128,57 128,57 12 Cakupan Puskesmas Pembantu (%) 116,22 116,22 116,22 116,22 116,22

Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Solok

Dari segi jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang ditunjukkan oleh indikator Rasio Puskesmas, Pustu, Poskesri Per Satuan Penduduk, Rasio Rumah Sakit Persatuan Penduduk, Cakupan Puskesmas, Cakupan Puskesmas Pembantu dapat dilihat bahwa perkembangan kinerjanya mengalami perubahan yang sangat sedikit, hal ini karena tidak adanya penambahan pembangunan fasilitas pelayanan kesehatan, sementara jumlah penduduk terus mengalami kenaikan. Fasilitas pelayanan kesehatan yang ada semakin ditingkatkan melalui Program Pengembangan Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Bahkan khusus untuk RSUD Arosuka telah mengalami peningkatan status dari Type D ke Type C.

(47)

Dari sisi jumlah tenaga kesehatan yang tersedia sebagaimana yang ditunjukkan oleh indikator Rasio Dokter Per Satuan Penduduk, Rasio Tenaga Medis Per Satuan Penduduk, perkembangan kinerjanya mengalami perubahan namun tidak terlalu signifikan.

Selanjutnya pada bidang pelayanan kesehatan dasar khususnya pelayanan kesehatan anak dan ibu melalui indikator Rasio Posyandu Per Satuan Balita, Cakupan Jorong UCI dan Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan serta indikator Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan dapat dilihat bahwa perkembangannya cukup bagus terutama pelayanan terhadap Balita Gizi Buruk dimana dari 14 orang Balita Gizi Buruk yang ditemui pada Tahun 2013 semuanya langsung mendapat perawatan.

Kemudian indikator lain pada bidang pelayanan kesehatan dasar yaitu Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC dan DBD juga terus mengalami peningkatan bahkan untuk penyakit DBD mencapai angka 100.

3. Bidang Urusan Pekerjaan Umum c. Jalan

Proporsi Panjang Jaringan Jalan dalam Kondisi Baik.

Jalan sebagai bagian prasarana transportasi mempunyai peranan penting dalam ekonomi, budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan. Jalan sebagai prasarana distribusi barang dan jasa merupakan urat nadi kehidupan Masyarakat, Bangsa dan Negara. Transportasi di Kabupaten Solok sangat sibuk karena Kabupaten Solok dilalui oleh jalur lintas Sumatera baik menuju ke Padang maupun ke Bukittinggi. Disamping itu Kabupaten Solok memiliki perbatasan dengan Kabupaten Tanah Datar, Kota Solok dan Kabupaten Solok Selatan.

Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004, tentang jalan maka jalan dikelompokkan menurut fungsi, status dan kelas.

Referensi

Dokumen terkait

Sistem penghantaran kuasa elektrik kepada pengguna boleh dilakukan dalam dua sistem iaitu sistem AU atau sistem AT. Terangkan kebaikan dan keburukan kedua-dua sistem ini dalam

Berakhirnya Memorandum Saling Pengertian tidak akan mempengaruhi keabsahan dan jangka waktu setiap kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan Memorandum Saling Pengertian

Anggun Cipta Sasmi mempunyai pengalaman yang memadai berkaitan dengan shampo pantene pro-v sehingga layak menjadi model iklan shampo pantene pro-v.. 1 2 3 4

Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial, juga karena pada diri manusia ada dorongan dan kebutuhan untuk berhubungan (interaksi) dengan orang lain, manusia juga

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa program pendidikan bahasa arab semester 7 (tujuh) UPI mampu mengetahui, memahami hadits-hadits nabi tentang tujuan pendidikan3.

Pengendalian Internal terhadap Aset Tetap pada PT Jasa Raharja (Persero) Cabang Sulawesi Utara saat ini sudah cukup baik, namun akan berjalan dengan efektif dan

Dardjowidjojo (1986) menelaah II Benang Pengikat Wacana ll. Dia menca- tat beberapa benang pengikat yang dapat memadukan informasi antarka- limat dalam wacana. Dalam tulisannya,

Dari penelitian terdahulu yang menemukan bahwa terdapat beberapa variabel – variabel yang mampu mempengaruhi terhadap purchase intention, seperti pada penelitian