• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

9 I. Teori Grand

Teori yang mendasari wajib pajak patuh dalam penelitian ini adalah :

a. Teori Tindakan Beralasan (Theory of Reasoned Action (Fishbein dan Ajzen, 1975))

Teori mengemukakan bahwa niat seseorang dipengaruhi oleh dua penentu utama yaitu (Anisa, 2012) :

1. Sikap

Merupakan gabungan dari beberapa evaluasi atau penilaian positif maupun negatif dari faktor-faktor perilaku dan kepercayaan tentang akibat dari perilaku.

2. Norma Subyektif

Merupakan gabungan dari beberapa persepsi tentang tekanan/ aturan dan norma social yang membentuk suatu perilaku.

Tujuan dari perilaku, merupakan kekuatan seseorang untuk melakukan tindakan yang ditentukan. Relevansinya dengan penelitian ini adalah bahwa seseorang dalam menentukan patuh atau tidak patuh dalam melakukan kewajiban perpajakannya dipengaruhi rasionalitas dalam mempertimbangkan manfaat dari pajak

(2)

dan juga pengaruh lingkungan yang berhubungan dalam pembentukan norma subyektif yang ikut mempengaruhi keputusan berperilaku.

b. Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory)

Teori pembelajaran sosial mengatakan seseorang dapat belajar lewat pengamatan dan pengalaman langsung (A. Badura, 1977 dalam Robbins, 1996). Teori ini merupakan perluasan dari teori pengkondisian operan B.F.Skinner (1971) yaitu teori yang mengandaikan perilaku sebagai suatu fungsi dari konsekuensi – konsekuensinya.

Terdapat empat proses dalam pembelajaran sosial yaitu: (1) proses perhatian (attentional), adalah proses dimana seseorang hanya akan belajar dari orang lain/ model jika mereka telah mengenal dan menaruh perhatian pada orang /model tersebut. (2) proses penahanan (retention), adalah proses mengingat tindakan suatu model setelah model tidak lagi mudah tersedia. (3) proses reproduksi motor, adalah proses mengubah pengamatan menjadi perbuatan dan (4) proses penguatan (reinforcement), proses dimana individu – individu disediakan rangsangan positif atau ganjaran supaya berperilaku sesuai dengan model.

Teori pembelajaran sosial ini sangat relevan untuk menjelaskan perilaku wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya membayar pajak. Seseorang akan taat membayar pajak tepat pada waktunya, jika lewat pengamatan dan pengalaman langsungnya, hasil pungutan pajak itu telah memberikan kontribusi nyata pada pembangunan di wilayahnya.

(3)

II. Gambaran Umum Mengenai Perpajakan

A. Definisi Pajak

Menurut Susunan Dalam Satu Naskah UU No. 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan STDD UU No. 28 Tahun 2007 pasal 1 ayat 1 (2008:9), pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Menurut Mardiasmo (2009:1) pajak memiliki unsur-unsur :

1. Iuran dari rakyat kepada Negara.

Yang berhak memungut pajak hanyalah Negara.Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).

2. Berdasarkan undang-undang.

Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari Negara yang secara langsung dapat ditunjuk.Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pengeluaran-pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

(4)

1. Fungsi Pajak

Menurut Mardiasmo (2009:1-2), ada dua fungsi pajak,yaitu :

1. Fungsi budgetair

Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran-pengeluarannya.

2. Fungsi mengatur (regulerend)

Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang social dan ekonomi.

2. Asas Pemungutan Pajak

Menurut Mardiasmo (2009:7) ada 3 asas dalam pemungutan pajak :

1. Asas domisili (asas tempat tinggal)

Negara berhak mengenakan pajak atas seluruh penghasilan Wajib Pajak yang bertempat tinggal di wilayahnya, baik penghasilan yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Asas ini berlaku untuk Wajib Pajak dalam negeri.

2. Asas sumber

Negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber di wilayahnya tanpa memperhatikan tempat tinggal Wajib Pajak.

3. Asas kebangsaan

(5)

3. Wajib Pajak

a. Pengertian Wajib Pajak

Berdasarkan Pasal 1 ayat 2 no.28 Tahun 2008 dalam UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, Pengertian Wajib Pajak adalah sebagai berikut :

“Wajib Pajak adalah orang atau badan yang menurut ketentuan peraturan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk pemungut pajak atau pemotong pajak tertentu yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan.

b. Kewajiban dan hak Wajib Pajak

Menurut Mardiasmo (2009:54) Wajib Pajak berkewajiban untuk :

1. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP.

2. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP. 3. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar.

4. Mengisi dengan benar SPT (SPT diambil sendiri), dan memasukkan ke Kantor Pelayanan Pajak dalam waktu yang telah ditentukan.

5. Menyelenggarakan pembukuan/pencatatan. 6. Jika diperiksa wajib :

a. Memperlihatkan dan atau meeminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas Wajib Pajak, atau obyek yang terutang pajak.

(6)

b. Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dipandang perlu dan memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan. 7. Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen

serta keterangan yang diminta. Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh permintaan untuk keperluan pemeriksaan.

Adapun, hak-hak Wajib Pajak menurut Mardiasmo (2009:54-55)

1. Mengajukan surat keberatan dan surat banding. 2. Menerima tanda bukti pemasukan SPT.

3. Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan. 4. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT.

5. Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak. 6. Mengajukan permohonan perhitungan pajak yang dikenakan dalam surat

ketetapan pajak.

7. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

8. Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi, serta pembetulan surat ketetapan pajak yang salah.

9. Meminta bukti pemotongan atau pemungutan pajak.

10. Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya. 11. Mengajukan keberatan dan banding.

(7)

4. Sistem Pemungutan Pajak

a. Official Assessment System adalah suatu system pemungutan yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiskus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh Wajib Pajak.

Ciri-cirinya :

1. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus. 2. Wajib Pajak bersifat pasif.

3. Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.

b. Self Assesstment System adalah suatu system pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada Wajib Pajak untuk menentukan sendiri besarnya pajak yang terutang.

Ciri-cirinya :

1. Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada Wajib Pajak sendiri ,

2. Wajib Pajak aktif, mulai dari menhitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak yang terutang.

(8)

c. With Holding System adalah suatu system pemungutan pajak yang memberi wewnang kepada pihak ketiga (bukan fiskus dan Wajib Pajak yang bersangkutan) untuk menen tukan besarnya pajak yang bersangkutan.

Ciri-cirinya : wewenang menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga, pihak sellain fiskus dan Wajib Pajak.

5. Hambatan Pemungutan Pajak

Menurut Mardiasmo (2009:8), hambatan terhadap pemungutan pajak dapat dikelompokkan menjadi :

1. Perlawanan pasif

Masyarakat enggan (pasif) membayar pajak, yang dapat disebabkan antara lain :

a. Perkembangan intelektual dan moral masyarakat.

b. System perpajakan yang (mungkin) sulit dipahami masyarakat.

c. System control yang tidak dapat dilakukan atau dilaksanakan dengan baik. 2. Perlawanan aktif

Perlawanan aktif meliputi semua usaha dan perbuatan yang secara langsung ditujukan kepada fiskus dengan tujuan untuk menghindari pajak.

Bentuknya anatara lain:

a. Tax avoidance ; usaha meringankan beban pajak dengan tidak melanggar undang-undang.

(9)

b. Tax evasion ; usaha meringankan beban pajak dengan cara melanggar undang-undang (menggelapkan pajak).

B. Pengetahuan dan Pemahaman Peraturan Pajak

Pengetahuan adalah informasi yang telah dikombinasikan dengan pemahaman dan potensi untuk menindaki; yang lantas melekat di benak seseorang. Pada umumnya, pengetahuan memiliki kemampuan prediktif terhadap sesuatu sebagai hasil pengenalan atas suatu pola. Manakala informasi dan data sekedar berkemampuan untuk menginformasikan atau bahkan menimbulkan kebingungan, maka pengetahuan berkemampuan untuk mengarahkan tindakan. Ini lah yang disebut potensi untuk menindaki (www.wikipedia.com).

Pengetahuan akan peraturan dan ketentuan perpajakan oleh wajib pajak diharapkan membantu meningkatkan kepatuhan pajak. Menurut Yuli, dkk (2012) Informasi yang dimiliki oleh wajib pajak akan mempengaruhi mereka terhadap kepatuhan wajib pajak. Semakin banyak informasi yang mereka ketahui maka akan membantu mereka untuk bias memberikan tanggapan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Yuli, dkk (2012) diperoleh hasil bahwa pengetahuan perpajakan berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak.

(10)

C. Pelayanan Fiskus

Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasan pelanggan. Pelayanan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain. Sedangkan melayani adalah membantu menyiapkan (mengurus) apa yang diperlukan seseorang (www.wikipedia.com).

Pengertian fiskus adalah pegawai pemerintah yang diberi kewenangan untuk melaksanakan tugas pemungutan pajak dan dikenal sebagai pejabat pajak. Jadi, pelayanan fiskus dapat diartikan sebagai cara petugas pajak dalam membantu, mengurus, atau menyiapkan segala keperluan yang dibutuhkan seseorang yang dalam hal ini adalah wajib pajak (Jatmiko, 2006 dalam Arum, 2012).

Peran serta fiskus dengan melakukan pelayanan terbaik amat sangatlah diperlukan untuk menarik para wajib pajak. Menurut Ilyas dan Burton (2010) yang dikiutip oleh Arum (2012), menjelaskan bahwa sikap atau pelayanan fiskus yang baiklah yang harus diberikan kepada seluruh wajib pajak, karena dalam membayar pajak seseorang tidak mempunyai kontraprestasi yang langsung.

Berikut ini terdapat kewajiban dan hak seorang fiskus, yang diharapkan dapat menjadi standar dalam rangka memberikan pelayanan terbaik kepada para wajib pajak.

Kewajiban fiskus yang diatur dalam UU Perpajakan adalah:

1. Kewajiban untuk membina wajib pajak

(11)

3. Kewajiban merahasiakan data wajib pajak

4. Kewajiban melaksanakan Putusan

Sementara itu, terdapat pula hak-hak fiskus yang diatur dalam UU Perpajakan, antara lain:

1. Hak menerbitkan NPWP atau NPPKP secara jabatan 2. Hak menerbitkan surat ketetapan pajak

3. Hak menerbitkan Surat Paksa dan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan 4. Hak melakukan pemeriksaan dan penyegelan

5. Hak menghapuskan atau mengurangi sanksi administrasi 6. Hak melakukan penyidikan

7. Hak melakukan pencegahan 8. Hak melakukan penyanderaan

Fiskus diharapkan memiliki kompetensi dalam arti memiliki keahlian, pengetahuan, dan pengalaman dalam hal kebijakan perpajakan, administrasi pajak dan perundang-undangan perpajakan. Selain itu fiskus juga harus memiliki motivasi yang tinggi sebagai pelayan publik.

(12)

D. Sanksi Perpajakan

Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan (Mardiasmo,2006:39).

Undang-undang dan peraturan secara garis besar berisikan hak dan kewajiban, tindakan yang diperkenankan dan tidak diperkenankan oleh masyarakat. Agar undang-undang dan peraturan tersebut dipatuhi, maka harus ada sanksi bagi pelanggarnya, demikian halnya untuk hukum pajak (Suyatmin, 2004 dalam Anisa dan Zulaikha, 2011). WP akan mematuhi pembayaran pajak bila memandang sanksi denda akan lebih banyakmerugikannya. Semakin banyak sisa tunggakan pajak yang harus dibayar WP, maka akan semakin berat bagi WP untuk melunasinya.

Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan (Mardiasmo,2006 dalam Ni dan Putu 2010).

Dalam UU Perpajakn dikenal dua macam sanksi perpajakan, yaitu sanksi administrasi dan sanksi pidana.Perbedaan sanksi administrasi dan sanksi pidana menurut Mardiasmo (2009:57) adalah :

(13)

a. Sanksi administrasi merupakan pembayaran kerugian kepada Negara, khususnya yang berupa bunga dan kenaikan. Sanksi denda dapat dikatakan sebagai hukuman negatif kepada orang yang melanggar peraturan dengan cara membayar uang.

b. Sanksi pidana merupakan siksaan atau penderitaan.Merupakan suatu alat terakhir atau benteng hukum yang digunakan fiskus agar norma perpajakan dipatuhi.

Menurut ketentuan dalam UU Perpajakn ada 3 macam sanksi pidana, yaitu :

a. Denda pidana

Berbeda dengan sanksi berupa denda administrasi yang hanya diancam/dikenakan kepada Wajib Pajak yang melanggar ketentuan peraturan perpajakan,sanksi berupa denda pidana selain dikenakan kepada Wajib Pajak ada juga yang diancamkan kepada pejabat atau kepada pihak ketiga yang melanggar norma.

b. Pidana kurungan

Hanya diancamkan kepada tindak pidana yang bersifat pelanggaran.Karena pidana kurungan diancamkan dengan denda pidana, maka masalahnya hanya ketentuan mengenai denda pidana sekian itu diganti dengan pidana kurungan selama-lamanya sekian.

(14)

c. Pidana penjara

Pidana penjara seperti halnya pidana kurungan, merupakan hukuman perampasan kemerdekaan.Pidana penjara diancamkan terhadap kejahatan.Ancaman pidana penjara tidak ada yang ditujukan pada ihak ketiga,adanya kepada pejabat dan kepada Wajib Pajak.

Tabel 2.1 Sanksi Administrasi a. Bunga 2% per bulan

No. Masalah Cara

mebayar/menagih 1 Pembetulan sendiri SPT

(SPT Tahunan atau SPT Masa) tetapi belum diperiksa

SSP/STP

2 Dari penelitian rutin :

PPh pasal 25 tidak/kurang dibayar.

PPh pasal 21, 22,23 dan 26 serta PPn yang terlambat dibayar.

SKPKB, STP, SKPKBT tidak/kurang dibayar atau terlambat dibayar.

SPT salah tulis/ salah hitung.

SSP/STP SSP/STP SSP/STP SSP/STP 3 Dilakukan pemeriksaan pajak kurang dibayar

(maksimum 24 bulan).

SSP/SPKB 4 Pajak diangsur/ditunda; SKPKB, SKKPP,

STP.

SSP/STP 5 SPT tahunan PPh ditunda, pajak kurang

dibayar

SSP/STP Sumber : Ensiklopedia Perpajakan Indonesia (2010)

(15)

b. Denda Administrasi

Sumber : Ensiklopedia Perpajakan Indonesia (2010) c. Kenaikan 50% dan 100%

No. Masalah Cara Menagih

1 Dikeluarkan SKPKB dengan perhitungan secara jabatan :

a. Tidak memasukkan SPT : 1. SPT tahunan (PPh 29)

2. SPT tahunan (PPh 21, 23, 26 dan PPN)

b. Tidak menyelenggarakan pembukuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 KUP.

c. Tidak memperlihatkan buku/dokumen, tidak memberi keterangan, tidak memberi bantuan guna kelancaran pemeriksaan, sebagaimana dimaksud pasal 29 SKPKB ditambah kenaikan 50% SKPKB ditambah kenaikan 100% SKPKB 50% PPh pasal 29 100% PPh pasal 21, 23, 26 dan PPN. SKPKB 50% PPh pasal 29 100% PPh pasal 21, 23,26 dan PPN.

2 Dikeluarkan SKPKBT karena: ditemukan data SKPKBT 100%

No. Masalah Cara membayar/menagih

1 Tidak/terlambat memasukkan/menyampaikan SPT STP ditambah Rp 100.000,- atau Rp 500.000,- atau Rp 1.000.000

2 Pembetulan sendiri, SPT tahunan atau SPT masa tetapi belum disidik.

SSP ditambah 150% 3 Khusus PPN :

a. Tidak melaporkan usaha b. Tidak membuat/mengisi faktur c. Melanggar larangan membuat faktur

SSP/SPKPB (ditambah 2% denda dari dasar

pengenaan) 4 Khusus PBB :

a. SPT, SKPKB tidak/kurang dibayar atau terlambat dibayar.

b. Dilakukan pemeriksaan, pajak kurang dibayar.

STP+denda 2% (maksimum 24 bulan) SKPKB+denda

administrasi dari selisih pajak yang terutang.

(16)

baru, data semula yang belum terungkap setelah dikeluarkan SKPKB.

3 Khusus PPN:

Dikeluarkan SKPKB karena pemeriksaan, dimana PKP tidak seharusnya

mengkompensasi selisih lebih, menghitung tarif 0% diberi restitusi pajak.

SKPKB 100%

Sumber : Ensiklopedia Perpajakan Indonesia (2010)

Wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya bila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya (Nugroho, 2006 dalam Ni dan Putu 2010).Pandangan tentang sanksi perpajakan tersebut diukur dengan indikator (Yadnyana, 2009 dalam Ni dan Putu 2010) sebagai berikut:

1. Sanksi pidana yang dikenakan bagi pelanggar aturan pajak cukup berat.

2. Sanksi administrasi yang dikenakan bagi pelanggar aturan pajak sangat ringan.

3. Pengenaan sanksi yang cukup berat merupakan salah satu sarana untuk mendidik wajib pajak.

4. Sanksi pajak harus dikenakan kepada pelanggarnya tanpa toleransi.

5. Pengenaan sanksi atas pelanggaran pajak dapat dinegosiasikan.

Selama ini ada anggapan umum dalam masyarakat bahwa akan dikenakan sanksi perpajakan hanya bila tidak membayar pajak. Padahal, dalam kenyataannya banyak hal yang membuat masyarakat atau wajib pajak terkena sanksi perpajakan, baik itu berupa sanksi administrasi (bunga, denda, dan kenaikan) maupun sanksi pidana.

(17)

Menurut Ilyas dan Burton (2010) yang dikutip oleh Arum (2012) terdapat empat hal yang diharapkan atau dituntut dari para wajib pajak, yaitu:

1. Dituntut kepatuhan (compliance) wajib pajak dalam membayar pajak yang dilaksanakan dengan kesadaran penuh

2. Dituntut tanggung jawab (responsibility) wajib pajak dalam menyampaikan atau memasukan Surat Pemberitahuan tepat waktu sesuai Pasal 3 Undang-undang Nomor 6/1983.

3. Dituntut kejujuran (honesty) wajib pajak dalam mengisi Surat Pemberitahuan sesuai dengan keadaan sebenarnya

4. Memberikan sanksi (law enforcement) yang lebih berat kepada wajib pajak yang tidak taat pada ketentuan yang berlaku.

Dari keempat hal di atas, paling efektif menurut Ilyas dan Burton (2010) adalah dengan menerapkan sanksi (law enforcement) tanpa pandang bulu dan dilaksanakan secara konsekuen.

Wajib pajak akan memenuhi pembayaran pajak bila memandang sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya (Jatmiko, 2006 dalam Arum,2012). Semakin tinggi atau beratnya sanksi, maka akan semakin merugikan wajib pajak. Oleh sebab itu, adanya sanksi perpajakan yang tegas diduga akan berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak.

(18)

E. Kepatuhan Wajib Pajak

1. Pengertian Kepatuhan Pajak

Menurut Safri yang dikutip oleh Sony dan Siti (2006:110), mengemukakan bahwa: “Kepatuhan Wajib Pajak yaitu kepatuhan perpajakan yang didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana Wajb Pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya”.

Sedangkan,menurut Norman D. Noak yang dikutip oleh Sony dan Siti (2006:110), mengemukakan bahwa:

1. Wajib Pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2. Mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas. 3. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar. 4. Membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.

Menurut Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 235/KMK.03/2003 bahwa kriteria kepatuhan wajib pajak adalah :

a. Tepat waktu dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan dalam 2 (dua) tahun terakhir ;

b. Dalam tahun terakhir penyampaian SPT Masa yang terlambat tidak lebih dari 3 (tiga) masa pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut ;

(19)

c. SPT Masa yang terlambat sebagaimana yang dimaksud dalam huruf b telah disampaikan tidak lewat dari batas waktu penyampaian SPT Masa masa pajak berikutnya ;

d. Tidak mempunyai tunggakan pajak yang semua jenis pajak ;

1. kecuali telah memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.

2. tidak termasuk tunggakan pajak sehubungan dengan STP yang diterbitkan untuk dua masa pajak terakhir.

e. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan dalam jangka waktu sepuluh tahun terakhir.

f. Dalam hal laporan keuangan diaudit oleh Akuntan Publik atau Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan harus dengan pendapat wajar tanpa pengecualian atau dengan pendapat wajar dengan pengecualian sepanjang pengecualian tersebut tidak mempengaruhi laporan laba rugi fiscal.

Dari ketiga pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan merupakan kesadaran yang timbul dalam diri Wajib Pajak untuk memenuhi kewajiban perpajakannya dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan sesuai Undang-Undang Perpajakan yang berlaku.

(20)

2. Macam-macam Kepatuhan Pajak

Dalam Practice Note tentang Compliance Measurement (2001) yang dikutip oleh Evi (2011), kepatuhan dibagi mejadi dua macam, yaitu

a. Kepatuhan Adminstratif

Yaitu kepatuhan yang mencakup kepatuhan procedural dan kepatuhan pelaporan.

b. Kepatuhan Teknis

Yaitu kepatuhan yang mecakup kepatuhan wajib Pajak dalam menghitung jumlah pajak yang akan dibayar.

3. Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Wajib Pajak

Wahyu (2008) dalam penelitiannya mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan Wajib Pajak adalah sebagai berikut :

a. Ekonomi

Yang penghasilan sebelum pajak, tarif pajak, besarnya peluang untuk diperiksa dan besarnya penalty.

b. Demografi

Meliputi usia, keluarga dan tempat tinggal. c. Pengetahuan dan pemahaman Wajib Pajak

Pengetahuan dan pemahaman Wajib Pajak terhadap peraturan perpajakan serta sanksi-sanksi atas pelanggaran terhadap peraturan perpajakan.

(21)

d. Personal dan Situasional Wajib Pajak

Personal meliputi moral, orientasi nilai, dan preferensi terhadap resiko.Sedangkan faktor situasional meliputi ada atau tidaknya pemeriksaan pajak, ketidaksamaan beban pajak, bagaimana perilaku kelompok referensi dalam pelaporan pajak, dan faktor tersedianya barang publik.

F. Penelitian Terdahulu

Tabel 2.2

Penelitaian Terdahulu

No. Judul Peneliti Variabel Kesimpulan

1. Pengaruh Faktor-Faktor Eksternal Terhadap Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak di Lingkungan Kantor Pelayanan Pajak Pratama Serang.

Sri Rizki, Andi, Ayu (2012) Variabel independent: 1. Kesadaran membayar pajak 2. Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan pajak 3. Persepsi atas efektifitas system perpajakan 4. Kualitas pelayanan Variabel dependent : Kepatuhan membayar pajak Variabel Kesadaran membayar pajak, Pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan pajak, Persepsi atas efektifitas system perpajakan, dan Kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak.

(22)

2. Pengaruh Pelayanan Fiskus dan Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (studi empiris terhadap wajib pajak di Semarang Tengah) Yuli, Saryadi dan Sari (2012) Variabel Independent : 1. Pelayanan fiskus 2. Pengetahuan perpajakan Variabel Dependent : Kepatuhan Wajib Pajak

Secara signifikan pelayanan fiskus dan pengetahuan perpajakan berpengaruh positif terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak 3. Pengaruh Persepsi Pelayanan Aparat Pajak, Persepsi Pengetahuan Wajib Pajak dan Persepsi Pengetahuan Korupsi Terhadap Kepatuhan (kajian empiris pada WPOP yang memiliki usaha di kota Probolinggo, kecamatan Mayangan) Jessica Novia Susanto (2013) Variabel Independent : 1. Persepsi Pelayaan Aparat Pajak 2. Persepsi Pengetahuan Wajib Pajak 3. Persepsi Pengetahuan Korupsi Variabel Dependent : Kepatuhan Secara parsial ketiga variabel independent tersebut tidak berpengaruh terhadap variabel dependent. Namun secara simultan, ketiga variabel tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap kepatuhan. 4. Pengaruh Persepsi Tentang Sanksi Perpajakan dan Kesadaran Wajib Pajak pada Kepatuhan Ni Ketut dan Putu (2010) Variabel Independent : 1. Persepsi tentang sanksi perpajakan 2. Kesadaran wajib pajak Variabel Dependent : Secara signifikanPers epsi tentang sanksi perpajakan dan Kesadaran wajib pajak

(23)

Pelaporan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Denpasar Timur Kepatuhan Pelaporan Wajib Pajak Berpengaruh positif terhadap kepatuhan pelaporan wajib pajak. 5. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keamauan Untuk Membayar Pajak Dengan Kesadaran Membayar Pajak Sebagai Variabel Intervening (Studi Kasus Wajib Pajak yang Melakukan Pekerjaan Bebas Yang Terdaftar di KPP Pratama Semarang Tengah Satu Rahman dan Zulaikha (2012) Variabel Independent: 1. Pengetahuan dan Pemahaman tentang peraturan Perpajakan 2. Pelayanan Fiskus 3. Persepsi atas Efektivitas Sistem Perpajakan 4. Kesadaran Mmbayar Pajak Variabel Dependent : Kemauan Membayar Pajak Secara Signifikan Pengetahuan dan Pemahaman tentang peraturan Perpajakan, Pelayanan Fiskus, Persepsi atas Efektivitas Sistem Perpajakan, Kesadaran Membayar Pajak berpengaruh positif terhadap kemauan membayar pajak. 6. Sosialisasi perpajakan, pelayanan fiskus dan sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang Oktaviane Lidya Winerungan (2013) Variabel Independent : 1. Sosialisasi Perpajakan 2. Pelayanan Fiskus 3. Sanksi Perpajakan Variabel Dependent : Hasil penelitian menyatakan bahwa hubungan di antara Kepatuhan Wajib Pajak

(24)

pribadi di KPP Manado dan KPP Bitung.

Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Orang Pribadi dengan Sosialisasi Perpajakan, Pelayanan Fiskus dan Sanksi Perpajakan tidak memiliki pengaruh . G. Kerangka Pemikiran

Dalam penelitian ini akan berusaha dijelaskan mengenai pengetahuan dan pemahaman peraturan pajak, pelayanan fiskus, dan sanksi pajak terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi. Pengetahuan dan pemahaman peraturan pajak, pelayanan fiskus, dan sanksi pajak diduga akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini disajikan pada Gambar 2.1.

Gambar 2.1.

Kerangka Pemikiran Teoritis Pengetahuan dan Pemahaman

Peraturan Pajak (X1) Pelayanan Fiskus (X2)

Sanksi Pajak (X3)

Gambar

Tabel 2.1  Sanksi Administrasi  a.  Bunga 2% per bulan

Referensi

Dokumen terkait

Variabel yang diperkirakan mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak badan di Kabupaten Sukoharjo adalah kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman

Penelitian tenta ng “ pengaruh peraturan perpajakan, sosialisasi perpajakan, kesadaran dan persepsi wajib pajak terhadap ketaatan membayar.. pajak “ membutuhkan kajian

yang berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak dalam membayar Pajak. Bumi dan Bangunan yaitu sikap,kesadaran dan

Model Penelitian ini menggunakan gambar yang menunjukkan variabel independennya adalah kualitas pelayanan fiskus, sanksi perpajakan, kesadaran membayar pajak, dan

Dharma (2014) dalam skripsi yang berjudul Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak, Sosialisasi Perpajakan, dan Kualitas Pelayanan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam Membayar

“Pengaruh Pengetahuan Pajak, Kesadaran Wajib Pajak, Sanksi Pajak, Kualitas Pelayanan, Dan Tingkat Penghasilan Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dalam Membayar Pajak Kendaraan

Penelitian ini meneliti mengenai pengaruh kualitas pelayanan dan pemahaman peraturan perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak wirausahawan dalam membayar pajak penghasilan

Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa masing-masing variabel yaitu kepatuhan membayar pajak, kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman akan peraturan perpajakan,