ρ mempunyai koefisien sebesar 0,789 dan nilai F sebesar 33,290. Pada

Teks penuh

(1)

g. Jalur ρ mempunyai koefisien sebesar 0,789 dan nilai F sebesar 33,290. Pada eY2

taraf signifikansi 5% dengan db = 3 lawan 165, F tabel adalah 2,66 sehingga p<0,001. Jadi jalur ini signifikan karena p<0,05.

Berdasarkan gambar 4.5 (halaman 123) dan karena analisis jalur menggunakan koefisien korelasi sederhana, keempat variabel penelitian ini diasumsikan berbentuk skor standar (z skor) sehingga ada empat rumus analisis jalur yang mencerminkan model struktural penelitian ini.

1 1 eX x = 2 2 eX x = 1 2 1 1 1 1 2 1 YX x YX x eY y = ρ +ρ + 2 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 YX x YX x YY y eY y =ρ +ρ +ρ +

(Dillon dan Goldstein, 1984:439) Hubungan koefisien jalur dengan koefisien korelasi sederhana (decomposing

correlations) ditunjukkan oleh rumus-rumus di bawah ini.

2 1 2 1 1 1 1 1Y YX YX XX X r r =ρ +ρ T = D + U 2 1 1 1 2 1 1 2Y YX YX X X X r r = ρ +ρ T = D + U 2 1 2 1 1 2 2 1 2 2 1 1 1 2 1 2 2 1Y YX YY YX YX XX YY YX XX X r r r = ρ +ρ ρ +ρ +ρ ρ T = D + I + U 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2Y YX YY YX YX XX YY YX X X X r r r =ρ +ρ ρ +ρ +ρ ρ T = D + I + U 2 1 1 1 2 2 2 1 2 2 2 1 2 1 1 2 1 1 1 2 1 2 2 1Y YY YX YX YX YX XX YX YX YX YX XX Y r r r = ρ +ρ ρ +ρ ρ +ρ ρ +ρ ρ T = D + S

(2)

Keterangan:

r = koefisien korelasi ρ = koefisien jalur T = efek gabungan D = efek langsung I = efek tidak langsung U = efek unanalyzed S = efek spurious

Hasil perhitungan dengan program EXCEL for Windows menunjukkan efek langsung yang lebih tinggi daripada efek tidak langsung hanya terjadi pada hubungan pengetahuan awal dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Efek tidak langsung dan spurious bervariasi pada kelima hubungan. Secara lebih lengkap, tabel 4.9 (halaman 126) mensdeskripsikan koefisien efek gabungan, efek langsung, efek tidak langsung, efek spurious, dan efek unanalyzed.

Tabel 4.9 Efek Gabungan, Efek Langsung, Efek Tidak Langsung, Efek

Unanalyzed, dan Efek Spurious

Korelasi Gabungan Efek Langsung Efek Efek Tidak Langsung unanalyzed efek Efek Spurious

1 1Y X r 1 2Y X r 2 1Y X r 2 2Y X r 2 1Y Y r 0,448 0,236 0,373 0,165 0,602 0,441 0,223 0,133 0,035 0,534 - - 0,236 0,119 - 0,007 0,013 0,005 0,011 - - - - - 0,068

Pengetesan spesifikasi model analisis jalur dilakukan dengan memperhitungkan koefisien jalur yang signifikan yakni ρY1X1, ρY1X2, ρ , Y2Y1 ρ , dan eY1

2 Y

e

(3)

Dengan demikian diperoleh model akhir sebagai hasil revisi seperti tampak pada gambar 4.6 (halaman 127). X1 0,441 Y1 0,534 Y2 0,223 X2 0,866 0,789

Gambar 4.6 Model Struktural Akhir Konstelasi Variabel-variabel Penelitian

(Sumber: Hasil pemahaman Sendiri)

Berdasarkan model struktural tersebut, dapat dijelaskan hasil pengujian hipotesis sebagai berikut.

1. H0 ditolak sedangkan Ha diterima sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang pertama adalah terdapat hubungan langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan pengetahuan awal.

2. H0 diterima sedangkan Ha ditolak sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang kedua adalah tidak terdapat hubungan langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi.

(4)

3. H0 ditolak sedangkan Ha diterima sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang ketiga adalah terdapat hubungan langsung positif yang signifikan strategi-strategi metakognitif dengan pengetahuan awal.

4. H0 diterima sedangkan Ha ditolak sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang keempat adalah tidak terdapat hubungan langsung positif yang signifikan strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi.

5. H0 ditolak sedangkan Ha diterima sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang kelima adalah terdapat hubungan langsung positif yang signifikan pengetahuan awal dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi.

6. H0 ditolak sedangkan Ha diterima sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang keenam adalah terdapat hubungan tidak langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi melalui pengetahuan awal.

7. H0 ditolak sedangkan Ha diterima sehingga jawaban untuk masalah penelitian

yang ketujuh adalah terdapat hubungan tidak langsung positif yang signifikan strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi melalui pengetahuan awal.

Khusus untuk variabel residual yaitu variabel-variabel lain yang berhubungan dengan variabel dependen yang tidak termasuk dalam konstelasi variabel-variabel penelitian ini, dapat dijelaskan sebagai berikut.

(5)

1. Variabel residual untuk Y1 (e ) memiliki hubungan langsung yang signifikan Y1

dengan pengetahuan awal. Ini berarti pengetahuan awal siswa dipengaruhi oleh variabel lain, selain kecerdasan dan strategi-strategi metakognitif.

2. Variabel residual untuk Y2 (e ) memiliki hubungan langsung yang signifikan Y2

dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Ini berarti hasil belajar mata pelajaran ekonomi siswa dipengaruhi oleh variabel lain, selain kecerdasan, strategi-strategi metakognitif, dan pengetahuan awal.

Dengan demikian bentuk persamaan dari model struktural akhir penelitian ini adalah 866 , 0 223 , 0 441 , 0 1 2 1 = x + x + y 789 , 0 534 , 0 1 2 = y + y

6. Menentukan Indeks Determinasi (Sumbangan Efektif)

Sumbangan efektif variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan adalah R kuadrat dari hasil analisis regresi. Oleh karena itu sumbangan efektif variabel X1 dan X2 terhadap Y1 adalah 0,5002 = 0,250 atau 25% sedangkan

sumbangan efektif variabel X1, X2, dan Y1 terhadap Y2 adalah 0,6142 = 0,377 atau

37,7%.

Sumbangan efektif tiap variabel independen terhadap variabel dependen adalah hasil kali koefisien regresi terstandar (beta) dengan koefisien korelasi sederhana sehingga sumbangan efektif variabel X1 dan X2 terhadap Y1 adalah

(6)

a. sumbangan efektif X1 terhadap Y1: (0,441049)(0,448) = 0,198

b. sumbangan efektif X2 terhadap Y1: (0,223129)(0,236) = 0,052 +

Jumlah = 0,250

Jadi sumbangan efektif X1 terhadap Y1 sebesar 19,8% sedangkan X2 terhadap Y1

sebesar 5,2%. Ini berarti sumbangan efektif sebesar 75% berasal dari variabel lain.

5% 20%

75%

Gambar 4.7 Sumbangan Efektif Kecerdasan dan Strategi-strategi Metakognitif terhadap Pengetahuan Awal (Sumber: Hasil pemahaman Sendiri)

Sumbangan efektif variabel X1, X2, dan Y1 terhadap Y2 adalah

a. sumbangan efektif X1 terhadap Y2: (0,133234)(0,373) = 0,050

b. sumbangan efektif X2 terhadap Y2: (0,035285)(0,165) = 0,006

c. sumbangan efektif Y1 terhadap Y2: (0,534027)(0,602) = 0,322 +

Jumlah = 0,377

Jadi sumbangan efektif X1 terhadap sebesar Y2 5%, X2 terhadap Y2 sebesar 0,6%, dan

Y1 terhadap Y2 sebesar 32,2%. Ini berarti sumbangan efektif sebesar 62,3% berasal

(7)

5% 1%

32%

62%

Gambar 4.8 Sumbangan Efektif Kecerdasan, Strategi-strategi Metakognitif, Pe-ngetahuan Awal terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi

(Sumber: Hasil pemahaman Sendiri)

D. Pembahasan

1. Hubungan Langsung Antara Kecerdasan dengan Pengetahuan Awal

Dengan koefisien sebesar 0,441 dan nilai t sebesar 6,559, hubungan langsung kecerdasan dengan pengetahuan awal adalah signifikan pada taraf signifikansi 5% sehingga terdapat hubungan langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan pengetahuan awal. Signifikansi hubungan ini sangat tinggi karena dengan db = 167, t tabel adalah 1,974 sehingga p<0,001. Peranan kecerdasan bertambah penting karena variabel ini memiliki sumbangan efektif 20% dalam mempengaruhi pengetahuan awal. Di samping itu, efek unanalyzed yaitu efek pengaruh variabel lain, dalam hal ini strategi-strategi metakognitif terhadap hubungan ini hanya sebesar 0,007. Temuan ini senada dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Pratomo et al (dalam Azwar, 2002:168) menemukan korelasi inteligensi dengan prestasi belajar sebesar 0,276 yang signifikan pada taraf 5%. Kusumaningrum (1985:179) membuktikan ada hubungan berbanding lurus IQ dengan prestasi belajar sebesar 0,14. Di samping itu, ia juga

(8)

berhasil membuktikan ada hubungan antara IQ dengan nilai tes masuk sebesar 0,23. Selanjutnya Rivai (2000:6) menemukan adanya hubungan positif yang signifikan antara inteligensi dengan hasil belajar matematika ekonomi dengan r = 0,869. Dengan koefisien determinasi sebesar 0,6190, inteligensi memberikan kontribusi sebesar 61,90% pada hasil belajar matematika ekonomi.

Proses kognitif manusia dikendalikan oleh otak sedangkan kecerdasan ada di dalam otak sehingga proses kognitif manusia dipengaruhi kecerdasan. Dalam teori pemrosesan informasi, proses kognitif manusia berjalan seperti proses penyimpanan informasi komputer. Informasi yang berhasil ditangkap oleh indra penerima informasi dimasukkan ke dalam otak. Otak akan menyimpan, menstruktur, dan merestruktur informasi itu. Otak juga akan mengontrol keluaran (output) informasi apabila diperlukan. Di sinilah otak mempunyai dua fungsi yaitu sebagai memori kerja/jangka pendek (working memory atau short term memory) dan memori jangka panjang (long

term memory). Sebagai memori kerja, otak berfungsi menyimpan informasi hanya

beberapa detik dan kemudian mengkode informasi ke memori jangka panjang. Untuk fungsi yang terakhir ini, otak akan menyimpan informasi beserta keterampilan-keterampilan berpikir yang menyertainya dalam jangka panjang. Di dalam memori ini pengetahuan awal itu berada. Dengan demikian ketepatan dan kecepatan menyimpan, mengkode, dan memanggil kembali informasi ditentukan oleh kemampuan otak dan dengan demikian dipengaruhi oleh kecerdasan.

Walaupun pada prinsipnya proses penyimpanan informasi antara pengetahuan awal dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi relatif sama, hubungan langsung antara kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi tidak signifikan.

(9)

Sebaliknya, hubungan tidak langsung antara kedua variabel ini signifikan. Ini berarti kecerdasan tidak semata-mata berfungsi membantu siswa dalam memecahkan masalah terutama dalam mempercepat dan meningkatkan ketelitian indra penerima informasi tetapi juga berfungsi membantu siswa mengoptimalkan daya ingatnya terhadap materi pelajaran yang telah dipelajari di masa lalu. Siswa yang lebih cerdas cenderung memiliki daya ingat yang lebih kuat daripada yang kurang cerdas. Dengan kata lain, kelupaan akan sering terjadi pada siswa yang kurang cerdas daripada yang cerdas.

2. Hubungan Langsung Antara Kecerdasan dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi

Koefisien jalur hubungan langsung kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi hanya 0,133. Koefisien ini memiliki nilai t sebesar 1,932. Dengan db = 167, t tabel adalah 1,974 sehingga tidak terdapat hubungan langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi pada taraf signifikansi 5%. Temuan ini berbeda dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya seperti penelitian yang dilakukan Pratomo et al, Kusumaningrum, dan Rivai. Perbedaan ini terjadi bukan karena kesalahan prosedur penelitian ini tetapi lebih disebabkan karena perbedaan konstelasi variabel penelitian yang diteliti. Ketiga penelitian di atas hanya meneliti hubungan langsung kecerdasan dengan hasil belajar tanpa meneliti variabel lain yang mempengaruhi hubungan ini sehingga koefisien yang dihasilkan adalah koefisien korelasi bukan koefisien jalur yang secara filosofis lebih teliti daripada koefisien korelasi sederhana. Jika hubungan langsung kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi dianalisis dengan rumus korelasi sederhana, koefisien

(10)

korelasinya sebesar 0,373 (lihat tabel 4.6 halaman 121). Koefisien korelasi ini signifikan dan serupa dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya.

Ada dua faktor yang mempengaruhi inteligensi: faktor genetis dan faktor lingkungan. Faktor genetis memainkan peran yang lebih besar daripada faktor lingkungan dalam membentuk kecerdasan tetapi faktor lingkungan mempunyai pengaruh yang kuat. Manusia lahir membawa kecerdasan yang bisa berubah tetapi pada masa anak-anak kecerdasan relatif stabil dan hanya berubah sedikit setelah itu. Dengan demikian seluruh kecerdasan yang dimiliki manusia selama hidupnya sebagian besar merupakan bawaan sejak lahir. Kecerdasan lahir lebih dahulu daripada pengetahuan dan keterampilan-keterampilan. Untuk itu sulit sekali melatih seseorang agar menjadi cerdas. Sebuah usaha yang naif bila seorang guru ingin meningkatkan hasil belajar siswa dengan cara memberikan pelajaran tentang cara mengerjakan soal-soal tes inteligensi walaupun ada hubungan antara kecerdasan dengan hasil belajar.

Kecerdasan tergantung pada pengetahuan. Dalam hal ini orang yang cerdas tidak semata-mata memiliki pengetahuan tetapi yang lebih penting memanfaatkan pengetahuan itu. Pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan alat intelektual dan kecerdasan mengarahkannya untuk digunakan memecahkan masalah-masalah kehidupan (Woodworth dan Marquis, 1961:33). Siswa yang secara intelektual cerdas, tidak akan memiliki prestasi akademis yang baik apabila mereka tidak memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari. Kecerdasan sebenarnya hanya merupakan variabel anteseden (antecedent variable) yang mempengaruhi hubungan antara pengetahuan awal dengan hasil belajar. Oleh karena itu hubungan langsung kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran

(11)

ekonomi tidak signifikan. Temuan penelitian ini penting untuk diperhatikan dalam pengajaran di sekolah apalagi tes kecerdasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes kemampuan verbal di mana sebagian besar materi pelajaran di sekolah memerlukan kemampuan verbal untuk mempelajarinya.

3. Hubungan Langsung Antara Strategi-strategi Metakognitif dengan Pengetahuan Awal

Dengan koefisien jalur sebesar 0,223, hubungan langsung strategi-strategi metakognitif dengan pengetahuan awal memiliki nilai t sebesar 3,318 sehingga hubungan ini signifikan pada taraf signifikansi 5% apalagi efek unanalyzed yaitu efek pengaruh variabel lain, dalam hal ini kecerdasan terhadap hubungan ini hanya 0,013. Untuk itu terdapat hubungan langsung positif yang signifikan strategi-strategi metakognitif dengan pengetahuan awal. Sumbangan efektif strategi-strategi metakognitif terhadap pengetahuan awal hanya 5%. Walaupun temuan ini sedikit berbeda dengan simpulan penelitian yang dilakukan oleh Cavanaugh dan Perlmuter, banyak penelitian lain yang mendukung temuan ini. Kasper (1997:5-6) menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan komponen-komponen metakognitif antara siswa yang lulus dengan yang gagal dengan F = 26,00. Ia juga menyimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara pertumbuhan metakognitif dengan hasil belajar menulis. Koefisien korelasi antara komponen-komponen metakognitif dengan hasil belajar menulis sebesar 0,43 sampai 0,46. Di dalam kelompok siswa yang naik tingkat dari tingkat lanjut ke tingkat mahir juga ditemukan korelasi yang signifikan antara pertumbuhan metakognitif dengan hasil belajar menulis dengan koefisien korelasi sebesar 0,45 sampai 0,48. PISA (2000:1-3) melaporkan bahwa pada

(12)

kelompok atas, siswa-siswa di beberapa negara OECD yang menggunakan strategi-strategi kontrol, memiliki skor literasi membaca yang lebih baik daripada yang menggunakan strategi-strategi memorisasi dan strategi-strategi elaborasi. Sebaliknya pada kelompok bawah, siswa-siswa yang menggunakan strategi-strategi kontrol memiliki skor literasi membaca yang lebih rendah daripada yang menggunakan strategi-strategi memorisasi dan strategi-strategi elaborasi. Yin dan Agnes (2001:5) menemukan good readers secara signifikan memperoleh skor IRA yang lebih tinggi daripada poor readers di mana t = 2,765. Di sisi lain, skor RSU antara good readers dengan poor readers tidak berbeda secara signifikan dengan t = -1,613.

Pada dasarnya pengetahuan awal adalah hasil belajar. Proses-proses kontrol eksekutif diperoleh melalui pembelajaran sebelumnya. Mereka dikaitkan dengan memori jangka panjang. Fungsinya adalah menentukan/memilih jenis pemrosesan informasi yang bisa digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Mereka menentukan pendekatan siswa dalam memproses informasi – bagaimana ia mengamati, menyimpan, mengkode, dan memanggil kembali informasi (Gagne, 1977:59). Dengan demikian kontrol eksekutif melibatkan proses-proses metakognitif. Strategi-strategi metakognitif mengarahkan strategi-strategi kognitif siswa dalam mempelajari materi pelajaran. Menurut Flavell (dalam Hacker, tanpa tahun:4) dan Brown (dalam Livingstone, 1997:1), pengalaman-pengalaman metakognitif melibatkan strategi-strategi metakognitif atau pengaturan metakognitif. Strategi-strategi metakognitif merupakan proses-proses yang berurutan yang digunakan untuk mengontrol aktivitas-aktivitas kognitif dan memastikan bahwa tujuan kognitif telah dicapai. Proses-proses ini terdiri dari perencanaan dan pemantauan aktivitas-aktivitas

(13)

kognitif serta evaluasi terhadap hasil aktivitas-aktivitas ini. Aktivitas-aktivitas perencanaan seperti menentukan tujuan dan analisis tugas membantu mengaktivasi pengetahuan yang relevan sehingga mempermudah pengorganisasian dan pemahaman materi pelajaran. Aktivitas-aktivitas pemantauan meliputi perhatian seseorang ketika ia membaca, dan membuat pertanyaan atau pengujian diri. Aktivitas-aktivitas ini membantu siswa dalam memahami materi dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan awal. Aktivitas-aktivitas pengaturan meliputi penyesuaian dan perbaikan aktivitas-aktivitas kognitif siswa. Aktivitas-aktivitas ini membantu peningkatan prestasi dengan cara mengawasi dan mengoreksi perilakunya pada saat ia menyelesaikan tugas (Pintrich et al, 1991:1).

Pada saat siswa mempelajari konsep tentang tiga macam kegiatan ekonomi: produksi, distribusi, dan konsumsi, secara kognitif mereka harus mampu membedakan ketiga konsep itu. Mulanya mungkin siswa mempelajarinya dengan cara mendengarkan ceramah guru. Jika siswa memiliki strategi-strategi metakognitif yang baik, mereka sadar tentang tujuan kognitif yang harus dicapainya dan mereka sadar pula dalam memantau dan mengevaluasi ketercapaian tujuan kognitif itu. Sesuai dengan contoh itu, tujuan kognitifnya adalah membedakan konsep produksi, distribusi, dan konsumsi. Untuk mengetahui ketercapaian tujuan kognitif ini, mereka dengan sadar menanyakan kepada dirinya sendiri apakah telah memahami ketiga konsep itu. Apabila belum memahami, mereka dengan sadar pula merubah strategi-strategi kognitif yang sedang digunakannya, sesuai dengan contoh ini, dari hanya mendengarkan ceramah guru menjadi menggarisbawahi kata-kata penting dari

(14)

pengertian produksi, distribusi, dan konsumsi, atau menggunakan strategi-strategi kognitif lain sampai ia memahami ketiga konsep itu.

Umumnya, siswa yang menggunakan strategi-strategi metakognitif dengan baik memiliki kepercayaan bahwa mereka bisa belajar dengan baik, dapat membuat penilaian yang akurat tentang mengapa mereka berhasil di dalam pembelajaran, bisa memperkirakan faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan di dalam pembelajaran, dapat memilih strategi belajar yang baik, membuat penyesuaian strategi-strategi kognitif yang sedang digunakan apabila diperlukan, secara sadar meminta bimbingan dari teman atau guru, meluangkan waktunya untuk berpikir, dan beranggapan bahwa dirinya adalah siswa dan pemikir yang harus terus berkembang. Makin baik siswa menggunakan strategi-strategi metakognitif, makin baik pula hasil belajarnya.

4. Hubungan Langsung Antara Strategi-strategi Metakognitif dengan Hasil Belajar Mata pelajaran Ekonomi

Koefisien jalur hubungan langsung strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi hanya 0,035 dan hampir sama dengan koefisien efek

unanalyzed sebesar 0,011. Koefisien ini memiliki nilai t sebesar 0,556. Dengan db =

167, t tabel adalah 1,974 sehingga tidak terdapat hubungan langsung positif yang signifikan strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Temuan ini berbeda dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya. Kasper (1997:5-6) menemukan bahwa ada perbedaan yang signifikan komponen-komponen metakognitif antara siswa yang lulus dengan yang gagal dengan F = 26,00. Ia juga menyimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara pertumbuhan metakognitif dengan hasil belajar menulis. Koefisien korelasi antara

(15)

komponen-komponen metakognitif dengan hasil belajar menulis sebesar 0,43 sampai 0,46. Di dalam kelompok siswa yang naik tingkat dari tingkat lanjut ke tingkat mahir juga ditemukan korelasi yang signifikan antara pertumbuhan metakognitif dengan hasil belajar menulis dengan koefisien korelasi sebesar 0,45 sampai 0,48. PISA (2000:1-3) melaporkan bahwa pada kelompok atas, siswa-siswa di beberapa negara OECD yang menggunakan strategi-strategi kontrol, memiliki skor literasi membaca yang lebih baik daripada yang menggunakan strategi-strategi memorisasi dan strategi-strategi elaborasi. Sebaliknya pada kelompok bawah, siswa-siswa yang menggunakan strategi-strategi kontrol memiliki skor literasi membaca yang lebih rendah daripada yang menggunakan strategi-strategi memorisasi dan strategi-strategi elaborasi. Yin dan Agnes (2001:5) menemukan good readers secara signifikan memperoleh skor IRA yang lebih tinggi daripada poor readers di mana t = 2,765. Di sisi lain, skor RSU antara good readers dengan poor readers tidak berbeda secara signifikan dengan t = -1,613. Perbedaan hasil penelitian ini dengan hasil penelitian sebelumnya terjadi karena penelitian ini melibatkan intervening variable. Pengetahuan awal sebagai

intervening variable mempengaruhi hubungan strategi-strategi metakognitif dengan

hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Jika strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi dihubungkan tanpa melibatkan intervening variable, koefisien korelasinya sebesar 0,165. Koefisien ini signifikan pada taraf signifikansi 5% sehingga senada dengan temuan penelitian sebelumnya.

Proses-proses kontrol eksekutif diperoleh melalui pembelajaran sebelumnya. Mereka dikaitkan dengan memori jangka panjang. Fungsinya adalah menentukan/memilih jenis pemrosesan informasi yang bisa digunakan siswa untuk

(16)

menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Mereka menentukan pendekatan siswa dalam memproses informasi – bagaimana ia mengamati, menyimpan, mengkode, dan memanggil kembali informasi (Gagne, 1977:59). Berpikir metakognitif adalah perilaku mental yang disengaja, bisa berkembang, diarahkan pada tujuan dan berorientasi ke masa depan yang digunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas kognitif. Oleh karena itu, strategi-strategi metakognitif dapat mengarahkan proses berpikir dan perencanaan belajar. Dengan cara ini, siswa dapat membuat keputusan sendiri tentang tujuan belajarnya, pengetahuan awal yang diperlukan, waktu yang digunakan untuk belajar, dan strategi-strategi kognitif yang bisa digunakan agar ia dapat memahami pengetahuan baru. Walaupun strategi-strategi metakognitif mampu mempengaruhi segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem pemrosesan informasi manusia, penggunaannya akan lebih efektif apabila siswa telah memiliki pengetahuan awal yang relevan dengan pengetahuan baru.

Strategi-strategi metakognitif merupakan proses-proses yang berurutan yang digunakan untuk mengontrol aktivitas-aktivitas kognitif dan memastikan bahwa tujuan kognitif telah dicapai. Proses-proses ini terdiri dari perencanaan dan pemantauan aktivitas-aktivitas kognitif serta evaluasi terhadap hasil aktivitas-aktivitas ini. Aktivitas-aktivitas perencanaan seperti menentukan tujuan dan analisis tugas membantu mengaktivasi pengetahuan yang relevan sehingga mempermudah pengorganisasian dan pemahaman materi pelajaran. Aktivitas-aktivitas pemantauan meliputi perhatian seseorang ketika ia membaca, dan membuat pertanyaan atau pengujian diri. Aktivitas-aktivitas ini membantu siswa dalam memahami materi dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan awal. Aktivitas-aktivitas pengaturan

(17)

meliputi penyesuaian dan perbaikan aktivitas-aktivitas kognitif siswa. Aktivitas-aktivitas ini membantu peningkatan prestasi dengan cara mengawasi dan mengoreksi perilakunya pada saat ia menyelesaikan tugas (Pintrich et al, 1991:1).

5. Hubungan Langsung Antara Pengetahuan Awal dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi

Koefisien jalur hubungan langsung pengetahuan awal dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi sebesar 0,534. Koefisien ini memiliki nilai t sebesar 7,526. Dengan db = 167, t tabel adalah 1,974 sehingga terdapat hubungan langsung positif yang signifikan pengetahuan awal dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi pada taraf signifikansi 5%. Sumbangan efektif pengetahuan awal terhadap hasil belajar mata pelajaran ekonomi adalah 32%. Jalur ini bertambah signifikan karena efek

spurious yaitu efek pengaruh variabel lain, dalam hal ini kecerdasan dan

strategi-strategi metakognitif terhadap hubungan ini hanya sebesar 0,068. Ini berarti peranan pengetahuan awal sangat penting dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Temuan ini sama dengan temuan Addison dan Hutcheson (2001:9). Mereka menyimpulkan siswa yang memiliki pengetahuan awal yang berkaitan dengan pernyataan untung dan rugi memperoleh skor yang lebih tinggi daripada yang tidak memiliki pengetahuan awal. Pintrinch menemukan siswa yang kekurangan pengetahuan awal tidak mungkin maju. Penelitian Barclay et al menyimpulkan bahwa pemahaman terhadap suatu teks tergantung pada penerapan pengetahuan awal yang relevan yang tidak ada di dalam teks. Hasil action research Farisi (2002:9) menyatakan pembelajaran IPS berdasarkan penggunaan konsep siswa dapat meningkatkan kinerja profesional guru, kinerja siswa, dan iklim sosial pembelajaran IPS.

(18)

Menurut Bruner, belajar kognitif melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan: (1) memperoleh informasi baru; (2) transformasi informasi; dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan. Informasi baru dapat merupakan penghalus dari informasi sebelumnya yang ada di dalam struktur kognitif siswa atau informasi itu dapat berlawanan dengan informasi yang telah dimiliki siswa. Transformasi pengetahuan merupakan aktivitas siswa untuk memperlakukan pengetahuan agar sesuai dengan tugas baru, apakah dengan cara ekstrapolasi atau dengan mengubahnya menjadi bentuk lain. Menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan berkaitan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan itu sesuai dengan tugas yang ada (Dahar, 1991:101).

Pendapat yang hampir sama dikemukakan oleh Ausubel bahwa dalam belajar kognitif terjadi tiga tahapan:

“(1) cognitive structure is hierarchically organized, with more inclusive, more general concepts and propositions superordinate to less inclusive, more specific concepts and propositions; (2) concepts in cognitive structure undergo progressive differentiation’s, wherein greater inclusiveness and greater specificity of regularities in objects or events are discerned and more propositional linkages with other related concepts are recognized; and (3) integrative reconciliation occurs when two or more concepts are recognized as relatable in new propositional meanings and/or when conflicting meanings of concepts are resolved” (Novak dan Gowin, 1985:97).

Dengan demikian perkembangan struktur kognitif seseorang ditentukan oleh kemampuannya untuk melakukan apersepsi. Apersepsi merupakan proses jiwa untuk melakukan pemahaman kesan-kesan baru melalui bantuan kesan-kesan lama yang dimiliki.

Memori sensor merupakan memori yang dikaitkan dengan informasi yang dibawa pancaindra. Memori inilah yang bisa membedakan dengan cepat hasil-hasil

(19)

dari melihat, mendengar, mencium, merasakan, dan menyentuh objek-objek atau informasi yang bisa dilihat dan didengar. Dari seluruh informasi ini, hanya sebagian kecil yang dimasukkan ke dalam memori jangka pendek dan sebagiannya lagi hilang dari sistem. Setelah itu, informasi yang disimpan di dalam memori jangka pendek dikodekan ke dalam memori jangka panjang. Pengkodean merupakan proses transformasi di mana informasi baru diintegrasikan dengan informasi lama dengan berbagai cara. Pengetahuan baru dapat menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan awal. Di sinilah struktur kognitif diperbaiki dan selanjutnya dikembangkan.

Siswa dengan pengetahuan awal yang benar dan relevan dengan pengetahuan baru tidak mengalami kesulitan memahami pengetahuan baru. Sebaliknya, siswa yang memiliki pengetahuan awal yang miskonsepsi atau bahkan tidak memiliki pengetahuan awal yang dipersyaratkan akan mengalami kesulitan memahami pengetahuan baru.

Pembelajaran informasi verbal baru dipengaruhi oleh pemanggilan kembali informasi yang dipelajari sebelumnya. Isyarat yang diberikan oleh informasi yang dipelajari dapat mengaktivasi konsep-konsep di dalam memori jangka panjang yang berpencar di dalam sebuah jaringan proposisional. Anderson menamakan proses ini aktivasi berpencar (spreading activation). Makin banyak ide-ide yang terlibat dalam pemrosesan elaboratif (elaboratif processing), makin banyak pemanggilan kembali pengetahuan dan makin baik elaborasi pengetahuan, yaitu lebih luas dan lebih banyak ide yang dipanggil kembali dari pengetahuan awal, makin banyak informasi verbal baru yang akan dipelajari dan diingat (Gagne et al, 1992:104).

(20)

6. Hubungan Tidak Langsung Antara Kecerdasan dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi melalui Pengetahuan Awal

Total efek tidak langsung kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi melalui pengetahuan awal adalah 0,236. Koefisien ini signifikan pada taraf signifikansi 5% dan jauh lebih besar daripada total efek langsung kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi yang hanya 0,133 apalagi efek unanalyzed pada jalur ini hanya sebesar 0,005 sehingga terdapat hubungan tidak langsung positif yang signifikan kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi melalui pengetahuan awal. Kecerdasan hanya merupakan variabel anteseden dalam hubungan pengetahuan awal dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Hubungan kecerdasan dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi yang dalam korelasi sederhana signifikan, ternyata hanya merupakan hubungan tidak langsung. Dengan demikian pengetahuan awal adalah variabel mediasi. Hal ini senada dengan penelitian Chan et al (dalam Addison dan Hutcheson, 2001:9) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan awal memainkan peran mediasi dalam menggerakkan aktivitas yang konstruktif.

Kecerdasan ada di dalam otak. Otak yang menjalankan proses-proses kognitif sehingga kecerdasan mendasari proses-proses kognitif. Oleh karena itu seluruh sistem pemrosesan informasi manusia dipengaruhi oleh kecerdasan (Kirby, 1984:53). Gambar 4.9 pada halaman 145 mendeskripsikan pengaruh kecerdasan pada sistem pemrosesan informasi manusia.

Informasi dari lingkungan diterima oleh reseptor. Reseptor ini mengirimkan tanda-tanda dalam bentuk impuls-impuls elektrokimia ke otak. Impuls-impuls saraf

(21)

dari reseptor masuk ke sensor pencatat yang terdapat di dalam sistem saraf pusat. Informasi ini disimpan di dalam sistem saraf pusat dengan waktu yang sangat singkat. Sperling, Crowder, dan Morton (dalam Gagne, 1983:52) menyatakan hanya seperempat detik. Keseluruhan informasi yang masuk hanya sebagian saja yang disimpan di dalam memori jangka pendek (short-term memory) dan sebagiannya lagi hilang dari sistem. Proses ini disebut persepsi selektif (selective perception). Strategi-strategi kognitif yang bisa digunakan siswa pada proses ini adalah Strategi-strategi menjelaskan kata-kata penting (highlighting), menggarisbawahi (underlining), pemandu awal (advance organizer), pertanyaan-pertanyaan tambahan (adjunct

questions), dan membuat garis-garis besar (outlining).

Kontrol eksekutif Harapan-harapan

L I

N Efektor Generator Respons G

K

U Memori Memori N Reseptor Sensor Pencatat Jangka Jangka G Pendek Panjang A

N

Kecerdasan

Gambar 4.9 Sistem Pemrosesan Informasi (diadaptasi dari Gagne, 1983:53)

Informasi disimpan di dalam memori jangka pendek kira-kira 20 detik kecuali kalau informasi itu diulang-ulang. Pada saat kita mencari nomor telepon, nomor itu

(22)

akan sampai di memori jangka pendek. Apabila tidak diulang-ulang, nomor itu dilupakan pada saat kita berjalan dari buku telepon ke pesawat telepon. Proses pengulangan ini disebut menghafal (rehearsal). Proses menghafal membantu memori jangka pendek untuk menyimpan lebih lama bahkan proses ini juga membantu pengkodean informasi. Strategi-strategi kognitif yang bisa digunakan siswa dalam menghafalkan informasi yaitu menjelaskan dengan kata-kata sendiri (paraphrasing), membuat catatan (note taking), membuat gambaran (imagery), membuat garis-garis besar (outlining), dan mengelompokkan (chunking).

Tidak hanya umur memori jangka pendek yang pendek, kapasitasnya pun terbatas. Oleh karena itu, memori ini disebut bottleneck dari sistem pemrosesan informasi manusia. Kadangkala memori jangka pendek disebut juga memori kerja. Memori jangka pendek mengarah pada umurnya yang pendek sedangkan memori kerja menekankan pada fungsinya.

Informasi di dalam memori jangka pendek kemudian disimpan di dalam memori jangka panjang (long-term memory). Di sinilah terjadi pengkodean informasi (semantic encoding). Pengkodean merupakan suatu proses transformasi di mana informasi baru diintegrasikan dengan informasi lama dengan berbagai cara. Pengetahuan baru dapat menjadi penghalus pengetahuan awal, dapat digunakan untuk menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan berkaitan dengan menilai apakah cara kita memperlakukan pengetahuan itu sesuai dengan tugas yang dihadapi. Pengetahuan awal dapat juga membantu memahami pengetahuan baru. Strategi-strategi kognitif yang dapat membantu siswa mengkode informasi adalah Strategi-strategi

(23)

peta-peta konsep (concept maps), taksonomi-taksonomi (taxonomies), analogi-analogi (analogi-analogies), aturan-aturan (rules/production), dan skema-skema (schemas).

Kemampuan memori jangka panjang berbeda dengan memori jangka pendek. Memori ini mampu menyimpan informasi dalam jangka panjang dengan kemampuan menyimpan yang tidak terbatas.

Informasi yang disimpan di dalam memori jangka panjang dapat dipanggil kembali (retrieval). Informasi yang dipanggil ini mengalir dari memori jangka panjang melalui memori jangka pendek kemudian ke generator respons. Untuk respons-respons otomatis, informasi mengalir langsung dari memori jangka panjang ke generator respons. Strategi-strategi kognitif yang dapat digunakan siswa untuk mendukung proses ini yaitu strategi menghafal (mnemonics) dan membuat gambaran (imagery).

Generator respons mengatur urutan respons dan mengarahkan efektor. Efektor meliputi semua organ tubuh manusia. Kegiatan efektor inilah yang mencerminkan hasil belajar siswa. Siswa yang mempelajari definisi harga akan menunjukkan keberhasilan belajarnya dengan cara mengucapkan definisi harga atau menulis definisi harga dengan benar.

Dengan demikian kecerdasan seseorang mempengaruhi reseptor, sensor pencatat, memori jangka pendek, memori jangka panjang, generator respons, dan efektor yang dimilikinya. Oleh karena itu kehadiran pengetahuan awal di dalam memori jangka panjang dapat meningkatkan fungsi kecerdasan sebagai kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Kecerdasan tergantung pada pengetahuan. Dalam hal ini orang yang cerdas tidak

(24)

semata-mata memiliki pengetahuan tetapi yang lebih penting memanfaatkan pengetahuan itu. Pengetahuan yang dimiliki seseorang merupakan alat intelektual dan kecerdasan mengarahkannya untuk digunakan memecahkan masalah-masalah kehidupan (Woodworth dan Marquis, 1961:33).

7. Hubungan Tidak Langsung Antara Strategi-strategi Metakognitif dengan Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi melalui Pengetahuan Awal

Total efek tidak langsung strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi melalui pengetahuan awal adalah 0,119. Koefisien ini signifikan pada taraf signifikansi 5% dan lebih besar daripada total efek langsung hubungan kedua variabel itu yang hanya 0,035 sehingga terdapat hubungan tidak langsung positif yang signifikan strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi melalui pengetahuan awal. Efek unanalyzed hubungan ini sebesar 0,011. Ini membuktikan pengaruh variabel lain, dalam hal ini kecerdasan, terhadap hubungan ini relatif kecil. Hubungan strategi-strategi metakognitif dengan hasil belajar mata pelajaran ekonomi yang dalam korelasi sederhana signifikan, ternyata hanya merupakan hubungan tidak langsung. Dengan demikian pengetahuan awal adalah variabel mediasi. Hal ini senada dengan penelitian Chan et al (dalam Addison dan Hutcheson, 2001:9) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan awal memainkan peran mediasi dalam menggerakkan aktivitas yang konstruktif.

Sistem pemrosesan informasi diarahkan oleh harapan-harapan dan kontrol eksekutif. Proses kontrol dan harapan-harapan diperoleh melalui pembelajaran sebelumnya. Mereka dikaitkan dengan memori jangka panjang. Fungsinya adalah menentukan/memilih jenis pemrosesan informasi yang bisa digunakan siswa untuk

(25)

menyelesaikan tugas-tugas tertentu. Mereka menentukan pendekatan siswa dalam memproses informasi – bagaimana ia mengamati, menyimpan, mengkode, dan memanggil kembali informasi (Gagne, 1977:59). Dengan demikian kontrol eksekutif melibatkan proses-proses metakognitif. Proses ini mengaktifkan dan mengarahkan arus informasi selama pembelajaran. Proses ini juga mengarahkan pilihan siswa terhadap strategi-strategi kognitif.

Proses-proses kontrol eksekutif dan harapan-harapan tidak dihubungkan dengan struktur-struktur lain. Ini menggambarkan bahwa proses kontrol ini mempunyai kemampuan mempengaruhi segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem pemrosesan informasi. Strategi-strategi kognitif yang bisa digunakan pada tahap ini adalah strategi-strategi metakognitif.

Dengan demikian pengaruh proses-proses kontrol eksekutif terhadap segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem pemrosesan informasi sama dengan pengaruh kecerdasan. Oleh karena itu Borkowski, Brown, dan Stenberg (dalam Livingstone, 1997:1) menghubungkan metakognisi dengan kecerdasan. Stenberg menamakan proses-proses eksekutif sebagai metakomponen di dalam teori inteligensinya. Metakomponen merupakan proses-proses eksekutif yang mengontrol komponen-komponen kognitif lain dan menerima umpan balik dari komponen-komponen-komponen-komponen ini. Metakomponen menggambarkan bagaimana menyelesaikan tugas, dan kemudian memastikan bahwa tugas telah diselesaikan dengan baik.

Strategi-strategi metakognitif merupakan keterampilan intelektual khusus. Walaupun keterampilan ini, berdasarkan teori Stenberg, menjadi indikator kecerdasan seseorang, kenyataannya masih bisa diajarkan. Livingstone (2002:3) menyatakan

(26)

sebagai sebuah konsep, metakognisi dihubungkan dengan kecerdasan (kepahaman, kecepatan memahami, dan kecakapan). Jika kita menyamakan metakognisi dengan kecerdasan, kecerdasan bisa diajarkan tetapi secara umum tidak bisa. Apalagi kurikulum sekolah menjauhkan kita dari metakognisi, dan hanya menekankan pada pembelajaran hafalan lebih daripada pemahaman. Beberapa penlitian eksperimen berhasil membuktikan bahwa metakognisi bisa dilatih bahkan beberapa pakar sudah berhasil membuat model pengajaran yang menekankan pada strategi-strategi metakognitif.

Walaupun beberapa ahli menghubungkan metakognisi dengan kecerdasan secara konseptual, penelitian ini membuktikan tidak ada korelasi yang signifikan kecerdasan dengan strategi-strategi metakognitif.

E. Keterbatasan Penelitian

Menurut Fraenkel dan Wallen (1993:297), ada lima ancaman terhadap validitas internal penelitian yang biasanya terjadi pada penelitian korelasional: karakteristik subjek, lokasi penelitian, instrumen penelitian, pengujian, dan subjek yang hilang (mortality).

1. Karakteristik Subjek

Ada banyak karakteristik subjek yang mempengaruhi hasil belajar antara lain kecerdasan, pengetahuan awal, strategi belajar, motivasi, usia, kematangan, dan gaya belajar. Semua karakteristik ini tidak bisa dikontrol karena keterbatasan peneliti. Penelitian ini hanya melibatkan tiga karakteristik subjek yang mempengaruhi hasil belajar yakni kecerdasan, strategi-strategi metakognitif, dan pengetahuan awal. Oleh

(27)

karena itu variabel-variabel lain yang tidak diteliti kemungkinan mempengaruhi hasil belajar. Untuk mengurangi pengaruh variabel-variabel asing (extraneous variable) ini, pemilihan sampel dilakukan secara acak. Semua anggota populasi mempunyai peluang untuk dipilih menjadi sampel sehingga tidak akan ada sampel yang dipilih karena karakteristik tertentu.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian berkaitan dengan tempat pelaksanaan penelitian. Perbedaan tempat penelitian kemungkinan bisa mempengaruhi variabel-variabel yang sedang diteliti. Ketenangan, suhu, fentilasi udara, dan tempat duduk di tempat penelitian, bisa saja berpengaruh pada jawaban sampel penelitian dan dengan demikian berpengaruh pada variabel-variabel yang sedang diteliti apalagi bila sampel-sampel penelitian menyebar pada kelas yang berbeda. Tempat penelitian ini adalah kelas-kelas yang ada di SLTP Negeri 2 Banyuwangi. Bentuk dan suasana kelas relatif sama walaupun sampel-sampel menyebar di beberapa kelas. Oleh karena itu pengaruh lokasi penelitian terhadap variabel-variabel penelitian ini masih bisa dikurangi.

3. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian berkaitan dengan pembuatan dan penskoran instrumen penelitian. Ancaman bias instrumen penelitian ini terhadap validitas internal penelitian diatasi dengan cara: pertama, peneliti selalu mengambil waktu istirahat pada saat menskor jawaban siswa apabila peneliti merasa kelelahan. Kedua, pengumpul data adalah peneliti sendiri sehingga data-data yang diambil pada setiap kelas dikumpulkan oleh peneliti sendiri, tidak oleh beberapa orang. Oleh karena itu

(28)

karakteristik pengumpul data yang bisa mempengaruhi kondisi psikologis sampel pada saat menjawab instrumen penelitian relatif bisa dikurangi. Ketiga, semua instrumen penelitian telah dibuat sesuai dengan prosedur kalibrasi instrumen.

4. Pengujian

Pengujian berkaitan dengan pengaruh pelaksanaan kegiatan menggunakan instrumen penelitian terhadap validitas internal penelitian. Untuk mengurangi ancaman ini, ada dua cara yang dilakukan. Pertama, membuat rancangan kegiatan belajar mengajar yang dapat memudahkan peneliti memperoleh data secara akurat (lihat tabel 3.1 halaman 81). Khusus kuesioner strategi-strategi metakognitif dilaksanakan tiga kali. Ini dilakukan karena kuesioner ini mengukur kecenderungan. Dengan cara ini, skor kecenderungan yang diperoleh akan benar-benar ajeg walaupun kuesioner tersebut sebenarnya telah teruji reliabilitasnya. Kuesioner strategi-strategi metakognitif diberikan setelah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar. Ini dilakukan agar siswa lebih sadar tentang strategi-strategi metakognitif yang telah dilakukannya selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dan kemudian mengingatnya kembali pada saat mereka mengerjakan kuesioner strategi-strategi metakognitif. Sebagian peneliti strategi-strategi metakognitif mengingatkan bahwa strategi-strategi metakognitif yang dilakukan siswa bisa berlangsung secara otomatis. Artinya, walaupun siswa sebenarnya telah melakukan strategi-strategi metakognitif, mereka tidak sadar bahwa ia melakukan strategi-strategi metakognitif sehingga skor strategi-strategi metakognitifnya rendah. Untuk inilah rancangan penelitian ini dibuat sedemikian rupa dengan harapan penelitian ini akan mendapatkan skor

(29)

strategi-strategi metakognitif yang sebenarnya. Kedua, mengujikan instrumen-instrumen penelitian yang sudah teruji reliabilitasnya dan diujikan pada waktu yang berbeda. Strategi ini perlu dilakukan terutama untuk mengurangi bias pengujian kuesioner strategi-strategi metakognitif. Pengukuran strategi-strategi metakognitif dilakukan tiga kali. Hal ini akan mempengaruhi tingkat kebosanan siswa dalam mengerjakan kuesioner strategi-strategi metakognitif apalagi jumlah butir pernyataan di dalam kuesioner ini relatif banyak. Di samping itu, tingkat keseriusan siswa menurun karena mereka makin mengetahui bahwa jawaban yang diberikan sebanyak tiga kali pertemuan tidak mempengaruhi nilai rapornya. Ini terbukti dengan makin menurunnya rata-rata skor strategi-strategi metakognitif. Walaupun terjadi penurunan, perbedaan ketiga skor ini tidak signifikan. Ini berarti bias pengujian untuk instrumen ini sudah dapat diatasi dengan baik.

5. Subjek yang Hilang (Mortality)

Pengumpulan data dilaksanakan selama satu bulan dengan rincian: minggu pertama melaksanakan tes kecerdasan, minggu kedua melaksanakan tes pengetahuan awal dan strategi-strategi metakognitif, minggu ketiga hanya melaksanakan tes strategi-strategi metakognitif, dan minggu keempat melaksanakan tes strategi-strategi metakognitif dan hasil belajar mata pelajaran ekonomi. Oleh karena itu di dalam pelaksanaan penelitian ini muncul kasus subjek penelitian yang hilang (mortality). Walaupun kasus ini sulit dihindari, peneliti berusaha mengurangi efek yang ditimbulkannya dengan cara menambah sampel penelitian sebanyak 10% dari jumlah minimal sampel yang harus diambil untuk keperluan generalisasi dan memilih

(30)

kembali populasi secara acak untuk dijadikan sampel penelitian sebagai pengganti sampel penelitian yang hilang.

6. Generalisasi Hasil Penelitian

Jumlah populasi penelitian ini 280 siswa sehingga, sesuai dengan tabel Krejcie, sampel minimal yang harus diambil untuk keperluan generalisasi hasil penelitian adalah 164 siswa. Selama penelitian ini berlangsung, sampel penelitian yang diambil melebihi batas sampel minimal tersebut sehingga hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan terhadap populasi penelitian ini.

Figur

Tabel 4.9 Efek Gabungan, Efek Langsung, Efek Tidak Langsung, Efek  Unanalyzed, dan Efek Spurious

Tabel 4.9

Efek Gabungan, Efek Langsung, Efek Tidak Langsung, Efek Unanalyzed, dan Efek Spurious p.2
Gambar 4.7 Sumbangan Efektif Kecerdasan dan Strategi-strategi Metakognitif  terhadap Pengetahuan Awal (Sumber: Hasil pemahaman Sendiri)

Gambar 4.7

Sumbangan Efektif Kecerdasan dan Strategi-strategi Metakognitif terhadap Pengetahuan Awal (Sumber: Hasil pemahaman Sendiri) p.6
Gambar 4.8 Sumbangan Efektif Kecerdasan, Strategi-strategi Metakognitif, Pe- Pe-ngetahuan Awal terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi   (Sumber: Hasil pemahaman Sendiri)

Gambar 4.8

Sumbangan Efektif Kecerdasan, Strategi-strategi Metakognitif, Pe- Pe-ngetahuan Awal terhadap Hasil Belajar Mata Pelajaran Ekonomi (Sumber: Hasil pemahaman Sendiri) p.7
Gambar 4.9 Sistem Pemrosesan Informasi (diadaptasi dari Gagne, 1983:53)  Informasi disimpan di dalam memori jangka pendek kira-kira 20 detik kecuali  kalau informasi itu diulang-ulang

Gambar 4.9

Sistem Pemrosesan Informasi (diadaptasi dari Gagne, 1983:53) Informasi disimpan di dalam memori jangka pendek kira-kira 20 detik kecuali kalau informasi itu diulang-ulang p.21

Referensi

Memperbarui...

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di