• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III STRATEGI DAN KONSEP PERANCANGAN MANDALA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III STRATEGI DAN KONSEP PERANCANGAN MANDALA"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

STRATEGI DAN KONSEP PERANCANGAN MANDALA

3.1 Tujuan Komunikasi

Tujuan komunikasi dari Perancangan Mandala Sebagai Media Belajar Dalam Meningkatkan Kreatifitas Pada Siswa/i SMK Prima Unggul Jurusan Multimedia adalah untuk mengkomunikasikan suatu pesan sesuai dengan arti dari sebuah komunikasi visual sebagai sarana informasi dan interaksi, dalam hal ini adalah bahasa yang bersifat non verbal, yaitu dengan menggunakan mandala sebagai bahasa rupa yang memiliki fungsi untuk menyampaikan pesan dalam bentuk komunikasi visual.

Mandala menggantikan bahasa-bahasa verbal dengan menggunakan lambang-lambang maupun bentuk representasi dari objek suatu benda. Kemudian menciptakan efek komunikasi berupa sisi kognitif siswa/i, yaitu pemahaman tentang mandala, cara perancangan, kaidah-kaidah dan bentuk pesan secara visual/ gambar yang dapat digunakan dalam mandala. Sampai akhirnya siswa/i terdorong untuk membuat pesan dalam bentuk visual melalui mandala. Maka tercapai efek konatif dalam efek komunikasi.

3.2 Strategi Komuikasi

Strategi komunikasi merupakan panduan dari perencanaan komunikasi

(2)

management) untuk mencapai suatu tujuan. Keberhasilan komunikasi secara efketif banyak ditentukan oleh penentuan strategi komunikasi. Penulis menggunakan strategi komunikasi dengan pendekatan AIDDA. Dimana penulis membangun apa yang dapat memberikan perhatian kepada siswa/i mengenai suatu bentuk komunikasi dalam desain yang belum pernah mereka ketahui, dengan cara penyampaian secara tatap muka (Attention). Setelah mendapatkan perhatian siswa/i dikelas, kemudian penulis memberikan pemahaman dasar tentang kaidah-kaidah yang ada dalam proses perancangan mandala (Interest). Kemudian saat penulis mendapatkan ketertarikan siswa/i, kemudian penulis memberikan contoh pembuatan mandala dengan menggunakan kaidah-kaidah dan unsur serta bentuk visual dari objek yang ada disekitar, yang bertujuan memberikan hasrat lebih pada siswa/i untuk membuat mandala (Desire). Penulis memberikan arahan dan pejabaran tentang penggunaan unsur visual, sebelum siswa/i memulai membuat mandala (Decision). Dan pada akhirnya siswa/i membuat mandala dengan menggunakan unsur yang memiliki makna komunikasi visual di dalamnya

(Action). Selain menggunakan AIDDA dalam memberikan materi pembelajaran

tentang mandala, penulis menggunakan teknik komunikasi pembelajaran komunikatif dan persuasif serta menggabungkan komunikasi dengan media, yang berfungsi untuk mengarahkan kegiatan siswa dalam belajar.

3.2.1 Target Audience

Mengingat pesan informasi yang terdapat dalam Perancangan Mandala Sebagai Media Belajar Dalam Meningkatkan Kreatifitas Siswa/i

(3)

SMK Prima Unggul Jurusan Multimedia adalah segala hal yang berhubungan dengan media belajar komunikasi dan kreatifitas.

maka berikut ini ada beberapa aspek-aspek yang menjadi pertimbangan lain dan penulis jabarkan dibawah ini:

a. Demografis

Target untuk membuat konsep Mandala secara manual berdasarkan demografisnya yaitu :

 Jenis Kelamin : Pria dan Wanita

 Usia : 14 – 17 tahun

 Pekerjaan : Pelajar SMK jurusan Multimedia

 Pendidikan : SMK kelas 1 s/d SMK kelas 3

 Lokasi : SMK Prima Unggul

b. Geografis

Berdasarkan geografisnya, target audience adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Prima Unggul, Ciledug - KOTA TANGERANG.

c. Psikografis

Kreator seni menggambar Mandala secara manual berdasarkan psikografisnya adalah :

(4)

 Aktivitas

Para pelajar dari jenjang kelas 1 SMK s/d kelas 3 SMK yang mempelajari tentang seni dan desain di jurusan Multimedia.

 Minat

Para pelajar dari jenjang kelas 1 SMK s/d kelas 3 SMK yang tertarik dengan pengetahuan dan perkembangan desain di Indonesia maupun kegiatan yang masih berhubungan dengan seni dan desain.

 Gaya hidup

Pelajar yang memiliki semua pengetahuan dan penggunaanya dalam hal multimedia, seperti contohnya gadget yang digunakan, sarana pencarian informasi melalui media internet. Hal ini bersifat modern di kalangan pelajar.

3.3 Strategi Media

Strategi media yang digunakan adalah dengan menggunakan media kertas yang digambar mandala. Dengan menuangkan konsep-konsep mandala baik secara pola, simbol, kedalam kertas, baik dalam format portrait maupun landscape. Berikut adalah alat dan bahan yang akan digunakan dalam pembuatan Mandala secara manual:

(5)

1. Kertas dengan ukuran 29,7 cm x 42 cm (portrait A3) ataupun 42 cm x 29,7 cm (landscape A3).

Kertas A3 (Portrait) Kertas A3 (Landscape) Gambar 3. 1 Kertas A3 untuk mandala

2. Pensil sebagai alat untuk menggambar keseluruhan sketsa mandala secara kasar, langkah ini diambil sebagai cara untuk meminimalisir kesalahan pada saat pendetailan menggunakan drawing pen.

Gambar 3. 2 Pensil gambar

3. Jangka digunakan sebagai alat untuk menggambar lingkaran secara presisi, dan membuat kerangka mandala yaitu lingkaran.

(6)

Gambar 3. 3 Jangka untuk membuat layout kerangka mandala 4. Drawing Pen / Spidol adalah alat yang digunakan pada saat melakukan

pendetailan, menebalkan atau memberi warna pada mandala.

Gambar 3. 4 Drawing pen untuk pendetailan

Penggunaan alat dan bahan tersebut dipilih agar siswa/i mampu membuat karya mandala yang terdiri dari pola ataupun simbol secara mengikuti kaidah yang berlaku, kemudian pola atau simbol tersebut akan mengisi mandala secara melingkar dan penuh.

3.4 Strategi Kreatif

3.4.1 Isi Pesan

Dalam perancangan mandala sebagai bahan media belajar, penulis memberikan bahasan materi kepada siswa/i berupa konsep dan pengetahuan

(7)

bahasa rupa (encoding), yang kemudian ditangkap oleh siswa/i dalam bentuk pemahaman (decoding). Ini merujuk pada teori pendekatan humanistic, yaitu siswa/i akan belajar dengan baik dari apa yang mereka mau dan perlu ketahui. Saat mereka telah mengembangkan kemampuan untuk menganalisa apa dan mengapa, penting bagi siswa/i untuk dapat mengarahkan kemampuannya dalam mencapai hasil akhir dengan tepat dan cepat. Penulis menciptakan suatu bentuk komunikasi dalam proses belajar mengajar, yang dapat menciptakan suasana yang kondusif dalam belajar serta kreatif dalam menggunakan mandala sebagai media belajar siswa/i.

Dalam strategi kreatif ini, penulis akan membagi dalam beberapa bagian antara lain, konsep pembuatan mandala secara manual, dan proses pembuatan atau produksi, yang akan dijabarkan sebagai berikut:

3.4.2 Konsep mandala secara manual

 Siswa/i memahami proses perancangan mandala dengan membangun konsep dari kaidah-kaidah yang ada pada mandala.

 Menciptakan makna dari bentuk motif, yang berlatar belakang dari hasil pengamatan bentuk di sekitar mereka.

 Menggunakan unsur-unsur grafis, seperti garis, titik, bentuk, dan ruang.

 Menggunakan alat (tools) yang sederhana, seperti pensil, spidol, jangka, kertas gambar ukuran A3 dalam pembuatan mandala secara manual.

(8)

 Penggunaan unsur nirmana dalam beberapa bagian yang akan dibuat, seperti contohnya adalah titik dengan teknik pointilis, yang dapat digunakan untuk mengisi suatu bidang atau ruang dalam mandala manual.

3.5 Strategi Visual

3.5.1 Unsur Visual Komunikasi

Berikut ini adalah data table pemaknaan dari bahasa rupa dalam komunikasi visual yang terdiri dari unsur-unsur yang mendasar dan dapat dipergunakan dalam proses pembuatan mandala secara manual :

No

Jenis Visual Kesan

1 Garis Horizontal

Garis Horizontal memberi karakter tenang (calm), damai, pasif, kaku, serta melambangkan ketenangan, kedamaian, kemantaban, dan istirahat.

2 Garis Vertikal

Garis Vertikal memberikan karakter keseimbangan (stability), megah, kuat, tetapi statis, dan kaku serta melambangkan kestabilan, keseimbangan, kemegahan,

(9)

kekuatan, kekokohan, kejujuran, dan kemasyuran.

3 Garis Diagonal

Garis Diagonal memberikan karakter gerakan

(movement), gerak lari/ meluncur, dinamik, tak

seimbang, gerak gesit, lincah, menggetarkan serta melambangkan kedinamisan, kegesitan, dan kelincahan.

4 Garis Zig-zag

Garis Zig-Zag memberi karakter bergairah

(excited), semangat, bahaya, dan mengerikan.

Karena dibuat dengan tikungan-tikungan tajam dan mendadak, maka mengesankan nervous.

5 Garis Lengkung Garis ini memberi karakter ringan, dinamis, dan kuat serta melambangkan kemegahan, kekuatan, dan kedinamikan.

6 Garis Lengkung S

Garis Lengkung S memberi karakter indah, dinamis, dan luwes serta melambangkan keindahan, kedinamisan dan keluwesan. 43

7 Lingkaran

Dinamis, bergerak, kecepatan, berulang, tak terputus, tak berawal, dan tak berakhir, abadi, kualitas, dan dapat diandalkan, sempurna,

(10)

matahari, kehidupan, semesta.

8 Kotak

Stabil, diam, kokoh, teguh, rasional, keunggulan teknis, formal, sempurna, dapat diandalkan, kejujuran, integritas.

9 Segitiga

Stabil, diam, kokoh, megah, teguh, rasional, api, kekuatan, gunung, harapan, terarah, progress, bernilai, suci, sukses, sejahtera, keamanan.44

10 Titik

Titik dan bintik ini adalah elemen pembentuk awal suatu gambar. Titik (point) adalah suatu area dan membentuk

sesuatu namun cenderung relatif kecil.45 Gambar 3. 5 Jenis dan kesan garis

44 Surianto Rustan, S.Sn, Mendesain Logo, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009) hal 47-48.

45

(11)

Jenis (motif manusia)

Keterangan

Demikian pula dalam proporsi, sosok manusia dapat dibuat kurus atau sangat langsing sehingga menjadi pola-pola garis yang sangat kuat, atau dapat pula dengan bagian kepala yang besar dengan kaki pendek, dan sebagainya. Bentuk menjadi terdistorsi maupun terstilisasi. Melalui cara-cara demikian justru lebih menampakkan karakter yang kuat, berdaya ungkap yang tinggi, ekspresif, dan mengandung muatan simbolis.46

46

Drs. Aryo Sunaryo,M.Pd. Seni, Ornamen Nusantara Kajian Khusus tentang Ornamen Indonesia, (Semarang: Dahara Prize ,2009 ), hlm. 40.

(12)

Jenis (motif tumbuhan)

Keterangan

Jenis tanaman tertentu seperti teratai yang banyak muncul pada motif hias sejak zaman Hindu dan pohon kalpataru atau pohon hayat memiliki makna simbolik masing-masing.47

Jenis (motif hewan)

Keterangan

Pada umumnya munculnya ornamen motif binatang mengandung maksud-maksud perlambangan. Bangsa burung atau ungags misalnya, mewakili dunia atas, dunia roh, dunia para dewa. Sebaliknya binatang air dan melata mewakili dunia bawah, dunia yang gelap, tetapi juga melambangkan bumi kesuburan. Dunia tengah dihuni manusia, terkait dengan aneka binatang yang hidup di darat berkaki empat.48

47 Drs. Aryo Sunaryo,M.Pd. Seni, Ornamen Nusantara Kajian Khusus tentang Ornamen Indonesia,

(Semarang: Dahara Prize ,2009 ), hlm. 153.

48

(13)

Jenis (motif khayali)

Keterangan

Drs. Aryo Sunaryo, M.Pd. Seni49 menyatakan bahwa motif khayali adalah makhluk-makhluk imajinatif, karena binatang-binatang itu hanya ada dalam mitos, dan bentuknya merupakan hasil pengkhayalan belaka.disamping itu terdapat bentuk-bentuk binatang khayalan atau makhluk imajinatif lain yang benar-benar berbeda dengan binatang umumnya.

Jenis

(motif pemandangan)

Keterangan

Motif hias benda alam dan pemandangan diciptakan dengan mengambil inspirasi dari alam, misalnya benda-benda langit seperti matahari, bulan, bintang, dan awan; kemudian air, api, gunung, perbukitan, dan bebatuan.50

Tabel 3. 1 Jenis motif

49 Drs. Aryo Sunaryo,M.Pd. Seni, Ornamen Nusantara Kajian Khusus tentang Ornamen Indonesia,

Semarang: Dahara Prize. 2009 hal 146.

50

(14)

3.5.2 Tipe mandala yang dibuat

Menyesuaikan dengan apa yang telah dipaparkan sebelumnya di bab ini, maka penulis memutuskan untuk membuat sebuah perancangan mandala secara manual, dengan teknik gambar. Yang memadukan antara teknik pembuatan manual menggunakan sketsa kasar oleh tangan sampai pendetailan serta memadukan unsur-unsur komunikasi visual yang mewakili bahasa rupa.

3.5.3 Layout mandala secara manual

Layout mandala bersifat lingkaran, dan lingkaran ini merupakan kadiah pertama dalam proses pembuatan mandala, kemudian menentukan titik pusat mandala, yaitu titik tengah pada lingkaran gemoetri tersebut. Pembuatan layout mandala di lakukan dengan dengan membuat sketsa kasar terlebih dahulu menggunakan pensil. Ini bertujuan agar mempermudah pada pendetailan atau hasil akhir dengan urutan yang telah dibuat pada saat sketsa kasar.

(15)

(16)

Penggunaan sketsa kasar bertujuan supaya siswa/i dapat menerka serta menggambarkan pola dan ornamen sesuai dengan kemauan mereka sebelum hasil akhir atau pendetailan.

(17)

3.6 Analisis Media

3.6.1 Analisis SWOT Strength (kekuatan)

 Belum digunakannya mandala sebagai media belajar untuk meningkatkan kreatifitas pada para pelajar SMK.

 Para siswa/i dapat menciptakan suatu ornamen sesuai dengan kemauan sesuai hasil pengamatan dan imajinasi mereka sendiri untuk membuat mandala.

 Kemudahan dalam pembuatan mandala yang tidak memerlukan banyak alat untuk menciptakan karya yang indah.

 Menggunakan teknik manual, karena dengan teknik manual siswa/i dapat memiliki modal utama dalam dunia desain.

Weakness (kelemahan)

 Kurangnya refrensi literatur mandala secara utuh sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan daya kreatifitas pelajar.

 Sangat sulit menemukan buku yang mengupas tuntas tentang mandala di Indonesia

(18)

Opportunities (kesempatan)

 Masih minimnya pengetahuan para pelajar tentang seni tradisional mandala di Indonesia.

 Belum ada yang menggunakan mandala sebagai media pembelajaran dalam suatu kegiatan belajar mengajar.

Threat (ancaman)

 Terdapat beberapa siswa/i yang kurang antusias membuat mandala secara manual.

Gambar

Gambar 3. 1 Kertas A3 untuk mandala
Gambar 3. 3 Jangka untuk membuat layout kerangka mandala
Gambar 3. 5 Jenis dan kesan garis
Tabel 3. 1 Jenis motif
+2

Referensi

Dokumen terkait

Didalam perancangan media promosi yang berupa poster dilakukan suatu rancangan agar target sasaran berminat untuk memakai fasilitas yang ada di Taman Budaya Jawa

Strategi perancangan yang akan dibuat adalah mengenai tentang media informasi yang berhubungan dengan masalah yang dibahas sebelumnya yaitu tentang

Dalam pendekatan komunikasi verbal perancangan city branding ini juga memadukan antara urban dan tradisional, selain menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa yang digunakan

Agar pesan dapat disampaikan dengan baik dan menjadi solusi dari permasalahan maka dibutuhkan strategi perancangan media informasi yang dapat memudahkan dan diterima

Tujuan komunikasi perancangan mengenai legenda Telaga Warna ini adalah untuk menyampaikan informasi mengenai pesan moral yang terdapat pada cerita Telaga Warna, agar

Dimana dalam perancangan media informasi berupa video dokumenter menggunakan narasi informatif dari hasil wawancara seniman Yalil dan Instansi Terkait,

Pendekatan visual yang akan ditampilkan dalam perancangan promosi TORCH yaitu dengan menggunakan pendekatan fotografi dimana menampilkan suasana, emosi, dan media

Dalam tahap informasi untuk perancangan video komunitas Converse Head Indonesia regional Bandung, media pendukung dijadikan sebagai tahap informasi. Hal ini