- 25 -
1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Kabupaten Raja Ampat dengan Ibu Kota Waisai resmi menjadi daerah otonomi pada tanggal 12 April 2003 yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Sorong. Luas wilayahnya diperkirakan 46.000 Km persegi, 85% merupakan wilayah perairan laut, dan sisanya sekitar 6.000 Km persegi merupakan daratan. Kabupaten ini memiliki sekitar 610 pulau. Empat diantaranya pulau-pulau besar yaitu Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Pulau Waigeo.
Perairan dengan keindahan alam bawah airnya dengan memiliki tingkat
ISN.2301—7163
Jurnal Airaha
Volume III, Edisi 1
Perairan Kabupaten Raja Ampat sudah terkenal dengan keindahan alam bawah airnya dengan memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi di dunia, khususnya untuk terumbu karang dan ikan. Dari Penelitian Rapid Assessment Program yang dilakukan oleh Conservation International (CI) Indonesia di Raja Ampat pada tahun 2002 pada 45 titik lokasi penelitian, teridentifikasi sebanyak 288 jenis karang yang terdapat di Raja Ampat, yang berarti lebih dari 50% jenis terumbu karang di dunia berada di Kepulauan Kabupaten Raja Ampat.
ESTIMASI INDEKS KERAGAMAN IKAN KARANG DI DAERAH PERLINDUNGAN LAUT (DPL) KABUPATEN RAJA AMPAT - PAPUA BARAT
Franklyn Hoek*, Abdul Ghofir**, dan Arhandy Arfah***
Abstrak
Kabupaten Raja Ampat Luas wilayahnya diperkirakan 46.000 Km persegi, 85% merupakan wilayah perairan laut, dan sisanya sekitar 6.000 Km persegi merupakan daratan. Kabupaten ini memiliki sekitar 610 pulau. Tujuan penelitian untuk melihat keanekaragaman dan kelimpahan jenis ikan karang yang ada pada lokasi Daerah Perlindungan Laut (DPL) di kabupaten Raja Ampat di perairan wilayah Kecamatan Waigeo Selatan, Meosmansar, Waigeo Barat, Waigeo Barat Kepulauan dan Selat Sagawin Kabupaten Raja Ampat. Hasilnya Kelimpahan ikan karang di keseluruhan DPL (23 Lokasi) Kabupaten Raja Ampat ditemukan sebanyak 178 jenis ikan karang yang termasuk dalam 24 suku. Jenis ikan karang yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Jenis
Pterocaesio tile (famili Caesionidae). Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat pada hampir disemua DPL, hal itu dapat diketahui bahwa komunitas dalam keadaan stabil atau keragaman tinggi dengan jumlah individu tiap spesies seragam dan tidak ada yang dominan (H’>3), sedangkan Indeks keanekaragaman terendah hanya terdapat pada DPL Kampung Kapisawar dan kampung Kurkapa disebabkan kelimpahan jenis Lutjanus biguttatus dan Caesio caerulaurea cukup banyak jumlah individunya, hal ini dapat diketahui bahwa kumunitas dalam keadaan sedang kestabilannya atau keanekaragaman sedang dengan jumlah individu tiap spesies tidak seragam tetapi tidak ada yang dominan (1< H’< 3). Indeks keseragaman (E) hampir disemua DPL, keseragaman spesies tinggi (E> 0) sedangkan pada DPL Kampung Kapisawar dan Kampung Kurkapa, keseragaman spesies sedang (0,4 < E < 0,6). Indeks dominan (C) pada semua DPL yang berada di kabupaten Raja Ampat, ini menunjukan rendah bahwa ada cenderungan tidak ada individu yang mendominasi komunitas tersebut. Dan Uji beda terdapat perbedaan nilai jumlah individu yang signifikan dari 23 DPL.
Kata Kunci : Keragaman Jenis Ikan, DPL Raja Ampat.
*) Dosen Teknologi Penangkapan Ikan, AP- Sorong **) Instruktur Penangkapan Ikan, AP- Sorong ***) Penyuluh Perikanan Pusat, AP- Sorong
- 26 - di dunia berada di Kepulauan
Kabupaten Raja Ampat. Jenis ikan yang teridentifikasi sebanyak 828 jenis dan 699 jenis moluska. Ini memperlihatkan bahwa Kabupaten Raja Ampat mempunyai potensi sumberdaya laut yang sangat tinggi.
Pada Daerah Perlindungan Laut merupakan kawasan laut yang ditetapkan dan diatur sebagai daerah “larang ambil”, secara permanen tertutup bagi berbagai aktivitas pemanfaatan yang bersifat ekstraktif. Urgensi keberadaan Daerah Perlindungan Laut (DPL) adalah untuk menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati pesisir dan laut, seperti keanekaragaman terumbu karang, ikan, tumbuhan dan organisme laut lainnya, serta lebih lanjut dapat meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka penelitian untuk melihat kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominan jenis ikan yang menjadi bagian ekosistim terumbu karang dan membangun sistem pengelolaan sumberdaya terumbu karang tersebut sangat dibutuhkan, sehingga akan memudahkan dalam melakukan pemantuan serta pengelolaannya.
Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan dilokasi daerah perlindungan laut, untuk melihat bagaimanan kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman, dominan jenis ikan karang dan mengetahui perbedaan jumlah individu yang ada di Daerah Perlindungungan Laut (DPL) pada perairan wilayah Kecamatan Waigeo Selatan,
Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
mengetahui perbedaan jumlah individu yang ada di Daerah Perlindungungan Laut (DPL) pada perairan wilayah Kecamatan Waigeo Selatan, Meosmansar, Waigeo Barat, Waigeo Barat Kepulauan dan Selat Sagawin Kabupaten Raja Ampat.
2. METODA PENELITIAN 2.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Kegiatan penelitian berlangsung pada bulan Januari–Februari 2009, yang dilakukan 22 kampung dengan 23 lokasi DPL permanen transek yang telah dipasang pada di wilayah COREMAP II WB Distrik Waigeo Selatan, Distrik Meosmansar, Waigeo Barat, Waigeo Barat Kepulauan dan Selat Sagawin Kabupaten Raja Ampat. Dapat gambar 1. Peta Lokasi
2.2 Peralatan Penelitian
Alat-alat yang digunakan dalam pengamatan ikan karang di lapangan adalah 1) Peralatan SCUBA Diving. 2) Alat tulis bawah air. 3) Kamera bawah air. 4) Roll meter. 5) Speed Boat.
- 27 - Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
dimana : H' = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, Pi = Perbandingan jumlah ikan karang spesies ke-i (ni) terhadap jumlah total ikan karang (N) = ni/N dan n = Jumlah spesies ikan karang.Kisaran nilai indeks keanekaragaman, menurut Lee et al (1978), kondisi kestabilan suatu komunitas dibedakan menjadi 3 kreteri berdasarkan indeks H’ tersebut, masing-masing :
H' < 0 : Komunitas dalam keadaan tidak stabil atau keragaman rendah dengan jumlah individu tidak seragam dan salah satu spesies ada yang dominan.
1 < H' < 3: Komunitas dalam keadaan sedang kestabilanya atau keragaman sedang dengan jumlah individu tiap spesies tidak seragam tetapi tidak ada yang dominan.
H' > 3 : Komunitas dalam keadaan stabil atau keragaman tinggi dengan jumlah individu tiap spesies seragam dan tidak ada yang dominan. Untuk memastikan akurasi nilai indeks H’ maka seringkali didukung indeks keseragaman/perataan jenis (E)
E)
Keseimbangan komunitas ikan karang dapat diketahui melalui indeks
2.3 Metode Penarikan Sampel
Pada setiap titik transek permanent, digunakan metoda “Underwater Fish Vusial Census” (UVC), dimana ikan –ikan yang dijumpai pada jarak 2,5 meter di sebelah kiri dan kanan garis transek sepanjang 25 meter dicatat jenis dan jumlahnya ikan. Sehingga luas bidang yang teramati per transeknya yaitu (5m x 25 m) = 125 m2. Bantuan
program RHM (Reef Health Monitoring) Analysis.
2.4. Metode Analisis Data
a. Kelimpahan Ikan Karang
Yang dimaksud dengan kelimpahan ikan karang adalah jumlah ikan karang yang ditemukan pada suatu stasiun pengamatan per satuan luas transek pengamatan. Rumus kelimpahan ikan karang menurut Odum (1971) :
Dimana : Xi = Kelimpahan ikan karang ke-1, xi = Jumlah total ikan karang pada stasium pengamatan ke-1 dan n = Luas transek pengamatan. b. Indeks Keanekaragaman (H')
Indeks keanekaragaman yang paling umum digunakan adalah indeks keanekaragaman Shannon-Wiener yang diterapkan pada komunitas acak dalam ukuran yang besar dimana jumlah total spesies diketahui (Krebs, 1972)
dimana : H' = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener, Pi = Perbandingan jumlah ikan karang
- 28 - c. Indeks Keseragaman (E)
Keseimbangan komunitas ikan karang dapat diketahui melalui indeks keseragaman populasi (E). Indeks keseragaman populasi adalah ukuran kesamaan jumlah individu antar spesies dalam suatu komunitas, yang merupakan perbandingan antara keseragaman dengan keseragaman maksimum. Perhitungan indeks keseragaman modifikasi Eveness adalah seperti berikut :
Dimana : E = Indeks Keseragaman (equitabiim Eveness), Hmaks =
Keane-karagaman spesies dalam keseim-bangan maksimum = In S dan S = Jumlah spesies
Indeks keseragaman menunjukkan dis-tribusi jumlah individu dalam setiap spesies yang ada. Indeks keseragaman mempunyai nilai berkisar antara 0 — 1 dengan kisaran sebagai berikut (Krebs, 1989), yaitu :
E > 0,6 : Keseragaman spesies tinggi. 0,4 < E < 0,6 : Keseragaman spesies
sedang.
E < 0,4 : Keseragaman spesies rendah. Jika nilai keseragaman men-dekati 0 berarti dalam ekosistem terse-but terclapat kecenderungan dominan-si spedominan-sies tertentu yang mungkin disebabkan adanya keticlakstabilan faktor lingkungan. Sedangkan jika nilai indeks mendekati 1, menunjukkan bahwa ekosistem tersebut berada dalam kondisi relatif mantap dimana jumlah individu tersebar merata di setiap spesies yang ada (Krebs, 1989).
Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
d. Indeks Dominansi (C)
Untuk melihat adanya dominansi suatu jenis tertentu di dalam komunitas ikan karang digunakan Indeks Dominansi Simpson (Krebs, 1989) dengan rumus :
dimana : C = Indeks Dominansi Simpson, Pi = Jumlah individu spesies ke-i dan n = Jumlah total individu. Kisaran indeks dominansi (C) terletak antara 0 – 1. Semakin mendekati 0 berarti cenderung tidak ada individu yang mendominasi komunitas tersebut yang biasanya diikuti dengan nilai indeks keseragaman yang besar. Sebaliknya apabila mendekati nilai 1, berarti ada kecenderungan dominasi satu atau lebih spesies dalam komunitasnya clan biasanya diikuti dengan nilai indeks keseragamannya yang kecil (Krebs, 1989).
Kisaran nilai indeks dominansi yaitu : 0,00 < C < 0,50 Dominansi rendah 0,50 < C < 0,75 Dominansi sedang 0,75 < C < 1,00 Dominansi tinggi
e. Uji Kruskal-Wallis ( Uji Sampel Bebas)
Uji n sampel bebas berarti akan menguji lebih dari dua sampel yang bersifat bebas satu dengan lain, untuk itu melihat rata-rata ke-n sampel dari 23 DLP di Kabupaten Raja Ampat apakah relatif sama atau tidak berbeda secara signifikan. Ini proses dengan menggunakan Minitab 15 for dan Statistik uji yang digunakan dalam kasus ini ( Furqon, 2004) adalah
- 29 - Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
dan Waisilip. Sedangkan Wilayah ini kaya akan terumbu karang dan memiliki keanekaragaman ikan karang yang tinggi, hal ini menunjukan kelimpahan ikan karang tertinggi pada kampung Kapisawar dan kurkapa, hal ini disebabkan banyak ditemukan famili/suku Lutjanidae dan Caesionidae.
Tabel 1. Hasil analisa kelimpahan ikan, indeks keragaman (H), indeks kemerataan (E), Indeks Dominan (C) ikan karang dan tutupan karang pada DPL di Kabupaten Raja Ampat.
Dari tabel 1 diatas dapat digambarkan kondisi tutupan terumbu karang yang yang berada pada DPL di Kabupaten
Raja Ampat terlihat pada grafik gambar 1 dibawah ini :
Diman : n = = jumlah keseluruhan data, k = banyaknya sampel, ni = banyaknya data per
variabel, dan ri = jumlah ranking
sampel ke - i
H0 = Tidak terdapat perbedaan jumlah individu yang signifikan dari 23 DPL.
H1 = Terdapat perbedaan jumlah individu yang signifikan dari 23 DPL.
Keputusan :
Probabilitas > 0,05 H0 diterima dan H1 ditolak
Probabilitas < 0,05 H0 ditolak dan H1 diterima
3. HASIL PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisa kelimpahan ikan, indeks keragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominan jenis ikan karang dapat disajikan pada Tabel 1 dapat digambarkan Keanekaragaman (H’), keseragaman/kemerataan (E) dan Dominan (C) jenis ikan karang yang berada pada DPL di kabupaten Raja Ampat.
Pada gambar 1 grafik bar ini menunjukan bahwa tutupan karang pada diatas 50% masuk dalam katagori baik dan sangat baik, namun ada 2 kampung yang masuk dalam katagori sedang seperti kampung Mutus dan Waisilip. Sedangkan Wilayah ini kaya akan terumbu karang dan memiliki keanekaragaman ikan karang yang
- 30 - Gambar 1 : Grafik line, Kelimpahan
ikan karang, dan Grafik Bar tutupan karang yang berada pada DPL di Kabupaten Raja Ampat.
Dari Tabel 1 dan Gambar 2. memperlihatkan hasil analisa indeks keanekaragaman (H’) bahwa nilai indeks keanekaragaman (H’) berkisar antara 1,75 hingga 3,69 atau rata-rata 3,21.
Indeks keanekaragaman ”terendah” terdapat pada Kampung Kapisawar ( DPL Tandi) dan Kampung Kurkapa (DPL Jendesner) disebabkan kelimpahan jenis Lutjanus biguttatus dan Caesio caerulaurea cukup banyak jumlah individunya. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa kumunitas dalam keadaan sedang kestabilannya atau keanekaragaman ”sedang” dengan jumlah individu tiap spesies tidak seragam tetapi tidak ada yang dominan (1 < H’ < 3), sedangkan keanekaragaman ”tertinggi” terdapat bahwa komunitas dalam keadaan stabil atau keragaman ”tinggi” dengan jumlah individu tiap spesies seragam dan tidak ada yang dominan ( H’ > 3 ).
Menurut Krebs (1972), bahwa ukuran kekayaan komunitas dilihat dari jumlah spesies dalam suatu kawasan berikut jumlah individu dalam tiap
Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
spesiesnya. Indeks ini juga mengasumsikan bahwa semakin banyak jumlah anggota spesies maka semakin penting peranan spesies itu dalam komunitas tersebut, walaupun hal ini tidak selalu berlaku. Semakin banyak spesies maka komunitasnya akan semakin beragam dan nilai indeks keanekaragamannya pun semakin besar.
Hal yang sama Odum (1971) mengatakan jika suatu komunitas memiliki indeks Shannon (H’) mencapai 4,0 maka komunitas tersebut mempunyai keragaman spesies yang tinggi, selanjutnya dikatakan bahwa komunitas suatu daerah yang jauh dari muara sungai serta keadaan lingkungan perairan yang masih alami mempunyai nilai indeks shannon (H’) yang tinggi.
Odum (1975) mengatakan bahwa jika suatu ekosistem mendapat subsidi berupa unsur dalam jumlah yang besar memiliki keragaman spesies yang rendah, selanjutnya dikatakan pula bahwa suatu komunitas dikatakan stabil jika indeks keserasian berkisar antara 0,6 - 0,8
Gambar 2 : Grafik line, Ke-anekaragaman (H’) Jenis ikan karang yang berada pada DPL di Kabupaten Raja Ampat.
- 31 - Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
Semakin mendekati 0 berarti cenderung tidak ada individu yang mendominasi komunitas tersebut, yang biasanya diikuti dengan nilai indeks keseragaman yang besar. Sebaliknya apabila mendekati nilai 1, berarti ada kecenderungan dominasi satu atau lebih spesies dalam komunitasnya dan biasanya diikuti dengan nilai indeks keseragamannya yang kecil Hasil perhitungan beberapa indeks struktur komunitas tertera dalam Tabel 1 bahwa Indeks dominan (C) dan Indeks keanekaragaman jenis (H) dihitung berdasarkan komposisi jenis.
Hubungan terbalik, karena nilai C adalah nilai kuadratik sedangkan nilai H adalah nilai logaritmit Jika nilai C rendah, maka nilai H tinggi, menunjukkan tidak ada jenis atau kelompok ikan yang dominan atau dengan kata lain keanekaragaman jenis tinggi, sebaliknya jika nilai C tinggi, maka nilai H rendah, menunjukkan ada jenis atau kelompok ikan yang dominan dalam komunitas.
Hasil Uji beda dengan analisis kruskal-Wallis test, untuk itu melihat rata-rata ke-n sampel dari 23 DLP di Kabupaten Raja Ampat, dengan menggunakan Minitab 15 for windows, terlihat pada tabel 2. di atas nampak bahwa nilai jumlah individu yang signifikan antara 23 DPL, paling besar pada lokasi DPL Tanadi/ Kampung Kapisawar dan DPL Ayop/ Kampung Arefi (median 8,00). Dari tabel 1 dan gambar 2.
memperhatikan hasil analisa indeks keseragaman ( E ) berkisar antara 0,46 hingga 0,89 dan rata –rata 0,79. Keseragaman ”terendah” terdapat pada Kampung Kapisawar ( DPL Tandi) dan Kampung Kurkapa ( DPL Jendesner ), dimana keseragaman spesies sedang (0,4 < E < 0,6 ), sedangkan DPL di Kampung yang lain (21 DPL) keseragaman spesies ”tinggi” ( E > 0,6).
Krebs, (1989) mengatakan bahwa Jika nilai keseragaman mendekati 0 berarti dalam ekosistem tersebut terdapat kecenderungan dominansi spesies tertentu yang mungkin disebabkan adanya ketidakstabilan faktor lingkungan. Sedangkan jika nilai indeks mendekati 1, menunjukkan bahwa ekosistem tersebut berada dalam kondisi relatif mantap dimana jumlah individu tersebar merata di setiap spesies yang ada.
Dari tabel 1 dan Gambar 2. memperlihatkan hasil analisa indeks dominan (C) adalah untuk melihat adanya dominan suatu speseis tertentu didalam komunitas ikan karang. Indeks dominan (C) berkisar antara 0,04 hingga 0,26, dan rata-rata 0,08. Indeks dominan (C) ”terendah” (0,00 < E < 0,30) terdapat pada semua DPL yang berada di kabupaten Raja Ampat, ini menunjukan bahwa ada cenderungan tidak ada individu yang mendominasi komunitas tersebut. Krebs (1989). Bahwa kisaran indeks dominansi (C) terletak antara 0 – 1
- 32 - Sebaliknya yang terendah terjadi pada
DPL Jendesner/ Kampung Kurkapa (median 2,00). Selanjutnya uji Kruskal -Wallis terlihat bahwa H0 ditolak, dimana H (64,68) > = 33,92 atau P (0.000) < 0,05, maka H1 diterima berarti terdapat perbedaan nilai jumlah individu yang signifikan dari 23 DPL
Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
4. SIMPULAN DAN SARAN 4.1. Simpulan
Dari hasil pengamatan ikan karang pada DPL yang berada di Kabupaten Raja Ampat, maka hasilnya sebagai berikut :
1. Kelimpahan ikan karang di kese-luruhan DPL (23 Lokasi) Kabupat-en Raja Ampat ditemukan sebanyak 178 jenis ikan karang yang terma-suk dalam 24 terma-suku. Jenis ikan ka-rang yang memiliki kelimpahan tertinggi adalah Jenis Pterocaesio tile (famili Caesionidae)
2. Indeks keanekaragaman (H’) tertinggi terdapat pada hampir disemua DPL, hal itu dapat diketahui bahwa komunitas dalam keadaan stabil atau keragaman tinggi dengan jumlah individu tiap spesies seragam dan tidak ada yang dominan (H’> 3 ), sedangkan Indeks keanekaragaman terendah hanya terdapat pada DPL Kampung Kapisawar dan kampung Kurkapa disebabkan kelimpahan jenis Lutjanus biguttatus dan Caesio caerulaurea cukup banyak jumlah individunya, hal ini dapat diketahui bahwa kumunitas dalam keadaan sedang kestabilannya atau keanekaragaman sedang dengan jumlah individu tiap spesies tidak seragam tetapi tidak ada yang dominan ( 1 < H’ < 3 ).
3. Indeks keseragaman (E) hampir disemua DPL, keseragaman spesies tinggi (E> 0) sedangkan pada DPL Kampung Kapisawar dan Kampung Kurkapa, keseragaman spesies sedang (0,4 < E < 0,6 ),
- 33 - Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
Furqon (2004). Statistika Terapan un-tuk Penelitian. Alfabeta, Ban-dung
Krebs,C.J. (1972). Ecology: The Ex-perimental Analysis of Distri-bution and Abudance. Harper and Row Publisher. New York.
_________ (1989) Ecologycal Methodology. Harper and Row. Publishing, New York
Lee, C.D., S.B. Wang & C.L. Kao, (1978), Benthic Macroinver-tebrate and Fish as Biological Indicator of Water Quality with Reference to Communi-ty
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indo-nesia. (1997). Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penelitian, Monitoring, dan tvaivasi Terumbu Karang daiam Coremap. Pusat Penelitian dan Pengem-bangan Oseanologi, Proyek Rehabilitasi dan Pengel-olaan Terumbu Karang. Ja-karta.
Odum, RP, (1971). Fundamental Ecology, W.B Sauders, Co, London
________ (1975). Ekology, Sec-ond Edition. Peart offs Press. New Delhi. India.
4. Indeks dominan (C) pada semua DPL yang berada di kabupaten Raja Ampat, ini menunjukan rendah bahwa ada cenderungan tidak ada individu yang mendominasi komunitas tersebut.
5. Uji beda terdapat perbedaan nilai jumlah individu yang signifikan dari 23 DPL
4.2 Saran
Dari hasil di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut :
1. Perlu di lindungi oleh masyarakat setempat bawah lokasi DPL ini tepat dijadikan daerah konservasi sebab komunitas ikan karang pada DPL dalam keadaan stabil atau keragaman tinggi dengan jumlah individu tiap spesies seragam, 2. Perlu tingkat pengetahuan bagi
masyarakat tentang pemahaman keanekaragaman jenis ikan karang lebih khusus jenis ikan Indicator (famili chaetodontide) sebab ikan indicator semakin tinggi akan membuat karang semakin baik kesehatannya.
3. Perlu ada penelitian lanjutan untuk melihat faktor-faktor oceanografi seperti suhu, salinitas, kecerahan dan kecepatan arus pada DPL tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Allen, G.R., Dr. & Roger Steene, (1999). Indo-Pacific : Coral Reef, Field Guide. Tropical Reef Research. Singapore.
- 34 - Edisi 01 Juli 2014
Jurnal Airaha
Purwanti, D.R. (2004). Dinamika Struktur Komunitas Ikan Karang Pada Pagi, Siang dan Sore Hari di Perairan Pulau Payung Kepulauan Seribu. Institut Pertanian Bogor, Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bogor.
Tulungen J.J, Noni Tangkilisan, Meidiarti Kasundi, Christovel Rotinsulu, Maria Dimpudus (2003). Contoh Dukumen Dari Pengelolahan Sum-berdaya Wilayah Pisisir Berbasis Masyarakat Di Sulawesi Utara, Manado, seri PSWP-BM
Sadewo, A. (2006). Penentuan Spesies Ikan Karang Berdasarkan Sistem Pakar
(Expert System) : Studi Kasus Famili Chaetodontidae, Pomacentridae,
Scaridae dan Serranidae. Institut Pertanian Bogor, Departemen Mana-jemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Bo-gor.