ANALISIS STABILITAS LOKAL DAN KONTROL OPTIMAL PADA TERAPI OBAT DALAM PENGOBATAN KANKER
Oleh : Nur Aina Maziun
1206 100 010 Dosen Pembimbing :
Drs. Kamiran, M.Si. Drs. M. Setijo Winarko, M.Si.
Jurusan Matematika
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2010 ABSTRAK
Kontrol optimal konsentrasi obat dalam jaringan darah pada terapi kanker merupakan salah satu aplikasi dari kontrol optimal. Metode kontrol optimal ini diterapkan untuk mengendalikan sel – sel kanker dengan penggunaan terapi obat (kemoterapi) seminimal mungkin. Teknik kemoterapi, sebagai salah satu cara penanganan penyakit kanker, selain membunuh sel-sel kanker juga dapat mengakibatkan rusaknya sel-sel normal. Hal ini disebabkan sel normal juga akan menyerap obat senyawa kimia yang digunakan untuk kemoterapi. Oleh karena itu, Pada Tugas Akhir ini, dibahas analisis stabilitas lokal dan kontrol optimal pada terapi obat dalam pengobatan kanker tersebut pada sistem taklinear dengan menggunakan bang – bang control dan singular control untuk masalah pertumbuhan sel - sel kanker .
Kata Kunci: Kontrol Optimal, Kanker, Stabilitas lokal, Bang – bang dan Singular Control
1. Pendahuluan
Kanker adalah salah satu dari penyakit berbahaya yang menyebabkan banyak kematian setiap tahun. Kanker dalam tubuh berarti hilangnya kontrol selular dalam tubuh, sehingga pertumbuhan sel yang tidak baik menjadi tidak terkontrol. Sel-sel kanker ini akan menyerang jaringan lokal, berpindah ketempat lain dan berkembang biak. Kanker sendiri bermula dari sel yang bermutasi dan berubah. Sel abnormal (tumor) ini mempertahankan mutasinya melalui proses reproduksi sel meskipun terdapat usaha dari sistem pertahanan tubuh yang berusaha mengeleminasi sel-sel abnormal. Sel-sel yang bermutasi ini (berasal dari DNA yang abnormal) kemudian bergerak ke sekujur tubuh dan berdiam di satu atau lebih organ tubuh.
Untuk menangani hal tersebut sudah dikembangkan teknologi medis baru oleh para ilmuwan seperti terapi gen dan imunoterapi, tetapi teknik tersebut masih dalam masa perkembangan dan banyak negara yang belum menggunakannya. Oleh karena itu, teknik pengobatan tradisional seperti kemoterapi, masih diterapkan.
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan sitotoksik dalam terapi kanker. Kemoterapi bersifat sistemik .
Kemoterapi harus dilakukan dengan hati-hati karena kemoterapi tidak hanya membunuh sel-sel kanker, tetapi juga membunuh sebagian dari jaringan-jaringan yang normal atau mengakibatkan kerusakan yang serius pada jaringan yang normal. Karena itu, pemberian dosis dari pengobatan (kemoterapi) yang dilakukan harus optimal agar
kerusakan jaringan sehat minimal sedangkan sel kanker yang terbunuh maksimal [6].
Dalam tugas akhir ini dibahas analisis stabilitas lokal dan kontrol optimal pada terapi obat dalam pengobatan kanker dengan menggunakan bang – bang control dan singular control untuk masalah pertumbuhan kanker. 2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada tugas akhir dalam menyelesaikan permasalahan adalah : 1. Studi pendahuluan
2. Analisis kestabilan lokal 3. Penyelesaian optimal control 4. Simulasi
5. Analisis hasil simulasi 6. Kesimpulan dan saran 3. Tinjauan Pustaka
3.1 Model Pertumbuhan Kanker[2].
dengan, yang merupakan pengaruh kemoterapi terhadap sistem
N(t) : sel- sel normal T(t) : sel - sel tumor (tumor
ganas /kanker)
I(t) : sel-sel imun
4 3 2 1,c ,c , dan c c : parameter interaksi persaingan i i dan b
r : parameter yang mewakili tingkat pertumbuhan per kapita dan daya dukung timbal balik, dimana i = 1, 2 yang berhubungan dengan sel tumor dan sel normal masing-masing.
1
d : kematian rata-rata sel-sel imun
3 2 1,a ,a
a : koefisien - koefisien
response yang berbeda dari masing-masing sel normal, sel tumor dan sel imun terhadap obat yang diberikan
u(t) : menunjukkan konsentrasi obat dalam jaringan atau darah
) (t
v : dosis obat yang diberikan secara oral atau injeksi
2
d : angka kematian rata-rata sel-sel imun karena pengaruh obat.
s : koefisien pusat kekebalan sel imun
dan : konstan positif yang merupakan kekebalan awal dan respon sel imun 3.2 Titik Setimbang dan Kestabilannya[3]. ca db A
maka akar-akar persamaan karakteristik (nilai eigen
) dari matriks adalahbc ad d a atau A I
2 ( )(2.2)
Sifat stabilitas titik setimbang
x0, y0
dibedakan menjadi tiga, yaitu :1. Stabil
Titik setimbang
x0, y0
dikatakan stabil jika dan hanya jika akar karakteristik dari persamaan (2.2) adalah real dan negatif atau mempunyai bagian real takpositif.2. Stabil asimtotis
Titik setimbang
x0, y0
dikatakan stabil asimtotis jika dan hanya jika akar karakteristik persamaan (2.2) adalah real negatif atau mempunyai bagian real negatif.3. Tidak Stabil
Titik setimbang
x0, y0
dikatakan tidak stabil jika dan hanya jika akar karakteristik dari persamaan (2.2) adalah real dan positif atauN F TN c N b N r N 2 (1 2 ) 4 1 T F TN c IT c T b T r T 1 (1 1 ) 2 3 2 I F I d IT c T TI s I 1 1 3 ) (
u
i e a u F( ) 1 u d v u 2 (2.1)mempunyai paling sedikit satu akar karakteristik dengan bagian real positif.
Untuk sistem taklinear, akar karakteristik diperoleh dengan melinearkan terlebih dahulu sehingga didapatkan bentuk sistem linear.
Titik setimbang dari sistem teklinear merupakan :
a) Sebuah titik simpul jika akar karakteristiknya riil dan bertanda sama. Jika salah satu bertanda positif maka disebut titik simpul tidak stabil sebaliknya disebut titik simpul stabil jika keduanya bertanda negatif. b) Sebuah titik pelana (saddle point) jika akar
karakteristinya riil, berlawanan tanda. Titik ini tidak stabil
c) Sebuah titik fokus jika akar karakteristiknya bilangan kompleks, jika bagian riilnya positif maka disebut titik fokus tidak stabil sebaliknya jika bagian riilnya negatif disebut titik fokus stabil. [10]
3.3 Kriteria Routh-Hurwitz[11]
Nilai – nilai karakteristik dari matriks adalah akar – akar karakteristik dari polinomial
…(2.3) dengan . Kriteria kestabilan Routh - Hurwitz dapat dipakai untuk mengecek langsung kestabilan melalui koefisien tanpa menghitung akar – akar dari polinomial yang ada, yaitu dengan melakukan penabelan dan suatu aturan penghitungan dari koefisien akan diketahui bahwa apakah polinomial yang diberikan oleh persamaan (2.3) semua akar – akarnya bagian realnya adalah negatif.
Diberikan suatu polinomial
susun tabel sebagai berikut
3 3 5 4 2 2 3 2 1 1 1 0 3 2 1 c b a a c b a a q c b a a s s s s s n n n n n n n n n n
dimana b1,b2,,c1,c2,, dan q secara rekursif didapat dari : , , , , 1 1 3 5 1 2 1 1 2 3 1 1 1 5 4 1 2 1 3 2 1 1 b a b a b c b a b a b c a a a a a b a a a a a b n n n n n n n n n n n n n n
Kriteria Routh – Hurwitz menyimpulkan bahwa : banyaknya perubahan tanda dalam kolom pertama pada tabel diatas sama dengan banyaknya akar – akar polinomial q(s)yang bagian realnya positif. Jadi bila pada kolom pertama dalam tabel tidak ada perubahan tanda (semuanya bertanda positif atau semuanya bertanda negatif), maka semua akar polinomial q(s) bagian realnya adalah tak-positif, bila polinomial ini merupakan polinomial akar – akar karakteristik dari matriks dimana x(t) Ax(t), maka sistem ini adalah stabil.
3.4 Masalah Optimal Control [11]
Gambar 2.1 Skema Kontrol Pada gambar tersebut optimal control adalah mendapatkan optimal control (u*), tanda * menyatakan kondisi optimal yang akan mendorong dan mengatur plant C dari keadaan awal sampai keadaan akhir dengan beberapa konstrain. Kontrol dengan keadaan dan waktu yang sama dapat ditentukan ekstrim berdasarkan performance index yang diberikan.
Secara umum, formulasi pada permasalahan optimal control [7] adalah
a. Mendiskripsikan secara matematik artinya mendapatkan metode matematika dari proses terjadinya pengendalian (secara umum dalam bentuk variabel keadaan).
b. Spesifikasi dari performance index.
1 0 1 1 ... det ) (s sI A a s a s as a p n n n n
... , 0 det ) ( 1 1 0 1 n n n n ns a s as a a a A sI s qc. Menentukan kondisi batas dan konstrain fisik pada keadaan (state) dan atau kontrol. 3.5 Prinsip Minimum Pontryagin dengan
Kontrol Terbatas
Prinsip Minimum digunakan untuk memperoleh kontrol terbaik pada sistem dinamik dari state awal hingga state akhir, yaitu dengan meminimalkan performance index dimana kontrol u(t) terbatas pada . Prinsip ini menyatakan secara informal bahwa persamaan Hamiltonian akan diminimalkan sepanjang yang merupakan himpunan kontrol yang mungkin [1].
Nilai fungsi Hamiltonian
sebagai berikut
Karena kontrol terbatas, maka Fungsi Hamiltonian-Lagrange diperoleh dari nilai fungsi Hamiltonian
v
t
x
t
t
t
H
(
),
(
),
(
),
ditambah pengali Lagrange
kFungsi tersebut optimal jika memenuhi persamaan 1. Kondisi stasioner
( , , ) ( , , )0 t u x g t u x f u L u u
(2.4)
2. Persamaan keadaan
L x x L
dengan
x
(
t
0)
x
0dan
(
t
f)
0
Dari Persamaan (2.4) dapat diperoleh bentuk optimal control (u*)
.
3.6 Bang-bang control dan Singular control Kesulitan dalam menerapkan prinsip Pontryagin dapat diatasi dengan menggunakan singular control dan bang – bang control . Hal ini muncul ketika persamaan Hamiltonian
bergantung secara linear dengan kontrol
u
, dapat dinyatakan dalam bentuk x t u u
H( )
( ,
, )Jika kontrol mempunyai batas atas dan batas bawah umin uumax , maka untuk meminimalkan H(u), diperlukan untuk membuat
u
sebesar dan sekecil mungkin, bergantung pada tanda
(x,
,t) yang didefinisikan sebagai fungsi switching, yang dapat ditulis : 0 ) , , ( 0 ) , , ( 0 ) , , ( ) ( min sin max t x jika u t x jika u t x jika u t u g
Fungsi switching
dapat bernilai positif dan negative serta nol. Sehingga penyelesaian ini disebut dengan Bang – bang Control. Perubahan kontrol dari umax keu
min terjadi ketika
berubah dari nilai negatif ke positif. Dalam kasus ini,
bernilai nol pada interval waktu terbatast
1
t
t
2 yang disebut sebagai singular control. Pada interval tersebut, kontrolu
dapat dicari dari hasil derivative berulangu H
yang bergantung terhadap waktu, sampai kontrol
u
tampak secara eksplisit.Kontrol akan menghasilkan busur singular yang optimal jika :
1. Persamaan Hamiltonian (H)0
2. Kondisi Kelley yang dinyatakan oleh persamaan sebagai berikut :
, 1 , 0 , 0 ) 1 ( 2 H k dt d u u k k
Kondisi ini disebut juga kondisi Generalisasi Legendre-Clebs. Dengan kata lain, Generalisasi Legendre-Clebs akan menjamin bahwa disepanjng busur tunggal, persaman Hamiltonian akan optimal. Dalam permasalahan kontrol singular, jika
(
,
,
)
2 2
x
t
H
dt
d
u q q
adalah order derivatif total
v t x t t t
H (), (),(),
v(t),x(t), (t),t
f(t,x,v) g(t,x,v) H ) (t u
vt xt t t
L (), (),(),
v t xt t t
H
v t xt t t
k L (), (),(), (), (),(), terkecil pada saat
u
tampak secara eksplisit maka q adalah derajat dari busur singular, denganq
.3.7 Simulasi
Simulasi pada model pertumbuhan kanker, akan diselesaikan dengan menggunakan DOTcvp (Dynamic Optimization Toolbox with cvp) yang merupakan salah satu toolbox MATLAB
4. Hasil Penelitian
4.1 Model Pertumbuhan Kanker
Sistem Imun : model sel imun terdiri dari sel imun yang tumbuh dengan distimulasi oleh adanya tumor, dan sel imun yang dapat merusak sel tumor dengan suatu proses kinetik.
Reaksi dari sel imun dan sel tumor dapat menyebabkan kematian pada keduanya atau ketidak aktifan sel imun, yang dapat ditulis sebagai berikut
Kompetisi : kompetisi terjadi antara sel-sel normal dan sel-sel tumor seperti pada sistem predator-prey
Optimal control untuk kemoterapi : pemberian obat yang optimal dengan tujuan untuk meminimalkan jumlah sel tumor dalam waktu yang telah ditetapkan.
4.1.1 Daerah Penyelesaian Model Sebelum Penormalan
Berdasarkan analisis keterbatasan dari
model (2.1), daerah penyelesaian model
adalah :
1 1 3 0 , 1 0 , 1 0 : ) , , ( d s I b T N I T N 4.1.2 Penormalan ModelUntuk
menyederhanakan
analisis
matematika, model dinormalkan dengan
mendefinisikan
variabel
baru
sebagai
berikut:
1 2 4 4 2 1 2 2 3 3 3 2 1 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1ˆ
ˆ
ˆ
ˆ
b
b
r
c
c
t
t
t
r
r
r
r
b
c
c
I
I
x
d
d
d
r
s
c
c
T
T
x
r
r
c
c
N
N
x
dengan
s r I T b N 2 2 ,ˆ 1 ˆ , ˆ
dan
tˆ r 2.
Dengan kata lain variabel tersebut juga dapat ditulis: 2 3 2 2 3 3 2 2 2 2 1 1 ˆ ˆ 1 ˆ ˆ r t t t t x r s s r x I x I x x T x T b x N x N
Hasil penormalan diperoleh sebagai berikut :
4.1.3 Daerah Penyelesaian Model Setelah Penormalan
Berdasarkan analisis keterbatasan dari
model bentuk normal, daerah penyelesaian
model didapat sebagai berikut :
1 3 2 1 3 3 2 1 1 0 , 1 0 , 1 0 : ) , , ( d x b x x x x x
4.1.4 Titik Setimbang dari Model Bentuk Normal
Titik Setimbang adalah titik yang invariant terhadap waktu sehingga titik-titik setimbang diperoleh dari 1
0
,
dt
dx
0
2
dt
dx
dan 3
0
.
dt
dx
yang hasilnya adalah
1
1
, 1 , 0 , 0 3 1 2 2 2 2 2 1 2 F r x x d x x c x
, 3 1 2 2 2 1 2 1 2 1 2 1 , 2 1 2 1 3 3 2 , 0 F r x x d x x c x rb F r x c x c r ) ( ) ( ) ( ) ( 2 1 c I tT t dt dT dan t T t I c dT dI 1 1 1 2 2 1 4 1 1 1 x (1 x ) c x x r Fx x 2 2 1 2 2 1 3 3 2 2 2 2 2 rx (1 bx ) c x x c x x r F x x 3 3 1 2 3 3 2 1 2 3 2 3 ) 1 ( 1 c x x dx r F x x x x x
1
1
, 1 , 0 , 1 3 1 2 2 2 2 2 1 2 1 1 2 2 4 F r x x d x x c x F r x c dan
3 1 2 2 2 2 2 1 2 2 1 2 1 3 3 2 1 1 2 2 4 1 1 1 , , 1 F r x x d x x c x rb F r x c x c r F r x c Untuk titik setimbang jika tidak ada pengaruh obat, maka pengaruh obat (kemoterapi) ditiadakan
Fi 0, dengan i1,2,3
sehingga ada 4 titik setimbang yaitu
1
1
, 1 , 0 , 0 3 2 2 2 2 1 2 x x d x x c x
, 2 2 1 2 1 2 1 2 1 , 2 1 3 3 2 , 0 x x d x x c x rb x c x c r
1
1
, 1 , 0 , 1 2 2 2 2 1 2 1 2 4 x x d x x c x x c dan
2 2 2 2 1 2 1 3 3 2 2 4 1 1 1 , , 1 x x d x x c x rb x c x c r x c Akan ditentukan titik-titik setimbang dari model hasil penormalan diatas yang tidak dipengaruhi obat (kemoterapi). Dalam hal ini ada dua titik setimbang yaitu titik setimbang bebas penyakit (disease-free equilibrium) dan titik setimbang endemik.
a. Titik Setimbang Bebas Penyakit Pada saat
x
2
0
makad
x3 1 Semua
sel dalam keadaan sehat atau tidak terjadi penyebaran tumor. Jika
x
21
0
setelah disubsitusikan, maka diperoleh dua titik kesetimbangan, yaitu d E1 0,0,1 dan 2 1,0,1. d Eb. Titik Setimbang Endemik
Titik Setimbang endemik adalah titik setimbang dengan pengaruh penyebaran tumor
0
2
x
. Dari rb x c x c r x 2 3 3 1 22 disubsitusikan kepersamaan sebelumnya diperoleh dua titik setimbang yaitu :
0, , ( )
3 a f a E danE
4
g
(
b
),
b
,
f
(
b
)
dengan, rb x c x c r a 2 3 3 1 untuk E3 dan rb x c x c r b 2 3 3 1 untukE
4 .4.1.5 Matriks Jacobian Model Bentuk Normal Setelah menentukan titik setimbang model normal, selanjutnya ditentukan kestabilan setiap titik setimbang. Untuk itu dicari nilai eigen matriks Jacobian dari model normal. Akan ditinjau dua kasus yaitu kestabilan titik setimbang bebas penyakit (disease-free equilibrium) dan kestabilan titik setimbang endemik.
Misal
Akan dicari kestabilan lokal dengan mencari matrik Jacobiannya terlebih dahulu.
3 3 3 2 2 2 1 1 1 x Z x Y x X x Z x Y x X x Z x Y x X J
1 1 1 2 2 1 4 1 1 3 2 1,x ,x x (1 x ) c x x r Fx x X
2 2 1 2 2 1 3 3 2 2 2 2 3 2 1,x ,x rx (1 bx ) c x x c x x r F x x Y
3 3 1 2 3 3 2 1 2 3 2 3 2 1 ) 1 ( 1 , , c x x dx r Fx x x x x x x Y d x c x x x c x x x c x c x c rbx r x c x c x c x J 2 1 2 2 3 1 2 2 3 2 2 1 3 3 2 2 2 3 1 4 2 4 1 1 1 0 2 0 2 1
4.1.5.1 Kestabilan Lokal Titik Setimbang Bebas Penyakit 1. Titik setimbang d E1 0,0,1 tidak mungkin, karena titik ini menunjukkan bahwa sel normal tidak ada (tidak stabil). Matriks Jacobian model (4.1) pada titik setimbang adalah d d c d d c J 0 0 1 1 1 0 0 0 1 1 2
Nilai Eigen diperoleh dari maka, 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 2
d d c d d c
1
2 1
0
d d c d d c 3 2 2 1 , 1 , 1
Titik dE1 0,0,1 tidak stabil karena
0
1
1
2. Untuk titik d E2 1,0,1 matriks Jacobiannya adalah
d d c d c d c r c E J 1 1 0 0 0 0 1 1 3 2 4 2
Nilai Eigen diperoleh dari :
(
)
0
det
J
E
2
I
maka, 0 1 1 0 0 0 0 1 1 3 2 4
d d c d c d c r c
d c d c r 2 3 1 c d d c r 3 3 2 2 1 1,
,
sehingga didapat :
0
1
1
2 3 2 c d c r
3 2 c d c r 1 3 2 3 2 d c c dr c d c
0
3
d
Karena nilai dari 0ci 1 dan r,d 0 maka Nilai eigen
2 dapat bernilai positif atau negatif tergantung dari nilaid c c dr 3 2 . Dari persamaan diatas maka dapat dicari Basic
Reproduction Number (R0), dimana (R0) adalah nilai parameter untuk mengetahui penyebaran penyakit menjadi endemik atau tidak.
Berdasarkan nilai eigen
2 dapat dianalisa sebagai berikut :
( )
0Nilai eigen
2 bernilai negatif jika 1 3 2 d c c drdan bernilai positif jika
. 1 3 2 d c c dr
Oleh karena itu Basic
Reproduction Number adalah :
d c c dr 3 2
Dari hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Jika R0 1 maka didapat
2
0
. Karena0
,
21
, dan
3
0
maka titik kesetimbanganE
2 dari sistem tersebut stabil.b. Jika R0 1 maka didapat
2
0
. Karena0
,
0
21
, dan
3
0
maka titik kesetimbanganE
2 dari sistem tersebut tidakstabil.
4.1.5.2 Kestabilan Lokal Titik Setimbang Endemik
1. Kestabilan lokal titik setimbang endemik E3 dimana
E
3
0
,
x
2,
x
3
dengan a x2 )
(
3f
a
x
Terlihat populasi sel normal adalah nol dan sel tumor dapat bertahan . Disini
a
adalah solusi non negatif untuk0 1 ) ( 2 b a f rb c a
Matriks Jacobian pada titik setimbang E3
adalah
d x c x x x c x x x c x c rbx r x c x c E J 2 1 2 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 3 1 1 0 2 0 0 1 ) (
( )
det J E3 I
0 1 1 0 2 0 0 1 2 1 2 2 3 1 2 2 3 2 2 3 2 2 2 3 2 4 d x c x x x c x x x c x c rbx r x c x c
( ) ( )
0 ) (A
BCD BC
2 dengan 1 c4 x2 A
r
2
rbx
2c
2x
3B
c
x
d
x
x
C
2 1 2 21
3 1 2 2 3 2 2 ) 1 ( x c x x x c D
maka akan didapat :
A
1
2 ) ( 4 ) ( ) ( 2 2 D BC C B C B
2 ) ( 4 ) ( ) ( 2 3 D BC C B C B
Untuk mengetahui E3 stabil atau tidak stabil
maka mula-mula akan dianalisis dari nilai
1Berdasarkan daerah penyelesaian setelah penormalan diperoleh
b
x 1
0 2 karena pada penelitian ini
b
1
1
dan c4 0.3. sehingga, Jadi0 1 4 2 1 x c A
. Karena itu E3 tidak stabil.2. Stabilitas lokal dititik setimbang
E adalah
4
1 2 3 4x
,
x
,
x
E
dengan
) ( 1 g b x b x2 )
(
3f
b
x
Terlihat terdapat kompetisi antara sel
normal dan sel tumor dengan populasi tidak
nol, dimana
badalah solusi non negatif
dari
0 1 ) ( ) ( 3 2 b b g rb c b f rb c bMatriks Jacobian pada titik setimbang
adalah
d x c x x x c x x x c x c x c rbx r x c x c x c x E J 2 1 2 2 3 1 2 2 3 2 2 1 3 3 2 2 2 3 1 4 2 4 1 4 1 1 0 2 0 2 1 ) (
J
(
E
)
I
det
4 jika : 1 2x1 c4 x2 A
r
2
rbx
2c
2x
3c
3x
1B
c
x
d
x
x
C
2 1 2 21
3 1 2 2 3 2 2 ) 1 ( ) ( c x x x x c D
)
)(
(
4 1 3 2
c
x
c
x
E
maka,
(A)(B)(C)
(A)DE(C)
0 3(ABC) 2(ABBCACDE) 0 ) ( ABC AD ECJika dikalikan -1 persamaan menjadi :
3 (ABC) 2 (ABBCACDE) 0 ) ( ABC AD EC
dengan menggunakan kriteria Routh-Hurwitz maka akan diperoleh sebagai berikut
2 1 1 0 1 2 3 1 b EC AD ABC E D AC BC AB c b C B A
) ( 0 . 1 0 ). ( 2 C B A C B A b 1 1 1 0 ). ( ) .( b C B A EC AD ABC b c 4E
stabil jika(
A
B
C
),
b
1 danc
1
0
, karena berdasarkan nilai parameter yang didapat pada percobaan pertama (penyelesaian kontrol optimal) diperolehE
4 stabil.4.2 Penyelesaian dengan Kontrol Optimal Diberikan Performan indeks sebagai berikut
) ( ) ( ) , ( min J x v T tf x2 tf
Model tersebut dapat diselesaikan dengan menggunakan kontrol optimal dimana variabel kontrolnya adalah v(t) dan variabel keadaannya adalah x(t). Sedangkan sistem dinamiknya pada persamaan (2.1)
Dengan h(N,T,I,u,v)(N,T,I,u), agar lebih mudah maka model ditulis menjadi
) , , , ( ) , , , (N T I u x1 x2 x3 x4 sehingga model menjadi 2 1 2 1 4 1 2 1 2 1 (1 ) (1 ) 4 x e a x x c x b x r x x 2 2 2 1 3 3 2 2 2 1 2 1 2 (1 ) (1 ) 4 x e a x x c x x c x b x r x x 3 3 3 1 3 2 1 2 3 2 3
(
1
)
)
(
4x
e
a
x
d
x
x
c
x
x
x
s
x
x
4 2 4v
d
x
x
dengan kondisi batas:0
75
.
0
)
(
)
,
,
(
x
t
v
x
1t
k
x(0) x0
0 1 1 0 2 0 2 1 2 1 2 2 3 1 2 2 3 2 2 1 3 3 2 2 2 3 1 4 2 4 1 d x c x x x c x x x c x c x c rbx r x c x c x c x A B C EC AC ABC E D CA BC AB C B A b 1 f t t 04.2.1 Penyelesaian Model Pertumbuhan
Kanker dengan Teori Kontrol Optimal
Dengan menggunakan bang-bang control dan Singular control maka diperoleh
0 0 0 0 ) ( sin v v v g H H H jika jika jika v a t v
dengan :
4 2 3 3 3 2 2 2 1 1 1 2 4 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 sin 4 x d x a x a x a e d x a x a x a x a x a x a v x g 4.3 Simulasi4.3.1 Analisis Hasil Simulasi
Pada simulasi akan dibandingkan sistem
sebelum dikontrol (tanpa obat) dan setelah
dikontrol
(dengan
obat)
untuk
menggambarkan pengaruh adanya kontrol
optimal didalamnya. Berikut parameter
yang digunakan [2].
Tabel 4.1 Parameter dan Nilainya
Parameter
Nilai
1a
0.1
2a
0.3
3a
0.2
1b
1.0
2b
1.0
1c
1.0
2c
0.5
3c
1.0
4c
1.0
1d
0.2
2d
1.0
1r
1.5
2r
1.0
s
0.33
0.3
0.01
Tabel 4.2 Parameter Komputasi
Parameter
Komputasi
Simbol
Nilai
Waktu akhir
t
f150 hari
Batas bawah
kontrol
0.0
Batas atas kontrol
a – 0.0
Initial condition
sel normal
)
0
(
1x
1.0
Initial condition
sel tumor
)
0
(
2x
0.25
Initial condition
sel imun
) 0 ( 3 x0.15
Initial condition
konsentrasi obat
dalam darah
)
0
(
4x
b
Dosis Obat
u
Percobaan pertama yang dilakukan dengan
mensimulasikan
optimal
control
tanpa
menggunakan obat dengan kata lain
b0,
maka akan didapat hasil seperti berikut
Gambar 4.1
Pada gambar diatas menunjukkan dalam waktu 150 hari (5 bulan) dengan adanya sel tumor, maka sel normal dan sel imun bergerak turun sedangkan sel tumor bergerak naik.
Dari hasil simulasi tersebut diperoleh Final state values :
001 357178 . 4 001 639517 . 5 001 361455 . 4 3 2 1 e x e x e x
Terlihat jelas bahwa jumlah dari sel – sel tumor lebih dominan dibandingakan yang jumlah dari sel – sel lainnya
Percobaan kedua dilakukan dengan mensimulasikan optimal control dengan obat yang diberikan, nilai a0.75 dan b0.07. Pada gambar 4.2 dapat ditunjukkan pengaruh obat kepada pasien. Mula – mula yang akan ditampilkan adalah kurva objective function yang menunjukkan bahwa semakin kecil nilai dari objective functionnya (mendekati nol) maka, pengobatan yang dilakukan optimal, seperti berikut
Gambar 4.2a
Dari gambar 4.2a terlihat bahwa pengobatan yang dilakukan optimal dengan cost function akhir
minJ(tf)
yang didapat dari simulasi adalah 0.00000000.Gambar 4.2b
Gambar 4.2b menunjukkan sel tumor bergerak turun drastis dengan adanya pemberian obat sedangkan sel normal dan sel imun bergerak naik seiring dengan turunnya sel tumor walaupun awal kenaikan sel imun adalah perlahan lalu naik drastis yang dikarenakan turunnya konsentrasi obat dalam darah.
Dari hasil simulasi tersebut diperoleh Final state values :
002
790839
.
5
000
545518
.
1
010
317050
.
9
001
943748
.
9
4 3 2 1
e
x
e
x
e
x
e
x
Terlihat komposisi dari sel – sel tersebut (kecuali sel –sel tumor) mendekati nilai maksimal pada daerah feasibel pada pembahasan sebelumnya(saat menganalisis model (2.1), yang berarti dalam hal ini komposisi sel – sel tersebut optimal. Walaupun hanya sel imun yang nilainya agak berbeda. Hal ini dikarenakan pengaruh dari konsentrasi obat dalam darah tersebut menekan sumsum tulang yang memproduksi sel imun maka dari itu perubahan sel imunnya kurang optimal, tetapi secara keseluruhan dilihat dari komposisi sel – sel tersebut sudah dapat dikatakan optimal. Pada gambar 4.2c dapat dilihat bahwa kontrol dalam bentuk bang – bang dan singular control .
Gambar 4.2c 5. Penutup
5.1 Kesimpulan
Dari analisis yang dilakukan pada model kanker [2], maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Pada analisis stabilitas lokal dapat diketahui bahwa :
Model normal dari kompetisi sel – sel yang dipengaruhi oleh sel – sel tumor adalah sebagai berikut 1 1 1 2 2 1 4 1 1 1 x (1 x ) c x x r Fx x 2 2 1 2 2 1 3 3 2 2 2 2 2
rx
(
1
bx
)
c
x
x
c
x
x
r
F
x
x
3 3 1 2 3 3 2 1 2 3 2 3 ) 1 ( 1 c x x dx r Fx x x x x
model tersebut memiliki dua titik kesetimbangan yang stabil yaitu titik kesetimbangan bebas
penyakit d E2 1,0,1 dengan d c c dr 3 2
sebagai basic reproduction numbernya sehingga diperoleh
Dari hasil perhitungan di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Jika R0 1 maka didapat
2
0
. Karena0
,
21
, dan
3
0
maka titik kesetimbanganE
2 dari sistem tersebutstabil.
b. Jika R0 1 maka didapat
2
0
. Karena0
,
0
21
, dan
3
0
maka titik kesetimbanganE
2 dari sistem tersebut tidak stabil.dan titik kesetimbangan endemik diperoleh
( ), , ( )
.4 g b b f b
E Penyelesaian yang optimal pada titik endemik ini yang diselesaikan pada sub bab berikutnya.
2. Pada optimal control dapat diketahui bahwa Optimal control yang diperoleh pada model kanker [2] mempunyai bentuk yang tidak tunggal. Kontrolnya berupa bang – bang control dan singular control yang bergantung pada nilai fungsi switching pada interval waktu yang berbeda – beda. Kontrolnya dapat dinyatakan sebagai berikut :
0 0 0 0 ) ( sin v v v g H H H jika jika jika v a t v dengan : 4 2 3 3 3 2 2 2 1 1 1 2 4 3 3 3 3 3 3 2 2 2 2 2 2 1 1 1 1 1 1 sin 4 x d x a x a x a e d x a x a x a x a x a x a v x g 4
vH
5.2 SaranPada penelitian ini tidak dibahas mengenai cara meminimumkan jumlah obat dan menghilangkan residu yang terdapat dalam tubuh pasien agar dapat memperoleh hasil yang lebih baik penulis menyarankan untuk melanjutkan pada tahapan tersebut.
6. Daftar Pustaka
[1]. Bryson, A. E. dan Ho, Y. C. 1975. Applied Optimal Control. New York: Taylor & Francis Group.
[2]. De Pillis, L.G. , Radunskaya, A.E. 2003. “The Dynamics Of An Optimally Controlled Tumor Model: A case study”. Journal of
Mathematical and Computer Modelling, Vol 2003 No. 37 pp 1-23.
[3]. Finisio dan Ladas. 1998. Differential Equations with Modern Applications. 2st edition. Wadsworth, New York: Inc.
[4]. Itik, Mehmet, Salamci , Metin U. , Banks, Stephen P. 2009. “Optimal Control of Drug Therapy In Cancer Treatment”. Journal of Nonlinear Analysis, Vol 2009 No. 71 pp 1-14.
[5]. Kamien, M. I. dan Schwartz, N. L. 1981. Dynamic Optimization : The Calculus of Variations and Optimal Control in Economics and Management. 1st edition. North Holland, Amsterdam: Elsevier Science Publishing Co, Inc.
[6]. Murray, J.M. 1990. “Optimal Control For A Cancer Chemotherapy Problem With General Growth and Loss Functions”. Journal of Mathematical Biosciences, Vol 1990 No. 98 pp 1-14.
[7]. Naidu, D. S. 2002. Optimal Control Systems. USA: CRC Presses LLC.
[8]. Putri, R. 2009. Kontrol Optimal Pada Model Tumor Anti Angiogenesis. Tugas Akhir Jurusan Matematika ITS.
[9]. Subchan, S. dan Zbikowski, R. 2009. Computational Optimal Control: Tools and Practice. UK: John Wiley & Sons Ltd. [10]. Subiono. 2008. Matematika Sistem.
Versi 1.0. Surabaya: Jurusan Matematika FMIPA ITS.
[11]. Subiono. 2010. Optimal Kontrol. Surabaya: Jurusan Matematika FMIPA ITS. [12]. Wikipedia. 2010. Cancer. <URL
http://en.wikipedia.org/wiki/cancer>. Diakses pada tanggal 25 Februari 2010. [13]. Wikipedia. 2010. Tumor. <URL
http://en.wikipedia.org/wiki/tumor>. Diakses pada tanggal 25 Februari 2010.