HIPERTENSI PADA ANAK

20 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

SMF/Lab Ilmu Kesehatan Anak Divisi Nefro-Cardiology

Fakultas Kedokteran Umum REFERAT

Universitas Mulawarman

HIPERTENSI PADA ANAK

Disusun Oleh: Marini Tandarto 0910015036

Pembimbing:

dr. Sherly Yuniarchan, Sp.A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

Kejadian hipertensi pada anak terus meningkat. Data terbaru dari Survei Kesehatan dan Gizi Nasional menunjukkan 10% anak-anak dan remaja dalam kategori prehipertensi dan 4% dalam kategori hipertensi. Dalam sebuah studi dari 14.187 anak-anak dan remaja yang memiliki setidaknya 3 kunjungan ke pusat pelayanan media rawat jalan, 507 pasien di antaranya memenuhi kriteria untuk hipertensi, namun hanya 131 (26%) memiliki diagnosis ini didokumentasikan.

Prevalensi dan diagnosis hipertensi pada anak dan remaja tampak meningkat sekarang akhir-akhir ini. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan meningkatnya prevalensi obesitas pada anak dan meningkatnya kepedulian terhadap penyakit ini. Prevalensi hipertensi pada anak diperkirakan sebesar 1-2%.

Hipertensi pada anak dapat dibedakan menjadi hipertensi krisis dan non krisis. Hipertensi krisis dapat timbul mendadak tanpa diketahui penyakit sebelumnya atau merupakan akibat hipertensi yang sudah ada sebelumnya. Hipertensi krisis dapat menyebabkan ensefalopati, gagal jantung, gagal ginjal, edema paru, dan retinopati. Penanggulangan hipertensi krisis harus segera dilakukan untuk mencegah kerusakan organ target.

Hipertensi diketahui merupakan salah satu faktor risiko terhadap terjadinya penyakit jantung koroner pada orang dewasa, dan adanya hipertensi pada masa anak mungkin berperanan dalam perkembangan dini penyakit jantung koroner tersebut. Hipertrofi ventrikel kiri merupakan bukti klinis nyata kerusakan organ target pada kasus hipertensi pada anak. Hipertensi berat juga meningkatkan risiko berkembangnya ensefalopati hipertensif, kejang, kelainan serebrovaskular, dan gagal jantung kongestif.

Komplikasi hipertensi tersebut dapat dicegah bila dilakukan pengawasan dan pengobatan dini yang adekuat terhadap hipertensi. Pengukuran tekanan darah secara rutin berguna untuk deteksi hipertensi pada anak sedini mungkin. Tekanan darah normal anak-anak bervariasi karena banyak faktor mempengaruhinya antara lain usia, jenis kelamin, tinggi, dan berat badan.

(3)

Hipertensi pada anak dibagi menjadi hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi primer atau esensial merupakan hipertensi yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Hipertensi sekunder adalah hipertensi yang terjadi oleh akibat penyakit lain. Perbedaan hipertensi pada anak dengan orang dewasa adalah kejadian hipertensi sekunder yang lebih lazim terjadi pada masa anak.

Edukasi, deteksi dini, diagnosis yang akurat dan terapi yang tepat akan memperbaiki kesudahan (outcome) jangka panjang anak-anak dan remaja yang menderita hipertensi ini. Dalam tulisan ini akan diuraikan mengenai definisi, etiologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnosis dan terapi hipertensi pada anak.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Tekanan darah normal pada anak adalah tekanan darah sistolik (TDS) dan tekanan darah diastolik (TDD) di bawah persentil 90 berdasarkan jenis kelamin, usia dan tinggi badan.

Hipertensi adalah nilai rata-rata tekanan darah sistolik dan atau diastolik lebih dari persentil ke-95 berdasarkan jenis kelamin, usia dan tinggi badan pada pengukuran sebanyak 3 kali atau lebih.

Pengukuran tekanan darah tersebut dilakukan 3 kali pada kesempatan yang berbeda. Bila didapatkan tekanan darah sistolik atau diastolic berada pada persentil yang berbeda, maka status tekanan darah ditentukan sesuai dengan persentil yang lebih tinggi.

Klasifikasi

Prehipertensi adalah tekanan darah sistolik atau diastolic lebih tinggi atau sama dengan persentil ke-90 tetapi lebih rendah daripada persentil 95 atau tekanan darah 120/80 mmHg atau lebih pada remaja.

Hipertensi stadium I didefinisikan bila tekanan darah sistolik dan atau diastolik lebih dari persentil ke-95 sampai persentil ke-99 ditambah 5 mmHg, sedangkan hipertensi stadium 2 bila tekanan darah lebih dari persentil ke-99 ditambah 5 mmHg.

Untuk anak berusia 6 tahun atau lebih, krisis hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik ≥ 180mmHg dan atau diatolik ≥ 120 mmHg, atau tekanan darah kurang dari ukuran tersebut, namun telah timbul gejala gagal jantung, ensefalopati, gagal ginjal, maupun retinopati. Pada anak berusia kurang dari 6 tahun, batasan krisis hipertensi adalah tekanan darah 50% diatas persentil ke – 95

Krisis hipertensi dibagi menjadi 2, yaitu a). Hipertensi Urgensi : peningkatan tekanan darah sistolik atau diastolik yang belum menyebabkan kerusakan organ target (otak, jantung, ginjal atau mata). Biasanya bergejala sakit

(5)

kepala dan muntah, namun dapat progresif menjadi hipertensi emergensi. b). Hipertensi Emergensi : peningkatan tekanan darah sistolik atau diastolik yang telah menyebabkan kerusakan organ target (otak, jantung, ginjal atau mata). Etiologi

Sebagian besar hipertensi pada anak terutama anak pre-remaja merupakan hipertensi sekunder.sedangkan penyebab tersering hipertensi pada anak adalah penyakit parenkim ginjal (670-70%) dan penyakit renovaskular. Pada remaja sering terjadi hipertensi primer atau esensial, yang meliputi 85-90% kasus.

Tabel I. Penyebab Hipertensi menurut Kelompok Umur Kelompok umur Penyebab

Bayi Penyakit renovaskular, kelainan kongenital ginja, koarkasio aorta, dysplasia bronkopulmoner

1-10 tahun Penyakit parenkim ginjal, koarkasio aorta, penyakit renovaskuler

10-20 tahun Penyakit parenkim ginjal, penyakit renovaskuler, hipertensi esensial

A. Hipertensi Primer

Hipertensi primer atau esensial merupakan hipertensi yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Meskipun demikian, beberapa faktor dapat diperkirakan berperan menimbulkan seperti faktor keturunan, berat badan, respons terhadap stres fisik dan psikologis, abnormalitas transpor kation pada membran sel, hipereaktivitas sistem saraf simpatis, resistensi insulin, dan respons terhadap masukan garam dan kalsium.

Tekanan darah yang tinggi pada masa anak-anak merupakan faktor risiko hipertensi pada masa dewasa muda. Hipertensi primer pada masa anak biasa ringan atau bermakna. Evaluasi anak dengan hipertensi primer harus disertai dengan evaluasi beberapa faktor risiko yang berkaitan dengan risiko berkembangnya suatu penyakit kardiovaskular. Obesitas, kolesterol lipoprotein densitas tinggi yang rendah, kadar trigliserida tinggi, dan hiperinsulinemia merupakan faktor risiko yang harus dievaluasi untuk berkembangnya suatu penyakit kardiovaskular. 3,10

(6)

B. Hipertensi Sekunder

Hipertensi sekunder lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding pada orang dewasa. Evaluasi yang lebih teliti diperlukan pada setiap anak untuk mencari penyebab hipertensi. Anak dengan hipertensi berat, anak dengan usia yang masih muda, serta anak remaja dengan gejala klinis sistemik disertai hipertensi harus dievaluasi lebih lanjut.

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang mengarahkan pada suatu kelainan sistemik yang mendasari hipertensi merupakan langkah pertama evaluasi anak dengan kenaikan tekanan darah yang menetap. Jadi, sangat penting untuk mencari gejala dan tanda klinis yang mengarah pada penyakit ginjal (hematuria nyata, edema, kelelahan), penyakit jantung (nyeri dada, dispneu, palpitasi), atau penyakit dari sistem organ lain (seperti kelainan endokrinologis, reumatologis).

Riwayat penyakit dahulu diperlukan untuk mengungkap penyebab hipertensi. Pertanyaan diarahkan pada riwayat opname sebelumnya, trauma, infeksi saluran kemih, diabetes, atau masalah gangguan tidur. Riwayat penyakit keluarga berupa hipertensi, diabetes, obesitas, apnea pada waktu tidur, penyakit ginjal, hiperlipidemia, stroke, dan kelainan endokrinologis perlu ditelusuri.

Sekitar 60-80% hipertensi sekunder pada masa anak berkaitan dengan penyakit parenkim ginjal. Kebanyakan hipertensi akut pada anak berhubungan dengan glomerulonefritis, Sedangkan hipertensi kronis paling sering berhubungan dengan penyakit parenkim ginjal (70-80%), hipertensi renovaskular (10-15%), koartasio aorta (5-10%), feokromositoma dan penyebab endokrin lainnya (1-5%).

Pada anak yang lebih kecil (< 6 tahun) hipertensi lebih sering sebagai akibat penyakit parenkim ginjal, obstruksi arteri renalis, atau koartasio aorta. Anak yang lebih besar bisa mengalami hipertensi dari penyakit bawaan yang baru menunjukkan gejala dan penyakit dapatan seperti refluks nefropati atau glomerulonefritis kronis.

Patogenesis

Patogenesis hipertensi pada anak dengan penyakit ginjal melibatkan beberapa mekanisme. Hipoperfusi ginjal pada penyakit glomerular diketahui

(7)

memicu produksi renin melalui apparatus jukstaglomerular yang mengaktifkan angiotensin I dan selanjutnya mengaktifkan angiotensin II sehingga menyebabkan hipertensi. Sistem hormonal seperti prostaglandin meduler yang bersifat vasodepresor dapat menurun dan menyebabkan hipertensi, substansi lipid pada medula ginjal juga menurun pada penyakit ginjal. Hipervolemia akibat retensi air dan garam menyebabkan curah jantung meningkat dan timbul hipertensi. Hipertensi juga bisa disebabkan oleh farmakoterapi untuk penyakit parenkim ginjal yang diobati dengan kortikosteroid.

Krisis hipertensi dimulai dengan adanya peningkatan tiba-tiba resistensi vascular sistemik yang terkait dengan vasokonstriktor humoral. Peningkatan tekanan darah akan menyebabkan stress dan trauma endotel, sehingga terjadi peningkatan permeabilitas endoter, aktivitas trombosit, dan kaskade pembekuan serta deposit fibrin.

Semakin tinggi tekanan darah, semakin berat trauma endotel dan nekrosis fibrinoid dan arteriol. Proses ini akan mengakibatkan iskemi dan merangsang pengeluaran mediator vasoaktif lainnya sehingga terjadi lingkaran setan, aktivitas system renin-angiotensin menyebabkan bertambah beratnya vasokonstriksi dan terbentuknya sitokin pro-inflamasi seperti interleukin-6. Deplesi volume akibat natriuresis lebih jauh lagi merngsang pelepasan vasokonstriktor dari ginjal. Berbagai mekanisme ini menyebabkan hipoperfusi, iskemi dan disfungsi organ yang bermanifestasi sebagai hipertensi emergensi.

Gejala klinik berupa nyeri kepala hebat,mual, muntah, rasa ngantuk dan keadaan bingung. Bila berlanjut, dapat terjadi kejang umum, mioklonus dan koma.

Teknik pengukuran tekanan darah

Tekanan darah sebaiknya diukur dengan menggunakan sfigmomanometer air raksa, sedangkan sfigmomanometer aneroid memiliki kelemahan yaitu memerlukan kalibrasi secara berkala. Osilometrik otomatis merupakan alat pengukur tekanan darah yang sangat baik untuk bayi dan anak kecil, karena saat istirahat teknik auskultasi sulit dilakukan pada kelompok usia ini. Sayangnya alat ini harganya mahal dan memerlukan pemeliharaan serta kalibrasi berkala. Panjang

(8)

cuff manset harus melingkupi minimal 80% lingkar lengan atas, sedangkan lebar cuff harus lebih dari 40% lingkar lengan atas (jarak antara akromion dan olekranon, (lihat Gambar 1 dan 2). Ukuran cuff yang terlalu besar akan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih rendah, sedangkan ukuran cuff yang terlalu kecil akan menghasilkan nilai tekanan darah yang lebih tinggi.

Gambar 1 Lingkaran Lengan Atas Harus Diukur Tengah-tengah Antara Olekranon dan Akromion, Dikutip dari: Gulati

Gambar 2. Cuff Pengukur Tekanan Darah, Dikutip dari: Gulati14

Tekanan darah sebaiknya diukur setelah istirahat selama 3-5 menit, suasana sekitarnya dalam keadaan tenang. Anak diukur dalam posisi duduk dengan lengan kanan diletakkan sejajar jantung, sedangkan bayi diukur dalam keadaan telentang. Jika tekanan darah menunjukkan angka di atas persentil ke-90,

(9)

tekanan darah harus diulang dua kali pada kunjungan yang sama untuk menguji kesahihan hasil pengukuran.

Teknik pengukuran tekanan darah dengan ambulatory blood pressure monitoring (ABPM) menggunakan alat monitor portable yang dapat mencatat nilai tekanan darah selama selang waktu tertentu. ABPM biasanya digunakan pada keadaan hipertensi episodik, gagal ginjal kronik, anak remaja dengan hipertensi yang meragukan, serta menentukan dugaan adanya kerusakan organ target karena hipertensi.

Tekanan darah sistolik ditentukan saat mulai terdengarnya bunyi Korotkoff ke-1. Tekanan darah diastolik sesungguhnya terletak antara mulai mengecil sampai menghilangnya bunyi Korotkoff. Teknik palpasi berguna untuk mengukur tekanan darah sistolik secara cepat, meskipun nilai tekanan darah palpasi biasanya sekitar 10 mmHg lebih rendah dibandingkan dengan auskultasi.

Menghitung tekanan darah

Menghitung tekanan darah menggunakan table tekanan darah di bawah. Cara penggunaan tabel tekanan darah 1 dan 2 yaitu sebagai berikut:

1. Pergunakan grafik pertumbuhan Center for Disease Control (CDC) 2000 (www.cdc.gov/growthcharts) untuk menentukan persentil tinggi anak.

2. Ukur dan catat TDS dan TDD anak, lalu gunakan tabel TDS dan TDD yang benar sesuai jenis kelamin. Lihat usia anak pada sisi kiri tabel. Ikuti perpotongan baris usia secara horizontal dengan persentil tinggi anak pada tabel (kolom vertikal).

3. Kemudian cari persentil 50, 90, 95, dan 99 TDS di kolom kiri dan TDD di kolom kanan.

4. Interpretasikan tekanan darah (TD) anak sesuai table kriteria.

5. Bila TD > persentil 90, pengukuran TD harus diulang sebanyak dua kali pada kunjungan berikutnya di tempat yang sama, dan rerata TDS dan TDD harus dipergunakan.

(10)

Bila TD >persentil 95, TD harus diklasifikasikan dan dievaluasi lebih lanjut.

Blood pressure parameters Diagnosis

TD Sistole atau diastole <90 percentile Normal

TD Sistole atau diastole berada diantara 90-95 percentile atau TD >120/80 mm Hg (walaupun <90th percentile)

Prehipertensi TD Sistole atau diastole berada diantara 95 percentile sampai 5

mmHg diatas 99 percentile

Hipertensi Stage I TD Sistole atau diastole >99 percentile ditambah 5 mm Hg Hipertensi Stage II

Kriteria hipertensi juga dibagi atas derajat ringan, sedang, berat, dan krisis berdasarkan kenaikan tekanan darah sistolik normal sesuai dengan usia yang diajukan oleh Wila Wirya seperti terlihat pada tabel 4 di bawah ini:

Formula untuk menghitung tekanan darah pada anak juga dikembangkan untuk mendukung deteksi dini hipertensi pada anak yaitu:

 Tekanan darah sistolik (persentil 95)

a. 1-17 tahun = 100 + (usia dalam tahun x 2)

 Tekanan darah diastolik (persentil 95) a. 1-10 tahun = 60 + (usia dalam tahun x 2) b. 11-17 tahun = 70 + (usia dalam tahun)

(11)
(12)
(13)
(14)

Manifestasi Klinis

Hipertensi derajat ringan atau sedang umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun dari penelitian yang baru-baru ini dilakukan, kebanyakan anak yang menderita hipertensi tidak sepenuhnya bebas dari gejala. Gejala non spesifik berupa nyeri kepala, insomnia, rasa lelah, nyeri perut atau nyeri dada dapat dikeluhkan. Pada keadaan hipertensi berat yang bersifat mengancam jiwa atau menggangu fungsi organ vital dapat timbul gejala yang nyata. Keadaan ini disebut krisis hipertensi.

(15)

Krisis hipertensi ini dibagi menjadi dua kondisi yaitu hipertensi urgensi dan hipertensi emergensi. Manifestasi klinisnya sangat bervariasi namun komplikasi utama pada anak melibatkan sistem saraf pusat, mata, jantung, dan ginjal. Anak dapat mengalami gejala berupa sakit kepala, pusing, nyeri perut, muntah, atau gangguan penglihatan. Krisis hipertensi dapat pula bermanifestasi sebagai keadaan hipertensi berat yang diikuti komplikasi yang mengancam jiwa atau fungsi organ seperti ensefalopati, gagal jantung akut, infark miokardial, edema paru, atau gagal ginjal akut.

Ensefalopati hipertensif ditandai oleh kejang fokal maupun umum diikuti penurunan kesadaran dari somnolen sampai koma. Gejala yang tampak pada anak dengan ensefalopati hipertensif umumnya akan segera menghilang bila pengobatan segera diberikan dan tekanan darah diturunkan. Gejala dan tanda kardiomegali, retinopati hipertensif, atau gambaran neurologis yang berat sangat penting karena menunjukkan hipertensi yang telah berlangsung lama.

Penatalaksanaan

Pada saat memilih jenis obat yang akan diberikan kepada anak yang menderita hipertensi, harus dimengerti tentang mekanisme yang mendasari terjadinya penyakit hipertensi tersebut.

Perlu ditekankan bahwa tidak ada satupun obat antihipertensi yang lebih superior dibandingkan dengan jenis yang lain dalam hal efektivitasnya untuk mengobati hipertensi pada anak.

Menurut the National High Blood Pressure Education Program (NHBEP) Working Group on High Blood Pressure in Children and Adolescents obat yang diberikan sebagai antihipertensi harus mengikuti aturan berjenjang (step-up), dimulai dengan satu macam obat pada dosis terendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai efek terapoitik, atau munculnya efek samping, atau bila dosis maksimal telah tercapai. Kemudian obat kedua boleh diberikan, tetapi dianjurkan menggunakan obat yang memiliki mekanisme kerja yang berbeda.

Di bawah ini dicantumkan beberapa keadaan hipertensi pada anak yang merupakan indikasi dimulainya pemberian obat antihipertensi:2

(16)

a. Hipertensi simtomatik

b. Kerusakan organ target, seperti retinopati, hipertrofi ventrikel kiri, dan proteinuria

c. Hipertensi sekunder d. Diabetes melitus

e. Hipertensi tingkat 1 yang tidak menunjukkan respons dengan perubahan gaya hidup

f. Hipertensi tingkat 2

Pemilihan obat yang pertama kali diberikan sangat tergantung dari pengetahuan dan kebijakan dokter. Golongan diuretik dan β-blocker merupakan obat yang dianggap aman dan efektif untuk diberikan kepada anak. Golongan obat lain yang perlu dipertimbangkan untuk diberikan kepada anak hipertensi bila ada penyakit penyerta adalah penghambat ACE (angiotensin converting enzyme) pada anak yang menderita diabetes melitus atau terdapat proteinuria, serta β-adrenergic atau penghambat calcium-channel pada anak-anak yang mengalami migrain.

Selain itu pemilihan obat antihipertensi juga tergantung dari penyebabnya, misalnya pada glomerulonefritis akut pascastreptokokus pemberian diuretic merupakan pilihan utama, karena hipertensi pada penyakit ini disebabkan oleh retensi natrium dan air. Golongan penghambat ACE dan reseptor angiotensin semakin banyak digunakan karena memiliki keuntungan mengurangi proteinuria.

Penggunaan obat penghambat ACE harus hati-hati pada anak yang mengalami penurunan fungsi ginjal. Meskipun kaptopril saat ini telah digunakan secara luas pada anak yang menderita hipertensi, tetapi saat ini banyak pula dokter yang menggunakan obat penghambat ACE yang baru, yaitu enalapril. Obat ini memiliki masa kerja yang panjang, sehingga dapat diberikan dengan interval yang lebih panjang dibandingkan dengan kaptopril.

Obat yang memiliki mekanisme kerja hampir serupa dengan penghambat ACE adalah penghambat reseptor angiotensin II (AII receptor blockers). Obat ini lebih selektif dalam mekanisme kerjanya dan memiliki efek samping yang lebih sedikit (misalnya terhadap timbulnya batuk) dibandingkan dengan golongan penghambat ACE.

(17)

Tatalaksana Krisis hipertensi

1. Menurunkan tekanan darah secepatnya dengan obat antihipertensi parenteral atau oral. Bila hipertensi telah dapat diatasi dan stabil, pemberian obat antihipertensi parenteral dianjutkan dengan obat peroral.

2. Mencari dan menanggulangi kelainan target organ, missal gagal jantung 3. Menanggulangi etiologi hipertensi.

(18)

Hipertensi Emergensi

 Hitung perbeaan antara tekanan darah saat itu dengan tekanan darah persentil 95, sesuai umur, jenis kelamin dan tinggi pasien.

 Turunkan tekanan darah 25-30% dalam 6 jam pertama, selanjutnya 25-30% dalam 24 -36 jam. Selebihnya dalam 48-72 jam.

Obat antihipetensi yang dipakai bersifat short acting, parenteral dan mudah di filtrasi.

 Dalam literature dianjurkan labetalol, nitroprudsid, nicardipin. Obat lain yang dapat dipakai adalah diazoxid, hidralazin, klonidin, enalapril. Satu-satunya obat oral yang dapat dipakai adalah nifedipin.

 Sebaiknya dilakukan di ruang perawatan intensif. Tekanan darah diukur tiap 5 menit pada 15 menit pertama, selanjutnya setiap 15 menit pada 1 jam pertama, kemudian setiap 30 menit sampai tekanan darah sistolik <100 mmHg dan tiap 1-3 jam sampai tekanan darah stabil.

Lini pertama : nifedipin sublingual, dikombinasikan dengan furosemide intravena.

 Nifedipine dosis 0,1 mg/kgBB/kali, dinaikkan tiap 5 menit pada 15 menit pertama, selanjutnya setiap 15 menit pada 1 jam selanjutnya, kemudian setiap 30 menit. Dosis maksimal 10 mg/kali. Furosemid, dosis 1 mg/ kgBB/kali intravena, 2 kali sehari (dapat diberikan oral bila keadaan umum pasien baik). Bila tekanan darah belum turun, ditambah kaptopril dosis awal 0,3 mg/kgBB/kali, diberikan 2-3 kali sehari. Dosis maksimal 2 mg/kgBB/hari.

 Bila tekanan darah belum turun juga, dapat dikombinasikan dengan obat antihipertensi lainnya. Bila tekanan darah turun, dapat dilanjutkkan dengan nifedipin oral 0,25-1 mg/kgBB/hari, 3-4 kali sehari. Dapat dikombinasikan dengan kaptopril bila belum turun, selanjutnya dosis nifedipin dan kaptopril diturunkan secara bertahap, diteruskan dengan kaptopril oral.

Lini kedua : klonidin drips (katapres) dikombinasi dengan furosemide intravena.

(19)

 Klonidin dosis 0,002 mg/kgBB/8 jam + 100 ml dekstrosa 5% (mikrodrips). Tetesan 12 tetes menit, bila tekanan darah belum turun, dapat dinaikkan 6 tetes/menit tiap 30 menit ( maksimum 36 tetes/menit). Furosemide dosis 1 mg/ kgBB/kali intravena, 2 kali sehari. Bila 30 menit setelah tetesan 36 tetes/menit tekanan darah belum turun, ditambah kapropril, dosis awal 0,3 mg/kgBB/kali, diberikan 2-3 kali sehari, dosis maksimal 2 mg/kgBB/hari.

 Bila tekanan darah belum turun juga, dapat dikombinasikan dengan ibat antihipertensi lainnya. Bila tekanan darah telah diturunkan, klonidin diturunkan bertahap 6 tetes/menit tiap 30 menit, kaptopril tetap dilanjutkan. Selanjutnya kaptopril diturunkan secara bertahap.

Hipertensi Urgensi

 Tekanan darah dapat diturunkan lebih perlahan, yaitu 25% dalam 12-24 jam.

 Memeprgunakan obat antihipertensi oral seperti pada hipertensi emergensi.

 Perlu observasi ketat karena dapat progresif menjadi hipertensi emergensi bila tidak diturunkan dalam 12-24 jam.

(20)

BAB V PENUTUP

Hipertensi pada anak adalah rerata tekanan darah sistolik dan/atau tekanan darah diastolik > persentil 95 sesuai dengan jenis kelamin, usia dan tinggi badan pada >3 kali pengukuran. Prevalensinya diperkirakan sebesar 12%. Hipertensi diketahui merupakan salah satu faktor risiko terhadap terjadinya penyakit jantung koroner pada orang dewasa, dan adanya hipertensi pada masa anak mungkin berperanan dalam perkembangan dini penyakit jantung koroner tersebut. Pengobatan hipertensi pada anak terdiri dari terapi nonfarmakologis dan terapi farmakologis. Terapi non-farmakologis pengurangan berat badan, aktivitas fisik yang reguler, dan modifikasi diet sedangkan terapi obat menggunakan -Angiotensin-converting enzymes (ACE) inhibitors, penghambat reseptor-angiotensin, penghambat reseptor-b, calcium channel blockers, dan diuretika.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :