makalah isi pisces

28 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dikenal 4 kelas ikan dan vertebrata sejenis ikan, antara lain kelas Agnatha atau vertebrata tidak berahang yang diwakili Ostrachodermi (punah) dan yang masih ada adalah Cyclostomata (lamprey dan hag fishes), ikan purba berahang keras Placodermi (punah), kelas Chondrichthyes atau ikan tulang rawan (ikan hiu, pari dan chimaera) dan kelas Osteichthyes atau ikan tulang sejati. Dua kelas terakhir dikelompokkan dalam superkelas pisces. (Sukiya, 2005)

Yang termasuk klas Chondrichthyes, misalnya ikan hiu dan ikan pari. Hampir semuanya hidup di laut, hanya sedikit sekali yang hidup di air tawar. Mempunyai rahang yang kuat, pasangan sirip dan kerangka yang tersusun atas tulang rawan. Celah insang tampak karena tidak berpenutup insang. Ikan hiu merupakan jenis ikan karnivor yang bisa menyerang manusia.

Semua hewan yang termasuk klas Osteichthyes mempunyai kerangka yang tersusun atas tulang biasa. Jumlah jenis beribu-ribu, habitat air tawar atau laut. Yang termasuk klas ini, misalnya : ikan mas, ikan lele, ikan salem. Celah insang tidak tampak karena ditutup oleh operkulum (penutup insang). Siripnya ada yang berpasangan dan ada yang tunggal. Sirip yang berpasangan misalnya sirip dada dan sirip perut. Sirip tunggal misalnya: sirip punggung, sirip ekor dan sirip belakang. Mempunyai gelembung renang yang berfungsi sebagai alat hidrostatik. (Zander,2009)

1.2 Rumusan Masalah

 Bagaimanakah ciri-ciri umum ikan?  Bagaimana habitat dan kebiasaan ikan?  Bagaimanakah klasifikasi dari ikan?  Bagaimana anatomi tubuh pada ikan?

 Apa saja yang merupakan ciri khusus pada ikan?  Apa sajakah manfaat yang didapat dari ikan?

(2)

1.3 Tujuan

 Mengetahui ciri-ciri umum dari ikan.  Mengetahui habitat dan kebiasaan ikan.  Mengetahui klasifikasi dari filum ikan.  Mengetahui anatomi tubuh dari ikan.

 Mengetahui ciri khusus yang terdapat pada ikan.  Mengetahui manfaat dari ikan.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Ciri-Ciri Umum

Ciri-ciri umum hewan ini adalah: a. Ikan Tulang Rawan

o Kerangka tubuh bertulang rawan o Memiliki rahang

o Respirasi melalui insang o Pembuahan internal

o Dapat bertelur atau melahirkan anak o Memiliki indra yang tajam

o Memiliki gurat sisi b. Ikan Tulang Sejati

o Kerangka dan rahang bertulang

o Sebagian besar spesies melakukan pembuahan eksternal dan mengeluarkan telur dalam jumlah banyak

o Pernapasan terutama melalui insang o Banyak yang memiliki kantung renang o Hidup di laut atau di air tawar

(Campbell III, 2003)

2.2 Penyebaran Dan Habitat

Diantara semua kelas vertebrata,ikan bertulang keras adalah yang paling banyak jumlahnya, baik dalam hal jumlah individu maupun dalam jumlah spesies (sekitar 30.000).Berukuran antara 1 cm dan lebih dari 6 m,ikan bertulang keras sangat melimpah di laut dan di hampir setiap habitat air tawar (Campbell III,2003). Ikan Hiu misalnya: Habitat Ikan hiu umumnya adalah di laut. Hiu umumnya ditemukan di perairan dalam berkarang dengan dasar yang tidak terlalu terjal (Anonim,2010).

(4)

2.3 Klasifikasi

Klasifikasi yang dimaksudkan dalam tabel berikut ini adalah khusus untuk Chondrichthyes dan Osteichthyes (Superkelas Pisces), sehingga untuk kelas Agnatha dan kelas Placodermi tidak termasuk didalamnya.

Klasifikasi Superkelas Pisces 1. Kelas Chondrichthyes

Anggota ikan bertulang rawan (850 spesies) meliputi hiu dan ikan pari. Kedua jenis ikan tersebut memiliki endoskeleton berupa tulang rawan. Kelas Chondrichthyes memiliki 4 ordo yaitu: Cladoselachiformes, Xenacanthiformes, Selachiformes, Chondrenchhelyiformes, dan Chimaeriformes.

a. Ordo Cladoselachiformes (ancestor ikan hiu laut) b. Ordo Xenacanthiformes (anasestor ikan hiu air tawar) c. Ordo Selachiformes

 Subordo Hexanchoidei (ikan hiu sapi)

 Subordo Heterodontoidei (ikan hiu bertanduk)  Subordo Selachoidei (ikan hiu modern)  Subordo Batoidei (ikan pari dan skate)

d. Ordo Chondrenchhelyiformes (nenek moyang holocephali) e. Ordo Chimaeriformes

Hydrolagus collei

2. Kelas Osteichthyes

Lebih kurang 20.000 spesies ikan bertulang sejati memiliki endoskeleton dari tulang sejati. Ikan bertulang sejati merupakan kelompok vertebrata yang paling sukses dan beragam. Sifat dan cara hidupnya bermacam-macam, antara lain sebagai penyaring makanan ataupun predator (Sudjadi,2007).

(5)

a. Subkelas Actinopterygii Ciri-ciri:

 Tanpa lubang hidung yang bermuara ke mulut.

 Tulang-tulang Radius yang berada di dalam Bonggol Sirip yang berpasangan tidak tersusun dalam dua Deret (Uly,2003)

Hampir semua ikan yang kita kenal adalah ikan bersirip duri subkelas Actinopterygii.Bahasa Yunani aktin : berkas dan pteryg : sayap atau sirip. Berbagai spesies tuna dan heriing adalah beberapa contohnya. Sirip yang terutama didukung oleh duri panjang dan lentur, termodifikasi untuk mengendalikan arah, pertahanan, dan fungsi-fungsi lain.

Ikan bersirip duri menyebar dari air tawar sampai ke laut dalam sejarahnya yang panjang. Berbagai spesies ikan bersirip duri kembali ke air tawar pada suatu saat dalam sejarah evolusinya. Beberapa diantaranya, termasuk salmon, masih berpindah dari air tawar ke laut kemudian kembali lagi ke air tawar selama siklus hidupnya.

1) Superordo Polypteri 2) Superordo Chondrostei

a. Ordo Acipenceriformes

Ciri-ciri: Tubuh tertutup oleh lima baris kepingan tulang, moncong memanjang dan sirip ekor heteroserkal

3) Superordo Holostei a. Ordo Amiliformes

Ciri-ciri: Sirip ekor Heteroserkal pendek, tulang radius berlekatan dengan 5 capulo-capulo berupa tulang rawan dan terbagi atas 2 Family yaitu: Lepisoteidae dan Amiidae

b. Ordo Lepisosteiformes (ikan gars)

Gars adalah salah satu dari ikan tertua yang hidup sampai saat ini, jika ditelusuri kembali ke masa Cretaceous, jenis ikan predator ini memiliki sisik yang tebal, ditemukan di Amerika selatan, utara dan timur Meksiko, menjadi ikan air tawar terbesar di Amerika Utara

(6)

(meskipun kadang-kadang mengembara ke laut). Dapat berkembang biak hingga 4 meter panjangnya dan memiliki berat sampai 200 kg. Alligator Gar yang disebut demikian karena penampilan mereka mirip reptil buaya dan rahang yang panjang, memiliki 2 sisi gigi yang tajam.

Alligator Gar adalah predator yang rakus dan telah dikenal berbahaya untuk manusia, meskipun belum dikonfirmasi kematian karena Alligator Gar sampai saat ini. Gar adalah salah satu dari ikan tertua yang hidup sampai sekarang (Anonim 3,2001)

Lepisostus osseus

4) Superordo Teleostei a. Ordo Clufeiformes

Terbagi atas Family : Clupeidae

Ciri-ciri: Memiliki satu sirip punggung dan anus yang bertulang lembut, sirip punggung terletak di pertengnahna tubuh, perut memiliki lunas yang yang bergerigi tajam dari leher – anus, rahang bawah pendek, rahang atas memiliki lempengan yang terbuka jika mulut terbuka, sisik mudah mengelupas, kantong renang ke 8 memiliki Bullae

Clupea harengus

b. Ordo Scopeliformes

c. Ordo Saccopharyngiformes d. Ordo Galaxiiformes (ikan galaxii) e. Ordo Esociformes

(7)

f. Ordo Mormyriformes

Ciri-ciri: Moncong memanjang dan turun ke bawah mirip belalai gajah dengan mulut kecil pada ujungnya, tetapi ada yang hanya bibir bawah yang memanjang dan moncongnya embulat dan tidak memanjang, tubuh berwarna kelabu kecoklatan, hidup di air keruh, penglihatan nya tampak kurang baik, habitat di sungai Nil

Terbagi atas 2 family: Gymnarcidae dan Mormyridae

Gnathonemus petersi

g. Ordo Cypriniformes

h. Ordo Anguilliformes (ikan belut)

Ciri-ciri: Habitat pada ait tawar dan payau, tubuh panjang dan ramping, sirip dada, pinggul tidak ada, sirip pinggul berubah menjadi hubungan berdaging, insang sering mengecil, lubang insang di bawah tenggorokan.

i. Ordo Cyprinodontiformes j. Ordo Beloniformes k. Ordo Gadiformes

Ciri-ciri: Mempunyai sirip yang berkerangka halus dengan satu atau dua sirip anus, sisik-sisiknya kecil, sisik pinggul jauh ke depan, sisik dada di bawah leher, hati besar dan berminyak. Terdiri atas 4 Family yaitu: Gadidae, Merlucciidae, Moridae, dan Bregmacrolidae

(8)

Gavus morhua

l. Ordo Macruriformes (ikan deep sea) m. Ordo Percopsiformes (ikan pirateperch) n. Ordo Beryciformes (ikan squirrel)

o. Ordo Perciformes (ikan perchlike, ikan kerapu)

Ciri-ciri: Bentuk badan agak lebar dan pipih (Torpedo/memanjang), mempunyai sisik yang besar, sirip punggung 2 ada juga yang satu, sirip ventral di dada, jari-jari sirip tidak lebih dari 6, merupakan ordo terbesar

Osphronemus goramy

p. Ordo Echeneiformes (ikan remora) q. Ordo Zeiformes (Ikan Jhon Dorys)

r. Ordo Pleironectiformes (ikan pipih, ikan sebelah)

Ciri-ciri: Mata dikepala pada sisi sama, pada family sisip punggung sangat panjang, sirip anus juga sangat panjang, merupakan ikan terbesar dengan panjang 2,7 Meter.

(9)

s. Ordo Gesterosteiformes (ikan tubenose) t. Ordo Syngnathiformes (ikan mulut pipa) u. Ordo Ophiocephaliformes (ikan kepala ular) v. Ordo Muligiformes (ikan barakuda, mullet) w. Ordo Phallostethiformes (ikan phallosteti) x. Ordo Lophiiformes (ikan nona)

Lophiiformes (bahasa Inggris: Monkfish, Goosefish, Anglerfish)

atau Ikan Sungut Ganda adalah ordo ikan bertulang sejati yang umumnya hidup di laut dalam. Habitatnya di Samudra Arktik, Samudra Pasifik, Samudra Hindia, Samudra Atlantik, dan Laut Mediterania. Ikan dari ordo Lophiiformes terlihat mencolok dengan bagian kepala yang besar dan lebar.

Lophiiformes adalah ikan karnivora, mulutnya besar dan bergigi.

Ikan dari ordo Lophiiformes ini menyelam hingga ke dasar laut dan agar bisa menyerang ikan lain, mulutnya sedikit menghadap ke atas. Di bagian atas mulut terdapat antena yang bisa digerak-gerakkan sebagai umpan untuk menarik perhatian mangsa.

Lophiiformes sering juga naik ke permukaan laut untuk menyerang

burung laut (Wikipedia,2011)

Melanocetus johnsonii

y. Ordo Tetraodontiformes (ikan trigger, dan puffer)

b. Subkelas Sarcopterygii Ciri-ciri:

 Memiliki sirip berpasangan,mempunyai bonggol di bagian pangkal berdaging

(10)

 Mempunyai lubang hidung yang bermuara ke mulut

 Memiliki sisik yang disokong oleh elemen-elemen Tulang yang kuat. (Uly,2003)

Dibedakan menjadi:

1) Ordo Crossopterygii (lobe finned fishes) 2) Ordo Dipnoi (ikan paru-paru)

Dipnoi = Diperiformes=Bangsa Ikan paru Contoh :Lepidosiren paradosa

Ciri-ciri: Tulang-tulang terdapat di kepala, sisik bertipe Sikloid, sirip mempunyai pangkal mirip benjolan, sirip punggung dan anus membentuk sirip yang melingkari bagian belakang tubuh. Jika kadar air cukup Ia bernafas dengan menggunakan insang. Paru – paru yang terletak di atas Esopagus juga digunakan sebagai organ pernapasan (musim kering).(Uly,2003)

2.4 Anatomi Tubuh a. Sistem Rangka

Chondrichthyes memiliki tulang kartilago kranium sempurna. Dibawah lapisan tersebut terdapat beberapa lapisan tulang sponge dan dibawahnya lagi terdapat tulang padat. Kartilago palato-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan bawah. Ikan hiu dan pari, rahangnya bersendi pada tulang ke posterior atau pada elemen hiomandibula dari lengkung insang ke 2. (Sukiya, 2005)

Alat gerak pada ikan berupa sirip tulang dibagian ventral dari pusat sirip ikan hiu disebut koroid, sedangkan yang memanjang kearah dorsal dibagian tepi sirip disebut skapula, tulang gigi berasal dari dermal sirip pada

(11)

ikan pari merupakan modifikasi dari tulang gigiyang hilang. Tulang tulang bagian panggul pada ikan lebih sederhana daripada bagian gelang bahu dan hampir melekat pada koluna vertebratalis (rangkaian tulang belakang). (Sukiya, 2005)

b. Sistem Otot

Fungsi utama sistem oto adalah untuk berbagai variasi gerak dari organ tubuh. Gerak otot yang disengaja oleh ikan antara lain yaitu:

1. menggerakan mata

2. membuka dan menutup mulut 3. membuka dan menutup insang

4. menggerakan sirip ke atas atau ke samping 5. melawan arus air

Jika dipotong tegak lurus dengan punggung, akan tampak otot-otot tersusun menurut lingkaran lingkaran konsentris. Potongan otot yang melingkar ini tersusun dari arah kranial ke kaudal berbentuk muskuli (berbentuk kerucut). Otot tersebut disebut miomer yang tersusun segmental. Masing-masing miomer dibungkus dan dipisahkan oleh jaringan ikat

miocommata. (Sukiya, 2005)

Pada ikan bertulang rawan dan sejati, otot aksial dipisahkan oleh septum lateral (septrum horizontal) menjadi epaksial di bagian dorsal dan otot hipaksial dibagian ventral. Otot epaksial diinervensi oleh percabangan dorsal saraf spinal sedangkan otot hipaksial diinervensi oleh percabangan ventral saraf spinal. (Sukiya, 2005)

Otot-otot brankial berfungsi untuk menutup dan membuka lubang insang dan mulut, terutama otot konstriktor (dorsal dan ventral) dan elevator. Otot ini diinervensi oleh saraf spinal. Kelompok lain adalah otot hipobrankial yang memanjang di ventroanterior insang mulai dari daerah korakoid sampai rahang dan bagian ventral arkus brankialis. Otot tersebut adalah otot aksial yang berasal dari daerah brankiomerik, diinervasi oleh saraf spinal. Otot sirip

(12)

pada ikan yang paling banyak adalah berupa otot ektensor dorsal dan fleksor ventral. (Sukiya, 2005)

c. Sistem Sirkulasi

Sistem sirkulasi pada ikan merupakan sistem sirkulasi tunggal. Kecuali pada Dipnoi. Jantung ikan hanya terisi darah yang tidak mengandung oksigen. Darah adri jantung dipompa menuju ke insang untuk diisi oksigen lalu diedarkan ke seluruh tubuh. Jantung hanya memiliki 2 bilikyaitu atrium dan ventrikel dengan konus (bulbus)arteriosus. (Sukiya, 2005)

Sirkulasi dimulai dari darah melewati sinus venosus, lalu masuk kedalam atrium lalu menuju ventrikel lalu dipompa ke arah konus arteriosus menuju aorta ventral, selanjutnya menuju ke daerah insang lewat arteri brankia aferentia, selanjutnya dari insang arteri brankia eferen darah mengumpul pada aorta dorsal. Pembuluh ini disebut lengkung aorta (arcus aorticus)yang akan menjadi aorta ventral dan dorsal. Pada saat perkembangan embryo ada 6 buah lengkung aorta meskipun pada perkembangan selanjutnya tereduksi atau mengalami molifikasi. Penyebabnya belum jelas. (Sukiya, 2005)

Sinus venosus menerima darah dari vena hepatika dan cardinalis (vena cuvieri, yang merupakan gabungan pembuluh vena kardinal posterior dan anterior). Darah dari kepala dikumpulakna oleh vena kardinal anterior. Darah dari ginjal dan gonade dikumpulkan oleh vena kardinal posterior. Pembuluh Cuvier adalah pembuluh vena latero abdomainalis yang menerima darah dari dinding tubuh dan alat gerak. Sistem portal renalis terdiri dari vena kaudal dan 2 pembuluh portal ginjal. Darah dari ekor menuju sistem portal renalis lalu ke kapiler ginjal. Darah dari lambung dan usus dialirkan oleh sistem portal hepatik kemudian kembali ke hati, lalu masuk ke sinus venosus melalui sepasang vena hepatika. (Sukiya, 2005)

Konus arteriosus pada ikan bertulang rawan mempunyai 8 pasang katup untuk mencegah darah masuk ke jantung, pada ikan bertulang sejati hanya terdapat 1. Sedangkan pada ikan Dipnoiditemukan septum atrium , sehingga ada atrium kanan dan kiri. Kenyataan ini merupakan perkembangan

(13)

awal dari sistem sirkulasi ganda yang memisahkan darah oksi (mengandung banyak oksigen) dan deoksi (sebaliknya) dalam jantung. (Sukiya, 2005)

Darah dari antrium kanan pada ikan paru paru ini menuju samping kanan ventrikel, kemudian dipompa lewat arteri pulmonalis menuju bangunan seperti paru paru primitif yang merupakan percabangan dari arkus aortikus . Darah oksi kembali ke atrium kiri dari jantung setelah melewati beberapa vena pulmonalis (seperti pada amfibi). Sistem sirkulasi kelompok Dipnoi mempunyai karakteristik antara ikan dan amfibi, yaitu memiliki vena abdominal ventralin yang mungkin merupakan gabungan dari darah lateral abdominalis. Oksigen dibawa oleh eritrosit dan plasma keseluruh jaringan tubuh. Lalu oksigen diabsorbsi oleh plasma darah secara perlahan-lahan dari air. (Sukiya, 2005)

d. Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan terdiri atas dua bagian besar yaitu saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan. Saluran pencernaan dimulai dari rongga mulut, faring, esophagus yang pendek, lambung, usus dan anus. Kelenjar pencernaan umumnya berupa kelenjar mukosa, hati dan pancreas. (Sukiya, 2005)

Ikan hiu memiliki gigi yang berkembang dengan baik. Bentuk gigi ikan pari dan chimaera, seperti lempengan berbentuk kerucut yang berguna untuk menghancurkan Molusca dan organisme bercangkang yang hidup di dasar laut. Lempengan analg juga ditemukan pada Dipnoi. Letak gigi pada ikan yang lebih mau agak kearah palatum dan faring. (Sukiya, 2005)

Ikan yang habitatnya di air, maka tidak memerlukan banyak kelenjar di mulut untuk membasahi makanannya, namun masih ada beberapa kelejar mukosa. Esophagus ikan biasanya sangat pendek. Usus Elasmobranchii, dibedakan menjadi usus besar dan usus kecil, ditandai adanya katup spiral untuk mempertingggi absorbs. Permukaan ini akan hilang bila permukaan absorpsi dinaikkan dengan cara pemanjangan usus. (Sukiya, 2005)

(14)

e. Sistem Pernafasan

Insang merupakan ciri sistem pernafasan pada ikan. Secara embriologis, celah insang tumbuh sebagai hasil dari serentetan evaginasi faring yang tumbuh keluar dan bertemu dengan invaginasi dari luar. Pada saat mulut terbuka air dari luar akan masuk menuju faring dan keluar lagi melalui celah insang. Peristiwa ini melibatkan kartilago sebagai penyokong filament insang. Setiap filament atau holobrankia, terpisah menjadi dua bagian yang disebut hemibrankia. (Sukiya, 2005)

Gambar Masuknya air melewati insang (Sumber: Anonim, 2010)

Lamella insang berupa lempengan tipis yang diselubungi epitel pernafasan menutupi jaringan vaskuler dan busur aorta, sehingga karbondioksida darah dapat bertukar dengan oksigen terlarut di dalam air. Hemibrankia disipsahkan satu dengan yang lain oleh septum interbrankia yang tersusun dari lengkung kartilago. Masing-masing septa brankialis ini menutup bagian yang terbuka dari insang berikutnya ke arah posterior. (Sukiya, 2005)

(15)

Pada Teteostei, sistem septum interbrankia tidak ada, sehingga hemibrankia anterior dan bagian posterior pada askus brankialis berdempet. Selain itu insang dibatasi oleh sebuah ruang dan tertutup dari luar oleh operculum yang membuka dan menutup kearah posterior agar air dapat mengalir ke luar. (Sukiya, 2005)

Larva ikan paru-paru memiliki insang luar seperti pada larva amfibi dan menghilang pada waktu dewasa. Ada sepasang paru-paru pada spesies bichir Afrika (Protopterus) dan bichir Amerika Selatan (Lepidosiren), tetapi hanya satu buah pada ikan paru-paru Australia (Neoceratodus). Paru-paru pada Dipnoi berisi lekukan atau kantong untuk memperluas permukaan respirasi dan divaskularisasi percabangan vena dan arteri pulmonalis. (Sukiya, 2005)

Ikan hiu ataupun ikan bertulang rawan pada umumnya, tidak ditemukan struktur yang mirip paru-paru. Paru-paru primitive (pulmocyst) pada Teleotei, kecuali Polypterus, dimodifikasi menjadi pneumatocyst (gas

bladder = gelembung gas/gelembung renang) atau organ hidrostatik yang

berhubungan dengan bagian dorsal esophagus. Pneumatocyst tidak ditemukan atau degenerasi pada ikan yang hidup di dasar laut. Pneumatocyst berfungsi untuk menerima suara atau menghasilkan suara. Sejumlah ikan anggota family Sciaenidae menggunakan pneumatocyst untuk menghasilkan suara.

Pneumatocyst juga berfungsi seperti kantung resonansi pada kelompok family

Pomadasyidae, menghasilkan suara dari geseka gigi faringeal. (Sukiya, 2005) f. Sistem Urogenital

Sistem urogenital terdiri atas dua bagian yaitu sistem ekskresi dan sistem urogenital. Sistem ekskresi ikan seperti juga pada vertebrata lain, yang mempunyai banyak fungsi antara lain untuk regulasi kadar air tubuh, menjaga keseimbangan garam dan mengeliminasi sisa nitrogen hasil dari metabolisme protein. Untuk itu berkembang tiga tipe ginjal, yaitu pronefros, mesonefros dan metanefros. Ketiganya hamper sam, tetapi yang membedakan adalah kaitannya dengan sistem peredaran darah, tingkat kompleksitas dan pada efisiensinya. (Sukiya, 2005)

(16)

Ginjal pronefros adalah paling primitive, meski terdapat pada perkembangan embrional semua vertebrata, tetapi saat dewasa tidak fungsional. Ginjal ikan bertipe mesonefros, berfungsi seperti opistonefros pada embrio amniota. Berbentuk sekumpulan tubulus yang pada awal perkembangan susunannya bersegmen dan ada akhirnya tidak. Setiap tubulus menggulung, baik proksimal maupun distal, kemudian mengumpul arah longitudinal disebut duktus arkinefridikus. Kemudian mengarah keluar, biasanya lewat kantung yang merupakan penampung sisa hasil dari sistem pencernaan atau sistem urogenital. Pada bagian proksimal, beberapa tubulus me-ngumpul di kapsul hemisfer sebagai kapsula Bowman pada glomerulus.kapsula dan glomerulus membentuk kapsula renalis.air, garam dan sisa metabolisme dalam aliran darah masuk ke dalam kapsula dan mengalir ke dalam tubulus ke duktus arkinepridikus dan akhirnya ke luar tubuh. Pada ikan hiu, fungsi duktus gonad dan ginjal telah berkembang dilengkapi dengan duktus urinary. (Sukiya, 2005)

Gambar Anatomi ikan tulang keras (sumber: Anonim, 2010)

Ginjal ikan berperan besar untuk menjaga keseimbangan garam tubuh. Air garam cenderung menyebabkan tubuh terdehidrasi, sedangkan pada kadar garam rendah dapat menyebabkan naiknya konsentrasi garam tubuh. Beberapa ikan laut memiliki kelenjar ekskresi garam pada insang, yang berperan dalam mengeliminasi kelebihan garam. (Sukiya, 2005)

(17)

Gambar Cairan pada tubuh ikan (sumber: Anonim, 2000)

Ginjal berfungsi untuk menyaring sesuatu yang terlarut dalam darah dan hsilnya akan dikeluarkan melewati korpus renalis. Tubulus yang bergulung berperan penting dalam menjaga keseimbangan air. Hasil yang hilang pada bagian tubulus nefron, termasuk air dan yang lain, diabsorpsi lagi ke dalam aliran darah. Korpus rebalis pada ikan air tawar lebih besar daripada ikan air laut, sehingga cairan tubuh tidak banyak keluarkarena penting untuk menjaga over dilusi (agar cairan tubuh tidak terlalu encer). Organ seperti kantung kemih pada beberapa jenis ikan hanya untuk menampung urine sementara dan umumnya merupakan perluasan dari bagian duktus ekskretori. (Sukiya, 2005)

Hermaprodit jarang ditemukan pada vertebrata, tetapi ditemukan pada 13 familia (tidak semua) ikan tulang sejati. Bagian anterior gonad mengahasilkan telur sedangkan bagian posterior menghasilkan spermatozoa. Umumnya kemasakan gonad hanya untuk produksi ovum atau spermatozoa saja, tidak keduanya. Kebanyakan ikan tulang sejati yang bersifat hermapdrodit hidup di laut, hanya sedikit ditemukan untuk ikan air tawar misalnya ikan neotropical killifish (Rivulus marmoratus) dan Asiatic synbranchid (Monopterus albus). (Sukiya, 2005)

Ikan pada umunya tidak hermaprodit, sehingga satu individu hanya satu jenis kelamin. Ikan tulang rawan dan tulang sejati umumnya mempunyai sepasang gonad dan jenis kelamin yang terpisah, ikan betina biasanya mempunyai dua oviduk. Umumnya ovarium vertebrata tidak langsung dihubungkan dengan oviduk, maka secara teoritik telur masuk ke rongga tubuh dan berakhir pada ostium. Beberapa Elasmobranchii adalah ovipar dan

(18)

meletakkan telurnya di air, sedangkan untuk yang ovovivipar mengram telurnya diperluasan bagian bawah oviduk yang disebut uterus. Sebagian besar ikan Teleostei adalah ovipar, tetapi ada beberapa yang mengerami telurnya di dalam tubuh. (Sukiya, 2005)

g. Sistem Saraf

Saraf pusat vertebrata, secara embrionik merupakan perkembangan dari penebalan ectoderm yang membentuk medullary plate yang menjadi jaringan saraf potensial. Dibagian aksial dan anterior tubuh akan berkembang lebih cepat membentuk otak primitive. Otak primitive ini terdiri atas tiga buah vesikel (gelembung) primer. Vesikel anterior adalah otak depan atau

prosencephalon, kemudian otak tengah atau mesencephalon. Veikel paling

posterior adalah otak belakang atau rombencephalon dan kemudian berlanjut ke belakang menjadi medulla spinalis (sumsum tulang belakang)dan selanjutnya membentuk cabang saraf yang semakin banyak. Pada sebagian besar ikan primitive,otak depan dan otak belakangnya terbagi lagi menjadi tiga sampai lima vesikel otak, dan berturut-turut dari anterior ke posterior disebut

telencephalon, diencephalon, mesencephalon, metencephalon dan

mielencephalon. Fungsi dari kelima bagian otak tersebut bervariasi pada setiap

kelompok vertebrata. Hal ini merupakan pertanda bahwa perkembanga jaringan saraf dari sederhana ke yang lebih kompleks akan terjadi banyak lekukan (sulcus dan gyrus) karena memerlukan ruangan yang lebih luas. Lekukan sebagai tempat otak di rongga cranium tersebut dinamakan fleksure. (Sukiya, 2005)

(19)

Telencephalon membagun lobus olfaktori dan cerebrum. Dua derivate

yang merupakan erubahan dari vesikel otak tersebut penting dalam sisi filogenetik. Cerebrum ikan tersusun atas massa ganglion basal yang dikenal sebagai korpus striatum dan selapis tipis epitel disebut pallium. Pallium ini pada vertebrata tinggi diinvaginasi substansia grisea (lapisan kelabu) menjadi pusat aktifitas mental. Pallium pada ikan bukan bagian dari jaringan saraf sehingga aktifitas pusat otak kembali pada mesencephalon. (Sukiya, 2005)

Penegembangan diencephalon menjadi thalamus, yang menjadi pusat impuls pembau dan mata yang diasosiasikan oleh beberapa sensori dan glandula. Ditengah-tengah dinding dorsal muncul bentukan seperti mata. Bagian anterior yang satu disebut bagian parietal yang lainnya disebut bagian

pineal. Kedua struktur ini dapat ditemukan pada Cyclostomata. Tetapi

sebagian besar pada ikan hanya ditemukan pineal bodi. Melatonin dapat ditemukan pada glandula pineal ikan tertentu. Glandula tersebut tampak seperti pusat hormon yang mempunyai efek inhibitor pada aktivitas gonad. Melatonin pada salmon Pasifik (genus Oncorhynchus) yang belum dewasa berisi enam kali lebih banyak daripada dewasa. bagian ventral diencephalon berkembang menjadi tangkai atau infundibulum hipofisis di bagian lobus posterior. Sensori dan lapisan pigmen retina mata, ada yang tumbuh keluar dinding diencephalon menjadi tangkai optic yang menghubungkan bagian ventral dengan bagian otak. Serabut-serabut saraf dari beberapa saraf optic yang letaknya berseberangan membentuk chiasma nervi optici. (Sukiya, 2005)

Perubahan mesencephalon relative kecil, tetapi menunjukkan ada penambahan dan terjadi peningkatan mulai dari vertebrata tingkat rendah ke bentuk yang lebih tinggi. Bagian dorsal, berkembang dua bangunan kedepan yang dikenal sebagai lobus optikus, berperan dalam penerimaan visual, dan pada beberapa ikan bertulang keras lobus tersebut melebihi ukuran otaknya. (Sukiya, 2005)

Bagian dorsal metencehalon berkembang menjadi cerebellum. Cerebellum menjadi pusat koordinasi otot maka terjadi peningkatan koordinasi aktivitas tubuh. Perkembangan cerebellum Dipnoi, tumbuh lamban dan sangant sedikit, sedangkan pada jenis ikan yang pertumbuhan tubuhnya

(20)

pesat misalnya pada ikan hiu, memiliki cerebellum yang relative besar. (Sukiya, 2005)

Mielencephalon membentuk medulla oblongata otak dan dalam

banyak hal menyerupai medulla spinalis, yang menreuskan diri ke posterior. Bagian medulla otak tersebut sangat penting pada semua Vertebrata, karena merupakan pusat beberapa aktivitas vital tubuh termasuk respirasi kerja jantung dan metabolisme. Medulla otak pada ikan juga berperan sebagai penghubung linea lateralis dengan pendengaran. (Sukiya, 2005)

Ikan juga seperti amfibi, hanya memiliki 10 saraf cranial dan salah satu diantaranya adalah yang menuju linea lateralis, artinya cabang saraf ini berasal dari medulla oblongata. Umumnya saraf sensori ikan adalah di bagian dorsal dan saraf motorik di ventral, keluar dari kolumna vertebralis. (Sukiya, 2005)

Urutan ganglion saraf simpatik pada Elasmobranchii adalah irregular terletak diseluruh permukaan tubuh. Serabut-serabut saraf dari ganglia tersebut dihubungkan ke sumsum tulang belakang dan otot halus sistema digestoria dan sistema sirkulatoria. Sistem saraf otonom ikan tulang keras lebih maju, yang ditunjukkan adanya ganglia simpatikus pada rantai dan pemanjangan ke saraf trigeminal. (Sukiya, 2005)

h. Organ Perasa

Sistem sensori berupa sel-sel reseptor perifer dan gabungan neuron di otak yang memberi gambaran lingkungan secara biologis. Barisan elemen reseptor berupa sel tunggal, misal taktil korpuskel, atau kompleks retina mata. Karena hidup di perairan, perkembangan kemoreseptor pada ikan sangat baik untuk mendeteksi rasa dan bau. Lokasi organ perasa pada ikan boleh jadi tidak hanya terletak di kepala atau mulut, mungkin diperluas di beberapa bagian permukaan tubuh termasuk juga di bagian sirip.

Sebagian besar, organ olfaktori (pencium) pada ikan berupa sepasang lubang bergaris dengan lipatan berupa epitel sensori. Organ olfaktori pada

Dipnoi serupa dengan vertebrata tinggi, mempunyai saluran nasal yang

(21)

terbuka pada bagian internal maupun eksternalnya dan dilapisi epitel olfaktori berupa lipatan epitel yang berlekuk-lekuk.

Dalam hal melihat, beberapa ikan mempunyai mata spesifik dari hasil adaptasi. Banyak tipe mata yang dikenal, salah satunya pada ikan yang cukup terkenal di Amerika Selatan “four-eyed fish” (Anablep). Habitai ikan ini pada air yang tenang, saat mengapung di permukaan menggunakan separuh mata atas, saat melihat ke udara dan ke dalam air terkadang lensa matanya tampak terbagi dua, setiap bagian tersebut jaraknya dengan retina tidak sama.

Telinga pada ikan sangat berbeda dengan telinga pada mammalia. Telinga ikan, tidak sebaik telinga kita dalam mengasosiasi suara. Ikan tidak mempunyai telinga luar, tengah dan kohlea. Bagian dalam telinga ikan berupa utrikulus dorsal yang dihubungkan dengan kanal semi-sirkuler, dan pelebaran di tengah yang disebut sacculus (pada amfibi, reptil dan burung disebut lagena yaitu bangunan semacam kohlea untuk mendengar). Alat pendengaran pada ikan juga berfungsi sebagai organ keseimbangan.

i. Kelenjar Endrokrin

Kelenjar endokrin merupakan kelenjar tanpa saluran, produknya langsung masuk ke dalam sistem peredaran darah. Produk tersebut disebut sebagai hormon, yang merupakan regulator kimia tubuh. Dimana fungsi utamanya adalah sebagai agen katalis dengan cara merangsang kelenjar lain, mengatur pertumbuhan, mengontrol metabolisme dan menjaga keseimbangan kimiawi pada tubuh, tanpa mengalami perubahan pada kelenjar itu sendiri. Sebagian besar kelenjar yang ada pada mammalia, ditemukan pada ikan kecuali pada kelenjar paratiroid. Pankreas merupakan kelenjar eksokrin dan endokrin, pankreas ditemukan pada ikan tulang rawan dan tulang keras serta mempunyai pulau Langerhan yang berfungsi memproduksi insulin. Kelenjar adrenalin ikan berbeda dengan vertebrata tinggi, karena pada kelenjar ini korteks dan medulla bersatu sedangkan pada mammalia terpisah.

Vertebrata pada jenis ikan mempunyai kelenjar tiroid dan pituitaria yang berkembang dengan baik. Gonad ikan sama seperti yang ada pada hewan vertebrata lainnya yaitu berfungsi seperti kelenjar endokrin dan berperan

(22)

dalam membentuk ciri seksual sekunder yang tampak pada musim kawin. Fungsi dan aktivitas pada gonad, tidak diragukan lagi bahwa selalu di bawah kendali hormon.

2.5 Ciri Khusus a. Sisik

Sisik merupakan bagian tubuh luar dan salah satu karakteristik yang sangat penting baik untuk ikan tulang rawan maupun ikan tulang keras. Pada umumnya, sisik berfungsi sebagai pelindung dan penutup tubuh. Berdasarkan asal, struktur dan fungsi, sedemikian variasi, sehingga sisik dianggap sebagai hal yang penting dalam klasifikasi. Beberapa tipe struktur sisik pada ikan antara lain:

1) Sisik Plakoid : Merupakan sisik yang tertanam pada kulit yang tersusun dari lempeng tulang dibagian basal , menuju ke atas menembus kulit kemudian mengara ke belakang membentuk tonjolan seperti duri yang tersusun dairi dentin. (Sukiya, 2005)

Gambar tipe sisik placoid pada ikan Hiu (sumber: Anonim, 2010)

Kalau kita pernah menyentuh atau mengelus kulit hiu atau ikan karang maka akan terasa seperti amplas (amril), hal ini disebabkan sisik-sisik kecil yang tertanam pada kulit. Sisik tersebutlah yang disebut sebagai sisik plakoid. Struktur sisik ini sama dengan struktur pada gigi. Setiap sisik tersusun dari lempengan tulang di bagian basal, menuju ke atas menembus ke kulit kemudian mengarah ke belakang membentuk tonjolan seperti duri yang tersusun dari dentin. Seperti pada gigi, di sana ada lubang pusat (pulpa), dimana terdapat banyak saluran darah. Spina ditutupi oleh lapisan yang lebih keras, dipercayai terbuat dari bahan yang sama dengan email gigi. (Sukiya, 2005)

(23)

2) Sisik Ganoid: tipe sisik yang tampak jelas yang berbentuk seperti belah ketupat yang tersusun rapat satu sama lain dan tersusun searah diagonal tubuh. Tampak jelas pada ikan gars.(Sukiya, 2005)

Gambar sisik ganoid pada Famili Latimeriidae dan Acipenseridae (sumber: Anonim, 2010)

Di atas lempengan dasar sisik dilapisi oleh substansi mirip email tipis, yang disebut ganoin. Oleh karena adanya ganoin pada sisik beberapa Chondrostei dan Holostei, maka kelompok ini sering disebut ikan-ikan ganoid (telah punah). (Sukiya, 2005)

3) Sisik Sikloid: sebagaian besar terdapat pada ikan tulang keras, tertanam bagian depannya di celah-celah kulit, bagian distal kulit menutup sisik berikutnya. (Sukiya, 2005)

Gambar tipe sisik ktenoid (sumber: Anonim, 2010)

Berbeda dengan tipe sisik plakoid, imbricate scale atau tumpang tindihnya sisik ini tidak diganti jika lepas. Susunan sisik ini seperti kulit, tidak dilindungi epidermis atau material seperti email ataupun ganoin. Sisik sikloid, pada dasarnya melingkar dan bertambah ukuran seiring pertumbuhan ikan. Akibat pertumbuhan sisik tersebut tampak sebagai tanda cincin pertumbuhan, seperti lingkaran tahun pada pohon. Cincin pertumbuhan tersebut lebih jelas pada bagian sisik yang tertanam, karena pertumbuhannya terhambat selama musim dingin akibat menurunnya suhu dan pasaokkan makanan. (Sukiya, 2005)

(24)

4) Sisik Ktenoid: pada dasarnya sama seperti sikloid mengenai struktur dan susunannya, tetapi berbeda pada bagian belakangnya yaitu berbentuk sisir. (Sukiya, 2005)

Gambar tipe sisik ktenoid (sumber: Anonim, 2010)

Beberapa species mungkin mereduksi menjadi satu tonjolan atau spina (duri). Sisik ktenoid ditemukan menjadi duri sirip dorsal pada ikan pari. (Sukiya, 2005)

b. Warna Tubuh

Warna indah pada tubuh Vertebrata, banyak ditemukan pada ikan dan burung. Pada burung, warnanya terbatas pada bulu, perubahannya tidak berada pada struktur kulit. Warna tubuh ikan lebih kompleks oleh karena adanya kromatofora yang berada di lapisan dermis. Kristal guanin, di dalam sel disebut iridosit yang berhubungan dengan sisik, mungkin responsif terhadap perubahan fisiologis. (Sukiya, 2005)

Beberapa ikan bertulang keras, juga pada reptilia, mampu berubah warna sangat cepat di bawah kontrol sistem syaraf. Proses perubahan warna lebih lambat terdapat pada ikan tulang rawan dan amfibia, sebagai akibat pelepasan hormon dari kelenjar pituitaria yang diedarkan melalui pembuluh darah. Perubahan warna pada ikan, adalah akibat perubahan bentuk kromatofora itu sendiri. Jika granula disebarkan merata ke seluruh sel maka warna tubuh ikan akan menjadi lebih terang, jika terkonsentrasi pada suatu tempat akan menjadi gelap. (Sukiya, 2005)

Pigmen utama pada ikan adalah melanin yang mampu memproduksi warna coklat, ungu atau hitam, dan karotenoid yang sangat responsif terhadap warna kuning, oranye dan merah. Kromatofora yang mengandung melanin disebut melanofora dan yeng mengandung karotenoid disebut lipofora. Beberapa jenis ikan tampak terjadi perubahan warna pada saat masa

(25)

kawin. Hal ini mungkin merupakan bagian dari pelayanan pengenalan jenis kelamin. Kebanyakan ikan, warna menunjukkan adaptasi terhadap lingkungan sehingga ikan mendapat perlindungan dari latar belakang warna tempat hidupnya. (Sukiya, 2005)

c. Alat Gerak dan Lokomosi

Sebagian besar ikan tersusun dari alat gerak yang berupa ekor dan sirip. Tipe ekor protoserkal, adalah bagian sirip ekor ikan membulat dan merupakan perluasan notokord memanjang sampai ke ujung ekor.

Ikan tulang rawan dan ikan tulang keras pada dasarnya mempunyai sirip pectoral dan sirip pelvic berpasangan ditambah ditambah sebuah sirip kaudal dan sirip medial.

Kelompok ikan seperti ikan pari, sirip pektoralnya membesar dan menempel sepanjang tubuh mulai dari belakang sampai di depan sirip pelvic. (Sukiya, 2005)

d. Ikan Berbisa dan Beracun

Luka yang disebabkan oleh ikn karena injeksi ke dalam tubuh korbannya dengan menggunakan duri pendek . Ikan beracun paling berbahaya adalah kelompok dari Scorpaenda, contohnya stonefish, memiliki sengat racun yang sangat mematikan. Zat beracun diproduksi oleh glandula pada epithelium duri tersebut. Ikan beracun ditemukan disemua perairan air hangat di dunia, tetapi paling banyak ditemuan di perairan Pasifik dan kawasan Karibia. (Sukiya, 2005)

e. Ikan Bioluminesen

Biolunisense adalah pancaran sinar oleh organism, sebagai hasil oksidasi

dari berbagai sustrat dalam memproduksi enzim. Memiliki enzim yang berfungsi sebagai katalisator yang disebut lusiferase. Organ luminesen ditemukan pada beberapa ikan hiu, ikan pari berlistrik, dan beberapa ikan tulang keras khusunya ikan yang tinggal di laut dalam. Fungsi sinar ini adalah guna memberikan pencahayaan ada ikan-ikan di laut dalam yang gelap untuk mencari makanan dan mengacaukan musuh. (Sukiya, 2005) f. Organ Listrik

(26)

paling tinggi tegangannya di pegang oleh ikan belut elektrik mencapai 550 V, Lele elektrik 350 V, dan pari elektrik 220 V. Organ elektrik disusun oleh electroplates atau elektroplases, yang merupakan sel berbentuk cakram sehingga Nampak merah. Listrik berfungsi sebagai pemroduksi sinar tidak terlalu terang sebagai maksud orientasi, sebagai pelindung dari pemangsa atau melumpuhkan mangsa. (Sukiya, 2005)

2.6 Manfaat dari Ikan

Pada umumnya ikan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan. Sebagai bahan pangan,ikan merupakan slaah satu sumber protein hewani. Selain itu ikan dapat juga memberikan hiburan tersendiri bagi banyak orang. Misalnya pemeliharaan ikan hias di dalam akuarium. Manfaat ikan lainnya adalah dapat dijadikan sebagai objek penelitian dan objek rekreasi (seperti lomba memancing ikan). (Sudjadi,2007).

(27)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 Ikan bertulang rawan memiliki rangka yang fleksibel, terbuat dari tulang rawan serta memiliki perkembangan rahang dan sirip yang sangat baik. Mereka bernafas dengan insang, sebagian besar melahirkan dan ada juga yang menetaskan telurnya dalam tubuh induk. Sedangkan ikan bertulang sejati, bernafas dengan insang dan menghasilkan telur tanpa cangkang dalam jumlah yang sangat besar.Mereka dapat ditemukan hidup di air tawar dan air laut.

 Habitat dan penyebaran ikan bertulang keras dan bertulnag rawan sangat melimpah di laut dan di hampir setiap habitat air tawar.

 Pisces merupakan superkelas dari subfilum Vertebrata, yang memiliki keanekaragaman sangat besar. Berdasarkan klasifikasinya Superkelas Pisces dibagi menjadi dua kelas, yaitu Chondrichthyes (ikan bertulang rawan) dan Osteichthyes (ikan bertulang keras)

 Anatomi tubuhnya dibagi menjadi sistem rangka, sistem otot, sistem sirkulasi, sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem urogenital, sistem saraf, organ perasa, dan kelenjar endokrin.

 Ciri khusus dari Pisces antara lain yaitu sisik, warna tubuh, alat gerak (appendages) dan lokomosi, ikan berbisa dan beracun, ikan bioluminense dan yang terakhir organ listrik.

 Ikan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan bahan pangan. Sebagai bahan pangan,ikan merupakan salah satu sumber protein hewani. Selain itu juga berfungsi untuk hiburan.

3.2 Saran

Pembahasan untuk materi ini diperlukan pemahaman yang dalam dan juga diperlukan banyak referensi, karena masih banyak berbagai informasi yang selalu mengalami pembaruan dan belum dikemukakan.

(28)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2000. Respiratory and Excretory System. (online) (www.ITP.com, diakses pada tanggal 8 Oktober 2011).

Anonim2. 2010. External Respiration. (online) (www.tutorvista.com, diakses pada tanggal 8 Oktober 2011).

Anonim3. 2010. Tentang Hiu. (online) (www.geocities.com, diakses pada tanggal 9 Oktober 2011).

Anonim 4. 2011. Lophiiformes. (online) (www..wikipedia.org, diakses pada tanggal 9 Oktober 2011).

Anonim5. 2011. Aligator. (online) ( www.davidtopra.blogspot.com, diakses pada tanggal 9 Oktober 2011).

Campbell, Reece Mitchel. 2003. BIOLOGI Edisi Kelima Jilid 2. Jakarta: Penerbit Erlanggga

Christina, Uli. 2003. Ikan bertulang sejati. (online)

(www.ulysitompul.blogspot.com, diakses pada tanggal 9 Oktober 2011). Sudjadi, Bagod. 2007. Biologi Sains Dalam Kehidupan. Surabaya: PT Yudistira. Sukiya. 2005. Biologi Vertebrata. Malang: UM Press.

Zender, Alexander. 2009. Philum Chordata. (online)

Figur

Memperbarui...

Related subjects :